Anda di halaman 1dari 22

STUDI LITERATUR

DESAIN UNIT PRASEDIMENTASI


INSTALASI PENGOLAHAN AIR MINUM

PRADITA CANCERITA YULIANTI


Jurusan Teknik Lingkungan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Indonesia
6 Februari 2012
Abstrak
Prasedimentasi merupakan salah satu unit pada bangunan pengolahan air minum yang
umumnya digunakan sebagai pengolahan pendahuluan. Bentuk unit prasedimentasi yang umum
digunakan adalah rectangular dan circular serta terdiri dari empat zona, yaitu zona inlet, zona
pengendapan, outlet, dan zona lumpur. Keempat zona ini akan mempengaruhi proses pengendapan
yang terjadi di zona pengendapan. Oleh karena itu, perlu diketahui bagaimana desain keempat zona
tersebut. Faktor-faktor lain yang juga mempengaruhi proses pengendapan adalah overflow rate,
vhorizontal (vh), bilangan Reynold partikel, serta karakteristik aliran. Karakteristik aliran diketahui dari
nilai Bilangan Reynolds dan Froude. Namun, kedua bilangan tersebut tidak dapat dipenuhi keduanya,
sehingga perlu ditetapkan suatu acuan.
Studi literatur menghasilkan kesimpulan bahwa acuan yang tepat untuk desain bak
prasedimentasi bentuk rectangular adalah menggunakan bilangan Froude, sedangkan acuan yang
tepat untuk mendesain bak prasedimentasi bentuk circular dengan tipe center feed adalah bilangan
Reynolds. Menentukan panjang, lebar, dan kedalaman bak perlu mengacu pada overflow rate dan
kecepatan horizontal. Desain inlet yang tepat untuk unit prasedimentasi adalah dengan menggunakan
perforated baffle sebab dapat memperkecil area dead zone. Desain outlet yang tepat untuk unit
prasedimentasi adalah dengan menggunakan pelimpah yang berupa v-notch dengan beban pelimpah
yang sekecil mungkin untuk menghindari tergerusnya partikel-partikel yang telah mengendap. Desain
zona lumpur yang tepat untuk unit prasedimentasi bentuk rectangular adalah dengan adanya
kemiringan pada dasar bak menuju hopper. Hopper diletakkan di dekat zona inlet ataupun di tengah
bak.

Kata Kunci: Prasedimentasi, Bilangan Reynolds dan Froude

Abstract
Pre-sedimentation is one of operation unit in water treatment plant which commonly used for
pre-treatment. Pre-sedimentation form which commonly used is rectangular and circular form. There
are four zones on pre-sedimentation basin, which are inlet zone, settling zone, outlet zone and sludge
zone. These four zones would affect settling process on the settling zone. Because of that, it necessary
to know how to make the design of these four zones.Others factor that affect sedimentation process
are overflow rate, horizontal velocity (vh), Reynolds Number of particle and flow characteristics.
Flow characteristics will be known from Reynolds Number and Froude Number. Still, those two
numbers cant be fulfilled both, so that there should be reference to be appointed.
Literature studies resulted conclusion that the appropriate reference of rectangular pre-
sedimentation basin design is using Froude Number, while the appropriate reference for circular pre-
sedimentation with center feed design is using Reynolds Number. Determining length, width and
depth of the basin, its necessary to refer on overflow rate and horizontal velocity as reference. Inlet
design which appropriate for pre-sedimentation unit is using perforated baffle, because it can reduce
the dead zones. Outlet design which appropriate for pre-sedimentation unit is using weir such as v-
notch with weir loading rate as small as possible to prevent the scouring of settled particles. Sludge
zone design which appropriate for rectangular pre-sedimentation is using slope in the area of the
bottom tank towards the hopper. The hopper set up near the inlet zone or in the middle of tank.

Key Words: Pre-sedimentation, Reynolds and Froude Number

1
2

1. Pendahuluan
Air baku yang tersedia di alam berasal dari air permukaan, air tanah, dan air laut. Salah satu jenis
air permukaan yang banyak digunakan di Indonesia adalah air sungai karena di Indonesia banyak
terdapat sungai besar yang dapat digunakan sebagai sumber air baku untuk air minum. Namun,
keadaan sungai yang fluktuatif menyebabkan air baku yang berasal dari air sungai terkadang memiliki
konsentrasi suspended solid (SS) yang tinggi. Konsentrasi SS yang tinggi tersebut dapat membebani
unit-unit pada bangunan pengolahan air minum, sehingga diperlukan sebuah unit sebagai pengolahan
pendahuluan agar tidak membebani unit selanjutnya. Pengolahan pendahuluan umumnya dilakukan
dengan menggunakan unit prasedimentasi. Unit prasedimentasi merupakan unit dimana terjadi proses
pengendapan partikel diskret. Partikel diskret adalah partikel yang tidak mengalami perubahan
bentuk, ukuran, maupun berat pada saat mengendap. Pengendapan dapat berlangsung dengan efisien
apabila syarat-syaratnya terpenuhi. Menurut Lopez (2007), efisiensi pengendapan tergantung pada
karakteristik aliran, sehingga perlu diketahui karakteristik aliran pada unit tersebut. Karakteristik
aliran dapat diperkirakan dengan bilangan Reynolds dan bilangan Froude (Kawamura, 2000).
Bentuk bak prasedimentasi dapat mempengaruhi karakteristik aliran, sehingga bentuk merupakan
hal yang harus diperhatikan pada saat merancang unit prasedimentasi. Selain bentuk, rasio lebar dan
kedalaman merupakan hal yang juga menentukan karakteristik aliran. Hal ini dikarenakan formula
perhitungan bilangan Reynolds dan Froude mengandung jari-jari hidrolis R sebagai salah satu
fungsinya. Jari-jari hidrolis terkait dengan luas permukaan basah A dan keliling basah P yang
merupakan fungsi dari lebar dan kedalaman, sehingga rasio antara lebar dan kedalaman juga akan
mempengaruhi karakteristik aliran.
Berdasarkan SNI 6774 tahun 2008 tentang tata cara perencanaan unit paket instalasi pengolahan
air, bilangan Reynolds pada unit prasedimentasi harus memiliki nilai kurang dari 2000, sedangkan
Bilangan Froude harus lebih dari 10-5. Kedua persyaratan tersebut seharusnya terpenuhi, tetapi pada
kenyataannya akan sulit memenuhi kedua bilangan tersebut sekaligus dalam perancangan unit
prasedimentasi. Oleh karena itu, perlu dilakukan studi literatur untuk mengetahui acuan yang harus
diutamakan untuk dipenuhi. Bentuk dan rasio antara lebar dan kedalaman memiliki peran penting
dalam menentukan karakteristik aliran, sehingga kedua hal tersebut harus dipertimbangkan dalam
menetapkan acuan. Selain karakteristik aliran, ada beberapa faktor lain yang menentukan kondisi
pengendapan, yaitu overflow rate, vhorizontal (vh), serta bilangan Reynolds partikel. Apabila faktor-
faktor tersebut benar-benar diperhatikan, maka dapat tercapai kondisi pengendapan sesuai dengan
yang diharapkan, sehingga pada saat mendesain zona pengendapan, faktor-faktor harus benar-benar
diperhatikan. Selain kondisi zona pengendapan, ketiga zona lainnya, yaitu zona inlet, zona lumpur,
dan zona outlet saling mempengaruhi satu sama lainnya dalam menentukan efisiensi pengendapan.
Adanya ketidakseimbangan pada zona inlet dapat menyebabkan adanya aliran pendek, turbulensi,
dan ketidakstabilan pada zona pengendapan (Kawamura, 2000). Begitu juga halnya terhadap zona
lumpur. Zona lumpur merupakan zona dimana terkumpulnya partikel diskret yang telah terendapkan.
Apabila terjadi aliran turbulen, partikel diskret yang telah terendapkan dapat mengalami penggerusan,
sehingga partikel yang telah terendapkan dapat kembali naik. Zona outlet juga mempengaruhi
karakteristik aliran, sehingga zona outlet harus didesain untuk meminimalisasi terjadinya aliran
pendek. Oleh karena itu, perlu dilakukan studi literatur untuk mengetahui bagaimana desain seluruh
zona pada unit prasedimentasi agar tercapai kondisi pengendapan sesuai dengan yang diharapkan.

2. Metoda Studi
Metoda studi berisi rangkaian langkah langkah studi yang akan dilaksanakan sampai didapatkan
kesimpulan umum hingga penerapannya pada studi kasus. Metoda studi ini dibuat agar pelaksanaan
kegiatan studi terarah dan dapat mencapai tujuan yang diinginkan.
2.1 Pengumpulan, Pengolahan, dan Analisis Data
Data-data yang dibutuhkan untuk studi literatur ini dikelompokkan menjadi 5 macam data, yaitu
data A, B, C, D, dan E. Pengumpulan, pengolahan, dan analisis untuk setiap jenis data adalah sebagai
berikut.
2.1.1 Data A
Data A merupakan data sekunder yang didapatkan dari literatur-literatur, baik text book
maupun jurnal hasil penelitian. Literatur yang berasal dari text book diambil bagian teori dasarnya,
3

sedangkan literatur yang berasal dari jurnal diambil bagian hasil penelitian maupun teori yang
mendasari penelitian tersebut. Data A terdiri dari:
Teori dasar bilangan Reynolds aliran dan bilangan Froude.
Hasil penelitian mengenai unit prasedimentasi bentuk rectangular dan circular.
Contoh-contoh rasio lebar dan kedalaman yang biasa digunakan pada unit prasedimentasi.
Hasil penelitian mengenai unit prasedimentasi yang terkait dengan lebar dan kedalaman.
Pengolahan dan analisis data-data tersebut dilakukan dengan cara membuat rangkuman dari
setiap data dan menganalisis rangkuman tersebut. Output yang dihasilkan dari pengolahan dan analisis
data A ini adalah untuk mendapatkan acuan karakteristik aliran berdasarkan pada bentuk yang
berbeda dengan luas permukaan yang sama dan berdasarkan pada rasio lebar dan kedalaman.
2.1.2 Data B
Data B merupakan data sekunder yang didapatkan dari literatur-literatur, baik text book maupun
jurnal hasil penelitian. Literatur yang berasal dari text book diambil bagian teori dasarnya, sedangkan
literatur yang berasal dari jurnal diambil bagian hasil penelitian maupun teori yang mendasari
penelitian tersebut. Data B terdiri dari:
Teori dasar sedimentasi tipe 1 dan faktor-faktor yang mempengaruhi proses pengendapan.
Teori desain zona pengendapan, baik zona pengendapan untuk unit prasedimentasi bentuk
rectangular maupun circular.
Pengolahan dan analisis data-data tersebut dilakukan dengan cara membuat rangkuman dari
setiap data dan menganalisis rangkuman tersebut. Data A dan data B digabungkan serta dilakukan
simulasi untuk mendapatkan korelasi antara faktor-faktor yang mempengaruhi proses pengendapan.
Setelah didapatkan korelasi antara faktor-faktor tersebut, maka dapat diketahui bagaimana cara
mendesain zona pengendapan, baik untuk unit prasedimentasi bentuk rectangular maupun circular
dengan memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi proses pengendapan.
2.1.3 Data C
Data C merupakan data sekunder yang didapatkan dari literatur-literatur, baik text book maupun
jurnal hasil penelitian. Literatur yang berasal dari text book diambil bagian teori dasarnya, sedangkan
literatur yang berasal dari jurnal diambil bagian hasil penelitian maupun teori yang mendasari
penelitian tersebut. Data C terdiri dari:
Teori dasar inlet, zona lumpur, dan outlet.
Jenis-jenis inlet dan outlet prasedimentasi.
Peletakan inlet dan outlet prasedimentasi.
Bentuk-bentuk dan kemiringan zona lumpur.
Mekanisme pembersihan zona lumpur.
Pengolahan dan analisis data-data tersebut dilakukan dengan cara membuat rangkuman dari
setiap data dan menganalisis rangkuman tersebut. Output yang dihasilkan dari pengolahan dan analisa
data C ini adalah untuk mengetahui desain inlet, zona lumpur, dan outlet, baik untuk unit
prasedimentasi bentuk rectangular maupun circular.
2.1.4 Data D
Data D merupakan data sekunder yang dihasilkan melalui survei ke PDAM Surabaya. Data
yang didapatkan dari studi literatur berupa kriteria desain unit prasedimentasi. IPAM yang menjadi
lokasi survei adalah IPAM Ngagel I dan II serta IPAM Karang Pilang I, II, dan III. Data D terdiri dari:
Debit air yang diolah PDAM.
Bentuk unit prasedimentasi, termasuk inlet, zona pengendapan, zona lumpur, mekanisme
pembersihan lumpur, serta outlet.
Dimensi unit prasedimentasi.
Pada survei ke PDAM digunakan tiga metoda pengumpulan data, antara lain:
Observasi, yaitu melakukan pengamatan langsung terhadap unit prasedimentasi.
Dokumentasi, yaitu pencatatan data data yang berkaitan dengan unit.
Wawancara, yaitu dengan melakukan tanya jawab langsung kepada narasumber yang mempunyai
wewenang dalam memberikan informasi yang berkaitan dengan unit prasedimentasi tersebut.
Pengolahan dan analisis data-data tersebut dilakukan dengan cara membuat tabel dari data debit
dan dimensi unit prasedimentasi, serta membuat rangkuman tentang unit prasedimentasi dari setiap
unit prasedimentasi pada IPAM Ngagel dan Karang Pilang dan menganalisis rangkuman tersebut.
4

Output yang dihasilkan dari pengolahan dan analisa data D ini adalah untuk mengetahui kondisi riil
dari unit prasedimentasi di PDAM dan hasil survei unit prasedimentasi tersebut dapat digunakan
sebagai bahan studi kasus.
2.1.5 Data E
Data E merupakan data primer yang didapatkan dari hasil sampling dan analisa laboratorium.
Sampel air diambil dari Kali Jagir dan Kali Surabaya yang merupakan sumber air baku yang
digunakan oleh IPAM Ngagel dan IPAM Karang Pilang. Sampel air tersebut diambil pada saat musim
hujan. Sampel air IPAM Ngagel diambil dari canal intake IPAM Ngagel pada 8 Desember 2011,
pukul 14.45. Sampel air IPAM Karang Pilang diambil dari saluran inlet unit prasedimentasi pada 7
Desember 2011, pukul 13.00. Setelah dilakukan pengambilan sampel air, dilakukan pengecekan
terhadap kekeruhan air sampel dengan menggunakan turbidimeter dan dibandingkan dengan data
kualitas air yang didapatkan dari PDAM.
Kekeruhan air sampel pada IPAM Karang Pilang lebih tinggi daripada data kekeruhan air pada
musim kemarau, tetapi lebih rendah daripada data kekeruhan pada musim hujan, sehingga perlu
ditambahkan lumpur untuk membuat kekeruhan buatan agar nilainya mendekati nilai kekeruhan yang
tinggi pada musim hujan. Lumpur diambil dari bagian Kali Surabaya yang terletak dekat dengan inlet
IPAM Karang Pilang. Kekeruhan air sampel pada IPAM Ngagel lebih tinggi daripada data kekeruhan
air pada musim kemarau, tetapi lebih rendah daripada data kekeruhan pada musim hujan, sehingga
perlu ditambahkan lumpur untuk membuat kekeruhan buatan agar nilainya mendekati nilai kekeruhan
yang tinggi pada musim hujan. Lumpur diambil dari bagian Kali Jagir yang terletak dekat dengan
IPAM Ngagel. Langkah selanjutnya adalah melakukan analisis untuk mendapatkan data:
Kandungan TSS pada air yang menjadi sumber air baku PDAM.
Analisis kandungan TSS, dilakukan pada awal percobaan dan akhir dengan menggunakan metode
gravimetri seperti pada buku Standard Method halaman 2-55 (lampiran A). Analisa kandungan
TSS ini dilakukan akan digunakan untuk melihat % removal TSS pada sampel air setelah proses
pengendapan.
Waktu detensi yang sesuai digunakan untuk sumber air baku PDAM.
Penentuan waktu detensi yang sesuai untuk sampel air tersebut pada unit prasedimentasi dengan
menggunakan imhoff cone. Pertambahan volume lumpur yang mengendap pada imhoff cone akan
dicek setiap 5 menit. Apabila sudah tidak terjadi penambahan volume lumpur, maka waktu
pengendapan akan dicatat dan ditetapkan sebagai waktu detensi yang efektif untuk mendesain unit
prasedimentasi.
Volume lumpur yang dihasilkan per satu liter sampel air.
Penentuan volume lumpur yang dihasilkan dengan melihat volume lumpur yang dihasilkan per
satu liter sampel air.
Pengolahan dan analisis data-data tersebut dilakukan dengan cara membuat tabel dari setiap
data dan menganalisis tabel tersebut. Output yang dihasilkan dari pengolahan dan analisa data E ini
adalah untuk mendapatkan data-data di atas yang nantinya akan digunakan untuk bahan studi kasus.
2.2 Pembahasan
Setiap data yang telah dianalisis akan dibahas untuk mengetahui desain dari zona inlet, zona
pengendapan, zona outlet, dan zona lumpur yang paling baik. Pembahasan juga dilakukan untuk
membahas korelasi dari setiap faktor yang mempengaruhi proses pengendapan di zona pengendapan
dan juga pembahasan terhadap simulasi bilangan Reynolds dan Froude.
2.3 Studi Kasus
Data-data yang telah dikumpulkan dan dibahas akan digunakan untuk menyelesaikan studi
kasus. Studi kasus yang digunakan pada studi ini adalah unit prasedimentasi di IPAM Ngagel dan
Karang Pilang. Apabila hasil analisa data A, data B, dan data C digabungkan, maka dapat diketahui
desain unit prasedimentasi yang sesuai dengan hasil analisa dari studi literatur. Data D dan E
digunakan untuk mengevaluasi unit prasedimentasi di IPAM Ngagel dan Karang pilang.
2.4 Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan didapatkan dari hasil pembahasan dan studi kasus. Kesimpulan merupakan
jawaban dari tujuan studi literatur. Saran berisi hal-hal yang masih dapat dikerjakan dengan lebih
baik dan dapat dikembangkan lebih lanjut.

3. Pembahasan
5

Prasedimentasi merupakan unit dimana terjadi proses pengendapan partikel diskret. Pada dasarnya,
prasedimentasi memiliki tiga bentuk, yaitu rectangular, circular, dan square. Menurut Montgomery
(1985), bak berbentuk square sangat jarang digunakan. Oleh karena itu, pembahasan bak
prasedimentasi hanya untuk dua bentuk, yaitu bak prasedimentasi berbentuk rectangular dan circular.
3.1 Bak Prasedimentasi Berbentuk Rectangular
Bak prasedimentasi bentuk rectangular terbagi menjadi empat zona, yaitu zona inlet, zona
pengendapan, zona outlet, serta zona lumpur. Berikut ini adalah pembahasan untuk masing-masing
zona tersebut.
3.1.1 Zona Inlet
Zona inlet berfungsi untuk mendistribusikan air ke seluruh area bak secara seragam,
mengurangi energi kinetik air yang masuk, serta untuk memperlancar transisi dari kecepatan air yang
tinggi menjadi kecepatan air yang rendah yang sesuai untuk terjadinya proses pengendapan di zona
pengendapan. Rostami dkk (2011) melakukan penelitian dengan cara mengatur letak bukaan inlet dan
juga mengatur jumlah bukaan inlet. Bukaan inlet (a) terletak di atas, bukaan inlet (b) terletak di tengah
bak, bukaan inlet (c) terletak di bawah bak, sedangkan bukaan inlet (d) dan (e) merupakan variasi dari
jumlah bukaan inlet. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, apabila digunakan hanya satu bukaan inlet,
circulation zone yang terbentuk yang paling kecil adalah apabila bukaan inlet diletakkan di tengah.
Apabila kasus D dan E dibandingkan, circulation zone yang terbentuk paling kecil adalah pada saat
bukaan inlet lebih banyak, yaitu pada kasus E.
Hasil penelitian tersebut, memberikan kesimpulan bahwa apabila hanya digunakan satu bukaan
saja, maka yang paling baik adalah dengan meletakkan bukaan inlet pada bagian tengah bak. Namun,
akan lebih baik apabila bukaan pada inlet jumlahnya lebih banyak. Hasil serupa juga dihasilkan dari
hasil penelitian Tamayol dkk (2008). Tamayol dkk (2008) melakukan penelitian serupa dengan
memposisikan inlet pada tiga posisi, yaitu atas bak, tengah bak, dan bawah bak. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa peletakan bukaan inlet di tengah dapat mengurangi volume circulation zone
yang dapat mempengaruhi kondisi pengendapan. Selain melakukan pengaturan pada posisi inlet, hal
lain yang dapat dilakukan untuk mengurangi volume circulation zone dan mengurangi energi kinetik
air adalah dengan memasang baffle. Namun, perlu diketahui peletakan baffle yang tepat, sebab
peletakan baffle yang salah dapat memperburuk kinerja bak. Hasil penelitian Tamayol dkk (2008)
menunjukkan bahwa baffle harus diletakkan tidak jauh dari letak terjadinya circulation zone. Baffle
harus diletakkan dekat dengan terjadinya circulation zone.
Apabila merujuk pada hasil penelitian Rostami dkk (2011) bahwa semakin banyak bukaan inlet
dapat mengurangi volume circular zone dan hasil penelitian Tamayol dkk (2008) bahwa penempatan
baffle pada posisi yang tepat dapat meningkatkan kinerja bak, maka hal ini akan berkaitan dengan
hasil penelitian Kawamura (2000) tentang perforated baffle. Perforated baffle merupakan modifikasi
dari baffle yang memiliki lubang-lubang pada dindingnya. Adanya lubang-lubang dengan ukuran
seragam pada dinding baffle menyebabkan terjadinya perataan aliran, sehingga dapat meminimalisasi
terjadinya dead zone. Sketsa perforated baffle dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1 Sketsa Perforated Baffle

Perforated baffle berfungsi untuk meratakan aliran, sehingga dapat meminimalisasi terjadinya
dead zone. Perataan aliran yang terjadi menyebabkan kecepatan aliran hampir merata di semua titik,
sehingga kecepatan air yang terjadi seragam di semua titik pada lubang perforated baffle. Namun,
perforated baffle bukan berfungsi untuk mengatur agar terpenuhinya bilangan Reynolds aliran, sebab
kecepatan aliran yang seragam hanya terjadi pada lubang di perforated baffle, namun setelah air
6

melalui lubang tersebut, kecepatan air akan mengikuti luas penampang basah bak yang dilalui oleh
air, sehingga perforated baffle bukan berfungsi untuk mengatur bilangan Reynolds.

3.1.2 Zona Pengendapan


Proses pengendapan pada zona pengendapan pada dasarnya ditentukan oleh dua faktor, yaitu
karakteristik partikel tersuspensi dan hidrolika bak.
1. Karakteristik partikel tersuspensi
Proses pengendapan yang terjadi di unit prasedimentasi merupakan pengendapan partikel diskret.
Partikel diskret adalah partikel yang tidak mengalami perubahan bentuk, ukuran, maupun berat pada
saat mengendap. Pada saat mengendap, partikel diskret tidak terpengaruh oleh konsentrasi partikel
dalam air karena partikel diskret mengendap secara individual dan tidak ada interaksi antar partikel.
Contoh partikel diskret adalah silika, silt, serta lempung. Partikel diskret memiliki spesifik gravity
sebesar 2,65 dengan ukuran partikel < 1 mm dan kecepatan mengendap < 100 mm/detik.
Pengendapan partikel diskret merupakan jenis pengendapan tipe I, yaitu proses pengendapan
yang berlangsung tanpa adanya interaksi antar partikel. Selain pengendapan partikel diskret, contoh
lain pengendapan tipe I adalah pengendapan partikel grit pada grit chamber. Contoh partikel grit
adalah pasir, dengan spesifik gravity antara 1,2-2,65 dengan ukuran partikel 0,2 mm dan kecepatan
pengendapan sebesar 23 mm/detik.
2. Overflow Rate dan Efisiensi Bak
Proses pengendapan partikel pada bak prasedimentasi aliran horizontal pada dasarnya seperti
yang terlihat pada Gambar 2. Partikel memiliki kecepatan horizontal, vH dan kecepatan pengendapan
vS.
L

VH

Vs = Vo
D

Gambar 2 Pergerakan Partikel pada Bak Prasedimentasi Aliran Horizontal

Gambar 2 menunjukkan bahwa apabila overflow rate/kecepatan horizontal sebanding dengan


kedalaman/panjang bak, maka


=
(4.1)

vo = .vH (4.2)


vo = . (4.3)

sehingga,

vo = (4.4)

Persamaan (4.4) menunjukkan bahwa overflow rate merupakan fungsi dari debit dan luas permukaan.
Selain persamaan (4.1) hingga (4.4), persamaan-persamaan berikut dapat membuktikan bahwa v0 = Q
/Asurface
7


v0 = 0 (4.4)
0

t0 = (4.5)
sehingga

v0 = /
0
(4.6a)

atau
0
v0 =
(4.6b)

v0 = (4.7)

Apabila bak prasedimentasi didesain dengan overflow rate, vo, maka partikel yang memiliki
kecepatan pengendapan vs lebih besar daripada vo akan tersisih seluruhnya. Partikel yang memiliki
kecepatan pengendapan lebih kecil daripada vo akan tersisih sebagian, yaitu partikel yang berada pada
kedalaman H2 (Gambar 3).

V1
H V
V

V0
V2
H2

Gambar 3 Profil pada Bak Rectangular Ideal.


Sumber: Reynolds dan Richards, 1996

Untuk menentukan besar penyisihan partikel dengan desain overflow rate v0 pada proses
pengendapan partikel, dapat diketahui dari hasil analisa tes kolom. Hasil tes kolom tersebut akan
menentukan overflow rate serta dimensi bak, sehingga dapat diketahui waktu detensi yang tepat untuk
proses pengendapan. Oleh karena itu, pada dasarnya kriteria desain tidak dapat digunakan untuk
menentukan waktu detensi maupun overflow rate. Kolom yang digunakan untuk analisa memiliki
beberapa kran pada rentang jarak tertentu. Kran-kran tersebut digunakan untuk mengambil sampel air
pada rentang waktu tertentu yang telah ditetapkan. Sebelum tes dilakukan, terlebih dahulu diambil
sampel untuk dikeringkan dan dianalisis konsentrasinya untuk diketahui konsentrasi awalnya.
Selama proses analisa dengan kolom tes tersebut, setiap rentang waktu tertentu, diambil sampel
air untuk di analisis konsentrasinya. Konsentrasi tersebut akan dibandingkan dengan konsentrasi awal
agar diketahui besar penyisihan partikelnya. Hal tersebut dilakukan selama rentang waktu tertentu.
Untuk menentukan efisiensi penyisihan partikel pada overflow rate tertentu, fraksi yang tersisihkan
terbagi menjadi dua, yaitu yang memiliki kecepatan pengendapan lebih besar daripada overflow rate
dan yang lebih kecil daripada overflow rate. Partikel yang tersisih karena memiliki kecepatan
pengendapan vs > v0 dapat dituliskan sebagai 1-F0. Partikel yang tersisih karena memiliki kecepatan
pengendapan vs < v0 tetapi berada pada kedalaman tertentu, sehingga dapat terendapkan dapat ditulis
1
sebagai 0 .
0

3. Hidrolika Bak
Aliran air dalam bak dapat diketahui dari beberapa hal, antara lain kecepatan horizontal (vh) serta
karakteristik aliran yang ditentukan oleh Bilangan Reynolds dan Froude.
Karakteristik Aliran
Berdasarkan studi literatur, diketahui bahwa karakteristik aliran dapat diketahui melalui Bilangan
Reynolds dan Froude.
8

Bilangan Reynolds
Teori dasar dan penerapan Bilangan Reynolds pada unit prasedimentasi menunjukkan korelasi
bahwa fungsi Bilangan Reynolds adalah untuk menunjukkan kondisi aliran pada unit prasedimentasi
apakah laminer atau turbulen. Kondisi aliran yang laminer diharapkan terjadi di unit prasedimentasi
karena keadaan aliran yang turbulen dapat menurunkan efisiensi kerja unit prasedimentasi. Oleh
karena itu, sesuai dengan SNI 6774 Tahun 2008 tentang Tata Cara Perencanaan Unit Paket Instalasi
Pengolahan Air, nilai Bilangan Reynolds harus kurang dari 2000. Pengaruh jenis aliran yang terjadi
pada prasedimentasi terhadap proses pengendapan partikel dapat dilihat pada Gambar 4.

Turbulent

Laminar

Gambar 4 Pengendapan Partikel pada Aliran Laminer dan Turbulen


Sumber: Huisman, 1977
Bilangan Froude
Teori dasar bilangan Froude menunjukkan bahwa bilangan Froude terkait dengan kondisi aliran
apakah, subkritis, kritis, atau superkritis. Kondisi aliran subkritis memiliki nilai bilangan Froude
kurang dari satu yang menunjukkan bahwa gaya gravitasi lebih mendominasi daripada gaya inersia,
sehingga kecepatan aliran cukup rendah. Penerapan pada unit prasedimentasi menunjukkan bahwa
bilangan Froude dapat menunjukkan apakah terjadi aliran pendek atau tidak pada unit prasedimentasi.
Aliran pendek dapat terjadi apabila kecepatan aliran cukup besar, sehingga diharapkan kecepatan
aliran pada unit prasedimentasi tidak terlalu besar atau dalam keadaan subkritis, sehingga aliran
pendek sebisa mungkin dapat dihindari. Oleh karena itu, sesuai dengan SNI 6774 Tahun 2008 tentang
Tata Cara Perencanaan Unit Paket Instalasi Pengolahan Air, nilai bilangan Froude harus lebih dari 10-
5
. Unit prasedimentasi dirancang sedemikian rupa agar mampu memenuhi Bilangan Reynolds dan
Froude, sehingga tercapai keadaan aliran yang sebaik mungkin untuk mendukung proses
pengendapan.
Overflow rate
Overflow rate menentukan proses pengendapan yang terjadi pada zona pengendapan. Overflow
rate memiliki keterkaitan dengan kecepatan horizontal serta Bilangan Reynolds dan Froude dalam
merancang zona pengendapan. Hubungan antara overflow rate, kecepatan horizontal, serta Bilangan
Reynolds dan Froude dapat dilihat pada tabel simulasi (Lampiran B). Tahapan-tahapan perhitungan
untuk tabel simulasi tersebut adalah sebagai berikut.
A. Menentukan hubungan antara W, L, dan H untuk Nre = 1 dan Nre = 2000
1. Overflow rate (vo) ditentukan terlebih dahulu berdasarkan kriteria desain. Menurut Schulz dan
Okun (1984), overflow rate (vo) adalah sebesar 20-80 m/hari.
2. Setelah ditetapkan nilai overflow rate dan debit air yang akan diolah dengan unit tersebut, maka
dapat dihitung luas permukaan unit prasedimentasi dengan menggunakan rumus berikut.

vo = (4.8)

dimana:
v0 = overflow rate (m/detik)
Q = debit air (m3/detik)
As = luas permukaan (m2)
Pada simulasi ini, nilai overflow rate dan debit divariasikan dengan overflow rate 20, 40, 60, dan
80 m/hari dan debit 50 liter/detik hingga 250 liter/detik.
9

3. Langkah berikutnya adalah melakukan simulasi untuk menentukan luas penampang Ac. Penentuan
luas penampang dilakukan dengan menggunakan Nre sebagai acuan. Berdasarkan kriteria desain,
Nre < 2000.
4. Kedalaman bak ditetapkan lebih dahulu, yaitu dalam rentang 1,5 hingga 3 m. Dengan acuan Nre
dan kedalaman bak, dilakukan simulasi untuk menentukan nilai Nfr.
a. Menghitung lebar bak dengan acuan Bilangan Reynolds dan kedalaman bak.

Nre =


=

= +2

= +2


Nre. = +2

W+2H =

W =
2H

dimana:
Ac = luas penampang (m2)
Nre = bilangan Reynolds
vh = kecepatan horizontal (m/detik)
R = jari-jari hidrolis (m)
W = lebar bak (m)
H = kedalaman bak (m)
= viskositas kinematis (m2/detik)

b. Menghitung kecepatan horizontal (vh)



Vh = . (4.9)
dimana:
vh = kecepatan horizontal (m/detik)
Q = debit air (m3/detik)
W = lebar bak (m)
H = kedalaman bak (m)

c. Menghitung nilai jari-jari hidrolis, R


.
R = = +2 (4.10)

dimana:
R = jari-jari hidrolis (m)
A = luas basah (m2)
P = keliling basah (m)
W = lebar bak (m)
H = kedalaman bak (m)

d. Menghitung nilai Nfr


2
Nfr = (4.11)

10

dimana:
Nfr = bilangan Froude
vh = kecepatan horizontal (m/detik)
R = jari-jari hidrolis (m)
g = percepatan gravitasi (m/detik2)

e. Menghitung panjang bak



L=
(4.12)
dimana:
AS = luas permukaan (m2)
L = panjang bak (m)
W = lebar bak (m)
Hasil simulasi dapat dituliskan sebagai berikut.
Nre = 1
1. Q = 0,05 m3/detik
Vo = 20 80 m/hari
A = 54 m2 66,46 m2
H = 1,5 m 3 m
W = 59560 m 59564 m
L = 0,00091 m 0,0012 m
Nfr = 2,66 x 10-15 2,13 x 10-14
2. Q = 0,1 m3/detik
Vo = 20 80 m/hari
A = 108 m2 132,92 m2
H = 1,5 m 3 m
W = 119126 m 119130 m
L = 0,00091 m 0,0012 m
Nfr = 2,66 x 10-15 2,13 x 10-14
3. Q = 0,25 m3/detik
Vo = 20 80 m/hari
A = 270 m2 333 m2
H = 1,5 m 3 m
W = 297829 m 297826 m
L = 0,00091 m 0,0012 m
Nfr = 2,66 x 10-15 2,13 x 10-14

Nre = 2000
1. Q = 0,05 m3/detik
Vo = 20 80 m/hari
A = 54 m2 66,46 m2
H = 1,5 m 3 m
W = 24 m 27 m
L = 2 m 2,8 m
Nfr = 1,2 x 10-4 2,1 x 10-8
2. Q = 0,1 m3/detik
Vo = 20 80 m/hari
A = 108 m2 132,92 m2
H = 1,5 m 3 m
W = 54 m 57 m
L = 1,9 m 2,5 m
Nfr = 9,9 x 10-8 1,5 x 10-5
3. Q = 0,25 m3/detik
Vo = 20 80 m/hari
11

A = 270 m2 333 m2
H = 1,5 m 3 m
W = 143 m 146 m
L = 1,85 m 2,4 m
Nfr = 1,2 x 10-8 9,04 x 10-8

Hasil simulasi menunjukkan bahwa Nre = 1 tidak bisa digunakan sebagai acuan, sebab akan
menghasilkan lebar yang sangat besar dan tidak sebanding dengan panjang bak. Apabila Nre
digunakan sebagai acuan, maka pada saat Nre memenuhi syarat untuk terjadinya aliran laminer (Nre <
2000) bilangan Froude tidak akan dapat terpenuhi. Jika Nre memenuhi syarat, maka bentuk unit
prasedimentasi dapat dilihat pada Gambar 5.

ZONA
L
PENGENDAPAN

INLET
Gambar 5 Sketsa Gambar Prasedimentasi dengan Nre Sebagai Acuan

B. Menentukan hubungan antara W, L, dan H untuk Nfr > 10-5


1. Overflow rate (vo) ditentukan terlebih dahulu berdasarkan kriteria desain. Menurut Schulz dan
Okun (1984), overflow rate (vo) adalah sebesar 20-80 m/hari.
2. Setelah ditetapkan nilai overflow rate dan debit air yang akan diolah dengan unit tersebut, maka
dapat dihitung luas permukaan unit prasedimentasi dengan menggunakan rumus berikut.

Vo =

dimana:
v0 = overflow rate (m/detik)
Q = debit air (m3/detik)
As = luas permukaan (m2)
Pada simulasi ini, nilai overflow rate dan debit divariasikan dengan overflow rate 20, 40, 60, dan
80 m/hari dan debit 50 liter/detik hingga 250 liter/detik.
3. Langkah berikutnya adalah melakukan simulasi untuk menentukan luas penampang Ac. Penentuan
luas penampang dilakukan dengan menggunakan Nfr > 10-5. Karena Nfr merupakan kombinasi
persamaan yang kompleks, sehingga yang ditetapkan adalah nilai vh agar Nfr > 10-5.
4. Kedalaman bak ditetapkan lebih dahulu, yaitu dalam rentang 1,5 hingga 3 m. Dengan acuan Nfr
dan kedalaman bak, dilakukan simulasi untuk menentukan nilai Nfr.
a. Menghitung lebar bak dengan acuan vh dan kedalaman bak.

Vh =

Ac =


W =

dimana:
Ac = luas penampang (m2)
Q = debit air (m3/detik)
vh = kecepatan horizontal (m/detik)
12

R = jari-jari hidrolis (m)


W = lebar bak (m)
H = kedalaman bak (m)

b. Menghitung nilai jari-jari hidrolis, R


.
R = = +2

dimana:
R = jari-jari hidrolis (m)
A = luas basah (m2)
P = keliling basah (m)
W = lebar bak (m)
H = kedalaman bak (m)
c. Mengecek nilai Nre

Nre =
(4.13)
dimana:
Nre = bilangan Reynolds
vh = kecepatan horizontal (m/detik)
R = jari-jari hidrolis (m)
v` = viskositas kinematis (m2/detik)
Tabel serta grafik hasil simulasi dapat dilihat pada Lampiran B (Tabel B.37- B.54 dan Gambar B.25-
B.36). Hasil simulasi dapat dituliskan sebagai berikut.
Nfr > 10-5
1. Q = 0,05 m3/detik
Vo = 20 80 m/hari
A = 54 m2 66,46 m2
H = 1,5 m 3 m
W = 0,62 m 3,3 m
L = 16,2 m 108 m
Nre = 9000 11112

2. Q = 0,1 m3/detik
Vo = 20 80 m/hari
A = 108 m2 132,92 m2
H = 1,5 m 3 m
W = 1,2 m 6,7 m
L = 16,2 m 108 m
Nre = 12324 16467

3. Q = 0,25 m3/detik
Vo = 20 80 m/hari
A = 270 m2 333 m2
H = 1,5 m 3 m
W = 3,2 m 16,7 m
L = 16,2 m 104 m
Nre = 15144 - 33119

Hasil simulasi menunjukkan bahwa pada saat Nfr memenuhi syarat (Nfr > 10 -5) Bilangan
Reynolds tidak akan dapat terpenuhi. Jika Nfr yang menjadi acuan, maka bentuk unit prasedimentasi
dapat dilihat pada Gambar 6.
W
13

ZONA
L PENGENDAPAN

INLET

Gambar 6 Sketsa Gambar Prasedimentasi dengan Nfr


Sebagai Acuan

Hal ini dikarenakan kedua bilangan tersebut sebanding, yaitu sama-sama mengalami kenaikan
atau penurunan, sedangkan Nre < 2000 dan Nfr > 10-5, sehingga keduanya tidak bisa terpenuhi secara
bersamaan. Oleh karena itu, harus ditetapkan suatu acuan yang harus dipenuhi. Grafik menunjukkan
bahwa untuk debit dan luas penampang yang sama, jika Bilangan Reynolds yang diutamakan, maka
W > L, sedangkan jika Bilangan Froude yang diutamakan, maka L > W. Dari Gambar 2, 5, dan 6,
maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Bilangan Froude harus diutamakan, sebab pada proses
pengendapan yang penting adalah kecepatan horizontal dan overflow rate, sehingga diusahakan jarak
tempuh horizontal cukup panjang agar partikel yang mengendap dapat lebih banyak dan unit
prasedimentasi dapat bekerja dengan efisiensi lebih baik.

C. Menentukan hubungan W/H terhadap Nfr dan Nre


Langkah-langkah simulasi untuk menentukan hubungan W/H terhadap Nfr dan Nre adalah sebagai
berikut.
1. Overflow rate (vo) ditentukan terlebih dahulu berdasarkan kriteria desain. Menurut Schulz dan
Okun (1984), overflow rate (vo) adalah sebesar 20-80 m/hari.
2. Setelah ditetapkan nilai overflow rate dan debit air yang akan diolah dengan unit tersebut, maka
dapat dihitung luas permukaan unit prasedimentasi dengan menggunakan rumus berikut.

vo =

dimana:
v0 = overflow rate (m/detik)
Q = debit air (m3/detik)
As = luas permukaan (m2)
Pada simulasi ini, nilai overflow rate dan debit divariasikan dengan overflow rate 20 dan 80 m/hari
dan debit 50 liter/detik hingga 250 liter/detik.
3. Langkah berikutnya adalah menentukan kedalaman bak dan variasi W/H. Jika H dan W/H sudah
diketahui, maka dapat ditentukan W bak.
4. Lalu dihitung kecepatan horizontal (vh) dan R.

vh =

vh = .
.
R = = +2

dimana:
Ac = luas penampang (m2)
Q = debit air (m3/detik)
vh = kecepatan horizontal (m/detik)
14

R = jari-jari hidrolis (m)


W = lebar bak (m)
H = kedalaman bak (m)

5. Mengecek Nfr dan Nre


2
Nfr =


Nre =
dimana:
Nfr = bilangan Froude
Nre = bilangan Reynolds
vh = kecepatan horizontal (m/detik)
R = jari-jari hidrolis (m)
g = percepatan gravitasi (m/detik2)
v` = viskositas kinematis (m2/detik)

Hasil simulasi menunjukkan bahwa untuk H yang sama, semakin besar rasio W/H, maka nilai
Nfr akan semakin kecil, begitu juga dengan nilai Nre, sedangkan untuk rasio W/H yang sama,
semakin dalam bak, Nfr akan semakin kecil, begitu juga dengan Nre. Berdasarkan hasil pembahasan
sebelumnya, yaitu nilai Nfr digunakan sebagai acuan dalam mendesain unit prasedimentasi, maka
simulasi ini dilakukan untuk menentukan rasio W/H dan L/W agar Nfr > 10-5 dengan nilai Nre yang
sekecil mungkin. Berdasarkan simulasi sesuai dengan tahapan di atas maka hasil simulasi adalah
sebagai berikut.
1. Q = 0,05 m3/detik
Vo = 20 - 80 m/hari
H = 1,5 m
W/H 2,45
L/W 4
Nre 8923
H =2m
W/H 1,35
L/W 7,4
Nre 8890
H = 2,5 m
W/H 0,9
L/W 10,7
Nre 8216
H =3m
W/H 0,65
L/W 14,2
Nre 7492
Untuk debit air sebesar 0,05 m3/detik dan Nfr > 10-5, maka Nre paling kecil yang mungkin dicapai
adalah 7492 dengan kedalaman sebesar 3 m dengan W/H 0,65 dan L/W 14,2.

2. Q = 0,1 m3/detik
Vo = 20 - 80 m/hari
H = 1,5 m
W/H 4,4
L/W 2,5
Nre 12409
H =2m
W/H 2,4
15

L/W 4,7
Nre 13538
H = 2,5 m
W/H 1,5
L/W 7,7
Nre 13615
H =3m
W/H 1,05
L/W 11
Nre 13020
Untuk debit air sebesar 0,1 m3/detik dan Nfr > 10-5, maka Nre paling kecil yang mungkin dicapai
adalah 12409 dengan kedalaman 1,5 m dengan W/H 4,4 dan L/W 2,5.

3. Q = 0,25 m3/detik
Vo = 20 - 80 m/hari
H = 1,5 m
W/H 8
L/W 1,9
Nre 19855
H =2m
W/H 5
L/W 2,7
Nre 21274
H = 2,5 m
W/H 3
L/W 5
Nre 23827
H =3m
W/H 2
L/W 7,5
Nre 24819
Untuk debit air sebesar 0,1 m3/detik dan Nfr > 10-5, maka Nre paling kecil yang mungkin dicapai
adalah 19855 dengan kedalaman 1,5 m dengan W/H 8 dan L/W 1,8.

3.1.3 Zona Outlet


Desain outlet biasanya terdiri dari pelimpah yang dirancang sedemikian rupa untuk mengurangi
terjadinya aliran pendek. Weir loading rate adalah beban pelimpah (dalam hal ini debit air) yang
harus ditanggung per satuan waktu dan panjangnya. Berikut ini adalah beberapa kriteria desain untuk
weir loading rate dari berbagai sumber (Tabel 1).
Tabel 1 Beragam Weir Loading Rate dari Beragam Sumber
Weir Loading Rate
Sumber Keterangan
(m3/hari.m)
186 Katz, 1962
Pada daerah yang
249,6 Katz, 1962 terpengaruh density
current
264 Kawamura, 2000
125-500 Droste, 1997
172,8-259,2 Huisman, 1977

Berdasarkan sejumlah kriteria desain pada beragam sumber mengenai weir loading rate di atas,
dapat dilihat bahwa jika pada bak terjadi density current, weir loading rate diharapkan tidak terlalu
besar karena dapat menyebabkan terjadinya penggerusan pada partikel yang mengendap di sekitar
outlet, sehingga diharapkan weir loading rate dapat sekecil mungkin.
16

Pada dasarnya satu pelimpah sudah cukup, namun jika hanya ada satu pelimpah, maka weir
loading rate akan menjadi besar. Hal tersebut dapat mengganggu proses pengendapan, sebab terjadi
aliran ke atas menuju pelimpah dengan kecepatan cukup besar yang menyebabkan partikel yang
bergerak ke bawah untuk mengendap terganggu. Terdapat beberapa alternatif untuk mendesain
pelimpah agar luas yang dibutuhkan untuk zona outlet tidak terlalu besar dan beban pelimpah juga
tidak terlalu besar, antara lain dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7 Beragam Susunan Pelimpah pada Outlet


Sumber: Qasim, 1985

Pemilihan desain outlet sangat tergantung pada lebar bak, debit air yang dialirkan serta weir
loading rate, sehingga pada saat menetapkan bentuk outlet, ketiga hal tersebut harus dipertimbangkan.
Jenis pelimpah yang umumnya digunakan adalah bentuk rectangular dan v-notch, namun v-notch
lebih banyak digunakan karena memiliki kemampuan self cleansing dan dapat meminimalisasi
pengaruh angin. Contoh gambar v-notch dapat dilihat pada Gambar 8 berikut.

10 cm 5 cm 15 cm

5 cm 90o

4 cm

Gambar 8 Contoh v-notch


Sumber: Fair dkk., 1981

Selain menggunakan pelimpah, outlet unit prasedimentasi dapat menggunakan perforated baffle
karena pada dasarnya outlet berfungsi untuk mengalirkan air yang telah terpisah dari suspended solid
tanpa mengganggu partikel yang telah terendapkan di zona lumpur, sehingga perforated baffle dapat
digunakan, hanya saja bukaan diletakkan 30-90 cm dari permukaan, dan tidak diletakkan terlalu di
bawah, sebab apabila bukaan diletakkan terlalu bawah, partikel yang telah terndapakan dapat ikut
terbawa ke outlet.

3.1.4 Zona Lumpur


Zona lumpur merupakan zona dimana partikel-partikel diskret yang telah mengendap berada.
Zona ini memiliki kemiringan tertentu menuju ke hopper yang terletak di bagian bawah inlet.
Menurut Qasim (1985), kemiringan dasar bak rectangular adalah sebesar 1-2%. Zona lumpur
17

didesain memiliki kemiringan tertentu agar mempermudah pada saat pembersihan lumpur.
Kemiringan yang cukup terutama untuk pembersihan yang dilakukan secara manual, sebab
pembersihan secara manual biasanya dilakukan dengan cara menggelontorkan air agar lumpur
terbawa oleh air. Hopper terletak di bagian bawah inlet, sebab sebagian besar partikel besar
mengendap di ujung inlet. Selain itu, apabila hopper diletakkan di bawah zona outlet, dikhawatirkan
partikel yang telah terendapkan dapat tergerus karena adanya pergerakan air menuju pelimpah.
Gambar 9 menunjukkan hopper pada bak prasedimentasi bentuk rectangular.

HOPPER

Gambar 9 Hopper pada Bak Prasedimentasi Bentuk Rectangular

Selain diletakkan dekat dengan inlet, hopper juga dapat diletakkan secara dan juga dapat
diletakkan di tengah bak seperti pada Gambar 10 berikut.

Gambar 10 Zona Lumpur pada Tengah Bak


Sumber: Fair dkk., 1981

Pembersihan lumpur juga dapat dilakukan dengan cara automatis dengan beberapa macam
scraper. Pada dasarnya, untuk bak rectangular terdapat dua jenis peralatan pembersih lumpur, yaitu
tipe chain-and-flight dan travelling bridge dan memiliki scraper untuk mendorong lumpur masuk ke
hopper.
1. Tipe Chain and Flight merupakan tipe pembersih lumpur dengan kecepatan perpindahan yang
tidak lebih dari 1 cm/detik. Dasar bak dirancang memiliki kemiringan sebesar 1%. Gambar 11
menunjukkan pembersih lumpur tipe chain and flight.

(a)
18

(b)
Gambar 11 (a) Sketsa Peralatan Pembersih Lumpur Tipe Chain and Flight, (b Peralatan Pembersih
Lumpur Tipe Chain and Flight 3 Dimensi
Sumber: (a) Huisman, 1977 dan (b) Finnchain Oy

Gambar 12 Sketsa Peralatan Pembersih Lumpur Tipe Travelling Bridge


Sumber: Huisman, 1977

3.2 Bak Prasedimentasi Berbentuk Circular


Pada dasarnya, bak prasedimentasi berbentuk circular terdiri dari dua jenis, yaitu peripheral feed
dan center feed. Bak circular tipe peripheral feed memiliki inlet yang terletak di sekeliling bak,
(sedangkan tipe center feed memiliki inlet yang terletak di tengah bak. Gambar 13 menunjukkan bak
prasedimentasi tipe pheripheral feed dan center feed.

(a) (b)

Gambar 13 Bak Prasedimentasi Bentuk Circular (a) Tipe Center Feed (b) Tipe Peripheral Feed

Bak prasedimentasi bentuk circular terbagi menjadi empat zona, yaitu zona inlet, zona
pengendapan, zona outlet, serta zona lumpur. Berikut ini adalah pembahasan untuk masing-masing
zona tersebut.
3.2.1 Zona Pengendapan
Pemilihan inlet maupun outlet untuk bak circular sangat tergantung pada kondisi zona
pengendapan, sehingga zona pengendapan yang menentukan penempatan zona inlet maupun zona
outlet. Oleh karena itu, perlu ditentukan lebih dahulu kondisi zona pengendapan yang efisien. Faktor-
19

faktor yang mempengaruhi proses pengendapan pada bak circular sama dengan pada bak rectangular,
hanya saja nilai Bilangan Reynolds dan Froude berubah sepanjang perubahan diameter. Hasil simulasi
menunjukkan bahwa Nre dan Nfr akan cukup tinggi di tengah bak, dan akan semakin mengecil saat
mendekati pinggir bak, sehingga kedua bilangan tersebut tidak akan dapat dipenuhi secara bersamaan.
Penentuan acuan akan berpengaruh pada letak inlet dan outlet.
Jika unit prasedimentasi berupa center feed, maka pada saat air masuk, keadaan aliran akan
cukup turbulen, mendekati outlet bak, aliran akan menjadi semakin laminer, sebaliknya jika unit
prasedimentasi berupa peripheral feed, maka pada saat air masuk, keadaan air akan laminer, semakin
mendekati outlet akan semakin turbulen. Letak outlet akan sangat mempengaruhi pemilihan acuan,
seperti diketahui bahwa di dekat pelimpah, akan terjadi pergerakan air ke atas yang dapat
menghambat partikel untuk mengendap, sehingga keadaan air yang turbulen juga akan menghambat
partikel untuk mengendap. Apabila kondisi turbulen terjadi pada saat air masuk, partikel-partikel
besar yang dapat mengendap dengan cepat akan mengalami hambatan untuk mengendap, tapi seiring
dengan perubahan kondisi aliran, partikel-partikel tersebut dapat mengendap.
Sebaliknya, jika kondisi turbulen terletak di dekat outlet, partikel-partikel yang sudah
mengendap dapat tergerus kembali akibat kondisi aliran tersebut dan juga terdapat aliran air ke atas
menuju pelimpah. Oleh karena itu, bak prasedimentasi tipe center feed merupakan tipe yang paling
baik untuk bak prasedimentasi bentuk circular.

3.2.2 Zona Inlet


Berdasarkan hasil pembahasan zona pengendapan, maka inlet yang paling tepat adalah terletak
di tengah atau tipe center feed. Inlet bak tersebut dapat beragam, misalnya air dibiarkan melimpah
melalui inlet di tengah bak atau dinding inlet dirancang berlubang-lubang, sehingga air akan mengalir
melewati lubang-lubang tersebut. Selain itu, pada inlet juga dapat dipasang baffle. Baffle tersebut
berfungsi untuk mereduksi energi kinetik air yang keluar melalui inlet.

3.2.3 Zona Outlet


Berdasarkan hasil pembahasan zona pengendapan, maka outlet yang paling tepat bagi bak
presedimentasi bentuk circular terletak di sekeliling bak. Di sekeliling bak dipasang pelimpah,
sehingga air yang telah melalui bak prasedimentasi akan melimpah melalui pelimpah tersebut.
Pelimpah dapat berupa v-notch atau rectangular weir.

3.2.4 Zona Lumpur


Scraper yang digunakan untuk bentuk circular adalah tipe radial atau tipe diametral. Scraper
tersebut bergerak pada sekeliling bak untuk mendorong lumpur agar masuk ke hopper yang terletak di
tengah bak. Berbeda dengan prasedimentasi bentuk rectangular, bentuk circular memiliki hopper
yang terletak di tengah bak, sebab pengendapan partikel yang terjadi pada bak circular ini terjadi di
segala arah, sehingga untuk mempermudah pembersihan lumpur, hopper diletakkan di tengah bak.
Gambar 14 menunjukkan hopper pada bak prasedimentasi bentuk circular.

HOPPER

Gambar 14 Hopper pada Bak Prasedimentasi Bentuk Circular

Gambar 15 menunjukkan alat pembersih lumpur pada bak berbentuk circular.


20

Gambar 15 Mekanisme Pembersihan Lumpur dengan Scraper pada Bak Circular

4. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari studi literatur desain unit prasedimentasi ini adalah sebagai
berikut.
1. Acuan untuk mendesain bak prasedimentasi bentuk rectangular adalah Bilangan Froude,
sedangkan acuan untuk mendesain bak prasedimentasi bentuk circular dengan tipe center feed
adalah Bilangan Reynolds.
2. Semakin besar rasio lebar dan kedalaman, maka nilai Bilangan Froude dan Bilangan Reynolds
akan semakin kecil.
3. a. Q = 0,05 m3/detik
vo = 20 80 m/hari
Nfr > 10-5
Nre terkecil didapatkan apabila:
H =3m
W/H 0,65
L/W 14,2
Nre 7492
b. Q = 0,1 m3/detik
vo = 20 80 m/hari
Nfr > 10-5
Nre terkecil didapatkan apabila:
H = 1,5 m
W/H 4,4
L/W 2,5
Nre 12409
c. Q = 0,25 m3/detik
vo = 20 80 m/hari
Nfr > 10-5
Nre terkecil didapatkan apabila:
H = 1,5 m
W/H 8
L/W 1,9
Nre 19855
4. Bentuk Rectangular
Desain inlet yang tepat untuk unit prasedimentasi adalah dengan menggunakan perforated baffle
sebab dapat memperkecil area dead zone.
Desain outlet yang tepat untuk unit prasedimentasi adalah dengan menggunakan pelimpah yang
berupa v-notch dengan beban pelimpah yang sekecil mungkin untuk menghindari tergerusnya
21

partikel-partikel yang telah mengendap dan juga dapat berupa perforated baffle dengan lubang
diletakkan 30-90 cm dari permukaan dan tidak diletakkan terlalu dekat dengan dasar bak.
Desain zona lumpur yang tepat untuk unit prasedimentasi bentuk rectangular adalah dengan
adanya kemiringan pada dasar bak menuju hopper. Hopper dapat diletakkan di dekat zona inlet
maupun di tengah bak.
Bentuk Circular
Inlet yang tepat untuk unit prasedimentasi bentuk circular adalah terletak pada tengah bak (tipe
center-feed).
Desain outlet yang tepat untuk unit prasedimentasi adalah dengan menggunakan pelimpah yang
berupa v-notch dengan beban pelimpah yang sekecil mungkin untuk menghindari tergerusnya
partikel-partikel yang telah mengendap dan terletak pada sekeliling bak.
Desain zona lumpur yang tepat untuk unit prasedimentasi bentuk circular adalah dengan adanya
kemiringan pada dasar bak menuju hopper. Hopper terletak di tengah bak.

5. Daftar Pustaka
Al Layla, M.A., Ahmad, S., dan Middlebrooks, E. J. 1978. Water Supply Engineering Design.
Michigan: Ann Arbor Science.
Anonim. 2008. SNI 6774 Tahun 2008 Tentang Tata Cara Perencanaan Unit Paket Instalasi
Pengolahan Air. Jakarta: Badan Standardisasi Nasional.
APHA, AWWA, dan WEF. 1998. Standard Methods for The Examination of Water and
Wastewater 20th Edition. Washington: American Public Health Association.
ASCE, AWWA, dan CSSE. 1969. Water Treatment Plant Design. United States of America:
AWWA Inc.
Chanson, H. 2004. Environmental Hydraulics of Open Channel Flows. London: Elsevier
Butterworth-Heinemann.
Chow. 1959. Open-Channel Hydraulics. Singapura: McGraw-Hill International Editions.
Corbitt, R.A. 1998. Standard Handbook of Environmental Engineering. United States of
America: McGraw-Hill Handbooks.
Degremont. 1991. Water Treatment Handbook Volume 2. Perancis: Lavoisier Publishing.
Droste, R.L. 1997. Theory and Practice of Water and Wastewater Treatment. New York: John
Wiley dan Sons, Inc.
Fair, G.M., Geyer, J.C., dan Okun D.A. 1981. Water and Wastewater Engineering Volume 2.
New York: John Wiley dan Sons, Inc.
Gregory, R., Zabel, T., dan Edzwald, J. 1999. Sedimentation and Flotation in Letterman,
Raymond D. (Ed). Water Quality and Treatment. United States of America: McGraw-Hill, Inc.
Hendricks, D. 2006. Water Treatment Unit Processes Physical and Chemical. London: Taylor
dan Francis Group.
Huisman, L. 1977. Sedimentation and Flotation, Mechanical Filtration. DELFT University of
Technology.
Kawamura, S. 2000. Integrated Design and Operation of Water Treatment Facilities. Kanada:
John Wiley dan Sons, Inc.
Kodoatie, R.J. 2009. Hidrolika Terapan, Aliran pada Saluran Terbuka dan Pipa. Yogyakarta:
Penerbit Andi.
Logsdon, G.S, Hess, A., dan Horsley, M. 1999. Guide to Selection of Water Treatment
Processes in Letterman, Raymond D. (Ed). Water Quality and Treatment. United States of
America: McGraw-Hill, Inc.
22

Lopez, P.R., Lavin, A.G., Lopez, M.M., dan Heras, J.L. 2008. Flow Models for Rectangular
Sedimentation Tanks. Chemical Engineering and Processing: Process Intensification 47, 9-10:
1705-1716.
Montgomery, J.M. 1985. Water Treatment Principles and Design. Canada: John Wiley dan
Sons, Inc.
Qasim, S.R. 1985. Wastewater Treatment Plants, Planning DAesign, and Operation. United
States of America: CBS College Publishing.
Qasim, S.R., Motley, E.M., dan Zhu, G. 2000. Water Works Engineering, Planning, Design,
and Operation. United States of America: Prentice Hall PTR.
Reynolds, T.D. dan Richards, P.A. 1996. Unit Operations and Processes in Environmental
Engineering. United States of America: PWS Publishing Company.
Rostami, F., Shahrokhi M., Said M.A.M., Abdullah, dan Syafalni. 2011. Numerical Modeling on
Inlet Aperture Effects on Flow Pattern in Primary Settling Tanks. Applied Mathematical
Modelling 35, 6: 30123020.
Schulz, C.R. dan Okun, D.A. 1984. Surface Water Treatment for Communities in Developing
Countries. Canada: John Wiley dan Sons, Inc.
Shahrokhi, M., Rostami, F., Said, M.A.M., Yazdi, S.R.S., dan Syafalni. 2011. The effect of
number of bafes on the improvement efciency of primary sedimentation tanks. Applied
Mathematical Modeling, In Press, Corrected Proof. 1-11.
Sincero, A.P. dan Sincero, G.A. 1996. Environmental Engineering, A design Approach. New
Jersey: Prentice Hall.
Stevenson, D.G. 1998. Water Treatment Unit Processes. London: Imperial College.
Subramanya, K. 1986. Flow in Open Channels. New Delhi: Tata McGraw-Hill Publishing
Company Limited.
Tamayol, A., Firoozabadi, B., dan Ahmadi, G. 2008. "Effects of Inlet Position and Baffle
Configuration on Hydraulic Performance of Primary Settling Tanks". Journal of Hydraulic
Engineering 134, 7: 1004-1009.
Tchobanoglous. G. dan Schroeder, E.D. 1985. Water Quality. Kanada: Addison-
WesleyPublishing Company.
Triatmodjo, Bambang. 1995. Hidraulika I. Yogyakarta: Beta Offset.
Visvanathan, C. 2004. Pshyco-Chemical Processes. Thailand: Bauhaus-Universitat Weimar
WEF dan ASCE. 1998. Design of Municipal Wastewater Tratement Plants. Alexandria: WEF
dan ASCE

Anda mungkin juga menyukai