Anda di halaman 1dari 84

TEKNIS PENGELOLAAN LIMBAH B3

BERDASARKAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR


101 TAHUN 2014
TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH B3

Direktorat Verifikasi Pengelolaan Limbah B3 dan Limbah Non B3


Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Padang, 23 Oktober 2015


OUTLINE PRESENTASI :
1 Pengurangan Limbah B3
2 Penyimpanan Limbah B3
3 Pengumpulan Limbah B3
4 Pemanfaatan Limbah B3
5 Pengangkutan Limbah B3
6 Pengolahan Limbah B3
7 Penimbunan Limbah B3
8 Dumping Limbah B3
9 Penetapan Limbah B3
10 Pengecualian Limbah B3
11 Notifikasi Ekspor Limbah B3
12 Rekomendasi Impor Limbah Non B3
PENGELOLAAN LIMBAH B3 (1)
Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2014 :

Pasal 1 Angka 11 :
Pengelolaan Limbah B3 adalah kegiatan yang meliputi : pengurangan, penyimpanan,
pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan, pengolahan dan/atau penimbunan.

Pasal 5 Ayat (1) :


Dalam hal terdapat limbah di luar daftar limbah B3 sebagaimana tercantum dalam
lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah yang
terindikasi memiliki karakteristik limbah B3, Menteri wajib melakukan uji karakteristik
untuk mengidentifikasi limbah.

Pasal 9 ayat (2) :


Berdasarkan hasil rapat koordinasi, Menteri menetapkan limbah sebagai limbah B3
kategori 1 atau kategori 2.

Pasal 191 :
Limbah B3 dari sumber spesifik dapat dikecualikan dari pengelolaan limbah B3
berdasarkan PP ini.
PENGELOLAAN LIMBAH B3 (2)
Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2014 :
Pasal 195 ayat (1) huruf a :
Menteri berdasarkan rekomendasi Tim Ahli limbah B3 menetapkan pengecualian dari
Pengelolaan limbah B3 terhadap Limbah B3 dari sumber spesifik.
Pasal 74 ayat 1 : Dalam hal Setiap Orang yang menghasilkan Limbah 83 tidak mampu
melakukan sendiri Pemanfaatan Limbah B3 yang dihasilkannya:
a. Pemanfaatan Limbah 83 diserahkan kepada Pemanfaat Limbah B3; atau
b. Dapat melakukan Ekspor Limbah B3 yang dihasilkannya.
Pasal 75 : Tatacara Ekspor
Pasal 123 ayat 1: Dalam hal Setiap Orang yang menghasilkan Limbah 83 tidak mampu
melakukan sendiri PPengolahan Limbah B3 yang dihasilkannya:
a. Pengolahan Limbah 83 diserahkan kepada Pengolah Limbah B3; atau
b. Dapat melakukan Ekspor Limbah B3 yang dihasilkannya.
Pasal 124 : Tatacara Ekspor

Keputusan Presiden Nomor : 61 tahun 1993 tentang Ratifikasi Konvensi Basel.

Peraturan Presiden Nomor : 47 tahun 2005 tentang Ratifikasi Ban Amendement.


1

PENGURANGAN
PENGURANGAN LIMBAH B3 LIMBAH B3
Diatur dalam Pasal 10 s.d. Pasal 11 PP Nomor 101 Tahun 2015
Pengurangan Limbah B3 dilakukan melalui :
Substitusi bahan;
Modifikasi proses; dan/atau
Penggunaan teknologi ramah lingkungan.

Pelaporan kepada Menteri 1 x dalam 6 bulan


2

PENYIMPANAN LIMBAH B3
Diatur dalam Pasal 12 s.d. Pasal 30 PP Nomor 101 Tahun 2015
Penyimpanan Limbah B3 WAJIB dilakukan oleh setiap orang
yang menghasilkan limbah B3.
DILARANG melakukan pencampuran limbah B3 yang
disimpannya.
Penyimpanan Limbah B3 WAJIB dilengkapi dengan IZIN
pengelolaan Limbah B3 untuk kegiatan penyimpanan Limbah
B3.
Izin Pengelolaan Limbah B3 untuk kegiatan penyimpanan
Limbah B3 diterbitkan oleh bupati/walikota.
FASILITAS TEMPAT
FASILITAS PENYIMPANAN
PENYIMPANAN LIMBAHB3
LIMBAH B3

LIMBAH B3 YANG DAPAT DISIMPAN


KATEGORI 2
NO FASILITAS
KATEGORI 1 SUMBER
SPESIFIK SPESIFIK
TIDAK
UMUM KHUSUS
SPESIFIK
1 bangunan

2 tangki dan/atau kontainer

3 silo

4 penumpukan limbah (waste


pile)
5 waste impoundment

6 bentuk lainnya sesuai dengan


perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi
CONTOH SISTEM SIRKULASI UDARA DALAM
RUANG BANGUNAN PENYIMPANAN LIMBAH B3
PENGEMASAN LIMBAH B3
Pengemasan Limbah B3 dilakukan dengan menggunakan kemasan
yang:
terbuat dari bahan yang dapat mengemas Limbah B3 sesuai dengan
karakteristik Limbah B3 yang akan disimpan;
mampu mengungkung Limbah B3 untuk tetap berada dalam kemasan;
memiliki penutup yang kuat untuk mencegah terjadinya tumpahan saat
dilakukan penyimpanan, pemindahan atau pengangkutan; dan
berada dalam kondisi baik, tidak bocor, tidak berkarat, atau tidak rusak.

Kemasan Limbah B3 wajib dilekati Label Limbah B3 dan Simbol


Limbah B3.

Label Limbah B3 paling sedikit meliputi keterangan mengenai:


nama Limbah B3;
identitas Penghasil Limbah B3;
tanggal dihasilkannya Limbah B3; dan
tanggal Pengemasan Limbah B3.
SILO
CONTOH 1 :
GAMBAR FASILITAS PENIRISAN (DRIP PAD)

Papan penirisan Produk kayu telah


diberi larutan
pengawet
Pembatas
Sistem
pengumpul
cairan

11
CONTOH 2 :
GAMBAR FASILITAS PENYIMPANAN TANGKI

CATATAN:
Volume dalam tanggul
minimum harus 110%
dari volume tangki

Pelapis Eksternal Penampung


Pompa & kedua untuk
PENAMPANG motor pemipaan
MELINTANG TANGKI
TANGGUL
TANGGUL

Tanah dasar
Pondasi beton yang
diperkuat
12
CONTOH 3 :
GAMBAR FASILITAS PENYIMPANAN WASTE PILE

Sistem pengumpulan Liner ganda


dan pengambilan Tanggul atau
lindi (leachate) ganda penghalang

Penampang Melintang
Fasilitas Penumpukan Limbah 13

(waste pile)
CONTOH 4 :
GAMBAR FASILITAS PENYIMPANAN WASTE
IMPOUNDMENT

Sistem pengumpulan
Tanggul atau
Sumur pantau dan pengambilan
Liner ganda penghalang
air tanah lindi (leachate)

Penampang Melintang
Impoundment di Permukaan
14
SIMBOL LIMBAH B3 SESUAI PERMEN LH 14/2013
TENTANG SIMBOL DAN LABEL LIMBAH B3

25 cm
A B

Ukuran simbol
(minimal):

ALAT ANGKUT
25 cm x 25 cm

WADAH/KEMASAN
10 cm X 10 cm

A
25 cm 45o

Jingga Merah Hitam


(R=255, G=153, B=83) (R=255, G=0, B=0) (R=0, G=0, B=0)
SIMBOL LIMBAH B3 SESUAI PERMEN LH 14/2013 TENTANG SIMBOL DAN LABEL LIMBAH B3
CONTOH PEMBERIAN SIMBOL PADA TEMPAT PENYIMPANAN LIMBAH B3 YANG
MENYIMPAN LEBIH DARI 1 (SATU) KARAKTERISTIK LIMBAH B3
CONTOH POLA PENYIMPANAN KEMASAN DRUM DI ATAS
PALET DENGAN JARAK MINIMUM ANTAR BLOK
PENYIMPANAN KEMASAN LIMBAH B3 DENGAN
MENGGUNAKAN RAK
Kemasan berisi limbah B3 yang tidak
saling cocok harus disimpan secara
terpisah, tidak dalam satu blok, dan
tidak dalam bagian penyimpanan yang
sama.
Penempatan kemasan harus dengan
syarat bahwa tidak ada kemungkinan
bagi limbah-limbah tersebut jika
terguling/tumpah akan
tercampur/masuk ke dalam bak
penampungan bagian penyimpanan
lain.
WAKTU PENYIMPANAN LIMBAH B3
LIMBAH B3 YANG DISIMPAN WAKTU PENYIMPANAN (MAKSIMUM)

Limbah B3 yang dihasilkan 50 (lima puluh) 90 (sembilan puluh) hari sejak Limbah B3
kilogram per hari atau lebih; dihasilkan

Limbah B3 yang dihasilkan kurang dari 50 180 (seratus delapan puluh) hari sejak Limbah
(lima puluh) kilogram per hari untuk B3 dihasilkan
Limbah B3 kategori 1;
Limbah B3 yang dihasilkan kurang dari 50 365 (tiga ratus enam puluh lima) hari sejak
(lima puluh) kilogram per hari untuk Limbah B3 dihasilkan
Limbah B3 kategori 2 dari sumber tidak
spesifik dan dari sumber spesifik umum;
Limbah B3 kategori 2 dari sumber spesifik 365 (tiga ratus enam puluh lima) hari sejak
khusus. Limbah B3 dihasilkan

Catatan:
Jumlah 50 (lima puluh) kilogram per hari merupakan jumlah kumulatif dari 1 (satu) atau lebih nama limbah B3
Jika melebihi jangka waktu penyimpanan, lakukan pemanfaatan dan/atau pengolahan dan/atau penimbunan
dan/atau menyerahkan kepada pengumpul dan/atau pemanfaat dan/atau pengolah dan/atau penimbun limbah B3.
3

PENGUMPULAN LIMBAH B3
Pengumpulan Limbah B3 wajib dilakukan oleh setiap orang
yang menghasilkan limbah B3 bagian dari penyimpanan
Limbah B3 dan tidak memerlukan Izin Pengumpulan Limbah
B3.
Dalam hal Setiap Orang yang menghasilkan Limbah B3 tidak
mampu melakukan sendiri pengumpulan Limbah B3 yang
dihasilkannya, Pengumpulan Limbah B3 diserahkan kepada
Pengumpul Limbah B3.
Penyerahan Limbah B3 kepada Pengumpul Limbah B3 disertai
dengan bukti penyerahan Limbah B3.
Pengumpul Limbah B3 wajib memiliki Izin Pengelolaan
Limbah B3 untuk kegiatan Pengumpulan Limbah B3.
PRINSIP-PRINSIP PENGUMPULAN LIMBAH B3

Pengumpul limbah B3 DILARANG melakukan pemanfaatan


dan/atau pengolahan Limbah B3 yang dikumpulkannya
sebagaian atau seluruhnya.
Pengumpul limbah B3 DILARANG menyerahkan limbah B3
yang dikumpulkannya kepada pengumpul limbah B3
lainnya.
Pengumpul DILARANG melakukan pre-treatment
(pengolahan awal) limbah B3 yang dikumpulkannya.
Memiliki izin lingkungan.
SKALA PENGUMPULAN LIMBAH B3

PENGUMPULAN SKALA KABUPATEN/KOTA;


PENGUMPULAN SKALA PROVINSI

PENGUMPULAN SKALA NASIONAL.


PERSYARATAN PENGUMPULAN LIMBAH B3

PERSYARATAN LOKASI PENGUMPULAN:

Lokasi harus sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW);


Merupakan daerah bebas banjir 100 tahunan, atau daerah yang di
upayakan melalui rekayasa teknologi sehingga aman dari kemungkinan
terkena banjir dan longsor serta mempunyai sistem drainase yang baik;
Mempertimbangkan faktor geologi (aktivitas seismik, gempa bumi,
aktivitas vulkanik) dan karakteristik tanah (komposisi dan
permeabilitas, potensi erosi) untuk mencegah sedini mungkin kerusakan
terhadap fasilitas tempat penyimpanan limbah B3.
Luas tanah termasuk untuk bangunan pengumpulan dan fasilitas
lainnya wajib disesuaikan dengan jumlah dan/atau kapasitas limbah
yang dikumpulkan;
PERSYARATAN PENGUMPULAN LIMBAH B3
Fasilitas tempat dan/atau bangunan pengumpulan merupakan
fasilitas khusus yang harus dilengkapi dengan berbagai sarana
penunjang dengan tata ruang yang tepat sehingga kegiatan
pengumpulan dapat berlangsung dengan baik dan aman bagi
lingkungan;
Setiap bangunan pengumpulan limbah B3 di rancang khusus
hanya untuk 1 (satu) karakteristik limbah, dan di lengkapi dengan
bak penampung tumpahan/ceceran limbah yang dirancang
sedemikian rupa sehingga memudahkan dalam pengangkatannya;
Fasilitas pada bangunan pengumpulan harus di lengkapi dengan:
peralatan dan sistem pemadam kebakaran;
pembangkit listrik cadangan;
fasilitas pertolongan pertama;
peralatan komunikasi;
gudang tempat penyimpanan peralatan dan perlengkapan;
pintu darurat dan alarm.
TATA RUANG FASILITAS PENYIMPANAN LIMBAH B3
Fasilitas tambahan yang wajib dimiliki dalam
melakukan kegiatan pengumpulan limbah B3,
meliputi:
Laboratorium
Fasilitas Pencucian
Fasilitas Bongkar Muat
Kolam Penampungan Darurat
Peralatan Penanganan Tumpahan
Sarana lain yang harus tersedia
peralatan dan sistem pemadam kebakaran;
pagar pengaman;
pembangkit listrik cadangan;
fasilitas pertolongan pertama;
peralatan komunikasi;
gudang tempat penyimpanan peralatan dan
perlengkapan;
pintu darurat;
alarm.
4

PEMANFAATAN LIMBAH B3
Pemanfaatan Limbah B3 wajib dilaksanakan oleh Setiap Orang
yang menghasilkan Limbah B3.
Dalam hal setiap orang tidak mampu melakukan sendiri,
Pemanfaatan Limbah B3 diserahkan kepada Pemanfaat Limbah B3.
Pemanfaatan Limbah B3 meliputi:
Pemanfaatan Limbah B3 sebagai substitusi bahan baku;
Pemanfaatan Limbah B3 sebagai substitusi sumber energi;
Pemanfaatan Limbah B3 sebagai bahan baku; dan
Pemanfaatan Limbah B3 sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi.
Pemanfaatan Limbah B3 dilakukan dengan mempertimbangkan:
ketersediaan teknologi;
standar produk apabila hasil Pemanfaatan Limbah B3 berupa produk; dan
baku mutu atau standar lingkungan hidup.
UJI COBA PEMANFAATAN

Ketentuan mengenai uji coba hanya berlaku untuk kegiatan


PEMANFAATAN dan PENGOLAHAN Limbah B3.
Uji coba diwajibkan untuk Pemanfaatan Limbah B3:
1. sebagai substitusi bahan baku yang tidak memiliki Standar Nasional
Indonesia; dan
2. sebagai substitusi sumber energi.
Uji coba diwajibkan untuk Pengolahan Limbah B3 dengan cara:
1. termal; dan
2. cara lain sesuai perkembangan teknologi yang tidak memiliki Standar
Nasional Indonesia.
Uji coba pemanfaatan atau pengolahan dilakukan untuk: uji coba
peralatan, metode, teknologi, dan/atau fasilitas Pemanfaatan atau
Pengolahan Limbah B3.
5

PENGANGKUTAN LIMBAH B3

Pengangkutan Limbah B3 wajib dilakukan dengan menggunakan alat


angkut yang tertutup untuk Limbah B3 kategori 1.
Pengangkutan Limbah B3 dapat dilakukan dengan menggunakan alat
angkut yang terbuka untuk Limbah B3 kategori 2.
Pengangkutan Limbah B3 wajib memiliki:
rekomendasi Pengangkutan Limbah B3; dan
izin Pengangkutan Limbah B3.

Rekomendasi Pengangkutan Limbah B3 menjadi dasar diterbitkannya izin


Pengangkutan Limbah B3 oleh Menteri Perhubungan.
Rekomendasi Pengangkutan Limbah B3 diterbitkan oleh Menteri
Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Copyright from : @skary 2015 presentation


PENGANGKUTAN LIMBAH B3
Pengangkutan Limbah B3 wajib disertai dengan manifes
Pengangkutan Limbah B3
Pengangkut Limbah B3 wajib dilakukan oleh badan usaha
berbadan hukum (PT, Koperasi, Yayasan) tidak termasuk
CV, NV, UD. cirinya terdaftar sebagai badan hukum di
Kementerian Hukum dan HAM
Dasar Hukum:
UU 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;
PP 74 Tahun 2014; dan
PP 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah B3.
POLA PENGANGKUTAN VS REKOMENDASI & MANIFES

POLA 1 POLA 2 POLA POLA 4 POLA


3 5
REKOMENDASI 31

MANIFES
LEMBAR DOKUMEN MANIFES LB3
Dokumen Limbah B3

Bagian Pertama: No. 1-12


diisi oleh
pengirim/penghasil LB3:
pengumpul, pemanfaat,
pengolah

Bagian Kedua: 13-22


diisi oleh pengangkut LB3

Bagian Ketiga: No. 23-36


diisi oleh penerima LB3:
pengumpul, pemanfaat,
33
pengolah LB3
DISTRIBUSI MANIFES (DOKUMEN
LIMBAH B3)
Pengirim
LB3 KLH

Pengangkut
Gubernur
LB3

Penerima
1 Putih LB3
2 Kuning

3 Hijau Pengirim 3 7
4 Merah Muda Pengangkut 1
5 Biru KLH 2 5
6 Krem Penerima 4
7 Ungu Gubernur 6
Mulai tahun 2013, manifes menggunakan
STIKER BARCODE

Kementerian Lingkungan Hidup

Bagian dari pengawasan, dapat diperoleh


di KLH, akan ditetapkan kuota,
direncanakan dengan PNBP, ditempelkan
pada setiap lembar manifes
Manifes Limbah B3
[MANUAL]

Dalam Surat rekomendasi


memuat nomor unik
[KODE] manifes yang
berbeda-beda untuk setiap
pengangkut, contoh: JV, BC,
AA, XU, dan lain-lain yang
dirangkai dengan nomor urut
manifes

DIMANA BARCODE
Kementerian
Lingkungan Hidup DITEMPATKAN ?
[saat ini]
Ditempelkan pada
bagian sebelah kiri
atas.
Ditempelkan pada
setiap lembar
manifes
6

PENGOLAHAN LIMBAH B3
Pengolahan Limbah B3 wajib dilaksanakan oleh Setiap Orang
yang menghasilkan Limbah B3.
Dalam hal setiap orang tidak mampu melakukan sendiri,
Pengolahan Limbah B3 diserahkan kepada Pengolah Limbah B3.
Pengolahan Limbah B3 dilakukan dengan cara:
termal;
stabilisasi dan solidifikasi; dan/atau
cara lain sesuai perkembangan teknologi.

Pengolahan Limbah B3 dilakukan dengan mempertimbangkan:


ketersediaan teknologi; dan
baku mutu atau standar lingkungan.

Copyright from : @skary 2015 presentation


STANDAR PELAKSANAAN PENGOLAHAN
LIMBAH B3
Standar pelaksanaan Pengolahan Limbah B3 yang dilakukan dengan cara termal
meliputi standar:
emisi udara;
efisiensi pembakaran dengan nilai paling sedikit mencapai 99,99% (sembilan puluh sembilan
koma sembilan puluh sembilan per seratus); dan
efisiensi penghancuran dan penghilangan senyawa Principle Organic Hazardous Constituents
(POHCs) dengan nilai paling sedikit mencapai 99,99% (sembilan puluh sembilan koma
sembilan puluh sembilan per seratus).
Standar efisiensi pembakaran tidak berlaku untuk Pengolahan Limbah B3 dengan
menggunakan kiln pada industri semen.
Standar efisiensi penghancuran dan penghilangan senyawa Principle Organic
Hazardous Constituents tidak berlaku untuk Pengolahan Limbah B3 dengan
karakteristik infeksius.
Standar efisiensi penghancuran dan penghilangan senyawa POHCs tidak berlaku
untuk Pengolahan Limbah B3:
berupa Polychlorinated Biphenyls; dan
yang berpotensi menghasillkan:
Polychlorinated Dibenzofurans; dan 38
Polychlorinated Dibenzo-p-dioxins.
STANDAR PELAKSANAAN PENGOLAHAN
LIMBAH B3

STANDAR EFISIENSI
NO. LIMBAH B3 PENGHANCURAN DAN
PENGHILANGAN
1 Polychlorinated Biphenyls
(PCBs)
> 99,9999%
2 berpotensi menghasilkan
Polychlorinated Dibenzofurans
> 99,9999%
3 berpotensi menghasilkan
Polychlorinated Dibenzo-p-
> 99,9999%
39

dioxins
INSINERATOR
(PENGATURAN UNTUK LIMBAH MEDIS SAAT INI)

Efisiensi pembakaran > 99,95%;


Temperatur pada ruang bakar utama (primary chamber)
minimum 800oC (temperatur operasional);
Temperatur pada ruang bakar kedua (secondary chamber)
minimum 1000oC (temperatur operasional), dengan waktu tinggal
minimum 2 (dua) detik;
Memiliki alat pengendali pencemaran udara (misal: wet scrubber);
Ketinggian cerobong minimum 14 meter dari permukaan tanah;
dan
Memenuhi baku mutu emisi.
Pengolahan limbah sitotoksik (genotoksik) pada temperatur > 1200oC. 40
PENGOLAHAN LIMBAH B3 MENGGUNAKAN INSINERATOR

41
PENGOLAHAN LIMBAH B3 MENGGUNAKAN INSINERATOR

Ruang Bakar 2 Rotary Kiln Ruang Bakar 1

Water Scrubber 42
43
E-MANIFEST SERVER KLHK

DISAHKAN

44
PENGHASIL ALAT ANGKUT PENGELOLA
LIMBAH B3 LIMBAH B3 LIMBAH B3
SATELIT
SISTEM PENGAWASAN
PENGANGKUTAN LIMBAH B3
MELALUI GPS TRACKING

ALAT ANGKUT
LIMBAH B3
SERVER JASA
TRACKING
END USER

PROVIDER

END USER
45

KLHK
Pengumpulan: Pengumpulan: KALBAR Pengumpulan: Pengumpulan:
Pengumpulan:
8 15 Pengumpulan: 4 17
2
Pemanfaatan: Pemanfaatan: 1 Pemanfaatan: Pemanfaatan:
Pengolahan: 1
5 14 Pengangkutan: 1 1
Pengangkutan:
Pengangkutan: Pengolahan: 4 1 Pengangkutan: Pengolahan: 2
4
10 Pengangkutan: 4 Pengangkutan:
28 SULSEL
24
JAMBI JATIM SULUT Pengumpulan:
Pengumpulan: JATENG Pengumpulan: Pengumpulan: 3
1 Pengumpulan: 16 4 Pemanfaatan:
DISTRUBISI JASA 2 Pemanfaatan: Pengangkutan: 1
PENGELOLAAN Pemanfaatan: 40 1 Pengangkutan:
3 Pengolahan: 1 6
LIMBAH B3 YANG Pengangkutan: Pengangkutan:
6 79 SULTENG
RELATIF SEMAKIN SUMBAR Pengumpulan:
Pemanfaatan: 1
MERATA 1
[KHUSUSNYA DI Pengangkutan:
1
INDONESIA BAGIAN
BARAT] TELAH SUMSEL
Pengumpulan: BALI
MENURUNKAN BIAYA 3 Pengumpulan:
Pemanfaatan: 2
PENGELOLAAN 1 Pengangkutan:
LIMBAH B3 ~50%. Pengangkutan: 1
1
LAMPUNG JABAR
BANTEN JOGJA NTB
Pengumpulan: Pengumpulan:
PENURUNAN BIAYA Pengumpulan: DKI JAKARTA Pengumpulan: Pengumpulan:
2 28
14 Pengumpulan: 14 1 2
Pemanfaatan: Pemanfaatan:
ANTARA LAIN DARI 2
Pemanfaatan: Pemanfaatan: 6
62 Pemanfaatan: Pengangkutan:
25 Pengolahan: 6 2 1
BIAYA Pengangkutan: Pengolahan: 4 46
Pengolahan: 4 Pengangkutan:
3 Penimbunan: 1
TRANSPORTASI. Pengangkutan: 181
Pengangkutan:1
47
49
PETA SEBARAN JASA PENGELOLAAN LIMBAH B3 2011-2014
KOORDINASI DENGAN SEKTOR

1. Pengaturan penarikan kembali produk kedaluwarsa dan/atau kemasan


bekas B3 (misal: lampu TL, aki, kemasan B3, limbah elektronik, dll)
2. Pengembangan kawasan industri terpadu
3. Penyimpanan bahan tambang (low grade ore, tailing) untuk
penambangan kembali (re-mining)
4. Pemanfaatan Limbah B3 (misal: slag, fly ash, bottom ash, dll) untuk
material konstruksi atau road base untuk kegiatan ke-PU-an
5. dll.
7

PENIMBUNAN LIMBAH B3
1. Penimbunan Limbah B3 wajib dilaksanakan oleh Setiap Orang
yang menghasilkan Limbah B3.
2. Dalam hal setiap orang tidak mampu melakukan sendiri,
Penimbunan Limbah B3 diserahkan kepada Penimbun Limbah B3.
3. Penimbunan Limbah B3 dapat dilakukan pada fasilitas
Penimbunan Limbah B3 berupa:
a. penimbusan akhir (Landfill);
b. sumur injeksi;
c. penempatan kembali di area bekas tambang;
d. dam tailing; dan/atau
e. fasilitas Penimbunan Limbah B3 lain sesuai
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 48
FASILITAS PENIMBUSAN AKHIR
(LANDFILL)
Fasilitas Penimbunan Limbah B3 berupa penimbusan akhir terdiri
atas fasilitas penimbusan akhir:
A. kelas I;
B. kelas II; dan
C. kelas III.
Penentuan kelas berdasarkan uji total konsentrasi zat pencemar

49
PERSYARATAN LOKASI
PENIMBUNAN LIMBAH B3
a. Bebas Banjir;
b. Permeabilitas tanah;
c. Merupakan daerah yang secara geologis
aman, stabil, tidak rawan bencana, dan di
luar kawasan lindung; dan
d. Tidak merupakan daerah resapan air
tanah, terutama yang digunakan untuk
air minum.
PENENTUAN KARAKTERISTIK LIMBAH B3 &
FASILITAS PENIMBUNANNYA
a. Fasilitas Penimbusan Akhir (Landfill):
Kelas I, Kelas II, atau Kelas III Bahan Total Kadar Max Total Kadar Max
b. Mengacu pada Total Konsentrasi Zat Pencemar (mg/kg berat kering) (mg/kg berat kering)
Pencemar (Limbah B3) Lihat KEPKA- KOLOM A KOLOM B
BAPEDAL 04/1995
Ar 300 30
c. Jika Tingkat Kontaminasi Radioaktif
tidak memenuhi ketentuan PP 101 Cd 50 5
tahun 2014 Pasal 146 ayat (4)
Penimbusan Akhir Kelas II atau I .. dst
(Sumber Spesifik Khusus)

Catatan:
1)Jika kadar bahan pencemar > kolom A landfill
kelas I
2)Jika kadar bahan pencemar < kolom A, > kolom B
landfill kelas II
3)Jika kadar bahan pencemar < kolom B landfill
kelas III
PENAMPANG MELINTANG FASILITAS PENIMBUSAN AKHIR (Landfill)

Sumur pantau air Lapisan Sistem


Sistempengumpul
pengumpul Pengendali air
bawah tanah pelindung ganda air
airlindi
lindiganda
ganda larian

52
SISTEM PELAPISAN DASAR (LINER) PENIMBUSAN AKHIR
Penimbusan Akhir Kelas I Penimbusan Akhir Kelas II Penimbusan Akhir Kelas III

Lapisan Penutup Lapisan Penutup Lapisan Penutup

LIMBAH LIMBAH LIMBAH

Lapisan Pelindung 30 cm Lapisan Pelindung Lapisan Pelindung


Geomembran
Sistem Pengumpul Lindi Geomembran Sistem Pengumpul Lindi Sistem Pengumpul Lindi

Lapisan Tanah 30 cm Lapisan Tanah Lapisan Tanah


Penghalang Penghalang Penghalang

Sistem Deteksi Geomembran Sistem Deteksi Sistem Deteksi


Kebocoran Kebocoran Kebocoran

Lapisan Dasar 1m Lapisan Dasar Lapisan Dasar


53
Tanah Setempat Tanah Setempat Tanah Setempat
PROSES KONSTRUKSI FASILITAS PENIMBUSAN AKHIR (Landfill)

54
Penimbunan Residu Pengolahan:
Penimbusan Akhir Limbah B3

55

Lokasi : PPLi-B3 Cibinong, Bogor


PENIMBUSAN
AKHIR YANG
SUDAH DITUTUP
[Closure]

56

56
8

DUMPING LIMBAH B3
1. Setiap Orang untuk dapat melakukan Dumping Limbah B3 ke
media lingkungan hidup wajib memperoleh izin dari Menteri.
2. Limbah B3 yang dapat dilakukan dumping ke media lingkungan
hidup berupa laut meliputi:
a. tailing dari kegiatan pertambangan; dan
b. serbuk bor hasil pemboran usaha dan/atau kegiatan eksplorasi dan/atau
eksploitasi di laut menggunakan serbuk bor berbahan dasar sintetis
(synthetic based mud);
3. Limbah B3 yang akan dilakukan dumping wajib dilakukan
Netralisasi atau Pengurangan kadar racun sebelum dilakukan
dumping ke laut.
DUMPING LIMBAH B3 (TAILING)
1. Lokasi tempat dilakukan Dumping Limbah B3 harus memenuhi
persyaratan yang meliputi:
a. di dasar laut pada laut yang memiliki lapisan termoklin permanen; dan
b. tidak berada di lokasi tertentu atau daerah sensitif berdasarkan Peraturan
Perundang-Undangan.
2. Dalam hal tidak terdapat laut yang memiliki lapisan termoklin permanen,
lokasi tempat dilakukan Dumping Limbah B3 berupa tailing dari kegiatan
pertambangan harus memenuhi persyaratan lokasi yang meliputi:
a. di dasar laut dengan kedalaman lebih besar atau sama dengan 100 m (seratus
meter);
b. secara topografi dan batimetri menunjukkan adanya ngarai dan/atau saluran di
dasar laut yang mengarahkan tailing ke kedalaman lebih dari atau sama dengan
200 m (dua ratus meter); dan
c. tidak ada fenomena up-welling.
58
KEDALAMAN TITIK PEMBUANGAN (DUMPING)
TAILING

PERPIPAAN TAILING
PERMUKAAN LAUT
PABRIK PENGOLAHAN BIJIH
> 100 m

titik pembuangan mengarah ke 200 m


Limbah B3 (outfall)

59
9

PENETAPAN LIMBAH B3

PENETAPAN LIMBAH B3 :
Limbah limbah yang belum terdapat didalam daftar
limbah Lampiran I PP 101/2014 yang terindikasi
memiliki karakteristik limbah B3 dan akan
ditetapkan sebagai limbah B3
PROSEDUR PENETAPAN LIMBAH B3
Penentuan limbah yang terindikasi memiliki karakteristik limbah B3
Verifikasi lapangan dan pengambilan sample limbah
Uji karakteristik untuk identifikasi limbah B3
Menteri menugaskan Tim Ahli limbah B3 untuk melakukan evaluasi terhadap
uji karakteristik
Evaluasi oleh Tim Ahli Limbah B3
Rekomendasi dari Tim Ahli Limbah B3 terhadap hasil evaluasi kepada Menteri
Bila Tim Ahli merekomendasikan penetapan sebagai limbah B3, maka Menteri
melakukan rapat koordinasi dengan kementerian atau lembaga pemerintah
non kementerian untuk membahas rekomendasi Tim Ahli Limbah B3
Berdasarkan hasil rapat koordinasi, Menteri menetapkan limbah sebagai :
limbah B3 kategori 1 atau kategori 2.
TATA CARA UJI KARAKTERISTIK UNTUK PENETAPAN LIMBAH B3
(DILUAR LAMPIRAN I PP 101/2014) OLEH PEMERINTAH

LIMBAH B3
KATEGORI 1
Lamp III
YA TIDAK > TCLP Nilai LD50 < 50
kolom A mg/kg BB hewan
Apakah limbah uji
Nilai LD50 >
eksplosif, mudah TCLP (toxicity < TCLP 5000 mg/kg BB
menyala, reaktif, characteristic kolom B LD50 (lethal hewan uji Beracun sub- Limbah
LIMBAH
infeksius, dan/atau leaching dose-50) kronis? nonB3
korosif? procedure)
Nilai LD50 > 50
< TCLP kolom mg/kg dan <
A dan > TCLP 5000 mg/kg BB
YA TIDAK
kolom B hewan uji

LIMBAH B3
KATEGORI 2 lampiran II PP
101/2014

62
10

PENGECUALIAN LIMBAH B3

PENGECUALIAN LIMBAH B3 :
Limbah limbah yang tercantum didalam daftar
limbah Lampiran I PP 101/2014 Tabel 3 dan 4,
tetapi akan dikecualikan sebagai limbah Non B3
PROSEDUR PENGECUALIAN LIMBAH B3 . (1)
Permohonan untuk mengajukan pengecualian limbah B3 kepada menteri dengan
mengajukan Proposal
Limbah B3 yang dapat diajukan permohonan pengecualian dari Pengelolaan Limbah
B3 harus:
1. Tercantum dalam lampiran I Tabel 3 dan Tabel 4 PP 101/2014;
2. Berasal dari proses produksi yang digunakan bersifat tetap dan konsisten;

3. menggunakan bahan baku dan/atau bahan penolong yang bersifat tetap dan
konsisten; dan
4. limbah B3 yang dihasilkan bersifat tetap dan konsisten.

Pembahasan dengan Tim Ahli Limbah B3


Verifikasi Lapangan dan pengambilan Sample
PROSEDUR PENGECUALIAN LIMBAH B3 . (2)
Melakukan Uji Karakteristik :
a. Karakteristik uji mudah meledak, mudah menyala, reaktif, infeksius dan/atau korosif
sesuai lampiran II PP 101/2014.
b. Karakteristik beracun melalui TCLP sesuai lampiran III PP 101/2014 lebih besar dari kolom
TCLP-A.
c. Karakteristik beracun melalui uji Toksikologi LD50, dengan hasil uji < 50 mg/kg BB.
d. Karakteristik beracun melalui uji Toksikologi LD50, dengan hasil uji < 50 mg/kg BB.
e. Karakteristik beracun melalui uji toksikologi Sub-kronis sesuai lampiran II PP 101/2014.
Penyampaian hasil Uji kerakteristik kepada Menteri dilengkapi dengan permohonan
pengecualian limbah B3 yang dihasilkannya kepada Menteri.
Menteri menugaskan Tim Ahli Limbah B3 untuk melakukan evaluasi.
Tim Ahli menyampaikan rekomendasi hasil evaluasi.
Menteri berdasarkan rekomendasi tim ahli menetapkan :
a. Pengecualian dari pengelolaan limbah B3 terhadap limbah B3 sumber spesifik.
b. Limbah B3 dari sumber spesifik tidak dikecualikan dari pengelolaan limbah B3.
TATA CARA UJI KARAKTERISTIK UNTUK
PENGECUALIAN LIMBAH B3 OLEH PEMOHON

LIMBAH B3
KATEGORI 1
Lamp III
YA TIDAK > TCLP kolom A Nilai LD50 < 50 mg/kg
BB hewan uji
Apakah limbah Nilai LD50 >
eksplosif, mudah TCLP (toxicity < TCLP 5000 mg/kg BB
LIMBAH menyala, reaktif, characteristic kolom B LD50 (lethal hewan uji Beracun sub- Limbah
B3 infeksius, dan/atau leaching procedure) dose-50) kronis? nonB3
korosif?
Nilai LD50 > 50
< TCLP kolom mg/kg dan < 5000
A dan > TCLP mg/kg BB hewan YA TIDAK
uji
kolom B

LIMBAH B3
KATEGORI 2 lampiran II PP
101/2014

66
KLARIFIKASI LIMBAH
a. Permohonan klarifikasi limbah kepada Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah,
Limbah dan B3
b. Presentasi oleh pihak pemohon
c. Verifikasi lapangan oleh Tim KLHK untuk identifikasi limbah
d. Pencocokan Limbah dengan Kodefikasi Limbah yang tercantum pada Lampiran I
PP 101/2014, berdasarkan:
- MSDS yang dimiliki karakteristik limbah
- Nomor CAS yang dimiliki
- Sumber limbah yang dihasilkan berdasarkan proses produksi
e. Surat Tanggapan klarifikasi limbah diterbitkan oleh Dirjen c.q. Direktur Verifikasi
Pengelolaan Limbah B3 dan Limbah Non B3:
Pernyataan bahwa limbah yang dimohonkan untuk diklarifikasi adalah limbah
B3 dengan kodefikasi sesuai PP 101/2014 Lampiran I
Pernyataan bahwa limbah yang dimohonkan untuk diklarifikasi adalah limbah
non B3
CONTOH KLARIFIKASI PENETAPAN LIMBAH
1. Q : Skrap Logam terkontaminasi Oli apakah limbah non B3?
A : Tidak, Skrap Logam terkontaminasi oli adalah limbah B3 sebagaimana tercantum pada
Lampiran I, Tabel 1 PP 101/2014 dengan kode limbah A108d dan menunjukkan karakteristik
mudah meledak sebagaimana Lampiran II PP 101/2014

2. Q: Serpihan sisa sabun yang tercecer dari proses finishing apakah limbah non B3?
A : Ya, limbah tersebut adalah limbah Non B3, sumber limbah tidak tercantum dalam Lampiran I PP
101/2014 dan tidak menunjukan karakteristik sebagaimana Lampiran II PP 101/2014

3. Q: Limbah Pyrolle dari kegiatan polimerisasi komponen elektronik apakah limbah non B3
A: Tidak, limbah Pyrolle adalah limbah B3 sebagimana tercantum pada Lampiran I, Tabel I PP
101/2014 dengan kode limbah B106d dan menunjukkan karakteristik beracun sebagaimana
Lampiran II PP 101/2014
PENGELOLAAN LIMBAH NON B3 HASIL PENETAPAN
1) Tetap dikelola dan dipantau jenis dan jumlah limbah yang dihasilkan
2) Limbah Non B3 yang dihasilkan tetap disimpan di Tempat Penyimpanan tersendiri
sehingga tidak mencemari lingkungan
3) Tetap tercatat didalam log book limbah bilamana akan dilakukan 3R oleh penghasil
sendiri dan/atau diserahkan kepada pihak ketiga
4) Limbah Non B3 dapat dikelola mengikuti teknologi pengelolaan limbah B3
5) Tidak memerlukan mekanisme perizinan, namun apabila dikemudian hari terdapat
penetapan menjadi limbah B3 maka tetap harus dikelola sebagaimana ketentuan
pengelolaan limbah B3
6) Limbah lainnya/limbah Non B3 tetap dilarang untuk diimpor masuk ke wilayah NKRI
bilamana belum diatur oleh peraturan PUU lainnya
7) Limbah Non B3 dilarang untuk dibuang ke media lingkungan hidup
8) Bilamana akan mengekspor limbah Non B3 dan memerlukan notifikasi ke negara tujuan
tetap dapat mengajukan notifikasi ekspor
11

NOTIFIKASI EKSPOR LIMBAH B3

Implementasi Konvensi
Basel di Indonesia
Sekilas Konvensi Basel
Mengatur perpindahan limbah B3 dan limbah-limbah lainnya lintas batas negara
Diadopsi pada tanggal 22 Maret 1989, entry into force 5 Mei 1992
Ditandatangani Indonesia tahun 1989 dan diratifikasi (aksesi) tahun 1993 dengan
Keppres No. 61/1993
Total negara yang meratifikasi Konvensi Basel sampai dengan Agustus 2015 sejumlah
183 negara

Competent Authority:
Instansi pemerintah yang ditetapan oleh negara pihak yang bertanggungjawab untuk
menerima, menginformasikan dan menanggapi notifikasi suatu perpindahan limbah B3
batas negara.
(Indonesia: KLH, Deputi IV) KLHK, Ditjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3
Focal Point Konvensi:
Person/orang yang bertanggungjawab penuh untuk penyampaian informasi dan
mengkomunikasikan dengan Sekretariat.
(Indonesia: KLH, Deputi IV) KLHK, Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3
Definisi Limbah dalam Konvensi Basel
Artikel 1: Limbah B3 adalah (a) limbah yang masuk di Annex I Konvensi Basel
yang mempunyai karakteristik sebagaimana tercantum pada Annex III; (b)
diatur oleh peraturan nasional negaranya sebagai limbah B3
Artikel 2: Limbah adalah bahan atau objek yang dibuang atau direncanakan
akan dibuang atau diperuntukan untuk dibuang menurut ketentuan nasional

Kategori Limbah yang diatur dalam Konvensi :


Limbah-limbah yang masuk daftar sebagaimana yang terdapat
pada Annex I, II, VIII dan IX
Limbah-limbah yang memiliki karakteristik limbah B3
sebagaimana yang terdapat pada Annex III
Limbah-limbah yang berdasarkan peraturan nasional negara
pihak merupakan limbah B3
PERSYARATAN ADMINISTRASI DOKUMEN PERMOHONAN
NOTIFIKASI EKSPOR LIMBAH B3

1) Formulir Aplikasi (yang dikeluarkan oleh KLH) yang berisi tentang data eksportir, sumber penghasil limbah B3, negara tujuan,
data importir berikut rencana pengolahan limbah, negara transit bila dilalui, deskripsi limbah B3 yang akan diekspor, rencana
ekspor (jumlah limbah dan jadwal pengiriman), nama pelabuhan untuk pengiriman barang, nama kapal, dan nama transporter
2) Formulir Notifikasi (sesuai lampiran V Konvensi Basel) memuat detail sebagaimana formulir Aplikasi hanya dengan format
berbeda serta tandatangan otoritas dari negara ekportir (Indonesia)
3) Formulir Transboundary Movement (sesuai lampiran pada Konvensi Basel) selain penjelasan tentang limbah B3, keterangan
pelaku ekspor-impor juga memuat tandatangan dari otoritas negara eksportir dan otoritas negara importir sebagai bukti
limbah B3 yang dikirim sudah diterima di negara tujuan
4) Hasil analisa laboratorium untuk mengetahui kandungan bahan kimia dalam limbah B3 yang akan diekspor
5) Informasi data dan karakteristik limbah B3
6) Surat Asuransi untuk menjelaskan tanggung jawab terhadap kemungkinan potensi pencemaran yang terjadi dalam kegiatan
perpindahan limbah termasuk jika limbah B3 tersebut harus direekspor
7) Surat Persetujuan dari penghasil limbah yang memuat tentang (jenis limbah, jumlah limbah, nama pemilik, nama eksportir
yang ditunjuk, kesedian untuk menyerahkan limbah)
8) Surat keterangan kerjasama dengan importir negara tujuan ekspor (jenis limbah, jumlah limbah, nama pemilik, nama
eksportir yang ditunjuk, kesedian untuk menerima limbah)
9) Dokumen lainnya: SIUP, NPWP, Akta Pendirian Perusahaan, Kesesuaian Nomor HS
KEMENTRIAN LINGKUNGAN HIDUP (KLH)
MINISTRY OF ENVIRONMENT

Permit application for Export of Hazardous Waste


Note : Please use separate sheets(s) where the space provided in the form is not sufficient
Permit Applicant (Notifier)
Name of Company : _____________________________________________________________
Correspondence Address : _____________________________________________________________

Telp. No : ____ ______________________________________________________


Contact Person (Full Name) : _____ ________________________________________________________
Telp No : _____________________________________________________________
Fax : _____________________________________________________________
I.D. Card No : _______________________________________________ _____________
Permit Application/Notification For :
i) { } Export of Waste to : _________________________________________________________
{ } Import Waste From : ________________ __ ___________________________ ___________
ii) { } Single Shipment
{ } Multiple Shipments period (max. 1 year) from __________ to _________
1. EXPORTER
Company Name : _____ ________________ ______________________ ________________
Address : _____________________ _________________ ________________
Telp.No : _______________________________________________________________
Fax No. : _______________________________________________ ________________
Contact Person (Full Name) : _____________________ ______________________________________
Reason (s) for Transboundary movement of waste :
{ } The state of export does not have the technical capacity and necessary facilities, capacity or suitable disposal sites in order to dispose
of the waste in question in an environmentally sound and efficient manner.
{ } The waste in question is required as a raw material for reuse or for a Reprocessing, recycling or recovery operation in the state of import
{ } The Transboundary movement in question is in accordance with other criteria
to be decided by the Parties, provided those criteria do not differ from Objectives of Basel convention.
{.} Others________________________________________________________________________ ______
KEGIATAN LOADING EKSPOR LIMBAH B3

Foto by RBS
12

REKOMENDASI IMPOR LIMBAH NON B3


LARANGAN DALAM PENGELOLAAN B3 DAN LIMBAH B3
UU No. 32/2009, Pasal 69, Ayat 1
Setiap orang dilarang :

butir b. Memasukkan B3 yang dilarang menurut per-UU ke dalam


wilayah NKRI.
butir c. Memasukkan limbah yang berasal dari luar wilayah NKRI
ke media lingkungan hidup NKRI
(Pasal penjelasan : kecuali bagi yg diatur dalam
peraturan per-uu lainnya)
butir d. Memasukkan limbah B3 ke dalam wilayah NKRI.
butir e. Membuang limbah ke media lingkungan hidup.
butir f. Membuang B3 dan limbah B3 ke media lingkungan
hidup.
PERTIMBANGAN MENGIMPOR LIMBAH NON B3
1) Industri dalam negeri masih menggunakan limbah non B3 sebagai bahan
baku dan/atau bahan penolong untuk kebutuhan proses produksinya
2) Ketersediaan limbah non B3 sebagai bahan baku dan/atau bahan
penolong yang diperlukan untuk kebutuhan proses produksi industri
tertentu tidak dapat diperoleh sepenuhnya dari sumber di dalam negeri,
sehingga perlu dilakukan pengadaan tambahan dari sumber di luar
negeri
3) Daftar Limbah Non B3 yang mendapat rekomendasi KLH dari tahun 2009
sampai saat ini : Kapas, Kaca, Kertas, Karet (Latex), Plastik, Scrap Logam
dengan syarat bersih, tidak terkontaminasi limbah B3 dan bukan
merupakan sampah (tersortir)
20151023
REKOMENDASI IMPOR LIMBAH NON B3
Dasar Hukum

Sample footer
UU No. 32/2009
Pemendag
UU No. 18/2008
No. 39/2009
tentang
PP No.18/1999 tentang Pengelolaan
tentang Pengelolaan Impor Limbah Sampah
Limbah B3 Non B3

79
Definisi Limbah Non B3
Sisa atau usaha dan/atau kegiatan berupa sisa, skrap atau reja yang tidak
termasuk dalam klasifikasi/kategori limbah B3.

Sisa : produk yang belum habis terpakai dalam proses produksi atau barang,
yang masih mempunyai karakteristik yang sama namun fungsinya telah
berubah dari barang aslinya
Skrap : barang yang terdiri dari komponen-komponen yang sejenis atau tidak,
yang terurai dari aslinya dan fungsinya tidak sama dengan barang aslinya
Reja : barang dalam bentuk terpotong-potong dan masih bersifat sama
dengan barang aslinya namun fungsinya tidak sama dengan barang aslinya
KETENTUAN IMPOR LIMBAH NON B3
PERMENDAG NO. 39 / 2009 TENTANG KETENTUAN IMPOR LIMBAH NON B3

1. Pasal 2, ayat 1 : Limbah Non B3 yang dapat diimpor hanya berupa sisa,
skrap atau reja yang digunakan untuk bahan baku dan/atau bahan
penolong industri.

2. Pasal 4, ayat 1 : Permohonan untuk mendapatkan Pengakuan sebagai IPL


Non B3 harus diajukan dengan melampirkan (g). Rekomendasi Deputi
Bidang Pengelolaan B3 dan Limbah B3, KLH.

3. Pasal 4 ayat (1) poin g : Kewenangan KLH dalam penerbitan


Rekomendasi Impor Limbah Non B3
KELENGKAPAN DOKUMEN PENGAJUAN REKOMENDASI IMPOR
LIMBAH NON B3 (IPL NON B3) BARU

1. Surat permohonan rekomendasi Importir Produsen Limbah Non B3


2. Dokumen lingkungan (UKL/UPL atau AMDAL)
3. Fotokopi izin usaha industri/ Tanda Daftar Industri
4. Fotokopi Tanda Daftar Perusahaan (TDP)
5. Fotokopi Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)
6. Angka Pengenal Importir Produsen (API-P) atau Angka Pengenal Importir
Terbatas (API-T)
7. Fotokopi Nomor Identitas Kepabeanan NIK
8. Diagram Alir Proses Produksi
Kelengkapan Dokumen Pengajuan Rekomendasi
Impor Limbah Non B3 (IPL Non B3) Perpanjangan
1. Surat permohonan perpanjangan impor limbah non B3
2. Surat rekomendasi yang sudah diberikan oleh KLH (Tahun sebelumnya)
3. Data perbaikan teknis sesuai Berita Acara terdahulu (jika ada perbaikan)
4. Surat Pengakuan sebagai IP Limbah Non B3 dari Kementerian Perdagangan
5. Data realisasi impor limbah non B3 selama 1 tahun
6. Laporan UKL/UPL atau AMDAL yang dilengkapi dengan data monitoring kualitas lingkungan
(udara ambien, emisi udara, limbah cair, limbah B3)
7. Ijin Tempat Penyimpanan Sementara (TPS LB3) dari Pemda setempat jika dalam proses
produksi menghasilkan limbah B3
8. Angka Pengenal Importir (API) terbaru jika ada perubahan

Perpanjangan pengakuan sebagai importir produsen limbah non B3 dapat dilakukan


sebelum berakhirnya masa berlaku IP Limbah Non B3 dan Perusahaan dapat mengajukan
kembali rekomendasi ke KLH untuk perpanjangan sebagai IP Limbah Non B3 2 bulan
sebelum habis masa berlakunya
DISAMPAIKAN OLEH :

RADEN BUDI SETIADI


KEPALA SEKSI PENETAPAN LIMBAH B3 DAN LIMBAH NON B3

DIREKTORAT VERIFIKASI PENGELOLAAN LIMBAH B3 DAN LIMBAH NON B3


KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

TELP. 082 125 300 390


E-MAIL : R_BUDI_SETIADI@YAHOO.COM

Semoga Bermanfaat
TERIMA KASIH