Anda di halaman 1dari 10

Persiapan Calon Ayah Menyambut

Kelahiran Bayinya
Penyesuaian Diri

Jika sebelumnya suaminya hanya bertanggung jawab terhadapmu dan dirinya sendiri, maka nanti
akan bertambah satu jiwa yang akan menjadi tanggung jawabnya. Untuk itu, minta calon ayah
untuk belajar menyesuaikan diri dari sekarang. Bagaimana caranya? Mudah kok. Ajak suamimu
untuk ikut berinteraksi saat kamu berbincang mengenai bagaimana cara mengasuh bayi untuk
pertama kalinya bersama teman atau keluarga. Semakin sering si calon ayah terlibat dalam
percakapan seperti itu, secara nggak langsung mentalnya sudah mulai menyesuaikan diri dengan
apa yang akan dihadapi nanti saat bayinya lahir.

Pahami Istri

Karakteristik bumil sangat berbeda, ada yang santai tanpa merasakan ngidam atau morning
sickness sama sekali, tapi ada juga yang sangat kewalahan dengan segala perubahan yang
dirasakan pada dirinya. Jadi, bagi para calon ayah, rasa pengertian terhadap istri sangatlah
dibutuhkan. Jika memang istrimu ngidam makanan yang biasanya nggak disuka, nggak masalah
kok membuatkan atau membelikannya. Bersabar menghadapi emosi dan mood bumil yang naik-
turun juga salah satu cara memahami istri

(Usahakan) Selalu Ada Untuk Istri

Di trimester terakhir, bumil akan lebih sering kontrol ke dokter kandungan dan melakukan
berbagai persiapan. Istri yang baik mungkin nggak akan mengatakan langsung bahwa ia
menginginkan suaminya untuk selalu menemani. Nah, sebagai suami yang baik, calon ayah
sebisa mungkin harus mengusahakan menemani istrinya melakukan berbagai persiapan ini.
Apalagi jika mengunjungi dokter kandungan, sebaiknya suami mendampingi istri untuk
mengetahui sejauh mana kondisi kesehatan sang calon ibu menghadapi persalinan sebentar lagi.

Lakukan Bonding

Saat suami melakukan bonding dengan bumil, sambil memijat atau menemaninya senam hamil
misalnya, calon ayah sebenarnya juga sedang melakukan bonding dengan bayi yang ada di dalam
kandungan istrinya. Di dalam rahim, bayi sudah bisa mendengar suara ayah dan ibunya, serta
sesekali memberikan reaksi berupa tendangan kecil atau gerakan. Jika sejak dari dalam
kandungan, ayah sudah melakukan bonding dengan calon bayinya, maka saat lahir ikatan
diantara mereka akan terjalin lebih kuat.

Atasi Tekanan Psikologis

Wajar kalau calon ayah merasa tertekan menghadapi perubahan yang akan dihadapinya.
Daripada mencoba mengatasinya sendirian dan malah makin tambah tertekan, sebaiknya
bicarakanlah pada orang lain. Istri adalah pilihan pertama yang wajib dicoba. Selain karena
biasanya dialah orang yang paling mengerti suaminya, istri juga berhak mendapat gambaran
seperti apa kondisi psikologis suaminya menyambut kelahiran calon bayi. Tapi, teman dan
keluarga juga bisa dijadikan pilihan lain untuk melepaskan tekanan psikologis yang dirasakan
oleh calon ayah. Intinya, pilihlah orang yang suamimu anggap paling nyaman untuk diajak
bicara

1. Jaga kesehatan fisik dan menjadi suami siaga


Ayah harus menjaga kesehatan dengan cukup istirahat, makan makanan sehat dan minum
vitamin. Saat mendekati HPL, diusahakan Ayah selalu berada dekat dengan Bunda. Saat
kerja, mintalah keluarga untuk menemani Bunda, setiap saat Bunda menunjukkan tanda
ingin melahirkan, Ayah bisa segera pulang ke rumah dan membawa Bunda ke rumah
sakit.
Apabila lokasi Ayah saat itu berada agak jauh dari rumah dan membutuhkan waktu untuk
kembali ke rumah, mintalah keluarga yang berada di rumah untuk segera mengantarkan
Bunda ke rumah sakit atau naik taksi, sehingga Ayah bisa menghemat waktu dengan
langsung menyusul ke rumah sakit.
Jika Ayah bekerja di luar kota, ajukan cuti dari jauh jauh hari dan konsultasikan dengan
pihak HRD jika sewaktu waktu Ayah harus pulang saat kondisi Bunda menunjukan
tanda persalinan.
2. Persiapkan barang bawaan
Periapkan barang barang yang akan dibawa ke rumah sakit. Taruhlah tas Ayah, Bunda
dan bayi didalam bagasi mobil, sehingga Ayah dan Bunda selalu siap jika sewaktu
waktu harus pergi ke rumah sakit.
3. Tetap sabar dan tenang
Baik caesar maupun normal, merupakan proses persalinan yang sangat panjang bagi sang
Bunda, tak jarang keadaan ini membuat Bunda moody dan kesakitan saat menjalani setiap
pembukaan. Ayah harus bersabar dan tetap tenang dalam menunggu Bunda. Beri Bunda
semangat hingga berhasil melewati proses persalinan.
Advertisement

Report this ad

4. Dokumentasi di ruang persalinan


Jika mendapat persetujuan dokter, Ayah bisa mempersiapkan alat dokumentasi yang
dibutuhkan seperti Handycam dan HP untuk mendokumentasikan proses kelahiran bayi.
5. Mendoakan bayi yang baru lahir
Saat Ayah bisa menggendong atau berdampingan dengan bayi, bisikkan doa ke kuping
bayi sesuai dengan kepercayaan masing masing.
6. Dampingi istri saat melakukan IMD
Dampingi istri dan bayi anda saat melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD), sehingga
Ayah tahu prosesnya. Jangan segan segan untuk bertanya pada konselor ASI untuk
menambah pengetahuan ASI dan untuk menjadi ayah ASI. Selalu beri semangat Bunda
saat menjalani siklus rutinitas yang baru saat menjadi ibu dan waspada terjadinya baby
blues.
7. Istirahat secara bergantian
Selama berada di rumah sakit, Ayah juga tetap harus jaga kesehatan dan cukup istirahat.
Istirahatlah secara bergantian dengan anggota keluarga lainnya, sehingga tetap ada yang
mendampingi Bunda dan bayi saat di kamar atau saat bayi ada di ruang bayi.
8. Membuat akte lahir
Carilah info kepada petugas rumah sakit, dokumen apa saja yang harus dipersiapkan
dalam membuat akte kelahiran, sehingga setelah melahirkan, ayah bisa langsung
menyerahkan dokumen tersebut untuk di proses.
9. Konsultasi dengan dokter kandungan dan dokter anak
Selama masih berada di rumah sakit, ada baiknya Ayah berkonsultasi dan aktif bertanya
kepada dokter kandunagan dan dokter anak mengenai kesehatan Bunda pasca melahirkan
dan kesehatan bayi seperti imunisasi, ASI dan lain lain.
10. Mengurus kepulangan bayi ke rumah
Setelah keperluan finansial sudah dilunasi, pastikan petugas rumah sakit mempersiapkan
dokumen yang diperlukan seperi buku perkembangan bayi, jadwal imunisasi dan lain
lain. Setelah lengkap Ayah pun bisa mengantar Bunda dan bayi pulang ke rumah.
SUAMI SIAGA

1. Pengertian Suami Siaga

Suami siaga yaitu kewaspadaan suami untuk menjaga kesehatan dan keselamatan istrinya yang
sedang hamil sampai dengan persalinannya. Suami siaga senantiasa siap memberikan yang
terbaik untuk istri dan janinnya, sebagai suami siaga ia siap dan ikhlas untuk memeriksakan
kehamilan istrinya dan ikut mempersiapkan persalinan dengan tenaga medis. (Gerakan
Partisipatif penyelamat ibu hamil, menyusui dan bayi, 2003)

Suami siaga adalah seorang suami dengan istri yang sedang hamil diharapkan siap mewaspadai
setiap resiko kehamilan yang muncul, menjaga agar istri tidak melakukan hal hal yang
menganggu kesehatan dan kehamilannya, serta segera mengantar ke rujukan terdekat bila ada
tanda tanda komplikasi kehamilan. (Martin Lemar, 2006)

Suami siaga adalah kondisi kesiagaan suami dalam upaya memberikan pertolongan dalam
merencanakan dan menghadapi kehamilan, persalinan dan nifas terhadap istrinya. (Nikita, 2010)

Pengertian suami siaga secara rinci adalah :

Siap :

1. Secara mental. Ketika ibu sedang menghadapi perslainan, suami mempersiakan


mentalnya untuk meberikan dukungan atau semangat kepada istri.
2. Secara fisik, suami mempersiapkan untuk menjaga dan melindungi istrinya.
3. Secara materil, suami mempersiapkan dana untuk persalinan istrinya.

Antar :

Suami mengantarkan istri ketika ia merasakan adanya tanda tanda dan gejala persalinan.

1. Jaga : Suami menjaga istri ketika menghadapi persalinan (Syafrudin dan Hamidah, 2009:
192).

Dalam konsep suami siaga, seorang suami dengan istri yang sedang hamil diharapkan siap
mewaspadai setiap risiko kehamilan yang muncul, menjaga agar istri tidak melakukan hal-hal
yang mengganggu kesehatan dan kehamilannya, serta segera mengantar ke rujukan terdekat bila
ada tanda-tanda komplikasi kehamilan.

Untuk menjadi suami yang benar-benar siaga, harus dibekali dengan pengetahuan tentang
beberapa hal berikut.

1. Upaya menyelamatkan ibu hamil.


2. Tiga terlambat, yaitu terlambat mengenal tanda bahaya dan mengambil keputusan,
terlambat mencapai fasilitas kesehatan, dan terlambat mendapatkan pertolongan di
fasilitas kesehatan.
3. Empat terlalu, yaitu terlalu muda saat hamil, terlalu tua untuk hamil, terlalu banyak anak,
dan terlalu dekat usia kehamilan
4. Perawatan kehamilan, tabungan persalinan, donor darah, tanda bahaya kehamilan,
persalinan dan nifas, serta pentingnya pencegahan dan mengatasi masalah kehamilan
secara tepat.
5. Transportasi siaga dan pentingnya rujukan.

Dengan demikian perhatian suami dan keluarga bertambah dalam memahami dan mengambil
peran yang lebih aktif serta memberikan kasih sayang pada istri terutama pada saat sebelum
kehamilan, selama kehamilan, persalinan, dan sesudah persalinan.

Di berbagai wilayah di Indonesia terutama dalam masyarakat yang masih memegang teguh
budaya tradisional (patrilineal), misalnya budaya jawa, menganggap istri adalah konco wingking
(teman di belakang) yang artinya derajat kaum lelaki lebih tinggi dibandingkan dengan kaum
perempuan, tugas perempuan hanyalah melayani kebutuhan dan keinginan suami saja. Anggapan
seperti ini memengaruhi perlakuan suami terhadap kesehatan reproduksi perempuan.

Suami lebih dominan dalam mengambil keputusan dan tidak bertanggung jawab dalam beberapa
hal seperti ber-KB serta adanya perbedaan kualitas dan kuantitas makanan suami yang biasanya
lebih baik dibandingkan istri dan anaknya karena beranggapan bahwa suami adalah pencari
nafkah dan sebagai kepala rumah tangga sehingga asupan zat gizi untuk ibu yang sedang hamil,
menyusui, dan anak menjadi berkurang.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengubah budaya tradisional tersebut antara lain sebagai
berikut :

1. Menyosialisasikan persepsi tentang kesetaraan gender sejak dini melalui lembaga formal,
misalnya sekolah formal maupun non-formal atau melalui program lain yang ada dalam
kelompok masyarakat lalu mengaplikasikannya kedalam praktik kehidupan sehari-hari.
2. Memberikan penyuluhan pada sarana atau tempat-tempat berkumpul dan berinteraksi
para lelaki, misalnya tempat kerja dan forum komunikasi desa
3. Memberikan informasi sesering mungkin dengan stimulus yang menarik perhatian,
misalnya melalui poster.
4. Masyarakat Indonesia pada umumnya masih mempunyai perasaan malu dengan
lingkungan sekitar, sehingga perlu dipikirkan suatu aturan atau kegiatan yang dapat
memotivasi kepala keluarga untuk segera merealisasikan kepedulikan kepada istrinya
5. Satgas GSI di tingkat desa perlu membuat tanda sedemikian rupa dengan warna terang
(merah, hijau, kuning) dan ditempelkan di rumah warga yang memiliki ibu hamil yang
perlu mendapatkan perhatian lebih dan kewaspadaan.
Pendapatan

Dengan demikian perlu diperkenalkan pandangan baru untuk memberdayakan kaum suami
dengan mendasarkan pengertian bahwa :

1. Suami memainkan peranan penting, terutama dalam pengambilan keputusan yang


berkenan dengan kesehatan reproduksi pasangannya
2. Suami sangat berkepentingan terhadap kesehatan reproduksi pasangannya
3. Saling pengertian serta adanya keseimbangan peranan antara kedua pasangan dapat
membantu meningkatkan perilaku yang kondusif terhadap peningkatan kesehatan
reproduksi
4. Pasangan yang selalu berkomunikasi tentang rencana keluarga maupun kesehatan
reproduksi antara satu dengan yang lainnya akan mendapatkan keputusan yang lebih
efektif dan lebih baik.

2. Partisipasi suami sebagai suami siaga

a. Membantu mempertahankan dan meningkatkan kesehatn istri yang sedang hamil :

1. Memberikan perhatian dan kasih sayang kepada istri


2. Mengajak dan mengantar istri utuk memeriksakan kehamilan kefasilitas kesehatan
terdekat minimal 4 kali
3. Memenuhi kebutuhan gizi bagi istrinya agar tidak terjadi anemia dan memperoleh
istirahat yang cukup
4. mempelajari gejala komplikasi pada kehamilan seperti darah tinggi, kaki bengkak,
perdarahan, konsultasi dalam melahirkan, infeksi dan sebagainya
5. Menyiapan biaya transportasi
6. Melakukan rujukan ke fasilitras kesehatan yang lebih lengkap sedini mungkin bila terjadi
hal- hal yang menyakut kesehatan kehamilan dan kesehatan janin misal perdarahan.
7. Menentukan tempat persalinan (fasilitas kesehatan) sesuai dengan kemampuan dan
kondisi daerah masing masing

b. Merencanakan persalinan yang aman

1. Menentukan tempat pertolongan persalinan


2. Menginformasikan keluhan kehamilan istri kepada petugas kesehatn
3. Menginformasikan riwayat kehamilan istri
4. Mengetahui yanda tanda istri yang akan melahirkan seperti keluarnya cairan air bening
dari vagina, dan mulai terasa sakit di perut seperti diremas remas
5. Mengetahui hal hal yang harus dipersiapkan oleh istri menjelang persalinan
6. Mendukung upaya rujukan paska persalinan bila diperlukan
7. Mengetahui bagaimana mencegah terjadinya tetanus pada bayi, yaitu ibnu hamil
diberikan imunisasi TT (Tetanus Toksoid) dua kali selama kehamilan

c. Menghindari keterlambatan dalam pertolongan medis

Partisipasi suami yang dioperlukan oleh istri pada saat hamil antara lain suami harus dapat
menghindari 3 T (Terlambat) yaitu : terlambat mengambil keputusan, terlambat ke tempat
pelayanan dan terlambat mengambil keputusan, terlambat ke tempat pelayanan dan terlambat
memeproleh pertolongan medis. Sehingga suami hendaknya waspada dan bertindak jika melihat
tanda tanda bahaya kehamilan.
Untuk meghindari kematian ibu hamil yang disebabkan oleh komplikasi akibat kehamilan
(perdarahan, infeksi, dan lain lain) maka partiossipasi usumai sangat diharapkan yang dapat
terwjudnya dalam bentuk suami siagaa yaiitu :

1. Siap, suami hendaknya waspada dan bertindak atau mengantisipasi jika melihat tanda
bahaya kehamilan
2. Antar, suami hendaknya merencanakan angkutan dan menyediakan donor darah jika
dieprlukan
3. Jaga, suami hendaknya mendampinmgi istri selama proses dan selesai persalinan.

d. Membantu Perawatan Ibu Dan Bayi Setelah Persalinan

Partisipasi suami dalam hal ini antara lain :

1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan masa nifas


2. Mengetahui apa yang yang perlu diperhatikan untk menjaga kebersihan istri pada nifas
3. Mgingatkan dan mendorong istri agar memebrikan ASI Ekslusif tanpa susu formnual dan
makanan tambahan lain selama enam bulan kepada anaknya
4. Menemani istri untuk membawa bayinya mendapatkan imuniasi sebelum bayti umur 1
bulan dan seterusya untum mendapatkan imunisai lengkap
5. Memotivasi istri agar menyusi bayinya selama 2 tahun
6. Merencanakan dan menentukan salah satu alat / cara kontrasepsi untuk mengatur jarak
kelahiran
7. Memotivasi istri nagar memperhatikan makanan dan gizi yang dibutuhkan oleh ibu dan
bayi
8. Memberikan motivasi istri untuk memeriksakan kesehatn ibu dan bayi secara rutin ke
fasilitas pelayanan kesehatan terdekat
9. Memotivasi atau mengajak istri agar aktif dalam kegiatan Bina Keluarga Balita (BKB)
dilingkungannya (Drs. Bambang Agus Suryono, MM,2008).

3. Langkah Langkah Menjadi Suami Siaga

1. Pertama : Suami menyediakan kebutuhan semua kebutuhan pangan istri demi


pertumbuhan janin, denga cara meberikan tambahan vitamin, penambahan darah, serta
kalsium. Suami juga mesti rajin mengontrol pola nmakan istri, menyediakan makanan
ekstraberkualitas dan memberikan motivasi kepada istri untuk rajin mengkonsumsi
makanan makan bergizi tersebut.
2. Kedua : suami memerikan kasih sayang dan perhtian, serta berperan dalam turtut
menjaga kesehatan kejiwaan istri agar tetap stabil, tenag dan bahagia. Mamberikan
perhatian penuh kepada istri misalnya, mendiskusikan perkembangan yang terjadi pekan
demi pekan, bersama sma mencari informasi mengenai kehamilan dan pendidiakn anak,
menemani istri kedokter atau rumah sakit untyim memerikasakan kehamilan setiap bulan,
mendiskusikan rencana rencana ke depan bagi clon bayi, hingga menyempatkan diri
secara rutin mengelus perut istrinya smabil mengucapkan kalimat kasih sayang.
3. Ketiga : Suami memberikan hak hak istimewa kepada istri selama hamil, seperti :
mengambil sebagian dari tugas istri bila anda tidak memilki seorang pembantu denganm
mencuci pakaian atau menyetrika baju.
4. Keempat : suami mengajak istri untuk mendengarkan irama musik klasik, karena suara
suara lembut yang e,nagasah rasa keindahan bisa merangsang pertumbuhan otak dan
kecerdasan anak.
5. Kelima : Sauami ikut terlibat dalam mempersiapkan saat saat kelahiran janin,
misalnya menyediakn biaya persalinan, kebutuhan hidup calon byi hingga kesehatan ibu.
6. Keenam : suami membantu kesiapan dan kekuatan mental istri untuk melahirkan, suami
harus memberikan perhatian, dorongan, serta motivasi kepada istri menghadapi masa
sulit ini. Beberapa cara bisa ditempuh, seperti mengikutkan istri ke dalam kelas pelatihan
prenatal (pendidikan prakelahiran) yang diselenggarakan di rumah sakit, hingga turut
menemani proses kelahiran itu sendiri.
7. Ketujuh : Suami ikut hadir saat proses kelahiran, karena kehadiran suami meski sekedar
menemani, memegang tangan dan membisikkan kata kata penghibur, akan memberikan
dorongan dan menambah kekuatan mental ekstra bagi istri (Drs. Bambang Agus Suryono,
MM, 2008).

DAFTAR PUSTAKA

Eny Retna Ambarwati. 2009. Asuhan Kebidanan Komunitas.Yogyakarta: Nuha Medika.

Nurani, Meytha Winarso, inang. Gerakan Partisipatif Ibu Hamil, Menyusui dan Bayi.

Syafrudin Hamidah, 2009. Kebidanan Komunitas, Jakarta: EGC.

Lamar, Martin. 2006. Suami, Warga, dan Bidan Siaga.

Suryono, Bambang Agus. 2008. Partisipasi Suami.

Yulifah, Johan Tri. 2009. Asuhan Kebidanan Komunitas. Jakarta: Salemba Medika.
Imunisasi

Pastikan Kondisi Bayi Optimal Setiap Sebelum Imunisasi

Setiap kali akan dilakukan imunisasi petugas kesehatan atau dokter akan melakukan wawancara
kepada orangtua mengenai kondisi anaknya. Pemeriksaan badan juga harus dilakukan untuk
mengetahui kondisi kesehatan dan mencari tahu apakah anak sakit atau tidak. Pada keadaan sakit
ringan seperti batuk, pilek atau diare, imunisasi tetap dapat dilakukan dan penyakit yang diderita
anak diobati. Pemberian imunisasi dalam keadaan sakit ringan tidak akan mempengaruhi
pembentukan kekebalan tubuh atau antibodi.

Jika si Kecil Sedang Sakit, Obati Dulu Penyakitnya

Bila kondisi si Kecil tidak memungkinkan untuk mendapat imunisasi sesuai jadwalnya, hal itu
tidak akan jadi masalah. Anda dapat memberikan obat terlebih dahulu dan menunggu kesehatan
si Kecil untuk sehat kembali. Setelah anak sembuh segera bawa ke dokter untuk diberikan
imunisasi. Jika Anda terlambat memberikan imunisasi dari jadwal yang sudah ada atau tidak
teratur, pemberian imunisasi berikutnya tidak perlu diulang kembali dan bisa diteruskan sesuai
jadwalnya.

Berikan Istirahat Setelah Imunisasi

Setelah pemberian imunisasi, si Kecil bisa saja mengalami Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi
(KIPI) seperti demam, rewel, sering menangis atau timbul pembengkakan di tempat suntikan
yang disertai ruam kemerahan. Bila ia mengalami keadaan di atas, sebaiknya ajak ia untuk
beristirahat.

Jenis Imunisasi Tertentu Dapat Menyebabkan Demam

Beberapa jenis vaksin dapat memberikan KIPI seperti demam. Jenis vaksin tersebut adalah DPT,
Campak, Hib. Biasanya demamnya bisa ringan atau tinggi. Pada keadaan demam, Anda dapat
memberikan obat penurun panas atau melakukan kompres hangat.
Vaksin Sebaiknya diberikan Sesuai Jadwal Agar Imunitas Anak Optimal

Vaksin yang terlambat diberikan dapat dilanjutkan tanpa mengenal istilah hangus. Vaksin yang
diberikan terlambat dapat tetap melindungi anak, walaupun tidak sebaik yang diberikan tepat
waktu. Untuk mengejar keterlambatan, dapat digunakan vaksin kombinasi atau pemberian secara
bersamaan. Dengan pemberian vaksin ini, si Kecil menjadi lebih nyaman