Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia masih menjadi negara dengan angka kematian ibu tertinggi di
Asia Tenggara. Data Departemen Kesehatan, Angka Kematian Ibu (AKI) di
Indonesia pada tahun 2005 mencapai 290,8 per 100.000 kelahiran hidup.1
Informasi mengenai tingginya AKI akan bermanfaat untuk pengembangan
program peningkatan kesehatan reproduksi, terutama pelayanan kehamilan
dan membuat kehamilan yang aman bebas risiko tinggi, program peningkatan
jumlah kelahiran yang dibantu oleh tenaga kesehatan, penyiapan sistem
rujukan dalam penanganan komplikasi kehamilan, penyiapan keluarga dan
suami siaga dalam menyongsong kelahiran, yang semuanya bertujuan untuk
mengurangi Angka Kematian Ibu dan meningkatkan derajat kesehatan
reproduksi.2
Proses kematian ibu dapat dicegah sejak melakukan Antenatal Care
(ANC) melalui pendidikan berkaitan dengan kesehatan ibu hamil, menyusui,
dan kembalinya kesehatan alat reproduksi, serta menyampaikan betapa
pentingnya interval kehamilan berikutnya sehingga dapat tercapai sumber
daya manusia yang diharapkan. Pemeriksaan antenatal adalah pemeriksaan
kehamilan yang dilakukan untuk memeriksakan kehamilan ibu dan janin
secara berkala, yang diikuti dengan upaya koreksi terhadap penyimpangan
yang ditemukan. Tujuannya adalah untuk menjaga agar ibu hamil dapat
melalui masa kehamilan, persalinan, dan nifas dengan baik dan selamat, serta
menghasilkan bayi yang sehat. Pemeriksaan antenatal dilakukan oleh dokter
umum, bidan, perawat bidan dan dukun terlatih.3
Pada pemeriksaan antenatal, terdapat minimal 4 kunjungan; kunjungan
pertama pada saat trimester pertama, kunjungan kedua pada saat trimester
kedua, sedangkan kunjungan ketiga dan keempat pada saat trimester akhir.
Di Puskesmas Salaman I, jumlah kunjungan K1 untuk bulan Januari Juni
2010 sebesar 371 orang dan K4 adalah 352 orang (Laporan KIA Puskesmas

1
Salaman I 2010). Jumlah kunjungan K1 (akses) di Desa Menoreh sebesar 55
orang (cakupan 93,2% dengan target 100%) dan kunjungan K4 sebesar 46
orang. Dari data tersebut, didapatkan data cakupan kunjungan K4 di
Puskesmas Salaman I sebesar 94 %, kurang dari target 95 %, dengan
pencapaian 98,81 %. Sedangkan di Desa Menoreh, cakupan kunjungan K4
sebesar 77,97 %, dengan pencapaian 82,07 %. Oleh karena itu, penulis
mengangkat masalah rendahnya cakupan kunjungan ibu hamil K4 di Desa
Menoreh sebagai tugas mandiri.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, terdapat masalah yang belum diketahui, yaitu :
Apakah yang menyebabkan rendahnya cakupan kunjungan K4 ibu hamil di
Desa Menoreh, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang periode Januari
Juni 2010 sehingga tidak memenuhi target?

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mengetahui, mengidentifikasi, menganalisis serta mengevaluasi penyebab
rendahnya cakupan kunjungan K4 ibu hamil di Desa Menoreh, Kecamatan
Salaman, Kabupaten Magelang periode Januari Juni 2010 sehingga tidak
memenuhi target.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui permasalahan yang menyebabkan rendahnya cakupan
kunjungan K4 ibu hamil di Desa Menoreh.
b. Menganalisis dan mengevaluasi penyebab masalah rendahnya cakupan
kunjungan K4 ibu hamil di Desa Menoreh.
c. Mendapatkan alternatif pemecahan masalah rendahnya cakupan
kunjungan K4 ibu hamil di Desa Menoreh.
d. Menentukan prioritas pemecahan masalah rendahnya cakupan
kunjungan K4 ibu hamil di Desa Menoreh.

2
D. Manfaat Penulisan
1. Bagi Penulis
a. Menambah pengetahuan penulis tentang pemeriksaan antenatal bagi
ibu hamil.
b. Manambah pengetahuan penulis tentang penyebab dan pemecahan
masalah rendahnya cakupan kunjungan K4 ibu hamil di Desa
Menoreh.
2. Bagi Puskesmas dan Petugas Kesehatan
Mengevaluasi kinerja petugas Puskesmas maupun petugas kesehatan di
Desa Menoreh sehingga dapat meningkatkan kualitas pelayanan dan
meningkatkan cakupan kunjungan K4 ibu hamil di Desa Menoreh.
3. Bagi Masyarakat
Menambah pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya pemeriksaan
antenatal sehingga dapat meningkatkan kesadaran ibu hamil untuk
melakukan pemeriksaan antenatal, terutama kunjungan K4 ibu hamil.

E. Batasan Pengkajian
1. Batasan Judul
Laporan kegiatan dengan judul Evaluasi Program KIA Cakupan
Kunjungan K4 Ibu Hamil di Desa Menoreh, Kecamatan Salaman,
Kabupaten Magelang Periode Januari Juni 2010 mempunyai batasan
pengertian judul sebagai berikut:
a. Evaluasi
Adalah proses penilaian yang sistematis mencakup pemberian nilai,
atribut, apresiasi, dan pengenalan permasalahan serta pemberian
solusi-solusi atau permasalahan yang ditemukan.
b. Program KIA
Adalah upaya di bidang kesehatan yang menyangkut pelayanan dan
pemeliharaan ibu hamil, ibu bersalin, ibu menyusui, bayi dan anak
balita serta anak pra sekolah.

c. Cakupan
Adalah jangkauan suatu hal.
d. Kunjungan
Adalah kontak langsung petugas kesehatan dan ibu hamil, dalam hal
ini untuk pemeriksaan antenatal.
e. Ibu Hamil

3
Adalah ibu yang sedang mengandung janin di dalam rahimnya, dalam
hal ini ibu yang usia kehamilan >32 minggu.
f. K4
Adalah pemeriksaan kandungan kepada petugas kesehatan dengan
syarat paling sedikit 4 kali, yaitu minimal 1 kali pada saat trimester
pertama, satu kali pada trimester kedua, dan dua kali pada trimester
ketiga.
g. Desa Menoreh, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang
Adalah salah satu desa yang berada di wilayah Kecamatan Salaman,
Kabupaten Magelang.
h. Periode Januari Juni 2010
Adalah kurun waktu selama 6 bulan yang diawali dari Bulan Januari
2010 dan berakhir pada Bulan Juni 2010.

2. Batasan Operasional
a. Frekuensi kegiatan berlangsung selama 6 bulan.
b. Sasaran adalah jumlah ibu hamil yang usia kehamilannya > 32
minggu, yang melakukan dan tidak melakukan kunjungan K4 di Desa
Menoreh, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang.
c. Cakupan adalah persentase hasil perbandingan antara jumlah ibu hamil
yang melakukan kunjungan K4 di Desa Menoreh dibagi jumlah semua
ibu hamil yang ada di Desa tersebut pada periode tertentu.

3. Ruang Lingkup
Ruang lingkup pengkajian yang dilakukan meliputi:
a. Lingkup lokasi : Desa Menoreh, Kecamatan Salaman, Kabupaten
Magelang.
b. Lingkup waktu : Januari 2010 sampai Juni 2010.
c. Lingkup sasaran : seluruh ibu hamil yang usia kehamilannya > 32
minggu di Desa Menoreh yang melakukan dan tidak melakukan
kunjungan K4
d. Lingkup metode : kuesioner, wawancara, dan pencatatan.
e. Lingkup materi : evaluasi program KIA cakupan kunjungan ibu
hamil K4 di Desa Menoreh, Kecamatan Salaman, Kabupaten
Magelang periode Januari Juni 2010.

F. Metodologi Kegiatan

4
Survei dilakukan di desa Menoreh, Kecamatan Salaman, Kabupaten
Magelang pada tanggal 31 Juli 2010. Responden diambil secara acak dari 46
yang melakukan K4 dan 9 orang yang tidak melakukan K4, dan terkumpul 6
orang sebagai responden. Jenis data yang diambil adalah :
1. Data primer, yang diperoleh melalui daftar pertanyaan (kuesioner) dengan
cara wawancara. Kemudian pertanyaan tersebut ditanyakan kepada ibu
hamil yang melakukan dan tidak melakukan K4 di Desa Menoreh. Selain
itu, wawancara juga dilakukan kepada Koordinator KIA maupun bidan
Desa Menoreh mengenai program pelayanan kesehatan antenatal untuk ibu
hamil.
2. Data sekunder diperoleh dengan mengumpulkan data-data dari laporan
bagian KIA Puskesmas Salaman I dan bidan Desa Menoreh.
Data yang terkumpul diolah dan kemudian dianalisis masalah yang
ditemukan dengan mencari kemungkinan penyebabnya, melalui pendekatan
sistem, yang meliputi kelima input, yaitu man, money, material, machine,
methods, proses yang meliputi fungsi manajemen baik P1, P2, P3, serta
lingkungan. Dengan demikian dapat ditentukan alternatif pemecahan masalah
berdasarkan penyebab masalah yang paling mungkin dan penggabungan
alternatif pemecahan masalah tersebut. Setelah itu, prioritas pemecahan
masalah ditentukan dengan menggunakan rumus kriteria matriks, yang
kemudian dibuat rencana kegiatan dan plan of action (POA) berdasarkan
pemecahan masalah yang terpilih dan dijadwalkan dalam sebuah Gann chart.

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Kehamilan adalah kondisi dimana seorang wanita memiliki janin yang sedang
tumbuh di dalam tubuhnya. Kehamilan dihitung dari awal periode menstruasi
terakhir sampai melahirkan. Antenatal Care atau pemeriksaan kehamilan
ditujukan untuk menyiapkan baik fisik maupun mental ibu di dalam masa
kehamilan dan kelahiran, serta menemukan kelainan dalam kehamilan dalam
waktu dini sehingga dapat diobati secepatnya. Pemeriksaan kehamilan yang
dilakukan secara teratur dapat menurunkan angka kecacatan dan kematian baik
ibu maupun janin.4
A. Kehamilan Normal
Masa kehamilan dimulai dari pembuahan sampai lahirnya janin. Lamanya
hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari), dihitung dari
hari pertama haid terakhir. Kehamilan dibagi dalam 3 triwulan yaitu triwulan
pertama dimulai dari konsepsi sampai 3 bulan, triwulan kedua dari bulan
keempat sampai 6 (enam) bulan, triwulan ketiga dari bulan ketujuh sampai 9
bulan.4,5

B. Kematian Ibu (Maternal)


Kematian maternal adalah kematian wanita sewaktu hamil, melahirkan,
atau dalam 42 hari sesudah berakhirnya kehamilan, tidak tergantung dari lama
dan lokasi kehamilan, disebabkan oleh apapun yang berhubungan dengan
kehamilan atau penanganannya, tetapi tidak secara kebetulan atau oleh
penyebab tambahan lainnya.6 Selanjutnya dikemukakan bahwa berdasarkan
definisi tersebut kematian maternal dapat digolongkan pada4,5:
1. Kematian obstetrik langsung (direct obstetric death)
Disebabkan oleh komplikasi kehamilan, persalinan, nifas, atau
penanganannya. Di negara-negara sedang berkembang sebagian besar
penyebab ini adalah perdarahan, infeksi, gestosis, dan abortus.
2. Kematian obstetrik tidak langsung (indirect obstetric death)

6
Disebabkan oleh penyakit atau komplikasi lain yang sudah ada sebelum
kehamilan atau persalinan, misalnya hipertensi, penyakit jantung, diabetes,
hepatitis, anemia, malaria dan lain-lain.
3. Kematian yang terjadi bersamaan tetapi tidak berhubungan dengan
kehamilan dan persalinan, misalnya kecelakaan.
Angka Kematian Ibu (AKI) adalah banyaknya kematian perempuan pada
saat hamil atau selama 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang
lama dan tempat persalinan, yang disebabkan karena kehamilannya atau
pengelolaannya, dan bukan karena sebab-sebab lain, per 100.000 kelahiran
hidup.7

C. Antenatal Care (ANC) atau Pelayanan Antenatal


1. Pengertian Pelayanan Antenatal
Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan oleh tenaga
profesional (dokter spesialis kebidanan, dokter umum, bidan, pembantu
bidan dan perawat bidan) untuk ibu selama masa kehamilannya. 4,5.
Pelayanan antenatal minimal mencakup standar pelayanan 5T, yang
terdiri atas5:
a. Timbang berat badan dan (pengukuran) tinggi badan.
b. Pemeriksaan tekanan darah.
c. Pengukuran tinggi fundus uteri.
d. Pemberian tetanus toksoid (tertentu) dua kali selama kehamilan.
e. Pemberian tablet zat besi (Fe) minimal 90 tablet selama hamil.

2. Tujuan Pelayanan Antenatal


Baru dalam setengah abad ini diadakan pengawasan wanita hamil
secara teratur dan tertentu. Dengan usaha itu ternyata angka mortalitas dan
morbiditas ibu serta bayi jelas menurun. Pelayanan antenatal harus
diusahakan agar6 :
a. wanita hamil sampai akhir kehamilan sekurang-kurangnya harus sama
sehatnya atau lebih sehat.

7
b. adanya kelainan fisik atau psikologik harus ditemukan dini dan diobati.
c. wanita melahirkan tanpa kesulitan dan bayi yang dilahirkan sehat pula
fisik dan metal
Tujuan utama pelayanan antenatal adalah untuk memfasilitasi hasil
yang sehat dan positif bagi ibu maupun bayinya dengan jalan menegakkan
hubungan kepercayaan dengan ibu, mendeteksi komplikasi yang dapat
mengancam jiwa, mempersiapkan kelahiran dan memberikan pendidikan.
Tujuan pelayanan antenatal adalah sebagai berikut4 :
1. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan
tumbuh kembang janin.
2. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental, dan sosial
pada ibu dan bayi.
3. Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau implikasi yang
mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara
umum, kebidanan, dan pembedahan.
4. Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat,
ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin.
5. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian
ASI eksklusif.
6. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran
bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal.

3. Cakupan Pelayanan Antenatal


Pelayanan antenatal hendaknya memenuhi 3 aspek pokok, yaitu
pemeriksaan medik, penyuluhan dan komunikasi, dan motivasi ibu hamil
dan rujukan.5 Pemantauan dan evaluasi pelayanan antenatal dapat
dilakukan dengan memakai indikator :
a. Cakupan K1 dan K44
Kunjungan ibu hamil atau disebut juga akses dan pelayanan ibu
hamil sesuai standar paling sedikit empat kali dengan distribusi sekali

8
pada triwulan pertama, sekali pada triwulan dua dan dua kali pada
triwulan ketiga (K4) untuk melihat kualitas.
Pelayanan K1 adalah pelayanan/pemeriksaan kesehatan pertama
bagi ibu hamil sesuai standar pada masa kehamilan oleh tenaga
kesehatan terampil (dokter, bidan, dan perawat).
Ibu hamil yang melakukan K4 adalah ibu hamil yang mendapatkan
pelayanan antenatal sesuai standar paling sedikit empat kali, dengan
distribusi pemberian pelayanan minimal satu kali pada triwulan
pertama, satu kali pada triwulan kedua dan dua kali pada triwulan
ketiga umur kehamilan.4 Cakupan Kunjungan ibu hamil K4 adalah
cakupan ibu hamil yang telah memperoleh pelayanan antenatal 4 kali
sesuai dengan stndar di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.
b. Persentase ibu hamil berisiko dari seluruh dan jenis risikonya4
Tingkat kematian ibu hamil dan bersalin menurut jenis risikonya, yaitu
jumlah ibu hamil bersalin berisiko meninggal akibat kehamilan atau
persalinan dibagi dengan jumlah ibu hamil dan bersalin berisiko kali
100 persen.

Jumlah Kunjungan Ibu Hamil K4 adalah :


Cakupan kunjungan = Ibu Hamil K4 x 100%
Jumlah sasaran ibu hamil dalam satu tahun

4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pelayanan Antenatal5


a. Pengetahuan
Ketidakmengertian ibu dan keluarga terhadap pentingnya pemeriksaan
kehamilan berdampak pada ibu hamil tidak memeriksakan
kehamilannya pada petugas kesehatan.

b. Ekonomi

9
Tingkat ekonomi akan berpengaruh terhadap kesehatan, tingkat
ekonomi keluarga rendah tidak mampu untuk menyediakan dana bagi
pemeriksaan kehamilan. Masalah yang timbul pada keluarga dengan
tingkat ekonomi rendah ialah ibu hamil kekurangan energi dan protein
(KEK). Hal ini disebabkan tidak mampunya keluarga untuk
menyediakan kebutuhan energi dan protein yang dibutuhkan ibu
selama kehamilan.
c. Sosial Budaya
Keadaan lingkungan keluarga yang tidak mendukung akan
mempengaruhi ibu dalam memeriksakan kehamilannya. Perilaku
keluarga yang tidak mengijinkan seorang wanita meninggalkan rumah
untuk memeriksakan kehamilannya merupakan budaya yang
menghambat keteraturan kunjungan ibu hamil memeriksakan
kehamilannya.
d. Geografis
Letak geografis sangat menentukan terhadap pelayanan kesehatan. Di
tempat yang terpencil ibu hamil sulit memeriksakan kehamilannya.
Hal ini karena transpontasi yang sulit menjangkau sampai tempat
terpencil.

D. Kebijaksanaan Program
Kunjungan pemeriksaan kehamilan merupakan salah satu bentuk perilaku.
Menurut Lawrence Green, faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku
ada 3, yaitu: faktor predisposisi, faktor pendukung, dan faktor pendorong.
Yang termasuk faktor predisposisi di antaranya: pengetahuan, sikap,
kepercayaan, tradisi, dan nilai. Sedangkan yang termasuk faktor pendukung
adalah ketersediaan sarana-sarana kesehatan, dan yang terakhir, yang termasuk
faktor pendorong adalah sikap dan perilaku petugas kesehatan.
Dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan ibu hamil, telah
dikembangkan Strategi Menyelamatkan Persalinan, yakni sebuah inisiatif
yang dicanangkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2000. Ini

10
merupakan komitmen untuk mengurangi beban global akibat kematian,
kesakitan, dan kecacatan yang tidak perlu terjadi, yang berhubungan dengan
komplikasi kehamilan, persalinan, dan selama nifas. Strategi Menyelamatkan
Persalinan mengharapkan agar ibu hamil, melahirkan, dan dalam masa setelah
persalinan (postnatal) mempunyai akses terhadap tenaga kesehatan yang
terlatih, yaitu profesi kesehatan yang terakreditasi (seperti bidan, dokter, atau
perawat) yang telah menempuh pendidikan dan dilatih untuk menguasai
keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan dalam mengelola kehamilan
normal (tanpa komplikasi), persalinan dan periode segera setelah melahirkan
dan dalam pengidentifikasian, pengelolaan, dan rujukan atas komplikasi yang
diderita oleh ibu dan anak. Strategi Menyelamatkan Persalinan meliputi tiga
pesan kunci, yakni setiap persalinan harus ditolong tenaga medis, setiap
komplikasi persalinan harus ditangani tenaga adekuat (dokter ahli) dan setiap
wanita usia subur harus mempunyai akses pencegahan kehamilan dan
penanganan komplikasi keguguran. Pada pelaksanaannya, strategi ini terbentur
pada keterbatasan jumlah tenaga yang berkualitas dan berbagai kendala
lainnya.5

E. Kebidanan dan Pelaksana Pelayanan Antenatal


Ilmu kebidanan atau obstetri ialah bagian dari Ilmu Kedokteran yang
khusus mempelajari segala soal yang bersangkutan dengan lahirnya bayi.
Dengan demikian yang menjadi obyek ilmu ini ialah kehamilan, persalinan,
nifas, dan bayi yang baru dilahirkan. Pelayanan kebidanan dalam arti yang
terbatas terdiri atas6:
1. Pengawasan serta penanganan wanita dalam masa hamil dan pada waktu
persalinan
2. Perawatan dan pemeriksaan wanita sesudah persalinan
3. Perawatan bayi yang baru lahir
4. Pemeliharaan laktasi

11
Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan (Pusdiknakes) menetapkan bahwa
untuk bisa membantu seorang ibu melalui kehamilan dan persalinan yang
sehat, bidan harus5 :
1. Membantu ibu dan keluarganya untuk mempersiapkan kelahiran dan
mungkin juga keadaan darurat.
2. Bekerja sama dengan ibu, keluarganya, serta masyarakat untuk
mempersiapkan suatu rencana kelahiran, termasuk mengidentifikasi
seorang penolong dan tempat bersalin, serta perencanaan tabungan untuk
mempersiapkan biaya persalinan.
3. Bekerja sama dengan ibu, keluarganya, dan masyarakat dalam
mempersiapkan suatu rencana bila terjadi komplikasi, meliputi:
a. Identifikasi ke mana harus pergi dan bentuk transportasi untuk
mencapai tempat tersebut.
b. Membuat rencana penyediaan donor darah.
c. Mengadakan rencana persiapan financial.
d. Mengidentifikasi seorang pembuat keputusan kedua bila pembuat
keputusan pertama tidak ada di tempat.
4. Mendeteksi dan mengobati komplikasi-komplikasi yang timbul selama
kehamilan, apakah itu bersifat medis, bedah, atau obstetrik.
5. Meningkatkan dan memantapkan kesehatan fisik, mental, dan sosial ibu
serta bayi dengan menyediakan pendidikan, suplementasi serta imunisasi.
6. Membantu mempersiapkan ibu untuk pemberian Air Susu Ibu yang lancar,
menjalani masa nifas yang normal, serta menjaga kesehatan anak secara
fisik, psikologis dan sosial.
Informasi penting yang diberikan dalam kunjungan ibu hamil pada
trimester pertama, atau sebelum minggu ke-14 yakni8:
1. Membangun hubungan saling percaya antara bidan dan ibu agar supaya
hubungan penyelamatan jiwa bisa dibina bilamana perlu.
2. Mendeteksi masalah yang bisa diobati sebelum menjadi bersifat
mengancam jiwa.

12
3. Mencegah masalah seperti neonatal tetanus, anemia kekurangan zat besi,
penggunaan praktek tradisional yang merugikan.
4. Memulai persiapan kelahiran bayi dan kesiapan untuk menghadapi
komplikasi.
5. Mendorong perilaku yang sehat (gizi, latihan dan kebersihan, istirahat dan
sebagainya).
Informasi penting yang diberikan dalam kunjungan ibu hamil pada
trimester kedua, atau sebelum minggu ke-28, yakni sama seperti dalam
kunjungan pada trimester pertama ditambah kewaspadaan khusus mengenai
PIH (Pregnancy Induced Hypertension, yaitu tanya ibu tentang gejala PIH,
pantau tekanan darahnya, evaluasi edemanya, periksa untuk mengetahui
protein/urine).8
Informasi penting yang diberikan dalam kunjungan ibu hamil pada
trimester ketiga, atau antara minggu ke-28 dengan-36, yakni sama seperti
dalam kunjungan pada trimester sebelumnya, ditambah palpasi abdomen
untuk mengetahui apakah ada kehamilan ganda.8
Informasi penting yang diberikan dalam kunjungan ibu hamil pada
trimester keempat, atau setelah 36 minggu, yakni sama seperti dalam
kunjungan pada trimester sebelumnya, ditambah pendeteksian letak bayi yang
tidak normal, atau kondisi lain yang memerlukan kelahiran di rumah sakit.8

13
BAB III
DATA UMUM DESA MENOREH

A. Keadaan Geografis
Desa Menoreh terletak di wilayah Kecamatan Salaman, Kabupaten
Magelang, Jawa tengah.
Desa Menoreh terdiri dari 16 dusun, yaitu : Ngemplak, Candi, Jetis,
Mlangen, Derepan, Pranankulon, Prananwetan, Beteng, Kempul, Ngaglik,
Sewan, Kamal, Jurusawah, Alun - alun, Margorejo, dan Bumimenoreh.
1. Luas Wilayah
Luas Wilayah Desa Menoreh adalah 600 Ha (data statistik tahun 2008).
2. Batas-Batas Wilayah
Utara : Desa Salaman
Selatan : Desa Kalirejo
Timur : Desa Ngadirejo
Barat : Desa Kalisalak
3. Peta Wilayah

Gambar 1. Peta wilayah Desa Menoreh

14
B. Keadaan Demografi
Berdasarkan data statistik Desa Menoreh tahun 2008 :
Jumlah penduduk : 7.280 jiwa
Laki-laki : 3.657 jiwa (50,23 %)
Perempuan : 3.623 jiwa (49,77 %)
Jumlah KK : 1.945 KK
Tabel 1. Data penduduk Desa Menoreh berdasarkan usia (statistik tahun 2008)
Usia (tahun) Jumlah %
<1 92 1,26
15 484 6,64
6 12 868 11,92
13 18 803 11,03
19 25 805 11,06
26 58 3333 45,78
> 58 895 12,29
Total 7.280 100

C. Data Kesehatan
Tabel 2. Data kesehatan masyarakat Desa Menoreh (Juni 2010)
Jumlah
Ibu Hamil 43
Ibu Bersalin 26
Balita 400
Bayi 104
BGM 13
Kematian Bayi -
Kematian Ibu melahirkan -
Jumlah neonatus 26

D. Komponen Desa Siaga


1. Sarana Prasarana
a. Sarana : Belum ada Poli Klinik Desa (PKD)
b. SDM : Dokter Umum : 3 orang
Dokter Gigi : 2 orang
Perawat : 7 orang
Bidan : 4 orang (1 bidan desa, 3 BPS)
Dukun bayi : 3 orang

15
Kader Posyandu aktif : 53 orang aktif
2. Forum Kesehatan Desa : Belum terbentuk
3. Kegiatan Gotong Royong Masyarakat
a. KPKIA : Belum ada
b. Ambulans Desa : Belum ada yang ditunjuk
c. Donor darah : Belum ada
d. Pemanfaatan upaya kesehatan
Posyandu balita : 10 tempat
e. Gerakan Pengendalian Faktor Risiko Penyakit : Belum ada

E. Upaya Kesehatan
1. Promotif, preventif oleh kader : Dilakukan secara berkala
2. Promotif, preventif oleh bidan : Melalui posyandu
3. Pemantauan kesehatan bumil, balita dan pengendalian resiko : Melalui
posyandu.

F. Pengamatan dan Pemantauan Kesehatan


1. Buku KIA : ada
2. Buku SIP : ada di tiap posyandu
3. Buku catatan kasus/ rujukan kader : belum ada
4. Buku catatan keluarga miskin : ada
5. Buku catatan kelahiran dan kematian : ada

G. Pembiayaan Kesehatan
1. Tabulin/dasolin : Belum berjalan
2. Pokmair : ada
3. Dana Posyandu : ada
4. Dana Sehat : belum ada
5. Dana kematian : ada

16
BAB IV
ANALISIS HASIL

Data cakupan kunjungan K4 ibu hamil di Desa Menoreh periode Januari


Juni 2010 diperoleh dari data primer dan data sekunder. Pengambilan data primer
dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 31 Juli 2010 pukul 09.00 11.30.
Responden yang diambil adalah 5 orang ibu hamil yang melakukan K4 dan 1
orang yang tidak melakukan K4 di Desa Menoreh, yang diambil secara acak dari
46 orang ibu hamil yang melakukan K4 dan 9 orang ibu hamil yang tidak
melakukan K4 pada bulan Januari Juni 2010. Pengambilan data dilakukan
dengan mendatangi rumah responden, dan pengisian kuesioner dengan cara
wawancara. Kuesioner dibacakan oleh dokter muda kepada responden. Sebelum
pengambilan data primer, dilakukan pengambilan data sekunder pada hari Jumat,
tanggal 30 Juli 2010.

A. Pencapaian Kunjungan Ibu Hamil K4 di Desa Menoreh


Jumlah cakupan kunjungan K4 ibu hamil di Desa Menoreh adalah :

Jumlah ibu hamil yang melakukan K4


Besar cakupan = x 100 %
Sasaran total ibu hamil dalam 6 bulan

46
= x 100 % = 77,97 %
59

Jumlah pencapaian kunjungan ibu hamil K4 di Desa Menoreh adalah :

Cakupan ibu hamil yang melakukan K4


Besar pencapaian = x 100 %
Target kunjungan ibu hamil K4

77,97 %
= x 100 % = 82,07 %
95 %

17
Dari hasil didapatkan pencapaian kunjungan K4 ibu hamil di Desa
Menoreh periode Januari Juni 2010 kurang dari 100 %, yang berarti
kunjungan Ibu hamil K4 di Desa Menoreh masih menjadi masalah.

B. Hasil Kuesioner
Pengamatan dilakukan dengan cara wawancara serta pengisian kuesioner
terhadap 5 ibu hamil yang melakukan K4 dan 1 ibu hamil yang tidak
melakukan K4 dari bulan Januari Juni 2010. Kuesioner terdiri dari 26
pertanyaan yang terdiri dari 11 pertanyaan umum, 9 pertanyaan perilaku, dan
6 pertanyaan pengetahuan.
1. Umum
1) Kepada siapa Anda memeriksakan kehamilan ?
Yang diharapkan Yang tidak diharapkan
a. Tenaga kesehatan (mantri, dokter, b. Tradisional (dukun/alternatif) = 0
puskesmas, rumah sakit) = 6 c. Lain lain = 0
100 % 0%
2) Berapa jarak dari rumah Anda sampai ke fasilitas kesehatan (Puskesmas,
Pustu, Polindes, Praktek Swasta) yang ada?
Yang diharapkan Yang tidak diharapkan
a. < 1 km = 1 c. 6 10 km = 0
b. 1 5 km = 5 d. > 10 km = 0
100 % 0%
3) Apa sarana transportasi yang Anda gunakan?
Yang diharapkan Yang tidak diharapkan
b. Kendaraan pribadi = 6 a. Jalan kaki = 0
c. Angkutan umum = 0
100 % 0%
4) Apakah keluarga Anda adalah peserta :
Yang diharapkan Yang tidak diharapkan
Jamkesmas = 1 Tidak = 5
Iuran dana sehat = 0
Askes = 0
Tabulin = 0
16,67 % 83,33 %
5) Kepemilikan KMS ibu hamil dan balita
Yang diharapkan Yang tidak diharapkan
Ya = 6 Tidak = 0
100 % 0%

18
6) Apakah anda mempunyai bayi (0-24 bulan)?
Yang diharapkan Yang tidak diharapkan
Tidak = 6 Ya = 0
100 % 0%
7) Apakah anak terakhir anda berusia > 10 tahun ?
Yang diharapkan Yang tidak diharapkan
Tidak = 4 Ya = 2
66,67 % 33,33 %
8) Apakah usia kehamilan anda > 32 minggu ?
Yang diharapkan Yang tidak diharapkan
Ya = 1 Tidak = 5
16,67 % 83,33 %
9) Apakah Anda mengetahui tanggal taksiran persalinan Anda ?
Yang diharapkan Yang tidak diharapkan
Ya = 6 Tidak = 0
100 % 0%
10) Apakah pernah terjadi kematian bayi/keguguran (tahun 2009 2010) :
Yang diharapkan Yang tidak diharapkan
Tidak = 5 Ya = 1
83,33 % 16,67 %
11) Apakah Anda memiliki riwayat penyakit (asma, kencing manis, tekanan
darah tinggi, penyakit jantung) ?
Yang diharapkan Yang tidak diharapkan
Tidak = 6 Ya = 0
100 % 0%

2. Perilaku
12) Apakah pemeriksaan kehamilan pertama kali saat usia kehamilan < 20
minggu?
Yang diharapkan Yang tidak diharapkan
Ya = 5 Tidak = 1
83,33 % 16,67 %
13) Apakah di keluarga Anda ada yang bersiaga saat persalinan ?
Yang diharapkan Yang tidak diharapkan
Ya = 6 Tidak = 0
100 % 0%
14) Apakah akan ada yang mendampingi saat anda melahirkan ?
Yang diharapkan Yang tidak diharapkan
Ya = 6 Tidak = 0
100 % 0%

19
15) Dimana rencana tempat Anda melahirkan?
Yang diharapkan Yang tidak diharapkan
a. Rumah sakit = 0 c. Dukun = 0
b. Bidan = 6 d. Sendiri = 0
100 % 0%
16) Siapakah rencana penolong persalinan Anda?
Yang diharapkan Yang tidak diharapkan
a. Dokter = 0 c. Dukun = 0
b. Bidan = 6 d. Sendiri/keluarga = 0
100 % 0%
17) Apakah di rumah (dinding luar) ibu hamil telah terpasang stiker P4K?
Yang diharapkan Yang tidak diharapkan
Ya = 0 Tidak = 6
0% 100 %
18) Berapa kali Anda melakukan pemeriksaan sesuai usia kehamilan ?
Yang diharapkan Yang tidak diharapkan
c. 2 4 kali = 1 a. Tidak pernah = 0
d. > 4 kali = 5 b. 1 2 kali = 0
100 % 0%
19) Apakah Anda mengalami gangguan kehamilan?
Yang diharapkan Yang tidak diharapkan
Tidak = 5 Ya = 1
83,33 % 16,67 %
20) Apakah ada gangguan kehamilan pada kehamilan sebelumnya ?
Yang diharapkan Yang tidak diharapkan
Tidak = 6 Ya = 0
100 % 0%

3. Pengetahuan
21) Apakah Anda mengetahui tanda kehamilan?
Yang diharapkan Yang tidak diharapkan
Ya = 6 Tidak = 0
100 % 0%
22) Apakah Anda mengetahui tanda persalinan?
Yang diharapkan Yang tidak diharapkan
Ya = 5 Tidak = 1
83,33 % 16,67 %
23) Apakah Anda mengetahui tanda bahaya kehamilan dan persalinan?
Yang diharapkan Yang tidak diharapkan
Ya = 3 Tidak = 3
50 % 50 %

24) Apakah anda mengetahui faktor resiko yang mempengaruhi kehamilan ?


Yang diharapkan Yang tidak diharapkan

20
Ya = 0 Tidak = 6
0% 100 %
25) Apakah menurut Anda penggunaan alat kontrasepsi itu penting untuk
pasangan suami istri ?
Yang diharapkan Yang tidak diharapkan
Ya = 6 Tidak = 0
100 % 0%
26) Apakah Anda mengetahui pentingnya pemeriksaan kehamilan?
Yang diharapkan Yang tidak diharapkan
Ya = 6 Tidak = 0
100 % 0%

Berdasarkan hasil kuesioner di atas, didapatkan jumlah ibu yang memiliki


anak yang berusia > 10 tahun ada 2 orang (33,33%), ibu yang pernah
mengalami kematian janin ada 1 orang (16,67%), ibu yang memeriksakan
kehamilannya di umur > 20 minggu ada 1 orang (16,67%), ibu yang
mengalami gangguan kehamilan ada 1 orang (16,67%), ibu yang tidak
mengetahui tanda persalinan ada 1 orang (16,67%), ibu yang tidak mengetahui
tanda bahaya kehamilan dan persalinan ada 3 orang (50%), dan tidak ada ibu
yang mengetahui faktor risiko yang dapat mempengaruhi kehamilan (100%).
Berdasarkan hasil wawancara dengan bidan Desa Menoreh, rendahnya
kunjungan K4 ibu hamil juga dapat disebabkan karena adanya 1 orang ibu
hamil yang usia kandungannya masih kurang dari 32 minggu, adanya 2 orang
ibu hamil yang mengalami abortus, 1 orang ibu hamil yang mengalami IUFD
(Intra Uterine Fetal Death), 1 orang ibu hamil yang mengalami BO (Blinded
Ovum), dan 4 orang ibu hamil yang pindah ke daerah lain.

21
BAB V
ANALISIS MASALAH

A. Upaya Kesehatan Puskesmas


Secara garis besar, program kesehatan Puskesmas dibagi menjadi 3
macam, yaitu upaya kesehatan wajib, upaya kesehatan pengembangan, dan
upaya kesehatan inovasi. Upaya kesehatan wajib ditetapkan berdasarkan
komitmen nasional, regional, dan global, serta mempunyai daya ungkit tinggi
untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat.9
Upaya kesehatan pokok Puskesmas, yaitu10:
a. Promosi kesehatan
b. Kesehatan lingkungan
c. Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) serta Keluarga Berencana (KB)
d. Perbaikan gizi masyarakat
e. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular (P2PM)
f. Pengobatan
Semua upaya kesehatan wajib Puskesmas ini telah dimiliki dan
dilaksanakan oleh Puskesmas Salaman I. Adapun program pelayanan
Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) meliputi adanya kasus cakupan kunjungan K4
ibu hamil yang masih rendah.

B. Indikator Program Puskesmas yang Bermasalah


Dalam pelaksanaan kegiatan program Puskesmas Salaman I ada beberapa
cakupan kegiatan yang belum mencapai target. Salah satu kegiatan yang
menjadi masalah yang akan dibahas adalah cakupan kunjungan K4 ibu hamil
yang masih kurang mencapai target di Desa Menoreh, Kecamatan Salaman,
Kabupaten Magelang.

22
Tabel 3. Cakupan kunjungan K4 ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Salaman I
Sasaran Bulan Kumulatif
Desa
No. Bumil
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Abs %
(1 tahun)
1. Salaman 54 8 8 8 6 3 4 37 68,52
2. Kalisalak 92 4 2 4 3 6 5 24 26,09
3. Menoreh 118 6 15 6 8 5 6 46 38,98
4. Kalirejo 94 8 7 3 13 8 12 51 54,26
5. Paripurno 59 6 3 7 4 8 3 31 52,54
6. Ngargoretno 58 3 7 2 4 4 7 27 46,55
7. Ngadirejo 83 10 7 6 6 7 13 49 59,04
8. Sidomulyo 82 6 4 6 4 6 11 37 45,12
9. Kebonrejo 84 7 6 7 5 10 5 40 47,62
10. Banjarharjo 26 4 0 3 2 1 0 10 38,46
Total 750 62 59 52 53 58 66 352 46,93

C. Kerangka Pikir Pemecahan Masalah


Masalah adalah kesenjangan antara keadaan spesifik yang diharapkan,
yang ingin dicapai, yang menimbulkan rasa tidak puas, dan keinginan untuk
memecahkannya. Dengan demikian didapatkan ciri-ciri masalah11:
1. Menyatakan hubungan dua atau lebih variabel
2. Dapat diukur
3. Dapat diatasi
Urutan dalam siklus pemecahan masalah antara lain12:
1. Penentuan penyebab masalah
Penentuan penyebab masalah digali berdasarkan data atau kepustakaan
dengan curah pendapat. Penentuan penyebab masalah hendaknya jangan
menyimpang dari masalah tersebut.
2. Memilih penyebab yang paling mungkin
Penyebab masalah yang paling mungkin harus dipilih dari sebab-sebab
yang didukung oleh data atau konfirmasi.

3. Menentukan alternatif pemecahan masalah

23
Seringkali pemecahan masalah dapat dilakukan dengan mudah dari
penyebab yang sudah diidentifikasi. Jika penyebab sudah jelas maka dapat
dicari langsung alternatif pemecahan masalah.
4. Penetapan pemecahan masalah terpilih
Setelah alternatif pemecahan masalah ditentukan, maka dilakukan
pemilihan pemecahan terpilih dengan menggunakan kriteria matriks.
5. Penyusunan rencana penerapan
Rencana penerapan pemecahan masalah dibuat dalam bentuk POA (plan
of action atau rencana kegiatan)
6. Monitoring dan evaluasi
Ada dua segi pemantauan yaitu apakah kegiatan penerapan pemecahan
masalah yang sedang dilaksanakan sudah diterapkan dengan baik dan
apakah permasalahan sudah dapat dipecahkan.
Masalah yang akan dibahas dirangkum dengan menggunakan bagan
pendekatan pemecahan masalah sebagai berikut :

Gambar 2. Kerangka pikir pemecahan masalah


D. Analisis Penyebab Masalah

24
Untuk menganalisis penyebab masalah manajemen puskesmas, digunakan
pola pendekatan sistem dan pendekatan mutu. Akan tetapi, dalam laporan ini
yang digunakan hnaya pola pendekatan sistem saja.
Pendekatan sistem meliputi input (man, method, money, machine,
material), proses (P1 Perencanaan, P2 Penggerakkan dan Pelaksanaan, P3
Pengawasan, Pengendalian, dan Penilaian) dan lingkungan, yang kemudian
dituangkan dalam diagram fishbone. Masalah yang timbul terdapat pada
output dimana hasil kegiatan atau cakupan kegiatan tidak sesuai dengan target
pencapaian. Sistem yang diutarakan pada laporan ini adalah sistem terbuka
pelayanan kesehatan dan dijabarkan sbagai berikut :

INPUT PROSES OUTPUT


Man P1
Money P2
Method P3
Material
Machine

LINGKUNGAN

Gambar 3. Kerangka pemikiran pendekatan sistem

E. Menentukan Kemungkinan Penyebab Masalah


Tabel 4. Analisis input penyebab masalah
Input Kelebihan Kekurangan
Man - Terdapat 3 orang dokter umum
- Terdapat 4 orang bidan desa
- Terdapat 53 kader posyandu yang masih aktif
Money - Tersedianya anggaran dari Puskesmas untuk biaya
operasional, dan biaya pemeliharaan peralatan
Method - Terdapat pedoman pelaksanaan pemeriksaan - Kurangnya
antenatal koordinasi dengan
- Setiap ibu hamil yang memeriksakan pelayanan kesehatan
kandungannya pada kunjungan ke-4 dengan usia swasta lain di dalam
kehamilan pada trimester ketiga di Posyandu maupun di luar desa
dicatat di kohort. Menoreh sehingga

25
- Untuk ibu hamil yang melakukan pemeriksaan di ada ibu hamil yang
luar Posyandu atau yang tidak melakukan tidak tercatat
pemeriksaan, kader melakukan kunjungan rumah
untuk dilakukan pendataan.
Machine - Peralatan yang digunakan berasal dari Puskesmas
maupun dari posyandu sendiri
- Peralatan yang digunakan (tensimeter, stetoskop,
metline, pengukur berat badan, buku Kesehatan
Ibu dan Anak (KIA) serta buku register milik
bidan) sudah memadai
Material - Tersedianya bangunan tetap yang layak untuk
menjadi tempat berlangsungnya kegiatan
Posyandu (rumah kadus)
- Adanya 10 Posyandu dan 4 BPS

Tabel 5. Analisis proses penyebab masalah


Proses Kelebihan Kekurangan
P1 - Sudah terdapat jadwal posyandu - Kurangnya penyuluhan
(Perencanaan) setiap bulan tentang pemeriksaan
- Kunjungan rumah dilakukan jika ada antenatal maupun hal-hal
ibu hamil yang tidak melakukan yang berhubungan dengan
pemeriksaan antenatal kehamilan dan persalinan
- Pelatihan dukun terlatih dan kader
dilakukan di Puskesmas setiap bulan
P2 - Pemeriksaan kehamilan di Posyandu - Kurang pendataan jumlah
(Pelaksanaan) sudah sesuai dengan prosedur tetap ibu hamil yang
pelayanan (5T) memeriksakan
- Jadwal Posyandu sesuai dengan kehamilannya di tempat
jadwal (setiap bulan) pelayanan kesehatan
- Terdapatnya sistem pencatatan swasta di luar wiayah desa
kunjungan K4 di Posyandu dan
Puskesmas
- Pendataan ibu hamil yang tidak
memeriksakan kehamilannya
dilaporkan oleh kader kepada bidan
desa untuk kemudian dilakukan
pemeriksaan
P3 - Adanya laporan bulanan yang - Kurangnya koordinasi
(Pengawasan, lengkap dari masing-masing pelaporan dan pencatatan
Pengendalian, Posyandu ke bidan desa dan dengan pelayanan

26
dan Penilaian) Puskesmas kesehatan swasta yang
- Laporan ke dinkes dilakukan tiap tiga berada di dalam dan di luar
bulan oleh koordinator KIA wilayah desa
- Terdapat laporan mengenai ibu hamil
yang tidak melakukan K4
- Pengawasan dan penilaian dilakukan
dan dievaluasi setiap bulan oleh
bidan desa kepada kader Posyandu

Tabel 6. Analisis lingkungan penyebab masalah


Lingkungan Kelebihan Kekurangan
- Adanya warga - Kurangnya pengetahuan ibu hamil
masyarakat yang mengenai pelayanan antenatal
bersedia menjadi - Kurangnya pengetahuan ibu hamil tentang
kader Posyandu pentingnya melakukan kunjungan
antenatal pada akhir kehamilan.
- Kurangnya pengetahuan ibu tentang hal-
hal yang berhubungan dengan kehamilan
dan persalinan
- Masih adanya ibu hamil yang mengalami
abortus, IUFD, dan BO

Hasil analisis masalah di atas dapat dibuat dalam bentuk diagram fishbone
yaitu sebagai berikut :

27
Proses

Kurangnya penyuluhan tentang pemeriksaan antenatal & hal-


P1 hal yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan

- Kurang pendataan jumlah ibu hamil


yang memeriksakan kehamilannya di P2
tempat pelayanan kesehatan swasta di
Kurangnya koordinasi pelaporan & pencatatan dengan
luar wiayah desa
P3 pelayanan kesehatan swasta yang berada di dalam dan
di luar wilayah desa

Masalah
Rendahnya cakupan kunjungan
bumil K4 periode Januari-Juni
2010 sebesar 77,97% (target
Kurang koordinasi Machine 95%) dan pencapaian 82,07%
dengan pelayanan
kesehatan swasta Method
lain di dalam
maupun di luar
desa
Material

Man

- Kurangnya pengetahuan ibu hamil mengenai pelayanan


antenatal
Money - Kurangnya pengetahuan ibu hamil tentang pentingnya
melakukan kunjungan antenatal pada akhir kehamilan
- Kurangnya pengetahuan ibu tentang hal-hal yang
berhubungan dengan kehamilan dan persalinan
Input Lingkungan - Masih adanya ibu hamil yang mengalami abortus, IUFD,
dan BO

Gambar 4. Diagram fishbone

28
F. Kemungkinan Penyebab Masalah
Dari hasil analisis penyebab masalah, maka dapat disimpulkan
kemungkinan penyebab rendahnya cakupan kunjungan K4 ibu hamil di Desa
Menoreh adalah :
1. Kurang koordinasi dengan pelayanan kesehatan swasta lain di dalam
maupun di luar desa.
2. Kurangnya penyuluhan tentang pemeriksaan antenatal dan hal-hal yang
berhubungan dengan kehamilan dan persalinan.
3. Kurang pendataan jumlah ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya di
tempat pelayanan kesehatan swasta di luar wiayah desa.
4. Kurangnya koordinasi pelaporan dan pencatatan dengan pelayanan
kesehatan swasta yang berada di dalam dan di luar wilayah desa.
5. Kurangnya pengetahuan ibu hamil mengenai pelayanan antenatal.
6. Kurangnya pengetahuan ibu hamil tentang pentingnya melakukan
kunjungan antenatal pada akhir kehamilan.
7. Kurangnya pengetahuan ibu tentang hal-hal yang berhubungan dengan
kehamilan dan persalinan.
8. Masih adanya ibu hamil yang mengalami abortus, IUFD, dan BO.

G. Penyebab Masalah yang Paling Mungkin


Dari berbagai penyebab masalah, setelah dilakukan konfirmasi dengan
petugas terkait (bidan Desa Menoreh) dan dilakukan wawancara kepada
responden, maka didapatkan penyebab masalah yang paling mungkin terjadi,
yaitu :
1. Kurangnya pengetahuan ibu hamil mengenai pelayanan antenatal, serta
hal-hal yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan.
2. Kurangnya koordinasi dengan pelayanan kesehatan swasta lain di dalam
maupun di luar Desa Menoreh.
3. Masih adanya ibu hamil yang mengalami abortus, IUFD, dan BO.

29
BAB VI
PEMECAHAN MASALAH

A. Alternatif Pemecahan Masalah


Setelah melakukan analisis penyebab yang paling mungkin dari masalah
rendahnya cakupan kunjungan K4 ibu hamil di Desa Menoreh Kecamatan
Salaman, Kabupaten Magelang, maka langkah selanjutnya yaitu menyusun
alternatif pemecahan masalah. Alternatif pemecahan masalah dapat dilihat
pada tabel di bawah ini :
Tabel 7. Alternatif pemecahan masalah
No. Penyebab Masalah Pemecahan Masalah
1. Kurangnya pengetahuan ibu hamil Penyuluhan mengenai pelayanan
mengenai pelayanan antenatal, serta antenatal, serta hal-hal yang
hal-hal yang berhubungan dengan berhubungan dengan kehamilan dan
kehamilan dan persalinan. persalinan.
2. Kurangnya koordinasi dengan Meningkatkan koordinasi dan
pelayanan kesehatan swasta lain di komunikasi antara bidan desa maupun
dalam maupun di luar Desa kader dengan petugas kesehatan swasta
Menoreh. lain.
3. Masih adanya ibu hamil yang Meningkatkan kesiagaan kader dan
mengalami abortus, IUFD, dan BO. bidan dalam memantau keadaan ibu
hamil dan kandungannya.

B. Daftar Alternatif Pemecahan Masalah


1. Penyuluhan mengenai pelayanan antenatal serta hal-hal yang berhubungan
dengan kehamilan dan persalinan.
2. Meningkatkan koordinasi dan komunikasi antara bidan desa maupun kader
dengan petugas kesehatan swasta lain.
3. Meningkatkan kesiagaan kader dalam memantau keadaan ibu hamil dan
kandungannya.

C. Penggabungan Alternatif Pemecahan Masalah

30
Penyebab Masalah Alternatf Pemecahan Masalah
1. Kurangnya pengetahuan ibu A. Penyuluhan mengenai pelayanan
hamil mengenai pelayanan antenatal, serta hal-hal yang
antenatal, serta hal-hal yang berhubungan dengan kehamilan
berhubungan dengan dan persalinan.
kehamilan dan persalinan.
2. Kurangnya koordinasi dengan B. Meningkatkan koordinasi dan
pelayanan kesehatan swasta komunikasi antara bidan desa
lain di dalam maupun di luar maupun kader dengan petugas
Desa Menoreh. kesehatan swasta lain.
3. Masih adanya ibu hamil yang C. Meningkatkan kesiagaan kader
mengalami abortus, IUFD, dan bidan dalam memantau
dan BO. keadaan ibu hamil dan
kandungannya.

D. Penentuan Pemecahan Masalah Dengan Kriteria Matriks Menggunakan


Rumus MxIxV/C
Setelah menemukan alternatif pemecahan masalah, maka selanjutnya
dilakukan penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah. Penentuan
prioritas alternatif pemecahan masalah dapat dilakukan dengan menggunakan
kriteria matriks dengan rumus M x I x V / C.13
Penyelesaian masalah sebaiknya memenuhi kriteria, sebagai berikut13 :
1. Efektivitas program
Pedoman untuk mengukur efektivitas program :
a. Magnitude (M) : Besarnya penyebab masalah yang dapat diselesaikan
b. Importancy (I) : Pentingnya cara penyelesaian masalah
c. Vulnerability (V) : Sensitifitas cara penyelesaian masalah
Kriteria M, I, dan V diberi nilai 1 5. Bila makin magnitude maka
nilainya makin besar, mendekati 5. Begitu juga dalam melakukan
penilaian pada kriteria I dan V.
2. Efisiensi pogram
Adalah biaya yang dikeluarkan untuk menyelesaikan masalah (cost).
Kriteria cost (c) diberi nilai 1 5. Bila costnya makin kecil, maka nilainya
mendekati 1.

31
Berikut ini proses penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah
dengan menggunakan kriteria matriks :
Tabel 8. Penentuan prioritas pemecahan masalah
Penyelesaian Nilai Kriteria Hasil akhir Urutan
Masalah
M I V C (M x I x V) / C
A 4 4 5 5 16 I
B 2 3 4 3 8 II
C 3 3 2 4 4,5 III

Setelah melakukan penentuan prioritas alternatif penyebab pemecahan


masalah dengan menggunakan kriteria matriks, maka didapatkan urutan
prioritas alternatif pemecahan penyebab masalah rendahnya cakupan
kunjungan K4 ibu hamil, sebagai berikut :
1. Penyuluhan mengenai pelayanan antenatal, serta hal-hal yang
berhubungan dengan kehamilan dan persalinan
2. Meningkatkan koordinasi dan komunikasi antara bidan desa maupun kader
dengan petugas kesehatan swasta lain.
3. Meningkatkan kesiagaan kader dalam memantau keadaan ibu hamil dan
kandungannya.

E. Rencana Kegiatan dari Pemecahan Masalah Terpilih


Tabel 9. Rencana kegiatan dari pemecahan masalah terpilih
No. Pemecahan Masalah Terpilih Rencana Kegiatan
1. Penyuluhan mengenai pelayanan Penyuluhan berkala di kelompok-kelompok
antenatal serta hal-hal yang masyarakat, misal : posyandu balita, arisan,
berhubungan dengan kehamilan dan pengajian ibu-ibu.
persalinan
2. Meningkatkan koordinasi dan - Melakukan koordinasi dengan pelayanan
komunikasi antara bidan desa kesehatan swasta lain.
maupun kader dengan petugas - Melakukan koordinasi kunjungan rumah
kesehatan swasta lain. untuk ibu hamil yang tidak datang ANC.

32
F. Plan of Action (POA) Cakupan Kunjungan K4 Ibu Hamil di Desa Menoreh
Tabel 10. Plan of action cakupan kunjungan K4 ibu hamil
No. Kegiatan Tujuan Sasaran Lokasi Pelaksana Waktu Dana Metode Tolak ukur
1. Penyuluhan Meningkatkan Warga Disesuai Dokter Menyesuaik Anggaran Ceramah Proses:
berkala di pengetahuan ibu masyarakat kan umum, an kegiatan Puskesmas dan tanya Terlaksananya penyuluhan
kelompok- hamil tentang , terutama dengan kordinator di jawab, dan mengenai kehamilan,
kelompok pelayanan ibu hamil acara program masyarakats pembagian pelayanan antenatal dan
masyarakat, antenatal, serta KIA, dan eperti brosur/ persalinan yang aman.
misal : posyandu semua hal tentang bidan desa posyandu leaflet
balita, arisan, kehamilan dan balita, Hasil :
pengajian ibu-ibu persalinan pengajian Meningkatnya pengetahuan
dan pembuatan (min. setiap dan perubahan pola hidup
brosur/leaflet 2 bulan) yang berisiko terhadap
kehamilan dan persalinan
2. Melakukan Didapatkan data Bidan Disesuai Bidan desa Setiap bulan Anggaran Kunjungan Proses:
koordinasi dengan kunjungan ibu praktek kan Puskesmas langsung Terkoordinasinya pelaporan
pelayanan hamil khususnya swasta, ke bidan dan pencatatan dengan bidan
kesehatan swasta K4 pelayanan praktek praktek swasta atau
lain kesehatan swasta atau pelayanan kesehatan swasta.
swasta pelayanan
kesehatan Hasil :
swasta Didapatkan data kunjungan
ibu hamil khususnya K4
3. Melakukan Didapatkan data Ibu hamil Rumah Bidan desa Setiap bulan Dana Kunjungan Proses:
koordinasi mengenai di desa ibu hamil dan kader operasional langsung Terlaksananya kunjungan ke
kunjungan rumah kunjungan bumil Menoreh posyandu puskesmas ke rumah rumah ibu hamil K4
untuk ibu hamil khususnya K4 yang tidak dan dan
yang tidak datang yang baik dan melakukan posyandu pemeriksaa Hasil:
ANC. lengkap K4 n Didapatkan data kunjungan
ibu hamil K4.

33
G. Gann Chart
Tabel 11. Gann chart kegiatan cakupan kunjungan K4 ibu hamil
Agust Sept Okt Nov Des
No Kegiatan
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Penyuluhan berkala di kelompok-kelompok masyarakat
2. Melakukan koordinasi dengan pelayanan kesehatan swasta
lain
3. Melakukan koordinasi kunjungan rumah untuk ibu hamil
yang tidak datang ANC

34
BAB VII
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan data tertulis pada program KIA Puskesmas Salaman I hasil
kegiatan kunjungan K4 di Desa Menoreh pada bulan Januari Juni 2010
didapatkan masalah yaitu kurangnya cakupan kunjungan K4 ibu hamil dengan
sebab kurangnya pengetahuan ibu hamil tentang kunjungan antenatal serta
hal-hal yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan, tidak tercatatnya
jumlah ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya di tempat pelayanan
kesehatan swasta di luar wilayah desa karena kurang koordinasi dengan bidan
desa maupun kader, serta masih adanya ibu yang mengalami abortus maupun
IUFD.

B. Saran
1. Penyuluhan tentang pentingnya melakukan kunjungan antenatal.
2. Mengadakan koordinasi dengan tenaga kesehatan swasta di luar wilayah
desa yang paling sering didatangi oleh ibu hamil dari Desa Menoreh.
3. Peningkatan kualitas pelayanan antenatal agar ibu hamil lebih tertarik
untuk memeriksakan diri di Posyandu dan Bidan Praktek Swasta (BPS).
4. Para petugas kesehatan diharapkan untuk lebih aktif dengan melakukan
kunjungan rumah untuk meningkatkan cakupan kunjungan K4.

35
DAFTAR PUSTAKA

1. Ahmad Fuady. Kartini dan angka kematian ibu yang tinggi. Diunduh dari :
http://farranasir.multiply.com/journal/item/185. Diakses tanggal 31 Juli 2010.
2. Data angka kematian ibu. http://www.datastatistik-
indonesia.com/content/view/450/450/1/3/. Diakses tanggal 31 Juli 2010.
3. Hubungan Perilaku, Sikap, dan Pengetahuan dengan praktik ANC Ibu Hamil
di Wilayah Kerja Puskesmas Halmahera Kota Semarang. Diunduh dari
http://www.google.co.id/url?
sa=t&source=web&cd=37&ved=0CCgQFjAGOB4&url=http%3A%2F
%2Fdigilib.unimus.ac.id%2Ffiles%2Fdisk1%2F103%2Fjtptunimus-gdl-
hanifaturr-5107-2-babii.pdf&rct=j&q=pengertian+antenatal+care,+anc,
+pemeriksaan+kehamilan,+pdf&ei=5VwdTMCXK4-
0rAfX0MCiCw&usg=AFQjCNGObr7w2B97g3socwyB8mHBvIyR7g.
Diakses tanggal 31 Juli 2010.
4. Antenatal Care (ANC). Diunduh dari : http://www.medicalera.com/index.php?
option=com_kunena&Itemid=347&func=view&catid=46&id=992. Diakses
tanggal 31 Juli 2010.
5. Linda Pusri Winarni. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Peranan Bidan
Desa Dalam Upaya Menurunankan Angka Kematian Ibu di Kabupaten Aceh
Utara Tahun 2007. Diunduh dari : http://www.google.co.id/url?
sa=t&source=web&cd=32&ved=0CBUQFjABOB4&url=http%3A%2F
%2Feprints.undip.ac.id
%2F14676%2F1%2F2004MIKM3599.pdf&rct=j&q=pengertian+antenatal+ca
re,+anc,+pemeriksaan+kehamilan,+pdf&ei=5VwdTMCXK4-
0rAfX0MCiCw&usg=AFQjCNHGo-_jwZPp2l7F30AQOd4DWVUCRA).
Diakses tanggal 31 Juli 2010.
6. Wiknjosastro H, Saifuddin AB, Trijatmo R. Ilmu Kandungan edisi ke-2 cet ke-
4. Jakarta:Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2005.
7. Angka Kematian Ibu. Diunduh dari : http://www.datastatistik-
indonesia.com/content/view/450/450/1/3/. Diakses tanggal 31 Juli 2010.
8. Pedoman Pelayanan Antenatal di Wilayah Kerja Puskesmas. Direktorat
Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat dan Direktorat Bina Kesehatan
Keluarga. Diterbitkan oleh Departemen Kesehatan RI. Jakarta. 1993.
9. Hartoyo, M.Kes. Handout Manajemen Program/Pelayanan di Puskesmas:
Magelang, 2010.

36
10. Yuniar. Handout Upaya Kesehatan Puskesmas & Indikator: Magelang, 2010.
11. Hartoyo, M.Kes. Handout Instrumen dalam Proses Pemecahan Masalah,
Penentuan Prioritas Masalah dan Pengambilan Keputusan: Magelang, 2010.
12. Hartoyo, M.Kes. Handout Instrumen Analisa Penyebab untuk Pemecahan
Masalah: Magelang, 2010.
13. Hartoyo, M.Kes. Handout Penentuan Prioritas dan Pemecahan Masalah.
Magelang, 2010.

37