Anda di halaman 1dari 17

Laporan Kasus

HAEMONCHOSIS PADA KAMBING

Oleh:

SUHARMITA DARMIN, S.KH


NIM: 1602101020040

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
BANDA ACEH
2017
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah

memberikan nikmat, rahmat serta karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat

menyelesaikan laporan kasus mandiri yang berjudul Haemonchosis pada Kambing.

Laporan ini dibuat untuk memenuhi sebagian syarat yang diperlukan untuk

menyelesaikan Ko-Asistensi Klinik Interna. Shalawat serta salam penulis haturkan

kepada junjungan Nabi Muhammad SAW yang telah membimbing manusia dari alam

kebodohan ke alam yang berilmu pengetahuan.

Penulis mengucapkan terimakasih kepada Bapak drh. Rusli, MS selaku

Koordinator Klinik Interna yang telah banyak memberikan ilmu dan mengarahkan

dalam pelaksanaan Koasistensi. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada Dosen

Pembimbing, Dr. drh. T. Fadrial Kamil, M,Si yang telah meluangkan waktu serta

tenaga untuk membimbing dan mengarahkan penulis demi terlaksananya kasus

mandiri dalam Ko-Asistensi di Klinik Interna.

Penulis menyadari, laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu kritik

dan saran yang bersifat membangun selalu penulis harapkan demi kesempurnaan

laporan ini. Semoga Allah SWT selalu memberikan rahmat dan lindungan-Nya

kepada kita semua. Amiinn ya Rabbalalamiinn.

Banda Aceh, 27 April 2017

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN SAMPUL ................................................................................ i

KATA PENGANTAR................................................................................... ii

DAFTAR ISI................................................................................................. iii

PENDAHULUAN

Latar Belakang...................................................................................... 1

TINJAUAN PUSTAKA

Etiologi.................................................................................................. 2

Patogenesis............................................................................................ 10

Gejala Klinis.......................................................................................... 12

Diagnosa................................................................................................ 12

Diagnosa Banding................................................................................. 12

Pencegahan dan Pengobatan Haemonchosis......................................... 12

PENEMUAN KASUS

PEMBAHASAN

Organ dan Sistem Organ yang terlibat.................................................. 12

KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA
PENDAHULUAN

Kambing merupakan jenis ternak ruminansia yang lebih kecil dibandingkan

dengan sapi dan kerbau. Memelihara kambing tidak sulit karena hanya memerlukan

modal yang relatif lebih sedikit daripada ternak ruminansia lain dan biasanya

dimanfaatkan sebagai usaha rumahan, sehingga pakannyapun cukup beragam, salah

satunya adalah pakan hijauan (Pamungkas et al., 2009).

Di negara tropis, seperti Indonesia, salah satu faktor penghambat

perkembangan usaha peternakan kambing yang tidak boleh diabaikan adalah

penyakit. Penyakit yang sering mendatangkan kerugian yang cukup besar walaupun

jarang meyebabkan kematian adalah penyakit yang disebabkan oleh cacing, antara

lain adalah Haemonchus sp.. Haemonchiosis merupakan penyakit yang disebabkan

oleh Haemonchus spp., salah satunya adalah Hemonchus contortus. Penyakit tersebut

terdapat di seluruh dunia terutama daerah yang beriklim tropis dan subtropis (Waller

dan Chandrawatani, 2005).

Cacing Haemonchus contortus yang mempunyai kebiasaan menghisap darah.

Kebiasaan tersebut dapat mengakibatkan terjadinya anemia yang ditandai dengan

penurunan jumlah eritrosit dan Packed Cell Volume (PCV). Infeksi kronis yang

disertai dengan rendahnya asupan nutrisi ternak dapat berakibat terjadi penurunan

protein dan penurunan berat badan (Lastuti et al. 2006). Kerugian ekonomi dapat pula

terjadi seperti penurunan produksi daging, susu dan wol baik secara kuantitatif

maupun kualitatif serta dapat menyebabkan kematian ternak (Lastuti et al. 2006).
TINJAUAN PUSTAKA

Etiologi

Menurut Soulsby (1986), klasifikasi Haemonchus contortus sebagai berikut:

Phylum: Nemathelminthes

Class: Nematoda

Ordo: Strongyloidea

Famili: Trichostrongylidae

Genus: Haemonchus

Species: Haemonchus contortus

Haemonchus contortus biasa disebut dengan istilah barberpole worm, cacing

lambung berpilin, atau cacing kawat pada ruminansia. Haemonchus contortus

merupakan cacing lambung yang besar, disebut cacing barberpole, cacing lambung

berpilin atau cacing kawat pada ruminansia (Bowman, 2003).

Haemonchus sp. pertama kali ditemukan Rudolphi tahun 1903 pada ternak

kambing, domba, sapi dan hewan ruminansia lainnya. Predileksi cacing ini pada

abomasum ternak, Haemonchus plecei di temukan didalam abomasum sapi

(Syarifuddin, 1993; Levine, 1994).

Kambing yang menderita Haemonchosis dapat sembuh sendiri tanpa

pengobatan dan dikenal sebagai self cure. Suatu penomena yang sering terjadi pada

suatu periode hujan yang lebat dimana jumlah telur dalam feses tiba-tiba menurun

dengan tajam (sampai hampir nol) Sebagian besar cacing dewasa dalam abomasum
dikeluarkan secara paksa sebagai akibat dari reaksi immediate type hypersensitivity

terhadap antigen dari larva yang berkembang (Anonim, 2003).

Siklus hidup Haemonchus sp.

Dalam perkebangan siklus hidupnya Haemonchus sp. tidak memerlukan induk

semang perantara. Infestasi terjadi secara langsung melalui makanan atau minuman

yang terkontaminasi oleh larva infektif yang masuk kedalam abomasum dan disini

larva berkembang menjadi cacing dewasa. Kecendrungan ternak kambing

terkontaminasi Haemonchus contortus pada berbagai tingkat umur (Syarifuddin,

1993; Bowman 2003).

Cacing betina bertelur di dalam abomasum, kemudian melalui saluran

pencernaan keluar bersama feses dan jatuh ke tanah dan selanjutnya pada temprature

udara 26-27C telur tersebut akan menetas dalam waktu 19 jam. Kemudian dari telur

keluar larva I yang sangat aktif dan 12 jam kemudian kegiatannya terhenti lalu

berubah menjadi larva II, larva II akan berubah menjadi larva III (larva infektif)

dalam waktu 4 hari. Larva infektif dapat hidup bebas sampai beberapa lama dalam

selubungnya. Larva III sangat peka terhadap tempratur udara yang sangat panas dan

kering, tetapi temprature yang sangat rendah larva dapat hidup bebas dalam

selubungnya. Pagi hari larva infektif akan bergerak ke ujung-ujung daun rumput

menanti induk semangnya dan siang hari turun ke tanah dan sore hari akan naik

kembali ke ujung-ujung rumput (Lepage, 1962; Subronto dan Tjahajati 2004).


Kambing akan terinfestasi apabila memakan pakan yang terkontaminasi oleh

larva III (larva infektif), kemudian larva ini akan masuk ke dalam mukosa abomasum

dan mengisap darah dalam waktu 4-7 hari setelah infestasi larva berkembang menjadi

cacing dewasa. Larva berubah menjadi cacing dewasa di dalam abomasum

memerlukan waktu 18 hari, dan kemudian cacing segera bertelur. Waktu yang

diperlukan untuk satu kali siklus hidup cacing Haemonchus sp berkisar antara 3-4

bulan (Syarifuddin, 1993).

Patogenesis

Patogenesa Haemonchosis terjadi karena anemia akibat pendarahan yang akut

karena cacing mengisap darah, setiap cacing yang mengisap darah 0.05 ml/hari

(Anonim, 2003). Haemonchosis akut terlihat anemia selama dua minggu setelah

infeksi yang ditandai dengan penurunan yang cepat dan drastis volume sel-sel darah

merah. Minggu selanjutnya haematokrit tetap rendah (tidak lebih rendah) karena

eritropoisis bekerja dua sampai tiga kali lebih banyak untuk menutupi anemia akut

ini. namun karena kehilangan zat besi dan protein secara terus menerus

mengakibatkan eritropoisis tidak mampu menandingi sehingga angka haematokrit

terus menurun sebelum hewan mati (Bowmen, 2003).

Bila terjadi pada induk kambing akan terjadi agalaktia dan bisa menyebabkan

anak kambing yang menyusui mati. Haemonchosis perakut terjadi bila 30.000 ekor

cacing menginfeksi kambing. Kambing yang kelihatan sehat tiba-tiba mati mendadak
karena radang lambung dan pendarahan yang hebat (hal ini jarang terjadi) (Anonim,

2003). Kasus yang sering terjadi dan kurang diketahui kehadirannya adalah

Haemonchosis kronis yang terjadi karena musim kering yang panjang dan reinfeksi

dapat diabaikan akan tetapi makanan tidak mencukupi. Selama priode tersebut

kehilangan darah walaupun sedikit secara terus menerus dapat menghasilkan gejala-

gejala klinis yang terutama ditampakan umumnya dengan kehilangan berat badan dan

lemah (Aiello, 1998).

Gejala Klinis

Gejala klinis yang ditimbulkan akibat infeksi cacing H. contortus pada

kambing yaitu kambing mengalami anemia dan penurunan Packed Cell Volume

(PCV), diare, dehidrasi dan terjadinya akumulasi cairan pada jaringan sub mandibular

(bottle jaw), abdomen, rongga thoraks dan dinding usus. Infeksi cacing ini juga dapat

menyebabkan tingkat pertumbuhan kambing yang lebih rendah, mengurangi kinerja

reproduksi yang terlihat nyata, memiliki kerentanan yang lebih tinggi terhadap

paparan penyakit dan menyebabkan kematian (Browning, 2006).

Diagnosa

Diagnosis haemonchosis dapat dilihat berdasarkan gejala klinis yang

ditimbulkan. Selain itu, dapat pula ditentukan dengan mengidentifikasi telur-telur

dengan menghitung jumlah telur tiap gram tinja (ttgt), di bawah mikroskop. Bedah
bangkai (post mortem) pada ternak yang mati juga akan membantu dalam penetapan

diagnosis penyakit ini.

Diagnosa Banding

Keberadaan telur cacing dalam feses pada kasus haemonchosis sering

dikelirukan dengan telur cacing Trichostrogylus sp, Ostertagia sp. dan cacing sejenis

lainnya karena mempunyai morfologi yang hampir sama dan berpredileksi didalam

obomasum. Penurunan berat badan ternak, diare dan anemia adalah gejala tipikal dari

helminthiasis pada ruminansia, namun agen penyakit infeksius yang lain dan kasus

kerancunan dapat juga menyebabkan gejala yang sama (Subronto dan Tjahajati,

2003).

Pengobatan dan Pengendalian

Pengobatan sebaiknya efektif untuk sekali pemberian dalam dosis tunggal

untuk menghidari resistensi obat. Worm zole-B bahan aktifnya adalah albendazol.

Albendazol efektif membunuh cacing dewasa, larva (L3) dan larva diam (L1, L2)

(Subronto dan Tjahajati, 2004).

Pengendalian hayati merupakan salah satu alternatif dalam upaya

pengendalian haemonchosis. Pada dasarnya pengendalian hayati adalah upaya untuk

mengurangi populasi agen penyakit sampai batas tidak menimbulkan kerugian pada

inangnya (Larsen, 2000).


PENEMUAN KASUS

Pada bulan Februari 2016 dari beberapa perternakan kambing rakyat

ditemukan kambing dengan gejala klinis yang hampir sama satu dengan yang lainnya

dengan menampakkan gejala antara lain: diare, lemas, sempoyongan, anemia, kurus,

nafsu makan menurun, turgor kulit jelek dan bulu kusam dan rontok seperti pada

Gambar 1.

Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukan bahwa pada pemeriksaan feses

kambing secara natif dan sentripus apung ditemukan telur cacing Haemonchus sp,

pada pemeriksaan darah Hb dan Ht ditemukan hasil dibawah normal. Gejala klinis

dan hasil pemeriksaan laboratorium maka dapat didiagnosa sebagai Hemonchosis.

Pengobatan yang diberikan yaitu B compleks, worm zole-B dan Ringers laktat.

Gambar 1. Kambing yang menderita Haemonchosis


PEMBAHASAN

Hasil pemeriksaan feses dengan metode natif dan sentrifus dapat diidentifikasi

telur Haemonchus sp. yang nampak di bawah mikroskop dengan perbesaran 100x,

seperti pada Gambar 2.

Gambar 2. Hasil Pemeriksaan (Panah merah: Haemonchus Contortus)

Telur Haemonchus contortus dengan morfologi berdinding tipis, berbentuk

lonjong dan terdapat area bening di dalam telur seperti pada Gambar 2. (Purwanta et

al., 2009). Telur berkembang menuju stadium morula (didalam telur mengandung 16-

32 sel) (Rahayu, 2010). Selain itu, untuk mengetahui tingkat keparahan infeksi

dilakukan metode uji Egg Per Gram Mc. Master diperoleh jumlah telur per gram tinja

sebanyak 800 TTGT. Berdasarkan literatur tingkat infeksi Haemonchosis masih

tergolong sedang. Derajat infeksi dapat dikatagorikan derajat ringan apabila jumlah
TTGT sebanyak 50- 4400 telur, infeksi sedang dengan jumlah TTGT sebanyak 4400-

8800 telur dan mengalami infeksi tinggi dengan TTGT sebanyak > 8000 telur.

Organ dan Sistem Organ yang terlibat pada penyakit Haemonchosis

Organ yang diserang oleh parasit ini yaitu abomasum. Adapun system yang

terlibata ada dua yaitu system sirkulasi dan system digesti.

Sistem Sirkulasi

Larva stadium empat (L4) dan stadium lima (L5) H. contortus ketika migrasi

akan merusak jaringan mukosa abomasum. Cacing melekatkan diri pada mukosa

abomasum dan menghisap darah selama kurang lebih 12 menit, lalu melepaskan diri,

dan menimbulkan luka yang masih tetap mengeluarkan darah kurang lebih selama 7

menit (Soulsby, 1986). Pendarahan yang berlangsung lama ini disebabkan terdapat

antikoagulan yang dikeluarkan oleh kelenjar pada bagian kranial cacing. Anemia

merupakan gangguan yang khas akibat infeksi cacing H.contortus yang ditandai

dengan penurunan kadar haemoglobin, nilai hematokrit dan jumlah eritrosit, dengan

disertai peningkatan jumlah leukosit (Arifin, 1982).

Anemia akibat haemonchosis pada kambing sendiri terbagi menjadi tiga tahap

(Dargie & Allonby 1975). Tahap pertama dikenal sebagai tahap haemonchosis akut

yang berlangsung selama 7-25 hari sesudah infeksi. Pada tahap ini kambing akan

kehilangan darah dalam jumlah besar sebelum sistem eritropoiesisnya mampu

menghasilkan darah pengganti. Setiap ekor H. contortus dapat menyebabkan


kambing kehilangan darah sebanyak 0.049 ml per hari (Clark et al., 1962).

Kehilangan darah ini diikuti dengan menurunnya jumlah eritrosit, nilai hematokrit

dan kadar haemoglobin pada inang. Tahap kedua berupa kehilangan darah yang

diimbangi dengan peningkatan eritropoiesis sehingga terjadi keseimbangan antara

kehilangan darah dan produksi darah meski berada dibawah normal. Tahap kedua ini

berlangsung antara hari keenam dan empat belas sesudah infeksi. Meningkatnya

produksi eritrosit ini menyebabkan peningkatan turn over zat besi di dalam plasma

bersamaan dengan laju kehilangan zat besi di tinja, sehingga cadangan zat besi di

tubuh inang akan semakin turun. Tahap tiga terjadi akibat kelelahan dari sistem

eritropoiesis karena kekurangan besi dan protein. Kekurangan zat besi dan protein ini

diperparah oleh penurunan nafsu makan pada inang (Abbot et al. 1986).

Sistem Digesti

Menurut Kusumamihardja et al. (1990) sebanyak 58-230 ekor cacing dewasa

mampu menghentikan pertumbuhan kambing, sedangkan jumlah 300 cacing dewasa

mampu menurunkan berat badan kambing. Penurunan berat badan domba juga

diperparah karena adanya absorbsi makanan kurang efektif akibat keasaman lambung

dan peningkatan gastrik serta kolesistokinin yang menyebabkan pengosongan

lambung secara cepat. Kerusakan mukosa akibat migrasi larva dan kerusakan fisik

oleh cacing dewasa menimbulkan peradangan pada abomasum atau abomasitis

sehingga menimbulkan gangguan pencernaan. Peradangan pada abomasum ini


meningkatkan permeabilitas dari mukosa abomasum dan diikuti dengan penurunan

pH lambung.

Menurut Abbott et al. (1986) penurunan pH akan menyebabkan proses

perubahan pepsinogen menjadi pepsin terhambat. Perubahan ini akan menyebabkan

proses pencernaan protein di dalam lambung akan terganggu karena pepsin berfungsi

untuk memecah protein menjadi peptides. Meningkatnya kadar pepsinogen di dalam

darah bersamaan dengan peningkatan pH lambung terjadi pada hari kelima pasca

infeksi (Coop, 1971). Adanya peningkatan permeabilitas sel-sel mukosa abomasum

menyebabkan makromolekul seperti plasma protein dapat bebas ke dalam lumen.

Sebaliknya pepsinogen akan kembali ke sistem sirkulasi dan menyebabkan

konsentrasi pepsinogen di dalam darah meningkat. Keluarnya plasma protein dari

sirkulasi ke dalam saluran pencernaan menyebabkan hipoproteinemia khususnya

hipoalbuminemia karena terjadi peningkatan katabolisme albumin.


KESIMPULAN

1. Haemonchosis adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh parasit cacing

walau jarang menyebabkan kematian tetapi dapat menyebabkan kerugian bagi

peternak berupa penurunan berat badan dan produksi susu.

2. Untuk mencegah infestasi oleh larva Haemonchus sp. jangan mengembalakan

ternak pada pagi dan sore hari.

3. Pengobatan sebaiknya diberikan pada semua ternak apabila ada diantara

ternak yang terinfeksi oleh parasit cacing.


DAFTAR PUSTAKA

Aiello, S. 1998. The Merck Veterinary Manual. Eighth Edition. A Merck and Rhone
Company.
Anonimus, 2003. Buku Ajar Parasitologi Veteriner. Fakultas Kedokteran Hewan
Universitas Siyah Kuala, Banda Aceh.
Bowmen, D.D. 2003. Georgis Parasitologi For Veterinarians. Elsevier Science USA
all Rights Reserved, USA.
Browning MLL. 2006. Haemonchus contortus (Barber Pole Worm) Infestation in
Goats. Extension Animal Scientist. Brazil (US): Alabama A & M University.

Lapage, G. 1962. Monnigs Veterinery Helminthology and Entomology. Burgess


Publising Company.
Levine, N.D. 1994. Buku Pelajaran Parasitologi Veteriner. Gajah mada Universitas
Press, Yokyakarta.
Lastuti NDR et al.2006. Deteksi protein Haemonchussp pada domba dan kambing
dengan uji dot blot menggunakan antibody poliklonal protein ekskresi dan
sekresi Haemonchus contortus. Media Kedokteran Hewan. 22(3):162.

Purwanta, dkk, 2006, Penyakit Cacing Hati (Fascioliasis) Pada Sapi Bali Di
Perusahaan Daerah Rumah Potong Hewan Kota Makassar, Jurnal Agrisistem
2 : 63-69

Subronto dan Tjahajati,I. 2004. Ilmu penyakit Ternak II. Gajah mada Universitas
Press, Yokyakarta.
Syarifuddin, 1993. Pemberian Rintal Dalam Berbagai Tingkat Dosis Pada Kambing
Kacang Lokal Betina yang Terinfestasi Trichostrongylus sp dan Haemonchus
sp. Skripsi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.
Waller, P.J. and Chandrawathani, P. (2005) Haemonchus contortus: Parasite problem
No. 1 from Tropics - Polar Circle. Problems and prospects for control based
on epidemiology. Trop. Biomed. 22: 131137.
Zajac, A.N. and T.A. Gibson. 2000. Multiple antheminthic resistance in goat herd.
Vet. Parasitol; 87 (2-3): 163-172.