Anda di halaman 1dari 97

SKIZOFRENIA TIPE HEBEFRENIK

A. Pengertian
1. Sifat yang kekanak-kanakan, banyak bicara, mekanisme pertahanan
regresi ( kembali pada tingkah laku di masa lampau atau kemunduran
perkembangan yang lebih awal ). Permulaannya perlahan-lahan atau sub
akut yang sering timbul pada masa remaja atau antara 15-25 tahun.
( Maramis, 1995 )
2. Suatu bentuk schizofrenia dengan perubahan afektif yang tampak jelas dan
secara umum juga dijumpai waham dan halusinasi yang bersifat
mengambang serta terputus-putus (fragmentary). Perilaku yang tidak
bertanggung jawab dan tidak dapat di ramalkan serta umumnya
mennerisme. (DEPKES, 1993)
3. Amat kekanak-kanakan, banyak bicara, mekanisme pertahanan regresi
(kembali kemasa lampau atau kemunduran perkembangan yang lebih
awal), waham dan halusinasi banyak sekali.(Imam, 2006)
4. Suatu skizofrenia dengan prognosis atau pikiran sembuh paling jelek,
tetapi bukan berarti nol. Skizofrenia inilah yang biasanya dipakai sebagai
gambaran orang sakit jiwa di film-film, yaitu dengan tersenyum sendiri,
tertawa sendiri, tiba-tiba menangis tanpa sebab yang jelas, berbicara
sendiri, seolah-olah berada didunianya sendiri. ( http://www.pewarta-
kabarindonesia.blogspot.com/ )

B. Etiologi
Secara pasti, penyebab skizofrenia hebefrenik yang khusus belum
diketahui. Dan tidak ada faktor etiologik tunggal pada suatu serangan
skizofrenia. Klien skizofrenia mempunyai kerentanan biologik khas yang
dicetuskan melalui stress sehingga menimbulkan gejalaskizofrenia. Stress
mungkin bersifat genetik, psikososial atau lingkungan.

C. Tanda dan Gejala


Gambaran utama skizofrenia tipe hebefrenik ini berupa :
1. Inkoherensi yang jelas
2. Gangguan proses berfikir
3. Afek sosial, tidak serasi atau ketolol-tololan

4. Kemauan dan adanya depersonalisasi atau double personality (Marasmis,


1995)
5. Pembicaraan kacau (kekonyolan dan tertawa yang tidak erat berkaitan
dengan isi pembicaraan)
6. Tingkah laku kacau
7. Disorganisasi tingkah laku (kurang orientasi pada tujuan) dapat membawa
pada gannguan yang serius pada berbagai aktivitas hidup sehari-hari
(imam setiadi, 2006)
8. Emosi datar yang aneh
9. Sering menyendiri (solidary)
10. Pemalu (Rusdy, 1998)
11. Waham atau halusinasi yang terpecah-pecah : isi temanya tidak
terorganisasi sebagai suatu kesatuan.

Gambaran penyerta yang sering dijumpai :


1. Menyeringai, pelagakan (mannerism), berkelakar, keluhan hipokondrik.
2. Kecenderungan untuk menarik diri dari hubungan sosial.
3. Berbagai perilaku yang aneh tanpa tujuan.

D. Psikopatologi
Skizofrenia

Faktor eksternal

Keluarga Sosiokultural
Lingkungan

Konflik keluarga Pernikahan lintas budaya


Tuntutan hidup
Hum-bang anak Perbedaan adat
Stressor ekonomi
tidak optimal istiadat dan
kebiasaan

Anak merasa tidak Konflik hubungan


Kebutuhan hidup
Diperhatikan meningkat, pendapat
Tidak mencukupi

Menarik diri
Stressor Dikucilkan oleh
masyarakat

Pendapat tidak
dihargai

Isolasi sosial

Resiko perilaku
kekerasan

E. Psikofisiologi

Daerah utama otak pertama yang terlibat dalam skizofrenia adalah


struktur limbic, lobus frontalis dan ganglia basalis. Thalamus dan batang
otak juga terlibat karena peranan thalamus sebagai mekanisme pengintegrasi
dan kenyataan bahwa batang otak dan otak tengah adalah lokasi utama bagi
neuran aminergik asenden

1. Hipotesis Dopamine
Skizofrin disebabkan dari terlalu banyaknya aktivitas
dopaminergik.Teori ini muncul dari dua pengamatan.Pertama, kecuali
untuk clozapine, khasiat dan potnsial anti psikotik adalah berhubungan
dengan kemampuan untuk bertindak sebagai antagonis resptor
dopaminergik tipe 2 (D2).Kedua, obat-obatan yang meningkatkan
aktivitas dopaminergik yang paling jelas adalah amfetamin.Yang
merupakan salah satu psikotomimetik.Neuron dopaminergik dalam jalur
mesokortikal dan jalur mesolimbic berjalan dari badan selnya diotak
tengah ke neurondopaminoseptif disistem limbic dan kortek
serebral.Peran penting dopamine disini adalah konsisten dengan
penelitian yang telah mengukur plasma metabolit dopamine utama yaitu
homovanillic acid.Dalam kondisi eksperimen yang terkontrol cermat,
konsentrasi homovanillic acid plasma dapat mencerminkan konsentrasi
homovanillic acid dalam sistem syaraf pusat.Adanya hubungan positif
antara konsentrasi homovanillic acid praterapi yang tinggi dengan dua
faktor : keparahan gejala psikotik dan respon terapi terhadap obat anti
psikotik.Setelah peningkatan sementara konsentrasi homovanillic acid
plasma, konsentrasi menurun secara mantap yang berhubungan dengan
perbaikan gejala pada pasien.
2. Serotonin
Antipsikotik atipikal mempunyai aktivitas berhubungan dengan
serotonin yang kuat ( contoh : clozapine, risperidone, ritanserin ).Secara
spesifik antagonisme pada reseptor serotonin(5-hidroksytrypamine)tipe 2
(5HT2) disadari penting untuk menurunkan gejala psikotik dan
perkembangan gangguan gerakan berhubungan dengan antagonisme D2.
3. Norepinefrin
Pemberian antipsikotik jangka panjang menurunkan aktivitas
neuron noradrenegric di lokus serelous. Efek terapiutik dari beberapa anti
psikotik mungkin melibatkan aktivitasnya sebagai reseptor adrenergic 1
dan 2. Sistem noradrenegic memodulasi sisitem dopaminenergic dalam
cara tertentu sehingga kelainan sistem noradenergic mempredisposisikan
pasien untuk sering relaps.
4. Asam Amino
Pasien skizofrenia mengalami kehilangan neuron gamma
aminobutyric acid (GABA)-ergic didalam hipotalamus yang dapat
menyebabkan hiperaktivtas neuron dopaminenergic dan noradrenergic
5. Neuropatologi
Dua daerah otak yang mendapatkan paling banyak perhatian adalah
sistem limbik dan ganglia basalis walaupun terdapat kontroversi
mempermasalahkan kelainan neuropatologi dan neurokimiawi didalam
kortek serebral, thalamus dan batang otak.
6. Sistem limbic
Berfungsi sebagai pengendali emosi diketahiu bahwa pada sample
otak skizofrenia post mortem ditemukan suatu penurunan daerah
termasuk amigdala, hipokampus dan girus parahipokampus
7. Ganglia Basalis
Pada banyak pasien skizoprenik, ganglia basalis terlibat dalam
mengendalikan pergerakan mengalami gangguan sehingga klien
melakukan gerakan yang aneh. Ganglia basalis juga berhubungan timbal
balik dengan lobus frontalis, meningkatkan kemugkinan bahwa kelainan
pada fungsi lobus frontalis mungkin disebabkan oleh patologi dalam
ganglia basalis itu sendiri, bukan dari dalam lobus frontalisnya sendiri.

8. Genetika
Kemungkinan seseorang menderita skizofrenia jika anggota
keluarga lainya juga menderita skizofrenia dan kemungkinan seseorang
skizofrenia adalah dekatnya hubungan persaudaraan tersebut (Contoh :
sanak saudara derajat pertama atau derajat kedua ). Kembar Monozigot
memiliki angka kesesuaian yang tertinggi. Pendekatan genetika
diarahakan pada mengidentifikasi silsilah besar dari orang yanng terkena
dan memiliki keluarga untuk RLFP ( Restriction Fragment length
polymorphisms) yang memisahkan dengan fenotif penyakit. Banyak
hubungan antara tempat kromosom tertentu dengan skizofrenia telah
dilaporkan. Lebih dari setengah kromosom telah dihubungkan dengan
skizofrenia, tetapi lengan panjang kromosom 5, 11, dan 8 lengan pendek
lengan kromosom 19 dan kromosom X adalah paling sering dilakukan.

2. Pengkajian
Pengkajian adalah awal dan dasar dalam proses keperawatan, dimana
semua informasi klien yang dibutuhkan dikumpulkan untuk menentukan
masalah keperawatan klien.
a. Pengumpulan Data
1) Sumber Data
a) Sumber data primer, yaitu klien yang merupakan sumber utama.
b) Sumber data sekunder, yaitu keluarga, kerabat, tenaga kesehatan
(dokter dan tenaga perawatan), catatan dokumentasi medis klien,
hasil hasil pemeriksaan laboratorium, rontgen dan lain lain.
2) Metode Pengumpulan Data
a) Wawancara
b) Observasi
c) Pemeriksaan fisik
d) Studi dokumentasi

Metode wawancara, observasi dan pemeriksaan fisik dapat dilakukan


dalam waktu yang bersamaan tergantung kondisi klien.
Adapun komponen data yang perlu dikaji pada klien skizofrenia
hebefrenik antara lain:
1) Identitas klien
2) Identitas informan atau yang bertanggung jawab terhadap klien
3) Keluhan utama
4) Riwayat perjalanan penyakit
5) Riwayat kekambuhan terakhir
6) Pertumbuhan dan perkembangan premorbid
7) Persepsi dan harapan klien dan keluarga
8) Keadaan kesehatan fisik
a) Masalah masalah kesehatan sebelumnya, riwayat alergi,
pengobatan
b) Kebiasaan kebiasaan kesehatan sekarang
(1) Penampilan dan kebersihan diri.
Klien skizofrenia menunjukkan penurunan minat terhadap
penampilan dan kebersihan dirinya. Ini tampak pada
penampilan yang acak acakan. Badan tampak kotor.
(2) Kebiasaan merokok dan minum minuman keras.
(3) Tidur dan istirahat :
Klien dapat sulit tidur. Adanya halusinasi dapat menyebabkan
kecemasan, klien mendengar suara suara yang mengganggu
atau mengancam dirinya. Klien sering bermimpi buruk
sehingga terbangun dan sulit tidur lagi, dan sering dia berada
dalam keadaan terjaga.
(4) Nutrisi
Menurunnya kemauan dan meningkatnya aktivitas motorik
menyebabkan klien tidak mau makan. Porsi makan utuh/makan
sedikit, dapat pula klien menolak makan karena adanya
halusinasi yang melarangnya makan.
(5) Pola eliminasi.
(6) Aktivitas hidup sehari hari yang berkaitan dengan dorongan
inisiatif. Pada keadaan kronis, klien tidak dapat melakukan
fungsi dasar mandiri, misalnya mandi, berpakaian dan
sebagainya. Hal ini dapat sangat mengganggu pekerjaan atau
fungsi peran lainnya.
Keadaan ini dapat berupa minat yang tidak adekuat atau tidak
mampu menjalankan suatu tindakan/tugas hingga penyelesaian
yang logis. Bila terjadi ambivalensi hebat dapat menjadikan
klien terhenti sama sekali dari aktivitas yang bertujuan.
c) Pemeriksaan fisik dan hasil pemeriksaan laboratorium serta
pemeriksaan penunjang lainnya dan program terapi yang didapat
9) Status Mental
a) Afek / Emosi
- Afek datar : tidak ada tanda ekspresi afektif, suatu monoton, da
wajahnya imobil.
- Afek yang tidak serasi : tidak sesuai dengan rangsangan,
misalnya orang yang disekitarnya ramai tertawa karena ada
kelucuan tetapi klien malah menunjukkan kesedihan/menangis.
- Keadaan emosi yang berlebihan sehingga kelihatannya seperti
dibuat buat, misalnya dari keadaan gembira seketika itu
berubah menjadi sedih.
b) Konsep Diri
Konsep diri kacau dan tidak realistik. Klien mempunyai perasaan
rendah diri, menganggap dirinya tidak mampu mengatasi
kekurangannya, tidak ingin melakukan sesuatu hal untuk
menghindari kegagalan (takut gagal). Klien menghinakan,
menyalahkan dirinya atas suatu hal yang pernah atau tidak pernah
dilakukannya.
Tidak punya keinginan/cita cita, merasa diri tidak berdaya, sakit
sehingga tidak dapat melakukan peranannya. Dapat terjadi klien
merasa asing dengan dirinya, merasa bahwa dirinya sudah menjadi
yang lain.
c) Gaya Kounikasi
(1) Gaya verbal klien
Inkoherensi menyebabkan klien banyak bicara yang tak bisa
dimengerti, berteriak teriak tanpa sebab. Isi pembicaraan
sedikit, tersamar, abstrak atau sangat konkret.
(2) Respon non verbal klien
- Pandangan mata terkesan kosong
- Tidak ada kontak mata
- Tersenyum senyum, tertawa kecil tanpa adanya
rangsang, atau ekspresi wajah sedih
d) Interaksi/hubungan dengan dunia luar.
Adanya kecenderungan menarik diri dari keterlibatannya dari
dunia luar dan berpreokupasi dengan idenya yang tak logis. Gila
parah kondisi itu dinamakan autisme. Orang lain akan nampak
sibuk dengan dunianya sendiri, tidak terpengaruh dengan orang
lain.
e) Pola pertahanan diri.
Mekanisme pertahanan regresi (kekanak kanakan), misalnya
klien menjadi tergantung pada orang lain dalam memenuhi
kebutuhannya.
f) Persepsi sensorik.
Klien skizofrenia hebefrenik sering mengalami gangguan persepsi
sensorik berupa ilusi/halusinasi, terutama halusinasi dengar,
dimana klien akan tampak berbicara sendiri atau tertawa sendiri.
g) Motorik.
Aktivitas psikomotorik yang abnormal, tidak bertujuan seperti
berlari lari jalan mondar mondir, menggoyang goyangkan
badannya, memukul mukul tanpa sebab, atau imobilitas yang
apatis. Hal ini umumnya disebabkan adanya halusinasi, kecemasan
yang meningkat, kebingungan, atau adanya dorongan yang tidak
dapat dikontrol.

h) Orientasi.
Pada periode kekambuhan, klien dapat bingung, tidak mengenal
orang, waktu atau tempat dimana ia berada.
i) Pikiran.
Gangguan pada isi pikir dapat berupa waham yang tidak sistematis,
mudah berubah. Klien merasa bahwa perasaannya, dorongan
pikirannya atau tindakannya dipaksakan dari luar kepada dirinya.
Adanya preokupasi, yaitu pikiran terpaku pada sebuah ide biasanya
berkaitan dengan keadaan emosional yang kuat, misalnya
preokupasi dengan anaknya, suami yang sudah meninggal. Klien
dapat merasakan kekhawatiran yang berlebihan tentang kesehatan
fisiknya. Untuk gangguan pada bentuk dan arus pikir yang sering
ditemukan adalah kelonggaran asosiasi, dimana ide ide berpindah
dari satu subjek ke subjek lain yang sama selalu tidak ada
hubungan atau hubungannya tidak tepat, dan hal lain tidak
disadarinya. Apalagi pelonggaran asosiasi ini terlalu berat dapat
terjadi inkoherensi, percakapan yang tidak dapat dimengerti. Dapat
pula terjadi miskinnya isi pembicaraan dimana isi pembicaraannya
masih cukup tetapi isinya sedikit karena samar, abstrak, atau sangat
konkret, berulang ulang (stereotipik). Hambat pikir (blocking)
dapat pula terjadi, yaitu jalan pikiran tiba-tiba berhenti di tengah
sebuah kalimat. Klien tidak dapat menerangkan mengapa ia
berhenti. Gangguan lain berupa irelevasi, isi pikiran atau ucapan
yang tidak ada hubungannya dengan pertanyaan, atau dengan hal
yang sedang dibicarakan.
j) Insight (penghayatan) : tingkat penghayatan terhadap kondisi
dirinya dan kebutuhannya. Klien merasa dirinya tidak sakit atau
bahkan merasa dirinya sakit parah. Klien dapat menyadari atau
tidak menyadari akan faktor faktor yang mempengaruhi tingkah
lakunya, sehingga adakalanya ia tidak mampu bereaksi sesuai
dengan realitas dan bertanggung jawab.
10) Data Sosial Budaya
a) Pendidikan dan pekerjaan.
b) Hubungan sosial klien.
c) Faktor sosio budaya.
d) Gaya hidup klien.
e) Pengkajian keluarga.
(1) Genogram keluarga dari tiga generasi
(2) Riwayat sakit jiwa dalam keluarga
(3) Komunikasi dan interaksi keluarga
(4) Permasalahan keluarga :
11) Data Spiritual
a) Keyakinan klien tehadap sakitnya
b) Kepercayaan, nilai, norma yang dimilikinya
c) Keyakinan terhadap tuhan
d) Adanya kehilangan orang terdekat/kematian dan dampaknya
terhadap klien.
b. Analisa Data
Analisa data berarti mengaitkan, menghubungkan data yang
diperoleh dengan konsep teori, prinsip yang relevan untuk mengetahui
masalah kesehatan klien.
Pengelompokkan data :
1) Berteriak teriak tanpa sebab :
Kemungkinan penyebab :
- Ketidakmampuan mengendalikan dorongan dari dalam dirinya.
Masalah :
- Kegelisahan motorik.
Aktvitas motorik, abnormal yang tidak bertujuan, seperti berlari
lari, mondar mandir, menggoyang goyangkan badannya,
memukul mukul tanpa sebab. Adanya perasaan bahwa pikiran,
perasaan, dorongan , atau tindakannya dipaksakan dari luar kepada
dirinya. Kebingungan
Kemungkinan penyebab :
- Adanya ilusi/halusinasi
Masalah :
- Kegelisahan motorik
2) Menganggap dirinya tidak mampu mengatasi kekurangannya, takut
gagal, menghina dan menyalahkan diri atas suatu hal yang pernah atau
tidak pernah dilakukannya. Tidak punya keinginan/cita-cita, merasa
diri tak berdaya, sakit. Ekspresi wajah sedih.
Kemungkinan penyebab :
- Perasaan bersalah yang berlebihan
- Merasa dirinya sakit
Masalah :
- Harga diri rendah
3) Kecenderungan menarik diri dari keterlibatannya dengan dunia luar
dan berpreokupasi dengan idenya yang tidak logis.
Orang lain memberi komentar bahwa klien tampaknya sibuk dengan
dunianya sendiri, tidak terpengaruh dengan orang lain.
Pandangan matanya terkesan kosong, tidak ada kontak mata.
Tersenyum senyum atau tertawa kecil tanpa ada rangsang.
Tampak berbicara sendiri atau tertawa sendiri.
Kemungkinan penyebab : -
Masalah : -
4) Tidak mau makan
Porsi makan utuh/makan sedikit, menolak makan karena adanya
halusinasi yang melarangnya makan.
Aktivitas motorik meningkat.
Kemungkinan penyebab :
- Kurangnya nafsu makan
- Tidak ada minat terhadap kebutuhan diri
- Aktivitas motorik yang meningkat
Masalah :
- Cenderung kurang gizi dan cairan
5) Sulit tidur
Adanya suara suara yang mengganggu/mengancam dirinya.
Sering bermimpi buruk sehingga terbangun dan sulit untuk tidur lagi.
Klien sering berada dalam keadaan terjaga.
Kemungkinan penyebab :
- Kecemasan.
Masalah :
- Kurang tidur.
6) Tidak mampu menjalankan tindakan/tugas hingga penyelasaian yang
logis.
Terhenti sama sekali dari aktivitas yang bertujuan.
Penampilan acak acakan, kotor.
Klien tidak dapat melakukan fungsi dasar secara mandiri, seperti :
mandi, berpakaian dan sebagainya.
Kemungkinan penyebab :
- Tidak ada minat.
Masalah :
- Kemampuan melaksanakan aktivitas sehari hari kurang
7) Kekhawatiran keluarga terhadap keadaan klien yang sering kambuh.
Menanyakan hal hal yang sama berulang ulang meski telah diberi
penjelasan.
Ekspresi emosi yang tinggi, yang dimanifestasikan dengan sikap
mengkritik dan banyak melibatkan diri dengan klien.
Kemungkinan penyebab :
- Penyakit jiwa yang diderita anggota keluarga.
Masalah :
- Kecemasan keluarga.
3. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah penyataan yang jelas mengenai
masalah kesehatan klien yang ditetapkan berdasarkan analisis dan
interpretasi data yang diperoleh melalui pengkajian data, dan masalah itu
dapat diatasi dengan tindakan keperawatan.
Dalam perumusannya terdiri dari :
Problem, etiologi dan symptom. Namun dapat pula terdiri dari problem
dan etiologi saja, terutama untuk doagnosa keperawatan yang potensial.
Dibawah ini adalah diagnosa keperawatan yang biasanya terjadi pada klien
skizofrenia hebefrenik :
1. Kegelisahan motorik berhubungan dengan ketidakmampuan
mengendalikan dorongan dari dalam dirinya, ditandai dengan
berlari lari, mondar mandir, menggoyang goyangkan badan,
memukul mukul tanpa sebab.
2. Harga diri rendah berhubungan dengan perasaa yang bersalah yang
berlebihan, di tandai dengan menghina, menyalahkan diri atas
suatu hal yang pernah atau tidak pernah dilakukannya.
3. Kontak sosial kurang, berhubungan dengan menarik diri ditandai
dengan klien cenderung menarik diri dari keterlibatannya dengan
dunia luar dan berpreokupasi dengan idenya yang tidak logis.
4. Cenderung kekurangan gizi dan cairan berhubungan dengan tidak
ada nafsu makan, ditandai dengan tidak mau makan. Porsi makan
utuh.
5. Kurang tidur sehubungan dengan perasaan cemas, ditandai dengan
sulit tidur, sering berada dalam keadaan terjaga.
6. Kemampuan melaksanakan aktivitas sehari hari kurang
berhubungan dengan tidak ada minat, ditandai dengan : tidak dapat
mandi dan berpakaian sendiri.
7. Kecemasan keluarga berhubungan dengan penyakit jiwa yang
diderita anggota keluargannya, ditandai dengan : sikap mengkritik
dan banyak melibatkan diri dengan klien.
4. Intervensi
Adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan
untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan yang telah
ditentukan, dengan tujuan terpenuhinya kebutuhan klien.
Ada tiga unsur dalam perencanaan yaitu :
a. Memprioritaskan masalah
Prioritas tertinggi diberikan kepada masalah yang mengancam
kehidupan klien.
b. Perumusan tujuan
Tujuan dapat ditetapkan dalam bentuk jangka panjang atau
jangka pendek, dan harus jelas, dapat diukur realistis. Tujuan
juga harus diselaraskan dalam konteks hubungannya dengan
standar profesi, tradisi, kebijaksanaan, institusi serta peraturan
dan hukum.
c. Penentuan tindakan keperawatan untuk mencapai tujuan yang
telah dirumuskan.

PENUTUP

KESIMPULAN
1. Skizofrenia adalah gangguan jiwa psikotik yang paling lazim dengan ciri
hilangnya perasaan afektif atau respon emosional dan menarik diri dari hubungan
antar pribadi normal.

2. Gangguan skizofrenik umumnya ditandai oleh distorsi pikir dan persepsi yang
mendasar dan khas, dan oleh afek yang tidak wajar (inapropriate) atau tumpul
(blunted).

3. Skizofrenia hebefrenik permulaannya perlahan-lahan atau sering timbul pada


masa remaja atau antara 15-25 tahun. Gejala yang paling terlihat yaitu proses
berfikir, gangguan kemauan dan adanya depersonalisasi.

4. Tanda dan gejala skizofrenia hebefrenik seperti gngguan proses pikir, gangguan
afek dan emosi, gangguan kemauan, gejala psikomotor.

5. Daerah utama otak pertama yang terlibat dalam skizofrenia adalah struktur limbic,
lobus frontalis dan ganglia basalis.

SARAN

1. Perawat hendaknya selalu melatih diri dan meningkatkan kemampuannya dalam


melakukan pengkajian terhadap klien untuk mendapatkan data yang spesifik dan
valid.

2. Perawat harus meningkatkan pemanfaatan fasilitas yang ada secara optimal,


sumber daya dan potensi klien maupun keluarga untuk menbantu memenuhi
kebutuhan klien.

3. Untuk mencapai hasil pengobatan dan perawatan yang baik maka sangatlah
penting mengadakan pendekatan serta melibatkan peran aktif dari keluarga.

SKIZOFRENIA PARANOID
A. PENGERTIAN

Skizofrenia paranoid yaitu pada tipe ini adanya pikiran-pikiran yang


absurd (tidak ada pegangannya) tidak logis, dan delusi yang berganti-ganti. Sering
diikuti halusinasi dengan akibat kelemahan penilaian kritis (critical
judgement)nya dan aneh tidak menentu, tidak dapat diduga, dan kadang-kadang
berperilaku yang berbahaya. Orang-0rang dengan tipe ini memiliki halusinasi dan
delusi yang sangat mencolok,yang melibatkan tema-tema tentang penyiksaan dan
kebesaran (toernry, 1995, Susan Nolen Hoeksema, 2004).

Skizofrenia merupakan kelompok gangguan psikosis atau psikotik yang


ditandai oleh distorsi-distorsi mengenai realitas, adanya perilaku menarik diri dari
interaksi social serta disorganisasi dan fragmentasi dalam hal persepsi, pikiran dan
kognisi (Carson dan Butcher, 1992).

B. ETILOGI

1. Faktor biologis

Faktor herediter
a. Kontribusi gen terhadap skizofrenia

Studi terhadap keluarga, anak kembar dan anak adopsi melengkapi bukti-
bukti bahwa gen terlibat dalam transmisi (penyebaran) skizofrenia
(Liohtermann, Karbe & Maier, 2000). Beberapa peneliti berpendapat bahwa
banyak gen (polygenic) model tambahan, yang membentuk jumlah dan
konfigurasi gen abnormal untuk membentuk skizofrenia (Gottensman, 1991,
Gottansman & Erlenmyer-kimling, 2001). Adanya lebih banyak gen yang
terganggu meningkatkan kemungkinan berkembangnya skizofrenia dan
menungkatakan kerumitan gangguan tersebut. Individu yang lahir dengan
beberapa gen tetapi tidak cukup untuk menunjukkan simtom-simtom bertaraf
sedang atau ringan skizofrenia, seperti keganjilan dalam pola bicara atau
proses berpikir dan keyakinan-keyakinan yang aneh.

Anak-anak yang memiliki kedua orang tuanya menderita skizofrenia dan


anak-anak kembar identik atau dari satu zigot (monozigot) dari orangtua
dengan skizofrenia, mendapat sejumlah besar gen skizofrenia, memiliki resiko
sangat besar mendapatkan skizofrenia. Sebaliknya penurunan kesamaan gen
dengan orang-orang skizofrenia, menurunkan resiko individu
mengembangkan gangguan ini.

Jika aman dari orang skizofrenia mengembangkan gangguan ini, tidak


berarti bahwa hal itu dikirimkan atau diwariskan secara genetic. Tumbuh
bersama orangtua skizofrenia dan secara khusus bersama dengan kedua
orangtua dengan gangguan tersebut, kemungkinan besar berarri tumbuh
berkembang dalam suasana yang penuh stress. Jika orangtua psikotik, anak
dapa terbuka untuk pemikiran-pemikiran yang tidak logis, perubahan suasana
hati dan perilaku yang kacau.

Bahkan jika orangtua bukanlah psikotik akut, sisa-sisa simtom negative


akut skizofrenia, kurangnya motivasi, dan disorganisasi mungkin mengganggu
kamampuan orangtua untuk peduli terhadap anak. Studi adopsi yang
dilakukan Leonard Heston di Amerika Serikat dan Kanada menunjukkan
bahwa anak-anak yang hidup bersama orangtua skizofrenia yang diadopsi jauh
dari ibu, mempunyai tingkat pengembangan skizofrenia yang lebih rendah

b. Pembesaran Ventrikel
Struktur utama otak yang abnormal sesuai dengan skizofrenia adalah
pembesaran ventrikel. Ventrikel adalah ruang besar yang berisi cairan dalam
otak. Perluasan mendukung atropi (berhentinya pertumbuhan), deteriorasi di
jaringan otak lainnya. Orang-orang skizofrenia dengan pembesaran ventricular
cenderung menunjukkan penirinan secara social, ekonomi, perilaku, lama
sebelum mereka mengembangkan simtom utama atau inti dati skizofrenia.
Mereka juga cenderung untuk memiliki simtom yang lebih kuat dari pada
orang skizofrenialainnya dan kurang responsive terhadap pengobatan karena
dianggap sebagai pergantian yang buruk dalam pemfungsian otak, yang sulit
untuk ditangani/dikurangi melalui treatment. Perbedaan jenis kelamin
mungkin juga berhubungan dengan ukuran ventricular. Beberapa studi
menemukan bahwa laki-laki dengan skizofrenia memiliki pelebaran ventrikel
yang lebih kuat.

c.Faktor Anatomis Neuron

Abnormalitas neuron secara otomatis pada skizofrenia memiliki beberapa


penyebab, termasuk abnormalitas gen yang spesifik (khas), cedera otak
berkaitan dengan cedera waktu kelahiran, cedera kepala, infeksi virus
defisiensi (penurunan) dalam nutrisi dan defisiensi dalam stimulus kognitif
(Conklin & Lacono, 2002).

d. Komplikasi Kelahiran

Komplikasi serius selama prenatal dan masalah-masalah berkaitan dengan


kandungan pada saat kelahiran merupakan hal yang lebih sering dala sejarah
orang-orang dengan skizofrenia dan mungkin berperan dalam membuat
kesulitan-kesulitan secara neurologist. Komplikasi dalam pelepasan
berkombinasi dengan keluarga beresiko terhadap terjadinya karena menambah
derajad pembesaran ventricle. Penelitian epidemiologi telah menunjukkan
angka yang tinggi dari skizofrenia dikalangan orang-orang yang memiliki ibu
terjangkit virus influenza ketika hamil.

e.Neurotransmitter
Neurotransmiter dopamine dianggap memainkan peran dalam skizpfrenia (
Coklin & Lacono, 2002 ). Teori awal dari dopamine menyatakan bahwa
simtom-simton skizofrenia disebabkan oleh kelebihan jumlah dopamine di
otak, khususnya di frontal labus dan system limbic. Aktivitas dopamine yang
berlebihan / tinggi dalam system mesolimbik dapat memunculkan simtom
positif skizofrenia : halusinasi, delusi, dan gangguan berfikir. Karena atipikal
antipsikotis bekerja mereduksi simtom-simtom skizofrenia dengan mengikat
kepada reseptor D4 dalam system mesolimbik. Sebaliknya jika aktivitas
dopamine yang rendah dapat mendorong lahirnya simtom negative seperti
hilangnya motivasi, kemampuan untuk peduli pada diri sendiri dalam aktivitas
sehari-hari. Dan tidak adanya responsivitas emosional. Hal ini menjelaskan
bahwa phenothiazines, yang mereduksi aktivitas dopamine, tidak meredakan
atau mengurangi simtom.

Dalam penelitian lain bahwa taraf abnormalita nuotansmiter glutamate dan


gamma aminobutyric acid ( GABA ) tampak pada orang-orang dengan
skizofrenia (Goff & Coyle, 2001, Tsai & Coyle,2002 ). Glutamate dan GABA
terbesar di otak manusia dan defisiensi pada neurotransmitter akan
memberikan kontribusi terhadap simtom-simtom kognitif dan emosioanal.
Neuro glutamate merupakan pembangkit jalan kecil yang menghubungkan
kekortek, system limbic dan thalamus bagian otak yang membangkitkan
tingkah laku abnormal pada orang-orang dengan skizofrenia.

2.Faktor Psikososial

a.Teori Psikodinamika

Menurut Kohut & Wolf, ahli-ahli teori psikodinamika berpendapat bahwa


skizofrenia merupakan hasil dari paksaan atau tekanan kekuetan biologis yang
mencegah atau menghalangi individu untuk mengembangkan dan
mengintegrasikan persaan atau pemahaman atas dirinya. Freud(1942)
berargumen bahwa jika ibu secara ekstrim atau berlebihan kasar dan terus-
menerus mendominasi, anak akan mengalami taraf regresi dan kembali ke
taraf perkembangan bayi dalam hal pemfungsiannya, sehingga ego akan
kehilangan kemampuannya dalam membedakan realita.

Berdasarkan penelitian interaksi antar keluarga dan skizofrenia yang


berfokus pada stress keluarga, menunjukkan bahwa stress keluarga
menyebabkan atau mengurangi penderita skizofrenia. Dimana keluarga dapat
mendukung anggota keluarga dengan skizofrenia dan menolong mereka
berfungsi dalam masyarakat meskipun gangguan tersebut membuat gangguan
lebih buruk dengan terciptanya suasana yang merusak atau mengurangi
kemampuan anggota keluarga yang skizofrenia untuk menanganinya (Susan
Nolen Hoeksema, 2004).

b. Pola-Pola Komunikasi

Menurur Gregory Bateson & koleganya bahwa orangtua (khususnya ibu)


pada anak-anak sklizofrenia menempatkan anak mereka dalam situasi ikatan
ganda (double binds) yang secara terus menerus mengkomunikasikan pesan-
pesan yang bertentangan pada anak-anak. Yang dimaksud ikatan ganda adalah
pemberian pendidikan dan informasi yang nilainya saling bertentangan.
Dalam teori doble-bind tentang pola-pola komunikasi dalam keluarga orang-
orang dengan skizofrenia, menampakkan keganjilan. Keganjilan-keganjilan itu
membentuk lingkungan yang penuh ketegangan yang membuat lebih besar
kemungkinan seorang anak memiliki kerawanan secara biologis terhadap
skizofrenia akan mengembangkan sindrom skizofrenia sepenuhnya atau
bahwa seseorang dengan skizofrenia akan memiliki frekuensi kekambuhan
psikotis yang lenih tinggi.

c. Tampilan Emosi

Berdasarkan beberapa penelitian bahwa gaya interaksi penderita


skizofrenia dapat dilihat dari ekspresi emosinya. Keluarga-keluarga yang
pengekspresian emosinya kuat terlalu melibatkan diri dengan setiap anggota
keluarga lainnya, Overprotekif terhadap anggota keluarganya terganggu dan
bersikap mengorbankan diri bagi anggota keluarganya yang terganggu tetapi
juga suka mengkritik, bermusuhan dan memarahi anggota keluarga yang
terganggu.

d. Stres dan Kekambuhan

Keadaan sekitar atau lingkungan yang penuh stress (stresfull) mungkin


tidak menyebabkan seseorang terjangkit skizofrenia, tetapi keadaan tersebut
dapat memicu episode baru pada orang-orang yang mudah terkena serangan
atau rawan terhadap skizofrenia. Berdasarkan penelitian bahwa lebih dari 50
% orang yang mengalami kekambuhan skizofrenia adalah mereka yang dalam
kehidupannya telah mengalami kejadian-kejadian buruk sebelum mereka
kambuh. Banyak kejadian dalam hidup orang-orang skizofrenia alami dalam
beberapa miggu sebelum mereka kambuh mungkin secara actual disebabkan
oleh simtom-simtom prodormal yang muncul sebelum kambuh kedalam
psikotis. Sebagai contoh, satu dari simtom-simtom prodormal dari
kekambuhan skizofrenia adalah menarik diri dari lingkungan social yang pada
gilirannya kejadian-kejadian buruk dalam kehidupannya sebagian besar
mendahului sebuah kekambuhan, seperti pecah/hancurnya jalinan atau
hubungan (relation ship) atau hilangnya sebuah pekerjaan (Wiramiharja,
2005).

3. Faktor Kesalahan Belajar

Yang dimaksud kesalahan belajar adalah tidak tepatnya mempelajari yang


benar atau dengan tepat mempelajari yang tidak benar. Dalam hal ini penderita
mempelajari dengan baik perilaku orang-orang skizofrenia atau perilaku yang
baik dengan cara yang tidak baik ( Wiramaharja,2005)

C. TANDA dan GEJALA

Menurut Eugen Bleuler gejala-gejala skizofrenia Paranoid dapat dibagi


menjadi dua yaitu :
a.Gejala primer

Gangguan proses pikiran (bentuk,langkah dan isi pikiran) yang terganggu


terutama aspek asosiasi, kadang-kadang suatu ide belum selesai
diutarakan, sudah muncul ide uang lain. Sering ditandai oleh :
menggunakan arti simbolik, terdapat clang association, jalan pikirannya
tidak dapat dimengerti / inkoherensi, menyamakan hal-hal. Terjadi bloking
beberapa detik sampai beberapa hari, ada penderita yang mengatakan
bahwa seperti ada yang laindidalam dirinya yang berfikir dan tanda sejenis
lainnya.
Gangguan afek dan emosi
Dapat berupa :

Kedangkalan afek dan emosi, klien menjadi acuh tak acuh pada hal-hal
yang penting dalam hidupnya.

Parathimi ; merasa sedih atau marah yang seharusnya timbul rasa tenang
dan gembira.

Paramimi ; klien menangis padahal merasa senang dan bahagia.

Emosi, afek dan ekspresinya tidak mengalami kesatuan.

Emosi yang berlebih.

Hilang kemampuan untuk mengandalkan hubungan emosi yang baik.

Ambivalensi pada afek : dua hal yang bertentangan berada pada satu objek

Gangguan kemauan
Ditandai antara lain :

Tidak dapat mengambil keputusan

Tidak dapat bertindak dalam suatu keadaan

Melamun dalam waktu tertentu yang lama.


Negativisme ; perbuatan yang berlawanan dengan perlawanan

Ambivalensi kemauan ; menghendaki dua hal yang berlawanan pada


waktu yang sama

Otomatisme ; merasa kemauannya dipengaruhi oleh orang lain atau tenaga


dari luar sehingga ia berbuat otomatis.

Gangguan psikomotor
Stupor : tidak bergerak dalam waktu yang lama.
Hiperkinesa; terus bergerak dan tampak gelisah
Stereotipi ; berulang melakukan gerakan atau sikap
Verbigerasi ; stereotipi pembicaraan
Manerisme ; stereotipi tertentu pada pada skizofrenia, grimes pada muka
atau keanehan berjalan dan gaya.
Katalepsi ; posisi badan dipertahankan dalam waktu yang lama.
Fleksibilitas cerea ; bila anggota badan dibengkokkan terasa suatu tahanan
seperti lilin.
Negativisme ; menentang atau justru melakukan berlawanan dengan apa
yang disuruh.
Otomatisme komando ; kebalikan daari negativisme.
Echolalia; meniru kata-kata yang diucapkan orang lain.

b. Gejala sekunder

Waham atau delusi


kayakinan yang salah yang tidak dapat diubah dengan penalaran atau
bujukan. Sangat tidak logis dan kacau tetapi klien tidak menyadari hal
tersebut dan menganggap sebagai fakta dan tidak dapat diubah oleh
siapapun.
Jenis-jenis waham mencakup :

1. kebesaran ; seseorang memiliki suatu perasaan berlebih dalam


kepentingan atau kekuasaan.

2. curiga ; seseorang merasa terancam dan yakin bahwa orang lain


bermaksud untuk membahayakan atau menncurigai dirinya.

3. Siar ; semua kejadian dalam, lingkungan sekitarnya diyakini merujuk /


terkait kepada dirinya.

4. kontrol ; seseorang percaya bahwa objek atau oang tertentu mengontrol


perilakunya.

Halusinasi ; istilah ini menggarbarkan persepsi sensori yang salah yang


mungkin meliputi salah satu dari kelima panca indra. Halusinasi
pendengaran dan penglihatan yang sering,halusinasi penciuman, perabaan,
dan pengecapan juga dapat terjadi ( Towsend, Mary S, 1998).

Tanda gangguan yang berlangsung secara terus menerus sedikitnya selama


6 bulan ( Stuard, 2006 ).
a.Kecurigaan yang ekstrim terhadap orang lain.

b.Halusinasi

Modalitas sensori yang tercakup dalam halusinasi :

1) Pendengaran / auditorius

Mendengar suara atau bunyi, biasanya suara orang. Suara dapat berkisar
dari suara yang sederhana sampai suara orang bicara mengenai pasien, untuk
menyelesaikan percakapan antara dua orang atau lebih tentang pasien yang
berhalusinasi. Jenis lain termasuk pikiran yang dapat didengar pasien yaitu
pasien mendengar suara orang yang sedang membicarakan apa yang sedang
dipikirkan oleh pasien dan memerintahkan untuk melakukan sesuatu, kadang-
kadang hal yang berbahaya.

2) Penglihatan / visual

Stimulus penglihatan dalam bentuk pancaran cahaya, ganbar geometris,


gambar kartun, dan gambar atau panorama yang luas dan kopleks. Penglihatan
dapat berupa sesuatu yang menyenangkan atau yang menakutkan ( seperti
melihat monster ).

c. Waham kejar atau kebesaran

1) Waham kejar (delusion of persecution) yaitu: keyakinan bahwa orang atau


kelompok tertentu sedang mengancam atau berencan membahayakan dirinya.
Waham ini menjadikan penderita paranoid selalu curiga akan segala hal dan
berada dalam ketakutan karena merasa diperhatikan, diikuti serta diawasi.

2) Waham atau kebesaran ( delusion of grandeur ) yaitu: keyakinan bahwa


dirinya memiliki suatu kelebihan dan kekuatan serta menjadi orang yang
penting (Maramis, 2004).
D. PSIKOFISIOLOGI
Factor Biologis

Genertic Biokimia Faal Syaraf Anatomi Syaraf

Implikasi mutasi Genome GABA (-) Reseptor


Proses eksoitatorik, Abnormalitas neuron,
menyaring serotonin
DNA hambatan dan gangguan abnormalitas gen yang
keselurhan
Aktivitas obat- otonomik tidak seimbang spesifik
individu pada
Banyak gen Gangguan
kromosom 6 obatan
(polygenic) model Gerakan
dan 22 dopaminergic
tambahan jumlah Gangguan kapasitas Cidera otak berkaitan
dan konfigurasi gen organisme dengan waktu kelahiran,
Mencelakai
abnormal Neurotransmiter cidera kepala, infeksi
diri sendiri
dopamine tidak virus
dan orang Terganggunya
Kelainan gen selama
lain tumbuhnya konsensus
di dalam kandungan
Defisiensi stimulus
Gangguan proses
kognitif
berfikir Distorsi kognitif dan
Kelainan struktur perceptual individu
(halusinasi Panic, ketidakmampuan
dan fungsi otot saat
mempercayai orang lain,
tumbang
menekan rasa takut
Perubahan persepsi sensori
Keyakinan pola (pendengaran/penglihatan
Gambar : Psikofisiologi Skizofrenia
bicara/proses
berpikir dan (Sumber : Wiramihardjo, Sutardjo A.2005 Perubahan proses pikir
keyakinan yang
E. PSIKOPATOLOGI

Teori Psikososial

Teori system keluarga Teori interpersonal Teori Psikodinamik


(bowen, 1978) (Sullivan, 1953) orang tua (Hartman, 1964)
dengan psikosis

Konflik-konflik diantara Psikosis adalah hasil dari


orang tua Hubungan anak dengan ego lemah
orang tua penuh dengan
ansietas tinggi
Anak berfokus pada Perkembangan terhebat
ansietas hubungan yang
Anak menerima pesan- mempengaruhi antara
pesan yang orang tau dan anak
Dsifungsi sistem keluarga
membingungkan dan penuh
konflik dari orang tua
Ansietas yang ekstim

Koping individu tak efektif


Tidak percaya pada orang
Panik
lain

Tingkat ansietas tinggi Mekanisme pertahanan ego


dipertahankan mal

Ambivalensi Isolasi sosial

Gangguan konsep
diri/menang diri

Gambar : psikopatologi Skozofrenia

(Sumber : Townsend, Mary C.1998)


F. PROSES KEPERAWATAN

1. Pengkajian

Pengkajian dilakukan dengan wawancara dan observasi kepada klien dan


keluarga yang menghantarkan. Pengkajian pertama kali dilakukan secara lengkap
guna menggali informasi yang dibutuhkan untuk terapi guna kesembuhan klien.
Beberapa hal yang dapat dikaji dari klien antara lain :

a. Identitas

Meliputi;

- Nama

- Umur

- Jenis kelamin

- Alamat

- Pekerjaan yang bertanggung jawab.

b. Alasan masuk

Meliputi;

- Penyebab klien masuk rumah sakit

- Usaha yang sudah dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut dan hasilnya.

c. Faktor Predisposisi

Meliputi;

- Riwayat penyakit masa lalu dan hasil pengobatan sebelumnya.

- Riwayat penyakit keluarga

- Riwayat Trauma yang pernah dialami


- Masalah keperawatan yang muncul

d. Faktor fisik meliputi system dan system organ antara lain :

-Tanda Tanda Vital (Tekanan Darah, Nadi, Suhu, Pernafasan.

- Tinggi dan berat badan

- Masalah keperawatan yang muncul.

e. Faktor psikososial

Genogram
Menggambarkan hubungan klien dengan keluarga minimal 3 generasi keatasnya

Masalah keperawatan yang muncul

Konsep diri
Gambaran diri

Identitas diri

Peran diri

Ideal diri

Harga diri

Masalah keperawatan yang muncul

Hubungan Sosial
Orang yang berarti dalam hidup klien

Kelompok yang berarti dalam masyarakat

Keterlibatan klien dalam kelompok tersebut


Masalah keperawatan yang muncul

Spiritual
Nilai dan keyakinan

Kegiatan ibadah

Masalah keperawatan yang muncul

f. Status Mental

Meliputi;

- Penampilan

- Pembicaraan

- Aktivitas motorik

- Alam perasaan

- Efektif

- Interaksi selama wawancara

- Persepsi

- Isi pikir

- Pikiran magis

- Waham

- Tingkat kesadaran

- Memori

- Tingkat konsentrasi dan berhitung

- Kemampuan penilaian
- Daya titik diri

- Jelaskan apa yang dikatakan klien

- Masalah keperawatan yang muncul

g Kebutuhan Persiapan Pulang

Meliputi;

- Makan

- BAB / BAK

- Mandi

- Berpakaian

- Istirahat dan tidur

- Penggunaan obat

- Pemeliharaan kesehatan

- Kegiatan didalam rumah

h. Mekanisme koping

i. Masalah psikososial dan lingkungan

j. Pengetahuan

k. Aspek medik

l.Daftar masalah keperawatan

Menulis data pendukung dan masalah yang muncul kemudian membuat pohon
masalah dari rumusan data tersebut.
G. DAFTAR DIAGNOSA

1.Perubahan persepsi sensorik ( pendengaran / pengelihatan) berhububgan dengan


distorsi kognitif dan perceptual individu ( halusinasi ), panik, stess berat

2.Perubahan proses pikir panik,Ketidakmampuan mempercayai orang


lain,menekan rasa takut

3.Isolasi sosial berhubungan dengan perkembangan ego yang lemah, waham sukar
berinteraksi dengan orang lain pada masa lampau.
H. INTERVENSI

Diagnosa keperawatan, Rencana keperawatan dan Rasional.

Nama Diagnosa Perencanaan Rasional


Keperawatan

No Hari/Tgl Tujuan dan Kriteria Hasil Tindakan Keperawatan

1. Perubahan persepsi Tujuan jangka pendek : - Membina hubungan - Klien harus mempercayai
sensorik dapat mendiskusikan isi saling percaya. perakat sebelum
( pendengaran/ hatinya dengan perakat 1 membicarakan
penglihatan) b.d minggu. halusinasi/perubahan
distorsi kognitif dan persepsi sensori lain.
Tujuan jangka panjang :
perceptual individu
klien dapat - Menggunakan nama klien
(halusinasi), panik,
mendiskusikan dan dan perakat yang benar dapat
stress berat
memeriksa realitas - Punya 1 klien, perakat mengembalikan pada realitas
mengurangi adanya dan klien lain dan mengurangi pengaruh
halusinasi. dengan namanya. halusinasi.

KH : - Karena kesalahpahaman,
- Pasien dapat mengakui perubahan berfikir dan
bahwa halusinasi terjadi idiosincratik membuat klien
- Gunakan pertanyaan
pada saat ansietas salah mengungkapan pesan
yang jelas dan nyata.
meningkat secara abstrak.
ekstrim.
-Memfokuskan aktifitas
- Pasien dapat membantu untuk
mengatakan tanda-tanda mengembalikan pada realita
ansietas dan dan klien dari pengalaman
menggunakan teknik- halusinasi.
teknik untuk
- Bantu lien untuk - Pengurangan rasa takut baik
memutuskan ansietas
fokus pada aktifitas untuk klien untuk membuat
tersebut.
nyata dilingkungannya. kepercayaan klien terhadap
lingkungan dan merasa
aman.

- Intervensi akal akan


- Tenangkan klien, mencegah respon agresif
bahwa klien aman dan yang diperintah dari
tidak akan terancam
bahaya. halusinasi.

- Observasi perilaku - Pasien dapat saja


verbal dan non verbal mengartikan sentuhan
yang berhubungan sebagai ancaman dan
dengan halusinasi. berespons dengan agresif.

-Hindari menyentuh - Jika pasien dapat belajar


klien bahwa perakat untuk menghentikan
tidak apa-apa bila peningkatan ansietas,
memperlakukan begitu. halusinasi dapat dicegah.

-Coba untuk
menghubungkan waktu
kejadian ansietas,
Bantu klien untuk
mengerti hubungan ini.
Nama Diagnosa Perencanaan Rasional
Keperawatan

No Hari/Tgl Tujuan dan Kriteria Hasil Tindakan Keperawatan

2. Perubahan proses Tujuan jangka pendek : - Kaji tingkat - Kecemasan dapat


pikir berhubungan Pasien dapat mengakui kecemasan gunakan ditularkan dan klien pkikosis
dengan panik, ketidak dan mengatakan bahwa strategi mengendalikan sangat sensitive terhadap
mampuan ide-ide yang salah itu kecemasan level yang rangsang eksternal.
mempercayai orang terjadi khususnya pada dapat ditoleransi.
lain, menekan rasa saat ansietas meningkat
- Datangi klien dengan
takut dalam 2 minggu. - Kunjungan yang tenang
tenang dan tidak
membantu untuk
berangan-angan.
memulihkan persepsi sensori
Tujuan jangka panjang : klien dapat menghambat
gangguan proses dan
- Tergantung pada proses
persepsi.
kekronisan penyakit,
pilih tujuan jangka - Penting untuk
panjang yang paling - Tunjukkan bahwa dikomunikasikan kepada
realistis untuk pasien; anda menerima klien bahwa perawat tidak
1. Pasien dapat keyakinan klien yang menerima delusi sebagai
mengatakan salah sementara itu realita.
berkurangnya pikiran- biarkan pasien tahu
pikiran waham. bahwa anda tidak
mendukung keyakinan
2. Pasien mampu
tersebut
membedakan pikiran
waham yang realita. - Jangan mambantah
- Membantah keyakinan
atau menyangkal
KH : klien tidak akan bermanfaat
keyakinan klien
apa-apa tidak dapat dikurangi
1. Menggunakan verbal gunakan teknik
dengan pendekatan ini, dan
reflek dari proses piker keraguan yang
mungkin akan menghalangi
yang berorientasi pada beralasan sebagai
perkembangan hibungan
realita. teknik terapeutik.
saling percaya.
2. Pasien dapat mem- - Bantu klien
- Jika klien dapat belajar
pertahankan aktivitas menghubungkan
untuk menghentikan ansietas
sehari-hari yang keyakinan yang salah
yang meningkatnya pikiran
mampu dilakukan tersebut dan
wahamnya mungkin dapat
olehnya. peningkatan ansietas
yang dirasakan. dicegah.

- Fokus dan kuatkan


pada realita, kurangi
- Diskusikan yang berfokus
ingatan tentang pikiran
padaidde-ide yang salah.
irasional.

- Bantu dan dukung


dalam usaha untuk
mengungkapkan secara
- Ungakapan perasaan secara
verbal perasaan
verbal dalam lingkungan
ansietas, takut atau
yang tidak mengancam akan
tidak aman.
menolong klien untuk
berespon terhadap mengungkapkan perasaannya
pikiran-pikiran deksi yang mungkin sudah
bila pikiran tersebut terpendam sejak lama.
muncul.
Nama Diagnosa Perencanaan Rasional
Keperawatan

No Hari/Tgl Tujuan dan Kriteria Hasil Tindakan Keperawatan

3. Isolasi social b.d Tujuan jangka pendek : . - Atur setiap hari untuk - Struktur menolong klien
perkembangan ego menyusun rencana mengatur waktu untuk
- Pasien siap masuk
yang lemah,waham waktu untuk berinteraksi dengan yang lain
dalam terapi aktivitas
sukar berinteraksi berinteraksi dan dan mengatekan bahwa
ditemani oleh seorang
dengan orang lain beraktivitas dengan partisipasi klien diharapkan
perawat yang
pada masa lampau. klien. dan anggota yang berguna
dipercayainya dalam satu
dalam komunitas.
minggu.
- Jaringan pendukung yang
Tujuan jangka panjang : - Identifikasi factor
kuat menambah kontak
signifikan support
.- Pasien dapat secara social klien, mempertinggi
individu klien dan
sukarela meluangkan kemampuan social,
mendorong mereka
waktu bersama pasien meningkatkan harga diri dan
untuk berinteraksi
lain dan perawat dalam memfalitasi hubungan yang
dengan klien,
aktivitas kelompok diunit positif.
percakapan ditelepon,
rawat hidup.
KH : beraktifitas dan
mengunjunginya.
1. Klien dapat
mendemontrasikan - Bantu klien
- Klien kadang memilih
kecanggihan dari membedakan antara
untuk menyendiri diwaktu
hasrat untuk isolasi sosiol dan hasrat
yang tepat dan seharusnya
bersosialisasi dengan untuk mandiri.
diberi kesempatan untuk itu.
orang lain.
- Bantu klien
- Berbagi kesukaan yang
2. Klien dapat mengikuti menemukan klien lain
sama meningkatkan
aktifitas kelompok untuk sosialisasi
kenyamanan bersosialisasi
tanpa disuruh. dengan orang yang
apalagi dilakukan berulang
memiliki kesukaan yng
3. Pasien melakukan kali.
sama.
pendekatan interaksi
satu-satu dengan - Perlihatkan sikap
orang lain dengan menerima dengan cara - Sikap menerima dari orang
cara yang sesuai / melakukan kontak yang lain akan meningkatkan
dapat diterima. sering tapi singkat. harga diri klien dan
memfasilitasi rasa percaya
- Perlihatkan penguatan pada orang lain.
positif pada klien.
- Hal ini akan membuat
- Temani klien untuk pasien merasa berguna.
memperlihatkan
- Kehadiran seseorang yang
dukungan selama
dioercayai akan memberikan
aktifitas kelompok
rasa aman pada klien.
yang mungkin
merupakan hal yang
menakutkan atau sukar
untuk pasien.

- Jujur dan menepati


janji

- Kejujuran dan rasa


membutuhkan menimbulkan
suatu hubungan saling
percaya.
DAFTAR PUSTAKA

Maramis.W.F,2004.Ilmu Kedokteran,Surabaya : Airlangga Universitas Press

Kaplan, Benjamin J, 1998. Ilmu Kedokteran Jiwa Darurat. Jakarta : Widya medika

Stuart, Gall. W. 2006. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC

..,1993.Pedomanan Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di


Indonesia, Jakarta : Direktorat

SKIZOFRENIA SIMPLEK
A. DEFINISI
Skizoprenia simpleks adalah suatu kelainan yang tak lazim dimana
ada perkembangan. Yang bersifat perlahan tetapi progresif mengenai
keanehan tingkah laku, ketidak mampuan untuk memenuhi tuntutan
masyarakat dan penurunan kinerja secara menyeluruh. (Dep.Kes.RI,
1993).

Skizofrenia simpleks yaitu skizofrenia yang sering timbul pertama


kali pada masa pubertas , yaitu pada awalnya penderita kurang
memperhatikan keluarganya atau mulai menarik diri dari pergaulan, makin
lama makin mundur dalam pekerjaan / pelajaran dan akhirnya menjadi
pengagguran dan bila tidak ada orang yang mendengarkan ia mungkin
akan menjadi pengemis, pelacur/penjahat (W.F.MARIMIS, 1998).

Skizofrenia simpleks yaitu gambaran khas skizofrenia kronik,


dapat dilihat pada banyak pasien baik yang berada didalam masyarakat
maupun yang sedang menjalani perawatan jangka lama dan biasanya
merupakan hasil akhir dari gejala gejala skizofrenia yang sebelumnya
telah berkembang penuh, tetapi dalam beberapa kasus, onsetnya sangat
pelan, sehingga pasien seolah-olah langsung tampil dalam keadaan cacat
(IM. Ingram, 1995).

Skizofrenia merupakan bentuk psikologis fungsional paling berat,


dan menimbulkan disorganisasi personalitas yang terbesar. Dalam kasus
berat, pasien tidak mempunyai kontak dengan realitas, sehingga pemikiran
dan perilakunya abnormal. Perjalanan penyakit ini secara bertahap akan
menuju kearah knonisitas, tetapi sekali-kali bisa timbul serangan. Jarang
bisa terjadi pemulihan sempurna dengan spontan dan jika tidak diobati
biasanya berakhir dengan personalitas yang rusak cacat.

B. ETIOLOGI
Adapun etiologi dari skizofrenia secara umum adalah :

1. Faktor Biologi
Genetika
Dibuktikan bahwa alat yang memiliki genetika yang tidak kebal
terhadap pertumbuhan skizofrenia. Persaudaraan daengan skizofrenia
memiliki kemungkinan terbesar dalam perkembangan skizofrenia
dalam masyarakat umum. Sedangkan resiko perkembangan skizofrenia
adalah 1% pada banyak masyarakat. (Gottesman, 1978).

2. Faktor Biokimia
Dopamin Hipotesis
Teori ini menyatakan bahwa skizofrenia dapat disebabkan oleh
kelebihan dopamin dependen pada aktivitas syaraf diotak
(Hollandsworth, 1990). Kelebihan aktivitas akan meningkatkan
produksi / substansi pada nervus terakhir, peningkatan reseptor
sensitivitas / mengurangi aktivitas dopamine antagonis (Birchwood et
al, 1982). Amfetamin telah ditemukan dapat meningkatkan jumlah
dopamin(Tsuang, 1982). Neuroseptic (Chlorpromazine dan
haloperidol) memperlambat jumlah dopamine otak dengan
mengendalikan reseptor dopamine sehingga dapat mengurangi gejala
skizofrenia dengan amfetamin.

3. Faktor Fisiologi
Inveksi virus
Stevent (1982),observasi perubahan degeneratif dengan neuron dan
peningkatan sel glial pada skizofrenik. Perubahan struktur ini sama
dengan karakteristik infeksi peradangan oleh virus encephalitis.

Abnormal Anatomi
Suatu penelitian menampilkan ukuran ventrikuler cerebral. Ia
membesar pada individu dengan skizofrenia. Skizofrenia cronik 35%
memiliki ukuran ventrikel > 2 standar deviasi. Dilarasi cortical
merupakan atropi otak (Wernberger dan Associaties, 1979).

4. Faktor Psikologika
Mahler dan Coworkers (1975) mendistribusikan fase penting pada saat
memisahkan individu (janin dan ibunya). Fase kedua (umur 1- 5 tahun)
yang dinamakan fase simbiotik. Anak dapat melihat sendiri
terpisahnya dari ibunya fixasi ini diimplikasikan sehingga
presdisposisi skizofrenia.
Ericson (1963) menggambarkan 8 tahap dari perubahan seseorang.
Perjuangan disaat yang penting,yaitu resolusi dari kontribusi untuk
pertumbuhan emosi. Pada tahap 1 dapat disebut dengan Trust vs
Midtrust, yaitu perkembangan kepercayaan figur ibu adlah rekan
interpersonal/temannya.

Bowen (1978) menggambarkan perkembangan skizofrenia


dikarenakan disfungsi sistem keluarga.
5. Faktor Lingkungan
Faktor sosiokultural
Data epidemiologi memperlihatkan skizofrenia terjadi pada individu
dengan sosial ekonomi rendah (Wiessma et al, 1983)

Kejadian stress pada hidup


Skizofrenia merupakan gangguan proses dalam berpikir.

C. TANDA DAN GEJALA

Gejala skizofrenia dapat dibagi menjadi 2 yaitu :

1. Gejala Primer
Gangguan proses pikiran (bentuk, langkah, dan pikir).
Ditandai oleh:
Menggunakan arti simbolik.
Terdapat association
Jalan pikiran tidak dapat dimengerti / inkoherensi
Terjadi bloking beberapa detik sampai beberapa hari
Ide yang satu belum selesai, muncul ide lain

Gangguan Afek dan Emosi


Dapat berupa :

Kedangkalan afek dan emosi (acuh tak acuh pada hal-hal yang
penting pada hidupnya)
Parathimi (susah pada hal yang seharusnya semang)
Paramimi (menangis pada hal yang seharusnya senang)
Emosi, afek dan ekspresinya tidak mengalami kesatuan.
Hilang kemampuan untuk mengadakan emosi yang baik.
Ambivalensi pada afek dua hal yang bertentangan berada pada satu
objek.
Gangguan Kemauan
Ditandai dengan :

Tidak dapat mengambil keputusan


Tidak dapat bertindak dalam satu keadaan
Melamun dalam jangka waktu yang lama
Negativisme : perbuatan yang berlawanan
dengan permintaan
Ambivalensi kemauan : menghendaki 2 hal yang
berlawanan pada waktu yang sama.
Otomatisme : merasa kemauannya dipengaruhi
oleh orang lain/tenaga dari luar sehingga dua berbuat otomatis.
Gangguan psikomotor
Stupor : bergerak dalam waktu lama
Hiperkinesa : terus bergerak dan tampak gelisah

Stretipi : berulang melakukan gerakan/sikap

Verbigerasi : stretipi pembicaraan

Katalepsi : posisi badan dipertahankan dalam waktu yang


lama.

Negatifisme : menentang/justru melakukan yang berlawanan


dengan apa yang disuruh

Echolalia : meniru kata kata orang lain

Echopraxia : meniru perbuatan orang lain

Manerisme : stereotopi tertentu pada skizofrenia, grimas pada


muka/keanehan berjalan dan gaya.

2. Gejala Sekunder
Waham/delusi
Suatu kepercayaan atau keyakinan yang salah karena bertentangan
dengan dunia realita. Menurut Townsend (1998) menyimpulkan
tentang waham yaitu suatu kelainan paranoid yang menunjukkan
gejala utama delusi minimal satu bulan sedangkan delusi yaitu
individu yakin bahwa apa yang dipikirkannya itu benar dan merasa
khawatir kalau orang lain tidak percaya apa yang diyakininya.

Halusinasi
Persepsi tanpa stimulus eksternal. Terdapat 4 tahapan yaitu :

a. Comforting
b. Condemming
c. Controlling
d. Concuering
Sedangkan tanda dan gejala skizofrenia simpleks adalah sebagai
berikut :

Afek yang menumpul


Hilangnya dorongan kehendak
Kemunduran social
Menjadi gelandangan
Emosi, gairah dan aktivitas terganggau
berkeinginan untuk berbaring, malas-malasan, jorok, tidur-tiduran,
jarang mandi, motorik lamban, dan jarang berbicara.
Sering berperilaku yang amoral, misalnya memaki-maki orang yang
sedang lewat, memainkan alat kelaminnya.
D. PSIKOFISIOLOGI
Faktor Biologis

Genetik Biokimia Faal Syaraf Anatomi Syaraf

Implikasi mutasi Genome menyaring Kehilangan GABA Peingkatan reseptor Proses eksoitatosik dan Abnomalitas neuron
DNA keselutuahn individu serotomi hambatan dan gugahan
pada kromosom otonomik tidak
seimbang
Peningkatan
Cedra otak berkaitan
aktivitas obat-obatan
Gangguan gerakan dengan waktu kelahitan
dopaminergic

Kelainan gen selama Gangguan kapabilitas


dalam kandungan Neurotrasmiter organisme
(gen abnormal) dopamin tidak Defisiensi stimulus
seimbang kognitif

Kelainan struktur Gangguan proses


Distorsi kognitif dan
otak/fungsi otot saat berfikir
perseptul individu
tumbang Ketidakmampuan
mempercayai organ lain
Perubahan persepsi
sensori
Gangguan proses Perubahan proses berfikir
berfikir dan
keyakinan yang aneh
Gambar. Psikofisiologi Skizofrenia
(Sumber : Wiramihardja, Sutardjo A, 2005)
E. PSIKOPATOLOGI

Teori Psikososial

Teori sistem keluarga Teori interpersonal Teori psikodinamik

Masalah dalam keluarga Kecemasan yang tinggi antara Psikosis hasil dari ego
(Khususnya dengan orang tua) hubungan orang tua lemah

Anak Anak tidak bisa menerima Perkembangan terhambat


Pesan karena yang mempengaruhi antara
Membingungkan orang tua dan anak

Disfungsi sistem keluarga Tidak percaya pada orang Ansiotas


lain

Koping individu tidak Menarik diri Panik


Aktif

Mekanisme pertahanan ego


Gang konsep diri/ mal adaptif

Menarik diri

Isolasi sosial

Gambar : Psikopatologi Skizofrenia


(sumber : Townsend , Mary C, 1998)
F. PROSES KEPERAWATAN

Pengkajian

Pengkajian dilakukan dengan wawancara dan observasi kepada klien dan


keluarga yang mengantarkan. Pengkajian pertama kali dilakukan secara lengkap
guna menggali informasi yang dibutuhkan untuk melakukan tindakan dan terapi
guna kesembuhan klien. Beberapa poin yang harus dikaji dari klien adalah :

a. Identitas, meliputi :
Nama

Umur

Jenis Kelamin

Alamat

Pekerjaan

Yang bertanggung jawab

b. Alasan masuk, pertanyaan meliputi :


Penyebab klien masuk RS

c. Usaha yang sudah dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut dan


hasilnya.Faktor Predisposisi, meliputi :
Riwayat penyakit keluarga

Riwayat trauma yang pernah dialami

Masalah keperawatan yang muncul

d. Faktor fisik meliputi sistem dan sistem organ antara lain :


TTV terdiri dari TD, nadi, suhu, pernapasan

Tinggi dab BB

Keluhan fisik
Masalah keperawatan

e. Faktor Psikososial, meliputi:


Genogram
Menggambarkan hubungan klien dengan keluarga minimal 3 generasi
ke atasnya.

Masalah keperawatan yang muncul.

Konsep Diri
Gambaran diri

Identitas diri

Peran diri

Ideal diri

Harga diri

G. DAFTAR DIAGNOSA

Isolasi sosial b.d tidak percaya, perkembangan ego yang lemah, afet
tidak jelas.
Perubahan proses piker b.d ketidakmampuan untuk percaya orang lain,
panik, cemas.
Gangguan komunikasi verbal b.d panik, kekacauan, pikiran yang tidak
nyata
Perubahan persepsi sensorik (pendengaran atau penglihatan) b.d
distorsi kognitif dan perceptual individu panik, stress berat.
Komponen individu tidak efektif b.d fungsi system keluarga berfokus
pada ansietas.
H. INTERVENSI

Nama DIAGNOSA PERENCANAAN RASIONAL


KEPERAWATAN

No Hari/tgl TUJUAN & KRITERIA HASIL TINDAKAN KEPERAWATAN

1 Isolasi sosial b.d Tujuan Jangka Pendek : Atur setiap hari untuk menyusun struktur menolong klien
tidak percaya, rencana waktu berinteraksi dan mengatur waktu untuk
Pasien siap masuk dalam
perkembangan ego beraktivitas dengan klien. berinteraksi dengan yang lain
terapi aktivitas ditemani oleh
yang lemah, afet dan mengatakan bahwa
seorang perawat yang
tidak jelas. partisipasi klien diharapkan
dipercayanya dalam 1
dan anggota yang berguna
minggu.
dalam komunitas.
Identifikasi faktor signifikasi
Tujuan Jangka Panjang :
supprt individu klien dan jaringan pendukung yang kuat
Pasien dapat secara sukarela mendorong mereka untuk menambah kontak sosial,
meluangkan waktu bersama berinteraksi dengan klien. meningkatkan harga diri dan
pasien lain dan perawat dalam Percakapan ditelpon, beraktifitas memfasilitasi hubungan
aktivitas kelompok di unit dan mengunjunginya. yangpositif.
rawat inap.
klien kadang memilih un tuk
Bantu klien membedakan antara menyendiri diwktu yang tepat
isolasi dan hasrat untuk dan seharusnya diberi
KH :
menyendiri. kesempatan untuk itu.
Klien dapat
Berbagi atau kesukaan yang
mendemonstrasikan keinginan
sama meningkatkan
dan hasrat untuk bersosialisasi Bantu klien menemukan klien lain
kenyamanan bersosialisasi
dengan orang lain. untuk isolasi dengan orang yang
apalagi jika dilakukan
memilikikesukaan sama.
Klien dapat mengikuti berulang kali.
aktivitas kelompok tanpa perlihatkan sikap menerima
sikap menerima dari orang
disuruh. dengan cara melakukan kontak
lain akan meningkatkan harga
yang sering tapi singkat.
Pasien melakukan pendekatan diri klien dan memfasilitasi
interaksi satu satu dengan ras percaya pada orang lain.
orang lain dengan cara yang
perlihatkan penguatan positif Hal ini akan membuat pasien
sesuai/dapat diterima.
kepada klien untuk merasa menjadi kehadiran
memperlihatkan dukungan selama seseorang yang dipercayai
aktivitas kelompok yang mungkin akan memberikan ras aman
merupakan hal yang menakutkan kepada klien.
atau sukar untuk pasien.
2. Perubahan proses Tujuan Jangka Pendek : kaji tingkat kecemasan, gunakan kecemasan dapat ditularkan
piker b.d strategi mengendalikan dan klien psikosis sangat
Pasien dapat mengetahui dan
ketidakmampuan kecemasan sampai level yang sensitive terhadap rangsang
mengatakan bahwa ide-ide
untuk percaya dapat ditoleransi. eksterna.
yang salah itu terjadi
orang lain, panik,
khususnya pada saat ansietas datangi klien dengan tenang dan Kunjungan yang tenang
cemas.
meningkat dalam 2 minggu tidak berangan-angan. membantu untuk memulihkan
persepsi sensori klien dapat
Tujuan jangka Panjang : tunjukan bahwa anda menerima
menghambat gangguan proses
keyakinan klien yang salah,
Tergantung pada proses dan persepsi.
sementara itu biarkan pasien tau
kekronia penyakit.
bahwa perawat tidak mendukung Penting untuk dikomunikasikan
keyakinan tersebut. kepada klien bahwa perawat
tidak menerima delusi sebagai
KH : Jangan membantah atau
realita.
menyangkal keyakinan klien,
1. Menggunakan secara
gunakan teknik keraguan yang Penting untuk dikomunikasikan
verbal reflek diproses,
beralasan sebagai teknik kepada klien bahwa perawat
piker yang berorientasi
terapeutik. tidak menerima delusi sebagai
kepada klien.
realita.
2. pasien dapat Bantu klien menghubungkan
mempertahankan aktivitas keyakinan yang salah tersebut Membantah keyakinan klien
sehari-hari yang mampu dengan peningkatan dukungan tidak akan bermanfaat apa-
dilakukan olehnya. dengan ansiestas yang dirasakan. apa, tidak dapat dikurani
3. pasien mampu menahan dengan pendekatan ini dan
Bantu dan dukung klien dalam
diri berespon terhadap mungkin akan menghalangi
usaha untuk mengungkapkan
pikiran-pikiran delusi, bila perkembangan hubungan
secara verbal perasaan ansietas,
pikiran tersebut muncul. saling percaya.
takut, panik.
Jika klien dapat belajar untuk
menghentikan ansietas yang
meningkat pikiran menarik
diri mungkin dapat dicegah.

Ungkapkan perasaan secara


verbal dalam lingkungan yang
tidak mengancam akan
menolong klien untuk
mengungkapkan perasaannya
yang mungkin sudah
terpendam sejak lama.

3. Gangguan Tujuan Jangka Pendek : Penuhi kebutuhan klien sampai Kebutuhan klien dapat
komunikasi verbal pola komunikasi fungsional terpenuhi.
Klien dapat berkomunikasi
b.d panik, kembali.
secara lancar, baik dan
kekacauan, pikiran
komperehensif sehingga dapat
yang tidak nyata.
mengungkapkan perasaan
Orientasikan klien pada kenyataan
yang dialaminya saat ini klien dapat focus selama
selama diperlakukan, panggil
kepada perawat. berkomunikasi dengan
klien dengan namanya.
perawat.
Tujuan Jangka Panjang :

Klien dapat membedakan


Validasikan aspek komunikasi
antara yang nyata dan tidak
sehingga dapat membantu
nyata klien dapat
membedakan yang nyata dan
berkomunikasi dengan pasien
tidak nyata.
lain.

KH :

Klien dapat berkomunikasi


baik dengan pasien lain
maupun dengan perawat.

Klien dapat membedakan


antara yang nyata dan tidak
nyata.

Mempertahankan rentang
cemas pasien sehingga tidak
berubah menjadi panik.

4. Perubahan persepsi Tujuan Jangka Pendek : Membina hubungan saling Klien harus mempercayai
sensorik percaya. perawat sebelim
Pasien dapat mendiskusikan isi
(pendengaran atau membicarakan tentang
hulusinasinya dengan perawatan
penglihatan) b.d halusinasi / perubahan
dalam 1 minggu.
distorsi kognitif dan persepsi sensori lain.
perceptual individu Tujuan Jangka Panjang :
Menggunakan nama klien.
panik, stress berat.
Pasien dapat mendiskusikan dan Perawat yang benar dapat
memeriksa realitas, mengurangi mengembalikan pada realitas
terjadinya halusinasi. dan mengurangi pengaruh
Panggil klien, perawat klien lain halusinasi.
dengan namanya.
KH : Karena kesalahan paham.

Pasien dapat mengatakan tanda- Memvokuskan aktivitas,


tanda peningkatan ansietas dan membantu untuk
menggunakan teknik-teknik mengembalikan klien dari
tertentu untuk memutuskan pengalaman halusinasi.
ansietas tersebut.
Pengurangan rasa takut baik
untuk membuat kepercayaan
klien terhadap lingkungan dan
Gunakan pernyatan yang jelas dan
merasa aman.
nyata.
Intervensi akan mencegah
Bantu klien untuk focus pada
respon agresif yang diperintah
aktivitas nyata dilingkungannya.
dari halusinasi.
Tenangkan klien bahwa klien
Pasien dapat saja mengertikan
aman dan tidak akan terancam
sentuhan sebagai ancaman
bahaya.
dan berspon dengan agresif.
Observasi perilaku verbal dan
nonverbal yang berhubungan Jika pasien dapat belajar
dengan halusinasi. untuk menghentikan
penungkatan ansietas,
Hindari menyentuh klien sebelum
halusinasi dapat dicegah.
perawat mengisyaratkan kepada
klien bahwa perawat tidak apa-
apa bila memperlukan seperti itu.

Coba untuk menghubungkan


waktu kejadian ansietas, Bantu
klien untuk mengerti hubungan
ini.

5. Komponen individu Tujuan Jangka Pendek : Dorong perawat yang sama untuk Untuk memudahkan
tidak efektif b.d bekerja sama dengan pasien perkembangan hubungan
Pasien akan membangunan rasa
fungsi system sebanyak mungkin. saling percaya.
percaya kepada 1 orang perawat
keluarga berfokus
dalam 1 minggu. Hindari kontak fisik. Pasien yamg curiga mungkin
pada ansietas.
mengertikan sentuhan sebagai
Tujuan Jangka Panjang : Hindari tertawa, berbisik- bisik,
bahasa tubuh yang
bicara pelan didekat pasien
Pasien dapat mendenontrasikan mengisyaratkan ancaman.
sehingga pasien dapat melihat
lebih banyak penggumuman namun tidak mendengar apa yang Pasien curiga sekali yakin
ketrampilan koping adaptif yang dibicarakan. bahwa orang lain sedang
dibuktikan antara interaksi dan membicarakan dirinya dan
keinginan untuk berpartisipasi sikap yang serba rahasia akan
dalam masyarakat. mendukung munculnya rasa
curiga.
KH :

Pasien dapat menilai secara


realitas dan tidak melakukan
tindakan proyeksi perasaan
dalam lingkungan tersebut.
Kejujuran rasa membutuhkan
Pasien dapat mengukur dan
orang lain akan mendukung
mengklarifikasi kemungkinan
Jujur dan selalu tepat janji. munculnya suatu hubungan
salah interpretasi terhadap
saling percaya.
perilaku dan perkataan orang
lain.

Pasien makan-makanan dari Pasien juga sering yakin


piring rumah sakit dan minum bahwa mereka akan diracuni
obat tanpa memperhatikan tidak sehingga pasien menolak
percaya. makanan yang disiapkan.
Kemungkinan besar dibutuhkan
Pasien dapat berinteraksi secara pendekatan yang kreatif untuk Untuk menyaksikan bahwa
tepat / sesuai dari koperatif mendukung masukan makanan. pasien telah minum obatnya
dengan perawat dan rekan- dan tidak mencoba
Periksa mulut pasien setelah
rekannya. membuang pil-pil tersebut.
minum obat.
Kegiatan kompetitif
Jangan berikan kegietan yang
merupakan kegiatan yang
bersifat kompetitif. Kegiatan yang
sangat mengancam pasien-
mendukung adanya hubungan
pasien curiga.
interpersonal dengan perawat atau
terapis adalah kegiatan yang Mengungkapkan perasaan
terbaik. secara verbal dalam suatu
lingkingan yang tidak
Motivasi pasien untuk mengatakan
mengancam akan menolong
perasaan yang sebenarnya. Perwat
pasien untuk sampai kepada
harus menghindari sikap
saat tertentu dimana pasien
penolakan terhadap perasaan
dapat mencurahkan perasaan
marah yang ditunjukan pasien
langsung kepada diri perawat. yang telah lama terpendam.

Pasien curiga tidak memiliki


kemampuan untuk
berhubungan dengan sikap
yang bersahabat atau yang
curiga sekali.
Sikap asetif, sesuai kenyataan,
pendekatan yang bersahabat akan
menjadi hal yang tidak
mengancam pasien yang curiga.
KESIMPULAN

1. Skizofrenia merupakan bentuk psikosis yang paling berat dan menimbulkan


disorganisasi personalitas terbesar (M.Ingram, 1995).
2. Skizofrenia simpleks yaitu suatu kelainan yang tidak lazim dimana ada
perkembangan yang bersifat perlahan tetap progresif mengenai keanehan
tingkah laku, ketidakmampuan untuk memenuhi tuntutan masyarakat dan
penurunan kinerja secara menyeluruh.
3. Etiologi Skizofrenia Simpleks adalah :
a. Disorientasi usia
b. Penumpukan kerusakan cerebrum
c. Dilatasi ventrikel cerebrum
d. Hereditas
e. Lingkungan
f. Emosi yang diekspresikan
g. Tubuh yang astenik
h. Definisi serotonin
i. Over aktivitas dopamine
4. Tanda dan Gejala Skizofrenia Simpleks
a. Afek yang menumpul
b. Hilangnya dorongan kehendak
c. Kemunduran social
d. Gelandangan
e. Malas malasan
f. Pendiam
g. Tanpa tujuan
5. Diognosa Keputusan yang muncul pada skizofrenia simpleks simpleks adalah :
a. Isolasi social b.d tidak percaya, perkembangan ego yang lemah, afek tidak
jelas.
b. Perubahan proses piker b.d ketidakmampuan untuk percaya orang lain.
c. Komunikasi verbal yang lemah b.d panic, cemas, kekacauan, pikiran tidak
nyata.
d. Perubahan persepsi sensorik b.d distorsi kognitif dan perspektual, panik,
stress berat.
e. Koping individu tidak efekftif b.d disfungsi system keluarga berfokus pada
ansietas.
DAFTAR PUSTAKA

Ingram, I.M. 1995. Catatan Kuliah. Psikiatri. Edisi 6. Jakarta. EGC.

Schulfz, Judith M. 1998. Psychiatric Nursing Care Plans. Philadelpia. Lippincot.

Sena. 2006, Pengaruh Pendidikan Kesehatan Jiwa Terhadap Kepatuhan Minum


Obat Pada Klien Skizofrenia Di Rumah Sakit Jiwa Dr. Raden Mas
Soedjarwadi Klaten, Skripsi, tidak di terbitkan, Surakarta, UMS

Townsend of Care C.1996. Psychiatric Mental Health Nursing Concepts of Care.


Philadelphia. Library of Congres.

WHO. 1993. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di


Indonesia III. Departemen Kesehatan RI.

Witojo, Djoko. 2006, Pengaruh Komunikasi Terapeutik Terhadap Perubahan


Perilaku Kekerasan Pada Pasien Skizofrenia Di Rumah Sakit Jiwa
Daerah Surakarta. Skripsi tidak diterbitkan, Surakarta. UMS.
SKIZOFRENIA TIPE AFEKTIF

A. Definisi
Pengertian skizoafektif mengalami perkembangan dari waktu ke waktu
sejalan dengan perkembangan psikiatri sendiri. Menurut Benedict A. Marel
menggunakan istilah demensi precoce untuk pasien gangguan jiwa yang
penyakitnya dimulai pada waktu remaja. Eugen Bleuler, mengajukan istilah
skizofrenia yang menggantikan istilah demensia precox didalam literature.
Istilah ini untuk menandai adanya perpecahan antara pikiran, emosi dan perilaku
pada pasien yang terkena. Adapun beberapa teori yang turut mempengaruhi
perkembangan pemgertian skizofrenia antara lain :

1. Adolf Meyer percaya bahwa skizofrenia dan gangguan mental lainnya


adalah reaksi terhadap stres kehidupan.
2. HS Sullivan menekankan isolasi sosial sebagai penyebab dan gejala
skizofrenia dan sebagainya
Skizofrenia merupakan sebuah penyakit kekacauan jiwa adalah satu dari
banyak penyakit mental yang berat dan berlangsung terus menerus. Dalam
beberapa tipe dari skizofrenia, gejala yang mungkin terjadi berupa keanehan atau
keganjilan dan menakutkan bagi klien dan orang yang menyaksikan. Adapun
beberapa type skizofrenia adalah a) skizofrenia simpleks, b) skizofrenia
hebefrenik, c) skizofrenia katatonik, d) skizofrenia paranoid, e) skizo-afektif.

Skizoafektif adalah

- Gangguan jiwa afektif adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan adanya
gangguan emosi (afektif) sehingga segala perilaku diwarnai oleh
ketergantungan keadaan emosi.
- Periode penyakit yang terputus termasuk episode depresif mayor atau
episodemanik yang bersamaan dengan gejala skizofrenia (Gail W. Stuar,
2007).
- Gangguan yang terdapat pada efek, emosi dan sesudah serangan terjadi
kekambuhan penuh, terutama pada psikosa manik-depresik (WF. Maramis,
1995).
- Gangguan jiwa yang ditandai dengan adanya gangguan emosi (afektif)
sehingga segala perilaku diwarnai oleh ketergantungan keadaan emosi
(Drs. H. Zainuddin Sri Kuntjoro, M. Ps, 2002).

B. Etilogi
1. Data genetik
Seseorang menderita skizofrenia jika anggota keluarga lainnya juga
menderita skizofrenia dan kemungkinan seseorang menderita skizofrenia adalah
hubungan dengan dekatnya hubungan peraudaraan tersebut (ex: sanak saudara
derajat pertama atau derajat kedua). Pada hubungan antara tempat kromosom
telah dilaporkan, lebih dari setengah kromosom telah dihubungkan dengan
skizofrenia.

2. Faktor biokimia
Faktor biokimia terdiri dari aktifitas dopamin dimana skizofrenia
disebabkan dari terlalu banyaknya aktifitas dopaminergik. Neuron dopaminergik
dalam jalur mesokortial dan jalur mesolumbik berjalan dari badan selnya diotak
tengah ke neuron dopaminoseptik disistem limbic dan kortek serebral. Peran
penting dopamine adalah konsisten dengan penelitian yang telah mengukur
plasma metabolit dopamine utama, yaitu homofanilic acid. Dalam kondisi
eksperimental yang terkontrol cermat, konsentrasi homofanilic acid dalam system
saraf pusat.

C. Tanda dan Gejala


Terjadi waham atau halunasi selama paling sedikit dia minggu tanpa
gejala, alam perasaan yang menonjol. Gangguan skizoafektif dibedakan Menjadi
2:

1. Melankolia involusi
Tanda dan gejalanya antara lain: beberapa minggu sampai beberapa bulan
permulaan penderita cenderung menjadi hipokondrik, lekas marah, pesimis, ia
mengeluh tentang insomnia dan mulai tidak suka bekerja serta sering menangis. Ia
ragu-ragu dan tidak dapat mengambil keputusan, lapangan minatnya menyempit
dan dan ia menarik diri dari kehidupan sosial.

Bila penyakit sudah jelas, maka timbul depresi hebat, kecemasan, agitasi,
hipokindriasis dan waham dosa, waham penyakit dan rasa akan mati akan mati
sampai dengan waham nihilistik, sering keluar ucapan yang menyatakan
keputusannya.

2. Psikoza manik depresif


Kadang-kadang timbul satu atau dua kali serarangan saja seumur hidup
orang lain. Interval antara dua fase tidak tentu lamanya, kadang-kadang lama,
tetapi kadang-kadang tidak ada sama sekali.

Ada dua jenis psikoza manik-depresif:

a. Jenis mania
Tanda dan gejala

1) Gangguan emosi : penderita merasa sangat senang dan


optimistik. Terlalu percaya diri. Setiap usaha dan pekerjaan
dianggap enteng, kadang-kadang percaya diri. Setiap usaha dan
pekerjaan enteng kadang-kadang disertai halusinasi dan waham
kebesaran.
2) Aktivitas yang berlebihan : penderita sangat gelisah,
tidak dapat duduk diam dan tinggal ditempat tidur, sangat boros,
terus berbicara dan menyanyi-nyanyi,sering berbicara dengan kata
yang tidak sopan, tidak mau makan, tidak bisa tidur, tidak merasa
lelah akibat kegelisahan yang tinggi sehingga timbul bahaya
dehidrasi dan kolaps.
3) Gangguan proses berfikir : dalam keadaan mania arus pikiran
menjadi cepat, pikiran melayang, dan asosiasi bunyi. Perhatian
sangat terganggu, mudah tertarik pada hal-hal lain. Halusinasi
mungkin tumbul tetapi jarang, sering timbul ilusi, waham sering
berupa waham kebesaran dan tidak simetris.
b. Jenis depresif
1) Gangguan emosi : tampak selalu lelah dan kawatir.
Penderita merasa tidak mampu menyelesaikan atau melakukan
sesuatu. Segala masalah ditinjau secara pesimistik. Ia merasa
sangat rendah diri, kadang-kadang rasa rendah sedih yang
berlebihan sehingga putus asa dan timbul bahaya bunuh diri.
Keinginan bunuh diri sering dilakukan dengan sungguh-sungguh
dan direncanakan secara matang. Terkadang ia membunuh
keluarganya lebih dulu dengan maksud hendak memebebaskan
mereka dari penderitaan.
2) Penghambatan aktivitas : dapat dilihat dari roman muka dengan
lipatan didahi dan disudut mata. Gerakan berkurang dan menjadi
sangat lambat. Penderita menghindari pergaulan teman-temannya.
Pada penderita wanita sering tidak dapat menyelesaikan pekerjaan
rumah tangga pada waktunya. Ia kurang memperhatikan dirinya
sendiri.
3) Gangguan proses berfikir: arus pikiran tidak lancar lagi seperti
biasa. Kemampuan untuk mengutarakan isi hati berkurang.
Penderita tidak sanggup mengambil keputusan, selain itu penderita
menjadi cemas dan takut. Halusinasi jarang timbul lebih sering
ilusi.
4) Keluhan badaniah yang menyertai adalah : rasa lelah, perasaan
tertekan pada kepala dan dada, kedua tingkau berat sekali, sukar
tidur, nafsu makan berkurang, obstipasi, pada wanita haid
terganggu dan pada pria terjadi impotensi.
c. Jenis sirkular
Pada jenis ini terdapat episode mania dan depresi berganti-ganti,
diselingi oleh suatu interval yang normal. Diagnosa dari interval ini harus
kurang dari 12 bulan, bula lebih maka didiagnosa sebagai jenis mania atau
jenis depresi sendiri-sendiri.
RENTANG RESPON EMOSIONAL

Jika memandang ekspresi emosi dalam suatu rentang sehat sakit akan
tampak beberapa parameter yang relevan.

1. Respon emosional termasuk dipengaruhi oleh dan beperan aktif dalam dunia
internal dan eksternal seseorang. Tersirat bahwa orang tersebut terbuka dan
sadar akan perasaan sendiri.
2. Reaksi berduka takterkomplikasi terjadi sebagai respons terhadap kehilangan
tersirat bahwa seseorang sedang menghadapi suatu kehilangan yang nyata
serta terbenam dalam proses berdukanya.
3. Supremasi emosi mungkin tampak sebagai penyangkalan (denial) terhadap
peraasan sendiri, terlepas dari perasaan tersebut, atau internalisasi terhadap
semua aspek dari dunia afektif seseorang.
4. Penundaan reaksi berduka adalah ketiadaan yang persisten respon emosional
terhadap kehilangan. Ini dapat terjadi pada awal pross berkabung, dan menjadi
nyata pada proses berduka, atau keduanya. Penundaan dan penolakan proses
berduka kadang terjadi bertahun adalah ketiadaan yang persisten respon
emosional terhadap kehilangan. Ini dapat terjadi pada awal proses berkabung,
dan menjadi nyata pada proses berduka, atau keduanya. Penundaan dan
penolakan proses berduka kadang terjadi bertahun-tahun.
5. Depresi atau melankolia adalah suatu kesedihan dan perasaan duka yang
berpekanjangan atau abnormal. Dapat digunakan untuk menunjukkan berbagai
fenomena, seperti tanda, gejala, sindrom, keadaan emosional, reaksi, penyakit
atau intitas klinik.
6. Mania ditandai dengan alam perasaan yang meningkat, bersemangat, atau
mudah terganggu. Hipomania digunakan untuk menggambarkan sindrom
klinis serupa, tetapi tidak separah mania atau episode manik.
D. Psikofisiologi

RENTANG RESPON EMOSIONAL

Respon Adaptif Respon maladaptif

respon reaksi beruka tak supresi penundaan depresi/mania


emosional terkomplikasi emosi reaksi berduka

Skizofrenia

Genetika Neurologis Biokimia

otak
Implikasi mutasi DNA Trauma Peningkatan reseptor
oleh trinukleat > 1 serotonin

Kelainan struktur & Gangguan gerakan


Pengurangan ukuran
fungsi otak saat
system libie (daerah
tumbuh kembang
amihdala, hipokampus, Resiko
girus hipokampus) mencedarai diri
Tingkat II (kakek,
Deficit lobus di Penurunan pusat
nenek, paman, bibi,
garis depan control emosi
keponakan)

Tingkat I (orang tua, Gangguan transfer Paramimi,


saudara) dan control asosiasi, parathimi, emosi
memori, bahasa, berlebih
suara
Resiko mencederai
Apatis diri sendiri dan
orang lain
Isolasi social Menarik diri
E. Psikopatologi

Skizofrenia

Faktor eksternal

Keluarga Sosiokultural Lingkungan

Konflik keluarga Pernikahan lintas Tuntutan hidup


budaya

Tumbang anak tidak Perbedaan adat Stressor ekonomi


optimal istiadat dan
kebiasaan

Anak merasa tidak Kebutuhan hidup


diperhatikan Konflik hubungan meningkat pendapatan
tidak mencukupi

Menarik diri Stressor


Dikucilkan oleh
masyarakat

Pendapat tidak
dihargai
Isolasi sosial

Resiko perilaku
kekerasan

Sumber: Gail W. Stuart, 2007


F. Proses keperawatan
1. Pengkajian
a. Identitas
- Nama
- Umur
- Jenis kelamin
- Alamat
- Pekerjaan
b. Alasan masuk
c. Riwayat penyakit dahulu
- Riwayat penyakit sekarang
- Riwayat penyakit keluarga
d. Faktor fisik
- TTV
- Berat badan
- Tinggi badan
- Keluhan fisik
e. Faktor psikososial
- Konsep diri
- Hubungan social
- Spiritual
f. Status mental
g. Kebutuhan persiapan pulang
h. Mekanisme koping
i. Masalah psikososial dan lingkungan
j. Pengetahuan
k. Aspek medis
l. Daftar masalah keperawatan
m. Daftar diagnosa keperawatan
G. Diagnosa Keperawatan, Rencana Keperawatan dan Rasional
Nama Diagnosa Perencanaan
Rasional
No Hari/Tgl Keperawatan Tujuan & Kriteria hasil Tindak Keperawatan

1 Isolasi sosial b/d TUPEN : Bantu pasien untuk Dengan mengetahui apa yang
perilaku sosial membedakan antara persepsi dirasakan klien perawat dapat
Klien dapat mengidentifikasi dan
tidak diterima. dengan kenyataan. membantu klien untuk membedakan
menerima karakteristik pribadi
antara persepsinya dengan kenyataan
atau perilaku yang berpengaruh
yang ada.
pada isolasi social.
Jaringan pendukung yang kuat
TUPAN :
Identifikasi dengan pasien menambah kontak sosial klien
Mengidentifikasi sumber-sumber factor-faktor yang mempertinggi kemampuan sosial,
di komunitas yang akan membantu berpengaruh pada perasaan meningkatkan harga diri dan fasiltasi
mengurangi isolasi social setelah isolasi sosial. hubungan yang positif.
pemulangan.
Struktur menolong klien mengatur
waktu untuk berinteraksi dengan yang
Kurangi stigma isolasi dengan
lain dan mengatakan bahwa partisipasi
menghormati martabat pasien.
klien diharapkan dan anggota yang
berguna dalam komunitas.

Klien kadang memilih untuk


menyendiri diwaktu yang tepat dan
seharusnya diberi kesempatan untuk
itu.

Kurangi ansietas pengunjung Berbagai atau kesukaan yang sama


dengan menjelaskan alasan meningkatkan kenyamanan
untuk kewaspadaan isolasi bersosialisasi apalagi jika dilakukan
dan/ perawatan. berulang kali.

Dukung usaha-usaha yang Sikap menerima orang lain akan


dilakukan pasien, keluarga meningkatkan harga diri kklien dan
dan teman-teman untuk memfasilitasi rasa percaya pada orng
berinteraksi. lain.

Dukung hubungan dengan Hal ini akan membuat pasien merasa


orang lain yang mempuyai menjadi seseorang yang berguna.
ketertarikan dan tujuan yang
Kehadiran seseorang akan
sama.
Temani klien untuk memberikan rasa aman kepada klien.
memperlihatkan dukungan
selama aktivitas kelompok
yang mungkin merupakan hal
yang menakutkan atau sulit
bagi klien.

2 Resiko TUPEN : Berikan jaminan kembali Keamanan klien merupakan prioritas


kekerasan kepada pasien bahwa anda keperawatan.
Mengindentifikasi perasaan atau
terhadap diri akan melindunginyaterhadap
perilaku yang mengarah pada
sendiri dan orang impuls bunuh diri.
tindakan impulsif.
lain b.d status
Mendiskusikan dengan pasien
emosional. TUPAN :
atau keluarga peran dari Untuk meminimalkan resiko
Kemampuan untuk menahan marah terhadap sesuatu yang menyakiti dirinya sendiri.
perilaku kompulsif atau impulsif. membahayakan dirinya.

Mengungkapkan secara verbal Mendukung pasien untuk


tentang pengendalian terhadap mengungkapkan marah secara
impuls. verbal. Untuk mengontrol agar klien tidak
menyakiti dirinya sendiri dan orang di
Gunakan pendekatan yang sekitarnya.
meyakinkan dan tenang.
Untuk mengontrol emosi klien agar
klien dapat merasa nyaman dan
tenang.
Beri dorongan kepada pasien
untuk mencari bantuan dari Latihan fisik adalah cara yang aman
staf perawat atau orang lain dan efektif untuk menghilangkan
yang bertanggung jawab ketegangan yang terpendam.
selama periode peningkatan
ketegangan.

Cegah bahaya fisik jika marah


di arahkan pada diri sendiri
( misalnya restrein dan
Untuk meminimalkan resiko
menjauhkan benda yang
menciderai diri sendiri dan orang lain.
kemungkinan di jadikan
senjata).

Tempatkan pasien dalam


lingkungan yang sedikit
dibatasi yang memungkinkan
pengamatan pada tingkat yang
di harapakan.
Untuk memudahkan perawat
memberikan intervensi yang tepat dan
dapat segera diberikan dan untuk
selalu memastikan bahwa klien berada
dalam keadaan aman.

3. Harga diri rendah TUPEN : Bantu klien untuk Untuk menumbuhkan rasa percaya
situasional b.d mengidentifikasi respon diri dan menumbuhkan respon positif
Mengungkapkan penerimaan diri
gambaran diri. positif terhadap orang lain. terhadap orang lain dan lingkngan
secara verbal.
sekitar.
TUPAN :
Klarifikasi menghindari
Hindari tindakan yang dapat
Menerima kritikan dari orang lain. kesalahpahaman terhadap apa yang di
melemahkan klien.
sampaikan klien.
Peningkatkan harga diri.
Agar klien dapat termotivasi dalam
Berikan penghargaan atau melakukan tindakan yang positif.
pujian terhadap perkembangan
klien dalam pencapaian
tujuan.

Fasilitas lingkungan dan


Untuk menumbuhkan rasa percaya
aktivitas yang dapat
diri klien.
meningkatkan harga diri.

4. Kurangnya TUPEN : Kaji kemampuan untuk Untuk mengetahui tingkat


perawatan diri mengunakan alat bantu. kemampuan klien menggunakan alat
Klien mau menerima bantuan atau
mandi b.d bantu.
perawatan dari perawat.
penurunan
Agar klien dapat melakukan personal
motivasi mandi. TUPAN : Dukung kemandirian dalam
hygiene secara mandiri.
melakukan mandi dan
Klien mampu mempertahankan
hygiene.
kebersihan dan perawatan diri
mandi.
DAFTAR PUSTAKA

Generald, C. Davidson. 2004. Abnormal Psikologi. California : University of


Southern.

Schultz, Judith. M dan Sheila Clark Videkeck. 1998. Psichiatric Nursing Care
Plane. Philadelphia New York : Lipuicolt

Stuart, Gail. W. 2006. Buku Saku Keperawatan Jiwa Edisi 5. Jakarta : EGC.
SKIZOFRENIA KATATONIK

A.DEFINISI

Skizofrenia katatonik adalah gangguan psikomotor yang menonjol


merupakan gambaran yang esensial dan dominan dan dapat bervariasi antara
kondisi ekstrem seperti hiperkinesis dan stupor atau antara sifat penurut yang
otomatis dan negativisme. Sikap dan posisi tubuh yang di paksakan ( constained )
dapat di pertahankan dalam jangka waktu yang lama. Episode kegelisahan disertai
kekerasan ( violent) mungkin merupakan gambaran keadaan skizofrenia yang
mencolok.

(DepKes,1993)

Skizofrenia katatonik adalah kelainan gerakan mungkin timbul dalam


bentuk kekakuan,gerakan yang kurang terkoordinasi serta gaya
berjalan,menyeringai,sikap dan dalam kasus ekstrem, fleksibilitas serea
(mempertahankan posisi badan yang dibuat padanya oleh orang lain) dan
ekopraksia (mengikuti perbuatan orang lain).

(Ingram. Dkk, 1955)

Skizofrenia katatonik adalah salah satu dari jenis gangguan. Skizofrenia


yang timbul secara tiba-tiba umumnya penderita memiliki riwayat bertingkah laku
eksentrik disertai kecenderungan menarik diri dari realitas. ( Supratiknya, 1995)

B.TANDA DAN GEJALA

Jenis katatonik ini, timbul pertama kali antara umur 15-30 tahun, dan
biasanya akut serta sering di dahului oleh stress emosional. Mungkin terjadi gaduh
gelisah katatonik /stupor katatonik.
1. Stupor katatonik
Penderita tidak menunjukan perhatian sama sekali terhadap
lingkungannya.

Emosi yang dangkal.

Gejala yang penting ialah gejala psikomotor,seperti :

Mutisme, kadang-kadang dengan mata tertutup.


Muka tanpa mimic, seperti topeng.
Stupor, penderita tidak bergerak sama sekali dalam waktu yang
lama.
Negativism, bila dig anti posisinya penderita menentang.
Terdapat grimas dan katalepsi.
2. Gaduh-gelisah katatonik
Terdapat hiper aktivitas motorik, tetapi tidak di sertai dengan emosi yang
semestinya dan tidak di pengaruhioleh rangsangn dari luar.

C. ETIOLOGI

Pada umumnya skizofrenia katatonik muncul disebabkan oleh hal-hal


berikut ini :

1. Lebih dari separuh dari jumlah penderita skizofrenia mempunyai keluarga


psikosis atau sakit mental.
2. Sebab-sebab organis: ada perubahan atau kerusakkan pada sistem syaraf
sentral. Juga terdapat gangguan-gangguan pada sistem kelenjar-kelenjar
adrenalin dan piluitari (kelenjar dibawah otak). Kadang kala kelenjar
thyroid dan kelenjar adrenal mengalami atrofi berat. Dapat juga
disebabkan oleh proses klimakterik dan gangguan menstruasi. Semua
ganguan tadi menyebabkan degenerasi pada energi fisik dan energi
mentalnya.
3. Sebab-sebab psikologik, misalnya gangguan suasana perasaan ( mood )
selain itu juga terdapat konflik id, ego dan super ego.
D. PSIKOFISIOLOGIS
Perubahan perubahan neurotransmitter dan reseptor sel sel otak dan interaksi zat
zat neurokimia dopamine dan serotonin

Stres psikologi

Gangguan Kemauan Gangguan Psikomotor

Negatifisme, Ambivalensi Kemauan Stupor, Mutisme, Stereotipi


Otomatisme, Mutisme Gejala Katalepsi

Menolak Makan & Minum


Menciderai diri Isolasi sosial

Defisit Perawatan Diri


E. PSIKOPATOLOGI

Faktor penyebab skizofrenia katatonik

Gangguan konsep diri Pola asuh orang tua Kehilangan pasangan


hidup

Perilaku kekerasan Cemas Depresi

Status fisik dan psikis Gangguan proses fikir


Cemas
Resiko
mencinderai diri
Menolak makan, minum
Dan mandi
Isolasi sosial

Defisit perawatan diri


F.ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN SKIZOFRENIA
KATATONIK

1. Pengkajian

Pengkajian dilakukan dengan wawancara dan observasi kepada klien dan


keluarga yang menghantarkan. Pengkajian pertama kali dilakukan secara
lengkap guna menggali informasi yang dibutuhkan untuk terapi guna
kesembuhan klien. Beberapa hal yang dapat dikaji dari klien antara lain :

a. Identitas
Meliputi;

- Nama

- Umur
- Jenis kelamin
- Alamat
- Pekerjaan yang bertanggung jawab.
b. Alasan masuk
Meliputi;

- Penyebab klien masuk rumah sakit

- Usaha yang sudah dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut dan


hasilnya.
c. Faktor Predisposisi
Meliputi;

- Riwayat penyakit masa lalu dan hasil pengobatan sebelumnya.

- Riwayat penyakit keluarga


- Riwayat Trauma yang pernah dialami
- Masalah keperawatan yang muncul
d. Faktor fisik meliputi system dan system organ antara lain :
- Tanda Tanda Vital (Tekanan Darah, Nadi, Suhu, Pernafasan.
- Tinggi dan berat badan
- Masalah keperawatan yang muncul.

e. Faktor psikososial
Genogram
Menggambarkan hubungan klien dengan keluarga minimal 3
generasi keatasnya

Masalah keperawatan yang muncul

Konsep diri
Gambaran diri

Identitas diri

Peran diri

Ideal diri

Harga diri

Masalah keperawatan yang muncul

Hubungan Sosial
Orang yang berarti dalam hidup klien

Kelompok yang berarti dalam masyarakat

Keterlibatan klien dalam kelompok tersebut

Masalah keperawatan yang muncul

Spiritual
Nilai dan keyakinan

Kegiatan ibadah

Masalah keperawatan yang muncul


f. Status Mental
Meliputi; - Penampilan

- Pembicaraan
- Aktivitas motorik
- Alam perasaan
- Efektif
- Interaksi selama wawancara
- Persepsi
- Isi pikir
- Pikiran magis
- Waham
- Tingkat kesadaran
- Memori
- Tingkat konsentrasi dan berhitung
- Kemampuan penilaian
- Daya titik diri
- Jelaskan apa yang dikatakan klien
- Masalah keperawatan yang muncul
g. Kebutuhan Persiapan Pulang
Meliputi; - Makan

- BAB / BAK
- Mandi
- Berpakaian
- Istirahat dan tidur
- Penggunaan obat
- Pemeliharaan kesehatan
- Kegiatan didalam rumah
h. Mekanisme koping
i. Masalah psikososial dan lingkungan
j. Pengetahuan
k. Aspek medik
l. Daftar masalah keperawatan
Menulis data pendukung dan masalah yang muncul kemudian membuat
pohon masalah dari rumusan data tersebut.

G.DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Resiko tinggi terhadap kekerasan : diarahkan pada diri sendiri atau


orang lain berhubungan dengan :
Kurang rasa percaya : kecurigaan terhadap orang lain
Panik
Rangsangan katatonik
Reaksi kemarahan/amok
Instruksi dari halusinaasi
Pikiran delusional
Berjalan bolak balik
Rahang kaku; mengepalkan tangan, postur tubuh yang kaku
Tindakan agresif : tujuan merusak secara langsung benda-benda yang
berada dalam lingkungan sekitarnya
Perilaku merusak diri atau aktif; tindakan bunuh diri yang agresif
Perkataaan yang mengaaancam yang bermusuhan; tindakan
menyombongkan diri untuk menyiksa orang lain secara psikologis
Peningkatan aktifitas motorik,langkah kaki,rangsangan,mudah
tersinggung, kegelisahan.
Mempersepsikan lingkungan sebagai suatu ancaman.
Menerima suruhan melalui pendengaran atau penglihatan sebagai
ancamaN.
2. Isolasi sosial berhubungan dengan :
kurangnya rasa percaya diri kepada orang lain
panik
regresi ketahap perkembangan sebelumnya
waham
sukar berinteraksi dengan orang lain pada masa lampau
perkembangan ego yang lemah
represi rasa takut.

3. Kurang perawatan diri berhubungan dengan :


menarik diri
regresi
panik
ketidakmampuan mempercayai orang lain.
H. INTERVENSI

No Hari / DIAGNOSA PEPENCANAAN RASIONAL


Tgl
KEPERAWATAN TUJUAN & KRITERIA HASIL Tindakan Keperawatan

1 Resiko tinggi terhadap Tujuan jangka panjang : A. Pertahankan agar A.Tingkat ansietas meningkat
kekerasan: di arahkan pada lingkungan pasien pada dalam lingkungan yang penuh
diri sendiri atau orang lain b.d Pasien tidak akan tingkat stimulus yang stimulus. Individu-individu
membahayakan dirinya sendiri yang ada mungkin
reaksi kemarahan atau amok. rendah
dan orang lain selama di rumah dirahasiakan sebagai suatu
sakit. ( penyinaran rendah, sedikit ancaman karena
mencurigakan, sehingga
orang, dekorasi yang
akhirnya membuat pasien
sederhana, tingkat agitasi.
kebisingan rendah ).
Tujuan jangka pendek :

Dalam 2 minggu pasien dapat B. Observasi ketat merupakan


mengenal tanda-tanda hal yang penting karena
peningkatan ansietas dan dengan demikian intervensi
kegelisahan dan melaporkan yang tepat dapat di berikan
kepada perawat agar di berikan segera dan untuk selalu
intervensi sesuai kebutuhan. B. Observasi secara ketat memastikan bahwa pasien
perilaku pasien ( setiap 15 berada dalam keadaan aman.
menit ).

Kriteria hasil :
C. Jika pasien dalam keadaan
a. Ansietas di pertahankan pada gelisah, bingung, pasien tidak
tingkat di mana pasien tidak akan menggunakan benda-
menjadi agresif. benda tersebut untuk
b. Pasien memperlihatkan rasa membahayakan diri sendiri
percaya kepada orang lain ataupun orang lain.
disekitarnya.
c. Pasien mempertahankan
orientasi realitanya.
A. Sikap menerima dari orang
lain akan meningkatkan harga
C. Singkirkan benda-benda
diri pasien dan memfasilitasi
yang dapat membahayakan
rasa percaya diri kepada orang
dari lingkungan sekitar
lain.
pasien.
Tujuan jangka panjang :

pasien dapat secara sukarela


meluangkan waktu bersama B. Membuat pasien merasa
pasien lain dan perawat dalam menjadi seseorang yang akan
aktifitas kelompok di unit berguna.
rawat inap.
A. Perlihatkan sikap
menerima dengan rasa
C. Kejujuran dan rasa
melakukan kontak yang
Tujuan jangka pendek : membutuhkan menimbulkan
sering tapi singkat.
suatu hubungan saling percaya.
Pasien masuk dalam terapi
Isolasi sosial b.d kurang rasa aktifitas dalam satu minggu.
percaya diri kepada orang
D. Obat-obatan anti psikosis
lain, sukar berinteraksi
menolong untuk menurunkan
dengan orang lain.
2 Kriteria hasil : gejala psikosis pada seseorang,
B. Perlihatkan penguatan
a. Pasien dapat positif kepada pasien. dengan demikian memudahkan
mendemonstrasikan interaksi dengan orang lain.
keinginan dan hasrat untuk
bersosialisasi dengan orang
lain.
b. Pasien dapat mengikuti E. Perilaku maladaptife seperti
aktifitas kelompok tanpa di C. Jujur dan menepati menarik diri di manisfestasikan
suruh. semua janji. selama terjadi peningkatan
c. Pasien melakukan interaksi
ansietas.
satu-satu dengan orang lain
dengan cara yang sesuai atau
dapat diterima.

D. Berikan obat-obatan
penenang sesuai program
pengobatan pasien.

Pantau keefektifan samping


obat.

A. Teknik ini menyatakan


kepada pasien bagaimana TA
di mengerti oleh orang lain,
sedangkan tanggung jawab
E. Diskusikan dengan
untuk mengerti pada perawat.
pasien tanda-tanda
Tujuan jangka panjang :
peningkatan ansietas dan
Pasien dapat menunjukan teknik untuk memutus
kemampuan dalam melakukan respon B. Mempermudahkan rasa
komunikasi verbal dengan percaya dan kemampuan untuk
perawat dan sesama pasien ( misalnya latihan relaksasi, mengerti tindakan dan
dalam suatu lingkungan sosial berhenti berfikir ) komunikasi klien.
dengan cara yang sesuai atau
dapat di terima.
C. Menolong untuk
menyampaikan rasa empaty,
A. Gunakan teknik validasi
Tujuan jangka pendek : mengembangkan rasa percaya
dan klarivikasi untuk
dan akhirnya mendorong
Pasien dapat menunjukan mengerti pola komunikasi
pasien untuk mendiskusikan
kemampuan untuk bertahan pasien.
hal-hal yang menyakitkan
pada satu topik, menggunakan dirinya.
ketepatan kata, melakukan
kontak mata intermittent
selama 5 menit dengan
perawat dalam waktu 1 D. Kenyamanan dan keamanan
minggu. pasien merupakan prioritas
B.Pertahankan konsistensi keperawatan.
perawat yang bertugas.

Kerusakan komunikasi verbal Kriteria hasil :


b.d menarik diri, kontak mata
kurang. a. Pasien dapat berkomunikasi
dengan cara yang dapat
dimengerti oleh orang lain. C. jika pasien tidak mampu
b. Pesan non verbal pasien atau tidak ingin bicara
sesuai dengan verbalnya.
( autisme ), gunakan
3 c. Pasien dapat mengakui teknik ,mengatakan secara
bahwa disorganisasi pikiran tidak langsung.
dan kelainan komunikasi
verbal terjadi pada saat
adanya peningkatan ansietas,
lakukan kontak kepada
pasien untuk memutus
proses. D. Antisipasi dan penuhi
kebutuhan pasien sampai
pola komunikasi yang
memuaskan kembali.
DAFTAR PUSTAKA

Baihaqi, M.I.F, Sunardi, dkk, 2005, Psikiatri (Konsep Dasar dan Gangguan-
gangguan), PT. Refika Aditama, Bandung
DepKes RI, 1993, PPDGJ III (Pedoman Penggolongan dan Diagnosa
Gangguan Jiwa III), DepKes, Jakarta
Ingram, I. M, dkk, 1995, Catatan Kuliah Psikiatri, EGC, Jakarta
Maramis, w. F, 2004, Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa, Airlangga University Press,
Surabaya
Maslim, Rusdi, 1998,Diagnosa Gangguan Jiwa, Bagian Ilmu Kedokteran jiwa
FK, Atmajaya University
Supratiknya, A, 1995, Mengenal Prilaku Abnormal, Kanisius,