Anda di halaman 1dari 8

Nur Azizah Jurnal Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada

Volume 33, No. 2, 1 16 ISSN: 0215-8884

Nawawi, H. (1993). Pendidikan dalam Thouless,R.H.(2000).PengantarPsikologi


Islam.Surabaya:PenerbitAlIkhlas. Agama. Penerjemah: Machnun PerilakuMoraldanReligiusitasSiswa
Piaget,J.(1976).PsychologyandEducation. Husein. Jakarta: PT Raja Grafindo BerlatarBelakangPendidikanUmumdanAgama
London:HadderandStaunghton. Persada.

Rakhmat, J. (2003). Psikologi Agama: Usa, M. (1991). Pendidikan Islam di NurAzizah


SebuahPengantar.Bandung:Mizan. Indonesia: antara Cita dan Fakta.
Yogyakarta:PTTiaraWacana. SekolahPascasarjanaProgramStudiPsikologiUniversitasGadjahMada
Rogers, D. (1977). The Psychology of
Yatim, B., Murodi, Sanusi, Kohar, A, A.
Adolescence. Englewood Cliff, New
Ridwan, & M.D. Gaus, A. (2000).
Jersey:PrenticeHall.
Sejarah Perkembangan Madrasah. ABSTRACT between moral behavior and the religiousity
Suyanto. (2000), Refleksi dan Reformasi wassignificant(r=0,419;p<0,001).
Jakarta: Departemen Agama RI.
Pendidikan di Indonesia Memasuki Theaimofthisresearchwastoexamine
Direktorat Jendral Pembinaan
Millennium III. Yogyakarta: Adi the differences of moral behavior and Keywords:Moralbehavior.Religiousity.
KelembagaanAgamaIslam.
Citra. religiousity between students public school

andstudentsMoslemsschoolinBantul.

Subjectthisresearchwere146students Pendidikan merupakan salah satu


of8levels(76studentspublicschooland70 upaya untuk mengantarkan anak didik
students Moslems school). Data collection menuju kepada proses kedewasaan
of this research are concerning with moral dalam berbagai aspek. Furhmann (1990)
behavior scale, religiousity scale I (the menyatakan bahwa sekolah memiliki
ideological, the ritualistic, the experiential, dua fungsi pokok yaitu tempat pendi
the consequential dimensions), religiousity dikan dan lembaga sosialisasi. Berda
scale II (the intellectual dimension). sarkan kedua fungsi tersebut, maka
Hypothesis testing used multivariate pengaruh sekolah pada siswa tidak
analysisofvariance. hanya sebatas pada pengalihan ilmu
pengetahuan saja, tetapi suasana
The research showed that there was
lingkungan sekolah dan sistem pendi
significant difference between students
dikan yang diterapkan juga akan dapat
moralbehaviorofthestudentspublicschool
mempengaruhi pengembangan fungsi
and students Moslems school. Then the
kepribadiansiswa.
moral behavior of the students in public
schoolwasbetterthanthemoralbehaviorof Strategi pembelajaran moral sangat
the students in Moslems school. The diperlukan karena banyaknya perilaku
research showed that no differences of the moral dikalangan siswa seperti
religiousity between students public school membolos, mencontek ketika ujian atau
andstudentsMoslemsschool.Theeffectof ulangan harian, berkelahi antar teman.
moral behavior to religiousity was reflected Fakta menunjukkan bahwa terdapat
in the value of F = 30,653; p < 0,001. The kasus penyimpangan perilaku moral
result also suggested that relationship siswa di sekolah dengan segala
variasinya seperti membolos sebanyak

16 Jurnal Psikologi Jurnal Psikologi 1


Nur Azizah Perilaku Moral dan Religiusitas Siswa

10%, mencontek sebanyak 40%, berke agama belum tentu memiliki perilaku Camacho.C.J.E.,Tory.H.,&Lindsay.L. Hood, R.W. (1996). The Psychology of
lahi sebanyak 5% (data pada MTsN moral dan religiusitas yang tinggi bila (2003). Moral Value Transfer From Religion:anEmpiricalApproach.New
Gondowulung, 2003/2004). Fakta dan dibandingkan dengan siswa berlatar RegulatoryFit:WhatFeelsRightIs York:TheGuilfordPress.
fenomena di atas juga terjadi di setiap belakang pendidikan umum. Begitupun Right and What Feels Wrong Is Hurlock,E.B.(1990).PerkembanganAnak.
sekolah namun memiliki prosentase sebaliknya siswa berlatar belakang Wrong.JournalPersonalityandSocial Alih Bahasa: Meitasari Tjandrasa
yang berbeda. Hal ini menunjukkan pendidikanumumbelumtentumemiliki Psychology,84,498510 dan Muslih Zarkasi. Jakarta:
indikasi tentang tidak adanya pening perilaku moral dan religiusitas yang Chang,L.(2004).TheRoleofClassroom Erlangga.
katan yang signifikan dari perkem tinggi bila dibandingkan dengan siswa Norm in Contextualizing the Jalaluddin, R. (2002). Psikologi Islam.
bangan perilaku moral siswa dengan berlatarbelakangpendidikanagama. Relation of Childrens Social Jakarta:PTRajaGrafindoPersada.
pendidikandisekolah. Penelitian ini dikhususkan kepada Behaviors to Peer Acceptance.
Jockson, P.W. (1998). Date The Moral life
Upaya membentuk religiusitas siswa SMP yang beragama Islam dan Journal of Developmental Psychology,
OfSchool.SanFrancisco:JosseyBass
yang baik perlu adanya komitmen siswa MTs karena mereka mempunyai 40,691702
Publishers.
beragama yang kuat. Pemerintah karakteristikyangsama,sebagianaturan Coles, R. (2000). Menumbuhkan Kecer
Kabupaten Bantul menganjurkan selu di sekolah juga hampir sama seperti King.P.M,&Ames.L.F.(2004).Religion
dasanMoralpadaAnak.AlihBahasa:
ruh siswa sekolah setingkat SMP/MTs adanya kewajiban untuk mengenakan as a Resources for Positive Youth
T Hermaya. Jakarta: Gramedia
seKabupaten Bantul yang beragama seragambusanamuslimbagisiswayang Development: Religion, Social
PustakaUtama.
Islam untuk memakai seragam busana beragamaIslam. Capital, and Moral Outcomes.
Daradjat,Z.(1997).PerananAgamadalam Developmental Psychology, 40, 703
muslim. Peraturan ini diharapkan akan Bertitiktolakdariidealismesekolah Kesehatan Mental. Jakarta: CV Haji 713
membawaparasiswauntukmembentuk berlatar belakang pendidikan umum Masagung.
religiusitasyangtinggi. maupunagamauntukmembentuksiswa Kochanska, G. (2002). Committed
Departemen Agama RI. (2004). Pedoman Compliance, Moral Self, and
Sebagai seorang muslim siswa yang memiliki pengetahuan yang luas
Pendidikan Agama Islam di Sekolah Internalization: A Mediational
diharapkan dapat memiliki religiusitas dan mendalam, mempunyai perilaku
Umum. Jakarta: Direktorat Jendral Model.DevelopmentalPsychology,38,
yang baik di sekolah dengan cara moral dan religiusitas yang baik maka
Kelembagaan Agama Islam. 339351
melaksanakan rutinitas keagamaan di tujuan utama dari penelitian ini untuk
Direktorat Madrasah dan Pendi
sekolah tidak hanya sekedar mematuhi mengetahui apakah ada perbedaan Kohlberg, L. (1981). The Philosophy of
dikan Agama Islam pada Sekolah
peraturan.Namunkenyataannya,belum perilaku moral dan religiusitas antara Moral Development. San Fransisco:
Umum.
semua siswa yang mengaku beragama siswa berlatar belakang pendidikan HarperandRow.
Islam mau untuk menjalankan ibadah umum dengan siswa berlatar belakang Furhmann, B.S. (1990). Adolescence.
Kurtines, W.W & Gerwitz, J.L. (1992).
dengan baik ketika berada di sekolah, pendidikanagama. London: Scott, Foreman and
Moralitas, Perilaku Moral, dan
hanya sebagian siswa saja yang mau Company.
Manfaatyangdiharapkandarihasil Perkembangan Moral. Penerjemah:
melaksanakan ibadah disekolah, seperti penelitian ini adalah: (1) Memberikan Gunarsa, S.D. (1992). Psikologi Perkem M.I.Soelaeman.Jakarta:UIPress.
mengerjakan sholat sunnat, maupun bahan masukan dan bahan evaluasi bangan.Jakarta:BPKGunungMulia.
sholatwajibdimasjidsekolah(datadari Muhaimin, (2005), Pengembangan
kepada pemerintah Kabupaten Bantul Heawood,G.L.(1939).ReligioninSchool:
Dinas Pendidikan dan kebudayaan, KurikulumPendidikanAgamaIslamdi
khususnya Kantor Departemen Agama A Study in Method and Outlook.
2004). sekolah, Madrasah, dan Perguruan
Kabupaten Bantul serta Dinas London: Student Christian Tinggi. Jakarta: PT Raja Grafindo
Namun dari berbagai pengamatan PendidikandanKebudayaanKabupaten MovementPress. Persada.
tidak dapat dimungkinkan bahwa Bantulataskebijakanyangtelahdiambil
siswa berlatar belakang pendidikan untukmewujudkanBantulyangagamis,

2 Jurnal Psikologi Jurnal Psikologi 15


Nur Azizah Perilaku Moral dan Religiusitas Siswa

dan siswa berlatar belakang pendidikan pendidikan moral harus dilakukan di (2) Memberi bahan masukan kepada adanya pertimbangan kesejahteraan
agama dimana guru harus memiliki sekolah yang berlatar belakang agama sekolah untuk mengoptimalkan pera kelompok diatas keinginan atau
tujuan bukan hanya untuk mentransfer (MTs) untuk meningkatkan perilaku turan dalam mewujudkan masyarakat keuntunganpribadi.
ilmu tetapi juga untuk mendidik. moral siswanya yang cenderung lebih sekolahyangIslami. Proses pembentukan perilaku
Banyak terobosan yang bisa dilakukan rendah dari perilaku moral siswa Moral berasal dari bahasa latin moral menurut Kurtines dan Gerwitz
di sekolah, contohnya; kegiatan olim berlatar belakang umum (SMP), dan (2) mores yang berarti tata cara, kebiasaan, (1992) melibatkan empat tahapan
piade, pertandingan olahraga, seni, dan Pendidikan agama harus selalu dilaku perilaku, dan adat istiadat dalam penting yaitu: (1) Menginterpretasikan
kegiatankegiatan keagamaan. Melalui kan secara intensif baik di sekolah yang kehidupan (Hurlock, 1990). Rogers situasi dalam rangka memahami dan
kegiatan ini diharapkan siswa berperan berlatar belakang pendidikan umum (1977) mengartikan moral sebagai menemukan tindakan apa yang mung
aktif sehingga siswa mengisi waktunya maupun agama. Hal ini bisa dilakukan pedomansalahataubenarbagiperilaku kin untuk dilakukan dan bagaimana
dengan kegiatankegiatan maupun lewat peningkatan kegiatan keagamaan seseorang yang ditentukan oleh efeknya terhadap keseluruhan masalah
menerapkan peraturan sekolah dengan di sekolah seperti melalui kajian masyarakat. Simpton (dalam Allen, yangada,(2)Menggambarkanapayang
baik dan disiplin baik dengan metode keagamaan,peringatanharibesarIslam, 1980) mengartikan moral sebagai pola harus dilakukan dengan mengetrapkan
penerapan poin atau hukuman bagi tadarus sebelum pelajaran dimulai, perilaku, prinsipprinsip, konsep dan suatu nilai moral pada situasi tertentu
siswa yang melanggar peraturan di kultum, melakukan sholat berjamaah aturanaturan yang digunakan individu dengan tujuan untuk menetapkan suatu
sekolah. disekolahdanlainsebagainya. atau kelompok yang berkaitan dengan perilaku moral, (3) Memilih diantara
Berdasarkan hasil penelitian yang baikdanburuk. nilainilaimoraluntukmemutuskanapa
telah dikemukakan, dapat diambil DaftarPustaka yang secara aktual akan dilakukan, dan
Kohlberg(1981)menyatakanbahwa
kesimpulan bahwa terdapat perbedaan Allen, D.E. (1980). Social Psychology as A moralpadadasarnyadipandangsebagai (4) Melakukan tindakan yang sesuai
perilakumoralyangsignifikandantidak Social Process. California: penyelesaian antara kepentingan diri dengannilainilaimoral.
terdapat perbedaan religiusitas antara WodwortenPublishingCompany. dan kelompok, antara hak dan kewa Menurut Jalaluddin (2002) kata
siswa berlatar belakang pendidikan jiban. Artinya moral diidentifikasikan religi berasal dari bahasa latin religio
Ancok,D&Suroso,N.S.(1994).Psikologi
umum dan siswa berlatar belakang denganpenyelesaianantarakepentingan yang akar katanya adalah religare yang
Islami.Jakarta:PustakaPelajar.
pendidikan agama; dimana siswa diri dan kepentingan lingkungan yang berarti mengikat. Maksudnya religi atau
berlatar belakang pendidikan umum Anshari, S.E. (1986). Wawasan Islam.
merupakan hasil timbang menimbang agama pada umumnya terdapat aturan
mempunyai perilaku moral yang lebih Jakarta:PTRajawaliPress.
antarakomponentersebut. aturan dan kewajibankewajiban yang
tinggi daripada siswa berlatar belakang Atkinson, R.L., Richard C.A., & Ernest, harus dilaksanakan yang semua itu
MoralmenurutPiaget(1976)adalah
pendidikanagama. R.H. (1996). Pengantar Psikologi, berfungsi untuk mengikat dan
kebiasaan seseorang untuk berperilaku
Berdasarkan hasilhasil penelitian Terjemahan: Nurjannah Taufiq dan mengutuhkan diri seseorang atau
lebihbaikatauburukdalammemikirkan
dan pembahasan yang telah dikemu Agus Dharma. Jakarta: Penerbit sekelompok orang dalam hubungannya
masalahmasalah sosial terutama dalam
kakan, ada beberapa saran yang dapat Erlangga. dengan Tuhan, sesama manusia dan
tindakanmoral.
diajukansebagaitindaklanjutpenelitian Atwater, E. (1992). Adolescence. New alamsekitarnya.
Coles (2000) perilaku moral diung
ini adalah sebagai berikut: (1) Hendak Jersey: Prentice Hall Englewood Anshari (1986) mengartikan religi,
kap dalam tingkat orang harus berperi
nya pihak sekolah selalu meningkatkan Cliffs. agama atau din sebagai sistem tata
laku dan bersikap kepada orang lain.
pembinaan perilaku moral kepada para keyakinanatautatakeimananatasdasar
Budiningsih, C.A. (2004). Pembelajaran Perilaku tersebut muncul bersamaan
siswa agar perilaku moral para peserta sesuatuyangmutlakdiluardirimanusia
Moral: Berpijak pada Karakteristik dengan peralihan eksternal ke internal
didikdisekolahdapatterkontroldengan dan merupakan suatu sistem ritus (tata
Siswa dan Budayanya. Jakarta: yang disertai perasaan tanggung jawab
baik. Peningkatan dan pengembangan peribadatan) manusia kepada yang
RinekaCipta. pribadi atas setiap tindakan seperti

14 Jurnal Psikologi Jurnal Psikologi 3


Nur Azizah Perilaku Moral dan Religiusitas Siswa

dianggap mutlak, serta sistem norma knowledge), dan(5)Aspekkonsekuensial melakukan kegiatan keagamaan yang yang dianutnya tidak akan dapat
yang mengatur hubungan manusia (the consequential dimension) yaitu aspek samadengansiswayangberlatarumum terealisasi dengan baik. Hal ini terjadi
dengan manusia, manusia dengan alam yang mengukur sejauhmana perilaku diluar pelajaran agama Islam secara pada siswa MTs dimana siswa MTs
lainnyadengantatakeimanandantaata seseorang dimotivasi oleh ajaran formaldisekolah. hanya mempunyai tingkat pemahaman
peribadatanyangtelahdimaksud. agamanya dalam kehidupan sosial, Apabila dilihat dalam realitasnya keagamaannya sebagian besar hanya
Menurut Gloc dan Stark (dalam yaknibagaimanaindividuberhubungan dalam melakukan aktivitas keagamaan sampai pada tingkat pengetahuan
Hood, 1996; dalam Rakhmat, 2003; dengan dunia terutama dengan sesama disekolah memang hampir sama keagamaansajabelumsampaiterealisasi
Ancok & Nashori, 1994) ada lima aspek manusia(religiouseffect). dilakukan di masingmasing sekolah dengan baik dalam kehidupan sehari
religiusitasyaitu:(1)Aspekideologi(the Thouless (2000) mengemukakan baik sekolah yang berlatar belakang hari.SedangkansiswaSMPmempunyai
ideological dimension) berkaitan dengan empat kelompok faktor yang mempe pendidikan umum (SMP) maupun tingkat pemahaman keagamaannya
tingkatan seseorang dalam menyakini ngaruhi perkembangan religiusitas, sekolah yang berlatar belakang agama sebagianbesartidakhanyasampaipada
kebenaran ajaran agamanya (religious yaitu: (1) Faktor sosial, meliputi semua (MTs), seperti; sholat dhuhur tingkat pengetahuan keagamaan saja
belief). Tiaptiap agama memiliki pengaruhsosialseperti; pendidikandan berjamaah, kultum, mengadakan kajian namun sudah ditambah aspek
seperangkat keyakinan yang harus pengajaran dari orangtua, tradisitradisi keislaman, peringatan hari besar religiusitas yang lain sehingga dapat
dipatuhi oleh penganutnya, misalnya dan tekanantekanan social, (2) Faktor keagamaan. Namun perbedaannya terealisasidenganbaik.
kepercayaan adanya Tuhan, (2) Aspek alami, meliputi moral yang berupa kalau di sekolah yang berlatar belakang Menurut Darajat (1997) bahwa
ritualistik (the ritulistic dimension) yaitu pengalamanpengalaman baik yang ber pendidikan agama (MTs) ditambah religiusitas dapat memberikan jalan
tingkat kepatuhan seseorang menger sifat alami, seperti pengalaman konflik dengankegiatantadarusalQuran. keluar kepada individu untuk menda
jakan kewajiban ritual sebagaimana moral maupun pengalaman emosional, Banyaknya kegiatan dan pendi patkan rasa aman, berani, dan tidak
yang diperintahkan dalam agamanya (3)Faktorkebutuhanuntukmemperoleh dikan keagamaan yang diikuti oleh cemasdalammenghadapipermasalahan
(religious practice), misalnya kewajiban harga diri dan kebutuhan yang timbul siswa berlatar belakang pendidikan yangmelingkupikehidupannya.Agama
bagi orang Islam seperti; sholat, zakat, karena adanya kematian, dan (4) Faktor umum (SMP secara informal diluar Islam sendiri mengajarkan bahwa
puasa,pergihajibilamampu,(3)Aspek intelektual yang menyangkut proses sekolahmakapengetahuanagamasiswa dengan mendekatkan diri kepada Allah
eksperiensial (the experiential dimension) pemikiran verbal terutama dalam pem SMP akan pengetahuan kegamaan maka seseorang akan mendapatkan
yaitu tingkatan seseorang dalam bentukankeyakinankeyakinanagama. mereka akan bertambah sehingga ketenangan hidup lahir dan batin serta
merasakan dan mengalami perasaan Ada beberapa jenis lembaga mereka dapat lebih memahami ajaran dapatmengontrolperilakunya.
perasaan atau pengalamanpengalaman pendidikan yang ada dan berkembang ajaran agama dengan baik. Hal inilah Pendidikanagamamelaluiberbagai
keagaman (religious feeling). Semua di Indonesia. Dalam penelitian ini ada yang menyebabkan tidak adanya institusi dan media belum mampu
agama memiliki harapan bagi individu dua jenis lembaga pendidikan yaitu: (1) perbedaan religiusitas siswa berlatar mencapai hasil sebagaimana yang
penghayatannya akan mencapai suatu LatarBelakangPendidikanUmumyaitu belakangpendidikanumumdanagama. diharapkan. Agama dengan ajaran dan
pengetahuan yang langsung mengenai Sekolahyangmempunyailatarbelakang nilainilainya masih menjadi sesuatu
Kuantitas individu yang mempu
realitas yang paling sejati atau meng pendidikan umum dalam penelitian ini yang formal. Tegasnya, bagi banyak
nyaitingkatpemahamankeagamaannya
alami emosiemosi religius misalnya; diwakili oleh Sekolah Menengah pihak, keberagamaan belum berkorelasi
hanyasampaipadatingkatpengetahuan
merasa doanya dikabulkan, merasa Pertama (SMP) yang merupakan salah dengan perilaku sosialnya (Departemen
keagamaan tentang ajaran agama yang
diselamatkanTuhan,(4)Aspekinteklek satu lembaga pendidikan dibawah AgamaRI,2004).
kuatdanpengetahuanagamayangluas,
tual (the intelectual dimension) berkaitan pembinaan Departemen Pendidikan akan tetapi kalau individu itu tidak Untuk meningkatkan perilaku
dengan tingkatan pengetahuan dan Nasional. Pemberian mata pelajaran di berusaha mengamalkannya dalam moral dan religiusitas baik siswa
pemahaman seseorang terhadap ajaran SMP lebih banyak diberikan mata kehidupansehariharimakanilaiagama berlatar belakang pendidikan umum
agama yang dianutnya (religious

4 Jurnal Psikologi Jurnal Psikologi 13


Nur Azizah Perilaku Moral dan Religiusitas Siswa

belakang pendidikan agama disebabkan yang bisa membuahkan pemikiran pelajaran umum dari pada mata tangan dengan aturan moral di sekolah
karenaadanyalingkungansosialsekolah maupun perilaku dan akhlak yang pelajaranagama,dan(2)LatarBelakang (Atwater, 1992). Hal ini berhubungan
dan penerapan peraturan yang berbeda Islami(Usa,1991). Pendidikan Agama, yaitu Sekolah yang dengan penelitian (Camacho dkk, 2003)
antaraSMPdanMTs.Lingkungansosial Menurut Paloutzian (1996) bahwa mempunyai latar belakang pendidikan yang menunjukkan perpindahan nilai
sekolah di SMP lebih kondusif untuk tingkat personal agama secara fungsio agamadalampenelitianinidiwakilioleh moral yang signifikan dimana individu
melakukan kegiatan belajar mengajar nal memberikan makna pada berbagai Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang harus dapat memilih halhal yang
dan penerapan peraturan di SMP lebih peristiwa yang dihadapinya atau mem merupakan salah satu lembaga dianggap benar dan salah. Penelitian
disiplindibandingkanlingkungansosial berikan bimbingan moral bagaimana pendidikan dibawah sistem pendidikan Chang (2004) menunjukkan peran
sekolah di MTs yang kurang kondusif seharusnyaiabertindakditengahtengah nasional dan ditempatkan dibawah aturanaturan yang berlaku didalam
danpenerapanperaturandiMTskurang manusia. pembinaan Kantor Departemen Agama, kelas sangat menentukan tingkat
disiplin sehingga dapat dilihat bahwa dalam perkembangannya pada tahun perilaku moral dan prososial antara
Religiusitas pada siswa berlatar
perilaku moral siswa berlatar belakang 1990an MTs dikenal sebagai sekolah siswalakilakidanperempuan.
belakang pendidikan umum sama
pendidikan umum (SMP) lebih tinggi umum yang berciri khas agama Islam Penelitian yang menghubungkan
dengan siswa berlatar belakang agama,
dibandingkan dengan siswa berlatar karena di MTs disamping diberikan religiusitas dan perilaku moral mempu
hal ini kemungkinan disebabkan karena
belakangpendidikanagama(MTs). mata pelajaran umum yang sama nyai hasil yang positif sehingga dapat
pada siswa berlatar belakang pendi
Hasilujihipotesisuntukreligiusitas dengan SMP juga ditambah mata mendasari proses dan pengaruh agama
dikan umum mempunyai keinginan
menunjukkan bahwa tidak terdapat pelajaran agama yang lebih banyak apabiladisesuaikandenganprosessosial
yang kuat untuk mempelajari agama
perbedaan religiusitas antara siswa daripadaSMP. pada ukuran perilaku moral dan sikap
lebih luas diluar pendidikan agama
berlatar belakang pendidikan umum Islamdidalamkelas. Penelitian yang dilakukan oleh (King&Ames,2004).
dan siswa berlatar belakang pendidikan Hassett tahun 1981 (dalam Atwater, Lakilaki dan perempuan dalam
Jumlah jam pelajaran yang berbeda
agamayangtidaksignifikan. 1992) tentang moral menunjukkan ada mempelajari agama dikendalikan dan
antara sekolah berlatar belakang
Hal ini menunjukkan bahwa faktor hubungan yang signifikan antara diilhami oleh semangat adanya Tuhan,
pendidikan umum dengan sekolah
kuantitas pemberian materi pelajaran religiusitas dan perilaku moral. dan dipenuhi dengan kepastian dan
dengan berlatar belakang pendidikan
agama tidak mempengaruhi kualitas Responden yang mempunyai skor pengetahuan. Sekolah adalah salah satu
agamabukansatusatunyasumberyang
keagamaan para siswa dimana siswa religiusitas dan skor perilaku moral tempat dimana individu dikenalkan
mempengaruhi pembentukan religiu
yang berlatar belakang pendidikan yang tinggi hanya dihasilkan oleh tentang adanya Tuhan dan diajarkan
sitas yang berbeda bagi siswa. Hal
agama (Mts) mendapatkan pelajaran beberapaorang,sedangkanyanglainnya tentangmasalahmoral(Heawood,1939).
tersebutdapatdisebabkanolehbeberapa
agama lebih banyak dibandingkan mempunyai skor yang berbeda antara Perilaku moral juga mempengaruhi
faktor diantaranya siswa yang berlatar
dengan siswa berlatar belakang pendi skor religiusitas dan skor perilaku sekolah dan para guru sebagai agen
belakang umum selain mendapatkan
dikan umum yang hanya mendapat moralnya. Artinya hubungan antara moral namun aspek lingkungan kelas
pelajaran agama Islam secara formal di
pelajaran agama 2 jam pelajaran dalam religiusitas dan perilaku moral lebih dansekolahsecarakeseluruhanmempe
sekolah, siswa SMP juga mendapatkan
satu minggu (Nawawi, 1993). Namun banyak ditunjukkan padaperilaku yang ngaruhi dalam mencapai tujuan akhir
pelajaranagamasecarainformalmelalui
dalam realitasnya terkadang muncul bersifat instutional dibandingkan dariperilakumoral(Jackson,1998).
keluarga,kegiatankeagamaandimasjid,
kecenderungan bahwa pendidikan perilakuyangbersifatpribadi.
dan kegiatankegiatan keagamaan Penelitian King dan Ames (2004)
agamadisekolahhanyadipelajarisecara lainnya seperti Taman Pendidikan Al Siswa harus mampu menjelaskan menunjukkan bahwa agama sebagai
rasional teoritik sehingga agama tidak Quran, kajiankajian keagamaan dan tentang perilaku moral yang dianggap sumber pengembangan moral karena
lebih dari sekedar ilmu daripada agama lainlain.Sedangkansiswayangberlatar sudahbertentangandenganaturanyang agama berhubungan positif dengan
sebagai tuntutan (pandangan hidup) belakang agama atau siswa MTs juga telah ditetapkan disekolah dan berten moral.Matarantaiantaraperilakumoral

12 Jurnal Psikologi Jurnal Psikologi 5


Nur Azizah Perilaku Moral dan Religiusitas Siswa

dan religiusitas yang dibentuk dalam metode pendidikan daan lingkungan Hal ini menunjukkan adanya pendidikan umum lebih tinggi diban
tradisi akanmenjadisangat kuat karena yang berbeda dari kedua sekolah perbedaanskorskalaperilakumoraldan dingkandengansiswaberlatarbelakang
masihbanyakorangyangpedulidengan tersebut,sehinggadapatmempengaruhi adanya skor skala religiusitas. Artinya pendidikanagama.
perilaku moral dan religiusitas yang perilaku moral dan religiusitas para bahwa terdapat perbedaan perilaku Hal ini membuktikan bahwa
merupakan dua hal yang tidak dapat siswanya. moral yang signifikan antara siswa terdapat pengaruh yang berbeda dari
dipisahkan. Suyanto (2000) menyatakan bahwa berlatar belakang pendidikan umum masingmasing jenis sekolah terhadap
Steenbrink (Yatim dkk, 2000) sekolah umum mempunyai pelajaran dan siswa berlatar belakang pendidikan perilaku moral siswa. Adanya perbe
membedakan antara Madrasah (MTs) yang lebih menitik beratkan pada segi agama dimana perilaku moral siswa daan pengaruh ini disebabkan karena
dengansekolah(SMP)karenakeduanya akademisdankurangmenekankanpada berlatar belakang pendidikan umum masingmasing sekolah mempunyai
memiliki karakteristik atau ciri khas pengetahuaan dan pengalaman agama lebih tinggi dibandingkandengan siswa kondisi lingkungan sosial yang berbeda
yang berbeda diantaranya adalah jika dibandingkan dengan sekolah yang berlatar belakang pendidikan agama. dan mempunyai muatan mata pelajaran
Madrasah (MTs) mempunyai kuriku berbasis agama yang memperoleh Sementara itu tidak terdapat perbedaan yangberbeda.
lum, metode dan cara mengajar yang pengetahuan agama lebih banyak religiusitas antara siswa berlatar
Atkinson (1996) selanjutnya mene
berbeda dengan sekolah (MTs) dan dibandingdengansekolahumum. belakang pendidikan umum dan siswa
gaskan bahwa kita sering mengetahui
kedua lembaga tersebut juga memiliki berlatarbelakangpendidikanagama
Mudzhar (dalam Muhaimin, 2005) bagaimana sebaiknya bertindak tetapi
tujuanpendidikanyangberbeda. mengemukakan hasil studi Litbang mungkin tidak melakukannya jika
AnalisisTambahan
Perbedaan jumlah jam dan jumlah Agama dan Diklat Keagamaan tahun kepentingan diri sendiri ikut terlibat.
mata pelajaran agama Islam diantara 2000, bahwa merosotnya moral dan Analisistambahandilakukanuntuk MenurutAtkinson(1996)Perilakumoral
SMP dan MTs adalah terletak pada akhlak peserta didik disebabkan antara memperkuat hasil uji hipotesis yang tergantung pada sejumlah faktor
pemberian materi dan pengembangan lainakibatkurikulumpendidikanagama telah dilakukan. Analisis tambahan kemampuan yaitu: (a) berpikir tentang
pelajaran agama Islam yang terkait yang terlampau padat materi, dan dilakukan dengan uji regresi untuk dilema moral, (b) mempertimbangkan
dengan materimateri keagamaan dan materi tersebut lebih mengedepankan memprediksi pengaruh antara variabel akibat jangka panjang dari setiap
pola pembinaan keagamaan yang aspek pemikiran ketimbang memba perilaku moral dan variabel religiusitas. tindakan, dan (c) merasakan apa yang
dikembangkan pada masingmasing ngun kesadaran keberagamaan yang Hasilanalisisregresiuntukkeseluruhan dirasakanolehoranglain.
sekolah. Pola dan kualitas pembinaan utuh. Untuk membentuk peserta didik subjek penelitian diperoleh F hitung = MenurutPaulSuparno,dkk.(dalam
agama di sekolah akan mempengaruhi menjadi manusia yang beriman dan 30,653 dengan taraf signifikansi p = Budiningsih, 2004), untuk memiliki
perkembanganmoralparasiswa.Halini bertakwakepadaTuhanYangMahaEsa 0,001, dan R=0,419 dengan sumbangan moralitas yang baik dan benar,
sesuai dengan pendapat Gunarsa (1992) serta berakhlak mulia diperlukan efektif R2 = 0,176, (p < 0,001) maka seseorang tidak cukup sekedar telah
yang menyatakan bahwa segi pengembangan ketiga dimensi moral perilaku moral dan religiusitas berko melakukan tindakan yang dapat dinilai
keagamaan akan berpengaruh terhadap secaraterpaduyaitumoralknowing,moral relasidengansangatsignifikan. baik dan benar. Seseorang dapat
perkembanganmoral. feeling, dan moral Action (Muhaimin, dikatakan sungguhsungguh bermoral
Beberapafaktadilapanganmenun 2005). Diskusi apabila tindakannya disertai dengan
jukkan adanya perbedaan karakter Wujud pemberian materi keaga Dari hasil uji hipotesis menun keyakinan dan pemahaman akan
antara siswa berlatar belakang pendi maandanmateripendidikanmoralyang jukkan bahwa terdapat perbedaan kebaikanyangtertanamdalamtindakan
dikan umum dan siswa berlatar diselipkan dalam kurikulum berbasis perilaku moral antara siswa berlatar tersebut.
belakang pendidikan agama. Salah satu kompetensi diharapkan dapat memberi belakang pendidikan umum dan siswa Adanya perbedaan perilaku moral
hal yang diduga menjadi penyebab kan pengaruh kepada siswa dalam berlatar belakang pendidikan agama. antara siswa berlatar belakang pendi
terjadinya realitas tersebut adalah berperilaku, berfikir, berucap, dan Perilaku moral siswa berlatar belakang dikan umum dan siswa berlatar

6 Jurnal Psikologi Jurnal Psikologi 11


Nur Azizah Perilaku Moral dan Religiusitas Siswa

UjiAsumsi UjiHipotesis bersikapyangdiwujudkandalamsetiap moral ini bertujuan untuk mengetahui


perilakumoraldanreligiusitasnya perilaku moral subyek yang mengacu
Sebelumdilakukananalisismanova Uji hipotesis dalam penelitian ini
Hipotesis dalam penelitian ini butir yang disusun oleh Kochanska
untuk menguji hipotesis penelitian, dilakukan analisis manova dengan
adalah: ada perbedaan perilaku moral (2002) yang meliputi: (1) pengakuan, (2)
penulismelakukanujisyaratanalisis.Uji program SPSS for windows versi 13,0.
dan religiusitas antara siswa yang permintaan maaf, (3) perbaikan
normalitas sebaran dilakukan dengan Hipotesisyangdiujidalampenelitianini
berlatar belakang pendidikan umum kesalahan, (4) peka terhadap standar
menggunakan teknik Kolmogrof adalah ada perbedaan perilaku moral
dengan siswa yang berlatar belakang pelanggaran, (5) perilaku internal, (6)
Smirnof Program SPSS for Windows dan religiusitas antara siswa berlatar
pendidikanagama. empati, (7) perhatian terhadap pelang
Versi 13,0. Uji normalitas menunjukkan belakang pendidikan umum dengan
garan yang lain, (8) perasaan bersalah
bahwa distribusi skor perilaku moral siswa berlatar belakang pendidikan
dan tidak nyaman setelah melakukan
mempunyai nilai KSZ = 0,113 dan p = agama. Metode
kesalahan, (9) perhatian terhadap
0,001 (statusnya normal) dan skor Berdasarkan rangkuman hasil uji IdentifikasiVariabel perasaanorangtua.
religiusitas mempunyai nilai KSZ = antar subyek pada Tabel 2 bisa
0,073danp=0,0565(statusnyanormal). Variabeldalampenelitianiniterdiri Subjek diminta untuk memilih satu
disimpulkan bahwa terdapat nilai F =
dari: (1) Variabel independen adalah diantara4alternatifjawabanyangsudah
Hasil uji homogenitas variansi 30,972 dan p = 0,001 (p<0,001) dengan
latar belakang pendidikan umum dan tersedia.Carapenilaiannyaskor4untuk
menunjukkan bahwa perilaku moral sumbangan perilaku moral sebesar
agama, sedangkan (2) Variabel depen jawaban SS, skor 3 untuk jawaban S,
mempunyai harga F = 4,023 dan p = 11,7% terhadap perbedaan rerata skor
den adalah perilaku moral dan skor 2 untuk jawaban TS dan skor 1
0,047 (p>0,05) statusnya homogen pendidikan dan terdapat nilai F = 0,423
religiusitas untuk jawaban STS. Seluruh butir skala
sedangkan religiusitas mempunyai dan p = 0,512 (p<0,001) dengan
asli dari Kochanska (2002) diterjemah
harga F = 1,600 dan p = 0,208 (p>0,05) sumbangan religiusitas sebesar 0,3%
Subyek kan oleh penulis kedalam bahasa
statusnya homogen. Kesimpulannya terhadap perbedaan rerata skor
Populasi dalam penelitian ini Indonesia untuk diujicobakan. Dari
bahwa variabel perilaku moral dan pendidikan.
adalah seluruh siswa SMPN 2 Bantul jumlahbutirskalaperilakumoraluntuk
religiusitasadalahhomogen. Hasil uji hipotesis dalam penelitian
yangberagamaIslamdanseluruhsiswa ujicoba sebanyak 37 butir dan butir
Hasil uji homogenitas variansi ini dapat dilihat bahwa siswa berlatar untuk penelitian sebanyak 35 butir
MTsN Gondowulung Bantul. Sampel
untuk uji Multivariat didapat Boxs M= belakangpendidikanumumsecararata dengan nilai koefisien alpha dari
penelitian adalah siswa kelas 8 SMPN 2
6,198 nilai F = 2,035 dengan nilai rata,memilikiskorSkalaperilakumoral Cronbrachreliabilitasalatukursebesarr
Bantul yang beragama Islam dan siswa
signifikansi 0,107, berarti homogenitas 9,697 dengan p = 0,01 (p<0,001) lebih =0,926.
kelas 8 MTsN Gondowulung Bantul.
matriks kovarian variabel dependen tinggi dan memiliki skor religiusitas
terpenuhi. Dengan demikian, uji 1,079 dengan p = 0,51 (p<0,001) lebih
Pengambilan _mpiri dilakukan dengan Skala Religiusitas I, Religiusitas
cara merandom jumlah kelas 8 dan diukur menggunakan skala religiusitas
multivariatdapatdilakukan. rendah dibandingkan dengan siswa
setiapsekolahdiambilsebanyak2kelas. berdasarkan pendapat Glock dan Stark
berlatar belakang pendidikan agama.
SMPN2Bantulkelas8berjumlah5kelas (dalam Hood, 1996; dalam Rakhmat,
2003; Ancok & Nashori, 1994). Skala
kemudian diambil siswa kelas 8A dan
Tabel2.Hasilujiantarsubyek 8D dan MTsN Gondowulung Bantul religiusitas I digunakan untuk meng
Sumbervariasi JK db RK F p SE kelas 8 berjumlah 5 kelas kemudian ukur religiusitas subyek yang diungkap
PendidikanPerilakuMoral 3426,359 1 3426,359 30,972 0,001 0,117 diambilsiswakelas8Adan8E. melalui empat aspek yaitu keyakinan,
Religiusitas 42,389 1 42,389 0,423 0,512 0,003 peribadatan, penghayatan, dan peng
GalatPerilakuMoral 15930,627 144 110,629 AlatPengumpulData amalan. Subjek diminta untuk memilih
Religiusitas 14128,193 144 98,112 Skala perilaku moral. Skala perilaku satu diantara 4 alternatif jawaban yang

10 Jurnal Psikologi Jurnal Psikologi 7


Nur Azizah Perilaku Moral dan Religiusitas Siswa

sudah tersedia. Cara penilaiannya alat ukur kedua dilaksanakan pada Rerata hipotetik dan rerata empiris III(skalaReligiusitasII)yangberjumlah
dimanaskor4untukjawabanSS,skor3 tanggal13September2005bertempatdi skala 24aitem.Skorbergerakdari0sampai1,
untuk jawaban S, skor 2 untuk jawaban MTsN Sumberagung Bantul dengan skor terendah 0 dan skor tertinggi
Data perilaku moral dengan
TS dan skor 1 untuk jawaban STS. jumlahsiswasebanyak51siswa.Jumlah adalah 24. skor rerata hipotetiknya
menggunakan skala I (skala perilaku
Jumlah butir skala religiusitas I untuk seluruh responden dalam uji coba alat adalah (0+25)/2=12.25 jadi jumlah skor
moral) yang berjumlah 35 aitem. Skor
ujicoba adalah sebanyak 35 butir dan ukur ini sebanyak 86 siswa SMP dan reratahipotetiknyaadalah75+12=87,25.
bergerak dari 1 sampai 4, skor terendah
butiruntukpenelitiansebanyak30butir MTs. Hasil analisis menunjukkan
32 dan skor tertinggi adalah 140. skor
dengan nilai koefisien alpha dari mean=129,27 dan standar deviasi=9,886.
reratahipotetiknyaadalah(32+140)/2=86.
Cronbrachreliabilitasalatukursebesarr Prosedur Hasil tersebut menggambarkan bahwa
Hasil analisis menunjukkan mean =
=0,665. skor rerata hipotetik lebih tinggi dari
Subyek penelitian mengisi format 118,22danstandardeviasi=11,554.
Skala Religiusitas II. Skala religiu skor rerata empirik, yaitu 9,886.
identitas singkat kemudian mengisi tiga Hasil tersebut menggambarkan
sitas II adalah aspek pengetahuan yang berbanding 87,25. Berdasarkan hasil
alat ukur (skala perilaku moral, skala bahwa skor rerata hipotetik lebih tinggi
terdiri dari Al Quran dan hadits, Fiqih tersebut dapat disimpulkan bahwa
religiusitas I, dan skala religiusitas II) dari skor rerata empirik, yaitu 11,554
(Ibadah/syariah), Aqidah Akhlak, dan religiusitassiswaadalahrendah.(norma
selama 1 jam pelajaran atau 45 menit. berbanding 86. Berdasarkan hasil
Sejarah. Skala ini untuk mengungkap mana?)
Hasilisiansubyekuntukmasingmasing tersebut dapat disimpulkan bahwa
pengetahuan keagamaan subyek yang alatukurdijumlahkan,sehinggadidapat Berdasarkan Tabel 1 menunjukkan
perilaku moral siswa secara umum
disusun berdasarkan buku Pendidikan skor total untuk masingmasing alat bahwa siswa berlatar belakang pendi
adalahrendah.(normamana?)
AgamaIslamuntuksiswakelas8baikdi ukur. Skor total inilah yang digunakan dikanumummempunyairerataperilaku
SMP/MTs. Butir dalam skala ini Data Religiusitas dengan menggu moral sebesar 122,87 dan rerata
dalam analisis data. Untuk menguji
berbentuk pertanyaan pilihan ganda nakanskalaII(skalaReligiusitasI)yang religiusitas sebesar 128,75. Sedangkan
hipotesisdigunakanteknikmanova.
yang memiliki empat alternatif jawaban berjumlah30aitem.Skorbergerakdari1 siswa berlatar belakang pendidikan
dengan satu jawaban yang benar. sampai 4, skor terendah 30 dan skor agama mempunyai rerata perilaku
HASIL tertinggi adalah 120. skor rerata
Penyekoran dilakukan dengan pembe moral sebesar 113,17 dan rerata
rian skor 1 untuk jawaban benar dan Penelitian ini dilaksanakan pada hipotetiknyaadalah(30+120)/2=75.Data religiusitassebesar129,83.
skor0untukjawabansalah.Jumlahbutir tanggal 23 November 2005 di SMPN 2 Religiusitas dengan menggunakan skala
skala religiusitas II ujicoba sebanyak 25 Bantul dan pada tanggal 24 November
butir dan butir untuk penelitian 2005diMTsNGondowulungBantul. Tabel1.Deskripsidatarerataperilakumoraldanreligiusitas
sebanyak25butirdengannilaikoefisien Deskripsi subyek berdasarkan jenis Pendidikan Mean SD N
alpha dari Cronbrach reliabilitas alat kelamin bahwa jumlah subyek berlatar PerilakuMoral Umum 122,87 9,022 76
ukursebesarr=0,661. belakang pendidikan umum sebanyak Agama 113,17 11,933 70
Pelaksanaan uji coba alat ukur 76siswayangterdiridari28siswaputra Total 118,22 11,554 146
pertama dilaksanakan pada tanggal 12 dan 48 siswa _mpiri sedangkan jumlah Religiusitas Umum 128,75 9,435 76
September 2005 bertempat di SMPN 3 subyek berlatar belakang pendidikan Agama 129,83 10,392 70
Jetis Bantul dengan jumlah siswa agama sebanyak 70 siswa yang terdiri Total 129,27 9,886 146
sebanyak 40 namun ada 5 siswa yang dari36siswaputradan34siswa_mpiri.
tidak memenuhi _mpiric_ sebagai
subyek penelitian sehingga jumlahnya
menjadi 35 siswa. Pelaksanaan uji coba

8 Jurnal Psikologi Jurnal Psikologi 9