Anda di halaman 1dari 5

TINJAUAN PUSTAKA

Diagnosis dan Penatalaksanaan Malaria


Tanpa Komplikasi pada Anak
Armand Setiady Liwan
Dokter Misi Keuskupan Manokwari-Sorong
Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, Indonesia

ABSTRAK
Malaria adalah masalah kesehatan utama dunia. Kematian terbesar akibat malaria terjadi pada masa bayi dan kanak-kanak. Masalahnya
antara lain karena gejala-gejala malaria pada anak berbeda dan sering tidak spesifik, juga tidak tersedia laboratorium di daerah. Selain itu,
pola resistensi obat anti-malaria pun terus berubah dan berbeda di setiap daerah. Klorokuin dan sulfadoksin-pirimetamin tidak lagi digunakan
karena tingginya resistensi di banyak negara. Peningkatan kemampuan tenaga medis dalam mendeteksi dan memahami penatalaksanaan
malaria terbaru menjadi penting untuk mencegah terjadinya malaria berat.

Kata kunci: Malaria, anak, diagnosis

ABSTRACT
Malaria is a major worldwide problem. Most of malaria death are in infancy and childhood. Problems encountered are that symptoms of
malaria in children are different and often non-specific, and the unavailability of laboratory diagnosis. The pattern of anti-malarial drug
resistance are also continues to change and vary by region; chloroquine and sulfadoxine-pyrimetamine are no longer used because of high
resistance in many countries. Increased ability of medical personnel to detect cases and to understand the latest management of malaria are
important to prevent severe malaria. Armand Setiady Liwan. Diagnosis and Management of Uncomplicated Malaria in Children.

Keywords: Malaria, children, diagnosis

PENDAHULUAN EPIDEMIOLOGI Plasmodium vivax predominan di Bangladesh,


Malaria adalah salah satu penyakit infeksi Malaria merupakan salah satu masalah Amerika Tengah, India, Pakistan, dan Sri Lanka.
parasit terpenting di dunia; penyakit ini kesehatan utama dunia dan terjadi di lebih P. vivax dan P. falciparum predominan di Asia
menjadi masalah terutama bagi negara- dari 100 negara. Daerah transmisi utama Tenggara, Amerika Selatan, dan Oceania.
negara yang sedang berkembang. WHO terdapat di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan. Plasmodium ovale adalah spesies yang
memperkirakan jumlah kasus malaria setiap Plasmodium falciparum adalah spesies pre- paling tidak umum, terutama tersebar di
tahun antara 300-500 juta dengan lebih dari dominan di Afrika, Haiti, dan New Guinea. Afrika.1
1 juta kematian. Sebagian besar kematian
akibat malaria terjadi pada masa bayi dan
kanak-kanak (lebih dari 3000 kematian per
hari). Di Indonesia, malaria masih merupakan
masalah kesehatan masyarakat. Angka
kesakitan cukup tinggi terutama di luar Jawa
dan Bali. Malaria bermanifestasi sebagai pe-
nyakit akut ataupun kronik, ditandai dengan
demam paroksismal, menggigil, kelelahan,
berkeringat, anemia, dan splenomegali.
Manifestasi klinis malaria pada anak berbeda
dan tidak spesifik dibandingkan dewasa.
Belum ditemukannya definisi klinis keluhan
atau gejala klinis di daerah endemis tertentu
dapat menyebabkan over diagnosis dan over
treatment malaria pada anak.1,2 Gambar 1. Distribusi global spesies Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax1

Alamat korespondensi email: r_bluexell@yahoo.com

CDK-229/ vol. 42 no. 6, th. 2015 425


TINJAUAN PUSTAKA

Tabel 1. Karakteristik Plasmodium yang menginfeksi manusia1,4 Fase eksoeritrositik dimulai dengan inokulasi
Karakteristik P. falciparum P. vivax P. ovale P. malariae sporozoit ke dalam peredaran darah oleh
Lama fase intrahepatik (hari) 5,5 8 9 15 nyamuk Anopheles betina. Dalam hitungan
Jumlah merozoit yang dilepaskan tiap 30.000 10.000 15.000 15.000 menit, sporozoit akan menginvasi sel-sel
hepatosit yang terinfeksi hepatosit, berkembang biak secara aseksual
Lama fase eritrosit (jam) 48 48 50 72 dan membentuk skizon. Setelah 1-2 minggu,
Sel darah merah yang diserang
Semua sel darah Retikulosit Retikulosit Sel matang sel-sel hepatosit ruptur dan mengeluarkan
merah (100%) (2%) (2%) (<1%) ribuan merozoit ke dalam sirkulasi. Skizon
Kemampuan relaps Tidak Ya Ya Tidak spesies P. falciparum, P. Malariae, dan P.
Masa inkubasi 9-14(12) 12-17(15) 16-18(17) 18-40(28) knowlesi sekali ruptur tidak akan lagi berada
di hati. Skizon spesies P. vivax dan P. ovale
Menurut survei kesehatan rumah tangga dium intraseluler yang ditransmisikan ke ruptur dalam 6-9 hari dan ruptur sekunder
tahun 2001, terdapat 15 juta kasus malaria manusia melalui nyamuk Anopheles betina. pada skizon yang dorman (hipnozoit) dapat
dengan 38.000 kematian setiap tahunnya Saat ini, tercatat ada 5 spesies Plasmodium terjadi setelah beberapa minggu, bulan atau
di Indonesia. Diperkirakan 35% penduduk yang diketahui dapat menyebabkan malaria tahun sebelum mengeluarkan merozoit dan
Indonesia tinggal di daerah berisiko ter- pada manusia, yaitu P. falciparum, P. malariae, menyebabkan relaps (malaria kronis).1,2,4
infeksi malaria. Di pulau Jawa dan Bali, P. vivax, P. ovale, dan P. knowlesi. Plasmodium
Annual Parasite index (API) masih berfluktuasi, knowlesi adalah spesies Plasmodium yang Fase eritrositik dimulai saat merozoit dari
pada tahun 2005, 2006, dan 2007 tercatat sebelumnya hanya teridentifikasi pada kera. hati menginvasi sel darah merah. Di dalam
0,95, 0,19 dan 0,16. Sedangkan di Kasus pertama yang terjadi pada manusia eritrosit, parasit ini bertransformasi menjadi
luar Jawa dan Bali, Annual Malaria Incidence tercatat di semenanjung Malaysia pada tahun bentuk cincin yang kemudian membesar
(AMI) menurun dari 24,75 pada tahun 2005 1965.1,3 membentuk tropozoit. Tropozoit berkem-
menjadi 19,67 tahun 2007. Di Sumatera bang biak secara aseksual yang kemudian
Utara antara tahun 2000-2004, diperkirakan Spesies Plasmodium dapat dijumpai dalam ruptur dan mengeluarkan eritrositik merozoit,
lebih dari 50.000 kasus setiap tahun dengan berbagai bentuk dan memiliki siklus hidup yang secara klinis ditandai dengan demam.
9-10 kasus kematian. Pada tahun 2010 WHO yang kompleks. Parasit ini dapat bertahan Beberapa dari merozoit ini berkembang
memperkirakan terdapat sekitar 600.000 hidup di lingkungan seluler yang berbeda, menjadi gametosit jantan dan gametosit
kematian akibat malaria di seluruh dunia baik dalam tubuh manusia (fase aseksual) betina, sekaligus melengkapi fase siklus
dan 86% adalah anak-anak di bawah usia 5 maupun nyamuk (fase seksual). Replikasi aseksual pada manusia. Gametosit jantan dan
tahun.3-6 Plasmodium terjadi melalui 2 tahap dalam gametosit betina ini dicerna oleh nyamuk
tubuh manusia. Fase eritrositik yang terjadi Anopheles betina saat mengisap darah dari
PATOGENESIS di dalam sel-sel hati dan fase eritrositik yang manusia. Dalam perut nyamuk, gametosit
Malaria disebabkan oleh protozoa Plasmo- terjadi di dalam sel darah merah.1 jantan dan betina ini bergabung untuk
membentuk zigot. Zigot berkembang men-
jadi ookinet kemudian menembus dinding
lambung nyamuk. Pada dinding luar, nyamuk
ookinet akan menjadi ookista dan selanjutnya
menjadi sporozoit. Sporozoit ini bersifat
infektif dan siap ditularkan ke manusia.1,4

MANIFESTASI KLINIS
Penderita malaria biasanya menunjukan
gejala utama demam tinggi yang bersifat
paroksismal disertai menggigil, berkeringat,
dan nyeri kepala. Selain itu, sering ditemukan
kelelahan, anoreksia, nyeri punggung, mialgia,
pucat, dan muntah. Manifestasi klinis malaria
pada anak berbeda dengan orang dewasa,
sehingga sering salah diintepretasikan de-
ngan gastroenteritis akut atau infeksi virus
akut lainnya. Anak-anak yang berasal dari
daerah endemis malaria (partially immune)
umumnya menunjukkan gejala minimal
seperti berkurangnya aktifitas, anoreksia atau
bahkan asimptomatik; tidak harus disertai
Gambar 2. Siklus hidup Plasmodium4 demam, terutama bagi anak di daerah

426 CDK-229/ vol. 42 no. 6, th. 2015


TINJAUAN PUSTAKA

Tabel 2. Perbedaan manifestasi malaria berat pada anak dan dewasa4 Infeksi Plasmodium selama kehamilan dapat
menyebabkan keguguran, retardasi per-
Manifestasi pada Anak Manifestasi pada Dewasa
tumbuhan janin, lahir mati, berat bayi lahir
1. Koma (malaria serebral) 1. Koma**
rendah, kelahiran prematur, dan malaria
2. Distres pernafasan 2. Gagal ginjal akut**
kongenital. Pada malaria kongenital (umum-
3. Hipoglikemia ( sebelum terapi kina )* 3. Edema paru, termasuk ARDS**
nya muncul pada 10-30 hari kehidupan)
4. Anemia berat* 4. Hipoglikemia (umumnya sesudah terapi kina)
5. Kejang umum berulang 5. Anemia berat (<5%) transmisi terjadi selama kehamilan; dapat
6. Asidosis metabolik 6. Kejang umum berulang menunjukkan gejala demam, gelisah, pucat,
7. Kolaps sirkulasi, syok,hipotensi (sist<50mmHg) 7. Asidosis metabolik ikterus, kejang, distres pernafasan, intoleransi
8. Gangguan kesadaran selain koma 8. Kolaps sirkulasi, syok minum, muntah, diare, sianosis, dan hepato-
9. Kelemahan yang sangat (severe prostration) 9. Hipovolumia, hipotensi splenomegali. Menggigil tidak umum terjadi
10. Hiperparasitemia 10. Pendarahan spontan karena pusat pengatur suhu yang belum
11. Ikterus 11. Gangguan kesadaran selain koma sempurna. Malaria pada kelompok usia
12. Hiperpireksia (suhu >41C) 12. Hemoglobinuria
ini tidak jarang terjadi di daerah endemis,
13. Hemoglobinuria 13. Hiperparasitemia >5%
namun sering tidak dikenali karena gejala
14. Pendarahan spontan 14. Ikterus (bilirubin total >5%) **
yang tumpang tindih dengan penyakit lain,
15. Gagal ginjal 15. Hiperpireksia (>40C)
* komplikasi terbanyak pada anak ** komplikasi terbanyak pada dewasa
seperti sepsis.7,9,10

endemis. Pada anak dengan asimptomatik (acute respiratory distress syndrome). Gejala- DIAGNOSIS
yang positif parasit malaria di darah, dapat gejala seperti black water fever dan algid Diagnosis malaria dapat ditegakkan secara
hanya menunjukkan splenomegali sebagai malaria (kolaps pembuluh darah, syok, klinis dan laboratoris. Secara klinis, sesuai
temuan tunggal.1,7,8 dan hipotermi) jarang terjadi pada anak- rekomendasi WHO malaria dapat dicurigai
anak.1,6,7,8 berdasarkan daerah epidemiologisnya:
Sistem imunitas penderita sangat mem- Di daerah non-endemis, diagnosis klinis
pengaruhi manifestasi klinis malaria. Pada Malaria anak sering menunjukkan gejala malaria tidak berat harus didasarkan pada
daerah endemis, mayoritas kematian terjadi beragam sesuai kelompok umur. Hasil kemungkinan paparan malaria (berpergian
pada anak-anak yang lebih muda akibat penelitian di kabupaten Sikka-NTT, gejala ke daerah endemis) dan riwayat demam
anemia berat. Pada populasi yang sama, orang klinis yang membedakan malaria pada anak 3 hari terakhir tanpa gejala penyakit berat
dewasa dan anak-anak lebih besar biasanya dengan penyakit lain adalah splenomegali, lainnya.
menunjukkan gejala minimal dan bahkan menggigil, dehidrasi ringan, riwayat kejang, Di daerah endemis, diagnosis klinis
asimptomatik. Sebaliknya pada daerah non- dan pucat; dengan nilai spesifisitas 77,0%. didasarkan pada riwayat demam dalam 24
endemis, imunitas parsial penderita umum- Sedangkan gejala klinis terbaik pada pasien jam terakhir dan atau adanya gejala anemia
nya belum terbentuk atau terbentuk pada usia anak umur >5 tahun adalah splenomegali, (pucat pada palmar merupakan tanda
dewasa, dan mayoritas kematian diakibatkan menggigil, nyeri perut, dan dehidrasi ringan, paling reliabel pada anak yang lebih muda).
oleh malaria serebral. Nyeri kepala, pusing dengan nilai spesifisitas 79,5%.6 Riwayat
dan iritabilitas dapat mendahului malaria kejang terutama didapatkan pada bayi kurang Tetap perlu diperhatikan adanya gejala klasik
serebral, tetapi pada anak non-imun (tidak dari satu tahun, diare pada balita, dan nyeri seperti demam, menggigil, pucat disertai
tinggal di daerah endemis sejak lahir) kondisi perut pada anak lebih besar. Infeksi malaria splenomegali; dan gejala lain seperti nyeri
dapat cepat berubah dari kondisi sadar penuh pada anak usia sekolah mempengaruhi kepala, mual-muntah, nyeri otot-tulang,
menjadi koma dalam hitungan jam. Kejang prestasi belajar; malaria akut tidak berat riwayat kejang (terutama bayi <1 tahun),
adalah kondisi yang umum pada anak-anak mempengaruhi kemampuan kognitif anak di diare (balita), dan nyeri perut (anak >5 tahun).
dan sering disertai peningkatan tekanan sekolah secara signifikan.5,7 Riwayat tinggal di daerah endemis malaria,
intrakranial.1,7

Komplikasi penting malaria berat pada anak


adalah hipoglikemia. Hal ini terjadi karena
supresi proses glukoneogenesis parasit di hati
dan sekaligus menginduksi sekresi insulin di
pankreas. Sekresi insulin meningkat dengan
penggunaan kina dan dapat mengakibatkan
sekuele neurologis yang berat. Distres
pernafasan adalah komplikasi umum lain
pada anak-anak, umumnya konsekuensi
dari asidosis berat. Berbeda dengan anak- Gambar 3. A. Apusan darah tebal; B-H. Apusan darah tipis; B. Signet ring P. falciparum tropozoit; C. Gametosit berbentuk
anak, distres pernafasan pada orang dewasa pisang khas pada P. falciparum; D. Ameboid tropozoit khas P. vivax; E. Skizon P.vivax; F. Gametosit sferis P. vivax; G. Tropozoit P.
biasanya akibat edema paru dan juga ARDS ovale; dan H. Tropozoit pita P. malariae.1

CDK-229/ vol. 42 no. 6, th. 2015 427


TINJAUAN PUSTAKA

riwayat sakit malaria, riwayat minum obat Pengobatan Simptomatik Obat anti-malaria lini pertama dan kedua
malaria satu bulan terakhir dan juga riwayat Pemberian antipiretik pada anak demam (blood schizonticidal) harus ditambah
transfusi darah penting ditelusuri.1,4,8 untuk mencegah hipertermia dengan dosis primakuin. Primakuin bermanfaat untuk
paracetamol 15 mg/kgBB/dosis setiap 4-6 eradikasi Plasmodium yang dorman dalam
Hasil pemeriksaan laboratorium yang me- jam. Apabila terjadi hipertermia (suhu jaringan, terutama hepar (tissue schizonticidal).
nyertai antara lain anemia, trombositopenia, rektal >40C), berikan paracetamol dosis Untuk P. falciparum khusus untuk anak >1
leukosit normal/leukopenia, dan peningkatan inisial 20 mg/kgBB/dosis dilanjutkan dengan tahun, dosis primakuin: 0,75 mg-basa/kgBB/
LED. Diagnosis pasti dengan pemeriksaan dosis rumatan 15 mg/kgBB/dosis. Pada anak dosis tunggal 1 hari. Sedangkan untuk P.
apusan darah tebal dan apusan darah tipis. kejang, sebaiknya berikan diazepam intravena vivax, P. ovale dan P. malariae dikombinasi-
Apusan darah tebal dibuat dengan pe- perlahan dengan dosis 0,3-0,5 mg/kgBB/dosis kan dengan primakuin 0,25 mg/kgBB/dosis
warnaan Giemsa atau Field Stain, sedangkan atau diazepam rektal 5 mg (berat badan <10 tunggal selama 14 hari. Primakuin tidak
apusan darah tipis dengan pewarnaan Wright kg) atau 10 mg (berat badan >10 kg), dan boleh diberikan untuk anak usia <1 tahun,
atau Giemsa. Pemeriksaan apusan darah tebal segera rujuk ke rumah sakit, karena kejang ibu hamil, dan defisiensi G6PD.1,4,16,18
bertujuan melihat jumlah eritrosit dalam merupakan salah satu gejala malaria berat
darah, sementara pemeriksaan apusan darah yang membutuhkan penanganan lanjutan. Kondisi klinis malaria pada anak dapat cepat
tipis bertujuan melihat perubahan bentuk memburuk. Edukasi orang tua pasien penting
eritrosit, jenis Plasmodium, dan persentase Suplementasi zat besi dengan atau tanpa sebagai partner pemantauan selama rawat
eritrosit yang terinfeksi. Hasil apusan darah zinc secara bermakna meningkatkan kadar jalan. Apabila anak tidak bisa menoleransi
negatif tunggal tidak meniadakan diagnosis hemoglobin pada penderita malaria obat oral atau muncul gejala-gejala malaria
malaria, karena sebagian besar pasien ber- tropikana di daerah endemis. Namun, berat sebaiknya dirujuk untuk pemberian anti-
gejala akan menunjukkan hasil positif dalam pemberian zat besi pada malaria dengan malaria intravena dengan dosis terukur. WHO
48 jam. Pemeriksaan darah serial setiap 6 anemia ringan tidak dianjurkan, kecuali bila merekomendasikan pemberian artesunat
jam selama tiga hari berurutan dapat di- disebabkan oleh defisiensi besi.11,17 rektal dosis tunggal pada anak dengan
lakukan. malaria sebelum dirujuk ke pusat pelayanan
Pengobatan Anti-malaria lanjutan. Data menunjukan kematian
Pemeriksaan apusan darah tipis tidak Lini pertama: akibat malaria pada anak menurun dengan
mungkin dapat membedakan morfologi 1. Dehidroartemisin + piperakuin (fixed pemberian artesunat per rektal jika waktu
spesies P. malariae dan P. knowlesi, sehingga dose combination) rujuk melebihi 6 jam.
diperlukan pemeriksaan lebih canggih seperti Dosis dehidroartemisin 2-4 mg/kgBB dan
polymerase chain reaction (PCR). Pemeriksaan piperakuin 16-32 mg/kgBB/dosis tunggal, PROFILAKSIS
praktis terutama di daerah endemis dapat di- diberikan selama 3 hari. Saat ini, rutin Kemoprofilaksis bertujuan untuk me-
lakukan dengan rapid diagnostic test (RDT) digunakan di Papua dan Papua Barat. ngurangi risiko terinfeksi malaria, sehingga
berbentuk dipstick, dianjurkan mengguna- Penggunaan dehidroartemisin-piperakuin bila terinfeksi gejala klinisnya tidak berat.
kan tes diagnostik cepat yang memiliki pada anak lebih ditoleransi karena adverse Ditujukan terutama untuk orang yang ber-
kemampuan minimal sensitivitas 95% dan event yang lebih rendah dari artesunat- pergian ke daerah endemis dalam waktu
spesifisitas 95%. Malaria tanpa komplikasi amodiakuin.12 yang tidak terlalu lama, seperti turis. Untuk
harus dibedakan dengan penyakit infeksi lain, 2. Artesunat + amodiakuin (tablet 50 mg jangka waktu lama pada anak sebaiknya
seperti demam tifoid, demam dengue, infeksi artesunat dan 153 mg amodiakuin) mengggunakan perlindungan diri seperti
saluran pernafasan akut, leptospirosis ringan Dosis artesunat 4 mg/kgBB/dosis tunggal kelambu, repellent (Diethyltoluamide/DEET 25-
dan infeksi virus akut lainnya.1,8,9,11 selama 3 hari, dan amodiakuin 10 mg- basa/ 35%), kawat kasa, dan lain-lain. Penggunaan
kgBB/dosis tunggal juga selama 3 hari.4,11,13,14 DEET 25-35% dihindari pada bayi <2 bulan dan
PENATALAKSANAAN sebaiknya dibilas secepatnya dari kulit apabila
Tenaga kesehatan perlu memperhatikan Lini kedua: berada di dalam ruangan yang terlindungi.
informasi terbaru tentang malaria karena pola 1. Kina (tablet 200 mg kina fosfat/sulfat) Kemoprofilaksis ditujukan terutama untuk
resistensi obat anti-malaria terus berubah. Dosis kina 10 mg/kgBB/dosis, diberikan 3 kali P. falciparum karena virulensinya tinggi.
Penatalaksanaan malaria tidak berat (tanpa sehari selama 7 hari. Kina harus dikombinasi- Sehubungan dengan tingginya resistensi P.
komplikasi) adalah secara rawat jalan dengan kan dengan doksisiklin pada P. falciparum, falciparum terhadap klorokuin, doksisiklin
obat anti-malaria yang direkomendasikan dengan dosis doksisiklin: 2 mg/kgBB/dosis menjadi pilihan untuk kemoprofilaksis pada
WHO. Klorokuin dan sulfodoksin-pirimetamin (usia >14 tahun), 1 mg/kgBB/dosis (8-14 tahun), anak usia lebih dari 8 tahun. Doksisiklin
tidak lagi digunakan karena tingginya 2 kali sehari selama 7 hari. Pada ibu hamil dan diminum 1 hari sebelum keberangkatan
resistensi P. falciparum terhadap obat ini di anak kurang dari 8 tahun direkomendasikan dengan dosis 2 mg/kgBB setiap hari selama
banyak negara. Penatalaksanaan malaria tidak mengganti doksisiklin dengan klindamisin. tidak lebih dari 12 minggu. Pada anak yang
berat meliputi pengobatan simptomatik dan Kombinasi kina dan klindamisin aman, efektif, lebih kecil dapat digunakan atovaquone-
pengobatan anti-malaria bertujuan untuk dan memiliki adverse event lebih sedikit. Dosis proguanil dan mefloquine. Atovaquone-
eradikasi parasit dalam tubuh dan men- klindamisin: 20 mg basa/kgBB/hari dibagi 3 proguanil memiliki sediaan tablet anak dan
cegah terjadinya komplikasi.1,4,11 dosis selama 7 hari.4,15 lebih ditoleransi dari mefloquine, dimulai dari

428 CDK-229/ vol. 42 no. 6, th. 2015


TINJAUAN PUSTAKA

2 hari sebelum berpergian dan dikonsumsi malaria dapat dideteksi dini dan diberi kepala, mual-muntah, nyeri otot-tulang,
setiap hari, sesuai waktu berpergian yang pengobatan yang tepat, prognosis malaria riwayat kejang (terutama bayi <1 tahun),
singkat. Untuk waktu berpergian yang lama, tanpa komplikasi pada anak umumnya diare (balita) dan nyeri perut (anak >5
dapat diberikan mefloquine 4,6 mg basa/ baik. tahun). Pemeriksaan praktis, terutama di
kgBB/minggu, dimulai dari 2 minggu sebelum daerah endemis, seperti rapid diagnostic
keberangkatan. Namun, mefloquine kurang SIMPULAN test berbentuk dipstick dapat digunakan.
disukai karena tidak ada sediaan untuk anak Malaria tidak berat pada anak sering di- Kombinasi obat anti-malaria dehidro-
dan rasanya pahit.1,4,9 jumpai terutama di daerah endemis. Gejala artemisin-piperakuin + primakuin lebih
klinis yang tidak spesifik dan ketidakterse- ditoleransi pada anak karena adverse event
PROGNOSIS diaan pemeriksaan penunjang menjadikan yang lebih rendah daripada kombinasi
Sebagian besar anak dengan malaria tanpa kemampuan praktisi kesehatan menjadi artesunat-amodiakuin + primakuin. Deteksi
komplikasi akan menunjukkan perbaikan sangat penting. Gejala klasik malaria malaria sejak dini dan pengobatan yang
dalam 48 jam setelah mulai pengobatan adalah demam, menggigil, pucat, disertai tepat umumnya memberikan hasil yang
dan bebas demam setelah 96 jam. Apabila splenomegali; dan gejala lain seperti nyeri baik.

DAFTAR PUSTAKA
1. John CC, Krause PJ. Malaria (Plasmodium). In: Kliegman RM, Stanton BF, Geme JW, Schor FN, Behrman RE, eds. Nelson textbook of pediatrics. 19th ed. Philadelphia: WB Saunders; 2011.p.
1139-43.
2. Parwati SB, Simplica MA, Ismoedijanto. Faktor determinan klinis pada malaria anak. Sari Pediatri. 2001;3(2):106-14.
3. Nelwan RHH. Malaria plasmodium knowlesi. 204th ed. Jakarta: Cermin Dunia Kedokteran; 2013.p.327-9.
4. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Pedoman penatalaksanaan kasus malaria di Indonesia gebrak malaria. Jakarta: Departemen Kesehatan RI; 2008.
5. Masyitah, Rahmawati L, Sofyani S, Lubis M, Lubis IZ. Short-term impact of acute uncomplicated malaria on the cognitive performance of school children living in endemic area. Paediatrica
Indonesiana 2009;49(2):82-6.
6. Infectious Diseases Society of America. Diagnosis and treatment of malaria in children. Clin Infect Dis. 2003;37 (10):1340-8.
7. Siahaan L. Malaria pada anak usia sekolah di kabupaten Nias Selatan. 188th ed. Jakarta: Cermin Dunia Kedokteran; 2011. p. 513-5.
8. Malaria. Pedoman pelayanan medis ilmu kesehatan anak. Denpasar: SMF IKA FK UNUD/RSUP Sanglah; 2011. p. 219-23.
9. Laksono RD. Profilaksis malaria di perbatasan Indonesia-Timor Leste. 188th ed. Jakarta: Cermin Dunia Kedokteran; 2011.p.503-7.
10. Alessandro UD, Ubben D, Hamed K, Ceesay SJ, Okebe J, Taal M, et al. Malaria in infants aged less than six months is it an area of unmet medical need? Malar J. 2012; 11:400. doi:
10.1186/1475-2875-11-400.
11. WHO. Hospital care of children. 2nd ed. Geneva, Switzerland: World Health Organization; 2013. p. 156-66.
12. Pasaribu PA, Chokejindachai W, Sirivichayakul C, Tanomsing N, Chavez I, Tjitra E, et al. A Randomized comparison of dihydroartemisinin-piperaquine and artesunate-amodiaquine
combined eith primaquine for radical treatment of vivax malaria in Sumatera, Indonesia. J Infect Dis. 2013;208:1906-13. doi: 10.1093/infdis/jit407. [Epub 2013 Aug 6].
13. WWARN DP Study Group. The effect of dosing regimens on the antimalarial efficacy of dihydroartemisinin-pipeaquine: A pooled analysis of individual patient data. Plos Med.
2013;10:1-6.
14. Hasugian AR, Purba HLE, Kenangalem E, Wuwung RM, Ebsworth EP, Maristela R, et al. Dihydroartemisinin-piperaquine versus artesunate-amodiaquine: Superior efficacy and posttreatment
prophylaxis against multidrug-resistent plasmodium falciparum and plasmodium vivax malaria. PMC. 2008;44:1067-74.
15. Daulay PAD, Trisnawati Y, Lubis S, Lubis M, Pasaribu S. Comparison of quinine-doxycycline and quinine-clindamycin for falciparum malaria in children. Paediatrica Indonesiana
2011;51(4):187-91.
16. Roshental PJ, Goldsmith GS. Antiprotozoal drugs. In: Katzung BG, ed. Basic and clinical pharmacology. 10th ed. San Fransisco: McGraw Hill; 2006.p. 920-31.
17. Dasraf D, Lubis BM, Lubis B, Rosdiana N, Lubis M, Pasaribu S. Effect of iron and zinc supplementation in the treatment of malaria in children. Paediatrica Indonesiana 2007;47(6):256-60.
18. Sutanto I, Tjahjono B, Basri H, Taylor WR, Putri FA, Meilia RA, et al. Randomized, open-label trial of primaquine against vivax malaria relaps in Indonesia. AAC. 2013;57:1128-35.
19. WHO Library Cataloguing-in-Publication Data. Guidelines for the treatment of malaria. Geneva: WHO; 2010.

CDK-229/ vol. 42 no. 6, th. 2015 429