Anda di halaman 1dari 19

Sosok Rijalud Dakwah

Muhammad Nuh Senin, 16 Muharram 1430 H / 12 Januari 2009 10:00 WIB

Berita Terkait

Ikhwan, Jihad, Politik, dan Partai


Ikhwan dan Masalah Kaum Wanita
Sikap Ikhwan terhadap Umat
Manhaj Aqidah dalam Dakwah
Hujatan terhadap Dakwah Al-Banna

Sesungguhnya dawah menjadi tinggi dan mulia dengan ketinggian dan kemuliaan
pendukungnya. Harakah Ikhwan mengakui, hal positif dan negatif dari manhaj teoritisnya yang
dapat diambil pada buku-buku yang sudah disebarluaskan, bagaimana tingkat ketsiqahan
anggotanya terhadap manhaj. Diantaranya adalah menganalisa suatu masalah, sebagaimana
terlihat dalam sikap dan tindakan mereka.

Namun tindakan pribadi (fardi) juga berbagai pemyataan spontan atas berbagai masalah, hal
tersebut sama sekali tidak mencerminkan harakah secara umum. Sebab memang demikianlah
tabiat suatu pertumbuhan, yang juga erat dengan situasi kondusif yang mendukung prilaku
tersebut. Di sini, akan kami paparkan contoh-contoh pribadi yang hendak dihasilkan Ikhwan
melalui proses tarbiyah dan arahan mereka. Semua ini tentu saja terwujud setelah taufiq dari
Allah swt.

Seorang Mujahid yang Menjadikan Dawah sebagai Obsesinya

Imam Hasan al-Banna mengatakan: "Saya dapat menggambarkan sosok mujahid adalah seorang
yang dalam kondisi mempersiapkan dan membekali diri, berpikir tentang keberadaannya pada
segenap dinding hatinya. la selalu dalam keadaan berpikir. Waspada di atas kaki yang selalu
dalam kondisi siap. Bila diseru ia menyambut seruan itu.

Waktu pagi dan petangnya, bicaranya, keseriusannya, dan permainannya, tidak melanggar arena
yang ia persiapkan diri untuknya. Tidak melakukan kecuali misinya yang memang telah
meletakkan hidup dan kehendaknya di atas misinya. Berjihad di jalannya.

Anda dapat membaca hal tersebut pada raut wajahnya. Anda dapat melihatnya pada bola
matanya. Anda dapat mendengarnya dari ucapan lidahnya yang menunjukkanmu terhadap
sesuatu yang bergolak dalam hatinya, suasana tekad, semangat besar serta tujuan jangka panjang
yang telah memuncak dalam jiwanya. Jiwa yang jauh dari unsur menarik keuntungan ringan di
balik perjuangan.

Adapun seorang mujahid yang tidur sepenuh kelopak matanya, makan seluas mulutnya, tertawa
selebar bibirnya, dan menggunakan waktunya untuk bermain dan kesia-siaan, mustahil ia
termasuk orang-orang yang menang, dan mustahil tercatat dalam jumlah para mujahidin."
Dai Yang Bergerak Karena Allah swt.

Adalah dai yang berlari memohon syahadah kepada Allah swt. di saat melakukan tugas dawah
ilallah. Sebagaimana syahidnya Urwah bin Masud ats-Tsaqafi radhiallahuanhu yang
mendawahkan kaumnya kepada Islam. Urwah adalah satu dari dua tokoh besar kaum
musyrikin yang disebutkan dalam firman Allah, tentang perkataan kaum musyrikin:

"Dan mereka berkata, "Mengapa al-Quran tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah
satu dua negeri (Mekkah dan Thaij) ini?" (QS. az-Zukhruf: 31)

Ketika ia menyatakan diri masuk Islam, sekaligus mendawahkan kaumnya kepada Islam,
bertubi-tubi tombak dan anak panah dari segala arah merobek tubuhnya hingga syahid.

Daiyah yang Memiliki Semangat Tinggi

Anggota harakah Ikwan, harus mempunyai semangat tinggi sebagaimana semangat al-
Aslami adhiallahu anhu yang pernah diceritakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah: Bila anda
ingin melihat tingkatan semangat, lihatlah semangat Rabiah bin Kab al-Aslami
radhiallahuanhu. Rasul saw. berkata: "Mintalah kepadaku." Kab mengatakan: "Aku ingin
menjadi pendampingmu di.surga." Sementara orang lain ada yang meminta makanan dan
pakaian.

Dai yang Memegang Teguh Janjinya

Seorang akh, dibina untuk mengerti dan melaksanakan sikap shidiq, sebagai sikap mulia para
sahabat ridhwanullahialaihim.

Seperti kisah Anas bin Nadhr radhiallahuanhu yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik. Bahwa
Anas bin Nadhr, absen dalam peperangan Badar. Beliau mengatakan:

"Aku tidak ikut dalam perang pertama yang disaksikan Rasulullah saw. Bila Rasulullah
kembali berperang melawan kaum Quraisy setelah Badar, niscaya Allah Azza wa Jalla akan
memperlihatkan apa yang akan kuperbuat."

Di saat perang Uhud, ummat Islam menderita kekalahan. Seseorang berkata kepada Saad bin
Muadz radhiallahuanhu: "Wahai Saad hendak kemana anda?" "Saya ingin menghampiri aroma
surga di balik Uhud. Saad berangkat hingga syahid. Di tubuhnya terdapat lebih dari delapan
puluh luka akibat pukulan pedang, tombak dan anak panah. Hingga jasadnya tak dikenal lagi
oleh saudari perempuannya, kecuali melalui pakaiannya.

Lalu turunlah firman Allah swt. : Di antara orang-orang mumin ada orang-orang yang
menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur.
Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merobah
janjinya. (QS. aI-Ahzab: 23)

Demikianlah seharusnya sikap teguh terhadap janji.


Seimbang dalam Semua Kondisi

Ikhwan membina anggotanya agar memiliki sikap berani, namun tidak mengabaikan sikap hati-
hati, jauh dari sikap sembrono dan emosional. Mungkin sedikit manusia yang. dapat seimbang
melakukan hal ini. Seorang yang dibiasakan bersikap pemberani, selalu berusaha memutuskan
seluruh rintangan yang mengikatnya.

Mereka juga memiliki ketaatan tinggi yang diikat oleh kesadaran syari yang cermat, jelas,
tidak serampangan dan bukan sikap mengikut buta.

Di sisi lain, anggota Ikhwan selalu memelihara potensi yang Allah anugerahkan pada dirinya.
Seorang Ikhwan secara khusus mengerahkan semua kekuatannnya kepada seluruh yang
mendatangkan manfaat kepada dawah. Penyaluran potensi itu tidak dibiarkan tanpa kendali,
tanpa arah dan tujuan yang jelas. Ikhwan senantiasa mengiringinya dengan langkah takhtith
(perencanaan) matang.

Dai yang komitmen terhadap petunjuk nabawi

Seorang dai yang berjalan di atas jalur syariat, tunduk kepada sunnah, menjauh dari prilaku
bidah dan semua yang tidak diperintahkan .oleh Rasulullah saw. Tindak tanduknya,
sebagaimana petunjuk hadits Nabawi. la mengambil agamanya dari mata air Islam yang jernih
dan minum dari sumber keimanan.

Bila ditanya tentang prinsipnya, ia mengatakan: Ittiba. Bila ditanya tentang pakaiannya, ia
mengatakan: "Taqwa." Bila ditanya tentang maksud serta tujuannya, ia mengatakan: "Ridha
Allah." Dan bila ditanya di mana ia menghabiskan waktunya di waktu pagi hingga petang, ia
menjawab: "Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan
dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang." (Qs. an-Nur: 36)

Dan di medan dawah serta mengembalikan manusia ke jalan al-haq. Bila ditanya tentang
nasabnya, ia mengatakan:

Orang tuaku adalah Islam. Tidak ada orang tuaku selainnya. Sementara orang bangga dengan
keturunan Qais atau Tamim

Dai yang Sabar

Ikhwan terbina dengan akhlaq sabar, sehingga di awal perj alanannya, salah seorang Ikhwan
telah mengetahui apa yang diucapkan Ibnul Qayyim rahimahullah: "Sesungguhnya sikap untuk
lebih mengutamakan ridha Allah, pasti akan berhadapan dengan permusuhan manusia, siksa,
bahkan upaya mereka untuk membunuhnya. Yang demikian adalah sunnatullah di antara
makhluk-Nya.

Bila tidak demikian, lalu apa dosa para Nabi dan Rasul yang memerintahkan keadilan di antara
manusia dan menegakkan agama Allah ?" Maka barangsiapa yang lebih mengutamakan
keridhaan Allah, niscaya ia akan memperoleh permusuhan dari orang alim yang jahat, manusia
yang menyimpang, yang bodoh, pelaku bidah, yang banyak berdosa, dan penguasa bathil.

Barangsiapa berpegang teguh pada Islam secara sempurna, ia tak dapat digoyahkan oleh manusia
bahkan gunung sekalipun. Tak dapat dihalangi oleh berbagai ujian., kekerasan dan rasa takut.

Mereka mengetahui bahwa kesabaran dapat dilakukan melalui dua perkara: tarbiyah atas sikap
zuhud di dunia dan zuhud terhadap pujian. Tidaklah seseorang itu melemah, atau terlambat,
dalam jalan ini, kecuali karena kecintaannya yang demikian besar pada kehidupan, kekekalan,
serta kecintaannya pada pujian manusia dan upaya menjauhi kecaman mereka.

Jalan ini, bagi mereka, merupakan jalan yang pasti berhadapan dengan pendustaaan, pengusiran,
dan siksaan, seperti ungkapan Ibnul Qayyim al-Jauzi rahimahullah: "Seseorang yang berlalu
menuju Allah swt. adalah sebagai uswah. Dan itulah predikat yang sangat mulia. Seorang yang
berakal cerdas rela beruswah kepada para Rasulullah, para Anbiya, Aulia, dan orang-orang yang
dipilih Allah dari para hamba-Nya.

"Merekalah kelompok manusia yang paling berat ujiannya. Siksaan manusia terhadap mereka,
lebih cepat berjalannya dari pada air mata. Cukuplah, contoh kisah yang disebutkan tentang
perjuangan para Anbiya alaihimus salam bersama ummat mereka, juga perjuangan Rasulullah
saw. Bagaimana siksaan musuh-musuh terhadap mereka. Siksaan berat yang belum pemah
menimpa orang sebelum mereka."

Waraqah bin Naufal pemah berkata kepada Nabi saw.,"Engkau pasti akan didustai, diusir dan
disiksa." Kemudian beliau bersabda: Tak seorangpun yang datang sebagaimana yang aku
perjuangkan kecuali ia akan mengalami kondisi serupa dengan apa yang kualami."

Hukum ini berlaku hingga kepada para pewaris-pewarisnya. Tidakkah seorang hamba ridha
menjadikan hamba terbaik Allah swt. sebagai uswahnya.

Pemberi Infaq yang Tidak Kikir Terhadap Dawahnya

Sebagaimana disifatkan oleh pemimpin mereka Imam Hasan al-Banna rahimahullah: "Mereka
tidak kikir terhadap dawah, meski harus mengeluarkannya dari jatah makanan anak-anak
mereka, mengucurkan darah mereka, atau harga mahal untuk kebutuhan primer. Apalagi dari
kebutuhan sekunder, dan keperluan yang tidak mendesak.

Mereka, tatkala menanggung beban dawah ini, benar-benar mengetahui bahwa ia merupakan
jalan dawah yang tidak mungkin dilalui dengan sedikit pengorbanan darah dan harta. Maka
mereka keluarkan hal itu seluruhnya karena Allah swt.

Singkatnya, seorang al-akh dari mereka tengah melakukan perjalanan menuju Allah swt.
bersama kelompok al-haq dan kafilah tauhid. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai
keyakinan besar, para pendidik, manusia yang sadar, dan berpegang teguh kepada Islam, yang
sedang mempersiapkan diri dengan ilmu, keahlian untuk berangkat berjihad. Masing-masing
berlomba untuk bcrangkat, dan bila mereka berangkat mereka lakukan dengan penuh itqan.
Jika mengalami situasi sulit dalam peperangan, mereka bersabar. Mereka tidak akan rela hingga
dawah mencapai tujuannya. Meskipun mereka harus memeras seluruh kemampuan dan
pemikiran mereka habis- habisan.

Bila mereka memberi perintah, perintah mereka kosong dari sikap memaksa. Dan bila mereka
taat kepada perintah, ketaatan mereka terlepas dari sikap merasa hina. Bila mereka melontarkan
kritik, kritik mereka jauh dari perusakan dan penghancuran.

Memiliki disiplin tinggi, teratur, para murabbi, perancang strategi menuju sasaran yang jelas,
orang-orang teguh pendirian, komitmen, yang bila diberi amanah sebagai pemimpin mereka
lakukan dengan ikhlash, jika diposisikan sebagai prajurit, mereka lakukan dengan penuh
ketaatan. Setiap masing-masing mereka mampu berpikir untuk terus meningkatkan
kemampuannya secara seimbang untuk selalu berupaya mengatasi masalah yang dilihatnya,
mengambil hukum suatu pekerjaan dan aktivitas dari pikirannya. Mereka merasa bertanggung
jawab untuk membela Islam. Puas dengan jumlah yang sedikit.

Dalam jiwa mereka terdengar sebuah prinsip yang begitu indah, Pertolongan dari Allah dan
kemenangan yang dekat." (QS. ash- Shaff: 13)

Betapa mereka bekerja keras di waktu siang, betapa indahnya lantunan "seruling" mereka, yang
mereka ambil dari keluarga Daud pada waktu sahur. Kemudian saat mereka berhadapan dengan
orang yang bengis dan keras, perkataan mereka adalah:

Suatu tentara yang besar yang berada di sana dari golongan-golongan yang berserikat, pasti
akan dikalahkan." (QS. Shaad: 11)

Mereka bertolak ke arah yang jelas, bergerak bersama sikap komitmen dengan ketaqwaan.
Sumpah setia mereka sejati, ketaatan mereka bukan keterpaksaan tapi kesadaran, pandangan
mereka penuh prhitungan, wawasan pemikiran mereka luas dan tidak sempit.

Masing-masing berprinsip menjadi pendukung setia terhadap pemimpinnya, cita-cita mereka


adalah bertemu dengan Rabb sebagai syuhada. Mereka memandang tanggung jawab syariat
sebagai penyejuk mata, penyenang hati, penghidup ruh, mencampakkan sistem thagut dan
undang-undang yang bathil.

Para rijal yang selalu memerangi kehendak nafsu mereka. Hati mereka rindu pada ketaqwaan,
merasa tenang dengan dzikir. Mereka mengetahui bahwa jihad adalah aplikasi kerahbaniyahan
Islam. Karenanya mereka persiapkan diri dengan senjata, dan mereka hunus pedang, mereka
bentangkan busur.

Mereka mengetahui bahwa arwah mereka akan kembali diantara penghuni kubur, mereka
tinggalkan bangunan dunia, semangat mereka meninggi dan prilaku mereka menjadi lurus.
Mereka adalah junudullah (tentara Allah) di manapun berada.
Mereka adalah para imam, pemberi petunjuk, dan pemimpin kaum beriman. Mata mereka sering
terjaga di waktu malam, dan mata mereka kerap mengucurkan air mata. Berbahagialah orang
yang berada dan berpegang teguh bersama mereka.

Para rijal yang komitmen dengan seruan Rasulullah saw, secara bathin dan zahir. Mereka
berpendirian sebagaimana Rasul berpendirian. Mereka berjalan sebagaimana Rasul berjalan.
Mereka ridha dengan keridhaan Rasul. Menyambut seruannya bila Rasul menyeru mereka.

Landasan madzhab mereka adalah al-Quran dan sunnah, meninggalkan hawa nafsu, bidah,
berpegang teguh dengan para imam dan berqudwah pada para salaf. Meninggalkan perbuatan
bidah, berpendirian diatas apa yang ditempuh para generasi awwalun dari para sahabat, pembela
Islam, sumur keimanan, inti sikap ihsan.

Pengetahuan mereka murni mengambil dari misykat wahyu dan hadits Rasulullah saw.

Para rijal yang meyakini bahwa mempelajari ilmu ikhlash karena Allah dapat melahirkan
khasyiah (ketakutan), sehingga menuntut ilmu merupakan ibadah, mudzakarah mereka adalah
tasbih, pembicaraan mereka adalah tentang "jihad" .Mereka menuntut ilmu hingga terkuaklah
hijab yang menyelimuti hati mereka, sirna kegelapannya, berganti dengan fajar tauhid dan
terpancar di dalamnya matahari keyakinan.

Jalan di hadapan mereka menjadi terang benderang, malamnya laksana siang. Hati dan jiwa
mereka bangkit memperoleh al-Haq, dan meninggalkan selain-Nya.

Terlepas dari semua iradah mereka. Yang terpatri dalam hati mereka hanya bara khasyiyah yang
membakar. Kerahasiaan mereka berhias al-haq, dan alaniyah (keterbukaan) mereka terhias oleh
akhlaq.

(Buku Ikhwanul Muslimin; Deskripsi, Jawaban Tuduhan, dan Harapan Oleh Syaikh Jasim
Muhalhil)
Rijalud dakwah atau kader dakwah adalah seorang yang telah tertarbiyah secara intensif
sehingga memiliki kesiapan untuk berjuang dan berkorban di jalan Allah, dan juga berpotensi
menjadi anashirut taghyir atau agen perubah di masyarakat. Karena ia akan melakukan kerja
besar yaitu merubah masyarakat ke arah yang lebih baik dan Islami, maka ia harus memiliki
kelebihan dan keistimewaan dibandingkan masyarakat umumnya. Namun tidak semua orang
harus menjadi kader karena biasanya lebih sedikit jumlahnya dibandingkan masyarakat umum.
(QS 33:23). Para kader dakwah adalah mereka yang telah siap berkorban jiwa,raga dan seluruh
harta bendaserta potensi yang mereka milliki (QS At Taubah : 11).
Karakter2 yang harus dimiliki kader dakwah :
1. Pemahaman Islam yang benar dan menyeluruh dari Al Quran & Sunnah
2. Keikhlasan yang tinggi sehingga ia menjadi pembela fikroh dan aqidah bukan membela
kepentingan pribadi
3. Mengutamakan bekerja dari pada berbicara,
4. Totalitas dalam dakwah,
5. Siap berjihad dalam menegakkan syariat Allah
6. Siap berkorban dengan segala potensi yang dimilikinya
7. Memiliki ketegaran untuk mencapai cita2 dakwah sekalipun harus menempuh perjalanan
dakwah yang panjang, berat & berliku.
8. Selalu taat kepada qiyadah dan jamaah.
9. Tsiqoh kepada qiyadah dan jamaah
10. Selalu memelihara kemurnian ukhuwah yang berdiri di atas landasan kasih sayang dan saling
mencintai

Menurut Hasan Al Banna karakteristik kader dakwah yaitu: rijalul qaul (orang yang pandai
berbicara) tidak sama dengan rijalul amal (orang yang pandai bekerja) dan rijalul amal tidak
sama dengan rijalul jihad (orang yang optimal dalam bekerja). Rijalul jihad pun tidak sama
dengan Rijalul jihad yang muntij (produktif) wal hakim (bijaksana) yaitu orang yang mampu
memberikan hasil yang optimal dengan pengorbanan yang paling kecil. Menurut beliau
Sesungguhnya orang yang pandai berbicara itu banyak, tetapi sedikit diantara mereka yang
tetap konsisten ketika bekerja. Dan banyak orang yang pandai bekerja tetapi sedikit yang mampu
mengemban amanah jihad yang berat dan mau bekerja keras.

Dasar-dasar Pembinaan Kader Dakwah


- Al Fahmu ad Daqid (pemahaman yang luas)
Kader dakwah yang memiliki pemahaman Islam yang benar akan terpelihara dari berbagai
penyimpangan (inhirafat). Penyimpangan fikroh bersumber dari penyimpangan salah apakah
penyimpangan juzi (parsial) dan keliru.
- Al Iman al amiq (keyakinan yang kuat)
Kader dakwah harus memilliki keyakinan yang kuat dan tertanam di dalam jiwanya bahwa
Islamlah satu2nya system yang mampu memenuhi kebutuhan manusia dunia dan akhirat. (QS Az
Zukhruf:43). Selain itu kader juga harus meyakini bahwa Allah senantiasa bersama orang-orang
yang membela agamaNya (QS Al Hajj : 40)
At Takwin al matin (pembinaan yang kokoh)
Kader dakwah dilahirkan oleh sebuah proses pembinaan yang melingkupi berbagai aspek
kehidupan yaitu Shibghah Fikriyah (pembentukkan fikroh), Shibghah Ruhiyah (Pembentukkan
mental spiritual), Shibghah Harakiyah (Pembentukkan Harokah). Sehingga kader memiliki
ketahanan dan mampu melakukan perubahan. Tugas besar hanya bisa dilaksanakan oleh orang
besar dan amanah yang berat hanya bisa diemban orang yang kuat. Jalan dakwah tidak
dihampari permadani, tidak pula ditaburi bunga melati dan minyak kasturi. Sebaliknya, jalan
dakwah dipenuhi duri dan ranjau2 yang setiap saat siap meledak, dan jalan berliku penuh
tikungan maut sementara jurang2 curam. Mengingat jalan dakwah begitu berat maka dibutuhkan
kader2 dakwah yang tahan banting dan pantang menyerah. Yang menjadi perhatian IM adalah
Tarbiyatun nufus (mendidik jiwa), tajdidul arwah (memperbaharui semangat), taqwiyatul akhlaq
(memperkokoh moral) dan tanmiyaturrajulah as shahihah (mengembangkan kepahlawan yang
benar).

Tarbiyah Mutawashilah (tarbiyah yang berkesinambungan)


Proses tarbiyah dalam Islam tidak dibatasi oleh waktu, tempat, & keadaan atau di sebut tarbiyah
madal hayah (tarbiyah seumur hidup) Kader dakwah berkualitas adalah kader yang mengikuti
proses tarbiyah secara intensif (tarbiyah murakazah), konferensif (mutakamilah) & berjenjang
(mutadarijah). Kader dakwah yang bermasalah dalam proses tarbiyahnya hampir dapat
dipastikan berpotensi menimbulkan masalah, apakah masalah pribadi, keluarga, social, maupun
dakwah & harokah. Tarbiyah dapat dilakukan secara mandiri (tarbiyah dzatiyah)/secara kolektif
(jamaiyah). Namun tarbiyah dzatiyah tidak akan dapat mengungguli tarbiyah jamaiyah, karena
sehebat dan sepintar apapun seseorang ia tidak bisa menilai dirinya sendiri secara obyektif dan
syaithon sangat suka dengan orang yang menyendiri.

Sifat-Sifat Kader Dakwah


Syaikh Abdul Qodir Jailani membuat perumpamaan yang indah bagi seorang mumin. Ia
mengibaratkan mumin yang matang proses tarbiyahnya seperti biji kurma yang ditanam di
halaman sebuah rumah dengan pagar tembok mengelilinginya. Biji kurma itu kemudian merekah
& menghasilkan tunas yang tumbuh subur disirami hujan serta diterangi sinar matahari. Maka
jadilah ia sebuah pohon kurma yang besar, kokoh dan menjulang tinggi dengan disaksikan oleh
orang banyak. Mereka bernaung di atas atap rumah yang dibuat dari ijuk yang berasal dari pohon
itu sambil memunguti buah matang yang berjatuhan dari pohon itu. Pohon kurma itu terjaga dan
terpelihara dari tangan2 jahat karena ada pagar tembok yang mengelilinginya. Kehidupan
tarbiyah kader dakwah seperti proses pertumbuhan pohon kurma tersebut. Kader dakwah yang
berkwalitas memiliki sifat2 mulia yang tercermin dari akhlak, sikap, dan prilaku sehari-harinya.
Sifat2 tersebut antara lain:
a. Ubudiyah Khalishah Lillah (semangat yang tinggi untuk beribadah kepada Allah SWT)
Poros dakwah Islam berputar pada ibadah yang murni kepada Allah SWT. Melaksanakan ibadah
yang fardhu dan memperbanyak yang sunnah. Sangat takut akan siksaNya dan bergetar hatinya
bila dibacakan kepadanya ayat2 Al Quran. (QS 8 : 2)

b. Tajridus sair wal hadaf lillah (mengarahkan perasaan dan tujuan hanya untuk Allah)
Seorang kader dakwah hendaknya hanya berorientasi kepada Allah dan mencari ridho serta
surgaNya. Ciri kader dakwah yang membela agama Allah adalah selalu merasakan kedekatan
dengan Allah. Hatinya selalu dapat menikmati lezat dan manisnya ketaatan kepada Allah, Rosul,
dan Qiyadah.

c. Rafdhutasallut al jahiliyah (menolak kekuasaan jahiliyah)


Diantara salah satu tanda akan tibanya hari kiamat adalah terjadinya penyimpangan yang sangat
jauh seperti telah dijelaskan Rosululllah : sesungguhnya akan tiba masanya tahun2 penipuan
dan kebohongan. Orang2 yang bohong dianggap benar dan orang yang benar dianggap bohong.
Orang yang khianat diberi amanah, sementara orang yang jujur dianggap khianat dan orang2
yang tidak tahu apa2 berbicara urusan public (HR Ahmad).
Kader dakwah harus memiliki sifat yang jelas yakni menolak dengan segala bentuk kekuasaan
jahiliyah.

d. Selalu Memilih Hidup Serius


Sifat ini banyak dimiliki para sahabat dan generasi unggul dari kalangan tabiin, serta generasi
penerus seperti Umar bin Abdul Aziz, Ahmad bin Hanbal, para fuqaha, mujahidin, duat yang
telah menyerahkan seluruh kemampuan diri untuk mempengaruhi kehidupan dengan syariat
Islam. Begitu juga seharusnya kader dakwah.

e. Thaatul jamaah wal qiyadah (mentaati jamaah dan pemimpin)


Khalifah Umar bin Khotob berkata Tidak ada Islam tanpa jamaah, tidak ada jamaah tanpa
imarah (kepimpinan) dan tidak ada imarah (kepemimpinan) tanpa taat (disiplin organisasi).

Ciri2 kader yang taat diantaranya adalah:


a. Taat disaat giat dan malas, disaat susah dan mudah, baik disukai/tidak.
b. Suratul Istijabah (segera menyambut dan melaksanakan perintah)
c. Taharrid diqqoh (melaksanakan perintah dengan tepat dan akurat)
d. Tidak meninggalkan tugas tanpa izin qiyadah dan tidak mudah meminta izin kecuali dalam
keadaan sangat darurat.
e. Ats tsabat alat thoriqi dakwah (konsisten dijalan dakwah)
Konsisten di jalan dakwah merupakan salah satu konsekuensi iman. Iman bukanlan sekedar
kata2 yang diucapkan melankan kewajiban dan tanggung jawab serta jihad yang membutuhkan
kesabaran dan kekuatan.
Agar kader dakwah tetap konsisten di atas jalan dakwah maka ada Anashirut Tsabit (faktor2
pendukung konsistensi) yang perlu diperhatikan yaitu :
- Dawamuluju ilallah (senantiasa kembali kepada Allah)
- Taqorrub ilallah menjadi sebuah keniscayaan bagi setiap muslim. Semakin dekat seseorang
dengan Allah semakin besar peluangnya untuk mendapatkan rahmatNya ialah istiqomah di jalan
dakwah.
- Marifatu thobiatu thoriq (mengenal karakter jalan dakwah)
Diantara karakter jalan dakwah adalah jalan yang panjang, bertingkat, dan banyak rintangan.
Setiap kader dakwah harus memperkuat dirinya dengan kesabaran, nafas panjang, dan
memahami bahwasanya ia mungkin saja meninggal lebih dulu sebelum melihat kemenangan.
Yang penting ia mati di jalan Allah.
Adamu tanazu (menghindari konflik internal)
- Konflik internal biasanya terjadi disebabkan taadud qiyadah (dualisme kepemimpinan) dan
taadud taujihat (banyaknya sumber arahan) / bila hawa nafsu yang mengarahkan pendapat dan
pemikiran (QS Al Anfal : 46)
Read more at http://syaiful-arif.blogspot.com/2009/11/tarbiyah-dan-pembentukkan-kader-
dakwah.html#g33HkxFkyEeuPq32.99
Rijalud dakwah atau kader dakwah adalah seorang yang telah tertarbiyah secara intensif
sehingga memiliki kesiapan untuk berjuang dan berkorban di jalan Allah, dan juga berpotensi
menjadi anashirut taghyir atau agen perubah di masyarakat. Karena ia akan melakukan kerja
besar yaitu merubah masyarakat ke arah yang lebih baik dan Islami, maka ia harus memiliki
kelebihan dan keistimewaan dibandingkan masyarakat umumnya. Namun tidak semua orang
harus menjadi kader karena biasanya lebih sedikit jumlahnya dibandingkan masyarakat umum.
(QS 33:23). Para kader dakwah adalah mereka yang telah siap berkorban jiwa,raga dan seluruh
harta bendaserta potensi yang mereka milliki (QS At Taubah : 11).
Karakter2 yang harus dimiliki kader dakwah :
1. Pemahaman Islam yang benar dan menyeluruh dari Al Quran & Sunnah
2. Keikhlasan yang tinggi sehingga ia menjadi pembela fikroh dan aqidah bukan membela
kepentingan pribadi
3. Mengutamakan bekerja dari pada berbicara,
4. Totalitas dalam dakwah,
5. Siap berjihad dalam menegakkan syariat Allah
6. Siap berkorban dengan segala potensi yang dimilikinya
7. Memiliki ketegaran untuk mencapai cita2 dakwah sekalipun harus menempuh perjalanan
dakwah yang panjang, berat & berliku.
8. Selalu taat kepada qiyadah dan jamaah.
9. Tsiqoh kepada qiyadah dan jamaah
10. Selalu memelihara kemurnian ukhuwah yang berdiri di atas landasan kasih sayang dan saling
mencintai

Menurut Hasan Al Banna karakteristik kader dakwah yaitu: rijalul qaul (orang yang pandai
berbicara) tidak sama dengan rijalul amal (orang yang pandai bekerja) dan rijalul amal tidak
sama dengan rijalul jihad (orang yang optimal dalam bekerja). Rijalul jihad pun tidak sama
dengan Rijalul jihad yang muntij (produktif) wal hakim (bijaksana) yaitu orang yang mampu
memberikan hasil yang optimal dengan pengorbanan yang paling kecil. Menurut beliau
Sesungguhnya orang yang pandai berbicara itu banyak, tetapi sedikit diantara mereka yang
tetap konsisten ketika bekerja. Dan banyak orang yang pandai bekerja tetapi sedikit yang mampu
mengemban amanah jihad yang berat dan mau bekerja keras.

Dasar-dasar Pembinaan Kader Dakwah


- Al Fahmu ad Daqid (pemahaman yang luas)
Kader dakwah yang memiliki pemahaman Islam yang benar akan terpelihara dari berbagai
penyimpangan (inhirafat). Penyimpangan fikroh bersumber dari penyimpangan salah apakah
penyimpangan juzi (parsial) dan keliru.
- Al Iman al amiq (keyakinan yang kuat)
Kader dakwah harus memilliki keyakinan yang kuat dan tertanam di dalam jiwanya bahwa
Islamlah satu2nya system yang mampu memenuhi kebutuhan manusia dunia dan akhirat. (QS Az
Zukhruf:43). Selain itu kader juga harus meyakini bahwa Allah senantiasa bersama orang-orang
yang membela agamaNya (QS Al Hajj : 40)
At Takwin al matin (pembinaan yang kokoh)

Kader dakwah dilahirkan oleh sebuah proses pembinaan yang melingkupi berbagai aspek
kehidupan yaitu Shibghah Fikriyah (pembentukkan fikroh), Shibghah Ruhiyah (Pembentukkan
mental spiritual), Shibghah Harakiyah (Pembentukkan Harokah). Sehingga kader memiliki
ketahanan dan mampu melakukan perubahan. Tugas besar hanya bisa dilaksanakan oleh orang
besar dan amanah yang berat hanya bisa diemban orang yang kuat. Jalan dakwah tidak
dihampari permadani, tidak pula ditaburi bunga melati dan minyak kasturi. Sebaliknya, jalan
dakwah dipenuhi duri dan ranjau2 yang setiap saat siap meledak, dan jalan berliku penuh
tikungan maut sementara jurang2 curam. Mengingat jalan dakwah begitu berat maka dibutuhkan
kader2 dakwah yang tahan banting dan pantang menyerah. Yang menjadi perhatian IM adalah
Tarbiyatun nufus (mendidik jiwa), tajdidul arwah (memperbaharui semangat), taqwiyatul akhlaq
(memperkokoh moral) dan tanmiyaturrajulah as shahihah (mengembangkan kepahlawan yang
benar).

Tarbiyah Mutawashilah (tarbiyah yang berkesinambungan)


Proses tarbiyah dalam Islam tidak dibatasi oleh waktu, tempat, & keadaan atau di sebut tarbiyah
madal hayah (tarbiyah seumur hidup) Kader dakwah berkualitas adalah kader yang mengikuti
proses tarbiyah secara intensif (tarbiyah murakazah), konferensif (mutakamilah) & berjenjang
(mutadarijah). Kader dakwah yang bermasalah dalam proses tarbiyahnya hampir dapat
dipastikan berpotensi menimbulkan masalah, apakah masalah pribadi, keluarga, social, maupun
dakwah & harokah. Tarbiyah dapat dilakukan secara mandiri (tarbiyah dzatiyah)/secara kolektif
(jamaiyah). Namun tarbiyah dzatiyah tidak akan dapat mengungguli tarbiyah jamaiyah, karena
sehebat dan sepintar apapun seseorang ia tidak bisa menilai dirinya sendiri secara obyektif dan
syaithon sangat suka dengan orang yang menyendiri.

Sifat-Sifat Kader Dakwah


Syaikh Abdul Qodir Jailani membuat perumpamaan yang indah bagi seorang mumin. Ia
mengibaratkan mumin yang matang proses tarbiyahnya seperti biji kurma yang ditanam di
halaman sebuah rumah dengan pagar tembok mengelilinginya. Biji kurma itu kemudian merekah
& menghasilkan tunas yang tumbuh subur disirami hujan serta diterangi sinar matahari. Maka
jadilah ia sebuah pohon kurma yang besar, kokoh dan menjulang tinggi dengan disaksikan oleh
orang banyak. Mereka bernaung di atas atap rumah yang dibuat dari ijuk yang berasal dari pohon
itu sambil memunguti buah matang yang berjatuhan dari pohon itu. Pohon kurma itu terjaga dan
terpelihara dari tangan2 jahat karena ada pagar tembok yang mengelilinginya. Kehidupan
tarbiyah kader dakwah seperti proses pertumbuhan pohon kurma tersebut. Kader dakwah yang
berkwalitas memiliki sifat2 mulia yang tercermin dari akhlak, sikap, dan prilaku sehari-harinya.
Sifat2 tersebut antara lain:
a. Ubudiyah Khalishah Lillah (semangat yang tinggi untuk beribadah kepada Allah SWT)
Poros dakwah Islam berputar pada ibadah yang murni kepada Allah SWT. Melaksanakan ibadah
yang fardhu dan memperbanyak yang sunnah. Sangat takut akan siksaNya dan bergetar hatinya
bila dibacakan kepadanya ayat2 Al Quran. (QS 8 : 2)

b. Tajridus sair wal hadaf lillah (mengarahkan perasaan dan tujuan hanya untuk Allah)
Seorang kader dakwah hendaknya hanya berorientasi kepada Allah dan mencari ridho serta
surgaNya. Ciri kader dakwah yang membela agama Allah adalah selalu merasakan kedekatan
dengan Allah. Hatinya selalu dapat menikmati lezat dan manisnya ketaatan kepada Allah, Rosul,
dan Qiyadah.

c. Rafdhutasallut al jahiliyah (menolak kekuasaan jahiliyah)


Diantara salah satu tanda akan tibanya hari kiamat adalah terjadinya penyimpangan yang sangat
jauh seperti telah dijelaskan Rosululllah : sesungguhnya akan tiba masanya tahun2 penipuan
dan kebohongan. Orang2 yang bohong dianggap benar dan orang yang benar dianggap bohong.
Orang yang khianat diberi amanah, sementara orang yang jujur dianggap khianat dan orang2
yang tidak tahu apa2 berbicara urusan public (HR Ahmad).
Kader dakwah harus memiliki sifat yang jelas yakni menolak dengan segala bentuk kekuasaan
jahiliyah.

d. Selalu Memilih Hidup Serius


Sifat ini banyak dimiliki para sahabat dan generasi unggul dari kalangan tabiin, serta generasi
penerus seperti Umar bin Abdul Aziz, Ahmad bin Hanbal, para fuqaha, mujahidin, duat yang
telah menyerahkan seluruh kemampuan diri untuk mempengaruhi kehidupan dengan syariat
Islam. Begitu juga seharusnya kader dakwah.

e. Thaatul jamaah wal qiyadah (mentaati jamaah dan pemimpin)


Khalifah Umar bin Khotob berkata Tidak ada Islam tanpa jamaah, tidak ada jamaah tanpa
imarah (kepimpinan) dan tidak ada imarah (kepemimpinan) tanpa taat (disiplin organisasi).

Ciri2 kader yang taat diantaranya adalah:


a. Taat disaat giat dan malas, disaat susah dan mudah, baik disukai/tidak.
b. Suratul Istijabah (segera menyambut dan melaksanakan perintah)
c. Taharrid diqqoh (melaksanakan perintah dengan tepat dan akurat)
d. Tidak meninggalkan tugas tanpa izin qiyadah dan tidak mudah meminta izin kecuali dalam
keadaan sangat darurat.
e. Ats tsabat alat thoriqi dakwah (konsisten dijalan dakwah)
Konsisten di jalan dakwah merupakan salah satu konsekuensi iman. Iman bukanlan sekedar
kata2 yang diucapkan melankan kewajiban dan tanggung jawab serta jihad yang membutuhkan
kesabaran dan kekuatan.
Agar kader dakwah tetap konsisten di atas jalan dakwah maka ada Anashirut Tsabit (faktor2
pendukung konsistensi) yang perlu diperhatikan yaitu :
- Dawamuluju ilallah (senantiasa kembali kepada Allah)
- Taqorrub ilallah menjadi sebuah keniscayaan bagi setiap muslim. Semakin dekat seseorang
dengan Allah semakin besar peluangnya untuk mendapatkan rahmatNya ialah istiqomah di jalan
dakwah.
- Marifatu thobiatu thoriq (mengenal karakter jalan dakwah)
Diantara karakter jalan dakwah adalah jalan yang panjang, bertingkat, dan banyak rintangan.
Setiap kader dakwah harus memperkuat dirinya dengan kesabaran, nafas panjang, dan
memahami bahwasanya ia mungkin saja meninggal lebih dulu sebelum melihat kemenangan.
Yang penting ia mati di jalan Allah.
Adamu tanazu (menghindari konflik internal)
- Konflik internal biasanya terjadi disebabkan taadud qiyadah (dualisme kepemimpinan) dan
taadud taujihat (banyaknya sumber arahan) / bila hawa nafsu yang mengarahkan pendapat dan
pemikiran (QS Al Anfal : 46)
Read more at http://syaiful-arif.blogspot.com/2009/11/tarbiyah-dan-pembentukkan-kader-
dakwah.html#g33HkxFkyEeuPq32.99
Rijalud dakwah atau kader dakwah adalah seorang yang telah tertarbiyah secara intensif
sehingga memiliki kesiapan untuk berjuang dan berkorban di jalan Allah, dan juga berpotensi
menjadi anashirut taghyir atau agen perubah di masyarakat. Karena ia akan melakukan kerja
besar yaitu merubah masyarakat ke arah yang lebih baik dan Islami, maka ia harus memiliki
kelebihan dan keistimewaan dibandingkan masyarakat umumnya. Namun tidak semua orang
harus menjadi kader karena biasanya lebih sedikit jumlahnya dibandingkan masyarakat umum.
(QS 33:23). Para kader dakwah adalah mereka yang telah siap berkorban jiwa,raga dan seluruh
harta bendaserta potensi yang mereka milliki (QS At Taubah : 11).
Karakter2 yang harus dimiliki kader dakwah :
1. Pemahaman Islam yang benar dan menyeluruh dari Al Quran & Sunnah
2. Keikhlasan yang tinggi sehingga ia menjadi pembela fikroh dan aqidah bukan membela
kepentingan pribadi
3. Mengutamakan bekerja dari pada berbicara,
4. Totalitas dalam dakwah,
5. Siap berjihad dalam menegakkan syariat Allah
6. Siap berkorban dengan segala potensi yang dimilikinya
7. Memiliki ketegaran untuk mencapai cita2 dakwah sekalipun harus menempuh perjalanan
dakwah yang panjang, berat & berliku.
8. Selalu taat kepada qiyadah dan jamaah.
9. Tsiqoh kepada qiyadah dan jamaah
10. Selalu memelihara kemurnian ukhuwah yang berdiri di atas landasan kasih sayang dan saling
mencintai

Menurut Hasan Al Banna karakteristik kader dakwah yaitu: rijalul qaul (orang yang pandai
berbicara) tidak sama dengan rijalul amal (orang yang pandai bekerja) dan rijalul amal tidak
sama dengan rijalul jihad (orang yang optimal dalam bekerja). Rijalul jihad pun tidak sama
dengan Rijalul jihad yang muntij (produktif) wal hakim (bijaksana) yaitu orang yang mampu
memberikan hasil yang optimal dengan pengorbanan yang paling kecil. Menurut beliau
Sesungguhnya orang yang pandai berbicara itu banyak, tetapi sedikit diantara mereka yang
tetap konsisten ketika bekerja. Dan banyak orang yang pandai bekerja tetapi sedikit yang mampu
mengemban amanah jihad yang berat dan mau bekerja keras.

Dasar-dasar Pembinaan Kader Dakwah


- Al Fahmu ad Daqid (pemahaman yang luas)
Kader dakwah yang memiliki pemahaman Islam yang benar akan terpelihara dari berbagai
penyimpangan (inhirafat). Penyimpangan fikroh bersumber dari penyimpangan salah apakah
penyimpangan juzi (parsial) dan keliru.
- Al Iman al amiq (keyakinan yang kuat)
Kader dakwah harus memilliki keyakinan yang kuat dan tertanam di dalam jiwanya bahwa
Islamlah satu2nya system yang mampu memenuhi kebutuhan manusia dunia dan akhirat. (QS Az
Zukhruf:43). Selain itu kader juga harus meyakini bahwa Allah senantiasa bersama orang-orang
yang membela agamaNya (QS Al Hajj : 40)
At Takwin al matin (pembinaan yang kokoh)

Kader dakwah dilahirkan oleh sebuah proses pembinaan yang melingkupi berbagai aspek
kehidupan yaitu Shibghah Fikriyah (pembentukkan fikroh), Shibghah Ruhiyah (Pembentukkan
mental spiritual), Shibghah Harakiyah (Pembentukkan Harokah). Sehingga kader memiliki
ketahanan dan mampu melakukan perubahan. Tugas besar hanya bisa dilaksanakan oleh orang
besar dan amanah yang berat hanya bisa diemban orang yang kuat. Jalan dakwah tidak
dihampari permadani, tidak pula ditaburi bunga melati dan minyak kasturi. Sebaliknya, jalan
dakwah dipenuhi duri dan ranjau2 yang setiap saat siap meledak, dan jalan berliku penuh
tikungan maut sementara jurang2 curam. Mengingat jalan dakwah begitu berat maka dibutuhkan
kader2 dakwah yang tahan banting dan pantang menyerah. Yang menjadi perhatian IM adalah
Tarbiyatun nufus (mendidik jiwa), tajdidul arwah (memperbaharui semangat), taqwiyatul akhlaq
(memperkokoh moral) dan tanmiyaturrajulah as shahihah (mengembangkan kepahlawan yang
benar).

Tarbiyah Mutawashilah (tarbiyah yang berkesinambungan)


Proses tarbiyah dalam Islam tidak dibatasi oleh waktu, tempat, & keadaan atau di sebut tarbiyah
madal hayah (tarbiyah seumur hidup) Kader dakwah berkualitas adalah kader yang mengikuti
proses tarbiyah secara intensif (tarbiyah murakazah), konferensif (mutakamilah) & berjenjang
(mutadarijah). Kader dakwah yang bermasalah dalam proses tarbiyahnya hampir dapat
dipastikan berpotensi menimbulkan masalah, apakah masalah pribadi, keluarga, social, maupun
dakwah & harokah. Tarbiyah dapat dilakukan secara mandiri (tarbiyah dzatiyah)/secara kolektif
(jamaiyah). Namun tarbiyah dzatiyah tidak akan dapat mengungguli tarbiyah jamaiyah, karena
sehebat dan sepintar apapun seseorang ia tidak bisa menilai dirinya sendiri secara obyektif dan
syaithon sangat suka dengan orang yang menyendiri.

Sifat-Sifat Kader Dakwah


Syaikh Abdul Qodir Jailani membuat perumpamaan yang indah bagi seorang mumin. Ia
mengibaratkan mumin yang matang proses tarbiyahnya seperti biji kurma yang ditanam di
halaman sebuah rumah dengan pagar tembok mengelilinginya. Biji kurma itu kemudian merekah
& menghasilkan tunas yang tumbuh subur disirami hujan serta diterangi sinar matahari. Maka
jadilah ia sebuah pohon kurma yang besar, kokoh dan menjulang tinggi dengan disaksikan oleh
orang banyak. Mereka bernaung di atas atap rumah yang dibuat dari ijuk yang berasal dari pohon
itu sambil memunguti buah matang yang berjatuhan dari pohon itu. Pohon kurma itu terjaga dan
terpelihara dari tangan2 jahat karena ada pagar tembok yang mengelilinginya. Kehidupan
tarbiyah kader dakwah seperti proses pertumbuhan pohon kurma tersebut. Kader dakwah yang
berkwalitas memiliki sifat2 mulia yang tercermin dari akhlak, sikap, dan prilaku sehari-harinya.
Sifat2 tersebut antara lain:
a. Ubudiyah Khalishah Lillah (semangat yang tinggi untuk beribadah kepada Allah SWT)
Poros dakwah Islam berputar pada ibadah yang murni kepada Allah SWT. Melaksanakan ibadah
yang fardhu dan memperbanyak yang sunnah. Sangat takut akan siksaNya dan bergetar hatinya
bila dibacakan kepadanya ayat2 Al Quran. (QS 8 : 2)

b. Tajridus sair wal hadaf lillah (mengarahkan perasaan dan tujuan hanya untuk Allah)
Seorang kader dakwah hendaknya hanya berorientasi kepada Allah dan mencari ridho serta
surgaNya. Ciri kader dakwah yang membela agama Allah adalah selalu merasakan kedekatan
dengan Allah. Hatinya selalu dapat menikmati lezat dan manisnya ketaatan kepada Allah, Rosul,
dan Qiyadah.

c. Rafdhutasallut al jahiliyah (menolak kekuasaan jahiliyah)


Diantara salah satu tanda akan tibanya hari kiamat adalah terjadinya penyimpangan yang sangat
jauh seperti telah dijelaskan Rosululllah : sesungguhnya akan tiba masanya tahun2 penipuan
dan kebohongan. Orang2 yang bohong dianggap benar dan orang yang benar dianggap bohong.
Orang yang khianat diberi amanah, sementara orang yang jujur dianggap khianat dan orang2
yang tidak tahu apa2 berbicara urusan public (HR Ahmad).
Kader dakwah harus memiliki sifat yang jelas yakni menolak dengan segala bentuk kekuasaan
jahiliyah.

d. Selalu Memilih Hidup Serius


Sifat ini banyak dimiliki para sahabat dan generasi unggul dari kalangan tabiin, serta generasi
penerus seperti Umar bin Abdul Aziz, Ahmad bin Hanbal, para fuqaha, mujahidin, duat yang
telah menyerahkan seluruh kemampuan diri untuk mempengaruhi kehidupan dengan syariat
Islam. Begitu juga seharusnya kader dakwah.

e. Thaatul jamaah wal qiyadah (mentaati jamaah dan pemimpin)


Khalifah Umar bin Khotob berkata Tidak ada Islam tanpa jamaah, tidak ada jamaah tanpa
imarah (kepimpinan) dan tidak ada imarah (kepemimpinan) tanpa taat (disiplin organisasi).

Ciri2 kader yang taat diantaranya adalah:


a. Taat disaat giat dan malas, disaat susah dan mudah, baik disukai/tidak.
b. Suratul Istijabah (segera menyambut dan melaksanakan perintah)
c. Taharrid diqqoh (melaksanakan perintah dengan tepat dan akurat)
d. Tidak meninggalkan tugas tanpa izin qiyadah dan tidak mudah meminta izin kecuali dalam
keadaan sangat darurat.
e. Ats tsabat alat thoriqi dakwah (konsisten dijalan dakwah)
Konsisten di jalan dakwah merupakan salah satu konsekuensi iman. Iman bukanlan sekedar
kata2 yang diucapkan melankan kewajiban dan tanggung jawab serta jihad yang membutuhkan
kesabaran dan kekuatan.
Agar kader dakwah tetap konsisten di atas jalan dakwah maka ada Anashirut Tsabit (faktor2
pendukung konsistensi) yang perlu diperhatikan yaitu :
- Dawamuluju ilallah (senantiasa kembali kepada Allah)
- Taqorrub ilallah menjadi sebuah keniscayaan bagi setiap muslim. Semakin dekat seseorang
dengan Allah semakin besar peluangnya untuk mendapatkan rahmatNya ialah istiqomah di jalan
dakwah.
- Marifatu thobiatu thoriq (mengenal karakter jalan dakwah)
Diantara karakter jalan dakwah adalah jalan yang panjang, bertingkat, dan banyak rintangan.
Setiap kader dakwah harus memperkuat dirinya dengan kesabaran, nafas panjang, dan
memahami bahwasanya ia mungkin saja meninggal lebih dulu sebelum melihat kemenangan.
Yang penting ia mati di jalan Allah.
Adamu tanazu (menghindari konflik internal)
- Konflik internal biasanya terjadi disebabkan taadud qiyadah (dualisme kepemimpinan) dan
taadud taujihat (banyaknya sumber arahan) / bila hawa nafsu yang mengarahkan pendapat dan
pemikiran (QS Al Anfal : 46)
Read more at http://syaiful-arif.blogspot.com/2009/11/tarbiyah-dan-pembentukkan-kader-
dakwah.html#g33HkxFkyEeuPq32.99
Rijalud dakwah atau kader dakwah adalah seorang yang telah tertarbiyah secara intensif
sehingga memiliki kesiapan untuk berjuang dan berkorban di jalan Allah, dan juga berpotensi
menjadi anashirut taghyir atau agen perubah di masyarakat. Karena ia akan melakukan kerja
besar yaitu merubah masyarakat ke arah yang lebih baik dan Islami, maka ia harus memiliki
kelebihan dan keistimewaan dibandingkan masyarakat umumnya. Namun tidak semua orang
harus menjadi kader karena biasanya lebih sedikit jumlahnya dibandingkan masyarakat umum.
(QS 33:23). Para kader dakwah adalah mereka yang telah siap berkorban jiwa,raga dan seluruh
harta bendaserta potensi yang mereka milliki (QS At Taubah : 11).
Karakter2 yang harus dimiliki kader dakwah :
1. Pemahaman Islam yang benar dan menyeluruh dari Al Quran & Sunnah
2. Keikhlasan yang tinggi sehingga ia menjadi pembela fikroh dan aqidah bukan membela
kepentingan pribadi
3. Mengutamakan bekerja dari pada berbicara,
4. Totalitas dalam dakwah,
5. Siap berjihad dalam menegakkan syariat Allah
6. Siap berkorban dengan segala potensi yang dimilikinya
7. Memiliki ketegaran untuk mencapai cita2 dakwah sekalipun harus menempuh perjalanan
dakwah yang panjang, berat & berliku.
8. Selalu taat kepada qiyadah dan jamaah.
9. Tsiqoh kepada qiyadah dan jamaah
10. Selalu memelihara kemurnian ukhuwah yang berdiri di atas landasan kasih sayang dan saling
mencintai
Menurut Hasan Al Banna karakteristik kader dakwah yaitu: rijalul qaul (orang yang pandai
berbicara) tidak sama dengan rijalul amal (orang yang pandai bekerja) dan rijalul amal tidak
sama dengan rijalul jihad (orang yang optimal dalam bekerja). Rijalul jihad pun tidak sama
dengan Rijalul jihad yang muntij (produktif) wal hakim (bijaksana) yaitu orang yang mampu
memberikan hasil yang optimal dengan pengorbanan yang paling kecil. Menurut beliau
Sesungguhnya orang yang pandai berbicara itu banyak, tetapi sedikit diantara mereka yang
tetap konsisten ketika bekerja. Dan banyak orang yang pandai bekerja tetapi sedikit yang mampu
mengemban amanah jihad yang berat dan mau bekerja keras.

Dasar-dasar Pembinaan Kader Dakwah


- Al Fahmu ad Daqid (pemahaman yang luas)
Kader dakwah yang memiliki pemahaman Islam yang benar akan terpelihara dari berbagai
penyimpangan (inhirafat). Penyimpangan fikroh bersumber dari penyimpangan salah apakah
penyimpangan juzi (parsial) dan keliru.
- Al Iman al amiq (keyakinan yang kuat)
Kader dakwah harus memilliki keyakinan yang kuat dan tertanam di dalam jiwanya bahwa
Islamlah satu2nya system yang mampu memenuhi kebutuhan manusia dunia dan akhirat. (QS Az
Zukhruf:43). Selain itu kader juga harus meyakini bahwa Allah senantiasa bersama orang-orang
yang membela agamaNya (QS Al Hajj : 40)
At Takwin al matin (pembinaan yang kokoh)

Kader dakwah dilahirkan oleh sebuah proses pembinaan yang melingkupi berbagai aspek
kehidupan yaitu Shibghah Fikriyah (pembentukkan fikroh), Shibghah Ruhiyah (Pembentukkan
mental spiritual), Shibghah Harakiyah (Pembentukkan Harokah). Sehingga kader memiliki
ketahanan dan mampu melakukan perubahan. Tugas besar hanya bisa dilaksanakan oleh orang
besar dan amanah yang berat hanya bisa diemban orang yang kuat. Jalan dakwah tidak
dihampari permadani, tidak pula ditaburi bunga melati dan minyak kasturi. Sebaliknya, jalan
dakwah dipenuhi duri dan ranjau2 yang setiap saat siap meledak, dan jalan berliku penuh
tikungan maut sementara jurang2 curam. Mengingat jalan dakwah begitu berat maka dibutuhkan
kader2 dakwah yang tahan banting dan pantang menyerah. Yang menjadi perhatian IM adalah
Tarbiyatun nufus (mendidik jiwa), tajdidul arwah (memperbaharui semangat), taqwiyatul akhlaq
(memperkokoh moral) dan tanmiyaturrajulah as shahihah (mengembangkan kepahlawan yang
benar).

Tarbiyah Mutawashilah (tarbiyah yang berkesinambungan)


Proses tarbiyah dalam Islam tidak dibatasi oleh waktu, tempat, & keadaan atau di sebut tarbiyah
madal hayah (tarbiyah seumur hidup) Kader dakwah berkualitas adalah kader yang mengikuti
proses tarbiyah secara intensif (tarbiyah murakazah), konferensif (mutakamilah) & berjenjang
(mutadarijah). Kader dakwah yang bermasalah dalam proses tarbiyahnya hampir dapat
dipastikan berpotensi menimbulkan masalah, apakah masalah pribadi, keluarga, social, maupun
dakwah & harokah. Tarbiyah dapat dilakukan secara mandiri (tarbiyah dzatiyah)/secara kolektif
(jamaiyah). Namun tarbiyah dzatiyah tidak akan dapat mengungguli tarbiyah jamaiyah, karena
sehebat dan sepintar apapun seseorang ia tidak bisa menilai dirinya sendiri secara obyektif dan
syaithon sangat suka dengan orang yang menyendiri.

Sifat-Sifat Kader Dakwah


Syaikh Abdul Qodir Jailani membuat perumpamaan yang indah bagi seorang mumin. Ia
mengibaratkan mumin yang matang proses tarbiyahnya seperti biji kurma yang ditanam di
halaman sebuah rumah dengan pagar tembok mengelilinginya. Biji kurma itu kemudian merekah
& menghasilkan tunas yang tumbuh subur disirami hujan serta diterangi sinar matahari. Maka
jadilah ia sebuah pohon kurma yang besar, kokoh dan menjulang tinggi dengan disaksikan oleh
orang banyak. Mereka bernaung di atas atap rumah yang dibuat dari ijuk yang berasal dari pohon
itu sambil memunguti buah matang yang berjatuhan dari pohon itu. Pohon kurma itu terjaga dan
terpelihara dari tangan2 jahat karena ada pagar tembok yang mengelilinginya. Kehidupan
tarbiyah kader dakwah seperti proses pertumbuhan pohon kurma tersebut. Kader dakwah yang
berkwalitas memiliki sifat2 mulia yang tercermin dari akhlak, sikap, dan prilaku sehari-harinya.
Sifat2 tersebut antara lain:
a. Ubudiyah Khalishah Lillah (semangat yang tinggi untuk beribadah kepada Allah SWT)
Poros dakwah Islam berputar pada ibadah yang murni kepada Allah SWT. Melaksanakan ibadah
yang fardhu dan memperbanyak yang sunnah. Sangat takut akan siksaNya dan bergetar hatinya
bila dibacakan kepadanya ayat2 Al Quran. (QS 8 : 2)

b. Tajridus sair wal hadaf lillah (mengarahkan perasaan dan tujuan hanya untuk Allah)
Seorang kader dakwah hendaknya hanya berorientasi kepada Allah dan mencari ridho serta
surgaNya. Ciri kader dakwah yang membela agama Allah adalah selalu merasakan kedekatan
dengan Allah. Hatinya selalu dapat menikmati lezat dan manisnya ketaatan kepada Allah, Rosul,
dan Qiyadah.

c. Rafdhutasallut al jahiliyah (menolak kekuasaan jahiliyah)


Diantara salah satu tanda akan tibanya hari kiamat adalah terjadinya penyimpangan yang sangat
jauh seperti telah dijelaskan Rosululllah : sesungguhnya akan tiba masanya tahun2 penipuan
dan kebohongan. Orang2 yang bohong dianggap benar dan orang yang benar dianggap bohong.
Orang yang khianat diberi amanah, sementara orang yang jujur dianggap khianat dan orang2
yang tidak tahu apa2 berbicara urusan public (HR Ahmad).
Kader dakwah harus memiliki sifat yang jelas yakni menolak dengan segala bentuk kekuasaan
jahiliyah.

d. Selalu Memilih Hidup Serius


Sifat ini banyak dimiliki para sahabat dan generasi unggul dari kalangan tabiin, serta generasi
penerus seperti Umar bin Abdul Aziz, Ahmad bin Hanbal, para fuqaha, mujahidin, duat yang
telah menyerahkan seluruh kemampuan diri untuk mempengaruhi kehidupan dengan syariat
Islam. Begitu juga seharusnya kader dakwah.
e. Thaatul jamaah wal qiyadah (mentaati jamaah dan pemimpin)
Khalifah Umar bin Khotob berkata Tidak ada Islam tanpa jamaah, tidak ada jamaah tanpa
imarah (kepimpinan) dan tidak ada imarah (kepemimpinan) tanpa taat (disiplin organisasi).

Ciri2 kader yang taat diantaranya adalah:


a. Taat disaat giat dan malas, disaat susah dan mudah, baik disukai/tidak.
b. Suratul Istijabah (segera menyambut dan melaksanakan perintah)
c. Taharrid diqqoh (melaksanakan perintah dengan tepat dan akurat)
d. Tidak meninggalkan tugas tanpa izin qiyadah dan tidak mudah meminta izin kecuali dalam
keadaan sangat darurat.
e. Ats tsabat alat thoriqi dakwah (konsisten dijalan dakwah)
Konsisten di jalan dakwah merupakan salah satu konsekuensi iman. Iman bukanlan sekedar
kata2 yang diucapkan melankan kewajiban dan tanggung jawab serta jihad yang membutuhkan
kesabaran dan kekuatan.
Agar kader dakwah tetap konsisten di atas jalan dakwah maka ada Anashirut Tsabit (faktor2
pendukung konsistensi) yang perlu diperhatikan yaitu :
- Dawamuluju ilallah (senantiasa kembali kepada Allah)
- Taqorrub ilallah menjadi sebuah keniscayaan bagi setiap muslim. Semakin dekat seseorang
dengan Allah semakin besar peluangnya untuk mendapatkan rahmatNya ialah istiqomah di jalan
dakwah.
- Marifatu thobiatu thoriq (mengenal karakter jalan dakwah)
Diantara karakter jalan dakwah adalah jalan yang panjang, bertingkat, dan banyak rintangan.
Setiap kader dakwah harus memperkuat dirinya dengan kesabaran, nafas panjang, dan
memahami bahwasanya ia mungkin saja meninggal lebih dulu sebelum melihat kemenangan.
Yang penting ia mati di jalan Allah.
Adamu tanazu (menghindari konflik internal)
- Konflik internal biasanya terjadi disebabkan taadud qiyadah (dualisme kepemimpinan) dan
taadud taujihat (banyaknya sumber arahan) / bila hawa nafsu yang mengarahkan pendapat dan
pemikiran (QS Al Anfal : 46)
Read more at http://syaiful-arif.blogspot.com/2009/11/tarbiyah-dan-pembentukkan-kader-
dakwah.html#g33HkxFkyEeuPq32.99