Anda di halaman 1dari 21

Pengertian Law of Attraction.

Pengertian Law of Attraction menurut Abraham Hicks menyatakan bahwa


sesuatu akan menarik sesuatu yang mirip dengannya, atau that which is like
unto itself is drawn. Jadi, faktor kesamaan, keserupaan, atau kemiripan
menjadi dasar adanya daya tarik atau saling ketertarikan satu sama lain, antara
subyek dengan obyeknya. Hasil interaksi saling ketertarikan ini bisa menjadi
kesatuan fisik, kesatuan proses, kesatuan arah, maupun kesatuan wujud.

Katakanlah, misalnya, suatu manifestasi wujud merupakan gabungan dari


beberapa unsur pembentuk yang sama. Dalam kehidupan sehari-hari kita
dapat melihat contohnya pada wujud suatu suku bangsa di mana para
anggotanya memiliki kesamaan warna kulit serta ciri-ciri kemiripan lainnya.
Begitu pula dengan suatu perkumpulan atau asosiasi profesi, di mana para
anggotanya memiliki keahlian dan minat yang relatif sama. Contoh lain, kita
bisa melihat sekawanan burung merpati dengan bentuk dan warna yang sama
terbang bersama. Kita juga dapat memperhatikan bahwa manifestasi wujud ini
memiliki daya tarik untuk senantiasa berkembang, misalnya antara lain dengan
menarik anggota baru dengan minat dan kepentingan yang sama.

Kesatuan wujud fisik dari beberapa unsurnya yang serupa ini juga dapat
ditemukan pada tingkat ide/pemikiran. Kita dapat melihat bahwa suatu ide
atau pemikiran merupakan hasil interaksi dari beberapa unsur pemikiran yang
sama dan sesuai. Hal ini dapat kita lihat misalnya dari ideologi kebangsaan
yang mempersatukan sebuah bangsa atau negara, ide menetapkan bendera
nasional, ide suatu aliran politik, hingga ide para ahli tertentu dalam
menetapkan protokol keilmuannya, seperti ahli kimia, ahli teknologi informasi,
dan sebagainya. Kita dapat memperhatikan bahwa pemikiran yang
sepemikiran akan memiliki daya tarik untuk menarik pikiran yang sama
menjadi satu ide.

Daya tarik kesatuan ide/pemikiran ini juga akan cenderung tumbuh dan
berkembang dengan fokus perhatian dan nilai-nilai emosi yang sama dan
sejalan dengannya. Misalnya perkembangan ide tentang kebebasan,
kemerdekaan, persamaan hak, emansipasi, ide gerakan wajib belajar, gerakan
1
pemberian dukungan terhadap sesuatu atau seseorang di sosial media dan
sebagainya.

Kita dapat memperhatikan bahwa emosi yang seperasaan akan memiliki daya
tarik untuk menarik perasaan yang sama menjadi tumbuh dan berkembang.
Contoh perkembangannya dalam hal ini, misalnya dialami oleh seseorang
dengan keadaan mood yang sama sepanjang hari, juga meningkatnya emosi
massa di jalanan, berkembangnya ruang curhat di media TV, radio, atau online
yang semakin melebar; kecenderungan emosi dari perasaan yang sama,
misalnya rasa senang menjadi semakin senang, sedih menjadi semakin sedih,
demikian selalu cenderung berkelanjutan.

Dengan demikian esensi pikiran dan perasaan yang sama, apakah itu (+) atau (-
) akan cenderung meningkat arahnya dengan kecenderungan menarik esensi
yang sepemikiran dan seperasaan, baik itu (+) maupun (-).

Berbagai literatur menyebutkan bahwa Law of Attraction merupakan suatu


hukum universal yang mengatur dan mengarahkan pikiran dan emosi
seseorang menuju manifestasi perwujudannya. Segala hal kreasi wujud yang
ada dalam hidup ini merupakan hasil daya tarik pikiran (dan emosi) manusia.

Bagaimana kita memahami esensi kreasi perwujudan ini? Saya berusaha


memperdalamnya dari perspektif Law of Attraction sebagai berikut.

Law of Attraction menyatakan bahwa perhatian seseorang terhadap suatu


obyek akan menariknya pada makna pengalaman dan manifestasi yang sesuai
dengan perhatian tersebut. Misalnya: perhatian terhadap bisnis tertentu akan
menariknya pada pemikiran dan tindakan selanjutnya terhadap bisnis tersebut,
misalnya dengan melakukan investasi, pengembangan, dan sebagainya.

Law of Attraction adalah sebuah hukum alam yang menyatakan bahwa: sebuah
manifestasi wujud merupakan hasil daya tarik dari pikiran keinginan individu
yang digerakkan dan diarahkan secara fokus dan terus menerus sehingga
menyebabkan kesamaan dan kemiripan antara keinginan dan menifestasi
wujudnya.

Law of Attraction menarik sesama yang mirip, sesama yang sesuai dan sesama
yang cocok dalam kesadaran seseorang: menjadi pikiran, perasaan, dan
perilakunya. Energi daya tarik ini sesuai dengan pikiran subyek dan emosi yang
2
menyertainya. Sesuatu obyek perhatian yang sama dan sesuai dengan pikiran
subyek akan tertarik ke dalam kesadaran subyek. Hukum daya tarik akan
mengalirkan pikiran atas perhatian terhadap obyek tersebut secara lancar dan
menjadi terfokus jika pikiran subyek terus menerus mengarah pada obyek tsb.

Misalkan perhatian seseorang terhadap suatu pertandingan sepakbola


tertentu. Perhatian yang terus-menerus ini akan menjadi fokus dan emosinya.
Hukum daya tarik menyatakan bahwa kelanjutan dari fokus ini akan mengarah
pada timbulnya hobby, kebiasaan dan tindakan seseorang tersebut.
Manifestasi perwujudannya dapat berupa ia menjadi penggemar setia klub
sepakbola kesayangannya, bermain futsal, atau bahkan menjadi pengurus klub
sepakbola setempat.

Pola yang sama akan berlaku pada berbagai bidang. Apakah penggemar
sepakbola, pemilik show-room mobil antik, ahli fisika nuklir, dan sebagainya.
Fokus mereka banyak tercurah pada bidang yang mereka geluti, yang mereka
berikan perhatiannya. Waktu yang digunakan untuk mengurus bidang minat
tsb akan lebih banyak dibandingkan dengan bidang lainnya. Pengalaman
hidupnya akan dipenuhi dalam ingatan, inferensi, pengetahuan, dan tindakan
yang sesuai dengan profesi, pekerjaan, dan kegemarannya.

Selanjutnya Law of Attraction menyatakan bahwa fokus seseorang terhadap


minat dan tujuannya akan menghasilkan makna dan wujud yang sama persis
dengan daya tarik bidang minat perhatian internalnya tersebut. Dengan kata
lain, Law of Attraction mengarahkan pikiran subyektif yang telah menjadi fokus
seseorang menjadi makna wujud yang memiliki kesamaan, kesukaan,
kemiripan, dan kesesuaiannya. Gerak fokus perhatian internal dengan arah
manifestasi eksternal dari seseorang niscaya akan cocok. Misalnya, seorang
mahasiswa ekonomi niscaya akan menjadi sarjana ekonomi. Seorang
pengusaha yang ulet niscaya akan memiliki banyak toko atau pabrik. Atau
dalam contoh kita tentang penggemar sepakbola di atas, dia dapat
berkembang menjadi pengurus klub sepakbola tertentu, misalnya.

Dalam perspektif Hukum Daya tarik, setiap orang akan memiliki dua tarikan
dalam hidupnya. Pertama, apa yang menjadi perhatiannya secara terus
menerus sadar atau tidak akan tertarik menjadi fokus pribadinya. Kedua,
apa yang menjadi fokus pribadinya tersebut akan tertarik menjadi

3
manifestasi perwujudannya yang memiliki makna tertentu yang sesuai dengan
fokusnya. Ini diyakini sebagai hukum universal dari Law of Attraction. Hukum
ini juga mengidentifikasi bahwa tarikan pertama (fokus perhatian) merupakan
bidang yang sepenuhnya dapat dikendalikan oleh seorang individu. Sedangkan
tarikan kedua (manifestasi hasil) merupakan bidang yang berhubungan dengan
energi alamiah yang sesuai dengan tarikan pertama.

Sifat kesamaan, kesukaan, dan kesesuaian inilah yang menjadi perhatian Law
of Attraction. Dengan demikian Law of Attraction lebih jauh dengan mudah
dapat menjelaskan dirinya sebagai sebuah hukum universal tentang tarikan
yang sesuai di mana sekumpulan burung dengan warna bulu yang sama
terbang berkelompok bersama. Orang-orang dengan minat yang sama
membentuk suatu perkumpulan bersama. Bahkan hingga kesesuaian suatu
dialek atau tabiat suatu suku bangsa hingga kesesuaian orang-orang yang suka
mengeluh maupun kesesuaian ciri-ciri orang yang sukses dalam bisnis maupun
bidang lain.

Penjelasan dasar tentang hal tersebut oleh para ahli Law of attraction selalu
dimulai di tingkat pikiran. Karena fokus individual seseorang bermula dari
pikirannya. Seseorang berhubungan dengan obyek atau suatu pengalaman
pertama-tama dengan proses berpikir sesuai dengan pencerapan panca indera
yang diterimanya. Berpikir merupakan suatu proses respon individual atas
obyek atau pengalaman yang diterimanya hingga mengaktifkan ingatan dan
perasaannya dalam mempengaruhi akal budi dan motivasinya untuk merespon
lebih lanjut.

Dengan demikian, Law of Attraction mengidentifikasi proses berpikir ini serta


perasaan dan emosi yang sejalan dengannya. Karena proses inilah yang
membentuk fokus dan menyediakan jalan bagi arah perwujudan selanjutnya.
Sehingga, melalui Law of Attraction dapat diidentifikasi atau dijelaskan,
mengapa seseorang yang mengeluhkan sakit dan penyakit badan terus
menerus biasanya bermasalah pada kesehatannya. Atau orang-orang yang
berseminar dan senang berdiskusi tentang kesuksesan bisnis biasanya memiliki
bisnis yang mapan dan berkumpul sesamanya. Bahkan penjelasan tentang,
orang yang sudah merasa negatif emosinya sejak bangun di pagi hari,
sepanjang hari mengalami kejengkelan dan kekecewaan di luar rumahnya,
sampai-sampai terpikir olehnya kalau tahu seperti itu ia tidak akan keluar
4
rumah. Hingga, Law of Attraction meyakinkan bahwa apapun yang kita
inginkan di tingkat pikiran akan terwujud dalam manifestasinya. Hal ini semua
merupakan hasil tarikan dari Law of Attraction.

Berdasarkan uraian tersebut di atas sampai sini, maka kita dapat menetapkan
pola dasar fenomena Law of Attraction sebagai langkah awalnya sebagai
berikut:

1. Pikiran dan perasaan seseorang menarik obyek dan pengalaman dari


lingkungannya, menjadikannya sebagai ingatan, informasi, pengetahuan,
dan keinginan subyek.
2. Daya tarik (internal) subyek terhadap obyek yang memiliki esensi yang
sama dan sesuai akan mengalir dan meningkat menjadi fokus
kesadarannya.
3. Fokus kesadaran subyek akan ditarik untuk tumbuh dan berkembang
ke arah makna dan wujud yang sama dan sesuai dengan esensi pikiran
subyek.
4. Daya tarik (eksternal) subyek dalam manifestasi perwujudannya akan
sama dan sesuai dengan intensitas fokusnya.
5. Waktu yang dibutuhkan daya tarik untuk memfokuskan dan
mengarahkan manifestasi wujud bersifat subyektif.

Proses di atas akan terus berlangsung untuk setiap perhatian sadar atau
tidak- terhadap obyek atau pengalaman pribadinya.

Law of Attraction sebagai sebuah Hukum

Law of Attraction menyatakan bahwa segala segala hal kreasi wujud yang ada
dalam hidup ini merupakan hasil daya tarik yang sejenis dengan pikiran
manusia. Oleh karenanya Abraham Hicks menyatakan bahwa Law of Attraction
merupakan hukum yang paling kuat yang ada dalam kehidupan. Kata Hukum
di sini diartikan sebagai aturan universal, berlaku di mana-mana dan bersifat
abadi.

Kesadaran manusia sebagai pengamat alam semesta mampu


mengklasifikasikan eksistensinya dalam dimensi ruang dan waktu. Peta
eksistensialnya juga dapat dibedakan dengan bentuk kehidupan fisik yang
5
lainnya. Dalam ruang dan waktu, pertama-tama terdapat materi fisik benda-
benda yang tidak memiliki kehidupan, seperti tanah, batu, air dan yang lainnya
yang tidak organik. Geraknya tidak hidup, hanya bergerak dengan energi fisika
yang lainnya. Ini merupakan klasifikasi pertama.

Klasifikasi kedua adalah dunia kehidupan tumbuhan beserta seluruh sel


pembentuknya. Keberadaannya hidup, bergerak mengikuti rangsang
kehidupan melalui sinar matahari dan klorofil.

Klasifikasi ketiga adalah dunia kehidupan hewan beserta seluruh sel


pembentuknya. Keberadaannya hidup dan bergerak lebih aktif dibandingkan
tumbuhan yang pasif dan hanya mengikuti sinar matahari walau dengan
keberagamannya yang sangat luas itu. Dunia hewan lebih beragam dalam
respon. Persepsi sensorisnya juga lebih luas. Sebagian besar telah mampu
memiliki bunyi sebagai bagian dari gerak aktifnya.

Klasifikasi keempat adalah dunia manusia, yang telah memiliki kesadaran


untuk mengidentifikasi tiga klasifikasi di bawahnya. Hidupnya telah mampu
mengidentifikasi dimensi waktu sebagai bagian dari ingatannya, hal mana tidak
dimiliki oleh eksistensi kehidupan lainnya. Dengan kesadaran ingatan dan
waktu ini manusia dapat mempelajari segala hal dan mengantisipasi masa
depannya. Belajar dan kesadaran akan waktu memungkinkan manusia
mengarahkan geraknya dan mengidentifikasi arah berbagai gerak kehidupan
lainnya.

Manusia hidup di dunia dengan kesadarannya yang tidak dimiliki tiga tingkat
eksistensial di bawahnya. Hal ini memungkinkannya membuat peta kehidupan
sebagai jalan kehidupannya ke masa depan. Kita dapat merefresh tingkat-
tingkat eksistensial tersebut sebagai berikut:

a. Eksistensial a : keberadaan materi fisik.


b. Eksistensial b : a + kehidupan gerak pasif dan tumbuh = dunia
tumbuhan.
c. Eksistensial c : a + b + kehidupan gerak aktif dan tumbuh = dunia
hewan.
d. Eksistensial d : a + b + c + kehidupan kesadaran dan tumbuh =
dunia manusia.

6
Dengan kata lain, manusia memiliki kemampuan menyadari kesadarannya. Ia
mampu menyadari pikiran dan perasaannya.

Energi Law of Attraction merupakan energi yang menarik a, b, c, dan d


ke dalam kesadaran manusia dan menyadarinya.

Dengan energi ini manusia dapat menentukan arah gerak kehidupannya.


Dengan kemampuan menentukan arah, manusia mampu untuk senantiasa
belajar. Dengan kemampuannya dalam mengolah data dan informasi sebagai
kegiatan kesadarannya maka manusia dapat tumbuh dan berkembang. Law of
Attraction merupakan hukum alam yang mengatur daya tarik proses-proses
ini hingga tumbuh dan berkembang.

Dengan demikian kita dapat mengidentifikasi pola dasar fenomena Law of


Attraction sebagai suatu hukum alam pada tahap ini sebagai berikut:

1. Dimensi ruang dan waktu dalam alam semesta menarik kehidupan


menjadi lebih aktif dalam kesadaran manusia.
2. Aktivitas kehidupan manusia akan ditarik arahnya menjadi tumbuh
dan berkembang.
3. Arah kehidupan untuk tumbuh dan berkembang menarik kesadaran
menjadi makna perwujudannya.
4. Daya tarik pertumbuhan dan perkembangan kehidupan akan sama dan
sesuai dengan aktivitas kesadaran kehidupan dalam ruang dan waktu.
5. Waktu yang dibutuhkan daya tarik tersebut untuk menumbuh
kembangkan menjadi makna perwujudan bersifat subyektif*.

*Subyektif, maksudnya:

- berbeda-beda untuk masing-masing individu, dan


- menjadi ciri khas individual atau kelompoknya.

Tarikan yang paling kuat dalam proses ini adalah tarikan untuk
mengarahkan pertumbuhan. Karena hanya kesadaran (pikiran) manusia yang
mampu mengarahkannya. Hal ini tidak dimiliki eksistensi fisik lain selain
manusia. Oleh karena itu kemampuan mengarahkan ini merupakan energi
penciptaan (creation) dan hanya manusia yang memiliki kemampuan ini.
Namun dapat pula diidentifikasi bahwa pertumbuhan merupakan
manifestasi alam yang terjadi pada semua makhluk hidup, tidak hanya
7
manusia, tetapi juga hewan dan tumbuhan. Hanya yang menyadari
kesadaran bahwa dirinya tumbuh hanyalah manusia.

Oleh karena daya tarik yang paling dominan adalah daya tarik untuk
mengarahkan, maka dapat dikatakan bahwa Law of Attraction merupakan
hukum yang paling powerful yang ada dalam hidup ini. Hal ini juga
menyiratkan bahwa Law of Attraction merupakan hukum alamiah semua
kehidupan untuk tumbuh dan berkembang. Dengan demikian kehidupan
senantiasa dalam proses tumbuh dan berkembang. Energi Law of Attraction
bersifat transendental, dalam arti ia melampaui energi fisik.

Law of Attraction sebagai Bidang Ilmu Subyektif.

Abraham Hicks menyatakan bahwa dalam pemahaman Law of Attraction, guru


terbaik adalah pengalaman. Kata-kata tidak bisa mengajari, ia hanya
menstimulasi pikiran. Pengalaman pribadilah yang menjadi pelajaran hidup
sesungguhnya. Untuk itu adalah penting untuk memperhatikan cara kita
berpikir sehingga menjadi pengalaman kita.

Ilmu Obyektif mengkodifikasi pengetahuan melalui pemahaman dan


rasionalitas logika. Sedangkan ilmu Subyektif mengkodifikasi esensi melalui
pengalaman individual terhadap pemahaman dan rasionalitas logika tersebut.
Law of Attraction adalah tentang mengalami.

Fenomena dalam ilmu dan pengetahuan adalah adanya gap antara Das Sein
dan Das Sollen. Fenomena perbedaan kenyataan yang ada dengan yang
diinginkan atau yang ideal. Gap antara masalah dengan solusi yang diharapkan.
Hal ini senantiasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu obyektif
mengembangkannya dengan usaha yang terus menerus dan sistematis untuk
memperkecil gap tersebut dengan metodologi ilmu pengetahuan sebagai
predictive power yang handal. Kita telah melihat kehandalan perkembangan
ilmu obyektif ini yang menjadikannya sangat berguna dan dapat dimanfaatkan
dalam berbagai bidang kehidupan.

Namun dari sisi subyektif, atau individual, gap yang senantiasa diteliti ilmu
obyektif tetaplah ada dalam pengalaman hidup sehari-hari. Karena secara
subyektif individu yang mengalami akan mengalaminya secara praktek
8
kehidupan, bukan teori kehidupan. Karena mengalami berbeda dengan
memahami. Mengalami adalah praktek hidup, memahami adalah teori atas
kesadaran pola hidup. Mengalami adalah moment keberlangsungan sekarang,
memahami adalah pola masa lalu yang bisa diterapkan ke masa depan.

Ilmu obyektif telah memberikan penjelasan arah tentang faktor-faktor yang


mempengaruhi suatu fenomena gap. Hal ini selanjutnya akan menjadi teori
ilmu obyektif. Misalnya arah terjadinya fenomena y adalah x1 dan x2 atau
bisa juga y dipengaruhi oleh faktor a dan x dalam jumlah tertentu. Atau y
= a+b(x). Ilmu obyektif akan meneliti dan menjelaskannya secara eksak, valid
dan reliable sehingga fenomena y dapat dijelaskan serta kebolehjadiannya di
masa depan dapat terprediksi.

Dalam ilmu subyektif pertanyaan dasarnya adalah: bagaimana seseorang


sampai mengalami teori obyektif tersebut? Mengapa banyak terjadi
keragaman pengalaman, minat, dan kecenderungan y?

Fenomena statistik trend dan deterministik dijelaskan oleh ilmu obyektif.


Sedangkan fenomena mengapa kita sebagai subyek berada di dalam statistik
tersebut dijelaskan oleh ilmu subyektif.

Law of Attraction merupakan suatu cara pandang baru untuk memahami ilmu
subyektif tersebut. Karena ia bersifat pengalaman, maka model
pembuktiannya juga harus dengan mengalami fenomena tersebut. Jika
dalam memahami fenomena gap para pengamat akan mengukurnya secara
kuantitatif, maka dalam mengalami fenomena gap, pelaku akan mengukurnya
secara kualitatif. Jika dalam ilmu obyektif pemahaman akan y dijelaskan oleh
x, maka dalam ilmu subyektif pengalaman akan y dihayati berdasarkan
refleksi y itu sendiri.

Dalam Law of Attraction, pelaku (yang mengalami) akan memahami dan


mengukur suatu pengalaman secara subyektif berdasarkan pikiran dan
emosinya saat itu. Dasar ini adalah daya tarik pelaku terhadap
pengalamannya secara subyektif. Basisnya adalah kemiripan, minat, motif, dan
kesesuaiannya.

Jadi Law of Attraction dapat dipandang sebagai hukum identitas yang


menyatakan bahwa y=y atau y merupakan cerminan dari y itu sendiri. Tanda

9
sama dengan (y=) dalam persamaan itu menjadi titik penghayatannya (point of
attraction).

y (y aksen) merupakan eksistensi y, yang berada dalam ruang dan waktu.


Dengan berjalannya kehidupan, maka y senantiasa tumbuh dan berkembang
mengikuti ruang dan waktu. Jadi dalam identitasnya, y=y, akan senantiasa
berkembang dalam proses identitas dan pertumbuhan identitas.

Dalam perkembangannya y menarik faktor-faktor x untuk menjadi y. Dengan


demikian y akan memiliki y. Tarikan tersebut menjadi dasar perbuatan y
menjadi dan memiliki y.

(y) (y)

tarikan

Tidak akan ada faktor-faktor (x) jika (y) tidak menginginkan dan memilih untuk
memiliki (y). Jadi, (y) memilih (x) untuk memiliki (y) karena ia
menginginkannya.

Logika yang berlaku dalam ilmu obyektif adalah bahwa y dideterminasi oleh
x, atau y=a+b(x). Law of Attraction memperhatikan daya tarik y untuk
mengalami determinasi tersebut, sehingga y=y=a+b(x). Demikian pula pada
y = a + b(yt-1) , maka y = y = a + b(yt-1).

Dalam hal ini y adalah identitas y untuk dapat menarik persamaannya,


sehingga kadang-kadang orang tidak merasa perlu untuk membuat persamaan
y.

Ilustrasi sederhana berikut ini mungkin dapat lebih memperjelas. Seorang anak
SMA yang sedang belajar mata pelajaran fisika (ilmu obyektif), disamping
menggunakan nalar logikanya untuk memahami fisika, ia juga mengalami
esensi subyektivitas belajar fisika pada dirinya. Pengalaman (ilmu subyektif)
dari persepsi esensi fisika tsb akan menariknya bersama hubungannya dengan
ingatan perasaan subyek kedalam bayangan ide dan intuisi. Law of Attraction
akan menariknya menjadi judgement motivasionalnya. Semakin banyak dan
sering anak SMA tersebut mempelajari fisika (dengan membaca, mengerjakan
PR, dan sebagainya) akan semakin sering ia mengalami pembayangan dan

10
hubungan refleksi dengan intuisinya. Ia akan menguasai pelajaran fisika. Ia
memiliki ilmu fisika. Law of Attraction menarik pengalaman kognitif belajar
fisika menjadi pengalaman intuisi subyektif.

Jadi, di samping ilmu obyektif (fisika) ada terdapat subyektivitas pengalaman


yang menariknya. Hal ini sesungguhnya tidak dapat terpisahkan. Fisika sebagai
fakta material tidak dapat dipisahkan dengan esensi pengalaman yang bersifat
contingent-factualness pada diri subyek. Hal inilah yang akan menjadi point
of attraction dari Hukum daya tarik.

Dalam konteks spatio-temporal hubungan subyek-obyek, apapun jenis


pengalaman subyek akan menjadi pengalaman sadar seseorang. Hal ini
kemudian akan menjadi hubungan eidetic (bathin) berupa gabungan
pengalaman-pengalaman yang sejenis. Setiap individu memiliki kemampuan
universal untuk mengalami motivasi obyektif ini. Universalisasi kesadaran ini
akan menarik hubungan refleksi kesadaran menjadi intensi (arah) kesadaran.
Bentuk formal pengalaman subyektif ini akan menjadi esensi kesadaran murni
seseorang secara subyektif.

Contohnya, seseorang (A) menunjukkan foto anaknya kepada temannya (B).


Keduanya memperhatikan sebuah obyek yang sama, namun pengalaman
pembayangan pada saat yang sama bagi A dan B akan memberikan esensi yang
berbeda. Demikian pula saat seseorang membaca papan petunjuk di jalan:
Bank, Kantor Polisi, dan sebagainya. Demikian pula dengan kegiatan
menonton film, mendengar musik, atau membaca buku; walau dengan obyek
yang sama tentang yang ditonton, didengarkan, atau dibaca pasti akan
memberikan esensi pengalaman yang berbeda-beda bagi tiap orang. Daya tarik
asosiatif ini menjadi bidang Law of Attraction.

Dengan demikian, kita dapat mengidentifikasi pola dasar fenomena Law of


Attraction sebagai ilmu subyektif sebagai berikut:

1. Esensi yang sama dari persepsi dan pengalaman seseorang akan menarik
obyek ke dalam pikiran dan emosi subyek.
2. Daya tarik eidetic (bathin) akan menghubungkan dan menggabungkan
esensi-esensi tersebut menjadi kesadaran intensional subyektif.
3. Refleksi, intuisi, dan judgment akan mengarahkan kesadaran intensional
tersebut menjadi motivasi transendental (rohani).
11
4. Hasil motivasi tersebut akan tertarik (attracted) menjadi wujud intensi
subyektif sesuai dengan intensitas esensi yang sama atau serupa.
5. Waktu yang dibutuhkan Hukum daya tarik untuk memanifestasikan
esensi kesadaran menjadi aktualitasnya bersifat subyektif.

Law of Attraction sebagai Kuantum Getaran.

Dalam Law of Attraction, esensi yang menyertai pikiran sebagai hasil


interaksinya dengan obyek atau pengalaman akan menimbulkan getaran
yang dihasilkan pikiran subyek. Getaran (vibration atau vibrasi atau disingkat
vibe) merupakan energi gelombang dari apa yang seseorang rasakan dari
persepsi sensorisnya. Jadi, apa yang kita lihat, dengar, sentuh, rasakan, dan
bicarakan akan menghasilkan vibrasi. Hal ini meliputi pula ingatan, keinginan,
hasrat (nafs), serta kontras yang dirasakan antara kondisi yang ada dengan
yang seharusnya menurut pikiran kita.

Jadi, suatu pikiran seseorang terhadap obyek dan pengalamannya


memancarkan getaran subyektif. Hal ini terjadi dalam hal seseorang sedang
mengingat, merasakan sesuatu, membutuhkan, menginginkan,
membayangkan, memikirkan, mendalami atau mengahayati sesuatu. Getaran
ini merupakan satuan energi pikiran yang cenderung merambat menjadi
gelombang elektromagnetik pikiran sadar.

Law of Attraction mengasosiasikan diri seseorang dan pikirannya merupakan


medan magnet yang dapat menarik obyek dan pengalaman ke dalam diri
subyek dan kemudian menginduksikan medan listrik dalam dirinya menjadi
perambatan gelombang elektromagnetik kesadaran. Contohnya dalam hal ini,
misalkan ingatan seseorang terhadap pengalaman masa lalunya atau bayangan
atas tujuannya di masa depan, hal tersebut akan menjadikannya fokus
terhadap suatu ingatan atau tujuan tersebut. Fokus ini akan merambat dan
meningkatkan frekuensi yang dapat mengarah pada tindakan atau pengalaman
selanjutnya.

Frekuensi gelombang pikiran ini akan cenderung bertambah sesuai fokus


seseorang terhadap obyek atau pengalaman pribadinya per satuan waktu.
Dengan demikian, seseorang yang merasa senang terhadap suatu obyek akan

12
meningkat menjadi semakin senang atau suka cita jika frekuensi getarannya
bertambah dengan berjalannya waktu. Demikian pula orang yang merasa sedih
akan semakin sedih; sesuatu yang semakin diingat akan semakin terasa dekat;
dan seterusnya. Kecenderungan ini merupakan hasil frekuensi yang sama
dengan getaran pikiran subyek. Hal ini juga dapat menjelaskan gejala mood,
memory, dan emosi yang dialami seseorang sepanjang hari.

Dengan memahami fenomena Law of Attraction sebagai energi daya tarik


getaran pikiran maka akan lebih mudah mengkuantifisir kualitas subyektif
dalam usaha mencapai tujuannya. Satuan getaran pikiran dapat diklasifikasikan
sebagai getaran positif atau negatif. Hal ini dapat dikenali dari emosi yang
dirasakan seseorang secara subyektif. Sistem pengenal emosi individu ini
disebut Abraham Hicks sebagai Emotional Guidance System. Jika yang
dirasakan seseorang pada suatu obyek atau pengalaman pada saat tertentu
merupakan emosi negatif, maka dapat dipastikan getaran pikirannya
bermuatan negatif. Begitu pula sebaliknya untuk getaran positif dari emosinya.

Pada suatu ruang dan satu waktu tertentu tidak mungkin seseorang
memancarkan getaran positif dan negatif sekaligus. Tidak mungkin seseorang
mengalami emosi senang dan kecewa secara bersamaan. Demikian pula
dengan getaran pikirannya, perhatiannya pada suatu obyek atau pengalaman
hanya melahirkan salah satu jenis getaran, positif atau negatif. Law of
Attraction mengalirkan getaran-getaran pikiran yang sama esensi muatannya,
positif atau negatif, dan menjadikannya fokus frekuensi getaran. Frekuensi ini
akan cenderung bertambah. Tarikan getaran yang sama dari lingkungan obyek
dan pengalaman seseorang akan meningkatkan fokus individu menjadi nilai-
nilai dan integritasnya sejalan dengan berjalannya waktu kehidupan seseorang.

Fokus frekuensi seseorang akan memiliki daya tarik untuk memperoleh hasil
yang searah dengan jenis fokus (+ atau -). Daya tarik ini merupakan daya kreasi
untuk meningkatkan fokus ke arah pertumbuhan hasil. Hal ini sesuai dengan
asumsi Law of Attraction yang menyatakan terdapatnya energi daya tarik di
alam semesta seperti halnya magnet dan listrik. Energi daya tarik ini
merupakan pasangan dari energi fisik yang diteliti dalam perkembangan ilmu
obyektif. Maka Law of Attraction akan menarik frekuensi aliran getaran
seseorang menjadi manifestasi bentuk penjelmaannya, seperti tumbuhan yang
niscaya akan tumbuh. Manifestasi ini akan memiliki makna (+/-) yang sesuai
13
dengan fokus getaran seseorang. Dengan kata lain, makna manifestasi
seseorang merupakan wujud dari frekuensi getarannya. Jadi, Law of Attraction
memiliki fungsi mengarahkan gelombang vibrasi seseorang (+/-), meningkatkan
hasinya, membuatnya matang/optimal, dan menjadikan bentuknya. Dan hal ini
akan senantiasa berlanjut seiring berjalannya waktu.

Jika getaran pikiran seseorang memancarkan kepercayaan diri yang mantap


dan tegas (vibrasi pikiran +), maka ia akan mengalirkan gelombang yang jelas,
tenang dan lancar dalam kesadarannya. Law of Attraction akan mengarahkan
frekuensinya untuk memperoleh hasil yang efektif dan meningkat. Dan
selanjutnya akan memanifestasikan makna yang positif, bermanfaat dan sesuai
dengan yang diinginkan.

Vibrasi pikiran positif ini dapat ditunjukkan secara sesuai dengan emosi positif
yang menyertainya. Yaitu, orang tersebut akan merasa stabil, siap, dan
berenergi. Perhatiannya lebih intens, menyukai apa yang sedang dikerjakan
dan merasa nyaman dengan dirinya. Searah dengan tarikan frekuensi positif
tadi, ia akan merasa suka cita, menikmati hasil, dan merasa tumbuh dan
berkembang.

Sebaliknya, jika getaran pikiran seseorang memancarkan frekuensi penuh


keraguan, kekhawatiran dan kecemasan (vibrasi pikiran -), maka ia akan
mengalirkan gelombang yang tidak fokus, pikirannya gelisah dan pesimis.
Semakin tinggi frekuensi getaran negatif ini akan semakin mengarahkan
dayanya pada manifestasi yang juga negatif, tersesat, dan pola pikir yang salah.

Emosi yang diperlihatkannya juga sesuai dengan vibrasi negatif ini. Orang
tersebut akan merasa lemah dan lesu, kecenderungan merasa bosan dan
susah. Searah dengan tarikan frekuensi negatif tadi, ia akan cenderung kecewa,
marah, dan tertekan. Lebih jauh, kecenderungan ini dapat membawanya
kepada manifestasi perasaan yang tidak berguna dan berkembang. Bentuk
buruknya adalah merasa tertinggal, sia-sia, apatis hingga depresi.

Atkinson menggambarkan pancaran vibrasi pikiran seseorang mampu


mempengaruhi lingkungan sekitarnya. Getaran ini mampu menarik pikiran
yang sama dengannya. Dan getaran pikiran yang kuat mampu mengalahkan
getaran pikiran yang lebih lemah. Sehingga seseorang dengan kemauan yang

14
kuat dapat memancarkan getaran pikiran yang lebih mempengaruhi
daripada dipengaruhi oleh ingatan, suasana, maupun stimulus eksternal.

Jadi, fokus getaran pikiran dapat menjadi ethos yang dimiliki seseorang. Arah
frekuensi ethos selanjutnya dapat dikemas menjadi pathy (bentuk
tunggalnya, pathos) yang dapat dipancarkan ke luar dirinya atau ke
lingkungannya, Manifestasi makna perwujudan akan tumbuh dan berkembang
dari sini.

Abraham Hicks menambahkan penjelasan tentang Law of Attraction ini dengan


dasar yang lebih dalam dan lebih luas dari proses getaran pikiran seseorang. Ia
mengingatkan bahwa di dalam diri tiap orang pada dasarnya telah ada energi
non-fisik yang ideal, yaitu hati nuraninya yan senantiasa hadir (Inner-Being).
Hati nurani ini merupakan energi sumber yang menggerakkan dan
mengarahkan Law of Attraction tiap individu untuk mencapai tujuannya. Ia
juga memiliki tujuan ideal agar kehidupan seseorang tumbuh dan berkembang
sesuai keinginannya. (Hati Nurani = sinar mata hati). Getaran keinginan
seseorang dalam tiap moment pengalaman kehidupan akan ditarik mengalir,
mengarah, dan menyatu menjadi wujudnya yang bermakna sesuai tujuan
inner-being-nya.

Jadi, Law of Attraction seseorang sesuai hati nuraninya senantiasa hadir


menyediakan sumber daya dan kapasitas orang tersebut. Mengalirkannya
menjadi fokus dan semangat hidupnya, kemudian mengarahkannya untuk
senantiasa meningkat optimal. Kemudian menumbuhkannya menjadi wujud
yang bermakna dan berkembang. Ini merupakan hukum alam dari Maha
Pencipta (Maha Sumber) akan pertumbuhan dan perkembangan bagi semua
entitas kehidupan. Sehingga apabila seseorang tidak mengikuti pertumbuhan
dan perkembangan hati nuraninya, maka ia tidak sejalan dan searah dengan
keberadaan dirinya yang sesungguhnya. Dan ia tidak akan bahagia. Jika
seseorang memiliki daya tarik yang serupa, sejalan, searah, dan sesuai dengan
energi bathinnya tersebut, maka ia akan bahagia. Abraham Hicks menyebut
daya tarik dan semangat mengikuti pusaran energi bathin ini sebagai
Vortex. Ia bermakna positif.

Jadi, nurani merupakan sinar mata bathin yang bersifat aktif menyertai diri
seseorang bersama-sama dengan badan, pikiran, dan perasaan orang tersebut.

15
Ia tidak berdiam pasif di dalam diri tetapi aktif sebagai energi yang
memancarkan getaran dalam kehidupan. Namun ia tidak tergantung dimensi
ruang dan waktu seperti halnya badan dan pikiran, ia bersifat transendental
yang melebihi batasan fisik. Komunikasi seseorang dengan nuraninya
terhubung lewat perasaan dan emosinya. Sehingga apabila seseorang
mengalami emosi negatif, ia sedang tidak sejalan dengan nuraninya. Apabila
seseorang terfokus pada emosi positifnya (misalnya merasa bahagia), ia sedang
sejalan dengan nuraninya. Hal ini karena nurani bersifat ideal, tumbuhdan
berkembang bersama makna wujud yang positif dalam kehidupan.

Dengan demikian, pada tahap ini kita dapat memahami fenomena Law of
Attraction sebagai kuantum getaran dengan pola dasar sebagai berikut.

1. Pikiran, perasaan, dan tindakan seseorang akan memancarkan getaran


elektromagnetis setiap saat berinteraksi dengan obyek dan
pengalamannya.
2. Getaran tersebut akan cenderung bertambah gelombangnya dan
menjadi fokus dengan obyek yang memiliki getaran yang serupa, sejalan,
dan sejenis..
3. Getaran tersebut akan meningkat menjadi frekuensi gelombang yang
sama dan searah dengan pertumbuhan dan perkembangan orang yang
mengalaminya.
4. Frekuensi gelombang seseorang akan menjadi manifestasi kenyataan
yang memiliki makna yang sama dengan getaran pikiran, perasaan, dan
tindakannya.
5. Waktu yang dibutuhkan daya tarik seseorang untuk menyambungkan
getaran gelombang pikirannya dengan manifestasi wujud yang
diterimanya akan berbeda-beda bagi setiap individu.

Law of Attraction sebagai Proses Konvergensi.

Berdasarkan pendekatan Law of Attraction sebagai kuantum getaran,


seseorang dapat menetapkan strategi berpikirnya untuk selalu sejalan
(alignment) dengan inner-beingnya. Hal tersebut dilakukan dengan cara
menetapkan niat dengan sengaja agar pikiran dan perasaannya hanya
menerima dan mengaktifkan getaran pikiran yang positif saja, di setiap
16
kesempatan, di setiap keadaan. Jika hal ini dilakukan maka kita dapat
memperoleh momentum untuk selalu berada dalam Vortex, dalam arus
pusaran mewujudkan apa yang kita tuju dan inginkan. Abraham Hicks
menyatakan bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk menetapkan arah
pikirannya seperti ini.

Masalahnya terkadang orang tidak selalu memahami apa yang diinginkannya.


Padahal ini faktor yang sangat penting dalam konteks Law of Attraction.
Bahkan terkadang ada beberapa orang yang menyatakan tidak ingin apa-apa.
Atau menganggap bahwa kata-kata ingin berkonotasi ego-centric, terlalu
subyektif, dan sesuatu yang tidak perlu diketahui orang lain. Bahkan terkesan
kekanak-kanakan. Berbeda dengan kata-kata seperti Visi, Misi, Strategi, Tujuan,
Aspirasi, Cita-cita, impian, serta harapan masa depan. Padahal esensinya sama.

Setiap orang dalam konteks ruang dan waktu selalu mengalami proses
perbedaan (contrast) antara apa yang ada dengan apa yang dipersepsikan,
perbedaan antara apa yang sedang dihadapi dengan yang diingat, perbedaan
antara apa yang dialami dengan apa yang dipikirkan. Hal ini menimbulkan
hasrat (nafs) setiap saat di pikiran dan perasaan individu. Setiap saat, tiap
orang pasti mengarahkan perhatiannya terhadap suatu obyek; demikian pula
perasaan dan emosi yang menyertainya, apakah itu ingatan, kebutuhan, niat,
maksud, tujuan, maupun penerimaan persepsi sensoris lainnya sebagai area
stimulus.

Perhatian tersebut pasti senantiasa berlangsung seiring berjalannya waktu,


saat demi saat. Kelanjutan perhatian ini selalu merupakan respon perasaan,
pikiran, dan perbuatan terhadap saat sebelumnya. Tindakan mental ini
merupakan usaha menutup perbedaan (gap) per segmen aktivitas, hari demi
hari. Setiap perbedaan tersebut menimbulkan keinginan. Mulai dari yang
sederhana seperti ingin minum hingga yang lebih kompleks seperti ingin
meningkatkan laba perusahaan. Jadi sesungguhnya, semua mental act
berbasis pada keinginan. Karena dalam fenomenologi pada dasarnya setiap
kesadaran seseorang bersifat transitif. Sadar berarti sadar terhadap sesuatu.
Menyadari berarti menyadari kesadaran saya akan sesuatu. Ini merupakan
fondasi motivasional. Dalam bahasa sehari-hari berarti suatu keinginan. Kita
ingin mengingat sesuatu, ingin memikirkan sesuatu, ingin berbuat sesuatu.

17
Hanya perbedaan bahasa yang mempengaruhi perbedaan esensi perasaan.
Penyebutan keinginan lebih emosional untuk tujuan menutup gap;
sedangkan penyebutan kebutuhan lebih pada perasaan kurang akan sesuatu.
Akan halnya dengan penyebutan kemauan lebih mengarah pada kehendak
setelah menyadari keinginan. Pada dasarnya ketiga penyebutan tersebut sama
esensinya. Namun Abraham Hicks lebih menekankan pada penyebutan
keinginan (want) dibandingkan yang lain. Hal ini lebih memberi makna pada
getaran keberlanjutan proses untuk menutup gap, mengusahakan alignment,
serta memperoleh momentum untuk berada dalam vortex.

Dengan demikian Law of Attraction menyiratkan senantiasa adanya gap


dalam setiap keadaan yang kita alami. Dengan kata lain, kenyataan yang kita
alami tidak pernah merupakan kenyataan yang statis apa adanya (what is),
tetapi selalu merupakan kenyataan yang selalu cenderung untuk tumbuh dan
berkembang menjadi kenyataan selanjutnya (what is becoming).

Jadi, kesadaran kita senantiasa bersifat divergen. Yaitu bercabang dan berpisah
karena adanya perbedaan keadaan dan perbedaan waktu. Lebih spesifik, yaitu
perbedaan antara apa yang ada dengan apa yang diinginkan. Setiap keinginan
ini menimbulkan kedipan getaran. Hal tersebut merupakan satuan tarikan
(point of attraction) dalam kesadaran seseorang. Tarikan tersebut akan
mengkaitkan berbagai asosiasi bebas dalam pikiran terhadap obyek kesan,
ingatan, perhatian, dan kecenderungan. Keterkaitan asosiatif dalam diri
seseorang bisa berupa getaran positif ataupun negatif, terutama tergantung
pada keadaan suasana emosinya (emotional setting-point) atau mood-nya yang
kerap tidak disadari.

Law of Attraction memiliki kecenderungan alami untuk selalu menarik getaran


dari jenis yang sama, apakah positif atau negatif, dengan menambahkannya
menjadi lebih banyak. Karena sifat elektromagnetis dari getaran pikiran
cenderung mengalirkan yang positif dengan positif, sedangkan yang negatif
dengan yang negatif. Kecenderungan ini merupakan proses konvergensi dalam
diri seseorang.

Konvergensi merupakan proses menyatukan yang terpisah dari kesadaran


ruang dan waktu dalam diri seseorang. Dengan kata lain, proses konvergensi
adalah kecenderungan menutup gap, menyatukan apa yang ada dengan apa

18
yang diinginkan, menyatukan apa yang diinginkan dengan apa yang
diwujudkan.

Law of Attraction menarik vibrasi yang sama, memperbanyaknya,


mengalirkannya fokus kapabilitas atau kebisaan, mengarahkannya menjadi
perolehan, dan menjadikannya wujud yang sama dengan vibrasi tersebut. Jadi
proses ini (yaitu ingin-bisa-peroleh-jadi), merupakan sebuah proses
konvergensi. Proses mana merupakan aktivitas mental seseorang untuk
menutup gap subyektifnya per segmen waktu atau segmen kegiatan. Dalam
jangka panjang ia akan terintegrasi dengan wujud apa yang ia inginkan untuk
menjadi, memiliki, dan bisa lakukan (to be, to have, dan to do).

Namun yang perlu diperhatikan adalah bahwa proses to be, to have, dan to do
ini tidak akan pernah selesai. Hal tersebut akan berlangsung terus sepanjang
kehidupan. Dengan demikian proses konvergensi (ingin-bisa-peroleh-terwujud)
juga selalu berkembang, berlangsung terus, terutama per segmen aktivitas.
Dimensi ruang dan waktu kehidupan akan melanjutkan apa yang sudah
terwujud untuk mengalami lagi divergensi antara apa yang ada dengan apa
yang diinginkan, karena waktu terus berjalan. Akan terjadi lagi das sein dan das
sollen baru. Kemudian terulang kembali proses konvergensi dengan Law of
Attractionnya. Demikian putaran proses ini tumbuh dan berkembang dalam
kehidupan dengan makna tertentu.

Satu hal yang menarik dalam proses konvergensi Law of Attraction adalah
makna kehadiran baru dalam setiap putaran proses per segmen waktu
kegiatan. Kehadiran baru berarti suatu proses baru kembali. Kepenatan hari ini
akan hilang saat kita bangun di pagi keesokan harinya. Kita memulai segmen
proses konvergensi baru lagi dalam kesadaran. Hal ini mengandung arti bahwa
walaupun sifat dimensi waktu adalah keberlanjutan, namun kehadiran kita
berada pada saat sekarang. Kemarin dan esok, tadi dan nanti kita pahami
dalam kehadiran kita saat ini. Dengan demikian kita bisa menyadarinya dalam
konteks keinginan baru untuk melahirkan vibrasi baru dengan sengaja.
Memulainya untuk melakukan konvergensi saat ini. Kita bisa langsung
menetapkan kapasitas positif vibrasi kita, mengalirkannya menjadi fokus yang
kita inginkan; meningkatkannya menjadi arah tujuan saat ini. Maka kita sedang
menjalankan peran kita. Apa yang pernah terjadi maupun akan terjadi dapat

19
kita anggap seperti ingatan kita yang bebas kita pilih untuk kita hadirkan saat
ini atau tidak.

Law of Attraction, akan kita lihat dalam pembahasannya nanti, memungkinkan


setiap orang memiliki kebebasan dan kemerdekaannya untuk menentukan
pilihan melahirkan vibrasi positif atau negatif. Setiap saat Law of Attraction
hanya mengikuti tarikan vibrasi dari kesadaran individu. Jadi, kesadaran
manusia bersifat decisive (tegas memutuskan), merdeka, dan tidak
tergantung pikiran di luar dirinya. Sekali lagi, ia bebas menentukan vibrasi
pikirannya sendiri. Law of Attraction memfasilitasinya untuk memfokuskan,
mengarahkan, dan mewujudkan.

Perwujudan tiap segment intending dalam jangka pendek oleh setiap orang
dengan demikian akan selalu sesuai dengan keinginannya. Dengan kata lain,
pemenuhan keinginan per segmen akan sesuai dengan vibrasinya. Mulai dari
seseorang bangun di pagi hari, melakukan kegiatan rutin atau non-rutin, siang
hari, sore hari, dan hingga malam harinya kembali, ia memenuhi putaran-
putaran proses konvergensi per segmen. Setiap segmen yang terpenuhi (ingin-
bisa-dapat-jadi) merupakan proses Law of Attraction yang menarik hal-hal yang
serupa, sejalan, searah, dan sesuai dalam konteks subyek-obyek kesadaran.
Karena hasil jangka panjang merupakan penjumlahan jangka pendek dan
karena jangka pendek merupakan penjumlahan hasil pemenuhan komitmen
segmen per kegiatan. Dan karena komitmen tersebut merupakan ketetapan
vibrasi yang dipilih secara merdeka oleh subyek, maka dalam logika Law of
Attraction setiap orang bertanggung jawab penuh atas segala kejadian yang
dialami dirinya. Dengan kata lain, setiap kejadian yang dialami seseorang
merupakan hasil dari tarikan getaran pikirannya. Ia sendiri yang
mengundangnya secara vibrasional.

Dengan demikan kita dapat memahami fenomena Law of Attraction sebagai


proses Konvergensi dengan pola dasar sebagai berikut.

1. Seseorang menarik obyek dan pengalaman ke dalam hidupnya untuk


berkonvergensi dengan keinginannya.
2. Tarikan konvergensi tersebut mengalirkan pikiran dan perasaannya
untuk bertambah fokus dan mendalam.

20
3. Fokus pikiran dan perasaan yang sama dan sejalan esensinya akan
meningkat dan ditarik menuju arah manifestasinya.
4. Peningkatan fokus dan arah pikiran dan perasaan tersebut akan
berkonvergensi menjadi manifestasi kenyataan yang sesuai dengan yang
diinginkan.
5. Waktu yang dibutuhkan bagi daya tarik mengkonvergensikan keinginan
dan perwujudannya akan berbeda-beda bagi setiap individu.

Tujuan Mempelajari Law of Attraction.

Tujuan utama kita adalah memahami, mendalami, dan mengembangkan Law


of Attraction sebagai energi daya tarik subyektif untuk sejalan dan searah
dengan pertumbuhan dan perkembangan kehidupan yang sesuai dengan
tujuan individual kita.

Tujuan ini memiliki tantangan yang tidak mudah. Perubahan lingkungan yang
sangat cepat dewasa ini memberi pengaruh yang beraneka ragam kepada
setiap orang. Setiap hari kita menerima berbagai informasi dari berbagai
media. Internet memberikan semua data yang ada dari seluruh penjuru dunia
dan berbagai pembentukan opini yang beraneka ragam jenisnya. Seberapa
efektif daya tarik pribadi kita dapat memilih pengaruh dan mempengaruhi
pikiran dan perasaan kita untuk bertindak sejalan dan searah dengan tujuan
sadar kita.

Tujuan kedua adalah mendalami keberadaan Law of Attraction secara


kontekstual sebagai alat pemahaman kita terhadap arah kecenderungan
perkembangan individu dan sosial.

21

Anda mungkin juga menyukai