Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN

PRAKTIKUM EKOLOGI PERAIRAN

KEANEKARAGAMAN PLANKTON DAN HUBUNGANNYA DENGAN FAKTOR


FISIKA KIMIA AIR DI SITU KURU, TANGERANG SELATAN

Kelompok : 1 (satu)
Nama : Khurinin (1112095000006)
Asisten : Alfan Farhan Rijaludin

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Situ Kuru merupakan danau yang terletak di jalan Pesanggrahan, Kelurahan Cempaka
Putih RT 03/03, Tangerang Selatan. Tepatnya Situ Kuru ini terletak bersebelahan dengan
kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Situ Kuru merupakan suatu ekosistem air yang
telah banyak mengalami banyak perubahan terutama akibat dari berbagai aktivitas manusia
yang terdapat disekitar ekosistem air ini. Luas danau Situ Kuru ini semula mencapai sekitar
lima hektar, namun kini telah menyusut hingga 7.500 meter persegi saja (Uinjkt, 2008).
Permasalahan yang dialami ekosistem Situ Kuru selain penurunan luas permuaan danau
adalah penurunan kualitas air akibat dari berbagai limbah yang dibuang ke dalam danau
sehingga menimbulkan pencemaran, terutama limbah rumah tangga.
Plankton adalah organisme yang melayang-layang di dalam air dengan kemampuan
pergerakan yang pasif (Sugiyanti, 2008). Klasifikasi plankton berdasarkan cara perolehan
makanan terbagi menjadi fitoplankton dan zooplankton. Fitoplankton adalah kelompok
plankton yang mampu berfotosintesis karena memiliki klorofil, sedangkan zooplankton
merupakan kelompok plankton fauna yang bersifat heterotrofik (Astuti, 2009). Pada
ekosistem perairan, plankton merupakan komponen penting karena berperan sebagai
produsen primer dalam jaringan makanan. Di samping itu, kelimpahan plankton dapat
dijadikan indikator mengenai kualitas dan tingkat kesuburan suatu perairan (Wetzel, 1979).
Keberadaan plankton seperti kelimpahan dan keanekaragamannya di perairan Situ Kuru
dapat djadikan sebagai indikator biologis kualitas dari perairan di Situ Kuru ini. akan tetapi
keberadaan ini juga dipengaruh oleh berbagai faktor fisika maupun kimia lingkungan
perairannya oleh karenanya dilakukan praktikum mengenai keanekaragaman plankton serta
hubungannya dengan faktor fisika-kimia lingkungan di Situ Kuru.
1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah :
1. Mempelajari teknik pengambilan data faktor fisika, kimia dan biologi perairan danau.
2. Mempelajari teknik sampling, identifikasi dan perhitungan kelimpahan plankton.
3. Mempelajari berbagai indeks keanekaragaman jenis untuk menilai keanekaragaman
plankton dan mempelajari hubungan antara faktor lingkungan dengan kelimpahan dan
keanekaragaman plankton.
4. Menentukan tingkat pencemaran danau menggunakan komunitas plankton sebagai
bioindikator
BAB II
TINJAUAN PUSTKA

2.1 Situ Kuru


Situ Kuru merupakan danau yang terletak di jalan Pesanggrahan, Kelurahan Cempaka
Putih RT 03/03, Tangerang Selatan. Tepatnya Situ Kuru ini terletak bersebelahan dengan
kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Situ Kuru merupakan suatu ekosistem air yang
telah banyak mengalami banyak perubahan terutama akibat dari berbagai aktivitas manusia
yang terdapat disekitar ekosistem air ini. Luas danau Situ Kuru ini semula mencapai sekitar
lima hektar, namun kini telah menyusut hingga 7.500 meter persegi saja (Uinjkt, 2008).
2.2 Plankton
Plankton adalah organisme yang hidup melayang dan hidup bebas di perairan dengan
kemampuan pergerakan yang bebas. Plankton sangat mudah hanyut oleh gerakan massa air,
dan organisme ini memiliki peranan penting dalam ekologi perairan (Castellani, 2009).
Plankton berperan sebagai produser primer dalam jaringan makanan (Gambar 1). Umumnya,
plankton merupakan makanan utama organisme perairan. Plankton juga merupakan salah satu
parameter biologi yang memberikan informasi mengenai kualitas dan tingkat kesuburan
perairan (Astuti, 2009).

Gambar 1. Peran plankton dalam jaringan makanan.

Plankton dibedakan berdasarkan beberapa hal, yaitu cara memperoleh makanan,


habitat hidup dan kehidupan alamiah. Plankton terdiri atas fitoplankton dan zooplankton
berdasarkan cara perolehan makanan. Fitoplankton adalah organisme plankton yang
memanfaatkan unsur hara, sinar matahari dan karbondioksida untuk memproduksi materi
organik. Fitoplankton berperan penting di perairan sebagai pemasok oksigen. Zooplankton
adalah organisme plankton yang bersifat heterotrofik. Zooplankton merupakan plankton yang
umumnya mampu bergerak aktif. Plankton berdasarkan habitat hidupnya terdiri atas plankton
oseanik yang hidup di lautan lepas atau di luar paparan benua; plankton neritik yang hidup di
perairan paparan benua; dan limnoplankton yang hidup di air tawar. Sedangkan berdasarkan
kehidupan alamiah, plankton terdiri atas holoplankton dan meroplankton. Holoplankton
adalah zooplankton yang seluruh daur hidupnya bersifat plankton, sedangkan meroplankton
adalah organisme yang sebagian dari daur hidupnya bersifat planktonik dan akan berubah
menjadi nekton atau bentos (Sawestri, dkk., 2012). Menurut Arinardi (1995), secara umum
plankton dapat dikelompokkan berdasarkan ukuran dan contoh biotanya seperti tertera pada
Tabel 1 berikut ini:

Tabel 1. Pengelompokkan Plankton Berdasarkan Ukuran Dan Contoh Biotanya

Plankton dapat digunakan sebagai indikator kualitas lingkungan dengan mengetahui


indeks keanekaragamannya. Keanekaragaman plankton menunjukkan tingkat kompleksitas
dari struktur komunitas. Keanekaragaman plankton akan berkurang jika suatu komunitas
didominasi oleh satu atau sejumlah spesies tertentu. Hal ini terjadi jika terdapat gangguan
terhadap lingkungan, dan pada kondisi tersebut terdapat organisme plankton yang mampu
bertahan dan berkembang lebih baik dari pada jenis plankton lainnya. Salah satu penyebab
penurunan indeks keanekaragaman adalah pencemaran (Astuti, 2009).
2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kehidupan Fitoplankton
Bermacam faktor kimia dan fisika dapat mempengaruhi pertumbuhan, kelangsungan
hidup fitoplankton, seperti suhu, kecerahan, derajat keasaman (pH), karbondioksida (CO2),
nitrat, ortofosfat dan oksigen terlarut. Dari semua faktor fisika dan kimia tersebut, yang
penting artinya bagi produktivitas fitoplankton adalah faktor cahaya dan nutrien/ unsur hara.
Hal ini disebabkan fotosintesis hanya dapat berlangsung pada kedalaman air yang masih
dapat ditembus cahaya matahari. Unsur hara/nutrien juga hanya dapat dimanfaatkan pada
kedalaman yang masih dapat ditembus oleh cahaya matahari (Apridayanti, 2008).
2.3.1 Suhu
Cahaya matahari yang masuk ke perairan akan mengalami penyerapan dan perubahan
menjadi energi panas. Proses penyerapan cahaya ini berlangsung secara lebih intensif pada
lapisan atas sehingga lapisan atas perairan memiliki suhu yang lebih tinggi dan densitas yang
lebih kecil dari pada lapisan bawah. Kondisi ini pada perairan tergenang akan menyebabkan
terjadinya stratifikasi thermal pada kolom air (Effendi, 2003).
Suhu perairan dipengaruhi oleh intensitas cahaya yang masuk kedalam air. Suhu
selain berpengaruh terhadap berat jenis, viskositas dan densitas air, juga berpengaruh
terhadap kelarutan gas dan unsur-unsur dalam air. Sedangkan perubahan suhu dalam kolom
air akan menimbulkan arus secara vertikal. Secara langsung maupun tidak langsung, suhu
berperan dalam ekologi dan distribusi plankton baik fitoplankton maupun zooplankton
(Subarijanti, 1994).
Suhu mempunyai efek langsung dan tidak langsung terhadap fitoplankton. Efek
langsung yaitu toleransi organisme terhadap keadaan suhu, sedangkan efek tidak langsung
yaitu melalui lingkungan misalnya dengan kenaikan suhu air sampai batas tertentu akan
menurunkan kelarutan oksigen (Boney dalam Sudaryanti, 1989). Pada suhu yang lebih
hangat selalu dijumpai kelimpahan fitoplankton yang tinggi. Intensitas cahaya berpengaruh
terhadap laju fotosintesa dan pertumbuhan alga (Sulawesty, 2005).
Menurut Odum (1993), Walaupun variasi suhu dalam air tidak sebesar di udara, hal
ini merupakan faktor pembatas utama karena organisme akuatik sering kali mempunyai
toleransi yang sempit (stenotermal). Menurut Haslan (1995) dalam Effendi (2003), kisaran
suhu optimal bagi pertumbuhan fitoplankton adalah 20 C 30 C.
2.3.2 Kecerahan
Bagian spektrum cahaya yang efektif untuk fotosintesis adalah cahaya yang
mempunyai panjang gelombang 390-710nm dengan penyimpangan 10 nm dan yang
menyusun 0,46-0,48% dari keseluruhan energi matahari. Di danau hanya 0,056% dari
total energi radiasi yang jatuh dipermukaan bumi yang dimanfaatkan oleh fitoplankton
setiap tahunnya dan di perairan sangat produktif hanya dapat menggunakan energi ini
sekitar 3%. Nilai penetrasi cahaya sangat dipengaruhi oleh intensitas cahaya matahari,
kekeruhan air serta kepadatan plankton suatu perairan. Penetrasi cahaya merupakan faktor
pembatas bagi organisme fotosintetik (fitoplankton) dan juga kematian pada organisme
tertentu. Laju fotosintesis akan tinggi bila tingkat intensitas cahaya tinggi dan menurun
bila intensitas cahaya menurun. Sebaliknya, laju respirasi fitoplankton dapat dikatakan
konstan di semua kedalaman. Pada tingkat-tingkat intensitas cahaya yang sedang, laju
fotosintesis fitoplankton merupakan fungsi linier dari intensitas cahaya (Barus, 2004).
Secara vertikal, kecerahan akan mempengaruhi intensitas cahaya yang akan
menentukan tebalnya lapisan eufotik. Dalam distribusi fitoplankton, faktor cahaya sangat
penting karena intensitas cahaya sangat diperlukan dalam proses fotosintesis (Arfiati,1992).
2.3.3 Kekeruhan
Kekeruhan adalah gambaran sifat optik air dari suatu perairan yang ditentukan
berdasarkan banyaknya sinar (cahaya) yang dipancarkan dan diserap oleh partikel -partikel
yang ada dalam air tersebut. Kekeruhan yang tampak di perairan dapat berasal dari bahan -
bahan tersuspensi seperti : lumpur, pasir, bahan organik dan anorganik, plankton dan
organisme mikroskopik lainnya. Kekeruhan yang tinggi dapat menganggu proses respirasi
organisme perairan karena akan menutupi insang ikan. Kekeruhan juga menghalangi
penetrasi cahaya matahari ke dalam air sehingga secara tidak langsung mengganggu
proses fotosintesis fitoplankton (asmara, 2008).
2.3.4 Derajat Keasaman (pH)
Menurut Effendi (2003), sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan pH
dan menyukai nilai pH sekitar 7 8,5. Alga akan memanfaatkan karbondioksida hingga batas
pH yang tidak memungkinkan lagi bagi alga untuk tidak menggunakan karbondioksida
(sekitar 10 11), karena pada pH ini karbondioksida bebas tidak dapat ditemukan. Nilai pH
sangat mempengaruhi proses biokimiawi perairan, misalnya proses nitrifikasi akan berakhir
bila pH rendah.
Barus (2004) menyatakan bahwa fluktuasi pH sangat dipengaruhi oleh proses
respirasi. Semakin banyak karbondioksida yang dihasilkan dari proses respirasi, maka pH
akan semakin rendah. Namun sebaliknya jika aktivitas fotosintesis semakin tinggi maka
akan menyebabkan pH semakin tinggi. Derajat keasaman perairan tawar berkisar dari 5 -
10. pH yang sangat rendah akan menyebabkan mobilitas berbagai senyawa logam yang
bersifat toksik semakin tinggi yang tentunya akan mengancam kelangsungan hidup
organisme akuatik. Sementara pH yang tinggi akan menyebabkan keseimbangan antara
ammonium dan ammoniak dalam air akan tergangu, dimana kenaikan pH di atas netral
akan meningkatkan konsentrasi amoniak yang juga bersifat sangat toksik bagi organisme.
2.3.5 Oksigen Terlarut/Dissolved Oxygen (DO)
Oksigen merupakan faktor penting bagi kehidupan makro dan mikro organisme
perairan karena diperlukan untuk proses pernafasan. Sumber oksigen terlarut di perairan
dapat berasal dari difusi oksigen yang terdapat di atmosfer (sekitar 35%) dan aktivitas
fotosintesis oleh tumbuhan air dan fitoplankton. Fluktuasi harian oksigen dapat
mempengaruhi parameter kimia yang lain, terutama pada saat kondisi tanpa oksigen, yang
dapat mengakibatkan perubahan sifat kelarutan beberapa unsur kimia di perairan (Effendi,
2003).
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian


Praktikum ini dilaksanakan di dua lokasi yaitu pengambilan data di Situ Kuru dan
analisis data di Pusat Laboratorium Terpadu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pada hari
Jumat, 4 Maret 2014.

3.2 Alat dan Bahan


Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah thermometer raksa, pH indikator
universal, keping secchi, WQC ( Water Quality Checker), jala plankton, water sampler/botol
sampel, haemocytometer, mikroskop cahaya, tally counter, kaca objek, cover glass, pipet,
kamera, label, alat tulis dan tongkat. Sedangkan bahan yang digunakan adalah formalin 5%
dan air sampel Situ Kuru.

3.2 Cara Kerja


3.2.1 Teknik Sampling
Sampling plankton dalam praktikum kali ini dilakukan dengan menggunakan jala
plankton. Pertama, jala plankton yang diberi pemberat dibagian bawahnya
diturunkankedalam air hingga kedalaman tertentu yang diinginkan, kemudian jala plankton
ditarik secara vertikal. Penarikan dilakukan secara perlahan kira-kira dengan kecepatan
konstan sekitar 10 cm/detik. Setelah penarikan selesai, jala plankton dibilas agar semua
plankton masuk ke dalam botol penampung
3.2.2 Pengawetan Plankton
Pengawetan plankton dilakukan dengan cara memberi formalin 4% pada sampel air
yang telah diambil, kemudian diberi label (lokasi, tanggal koleksi, waktu dan nama
kelompok).
3.3.3 Indentifikasi Plankton
Identifikasi plankton dilakukan dengan menggunakan mikroskop cahaya biasa dan
menggunakan buku identifikasi plankton sebagai acuan. Pertama, setetes sampel air
diletakkan diatas kaca objek selanjutnya ditutup perlahan dengan cover glass. Sampel
tersebut kemudian diletakkan dibawah mikroskop dengan perbesaran terendah (40x) sampai
perbesaran tertinggi (100x atau 1000x) sehingga didapatkan objek yang jelas. Kemudian
dicatat setiap jenis plankton yang ditemukan.
3.4 Analisis Data
3.4.1 Pencacahan/Enumerasi Plankton
Pencacahan plankton dilakukan untuk mengetahui kelimpahan sel menggunakan
bantuan mikroskop cahaya biasa dan haemocytometer. Subsampel air dimasukkan ke
haemocytometer menggunakan pipet hingga haemocytometer terisi penuh lalu ditutup dengan
cover glass. Haemocytometer diletakkan dibawah mikroskop pada perbesaran terendah
sampai tertinggi sehingga didapatkan objek yang jelas. Jumlah plankton dicacah pada kotak
kamar hitung secara teratur dan berurutan, kemudian dihitung kelimpahan individu untuk tiap
jenis plankton.
Kelimpahan plankton dihitung dengan rumus modifikasi menurut Isnansetyo dan
Kurniastuty (1995) dalam Fardila, et al (2012), sebagai berikut :

Keterangan :
K : Kelimpahan plankton (sel/ml)
N : Jumlah plankton/stasiun
P : Faktor pengenceran (jika tidak diencerkan, P = 1)
2500 : Luas pandang

3.4.2 Indeks Keanekaragaman dan Kemerataan Jenis


Indeks keanekaaragaman yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah indeks
Shannon-Wienner (H) dengan rumus sebagai berikut :



= ( ) ( )
=

Keterangan :
H : Nilai keanekaragaman
s : Jumlah spesies
ni : Jumlah individu jenis ke-i
N : Jumlah individu semua jenis
Semakin besar nilai H menunjukkan semakin tinggi keanekaragaman jenis. Besarnya
nilai keanekaragaman jenis Shannon menurut Krebs (1989) dalam Fardila, et al (2012)
didefinisikan sebagai berikut :
H > 3 : menunjukkan keanekaragaman jenis yang tinggi pada suatu kawasan.
1 H 3 : menunjukkan keanekaragaman jenis yang sedang pada suatu kawasan.
H < 1 : menunjukkan keanekaragaman jenis yang rendah pada suatu kawasan.

Indeks kemerataan mengukur sebaran ndividu tiap jenis salam satu komunitas (Krebs,
1989 dalam Fardila et al, 2012). Jika jumlah ndividu seluruh jenis hampir sama maka nilai
indeks kemerataan akan tinggi. Sebaliknya, indeks kemerataan yang rendah menunjukkan
adanya dominansi suatu jenis. Indeks kemerataan (E) berdasarkan indeks Shannon-Wienner
yaitu :

=

Keterangan :
E : Nilai kemerataan suatu jenis
S : Jumlah seluruh jenis

3.4.3 Plankton Sebagai Bioindikator Perairan


Kualitas perairan dapat diketahui berdasarkan indikator biologis (plankton), dengan
menggunakan klasifikasi kualitas air menurut Probosunu (2008) atau derajat pencemaran
menurut Lee, et al (1978) dalam Probosunu (2008) sebagai berikut :

Tabel 1. Klasifikasi kualitas perairan berdasarkan indeks keanekaragaman Shannon-Wienner


Kualitas Perairan
Parameter 1 2 3 4 5
Sangat Buruk Buruk Sedang Baik Sangat Baik
Indeks H < 0,80 0,81 1,60 1,61 2,40 2,41 3,20 > 3,21
Sumber : Probosunu (2008).
Tabel 2. Klasifikasi Derajat Pencemaran Berdasarkan Indeks Shannon-Wienner
Parameter Derajat Pencemaran
Belum Tercemar Tercemar Ringan Tercemar Sedang Tercemar Berat
Indeks H > 20 1,6 2,0 1,0 1,5 < 1,0
Sumber : Lee, et al (1978) dalam Probosunu (2008).

Tabel 3. Standar Skala Kualitas Lingkungan Biotik


Parameter Skala Kualitas Biotik

Sangat Jelek Jelek Sedang Baik Sangat Baik


Kekayaan Terdapat Terdapat Terdapat Terdapat Terdapat
Jenis Flora 1-5 Jenis 6-10 Jenis 11-20 Jenis 20-30 Jenis >30 Jenis

Kekayaan Terdapat Terdapat Terdapat Terdapat Terdapat


jenis Fauna 1-2 Jenis 3-5 Jenis 6-10 Jenis 11-15 Jenis >15 Jenis

Sumber : Probosunu (2008)


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil pengamatan terhadap kelimpahan dan keanekaragaman plankton di


Situ Kuru, maka diperoleh hasil kelimpahan plankton berbeda-beda pada setiap stasiun
pengamatan (gambar. 1), sedangkan keanekaragaman plankton di Situ Kuru secara
keseluruhan adalah tergolong sedang, dan kemerataannya mendekati 0 (nol) (tabel. 4).
Tabel 4. Keanekaragaman dan kelimpahan Jenis Plankton

Lokasi H E

Situ Kuru 1.7732423 0.54425714

Kelimpahan plankton tertinggi terdapat di stasiun 4 dan 5 yaitu di daerah tengah dari
badan perairan Situ Kuru, dengan nilai kelimpahan plankton pada stasiun 4 mencapai
1960000 sel/ml dan 1365000 sel/ml pada stasiun 5. Kelimpahan plankton terendah yaitu pada
stasiun 3 yaitu di daerah outlet perairan Situ Kuru dengan jumlah kelimpahan plankton 27500
sel/ml, sedangkan pada stasiun 1 dan 2 (daerah inlet Situ Kuru) kelimpahan planktonnya juga
tergolong rendah yaitu 70000 sel/ml pada stasiun 1 dan 62500 sel/ml pada stasiun 2.
2500000

2000000
Kelimpahan (sel/ml)

1500000

1000000 Kelimpahan (sel/ml)

500000

0
1 2 3 4 5
Stasiun

Gambar 1. Kelimpahan Individu Jenis Plankton di Setiap Stasiun


Kelimpahan plankton yang berbeda-beda pada setiap stasiun ini disebabkan oleh
berbagai faktor fisika-kimia lingkungan perairannya. Menurut Apridayanti (2008), faktor
kimia dan fisika lingkungan suatu perairan dapat mempengaruhi pertumbuhan
dankelangsungan hidup fitoplankton sebagai produsen utama di ekosistem perairan. Faktor
lingkungan perairan yang dapat mempengaruhi keberadaan plankton yaitu suhu, kecerahan,
derajat keasaman (pH), karbondioksida (CO2), nitrat, fosfat dan oksigen terlarut. Faktor
fisika-kimia perairan di Situ Kuru dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5. Hasil Pengukuran Faktor Fisik-Kimia Air Situ Kuru
Parameter Kimia Fisik
Stasiun
pH Kecerahan Kekeruhan Konduktivitas DO Suhu Salinitas TDS Kecepatan
(m) (NTU) (/) (mg/L) (0C) (%) Arus (m/s)

Inlet 1 2.93 0.11 95.3 0.524 9.35 31 0.02 0.329 0.125


Inlet 2 4.1 0.14 93.9 0.539 8.3 31 0.03 0.345 0.013
Outlet 4.44 0.58 99 0.52 9.39 29 0.02 0.32 0.254
Tengah 1 4.05 0.36 96.8 0.529 8.62 29 0.02 0.336 0.28
Tengah 2 3.73 0.31 78.3 0.428 8.83 30 0.02 0.266 0.036

Suhu pada setiap stasiun pengamatan berbeda-beda, pada stasiun 1 dan 2 suhu airnya
yaitu 310 C, sedangkan pada stasiun 3 dan 4 290 C, dan suhu air 300 C pada stasiun 5.
Menurut Apridayanti (2009), dari semua faktor fisika dan kimia yang memiliki peranan
paling penting bagi produktivitas fitoplankton adalah faktor cahaya dan nutrien/ unsur hara.
Hal ini disebabkan fotosintesis hanya dapat berlangsung pada kedalaman air yang masih
dapat ditembus cahaya matahari. Unsur hara/nutrien juga hanya dapat dimanfaatkan pada
kedalaman yang masih dapat ditembus oleh cahaya matahari. Besar-kecilnya intensitas
cahaya matahari yang masuk ke perairan ini akan mempengaruhi suhu suatu perairan tersebut
(Effendi, 2003).
Suhu berperan dalam ekologi dan distribusi plankton baik fitoplankton maupun
zooplankton karena perubahan suhu dalam badan air akan menimbulkan arus secara vertikal.
(Subarijanti, 1994). Menurut Odum (1993), Walaupun variasi suhu dalam air tidak sebesar di
udara, hal ini merupakan faktor pembatas utama karena organisme akuatik sering kali
mempunyai toleransi yang sempit (stenotermal). Menurut Haslan (1995) dalam Effendi
(2003), kisaran suhu optimal bagi pertumbuhan fitoplankton adalah 20 C 30 C. hal ini
sesuai dengan data hasil pengamatan dimana kelimpahan plankton tertinggi yaitu pada suhu
perairan 29-30 C (tabel. 5).
pH air di Situ Kuru yang didapat dari hasil pengukuran juga bervariasi pada setiap
stasiun. Padastasiun dengan kelimpahan plankton tertinggi (stasiun 4 dan 5), pH airnya paling
tinggi dibandingkan stasiun lainnya, artinya pH pada stasiun lain lebih asam dari stasiun 4
dan 5. Barus (2004) menyatakan bahwa fluktuasi pH sangat dipengaruhi oleh proses
respirasi. Semakin banyak karbondioksida yang dihasilkan dari proses respirasi, maka pH
akan semakin rendah. Namun sebaliknya jika aktivitas fotosintesis semakin tinggi maka
akan menyebabkan pH semakin tinggi. Derajat keasaman perairan tawar berkisar dari 5 -
10.
pH yang sangat rendah akan menyebabkan mobilitas berbagai senyawa logam
yang bersifat toksik semakin tinggi yang tentunya akan mengancam kelangsungan hidup
organisme akuatik Barus (2004) , oleh karenanya kelimpahan plankton paling tinggi pada
stasiun 4 dan 5 saja, karena pH pada stasiun lain sangat rendah (2-3). pH yang sangat
rendah pada Situ Kuru ini juga mempengaruhi keanekaragaman plankton di Situ Kuru ,
sehingga keanekaragamannya tergolong sedang karena pH-nya kurang optimal bagi
kelangsungan hidup plankton.
Kecerahan di perairan Situ Kuru berkisar antara 0.1-0.5 yaitu tergolong rendah.
Secara vertikal kecerahan ini akan mempengaruhi intensitas cahaya yang akan
memperngaruhi proses fotosintesis fitoplankton sebagai produsen utama di ekosistem
perairan. Dalam distribusi fitoplankton, faktor cahaya sangat penting karena intensitas cahaya
sangat diperlukan dalam proses fotosintesis (Arfiati,1992).
Kekeruhan air di Situ Kuru tergolong tinggi yaitu berkisar antara 78-99 NTU.
Kekeruhan yang tinggi dapat menganggu proses respirasi organisme perairan karena akan
menutupi insang ikan. Kekeruhan juga menghalangi penetrasi cahaya matahari ke dalam
air sehingga secara tidak langsung mengganggu proses fotosintesis fitoplankton.
Kekeruhan yang tampak di perairan dapat berasal dari bahan-bahan tersuspensi seperti :
lumpur, pasir, bahan organik dan anorganik, plankton dan organisme mikroskopik lainnya
(asmara, 2008).
Kadar oksigen Terlarut/Dissolved Oxygen (DO) di Situ Kuru berdasarkan hasil
pengukuran yaitu berkisar antara 8-9 mg/L. Menrut Effendi (2003), oksigen merupakan
faktor penting bagi kehidupan makro dan mikro organisme perairan karena diperlukan untuk
proses pernafasan. Sumber oksigen terlarut di perairan dapat berasal dari difusi oksigen yang
terdapat di atmosfer (sekitar 35%) dan aktivitas fotosintesis oleh tumbuhan air dan
fitoplankton. Fluktuasi harian oksigen dapat mempengaruhi parameter kimia yang lain,
terutama pada saat kondisi tanpa oksigen, yang dapat mengakibatkan perubahan sifat
kelarutan beberapa unsur kimia di perairan.
Berdasarkan nilai kelimpahan jenis plankton yang didapat pada setiap stasiun,
maka dapat diketahui nilai keanekaragaman dan kemerataan jenis plankton di Situ Kuru.
berdasarkan Tabel 4. nilai keanekaragaman jenis plankton di Situ Kuru tergolong sedang,
hal ini karena nilai H berada pada kisaran 1 < H < 3 yakni sebesar 1.773 (Krebs, 1989
dalam Fardila et al, 2012). Sedangkan nilai kemerataan jenis planktonnya sebesar 0.544. nilai
ini mendekati nilai o (nol), menurut Krebs (1989) dalam Fardila, et a (2012) nilai kemerataan
yang mendekati 0 (nol) menunjukkan adanya dominansi suatu jenis plankton di Situ Kuru ini.
jenis yang mendominasi berdasarkan data yang didapat (lampiran) di Situ Kuru ini yaitu jenis
Planktoniella dengan jumlah individu tertinggi yaitu 466 individu.
Derajat pencemaran di Situ Kuru berdasarkan nilai keanekaragaman yang diperoleh
yaitu tergolong tercemar rendah. Hal ini karena nilai keanekaragaman berkisar antara 1.6-2.0.
Maka hal ini dapat membuktikan bahwa perairan di Situ Kuru ini memang sudah mengalami
penurunan kualitas yangdisebabkan oleh pembuangan berbagai limbah baik limbah yang
berasal dari rumah tangga atau pabrik.
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum ini yaitu :
1. Kelimpahan plankton tertinggi terdapat pada stasiun 5 (1.365.000 sel/ml) dan
kelimpahan plankton terendah terdapat pada stasiun 1 (7.000 sel/ml).
2. Nilai keanekaragaman jenis plankton Situ Kuru adalah 1.7732423 sedangkan
kelimpahannya sebesar 0.54425714
3. Berdasarkan nilai keanekaragaman jenis plankton, klasifikasi perairan Situ Kuru
termasuk dalam kategori sedang (1,61 2,40) dan derajat pencemaran Situ Kuru
termasuk dalam kategori tercemar ringan (1,6-2,0).

5.2 Saran
Saran kami yaitu dengan menurunnya kualitas air Situ Kuru ini diharapkan adanya
suatu gerakan untuk memulihkan kembali kualitas air di Situ Kuru, mengingat Situ Kuru ini
sebagai salah satu sumber air di jalan Pesanggrahan, kelurahan Cempaka Putih.
DAFTAR PUSTAKA

Apridayanti, Eka. 2008. Evaluasi Pengelolaan Lingkungan Perairan Waduk Lohor


Kabupaten Jawa Timur (Tesis dipublikasikan). Program Magister Ilmu
Lingkungan Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro. Semarang.
Asmara, Anjar. 2005. Hubungan Struktur Komunitas Plankton dengan Kondisi Fisika-Kimia
Perairan Pulau Pramuka dn Pulau Panggang, Kepulauan Seribu (Skripsi
dipublikasikan). Departemen Manajemen Sumber daya Perairan Fakultas Perikanan
dan Ilmu Kelautan ITB. Bogor.
Barus. 2004. Pengantar Limnologi, Studi tentang Ekosistem Sungai dan Danau. Jurusan
Biologi. Fakultas MIPA USU. Medan.
Effendi, Hefni. 2003. Telaah Kualitas Air : Bagi pengolahan Sumber daya dan Lingkungan
Perairan. Yogyakarta : Penerbit Kanisius.
Fardila, Dini, et al. 2012. Petunjuk Praktikum Ekologi Perairan. Fakultas Sains dan
Teknologi. UIN Press. Jakarta.
Probosunu, N. 2008. Petunujuk Praktikum Ekologi Perairan. Laboratorium Ekologi Perairan
Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian UGM. Yogyakarta.
Sugianti Y, Hendra S., Jenis-jenis plankton yang ditemukan di Sungai Maro, Merauke.
BAWAL 2(2008)57-61.
Astuti Lp, Hendra S., Kelimpahan dan komposisi fitoplankton di Danau Sentani, Papua.
LIMNOTEK 16(2009)88-98.
Wetzel Rg, Likens Ge. Limnology Analysis. Philadelphia: W.B. Sounders Company.
(1979)367 pp.
Castellani C., Book review plankton: a guide to their ecology and monitoring for water
quality. Journal of Plankton Research. 32(2009)261-262.
Sawestri, Sefi dan Ahmad Farid. 2012. Kajian Dampak Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir
(Pltn) Terhadap Kelimpahan Organisme Plankton. Prosiding Seminar Nasional
Pengembangan Energi Nuklir V. ISSN 1979-1208
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan
Perairan. Kanisius. Yogyakarta.
Odum, E. P. 1993. Dasar-dasar Ekologi. Terjemahan : Samingan, T. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.
Lampiran
Tabel. Perhitungan Kelimpahan Plankton
Stasiun N (Jumlah plankton) Kelimpahan plankton (sel/ml)
Inlet 1 28 70000
Inlet 2 25 62500
Outlet 11 27500
Tengah 1 784 1960000
Tengah 2 546 1365000

Tabel. Perhitungan Indeks Keanekaragaman Shannon-Wienner


Nama Jenis Individu Pi ln Pi Pi ln Pi
Astheromphalus 4 0.0028694 -5.8536382 -0.0167967
sp. 1 7 0.0050215 -5.2940224 -0.0265840
sp. 2 24 0.0172166 -4.0618788 -0.0699319
sp. 3 6 0.0043042 -5.4481731 -0.0234498
sp. 4 2 0.0014347 -6.5467854 -0.0093928
sp. 5 1 0.0007174 -7.2399326 -0.0051936
Ceratium furca 1 0.0007174 -7.2399326 -0.0051936
Navicula sp. 3 0.0021521 -6.1413203 -0.0132166
Stepharnophyxis turis 1 0.0007174 -7.2399326 -0.0051936
Euglena sp 1 2 0.0014347 -6.5467854 -0.0093928
Euglena sp 2 2 0.0014347 -6.5467854 -0.0093928
Chaetoceros debilis 3 0.0021521 -6.1413203 -0.0132166
Chrysophyta 3 0.0021521 -6.1413203 -0.0132166
Cyanophyta 108 0.0774749 -2.5578014 -0.1981654
Volvox 290 0.2080344 -1.5700517 -0.3266248
Bidduphia 10 0.0071736 -4.9373475 -0.0354186
Planktoniella 466 0.3342898 -1.0957470 -0.3662970
Ceratium 1 0.0007174 -7.2399326 -0.0051936
Closterium 2 0.0014347 -6.5467854 -0.0093928
Rhizosolenia robusta 1 0.0007174 -7.2399326 -0.0051936
Colpoda calculus 2 0.0014347 -6.5467854 -0.0093928
Euglenophyta 149 0.1068867 -2.2359863 -0.2389971
Trachelomonas 300 0.2152080 -1.5361501 -0.3305918
Spirochete 1 0.0007174 -7.2399326 -0.0051936
Crockscrew 3 0.0021521 -6.1413203 -0.0132166
Filamentous 2 0.0014347 -6.5467854 -0.0093928
Total 1394 1.0000000 -141.8763857

Dokumentasi