Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN AKHIR

PRAKTIKUM KOSMETIKA
FORMULASI DAN EVALUASI KRIM ANTIJERAWAT
LEGONG Face Cream Ekstrak Pegagan

KELOMPOK II
ANGGOTA KELOMPOK:
Ni Made Dyah Listyorini (1208505087)
Luh Putu Kausala Mahamuni (1208505093)
Putu Angga Cahyadi Putra Wedana (1308505015)
Ida Ayu Putu Suryantari (1308505019)
Made Ririn Sutharini (1308505024)
Puput Rhamadani Harfa (1308505027)

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2016
I. TUJUAN
1.1 Memformulasikan sediaan Krim Jerawat.
1.2 Mengetahui pengaruh penambahan bahan atau konsentrasi bahan dalam
sediaan sabun padat terhadap sifat fisika dan kimia krim jerawat.

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Kulit
Kulit merupakan organ tubuh paling besar yang melapisi seluruh bagian
tubuh. Fungsi kulit secara umum adalah sebagai fungsi proteksi, fungsi absorbsi,
fungsi ekskresi, fungsi persepsi, fungsi pengaturan suhu tubuh, fungsi
pembentukan pigmen, dan fungsi keratinisasi (Djuanda dkk., 2007). Kulit
berfungsi untuk melindungi bagian tubuh dari berbagai gangguan dan rangsangan
dari luar. Fungsi perlindungan ini terjadi melalui sejumlah mekanisme biologis,
seperti pembentukan lapisan tanduk secara terus menerus (keratinasi dan
pelepasan sel-sel kulit ari yang udah mati), respirasi dan pengaturan suhu tubuh,
produksi sebum, serta pembentukan pigmen melanin untuk melindungi kulit dari
paparan sinar ultraviolet matahari (Djuanda dkk., 2007).
Struktur kulit terdiri dari tiga lapisan yaitu: kulit ari (epidermis), sebagai
lapisan yang paling luar, kulit jangat (dermis, korium atau kutis) dan jaringan
penyambung di bawah kulit (tela subkutanea, hypodermis atau subkutis).

Gambar 1. Penampang Kulit


Banyak sekali penyakit yang dapat timbul pada kulit, salah satunya adalah
jerawat. Jerawat merupakan kelainan folikel umum yang mengenai folikel rambut
yang rentan dan paling sering ditemukan di daerah muka, leher (Faradiba, 2013)

2.2 Krim
Kosmetik adalah sediaan atau paduan bahan yang untuk digunakan pada
bagian luar badan (kulit, rambut, kuku, bibir dan organ kelamin bagian luar), gigi
dan rongga mulut untuk membersihkan, menambah daya tarik,mengubah
penampakan, melinfungi supaya tetap dalam keadaan baik, memperbaiki bau bada
tetapi tidak dimaksudkan untuk mengobati atau menyembuhkan suatu penyakit
Krim adalah sediaan setengah padat, mengandung satu atau lebih bahan
obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai (Depkes RI, 1995).
Istilah krim secara tradisional telah digunakan untuk sediaan setengah padat yang
mempunyai konsistemsi relative cair diformulasikan sebagai emulsi air dalam
minyak atau minyak dalam air. Krim merupakan sediaan yang digunakan secara
topical. Yang diformulasikan sebagai emulsi air dalam minyak seperti penyegar
kulit dan minyak dalam air seperti susu pembersih. Krim merupakan salah satu
kosmetik yang paling banyak digunakan. Sediaan ini sangat mudah diaplikasikan
pada kulit dan mudah menyerap ke dalam kulit. Penggunakan krim disini
dimaksudkan untuk obat luar dengan cara dioleskan pada kulit. Sediaan krim yang
tidak stabil akan menimbulkan terjadinya kriming, pemisahan fase, serta
terjadinya inversi fase (Anief, 1999).
Kualitas krim meliputi: mudah dioleskan, mudah dicuci bersih dari daerah
lekatan, tidak menodai pakaian, tidak berbau tengik, bebas partikulat keras dan
tajam, tidak menngiritasi kulit. Adapun bahan dasar krim misalnya dalam krim
pelembab adalah: mineral oil, lanolin, paraffin wax, olive oil, dan bahan tambahan
lainnya (Faradiba, dkk., 2013).
Vanishing cream merupakan krim tipe minyak dalam air yang
mengandung asam stearat dan trietanolamin. Asam stearat dengan trietanolamin
akan membentuk krim tipe minyak dan air yang stabil dan halus (Rowe et al.,
2009). Menurut Rahmawati et al., (2010) pelepasan zat aktif dari basis sangat
dipengaruhi oleh viskositas. Formula vanishing cream mengandung komponen air
lebih banyak dibandingkan cold cream sehingga viskositas vanishing cream lebih
rendah dibandingkan cold cream. Pada prinsipnya, viskositas mempunyai
hubungan berbanding terbalik dengan koefisien difusi (kecepatan ekstrak keluar
dari basis) (Aulton, 2003). Hal tersebut akan berpengaruh terhadap kemampuan
ekstrak dalam aktivitasnya sebagai antibakteri Staphylococcus aureus.

2.3 Ekstrak Herba Pegagan


Pegagan mempunyai banyak kandungan kimia yang bermanfaat bagi
manusia. Komponen senyawa yang terkandung dalam pegagan antara lain
triterpenoid yang terdiri dari asiaticoside, madecoside, dan asiatic acid; alkaloid;
glikosida; tanin; steroid; madasiatic acid; dan brachnic acid. Pegagan juga telah
dilaporkan mengandung flavonoid, termasuk quercetin dan kaempferol, catechin,
dan naringin. Penggunaan ekstrak pegagan yang mengandung triterpen dapat
mempercepat proses penyembuhan luka dan menguatkan jaringan. Triterpenoid
dari pegagan diklaim berpotensi sebagai antibakteri, antijamur, dan antioksidan.
Senyawa golongan terpenoid bereaksi dengan porin (protein transmembran) pada
membran luar dinding sel bakteri membentuk ikatan polimer yang kuat sehingga
mengakibatkan rusaknya porin. Rusaknya porin yang merupakan pintu keluar
masuknya senyawa akan mengurangi permeabilitas dinding sel bakteri yang akan
mengakibatkan sel bakteri akan kekurangan nutrisi sehingga pertumbuhan bakteri
terhambat atau mati (Zheng & Qin, 2007).
Flavonoid juga menyebabkan perubahan pada membran sel bakteri yang
diikuti dengan masuknya air yang tidak terkontrol ke dalam sel bakteri, hal ini
menyebabkan pembengkakan sel bakteri dan akhirnya membran sel bakteri
pecah.(Black dan Jacobs, 1993). Salah satu senyawa yang terdapat pada minyak
atsiri pegagan adalah fenol. Mekanisme kerja senyawa fenol dalam membunuh sel
bakteri, yaitu dengan cara mendenaturasi protein sel bakteri. Akibat
terdenaturasinya protein sel bakteri, maka semua aktivitas metabolism sel bakteri
terhenti, sebab semua aktivitas metabolism sel bakteri dikatalisis oleh enzim yang
merupakan protein (Lawrence dan Block,1968). Komponen senyawa yang
terkandung dalam pegagan ada yang bersifat polar ataupun nonpolar. Untuk dapat
menarik kedua senyawa tersebut, perlu dilakukan ektraksi dengan pelarut yang
bersifat universal. Etanol merupakan pelarut yang mampu melarutkan senyawa
polar maupun nonpolar. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Dash (2011)
tentang aktifitas antibakteri ekstrak pegagan dengan berbagai penyari (petroleum
eter, etanol, kloroform, n-heksana, dan air) terhadap beberapa bakteri. Ekstrak
etanol daun pegagan sangat efektif dalam menghambat pertumbuhan seluruh
mikroorganisme tersebut dengan zona hambat 1219 mm.

III. MONOGRAFI BAHAN


3.1 Asam Stearat
a. Pemerian
Zat padat kemiri mengkilat menunjukkan susunan hablur; putih atau kuning
pucat; mirip lemak lilin. (Depkes RI, 1979). Asam Stearat adalah asam keras,
putih atau kuning samar-samar berwarna, agakglossy padat, kristal atau serbuk
putih putih atau kekuningan. Memiliki sedikit bau dan rasa menunjukkan
lemak (Rowe et al, 2009).
b. Kelarutan
Praktis tidak larut dalam air; larut dalam 20 bagian etanol (95); dalam 2 bagian
kloroform P dan dalam 3 bagian eter P (Depkes RI, 1979).
c. Stabilitas
Asam stearat merupakan bahan stabil; harus disimpan wadah di tempat sejuk
dan kering.
d. Titik Lebur
Tidak kurang dari 54. (Depkes RI, 1979) ;69-700C (Rowe et al., 2009).
e. Penyimpanan
Dalam wadah tertutup baik (Depkes RI, 1979).
f. Inkompatibilitas
Asam stearat inkompatibel dengan logam hidroksidadan juga inkompatibel
dengan basa, reduktor dan oksidator.Salep yang dibuat dengan basis asam
stearat dapat mengering karena reaksi dengan garam-garam seng atau kalsium
(Rowe et al., 2009).
g. Penggunaan
Agen pengemulsi; agen pelarut; tablet dan kapsul pelumas (Rowe et al., 2009).
3.2 Gliserin
a. Organoleptis
Cairan jernih seperti sirup, tidak berwarna; rasa manis; hanya boleh berbau
khas lemah (tajam atau tidak enak) (Depkes RI, 1995).
b. Rumus dan Berat Molekul
Rumus Molekul: C3H8O3
Berat Molekul: 92,09 gram/mol
(Depkes RI, 1995)
c. Kelarutan
Dapat bercampur dengan air dan dengan ethanol; tidak larut dalam kloroform,
dalam eter, dalam minyak lemak dan dalam minyak menguap (Depkes RI,
1995).
d. Titik Didih
Titik didih gliserin yaitu: 290oC
e. Titik Leleh
Titik leleh gliserin yaitu: 17,8oC
f. Bobot jenis
Bobot jenis gliserin tidak kurang dari 1,249
g. Wadah penyimpanan
Dalam wadah tertutup rapat
(Depkes RI, 1995)
h. Inkompatibilitas
Gliserin inkompatibilitas jika dicampur dengan agen pengoksidasi seperti
chromium trioxide, potassium chlorate, atau potassium 6ermanganate. Dalam
larutan encer, reaksi berlangsung lebih lambat denganbeberapa produk oksidasi
yang terbentuk. Perubahan warna hitamgliserin terjadi pada paparan cahaya,
atau pada kontak dengan zinc oxide atau basis bismuth nitrat. Sebuah
kontaminan besi dalam gliserin bertanggung jawab terhadap penggelapandalam
warna campuran yang mengandung fenol, salisilat, dan tanin.Gliserin
membentuk asam borat kompleks, asam gliseroborik, yang merupakanasam
kuat daripada asam borat (Rowe et al., 2009).
i. Stabilitas
Gliserin bersifat higroskopis. Gliserin murni tidak rentan terhadap oksidasi
pada suasana di bawah kondisi penyimpanan biasa, tetapi terurai pada
pemanasan dengan adanya evolusi akrolein beracun. Campuran dari gliserin
dengan air, etanol (95%), dan propilen glikol secara kimiawi stabil (Rowe et
al., 2009).

3.3 Cetyl Alkohol


a. Pemerian
Berbentuk seperti lilin, serpihan berwarna putih, granul atau casting. Memiliki
bau khas lemah dan rasa hambar
b. Kelarutan
Sangat mudah larut dalam etanol(95%) dan eter, kelarutan meningkat dengan
meningkatnya temperature, praktis tidak larut dalam air. Larut jika dilelehkan
dengan lemak, cairan dan paraffin padat, dan isopropyl miristat.
c. Fungsi
Emollient (2-5)% , agen pengemulsi (2-5)%, stiffening agent (2-10)%, water
absorption ( 5%)
d. Titik Leleh
45-520 C
e. Wadah Penyimpanan
Disimpan dalam wadah tertutup rapat, di ruangan sejuk dan kering
f. Stabilitas
Stabil dengan asam, alkali, cahaya dan udara, tidak akan menimbulkan bau
tengik.
g. Inkomptabilitas
Tidak kompatibel dengan agen pengoksidasi kuat. Cetyl alcohol dapat
menurunkan titik leleh ibuprofen.
3.4 Nipagin/ metil paraben
a. Pemerian
Kristal tidak berwarna ataus erbuk kristal putih. Tidak berbau, rasa sedikit
membakar
b. Fungsi
Antimikroba, pengawet
c. Kelarutan
Larut dalam 400 bagian air, larut dalam 10 bagian ether, sedikit larut dalam
ethanol (95%), 60 bagian gliserin, 200 bagian peanut oil dan praktis tidak larut
dalam minyak mineral.
d. Penyimpanan
Disimpan dalam wadah tertutup rapat; tempat sejuk dan kering
e. Stabilitas
Larutan metil paraben pada pH 3 - 6 dapat disterilisasi dengan autocleave pada
suhu 120oC selama 20 menit, tanpa terdekomposisi. Larutan berair pada pH 3-
6 stabil.
f. Inkompatibilitas
Aktifitas anti mikroba metal paraben dan paraben lain sangat berkurang
dengan adanya surfaktan non ionic seperti polisorbat 80 karena proses
miselisasi, namun propylene glikol 10% telah menunjukan dapat menjaga
potensi anti mikroba paraben pad asurfaktan non ionik dan mencegah interaksi
metal paraben dengan polisorbat 80. Tidak kompaktibel dengan bahan lain
seperti; bentonit, magnesium trisilat, talk, tragakan natrium alginate, minyak
atsiri, sorbitol dam atropine, bereaksi dengan berbagai gula dan juga jenis
alkohol gula terkait. Adanya plastik dapat menyerap metal paraben, jumlah
yang diserap bergantung dari jenis plastic
g.Konsentrasi sediaan topikal : 0,02-0,3 %.
(Rowe et al., 2009)

3.5 Nipasol/Propilparaben
a. Pemerian
Berwarna putih. Berbentuk Kristal tidak berbau tidak berwarna dan tidak
berasa
b. Kelarutan
Mudah larut dalam aseton, mudah larut dalam eter, larut dalam 4350 bagian
air, 1,1bagian etanol 95%, 5,6 bagian etanol 50%, 250 bagian gliserin, 3330
bagian glikol dan 110 bagian propilen glikol 50%
c. Fungsi
Antimikriba, pengawet
d. Titik lebur : 295o C
e. Penyimpanan
Wadah tertutup rapat ditempat sejuk dan
f. Stabilitas
Larutan metilparaben pada pH 3- 6 boleh disterilisasi dengan autocleave pada
suhu 120oC selama 20 menit, tanpa terdekomposisi. Larutan berair pada pH 3-
6 stabil.
g.Inkompakbilitas
Aktifitas antimikroba propil paraben dan paraben lain sangat berkurang
dengan adanya surfaktan nonionik seperti polisorbat 80 karena proses
miselisasi, namun propylene glikol 10% telah menunjukan dapat menjaga
potensi antimikroba paraben pada surfaktan nonionic dan mencegah interaksi
propilparaben dengan polisorbat 80. Tidak kompaktibel dengan bahan lain
seperti; adanya oksida besi kuning, magnesium aluminium silikat menyerap
propilparben dan mengurangi aktifitas antimikrobanya, dan mengalami
perubahan warna dengan adanya besi, terhidrolisis oleh asam lemah dan basa
kuat.
(Rowe et al., 2009).

3.6 Span 60/ sorbitan monostearat


a.Pemerian
Krim atau cairan atau padatan berwarna
b. Fungsi
Nonionik surfaktan, pengemulsi, dan pendispersi
c. HLB : 4,7
d. Kelarutan
Larut dalam minyak, pelarut organic, tidak larut dalam air
e. Stabilitas
Tersonifikasi dengan asamkuat atau basa, stabil dalam asam lemah atau basa
f. Penyimpanan
Dalam wadah tertutup baik, sejuk dan kering
g.Titik leleh : 50-60 oC
(Rowe et. Al, 2009)

3.7 Tween 80/ poiyoxyethylene sorbate


a. Pemerian
Berbau, kadang terasa pahit, berupa cairan minyak berwarna kuning
b. HLB : 15
c. Kelarutan
Larut dalam etanol, tidak larut dalam minyak mineral, tidak larut dalam
minyak sayur dan larut dalam air
d. Fungsi
Pengemulsi, surfaktan nonionok, pendispersi
e. Stabilitas
Stabil dengan adanya elektrolit, asam lemah dan basa, tersonikasi dengan
asam kuat dan basa, higroskopis. Membentuk peroksida
f. Penyimpanan
Wadah tertutup baik, terlindung cahaya, ditempat sejuk dan kering
g.Inkompakbilitas
Mengalami perubahan warna dan pengendapan dengan zat seperti; fenol, dan
tannin
(Rowe et. al, 2009)

3.8 Aqua Purificata/Air Murni


Air murni adalah air yang dimurnikan yang diperoleh dengan destilasi,
perlakuan menggunakan penukar ion, osmosis balik, atau proses lain yang
sesuai. Dibuat dari air yang memenuhi persyaratan air minum. Tidak
mengandung zat tambahan. Pemerian cairan jernih, tidak berwarna, tidak
berbau (Depkes RI, 1995).
a. Organoleptis
Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau (Depkes RI, 1995).
b. Rumus dan Berat Molekul
Rumus Molekul: H2O
Berat Molekul: 18,02 gram/mol
(Depkes RI, 1995)
c. Wadah penyimpanan
Dalam wadah tertutup rapat (Depkes RI, 1995)
d. pH
Antara 5,0 dan 7,0; lakukan penetapan secara potensiometrik pada
larutan yang ditambahkan 0,30 mL larutan kalium klorida P jenuh
pada 100 mL zatuji (Depkes RI, 1995).

IV. FORMULASI
4.1 Formulasi Standar
4.1.1 Formula 1
- Asam stearat 14,5 g
- Trietanolamin 1g
- Adeps lanae 3g
- Paraffin cair 25 g
- Nipagin 0,1 g
- Nipasol 0,05 g
- Aquadest Ad 100 mL
(Faradiba,2013)
4.1.2 Formula 2
- Freeze drying lidah buaya 0,9 g
- Asam stearate 6g
- Setil alcohol 4g
- Oleum cocos 4g
- Gliserin 3g
- Metil paraben 0,1
- TEA 1g
- Air 81 g
(Dini, 2015)
4.1.3 Formula 3
- Ekstrak herba pegagan 6g
- Asam stearate 1,5 g
- Trietanolamin 1,5 g
- Gliserin 10 g
- Natrium benzoate 0,2 g
- Aquadest ad 100
(Vivin, 2013)
4.2 Formula yang Diajukan
- Ekstrak herba pegagan 0,4 g
- Asam stearate 6g
- Tween 80 1,17 g
- Span 60 0,08 g
- Cetyl alcohol 1g
- Gliserin 11 g
- Nipagin 0,1 g
- Nipasol 0,05 g
- Aqua rosa 2 mL
- Aquadest ad 100

V. ALAT DAN BAHAN


5.1 Alat
- Timbangan elektrik
- Batang pengaduk
- Beaker glass
- Termometer
- Sendok tanduk
- Pipet tetes
- Gelas ukur
- Penangas
- pH meter
- Cawan Porselen
5.2 Bahan
- Ekstrak herba pegagan
- Asam stearate
- Trietanolamin
- Gliserin
- Natrium benzoate
- Aquadest

Tabel 1. Penimbangan (Formula yang Diajukan)


Konsentrasi
Rentang Jumlah Jumlah
Nama yang Kelebihan
Kegunaan Konsentrasi bahan Ditimbang
Bahan digunakan 10%
(Pustaka) (100 gr) (gr)
(%)
Ekstrak
herba Anti bakteri - 0,4 0,4 gram 0,4 gram
pegagan
Asam
Fase minyak - 6 6 gram 6 gram
Stearat
Tween Zat pengemulsi,
- 1,17 gram
80 fase air
1,5 1,5 gram 0,15 gram
Zat pengemulsi, 0, 48
Span 60
fase minyak gram
Anti mikroba, fase
Gliserin - 10 10 gram 1 gram 11 gram
air
Cetyl
Fase minyak 1 1 gram
alkohol
Nipagin Anti mikroba 0,1 0,1 gram
Nipasol Anti mikroba 0,05 0,05 gram
Aqua
Pemberi aroma 2 mL
rosa
Ad 100
Aquadest Pelarut, fase air - Ad 100 77,8 gram 77,8 gram
gram
VI. PROSEDUR KERJA
6.1 Cara Kerja Jurnal Acuan
a. Penyiapan ekstrak

100 gram serbuk simplisia herba pegagan direndam dalam 7,125 liter
larutan etanol 96% selama 1 hari

Maserat dipisahkan dengan menggunakan kertas saring

Semua maserat dikumpulkan dan dipekatkan

Selanjutnya diuapkan di atas waterbath hingga diperoleh ekstrak

b. Cara Kerja Pembuatan Vanishing Cream

Fase minyak (asam stearate) dan fase air (tween 80,span 60, gliserin,
nipagin, nipasol, cetyl alcohol dan aquadest) masing-masing dipanaskan
di atas penangas air dengan suhu 700C hingga melebur sempurna

Fase minyak kemudian ditambahkan ke dalam fase air, diaduk


menggunakan mixer, diamkan hingga dingin dan terbentuk masaa krim

Dimasukkan ekstrak etanol herba pegagan dalam mortar lain, kemudian


ditambahkan basis krim sedikit demi sedikit dan diaduk hingga homogen

Krim dimasukkan ke dalam kemasan primer


6.2 Uji Evaluasi
a. Organoleptis

Krim dianalisis melalui pengamatan visual meliputi warna, bau, dan bentuk

(Hendradi dkk., 2013)


b. Uji Tipe Sediaan Emulsi
- Metode Pengenceran

Sediaan diambil 1gram kemudian diencerkan dengan air dalam botol vial

Apabila sediaan larut maka sediaan termasuk tipe O/W.

- Metode Pewarnaan

Sediaan diambil 1gram kemudian ditetesi dengan metilen blue.

Bila sediaan berwarna biru maka sediaan termasuk tipe O/W.

(Hendradi dkk., 2013)

c. Uji pH
a. Dengan pH meter

Dilakukan kalibrasi pH terlebih dahulu dengan menggunakan larutan buffer


pH 7 dan larutan buffer pH 4.

Setelah kalibrasi, dimasukan elektroda pada sediaan, ditekan read dan


ditunggu hingga terdapat tanda , setelah terdapat tanda dicatat pH
yang diperoleh.

(Hendradi dkk., 2013)


1. primer
d. Uji Homogenitas

Dihapuskan sediaan diatas kaca

Diamati, dicatat hasil yang diperoleh.

e. Uji Viskositas dan Sifat Alir

Viskositas dan sifat alir sediaan ditentukan dengan viskosimeter Brookfield,


digunakan spindle no 6 (setelah dilakukan percobaan)

Pengukuran viskositas sediaan diamati pada rate of share 10, 20, 30, 50, 60
dan 100 rpm.

Sifat alir sediaan didapat dengan memeplot kurva data viskositas dan rate of
shear (rpm) yang dimulai dari rpm terendah.

2. primer
VII. KEMASAN DAN ETIKET
7.1 Kemasan Sekunder

Gambar 1. Kemasan Sekunder Sediaan krim antijerawat Legong


7.1 Etiket

Gambar 2. Etiket sediaan krim antijerawat Legong

VIII. HASIL PENGAMATAN


8.1 Hasil Uji Evaluasi
1. Uji Organoleptis
Tabel 2. Hasil Pengamatan uji organoleptis
Parameter Pengamatan
Bau Aroma pegagan
Warna Hijau Muda
Bentuk Massa krim
Tekstur Lembut

2. Uji Tipe Sediaan Krim


a. Metode Pengenceran
Tabel 3. Hasil pengamatan uji tipe sediaan krim metode pengenceran
Pengamatan Terlarut
Kesimpulan Tipe Minyak dalam Air

b. Metode Metilen Blue


Tabel 4. Hasil pengamatan uji tipe sediaan krim metode metilen blue
Pengamatan Berwarna biru
Kesimpulan Tipe minyak dalam air
3. Uji Homogenitas
Table 5. hasil pengamatan uji homogenitas
Parameter Pengamatan
Sebaran warna Merata
Pemisahan fase Tidak terjadi
Kesimpulan Mmemenuhi syarat homogenitas

4. Uji pH
pH sediaan krim jerawat: 6,2

5. Uji Viskositas
Table 6. Hasil pengamatan uji viskositas
% %
v (rpm) cP v (rpm) cP
(Persentase) (Persentase)
10 22.9 9120 100 56.1 2244
20 33.2 6640 60 46.7 3042
30 36.2 4860 50 42.1 3368
50 42.2 3376 30 36.8 4910
60 43.5 2900 20 30.8 6810
100 49 1952 10 19.8 7610

PerhitunganViskosimeter Brookfield
PerhitunganTekananGeser
Perhitungan Titik ke-1
Diketahui : = 9120 cP
dv
= 10 rpm = 0,167 rps
dx
F
Ditanya : = .?
A

:
F A
Jawab
dv dx
F dv
ratarata
A dx
= 9120 x 0,167
= 1520 gram/cm s2

Perhitungan Titik ke-2


Diketahui : = 6640 cP
dv
= 20 rpm = 0,33 rps
dx
F
Ditanya : = .?
A

:
F A
Jawab
dv dx
F dv
ratarata
A dx
= 6640 x 0,33
= 2191,2 gram/cm s2

Perhitungan Titik ke-3


Diketahui : = 4860 cP
dv
= 30 rpm = 0,5 rps
dx
F
Ditanya : = .?
A

:
F
A
Jawab
dx
dv

F dv
ratarata
A dx
= 4860 x 0,5
= 2430 gram/cm s2

Perhitungan Titik ke-4


Diketahui : = 3376 cP
dv
= 50 rpm = 0,83 rps
dx
F
Ditanya : = .?
A

:
F A
Jawab
dv dx
F dv
ratarata
A dx
= 3376 x 0,83
= 2802,08 gram/cm s2

Perhitungan Titik ke-5


Diketahui : = 2900 cP
dv
= 60 rpm = 1 rps
dx
F
Ditanya : = .?
A

:
F
A
Jawab
dx
dv

F dv
ratarata
A dx
= 2900 x 1
= 2900gram/cm s2

Perhitungan Titik ke-6


Diketahui : = 1952 cP
dv
= 100 rpm = 1,67 rps
dx
F
Ditanya : = .?
A

:
F A
Jawab
dv dx
F dv
ratarata
A dx
= 1952 x 1,67
= 3259,84 gram/cm s2

Perhitungan Titik ke-7


Diketahui : = 2244 cP
dv
= 100 rpm = 1,67 rps
dx
F
Ditanya : = .?
A

:
F A
Jawab
dv dx
F dv
ratarata
A dx
= 2244 x 1,67
= 3747,48 gram/cm s2

Perhitungan Titik ke-8


Diketahui : = 3042 cP
dv
= 60 rpm = 1 rps
dx
F
Ditanya : = .?
A

:
F
A
Jawab
dx
dv

F dv
ratarata
A dx
= 3042 x 1
= 3042 gram/cm s2

Perhitungan Titik ke-9


Diketahui : = 3368 cP
dv
= 50 rpm = 0,83
dx
F
Ditanya : = .?
A

:
F A
Jawab
dv dx
F dv
ratarata
A dx
= 3368 x 0,83
= 2795,44 gram/cm s2

Perhitungan Titik ke-10


Diketahui : = 4910 cP
dv
= 30 rpm = 0,5 rps
dx
F
Ditanya : = .?
A

:
F
A
Jawab
dx
dv

F dv
ratarata
A dx
= 4910 x 0.5
= 2455 gram/cm s2

Perhitungan Titik ke-11


Diketahui : = 6810 cP
dv
= 20 rpm = 0.33
dx
F
Ditanya : = .?
A

:
F A
Jawab
dv dx
F dv
ratarata
A dx
= 6810 x 0,33
= 2247,3 gram/cm s2

Perhitungan Titik ke-12


Diketahui : = 7610 cP
dv
= 10 rpm = 0,167 rps
dx
F
Ditanya : = .?
A

:
F A
Jawab
dv dx
F dv
ratarata
A dx
= 7610 x 0,167
= 1270,87 gram/cm s2

Gambar 3. Kurva Hubungan Viskositas VS Tekanan Geser


Gambar 4. Kurva Hubungan Kecepatan Geser VS Tekanan Geser

IX. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini, sediaan kosmetik yang dibuat adalah krim
antijerawat. Krim adalah sediaan setengah padat, mengandung satu atau lebih
bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai (Depkes RI,
1995). Istilah krim secara tradisional telah digunakan untuk sediaan setengah
padan yang mempunyai komsistemsi relatif cair diformulasikan sebagai emulsi air
dalam minyak atau minyak dalam air. Krim merupakan sediaan yang digunakan
secara topical (Depkes RI, 2005).
Krim terdiri dari emulsi minyak dalam air atau disperse mikrokristal asam-
asam lemak atau alcohol berantai panjang dalam air, dapat dicusi dengan air, dan
ditujukan terutama sebagai kosmetika dan estetika. Krim dapat juga digunakan
untuk pemberian obat melalui vaginal (Depkes RI, 2005).
Pembuatan krim memerlukan zat pengemulsi. Zat pengemulsi yang biasa
digunakan berupa surfaktan anionik, kationik, atau nonionic. Untuk emulsi air
dalam minyak dapat digunakan sabun polivalen, span, adeps lanae, kolesterol, dan
cera. Untuk emulsi minyak dalam air dapat digunakan tween, natrium lauryl
sulfat, kuning telur, gelatinum, kaseium, CMC, pectin, dan emulgidum. Selain
membutuhkan zat pengemulsi, krim juga membutuhkan penstabil. Bahan penstabil
yang dapat digunakan adalah zat antioksidan dan zat pengawet. Zat pengawet
yang biasa digunakan ialah nipagin 0,12-0,18% dan nipasol 0,02-0,05% (Anief,
1988).
Teknik pembuatan krim secara umum ada dua, yaitu pertama, dilakukan
pencampuran dengan peleburan (metode fusion) zat pembawa dan zat berkhasiat
dilelehkan bersama (harus diperhatikan stabilitas zat aktif terhadap suhu). Kedua
dilakukan pencampuran triturasi (metode triturasi) zat aktif tidak larut dicapur
sedikit basis, dilanjutkan dengan penambahan sisa basis. Atau zat aktif dilarutkan
dalam pelarut organic terlebih dahulu, kemudian dicampur basis yang digunakan
(Ansel, 2008).
Bahan utama yang digunakan dalam pembuatan krim antijerawat ini
adalah ekstrak etanol pegagan. Triterpenoid dari pegagan diklaim berpotensi
sebagai antibakteri, antijamur, dan antioksidan. Senyawa golongan terpenoid
bereaksi dengan porin (protein transmembran) pada membran luar dinding sel
bakteri membentuk ikatan polimer yang kuat sehingga mengakibatkan rusaknya
porin. Rusaknya porin yang merupakan pintu keluar masuknya senyawa akan
mengurangi permeabilitas dinding sel bakteri yang akan mengakibatkan sel
bakteri akan kekurangan nutrisi sehingga pertumbuhan bakteri terhambat atau
mati (Zheng & Qin, 2007). Flavonoid juga menyebabkan perubahan pada
membran sel bakteri yang diikuti dengan masuknya air yang tidak terkontrol ke
dalam sel bakteri, hal ini menyebabkan pembengkakan sel bakteri dan akhirnya
membran sel bakteri pecah.(Black dan Jacobs, 1993). Salah satu senyawa yang
terdapat pada minyak atsiri pegagan adalah fenol. Mekanisme kerja senyawa fenol
dalam membunuh sel bakteri, yaitu dengan cara mendenaturasi protein sel bakteri.
Akibat terdenaturasinya protein sel bakteri, maka semua aktivitas metabolism sel
bakteri terhenti, sebab semua aktivitas metabolism sel bakteri dikatalisis oleh
enzim yang merupakan protein (Lawrence dan Block,1968).
Pengambilan ektrak etanol dari pegagan dilakukan dengan cara maserasi
menggunkan etanol selama 1 hari. Etanol dipilih sebagai pelarut karena komponen
senyawa yang terkandung dalam pegagan ada yang bersifat polar ataupun
nonpolar. Untuk dapat menarik kedua senyawa tersebut, perlu dilakukan ektraksi
dengan pelarut yang bersifat universal. Etanol merupakan pelarut yang mampu
melarutkan senyawa polar maupun nonpolar.
Setil alkohol dan asam stearat berfungsi sebagai fase minyak dalam krim.
Setil alkohol dan asam stearate dipilih sebagai fase minyak karena asam stearate
dan setil alkohol tidak menimbulkan rasa pengap di wajah saat penggunaannya.
Metil paraben dan propil paraben berfungsi sebagai pengawet dalam sediaan,
pengawet ini berfungsi untuk mencegah kontaminasi bakteri pada sediaan,
digunakan metil paraben karena sifatnya yang lebih larut dalam fase air yang
merupakan fase pendispers sediaan atau jumlahnya lebih banyak dan juga pada
fase miyak. Namun aktivitas antimikroba metil paraben dan paraben lain sangat
berkurang dengan adanya surfaktan non-ionik seperti polisorbat 80 (tween 80)
oleh karena adanya proses miselisasi. Sehingga perlu dilakukan penambahan
propilen glikol 10 % untuk mencegah interaksi metil paraben dengan polisorbat
80 (Rowe et al., 2009). Aquades dan gliserin berfungsi sebagai fase air atau fase
pendispers sediaan, selain itu jufga ditambahkan aqua rosa ke dalam sediaan untuk
memunculkan wangi aroma mawar. Tween 80 dan Span 60 berfungsi sebagai
surfaktan atau emulsifiying agent. Emulsifiying agent merupakan komponen
penting dalam pembuatan emulsi karena emulsifiying agent akan membantu
penyatuan fase minyak dan fase air sehingga akan dihasilkan emulsi yang stabil.
Formula krim yang telah dibuat ini adalah krim dengan sistem emulsi minyak
dalam air atau W/O. Sistem emulsi ini dipilih karena lebih disukai konsumen
karena tidak terlalu berminyak, mudah untuk dibersihkan, dan mudah menyebar di
kulit.
Dalam pembuatan krim anti jerawat ini pertama dilakukan proses
pembentukan basis krim yang berbentuk emulsi. Emulsi merupakan suatu disperse
di aman fase terdispers terdiri dari bulatan-bulatan kecil zat cair yang terdistribusi
ke seluruh pembawa yang tidak bercampur (Ansel, 2008). Tipe emulsi yang
dibuat yaitu emulsi o/w dimana tipe ini memiliki keunggulan yaitu mudah
dibersihkan dari kulit (Pakkie, dkk., 2009) dengan melelehkan fase minyak
yaituasam stearate, setil alkohol, span 60, dan nipagin dan fase air yaitu aquadest,
gliserin, dan tween 80 pada tempat yang terpisah di atas hot plate pada suhu 700C.
Tujuan pelelehan fase minyak ini yaitu untuk mengubah bentuk fase minyak yang
berupa padatan menjadi bentuk cairan sehingga dapat dilakukan pencampuran
unruk pembuatan emulsi, sedangkan tujuan pemanasan aquadest ini adalah untuk
meningkatkan kelarutan fase minyak ke dalam fase air pada saat pembentukan
emulsi, selain itu diharapkan CO2 yang terkandung di dalamnya dapat hilang
sehingga saat pembentukan emulsi tidak terdapat gelembung-gelembung udara.
Aqua rosa ditambahkan terakhir ke dalam fase air sebelum dilakukan
pencampuran antara fase minyak dan fase air.
Dalam pembuatan emulsi o/w, fase minyak dimasukkan ke dalam fase air
dibantu dengan penggunaan mixer. Namun, dalam pengerjaannya, fase air yang
dimasukkan ke dalam fase minyak, hal ini dilakukan untuk mencegah kehilangan
bobot fase minyak, sehingga perbandingan antara fase minyak dan fase air tetap
bias terjaga. Selanjutnya campuran kedua fase tersebut dicampur menggunakan
mixer sampai terbentuk massa semisolid. Pengadukan dilakukan dengan
menggunakan mixer agar diperoleh kecepatan yang cepat dan konstan, sehingga
meningkatkan luas daerah kontak antara fase minyak dan fase air. Dengan
demikian, emulsi lebih mudah terbentuk. Setelah emulsi berwarna putih susu
terebentuk, hentikan pengadukan dan didinginkan emulsi pada suhu ruang agar
memadat. Setelah terbentuk basis krim yang diinginkan, ditambahkan ekstrak
herba pegagan ke dalam basis dan diaduk kembali sampai tercampur rata
sepenuhnya.
Setelah proses formulasi dilakukan proses evaluasi sediaan yang bertujuan
untuk menjaga kualitas sediaan yang telah diproduksi. Uji yang pertama dilakukan
adalah evaluasi organoleptis menggunakan panca indra, mulai dari aroma, warna,
tekstur dan konsistensi sediaan. Dari hasil pengamatan organoleptis terhadap
sediaan krim wajah yang diperoleh aroma pegagan. Krim wajah yang dihasilkan
berwarna hijau muda dengan tekstur lembut dan tidak berminyak.
Uji yang selanjutnya dilakukan adalah adalah uji homogenitas, tipe emulsi,
pH dan viskositas. Homogen adalah keseragaman zat aktif dalam suatu sediaan
secara kualitatif. Pengujian homogenitas krim dilakukan dengan cara mengambil
sedikit sediaan yang telah dibuat kemudian diletakkan pada sekeping kaca objek.
Sediaan kemudian dioleskan dan diratakan pada kaca objek tersebut dan dilihat
homogenitasnya. Sediaan terlihat homogen karena tidak terbentuk butiran-butiran
ataupun partikel-partikel kasar pada kaca. Homogenitas sediaan pada praktikum
ini dipengaruhi oleh teknik pembuatan emulsi yang dilakukan, yaitu antara fase
minyak dan fase air yang terbentuk. Homogenitas suatu emulsi tercapai dengan
terbentuknya emulsi yang stabil dengan penambahan emulsifying agent yang
tepat, tanpa adanya pemisahan fase.
Uji tipe emulsi dilakukan dengan metode pengenceran dan metilen blue.
Metode pengenceran dilakukan dengan melarutkan emulsi dengan menggunakan
aquades, apabila emulsi dapat larut maka tergolong dalam emulsi tipe minyak
dalam air (M/A), karena fase eksternal yang berupa fase air akan dapat terlarut
dengan dirinya sendiri, yaitu air. Berdasarkan hasil percobaan, emulsi (krim
wajah) tersebut tergolong tipe minyak dalam air (M/A), sedangkan metode
metilen blue dilakukan dengan menambahkan reagen metilen blue ke dalam
sediaan yang akan diuji, dan sediaan menunjukan perubahan warna menjadi biru
yang menandakan bahwa sediaan merupakan tipe emulsi o/w.
Uji pH bertujuan mengetahui keamanan sediaan krim saat digunakan
sehingga tidak mengiritasi kulit. Pertama-tama dilakukan pengenceran emulsi
dengan penambahan aquades, kemudian diaduk hingga homogen. Berdasarkan
hasil pengukuran pH dihasilkan krim dengan pH 6,2, di mana pH ini masih aman
untuk kulit normal yaitu pada rentang 4,5-6,5.
Uji yang terakhir dilakukan adalah uji viskositas sediaan. Viskositas
adalah ukuran resistensi zat cair untuk mengalir. Semakin besar resistensi suatu
zat cair maka semakin besar pula viskositasnya (Ansel, 2008). Uji viskositas
dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kekentalan sediaan krim wajah yang
dibuat. Alat yang digunakan adalah viskometer brookfield. Spindel sebagai
pengukur kekentalan larutan yang berbeda-beda untuk tiap jenis larutan.
Pemilihan spindel dilakukan dengan dua cara, yaitu menyesuaikan dengan
petunjuk literatur yang tersedia dan apabila tidak diperoleh literatur yang dapat
digunakan sebagai acuan maka digunakan cara coba-coba atau eksperimental.
Nomor spindel yang digunakan berbanding lurus dengan viskositas dari sampel
yang digunakan. Sampel dengan viskositas yang tinggi diukur dengan spindel
dengan nomor besar dan ukuran spindel yang kecil, begitu juga sebaliknya. Pada
praktikum ini spindel yang digunakan yaitu spindel nomor 05 karena sample yang
dipakai sedikit kental sehingga dengan ukuran spindel yang kecil dapat
memberikan perhitungan yang valid. Selain itu, spindel yang tepat ditunjukkan
dengan %efisiensi yang berada dalam rentang 10-90%. Pengukuran cairan sampel
digunakan variasi kecepatan pengukuran yaitu 10 rpm, 20 rpm, 30 rpm, 50 rpm,
60 rpm, 100 rpm, 100 rpm, 60 rpm, 50 rpm, 30 rpm, 20 rpm, 10 rpm.
Berdasarkan pengujian yang dilakukan, sediaan krim ini memiliki tipe
aliran pseudoplastik, yang ditunjukan pada rheogram berikut ini:

Gambar 5. a. Kurva Hubungan Viskositas VS Tekanan Geser b. Kurva


Hubungan Kecepatan Geser VS Tekanan Geser

Viskositas cairan pseudoplastik akan menurun dengan meningkatnya


kecepatan geser. Berbeda dengan aliran plastik, yield value tidak dijumpai. Oleh
karena kurva tidak menunjukkan bagian yang linier, maka cairan pseudoplastik
tidak mempunyai harga viskositas absolut. Sifat pseudoplastik dapat berubah pada
suhu yang lebih tinggi atau pada penempatan konsentrasi bahan lainnya menjadi
kekentalan ideal. Visikositas sediaan ini berkaitan dengan kemudahanya untuk
dituang dari kemasan ketika hendak digunakan. Krim wajah ini memiliki
viskositas yang cukup tinggi, sehingga tidak mudah untuk tumpah dari wadahnya.
Viskositas krim wajah yang diperoleh tidak dapat dikatakan memenuhi SNI atau
tidak karena tidak tersedianya data SNI.

X. KESIMPULAN
1. Formulasi yang digunakan dalam pembuatan sediaan krim anti jerawat ini
yaitu:
Konsentrasi yang
Nama Bahan Kegunaan
digunakan (%)
Ekstrak etanol
Anti bakteri 0,4
herba pegagan
Asam Stearat Fase minyak 6
Setil Alkohol Fase minyak 1
Span 60 Zat pengemulsi, fase miyak 0,48
Tween 80 Zat pengemulsi, fase air 1,17
Nipagin Anti mikroba, fase air 0,1
Nipasol Anti mikroba, fase minyak 0,05
Aqua rosa Pemberi aroma mawar 2 mL
Aquadest Pelarut, fase air Ad 100

2. Penambahan span 60 dan tween 80 sudah mampu untuk mencampurkan fase


minyak dan fase air serta perbandingan antara fase air dan fase minyak dalam
pembuatan sediaansudah sesuai sehingga terbentuk massa krim yang stabil.
Namun penambahan aqua rosa sebanyak 2 mL belum mampu menimbulkan
aroma mawar seperti yang diharapkan, karena aroma pegagannya yang masih
kuat.
DAFTAR PUSTAKA

Anief, M. 1999. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Ansel, H. C. 2008. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi IV. Jakarta: UI
Press.
Aulton, M. E., 2003, Pharmaceutics The Science of Dosage Form Design, Second
Edition,408, ELBS Fonded by British Goverment.
Black, J.M. and E.M. Jacobs. 1993. Medical Surgical Nursing. 4th Ed. Vol I, II,
III. Philadelpia: Saunders.
Dash, 2011. Antibacterial and Antifungal activities of Several Extracts of Centella
asiatica L. Against Some Human Pathogenic Microba. Life Science &
Medicine Research. Volume 2011: LSMR 35

Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
Dini, A. A. 2015. Formulasi Sediaan Skin Cream Aloe Vera (Aloe barbadensis):
Evaluasi Fisik dan Stabilitas Fisik Sediaan. Naskah Publikasi. Fakultas
Farmasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Djuanda, A. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi Kelima. Jakarta:
FKUI.
Faradiba, Faisal A., dan Ruhama M. 2013. Formulasi Krim Wajah dari Sari Buah
Jeruk Lemon (Citrus lemon L.) dan Anggur Merah (Vitis vinifera L.)
dengan Variasi Konsentrasi Emulgator. Majalah Farmasi dan
Farmakologi. Vol. 17(1). Hlm. 17-20.
Joenoes, N. Z., 2006, Resep Yang Rasional, Jilid 2, 121-129, Airlangga
University Press,Surabaya.
Lawrence, C.A. and S.S. Block. 1968. Desinfection, Sterilization and
Preservation. Lea and Febiger. Philadelphia
Pakki, E., R. Syukur, Sumarheni, and Jusrini. 2009. Formulation of Cacao Bean
(Theobroma cacao Linn.) In Scrub Cream. Recent Progress In Drug
Discovery. Makassar: Pharmacy Faculty of Hassanuddin University.
Rahmawati, D., Sukmawati, A., & Indrayudha, P., 2010, Formulasi Krim Minyak
Atsiri Rimpang Temu Giring (Curcuma heyneana Val & Zijp) : Uji Sifat
Fisik dan Daya Antijamur terhadap Candida albicans Secara In Vitro,
Majalah Obat Tradisional, 15(2), 56-53.
Rowe, R., Sheskey, P., & Quinn, M., 2009, Handbook of Pharmaceutical
Excipients, 6th, 155-156, Pharmaceutical Press and American Pharmacists
Association, USA.
Zheng, C. J.,Qin, L. P. 2007. Chemical components of Centella asiatica and their
bioactivities. J.Chin.Integr.Med. 5(3): 348-351.
Lampiran 1. Biaya Pembuatan Krim Jerawat LEGONG Face Cream
Ekstrak Pegagan
Nama Bahan Jumlah Harga (Rp)
Ekstrak pegagan 100 gram -
Asam Stearat - -
Cetil alkohol - -
Nipagin - -
nipasol - -
Tween 80 - -
Span 60 - -
Gliserin - -
Aqua Rosa - -
Aquadest - -
Kemasan primer krim 1 buah 5.000
Kemasan sekunder 1 buah 10.000
Print labeling 1 buah 2.000
Lampiran 2. Gambar Sediaan