Anda di halaman 1dari 10

BAB II

LANDASAN TEORI

Pada bab ini diuraikan teori-teori yang menjadi landasan penelitian. Bagian
pertama secara garis besar merupakan pembahasan Pendekatan Humanistik Abraham
Maslow mengenai sifat dasar manusia dan Pandangan Psikologi Positif tentang sifat
dasar manusia, dimana dijelaskan manusia memiliki keutamaan (virtues), yang akan
membantu memberi suatu gambaran jelas tentang human nature. Selanjutnya pada bagian
kedua dibahas mengenai Motivasi, Altruisme, definisi dan faktor-faktor yang
mempengaruhinya. Bagian ketiga merupakan pembahasan mengenai teori Empathy-
Altruism Hypothesis (Batson and Oleson, 1991) dan Empathic-Joy Hypothesis (Smith,
Keating and Stotland,1989) dengan penjabaran jurnal-jurnal yang berkaitan dengan
hipotesis tersebut.

II. A. Gambaran tentang Sifat Dasar Manusia

II.A.1. Pandangan Teori Humanistik

Perspektif humanistik memandang manusia pada dasarnya adalah baik dan


konstruktif. Kecenderungan untuk mengaktualisasikan diri ada dalam diri manusia, yang
bila berada pada lingkungan yang benar, akan berkembang secara maksimal sesuai
dengan potensinya. Pendekatan umum terhadap perilaku dan kehidupan manusia
menekankan pada keunikan, harga diri, serta martabat dari setiap individu, dan
perkembangan pribadi dari nilai-nilai serta tujuan-tujuan yang mencerminkan saling
mempengaruhi diantara faktor fisik, psikologis dan sosio-kultural. (Corsini, 2002)

Abraham Maslow, tokoh utama dalam aliran humanistik, yakin bahwa


kebanyakan orang memiliki kemampuan untuk bersikap kreatif, spontan, penuh perhatian
pada orang lain, penuh rasa ingin tahu, memiliki kemampuan untuk berkembang secara
terus-menerus, memiliki kemampuan mencintai dan dicintai, serta memiliki ciri lain yang
terdapat pada orang-orang yang mengaktualisasikan diri. (Maslow, 1954)

Menurut pandangan humanistik, semua pengaturan yang bertentangan dengan


sifat-sifat baik dan konstruktif dapat menimbulkan keresahan dalam diri individu. Bila

9 Universitas Indonesia

Gambaran Altruisme..., Shinta Nawawi,F.Psi UI, 2007


tidak dapat menyalurkan sifat baik dan konstruktif seperti peduli dan mencintai orang
lain, maka individu tidak dapat berkembang secara maksimal dan hidupnya tidak akan
berguna. Akibatnya, adalah ketidak-bahagiaan karena tidak dapat bertindak sesuai
dengan sifat dasarnya.

II.A.2. Pandangan Psikologi Positif

Psikologi Positif melihat sifat dasar manusia dari segi subjektif, yaitu adanya
kesejahteraan diri dan kepuasan diri di masa lalu, penyaluran kegembiraan, kenikmatan
panca indera serta kebahagiaan pada saat kini. Pengalaman masa depan adalah kognisi
konstruktifoptimis, harapan dan keyakinan. Dari segi individual, adanya sifat pribadi
yang positif mencakup kapasitas untuk mencintai dan kehidupan beragama, keberanian,
keterampilan interpersonal, kemampuan untuk merasakan keindahan, kegigihan, pemaaf,
keaslian, visi masa depan, bakat yang tinggi, dan kebijaksanaan. Dari segi kelompok,
berkaitan dengan kebajikan umum (civic virtues) dan lembaga yang mendorong individu
menjadi warga yang lebih baik, bertanggung jawab, pemeliharaan, altruisme, kesopanan,
kemandirian, toleransi, serta etika pekerjaan, sifat-sifat ini ketika diwujudkan dalam
tindakan akan menguat dan dipertajam (Seligman and Csikszentmihalyi, 2000).

Psikologi Positif menjelaskan bahwa masalah-masalah yang ada, baik secara


individu maupun komunal adalah akibat dari kesalahan dalam penentuan sifat dasar
manusia. Dari segi subjektif, segi individual serta segi kelompok, semua sifat yang
dimiliki manusia adalah sifat-sifat positif dan dalam bermasyarakat sifat dasar seperti
tanggung jawab, pemeliharaan, altruisme, kesopanan, kemandirian, toleransi, adalah
kenyataan manusia. Ketika manusia mewujudkan sifat ini dalam tindakan, maka hal ini
akan membuatnya bahagia dan berkembang. Misalnya, sifat ingin lebih dari
sebelumnya bila ditujukan untuk berbuat lebih dermawan, lebih ingin meraih ilmu atau
lebih ingin membantu adalah suatu sifat yang sesuai dengan keutamaan (virtues)
manusia.

II.A.3. Keutamaan (Virtues)

Dalam Psikologi Positif dikatakan manusia memiliki keutamaan (virtues) yang


membuat seseorang bertahan hidup, karena hal ini merupakan sifat dasar manusia.
Keutamaan adalah karakteristik inti yang dipandang berharga oleh para filsuf moralitas

10 Universitas Indonesia

Gambaran Altruisme..., Shinta Nawawi,F.Psi UI, 2007


dan para cendekiawan agama. Ada enam kategori besar dari keutamaan yang timbul
secara konsisten dari berbagai budaya serta survey historis, yaitu kebijaksanaan,
keberanian, perikemanusiaan, keadilan, menahan diri, dan transenden. Pada dasarnya
semua orang memiliki enam keutamaan tersebut, namun ada satu atau dua aspek yang
lebih kuat dalam diri seseorang. Setiap keutamaan memiliki kekuatan-kekuatan tertentu,
salah satunya adalah kekuatan altruisme.

Kekuatan-kekuatan tersebut adalah jalan yang memperlihatkan keutamaan satu


atau yang lainnya. Sebagai contoh keutamaan, kebijaksanaan dapat dimiliki melalui
kekuatankreativitas, keingintahuan, cinta pembelajaran, berpandangan terbuka, tidak
berprasangka, serta memiliki perspektif (Peterson and Seligman, 2004).

Klasifikasi Karakteristik Kekuatan:

1. Kebijaksanaan dan Pengetahuan: karakteristik kekuatan kreativitas,


keingintahuan, cinta pembelajaran, berpandangan terbuka/tidak berprasangka,
serta memiliki perspektif.

2. Keteguhan hati: karakteristik kekuatan keberanian, persistence, integritas,


vitalitas.

3. Perikemanusiaan: karakteristik kekuatan cinta, kebaikan (hati), kecerdasan sosial.

4. Keadilan: karakteristik kekuatan citizenship, fairness, leadership.

5. Menahan diri: karakteristik kekuatan forgiveness and mercy, humility/modesty,


prudence, self regulation.

6. Transenden: karakteristik kekuatan appreciation of beauty and excellence,


gratitude, hope, humor, spirituality.

(Peterson and Seligman, 2004, hal 29-30)

Peterson dan Seligman (2004) menjelaskan bahwa jarang ditemukan seorang


individu yang memiliki semua kekuatan (strength) dari enam keutamaan ini, tetapi paling
tidak individu akan memiliki beberapa kekuatan dari setiap keutamaan, dan hal ini cukup
untuk mengatakan individu tersebut memiliki karakter yang baik

11 Universitas Indonesia

Gambaran Altruisme..., Shinta Nawawi,F.Psi UI, 2007


Begitupula ditegaskan bahwa kekuatan (strength) bukan hanya dimiliki oleh
orang bercukupan, tetapi juga dimiliki oleh orang yang tidak mampu, contohnya orang
akan membantu ketika melihat seorang anak yang terancam jiwanya dalam gedung yang
terbakar. Ia akan mengabaikan kenyamanan dan keselamatannya untuk segera menolong
anak tersebut. Dari studi yang membandingkan antara individu-individu yang homeless
dengan para mahasiswa universitas dalam aspek self-actualization, hasilnya tidak
diketemukan perbedaan apapun (Sumerlin and Norman, 1992, hal 64). Artinya, orang
yang tidak mampu akan membantu, walaupun ia sendiri berada dalam keadaan yang tidak
nyaman, misalnya ia pada kondisi belum makan seharian atau sedang sakit, karena
keutamaan merupakan sifat dasar manusia .

Dalam Keutamaan Perikemanusiaan, salah satu kekuatan yang dimiliki adalah


kindness atau kebaikan (hati), memiliki sifat seperti dermawan, pemelihara, peduli,
compassion, altrusitic love serta niceness. Semua sifat ini merujuk pada perilaku
melakukan sesuatu yang baik dan menguntungkan bagi orang lain, membantu orang lain,
serta memelihara mereka. Dengan kata lain perilaku ini adalah altruisme. Dengan ini
dapat disimpulkan bahwa manusia memiliki kekuatan altruisme.

II.B. Altruisme

II.B.1 Definisi Altruisme.

Altruisme adalah perilaku yang tidak mementingkan diri sendiri yang mempunyai
pengaruh yang menguntungkan bagi kelangsungan hidup, kenyamanan serta keadaan
mental orang lain. Altruisme adalah bertindak untuk kepentingan orang lain; lebih peduli
pada orang lain daripada kepedulian pada diri sendiri (Corsini, 2002, hal.38)

Altruisme adalah perilaku membantu yang khusus, dilakukan secara sukarela,


merugi bagi penolong (altruist), dan motivasi primernya adalah hasrat untuk
memperbaiki kesejahteraan orang lain daripada mengantisipasikan imbalan bagi dirinya
(Batson, 1987; Walster and Piliavin, 1972). Selain itu, altruisme adalah perilaku yang
tidak mementingkan diri sendiri dan dapat dibedakan dari tingkah laku prososial yang
mementingkan diri sendiri atau egoisme. (Deaux, Dane, Wrightsman, 1993)

12 Universitas Indonesia

Gambaran Altruisme..., Shinta Nawawi,F.Psi UI, 2007


Dalam skripsi ini peneliti mengunakan beberapa definisi altruisme dari beberapa
sumber dengan tujuan mendapatkan kesimpulan yang menyeluruh. Altruisme adalah
perilaku membantu dengan tujuan utama supaya kesejahteraan orang lain meningkat,
tidak mementingkan diri sendiri, dilakukan secara sukarela dan tidak mengharapkan
imbalan apapun.

Mengapa manusia suka menolong? Berbagai jawaban atas pertanyaan ini dapat
dikemukakan. Manusia menolong karena tidak ada pilihan, atau karena itu adalah sesuatu
yang diharapkan dari kita, atau karena menguntungkan. Jadi apakah altruisme ada dalam
semua perilaku manusia (human repertoire)? (Batson, Ahmad, Lishner, Tsang, 2005)

Ada pergeseran paradigma jauh dari posisi awal yang percaya perilaku manusia
yang kelihatannya altruistik bila dilihat lebih cermat lagi terlihat adanya motivasi
egoistik. Namun, teori dan data yang terbaru, selaras dengan pandangan bahwa
sesungguhnya altruisme adalah perilaku yang bertujuan untuk menguntungkan orang lain
memang ada, dan hal ini adalah bagian dari sifat dasar manusia (Piliavin and Charng,
1990)

II.B.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Altruisme

II. B.2.1 Empati

Dibawah ini ada beberapa definisi tentang empati:

...realisasi dan pengertian terhadap perasaan, kebutuhan dan penderitaan pribadi


lain (Chaplin, 2000, hal.165)

...kesadaran akan pikiran, perasaan orang lain dan mengerti makna dari perasaan
tersebut. Menyatukan identitas dengan pikiran dan perasaan orang lain. Dapat
diungkapkan dengan pernyataan saya mengerti apa yang engkau rasakan.
Corsini (2002, hal. 327)

...dapat membayangkan perasaan orang lain seperti individu mengalaminya


sendiri. Batson (2005, hal 486-488) .

Ada tujuh konsep empati yang perlu diketahui dengan alasan supaya tidak ada
kebingungan antara perasaan empati dengan perasaan lain yang berkaitan dengan
cognitive or perceptual states (Batson, Ahmad, Lishner & Tsang, 2005, hal. 486-487)

13 Universitas Indonesia

Gambaran Altruisme..., Shinta Nawawi,F.Psi UI, 2007


1) Mengetahui keadaan internal orang lain.

2) Dapat mengira perasaan dengan mengamati postur tubuh orang lain.

3) Dapat merasa seperti apa yang sedang dirasakan orang lain.

4) Dapat memproyeksikan dirinya kedalam situasi orang lain.

5) Dapat membayangkan bagaimana orang lain sedang merasa.

6) Dapat membayangkan bagaimana seseorang berpikir dan merasa seperti ia

yang mengalami sendiri.

7) Marah melihat penderitaan orang lain.

Dalam penelitian psikologi, ditegaskan bahwa perasaan empati menimbulkan


motivasi altruistik, motivasi yang tujuan utamanya adalah peningkatan kesejahteraan
orang lain (Batson, Ahmad, Lishner & Tsang, 2005).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa empati adalah dapat merasakan


pikiran, perasaan dan keadaan orang lain seperti ia sedang mengalaminya sendiri.
Perasaan empati akan menimbulkan motivasi untuk membantu (altruisme) dan seperti
penjelasan Piliavin and Charng (1990) bahwa perilaku membantu adalah sifat dasar
manusia.

II. B.2.2 Motivasi

Menurut Dictionary of Psychology (Chaplin, 2000, hal. 310) motivasi adalah satu
variabel penyelang (perantara) yang digunakan untuk menimbulkan faktor-faktor tertentu
di dalam organisme, yang membangkitkan, mengelola, mempertahankan, dan
menyalurkan tingkah laku menuju satu sasaran.

Ada dua tipe motivasi (Corsini, 2002, hal 358 & 505), yaitu:

1. Motivasi Intrinsik: unsur kepuasan muncul dari tingkah laku itu sendiri dan bukan
karena imbalan atau hadiah.

2. Motivasi Ekstrinsik: unsur kepuasan muncul karena reinforcement dari luar seperti
didapatnya imbalan atau hadiah.

14 Universitas Indonesia

Gambaran Altruisme..., Shinta Nawawi,F.Psi UI, 2007


Dapat disimpulkan motivasi adalah suatu keinginan atau dorongan yang timbul
dalam diri individu secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan
tujuan tertentu.

II. B.2.3 Konsekuensi dari Altruisme.

Seorang Altruist bertindak untuk kepentingan orang lain sebagai tujuannya, bukan
sebagai cara agar diakui oleh masyarakat atau untuk kesejahteraan dirinya. Ia tidak lagi
menganggap dirinya sebagai pusat yang perlu diperhatikan (Peterson and Seligman,
2004) Berdasarkan uraian Psikologi Humanistik yang menyatakan sifat dasar manusia
adalah baik dan konstruktif, maka altruisme adalah human nature, ada didalam dirinya,
dan bukan didapat dari luar dirinya.

II. B.2.4 Konsekuensi Psikologis

Ketika individu mewujudkan sifat altrusime, konsekuensi psikologis yang didapat adalah
perasaan kepuasan, kebahagiaan, feeling good, pemenuhan serta perkembangan dari jati
dirinya. Konsekuensi lain adalah kesehatan mental dan fisik, kesejahteraan diri,
berkurangnya resiko kematian awal (Peterson and Seligman, 2004)

Hal tersebut membuat hidup manusia bermakna, karena ia dapat mengembangkan


potensi keutamaan yang dimilikinya. Sebagai analogi, sebuah lilin yang mempunyai
potensi untuk memberi cahaya dan bernyala namun apabila lilin ini tidak diberi
kesempatan untuk memberi cahaya atau mengeluarkan potensi yang ada maka
keberadaannya sia-sia.

II.B.2.5 Konsekuensi Sosial

Konsekuensi sosial yang didapat adalah masyarakat yang mendorong setiap


individu menjadi warga yang lebih baik, bertanggung jawab, saling peduli, altruisme,
adanya kepercayaan dan hilangnya prasangka. Masyarakat yang memberdayakan
altrusime akan meningkatkan social capital dimana semua warga saling peduli, saling
membantu dan ada kesatuan dalam segala hal, dan pemberdayaan ini akan menuju pada
kesejahteraan masyarakat.

II.C. Empathy-Altruism Hypothesis and Empathic- Joy Hypothesis

II.C.1. Empathy-Altruism Hypothesis

15 Universitas Indonesia

Gambaran Altruisme..., Shinta Nawawi,F.Psi UI, 2007


Empathy-Altruism Hypothesis (Batson,1981) menekankan perilaku prososial yang
tidak mementingkan diri sendiri, yaitu individu yang berempati menolong orang lain
karena ada perasaan benar untuk melakukan sesuatu yang baik. Dengan asumsi ini
Batson dan rekannya (1981) mengajukan Empathy-Altruism Hypothesis. Mereka
menyatakan bahwa ada perilaku prososial yang mempunyai motivasi tidak
mementingkan diri sendiri dengan tujuan murni membantu orang yang membutuhkan
pertolongan (Batson and Oleson, 1991). Batson mengatakan perasaan empati dapat
menimbulkan motivasi altruistik yang murni dengan tujuan utama mengurangi
penderitaan korban daripada kepuasan diri sendiri (hal. 430).

Untuk membedakan motivasi egoistik dari motivasi altruistik, berdasarkan


empati, Batson dan rekannya menyebut dua reaksi emosional yang ada pada individu
yang sedang susah (distress) yaitu Empathic concern. Empathic concern adalah perasaan
simpati yang ada pada diri individu yang berfokus pada kesulitan orang lain dengan
motivasi untuk mengurangi kesulitan tersebut. Sebaliknya adalah Personal distress,
berkaitan dengan ketidaknyamanan dirinya sendiri, dengan motivasi mengurangi
ketidaknyamanannya. Batson dan Oleson (1991) dari hasil penelitiannya menemukan
bahwa empathic concern bukanlah personal distress yang membuat individu membantu
walaupun tidak ada keuntungan untuk dirinya (Batson and Oleson,1991). Keadaan
personal distress tidak akan menimbulkan altruisme, melainkan akan menimbulkan
motivasi egoistik untuk mengurangi distress dalam dirinya (Batson, Flutz, and
Schoenrade, 1987, Piliavin et al,1981).

Selanjutnya dalam Journal of Personality and Social Psychology (1991), Batson


menegaskan tentang Empathy-Altruism hypothesis, perilaku prososial yang ditimbulkan
oleh perasaan empati dengan tujuan utama untuk meningkatkan kesejahteraan orang yang
membutuhkan pertolongan, hipotesis ini telah mendapat banyak dukungan empiris.

II.C.2. Empathic-Joy Hypothesis

Empathic-Joy Hypothesis (Smith, Keating and Stotland, 1989) adalah hipotesis


yang mengatakan perilaku prososial yang berkaitan dengan adanya perasaan senang (joy)
saat seseorang mengetahui ia telah memberikan suatu pengaruh positif, yaitu membantu

16 Universitas Indonesia

Gambaran Altruisme..., Shinta Nawawi,F.Psi UI, 2007


orang lain. Orang yang menolong, mengantisipasi sebagai konsekuensi suatu perasaan
bahagia saat berhasil melakukan sesuatu yang positif (hal. 431).

Perilaku prososial disini berkaitan dengan meningkatnya pengaruh positif atau


menurunnya pengaruh negatif. Hipotesis ini berpegang pada asumsi bahwa manusia
membantu karena ini membuat mereka merasa lebih baik (because it makes them feel
better). Perasaan positif yang didapat ketika melakukan perilaku prososial disebut
helpers highyaitu perasaan ketenangan, self worth, dan kehangatan (Luks, 1988).

Dalam Journal of Personality and Social Psychology (1991), Batson


menyimpulkan bahwa individu yang terangsang oleh perasaan empati dan melakukan
altruisme akan merasakan empathic joy saat ia mengetahui telah mengurangi penderitaan
orang lain. Empathy-altruism hypothesis menegaskan bahwa perasaan joy yang didapat
adalah konsekuensi dari perilaku prososial, dan bukan tujuan.

Sebuah penelitian dilakukan untuk membuktikan apakah perasaan empati


terhadap seseorang yang butuh pertolongan akan menambah perilaku menolong karena
individu yang berempati ingin menghindar dari penilaian sosial yang negatif. Dilakukan
dua tes dan hasilnya adalah motivasi untuk membantu timbul karena perasaan empati
bukan karena motivasi egoistik untuk menghindar dari penilaian sosial yang negatif.
Perasaan empati menimbulkan motivasi altruistik untuk meringankan beban orang lain
(Batson, Duncan, Ackerman, Buckley, & Birch,1981)

Pergeseran pandangan tentang motivasi menuntut kita untuk mereview asumsi


yang ada tentang human nature dan human potential. Manusia ternyata lebih sosial dari
apa yang selama ini dikira. Orang lain lebih berarti daripada imbalan, rangsangan dan
informasi ketika memikirkan kesejahteraan diri (well being). Manusia memiliki potensi
untuk peduli dan membantu kesejahteraan orang lain (Batson, Ahmad, Lishner, Tsang,
2005)

Dibandingkan beberapa tahun yang lalu sekarang lebih diketahui alasan mengapa
manusia membantu. Hasil beberapa penelitian diatas membuktikan mengenai motivasi
dan sifat dasar altruistik manusia (Batson, Ahmad, Lishner, Tsang, 2005)

17 Universitas Indonesia

Gambaran Altruisme..., Shinta Nawawi,F.Psi UI, 2007


Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga (hal 1099) menyebut sukarela
berarti dengan kemauan sendiri; dengan rela hati; atas kehendak sendiri (tidak karena
wajib). Sukarelawan adalah orang yang melakukan sesuatu dengan sukarela, tidak karena
diwajibkan atau dipaksakan.

Berdasarkan uraian dan pembahasan teori-teori serta kesimpulan yang ada maka
peneliti akan meneliti untuk dapat menjawab gambaran altruisme para relawan di Proyek
Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan, dilihat dari latar belakang kehidupan, sifat
altrusime, empati, motivasi intrinsik, keutamaan dan kekuatan kebaikan, serta
kegembiraan terwujudnya jati diri mereka.

18 Universitas Indonesia

Gambaran Altruisme..., Shinta Nawawi,F.Psi UI, 2007