Anda di halaman 1dari 37

Acidizing

TUJUAN

Memahami tujuan dilakukan pengasaman

Mengenali permasalahan yang ditimbulkan akibat kerusakan formasi

Mengenali jenis-jenis operasi pengasaman


Acid washing

Matrix aciding

Acid fracturing

Mengenali metoda evaluasi keberhasilan operasi pengasaman

Memahami pertimbangan-pertimabangan dalam melakukan operasi pengsaman

Mengenali zat-zat aditive yang digunakan pada operasi pengasaman



Corrosion inhibitor

Surfactant

Mutual solvent

Diverting agent

Sequestering Agent

Memahami faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi pengasaman

Memahami proses perencanaan stimulasi pengasaman


Pengasaman pada batuan batu pasir

Pengasaman pada batuan karbonat

WSER-005 Acidizing 1
1. Tujuan Pengasaman
Tujuan utama pengasaman adalah memperbaiki produktivitas sumur. Asam dapat
digunakan untuk tujuan ini karena sifatnya yang dapat melarutkan partikelpartikel formasi
dan material-material asing yang dapat masuk ke dalam formasi selama proses pemboran,
komplesi sumur dan proses produksi.
Keefektifan asam dalam memperbaiki produktivitas sumur akan tergantung pada
ketelitian analisa dari masalah ini, yang meliputi pemilihan asam yang sesuai teknik dan
pelaksanaan yang baik di lapangan.
Secara garis besar, pengasaman dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori,
tergantung pada tipe masalah yang akan diperbaiki, yaitu matrix acidizing dan
acid fracturing.
Pada matrix acidizing, volume asam yang relatif kecil digunakan untuk memperbaiki
suatu zona yang rusak atau yang permeabilitasnya berkurang di sekitar lubang sumur.
Volume asam yang diinjeksikan kecil pengaruhnya, hanya beberapa feet dari lubang bor.
Pada acid fracturing, volume asam yang diinjeksikan relatif besar. Asam tersebut
selalu diinjeksikan dengan laju dan tekanan yang tinggi yang akan menyebabkan terjadinya
rekahan. Selain itu dapat terjadi juga pada pori-pori batuan kecil secara alami.

2 WSER-005 Acidizing
2. Dasar-Dasar Pengasaman
Dasar-dasar pengasaman yang akan diuraikan dalam tulisan ini, adalah bagaimana
sampai terjadi kerusakan formasi, macam-macam pengasaman dan pengasaman yang akan
digunakan serta seberapa jauh keberhasilan pengasaman tersebut dalam mengurangi
penurunan produktivitas sumur.

2.1. Kerusakan Formasi


Karena tujuan pengasaman lubang sumur adalah memperbaiki kerusakan formasi,
maka terlebih dahulu harus mengetahui derajat kerusakan formasi yang terjadi secara
alamiah.
Kerusakan formasi menunjukkan daerah sekitar lubang sumur yang mengalami
penurunan permeabilitas. Penyebaran kerusakan formasi biasanya hanya beberapa inchi
dari lubang sumur, tetapi kadang-kadang dapat pula menyebar jauh sampai beberapa feet.
Jangkauan daerah kerusakan ini merupakan salah satu faktor penting dalam memilih asam
dan teknik pengasamannya.
Kerusakan formasi akan menurunkan produksi atau injeksi yang besarnya
penurunan tergantung pada derajat kerusakannya. Penyebab utama kerusakan formasi
adalah adanya kontak antara formasi dengan fluida kerja ulang, fluida stimulasi atau fluida
reservoir.
Material yang dapat menyebabkan kerusakan formasi adalah padatan dan cairan.
a. Kerusakan Formasi Akibat Padatan
Padatan yang terbawa oleh cairan (lumpur pemboran) dapat menyumbat pori-pori
di permukaan pasir di daerah sekitar lubang sumur atau pun dapat menyumbat
perforasi. Padatan yang terbawa cairan tersebut berasal dari :
bahan pemberat lumpur
clay
bahan pengatur viskositas lumpur
bahan pencegah lost circulation
bahan padat yang berasal dari pengendapan reaksi kimia
b. Kerusakan formasi Akibat Cairan Filtrat
Cairan filtrat dari lumpur pemboran dapat masuk ke dalam formasi sebagai akibat
adanya perbedaan tekanan yang cukup besar antara lubang sumur dengan formasi.
Cairan ini dapat merusak formasi dengan mekanisme sebagai berikut :
Jika filtrat berupa air, masuknya filtrat ke dalam formasi akan mendorong
hidrokarbon menjauhi lubang sumur
Filtrat air dapat menyebabkan terjadinya pengembangan clay (clay
swelling).
Filtrat air dapat menimbulkan emulsi yang kental apabila bercampur dengan minyak
di reservoir, demikian pula filtrat minyak (dari oil base mud) jika bercampur dengan
air formasi dapat menimbulkan emulsi yang kental.
Filtrat dapat mengakibatkan perubahan sifat batuan di sekitar lubang sumur dari
water-wet menjadi oil wet.
Berdasarkan hal tersebut di atas, kerusakan formasi sebagai akibat padatan dan
cairan, jenis kerusakan yang terjadi dapat di klasifikasikan sebagai berikut :

WSER-005 Acidizing 3
kerusakan formasi akibat penurunan permeabilitas absolut.
kerusakan formasi akibat penurunan permeabilitas relatif minyak.

2.2. Penentuan Sumber dan Derajat Kerusakan Formasi


Untuk mengetahui keberhasilan pelaksanaan operasi pengasaman, pertama-
tama harus ditentukan sumber dan derajat kerusakan formasi.
Jika sumur tersebut relatif baru, kerusakan dapat terjadi sebagai akibat lumpur
pemboran atau pada tahap komplesinya. Untuk sumur yang relatif tua, kerusakan
merupakan suatu masalah produksi. Untuk menyelesaikan masalah kerusakan formasi
pada sumur tersebut harus dianalisa tentang prosedur pemboran dan komplesi dan
indikasi kinerja sumur tersebut.

2.3. Sumber Kerusakan Formasi


Filtrat lumpur pemboran merupakan salah satu sumber kerusakan yang paling
utama dan tidak mudah untuk mengetahui masalah fluid loss selama pemboran. Hal ini
memperlihatkan bahwa filtrat lumpur pemboran dengan pH lebih besar dari 11 dapat
merusak formasi yang mengandung clay.
Kedalaman invasi filtrat lumpur dapat diperkirakan dengan teknik logging open
hole atau dengan perkiraan fluid loss selama pemboran. Filtrat juga dapat menyebabkan
kerusakan formasi.
Selama tahap komplesi sumur, kerusakan dapat disebabkan oleh perforasi atau
hilangnya fluida komplesi yang sebelumnya tidak disaring dengan baik. Zona yang rusak
di sekitar perforasi dapat menurunkan produktivitas sumur. Derajat kerusakan
tergantung pada jumlah padatan yang tersuspensi di dalam fluida komplesi dan pada
besarnya tekanan underbalance atau overbalance. Sumur-sumur yang diperforasi
dengan teknik overbalance biasanya memerlukan stimulasi dahulu sebelum
diproduksikan. Sumur yang dilengkapi dengan teknik overbalance dapat mempunyai
faktor skin lebih besar dari 5. Walaupun fluida komplesi telah memiliki filter yang
mencukupi, tetapi jika lubang sumur tidak bersih dari lumpur pemboran, kerusakan
formasi masih dapat terjadi.
Filtrat lumpur akan mengkontaminasi fluida komplesi dengan padatan. Jika hal
ini terjadi, harus diketahui jenis padatannya sehingga dapat memilih asam yang sesuai.
Padatan yang paling mungkin dalam hal ini adalah bentonite yang mudah larut
dalam asam, sedangkan barite hanya digunakan untuk mengontrol tekanan sumur
karena tidak larut baik dalam HF maupun HCl. Operasi pemboran dapat menyebabkan
kerusakan formasi, misalnya casing yang bocor dapat mengalirkan air asin atau
padatan lumpur pada formasi sehingga dapat menyebabkan timbulnya scale.
Fluida kerja ulang yang tidak sesuai dengan formasi dapat menyebabkan
pengembangan clay. Sedangkan fluida-fluida reservoir dapat menghancurkan padatan
di luar suatu selang waktu, yang akan mengurangi produktivitas sumur. Suatu sumur
yang sedang berproduksi dapat pula merupakan sumber kerusakan selama masa
produksinya.

2.4. Metoda-metoda untuk Menentukan Derajat Kerusakan Formasi


Ada beberapa metoda yang dapat menentukan sumur yang telah rusak, antara
lain kurva penurunan produksi (decline curve) sering menunjukkan sumur yang menurun

4 WSER-005 Acidizing
secara alamiah. Jika penurunannya lebih dari biasanya merupakan hal yang istimewa,
karena hal ini dapat menunjukkan adanya kerusakan.
Indikasi yang dapat dipercaya adalah penurunan produksi sumur secara tiba-
tiba. Sedangkan penurunan dapat juga sedikit demi sedikit.
Metoda lain yang dapat mengevaluasi derajat kerusakan formasi yaitu dengan
pressure transient testing. Pressure transient testing adalah uji sumur yang melibatkan
bagaimana mendapatkan dan mengukur variasi tekanan terhadap waktu pada suatu
sumur tertentu.
Pressure transient testing terdiri dari pressure build up test, drawdown test,
injection test, falloff test atau uji interferensi lainnya. Dari analisa ini diperoleh informasi
produksi sumur dan karakteristik reservoir, termasuk diagnosa kerusakan lubang sumur.
Analisa tekanan transient menyebabkan sumur ditutup untuk selang waktu
tertentu, maka terlebih dahulu harus diidentifikasi masalah tersebut dengan seksama.
Metoda lainnya untuk menentukan kerusakan formasi, yaitu dengan
menggunakan persamaan Darcy untuk aliran radial dengan memperkirakan
produktivitas suatu sumur. Data sumur harus akurat untuk memperkirakan permeabilitas
formasi berdasarkan pada kondisi produksi. Informasi ini dapat membandingkan sejarah
produksi awal dan akan memberikan suatu indikasi jika reservoir tersebut rusak.

2.5. Tingkat Keberhasilan Stimulasi Yang Dicapai


Tingkat keberhasilan stimulasi yang dicapai dalam meningkatkan deliverability
sumur diketahui dengan evaluasi hasil pengasaman. Ukuran yang digunakan dalam
menilai tingkat keberhasilan yang dicapai oleh sumursumur yang di stimulasikan adalah:
kenaikan laju produksi
kenaikan produktivitas sumur (produktivitas rasio)
penurunan harga skin
Selain dua hal tersebut untuk pengasaman matriks dapat diketahui dari
kenampakan Scanning Electron Microscopic (SEM) seperti ditunjukkan dalam Gambar 1,
terlihat bahwa kaolinite tersebar luas di dalam pori-pori batuan, tetapi setelah injeksi
asam (Gambar 2) sebagian besar kaolinite tersebut larut sehingga kemampuan batuan
untuk mengalirkan fluida bertambah.
Di samping itu keberhasilan suatu pengasaman dapat dilihat dari seberapa jauh
jarak penembusan asam, yang tergantung dari kecepatan laju reaksi, laju injeksi dan
perbandingan dari luas penetrasi terhadap volume reservoir.

WSER-005 Acidizing 5
Gambar 1 Kaolinite Tersebar Luas di Dalam Pori-pori

Gambar 2 Kaolinite Larut setelah Injeksi Asam

6 WSER-005 Acidizing
3. Jenis-Jenis Pengasaman
Secara umum stimulasi pengasaman dikategorikan ke dalam 3 (tiga) kelompok:
a.pencucian dengan asam (acid washing)
b. pengasaman perekahan (fracture acidicing)
c. pengasaman matriks (matrix acidizing)
Pencucian dengan asam (acid washing) adalah suatu operasi yang didisain untuk
mengurangi dan menghilangkan scale yang dapat dilarutkan oleh asam, yang terdapat
dilubang bor atau untuk membuka lubang perforasi yang tersumbat oleh scale. Suatu asam
dalam volume dan konsentrasi tertentu diinjeksikan ke interval- interval tertentu di lubang
bor, sehingga akan bereaksi dengan endapan scale. Dengan demikian dapat dihilangkan
hambatan aliran pada tubing atau perforasi.
Pengasaman matriks (matrix acidizing) dilakukan untuk menghilangkan kerusakan
formasi (skin damage) yang disebabkan oleh fluida pemboran, komplesi dan kerja ulang
(workover) serta menghilangkan endapan (plaque) di sekitar lubang bor. Asam diinjeksikan
di bawah tekanan rekah formasi, maka dapat diharapkan perbaikan atau pertambahan
produktivitas sumur.
Sementara itu pada pengasaman perekahan (acid fracturing), asam diinjeksikan ke
formasi dengan tekanan dan laju injeksi di atas tekanan rekah formasi.
Pengasaman perekahan ini adalah suatu alternatif dari perekahan hidroulik pada
reservoir karbonat. Reservoir direkah secara hidraulik, kemudian beberapa mineral di
permukaan rekahan dilarutkan oleh asam, sehingga akan memberikan saluran air linier ke
lubang bor. Konduktivitas rekahan yang tinggi dapat dicapai setelah dilakukan pengasaman
ini, apabila permukaan rekahan tidak tergores semua (yaitu mineral yang tidak dapat
dilarutkan oleh asam), sehingga tidak menutup rekahan apabila tekanan dihilangkan.
Pengasaman perekahan ini tidak dapat diaplikasikan pada sumur-sumur batu pasir
(sand stone), terutama apabila zona minyak berdekatan dengan zona air atau gas. Perekahan
pada sandstone akan dapat membuka saluran aliran fluida secara vertikal ke zona air atau
gas yang tidak diharapkan tersebut. Juga akan dapat membuka saluran antara semen dan
formasi meskipun tekanan rekah formasi belum tercapai, seperti terlihat pada gambar 3.

Gambar 3 Efek Dari Perekahan Formasi Batupasir10)

WSER-005 Acidizing 7
4. Pertimbangan Dilakukannya Pengasaman
Rendahnya atau menurunnya produksi suatu sumur secara drastis dapat ditimbulkan
oleh bermacam-macam masalah. Permasalahannya antara lain berupa kesalahan pada alat-
alat produksi, energi pendorong yang tidak cukup, cadangan yang telah menurun ataupun
rendahnya permeabilitas. Dalam hal rendahnya permeabilitas pada batupasir dapat
dilakukan pengasaman sebagai suatu cara stimulasi sumur.
Tetapi sebelum dilakukan pengasaman, perlu dievaluasi terlebih dahulu penyebab
rendahnya permeabilitas tersebut. Rendahnya permeabilitas dapat disebabkan oleh
rendahnya permeabilitas secara alamiah, dan dapat juga disebabkan oleh terjadinya
kerusakan formasi.
Kerusakan formasi dapat terjadi pada setiap sumur, mulai dari yang ringan sampai
yang berat sehingga sumur tidak dapat berproduksi lagi. Terjadinya kontak antara fluida
formasi dengan fluida asing yang masuk ke formasi adalah penyebab utama terjadinya
kerusakan formasi. "Fluida asing" itu dapat berasal dari lumpur pemboran, fluida komplesi
atau workover, fluida stimulasi, juga fluida reservoir yang mengalami perubahan
karakteristiknya. Umumnya fluida di lapangan minyak terdiri dari dua fasa : liquid dan solid
(padatan). Salah satu atau keduanya dapat menyebabkan terjadinya kerusakan formasi yang
hebat.

4.1. Kerusakan Permeabilitas karena Padatan


Penyumbatan padatan ini dapat terjadi pada permukaan formasi, pada perforasi
atau dalamm formasi itu sendiri. Padatan ini dapat berupa material padat, clay,
penambah viskositas, zat pencegah kehilangan fluida (fluid control), lumpur pemboran,
partikel semen, scale, parafin, atau garamgaram yang tidak larut.
Butiran-butiran padat dapat menyebabkan kerusakan formasi dengan
membentuk semacam filter permukaan atau masuk ke dalam formasi beberapa inchi di
belakang filter permukaan itu. Butiran-butiran yang sangat halus seperti oksida besi, clay
atau partikel-partikel silika, dapat bermigrasi karena aliran fluida. Pada tempat-tempat
tertentu butiran-butiran itu kemudian menumpuk dalam pori-pori batuan. Penyumbatan
pori-pori dapat juga disebabkan karena terjadinya pengendapan scale paraffin.

4.2. Kerusakan Permeabilitas karena Invasi Filtrat


Filtrat yang masuk ke formasi dapat berupa air yang mengandung ion-ion positif
dan negatif serta surfactant berbagai tipe dan konsentrasi. Dengan perbedaan tekanan
di formasi, filtrat didesak masuk ke dalam zona porous formasi, mendesak atau mengalir
bersama-sama fluida reservoir. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya pengembangan
clay (clay swelling) atau penguraian semen, clay yang tidak dapat mengembang atau
mineral formasi lainnya. Untuk selanjutnya bersama aliran fluida bermigrasi dan
mengendap pada tempat-tempat tertentu, sehingga menyumbat pori-pori batuan.
Peningkatan saturasi air dapat menyebabkan water blocking atau pengurangan
permeabilitas relatif terhadap minyak atau gas. Filtrat juga dapat menyebabkan
terjadinya emulsi, bila bertemu dengan fluida reservoir, atau terja-dinya oil-wet batuan
formasi.

8 WSER-005 Acidizing
4.3. Stimulasi Pengasaman Matriks
Teknik pengasaman terutama diterapkan pada sumur-sumur yang mengalami
kerusakan formasi di sekitar lubang bor yang mempunyai sementasi kuat dan daya
larutnya terhadap asam tinggi. Tujuannya adalah untuk memperbaiki atau meningkatkan
permeabilitasnya. Di samping itu, metoda pengasaman matriks dipilih untuk
menghindari terbukanya komunikasi zona minyak dengan zona air dan zona gas, yang
tidak diharapkan, yang dapat meningkatkan produksi air dan gas. Pengasaman matriks
dilakukan dengan menginjeksikan asam ke dalam formasi pada tekanan dan laju injeksi
di bawah tekanan rekah formasi.
Untuk menggambarkan peningkatan produktifitas sumur dapat diperhatikan
sistem gambar 4. Sistem ini dapat dibagi atas 2 (dua) bagian; yaitu zona yang
mengalami kerusakan formasi (formation damage), yang terbentang antara rw dan re
dengan permeabilitas ke; dan zona di luarnya yang tidak mengalami kerusakan formasi
yaitu antara rw - re dengan permeabilitas k. Pola aliran adalah radial.

Gambar 4 Skema Kerusakan Sumur Pada Reservoir8)


Muskat, menunjukkan perbandingan produktivitas fluida dari sistem yang mengalami
kerusakan di atas terhadap sistem yang tidak mengalami kerusakan dengan permeabilitas
seragam k, sebagai berikut :
Js Fk log re / rw

J o log re / rs Fk log re / rs
dimana :
Js = produktivitas sumur yang mengalami kerusakan formasi
Jo = produktivitas sumur yang tidak mengalami kerusakan formasi
rs = jari-jari daerah rusak
rw = jari-jari lubang bor
re = jari-jari pengurasan
Fk = Ks/Ko

WSER-005 Acidizing 9
Besarnya peningkatan produktivitas karena perbaikan sumur yang mengalami
kerusakan formasi dapat diperkirakan dari gambar 5.

Gambar 5 Penurunan Produksi Karena Kerusakan Formasi8)


Kalau misalnya jari-jari zona yang mengalami kerusakan formasi (rs - rw) adalah 6
inchi, perbandingan permeabilitas Fk, 0,05 maka produktivitas sumur hanyalah 0,3 dari
produktivitas sumur yang tidak mengalami kerusakan. Dengan stimulasi, maka
peningkatan produktivitas sumur dapat 3 kali produktivitas sumur sebelumnya.
Pelaksanaan pengasaman matriks pada sumur yang tidak mengalami kerusakan,
umumnya sangat kecil peningkatan produktivitas sumurnya. Seperti terlihat pada
Gambar 6.

10 WSER-005 Acidizing
Gambar 6 Peningkatan Produksi melalui Pengasaman pada Sumur Undamaged
Formation8)
Plot pada gambar diatas menunjukkan, untuk mencapai pertambahan indeks
produktivitas 2 (dua) kali, suatu sumur dengan luas pengurasan 40 acre diperlukan
penembusan asam ke zona yang mengalami kerusakan sejauh 13 ft dari lubang bor.

WSER-005 Acidizing 11
5. Asam Yang Digunakan Dalam Stimulasi
Asam yang biasa digunakan dalam stimulasi pengasaman sumur-sumur adalah asam
klorida (HCl), asam florida (HF), asam asetat, asam formiat dan asam sulfamix. Kombinasi dari
asam-asam di atas, dalam perbandingan tertentu, juga dilakukan untuk aplikasi khusus.
Tetapi sebagai patokan, persyaratan bagi asam agar dapat digunakan untuk stimulasi
pengasaman adalah :
a. Asam dapat bereaksi dengan karbonat, pasir, clay dan endapan scale, serta
membentuk bahan-bahan terlarut (soluble product).
b. Tidak terjadi reaksi yang berlebihan dengan bagian- bagian logam dari peralatan
sumur.
Di samping faktor-faktor di atas, unsur keselamatan dalam pengasaman serta faktor-
faktor ekonomis pembiayaan harus pula dipertimbangkan.

5.1. Asam Chlorida (HCl).


Asam jenis ini adalah yang paling banyak digunakan dalam stimulasi
pengasaman. Biasanya digunakan di lapangan dengan konsentrasi 15 % berat dari
larutan air. Tetapi dapat juga bervariasi antara 5 - 36 %, sesuai dengan kebutuhan.
Penggunaan yang luas dari asam ini terutama disebabkan harganya yang relatif
murah dan hasil reaksinya yang membentuk zat terlarut. Tetapi suatu hal yang perlu
diperhatikan, adalah tingkat korositas asam ini yang tinggi pada peralatan logam. Hal ini
menjadi sangat penting dan mahal untuk dikontrol pada temperatur di atas 250 oF.
Untuk itu biasa dipakai zat additif pencegah korosi (corrosion inhibitor).
Asam klorida dapat melarutkan karbonat yang terdapat pada formasi batu pasir.
Reaksi kimia asam ini dengan limestone dan dolomite adalah sebagai berikut :
a. Dengan limestone :
2HCl + CaCO3 > CaCl2 + H2O + CO2
b. Dengan Dolomit
4HCl + CaMg(CO3)2 >CaCl2 + MgCl2 + 2H2O + 2CO2
Seribu gallon 15 % HCl akan dapat melarutkan 10,5 ft3 limestone (CaCO3)
berporositas 0%. Reaksi ini akan menghasilkan 2050 lb CaCl2, 812 lb CO2 atau 6600 ft3
gas CO2 pada kondisi tekanan dan temperatur standar, serta 333 lb air.
Seribu gallon 15 % HCl akan melarutkan 1710 lb (7,6 ft3) dolomit, CaMg(CO3)2
berporositas 0%, menghasilkan 1020 gallon larutan campuran 10,5% CaCl2 dan 9%
MgCl2 berat 9,7 lb/gallon.

5.2. Asam Flourida


Asam flourida digunakan untuk sumur miyak dan gas. Biasanya digunakan dalam
campuran 3 % dengan 2 % HCl. asam flourida dapat melarutkan clay, pasir, shale, dan
feldspar, dan dapat bereaksi dengan kalsium karbonat (CaCO3). Tetapi penggunaan HF
ini terutama ditujukan untuk menghilangkan kerusakan formasi karena clay (clay
damage). Seribu gallon 4,2% HF akan melarutkan 700 lb clay. Perawatan sumur yang
tidak mengalami kerusakan, maksimum akan menambah produktivitas sebesar kira-kira

12 WSER-005 Acidizing
30 %. Dalam reaksi antara HF dengan CaCO3, reaksinya akan menghasilkan endapan
CaF2, dan reaksinya berlangsung cepat. Reaksinya adalah :
CaCO3 + 2 HF -------> CaF2 + 2H2 O) + CO2
Karena kedua hal tersebut, maka HF tidak cocok digunakan untuk formasi
karbonat. Sedangkan untuk formasi batu pasir yang mengandung karbonat,
pengendapan CaF2 ini dapat dicegah dengan menggunakan pembilasan sebelumnya
dengan HCl. Tujuannya adalah untuk melarutkan CaCO3 dan mencegah ion kalsium
bereaksi dengan HF.

5.3. Asam Asetat (CH3COOH)


Asam asetat adalah asam lemah yang bereaksi dengan lambat. Korosivitas asam
ini terhadap ion logam bawah permukaan relatif tidak sehebat asam klorida (HCl).
Dengan demikian dapat dibiarkan dalam casing beberapa hari, tanpa menimbulkan
korosi yang serius. Keunggulan asam asetat yang lain adalah : tidak mengkorosi
aluminium pada temperatur berapapun, tidak menyebabkan kerapuhan baja yang
berkekuatan tinggi, tidak merusak krom sampai temperatur 200 oF, serta dapat
mencegah pengendapan besi.
Konsentrasi asam asetat yang sering digunakan antara 10 sampai 20 %.
Konsentrasi yang lebih tinggi akan mempercepat terjadinya spent acid yaitu asam habis
melarut sehingga tidak aktif lagi. Ditinjau dari segi biaya, asam ini relatif lebih mahal
dibandingkan dengan HCl ataupun asam formic. Biaya yang lebih tinggi ini
menyebabkan asam ini digunakan secara terbatas saja.

5.4. Asam Formiat


Asam ini mempunyai sifat yang sama dengan asam asetat, bereaksi dengan
lambat. Tetapi asam formiat lebih sulit mencegah korosi pada temperatur tinggi.
Dibandingkan dengan HCl, korosi yang ditimbulkannya relatif lebih mudah
ditanggulangi.

5.5. Asam Sulfamik


Kecepatan reaksi asam sulfamik hampir sama dengan kecepatan reaksi HCl.
Asam Sulfamik yang berupa butiran halus, dapat dibawa kelokasi sumur sebagai butiran
kering, kemudian baru dicampur air. Karena berat molekulnya, jumlah kalsium karbonat
yang dapat dilarutkan oleh satu pound asam sulfomic hanya 1/3 yang dapat dilarutkan
oleh HCl, pada berat yang sama.
Asam Sulfamik tidak dapat digunakan di atas suhu 180 oF, karena akan
menghidrolisa, membentuk asam sulfat (H2SO4). Kalau H2SO4 bereaksi dengan limestone
atau scale CaCO3, maka akan terjadilah pengendapan CaSO4.

WSER-005 Acidizing 13
6. Zat-zat Additive pada Pengasaman
Asam yang digunakan dalam stimulasi pengasaman sumur membutuhkan sejumlah
zat additif untuk mengefektifkan pengasaman yang dilakukan dan untuk mengurangi efek
yang berakibat buruk terhadap formasi, peralatan produksi, ataupun terhadap hasil
pengasaman itu sendiri. Zat additif itu antara lain berguna untuk : mencegah terjadinya
korosi, menghilangkan emulsi di formasi, mengubah kebasahan (Wettabillity) formasi, untuk
memperbaiki pengasaman atau pembersihan sumur (clean up) yang lebih baik, untuk
mengurangi friksi fluida asam karena laju pompa yang tinggi, untuk lebih meratakan laju
penembusan asam untuk zona-zona yang diasami, mencegah terjadinya scale besi,
mencegah pengendapan pada minyak yang mengandung aspalt tinggi.
Dengan penambahan zat aditif, maka faktor kerugian di atas dapat dihindari, dan
efek pengasaman dapat lebih dioptimalkan.

6.1. Pencegah Korosi (Corrosion inhibitor)


Pencegah korosi (corrosion inhibitor) adalah suatu zat additif yang paling
penting. Additif ini digunakan untuk memperlambat reaksi asam dengan peralatan
logam di dalam sumur, sehingga memperlambat terjadinya korosi. Waktu untuk
memperlambat korosi (corrosion inhibition time) bervariasi bergantung kepada : tipe
metal peralatan bawah permukaan, temperatur, tipe dan konsentrasi asam, tipe dan
konsentrasi inhibitor, perbandingan luas permukaan metal dengan volume asam,
tekanan dan kehadiran aditif lain, seperti surfactant atau mutual solvent.
Pemilihan tipe dan konsentrasi inhibitor dapat dilakukan setelah mengetahui
beberapa spesifikasi : jenis dan konsentrasi asam, jenis metal peralatan, temperatur
maksimum tubing dan casing, dan lamanya kontak antara asam dan pipa. Dengan
mengetahui spesifikasi di atas dapat ditentukan inhibitor yang diperlukan untuk suatu
tingkat proteksi tertentu.
Pencegahan terjadinya korosi untuk temperatur di atas 250 oF dan waktu di atas
8 jam adalah suatu keadaan yang sulit untuk sumur-sumur yang dalam. Beberapa waktu
yang lalu digunakan arsenic.
Tetapi arsenic mempunyai beberapa kelemahan, seperti merusak katalisator
yang digunakan di pengilangan minyak, tidak efektif untuk konsentrasi HCl di atas 17 %
dan kehadiran Hidrogen Sulfida, di samping itu, arsenic bersifat racun.
Tetapi kemudian ditemukan inhibitor organic yang dapat digunakan di atas suhu
250 oF. Kadang-kadang digunakan kombinasi antara inhibitor organik dengan non-
organik untuk penggunaan di atas temperatur 400 oF. Tabel 1 berikut menunjukkan
effektifitas pencegah korosi pada temperatur tinggi. Gambar 7 & 8 memberikan ilustrasi
mengenai kecepatan korosi

14 WSER-005 Acidizing
Gambar 7 Laju Korosi HCl pada beberapa Jenis Baja3)

Gambar 8 Pengaruh Temperatur pada Korosi3)

Tabel 1 Pengaruh Temperatur Pada Korosi10)


Type Inhibitor Inhibitor Temperature Protective
Concentration (oF) time
(%) Hrs
Organic 0.5 200 24
1.0 250 10
2.0 300 2
In Organic
0.4 200 24
1.2 250 24
2.0 300 12

WSER-005 Acidizing 15
6.2. Surfactant
Surfactant digunakan sebagai additif dalam stimulasi pengasaman untuk
mencegah emulsi antara asam dan minyak, untuk mengurangi tegangan antar muka,
mengatur kebasahan formasi, mempercepat pembersihan sumur (cleanup), dan
mencegah pengendapan formasi. Penambahan surfactant pada 15 % HCl dapat
mengurangi tegangan permukaan dari 72 dyne/cm menjadi 30 dyne/cm. Penurunan
tegangan permukaan dapat mengurangi waktu swabbing dan waktu pembersihan
(cleanup).
Pemilihan jenis dan konsentrasi surfactant harus berdasarkan pengujian terhadap
fluida formasi di laboratorium. Juga harus dicocokkan dengan pencegah korosi dan
additif lain untuk keefektifannya dan untuk mencegah efek samping yang tidak di
harapkan.

6.3. Mutual Solvent


Mutual solvent adalah senyawa kimia yang mempunyai kelarutan yang cukup
besar dalam air dan minyak. termasuk didalamnya antara lain adalah alkohol, aldehid,
ketone, ether dan lain-lain. Di lapangan minyak, istilah mutual solvent ini biasa disebut
juga dengan glycol ether. Glycol ether yang biasa digunakan dalam pengasaman batu
pasir adalah ethylene glycol monobutyl ether (EGMBE). EGMBE ini berguna untuk
mengurangi tekanan antar muka antara minyak dan air, berperan sebagai pelarut dalam
pelarutan minyak dan air, beberapa sebagai pelarut dalam pelarutan minyak dalam air,
berperan sebagai diterjen yang dapat menghilangkan zat yang oil wet dari permukaan
batuan sehingga menjadi water wet, dan dapat mengefektifkan kerja surfactant di
formasi.

6.4. Diverting Agent


Diverting Agent digunakan untuk meratakan penembusan asam sepanjang
interval perforasi yang diasamkan, seperti terlihat pada Gambar 9. Asam akan melewati
formasi yang mempunyai sedikit hambatannya, yaitu interval yang kerusakan formasinya
lebih sedikit. Kalau digunakan additif Diverting Agent, maka aliran asam akan
didistribusikan dengan relatif lebih merata masuk ke formasi sepanjang interval yang
distimulasi. Aliran asam menembus formasi relatif lebih seragam masuk ke pori-pori
batuan dekat lubang bor. Additif ini akan merubah aliran asam, tanpa merusak formasi.

16 WSER-005 Acidizing
Gambar 9 Distribusi Penembusan Asam Pada Formasi Tanpa Penggunaan
Diverting Agent10)

6.5. Sequestering Agent


Fungsi additif ini adalah untuk mengisolasi ion-ion besi dan garam-garam metal
lainnya, sehingga dapat dibatasi pengendapannya di formasi. Selama pengasaman, bila
besi hidroksida tidak dicegah dari pengendapan, maka senyawa besi yang tidak bisa
dilarutkan ini akan mengendap di sekitar lubang bor dan akan menyebabkan penurunan
permeabilitas.
Konsentrasi asam yang digunakan dalam stimulasi pengasaman , tergantung
kepada kandungan besi yang larut pada temperatur formasi. Konsentrasi
HCl akan naik dari 15 % apabila di formasi terdapat scale besi oksida yang tinggi.
Kondisi sumur perlu dianalisa sepenuhnya untuk menentukan larutan asam dan
sequestering agent yang paling efektif. Penambahan surfactant yang cocok pada larutan
asam, akan memperbaiki kontak asam dengan senyawa besi.
Tabel (2) di bawah ini memperlihatkan perbandingan beberapa squestering
agent yang biasa dipergunakan sebagai additif pada pengasaman.

WSER-005 Acidizing 17
Tabel 2 Perbandingan Beberapa Iron Sequestering Agent8)

18 WSER-005 Acidizing
7. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Laju Reaksi Pengasaman
Kecepatan reaksi dalam stimulasi pengasaman akan mempengaruhi besar derajat
penembusan asam ke dalam formasi. Kecepatan reaksi yang rendah berarti penembusan
asam ke dalam formasi lebih dalam, begitu juga sebaliknya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi pengasaman adalah :
1. perbandingan luas permukaan formasi per unit volume asam
2. temperatur formasi
3. tekanan
4.konsentrasi asam
5. komposisi batuan formasi
6. kecepatan aliran fluida

7.1. Perbandingan Luas-Volume


Perbandingan luas-volume ini, maksudnya adalah perbandingan antara luas
permukaan batuan formasi yang dikenai oleh asam per unit volume asam. Perbandingan
luas-volume ini, berbanding terbalik dengan jari-jari pori batuan atau lebar rekahan.
Pada Gambar 10, terlihat bahwa pengaruh perbandingan luas volume ini, pada matriks
lebih besar dari pada rekahan.
Hal ini disebabkan, pada matriks luas permukaan yang kontak lebih besar dari
rekahan.

Gambar 10 Pengaruh Perbandingan Luar-Volume Pada Kecepatan Reaksi Antara


HCl dengan CaCO33)

7.2. Temperatur
Temperatur mempunyai efek langsung terhadap laju reaksi antara Asam klorida
dengan Karbonat. Pada suhu antara 140 oF dan 150 oF, laju reaksi akan kira-kira 2 (dua)
kali lebih cepat dari pada suhu 80 oF. Dengan kata lain, kalau temperatur bertambah,

WSER-005 Acidizing 19
kecepatan reaksi menjadi lebih cepat, dan mengurangi penembusan asam ke formasi.
Panas formasi sendiri, dan panas yang ditimbulkan oleh reaksi asam itu sendiri. Gambar
11 memperlihatkan temperatur pada laju antara HCl dengan CaCO3.

Gambar 11 Pengaruh Temperatur Pada Laju Reaksi HCl dengan CaCO33)

7.3. Tekanan
Pengaruh tekanan pada laju reaksi pengasaman, terutama berarti pada tekanan
di bawah 500 psi, seperti terlihat pada Gambar (12). Hal ini disebabkan karena CO2
(karbon dioksida) yang terlarut sedikit, sehingga efek perlambatan reaksinya menjadi
berkurang juga. Sedangkan tekanan di atas 500 psi, CO2 yang terlarutkan meningkat.
Peningkatan konsentrasi CO2 sebagai hasil reaksi ini akan menggerakan reaksi lebih ke
arah tercapainya kesetimbangan, yang berarti terjadi perlambatan reaksi.

Gambar 12 Pengaruh Tekanan Pada Laju Reaksi HCl 15% pada 80o F

20 WSER-005 Acidizing
7.4. Konsentrasi Asam
Sampai dengan konsentrasi 20 %, peningkatan konsentrasi asam klorida akan
mempunyai hubungan yang proporsional dengan laju reaksi. Pada konsentrasi antara 20
% sampai 24 %, laju raksi akan mencapai titik maksimum. Pada peningkatan konsentrasi
selanjutnya di atas 24 % laju reaksi akan mengalami penurunan. Dengan bertambah
banyaknya yang bereaksi, maka laju reaksi akan menurun. Hal ini disebabkan oleh
adanya penurunan. Dengan bertambah banyaknya yang bereaksi, maka laju reaksi akan
menurun, hal ini disebabkan oleh adanya penurunan konsentrasi asam dan adanya hasil
reaksi (CaCO3 dan CO2) bersifat memperlambat reaksi antara asam dengan karbonat.
Gambar 13 memperlihatkan pengaruh konsentrasi
HCl terhadap laju reaksi asam. Gambar 14 pengaruh temperatur terhadap
viskositas asam.

Gambar 13 Pengaruh Konsentrasi HCl Terhadap Kecepatan reaksi9)

7.5. Komposisi Batuan Formasi


Komposisi Batuan Formasi adalah faktor utama dalam penentuan laju reaksi
asam. Umumnya laju reaksi limestone lebih dari dua kali dolomite; tetapi pada
temperatur tinggi, laju reaksi hampir sama.

7.6. Kecepatan Aliran


Peningkatan kecepatan aliran pada suatu permukaan karbonat akan
meningkatkan laju reaksi. Pengaruh kecepatan terutama terjadi pada saluran yang kecil
atau rekahan yang sempit. Hal ini diperlihatkan pada persamaan berikut :
Rr = [28,5 (v/w)0,8 + 184] x10-6 ..................................................................................................(1)
dimana :

WSER-005 Acidizing 21
Rr = laju raksi untuk HCl 15 % pada temperatur 80 oF dan tekanan 1100 psi,
mole/s
v = kecepatan aliran asam, ft/s
w = lebar rekahan, ft
Laju aliran v pada suatu pengasaman dihubungkan dengan laju injeksi dan
geometri :
v = 17,2 q/d2
= 1,15 q/h.w (rekahan linier)
= 0,18 q/rf.w (rekahan radial)
q = laju injeksi asam, bbl/min
d = diameter rekahan, icnh
h = tinggi rekahan, ft
rf = jari-jari rekahan, ft

22 WSER-005 Acidizing
8. Perencanaan Stimulasi Pengasaman
Perencanaan suatu stimulasi pengasaman matriks suatu sumur, tidak hanya untuk
jumlah volume dan jenis fluida asam yang akan diinjeksikan, tetapi juga termasuk laju dan
tekanan injeksi maksimum yang diizinkan (untuk mencegah perekahan formasi).
Suatu metoda yang sistimatik untuk perencanaan pengasaman matriks batupasir
dalah sebagai berikut :

8.1. Penentuan Gradien Rekahan Formasi Sumur


Data ini di dapat ddari pengukuran tekanan pada penutupan sesaat, selama atau
segera setelah dilakukan suatu operasi perekahan. Tetapi apabila data ini tidak ada, gradien
rekahan dapat diperkirakan dengan memakai rumus berikut :

P
gf g o r ........................................................................... (2)
D
dimana
gf = gradien rekahan, psi/ft
= konstanta, yang berkisar antara 0,33 - 0,50.
go = gradien overburden adalah 1,0 psi/ft untuk sumur yang
kedalamannya kurang dari 10.000.- ft, dan 1,0 - 1,2 psi/ft untuk sumur
yang lebih dari 10.000 ft. lihat gambar 10.25
Pr = tekanan reservoir, psi
D = kedalaman sumur, ft

8.2. Penentu Laju Injeksi Maksimum Yang Mungkin Tanpa Mengakibatkan


Perekahan.
4,917 10 6 k av hn gf * D Pr
qi max .....................................................................................(3)
ln re / rew
dimana :
qi max = laju injeksi maksimum, bbl/menit
kav = permeabilitas, milidarcy
hp = tebal lapisan pasir, ft
ro = jari-jari pengurasan, ft
rw = jar-jari sumur, ft
Pr = tekanan reservoir, psi
= viskositas asam, (dapat diperoleh dari Gambar 14), cp
Untuk menghindari terjadinya perekahan formasi, maka laju injeksi haruslah di
bawah qi max. Biasanya 10 % di bawah qi max.

WSER-005 Acidizing 23
Gambar 14 Viskositas Asam Pada Berbagai Temperatur

8.3. Perkiraan Tekanan Permukaan Maksimum Fluida Yang Di Injeksikan Untuk


Mencegah Perekahan Formasi
Pmax = (gf gha) D .....................................................................................................................(4)
g ha adalah gradien hidrostatik asam. Data untuk gradien hidrostatik asam dapat
diperoleh dari Gambar 15. Selama dilakukan injeksi, tekanan permukaan hendaklah
berada di bawah tekanan maksimum ini. Apabila injeksi tidak dapat dilakukan karena
tidak di bawah Pmax, maka tekanan awalnya dapat di atas Pmax dan segera setelah
injeksi, laju injeksi harus dikurangi untuk menjaga agar tekanan di permukaan lebih
rendah dari Pmax.

Gambar 15 Gradien Asam Klorida Di Lubang Bor Pada Berbagai Konsentrasi8)

24 WSER-005 Acidizing
8.4. Penentuan Volume Larutan HF-HCl yang Diinjeksikan
1. Laju Injeksi maksimum yang telah ditentukan di atas, dibagi dengan ketebalan
interval yang diperforasi untuk mendapatkan laju injeksi spesifik, dalam
barrel/menit/ft.
2. Perkiraan radius zona yang mengalami kerusakan. Kalau tidak ada data test
sumur, untuk sumur yang berpermeabilitas rendah ( md), radius zona yang lebih
permeabel, diperkirakan 6 inchi atau lebih.
3. Tentukan temperatur formasi.
4. Pilih grafik antara Gambar (16) sampai (19), yang dekat ke temperatur formasi,
gunakan ketebalan kerusakan formasi, dan laju injeksi spesifik, baca volume mud
acid (3 %HF, 12 % HCl) yang dibutuhkan. Apabila mud acid yang digunakan
mengandung HF lebih dari 3 %, kurangi volume yang dibaca dari grafik tadi
dengan mengalikan dengan 3/(konsentrasi HF). Apabila jari-jari lubang bor (rw)
tidak 3 inchi, volume mud acid dapat dicari dengan persamaan berikut :
rw rasam 2 rw
V Vo * ............................................................................................................(5)
3 rasam 2 9
dimana :
Vo = volume mud acid yang dibaca dari grafik, gal/ft
r asam = kedalaman pertambahan permeabilitas ke formasi, inch
Gambar 16 sampai 19 adalah grafik kedalaman penembusan asam (perbaikan
permeabilitas batuan), untuk beberapa temperatur formasi, pada sumur dengan jari-jari
lubang bor 3 inchi.

Gambar 16 Volume Asam Fungsi Permeabilitas Pada T = 100 oF8)

WSER-005 Acidizing 25
Gambar 17 Volume Asam Fungsi Permeabilitas Pada T = 200 oF8)

Gambar 18 Volume Asam Fungsi Permeabilitas Pada T = 150 oF8)

Gambar 19 Volume Asam Fungsi Permeabilitas Pada T = 250 oF8)

26 WSER-005 Acidizing
9. Pengasaman Sumur Minyak di Formasi Batu Pasir
1. Pembilasan awal (Preflush) : Biasanya dengan menginjeksikan HCl, 50 gallon tiap
interval 1 ft perforasi. Tujuan pembilasan ini adalah untuk menghilangkan
karbonat dari sekitar lubang bor sebelum kontak dengan HF dan untuk
membentuk barrier antara fluida formasi dengan campuarn HF-HCl, gambar
10.20
2. Pengasaman HF-HCl (mud acid/mud sol), biasanya diinjeksikan dengan
konsentrasi 1,5 - 3 % HF dan 7,5 - 12 % HCl. Mud sol akan melarutkan clay,
sand, filtrat semen, feldspar dan lain-lain. Biasanya ditambah dengan zat aditif
untuk menghindari efek samping yang negatif dari pengasaman.
3. Pembilasan akhir (afterflush), berguna untuk mendorong mud sol ke dalam
formasi dan mengisolasi asam yang sudah bereaksi (spent acid) dengan fluida
pendesak (air laut), juga untuk menambah kebasahan formasi dan hasil reaksi
yang tidak dapat larut. Dapat digunakan HCl, amonium chlorida, kerosin yang
sudah di saring, minyak diesel ataupun crude oil.

9.1. Peramalan Jarak Penembusan Asam Pada Formasi Batu Pasir


Untuk memperkirakan jari-jari penembusan asam dan jumlah asam yang
diinginkan pada suatu operasi pengasaman, kita harus mempertimbangkan kinetika
reaksi dan perubahan sifat fisikformasi yang disebabkan oleh reaksi asam.
Pendekatan yang kita gunakan dalam perencanaan pengasaman formasi batu
pasir yaitu yang dikembangkan oleh William dan Whiteley.
William dan Witheley menyajikan kurva-kurva perencanaan seperi ditunjukkan
dalam gambar 10.16 sampai dengan 10.19 kurva-kurva tersebut mempunyai batasan-
batasan penggunaan dengan selang temperatur 100 - 250 oF dan laju injeksi 0,001 - 0,2
bbl/min ft.
Kurva-kurva tersebut dikembangkan untuk campuran asam HCl 12 % - HF 3 %
Jika acid dissolving power dan kandungan clay dalam formasi diketahui, maka
kedalaman penembusan asam dapat langsung dihubungkan dengan volume asam yang
diinjeksikan. Pendekatan ini penting untuk memperkirakan kedalaman penembusan
asam dan biasanya memberikan hasil yang konsisten dengan menggunakan Gambar 16
sampai 19.

Gambar 20 Pengasaman HF Pada Formasi Batu Pasir3)

WSER-005 Acidizing 27
9.2. Model Matematik Pada Formasi Batu Pasir
William dan Whiteley telah mengusulkan metoda simulasi pengasaman pada
formasi batu pasir, dengan menggunakan keseimbangan massa pada suatu pori dan
distribusi ukuran pori yang salah satunya dapat meperlihatkan perubahan konsentrasi
asam sebagai fungsi jarak dan waktu yang dapat dihubungkan dengan koefisien laju
reaksi dengan menggunakan persamaan.


C
C
~
U C r f ........................................................................................(6)
t X
dimana :
~
C konsentrasi asam rata-rata pada kedudukan diukur dari inlet.
U = flux volume
~
r f = koefisien laju reaksi efektif yang bervariasi selama pengasaman

Bentuk laju reaksi ini diasumsikan untuk menghitung penambahan ukuran pori
dan porositas serta perubahan laju reaksi yang diinginkan.
Solusi analisis untuk persamaan diatas dapat diperoleh jika diasumsikan
alirannya steady state yang dikembangkan dan porositasnya konstan.
Untuk asumsi-asumsi tersebut, maka persamaan keseimbangan massa menjadi :

C
~
U C r f .................................................................................................................(7)
X
Jika kondisi inlet c = co pada x = 0, maka :

~
_ r f X
X
exp ............................................................................................................(8)
Co U
Koefisien laju reaksi dapat ditentukan dari percobaan yang diperoleh dengan
injeksi HF ke dalam core batupasir linier. Profil konsentrasi aliran HF tak berdimensi
diperlihatkan dalam Gambar 21, sedangkan koefisien laju reaksi dapat diperoleh dari
data Gambar 22.

Gambar 21 Profil Konsentrasi Asam HF8)

28 WSER-005 Acidizing
Gambar 22 Perkembangan Wormhole Setelah Injeksi Asam Untuk Core Linier8)

Gambar 23 Perkembangan Wormhole Setelah Injeksi Asam Untuk Core Radial8)

WSER-005 Acidizing 29
Gambar 24 Jarak Penembusan Asam Sepanjang Wormhole8)

30 WSER-005 Acidizing
10. Deskripsi Pengasaman Matriks Pada Formasi Karbonat
Pada pengasaman matriks karbonat, asam yang digunakan biasanya HCl dan
diinjeksikan pada tekanan dan laju yang cukup rendah untuk mencegah perekahan formasi.
Tujuan teknik ini untuk mencapai penembusan asam yang radial masuk ke formasi untuk
menambah permeabilitas formasi sekitar lubang sumur.
Teknik ini biasanya melibatkan penginjeksian asam yang disertai oleh overflush
dengan air atau hidrokarbon untuk membersihkan asam dari rangkaian pipa (drill string).

10.1. Mekanisme Bekerjanya Asam Pada Batuan Karbonat


Jika asam dipompakan ke dalam suatu batuan karbonat (limestone atau
dolomite) di bawah tekanan rekahnya, asam cendrung mengalir ke daerah yang
permeabilitasnya tinggi yang pori-porinya besar seperti rongga.
Reaksi asam pada daerah yang permeabilitasnya tinggi menyebabkan formasi
yang dan membentuk saluran aliran konduktif tinggi yang disebut wormhole. Gambar
22 dan 23 memperlihatkan akhir dari injeksi core limestone dengan HCI 1 %.
Pada kontak asam mula-mula beberapa pori besar terbentuk, lalu jumlah pori
yang membesar berkurang sampai batas yang dapat diterima oleh asam.
Asam-asam yang biasa digunakan di lapangan mempunyai daya reaksi tinggi
pada kondisi reservoir dan cendrung membentuk jumlah wormhole terbatas.
Kesimpulan ini didasarkan pada hasil percobaan laboratorium dan teori matrix
acidicing.
Jika laju reaksi asam sangat tinggi, teori-teori memperkirakan bahwa hanya
beberapa wormhole akan terbentuk, sedangkan laju reaksi yang rendah dapat
memberikan beberapa formasi wormhole dengan diameter kecil.
Percobaan-percobaan yang dilaksanakan oleh Imperial Oil LTD di Kanada
membuktikan perkiraan tersebut. Dalam percobaannya asam diinjeksikan ke dalam
suatu model cylindric batuan karbonat yang telah disediakan dan difoto dengan sinar x,
kemudian diamati perubahan yang disebabkan oleh asam.

10.2. Peramalan Jarak Penembusan Asam Pada Batuan Karbonat


Studi yang digambarkan oleh Nierode dan Williams memperlihatkan bahwa
panjang wormhole maksimum mempunyai selang harga dari beberapa inchi sampai
beberapa feet.
Selang panjang wormhole yang mungkin secara teoritis dapat dihitung dengan
asumsi tidak ada fluid loss (tabel 3), karena panjang wormhole biasanya dikontrol oleh
laju fluid loss dari wormhole ke matriks formasi (tabel 4).

WSER-005 Acidizing 31
Tabel 3 Panjang Wormhole Maximum Tanpa Fluid Loss (0.25 bb/min, 40
perforasi, wormhole/perforasi)8)
Permeabilitas Panjang Wormhole
Formasi (md) Maksimum L (ft)
1 8,9
5 2,0
25 0,5
100 0,1

Tabel 4 Efek Konsentrasi Aditif Fluid Loss Terhadap Laju Pembentukan


Wormhole 8)
Konsentrasi Laju Pertumbuhan
Additive (lb/Mgal) Wormhole (ft/min)
0 0,21
15 0,52
50 0,026
100 0,008
200 0,002
Pemakaian jenis dan konsentrasi additive yang digunakan harus diseleksi dengan
baik, karena jika terlalu banyak additive dapat menyumbat formasi dan menghambat
penyelesaian treatment, sedangkan jika terlalu sedikit additive, treatment tidak akan
efektif. Salah satu cara mengevaluasi additive dengan menggunakan uji fluid loss.
Umumnya additive yang paling efektif adalah padatan dan polimer yang dapat
mengembang dalam asam seperti yang digunakan dalam acid fracturing.
Adanya asam-asam penghambat kimia tidak selalu lebih baik dari pada asam
yang hanya terdiri dari HCl, karena asam-asam tersebut tidak mengontrol laju fluid loss
suatu wormhole.
Akan tetapi untuk asam-asam yang teremulsi karena viskositas tinggi,
penggunaan additive sering memberikan hasil yang lebih baik dari pada hanya HCl.
Tabel 4 memperlihatkan perubahan laju tumbuhnya wormhole terhadap
konsentrasi additive dalam ft/min.
Stimulasi maksimum yang diharapkan dari suatu pengasaman matriks berkisar
1,5 kali dari produktivitas sebelumnya. Dengan suatu fluid loss additive yang efektif,
panjang wormhole maksimum dapat mencapai 10 feet dan perbandingan stimulasi
tinggi di atas 2.
Perbandingan stimulasi yang pasti dari matrik acidizing pada batuan karbonat
tidak dapat diperkirakan karena jumlah dan lokasi wormhole tidak dapat diperkirakan.

10.3. Model Matematik Pada Formasi Karbonat


Nierode dan William membuat simulasi matematik untuk pertumbuhan
wormhole dari model reaksi asam dalam suatu wormhole, tetapi kita harus mengetahui
laju injeksi asam, jumlah wormhole yang terbentuk oleh reaksi asam dan laju fluid loss
asam dari wormhole ke formasi.

32 WSER-005 Acidizing
Untuk menentukan batas laju reaksi yang mungkin dari panjang wormhole, suatu
model teoritik memperkirakan profil konsentrasi asam sepanjang wormhole yang
dikembangkan oleh Nierode. Panjang worhole yang diperki-rakan dapat didekati
sebagai titik dimana konsentrasi asamnya sepersepuluh dari konsentrasi yang
diinjeksikan.
Prosedur pengembangan model, analog dengan simulasi reaksi asam dalam
suatu rekahan, sebagai hasilnya diplot dalam gambar 25

Gambar 25 Harga Poiton Ratio Menurut Eaton


N *RE 2a N / ......................................................................................................................(9)
dimana:
NRE * = bilangan Reymond untuk fluid loss wornhole
NRE = 2 a v

N * RE 2a V oA / ...................................................................................................................(10)
NRE= bilangan Reymond untuk aliran sepanjang wormhole
Nsc = De .....................................................................................................................................(11)
Nsc = bilangan Reymond untuk aliran sepanjang worhole
4 LNRE*/a NRE = jarak penembusan asam tanpa dimensi

VN = kecepatan fluid loss rata-rata
a = jari-jari wormhole

V Ao = kecepatan fluida pada jalur masuk ke worhole

10.4. Prosedur Perencanaan Pengasaman Matriks pada Formasi Karbonat


Perencanaan suatu pengasaman matriks pada formasi karbonat terdiri dari jenis
dan volume asam serta laju dan tekanan injeksi maksimum yang dapat digunakan tanpa
terjadinya perekahan formasi.

WSER-005 Acidizing 33
Prosedur perencanaannya identik dengan pengasaman matriks batuan pasir,
sebagai berikut :
Langkah 1.
Menentukan gradien rekah untuk sumur atau lapangan yang bersangkutan.
Data terbaik diperoleh dari tekanan shut- in yang diukur selama atau segera
setelah treatment perekahan. Jika tidak ada data terbaru yang dapat diperoleh,
gradien rekah dapat diperkirakan dengan hubungan pendekatan seperti yang
diberikan pada persamaan.
gf = + (go ) x (Pr D) ................................................................(12)
dimana :
= konstanta yang besarnya 0,33 - 0,5
D = kedalaman treatment dalam feet
Pr = tekanan reservoir dalam psi
gradien overburden = 1.0 psi/ft pada kedalaman , 10000 ft
= 1,2 psi/ft pada kedalaman 10000 ft.
= lihat gambar 25
langkah 2 :
memperkirakan laju injeksi maksimum yang mungkin tanpa terjadi rekahan
dengan persamaan .
4,917 10 6 k av hn gfxD Pr
qi max ...................................................(13)
ln re / rew
dimana :
kav = md
hn = feet
= cp didapat dari gambar 14
Pr = psi
r0, rw = feet
qimax = bbl/min
Langkah 3.
Memperkirakan tekanan permukaan maksimum tanpa friksi untuk fluidafluida
yang dapat dinjeksikan tanpa perekahan formasi dengan persamaan.
Pmax = ( gf - gha ) x D ........................................................................(14)
dimana; gradien hidrostatik asam diperoleh dari gambar 15.
Langkah 4 :
Menentukan volume dan jenis asam yang dinjeksikan, misalnya jenis asam yang
diinjeksikan adalah :
Injeksi 50 - 2000 gallon HCl 15 % atau 28 % per feet intreval perforasi. Volume
asam yang pasti tidak dapat diramalkan karena kondisi sekitar lubang sumur
yang tidak tentu dan bervariasi dari formasi satu ke formasi lainnya.

34 WSER-005 Acidizing
11. Contoh Soal
1. Perencanaan Pengasaman Sumur minyak Pada Formasi Karbonat Suatu sumur
minyak yang akan diasamkan, mempunyai data sebagai berikut :
Kedalaman formasi = 7500 feet
Interval Perforasi = 20 feet
Gradien rekah pada tekanan awal 3075 psi = 0,7 psi/ft
Gradien overburden = 1,0 psi/ft
Tekanan reservoir = 2000 psi
kh = 200 md-ft
Viskositas asam pada temperatur reservoir dari gambar 3.5 sama dengan 0,4 cp
Jari-jari penyerapan sumur = 660 feet
Jari-jari lubang sumur = 0,25 feet
2. Perencanaan Pengasaman sumur minyak pada Formasi Batupasir
Suatu sumur minyak pada formasi batu pasir yang dilakukan pengasaman,
direncanakan dengan data sebagai berikut :
Kedalaman formasi = 5000 feet
Interval perforasi (hn) = 10 feet
k av = 50 md
Temperatur reservoir = 150 o F
Viskositas minyak pada kondisi reservoir = 1 cp
Viskositas HCl 15 % pada temperatur 150 oF dari gambar 25 = 0,78 cp
Gradien rekah pada tekanan awal 2000 psi = 0,7 psi/ft
Tekanan reservoir = 1000 psi
Gradien overburden = 1, 0 psi/ft
Jari-jari lubang sumur = 0,25 feet
Jari-jari penyerapan sumur = 660 feet
3. Penentuan Volume Asam Berdasarkan Harga Penetrasi Asam Diketahui :
Temperatur formasi, T = 200 o F
Kandungan silicate = 10 %
Jari-jari sumur, rw = 3,81 inchi
Jari-Jari Wormhole = 5/8 inchi
Laju injeksi Asam, q = 1,5 bbl/min
Interval perforasi, h = 25 feet
Jenis asam = HCl - HF

WSER-005 Acidizing 35
DAFTAR PUSTAKA

1. Schechter R.S., "Oil Well Stimualtion", Englewood Cliffs, 1992.


2. Nathan C.C., "Corrosion Inhibitors", National Association of Corrosion Engineers
(NACE), Houston, 1994.
3. nn., "Stimulation Technology Review", Vol.1, Halliburton Energy Services Publication,
Houston, 1994.
4. Soliman. M.Y., "Stimulation & Reservoir Engineering Aspects of Horizontal Wells",
Halliburton, 1996.
5. Economides M.J. et.al., "Petroleum Production Systems", Prentice Hall Petroleum
Engineering Series, Englewood Cliffs, New Jersey, 1994.
6. nn., "A Primer of Oilwell Service and Workover", Third Edition, Petroleum Extension
Service, Texas, 1979.
7. King G.E., "An Introduction to the Basics of Well Completions, Stimulations and
Workovers", 2nd Edition, Tulsa-Oklahoma, 1996.
8. Williams B.B., Gidley J.L., Schechter R.S., "Acidizing Fundamentals", Monograph SPE
Vol. 6, Texas, 1979.
9. Mian M.A., " Petroleum Engineering Handbook for Practicing Engineer", Vol. 2,
Pennwell Publishing Company, Tulsa-Oklahoma, 1992.
10. Allen T.O., Roberts A.P., "Production Operation : Well Completion, Workover, and
Stimulation", Vol. 2, OGCI, Tulsa, 1982.

36 WSER-005 Acidizing
DAFTAR PARAMETER DAN SATUAN

Ja = produktivitas sumur yang mengalami kerusakan formasi


Jo = produktivitas sumur yang tidak mengalami kerusakan formasi
re = jari-jari daerah rusak
rw = jari-jari lubang bor
re = jari-jari pengursan
Fk = ke/k
gf = gradien rekahan
= konstanta, yang berkisar antara 0,33 - 0,50.
go = gradien overburden adalah 1,0 psi/ft untuk sumur yang kedalamannya kurang
dari 10.000.- ft, dan 1,0 - 1,2 psi/ft untuk sumur yang lebih dari 10.000 ft. lihat gambar 10.25
Pr = tekanan reservoir
D = kedalaman sumur
i max = laju injeksi maksimum (bbl/menit)
kav = permeabilitas (milidarcy)
hp = tebal lapisan pasir (ft)
ro = jari-jari pengurasan (ft)
rw = jar-jari sumur (ft)
Pr = tekanan reservoir (psi)
= viascositas asam, dapat diperoleh dari Gambar (14).
Vo = volume mud acid yang dibaca dari grafik
r asam = kedalaman pertambahan permeabilitas ke formasi
c_ = konsentrasi asam rata-rata pada kedudukan% diukur dari inlet.
U = flux volume
NRE * = bilangan Reymond untuk fluid loss wornhole NRE
N RE 2a V A o /
NRE = bilangan Reymond untuk aliran sepanjang wormhole
Nsc = bilangan Reymond untuk aliran sepanjang wormhole
Nsc = De
4 LNRE*/a NRE = jarak penembusan asam tanpa dimensi

VN = kecepatan fluid loss rata-rata


a = jari-jari worhole

V Ao = kecepatan fluida pada jalur masuk ke worhole


Pmax = Tekanan permukaan maksimum, psi
gha = Gradien hidrostatik asam, psi/ft

WSER-005 Acidizing 37