Anda di halaman 1dari 54

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM

TEKNOLOGI BIOMASSA
PEMBUATAN BIOETANOL

OLEH :
KELOMPOK I

Abellio Nathanael Sitompul (061340411637)


Achmad Algan (061340411638)
Aryo Juliansyah Pratama (061340411639)
Chinthia Octadinda (061340411640)
Dea Anggraeni (061340411641)
Devi Purnamasari (061340411642)
Dimas Muhammad Furqon (061340411644)
Fatimah Shohina Putri (061340411645)

KELAS : 6 EGB
DOSEN PEMBIMBING : Ir. Erlinawati, M.T.

PRODI TEKNIK ENERGI


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
PALEMBANG
2016
PEMBUATAN BIOETANOL

I. TUJUAN PERCOBAAN
Setelah melakukan percobaan ini, diharapkan mahasiswa mampu:
Membuat bioetanol dan mengerti prinsip pembuatan bioetanol
Menganalisa produk bioetanol dari tetes tebu
Menganalisa produk bioetanol dari air gula
Menganalisa produk bioetanol dari tape singkong
Memanfaatkan biomassa menjadi bioetanol

II. ALAT DAN BAHAN


1. Alat yang digunakan
Erlenmeyer
Gelas kimia
Gelas ukur
Termometer
Corong gelas
Labu leher dua
Unit distilasi
Kertas pH
Refraktometer

2. Bahan yang digunakan


Tetes tebu
Air gula
Tape singkong
Aquadest
NPK
Ragi roti
III. DASAR TEORI

Tetes Tebu
Molase adalah hasil samping yang berasal dari pembuatan gula tebu
(saccharum officinarum L). Tetes tebu berupa cairan kental dan diperoleh
dari tahap pemisahan kristal gula. Molase tidak dapat lagi dibentuk menjadi
sukrosa namun masih mengandung gula dengan kadar tinggi 50 60%, asam
amino dan mineral. Tingginya kandungan gula dalam molase sangat potensial
dimanfaatkan sebagai bahan baku bioetanol. (Anonim, 2011)
Molase masih mengandung kadar gula yang cukup untuk dapat
menghasilkan etanol dengan proses fermentasi, biasanya pH molase berkisar
antara 5,5 6,5. Molase yang masih mengandung kadar gula 10 18% telah
memberikan hasil yang memuaskan dalam pembuatan etanol.
Tebu (Saccharum officinarum L) kedudukannya dalam ilmu
taksonomi tumbuhan adalah:
Klasifikasi
Kingdom : Plantea
Subkingdom : Tracheobionta
Superdivisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Subkelas : Commelinidae
Ordo : Poales
Famili : Poaceae
Genus : Sascharum
Spesies : Saccharym officinarum

Sifat fisika dan kimia dari tetes tebu


Bentuk : Kental, cokelat kehitaman
pH : 5,3
Titik beku : - 18oC
Titik didih : 107 oC
Specific gravity : 1.4
Kelarutan dalam air : Sangat larut
Viskositas : 4,323 cp
Panas spesifik : 0,5 kkal/kg oC
Densitas : 1,47 gr/mL

Bioetanol
Etanol merupakan senyawa hidrokarbon dengan gugus Hydroxyl (-
OH) dengan 2 atom karbon (C) dengan rumus kimia C2H5OH. Etanol lebih
dikenal dengan Etil Alkohol berupa bahan kimia yang diproduksi dari bahan
baku tanaman yang mengandung karbohidrat seperti ubi kayu, ubi jalar,
sargum, beras, ganyong dan sagu yang kemudian populer dengan nama
bioetanol.
Bahan baku lainnya adalah tanaman atau buah yang mengandung
gula seperti tebu, nira, mangga, nanas, pepaya, anggur, lengkeng dan
lainnya. Bahan berserat (selulosa) seperti sampah organik dan jerami padi
pun saat ini telah menjadi salah satu alternatif penghasil bioetanol. Namun,
dari semua jenis tanaman tersebut tetes tebu merupakan bahan baku yang
paling banyak menghasilkan etanol jika diolah.
Bioetanol yang mempunyai grade 90-95% biasanya digunakan pada
industri, sedangkan bioetanol yang mempunyai grade 95 99% atau disebut
alkohol teknis digunakan sebagai campuran untuk miras dan bahan dasar
industri farmasi.
Sedangkan grade etanol yang dimanfaatkan sebagai campuran bahan
bakar kendaraan bermotor harus betul-betul kering dan anhydrous supaya
tidak menimbulkan korosi, sehingga etanol harus mempunyai grade tinggi
antara 99,6 99,8% (Fuel Grade Ethanol = FGE). Perbedaan besarnya
grade akan berpengaruh terhadap konversi karbohidrat menjadi gula
(glukosa) larut air.
Proses Distilasi Bioetanol
Produksi etanol/bioetanol (alkohol) dengan bahan baku yang
mengandung pati atau karbohodrat, dilakukan melalui proses konversi
karbohidrat menjadi gula (glukosa) larut air.
Tabel 1. Konversi Bahan Baku Tanaman yang Mengandung Pati atau
Karbohidrat dan Tetes Tebu Menjadi Bioetanol
Bahan Baku Kandungan Jumlah hasil
Perbandingan
gula dalam konversi
bahan baku
Jenis Konsumsi bahan baku bioetanol
dan bioetanol
(kg) (liter)
Ubi kayu 1000 250 300 166,6 6,5 : 1
Ubi jalar 1000 150 200 125 8:1
Jagung 1000 600 700 200 5:1
Sagu 1000 120 160 90 12 : 1
Tetes tebu 1000 500 250 4:1

Glukosa dapat dibuat dari pati-patian, proses pembuatannya dapat


dibedakan berdasarkan zat pembantu yang digunakan, yaitu hidrolisa asam
dan hidrolisa enzim. Dalam proses konversi karbohidrat menjadi gula
(glukosa) larut air dilakukan dengan penambahan air dan enzym, kemudian
dilakukan proses peraguan atau fermentasi gula menjadi etanol dengan
menambahkan yeast atau ragi. Reaksi yang terjadi pada proses produksi
etanol/bioetanol secara sederhana ditunjukkan pada reaksi 1 dan 2.
H2O
(C6H10O5)n N C6H12O6 .................... (1)
Pati Enzyme Glukosa
Menurut Gay Lussac, proses fermentasi alkohol ditunjukkan reaksi berikut:
(C6H12O6)n 2 C2H5OH + 2 CO2 ........ (2)
Glukosa Yeast (ragi) Etanol
Secara singkat, teknologi proses produksi etanol/bioetanol dapat
dibagi menjadi tiga (3) yaitu persiapan bahan baku, likuifaksi dab
sakarifikasi, distilasi dan dehidrasi.
a. Persiapan Bahan Baku
Bahan baku untuk produksi bioetanol bisa didapatkan dari
berbagai tanaman, baik yang secara langsung menghasilkan gula
sederhana semisal tebu (sugarcane), gandum manis (sweet sarghum)
atau yang menghasilkan tepung seperti jagung (corn), singkong
(cassava) dan gandum (grain sorghum) di samping bahan lainnya.

b. Liquifaksi dan Sakarifikasi


Kandungan karbohidrat berupa tepung atau pati pada bahan baku
singkong dikonversi menjadi gula kompleks menggunakan enzyme Alfa
Amylase melalui proses pemanasan (pemaukan) pada suhu 90oC
(hidrolisis). Pada kondisi ini tepung akan mengalami gelatinasi
(mengental seperti jelly). Pada kondisi optimum Enzyme Alfa Amylase
bekerja memecahkan struktur tepung secara kimia menjadi gula
kompleks (dextrin). Proses liquifaksi selesai ditandai dengan parameter
di mana bubur yang diproses berubah menjadi lebih cair seperti sup.
Sedangkan proses sakarifikasi (pemecahan gula kompleks menjadi gula
sederhana) melibatkan tahapan berikut:
- Pendinginan bubur sampai mencapai suhu optimum enzyme glukosa
amilase bekerja
- Pengaturan pH optimum enzim
- Penambahan Enzyme Glukosa Amilase secara tepat dan
o
mempertahankan pH serta suhu pada 60 C hingga proses
sakarifikasi (dilakukan dengan melakukan petesan kadar gula
sederhana yang dihasilkan).
-
c. Fermentasi
Pada tahap ini, tepung telah berubah menjadi gula sederhana
(glukosa dan sebagian fruktosa) dengan kadar gula berkisar antara 5
hingga 12 %. Tahapan selanjutnya adalah mencampurkan ragi (yeast)
pada cairan bahan baku tersebut dan mendiamkannya dalam wadah
tertutup (fermentor) pada kisaran suhu optimum 27 s/d 32 oC selama
kurun waktu 5 hingga 7 hari (fermentasi secara anaerob). Keseluruhan
proses membutuhkan ketelitian agar proses fermentasi bahan baku tidak
terkontaminasi oleh mikroba lainnya. Dengan kata lain, sejak proses
persiapan bahan baku, liquifaksi dan sakarifikasi hingga fermentasi
harus pada kondisi bebas kontaminan. Selama proses fermentasi akan
menghasilkan cairan etanol/alkohol dan CO2.
Hasil dari fermentasi berupa cairan mengandung alkohol/etanol
berkadar rendah antara 7 hingga 10% (biasa disebut cairan beer). Pada
kadar etanol max.10% ragi menjadi tidak aktif lagi karena kelebihan
alkohol akan berakibat racun bagi ragi itu sendiri dan mematikan
aktifitasnya.

d. Distilasi
Distilasi atau penyulingan dilakukan untuk memisahkan alkohol
dalam cairan beer hasil fermentasi. Dalam proses distilasi, pada suhu 78
o
C (setara dengan titik didih alkohol) etanol akan menguap lebih dulu
ketimbang air yang bertitik didih 100 oC. Kegiatan penyulingan etanol
merupakan bagian terpenting dari keseluruhan proses produksi
bioetanol.
Penyulingan etanol dapat dilakukan dengan 2 cara:
1. Penyulingan dengan teknik dan distilator tradisional
(konvensional). Dengan cara ini kadar etanol yang dihasilkan
hanya berkisar antara 20 s/d 30%
2. Penyulingan dengan teknik dan distilator modern kolom bertingkat
(reflux). Dengan cara ini kadar etanol yang dihasilkan mampu
mencapai 60 90% melalui 2 tahapan penyulingan.
e. Dehidrasi
Hasil penyulingan berupa etanol berkadar 95% belum dapat larut
dalam bahan bakar bensin. Untuk substitusi BBM diperlukan etanol
berkadar 99,6 99,8% atau disebut etanol kering. Untuk pemurnian
etanol 95% diperlukan proses dehidrasi (distilasi absorben)
menggunakan beberapa cara, antara lain:
1. Cara kimia dengan menggunakan batu gamping
2. Cara fisika dengan proses penyerapan menggunakan zeolit
sintesis.
Hasil dehidrasi berupa etanol berkadar 99,6 99,8% sehingga dapat
dikategorikan sebagai Fuel Grade Ethanol (FGE).

Tape
Tape adalah produk yang dihasilkan dari proses fermentasi, di mana
terjadi suatu perombakan bahan-bahan yang tidak sederhana. Zat pati yang
ada dalam bahan makanan diubah menjadi bentuk yang sederhana yaitu gula,
dengan bantuan suatu mikroorganisme yang disebut ragi atau khamir. Ragi
tape adalah bahan yang dapat digunakan dalam pembuatan tape, baik dari
singkong dan beras ketan. Menurut Dwijoseputro dalam Tarigan (1988) ragi
tape merupakan populasi campuran yang tediri dari spesies-spesies genus
Aspergilius, Saccharomyces, Candida, Hansenulla, dan bakteri Acetobacter.
Genus tersebut hidup bersama-sama secara sinergis. Aspergillus
menyederhanakan tepung menjadi glukosa serta memproduksi enzim
glukoamilase yang akan memecah pati dengan mengeluarkan unit-unit
glukosa, sedangkan Saccharomyces, Candida dan Hansenulla dapat
menguraikan gula menjadi alkohol dan bermacam-macam zat organik lain
sementara itu Acetobacter dapat merombak alkohol menjadi asam. Beberapa
jenis jamur juga terdapat dalam ragi tape, antara lain Chlamydomucor
oryzae, Mucor sp, dan Rhizopus sp.
Menurut Wanto dan Arif Subagyo dalam Maimuna, S (2004) Khamir
merupakan fungi bersel tunggal sederhana, kebanyakan bersifat saprofitik
dan biasanya terdapat dalam tumbuh-tumbuhan yang mengandung
karbohidrat. Khamir dapat diisolasi dari tanah yang berasal dari kebun
anggur, kebun buah-buahan dan biasanya khamir berada di dalam cairan
yang mengandung gula, seperti cairan buah, madu, sirup, dan sebagainnya.
Bentuk sel khamir biasanya bulat, oval, dan biasanya tidak mempunyai
flagella. Pada umumnya khamir berkembang biak dengan bertunas,
membelah diri dan pembentukan spora. Khamir mempunyai kemampuan
untuk memecah pangan karbohidrat menjadi alkohol dan karbondioksida.
Proses ini diketahui sebagai fermentasi alkohol yaitu proses anaerob. Khamir
mempunyai sekumpulan enzim yang diketahui sebagai zymase yang
berperan pada fermentasi senyawa gula, seperti glukosa menjadi etanol dan
karbondioksida. Reaksi yang terjadi dalam fermentasi alkohol sebagai
berikut:

Jika pemberian O2 berlebihan, sel khamir akan melakukan respirasi


secara aerobik, dalam keadaan ini enzim khamir dapat memecah senyewa
gula lebih sempurna, dan akan dihasilkan karbondioksida dan air.

Jenis khamir yang biasanya dipakai dalam indutri fermentasi alkohol


adalah jenis Saccharomyces cereviseae. Saccharomyces cereviseae
berbentuk bulat, oval, atau memanjang, dan mungkin berbentuk
pseudomiselium. Reproduksi khamir dilakukan dengan cara pertunasan
multipolar, atau melalui pembentukan askospora. Askospora dapat terbentuk
setelah terjadi konjugasi, atau berasal dari sel diploid.
Pertumbuhan sel merupakan puncak aktivitas fisiologi yang saling
mempengaruhi secara berurutan. Proses pertumbuhan ini sangat kompleks
meliputi pemasukan nutrien dasar dari lingkungan ke dalam sel, konversi
bahan-bahan nutrien menjadi energi dan berbagai constituent vital cell serta
perkembangbiakan. Pertumbuhan mikrobial ditandai dengan peningkatan
jumlah dan massa sel serta kecepatan pertumbuhan tergantung pada
lingkungan fisik dan kimia (Anonymous, 2008). Adapun kurva pertumbuhan
mikroba secara umum dapat dilihat pada Gambar 1.
Pada dasarnya pertumbuhan sel mikroba dapat berlangsung tanpa
batas, akan tetapi karena pertumbuhan sel mikroba berlangsung dengan
mengkonsumsi nutrien sekaligus mengeluarkankan produk-produk
metabolisme yang terbentuk, maka setelah waktu tertentu laju pertumbuhan
akan menurun dan akhirnya pertumbuhan berhenti sama sekali. Berhentinya
pertumbuhan dapat disebabkan karena berkurangnya beberapa nutrien
esensial dalam medium atau karena terjadinya akumulasi aututuksin dalam
medim atau kombinasi dari keduanya (Ansori, A., 1989). Saccharomyces
cerevisiae merupakan spesies yang bersifat fermentatif kuat. Tetapi dengan
adanya oksigen, Saccharomyces cerevisiae juga dapat melakukan respirasi
yaitu mengoksidasi gula menjadi karbondioksida dan air. Kedua sistem
tersebut menghasilkan energi, meskipun yang dihasilkan dari respirasi lebih
tinggi dibandingkan dengan melalui fermentasi (Fardiaz, S., 1992).
Saccharomyces cerevisiae akan mengubah 70 % glukosa di dalam
substrat menjadi karbondioksida dan alkohol, sedangkan sisanya tanpa ada
nitrogen diubah menjadi produk penyimpanan cadangan. Produk
penyimpanan tersebut akan digunakan lagi melalui proses fermentasi
endogenous jika glukosa di dalam medium sudah habis (Fardiaz, S., 1992)
Gambar 2. Saccharomyces cereviseae

Saccharomyces cereviseae adalah jenis khamir utama yang berperan


dalam produksi minuman beralkohol seperti bir, anggur, dan juga digunakan
untuk fermentasi adonan dalam perusahaan roti dan fermentasi tape. Kultur
yang dipilih harus dapat tumbuh dengan baik dan mempunyai toleransi yang
tinggi terhadap alkohol serta mampu menghasilkan alkohol dalam jumlah
banyak (Irianto, K., 2006). Pada hakekatnya semua makanan yang
mengandung karbohidrat bisa diolah menjadi tape. Tetapi sampai sekarang
yang sering diolah adalah ketan dan singkong (berdaging putih atau kuning).
Singkong adalah pohon tahunan tropika dan subtropika dari keluarga
Euphorbiaceae. Umbinya dikenal luas sebagai makanan pokok penghasil
karbohidrat dan daunnya sebagai sayuran. Adapun Singkong dapat
diklasifikasikan sebagai berikut (Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan
dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, 2005):

Kerajaan : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Euphorbiales
Familia : Euphorbiaceae
Genus : Manihot
Spesies : M. esculenta
Nama : Manihot esculenta
binomial Crantz binomial
Singkong mempunyai komposisi kandungan kimia (per 100 gram)
dapat dilihat pada Tabel 1 (Anonymous, 2007).

Singkong merupakan sumber energi yang kaya karbohidrat namun


sangat miskin protein. Sumber protein yang bagus justru terdapat pada daun
singkong karena mengandung (per 100 gram) : Vitamin A 11000 SI, Vitamin
C 275 mg, Vitamin B1 0,12 mg, Kalsium 165 mg, Kalori 73 kal, Fosfor 54
mg, Protein 6,8 gram, Lemak 1,2 gram, Hidrat arang 13 gram, Zat besi 2 mg,
asam amino metionin dan 87 % bagian daun dapat dimakan. Buah singkong
mengandung (per 100 gram) : Vitamin B1 0,06 mg, Vitamin C 30 mg dan 75
% bagian buah dapat dimakan. Sedangkan Kulit batang singkong
mengandung tanin, enzim peroksidase, glikosida dan kalsium oksalat
(Anonymous, 2007).
Proses fermentasi tape singkong harus dilakukan secara optimal.
Selain memilih bahan dasar singkong yang baik, proses pembuatan tape
singkong harus benar. Ragi yang digunakanpun harus bermutu tinggi, karena
ragi merupakan bahan utama dalam proses pembuatan tape. Kesterilan ragi
dan bahan dasar pembuatan tape singkong ketika akan digunakan sangat
penting. Hal ini bertujuan agar tidak dicemari bakteri lain. Karena jika dalam
proses pembuatan tape singkong dicemari bakteri lain maka proses
fermentasi akan terhambat. Sehingga tape akan mengeluarkan bakteri yang
sering mengeluarkan racun yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Dari
hasil penelitian S. Siembenhandl L.N., Lestario, D., Trimmel and E.
Berghofer yang dilaporkan di jurnal ilmiah international Journal of Food
Sciences and Nutrion volume 52 halaman 347-357 pada tahun 2001
menyebutkan hasil kadar etanol pada tape ketan hitam setelah didiamkan
selama 2.5 hari (60 jam) dengan pembuatan tape secara tradisional mencapai
3.380 %. Dari data tersebut terlihat bahwa setelah 2.5 hari (60 jam) kadarnya
mencapai 3.3 %, jika lebih dari 3 hari bisa dibayangkan berapa persen kadar
etanol yang akan dicapai (Apriyantono, 2005). Penjual tape biasanya
membuat tape dengan lama fermentasi 3 hari sampai 7 hari bahkan lebih.
Padahal di dalam salah satu hadist yang menceritakan waktu Rasulullah tidak
mau minum jus yang dibiarkan dalam suhu ruang lebih dari 3 hari. Setelah
dilakukan tes menghitung kadar alkoholnya, kadar alkohol yang didapat
sebanyak 1 %. Dengan adanya patokan 1 % ini, maka akan mudah bagi kita
untuk memilih dan menentukan apakah suatu produk makanan/minuman bisa
dikatakan berpotensi memabukkan seperti minuman keras (khamar) atau
tidak. Berangkat dari permasahan di atas, maka perlu dilakukan penelitian
tentang Pengaruh Lama Fermentasi Terhadap Kadar Alkohol Tape Singkong
(Manihot utilissima Pohl).
IV. LANGKAH KERJA

a. Pembuatan bioetanol dari tetes tebu


1. Mempersiapkan bahan baku tetes tebu sebanyak 2 liter
2. Memasukkan 2 liter tetes tebu ke dalam galon kecil (fermentor)
3. Menambahkan ragi roti sebanyak 50 gr dan NPK 100 gr (jurnal =
Agustin 2013)
4. Mengaduk campuran tersebut dan menutup rapat fermentor
5. Pada fermentor terdapat selang yang menghubungkan ke erlenmeyer
yang berisi NaOH 1 M 250 ml
6. Melakukan fermentasi selama 7 hari

Proses destilasi
1. Menyaring cairan bioetanol yang telah difermentasi
2. Mencatat dan menimbang volume filtrat
3. Mengambil 250 ml untuk dimasukkan ke dalam labu leher
4. Melakukan proses destilasi cairan bioetanol tersebut dengan
mengatur suhu pada 92 0C
5. Mengamati proses, mencatat suhu pada tetesan pertama destilat
6. Setelah destilat tidak menetes lagi, mematikan alat destilasi
7. Mencatat volume destilat

b. Pembuatan bioetanol dari air gula


1. Mempersiapkan bahan baku gula sebanyak 400 gr lalu campur dengan
air sampai volumenya 2 liter
2. Memasukkan 2 liter larutan gula ke dalam galon kecil (fermentor)
3. Menambahkan ragi roti sebanyak 50 gr dan NPK 100 gr (jurnal =
Agustin 2013)
4. Mengaduk campuran tersebut dan menutup rapat fermentor
5. Pada fermentor terdapat selang yang menghubungkan ke erlenmeyer
yang berisi NaOH 1 M 250 ml
6. Melakukan fermentasi selama 7 hari
Proses destilasi
1. Menyaring cairan bioetanol yang telah difermentasi
2. Mencatat dan menimbang volume filtrat
3. Mengambil 250 ml untuk dimasukkan ke dalam labu leher
4. Melakukan proses destilasi cairan bioetanol tersebut dengan
mengatur suhu pada 92 0C
5. Mengamati proses, mencatat suhu pada tetesan pertama destilat
6. Setelah destilat tidak menetes lagi, mematikan alat destilasi
7. Mencatat volume destilat

c. Pembuatan bioetanol dari tape singkong


1. Mempersiapkan bahan baku tape singkong yang telah didiami selama
3 hari
2. Menimbang tape sebanyak 1 kg
3. Memeras tape hingga dapat cairan tape
4. Mengukur volume cairan hasil perasan
5. Menimbang ampas tape yang telah diperas
6. Mencatat hasil pengukuran

Proses destilasi
1. Menyiapkan unit destilasi
2. Mengambil 250 ml cairan tape untuk dilakukan proses destilasi dan
memasukkan ke dalam labu leher
3. Melakukan proses destilasi cairan bioetanol tersebut dengan
mengatur suhu pada 92 0C
4. Mengamati proses, mencatat suhu pada tetesan pertama destilat
5. Setelah destilat tidak menetes lagi, mematikan alat destilasi
6. Mencatat volume destilat
d. Analisa bioetanol
Pengukuran pH
1. Menyiapkan bioetanol dan kertas pH
2. Mencelupkan kertas pH ke dalam cairan
3. Mencocokkan warna pH dengan parameter pH
4. Mencatat harga pH

Pengukuran indeks bias


1. Menyiapkan bioetanol dan refraktometer
2. Meneteskan sampel ke alat refraktometer
3. Melakukan pengukuran dan mencatat nilai indeks biasnya
V. DATA PENGAMATAN
A. Proses Fermentasi
Jumlah Air Ragi NPK Total Fermentasi

Sampel Sampel Sebelum Sesudah

(gr) (gr) (gr) (gr) (gr) (gr)

Tebu 2357,6 0 50 100 2507,6 2270

Air Gula 400 1930 50 100 2480 2080

B. Proses Destilasi
Sampel Vtotal Valikot Hasil Destilasi

(ml) (ml) (ml)

Tebu 2487 250 4

Air Gula 2365 250 10

Tape 300 250 2

C. Analisa Hasil Bioetanol


Bioetanol dari tetes tebu
Pengamatan Sebelum Sesudah

Indeks Bias 1,339 1,354

Konsentrasi 21,67 % 71,67 %

pH 4 6

Bioetanol dari air gula


Pengamatan Sebelum Sesudah
Indeks Bias 1,343 1,356

Konsentrasi 35 % 78,33 %

pH 7 5

Bioetanol dari tape


Pengamatan Sebelum Sesudah

Indeks Bias 1,3442 1,3526

Konsentrasi 39 % 67 %

pH 5 6
VI. GRAFIK

a. Grafik kurva Baku Etanol

Hubungan Konsentrasi Etanol dengan Indeks Bias


1.365

1.36
y = 0,0003x + 1,3325
1.355

1.35
Indeks Bias

1.345

1.34

1.335

1.33

1.325
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Konsentrasi (%)
b. Grafik Sebelum dan sesudah destilasi pada tetes tebu

Hubungan Konsentrasi Etanol dengan Indeks Bias


1.365

1.36
y = 0,0003x + 1,3325

1.355

1.35
Indeks Bias

1.345

1.34

1.335

1.33

1.325
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Konsentrasi (%)

Keterangan :

: Sebelum Destilasi = 21,67 %

: Sesudah Destilasi = 71,67 %


c. Grafik Sebelum dan sesudah destilasi pada air gula

Hubungan Konsentrasi Etanol dengan Indeks Bias


1.365

1.36
y = 0,0003x + 1,3325

1.355

1.35
Indeks Bias

1.345

1.34

1.335

1.33

1.325
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Konsentrasi (%)

Keterangan :

: Sebelum Destilasi = 35 %

: Sesudah Destilasi = 78,33 %


d. Grafik Sebelum dan sesudah destilasi pada tape

Hubungan Konsentrasi Etanol dengan Indeks Bias


1.365

1.36
y = 0,0003x + 1,3325

1.355

1.35
Indeks Bias

1.345

1.34

1.335

1.33

1.325
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Konsentrasi (%)

Keterangan :

: Sebelum Destilasi = 39 %

: Sesudah Destilasi = 67 %
VII. PERHITUNGAN

a. Tetes Tebu

C
Massa CO2
Ragi = 50 gr
B NPK = 100 gr

A D
C2H5OH = 2270 gr
molase 2357,6 gr FERMENTOR

Neraca massa total

A + B = C + D
2357,6 + ( 50 + 100) = massa CO2 + 2270 gr
2507,6 gr = massa CO2 + 2270 gr
C ( CO2 ) = 237,6 gr

Neraca massa fermentor

Komponen Input Output

(gr) (gr)

Molase 2357,6

NPK 100

Ragi 50

CO2 237,6

C2H5OH 2270

TOTAL 2507,6 2507,6


Destilator

F = 4 ml
= 0,791 gr/ml
C2H5OH = ?
H2O = ?
D
E
S
T
I
E = 2270 gr L
A
VA = 250 ml
T
VT = 2487 ml O
R

G = ?
C2H5OH = ?
H2O = ?

Dari grafik dapat diketahui :

y = 0,0003 x + 1,3325

x = Konsentrasi

y = Indeks Bias

konsentrasi sebelum (E)

y = 1,339

y = 0,0003 x + 1,3325

1,339 = 0,0003 x + 1,3325

0,0065 = 0,0003 x
Xe = 21,67 %, Xw = 78,33%

konsentrasi sesudah

y = 1,354

y = 0,0003 x + 1,3325

1,354 = 0,0003 x + 1,3325

0,0215 = 0,0003 x

Xe = 71,67 %, Xw = 28,33%

Sampel F (top produk)

Dari 250 ml sampel E didapat 4 ml sampel F, sehingga jika total volume

2487 ml, maka :

2487
V = x 4 ml = 39,8 ml
250

Maka berat top produk

m = Vf x f

= 39,8 ml x 0,791 gr/ml

= 31,5 gr

Sampel G (buttom produk)

E = F +G

G = E - F

= 2270 gr - 31,5 gr

= 2238,5 gr
Neraca massa komponen

C2H5OH = Xe . E = Xe . F + Xe . G

H2O = Xw . E = Xw . F + Xw . G

Harga komposisi masuk dan keluar alat destilasi, persamaan :

21,67 % (2270) gr = 71,67% (31,5) gr + Xe . (2238,5) gr

78,33% (2270) gr = 28,33% (31,5) gr + Xw . (2238,5) gr

Harga komponen masing-masing

- Neraca C2H5OH

21,67 % (2270) gr = 71,67% (31,5) gr + Xe . (2238,5) gr

491,909 gr - 22,57606 gr = Xe . (2238,5) gr

469,33295 gr = Xe . (2238,5) gr

Xe = 0,2097 x 100%

= 20,97

- Neraca H2O

78,33 % (2270) gr = 28,33% (31,5) gr + Xw . (2238,5) gr

1778,091 gr - 8,92395 gr = Xw . (2238,5) gr

1769,16705 gr = Xw . (2238,5) gr

Xw = 0,7903 x 100%

= 79,03%
Neraca massa destilasi

Input Output (gr)

Komponen (gr) Top Produk Bottom Produk

C2H5OH 491,909 22,57605 469,41345

H2O 1778,091 8,92395 1769,08655

Sub Total 2270 31,5 2238,5

Total 2270 2270

F C2H5OH = 71,67% = 22,57605 gr


H2O = 28,33% = 8,92395 gr
Total = 31,5 gr

D
E
S
T
E
I
L
C2H5OH = 21,67% = 491,909 gr A
H2O = 78,33% = 1778,091 gr T
O
Total = 2270 gr
R

G C2H5OH = 20,97% = 469,41345 gr


H2O = 79,03% = 1769,08655 gr
Total = 2238,5 gr
Dehidrasi tetes tebu
I = 100 gr
Silika gel = 96,5 %
H2O = 3,5%

H = 31,5 gr C2H5OH = 92%


K
C2H5OH = 71,67% H2O = 8%
ABSORBER
H2O = 28,33%

Silika gel = ?
H2O = ?

- Harga komponen H masing-masing

C2H5OH = 71,67% x 31,5 gr = 22,6 gr


H2O = 28,33% x 31,5 gr = 8,9 gr
Total = 31,5 gr
- Harga komponen I masing-masing

C2H5OH = 96,5% x 100 gr = 96,5 gr


H2O = 3,5 % x 100 gr = 3,5 gr
Total = 100 gr
- Harga komponen K masing-masing

C2H5OH = 22,6 gr
8
H2O = x 22,6 gr = 2 gr
92
Total = 24,6 gr
- Harga komponen J

Silika gel = 96,5 gr

H2O

H2O masuk = H2O keluar


H + I = J + K

(8,9 + 3,5) gr = J + 2 gr

H2O = 10,4 gr

Total = silika gel + H2O = 106,9 gr

Neraca massa absorber

Komponen Input (gr) Output (gr)

C2H5OH 22,6 22,6

H2 O 8,9 + 3,5 2 + 10,4

Silka Gel 96,5 96,5

Total 131,5 131,5

Silika gel = 96,5% = 96,5 gr


H2O = 3,5% = 3,5 gr
I = 100 gr
C2H5OH = 71,67% = 22,6 gr
H2O = 28,33% = 8,9 gr ABSORBER
H = 31,5 gr C2H5OH = 92 % = 22,6 gr
H2O =8% = 2 gr
K = 24,6 gr

Silika gel = 90,3 % = 96,5 gr


H2O = 9,7 % = 10,4 gr
J = 106,9 gr
Tetes tebu

- Secara teori mengandung = 235,7 % maltosa (C12H22OH)

Massa tebu = 2357,6 gr

- Mol maltosa dalam tebu = 235,76% x 2357,6 gr = 5558,3 gr

5558,3
= = 11,2 mol
498 /

Reaksi

C12H22OH + H2O C6H12O6

M 11,2 11,2 - (mol)

B 11,2 11,2 11,2 (mol)

S - - 11,2 (mol)

BM 498 18 199 (gr/grmol)

m - - 2228,8 (gr)

C6H12O6 2 C2H5OH + 2 CO2

M 11,2 - - (mol)

B 11,2 11,2 11,2 (mol)

S - 11,2 11,2 (mol)

BM 199 46 44 (gr/grmol)

m - 515,2 492,8 (gr)

- Teori etanol yang terbentuk = 515,2 gr

- Praktek etanol yang terbentuk = 31,5 gr


2357,6 31,5
% konversi = x 100% = 98,7%
2357,6

31,5
% yield = x 100% = 6,1 %
515,2

515,2 31,5
% kesalahan = x 100% = 93,9 %
515,2

Neraca Ekonomi

No Komponen Jumlah Harga Subtotal

1 Tetes tebu 2 liter (9 bungkus) 3000 27000

2 Ragi 9 bungkus 2000 18000

3 NPK 2500 2500

Pengeluaran untuk biaya produksi 4 ml bioetanol Rp. 47500

- Harga etanol 1 liter = Rp. 27500

4
- Pendapatan = x 27500
1000

= Rp. 110

- Kerugian = Rp. 47500 Rp.110

= Rp. 47390

Maka, pembuatan bioetanol dengan tetes tebu tidaklah ekonomis.


b. Air Gula

C
Massa CO2
Air = 1930 gr
B Ragi = 50 gr
NPK = 100 gr

A D
C2H5OH = 2080 gr
molase 400 gr FERMENTOR

Neraca massa total

A + B = C + D
((400) + 1930 + 50 + 100) gr = massa CO2 + 2080 gr
C ( CO2 ) = 400 gr

Neraca massa fermentor

Komponen Input Output

(gr) (gr)

Molase 400

Air 1930

NPK 100

Ragi 50

CO2 400

C2H5OH 2080

TOTAL 2480 2480


Destilator

F = 10 ml
= 0,791 gr/ml
C2H5OH = ?
H2O = ?
D
E
S
T
I
E = 2080 gr L
A
VA = 250 ml
T
VT = 2365 ml O
R

G = ?
C2H5OH = ?
H2O = ?

Dari grafik dapat diketahui :

y = 0,0003 x + 1,3325

x = Konsentrasi

y = Indeks Bias

konsentrasi sebelum (E)

y = 1,343

y = 0,0003 x + 1,3325

1,343 = 0,0003 x + 1,3325

0,0105 = 0,0003 x
Xe = 35 %, Xw = 65 %

konsentrasi sesudah

y = 1,356

y = 0,0003 x + 1,3325

1,356 = 0,0003 x + 1,3325

0,0235 = 0,0003 x

Xe = 78,33 %, Xw = 21,67 %

Sampel F (top produk)

Dari 250 ml sampel E didapat 10 ml sampel F, sehingga jika total volume

2365 ml, maka :

2365
V = x 10 ml = 94,6 ml
250

Maka berat top produk

m = Vf x f

= 94,6 ml x 0,791 gr/ml

= 74,8 gr

Sampel G (buttom produk)

E = F +G

G = E - F

= 2080 gr - 74,8 gr

= 2005,2 gr
Neraca massa komponen

C2H5OH = Xe . E = Xe . F + Xe . G

H2O = Xw . E = Xw . F + Xw . G

Harga komposisi masuk dan keluar alat destilasi, persamaan :

35 % (2080) gr = 78,33% (74,8) gr + Xe . (2005,2) gr

65 % (2080) gr = 21,67 % (74,8) gr + Xw . (2005,2) gr

Harga komponen masing-masing

- Neraca C2H5OH

35 % (2080) gr = 78,33 % (74,8) gr + Xe . (2005,2) gr

728 gr - 58,59084 gr = Xe . (2005,2) gr

Xe = 0,3338 x 100%

= 33,38 %

- Neraca H2O

65 % (2080) gr = 21,67 % (74,8) gr + Xw . (2005,2) gr

1352 gr - 16,20916 gr = Xw . (2005,2) gr

Xw = 0,6662 x 100%

= 66,62 %
Neraca massa destilasi

Input Output (gr)

Komponen (gr) Top Produk Bottom Produk

C2H5OH 728 58,59084 669,33576

H2O 1352 16,20916 1335,86424

Sub Total 2080 74,8 2005,2

Total 2080 2080

F C2H5OH = 78,33 % = 58,59084 gr


H2O = 21,67 % = 16,20916 gr
Total = 74,8 gr

D
E
S
T
E
I
L
C2H5OH = 35 % = 720 gr A
H2O = 65 % = 1352 gr T
O
Total = 2080 gr
R

G C2H5OH = 33,38 % = 669,33576 gr


H2O = 66,62 % = 1335,86424 gr
Total = 2005,2 gr
Dehidrasi air gula
I = 100 gr
Silika gel = 96,5 %
H2O = 3,5%

H = 74,8 gr C2H5OH = 92%


K
C2H5OH = 78,33 % H2O = 8%
ABSORBER
H2O = 21,67 %

Silika gel = ?
H2O = ?

- Harga komponen H masing-masing

C2H5OH = 78,33% x 74,8 gr = 58,6 gr


H2O = 21,67% x 74,8 gr = 16,2 gr
Total = 74,8 gr
- Harga komponen I masing-masing

C2H5OH = 96,5% x 100 gr = 96,5 gr


H2O = 3,5 % x 100 gr = 3,5 gr
Total = 100 gr
- Harga komponen K masing-masing

C2H5OH = 58,6 gr
8
H2O = x 58,6 gr = 5,1 gr
92
Total = 63,7 gr
- Harga komponen J

Silika gel = 96,5 gr

H2O

H2O masuk = H2O keluar


H + I = J + K

(16,2 + 3,5) gr = J + 5,1 gr

H2O = 14,6 gr

Total = silika gel + H2O = 111,1 gr

Neraca massa absorber

Komponen Input (gr) Output (gr)

C2H5OH 58,6 58,6

H2 O 16,2 + 3,5 5,1 + 14,6

Silka Gel 96,5 96,5

Total 174,8 174,8

Silika gel = 96,5% = 96,5 gr


H2O = 3,5% = 3,5 gr
I = 100 gr
C2H5OH = 78,33% = 58,6 gr
H2O = 21,67% = 16,2 gr ABSORBER
H = 74,8 gr C2H5OH = 92 % = 58,6 gr
H2O =8% = 5,1 gr
K = 63,7 gr

Silika gel = 86,9 % = 96,5 gr


H2O = 13,1 % = 14,6 gr
J = 111,1 gr
Tetes tebu

- Secara teori mengandung = 90,50 % maltosa (C12H22OH)

Massa air gula = 400 gr

- Mol maltosa dalam tebu = 90,50 % x 400 gr = 362 gr

362
= = 0,7 mol
498 /

Reaksi

C12H22OH + H2O C6H12O6

M 0,7 0,7 - (mol)

B 0,7 0,7 0,7 (mol)

S - - 0,7 (mol)

BM 498 18 199 (gr/grmol)

m - - 139,3 (gr)

C6H12O6 2 C2H5OH + 2 CO2

M 0,7 - - (mol)

B 0,7 0,7 0,7 (mol)

S - 0,7 0,7 (mol)

BM 199 46 44 (gr/grmol)

m - 32,2 30,8 (gr)

- Teori etanol yang terbentuk = 32,2 gr

- Praktek etanol yang terbentuk = 74,8 gr


400 74,8
% konversi = x 100% = 81,3 %
400

74,8
% yield = x 100% = 232,3 %
32,2

32,2 44,8
% kesalahan = x 100% = 132,3 %
32,2

Neraca Ekonomi

No Komponen Jumlah Harga Subtotal

1 Gula pasir 400 gr 6000 6000

2 Ragi 9 bungkus 2000 18000

3 NPK 2500 2500

pengeluaran untuk biaya produksi 4 ml bioetanol Rp. 26500

- Harga etanol 1 liter = Rp. 27500

10
- Pendapatan = x 27500
1000

= Rp. 275

- Kerugian = Rp. 26500 Rp.275

= Rp. 26226

Maka, pembuatan bioetanol dengan air gula tidaklah ekonomis.


c. Tape

Massa tape = 1000 gr

Hasil :

Cairan = 300 ml, = 0,791 gr/ml

= 442,89 gr

Destilator

B = 2 ml
= 0,791 gr/ml
C2H5OH = ?
H2O = ?
D
E
S
T
I
A = 442,89 gr L
A
VA = 250 ml
T
VT = 300 ml O
R

C = ?
C2H5OH = ?
H2O = ?

Dari grafik dapat diketahui :

y = 0,0003 x + 1,3325

x = Konsentrasi

y = Indeks Bias
konsentrasi sebelum (A)

y = 1,3442

y = 0,0003 x + 1,3325

1,3442 = 0,0003 x + 1,3325

0,0117 = 0,0003 x

Xe = 39 %, Xw = 61 %

konsentrasi sesudah

y = 1,3526

y = 0,0003 x + 1,3325

1,3526 = 0,0003 x + 1,3325

0,0202 = 0,0003 x

Xe = 67 %, Xw = 33 %

Sampel B (top produk)

Dari 250 ml sampel E didapat 10 ml sampel F, sehingga jika total volume

300 ml, maka :

300
V = x 10 ml = 2,4 ml
250

Maka berat top produk

m = Vf x f

= 2,4 ml x 0,791 gr/ml

= 1,8984 gr
Sampel C (buttom produk)

A = B +C

C = A - B

= 442,89 gr - 1,8984 gr

= 440,9916 gr

Neraca massa komponen

C2H5OH = Xe . A = Xe . B + Xe . C

H2O = Xw . A = Xw . B + Xw . C

Harga komposisi masuk dan keluar alat destilasi, persamaan :

39 % (442,89) gr = 67 % (1,8984) gr + Xe . (440,9916) gr

61 % (442,89) gr = 33 % (1,8984) gr + Xw . (440,9916) gr

Harga komponen masing-masing

- Neraca C2H5OH

39 % (442,89) gr = 67 % (1,8984) gr + Xe . (440,9916) gr

172,7271 gr - 1,271928 gr = Xe . (440,9916) gr

Xe = 0,3888 x 100%

= 38,88 %

- Neraca H2O

61 % (442,89) gr = 33 % (1,8984) gr + Xw . (440,9916) gr

270,1629 gr - 0,626472 gr = Xw . (440,9916) gr

Xw = 0,6112 x 100%

= 61,12 %
Neraca massa destilasi

Input Output (gr)

Komponen (gr) Top Produk Bottom Produk

C2H5OH 172,7271 1,2719 171,4575

H2O 270,1629 0,6265 269,5341

Sub Total 442,89 1,8984 440,9916

Total 442,89 442,89

B C2H5OH = 67 % = 1,2719 gr
H2O = 21,67 % = 0,6265 gr
Total = 1,8984 gr

D
E
S
T
A
I
L
C2H5OH = 39 % = 172,7271 gr A
H2O = 61 % = 270,1629 gr T
O
Total = 442,89 gr
R

C C2H5OH = 38,88 % = 171,4575 gr


H2O = 61,12 % = 269,5341 gr
Total = 440,9916 gr
Dehidrasi tape
E = 100 gr
Silika gel = 96,5 %
H2O = 3,5%

D = 1,8984 gr C2H5OH = 92%


G
C2H5OH = 67 % H2O = 8%
ABSORBER
H2O = 33 %

Silika gel = ?
H2O = ?

- Harga komponen B masing-masing

C2H5OH = 67 % x 1,8984 gr = 1,3 gr


H2O = 33 % x 1,8984 gr = 0,6 gr
Total = 1,9 gr
- Harga komponen E masing-masing

C2H5OH = 96,5% x 100 gr = 96,5 gr


H2O = 3,5 % x 100 gr = 3,5 gr
Total = 100 gr
- Harga komponen K masing-masing

C2H5OH = 1,3 gr
8
H2O = x 1,3 gr = 0,1 gr
92
Total = 1,4 gr
- Harga komponen F

Silika gel = 96,5 gr

H2O

H2O masuk = H2O keluar


H + I = J + K

(0,6 + 3,5) gr = J + 0,1 gr

H2O = 4 gr

Total = silika gel + H2O = 100,5 gr

Neraca massa absorber

Komponen Input (gr) Output (gr)

C2H5OH 1,3 1,3

H2 O 0,6 + 3,5 0,1 + 4

Silka Gel 96,5 96,5

Total 101,9 101,9

Silika gel = 96,5% = 96,5 gr


H2O = 3,5% = 3,5 gr
E = 100 gr
C2H5OH = 67 % = 1,3 gr
H2O = 33 % = 0,6 gr ABSORBER
D = 74,8 gr C2H5OH = 92 % = 1,3 gr
H2O =8% = 0,1 gr
G = 1,4 gr

Silika gel = 96,0 % = 96,5 gr


H2O =4% = 4 gr
F = 100,5 gr
Tape

- Secara teori mengandung = 5 % maltosa (C12H22OH)

Massa tape = 1000 gr

5
- Mol maltosa dalam tebu = x 1000 gr = 50 gr
100

Teori etanol yang terbentuk = 50 gr

Praktek etanol yang terbentuk = 1,8984 gr


1000 1,8984
% konversi = x 100% = 99,8 %
1000

1,8984
% yield = x 100% = 3,8 %
50

50 1,8984
% kesalahan = x 100% = 96,2 %
50
Neraca Ekonomi

No Komponen Jumlah Harga Subtotal

1 Tape 1000 gr 14000 14000

pengeluaran untuk biaya produksi 4 ml bioetanol Rp. 14500

- Harga etanol 1 liter = Rp. 27500

2
- Pendapatan = x 27500
1000

= Rp. 55

- Kerugian = Rp. 14000 Rp.55

= Rp. 13945

Maka, pembuatan bioetanol dengan air gula tidaklah ekonomis.


VIII. ANALISA DATA

dari percobaan yang telah dilakukan dapat dianalisa dalam pembuatan

bioetanol dengan menggunakan bahan baku yaitu tetes tebu, air gula, dan tape.

Tetes tebu, air gula, dan tape merupakan biomassa dan diukur kadar etanolnya.

Dalam pembuatannya, tetes tebu dan air gula difermentasi dengan bantuan ragi

roti dengan cara fermentasi anaerob. Dimana akan bertumbuhnya bakteri

saccharomyses cerevisiae. Dimana fermentasi ini tidak terdapat oksigen pada

fermentor sehingga adanya penambahan urea dan NPK yang bertujuan sebagai

makanan atau nutrisi bagi ragi untuk berkembang. Ragi roti ini dipakai untuk

memfermentasikan gula menjadi etanol, yang terlebih dahulu dicampur dengan

tetes tebu dan air gula dengan NPK, kemudian diaduk di fermentor. Kemudian

dilakukan fermentasi selama 7 hari dalam keadaan anaerob yang temperaturnya

dijaga 27 32 0C, jangan sampai melebihi 36 0C karena akan merusak ragi roti.

Semakin lama proses fermentasi berlangsung, jumlah karbohidrat yang

dirombak menjadi glukosa semakin banyak. Hal ini mengakibatkan kadar alkohol

molase meningkat sehingga pada proses destilasi mengalami peningkatan kadar

alkohol yang diperoleh.

Dari pengamatan didapatkan pH tetes tebu dan tape lebih tinggi daripada pH

larutan gula. Hal ini disebabkan fermentasi pada tetes tebu lebih baik dari larutan

gula. Selain itu, pada indeks biasnya untuk mengukur kemurnian suatu larutan

dimana larutan gula lebih tinggi indeks biasnya dibandingkan dengan larutan tetes

tebu dan tape. Hal ini menandakan bahwa larutan gula lebih murni dari larutan

tetes tebu dan tape. Jumlah mikroba perombak yang terdapat pada molase

semakin meningkat, maka keasaman bahan semakin tinggi, dimana asam


dihasilkan dari perombakan alkohol menjadi asam lainnya, sehingga pH molase

yang dihasilkan semakin menurun. Setelah menganalisa indeks bias dan kadar pH

nya lalu dilakukan destilasi. Pada tetesan pertama pada tetes tebu yaitu pada

temperatur 73 0C. Setelah destilasi dilakukan analisa pH dan indeks biasnya.

Konsentrasi dari saccharomyses cerevisiae berpengaruh terhadap produksi

etanol dari tetes tebu. Produksi etanol semakin meningkat dengan meningkatnya

konsentrasi yang ditambahkan pada medium tetes yang mengandung sumber gula.

Penambahan ragi dan NPK dengan konsentrasi yang rendah mengakibatkan laju

fermentasi menjadi lambat, tetapi dapat menghasilkan etanol yang lebih tinggi

karena setelah sel memperbanyak diri, sel akan mengkonversi gula menjadi etanol

secara perlahan. Maka selama fermentasi tidak akan terjadi akumulasi yang bisa

menjadi racun bagi sel tersebut dan sel masih tetap bisa menghasilkan etanol.

Untuk melihat konsentrasi etanol digunakan kurva bahan baku dari etanol dapat

dilihat bahwa persamaan garis dari kurva baku yaitu y = 0,0003 x + 1,3325.

Efisiensi penggunaan substrat untuk menghasilkan etanol dinyatakan dalam

yield etanol. Semakin tinggi nilai yield, maka semakin efisien proses fermentasi

tersebut. Yield etanol dapat melebihi 92 95 % dari yield teori. Alasan yield

etanol yang sangat tinggi tidak hanya karena penggunaan ATP untuk

pertumbuhan sel. Beberapa energi digunakan untuk fungsi sel yang lain, salah

satunya untuk mempertahankan sel akibat kondisi ekstrim seperti inhibisi etanol

dan kekurangan nutrisi. Untuk menghasilkan etanol dengan konsentrasi yang

tinggi dalam kondisi tersebut, sel akan meningkatkan penggunaan ATP untuk

reproduksi sel dan pemecahan sumber gula dalam medium fermentasi turun yang

diikuti dengan peningkatan yield etanol.


Untuk melihat keekonomisan dari produk dilakukan pengamatan neraca

ekonomi dimana didapatkan hasil destilat yang tidak ekonomis karena hasil ynag

didapatkan hanya sedikit sehingga kurang baik untuk digunakan.


IX. KESIMPULAN

Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :

1. Semakin banyak jumlah glukosa yang terdapat pada bahan, semakin tinggi

jumlah alkohol yang dihasilkan dari perombakan glukosa tersebut. Semakin

besar jumlah mikroba perombak pati menjadi glukosa dan mikroba perombak

glukosa menjadi alkohol semakin banyak, sehingga kadar alkohol yang

dihasilkan semakin tinggi

2. Persentase penggunaan NPK dan ragi berpengaruh terhadap kadar gula

terfermentasi, pH kadar alkohol setelah fermentasi, kadar alkohol setelah

destilasi, dan rendemen.

3. Proses destilasi pada alkohol setelah fermentasi sangat memberikan pengaruh

untuk menghasilkan konsentrasi alkohol yang tinggi dengan

memperhitungkan titik didih air dan alkohol

4. Semakin lama proses fermentasi berlangsung, jumlah karbohidrat yang

dirombak menjadi glukosa semakin banyak. Hal ini mengakibatkan kadar

alkohol molase meningkat sehingga pada proses destilasi mengalami

peningkatan kadar alkohol yang diperoleh

5. Dari percobaan yang telah dilakukan didapatkan kadar etanol

a. Tetes tebu Sebelum = 21,67 %

Sesudah = 71,67 %

b. Air gula Sebelum = 35 %

Sesudah = 78,33 %

c. Tape Sebelum = 39 %

Sesudah = 67 %
DAFTAR PUSTAKA

Jobsheet. 2016. Penuntun Praktikum Teknologi Biomassa. POLSRI : Palembang

Amrine, M.A..Berg and M.V Croes, 1972. The Technology of wire making, The

AVI Publishing Company, West port, Connecticut

AOAC, 1970. Official method and analysys of the official analytical chemist, 11th

edition. Washington, DC

Apriyanto, A.,D. Fardiaz, N.L. Puspitasari, Sedarnawati, 1989. Analisis Pangan. IPB

Press, Bogor
GAMBAR ALAT

Proses fermentasi tetes tebu dan air gula

Proses Distilasi tetes tebu dan air gula

Uji nilai pH