Anda di halaman 1dari 59

I.

PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Bergejolaknya harga minyak mentah dunia yang terus meningkat, yang
dipicu oleh memanasnya konflik politik di negara - negara penghasil
minyak bumi, diperparah dengan krisis ekonomi global yang menimpa
negara adikuasa seperti Amerika dan beberapa negara di Eropa yang
notabene sebagai operator produsen migas, sehingga perlu dicarikan
sumber energi alternatif lain selain migas untuk menunjang ketahanan
energi nasional.

Batubara adalah bagian dari sumber energi nasional yang potensial


untuk memenuhi kebutuhan energi saat ini dan masa depan.
Sebagai komplemen BBM sebagian besar batubara di dalam negeri
digunakan sebagai bahan bakar untuk pembangkit tenaga listrik,
sedangkan untuk industri umumnya dipakai untuk pabrik semen dan
sebagian kecil bahan bakar boiler pada pabrik tekstil.

Kalimantan Tengah termasuk salah satu daerah di Indonesia yang


memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah. Beberapa sumber
daya pembangunan, seperti pertanian, perkebunan, kehutanan,
peternakan, perikanan, industri dan pariwisata, termasuk sektor
pertambangan, telah dimanfaatkan dan akan terus dikembangkan
seiring dengan program pembangunan yang berkesinambungan.

Menurut laporan penyelidikan terdahulu bahwa di daerah Barito Selatan


sudah diketahui adanya keterdapatan kandungan bahan galian
batubara dengan batuan penyusunnya terdiri dari Formasi Berai,
Formasi Warukin dan Formasi Montalat yang merupakan formasi
pembawa batubara (coal bearing formation).

Berdasarkan Surat Keputusan Bupati Barito Selatan Nomor : 156


Tahun 2010 tentang Pemberian Izin Usaha Pertambangan (IUP)
Eksplorasi kepada PT. Bina Insan Makmur Sentosa, tertanggal 26
Maret 2010. Atas dasar hal tersebut di atas maka telah dilakukan

Exploration Document Presented by PT. BIMS 1


kegiatan eksplorasi pengamatan geologi batubara di daerah
Kecamatan Gunung Bintang Awai, Kabupaten Barito Selatan Provinsi
Kalimantan Tengah.

I.2. Maksud dan Tujuan


Kegiatan eksplorasi pengamatan geologi batubara ini dimaksudkan
untuk mengetahui pola sebaran lapisan batubara di permukaan dengan
cara pengumpulan data semaksimal mungkin meliputi; ketebalan
lapisan batubara dan batuan lain sebagai pengapitnya, sifat fisik, arah
jurus dan kemiringan perlapisan serta ketepatan lokasi singkapan yang
diukur dengan alat Global Positioning System (GPS). Data-data
tersebut akan ditafsirkan guna mengetahui pola sebaran lapisan
batubara secara lateral yang kemudian akan dideterminasi dengan
melakukan pemboran di beberapa titik.

Adapun tujuan yang akan dicapai antara lain : agar dapat dijadikan
sebagai dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk
kegiatan lebih lanjut dalam rangka usaha pertambangan batubara di
wilayah IUP Eksplorasi. PT. Bina Insan Makmur Sentosa (BIMS).

I.3. Lokasi Daerah Penyelidikan


Secara administratif lokasi wilayah Ijin Usaha Pertambangan
Eksplorasi PT. Bina Insan Makmur Sentosan (BIMS) termasuk
Kecamatan Dusun Utara dan Kecamatan Gunung Bintang Awai,
Kabupaten Barito Selatan, Provinsi Kalimantan Tengah, dengan luas
sekitar 5.000 hektar.
Sedangkan secara geografis lokasinya dibatasi oleh koordinat-
koordinat sebagai berikut : (lihat Tabel 1. 1)

Exploration Document Presented by PT. BIMS 2


Tabel 1.1. Daftar Koordinat IUP Eksplorasi

PT. Bina Insan Makmur Sentosa

TITIK BUJUR TIMUR LINTANG SELATAN

1 115 09 00 01 23 00

2 115 14 27 01 23 00

3 115 14 27 01 20 19.68

4 115 15 00 01 20 19.68

5 115 15 00 01 26 18

6 115 12 00 01 26 18

7 115 12 00 01 24 9.5

8 115 10 52 01 24 9.5

9 115 10 52 01 24 00

10 115 09 00 01 24 00

Exploration Document Presented by PT. BIMS 3


Gambar 1.1. Peta Lokasi dan Kesampaian Daerah Peninjauan

Exploration Document Presented by PT. BIMS 4


I.4. Keadaan Lingkungan

I.4.1. Morfologi
Daerah eksplorasi pengamatan geologi batubara adalah bagian
dari Provinsi Kalimantan Tengah, secara geografi merupakan
perbukitan bergelombang dengan ketinggian antara 55 m sampai
dengan 100 m di atas permukaan air laut dengan kemiringan
lereng antara 15o sampai dengan 400, seperti yang terlihat dalam
Gambar 1.2. di bawah ini.

Gambar 1.2 : Morfologi Daerah Peninjauan PT. Bina Insan Makmur


Sentosa

Exploration Document Presented by PT. BIMS 5


Morfologi daerah eksplorasi terdiri dari dua satuan yaitu satuan
perbukitan sedimen denudasional dan satuan pedataran karst.

Morfologi satuan perbukitan sedimen denudasional menempati


bagian barat dari daerah eksplorasi dihuni oleh batuan sedimen
seperti batulanau dengan sisipan batubara, batupasir kuarsa
berbutir halus, membentuk perbukitan bergelombang (Foto 1.1.)

Foto 1.1. Satuan Geomorfologi Perbukitan Sedimen


Denudasional. Foto diambil dari arah Selatan Belingo kearah
Utara.

Morfologi satuan pedataran karst menempati bagian timur dan


selatan daerah eksplorasi dihuni oleh satuan batugamping yang
membentuk gua-gua kars dan aliran sungai bawah tanah.

Pola aliran sungai yang berkembang berupa pola anastomatik


dengan sungai utama adalah Sungai Balingo dan Sungai Ngurit,
kedua sungai tersebut bermuara di sungai Ayuh di sebelah
selatan Blok IUP PT. Bina Insan Makmur Sentosa.

Exploration Document Presented by PT. BIMS 6


Foto 1.2. Satuan Geomorfologi Pedataran Karst. Foto diambil
dari daerah Belingo kearah tenggara.

I.4.2. Tata Guna Lahan


Daerah eksplorasi pemetaan geologi batubara sebagian besar
merupakan bekas hutan produksi dari PT Sindo Lumber dan
sebagiuan kecil hutan sekunder, sering dimanfaatkan sebagai
lahan kebun karet, coklat dan hutan kayu jati meskipun ada
sebagian daerah yang dimanfaatkan sebagai lahan perladangan
padi darat dan lahan pemukiman tempat tinggal penduduk.

Foto 1.3. Hutan kayu jati dan kebun karet di wilayah IUP
Eksplorasi PT. BIMS

I.4.3. Iklim dan Curah Hujan


Iklim daerah penyelidikan adalah tropis dicirikan dengan
terdapatnya hutan kayu yang berukuran cukup besar dan tinggi.

Exploration Document Presented by PT. BIMS 7


Curah hujan berpatokan kepada dua musim yaitu musim
kemarau dan musim penghujan. Musim penghujan biasanya
terjadi antara bulan September sampai dengan bulan Pebruari
sedangkan musim kemarau biasanya terjadi mulai bulan Maret
sampai dengan Agustus meskipun diantara bulan tersebut
kadang-kadang turun hujan tapi tidak merata.

I.4.4. Penduduk, Sosial, Ekonomi dan Budaya


Wilayah IUP. PT. Bina Insan Makmur Sentosa (BIMS) termasuk
Kecamatan Gunung Bintang Awai, Kabupaten Barito Selatan,
Provinsi Kalimantan Tengah, meliputi Desa Ngurit dan Desa
Malungai Raya.

Mata pencaharian penduduk di daerah ini umumnya berkebun


karet, kebun jati, coklat, padi darat dan ada juga yang bekerja
sebagai pedagang.

Suku Dayak merupakan suku asli penduduk setempat


sedangkan suku Banjar, suku Jawa adalah sebagai pendatang.
Bahasa yang digunakan yaitu bahasa dayak, banjar, jawa dan
bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Penduduk daerah ini hampir seimbang antara menganut agama


Kristen Protestan, Katolik dengan agama islam.

Sarana keperluan umum seperti pasar tradisional yang ramainya


hanya sekali dalam satu minggu, sarana pendidikan mulai dari
tingkat taman kanak-kanak sampai dengan Sekolah Menengah
Atas, mesjid dan gereja sudah tersedia di Desa Baturaya yang
terletak disebelah timurlaut daerah peninjauan. Di Desa Baturaya
telah dibangun sebuah Tower Telekomunikasi oleh INDOSAT.
Daerah peninjauan ini dilalui oleh jalan raya provinsi di bagian
tepi barat yang menghubungkan Muarateweh dengan Ampah

Exploration Document Presented by PT. BIMS 8


dan jalan logging perusahan kayu PT. Sindo Lumber mulai dari
bagian barat sampai dengan timurluat daerah peninjauan.

Foto 1.4. Jalan Logging PT. Sindo Lumber melintasi wilayah IUP
Eksplorasi PT. Bina Insan Makmur Sentosa (BIMS)

Exploration Document Presented by PT. BIMS 9


I.5. Waktu
Waktu pelaksanaan eksplorasi secara keseluruhan memakan waktu
selama 4 (empat) bulan meliputi :
Minggu ke
No Uraian Kegiatan Ket
2 4 6 8 10 12 14 16

1 Persiapan & Perjalanan

2 Sosialisasi

3 Survei lapangan

4 Evaluasi data

5 Pemboran

6 Penyusunan laporan

I.6. Metoda dan Peralatan


Metode pelaksanaan kegiatan eksplorasi meliputi pemetaan geologi
permukaan dengan mengamati singkapan singkapan batuan yang
dijumpai, deskripsi batuan meliputi : jenis batuan, kedudukan batuan,
struktur batuan, warna, ukuran butir, bentuk butir, dll. Selain itu juga
mengamati struktur geologi yang berkembang pada daerah tersebut.

Pada beberapa lokasi yang terdapat singkapan batubara dilakukan


pengambilan conto untuk kemudian dibawa kelaboratorium untuk
dianalisa.

Setelah semua data diplotkan kedalam peta geologi, barulah kemudian


ditentukan titik titik pemboran untuk mendeterminasi keakuratan dari
penarikan kemenerusan batuan di permukaan dan membuat model
rekonstruksi bawah permukaan khususnya geometri batubara.

Exploration Document Presented by PT. BIMS 10


Adapun peralatan yangdigunakan antara lain :
- Alat tulis - Pita Ukur / meteran
- Cangkul - Palu Geologi
- GPS - Printer & Scanner
- Kamera - Plastik sampel
- Kendaraan Operasional - Peta Topografi skala 1 : 50.000
- Kompas geologi - Peralatan logistik lainnya
- Laptop - Ransel
- Linggis - Mesin pemboran (Jacro 175)
- Peta Geologi Lembar Buntok skala 1:250.000, (Soetrisno, dkk.,
1994), P3G Bandung

I.7. Pelaksana
PT. Bina Insan Makmur Sentosa bekerja sama dengan suatu
perusahaan jasa survey PT. Mahameru Jaya untuk melakukan kegiatan
eksplorasi tersebut dengan tenaga pelaksana sebagai berikut :

1. Maruli Tua J.F, ST : Penangung jawab kegiatan


2. Endang Suganda, Dipl.EG. : Geologist
3. Didi Cahyadi, ST : Geologist
4. Allan Munggar, ST : Geologist
5. Thomson Tumanggor : Logistik
6. Gindo : Mekanik
7. Bambang Widianto : Pengemudi

Exploration Document Presented by PT. BIMS 11


II. GEOLOGI
II.1. Geologi Umum
Secara geologi regional endapan batubara ditemukan dalam suatu
cekungan sedimen melalui proses pembatubaraan (coalification).
Endapan batubara biasanya hanya ditemukan dalam cekungan
cekungan yang pada saat pengendapan material sedimen muncul di
permukaan danau, delta, rawa dan bisa juga laut pada suatu sistem
geologi tertentu. Sistem geologi tertentu tersebut meliputi daerah yang
sangat luas (regional) dengan beberapa unsurnya seperti gunung,
lautan, sungai, jalur sesar, gempa, dimana semua unsur tersebut dapat
saling mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya.

Berdasarkan hasil penelitian terdahulu, Pulau Kalimantan memiliki


sejarah geologi yang cukup panjang (sekitar 65 juta tahun yang lalu)
dan proses pembentukan batubara dimulai pada awal Zaman Tersier
tepatnya pada Kala Eosen Tengah (sekitar 45 juta tahun yang lalu).

Pemahaman geologi regional dimaksudkan untuk dapat menguraikan


proses-proses geologi yang berpengaruh terhadap keterdapatan
batubara di daerah penelitian sehingga dapat membantu analisis-
analisis dalam eksplorasi awal sampai eksplorasi rinci, antara lain :
Mendapatkan gambaran variasi dan susunan umur batuan
Mendapatkan gambaran pola geometri (struktur geologi) tubuh
lapisan batubara
Dasar pemikiran untuk korelasi lapisan batubara, baik lateral
maupun vertikal, kemana arah menipis atau menebal lapisan
batubara.

II.2. Geotektonik Kalimantan


Faktor letak geotektonik sangat memegang peran penting dalam
hubungannya dengan pembentukan cekungan pengendapan batubara.
Dengan memahami latak geotektonik suatu cekungan maka akan
terlihat topografi purba dimana batubara terbentuk sehingga bisa

Exploration Document Presented by PT. BIMS 12


diketahui atau diperkirakan adanya daerah tepi daratan, arah
pengendapan dan sumber material sedimen di suatu cekungan.

Elemen tektonik di Kalimantan terdiri dari tinggian tinggian seperti


terlihat pada gambar 3, yaitu :
Pegunungan Schwaner di sebelah barat
Pegunungan Meratus, Tinggian Paternoster dan Patahan Adang di
sebelah timur
Punggungan Mangkalihat, Kuching dan Samporna di sebelah utara.

Selain tinggian tinggian tersebut di atas terdapat pula beberapa


cekungan cekungan Tersier diantara elemen struktur mayor (tinggian-
tinggian), yaitu:
Cekungan Melawi dan Ketungau di sebelah barat
Cekungan Barito, Kutai dan Tarakan di sebelah timur

Daerah penelitian termasuk ke dalam Cekungan Barito, cekungan ini


meliputi daerah seluas 70.000 km2, terletak di antara dua elemen Pra-
Tersier (Mesozoikum), (Gambar 2.1.) berumur sekitar 65 juta tahun
yang lalu yaitu :
Pegunungan Schwaner yang merupakan bagian Paparan Sunda di
sebelah barat terdiri dari batu granit (batuan kerak benua) dan
batuan metamorf. Pegunungan Schwaner telah stabil menjadi
daratan sepanjang Zaman Tersier hingga saat ini, dan terbentuk
sejak akhir Zaman Kapur. Pegunungan ini juga berperan sebagai
sumber utama material sedimen klastik di Cekungan Barito pada
Zaman Tersier. (R. Haryanto dan Baharuddin, 1995)

Exploration Document Presented by PT. BIMS 13


Gambar 2.1. : Simplifikasi peta geologi Kalimantan

Pegunungan Meratus yang merupakan suatu jalur mlange dan ofiolit


(batuan metamorf), di sebelah timur, muncul menjadi daratan sejak
akhir Kala Miosen dan menjadi sumber material sedimen pada Kala
Pliosen di Cekungan Barito. (R. Haryanto dan Baharuddin, 1995).
Tinggian melintang paternoster atau Patahan Mendatar Adang
merupakan elemen struktur besar yang memiliki sifat gerak mengiri
(sinistral) yang memisahkan Cekungan Barito dan Cekungan Kutai.
Patahan ini juga mendeformasi batuan sepanjang batas antara
Cekungan Barito dan Kutai. (A.W. Satyana, 1997).

Simplifikasi peta geologi Kalimantan, menunjukkan elemen-elemen


struktur mayor cekungan-cekungan, ketebalan sedimentasi Masa
Koneozoikum, endapan gambut-batubara dan akumulasi minyak bumi.
Modifikasi dari Wilson dan Moss, 1998. (diambil dari Steve J. Moss dan

Exploration Document Presented by PT. BIMS 14


John L.C. Chambers dalam Prosiding Indonesian Petroleum
Association 1999, halaman 188).

Gambar 2.2. Penampang Cekungan Barito (Sumber : Schlumberger


Formation Evaluation Conference Indonesia, 1986)

Suatu penampang melintang melalui Cekungan Barito menunjuk-kan


gambaran asimetrik (Gambar 3.2) disebabkan adanya gerak naik dan
gerak ke arah barat dari Pegunungan Meratus. Sedimen-sedimen
Neogen ditemukan paling tebal sepanjang bagian timur Cekungan
Barito lalu menipis ke arah barat terhadap batuan dasar dari Paparan
Sunda/ Pegunungan Schwaner.

II.3. Stratigrafi Regional

Secara regional daerah penelitian termasuk ke dalam peta geologi


Lembar Buntok skala 1:250.000, (S. Supriatna, dkk. 1994)
Urutan stratigrafi regional dari tua ke muda adalah :
1. Formasi Berai
Formasi ini terdiri dari batugamping dengan sisipan batulempung,
napal dan batubara, sebagian tersilikakan dan mengandung limonit.
Batugamping berfosil foram besar. Formasi ini diendapkan di laut
dangkal menempati perbukitan Kars yang terjal.

Exploration Document Presented by PT. BIMS 15


2. Formasi Montalat
Formasi Montalat terdiri dari batupasir kuarsa putih berstruktur
silang siur, bersisipan batulanau/serpih dan batubara. Formasi ini
merupakan formasi pembawa batubara, diendapkan di laut dangkal
terbuka dan mempunyai hubungan menjemari dengan Formasi
Berai yang berumur Oligosen sampai Miosen Awal.
3. Formasi Warukin
Formasi ini terdiri dari batupasir kasar-sedang, sebagian konglome-
ratan, batulanau dan serpih sebagai sisipan, setengah padat,
berlapis dan berstuktur silang siur. Struktur lipatan terbuka dengan
kemiringan lapisan sekitar 100. Formasi ini berumur Miosen Tengah
Miosen Atas, dengan tebal bisa mencapai 500 m, dan
diendapkan di daerah transisi. Formasi Warukin berada selaras di
atas Formasi Berai dan Montalat. Formasi ini menempati daerah
dataran menggelombang landai, di luar blok wilayah PT. Bina Insan
Makmur Sentosan (BIMS).

Exploration Document Presented by PT. BIMS 16


Tabel 2.1. : Kolom Stratigrafi Wilayah IUP PT Bina Insan Makmur Sentosa

II.4. Struktur Geologi Regional


Pemahaman struktur geologi secara regional di daerah pengamatan
akan sangat membantu dalam memperkirakan pola sebaran batubara
di bawah permukaan.

Exploration Document Presented by PT. BIMS 17


Berdasarkan peta geologi regional lembar Buntok skala 1:250.000 yang
disusun oleh S. Supriatna, dkk, 1994, (PPPG Bandung), diketahui
bahwa di atas batuan dasar (basemant), batuan sedimen Pra-Tersier
telah mengalami struktur deformasi dan membentuk lipatan antiklin,
sinklin dan sesar.

Kemiringan sayap lipatan sangat bervariasi mulai dari 100 sampai 450.
Sumbu lipatan umumnya berarah utara selatan ada pula yang
utaratimurlaut selatanbaratdaya. Antiklin umumnya tidak simetris,
sayap antiklin di bagian timur lebih tajam dari pada sayap di sebelah
barat. Sesar yang ada umumnya sesar normal dan sesar normal geser.

Pada akhir Miosen Tengah kegiatan blok Meratus mengakibatkan


Cekungan Barito menjadi terisolir dari laut terbuka ke arah timur.

Exploration Document Presented by PT. BIMS 18


III. KEGIATAN PENYELIDIKAN
III.1. Penyelidikan Sebelum Lapangan
Tahap persiapan dilakukan di kantor seperti, pengumpulan data
sekunder, persiapan peta kerja, dan perlengkapan survei lainnya.
Peta dasar yang digunakan sebagai acuan daerah penelitian adalah :
- Peta topografi skala 1 : 50.000 (sumber BAKOSURTANAL)
- Peta Geologi Lembar Buntok skala 1:250.000, (Soetrisno, dkk.,
1994), P3G Bandung

III.2. Penyelidikan Lapangan


III.2.1. Pemetaan Geologi
Pemetaan geologi batubara dilakukan dengan cara menyusuri
aliran sungai untuk mencari singkapan batubara dan batuan
lainnya di daerah yang termasuk wilayah kerja yang sudah
ditentukan batas koordinatnya sesuai Ijin Usaha Pertambangan
(IUP) yang dikeluarkan oleh Bupati Barito Selatan. Semua data
yang didapat direkam dalam bentuk data digital yang bisa
diolah dengan menggunakan alat bantu computer.

Singkapan batubara di daerah penyelidikan secara umum


keadaannya cukup baik, sifat fisiknya hitam, keras,
mengandung resin, sedikit pyrite,ketebalan lapisannya berkisar
antara 0,10 meter sampai dengan 1,75 meter , sebarannya
secara umum berarah Timur Laut Barat Daya. Batubara yang
diambil contohnya adalah lapisan yang mempunyai ketebalan
lebih besar dari 0,40 m, singkapan yang didapat sebanyak 96
lokasi pengamatan dengan jumlah contoh batubara sebanyak
34 kantong.

Metode Pengambilan contoh batubara dilakukan dengan


metode chanel sampling.

Penentuan blok prospek batubara di daerah penyelidikan pada

Exploration Document Presented by PT. BIMS 19


dasarnya ditentukan oleh ; potensi sumberdaya batubara baik
secara Kuantitas maupun Kualitas, kondisi geologi dan
penyebaran seam batubara, kondisi umum daerah yang
bersangkutan terutama yang menyangkut kondisi infrastruktur /
alternatif sarana transportasi batubara, serta tingkat kelayakan-
nya untuk dikembangkan ke tahap Eksplorasi lanjut dan
kemudian Eksploitasi, hal ini tentunya dengan mengacu kepada
Orientasi serta Skala Penambangan yang diinginkan /
direncanakan oleh Perusahaan terkait.

Dengan mempertimbangkan kriteria-kriteria tersebut di atas,


maka berdasarkan data-data hasil kegiatan penyelidikan
lapangan (Juli Agustus 2011) dapat dilokalisir : 1 (satu) BLOK
PROSPEK BATUBARA dengan luas areal 1.000 Ha, dari luas
wilayah IUP eksplorasi 5.000 Ha. (lihat Lampiran 5) Peta Blok
Prospek Batubara.

Koordinat Geografis BLOK PROSPEK BATUBARA dapat


dilihat pada Tabel 4.3. di bawah ini :

Tabel 3.1 : Daftar Koordinat Blok Prospek Batubara Wilayah


IUP PT.BIMS

TITIK BUJUR TIMUR LINTANG SELATAN

1 115 09 00 01 23 00
2 115 12 00 01 23 00
3 115 12 00 01 24 9.5
4 115 10 52 01 24 9.5
5 115 10 52 01 24 00
6 115 09 00 01 24 00

Exploration Document Presented by PT. BIMS 20


III.2.2. Pemboran
Kegiatan pemboran dilakukan masih secara acak (Random)
dengan jarak lebih kurang 500 meter.

Penentuan titik-titik pemboran dilakukan dengan cara membuat


penampang drilling line dengan mengacu pada singkapan
batubara yang dikenal. Hasil pembuatan penampang di
lapangan digambar dalam software AutoCad dan MapInfo,
kemudian ditentukan lokasi titik pemboran dan kedalaman
target lapisan batubara yang direncanakan untuk dibor.

Pemboran dilakukan dengan metoda touch core. Metoda touch


core, yaitu merupakan gabungan antara metoda open hole dan
metoda coring. Metoda open hole dilakukan pada batuan non
coal, dan metoda coring dilakukan pada saat 0.2 meter
menjelang dan sesudah seam/lapisan batubara yang
ditargetkan.

Litologi hasil coring diletakan pada pipa paralon dan dilakukan


perhitungan core recovery, kemudian dideskripsi oleh wellsite
geologist. Selanjutnya dimasukan ke dalam core box
berdasarkan urutan kedalaman dan diberi kode mengenai
lokasi atau nomor lubang pemboran, interval kedalaman, nomor
core box dan hal-hal lain yang perlu dicatat pada core box
tersebut. Setelah itu core box diangkut ke tempat
penyimpanannya.

Sampel batubara hasil pemboran diambil untuk dianalisa


dengan kriteria sebagai berikut :
Sampel batubara untuk keperluan analisa kualitas di
laboratorium diambil dari lapisan batubara dengan ketebalan
0.50 meter.

Exploration Document Presented by PT. BIMS 21


Bila lapisan batubara dengan ketebalan > 1 meter diambil
untuk setiap selang 1 meter dan apabila terdapat sisa, maka
sisa dari batubara tersebut menjadi 1 sampel tersendiri.
Parting yang berukuran <10 cm disertakan dalam sampel,
sedangkan parting berukuran 10 cm dipisahkan.
Sampel batubara yang terambil untuk dianalisa dipreparasi
dengan kantong plastik dan diberi label untuk selanjutnya
dikirim ke laboratorum.

Peralatan pemboran yang digunakan pada awal kegiatan (08


Oktober s/d 29 November 2011) antara lain:
- 2 (satu) unit mesin bor berjenis Jacro 100 yang dilengkapi
dengan peralatan pendukung lainnya. Kemampuan
kedalaman maksimum 100 meter. Ukuran Core Barrel NQ,
pipa ukuran NQ.

Peralatan pemboran yang digunakan pada tanggal 22


Agustus s/d 14 Desember 2010 , antara lain:
1 (satu) unit mesin bor berjenis Jacro 200 yang
dilengkapi dengan peralatan pendukung lainnya.
Kemampuan kedalaman maksimum 200 meter. Ukuran
Core Barrel NQ, casing ukuran HQ, pipa ukuran NQ.
1 (satu) unit mesin bor berjenis Jacro 75 yang dilengkapi
dengan peralatan pendukung lainnya. Kemampuan
kedalaman maksimum 75 meter. Ukuran Core Barrel NQ,
pipa ukuran AW

Exploration Document Presented by PT. BIMS 22


Foto 3.1 Jekro 200

Foto 3.2 Jekro 175

Foto 3.3 Jekro 175

Exploration Document Presented by PT. BIMS 23


III.3. Penyelidikan Laboratorium
Conto / sampel batubara yang telah diambil dari singkapan kemudian
dikemas dalam kantong plastik kedap udara dan diberi kode
penomoran. Sampel - sampel tersebut kemudian dikirim ke
laboratorium untuk diuji.
PT. Bina Insan Makmur Sentosa menggunakan jasa suatu perusahaan
yang memiliki laboratorium terakreditasi untuk menganalisa sampel
batubara, dengan identitas sebagai berikut :
- Nama Laboratorium : Laboratorium Sucofindo Banjarmasin
PT. Sucofindo
- Alamat : Jl. A. Yani Km. 7,8 No. 21 A, Banjarmasin

Kalimantan Selatan 70654
Telp. (0511) 271080 - 85
Faks. (0511) 258111; 264355

Daftar sampel dan hasil analisa dilampirkan dalam tabel 3.1.

III.3.1. Analisis Kimia


Metode analisis kimia dapat dilihat dalam table sebagai berikut :
Bidang Bahan Jenis pengujian Spesifikasi, Metode Keterangan
Pengujian atau atau sifat-sifat pengujian, Teknik
produk yang diukur yang digunakan
yang diuji
Kimia Batubara Total moisture ISO 589 - 1981;
ASTM D 3302 -
1999;
BS 1016.1 - 1989
Moisture in
the ASTM D 3172 -
1999; BS
analysis sample
1016.104.1 - 1991
Ash content ISO 1171 - 1997;
ASTM D 3174 -
2000;
BS 1016.104.4 -
1991

Exploration Document Presented by PT. BIMS 24


Volatile matter ISO 562 - 1998;
ASTM D 3175 -
2000;
BS 1016.104.3 -
1991
Calorific value ISO 1928 - 1995;
ASTM D 1989 -
2000;
BS 1016.105 - 1992
Total sulfur ISO 351 - 1984;
ASTM D 4239 -
2000;
BS 1016.6 - 1994

III.3.2. Analisis Fisika


Metode analisis fisika dapat dilihat dalam table sebagai berikut :
Bidang Bahan Jenis pengujian Spesifikasi, Metode Keterangan
Pengujian atau atau sifat-sifat pengujian, Teknik
produk yang diukur yang digunakan
yang
diuji
Fisika Batubara Hardgrove ISO 5074 - 1994;
ASTM D 409 - 2000;
grindability index
BS 1016.112 - 1995

III.4. Pengolahan Data


III.4.1. Pengolahan Data Geologi Permukaan
Data geologi yang terekam dari lapangan, berupa deskripsi
batuan, kedudukan lapisan batuan, kemudian diplot kedalam
peta topografi digital untuk kemudian ditarik kemenerusan dan
batas batas litologinya, proses tersebut dilakukan dengan
menggunakan computer dengan menggunakan software
pembantu berupa CAD Drawing.

Data data visual singkapan dari kamera digital kemudian


digabungkan dengan data deskripsi batuan untuk kemudian
dijadikan data log singkapan.

Dari hasil pengolahan data geologi permukaan menghasilkan


produk berupa :
- Peta Singkapan dan Perencanaan Titik Pemboran

Exploration Document Presented by PT. BIMS 25


- Peta Geologi Permukaan
- Peta Blok Area Prospek
- Sumber Daya Hipotetik Batubara

III.4.2. Pengolahan Data Pemboran


Penentuan titik-titik pemboran dilakukan dengan cara membuat
penampang drilling line dengan mengacu pada singkapan
batubara yang dikenal. Hasil pembuatan penampang di
lapangan digambar dalam software AutoCad dan MapInfo,
kemudian ditentukan lokasi titik pemboran dan kedalaman
target lapisan batubara yang direncanakan untuk dibor.

Data data hasil pemboran kemudian dikombinasikan dengan


data geologi permukaan untuk kemudian dijadikan dasar untuk
merekontruksi geologi bawah permukaan.

Produk hasil pengolahan data pemboran berupa :


- Log litologi pemboran
- Korelasi Seam batubara antar titik bor
- Peta Coal Bottom Contour
- Verifikasi Sumber Daya Batubara

Exploration Document Presented by PT. BIMS 26


IV. HASIL PENYELIDIKAN
IV.1. Geologi
Geologi daerah eksplorasi didominasi oleh satuan batuan yang
termasuk Formasi Berai dan sebagian kecil satuan batuan dari Formasi
Montalat.
IV.1.1. Stratigrafi
Secara stratigrafi daerah eksplorasi mempunyai satuan batuan
paling tua adalah Formasi Berai yang terdiri dari batugamping
dengan sisipan napal. Batugamping berwarna putih terang
putih kotor dan berlapis, mengandung fosil foraminifera besar,
sebagian dolomitan, seperti yang tersingkap di daerah
Malungai Raya. (Foto 4.1.)

Foto 4.1. Singkapan batugamping di daerah Malungai Raya

Formasi Montalat terdiri dari batupasir kuarsa sebagian bersifat


gampingan dengan sisipan batulempung dan batubara.
Formasi ini merupakan formasi pembawa batubara. Formasi ini

Exploration Document Presented by PT. BIMS 27


mempunyai hubungan menjemari dengan Formasi Berai yang
berumur Oligosen sampai Miosen.

Selama pengamatan di lapangan singkapan batubara dijumpai


sebanyak 96 lokasi (Lampiran 2). Lapisan yang paling tebal
terdapat di lokasi BM AM 04 yaitu 1,70 m di daerah Balingo,
koordinat 297671.17 E, 9846694.95 S. (Foto 4.2.). Lapisan
batubara yang paling tipis antara lain di lokasi BM DC 34 yaitu
0,10 m di daerah Balingo, koordinat : 298370.36 E, 9845643.50
S.

Foto 4.2. Singkapan batubara tebal 1,70 m, di lokasi BM AM 04,


koordinat 297671.17 E, 9846694.95 S.

Singkapan batubara yang terdiri dari 5 (lima) lapisan adalah di


lokasi BM DC 08, koordinat : 297583.27 E, 9846050.19 S di
daerah Balingo, ketebalan lapisannya dari atas ke bawah
adalah 0,60 m, 0,10 m, 0,55m, 0,70 m, 0,40 m. (Foto 4.3)

Exploration Document Presented by PT. BIMS 28


Foto 4.3. Singkapan batubara mempunyai 5 lapisan di lokasi
BM DC 08,Koordinat; 297583.27 E, 9846050.19 S

Secara rinci setiap singkapan batubara direkam dalam


lembaran Log Outcrop Batubara dan dalam laporan ini disajikan
sebagai lampiran.

IV.1.2. Struktur Geologi


Sepanjang pengamatan geologi dan struktur di lapangan
daerah eksplorasi IUP PT. Bina Insan Makmur Sentosa secara
setempat tidak banyak dipengaruhi oleh kegiatan struktur
geologi seperti sesar dan lipatan.

IV.1.3. Singkapan Endapan Batubara


Daerah yang berpotensi batubara terdapat pada batuan dari
Formasi Montalat tersebar di daerah Balingo dengan cakupan
luas sekitar 1.000 hektar dari wilayah IUP Eksplorasi PT. Bina
Insan Makmur Sentosa seluas 5.000 ha. Hasil rekontruksi data

Exploration Document Presented by PT. BIMS 29


singkapan batubara dapat diasumsikan bahwa pada daerah
seluas 1.000 ha ada 10 (sepuluh) seam yaitu mulai dari Seam
A sampai dengan Seam J.

Seam A
Seam berada di bagan timur daerah peninjauan dan secara
stratigrafi merupakan lapisan tertua. Jumlah singkapan
ditemukan sebanyak 4 lokasi yaitu ; BM AM39, BM AM40, BM
AM41 dan BM DC60 dengan ketebalan masing-masing 0,50 m,
0,35 m, 0,35m dan >0,15m.

Foto 4.4. Singkapan batubara lokasi BM AM39, tebal 0,50 m

Seam B
Seam B ini masih berada di bagan timur daerah peninjauan dan
secara stratigrafi merupakan lapisan lebih muda dari seam A.
Jumlah singkapan ditemukan sebanyak 7 lokasi yaitu ; BM
AM39, BM AM40, BM AM41 dan BM DC49, BM DC50, BM
DC52, BM DC54, BM DC61 dan BM DC63, dengan ketebalan
berkisar antara 0,10 sampai dengan 0,50 m.

Exploration Document Presented by PT. BIMS 30


Foto 4.5. Singkapan batubara lokasi BM DC54, tebal 0,50 m

Singkapan BM DC54, (Foto 4.5) di S. Balingo, koordinat S 010


23 12,8, E 1150 11 35,4 mempunyai arah jurus N2000E
kemiringan 190 batubara warna hitam, gores coklat, kilap terang
pekat, subconchoidal, keras agak keras, mengandung
resin, cleat memotong, di bagian bawah ada parting
batulempung karbonan 0,03 m, batuan pengapitnya adalah
batulempung abu-abu, lunak di bagian bawah, sedangkan di
bagian atasnya adalah soil coklat kekuningan, lunak.

Seam C
Seam C mempunyai titik pengamatan contoh batubara
sebanyak 11 lokasi yaitu; BM DC30, BM DC31, BM DC32, BM
DC33, BM DC34, BM DC40, BM DC46, BM DC47, BM DC48
dan BM DC64. Ketebalan berkisar antara >0,10 m sampai
dengan 1,42 m, sedangkan BM DC31 di S. Karamo mempunyai
3 lapisan, dari bawah ke atas 0,15 m, 0,20 m dan 0,30 m, (Foto
4.6)

Exploration Document Presented by PT. BIMS 31


Foto 4.6. Singkapan batubara lokasi BM DC31, mempunyai 3
lapisan, Koordinat S 010 23 47,1, E 1150 11 08,6

Seam D
Seam D mempunyai titik pengamatan contoh batubara
sebanyak 5 lokasi yaitu; BM DC26, BM DC28, BM DC43, BM
DC44 dan BM AM32. Ketebalan berkisar antara >0,20 m
sampai dengan 0,37 m, sedangkan BM DC28 di S. Karamo
mempunyai 2 lapisan, dari bawah ke atas 0,37 m, dan 0,30 m,
(Foto 4.7)

Exploration Document Presented by PT. BIMS 32


Foto 4.7. Singkapan batubara lokasi BM DC28, mempunyai
2 lapisan, Koordinat S 010 23 45,5, E 1150 11 04,2

Seam E
Seam E mempunyai titik pengamatan contoh batubara
sebanyak 9 lokasi yaitu; BM DC02, BM DC03, BM DC04, BM
DC05, BM DC06, BM DC37, BM DC38, BM DC65 dan BM
AM37. Ketebalan berkisar antara 0,30 m sampai dengan 1,43
m, sedangkan BM DC37 mempunyai 2 lapisan, dari bawah ke
atas 0,70 m, dan 0,35 m. Singkapan batubara dengan
ketebalan 1,43 terdapat di S. Balingo lokasi BM DC65 pada
koordinat S 010 23 08,0, E 1150 11 30,5, arah jurus dan
kemiringannya adalah N1900E/140, batubara warna hitam,
gores hitam, kilap terang pekat, subconchoidal, keras,
mengandung resin, cleat sejajar. Batuan pengapitnya di bagian
bawah batulempung abu-abu tua, lunak sedangkan di bagian
atas adalah soil coklat kekuningan, lunak. (Foto 4.8)

Exploration Document Presented by PT. BIMS 33


Foto 4.8. Singkapan batubara lokasi BM DC65, mempunyai
ketebalan 1,43 m, di S.Balingo

Seam F
Seam F mempunyai titik pengamatan contoh batubara
sebanyak 11 lokasi yaitu; BM DC01, BM DC09, BM DC35, BM
DC36, BM DC55, BM DC56, BM DC57, BM DC66 BM AM35,
BM AM36 dan BM AM38. Ketebalan berkisar antara 0,30 m
sampai dengan 1,0 m. Singkapan batubara dengan ketebalan
1,0 terdapat di S. Karamo II lokasi BM DC57 pada koordinat S
010 23 12,6, E 1150 11 09,2, arah jurus dan kemiringannya
adalah N1830E/120, batubara warna hitam kecoklatan, gores,
coklat, kilap pekat pudar, subconchoidal, keras, mengandung
resin, cleat memotong. Batuan pengapitnya di bagian bawah
batulempung karbonan hitam lunak, sedangkan di bagian atas
adalah soil coklat tua, lunak. (Foto 4.9)

Exploration Document Presented by PT. BIMS 34


Foto 4.9. Singkapan batubara lokasi BM DC57, mempunyai
ketebalan 1,0 m, di S.Karamo II

Seam G
Seam G mempunyai titik pengamatan contoh batubara
sebanyak 13 lokasi yaitu; BM DC08, BM DC10, BM DC11, BM
DC12, BM DC14, BM AM05, BM AM03, BM AM02, BM AM09,
BM AM08, BM AM33, BM AM34 dan BM AM01. Ketebalan
berkisar antara 0,55 m sampai dengan >1,75 m. sedangkan BM
DC08 mempunyai 4 lapisan, dari bawah ke atas 0,40 m, 0,70
m, 0,65 m dan 0,60 m. Singkapan batubara dengan ketebalan
>1,75 terdapat di anak S. Karamo BM AM08 pada koordinat S
010 23 16,9, E 1150 10 51,2, arah jurus dan kemiringannya
adalah N2080E/190, batubara warna hitam, gores coklat, kilap
agak terang, subconchoidal, keras, mengandung resin, cleat
memotong. Battom tidak tersingkap. (Foto 4.10)

Exploration Document Presented by PT. BIMS 35


Foto 4.10. Singkapan batubara lokasi BM AM08, mempunyai
ketebalan >1,75 m, di anak S.Karamo

Seam H
Seam H mempunyai titik pengamatan contoh batubara
sebanyak 8 lokasi yaitu; BM DC16, BM DC58, BM AM07, BM
AM06, BM AM13, BM AM24, BM AM04, dan BM AM010.
Ketebalan berkisar antara 0,55 m sampai dengan >1,70 m.
sedangkan BM AM10 mempunyai 2 lapisan, dari bawah ke atas
>1,55 m, dan >1,10 m. Singkapan batubara dengan ketebalan
>1,70 terdapat di anak S. Karamo BM AM04 pada koordinat S
010 23 10,7, E 1150 10 52,3, arah jurus dan kemiringannya
adalah N2150E/200, batubara warna hitam kecoklatan, gores
coklat, kilap pudar bintik terang, subconchoidal, keras,
mengandung resin, cleat memotong. Battom tidak tersingkap.
(Foto 4.11)

Exploration Document Presented by PT. BIMS 36


Foto 4.11. Singkapan batubara lokasi BM AM04, mempunyai
ketebalan >1,70 m, di S.Karamo

Seam H1
Seam H1 mempunyai titik pengamatan contoh batubara
sebanyak 3 lokasi yaitu; BM DC17, BM DC18, dan BM AM23.
Ketebalan berkisar antara >0,20 m sampai dengan >0,40 m.
Singkapan batubara dengan ketebalan >0,40 terdapat di S.
Karamo BM AM23 pada koordinat S 010 23 20,0, E 1150 10
39,9, arah jurus dan kemiringannya adalah N1950E/250,
batubara warna hitam kecoklatan, gores coklat, kilap pudar
agak terang, subconchoidal, keras, mengandung resin, cleat
memotong. Battom tidak tersingkap. (Foto 4.12)

Exploration Document Presented by PT. BIMS 37


Foto 4.12. Singkapan batubara lokasi BM AM23, mempunyai
ketebalan 0,40 m, di S.Karamo

Seam I
Seam I mempunyai titik pengamatan contoh batubara sebanyak
12 lokasi yaitu; BM DC19, BM DC20, BM DC21, BM AM15, BM
AM14, BM AM22, BM AM21, BM AM20, BM AM19, BM AM18,
BM AM17 dan BM AM016. Ketebalan berkisar antara >0,15 m
sampai dengan >1,0 m. sedangkan BM AM15 mempunyai 2
lapisan, dari bawah ke atas >0,50 m, dan >1,0 m. Singkapan
batubara dengan ketebalan >1,2 terdapat di S. Karamo BM
AM14 pada koordinat S 010 23 17,6, E 1150 10 37,2, arah
jurus dan kemiringannya adalah N2000E/160, batubara warna
hitam kecoklatan, gores coklat, kilap agak pudar,
subconchoidal, keras, mengandung resin, cleat memotong.
Batuan pengapitnya di bagian bawah batulempung abu-abu
kompak, plastis, lunak sedangkan di bagian atas adalah
batulempung karbonan, lunak. (Foto 4.13)

Exploration Document Presented by PT. BIMS 38


Foto 4.13. Singkapan batubara lokasi BM AM14, mempunyai
ketebalan 1,20 m, di S.Karamo

Seam J
Seam J mempunyai titik pengamatan contoh batubara
sebanyak 9 lokasi yaitu; BM DC23, BM DC24, BM DC25, BM
AM25, BM AM27, BM AM26, BM AM29, BM AM30, dan BM
AM31. Ketebalan berkisar antara 0,30 m sampai dengan 0,8 m.
Singkapan batubara dengan ketebalan 0,80 m terdapat di S.
Karamo BM AM26 pada koordinat S 010 23 41,5, E 1150 10
06,6, arah jurus dan kemiringannya adalah N630E/250,
batubara warna hitam kecoklatan, gores coklat, kilap agak
pudar, subconchoidal, keras, mengandung resin, cleat
memotong. Battom tidak tersingkap (Foto 4.14)

Exploration Document Presented by PT. BIMS 39


Foto 4.14. Singkapan batubara lokasi BM AM26, mempunyai
ketebalan >0,80 m, di S. Pantak Jatuh

IV.1.4. Singkapan Non Batubara


Daerah penelitian singkapan non batubara didominasi oleh
batugamping terubu dan sedkit batugamping klastik.
Batugamping, berwarna putih keabuan, sangkeras, massive,
mengandung foraminifera dan sebagian terkersikan, ini banyak
tersingkap di daerah Malungai Raya sampai perbatasan
dengan Balingo di bagian utara dan Baturaya dan Bulu di
bagian timurlaut.

Foto 4.15. Singkapan batugamping di daerah Malungai Raya


mempunyai stalaktit sangat indah

Exploration Document Presented by PT. BIMS 40


Di daerah batugamping ini dicirikan dengan adanya sungai di
bawah tanah dan morfologi karst, dengan vegetasi hutan jati
dan pohon coklat. Singkapan non batubara di bagian barat
daerah penelitian ditemukan pula singkapan batupasir kuarsa,
Batupasir kuarsa, abu-abu kecoklatan, menyudut, kemas
terbuka, agak keras, massive dan lempung karbonan hitam,
lunak.

Foto 4.16. Singkapan batupasir di daerah Balingo

Rekapitulasi singkapan non batubara dapat dilihat pada tabel


dan dalam laporan ini disajikan sebagai lampiran.

Exploration Document Presented by PT. BIMS 41


IV.2. Pemboran
Kegiatan pemboran dilaksanakan pada tanggal 8 oktober 2011 dan
berakhir pada tanggal 1 januari 2012, dengan rincian dapat dilihat pada
tabel 5.1.

Tabel 5.1 Bore hole

DRILL GPS
DATE
HOLE SITE COORDINATE Elev.
E S ASL
START FINISH NO. NO
(m) (m) (m)
0 0
8 Okt 2011 12 Okt 2011 BH08 BH08 115 10' 53.9'' 1 23' 14.4'' 91
0 0
8 Okt 2011 16 Okt 2011 BH03 BH03 115 10' 46.5'' 1 23' 36.6'' 93
14 Okt 2011 16 Okt 2011 BH07 BH07 1150 10' 51.2'' 10 23' 09.8'' 83
0 0
17 Okt 2011 19 Okt 2011 BH09 BH09 115 10' 49.9'' 1 23' 15.2'' 76
0 0
17 Okt 2011 20 Okt 2011 BH04 BH04 115 10' 44.7'' 1 23' 40.9'' 92
0 0
21 Okt 2011 23 Okt 2011 BH10 BH10 115 10' 41.8'' 1 23' 20.3'' 97
0 0
22 Okt 2011 30 Okt 2011 BH05 BH05 115 10' 52.9'' 1 23' 45.5'' 85
0 0
31 Okt 2011 8-Nov-11 BH17 BH17 115 11' 02.5'' 1 23' 44.9'' 80
0 0
7-Nov-11 12-Nov-11 BH12 BH12 115 10' 34.4'' 1 23' 17.1'' 90
0 0
9-Nov-11 13-Nov-11 BH15 BH15 115 11' 08.3'' 1 23' 46.1'' 90
0 0
14-Nov-11 20-Nov-11 BH01 BH01 115 11' 03.7'' 1 23' 21.0'' 98
0 0
14-Nov-11 23-Nov-11 BH06 BH06 115 10' 59.9'' 1 23' 03.8'' 64
0 0
22-Nov-11 25-Nov-11 BH02 BH02 115 11' 7.62'' 1 23' 12.5'' 92
0 0
7-Dec-11 8-Dec-11 BH13 BH13 115 10' 14.1'' 1 23' 39.9'' 129
0 0
13-Dec-11 18-Dec-11 BH19 BH19 115 10' 37.3'' 1 23' 51.2'' 132
0 0
16-Dec-11 18-Dec-11 BH11 BH11 115 11' 30.3'' 1 23' 01.8'' 82
0 0
22-Dec-11 27-Dec-11 BH14 BH14 115 11' 28.7'' 1 23' 17.3'' 91
0 0
22-Dec-11 24-Dec-11 BH20 BH20 115 11' 15.0'' 1 23' 25.9'' 132
0 0
25-Dec-11 1-Jan-12 BH18 BH18 115 11' 21.5'' 1 23' 29.1'' 90

Berdasarkan hasil interpretasi dan korelasi dari setiap ketebalan

batubara data hasil pemboran yang ditemukan di daerah eksplorasi,

dengan memperhatikan kesamaan ciri fisik dan posisi stratigrafi lapisan

batubara, lapisan pengapit dan batuan lain antar lapisan, maka dapat

disimpulkan bahwa di daerah pemboran setidaknya terdapat 10

(sepuluh) lapisan batubara (coal seam) utama, dan 9 (Sembilan)

Exploration Document Presented by PT. BIMS 42


lapisan batubara (coal seam) acssecories. Lapisan lapisan tersebut

diurutkan dari lapisan paling atas ke bawah adalah sebagai berikut:

Seam A
Seam A memiliki ketebalan > 0.34 m, belum di bor.

Seam B
Seam B memiliki ketebalan > 0.31 , belum di bor.

Seam C
Lapisan batubara ini didapatkan pada titik bor BH-11, BH-15 dan BH-
18, dengan ketebalan yang bervariasi yaitu dari ketebalan BH-11 (0.71
m), BH-15 (0.73 m) dan BH-18 (0.92 m) dengan (ketebalan rata-rata
0.79 meter). Secara megaskopis batubara pada lapisan ini berwarna
hitam kecoklatan, kilap terang 40-60%, kekerasan keras. Batuan
pengapit lapisan ini adalah batupasir untuk BH-11 dan BH-15 sebagai
atap (roof) dan untuk BH-18 batulempung sebagai batuan atap dan
batupasir sebagai batuan dasar (floor). Acuan penempatan titik bor
mengacu pada autcrop BM AM 44, BM DC 65, BM DC 33, BM DC 32,
BM DC 31, BM DC 30.

Seam C1
Lapisan batubara ini didapatkan pada titik bor BH-14 dan BH-18,
dengan ketebalan yang bervariasi yaitu dari ketebalan BH-14 (0.36 m)
dan BH-18 (0.27 m) dengan (ketebalan rata-rata 0.32 meter). Secara
megaskopis batubara pada lapisan ini berwarna hitam kecoklatan, kilap
terang 40-60%, kekerasan keras. Batuan pengapit lapisan ini adalah.
Atap (roof) dan dasar (floor) adalah batuan lempung. Seam ini
merupakan pecahan dari seam C penarikan penyebaran batubara pada
kegiatan mapping, penarikan seam ini mengacu dari outcrop BM DC
47, BM DC 54.

Exploration Document Presented by PT. BIMS 43


Seam D
Lapisan Batubara (coal seam) D didapatkan pada titik bor BH-17 dan
BH-20, dengan ketebalan 0.87 dan 1.75 m dengan (ketebalan rata-rata
1.31). Secara megaskopis batubara pada lapisan ini berwarna hitam
kecoklatan, kilap terang 40-60%, kekerasan keras dan pada lapisan
batubbara terdapat parting 10-13 cm. Batuan pengapit lapisan ini
adalah batupasir pada Atap (roof) dan batulempung pada dasar (floor).
Acuan penempatan titik bor ini adalah BM DC 26, 28, 44.

Seam E
Seam ini didapatkan pada titik bor BH-2 dan BH-5, dengan ketebalan
0.87 m dan 0.92 m dengan (ketebalan rata-rata 0.83 m). Secara
megaskopis batubara pada lapisan ini berwarna hitam kecoklatan, kilap
terang 40-60%, kekerasan keras. Batuan pengapit lapisan ini adalah
mudstone sebagai batuan atap (roof) dan batuan mudstone untuk BH-5
dan batu pasir untuk BH-2 lapisan dasar (floor). Penariakan seam ini
acuan dari outcrop BM DC 3, 4, 5, 6, 38 dan BM DC 66.

Seam E1
Seam ini didapatkan pada titik bor BH-1, BH-2 dan BH-5, dengan
ketebalan 1.1 m, 0.59 dan 0.8 m dengan (ketebalan rata-rata 0.83 m).
Secara megaskopis batubara pada lapisan ini berwarna hitam
kecoklatan, kilap terang 40-60%, kekerasan keras. Batuan pengapit
lapisan ini adalah mudstone sebagai batuan atap (roof) dan lapisan
dasar (floor). Penarikan seam ini dipengaruhi oleh outcrop yang BM DC
55, 56, 57, 35, 1, 2, 3, 4.

Seam E2
Seam ini didapatkan pada titik bor BH-1, BH-2 dan BH-5, dengan
ketebalan 0.78 m, 0.68 dan 0.5 m dengan (ketebalan rata-rata 0.65 m).
Secara megaskopis batubara pada lapisan ini berwarna hitam
kecoklatan, kilap terang 40-60%, kekerasan keras. Batuan pengapit

Exploration Document Presented by PT. BIMS 44


lapisan ini adalah batupasir pada BH-1 dan BH-2dan pada BH-5 adalah
batulempung sebagai batuan atap (roof) dan mudstone pada lapisan
dasar (floor).

Seam E3
Seam ini didapatkan pada titik bor BH-1dan BH-2 dengan ketebalan 0.4
m dan 0.15 dengan (ketebalan rata-rata 0.28 m). Secara megaskopis
batubara pada lapisan ini berwarna hitam kecoklatan, kilap terang 40-
60%, kekerasan keras. Batuan pengapit lapisan ini adalah batupasir
pada BH-1 dan BH-2dan pada BH-5 adalah batulempung sebagai
batuan atap (roof) dan lapisan dasar (floor). Penempatan titik pada
seam ini mengacu pada outcrop BM DC 3, BM DC 37.

Seam E4
Seam ini didapatkan pada titik bor BH-3, BH-4 dan BH-19 dengan
ketebalan 1.64 m, 1.6 dan 1.3 dengan (ketebalan rata-rata 1.51 m).
Secara megaskopis batubara pada lapisan ini berwarna hitam
kecoklatan, kilap terang 40-60%, kekerasan keras. Batuan pengapit
lapisan ini adalah batupasir pada BH-3, BH-4 dan BH-19 adalah
batulempung sebagai batuan atap (roof) dan lapisan dasar (floor).
Penarikan seam ini mengacu pada uotcrop BM DC 12.

Seam F
Lapisan batubara ini didapatkan pada titik bor bor BH-3, BH-4, dengan
ketebalan 1.1 m, 1.5 m (ketebalan rata-rata 1.3 meter). ). Secara
megaskopis batubara pada lapisan ini berwarna hitam kecoklatan, kilap
terang 40-60%, kekerasan keras. Batuan pengapit lapisan ini adalah
batulempung sebagai batuan atap (roof) dan lapisan dasar (floor).
Penempatan titik ini mengacu pada outcrop BM DC 9, 10, 11.

Seam G
Lapisan batubara ini didapatkan pada titik BH-6 dan BH 8, memiliki
ketebalan yang bervariasi yaitu dari 1.55 dan 2 meter dengan

Exploration Document Presented by PT. BIMS 45


(ketebalan rata-rata 1.78 meter). ). Secara megaskopis batubara pada
lapisan ini berwarna hitam kecoklatan, kilap terang 40-60%, kekerasan
keras. Batuan pengapit lapisan ini adalah batulempung sebagai batuan
atap (roof) dan madstone pada lapisan dasar (floor). Untuk BH-8 titik ini
mengacu pada singkapan BM AM 03 yang dimana terdapat singkapan
batubara dengan ketebalan 0.6 m dan 1.4 m yang disela lapisan
terdapat shalycoal dengan ketebalan 0.4 m, penjumlahan batubara
pada titik ini di satukan menjadi 2 meter karena loss core.

Seam G1
Lapisan batubara ini didapatkan pada titik bor bor BH-7, BH-9, dan BH-
10 dengan ketebalan 0.5 m, 1 m dan 0.95 m dengan (ketebalan rata-
rata 0.82 meter). Secara megaskopis batubara pada lapisan ini
berwarna hitam kecoklatan, kilap terang 40-60%, kekerasan keras.
Batuan pengapit lapisan ini adalah mudstone sebagai batuan atap
(roof) dan lapisan dasar (floor). Penarikan seam ini mengacu pada
outcrop BM AM 5, 7.

Seam H
Lapisan ini didapatkan pada lokasi titik bor BH-7, BH-9, dan BH-10,
dengan ketebalan 1.75, 1.54 dan 1.7, dengan (ketebalan rata-rata
lapisan adalah 1.66 meter). Secara megaskopis batubara pada lapisan
ini berwarna hitam kecoklatan, kilap terang 40-60%, kekerasan keras.
Batuan pengapit lapisan ini adalah mudstone sebagai batuan atap
(roof) dan lapisan dasar (floor). Penariakan seam ini mengacu pada
outcrop BM AM 6, 8.

Seam H1
Lapisan ini didapatkan pada lokasi titik bor BH-7, BH-9, dan BH-10,
dengan ketebalan 0.65, 0.75 dan 0.41, dengan (ketebalan rata-rata
lapisan adalah 0.6 meter). Secara megaskopis batubara pada lapisan
ini berwarna hitam kecoklatan, kilap terang 40-60%, kekerasan keras.
Batuan pengapit lapisan ini adalah claystone sebagai batuan atap (roof)

Exploration Document Presented by PT. BIMS 46


dan mudstone pada lapisan dasar (floor). Acuan penempatan titik ini
mengacu pada ada nya outcrop BM AM 4, 5.

Seam H2
Seam B memiliki ketebalan > 0.3, belum di bor.

Seam H3

Lapisan ini didapatkan pada lokasi titik bor BH-12 dan BH-16B, dengan
ketebalan 0.1 m, 0.35 m, dengan (ketebalan rata-rata lapisan adalah
0.23 meter). Secara megaskopis batubara pada lapisan ini berwarna
hitam kecoklatan, kilap terang 40-60%, kekerasan keras. Batuan
pengapit lapisan ini adalah mudstone sebagai batuan atap (roof ) pada
BH-12 dan sandstone pada BH-16B dan mudstone pada lapisan dasar
(floor). Penrikan seam ini mengacu pada outcrop BM AM 14, 21.

Seam I
Lapisan ini didapatkan pada lokasi titik bor BH-12, 16A dan BH-16B,
dengan ketebalan 0.92 m, 0.63 m, dan 0.6 m, dengan (ketebalan rata-
rata lapisan adalah 0.72 meter). Secara megaskopis batubara pada
lapisan ini berwarna hitam kecoklatan, kilap terang 40-60%, kekerasan
keras. Batuan pengapit lapisan ini adalah claystone sebagai batuan
atap (roof ) pada BH-12, 16A dan sandstone pada BH-16B dan
mudstone pada lapisan dasar (floor). Penentuan titik ini mengacu pada
outcrop BM AM 15, 17, 18, 19, 21.

Seam J
Lapisan ini didapatkan pada lokasi titik bor BH-13, dengan ketebalan
0.85 m, dengan (ketebalan rata-rata lapisan adalah 0.85 meter). Secara
megaskopis batubara pada lapisan ini berwarna hitam kecoklatan, kilap
terang 40-60%, kekerasan keras. Batuan pengapit lapisan ini adalah
sebagai sa ndstone batuan atap (roof dan pada lapisan dasar (floor).

Exploration Document Presented by PT. BIMS 47


Acuan dari penempatan titik bor mengacu pada outcrop BH DC 23, 24,
25.
Sampel batubara yang diambil dari hasil coring adalah sebanyak 21
sampel, Sampel-sampel tersebut berasal dari kegiatan pemboran sbb :

Tabel 4.2. Daftar Sampel Hasil Pemboran

Depth
Sample Thickness Sample No. of
Seam From To DATE
ID (m) Description Bags
(m) (m)
BH01001 14.45 14.60 0.15 Coal 1 Of 1 18-Nov-11
BH01002 24.80 25.58 0.78 Coal 1 Of 1 19-Nov-11
BH01003 39.85 40.58 0.73 Coal 1 Of 1 19-Nov-11
BH01004 40.85 40.95 0.10 Coal 1 Of 1 20-Nov-11
BH02001 10.55 10.95 0.40 Coal 1 Of 1 23-Nov-11
BH02002 22.65 23.00 0.35 Coal 1 Of 1 24-Nov-11
BH02003 25.85 26.68 0.83 Coal 1 Of 1 24-Nov-11
BH02004 42.70 43.29 0.59 Coal 1 Of 1 25-Nov-11
BH02005 46.72 47.01 0.29 Coal 1 Of 1 25-Nov-11
BH03001 23.80 24.30 0.50 Coal 1 Of 1 12-Oct-11
BH03002 24.47 24.90 0.43 Coal 1 Of 1 14-Oct-11
BH03003 25.70 27.30 1.60 Coal 1 Of 1 15-Oct-11
BH03004 41.10 41.90 0.80 Coal 1 Of 1 16-Oct-11
BH04001 19.00 20.45 1.45 Coal 1 Of 1 19-Oct-11
BH04002 20.67 21.20 0.53 Coal 1 Of 1 19-Oct-11
BH04003 21.90 22.31 0.41 Coal 1 Of 1 19-Oct-11
BH04004 24.47 24.67 0.20 Coal 1 Of 1 20-Oct-11
BH05001 9.50 10.00 0.50 Coal 1 Of 1 24-Oct-11
BH05002 19.30 20.10 0.80 Coal 1 Of 1 25-Oct-11
BH05003 30.80 30.89 0.09 Coal 1 Of 1 28-Oct-11
BH05004 35.20 36.12 0.92 Coal 1 Of 1 29-Oct-11
BH06001 1.55 3.10 1.55 Coal 1 Of 1 14-Nov-11
BH06002 5.30 5.67 0.37 Coal 1 Of 1 14-Nov-11
BH06003 18.00 19.00 1.00 Coal 1 Of 1 15-Nov-11
BH07001 23.76 25.46 1.70 Coal 1 Of 1 15-24-2011
BH08001 22.85 23.21 0.36 Coal 1 Of 1 9-Oct-11
BH08002 24.46 24.70 0.24 Coal 1 Of 1 9-Oct-11
BH08003 32.01 32.54 0.53 Coal 1 Of 1 11-Oct-11
BH09001 9.36 9.73 0.37 Coal 1 Of 1 17-Oct-11
Carbonaceous
BH09002 9.73 9.79 0.06 1 Of 1 17-Oct-11
mudstone

Exploration Document Presented by PT. BIMS 48


BH09003 9.79 9.91 0.12 Coal 1 Of 1 17-Oct-11
BH09004 16.81 18.56 1.75 Coal 1 Of 1 18-Oct-11
BH09005 40.61 40.91 0.30 Coal 1 Of 1 19-Oct-11
Carbonaceous
BH09006 40.91 41.03 0.12 1 Of 1 19-Oct-11
mudstone
BH09007 41.03 41.61 0.58 Coal 1 Of 1 19-Oct-11
BH10001 8.30 8.95 0.65 Coal 1 Of 1 21-Oct-11
BH10002 21.25 22.79 1.54 Coal 1 Of 1 22-Oct-11
BH10003 41.10 42.06 0.96 Coal 1 Of 1 22-Oct-11
BH11001 21.30 22.01 0.71 Coal 1 Of 1 16-Dec-11
BH12001 3.20 4.12 0.92 Coal 1 Of 1 8-Nov-11
BH12002 27.80 28.10 0.30 Coal 1 Of 1 11-Nov-11
BH12003 40.75 40.98 0.23 Coal 1 Of 1 12-Nov-11
BH13001 33.90 34.36 0.46 Coal 1 Of 1 8-Dec-11
BH13002 34.60 34.75 0.15 Coal 2 Of 1 8-Dec-11
BH14001 20.40 20.76 0.36 Coal 1 Of 1 23-Dec-11
BH15001 19.60 19.96 0.36 Coal 1 Of 1 9-Nov-11
BH15002 33.30 34.22 0.92 Coal 1 Of 1 11-Nov-11
BH16A001 6.10 6.31 0.21 Coal 1 Of 1 29-Oct-11
Carbonaceous
BH16A002 6.31 6.38 0.07 1 Of 1 29-Oct-11
mudstone
BH16A003 6.38 6.73 0.35 Coal 1 Of 1 29-Oct-11
BH16B001 12.35 12.58 0.23 Coal 1 Of 1 31-Oct-11
Carbonaceous
BH16B002 12.58 12.65 0.07 1 Of 1 31-Oct-11
mudstone
BH16B003 12.65 12.95 0.30 Coal 1 Of 1 31-Oct-11
BH17001 20.60 20.96 0.36 Coal 1 Of 1 31-Oct-11
BH17002 21.09 21.47 0.38 Coal 1 Of 1 31-Oct-11
BH18001 11.10 11.83 0.73 Coal 1 Of 1 28-Dec-11
BH18002 31.26 31.53 0.27 Coal 1 Of 1 30-Dec-11
BH19001 20.32 21.22 0.90 Coal 1 Of 1 14-Dec-11
BH19002 21.22 21.62 0.40 Coal 1 Of 1 14-Dec-11
BH20001 25.69 27.20 1.51 Coal 1 Of 1 23-Dec-11
BH20002 27.30 27.54 0.24 Coal 1 Of 1 23-Dec-11

Exploration Document Presented by PT. BIMS 49


IV.3. Estimasi Sumber Daya/Cadangan
Metode atau sistim yang digunakan dalam perhitungan sumberdaya
batubara di daerah penyelidikan adalah Sistim USGS (System of United
States Geological Survey), kemudian dikombinasi dengan prakiraan nilai
Coal Ratio / Stripping Ratio yang diinginkan, atau kedalaman
penambangan yang direncanakan untuk tambang terbuka (open-pit
minning) skala menengah.

Kriteria-kriteria umum dalam Perhitungan Sumberdaya Batubara dengan


Sistim USGS, adalah sebagai berikut :
Panjang sebaran batubara ke arah jurus bidang lapisan / seam
batubara (on-strike) sejauh yang masih dapat diidentifikasi, dan
diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) kategori, yaitu sebagai berikut :
1) Kategori Terukur (Measured), sebaran lapisan diasumsikan 2 (0
400) meter.
2) Kategori Terindikasi (Indicated), sebaran lapisan diasumsikan 2
(400 1.200) meter.
3) Kategori Tereka (Inferred), sebaran lapisan diasumsikan 2 (1.200
4.800) meter.
4) Lebar sebaran seam batubara ke arah kemiringan bidang lapisan
(dip), dihitung sampai kedalaman tambang tertentu sesuai dengan
Coal Ratio / Stripping Ratio yang direncanakan, dengan slope
stability untuk penambangan terbuka sekitar 45 atau 100%
(Gambar 4.2.).
- Sebaran seam batubara baik ke arah on-strike maupun ke arah
down-dip dianggap menerus, tanpa terjadi perubahan yang diakibatkan
oleh mekanisme sedimentasi, kondisi topografi, atau gejala alam
lainnya (pelapukan dan erosi).
- Penyebaran lapisan / seam batubara ini hanya akan dibatasi oleh ;
Batas Daerah Penyelidikan / Blok Prospek Batubara, Zona Struktur
Geologi, serta Batas Formasi Batuan Pembawa Batubara yang berada
/ tersebar di Daerah Penyelidikan.

Exploration Document Presented by PT. BIMS 50


Klasifikasi tersebut didasarkan pada jarak atau panjang sebaran seam
batubara maksimal dihitung dari titik singkapan ke arah on-strike, dengan
tingkat keyakinan yang bersifat progresif untuk masing-masing kategori
(Gambar 4.1).
Ketebalan seam batubara yang dihitung adalah jumlah dari ketebalan
setiap lapisan batubara (ply), apabila terdapat singkapan dengan 2
(dua) buah ply atau lebih.
Berat Jenis Batubara yang dihitung, adalah nilai rata-rata dari
beberapa harga berat jenis batubara yang ada, yaitu sekitar 1,3 gr/cm3.

Selain menggunakan metode / sistim tersebut di atas, perhitungan


Jumlah Sumberdaya Batubara di Daerah Penyelidikan, juga didasarkan
pada ketentuan-ketentuan sebagai berikut :
Perhitungan dilakukan pada setiap Seam Batubara yang telah
diidentifikasi secara menyeluruh, maka untuk harga ketebalan dan
dip untuk setiap Seam Batubara adalah merupakan Harga
Maksimum atau Harga Rata-rata.
Panjang lateral sebaran lapisan / seam batubara ke arah on-strike
yang dihitung untuk setiap kategori adalah berdasarkan
keterpengaruhan dari 2 (dua) singkapan / outcrop yang berada
diantaranya, atau antara outcrop batubara dengan Batas Zona
Geologi tertentu.
Jumlah Over Burden untuk masing-masing Seam Batubara belum
dapat dihitung dengan menggunakan Metode Planimeter Topografi
karena belum ada data pengukuran topografi.
Perhitungan Sumberdaya Batubara dilakukan pada BLOK PROSPEK
BATUBARA yang telah dilokalisir berdasarkan hasil Interpretasi data-
data lapangan periode Juli Agustus 2011.

Exploration Document Presented by PT. BIMS 51


Gambar 4.1 Klasifikasi Perhitungan Sumberdaya Batubara untuk
masing-masing Kategori (USGS Circular 891,1983).

Exploration Document Presented by PT. BIMS 52


Gambar 4.2. Sketsa Perhitungan Sumberdaya Batubara.

Jumlah Sumberdaya Batubara dapat dihitung dengan menggunakan


rumus matematika sederhana, sebagai berikut :

d
SD = -------------- x p x t x
sin

Keterangan :
SD = Jumlah sumberdaya batubara.
d = Kedalaman penambangan sesuai dengan Stripping Ratio.
= Kemiringan bidang lapisan (dip) batubara.
p = Panjang sebaran lapisan batubara ke arah jurus (on-strike).
t = Tebal lapisan batubara.
= Berat jenis rata-rata batubara atau SG (1,3 gr/cm3).

Secara matematis Perhitungan Sumberdaya Batubara di Daerah


Penyelidikan dengan menggunakan metode / rumus tersebut di atas
dapat dilihat secara jelas pada Tabel 4.3 dan Tabel 4.4

Exploration Document Presented by PT. BIMS 53


Tabel 4.3. : Perhitungan Sumberdaya Batubara Terukur dengan kedalaman 50 m

Resources Zone
Thickness DIP Sin (m2) Measured
50/Sin S.G
Seam Dip
Average Average Dip Inferred Resources
o
(m) (.. ) gr/m3 (m) (ton)
SAEM A
0.34 16 0.28 181.40 1.3 1080 86,592.04
SEAM B
0.31 14 0.24 206.68 1.3 1960 163,251.04
SEAM C 1.3 2077
0.79 16 0.28 181.40 386,935.76
SAEM D 0.28 1.3 1559
1.31 16.5 176.05 467,400.27
SEAM E 0.42 1.3 1900
0.83 25 118.31 242,547.49
SEAM F 0.33 1.3 820
1.3 19.5 149.79 207,575.12
SEAM G 0.29 1.3 1370
1.78 16.7 174.00 551,603.26
SEAM H 0.34 1.3 1370
1.66 19.7 148.33 438,519.96
SAEM I 0.40 1.3 1127
0.72 23.8 123.90 130,700.57
SAEM J 0.33 1.3 1000
0.85 19 153.58 169,703.33
C1 1950
0.32 14 0.24 206.68 1.3 167,657.42
E1 0.36 1.3 1900
0.83 21 139.52 286,032.83
E2 0.33 1.3 1900
0.65 19 153.58 246,568.96
E3 0.33 1900
0.28 19 153.58 1.3 106,214.32
E4 0.34 1.3 1110
1.51 20 146.19 318,538.26
G1 0.33 1370
0.82 19 153.58 1.3 224,287.91
H1 1.3
0.6 13 0.22 222.27 1370 237,518.34
H2
0.3 26 0.44 114.06 1.3 1110 49,375.97
H3
0.23 16 0.28 181.40 1.3 942 51,092.13

TOTAL 4,532,114.97

Exploration Document Presented by PT. BIMS 54


Tabel 4.4. : Perhitungan Sumberdaya Batubara Terukur dengan kedalaman 100 m

Resources Zone
Thickness DIP Sin (m2) Measured
100/Sin S.G
Seam Dip
Average Average Dip Inferred Resources
o
(m) (.. ) gr/m3 (m) (ton)
SAEM A
0.34 16 0.28 362.80 1.3 1080 173,184.07
SEAM B 0.31 14 0.24 413.36 1.3 1960 326,502.07
SEAM C 0.79 16 0.28 362.80 1.3 2077 773,871.52
SAEM D 1.31 16.5 0.28 352.09 1.3 1559 934,800.55
SEAM E 0.83 25 0.42 326.62 1.3 1900 485,094.99
SEAM F 1.3 19.5 0.33 299.57 1.3 820 415,150.25
SEAM G 1.78 16.7 0.29 347.99 1.3 1370 1,103,206.52
SEAM H 1.66 19.7 0.34 296.65 1.3 1370 877,039.92
SAEM I 0.72 23.8 0.40 247.80 1.3 1127 261,401.14
SAEM J 0.85 19 0.33 307.16 1.3 1000 339,406.66
C1 0.32 14 0.24 413.36 1.3 1950 335,314.83
E1 0.83 21 0.36 279.04 1.3 1900 572,065.67
E2 0.65 19 0.33 307.16 1.3 1900 493,137.91
E3 0.28 19 0.33 307.16 1.3 1900 212,428.64
E4 1.51 20 0.34 292.38 1.3 1110 637,076.51
G1 0.82 19 0.33 307.16 1.3 1370 448,575.81
H1 0.6 13 0.22 444.54 1.3 1370 457,036.67
H2 0.3 26 0.44 228.12 1.3 1110 98,751.94
H3 0.23 16 0.28 362.80 1.3 942 102,184.26
TOTAL 9,064,229.94

Exploration Document Presented by PT. BIMS 55


V. KESIMPULAN DAN SARAN
V.1. KESIMPULAN

Secara morfologi sebagian besar daerah Peninjauan masuk dalam


satuan morfologi perbukitan sedimen denudasional dengan
ketinggian antara 55 -100 m di atas permukaan laut, dan sebagian
yang lain masuk dalam satuan morfologi pedataran karst.
Berdasarkan aspek geologi, maka endapan batubara yang terdapat
di daerah Desa Ngurit, Desa Malungai Raya dan sekitarnya,
Kecamatan Gunung Bintang Awai, Kabupaten Barito Selatan,
Provinsi Kalimantan Tengah seluas 5.000 Ha terdapat pada Formasi
Montalat yang berumur Oligosen - Miosen.
Beradasarkan hasil data mapping Seam batubara pada wilayah IUP
terdapat 10 seam Utama dan 1 (satu) Seam Acssecories, dan
setelah aktivitas pemboran jumlah seam batubara berubah menjadi
10 seam utama dan 9 seam acssecories. Dengan ketebalan rata-rata
seam 0,28 1.78.
Jumlah sumberdaya terukur batubara pada daerah Peninjauan
sampai kedalaman 50 m sebanyak 4,532,114.97 ton, sedangkan
untuk kedalaman 100 m sebanyak 9,064,229.94 ton.
Hasil analisa laboratorium menunjukan kualitas batubara pada
daerah PT. BIMS termasuk ke dalam Sub Bituminus dengan nilai
rata - rata total moisture 29.9 %, inherent moisture 14.6%,
Kandungan abu 6.1%, zat terbang 32.4%, kandungan karbon 31.6%,
kandungan belerang 0.73%, kalori 4931 6235 Kcal/Kg, dan hgi 51.
Daerah prospek dipilih seluas 1.000 ha pada Formasi Montalat,
pemilihan blok prospek berdasarkan pertimbangan daerahnya
memiliki singkapan batubara yang cukup banyak.
Pada saat penarikan batubara roof dan floor tidak sama karena
dipengaruhi oleh metoda pemboran yaitu touch core, yang dimana
mengetahui lithology melalui cutting hasil pemboran yang dimana
cutting yang keluar seringkali terlambat dan batuan bagian atas yang

Exploration Document Presented by PT. BIMS 56


runtuh, kedua hal tersebut yang mempengaruhi ketidak akuratan
diskripsi yang dilakukan dlapangan.
Dari hasil penilitian pemboran tahap awal wilayah IUP PT. Bina Insan
Makmur Sentosa layak untuk dilakukan kegiatan eksplorasi lanjutan.

V.2. SARAN
Sumberdaya batubara daerah ini layak untuk di kembangkan lebih
lanjut. Untuk itu perlu eksplorasi lebih rinci, pemboran, pengukuran
topografi dan pengkajian lebih detil mengenai pemanfaatannya.
Pemboran direncanakan pemboran detail dengan jarak 250 meter
searah jurus. Pada daerah prospek direncanakan sebanyak 20
lubang bor dengan kedalaman tiap lubang rata-rata 50 meter.
Pengukuran topografi dilakukan bersamaan dengan pemboran, skala
topografi di rencanakan dengan skala 1 : 1000.
Agar data lebih akurat kegiatan Eksplorasi lanjutan dilakukan full
coring dan logging.
Perusahaan harus meyakinkan/menunjukan keseriusan nya untuk
meneruskan kegiatan di lokasi wilayah Ijin Usaha Pertambangan
Eksplorasi PT. Bina Insan Makmur Sentosan (BIMS) bahkan sampai
kepenambangan.

Exploration Document Presented by PT. BIMS 57


VI. DAFTAR ACUAN

1. Bemmellen ; R,W, Van, 1970; The Geology of Indonesia, Vol 2, pp 78


82, Martinus Nijhoff, The Haque Beureun De Recherdes Geologiques
Minieres and Direktorat Sumberdaya Mineral, Final Report 1979 1982;
Geological Mapping and Mineral Exploration in North East Kalimantan.
2. Colin R. Ward., (1984) : Coal Geology and Technology. ; Blackwell
Scientific Publications, Melbourne.
3. Geoservice Report No.10.151, 1980; Recent Development in Indonesia
Coal Geology, (Unpublished).
4. Gordon H. W. Jr., Kenh T.M.,Carter M.D. and Culbertson C.W. (1983) :
Coal Resource, Classification System of the U.S. Geological Survey.,
USGS Circ. 891.
5. Koesoemadinata, R,P, 1978; Tertiary Coal Basin of Indonesia, United
Nations Escap, CCOP, Technical Bulletin, Vol, 2.
6. Luki samuel, Muchsin S., 1975; Stratigraphy and Sedimentation in The
Kutai Basin, Kalimantan, Proceeding Indonesian Petroleum Association,
4th annual Convention.
7. Rance H.C., (1975) : Coal Quality Parameter and Their Influence in Coal
Utilization. ; Shell International Petroleum Co., Ltd.
8. Soetrisno ; Supriatna S. ; Rustandi E., Sanyoto P. And Hasan K. (1994) ;
Regional Geological Map of The Buntok Quadrangle, Kalimantan.,
Geological Research and Development Centre, Bandung.
9. Robertson Research, 1978; Coal Resources of Indonesia.
10. Stefanko R., (1983) : Coal Mining Technology, Theory and Practice. ;
Society of Mining Engeneers, New York.

Exploration Document Presented by PT. BIMS 58


VII. LAMPIRAN

Exploration Document Presented by PT. BIMS 59