Anda di halaman 1dari 16

PEMBINAAN POSYANDU BALITA OLEH

PETUGAS
No Dokumen :
No Revisi : 00
Tanggal Tertib : 11 Juli 2016
SOP Halaman : 1/2

UPT. PUSKESMAS PAKU dr. Adji Darmo


ALAM NIP 19810910 201001 1
017

Pengertian Pembinaan adalah pemeberian arahan dan dukungan bagi kader


posyandu dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab kegiatan
Posyandu.

Tujuan Sebagai acuan petugas dalam melakukan pembinaan Posyandu


balita

Kebijakan SK Kepala Puskesmas Paku Alam Nomor

Referensi Buku Panduan Kader Posyandu Menuju Keluarga Sadar Gizi, Dirjen
Bina Gizi dan KIA Kementrian tahun 2013

Alat 1. Petugas Puskesmas


2. Kader
3. Lembar balik

Prosedur 1. Petugas Puskesmas mengkonfirmasi jadwal Posyandu


dengan kader dan membuat kesepakatan dengan kader
bahwa akan berkunjung ke Posyandu
2. Petugas membimbing kader dalampenyelenggaraan
Posyandu, dengan mengecek kelengkapan administrasi pada
masing-masing meja pada sistem 5 meja dan memantau
kegiatan pengukuraan berat badan dan tinggi badan balita
serat LILA pada ibu hamil
3. Petugas menyelenggarakan penyuluhan dan konseling
kesehatan, KIA/KB dan gizi kepada pengunjung Posyandu
atau masyarakat luas
4. Petugas melakukan deteksi dini tanda bahaya umum
terhadapibu hamil, bayi dan anak balita serta melakukan
rujukan ke Puskesmas apabila dibutuhkan
5. Petugas membantu kader dalam pelaksanaan stimulasi
deteksi dini tumbuh kembang balita
6. Petugas menganalisis hasil kegiatan Posyandu, menuliskan
hasilnya pada buku kunjungan Posyandu, serta menyusun
rencana kerja dan melaksankan upaya perbaikan sesuai
dengan kebutuhan Posyandu
7. Petugas menuliskan kesan dan pesan kegiatan Posyandu
pada hari tersebut dalam buku tamu Posyandu

Bagan Alur Membuat Undangan Untuk Membuat Kesepakatan/ Jadwal


Pertemuan Kader Kunjungan Posyandu Kepada
(Rakorkel) Kader

Membimbing Kader Dalam


Mej Mej Meja Meja Mej
Penyelenggaraan
a1 a2 3 4 a5
Posyandu Dengan Sistim 5
Meja

Petugas Memberikan Penyuluhan


Dan Konseling Kesehatan KIA, KB
Dan Gizi Kepada Masyarakat yang
Datang berkunjung ke Posyandu

Petugas Mendeteksi
Adanya Tanda Bahaya
Petugas Membuat Rujukan
Umum Terhadap Bumil,
ke Puskesmas Bila
Bayi Dan Anak Balita
Diperlukan

Petugas Membantu Kader


Dalam Pelaksanaan
SDIDTK

Petugas Mengevaluasi
Hasil Kegiatan Posyandu

Petugas Menulis Kesan


Dan Pesan Kegiatan
Posyandu Di Buku Tamu

Hal-hal yang perlu 1. Petugas Posyandu Dan Kader Posyandu Menginput Hasil Kegiatan
diperhatikan Pembinaan Posyandu Pada Balita
2. Petugas Posyandu Melaporkan hasil kegiatan dalam bentuk LPT ke
Kepala Puskesmas
Unit terkait a. KIA
b. BPA

Dokumen terkait a. LPT


b. LB3
c. Pencatatan dan pelaporan untuk kesehatan keluarga

Rekaman historis
perubahan
MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT
No Dokumen :
No Revisi : 00
Tanggal Tertib : 11 Juli 2016
SOP Halaman : 1/1

UPT. PUSKESMAS PAKU dr. ENJI SEPPRALIANA


ALAM NIP 19800920 201001 2
010

Pengertian MTBS (Manajemen Terpadu Balita Sakit) adalah suatu pendekatan


terpadu dalam tatalaksana balita sakit
di fasilitas kesehatan tingkat dasar

Tujuan Sebagai pedoman petugas dalam melaksanakan Manajemen


Terpadu Balita Sakit untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian
Kebijakan SK Kepala Puskesmas Paku Alam Nomor

Referensi Departemen Kesehatan RI. Buku Bagan Manajemen Terpadu Balita


Sakit (MTBS), Jakarta.2010

Alat 1. Timbangan Bayi/ Balita


2. Pengukur TB/PB
3. Timer
4. Senter
5. Thermometer

Prosedur 1. Petugas melakukan anamnesa


2. Petugas melakukan pemeriksaan antropometri dan vital sign
3. Petugas menanyakan kepada ibu mengenai masalah anaknya
4. Petugas memeriksa tanda bahaya umum ( tidak mau minum atau
menyusu, memuntahkan semuanya, letargis, kejang)
5. Jika terdapat tanda bahaya umum petugas melakukan tatalaksana
rujukan
6. Jika tidak terdapat tanda bahaya umum petugas pemeriksaan fisik
7. Petugasmelakukan klasifikasi kasus
8. Jika perlu, petugas melakukan pemeriksaan penunjang
9. Jika perlu, petugas melakukan rujukan interna ke unit lain
10. Petugas melakukan penatalaksanaan kasus sesuai dengan klasifikasi
11. Petugas memberikan Komunikasi Informasi dan Edukasi
12. Petugas Mendokumentasikan Hasil Pemeriksaan
Bagan Alur
Petugas
melakukan
anamnesa

Petugas melakukan
pemeriksaan
antropometri dan vital
sign

Petugas menanyakan
kepada ibu mengenai
masalah yang dialami
anaknya

Petugas memeriksa
tanda bahaya umum

Bila terdapat tanda Jika tidak ada tanda


bahaya umum pasien bahaya umum petugas
rujuk ke rumah sakit melakukan
pemeriksaan fisik

Petugas melakukan
klasifikasi khusus

Petugas melakukan
Petugas
pemeriksaan
melakukan
penunjang(Laboratori
rujukan ke
um)
interna unit lain

Petugas
melakukan
penatalaksanaan
sesuai klasifikasi

Petugas memberikan
komunikasi informasi
edukasi

Petugas
mendokumentasikan
hasil pemeriksaan
Hal-hal yang perlu 1. Petugas BPA harus memperhatikan keadaan umum pasien
diperhatikan 2. Petugas BPA menginput hasil pemeriksaan di Format MTBS dan register pasien
serta membuat laporan LB3 ke Kepala Puskesmas

Unit terkait 1. Unit BPA


2. Laboraturium
3. Unit Gizi
4. Apotik

Dokumen terkait 1. Rekam Medis


2. Format MTBS
3. LB3
Rekaman historis
perubahan
TINDIK TELINGA
No Dokumen :
No Revisi : 00
Tanggal Tertib : 11 Juli 2016
SOP Halaman : 1/2

UPT. PUSKESMAS PAKU dr. ENJI SEPPRALIANA


ALAM NIP 19800920 201001 2
010

Pengertian Tindik telinga adalah menindik atau melubangi cuping telinga( kamus
besar Bahasa Indonesia)

Tujuan Sebagai acuan dalam melaksanakan tindakan tindik telinga di unit


KIA
Kebijakan SK Kepala Puskesmas Paku Alam Nomor

Referensi Buku Kerja Mahasiswa Praktik Klinik Kebidanan Program Studi DIV
Reguler Bidan Pendidik Tahun Ajaran 2012/2013

Alat a. Handscoon
b. Kapas alcohol 70%
c. Betadine
d. Needle no 20
e. Anting

Prosedur 1. Petugas menjelaskan tahapan prosedur tindakan yang akan


dilaksanakan, petugas meminta persetujuan kontrak waktu
2. Petugas melakukan persiapan
- Tempat
- Alat
- Pasien
3. Petugas menyiapkan anak dalam posisi di berbaring diatas
tempat tidur (bayi dalam posisi dibedong)
4. Petugas mencuci tangan dan menggunakan handscoon
5. Petugas menentukan daerah yang akan ditindik (pada cuping
telinga yang tidak terdapat tulang rawan)
6. Petugas mendesinfeksi daerah yang akan dilakukan tindik
dengan kapas alcohol
7. Petugas menusukkan needle pada daerah yang sudah
didesinfeksi
8. Petugas memasukkan ujung anting ke dalam lubang ujung
jarum, kemudian jarum ditarik secara perlahan sampai anting
masuk kedalam cuping telinga
9. Petugas melepaskan jarum atau needle
10. Petugas mengancingkan anting
11. Petugas melakukan desinfeksi cuping telinga dengan
betadine
12. Petugas membereskan alat dan mendekontaminasikan alat
pada larutan klorin 0,5%
13. Petugas melepaskan sarung tangan dalam larutan klorin 0,5%
14. Petugas mencuci tangan
15. Petugas memberitahu keluarga bahwa tindakan sudah selesai
16. Petugas memberikan resep obat
17. Petugas melakukan dokumentasi
18. Petugas melaksanakan tindakan secara sistematis dan
berurutan

Bagan Alur Petugas Petugas Melakukan Petugas Petugas


Menjelaskan Informed Consent melakukan Menyiapkan
Tentang tindakan kepada persiapan Alat, Pasien
Tahapan Pasien Tempat dan dalam posisi
Tindakan Yang Pasien berbaring
Akan Dilakukan

Petugas Mencuci
Petugas Petugas menentukan Tangan dan
Mendesinfeksi daerah daerah yang akan ditindik Menggunakan
yang akan ditindik sarung tangan

Petugas memasukkan
ujung anting ke dalam Petugas
Petugas merapihkan dan
lubang jarum sampai
mengancingkan mendekontamina
anting masuk kedalam
anting dan sikan alat ke
cuping telinga dan
mendeinfeksi dalam larutan
melepaskan jarum
cuping telinga klorin 0,5%

Petugas Petugas
Petugas
memberitahu melepaskan
mencuci
kepada keluarga sarung tangan ke
tangan
pasien bahwa dalam larutan
tindakan sudah klorin 0,5%
selesai

Petugas Petugas
memberikan resep melakukan
obat kepada dokumentas
pasien i

Hal-hal yang perlu 1. Petugas BPA harus mempperhatikan keadaan umum pasien
diperhatikan 2. Petugas mencatat di buku register pasien

Unit terkait 1. Unit BPA


2. UGD
3. Apotik
Dokumen terkait

Rekaman historis
perubahan
MANAJEMEN TERPADU BALITA MUDA
No Dokumen :
No Revisi : 00
Tanggal Tertib : 11 Juli 2016
SOP Halaman : 1/1

UPT. PUSKESMAS PAKU dr. ENJI SEPPRALIANA


ALAM NIP 19800920 201001 2
010

Pengertian MTBM (Manajemen Terpadu Balita Muda) adalah Suatu pendekatan


keterpaduan dalam tatalaksana balita muda
di fasilitas kesehatan tingkat dasar

Tujuan Sebagai pedoman petugas dalam melaksanakan MTBM

Kebijakan SK Kepala Puskesmas Paku Alam Nomor

Referensi Departemen Kesehatan RI. Buku Bagan Manajemen Terpadu Balita


Sakit (MTBS), Jakarta.2010
Alat 1. Timbangan Bayi/ Balita
2. Pengukur TB/PB
3. Timer
4. Senter
5. Thermometer

1. Petugas melakukan anamnesa


Prosedur
2. Petugas melakukan pemeriksaan antropometri dan vital sign
3. Petugas menanyakan kepada ibu mengenai masalah anaknya
4. Petugas memeriksa tanda bahaya umum ( tidak mau minum atau
menyusu, memuntahkan semuanya, letargis, kejang)
5. Jika terdapat tanda bahaya umum petugas melakukan tatalaksana
rujukan
6. Jika tidak terdapat tanda bahaya umum petugas pemeriksaan fisik
7. Petugas melakukan klasifikasi kasus
8. Jika perlu, petugas melakukan pemeriksaan penunjang
9. Jika perlu, petugas melakukan rujukan interna ke unit lain
10. Petugas melakukan penatalaksanaan kasus sesuai dengan klasifikasi
11. Petugas memberikan Komunikasi Informasi dan Edukasi
12. Petugas Mendokumentasikan Hasil Pemeriksaan
Bagan Alur Petugas
melakukan
anamnesa

Petugas melakukan
pemeriksaan
antropometri dan vital
sign

Petugas menanyakan
kepada ibu mengenai
masalah yang dialami
anaknya

Petugas memeriksa
tanda bahaya umum

Bila terdapat tanda Jika tidak ada tanda


bahaya umum pasien bahaya umum petugas
rujuk ke rumah sakit melakukan
pemeriksaan fisik

Petugas melakukan
klasifikasi khusus

Petugas melakukan
Petugas
pemeriksaan
melakukan
penunjang(Laboratoriu
rujukan ke
m)
interna unit lain

Petugas
melakukan
penatalaksanaan
sesuai klasifikasi

Petugas memberikan
komunikasi informasi
edukasi

Petugas
mendokumentasikan
hasil pemeriksaan
Hal-hal yang perlu 1. Petugas BPA harus memperhatikan keadaan umum pasien
diperhatikan 2. Petugas BPA menginput hasil pemeriksaan di Format MTBM dan
register pasien serta membuat laporan LB3 ke Kepala Puskesmas

Unit terkait 1. Unit BPA


2. Unit Laboraturium
3. Unit Gizi
4. Unit Farmasi

Dokumen terkait 1. Rekam Medis


2. Format MTBM
3. LB3
Rekaman historis
perubahan
PENATALAKSANAAN KEJANG DEMAM
PADA ANAK
No Dokumen :
No Revisi : 00
SOP Tanggal
Halaman
Tertib : 11 Juli 2016
:

UPT. PUSKESMAS PAKU dr. ENJI SEPPRALIANA


ALAM NIP 19800920 201001 2
010

Pengertian Penatalaksanaan kejang demam pada anak adalah tindakan untuk


mengatasi kejang pada pasienanak yang demam.

Tujuan Sebagai pedoman petugas untuk melakukan penatalaksanaan


kejang demam pada anak

Kebijakan SK Kepala Puskesmas Paku Alam Nomor

Referensi 1. Nelson. Buku Ajar Ilmu Penyakit Anak. EGC, Jakarta,1999.


2. WHO Indonesia dan Depkes RI. Buku Aku Pelayanan
Kesehatan Anak Di Rumah Sakit.Jakarta, 2009.

Alat 1. Oksigen
2. Spuit
3. Obat kejang
4. Thermometer
5. Tongue spatel

Prosedur 1. Petugas membaringkan pasien dan melindungi lidah dengan


tongue spatel
2. Petugas membebaskan jalan nafas, dan memiringkan pasien
jika muntah
3. Petugas memberikan O2 2-4 liter
4. Petugas mengompres pasien dengan air biasa (suhu
ruangan)

PROSEDUR I
Petugas memberikan diazepam rektal, 5 mg untuk BB <10
kg, 10 mg untuk BB>= 10 kg

PROSEDUR II
a. Petugas memberikan diazepam ke dalam spuit, dosis
disesuaikan dengan berat badan anak (lihat tabel) bila
memungkinkan
Umur/ Berat Badan Anak Diazepam diberikan secara rektal(
Larutan 10 mg/2ml)
Dosis 0,1 mg/kgBB (0,4-0,6 mg/Kg
BB)
2 minggu s/d 2 bulan ( <4kg) 0,3 ml (1,5 mg)
2-<4 bulan (4-6 kg) 0,5 ml(2,5 mg)
4-12 bulan (6-<10 kg) 1ml (5mg)
1-< 3 tahun (10-<14 kg) 1,25 ml (6,25 mg)
3- < 5 tahun (14-19 kg) 1,5 ml(7,5 mg)
b. Petugas melepas jarum suntiknya
c. petugas memasukkan spuit kedalam rectum 4-5 cm
d. petugas menginjeksikan larutan diazepam ke dalam rectum
5. Petugas merapatkan kedua pantat anak selama beberapa
menit
6. Petugas menilai kembali kondisi pasien setelah 10 menit
7. Jika kejang bisa teratasi,pasien diobservasi, dan diberikan
terapi rumatan
8. Jika pasien masih kejang, petugas memberikan ulang
diazepam rektal dengan dosis yang sama
9. petugas menilai kembali kondisi pasien setelah 10 menit
10. Jika kejang teratasi, pasien di observasi dan diberi terapi
rumatan
11. Jika kejang tidak teratasi, petugas merujuk pasien ke RS
Bagan Alur
Petugas Membaringkan
pasien dan melindungi
Lidah pasien dengan alat

Petugas membebaskan
Jalan Nafas/
memiringkan pasien jika
muntah

Petugas
memberikan O2
2-4 liter

Petugas
mengompres
pasien dengan Air
Biasa

Petugas memberikan Diazepam Petugas memberikan


perrektal atau sesuai dengan Diazepam ke dalam spuit
dosis

Petugas merapatkan pantat


anak selama beberapa
menit

Petugas menilai keadaan umum


pasien selama 10 menit

Kejang teratasi dan pasien Kejang tidak teratasi


di observasi lalu di beri petugas memberikan
terapi rumatan terapi ulangan dengan
dosis yang sama

Petugas memberikan resep


obat kepada pasien Petugas menilai kembali keadaan
umum pasien selama 10 menit

Pasien mengambil obat


ke apotik

Hal-hal yang perlu Jika tidak teratasi maka


petugas merujuk pasien ke
diperhatikan Rumah sakit atau ke fasilitas
yang lebih tinggi
Unit terkait
1. Petugas BPA harus memperhatikan keadaan umum pasien
2. Petugas BPA harus memperhatikan persediaan obat kejang
Dokumen terkait 3. Petugas mencatat dan melaporkan ke rekam medis, buku register, dan
pelaporan LB1
Rekaman historis
perubahan 1. UGD
2. Unit BPA
3. Unit BPU
4. Unit Farmasi
5. Unit Laboratorium

1. Rekam medis
2. Buku register
3. LB1

Anda mungkin juga menyukai