Anda di halaman 1dari 26

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat
dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul TANTANGAN
PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013 .

Dalam pembuatan makalah ini mulai dari perancangan, pencarian bahan, sampai
penulisan, penulis mendapat bantuan, saran, petunjuk, dan bimbingan dari banyak pihak baik
secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, penulis mengucapkan
terimakasih dan kepada teman-teman yang ikut berpartisipasi dalam menyelesaikan makalah
ini.

Penulis menyadari bahwa makalah ini memiliki banyak kekurangan dan jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk
perbaikan di masa yang akan datang, dan penulis juga berharap semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi pembaca.

Bengkulu, Mei 2017

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang..........................................................................................................


..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................

1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan

1.4 Manfaat............................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN..........................................................3

2.1 Langkah-langkah Pembelajaran dengan Pendekatan Ilmiah.

2.2 Jejariang Pembelajaran atau Pembelajaran Kolaboratif

2.3 Model Pembelajaran dalam Kurikulum 2013 ..

BAB III PENUTUP ......................................................

3.1 Kesimpulan ................................................................................

3.2 Saran............................ 8

DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendekatan pembelajaran merupakan suatu rangkaian tindakan pembelajaranyang


dilandasi oleh prinsip dasar tertentu (filosofis, psikologis, didaktis dan ekologis) yang
mewadahi, menginspirasi, menguatkan dan melatari metode pembelajaran tertentu. Misalnya
pendekatan pembelajaran dalam kurikulum 2013 menggunakan pendekatan ilmiah. Pendekatan
ilmiah diyakini sebagai titian emas perkembangan dan pengembangan sikap, keterampilan dan
pengetahuan peserta didik.

Pendekatan ilmiah dalam pembelajaran semua mata pelajaran meliputi menggali


informasi melauli pengamatan, bertanya, percobaan, kemudian mengolah data atau informasi,
menyajikan data, dilanjutkan dengan menganalisis, menalar lalu menyimpulkan dan mencipta.
Pendekatan ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikan secara procedural. Metode pembelajaran
merupakan prosedur pembelajaran yang difokuskan pada pencapaian tujuan pembelajaran.

B. Perumusan Masalah

Dengan memperhatikan latarbelakang tersebut, agar dalam penulisan ini penulis


memperoleh hasil yang diinginkan, maka penulis mengemukakan beberapa rumusan masalah.
Rumusan masalahnya yaitu:

1. Apakah pengertian Filsafat dan Filsafat Pancasila?

2. Apa yang dimaksud Pancasila sebagai suatu sistem filsafat ?

3. Apakah fungsi utama filsfat Pancasila bagi bangsa dan negara Indonesia?
C. Tujuan

Tujuan dari penyusunan makalah ini antara lain:

1. Untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Pancasila.

2. Untuk menambah pengetahuan tentang Pancasila dari aspek filsafat.

3. Untuk mengetahui pengertian filsafat dan filsafat Pancasila.

4. Untuk mengetahui fungsi utama filsafat Pancasila bagi bangsa dan negara Indonesia.

D. Manfaat

Manfaat yang didapat dari makalah ini adalah:

1. Mahasiswa dapat menambah pengetahuan tentang Pancasila dari aspek filsafat.


2. Mahasiswa dapat mengetahui pengertian filsafat dan filsafat pancasila.
3. Mahasiswa dapat mengetahui fungsi utama filsafat Pancasila bagi bangsa dan negara
Indonesia.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan ilmiah

Proses pembelajaran pada kurikulum 2013 untuk semua jenjang dilaksanakan dengan
menggunakan pendekatan ilmiah. Proses pembelajaran harus menyentuh tiga ranah, yaitu sikap,
pengetahuan dan keterampilan. Dalam proses pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah, ranah
sikap menggamit transformasi subtansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang
mengapa. Ranah keterampilan menggamit transformasi subtansi atau materi ajar agar peserta
didik tahu tentang bagaimana. Ranah pegetahuan menggamit transformasi subtansi atau materi
ajar agar peserta didik tahu tentang apa. Hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan
antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik dan manusia yang memiliki kecakapan
dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills) dari peserta didik yang meliputi aspek
kompetensi sikap, ketrampilan dan pengetahuan.

Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogic modern dalam pembelajaran,


yaitu menggunakan pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah dalam pembelajaran semua mata
pelajaran meliputi menggali informasi melalui pengamatan, bertanya, percobaan, kemudian
mengolah data atau informasi, menyajikan data atau informasi, dilanjutkan dengan
menganalisis, menalar kemudian menyimpulkan, dan pencipta. Untuk pelajaran tertentu, materi
atau situasi tertentu, sangat mungkin pendeketan ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikan
secara procedural. Pendekatan ilmiah pembelajaran disajikan sebagai berikut.

Mengamati

Metode mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull


learning). Metode ini memiliki keunggulan tertentu, seperti menyajikan objek secara
nyata, peserta didik senang dan bertantang, dan mudah pelaksanaannya. Metode
mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik. Sehingga
proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi. Dengan metode observasi
peserta didik menemukan fakta bahwa ada hubungan antara obyek yang dianalisis
dengan materi pembelajaran yang digunakan guru. Kegiatan mengamati dalam
pembelajaran dilakukan dengan menempuh langkah-langkah berikut:

1. Menemtukan objek apa yang akan diobservasi

2. Membuat pedoman observasi sesuai dengan lingkup objek yang akan di observasi

3. Menentuka secara jelas data apa yang perlu diobservasi, baik primer maupun
sekunder

4. Menentukan dimana tempat objek yang akan di observasi

5. Menentukan secara jelas bagaimana observasi akan dilakukan untuk mengumpulkan


data agar berjalan dengan mudah dan lancer

6. Menemtukan cara dan melakukan pencatata atas hasil observasi, seperti


menggunakan buku catatan, kamera, tape recorder, video perekam, dan alat-alat tulis
lainnya

Kegiatan observasi dalam proses pembelajaran meniscayakan keterlibatan peserta didik


secara langsung. Dalam kaitan ini, guru harus memahami bentuk keterlibatan peserta
didik dalam observasi tersebut.

Observasi biasa (common observation). Pada observasi biasa untuk kepentingan


pembelajaran, peserta didik merupakan subjek yang sepenuhnya melakukan observasi.

Observas terkendali (controlled observation). Seperti halnya observasi biasa, pada


observasi terkendali untuk kepentingan pembelajaran, peserta didik sama sekali tidak
melibatkan diri dengan pelaku, objek, atau situasi yang diamati.

Observasi partisifasif. Pada observasi partisipatif, peserta didik melibatkan diri secara
langsung dengan pelaku atau objek yang di amati. Sejatinya,observasi semacam ini
paling lazim dilakukan dalam penelitian antropologi khususnya etnografi. Observasi
semacam ini mengharuskan peserta didik melibatkan diri pada pelaku, komunitas, atau
objek yang diamati.
Selama proses pembelajaran, peserta didik dapat melakukan observasi dengan dua cara
pelibatan diri, yaitu observasi berstruktur dan observasi tidak berstruktur:

a. Observasi berstuktur. Pada observasi berstruktur dalam rangka proses pembelajaran.


Fenamena subjek, objek, atau situasi apa yang ingin diobservasi oleh peserta didik
dan direncanakan secara sistematis dibawah bimbingan guru.

b. Observasi tidak berstruktur. Pada observasi tidak berstruktur dalam rangka proses
pembelajaran, tidak ditentukan secara baku atau rijid mengenai apa yang harus
diobservasi oleh peserta didik dalam kerangka ini, peserta didik membuat catatan,
rekeman, atau mengingat dalam memori secara spontan atau subjek, objek, atau
situasi yang diobservasi.

Praktik observasi dalam pembelajaran hanya akan efektif jika peserta didik dan guru
melengkapi diri dengan alat-alat lain seperti, (1) tape secara visual, (2) film atau
video untuk merekam kegiatan objek atau secara audio-visual, dan (3) alat-alat lain
sesuai dengan keperluan.

Menanya

Guru yang efektif mampu menginspirasi peserta didik untuk meningkatkan dan
mengembangkan ranah sikap, keterampilan dan pengetahuannya. Pada saat guru
bertanya, pada saat itu pula guru membimbing atau memandu peserta didiknya belajar
dengan baik. Ketika guru menjawab pertanyaan peserta didiknya, ketika itu pula dia
mendorong asuhannya itu untuk menjadi penyimak dan pembelajaran yang baik.
Berbeda dengan penugasan yang menginginkan tidakan nyata, pertanyaan dimaksudkan
untuk memperoleh tanggapan verball. Bentuk pertanyaan, misalnya : apakah cirri-ciri
kalimat yang efektif ? bentuk pernyataan, misalnya : sebutkan cirri-ciri kalimat efektif !

Fungsi bertanya antara lain : (1) membangkitkan rasa ingin tahu, minat dan perhatian
peserta didik tentang suatu tema atau topic pembelajaran ; (2) mendorong dan
menginsfirasi peserta didik untuk belajar aktif, serta mengembangkan pertanyaan dari
dan untuk dirinya sendiri ; (3) mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik sekaligus
menyampaikan ancangan untuk mencari solusinya ; (4) menstrukturkan tugas-tugas dan
memberika kesempatan kepeda peserta didik untuk menunjukkan sikap, ketrampilan dan
pemahamannya atas subtansi pembelajaran yang diberikan ; (5) membangkitkan
ketrampilan peserta didik dalam berbicara, mengajukan pertanyaan, dan memberi
jawaban secara logis, sistematis, dan menggunakan bahasa yang baik dan benar ; (6)
mendorong partisipasi peserta didik dalam berdiskusi, berargumen, mengembangkan
kemampuan berpikir, dan menarik kesimpulan ; (7) membangun sikap keterbukaan
untuk saling memberi dan menerima pendapat atau gagasan, memperkaya kosa kata,
serta mengembangankan toleransi sosial dalam hidup berkelompok ; (8) membiasakan
peserta didik berpikir spontan dan cepat serta sigap dalam merespon persoalan yang
tiba-tiba muncul ; (9) melatih kesantunan dalam berbicara dan membangkitkan
kemampuan berempati satu sama lain

Kriteria pertanyaan yang baik antara lain : singkat jelas, menginspirasi jawaban,
memiliki focus, bersifat probing atau divergen, bersifat validatif atau penguatan,
member kesempatan peserta didik untuk berpikir ulang, merangsang peningkatan
tuntutan kemampuan kognitif, merangsang proses interaksi.

Tingkata pertanyaan. Pertanyaan guru yang baik dan benar menginsfirasi peserta didik
untuk memberikan jawaban yang baik dan benar pula. Bobot pertanyaan yang
menggambarkan tingkat kognitif yang lebih rendah hingga yang lebih tinggi dapat
dijelaskan sebagai berikut.

Tingkatan Sub tingkatan Kata-kata kunci pertanyaan

Kognitif rendah Pengetahuan( knowledge ) Apa, siapa, kapan, dimana,


sebutkan, jodohkan/pasangkan,
persamaan kata, golongkan,
berilah nama

Pemahaman Terangkanlah, bedakanlah,


(comprehension ) terjemahkanlah, simpulkan,
bandingkan, ubahlah,
berikanlah interpretasi
Penerapan ( application ) Gunakanlah, tunjukkanlah,
buatlah, demonstrasikanlah,
carilah hubungan, tulislah
contoh, siapkanlah,
klasifikasikanlah

Kognitif lebih tinggi Analisis ( analysis ) Analisislah, kemukakan bukti-


bukti, mengapa,
identifikasikan, tunjukkan
sebabnya, berilah alasan

Sintesis ( synthesis ) Ramaikanlah, bentuk,


ciptakanlah, susunlah,
rancanglah, tulislah,
bagaimana kita dapat
memecahkan, apa yang terjadi
seandainya, bagaimana kita
dapat memperbaiki,
kembangkan

Berilah pendapat, alternative


Evaluasi ( evaluation )
mana yang lebih baik,
setujukan anda, kritiklah,
berilah alasan, nilailah,
bandingkan, bedakanlah.

Menalar

Istilah menalar dalam kerangka proses pembelajaran dengan pendekatan ilmiah yang di
anut dalam kurikulum 2013 untuk menggambarkan bahwa guru dan peserta didik
melupakan pelaku aktif. Penalaran adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas
fakta emfiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan.
Penalaran dimaksudkan merupakan penalaran ilmiah, meski penalaran non ilmiah tidak
selalu tidak bermamfaat. Aktivitas menalar dalam konteks pembelajaran pada kurikulum
2013 dengan pendekatan ilmiah banyak merujuk pada teori belajar asosiasi atau
pembelajaran asosiatif. Istilah asosiasi dalam pembelajaran merujuk pada kemampuan
mengelompokan beragam ide dan mengasosiasika beragam peristiwa untuk kemudian
memasukkan nya menjadi penggalam memori.

Selama mentrasfer peristiwa khusus ke otak, pengalaman tersimpan dalam referensi


dengan peristiwa lain. Pengalaman yang sudah tersimpan dimemori otak berinteraksi
dengan pengalaman sebelumnya yang sudah tersedia. Proses itu dikenal sebagai asosiasi
atau menalar. Menurut teori asosiasi, proses pembelajaran akan berhasil secara efektif
jika terjadi interaksi langsung antara pendidik dengan peserta didik. Pola interaksi itu
dilakukan melalui stimulus dan respons ( S-R.) . teori ini dikembangkan berdasarkan
hasil eksperimen Thordike, yang kemudian dikenal dengan teori asosiasi.

Menurut Thorndike, belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara


peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R ). Stimulus adalah suatu
perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme
untuk beraksi atau berbuat sedangkan respon dari adalah sembarang tingkah laku yang
dimunculkan karena adanya perangsang.Teori yang dikemukakan Thorndike dikenal dengan
teori stimulus-respon (S-R). Dalam teori S-R dikatakan bahwa dalam proses belajar, pertama
kali organisme (hewan, orang) belajar dengan cara coba salah (trial end error). Apabila suatu
organisme berada dalam suatu situasi yang mengandung masalah, maka organisme itu akan
mengeluarkan tingkah laku yang serentak dari kumpulan tingkah laku yang ada padanya
untuk memecahkan masalah itu. Berdasarkan pengalaman itulah, maka pada saat
menghadapi masalah yang serupa, organisme sudah tahu tingkah laku mana yang harus
dikeluarkannya untuk memecahkan masalah. Ia mengasosiasikan suatu masalah tertentu
dengan suatu tingkah laku tertentu. Sebagai contoh seekor kucing yang dimasukkan dalam
kandang yang terkunci akan bergerak, berjalan, meloncat, mencakar, dan sebagainya sampai
suatu ketika secara kebetulan ia menginjak suatu pedal dalam kandang itu sehingga kandang
itu terbuka dan kucing pun bisa keluar. Sejak saat itulah, kucing akan langsung menginjak
pedal kalau ia dimasukkan dalam kandang yang sama.
1. Definisi Belajar Menurut Thorndike
Menurut Thorndike (Budiningsih, 2005: 21) belajar adalah proses interaksi antara
stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan
belajar seperti pikiran, perasaan atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera.
Sedangkan respon yaitu reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga
dapat berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Thorndike dalam teori belajarnya
mengungkapkan bahwasanya setiap tingkah laku makhluk hidup itu merupakan hubungan
antara stimulus dan respon, adapun teori Thorndike ini disebut teori konesionisme. Belajar
adalah pembentukan hubungan stimulus dan respon sebanyak-banyaknya. Dengan artian
dengan adanya stimulus itu maka diharapkan timbul respon yang maksimal. Teori ini sering
juga disebut dengan teori trial dan error dalam teori ini orang yang bisa menguasai
hubungan stimulus dan respon sebanyak-banyaknya maka dapat dikatakan orang ini
merupakan orang yang berhasil dalam belajar. Adapun cara untuk membentuk hubungan
stimulus dan respon ini dilakukan dengan ulangan-ulangan.
Dalam teori trial dan error ini, berlaku bagi semua organisme dan apabila organisme
ini dihadapkan dengan keadaan atau situasi yang baru maka secara otomatis organisme ini
memberikan respon atau tindakan-tindakan yang bersifat coba-coba atau bisa juga
berdasarkan naluri karena pada dasarnya disetiap stimulus itu pasti ditemui respon. Apabila
dalam tindakan-tindakan yang dilakukan itu menimbulkan perbuatan atau tindakan yang
cocok atau memuaskan maka tindakan ini akan disimpan dalam benak seseorang atau
organisme lainnya karena dirasa diantara tindakan-tindakan yang paling cocok adalah
tindakan itu, selama yang telah dilakukan dalam menanggapi stimulus adalah situasi baru.
Jadi dalam teori ini pengulangan-pengulangan respon atau tindakan dalam menanggapi
stimulus atau stimulus baru itu sangat penting sehingga seseorang atau organisme mampu
menemukan tindakan yang tepat dan dilakukan secara terus-menerus agar lebih tajam dan
tidak terjadi kemunduran dalam tindakan atau respon terhadap stimulus.
Dalam membuktikan teorinya Thorndike melakukan percobaan terhadap seekor kucing
yang lapar dan kucing itu ditaruh di kandang, yang mana kandang tersebut terdapat celah-
celah yang kecil sehingga seekor kucing itu bisa melihat makanan yang berada di luar
kandang dan kandang itu bisa terbuka dengan sendiri apabila seekor kucing tadi menyentuh
salah satu jeruji yang terdapat dalam kandang tersebut. Mula-mula kucing tersebut mengitari
kandang beberapa kali sampai ia menemukan jeruji yang bisa membuka pintu kandang,
kucing ini melakukan respon atau tindakan dengan cara coba-coba, ia tidak mengetahui jalan
keluar dari kandang tersebut, kucing tadi melakukan respon yang sebanyak-banyaknya
sehingga menemukan tindakan yang cocok dalam situasi baru atau stimulus yang ada.
Thorndike melakukan percobaan ini berkali-kali pada kucing yang sama dan situasi yang
sama pula. Memang pertama kali kucing tersebut dalam menemukan jalan keluar
memerlukan waktu yang lama dan pastinya mengitari kandang dengan jumlah yang banyak
pula, akan tetapi karena sifat dari setiap organisme itu selalu memegang tindakan yang cocok
dalam menghadapi situasi atau stimulus yang ada, maka kucing tadi dalam menemukan jeruji
yang menyebabkan kucing tadi bisa keluar dari kandang, ia pegang tindakan ini sehingga
kucing ini dapat keluar untuk mendapatkan makanan dan tidak perlu lagi mengitari kandang
karena tindakan ini dirasa tidak cocok. Akan tetapi kucing tadi langsung memegang jeruji
yang menyebabkannya bisa keluar untuk makan.
2. Ciri-ciri Belajar Menurut Thorndike
Adapun beberapa ciri-ciri belajar menurut Thorndike, antara lain:
a. Ada motif pendorong aktivitas.
b. Ada berbagai respon terhadap sesuatu.
c. Ada eliminasi respon-respon yang gagal atau salah.
d. Ada kemajuan reksi-reaksi mencapai tujuan dari penelitiannya itu.
3. Hukum-hukum yang Digunakan Edward Lee Thorndike
Thorndike menyatakan bahwa belajar pada hewan maupun manusia berlangsung
berdasarkan tiga macam hukum pokok belajar, yaitu :
a. Hukum Kesiapan (Law of Readiness)
Dalam belajar seseorang harus dalam keadaan siap dalam artian seseorang yang belajar
harus dalam keadaan yang baik dan siap, jadi seseorang yang hendak belajar agar dalam
belajarnya menuai keberhasilan maka seseorang dituntut untuk memiliki kesiapan, baik fisik
maupun psikis. Siap fisik seperti seseorang tidak dalam keadaan sakit, yang mana bisa
mengganggu kualitas konsentrasi. Adapun contoh dari siap psikis adalah seperti seseorang
yang jiwanya tidak lagi terganggu, seperti sakit jiwa dan lain-lain. Disamping seseorang
harus siap fisik dan psikis seseorang juga harus siap dalam kematangan dalam penguasaan
pengetahuan serta kecalapan-kecakapan yang mendasarinya.
Menurut Thorndike (Ayuni, 2011: 9) ada tiga keadaan yang menunjukkan berlakunya
hukum ini, yaitu :
a. Bila pada organisme adanya kesiapan untuk bertindak atau berprilaku, dan bila organisme
itu dapat melakukan kesiapan tersebut, maka organisme akan mengalami kepuasan.
b. Bila pada organisme ada kesiapan organisme untuk bertindak atau berperilaku, dan
organisme tersebut tidak dapat melaksanakan kesiapan tersebut, maka organisme akan
mengalami kekecewaan.
c. Bila pada organisme tidak ada persiapan untuk bertindak dan organisme itu dipaksa untuk
melakukannya maka hal tersebut akan menimbulkan keadaan yang tidak memuaskan.
Di samping hukum-hukum belajar seperti yang telah dikemukakan di atas, konsep
penting dari teori belajar koneksionisme Thorndike adalah yang dinamakan transfer of
training. Konsep ini menjelaskan bahwa apa yang pernah dipelajari oleh anak sekarang harus
dapat digunakan untuk hal lain di masa yang akan datang. Dalam konteks pembelajaran
konsep transfer of training merupakan hal yang sangat penting, sebab seandainya konsep ini
tidak ada, maka apa yang akan dipelajari tidak akan bermakna.
b. Hukum Latihan (Law of Exercise)
Untuk menghasilkan tindakan yang cocok dan memuaskan untuk merespon suatu
stimulus maka seseorang harus mengadakan percobaan dan latihan yang berulang-ulang,
adapun latihan atau pengulangan perilaku yang cocok yang telah ditemukan dalam belajar,
maka ini merupakan bentuk peningkatan existensi dari perilaku yang cocok tersebut semakin
kuat (Law of Use). Dalam suatu teknik agar seseorang dapat mentransfer pesan yang telah ia
dapat dari sort time memory ke long time memory ini dibutuhkan pengulangan sebanyak-
banyaknya dengan harapan pesan yang telah didapat tidak mudah hilang dari benaknya.
c. Hukum Akibat (Law of Effect)
Hukum akibat Thorndike mengemukakan (Dahar, 2011: 18) jika suatu tindakan diikuti
oleh suatu perubahan yang memuaskan dalam lingkungan, kemungkinan tindakan itu
diulangi dalam situasi yang mirip akan meningkat. Akan tetapi, bila suatu perilaku diikuti
oleh suatu perubahan yang tidak memuaskan dalam lingkungan, kemungkinan perilaku itu
diulangi akan menurun. Jadi konsekuensi perilaku seseorang pada suatu waktu memegang
peranan penting dalam menentukan perilaku orang itu selanjutnya.
Thorndike mengungkapkan bahwa organisme itu sebagai mekanismus yang hanya
bertindak jika ada perangsang dan situasi yang mempengaruhinya. Dalam dunia pendidikan
Law of Effect ini terjadi pada tindakan seseorang dalam memberikan punishment atau
reward. Akan tetapi dalam dunia pendidikan menurut Thorndike yang lebih memegang
peranan adalah pemberian reward dan inilah yang lebih dianjurkan. Teori Thorndike ini
biasanya juga disebut teori koneksionismekarena dalam hukum belajarnya ada Law of
Effect yang mana di sini terjadi hubungan antara tingkah laku atau respon yang dipengaruhi
oleh stimulus dan situasi dan tingkah laku tersebut mendatangkan hasilnya (effect).
Selain hukum pokok belajar tersebut di atas, masih terdapat hukum subside atau
hukum-hukum minor lainnya, yaitu :
a. Law of Multiple Response
Supaya sesuatu respons itu memperoleh hadiah atau berhasil, maka respons itu harus
terjadi. Apabila individu dihadapkan pada sesuatu soal, maka dia akan mencoba-coba
berbagai cara, apabila tingkah laku yang tepat (yakni yang membawa penyelesaian atau
berhasil) dilakukan maka sukses terjadi, dan proses belajar pun terjadi. Hal tersebut akan
berlaku sebaliknya.
b. Law of Attitude (Law of Set, Law of Disposition)
Respons-respons apa yang dilakukan oleh individu itu ditentukan oleh cara
penyelesaian individu yang khas dalam menghadapi lingkungan kebudayaan tertentu. Sikap
(attitude) tidak hanya menentukan apa yang akan dikerjakan oleh seseorang tetapi juga cara
yang kiranya akan memuaskan atau tidak memuaskan baginya. Proses belajar ini dapat
berlangsung bila ada kesiapan mental yang positif pada siswa
c. Law of Partial Activity (Law of Prepotency Element)
Pelajar dapat bereaksi secara selektif terhadap kemungkinan-kemungkinan yang ada
dalam situasi tertentu. Manusia dapat memilih hal-hal yang pokok dan mendasarkan tingkah
lakunya kepada hal-hal yang pokok itu serta meninggalkan hal-hal yang kecil.
d. Law of Response by Analogy (Law of Assimilation)
Orang bereaksi terhadap situasi yang baru sebagaimana dia bereaksi terhadap situasi
yang mirip dengan itu yang dihadapinya diwaktu yang lalu, atau dia bereaksi terhadap hal
atau unsur tertentu dalam situasi yang telah berulang kali dihadapinya. Jadi, respons-respons
selalu dapat diterangkan dengan apa yang telah pernah dikenalnya, dengan kecenderungan
asli yang berespons.
e. Law of Assosiative Shifting
Bila suatu respons dapat dipertahankan berlaku dalam serangkaian perubahan
-perubahan bahan dalam situasi yang merangsang, maka respons itu akhirnya dapat diberikan
kepada situasi yang sama sekali baru.
4.Prinsip-prinsip Belajar yang Dikemukakan oleh Thorndike
a. Pada saat berhadapan dengan situasi yang baru, berbagai respon ia lakukan. Adapun
respon-respon tiap-tiap individu berbeda-beda tidak sama walaupun menghadapi situasi
yang sama hingga akhirnya tiap individu mendapatlan respon atau tindakan yang cocok
dan memuaskan. Seperti contoh seseorang yang sedang dihadapkan dengan problema
keluarga maka seseorang pasti akan menghadapi dengan respon yang berbeda-beda
walaupun jenis situasinya sama, misalnya orang tua dihadapkan dengan perilaku anak
yang kurang wajar.
b. Dalam diri setiap orang sebenarnya sudah tertanam potensi untuk mengadakan seleksi
terhadap unsur-unsur yang penting dan kurang penting, hingga akhirnya menemukan
respon yang tepat. Seperti orang yang dalam masa perkembangan dan menyongsong masa
depan maka sebenarnya dalam diri orang tersebut sudah mengetahui unsur yang penting
yang harus dilakukan demi mendapatkan hasil yang sesuai dengan yang diinginkan.
c. Apa yang ada pada diri seseorang, baik itu berupa pengalaman, kepercayaan, sikap dan
hal-hal lain yang telah ada pada dirinya turut menentukan tercapainya tujuan yang ingin
dicapai.
d. Orang cenderung memberi respon yang sama terhadap situasi yang sama. Seperti apabila
seseorang dalam keadaan stress karena diputus oleh pacarnya dan ia mengalami ini bukan
hanya kali ini melainkan ia pernah mengalami kejadian yang sama karena hal yang sama
maka tentu ia akan merespon situasi tersebut seperti yang ia lakuan seperti dahulu ia
lakukan.
e. Orang cenderung menghubungkan respon yang ia kuasai dengan situasi tertentu tatkala
menyadari bahwa respon yang ia kuasai dengan situasi tersebut mempunyai hubungan.
f. Manakala suatu respon cocok dengan situasinya maka relatif lebih mudah untuk
dipelajari.

5. Keunggulan-keunggulan Teori Belajar Koneksionisme Thorndike


1. Teori ini sering juga disebut dengan teori trial dan error dalam teori ini orang bisa
menguasai hubungan stimulus dan respon sebanyak-banyaknya sehingga orang
akanterbiasaberpikirdanterbiasamengembangkanpikirannya.
2. Dengan sering melakukan pengulangan dalam memecahkan suatu permasalahan, anak
didik akan memiliki sebuah pengalaman yang berharga. Selain itu dengan adanya sistem
pemberian hadiah, akan membuat anak didik menjadi lebih memiliki kemauan dalam
memecahkan permasalahan yang dihadapinya.
6. Kelemahan-kelemahan Teori Belajar Koneksionisme Thorndike
1.Terlalu memandang manusia sebagai mekanismus dan otomatisme belaka disamakan
dengan hewan. Meskipun banyak tingkah laku manusia yang otomatis, tetapi tidak selalu
bahwa tingkah laku manusia itu dapat dipengaruhi secara trial and error. Trial and error
tidak berlaku mutlak bagi manusia.
2. Memandang belajar hanya merupakan asosiasi belaka antara stimulus dan respon.
Sehingga yang dipentingkan dalam belajar ialah memperkuat asosiasi tersebut dengan
latihan-latihan, atau ulangan-ulangan yang terus-menerus.
3.Karena belajar berlangsung secara mekanistis, maka pengertian tidak dipandangnya
sebagai suatu yang pokok dalam belajar. Mereka mengabaikan pengertian sebagai unsur
yang pokok dalam belajar.
Implikasi dari teori behavioristik dalam proses pembelajaran dirasakan kurang
memberikan ruang gerak yang bebas bagi pelajar untuk berkreasi, bereksperimentasi dan
mengembangkan kemempuannya sendiri. Karena sistem pembelajaran tersebut bersifat
otomatis-mekanis dalam menghubungkan stimulus dan respon sehingga terkesan seperti
kinerja mesin atau robot. Akibatnya pelajar kurang mampu untuk berkembang sesuai dengan
potensi yang ada pada diri mereka.

7. Aplikasi Teori Thorndike


Sebelum guru dalam kelas mulai mengajar, maka anak-anak disiapkan mentalnya terlebih
dahulu. Misalnya anak disuruh duduk, reward dan punishment sehingga memberikan
motivasi proses belajar mengajar yang rapi, tenang dan sebagainya.
Guru mengadakan ulangan yang teratur, bahkan dengan ulangan yang ketat atau sistem drill.
Guru memberikan bimbingan, pemberian hadiah, dan pujian.

Analogi Dalam Pembelajaran


Selama proses pembelajaran, guru dan peserta didik sering kali menemukan fenomena
yang bersifat analogi atau memiliki persamaan. Dengan demikian, guru dan peserta didik ada
kalanya menalar secara analogis. Analogi adalah suatu proses penalaran dalam pembelajaran
dengan cara membandingkan sifat esensial yang mempunyai kesamaan atau persamaan.
Berpikir analogis sangat penting dalam pembelajaran, karena hal itu akan
mempertajam daya nalar peserta didik. Seperti halnya penalaran, analogi terdiri dari dua
jenis, yaitu analogi induktif dan analogi deduktif. Kedua analogi itu dijelaskan berikut ini.

Analogi induktif disusun berdasarkan persamaan yang ada pada dua fenomena atau
gejala. Atas dasar persamaan dua gejala atau fenomena itu ditarik simpulan bahwa apa yang
ada pada fenomena atau gejala pertama terjadi juga pada fenomena atau gejala kedua.
Analogi induktif merupakan suatu metode menalar yang sangat bermanfaat untuk membuat
suatu simpulan yang dapat diterima berdasarkan pada persamaan yang terbukti terdapat pada
dua fenomena atau gejala khusus yang diperbandingkan.

Contoh:
Peserta didik Pulan merupakan pebelajar yang tekun. Dia lulus seleksi Olimpiade
Sains Tingkat Nasional tahun ini. Dengan demikian, tahun ini juga, Peserta didik Pulan
akan mengikuti kompetisi pada Olimpiade Sains Tingkat Internasional. Untuk itu dia harus
belajar lebih tekun lagi.
Analogi deklaratif merupakan suatu metode menalar untuk menjelaskan atau
menegaskan sesuatu fenomena atau gejala yang belum dikenal atau masih samar, dengan
sesuatu yang sudah dikenal. Analogi deklaratif ini sangat bermanfaat karena ide-ide baru,
fenomena, atau gejala menjadi dikenal atau dapat diterima apabila dihubungkan dengan hal-
hal yang sudah dketahui secara nyata dan dipercayai.

Contoh:
Kegiatan kepeserta didik akan akan berjalan baik jika terjadi sinergitas kerja antara
kepala sekolah, guru, staf tata laksana, pengurus organisasi peserta didik intra sekolah, dan
peserta didik. Seperti halnya kegiatan belajar, untuk mewujudkan hasil yang baik diperlukan
sinergitas antara ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
Mencoba (Eksperimen / Experimenting)
Untukuntuk meningkatkan keingintahuan
siswauntukmemperkuatpemahamankonsepdanprinsip/prosedurdenganmengumpulkan data,
mengembangkan kreatifitas, dan keterampilan kerja ilmiah. Kegiatan ini mencakup
merencanakan, merancang, dan melaksanakan eksperimen, serta memperoleh, menyajikan,
dan mengolah data. Pemanfaatan sumber belajar termasuk mesin komputasi dan otomasi
sangat disarankan dalam kegiatan ini. Serta memperoleh hasil belajar yang nyata atau
otentik, peserta didik harus mencoba atau melakukan percobaan, terutama untuk materi atau
substansi yang sesuai. Pada mata pelajaran IPA, misalnya,peserta didik harus memahami
konsep-konsep IPA dan kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.
Peserta didik pun harus memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan
pengetahuan tentang alam sekitar, serta mampu menggunakan metode ilmiah dan bersikap
ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari.
Aplikasi metode eksperimen atau mencoba dimaksudkan untuk mengembangkan
berbagai ranah tujuan belajar, yaitu sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Aktivitas
pembelajaran yang nyata untuk ini adalah:
1. menentukan tema atau topik sesuai dengan kompetensi dasar menurut tuntutan
kurikulum;
2. mempelajari cara-cara penggunaan alat dan bahan yang tersedia dan harus disediakan;
3. mempelajari dasar teoritis yang relevan dan hasil-hasil eksperimen sebelumnya;
4. melakukan dan mengamati percobaan;
5. mencatat fenomena yang terjadi, menganalisis, dan menyajikan data;
6. menarik simpulan atas hasil percobaan;
7. membuat laporan dan mengkomunikasikan hasil percobaan.
Agar pelaksanaan percobaan dapat berjalan lancar maka :
1. Guru hendaknya merumuskan tujuan eksperimen yang akan dilaksanakan murid
2. Guru bersama murid mempersiapkan perlengkapan yang dipergunakan
3. Perlu memperhitungkan tempat dan waktu
4. Guru menyediakan kertas kerja untuk pengarahan kegiatan murid
5. Guru membicarakan masalah yanga akan yang akan dijadikan eksperimen
6. Membagi kertas kerja kepada murid
7. Murid melaksanakan eksperimen dengan bimbingan guru, dan
8. Guru mengumpulkan hasil kerja murid dan mengevaluasinya, bila dianggap perlu
didiskusikan secara klasikal.

2.2 Jejaring Pembelajaran (Pembelajaran Kolaboratif)

Pembelajaran kolaboratif merupakan suatu filsafat personal, lebih sekedar teknik pembelajaran
di kelas-kelas sekolah. Kolaborasi esensinya merupakan filsafat interaksi dan gaya hidup
manusia yang menempatkan dan memaknai kerjasama sebagai struktur interaksi yang dirancang
secara baik dan disengaja untuk memudahkan usaha kolektif dalam rangka mencapai tujuan
bersama.
Pada pembelajaran kolaboratif kewenangan guru fungsi guru lebih bersifat direktif atau manajer
belajar, sebaliknya peserta didiklah yang harus lebih aktif . Dalam situasi kolaboratif itu, peserta
didik berinteraksi dengan empati , saling menghormati, dan menerima kekuranngan atu
kelebihan masing-masing . Dengan cara seperti ini akan tumbuh rasaaman, sehingga
memungkinkan peserta didik menghadapi aneka perubahan dan tuntutan belajar bersama-sama.

Ada empat sifat kelas (pembelajaran kolaboratif):

Dua sifat berkenaan dengan perubahan hubungan antara guru dan peseta didik.
Sifat Ketiga berkaitan dengan pendekatan baru dari penyampaian guru selama proses
pembelajaran .
Sifat keempat menyatakan isi kelas atau pembelajaran kolaboratif .

1.Dengan pembelajaran kolaboratif, peserta didik memilki ruang gerak untuk menilai dan
membina ilmu pengetahuan, pengalaman personal, bahasa komunikasi, strategi dan konsep
pembelajaran sesuai teori, serta menautkan kondisi sosial budaya dengan situasi pembelajaran.

2. Berbagi tugas dan kewenangan.


Pada pembelajaran atau kelas kolaboratif, guru berbagi tugas dan kewenangan dengan pesreta
didik khususnya untuk hal-hal tertentu. Cara ini memungkinkn peserta didik menimba
pengalaman mereka sendiri, berbagi strategi dan informasi, menghormati antar sesama
mendorong tumbuhanya ide-ide cerdas, terlibat dalam pemikiran keatif dan kritis serta memupuk
dan menggalakkan mereka mengambil peran secara terbuka dan bermakna. Pada pembelajaran
atau kelas kolaboratif, guru berperan sebagai mediator atau perantara.

3. Macam-Macam Pembelajaran Kolaboratif antara lain;


1. JP (Jigsaw Prosedur)
Pembelajaran dilakukan dengan cara peserta didik sbagai anggota suatu kelompok diberi tugas
yang berbeda-beda mengenai suatu poko bahasan. Agar masing-masing peserta didik anggota
dapat memahami keseluruhan pokok bahasan, tes diberikan dengan materi yang menyeluruh.
Penilaian didasari pada rata-rata skor tes kelompok.

2. STAD (Student Team Achievement Division)


Peserta didik dalam suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Anggota anggota
dalam setiap kelompok bertindak saling membelajarkan. Fokusnya adalah keberhasilan seorang
akan berpengaruh terhadap keberhasilan kelompok dan demikian pula keberhasilan kelompok
akan berpengaruh terhadap keberhasilan individu peserta didik lainnya. Penilaian didasar pada
pencapaian hasil belajar individual maupun kelompok peserta didik.

3. Cl (Complex Instruction)
Metode ini dalam pelaksanaan suatu proyek yang berorientasi pada penemuan, khusunya di
bidang sains, matematika, dan ilmu pengetahuan sosial. Fokusnya adalah
menumbuhkembangakan ketertarikan semua peserta didik sebagai anggota kelompok terhadap
pokok bahsan pada umumnya metode ini digunakan dalam pembelajaran yang bersifat bilingual
(menggunakan dua bahasa) dan di antara para peserta ddidik yang heterogen. Penilain didasari
pada proses dan hasil kerja kelompok

4. TAI ( Team Accelerated Instruction)


Metode ini merupakan kombinasi antara pembelajaran kooperatif/kolaboratif dnegan
pembelajaran individual. Secara bertahap, setiap peserta didik sebagai anggota kelompok diberi
soal-soal yang harus mereka kerjakan sendiri terlebih dulu. Setelah itu dilaksanakan penilaian
bersama-sama dalam kelompok. Jika soal tahap pertama telah diselesaikan dengan benar, setiap
peserta didik mengerjakan soal-soal berikutnya. Namun jika seorang peserta didik belum dapat
menyelesaikan soal tahap pertama dengan benar, ia harus menyelesaikan soal lain pada tahap
pertama dengan benar, ia harus menyelesaikan lain pada tahap yang sama . setiap tahapan soal
disusun berdasarkan tingkat kesukaran soal. Penilaian didasari pada hasil belajar individual
maupun kelompok.

5. CLS ( Cooperatif Learning)


Pada penerapan metode pembelajaran inni setipa kelompok dibentuk dengan dua peserta
didik(berpasangan). Seorang peserta didik bertindak sebagai tutor yang lain menjadi tutee. Tutor
mengajukan pertanyaan yang harus dijawab tutee. Bila jawaban tutee benar, ia memperoleh poin
atau skor yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Dalam selang waktu yang juga telah ditetapkan
sebelumnya, kedua peserta didik yang saling berpasangan itu berganti peran.

6. LT (Learning Together)
Pada metode ini kelompok sekelas beranggotakan peserta didik yang beragam
kemampuannya. Tiap kelompok bekerjasama untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh
guru. Satu kelompok hanya menerima dan mengerjakan satu set lembar tugas. Penilaian
didasarkan pada hasil kerja kelompok.

7. TGT (Team Games Tornament)


Pada metode ini, setelah belajar bersama kelompoknya sendiri, para anggota suatu kelompok
akan berlomba dengan anggota kelompok lain sesuai dengan tingkat kemampuan masing-
masing.Penilaian didasar pada Jumlah nilai yang diperoleh kelompok peserta didik.

8. GI ( Group Investigation)
Pada metode ini semua anggota kelompok dituntut untuk merencanakan suatu penelitian
beserta perencanaan pemecahan masalah yang dihadapi. Kelompok menentukan apa saja yang
akan dikerjakan dan siapa saja yang akan melaksanakannya berikut bagaiman aperencanaan
penyajiannya di depan forum kelas. Penilaian didasari pada proses dan hasil kerja kelompok.
9. AC (Academic Constructive Controversy)
Pada metode ini setipa anggota kelompok dituntut kemampuannya untuk berada dalam situasi
konflik intelektual yang dikembangkan berdasarkan hasil belajar masing-masing, baik bersma
anggota sekelompok maupun dengan anggota kelompok lain. Kegiatan pembelajaran ini
mengutamakan pencapaian dan mengembangkan kualitas pemecahan masalah, pemikiran kritis,
pertimbangan, hubungan antarpribadi, kesehatan psikis dan keselarasan. Penilaian didasarkan
pada kemampuan setiap anggota maupun kelompok mempertahankan posisi yang dipilihnya.

10. CIRC ( Cooperatif Integrated Reading and Composition)


Pada metode pembelajaran ini mirip dengan TAI. Metode pembelajaran ini menekankan
pembelajaran membaca, menulis dan tata bahasa . Dalam pembelajaran ini, para peserta didik
saling menilai kemampuan membaca, menulis dan tata bahasa, baik secara tertulis maupun lisan
di dalam kelompoknya.

Pemanfaatan internet sangat dianjurkan dalam pembelajaran atau kelas kolaboratif. Karena,
internet merupakan salah satu jejaring pembelajaran dengan akses dan ketersediaan informasi
yang luas dan mudah. Saat ini internet telah meyediakan diri sebagai referensi yang murah dan
mudah bagi peseta didik . Penggunaan internet dirasakan makin mendesak sejalan dengan
perkembangan pengetahuan terjadi secara eksponensial.

2.3 Model Pembelajaran dalam Kurikulum 2013


Model pembelajaran merupakan Contoh pola atau struktur pembelajaran siswa yang di
desain, diterapkan dan dievaluasi secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan. Suatu contoh
bentuk pembelajarn yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru
di kelas. Dalam model pembelajaran terdapat strategi pencapaian kompetensi siswa dengan
pendekatan, metode dan teknik pembelajaran.

Pendekatan pembelajaran merupakan suatu rangkaian tindakan pembelajaran yang


dilandasi oleh prinsip dasar tertentu( filosofis, psikologis, didaktis dan ekologis) yang
mewadahi, menginspirasi, menguatkan dan melatari metode pembelajaran
tertentu.Contoh penerapan pendekatan : Contextual Teaching and Learning

Metode pembelajaran merupakan prosedur pembelajaran yang difokuskan pada


pencapaian tujuan pembelajaran. Contoh metode : Cooperative Learning

Teknik pembelajaran merupakan cara-cara konkrit yang dipakai saat prosedur


pembelajaran berlangsung. Suatu metode dapat diaplikasikan melalui berbagai teknik
pembelajaran. Contoh Teknik : Diskusi Kelompok

Model pembelajaran dalam kurikulum 2013 antara lain :


1. Model pembelajaran penemuan (Discovery Learning)
2. Model pembelajaran berbasis proyek (Project Based learning)
3. Model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based learning)

1.Discovery learning
Model pembelajaran penemuan adalah model pembelajaran untuk memahami konsep, arti dan
hubungan proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan. Discovery learning
dilakukan melalui Observasi, klasifikasi, pengukuran, prediksi, penentuan dan inferi proses
tersebut disebut cognitive process.
Prinsip belajar dalam dicovery learning adalah materi atau bahan pelajaran yang akan
disampaikan tidak disampaikan dalam bentuk final akan tetapi siswa sebagai peserta didik
didorong untuk mengidentifikasi yang ingin diketahui, dilanjutkan dengan mencari informasi
sendiri kemudian mengorganisasikan atau membentuk (konstruksi) yang akan diketahui dan
pahami dalam suatu bentuk akhir
Dengan mengaplikasikan metode discovery learning secara berulang-ulang dapat
meningkatkan kemampuan penemuan diri individu yang bersangkutan .

2.Project Based Learning


Model pembelajaran berbasis proyek adalah metode pembelajaran yang menggunakan
proyek/kegiatan sebagai media.Pembelajaran berbasis proyek merupakan metode belajar yang
menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan
pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktivitas secara nyata.Pembelajaran
Berbasis proyek dirancang untuk digunakan pada permasalahan kompleks yang diperlukan
peserta didik dalam melakukan investigasi dan memahminya.

3.Problem Based Learning


Model pembelajaran berbasis masalah adalah kurikulum dalam proses pembelajaran. Dalam
kurikulumya, dirancang masalah-masalah yang menuntut peserta didik mendapat pengetahuan
penting, yang membuat mereka mahir dalam memecahkan masalah , dan memiliki model belajar
sendiri serta memiki kecakapan berpartisipasi dalam tim. Proses pembelajarannya menggunakan
pendekatan sistematik untuk memecahhkan masalah atau menghadapi tantangan yang nanti
diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.
Model pembelajaran berbasis masalah dilakukan dengan adanya pemberian rangsangan berupa
masalah-masalah yang kemudian dilakukan pemecahan masalaholeh peserta didk yang
diharapkan.

BAB 111
PENUTUP
3.1 Simpulan
Proses pembelajaran pada kurikulum 2013 untuk semua jenjang dilaksanakan dengan
menggunakan pendekatan ilmiah. Proses pembelajaran harus menyentuh tiga ranah, yaitu sikap,
pengetahuan dan keterampilan. Pendekatan ilmiah dalam pembelajaran semua mata pelajaran
meliputi menggali informasi melalui pengamatan, bertanya, percobaan, kemudian mengolah data
atau informasi, menyajikan data atau informasi, dilanjutkan dengan menganalisis, menalar
kemudian menyimpulkan, dan pencipta. Pembelajaran kolaboratif merupakan suatu filsafat
personal, lebih sekedar teknik pembelajaran di kelas-kelas sekolah. Kolaborasi esensinya
merupakan filsafat interaksi dan gaya hidup manusia yang menempatkan dan memaknai
kerjasama sebagai struktur interaksi yang dirancang secara baik dan disengaja untuk
memudahkan usaha kolektif dalam rangka mencapai tujuan bersama. Model pembelajaran
merupakan Contoh pola atau struktur pembelajaran siswa yang di desain, diterapkan dan
dievaluasi secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan. Suatu contoh bentuk pembelajarn
yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru di kelas. Dalam
model pembelajaran terdapat strategi pencapaian kompetensi siswa dengan pendekatan, metode
dan teknik pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Komara, Endang, 2014. Belajar Dan Pembelajaran Interaktif. Bandung : PT Refika Aditama