Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

Tulang dibangun oleh proses resorpsi dan aposisi, demikian halnya yang terjadi pada
gigi dimana akar-akar gigi sulung menunjukkan resorpsi fisiologis sebagi permulaan
pergantian. Resorpsi yaitu perusakan jaringan gigi yang mengalami demineralisasi oleh
osteoklas. Resorpsi bisa terjadi pada tulang alveolar edentulous, pada akar gigi sulung
sebagai permulaan pergantian, juga pada gigi yang mengalami kelainan patologis. Semua
struktur jaringan keras gigi dapat mengalami resorpsi bahkan pada proses karies pun dapat
terlihat pada foto rontgen. Sejauh ini bentuk yang paling umum didapati adalah terjadi
resorpsi akar gigi desidui, resorpsi yang terjadi akibat adanya trauma, tekanan terhadap gigi
yang tidak erupsi ataupun pada tumor. Kadang-kadang bila resorpsi meluas, gigi dapat
tanggal tetapi pada bentuk lain resorpsi dapat diatasi dan gigi dapat dipertahankan sehingga
gigi dapat berfungsi. Praktek kedoteran gigi umum mencakup sebagian besar pemeriksaan ,
diagnosa, perencanaan perawatan, perawatan, dan pencegahan penyakit. Dokter gigi sering
sering menggunakan sinar- x atau peralatan lainnya untuk membantu penegakkan diagnosis.
Perawatan dapat mencakup pencabutan saraf gigi, pencabutan gigi, penggantian gigi yang
tercabut.

Dokter gigi juga sering melakukan anestesi untuk meringankan nyeri. Peran terpentin
g dari dokter gigi umum adalah tindakan pencegahan. Jika seorang dokter memriksa
pasiennya secara berkala, maka penyakit dapat dideteksi lebih awal dan dirawat sebelum
menjadi penyakit yang parah dan serius. Kedokteran gigi telah lebih dari satu abad
menggunakan pemriksaan radiografi sebagai sarana untuk memperoleh informasi diagnostik
mengenai tulang yang tidak dapat diperoleh dari pemeriksaan klinis dan pemeriksaan lainnya
salah satunya adalah kerusakan tulang alveolar yang merupakan masalah penting dalam
kedokteran gigi terutama dalam penyakit periodontal. Untuk melihat dan mengetahui
perubahan kelainan pada keseluruhan gigi dibutuhkan foto rontgen. Indikator kualitas tulang
yang banyak digunakan dalam penelitian radiografi adalah kepadatan tulang trabekulasi
rahang. Pada makalah ini tim penulis mencoba membahas lebih lanjut resorpsi pada gigi
dimana resorpsi tersebut sering ditemukan pada pemeriksaan foto rontgen yang dibuat secara
rutin.
Resopsi tersebut merupakan resorpsi internal maupun eksternal. Kerusakan akibat
resorpsi ini terlihat pada radiografi dengan kepadatan yang berkurang, sebagian besar tidak
teratur dan menyebar bahkan jika dentin pun sudah teresopsi dan telah digantikan oleh unsur
berklasifikasi masih dapat terlihat. Secara radiografi lesi dari resorpsi internal memiliki
margin halus, tajam dan dapatdengan jelas ditentukan. Gigi yang terlibat dapat
memperlihatkan suatu bulatan atauovoid radiolusen dibagian sentral gigi kecuali perforasi
sudah terjadi. Resorpsi akar eksternal adalah akibat inflamasi lesi periapikal dan tampak
lamina dura menghilang disekitar apeks.
BAB II
PEMBAHSAN

Resorpsi tulang adalah proses morfologi kompleks yang berhubungan dengan adanya
erosi pada permukaan tulang dan sel raksasa multinucleated (osteoklas). Osteoklas berasal
dari jaringan hematopoietic dan terbentuk dari penyatuan sel mononuclear (Carranza, 2002).
Ketika osteoklas aktif, terjadi pertambahan yang banyak dari enzim hidrolitik yang akan
disekresikan pada daerah border. Enzim ini merusak bagian organik tulang. Aktivitas
osteoklas dan morfologi border dapat dimodifikasi dan diregulasi oleh hormon seperti
parathormone dan calcitonin yang mempunyai reseptor pada membran osteoklas (Carranza,
2002). Osteoklas menunjukkan ruffled border yang khas dan dibatasi oleh zona clear. Zona
clear terdiri dari membran ventral osteoklas yang disebut podosomes. Podosomes melekat
pada matriks yang termineralisasi dan larut di dalamnya melalui pompa proton, sehingga
tulang alveolar menjadi teresorpsi (Varma & Nayak, 2002.). Resorpsi tulang alveolar juga
dapat dimulai melalui aktivasi sistem complement. Mediator inflamasi menstimulasi
pembentukan osteoklas baru dari prekursor sel, atau meningkatkan kemampuan resorpsi sel.
Beberapa mediator juga dapat menghambat atau sebaliknya mengatur regenerasi tulang.

Osteoklas adalah sel tulang yang berpengaruh terhadap proses degeneratif. Osteoklas
dan osteoblas mengatur keseimbangan yang dinamis pada proses remodeling tulang
(Orban s, 1991). Ketidakseimbangan remodeling tulang diakibatkan sel osteoklas jumlahnya
lebih banyak dari sel osteoblas sehingga terjadi proses resorpsi tulang. Resorpsi tulang
dipengaruhi oleh osteoclast activating factor yang termasuk prostaglandin, bakteri
endotoksin, serta produk komplemen aktivator terdiri atas sitokin, IL-1 , IL-1 , TNF- , TNF- ,
IL-6, dan IL-11 (Ingle and Bakland, 2008). Pada proses pembentukan sel osteoklas
(osteoklastogenesis) terjadi reaksi ikatan osteoclas differentiation faktor dengan reseptornya.
Peningkatan proses osteoklastogenesis ini mengakibatkan peningkatan resorpsi tulang
(Takayanagi, 2007). Bila sel osteoklas lebih tinggi daripada sel osteoblas maka akan terjadi
resorpsi tulang. Resorpsi yang berlebihan akan mengganggu keseimbangan proses
remodeling tulang. Peningkatan jumlah osteoklas ini disebabkan karena efek toksik dari LPS
yang menghasilkan stimulasi dari respons imun host. Telah diketahui bahwa LPS merupakan
stimulator yang potent dari makrofag yang dapat menginduksi sel ini untuk memproduksi
beberapa mediator resorpsi tulang termasuk IL-1 dan TNF (Stashenko,2007).

LPS yang dilepaskan berikatan dengan lipoliskarida binding protein (LBP). Ikatan
kedua komponen tersebut membentuk suatu komplek molekul. Komplek molekul ini akan
dikenali oleh CD14 yang berada dipermukaan sel target, kemudian dikenali oleh makrofag
melalui reseptor TLR4. Reseptor inilah yang akan mengaktifkan makrofag sebagai respons
imun adaptif dengan pembentukan sitokin proinflamatory. Sitokin yang dihasilkan oleh
makrofag sebagai proses kerusakan tulang adalah interleukin-1 (IL-1) dan tumor nekrosis
faktor (TNF). IL-1 akan meningkatkan regulasi receptor activator of nuclear factor- B ligand
(RANKL) di osteoblas dan matrixmetaloproteinase (MMP) di fibroblast. RANKL akan
berikatan dengan RANK sebagai proses awal destruksi tulang. Ikatan ini akan menginduksi
TNF-reseptrorassociated factor 6 (TRAF 6), sebagai faktor kunci proses transkripsi osteoklas.
TRAF6 akan mengaktifasi nuclear factor- B (NFKB) dan mitogen-activated kinases
(MAPKs) yang sangat penting dalam diferensiasi osteoklas. NFKB dan MAPKs kemudian
akan menginduksi faktor NFATc1 dengan adanya activator protein 1 (AP1), inhibitor of
NFKB kinase (IKKs) melalui komponen CFOs. NFCATc1 yang aktif akan meregulasi
sejumlah gen spesifik osteoklas seperti catepsin K, tartrate resistance acid phosphate (TRAP),
reseptor calsitonin, osteoclast-associate reseptor (OSCAR) dan 3-integrin. Faktor NFATc1
memegang peranan esensial dalam proses osteoklastogenesis. Osteoklas akan mengadakan
diferensiasi oleh karena adanya transkripsi faktor yaitu cyclic AMP responsive-element-
binding protein (CREB), microphthalmia-associated transcription factor (MITF), dan PU1.
Meningkatnya proses differensiasi osteoklas dipengaruhi adanya peningkatan fusi RANK di
permukaan sel precursor osteoklas. Hal ini menyebabkan pematangan sel osteoklas, sehingga
terjadi resorpsi tulang (Takayanagi, 2007).

Ten Cate (1994) menggambarkan urutan terjadinya proses resorpsi sebagai berikut :
1. Perlekatan osteoklas pada permukaan tulang yang termineralisasi.
2. Pembentukan penutup lingkungan asam melalui aksi pompa proton, dimana tulang
terdemineralisasi dan terbukanya matriks organik.
3. Degradasi rnatriks organik yang telah terbuka dengan unsur pokok asam amino oleh
aksi enzim yang dikeluarkan, seperti asam fosfat dan cathepsine.
Mekanisme sel-sel dalam resorpsi gigi desidui

Gigi desidui
Sifat fisiologis
intermitten : aktif, istirahat aktif
sel-sel osteoklast
pengambilan garam-garam anorganik (Ca) kerusakan matriks organik istirahat
reparasi
sel-sel osteoblast
Dimulai - akar gigi desidui sempurna
mahkota gigi permanen terbentuk tidak selalu dari ujung akar, berdasar letak benih
gigi permanen
BAB III
PENUTUP

Proses resorpsi tulang alveolar terjadi karena adanya peranan mediator inflamasi yang
menstimulasi pernbentukan osteoklas
DAFTAR PUSTAKA

https://www.scribd.com/doc/95277881/Klasifikasi-n-Pengertian-Resorpsi-Eksternal