Anda di halaman 1dari 34

BAB VII

PEMBAHASAN
A. Filsafat Barat Modern
Filsafat zaman modern yang kelahirannya didahului oleh suatu periode yang disebut
dengan Renaissance dan dimatangkan oleh gerakan Aufklaerung di abad ke-18 itu,
didalamnya mengandung dua hal yang sangat penting. Pertama, semakin berkurangnya kekuasaan
Gereja, kedua, semakin bertambahnya kekuasaan ilmu pengetahuan. Pengaruh dari gerakan
Renaissance dan Aufklaerung itu telah menyebabkan peradaban dan kebudayaan zaman modern
berkembang dengan pesat dan semakin bebas dari pengaruh otoritas dogma-dogma Gereja.
Terbebasnya manusia barat dari otoritas Gereja dampak semakin dipercepatnya perkembangan
filsafat dan ilmu pengetahuan. Sebab pada zaman Renaissance dan Aufklaerung perkembangan
filsafat dan ilmu pengetahuan tidak lagi didasarkan pada otoritas dogma-dogma Gereja,
melainkan didasarkan atas kesesuaiannya dengan akal. Sejak itu kebenaran filsafat dan ilmu
pengetahuan didasarkan atas kepercayaan dan kepastian intelektual (sikap ilmiah) yang
kebenarannya dapat dibuktikan berdasarkan metode, perkiraan, dan pemikiran yang dapat diuji.
Kebenaran yang dihasilkan tidak bersifat tetap, tetapi dapat berubah dan dikoreksi sepanjang
waktu. Kebenaran merupakan a never ending process, bukan sesuatu yang berhenti, selesai
dalam kebekuan normatif atau dogmatis (Hadiwijono, 2005: 96).
Pada umumnya, para sejarawan sepakat bahwa zaman modern lahir sekitar tahun 1500-an
di Eropa. Peralihan zaman ini ditandai dengan semangat anti Abad Pertengahan yang cenderung
mengekang kebebasan berpikir. Sesuai dengan istilah modern yang memiliki arti baru,
sekarang, atau saat ini, filsafat modern merupakan sebuah pemikiran yang menganalis tentang
kekinian, sekarang, subjektivitas, kritik, hal yang baru, kemajuan, dan apa yang harus dilakukan
pada saat ini. Semangat kekinian ini tumbuh sebagai perlawanan terhadap cara berpikir
tradisional Abad Pertengahan yang dianggap sudah tidak relevan (Hadiwijono, 2005: 96).
Filsafat Abad Modern memiliki corak yang berbeda dengan periode filsafat Abad
Pertengahan. Perbedaan itu terletak terutama pada otoritas kekuasaan politik dan ilmu
pengetahuan. Jika pada Abad Pertengahan otoritas kekuasaan mutlak dipegang oleh Gereja
dengan dogma-dogmanya, maka pada zaman modern otoritas kekuasaan itu terletak kemampuan
akal manusia itu sendiri. Manusia pada zaman modern tidak mau diikat oleh kekuasaan manapun,
kecuali oleh kekuasaan yang ada pada dirinya sendiri. Kekuatan yang mengikat itu ialah Agama
dengan Gerejanya, serta Raja dengan kekuasaan politiknya yang bersifat absolut. Para filosof
modern pertama-tama menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari kitab suci atau dogma-
dogma Gereja, juga tidak berasal dari kekuasaan feudal, melainkan dari diri manusia sendiri
(Russell, 2004: 733). Berikut adalah aliran-aliran filsafat barat modern beserta tokoh-tokohnya.
1. Rasionalisme
Setelah pemikiran Renaissance sampai pada penyempurnaanya, yaitu telah tercapainya
kedewasaan pemikiran, maka terdapat keseragaman mengenai sumber pengetahuan yang
1
secara alamiah dapat dipakai manusia, yaitu akal (rasio) dan pengalaman (empiris). Karena
orang mempunyai kecenderungan untuk membentuk aliran berdasarkan salah satu di antara
keduanya, maka kedua-duanya sama-sama membentuk aliran tersendiri yang saling
bertentangan (Abidin, Z, 2012: 213).
a. Riwayat Hidup Filosof Rasionalisme
1) Riwayat Hidup Rene Descartes (1596-1650 M)

nuraminsaleh.com
Descartes adalah seorang filosof modern yang lahir pada tahun1596 dan wafat
pada tahun 1650. Ia beragama katholik, akan tetapi dia juga menganut aliran Galileo
yang saat itu ditentang oleh pengaruh agama katholik. Dalam beberapa sumber telah
dipaparkan bahwa ayah Descartes merupakan seorang ketua parlemen Inggris yang
mempunyai tanah yang sangat luas, akan tetapi sepeninggalnya, Descartes menjual satu
persatu tanah tersebut. Pada saat itu (1604-1612) Ia sangat mengecam pendidikan
matematika disebuah universitas karena Ia merasa apa yang ia dapatkan d universitas-
universitas lain saat itu, dengan pendidikan matematika tersebut jauh lebih buruk.
(Russel, 2004: 734). Dia mengasingkan diri untuk mempelajari geometri saat itu karena
bosan dengan kehidupan sosial di Paris. Dia menekuni geometri tersebut disebuah
daerah terpencil yang bernama Fauborg St. Germain. Dalam pengasingannya Ia
berminat untuk bergabung dengan tentara Belanda saat itu. Hal ini dikarenakan teman-
temannya telah menemukannya dalam masa pengasingannya.
Descartes mulai menikmati masa meditasinya selama 2 tahun saat Belanda damai
pada waktu itu. Akan tetapi meletusnya perang Bavaria (1619) mendorongnya untuk
bergabung kembali sebagai tentara Belanda. Dalam masa perang tersebutlah (1619-
1620) ia mendapatkan pengalaman yang ia tuangkan dalam sebuah karyanya yang
berjudul Discourse de la methode. Karena masa itu adalah musim dingin dan ia merasa
kedinginan, oleh sebab itu ia masuk dalam perapian untuk menghangatkan diri dan
berdiam diri sebagai bagian dari meditasinya. Setelah perang usai, Descartes
memutuskan untuk tinggal di Belanda. Selama dua puluh tahun (1629-1649) Descartes
tinggal di Belanda (Russell, 2004: 734).
Dia menginginkan hidup yang damai saat itu, oleh karenanya ia menjalin
kedekatan dengan kaum gereja saat itu untuk kepentingan kaum gereja sendiri maupun
Descartes. Untuk mengurangi kebenciannya terhadap sains modern, maka melalui
seorang duta besar Prancis di Stockholm (Chanur), Descartes mengadakan

2
korespondensi dengan ratu Christina di Swedia. Ratu tersebut terdorong untuk
mengundang Descartes datang ke istana untuk memperoleh pelajaran dari Descartes
(1649). Hal ini terjadi karena rasa kagum terhadap kiriman-kiriman dari Descartes yang
merupakan bermacam-macam karyanya. Pada saat itu Descartes harus selalu bangun
pagi karena Ratu hanya meluangkan waktunya pukul lima pagi untuk memperoleh
pelajaran dari Descartes dan bangun pagi di Skandanavia pada saat itu bukanlah pilihan
yang baik untuk seorang Descartes. Pada akhirnya pada tahun 1650 Descartes
meninggal karena sakit yang dideritanya. Dari sumber yang didapat, Descartes tidak
pernah menikah, akan tetapi mempunyai anak kandung perempuan yang meninggal saat
usianya lima tahun (Russell, 2004: 734).
2) Riwayat Hidup Spinoza ( 1632-1677 M)

nuraminsaleh.com

Spinoza dilahirkan pada tahun 1632 dan meninggal dunia pada tahun 1677 M.
nama aslinya Banich Spinoza. Setelah ia mengucilkan dirinya dari agama yahudi, ia
mengubah namanya menjadi Benedictus De Spinoza ia hidup dipinggiran kota dan baik
Spinoza maupun leibniz ternyata mengikuti pemikiran Descartes itu. Dua tokoh terakhir
ini menjadi substansi sebagai tema pokok dalam metafisika mereka, dan mereka berdua
juga mengikuti metode Descartes, tiga filosof ini, descartos, spinozo dan leigniz,
biasanya dikelompokkan dalam satu mazhab yaitu rasionalisme (Hamersma, 1984:
126).
3) Riwayat Hidup Blaise Pascal (1623-1662 M)

blogpenemu.blogspot.co.id

Blaise Pascal, (19 Juni 162319 Agustus 1662), adalah seorang matematikawan,
fisikawan, penemu, penulis, dan filsuf kristen dari Perancis. Dia adalah seorang anak
ajaib yang dididik oleh ayahnya, seorang kolektor pajak di Rouen. Karya Pascal awal
berada di alam dan terapan ilmu di mana ia membuat kontribusi penting untuk studi

3
cairan, dan menjelaskan konsep tekanan dan vakum dengan generalisasi karya
Evangelista Torricelli. Pascal juga menulis pertahanan dari metode ilmiah (Hamersma,
1984: 126-127).
Pascal lahir di Clermont-Ferrand, ia kehilangan ibunya, Antoinette Begon, pada
usia ketiga. Ayahnya, Etienne Pascal (1.588-1.651), yang juga memiliki minat dalam
ilmu pengetahuan dan matematika, seorang hakim lokal dan anggota de Noblesse Robe
. Pascal memiliki dua saudara perempuan, Jacqueline dan Gilberte. Pada 1631, lima
tahun setelah kematian istrinya, tienne Pascal pindah dengan anak-anaknya ke Paris.
Etienne, yang tidak pernah menikah lagi, memutuskan bahwa ia sendiri akan mendidik
anak-anaknya, karena mereka semua menunjukkan kemampuan intelektual yang luar
biasa, terutama Blaise anaknya. Pascal muda menunjukkan bakat luar biasa untuk
matematika dan ilmu pengetahuan (Hamersma, 1984: 126-127).
b. Ajaran dan Karya Kefilsafatan Rasionalisme
1) Ajaran dan Karya Kefilsafatan Rene Descartes
a) Tentang Kesadaran
Konsep dan metode pengetahuannya yang rasional dan baru, Rene Descartes
dijuluki Bapak Filsafat Modern. Ia meyakini bahwa sumber pengetahuan yang benar
adalah rasio, bukan mitos, prasangka, omongan orang, ataupun wahyu seperti yang
diyakini pada Abad Pertengahan. Ia sangat yakin pada kemampuan rasio untuk
mencapai kebenaran, lantaran di luar rasio mengandung kelemahan atau kesangsian.
Atas keyakinannya pada rasio tersebut, ia membangun pemikiran filsafatnya. Rasio
yang dimaksud oleh Descartes adalah kesadaran (cogito). Sejak Descartes
mengeluarkan konsepnya tentang kesadaran, para filsuf mulai benar-benar
menggeluti masalah kesadaran (Rahman, 2013: 241).
b) Metode Keraguan
Descartes menjelaskan pencarian kebenaran melalui metode keragu-raguan.
Karyanya, A Discourse on Methode Descartes mengemukakan empat hal berikut :
(1) Kebenaran baru dinyatakan sahih jika telah benar-benar indrawi dan realitasnya
telah jelas dan tegas (clearly and distincictly).
(2) Pecahkanlah setiap kesulitan atau masalah itu sampai sebanyak mungkin,
sehingga tidak ada suatu keraguan apa pun yang mampu merobohkannya.
(3) Bimbinglah pikiran dengan teratur, dengan memulai dari hal yang sederhana dan
mudah diketahui, kemudian secara bertahap sampai pada yang paling sulit dan
kompleks.
(4) Dalam proses pencarian dan pemeriksaan hal-hal sulit, selamanya harus dibuat
perhitungan-perhitungan yang sempurna serta pertimbangan-pertimbangan yang
menyeluruh, sehingga diperoleh keyakinan bahwa tidak ada satu pun yang
mengabaikan atau ketinggalan dalam penjelajahan itu (Abdul, 2008 : 251).
4
c) Tiga Realitas
Descartes menegaskan adanya tiga realitas atau substansi bawaan (ide-ide
bawaan). Adapun ketiga realitas tersebut adalah :
(1) Realitas pikiran atau kesadaran (res cogitan). Descartes menyebutkan bahwa
pikiran sebagai ide bawaan sudah ada sejak kita dilahirkan. Selain itu, pikiran
adalah kesadaran yang tidak mengambil tempat dan tak dapat dibagi-bagi
menjadi bagian yang lebih kecil. Sebab, pikiran bukanlah materi, melainkan jiwa
yang berbeda dengan materi.
(2) Realitas perluasan atau materi (res extensa). Materi merupakan keluasan yang
mengambil tempat dan dapat dibagi-bagi serta tidak memiliki kesadaran. Bagi
Descartes, walaupun terkadang menampakkan kesan yang menipu dan tidak
selalu sempurna atau berubah, tetapi materi sudah ada sejak semula. Karena itu,
materi menunjukkan sebuah ide bawaan.
(3) Realitas Tuhan. Tuhan merupakan wujud yang seluruhnya sempurna. Adanya
realitas Tuhan ini dikarenakan adanya kesadaran memiliki ide tentang yang
sempurna, dan ketidaksempurnaan materi mengandalkan adanya yang sempurna.
Yang sempurna itu adalah Tuhan. Karena itu, Tuhan termasuk ide bawaan
(Rahman, 2013: 244).
2) Ajaran dan Karya Kefilsafatan Spinoza
a) Tentang Substansi Tunggal
Baruch de Spinoza menolak tiga realitas atau substansi yang dipercayai oleh
Descartes. Penolakannya itu didasarkan pada definisi mengenai substansi. Ia
mendefinisikan substansi adalah sesuatu yang berdiri sendiri tanpa membutuhkan
sebab yang lain, atau ada dengan dirinya sendiri, bahkan tidak tergantung pada yang
lain. Jika dalam realitas terdapat dua substansi yang berasal dari satu substansi,
sebagaimana diyakini Desartes, hal itu sangat tidak masuk akal. Pasti substansi
hanyalah satu. Oleh sebab itu, Spinoza dengan definisi substansi tersebut, menyakini
bahwa substansi itu tunggal. Tidak ada substansi yang berasal dari substansi lain
(Bertens, 2011: 64).
b) Tuhan atau Alam (Deus suve Natura)
Menurut Spinoza, substansi tunggal itu adalah Tuhan. Bagi Spinoza,
sebagaimana substansi, Tuhan itu tunggal, abadi, tidak terbatas (universal), tidak
tergantung pada yang lain, mutlak, dan utuh. Spinoza mengajarkan, apabila Tuhan
sebagai satu-satunya substansi, maka harus dikatakan bahwa segala sesuatu, baik
yang bersifat materi (tubuh, pohon, batu, planet, dan materi laninnya) maupun jiwa
(pemikiran, kesadaran, perasaan, dan kehendak), berasal dari Tuhan. Sebab, materi
dan jiwa tidak berdiri sendiri dan bukanlah substansi, tetapi berasal dari serta
tergantung pada substansi tunggal, yaitu Tuhan (Rahman, 2013: 248).
5
Spinoza menganggap materi dan jiwa hanyalah modi (cara) berada Tuhan
sebagai substansi tunggal. Oleh karena itu, pada dasarnya, alam semesta dan segala
isinya identik dengan Tuhan, atau tidak ada perbedaan hakiki antara Tuhan dan
alam. Pendapat yang menyamakan antara Tuhan dan alam ini desebut sebagai
panteisme (Abidin, Z, 2012: 248).
3) Ajaran dan Karya Kefilsafatan Blaise Pascal
a) Le Coeur
Le couer a ses raison ne connait point (Hati mempunyai alasan-alasan yang
tidak dimengerti oleh rasio) adalah ungkapan Pascal yang sangat terkenal. Dengan
pernyataan ini Pascal tidak bermaksud menunjukkan bahwa rasio dan hati itu
bertentangan. Hanya saja menurut Pascal, rasio atau akal manusia tidak akan
sanggup untuk memahami semua hal.Baginya hati (Le couer) manusia adalah jauh
lebih penting (Louis, 2001: 241). Hati yang dimaksudkan oleh Pascal tidak semata-
mata berarti emosi. Hati adalah pusat dari segala aktivitas jiwa manusia yang mampu
menangkap sesuatu secara spontan dan intuitif. Rasio manusia hanya mampu
membuat manusia memahami kebenaran-kebenaran matematis dan ilmu alam.
Dengan memakai hati, manusia akan mampu memahami apa yang lebih jauh
daripada itu yakni pengetahuan tentang Allah.
Menurut Blaise Pascal kebenaran tidak hanya diketahui oleh akal saja tetapi
juga dengan hati, bahkan menurut Pascal untuk dapat mengenal Allah secara
langsung manusia harus menggunakan hatinya. Dengan demikian Pascal hendak
menegaskan bahwa rasio manusia itu memiliki batas sedangkan iman tidak terbatas.
b) Le Pari
Le Pari atau Pertaruhan adalah argumen Pascal lainnya yang terkenal.
Gagasan ini terkait dengan persoalan mengenai ada tidaknya Allah dalam sejarah
filsafat. Ada orang-orang-orang skeptik yang kerap kali mencemooh orang-orang
Kristen yang percaya bahwa Allah itu ada sementara mereka sendiri tidak dapat
membuktikan secara rasional bahwa Allah itu tidak ada. Ia kemudian membuat
sebuah pertaruhan mengenai ada atau tidaknya Allah. Dalam hal ini Paskal
mengambil posisi sebagai orang yang percaya akan adanya Allah. Alasannya, bila
ternyata Allah memang ada, orang-orang yang percaya kepada Allah akan menang
dan hidup berbahagia bersama Allah yang diimani di surga kelak. Sementara bila
ternyata Allah memang tidak ada dan orang-orang percaya kalah maka mereka tidak
akan menderita kerugian apapun. Hidup baik yang telah mereka jalani selama berada
di dunia sudah merupakan keutamaan yang membuat kehidupan mereka dan orang
lain bahagia (Louis, 2001: 241-242).

6
c. Sumbangan Filsafat Rasionalisme Terhadap Ilmu Pengetahuan Masa Kini
Zaman modern saat ini sangatlah cocok untuk menggunakan aliran rasionalisme
yang mana meyakini bahwa akal dan pikiran yang kita dapat berasal dari ilmu
pengetahuan. Jika dilihat secara seksama contohnya seperti ilmu-ilmu pengetahuan dan
barang-barang elektronik atau gadget saat ini yang kita punya atau miliki merupakan hasil
dari aliran rasionalisme. Para penemu alat-alat elektronik menciptakan barang-barang
tersebut karena adanya pengetahuan yang mereka miliki untuk menciptakannya bukanlah
karena pengalaman yang mereka miliki (Bakhtiar, 2012: 172).
Jika aliran rasionalisme kita terapkan dalam dunia pendidikan sangatlah cocok sebab
siswa akan dapat berpikir tidak hanya sesuatu yang sudah jelas nyata tetapi juga yang tidak
nyata yang tidak dapat dirasakan secara langsung. Siswa dapat menggunakan pengetahuan
yang mereka miliki sebelumnya dan saat ini untuk berpikir. Lalu, untuk mempertegas ilmu
pengetahuan yang mereka miliki, mereka dapat menggunakan pengalaman mereka hanya
untuk mempertegas.
Para ilmuwan, menciptakan dan menemukan ilmu-ilmu pengetahuan bukanlah dari
pengalaman tetapi dari proses berpikir. Mereka memikirkan sesuatu yang tidak nyata atau
didapat kita rasa dengan panca indera untuk menemukan ilmu pengetahuan. Guru dapat
menerapkan metode open ended dan student center untuk membebaskan siswa untuk
berpikir dan mengembangkan pengetahuannya sendiri tanpa harus memperlihatkan
keadaan nyatanya. Hal tersebut sangatlah sesuai dengan aliran rasionalisme yang
mendapatkan akal dan pikiran dengan mencari ilmu pengetahuan seluas-luasnya tanpa kita
harus melihat keadaan nyatanya secara langsung dan merasakaanya dengan panca indera
(Bakhtiar, 2012: 172).
Aliran rasionalisme akan membuat sesuatu hal yang mungkin dahulu kita berpikir
hal tersebut tidak akan mungkin di dunia nyata, tetapi karena menurut aliran rasionalisme
semua akal dan pikiran yang didapat diperoleh dari ilmu pengetahuan tanpa kita harus
merasakannya dahulu dengan panca indera dan harus ada pengalaman yang terjadi, semua
itu akan mungkin terjadi. Seperti halnya saja gadget yang hampir setiap orang miliki.
Zaman dahulu mungkin orang akan berpikir tidak akan mungkin terciptanya suatu alat
yang dapat menghubungkan kita dengan semua orang di dunia sebab sebelumnya tidak
pernah ada yang memilikinya. Namun, karena tanpa harus adanya pengalaman dengan ilmu
pengetahuan yang kita miliki dapatlah ilmuwan dan pencipta alat-alat komunikasi tersebut
membuatnya. Apabila aliran rasionalisme dapat akan terus kita yakini, bukan tidak
mungkin sesuatu hal yang sepertinya mustahil untuk terjadi akan terwujud di masa yang
akan datang.
2. Empirisme
Empirisme merupakan suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman
dalam memperoleh pengetahuan serta pengetahuan itu sendiri, dan mengecilkan peranan akal.
7
Empirisme berasal dari bahasa Yunani empeiria yang berarti coba-coba atau pengalaman.
Sebagai suatu doktrin, empirisme adalah lawan dari rasionalisme. Untuk memahami isi
doktrin ini perlu dipahami lebih dahulu dua ciri pokok empirisme, yaitu mengenai teori
tentang makna dan teori tentang pengetahuan (Praja, 2008: 201).
Menurut Syadali dan Mudzakir (1997: 94) teori makna pada aliran empirisme biasanya
dinyatakan sebagai teori tentang asal pengetahuan, yaitu asal-usul idea atau konsep.
Bahwasannya setiap idea yang diperoleh pasti berasal dari pengalaman inderawi atau
pengetahuan datang dari observasi yang kita lakukan terhadap jiwa kita sendiri. Teori
pengetahuan bahwasannya semua kebenaran yang diperoleh melalui observasi adalah
dijadikan sebagai kebenaran.
a. Riwayat Hidup Tokoh Empirisme
1) Riwayat Hidup John Locke (1632-1704 M)

nuraminsaleh.com
John Locke dilahirkan pada tanggal 28 Agustus 1632 di Wrington, Somerset.
Adalah seorang filsuf dari Inggris yang menjadi salah satu tokoh utama dari pendekatan
Empirisme. Locke menekankan pentingnya pendekatan empiris dan juga pentingnya
eksperimen-eksperimen di dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Selain itu, di
dalam bidang filsafat politik, Locke juga dikenal sebagai filsuf negara liberal. Locke
menandai lahirnya era Modern dan juga era pasca Descartes (post Cartesian), karena
pendekatan Descartes tidak lagi menjadi satu-satunya pendekatan yang dominan di
dalam pendekatan filsafat waktu itu. Akhir hidup Locke, Pada tahun 1700, Locke
pensiun dari pekerjaannya. Ia menjalani sisa kehidupannya selama 4 tahun. Kesehatan
Locke makin menurun dan ia menderita penyakit asma. Bulan-bulan akhir tahun 1704
merupakan saat-saat terakhir kehidupannya, Ia meninggal tanggal 28 Oktober 1704,
beliau dikuburkan di High Laver (Praja, 2008: 201-202).
2) Riwayat Hidup David Hume (1711-1776 M)

8
nuraminsaleh.com
David Hume lahir di Edinburgh, Skotlandia, 7 Mei 1711. Ayahnya adalah
seorang pengacara dan tuan tanah, sedangkan ibunya seorang Kalvinis keras. Ia
mempelajari hukum, sastra, dan filsafat di Universitas Edinburgh. Pribadinya lebih
tertarik dengan dunia filsafat dibandingkan ilmu yang lain. Ia adalah seorang filsuf
Empiris. Ia bekerja sebagai diplomat di Prancis, Italia, Austria, dan Inggris. Hume
meninggal di Edinburgh pada tahun 1776 (Praja, 2008: 198).
Tahun 1500-1700, Eropa dilanda dengan peperangan agama. Situasi ini
membuatnya tidak terlalu menghargai agama-agama. Bagi Hume agama dibedakan
menjadi dua yaitu : Natural Religion (akal budi) dan Agama Rakyat (fanatisme). Zaman
Hume dikenal sebagai Zaman Akal Budi. Budi merupakan ide penting yang mungkin
menjadi alasan bagi Hume untuk menunjukkan batas-batas akal budi. Ia senang
menghancurkan ide-ide besar saat itu, sehingga pemikirannya lebih mengkritisi
keyakinan-keyakinan yang ada. Pada zaman Hume, banyak filsuf Prancis terancam
hidupnya karena dinilai terlalu radikal memperjuangkan gagasan mereka. David Hume
menjadi salah seorang yang membantu para filsuf tersebut (Praja, 2008: 199).
b. Ajaran dan Karya Kefilsafatan Empirisisme
1) Ajaran dan Karya Kefilsafatan John Locke
Salah satu pemikiran Locke yang paling berpengaruh di dalam sejarah filsafat
adalah proses manusia mendapatkan pengetahuan. Menurut Locke, seluruh pengetahuan
bersumber dari pengalaman manusia, sebelum seorang manusia mengalami sesuatu,
pikiran manusia belum berfungsi atau masih kosong ibarat sebuah kertas putih, yang
kemudian mendapatkan isinya dari pengalaman yang dijalani oleh manusia itu. Ada dua
macam pengalaman manusia, yakni pengalaman lahiriah dan batiniah. Pengalaman
lahiriah adalah pengalaman yang menangkap aktivitas indrawi yaitu segala aktivitas
material yang berhubungan dengan panca indra manusia. Kemudian pengalaman
batiniah terjadi ketika manusia memiliki kesadaran terhadap aktivitasnya sendiri dengan
cara mengingat, menghendaki, meyakini, dan sebagainya. Kedua bentuk pengalaman
manusia inilah yang akan membentuk pengetahuan melalui proses. Pandangan Locke
tentang negara, analisis dari tahap-tahap perkembangan masyarakat dibagi menjadi tiga
sebagaimana yang dikutip dalam Syadali dan Mudzakir (1997: 97) antara lain:
a) Keadaan alamiah, keadaan alamiah sebuah masyarakat manusia yaitu situasi
harmonis, di mana semua manusia memiliki kebebasan dan kesamaan hak. Dalam
keadaan ini, setiap manusia bebas menentukan dirinya dan menggunakan apa yang
dimilikinya tanpa bergantung kepada kehendak orang lain. Meskipun masing-masing
orang bebas terhadap sesamanya, namun tidak terjadi kekacauan karena masing-
masing orang hidup berdasarkan ketentuan hukum kodrat. Ada hak-hak dasariah

9
yang terikat di dalam kodrat setiap manusia dan merupakan pemberian Allah, seperti
halnya Hak Asasi Manusia pada masyarakat modern.
b) Keadaan perang, ketika keadaan alamiah telah mengenal hubungan-hubungan sosial
maka situasi harmoni mulai berubah. Penyebab utamanya adalah terciptanya uang.
Dengan uang, manusia dapat mengumpulkan kekayaan secara berlebihan,
ketidaksamaan harta kekayaan membuat manusia mengenal status tuan-budak,
majikan-pembantu, dan status-status yang hierarkis lainnya. Untuk mempertahankan
harta miliknya, manusia menjadi iri, saling bermusuhan, dan bersaing. Keadaan
alamiah yang harmonis dan penuh damai tersebut kemudian berubah menjadi
keadaan perang yang ditandai dengan permusuhan, kedengkian, kekerasan, dan
saling menghancurkan.
c) Terbentuknya negara, untuk menciptakan jalan keluar dari keadaan perang tersebut
masyarakat mengadakan Perjanjian. Disinilah lahirnya negara persemakmuran.
Dengan demikian, tujuan berdirinya negara bukanlah untuk menciptakan
kesamarataan setiap orang, melainkan untuk menjamin dan melindungi milik pribadi
setiap warga negara yang mengadakan perjanjian tersebut. Kedua kuasa dalam
perjanjian ini adalah hak untuk menentukan bagaimana setiap manusia
mempertahankan diri, dan hak untuk menghukum setiap pelanggar hukum kodrat
yang berasal dari Tuhan.
Pandangan Locke mengenai agama, Ia menganggap agama Kristen adalah agama
yang paling masuk akal dibandingkan agama-agama lain, karena ajaran-ajaran Kristen
dapat dibuktikan oleh akal manusia. Locke berangkat dari kenyataan bahwa manusia
adalah makhluk berakal budi, sehingga pastilah disebabkan karena adanya Tokoh
Pencipta yang mutlak dan maha kuasa, yaitu Allah (Syadali dan Mudzakir, 1997: 98).
Filsafat Pengetahuan, pemikiran Locke tentang pengetahuan memiliki pengaruh
besar terhadap para filsuf setelahnya, khususnya David Hume di Inggris dan Kant di
Jerman. Pandangan Locke tentang proses manusia mendapat pengetahuan memiliki dua
implikasi penting. Pertama, munculnya anggapan bahwa seluruh pengetahuan manusia
berasal dari pengalaman. Kedua, semua hal yang manusia ketahui melalui pengalaman,
bukanlah obyek atau benda pada dirinya sendiri, melainkan hanya kesan-kesan indrawi
dari hal itu yang diterima oleh panca indra manusia. Sedangkan Kant menolak, manusia
tidak dapat mengetahui sesuatu apapun di luar panca-indranya. Pengetahuan atau
pemikiran tentang Allah tidak mungkin lagi, sebab Allah berada di luar jangkauan
indrawi manusia. Pandangan ini telah banyak dikritik (Syadali dan Mudzakir, 1997: 98).
Bidang Politik, pengaruh pemikiran Locke dalam bidang politik amat besar di
negara-negara Eropa, seperti Inggris, Perancis, Jerman, hingga Amerika Serikat.
Pemikiran-pemikiran politik Locke juga memengaruhi munculnya Revolusi Perancis.
Munculnya negara-negara sekularistik, Pandangan Locke yang memisahkan urusan
10
negara dan urusan agama dengan sangat ketat merupakan awal dari munculnya negara-
negara sekularistik di kemudian hari. Negara-negara yang menganut paham sekular
memisahkan dengan ketat urusan negara dan urusan agama (Syadali dan Mudzakir,
1997: 98).
Terhadap psikologi dan epistemologi, pemikiran-pemikiran Locke terhadap
pikiran manusia telah membawa pengaruh dalam bidang psikologi dan epistemologi.
Beberapa filsuf dan pemikir setelahnya juga dipengaruhi Locke. Mereka mendapat
pengaruh Locke dalam hal menganalisis pengalaman manusia berdasarkan unsur-unsur
pengalaman, kombinasi unsur-unsur tersebut, dan asosiasi-asosiasi yang terjadi (Syadali
dan Mudzakir, 1997: 98).
2) Ajaran dan Karya Kefilsafatan David Hume
Skeptisisme Hume berpendapat bahwa, filsafat tidak bisa berkiprah melampaui
pengalaman, hipotesis yang berpretensi membuka kualitas asli terdalam dari dan
membatasi pengertian manusia. Dari situ, ia mulai meneliti ilmu-ilmu yang dapat
diobservasi. Pokok bahasannya adalah kodrat manusia. Penyelidikan atas kodrat
manusia ini menghasilkan suatu permenungan komprehensif dan konstruktif tentang
pengalaman dan kodrat manusia.Penekanannya pada kodrat manusia inilah yang
mengantar Hume pada naturalisme. Skeptisisme Hume diarahkan pada tiga pemikiran:
a) Hume melawan ajaran rasionalistis tentang idea-idea bawaan serta anggapannya
bahwa jagad terdiri dari sebuah keseluruhan yang saling bertautan (Sependapat
dengan Locke & Barkeley).
b) Hume menyerang pemikiran-pemikiran religius yang percaya bahwa Allah
membiarkan alam semesta berjalan mekanis tanpa campur tanganNya. Agama masih
percaya adanya tertinggi. Hume melawan ide kausalitas.
c) Hume menyerang empirisme sendiri yang masih mempercayai adanya. Menurutnya,
substansi itu kumpulan dari gagasan-gagasan (Wiramihardja, 2006: 87).
Perkembangannya, Hume bergulat dalam empirisme. Empirismenya amat
menonjol hingga ia digolongkan sebagai kaum empiris penting seperti John Lock dan
Berkeley. Sementara itu, naturalisme Hume berpendapat bahwa apa yang tidak dapat
dibuat oleh akal budi, bisa dilakukan oleh alam bagi kita. Untuk itulah, ia menempatkan
peranan rasio di bawah passio (Wiramihardja, 2006: 87). Mengenai empirisme, Hume
berkutat pada soal pengalaman menangkap kenyataan. Filsafat-filsafat alam harus
menjelaskan bagaimana sensasi bekerja. Sensasi adalah entitas-entitas yang dengan
segera hadir pada akal budi. Dalam empirismenya, Hume berpendapat bahwa:
a) Semua pengetahuan sejati harus berdasar pada pengalaman
b) Adanya dualisme antara pengetahuan dan pengalaman
c) Adanya dua argumen yang berbeda, yakni antara alasan yang berdasar pada fakta
dan kodrat (alam) (Wiramihardja, 2006: 87).
11
c. Sumbangan Filsafat Empirisme Terhadap Ilmu Pengetahuan
Empirisme memiliki andil yang besar dalam ilmu, yaitu dalam pengemangan
berpikir induktif. Dalam ilmu pengetahuan, sumbangan utama adalah lahirnya ilmu
pengetahuan modern dan penerapan metode ilmiah untuk membangun pengetahuan. Selain
daripada itu, tradisi empirisme adalah fundamen yang mengawali mata rantai evolusi ilmu
pengetahuan sosial, terutama dalam konteks perdebatan apakah ilmu pengetahuan sosial itu
berbeda dengan ilmu alam. Sejak saat itu empirisme menempati tempat yang terhormat
dalam metodologi ilmu pengertahuan sosial. Acapkali empirisme di paralelkan dengan
tradisi positivisme. Namun demikian keduanya mewakili pemikiran filsafat ilmu yang
berbeda.
Sedangkan dalam Islam, Empirisme dalam Islam mempunyai peran penting dalam
pengembangan ilmu pengetahuan seperti ilmu Fiqh yang bebasis empiris, yaitu (ibadah
mumalah), shalat, zakat, puasa, dan haji. Empirisme lahir dan terjebak kepada afirmasi
rasio praksis dan menegasikan rasio murni sehingga muncul dogmatisme empiris sendiri,
terlebih dengan membangun kecurigaan atau ketidakpercayaan atau menegasikan
(skeptisis) terhadap epistema yang lainnya telah banyak dianut oleh pendidikan modern,
inilah bukti kenaifannya. Menurut Wiramihardja (2006: 84) dampak epistemologis dari
empirisme diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Terjadinya pemisahan antara bidang sankral dan bidang duniawi, misalnya pemisahan
antara agama dan negara, agama dan politik, atau pemisahan materi dan ruh yang
terwujud dalam seorang ahli fisika atau ekonomi tidak akan berbicara agama dalam
karya ilmiah mereka, sementara fisika dan ekonomi direduksi menjadi angka-angka,
materi dan ruh tampak tidak kompatebel di mata mereka.
2) Kecendrungan kearah reduksionisme, materi dan benda direduksi kepada element-
elemennya. Ini tampak pada fisika Newton, sama halnya dengan homo ekonomikus
dalam ekonomi modern (dua hal ini pengaruh sejarah rasionalisme empirisme).
3) Pemisahan antara subyektivitas dan obyektifitas, misalnya dalam ilmu sosial hal yang
merupakan debuku obyektif adalah keniscayaan yang mengarah kepada relitas pasti,
(pengaruh positivisme pengetahuan yang berujung pada statusquo hinggga dominasi
kebenaran).
4) Antroposentrisme, ini tampak dalam dalam konsep demokrasi dan individualisme (ini
merupakan pengaruh dari rasionalisme Rendescartes dengan jargon individu bebas atau
subyek manusia akan menjadi sentral peradaban dunia).
5) Progresivisme, progresivisme diwakili oleh Marx, tetapi juga diyakini secara luas
seperti pada kemajuan ilmu pengetahuan dan obat-obatan.
3. Kritisisme
Manusia melihat adanya kemajuan ilmu pengetahuan (ilmu pasti, biologi, filsafat, dan
sejarah) telah mencapai hasil yang menggembirakan. Di sisi lain, jalannya filsafat tersendat-
12
sendat. Untuk itu diperlukan upaya agar filsafat dapat berkembang sejajar dengan ilmu
pengetahuan alam. Isaac Newton (1642-1772) memberikan dasar-dasar berpikir dengan
induksi, yaitu pemikiran yang bertitik tolak pada gejala-gejala dan mengembalikan kepada
dasar-dasar yang sifatnya umum. Aliran ini muncul abad ke-18. Suatu zaman baru dimana
seorang ahli pikir yang cerdas mencoba menyelesaikan pertentangan antara rasionalisme dan
empirisme. Zaman baru ini disebut zaman Pencerahan (Aufklarung). Zaman pencerahan ini
muncul dimana manusia lahir dalam keadaan belum dewasa (dalam pemikiran filsafatnya).
Akan tetapi, setelah Kant mengadakan penyelidikan (kritik) terhadap peran pengetahuan akal.
Setelah itu, manusia terasa bebas dari otoritas yang datangnya dari luar manusia, demi
kemajuan atau peradaban manusia (Abdul, 2008: 251).
Gerakan ini dimulai di Inggris, kemudian ke Prancis, dan selanjutnya menyebar ke
seluruh Eropa, termasuk ke Jerman. Di Jerman pertentangan antara rasionalisme dengan
empirisme semakin berlanjut. Seorang ahli pikir Jerman Immanuel Kant (1724-1804)
mencoba menyelesaikan persoalan di atas. Pada awalnya, Kant mengikuti rasionalisme, tetapi
kemudian terpengaruh oleh empirisme (Hume). Walaupun demikian, Kant tidak begitu mudah
menerimanya karena ia mengetahui bahwa empirisme terkandung skeptisisme. Untuk itu, ia
tetap mengakui kebenaran ilmu, dan dengan akal manusia akan dapat mencapai kebenaran.
Akhirnya, Kant mengakui peranan akal dan keharusan empiris, kemudian dicobanya
menggunakan sintesis. Walaupun semua pengetahuan bersumber pada akal (rasionalisme),
tetapi adanya pengertian timbul dari benda (empirisme) (Leaman, 2001: 86).
Jadi, metode berpikirnya disebut metode kritis. Walaupun ia mendasarkan diri pada
nilai yang tinggi dari akal, tetapi ia tidak mengingkari adanya persoalan-persoalan yang
melampaui akal. Sehingga akal mengenal batas-batasnya. Karena itu aspek irrasionalitas dari
kehidupan dapat diterima kenyataanya. Sebelum kita berkenalan jauh mengenai Kritisisme,
alangkah lebih berguna apabila berkenalan dengan latar belakang tokohnya.
a. Riwayat Hidup Tokoh Filsafat Kritisisme
1) Riwayat Hidup Immanuel Kant (1724-1804 M)

nuraminsaleh.com
Immanuel Kant (1724-1804) adalah seorang filsuf Jerman kelahiran Konigsberg,
22 April 1724 12 februari 1804. Ia dikenal sebagai tokoh kritisisme. Filsafat kritis
yang ditampilkannya bertujuan untuk menjembatani pertentangan antara kaum
Rasionalisme dengan kaum Empirisme. Bagi Kant, baik Rasionalisme maupun
Empirisme belum berhasil memberikan sebuah pengetahuan yang pasti berlaku umum
13
dan terbukti dengan jelas. Kedua aliran itu memiliki kelemahan yang justru merupakan
kebaikan bagi seterusnya masing-masing. Pikiran-pikiran dan tulisan-tulisannya yang
sangat penting dan membawa revolusi yang jauh jangkauannya dalam filsafat modern.
Ia terpengaruh oleh lahirnya piettisme dari ibunya, tetapi ia hidup dalam zaman
skeptisme serta membaca karangan-karangan Voltaire dan Hume. Akibat dari itu semua
ialah bahwa ia mempunyai problema : what can we know? (apa yang dapat kita
ketahui?) what is nature and what are the limits of human knowledge? (apakah alam ini
dan apakah batas-batas pengetahuan manusia itu?) sebagian besar hidupnya telah ia
pergunakan untuk mempelajari logical process of thought (proses penalaran logis), the
external world (dunia eksternal) dan the reality of things (realitas segala yang wujud)
(Hadiwijono, 2005: 178).
b. Ajaran dan Karya Kefilsafatan Kritisisme
1) Ajaran dan Karya Kefilsafatan Immanuel Kant
Kehidupannya sebagai filsuf dibagi dalam dua periode: Zaman pra-kritis dan
zaman kritis. Pada zaman pra-kritis ia menganut pendirian rasionalis yang dilancarkan
oleh Wolff. Tetapi, karena terpengaruh oleh Hume, berangsur-angsur Kant
meninggalkan rasionalisme. Ia sendiri mengatakan bahwa Hume itulah yang
membangunkannya dari tidur dogmatisnya. Pada zaman kritisnya, Kant merubah wajah
filsafatinya secara radikal. Ia menanamkan filsafatnya sekaligus
mempertanggungkannya dengan dogmatisme (Hadiwijono, 2005: 178).
Karyanya yang terkenal dan menampakkan kritisismenya, ialah kritik der reinen
vernunft reason dan Critique of Pure Reason yang membicarakan tentang reason dan
knowing
Process yang ditulisnya selama lima belas tahun. Buku ini amat terkenal di dunia
filsafat. Dalam literatur bahasa indonesia biasanya disebut kritik atas rasio praktis.
Buku kedua adalah Kritik der Practischen Vernunft (1781) atau biasa disebut Critique
of Practical Reason alias Kritik atas rasio praktis yang menjelaskan filsafat moralnya.
Ketiga, buku Kritik der Arteilskraft (1790) atau Critique of judgement alias kritik atas
daya pertimbangan. Kant menyajikan studinya mengenai putusan sintetis a priori dalam
Critique of Pure Reason. Karya ini dibagi menjadi tiga bagian sabagaimana dikutip
dalam Hadiwijono (2005) antara lain:
a) Dalam Transcendental Aesthetic (Estetika Transendental), Kant menyelidiki unsur-
unsur pengetahuan yang masuk akal mengacu pada suatu bentuk apriori ruang dan
waktu. Objek penelitian ini adalah untuk membuktikan matematika sebagai ilmu
yang sempurna.
b) Karya Transcendental Analytic (Analitika Transendental) adalah sebuah
penyelidikan ke dalam pengetahuan intelektual. Obyeknya adalah dunia fisik, dan

14
ruang lingkupnya adalah membuktikan fisika murni (mekanik) sebagai ilmu yang
sempurna.
c) Objek penelitian dari Transcendental Dialectic (Dialektika Transendental) adalah
realitas yang melampaui pengalaman kita; yaitu esensi Allah, manusia dan dunia.
Kant mereduksikan objek-objek dari metafisika tradisional ini kepada ide-ide,
yang tentangnya berputar-putar secara sia-sia, tanpa harapan untuk bisa tiba pada
sebuah hasil yang pasti.
Melalui Filsafatnya kant bermaksud memugar sifat objektivitas dunia ilmu
pengetahuan. Agar maksud itu terlaksana, orang harus menghindarkan diri dari sifat
sepihak rasionalisme dan sifat sepihak empirisme. Rasionalisme mengira telah
memperoleh pengetahuan dari pengalaman saja. Ternyata bahwa empirisme, sekalipun
dimulai dengan ajaran yang murni tentang pengalaman, tetap melalui idealisme
subjektif bermuara pada suatu skeptisisme yang radikal. Kant bermaksud mengadakan
penelitian yang kritis terhadap rasio murni. Menurut Hume, ada jurang yang lebar
antara kebenaran-kebenaran rasio murni dengan realita dalam dirinya sendiri. Menurut
Kant, syarat dasar bagi segala ilmu pengetahuan adalah :
a) Bersifat umum dan mutlak.
b) Memberi pengetahuan yang baru.
Menurut Kant, Hume lah yang menjadikan dia bangun dari tidurnya dalam
dogmatism, walaupun semulanya kant dipengaruhi rasionalisme Leibniz dan wolff,
kemudian juga dipengaruhi empirisme Hume, sedang Rousseaun juga menampakkan
pengaruhnya.
Menurut Hamersma (1984: 128) Isi utama dalam kritisisme yaitu gagasan
Immanuel Kant tentang teori pengetahuan, etika, dan estetika. Ciri-ciri Kritisisme
Immanuel Kant dapat disimpulkan menjadi tiga hal yaitu:
a) Menganggap objek pengenalan berpusat pada subjek dan bukan pada objek.
b) Menegaskan keterbatasan kemampuan rasio manusia untuk menetahui realitas atau
hakikat sesuatu, rasio hanya mampu menjangkau gejalanya atau fenomenanya saja.
c) Menjelaskan bahwa pengenalan manusia atas sesuatu itu diperoleh atas perpaduan
antara peranan unsure a priori (sebelum di buktikan tapi kita sudah percaya) yang
berasal dari rasio serta berupa ruang dan waktu dan peranan unsur aposteoriori
(setelah di buktikan baru percaya) yang berasal dari pengalaman yang berupa materi.
Dalam bukunya Critique of Judgment, ia menguji finalitas dalam alam dan
masalah estetika. Ketiga Critique inilah yang menjadi maha karya serta eksposisi
definitif pemikiran seorang Immanuel Kant.
a) Kritik Atas Rasio Murni

15
Kritik ini, atara lain Kant menjelaskan bahwa ciri pengetahuan adalah bersifat
umum, mutlak dan memberi pengertian baru. Untuk itu ia terlebih dulu membedakan
adanya tiga macam putusan, yaitu:
(1) Putusan analitis a priori; dimana predikat tidak menambah sesuatu yang baru
pada subjek, karena sudah termuat di dalamnya (msialnya, setiap benda
menempati ruang).
(2) Putusan sintesis a posteriori, misalnya pernyataan meja itu bagus di sini
predikat dihubungkan dengan subjek berdasarkan pengalaman indrawi, karena
dinyatakan setelah mempunyai pengalaman dengan aneka ragam meja yang
pernah diketahui.
(3) Putusan sintesis a priori, disini dipakai sebagai suatu sumber pengetahuan yang
kendati bersifat sintetis, namun bersifat a priori juga (Hanafi, 1981:55).
Manusia mempunyai tiga tingkatan pengetahuan, yaitu:
(1) Taraf indra
Pendirian tentang pengenalan inderawi ini mempunyai implikasi yang
penting. Memang ada suatu realitas, terlepas dari subjek, Kant berkata: memang
ada das ding an sich (benda dalam dirinya; the thing itself). Tetapi das ding an
sich selalu tinggal suatu X yang tidak dikenal. Kita hanya mengenal gejala-gejala
(Erscheinungen), yang selalu merupakan sintesa antara hal-hal yang datang dari
luar dengan bentuk ruang dan waktu.
(2) Taraf akal budi
Kant membedakan akal budi Vesrtand dengan Vernunft. Tugas akal budi
ialah menciptakan orde antara data-data inderawi. Dengan lain perkataan, akal
budi menciptakan putusan-putusan. Pengenalan akal budi juga merupakan sintesa
antara bentuk dengan materi. Materi adalah data-data inderawi dan bentuk adalah
a priori, yang terdapat pada akal budi. Bentuk a priori ini dinamakan Kant dengan
istilah Kategori. Akal budi memiliki struktur sedemikian rupa, sehingga
terpaksa saya mesti memikirkan data-data inderawi sebagai subtansi atau
menurut ikatan sebab akibat atau menurut kategori lainnya. Dengan demikian,
Kant sudah menjelaskan Shahihnya ilmu pengetahuan alam. Sekarang kita
mengerti juga bahwa Kant betul-betul mengadakan suatu revolusi kopernikan
(Praja, 2008: 204).
(3) Taraf Rasio
Tugas rasio ialah menarik kesimpulan dari keputusan-keputusan. Dengan
kata lain, rasio mengadakan argumentasi-argumentasi. Seperti akal budi
menggabungkan data-data inderawi dengan mengadakan putusan-putusan. Kant
memperlihatkan bahwa rasio membentuk argumentasi-argumentasi itu dipimpin
oleh tiga ide yaitu jiwa, dunia, dan Allah. Karena kategori akal budi hanya
16
berlaku untuk pengalaman, kategori-kategori itu tidak dapat diterapkan pada ide-
ide. Tetapi justru itulah yang di usahakan oleh metafisika.
Adapun Inti dari isi buku yang berjudul Kritik atas Rasio Murni adalah
sebagai berikut:
(1) Kritik atas akal murni menghasilkan skeptisisme yang beralasan.
(2) Tuhan yang sesungguhnya adalah kemerdekaan dalam pengabdian pada yang di
cita-citakan. Akal praktis adalah berkuasa dan lebih tinggi dari pada akal teoritis.
(3) Agama dalam ikatan akal terdiri dari moralitas. Kristianitas adalah moralitas yang
abadi (Hanafi, 1981: 55)
b) Kritik Atas Rasio Praktis
Rasio praktis adalah rasio yang mengatakan apa yang harus kita lakukan, atau
dengan kata lain, rasio yang memberi perintah kepada kehendak kita. Kant
memperlihatkan bahwa rasio praktis memberi perintah yang mutlak yang disebutnya
sebagai imperatif kategori. Kant beranggapan bahwa ada tiga hal yang harus
disadari sebaik-baiknya bahwa ketiga hal itu dibuktikan, hanya dituntut. Itulah
sebabnya Kant menyebutnya ketiga postulat dari rasio praktis. Ketga postulat
dimaksud itu ialah:
(1) Kebebasan kehendak
(2) Inmoralitas jiwa, dan
(3) Adanya Allah
Yang tidak dapat ditemui atas dasar rasio teoritis harus diandaikan atas dasar
rasio praktis. Akan tetapi tentang kebebasan kehendak, immoralitas jiwa, dan adanya
Allah, kita semua tidak mempunyai pengetahuan teoritas. Menerima ketiga postulat
tersebut dinamakan Kant sebagai Glaube alias kepercayaan. Dengan demikian, Kant
berusaha untuk memperteguh keyakinannya atas Yesus Kristus dengan penemuan
filsafatnya (Abdul, 2008: 287).
Serupa dengan filsuf islam seperti ibn Rusyd yang berupaya menjadikan
filsafat sebagai alat penguat keimanan sebagaimana yang tampak dalam kitabnya
Fasl al-maqal fi masyarakat bayn al-hikmat wa al-shariat min al-ittisal (Abdul,
2008: 287).
c) Kritik Atas Daya Pertimbangan
Kritik atas daya pertimbangan, dimaksudkan oleh Kant adalah mengerti
persesuaian kedua kawasan itu. Hal itu terjadi dengan menggunakan konsep finalitas
(tujuan). Finalitas bisa bersifat subjektif dan objektif. Kalau finalitas bersifat
subjektif, manusia mengarahkan objek pada diri manusia sendiri. Inilah yang terjadi
dalam pengalaman estetis (kesenian). Dengan finalitas yang bersifat objektif
dimaksudkan keselarasan satu sama lain dari benda-benda alam (Praja, 2008: 204).

17
Finalitas dalam alam itu diselidiki dalam bagian kedua, yaitu Der
Theologischen Unteilskraft. Adapun Inti dari Critique of Judgment (Kritik atas
pertimbangan) adalah sebagai berikut:
(1) Kritik atas pertimbangan menghubungkan diantara kehendak dan pemahaman.
(2) Kehendak cenderung menuju yang baik, kebenaran adalah objek dari
pemahaman.
(3) Pertimbangan yang terlibat terletak diantara yang benar dan yang baik
(4) Estetika adalah cirinya tidak teoritis maupun praktis, ini adalah gejala yang ada
pada dasar subjektif.
(5) Teologi adalah teori tentang fenomena, ini adalah bertujuan: subjektif
(menciptakan kesenangan dan keselarasan) dan objektif (menciptakan yang cocok
melalui akibat-akibat dari pengalaman).
Kritisisme Immanuel Kant sebenarya telah memadukan dua pendekatan alam
pencarian keberadaan sesuatu yang juga tentang kebenaran substanstial dari sesuatu itu.
Kant seolah-olah mempertegas bahwa rasio tidak mutlak dapat menemukan kebenaran,
karena rasio tidak membuktikan, demikian pula pengalaman, tidak dapat dijadikan tolok
ukur, karena tidak semua pengalaman benar-benar nyata dan rasional, sebagaimana
mimpi yang nyata tetapi tidak real, yang demikian sukar untuk dinyatakan sebagai
kebenaran (Praja, 2008: 204). Dengan pemahaman tersebut, rasionalisme dan
empirisme harusnya bergabung agar melahirkan suatu paradigma baru bahwa kebenaran
empiris harus rasional, sebagaimana kebenaran rasional harus empiris. Jika demikian,
kemungkinan lahir aliran baru yakni rasionalisme empiris.
2) Sumbangan Filsafat Kritisisme terhadap Ilmu Pengetahuan Masa Kini
Filsafat Kritisisme telah memadukan dua pendekatan alam pencarian keberadaan
sesuatu yang juga tentang kebenaran substanstial dari sesuatu itu. Immanuel Kant seolah-
olah mempertegas bahwa rasio tidak mutlak dapat menemukan kebenaran, karena rasio
tidak membuktikan, demikian pula pengalaman, tidak dapat dijadikan tolok ukur, karena
tidak semua pengalaman benar-benar nyata dan rasional, sebagaimana mimpi yang nyata
tetapi tidak real, yang demikian sukar untuk dinyatakan sebagai kebenaran. Dengan
pemahaman tersebut, rasionalisme dan empirisme harusnya bergabung agar melahirkan
suatu paradigma baru bahwa kebenaran empiris harus rasional, sebagaimana kebenaran
rasional harus empiris. Jika demikian, kemungkinan lahir aliran baru yakni rasionalisme
empiris. Pemikiran filsafat kritisme terhadap ilmu pengetahuan dapat terlihat dari putusan
sintetis apriori dalam Critique of Pure Reason antara lain:
1) Estetika Transendental
Awal pengetahuan adalah sensibilitas. Artinya pengetahuan berawal dari proses
sensasi atau pengindraan. Contohnya Aritmatika dan geometri.
2) Analitik Transendental
18
Intuisi murni tentang ruang dan waktu menyajikan kepada kita spektrum
pengetahuan (dalam epistemologi Kant digunakan istilah manifold, dimaksud sebagai
the totality of discrete items of experience as presented to the mind; the constituents of
a sensory experience).
3) Dialektika Transendental
Klasifikasi yang dilakukan intelek atas data-data yang ditangkap intuisi ke dalam
kategori-kategori tidak pernah mencapai suatu penyatuan sempurna. Sebagai akibatnya
timbul dalam diri kita ide-ide tertentu yang berfungsi sebagai titik acuan dan pengatur
bagi fenomena secara keseluruhan. Ide-ide dimaksud ada tiga, yakni, a) ego personal,
prinsip pemersatu atas semua fenomena internal; b) dunia eksternal, prinsip pemersatu
dari semua fenomena yang datang dari luar, dan c) Allah, prinsip pemersatu dari semua
fenomena, terlepas dari asal-usul mereka (Bakker, 1986: 175).
4. Positivisme
Menurut bidang ilmu sosiologi, antropologi, dan bidang ilmu sosial lainnya, istilah
positivisme sangat berkaitan erat dengan istilah naturalisme dan dapat dirunut asalnya ke
pemikiran Auguste Comte pada abad ke-19. Comte berpendapat, positivisme adalah cara
pandang dalam memahami dunia dengan berdasarkan sains. Penganut paham positivisme
meyakini bahwa hanya ada sedikit perbedaan (jika ada) antara ilmu sosial dan ilmu alam,
karena masyarakat dan kehidupan sosial berjalan berdasarkan aturan-aturan, demikian juga
alam (Abidin, Z, 2012; 104).
Positivisme adalah salah satu aliran filsafat modern. Secara umum boleh dikatakan
bahwa akar sejarah pemikiran positivisme dapat dikembalikan kepada masa Hume (1711-
1776) dan Kant (1724-1804). Hume berpendapat bahwa permasalahan-permasalahan ilmiah
haruslah diuji melalui percobaan (aliran empirisme). Sementara Kant adalah orang yang
melaksanakan pendapat Hume ini dengan menyusun Critique of pure reason (kritik terhadap
pikiran murni atau aliran kritisisme). Selain itu Kant juga membuat batasan-batasan wilayah
pengetahuan manusia dan aturan-aturan untuk menghukumi pengetahuan tersebut dengan
menjadikan pengalaman sebagai porosnya (Ahcmadi, 2007: 104).
Positivisme berasal dari kata positif. Kata positif disini sama artinya dengan faktual,
yaitu apa yang berdasarkan fakta-fakta. Menurut positivisme, pengetahuan kita tidak pernah
boleh melebihi fakta-fakta. Dengan demikian, maka ilmu pengetahuan empiris menjadi contoh
istimewa dalam bidang pengetahuan. Oleh karena itu, filsafat pun harus meneladani contoh
tersebut. Maka dari itu, positivisme menolak cabang filsafat metafisika. Menanyakan
hakikat benda-benda, atau penyebab yang sebenarnya, termasuk juga filsafat, hanya
menyelidiki fakta-fakta dan hubungan yang terdapat antara fakta-fakta (Praja, 2008: 205).
Tugas khusus filsafat menurut aliran ini adalah mengoordinasikan ilmu-ilmu
pengetahuan yang beraneka ragam coraknya. Tentu saja maksud positivisme berkaitan erat
dengan apa yang dicita-citakan oleh empirisme. Positivisme pun mengutamakan pengalaman.
19
Hanya saja berbeda dengan empirisme Inggris yang menerima pengalaman batiniah atau
subjektif sebagai sumber pengetahuan, positivisme tidak menerimanya. Ia hanya,
mengandalkan pada fakta-fakta.
Menurut Ahcmadi (1997: 104) tujuan utama yang ingin dicapai oleh positivisme adalah
membebaskan ilmu dari kekangan filsafat (metafisika). Menurut Ernst, ilmu hendaknya
dijauhkan dari tafisran-tafsiran metafisis yang merusak obyektivitas. Dengan menjauhkan
tafsiran-tafisran metafisis dari ilmu, para ilmuwan hanya akan menjadikan fakta yang dapat
ditangkap dengan indera untuk menghukumi segala sesuatu. Hal ini sangat erat kaitannya
dengan tugas filsafat. Menurut positivisme, tugas filsafat bukanlah menafsirkan segala sesuatu
yang ada di alam. Tugas filsafat adalah memberi penjelasan logis terhadap pemikiran. Oleh
karena itu filsafat bukanlah teori. Filsafat adalah aktifitas. Filsafat tidak menghasil proposisi-
proposisi filosofis, tapi yang dihasilkan oleh filsafat adalah penjelasan terhadap proposisi-
proposisi. Untuk lebih memahami konsep filsafat positifisme berikut riwayat hidup para
filsofnya.
a. Riwayat Hidup Tokoh Positivisme
1) Riwayat Hidup Auguste Comte (1798-1857 M)

nuraminsaleh.com
Bapak positivisme, Auguste Comte memiliki nama panjang Isidore Auguste
Marie Francois Xavier Comte. Ia lahir di Montpellier Prancis pada tanggal 19 Januari
1798 dari keluarga bangsawan Katolik. Namun, ia tidak mengikuti kepercayaan
keluarganya yaitu agama Katolik sejak usia muda, ia mendeklarasikan dirinya seorang
Atheis. Comte kecil mengenyam pendidikan lokal di Montpellier dan mendalami
matematika. Pada usia ke 25 tahun ia hijrah ke Paris dan belajar di Echole
Polytechnique dalam bidang psikologi dan kedokteran. Selain itu, di Paris ia juga
mempelajari pikiran-pikiran kaum ideolog (Hamersma,1984: 152-159).
Comte adalah mahasiswa yang brillian, namun ia tidak berhasil menamatkan
studi di perguruan tinggi. Ia adalah mahasiswa yang keras kepala dan suka
memberontak. Ia dikeluarkan karena gagasan politik dan pemberontakan dengan teman
sekelasnya. Selain dikenal dengan sifat pemberontak dan keras kepala, Comte juga
dikenal sebagai mahasiswa yang berfikiran bebas dan memiliki kemauan keras untuk
tidak ingin berada di bawah posisi orang lain yang kemungkinan besar akan
mengaturnya. Comte hidup pada masa Revolusi Perancis, rezim Napoleon, pergantian

20
monarki dan periode republik dimana pergolakan sosial-politik terjadi cukup hebat. Hal
tersebut yang melatar belakangi pemikiran Comte. Walau mengalami masa yang sulit ia
tetap bekerja keras diantaranya dengan memberi les matematika dan aktif menulis. Dari
sinilahlah, karir profesional Comte dimulai (Poedjawijatna, 2005:179).
Delapan tahun sejak pertemuan dan pengabdiannya dengan Simon tepatnya pada
tahun 1824, Comte memutuskan untuk tidak lagi mengikutinya. Hal tersebut didasarkan
karena Simon menghapuskan namanya dari salah satu karya sumbangannya. Sejak saat
itu Comte memulai menjalani kehidupan intelktualnya sendiri menjadi dosen penguji,
pembimbing dan mengajar mahasiswa secara privat. Pada tahun 1852, Comte
menyatakan bahwa ia tak lagi memilki hutang apapun terhadap Saint Simon. Kehidupan
Comte tidak berjalan mulus, selain penghasilan yang diperoleh tidak dapat mencukupi
kebutuhan hidupnya karya yang disusunnya juga terbengkalai (Hamersma,1984: 152-
159).
Comte mengalami tekanan psikoogi yang hebat, bahkan menurut Ope dalam
Tradisi Aliran dalam Sosiologi menceritakan bahwa tidak jarang perdebatan yang
dilalui oleh Comte berakhir dengan perkelahian. Tekanan demi tekanan membuat
Comte semakin terpuruk, bahkan sampai membuatnya dirinya nekat dan menceburkan
diri ke sungai. Di tengah keterpurukannya datanglah Caroline Massin, seorang pekerja
seks yang tampa pamrih merawat Comte. Dalam merawat Comte, Caroline tidak hanya
terbebani secara materil namun Comte juga tak kunjung berubah hingga akhirnya ia
meninggalkannya dan Comte kembali pada kegilaannya. Di akhir usianya Comte
mengalami ganguan jiwa dan wafat di Paris pada 1857 (Hamersma,1984: 152-159).
2) Riwayat Hidup John Stuart Mill ( 1806 1873 M)

nuraminsaleh.com
John Stuart Mill dilahirkan pada Rodney Street di Pentonville daerah London
pada tahun 1806, anak sulung dari filsuf Skotlandia, sejarawan dan imperialis James
Mill dan Harriet Burrow. Mill tidak pernah sekolah, namun ayahnya memberi suatu
pendidikan yang sangat baik. Terbukti sejak kecil usia 3 tahun sudah diajari bahasa
Yunani, dan bahasa Latin pada usia 8 tahun, serta ekonomi politik dan logika (termasuk
karya asli Aristoteles) pada usia 12 tahun dan mendiskusikannya dengan ayahnya.
Selanjutnya Mill mempelajari ekonomi, Demonthenes dan Plato khususnya pada
metode dan argumentasi. Pada usia 15 tahun, ia membaca karangan Jeremy Betham dan
berhasil mempengaruhi paradigma berfikirnya, sehingga ia mematangkan pendapatnya

21
dan memantapkan tujuannya untuk menjadi Sosial Reformer (pembaharu sosial).
Ketika berusia 17 tahun, Mill bekerja di India House Company, di mana Ia mengabdi
selama tiga puluh lima tahun sampai perusahaan tersebut bubar pada tahun 1853 (Fatah,
2014).
Sejak kecil Mill juga mendapatkan pendidikan langsung dari pamannya Jeremy
Betham. Sehingga tidak mengherankan ketika berusia 20 tahun, Mill sudah terkenal
sebagai pemimpin gerakan utilitarianisme yang kritis. Di samping itu, ketika bekerja di
India Company pada tahun 1823, Ia selalu meluangkan banyak waktu untuk melakukan
pengembaraan intelektual dan menyebarkan ajaran utilitarianisme melalui surat kabar
dan jurnal (Abidin, Z, 2012; 241).
Mengingat pekerjaannya yang begitu intensif, tidaklah mengherankan bahwa
pada tahun 1826 ia mengalami keambrukan karena sakit saraf. Namun, krisis mental itu
mempunyai efek yang positif. Ia mulai membebaskan diri dari filsafat Jeremy Betham
dan mengembangkan pahamnya sendiri tentang utilitarianisme. Paham ini
dirumuskannya dalam Essay Utilitarianism dari tahun 1864, yang kemudian menjadi
bahan sebuah diskusi hebat selama hampir seluruh akhir abad ke 19, terutama di
Inggris. Paham khas tentang utilitarianisme yang dirumuskan Mill merupakan
sumbangan penting kepada filsafat moral. Ia meninggal di Avigron di Prancis pada
tahun 1873 (Fatah, 2014).
b. Ajaran dan Karya Kefilsafatan Positivisme
1) Ajaran dan Karya Kefilsafatan Auguste Comte
Filsafat Positivisme diperkenalkan oleh Auguste Comte. Positivisme sendiri
berasal dari positif. Istilah filsafat positif mulai digunakan Comte pada karyanya
Cours de Philosophie Positive dan terus mengunakan istilah itu di seluruh karyanya.
Filsafat digunakan sebagai sistem umum tentang konsep-konsep umum mengenai
manusia dan positif digunakan sebagai teori yang bertujuan untuk menyusun fakta-
fakta yang teramati. Dalam hal ini Comte menyatakan bahwa ilmu pengetahuan tidak
bisa melampaui fakta sehingga positivisme benar-benar menolak metafisika dan
menerima adanya das Ding an Sich (Objek yang tidak bisa diselidiki oleh
pengetahuan ilmiyah) (Hadiwijono, 2005: 179)
Comte menerangkan dalam karyanya yang berjudul Discour sur lsprit positif
(1984), pengertian positif menurut Comte ialah sebagai berikut;
a) Positif merupakan lawan dari khayal (chimrique), artinya positif adalah hal hal
yang bersifat nyata (rel). Pengertian ini melanjutkan bahwa objek filsafat
positivisme adalah hal yang dapat dijangkau akal, sedangkan hal hal yang diluar
nalar atau akal bukan atau tidak dapat menjadi kajian dari filsafat positivisme,
b) Positif adalah lawan dari sesuatu yang tidak bermanfaat (oiseux) artinya positif
adalah hal yang bermanfaat (utile). Dari pengertian ini dapat diartikan bahwa tujuan
22
dari pemikiran filsafat positivisme tidak berhenti pada pemenuhan rasa
keingintahuan manusia, namun lebih dari itu segala pemikiran yang dilandasi
positivisme harus diarahkan kepada kemajuan ilmu pengetahuan untuk manusia.
c) Positif sebagai lawan dari keraguan (indcision), berarti positif sendiri adalah
keyakinan (certitude). Positif diartikan pada hal hal yang sudah pasti.
d) Positif sebagai lawan dari kabur (vague), maka positif disifati sebagai suatu hal
yang jelas atau tepat (prcis). Hal tersebut sesuai dengan ajaran filsafat Comte yang
menyatakan bahwa pemikiran filsafati harus dapat memberikan pemikiran yang jelas
dan tepat, baik mengenai hal hal yang nampak atau hal hal yang tak nampak yang
sebenarnya dibutuhkan. Hal ini menjadi antitesa dari cara berfilsafat lama yang
memberikan pedoman yang tidak jelas.
e) Positif sebagai lawan negatif hal ini digunakan untuk menunjukkan sifat filsafat
positivisme yang mengarah pada penataan dan penertiban pola pikir.
Filsafat positivisme yang diungkapkan Comte melontarkan kritik yang keras
terhadap metodologi pengetahuan sistematis yang berkembang subur pada abad
pertengahan yaitu metafisika. Berbeda dengan meatafisika, positivisme mendasari
pengetahuan dengan fakta objektif (nyata, pasti, tepat, berguna dan mutlak) sedangkan
metafisika tidak dapat membuktikan kebenaran perntaan pernyataanya secara indrawi
(pengamatan dan percobaan) (Hanafi, 1981: 78).
Auguste Comte membagi tahap perkembangan pemikiran manusia dari masa ke
masa menjadi tiga tahap, yaitu; tahap teologis, tahap metafisis dan tahap positif. Ketiga
tahap ini dipahami Comte sebagai satu kesatuan tahap perkembangan pola pokir
manusia sebagaimana perkembangan tahap kehidupan umat manusia dari masa kanak-
kanak menjadi masa remaja kemudian menjadi masa dewasa. Berikut uraian
perkembangan hukum tiga tahap comte:
a) Tahap Teologis atau Fiktif (the theological or fictitious)
Tahap ini merupakan awal perkembangan jiwa manusia. Gejala-gejala atau
fenomena yang menarik selalu dikaitkan dengan konteknya. Dalam frase ini manusia
selalu mempertanyakan hal-hal yang paling sukar dan menurut pendapatnya bahwa
hal yang sukarpun harus diketahui dan dikenal. Comte menyatakan bahwa tahapan
ini tidak terjadi begitu saja, namun ada sebab musababnya. Tahapan pada fase ini
adalah Fetisysme (fetishism), adalah suatu bentuk kehidupan masyarakat yang
beranggapan bahwa segala sesuatau yang berada di sekitar mansuia memiliki
kehidupan sendiri yang berbeda dengan kehidupan manusia. Politeisme (polytheism),
pemahaman ini lebih berkembang dari pada fetisysme. Yaitu bahwa segala sesuatu
tidak lagi benda benda disekeliling manusia, namun adanya kekuatan yang mengatur
itu dan berada di sekeliling manusia. Monotheisme (monotheism), merupakan

23
pemahaman masyarakat segala seuatu tidak lagi diatur oleh dewa yang menguasai
benda-benda atas gejala-gejala alam (Lorens, 2012: 49-50).
b) Tahap Metafisis (the metaphysical or abstract)
Berakhirnya masa monotheis merupakan awal dari tahap metafisis. Manusia
mulai merubah pola pikir guna menemukan jawaban atas pertanyaan berkaitan
dengan gejala alam yang terjadi. Manusia mulai meninggalkan dogma-dogma agama
dan beralih dari adanya adikodrati (kuasa tunggal) dalam hal ini adalah tuhan
menjadi adanya kemampuan yang abstrak. Dalam hal ini Comte menerangkan bahwa
masa ini adalah masa peralihan atau transisi dari masa kanak-kanak menjadi masa
dewasa. Karena ketidakpercayaan manusia akan adanya adikodrati akhir mereka
mau tidak mau menggunakan akal budi sebagai sumber mancari kebenaran (Lorens,
2012: 49-50).
c) Tahap Positif (the positive or scientific)
Pada masa ini manusia lebih berkembang dari masa sebelumnya. Jika pada
masa metafisik manusia merasa cukup dengan pengetahuna yang abstrak, pada masa
ini yang dibutuhkan adalah pengetahuan yang ril. Pengatahuan yang dicapai harus
melalui pengamatan, percobaan dana perbandingan di atas hukum hukum yang
umum (abtrak) (Lorens, 2012: 49-50).
2) Ajaran dan Karya Kefilsafatan John Stuart Mill
John Stuart Mill adalah seorang filosof Inggris yang menggunakan sistem
positivisme pada ilmu jiwa, logika, dan kesusilaan. John Stuart Mill memberikan
landasan psikologis terhadap filsafat positivisme. Karena psikologi merupakan
pengetahuan dasar bagi filsafat. Seperti halnya dengan kaum positif, Mill mengakui
bahwa satu-satunya yang menjadi sumber pengetahuan ialah pengalaman. Karena itu
induksi merupakan metode yang paling dipercaya dalam ilmu pengetahuan (Tafsir,
2000: 65).
Didalam etika (ilmu kesusilaan) Mill menuju kepada hubungan timbal balik
antara individu dan masyarakat atas dasar utilitarisme yang berpangkal pada
pertimbangan psikologis (Tafsir, 2000: 65). Menurut teori ini, manusia harus bertindak
sedemikian rupa, sehingga menghasilkan akibat-akibat sebanyak mungkin dan sedapat-
dapatnya mengelakkan akibat-akibat buruk. Kebahagiaan tercapai jika memiliki
kesenangan dan bebas dari kesusahan. Suatu perbuatan dapat dinilai baik atau buruk
sejauh dapat meningkatkan kebahagiaan kepada orang lain sebanyak mungkin.
Mill adalah seorang penulis yang produktif. Tulisan-tulisannya tentang ekonomi
dan kenegaraan dibaca luas. Salah satu tulisannya paling gemilang dalam etika politik
segala zaman adalah bukunya On Liberty di tahun 1859, yang merupakan pembelaan
kebebasan individu terhadap segala usaha penyamarataan masyarakat. Tulisan lainnya
yang penting adalah System of Logic pada tahun 1843, Principles of Political Economy
24
pada tahun 1848, Considerations on Representative Government, dan The Subjection Of
Women diselesaikan pada tahun 1861 (Abidin, Z, 2012; 241).
Mill menyatakan bahwa ada dua sumber pemikiran utilitarianisme. Pertama,
dasar normatif artinya suatu tindakan dianggap benar kalau bermaksud mengusahakan
kebahagiaan atau menghindari hal yang menyakitkan. Kedua, dasar psikologi artinya
dalam hakikat manusia berasal dari keyakinannya bahwa mayoritas orang punya
keinginan dasar untuk bersatu dan hidup harmonis dengan sesama manusia.
c. Sumbangan Filsafat Positivisme terhadap Ilmu Pengetahuan Masa Kini
Pandangan filosofis merupakan cara melihat pendidikan dari hakikat pendidikan
dalam kehidupan manusia. Selain itu, filsafat dapat diartikan juga sebagai pola pikir dengan
ciri-ciri tertentu, yakni kritis, sistematis, logis, kontemplatif, radikal dan spekulatif.
Sementara itu, pengaruh positivisme yang sangat besar dalam zaman modern sampai
sekarang ini, telah mengundang para pemikir untuk mempertanyakannya, kelahiran post
modernisme yang narasi awalnya dikemukakan oleh Daniel Bell dalam bukunya The
cultural contradiction of capitalism, yang salah satu pokok fikirannya adalah bahwa etika
kapitalisme yang menekankan kerja keras, individualitas, dan prestasi telah berubah
menjadi hedonis konsumeristis.
Menurut Tafsir (2000) positivisme merupakan salah satu akar utama dari filsafat
modern selain analisis linguistik. Para postivitis Perancis abad ke-19, di bawah
kepemimpinan Auguste Comte, berpegang bahwa pengetahuan (knowledge) harus
didasarkan pada persepsi rasa (sense perception) dan investigasi ilmu pengetahuan
(science) yang objektif, oleh karena itu, positivisme telah membatasi pengetahuan kepada
statements, fakta yang dapat diobservasi dan hal-hal yang berkaitan dengannya, dan
menolak pandangan dunia yang bersifat metafisik atau pandangan dunia yang berisi unsur-
unsur yang tidak dapat diverifikasi secara empiris. Sikap negatif terhadap setiap realitas di
luar rasa (sense) manusia telah mempengaruhi banyak bidang-bidang pemikiran modern,
termasuk pragmatisme, behaviorisme, naturalisme saintifik, dan gerakan analitik tersebut.
Hukum tiga tahap yang telah dibahas sebelumnya merupakan pandangan filsafat
Comte. Selain itu juga diterangkan tahap perkembangan-perkembangan pemikiran manusia
menuju puncak kemajuan yaitu pada tahap positif Comte. Kemajuan yang dimaksudkan
adalah kemajuan dalam kehidupan bermasyarakat dan kemajuan dalam ilmu pengetahuan
(scientific knowledge). Comte mengakui bahwa tujuan dari ilmu pengetahuan adalah unutk
mencapai kekuasaan sebagaimana semboyan menyatakan bahwa knowledge is power,
akan tetapi tidak boleh dikesampingkan bahwa tujuan ilmu pengetahuan juga memberi
pengetahuan bagi manusia mengenai hukum-hukum gejala (fenomena) alam sehingga
dapat mengantisipasi, meramalkan gejala alam bahkan merubah alam sendiri seperti yang
dibutuhkan oleh manusia (Hanafi, 1981: 56).

25
Comte dalam mengukur kemajuan ilmu pengetahuan mengklasifikasikan ilmu
pengetahuan menjadi beberapa cabang sejalan dengan gejala-gejala pengetahuan yang
paling umum akan tampil terlebih dahulu. Berikut urutan klasifikasi ilmu pengetahuan
menurut Auguste Comte yang dikutip dalam Hadiwijono (2005: 184):
a. Ilmu Pasti (Matematika)
Seperti pandangan filsafat positivisme terhadap ilmu pengetahuan yaitu untuk
menyelesaikan masalah-masalah sehingga ilmu pengetahuan bersifat pragmatik. Comte
menyatakan bahwa ilmu pasti dapat menunjukkan kuantitas gejala apapun sehingga
dapat mendeduksikan segala sesuatu dari diri mereka masing-masing. Dengan metode
yang benar, ilmu pasti akan meraih hasil yang sesutau dengan sebenarnya yang
merupakan ilmu pengetahuan dalam tingkat kesederhanaan dan ketepatan yang
tertinggi menurut akal manusia. Hal inilah menjadikan matematika menjadi dasar bagi
ilmu pengetahun karena bersifat tetap, abstrak dan pasti.
b. Ilmu Perbintangan (Astronomi)
Ilmu perbintangan mengunakan dasar-dasar ilmu pasti (matematika) untuk
menyusun hukum hukum benda langit. Ilmu perbintangan dibagi menadi dua kategori
yaitu celestial geometrydan celsetial mechanic yang kesemuanya itu menerangkan
bentuk, ukuran, kedudukan, serta gerak gerak enda langit seperti bintang, bulan,
matahari, bumi dan planet-planet yang lain. Selain itu dijelaskan pula gaya tarik bumi
(gravitasi) dan kosmogoni yang kesemuanya itu dapat dilakuakan dengan pengamatan
langsung (direct observation).
c. Ilmu Alam (Fisika)
Ilmu alam adalah kategori ketiga karena ilmu alam berkaitan erat dengan dua
ilmu sebelumnya yaitu; ilmu pasti dan ilmu perbintangan. Pengetahuan mengenai ilmu
astronomi (benda-benda) langit merupakan dasar memahami ilmu alam, kerena ilmu ini
mempelajari gejala gejala yang lebih komplek yang kesemuanya itu tidak dapat
dipahami kecuali telah mempelajari ilmu perbintangan. Ilmu alam dapat diteliti melalui
ekperimen (observation by experiment) seperti mempelajari ilmu berat benda (barologi),
panas benda (termologi), akustk, optik dan listrik. Comte menggunakan ilmu alam
untuk menentukan hukum-hukum yang mengatur sifat-sifat umum benda yang dikaitkan
dengan massa.
d. llmu Kimia (Chemistry)
Gejala yang digunakan unutk meneliti lmu kimia lebih komplek dari pada ilmu
alam. Ilmu kimai memiliki keterikatan dengan ilmu hayat (biologi), bahkan juga
sosiologi. Karena pendekatan yang digunakan unutk mempelajari ilmu ini tidak hanya
melalui pengamatan (observasi) dan percobaan (eksperimen) namun jua dengan
perbandingan (komparasi).
e. Ilmu Hayati (Fisiologi/Biologi)
26
Pada tingkatan penggolongan ilmu hayati sudah berhadapan dengan gejala-gejala
kehidupan dengan unsur unsur yang lebih komplek disertai dengan adanya perubahana
perubahan yang sedemikian rupa. Mengenai ilmu ini ia berpendapat bahwa ilmu hayati
ini dalam perkembangannya belum sampai pada tahap ilmu positif seperti halnya ilmu
pasti, ilmu perbintangan, ilmu alam dan ilmu kimia.
f. Fisika Sosial (Sosiologi)
Kategori ilmu pengetahuan yang dikalsifikasikan oleh Comte, fisika sosial adalah
kategori terakhir. Hal ini disebabkan fisika sosial harus berhadapan dengan
permasalahan yang paling kompleks, paling kongret dan khusus yaitu gejala yang
berkaitan dengan manusia dan kelompok. Fisika sosial bukan kelanjutan dari ilmu
hayati, karena gejala gejala timbul akibat adanya hubungan atara individu satu dengan
individu yang lain dalam sebuah masyarakat. Bagi Comte fisika sosial merupakan sutau
bidang yang meliputi tata pemerintahan negara, etik dan filsafat sejarah sedangkan
hukum yang berlaku tidak mutlak. Adakalanya hukum fisika sosial ini bersifat statis dan
adakalanya hukum yang timbul karena bersifatnya dinamis.
Salah satu cita-cita bangsa Indonesia ialah menciptakan generasi-generasi
penerus bangsa yang tidak hanya cerdas dari segi kognitif saja melainkan juga cerdas
secara emosi dan spriritual melalui bidang pendidikan. Melalui filsafat positivisme,
pendidikan diarahkan kepada hal baik dalam segi intelektual dan berbagai bidang
kehidupan untuk menciptakan anak didik yang sempurna baik lahir maupun batinnya.
Peserta didik diasah dalam kemampuannya melihat, menemukan fakta-fakta,
menganalisis sesuatu, serta mentransfer ilmu kepada lingkungannya. sehingga
diharapkan dapat terbentuknya anak bangsa yang kreatif, berkarakter, serta mampu
berkontribusi dalam pembangunan bangsa agar lebih baik dan mampu bersaing dengan
negara asing.
5. Materialisme
Munculnya positivisme dan evolusionisme menambah terbukanya pintu pengingkaran
terhadap aspek kerohanian. Perbedaan antara materialisme dengan positivisme adalah bahwa
positivisme membatasi diri pada fakta-fakta. Yang ditolaknya ialah tiap-tiap keterangan yang
melampaui fakta-fakta. Karena alasan itulah dalam rangka positivisme tidak ada tempat untuk
metafisika. Materialisme mengatakan bahwa realitas seluruhnya tediri dari materi. Itu berarti
bahwa tiap-tiap benda atau kejadian dapat dijabarkan kepada materi atau salah satu proses
material atau kiranya sudah jelas bahwa materialisme mengakui kemungkinan metafisika,
karena materialisme sendiri berdasarkan suatu metafisika (Bertens, 2011 : 77).

27
a. Riwayat Hidup Tokoh Filsafat Materialisme
1) Riwayat Hidup Karl Marx (1818-1883 M)

blogpenemu.blogspot.co.id
Marx lahir di Trier Jerman pada tahun 1818. Ayahnya merupakan seorang
Yahudi dan pengacara yang cukup berada, dan ia masuk Protestan ketika Marx berusia
enam tahun. Setelah dewasa Marx melanjutkan studinya ke universitas di Bonn,
kemudian Berlin. Ia memperoleh gelar doktor dengan desertasinya tentang filsafat
Epicurus dan Demoktirus. Kemudian, ia pun menjadi pengikut Hegelian sayap kiri dan
pengikut Feurbach. Dalam usia dua puluh empat tahun, Marx menjadi redaktur Koran
Rheinich Zeitung yang dibrendel pemerintahannya karena dianggap revolusioner.
Setelah ia menikah dengan Jenny Von Westphalen (1843) ia pergi ke Paris dan disinilah
ia bertemu dengan F.Engels dan bersahabat dengannya. Tahun 1847, Marx dan Engels
bergabung dengan Liga Komunis, dan atas permintaan liga komunis inilah, mereka
mencetuskan Manifesto Komunis (1848) (Hamersma, 1984: 107).
2) Riwayat Hidup Thomas Hobbes (1588-1679 M)

blogpenemu.blogspot.co.id
Thomas Hobbes dari Malmesbury (lahir di Malmesbury, Wiltshire, Inggris, 5
April 1588 meninggal di Derbyshire, Inggris, 4 Desember 1679 pada umur 91 tahun)
adalah seorang filsuf Inggris yang beraliran empirisme. Pandangannya yang terkenal
adalah konsep manusia dari sudut pandang empirisme-materialisme, serta pandangan
tentang hubungan manusia dengan sistem negara. Hobbes memiliki pengaruh terhadap
seluruh bidang kajian moral di Inggris serta filsafat politik, khususnya melalui bukunya
yang amat terkenal "Leviathan". Hobbes tidak hanya terkenal di Inggris tetapi juga di
Eropa Daratan. Selain dikenal sebagai filsuf, Hobbes juga terkenal sebagai ahli
matematika dan sarjana klasik. Ia pernah menjadi guru matematika Charles II serta
menerbitkan terjemahan Illiad dan Odyssey karya Homeros (Hamersma, 1984: 119).

28
b. Ajaran dan Karya Kefilsafatan Materialisme
1) Ajaran dan Karya Kefilsafatan Karl Marx
Dasar filsafat Marx adalah bahwa setiap zaman, sistem produksi merupakan hal
yang fundamental. Yang menjadi persoalan bukan cita-xita politik atau teologi yang
berlebihan, melainkan suatu sistem produksi. Sejarah merupakan suatu perjuangan
kelas, perjuangan kelas yang tertindas melawan kelas yang berkuasa. Pada waktu itu
Eropa disebut kelas borjuis. Pada puncaknya dari sejarah ialah suatu masyarakat yang
tidak berkelas, yang menurut Marx adalah masyarakat komunis. Pandangan Marx
tentang agama, sama seperti halnya Feurbech, yang memandang agama sebagai
proyeksi kehendak manusia. Perasaan atau gagasan keagamaan merupakan hasil
kemauan suatu masyarakat tertentu, yang berada di dunia sekarang ini. Agama
dihasilkan oleh masyarakat, oleh Negara, oleh perorangan, bukan berasal dari dunia
ghaib. Pandangan ini terutama yang paling bertentangan dengan ajaran Pancasila
(Abidin, 2012: 120).
2) Ajaran dan Karya Kefilsafatan Thomas Hobbes
Dua karya penting Hobbes adalah Human Nature (1650) dan Element of Law,
Natural and Political (1639). Dua karya ini meneguhkan pemikiran filsafat Hobbes
yang materialistis dan salah satu pemikir politik yang penting. Secara kefilsafatan
Hobbes mendapat pengaruh kuat dari Descartes, dan lebih khusus lagi adalah Bacon. Di
tangan Hobbes, filsafat Bacon disistematisasi secara lebih maju. Ia berpendapat bahwa
segala kejadian itu ditentukan oleh gerak dan bentuk-bentuk obyek yang material.
Sedangkan berbagai cita-rasa dalam diri manusia yang berdasarkan panca indra (warna,
nada, rasa, dsb) adalah bersifat subyektif. Menyangkut soal agama dan Tuhan, ia
berpendapat bahwa manusia tidak mungkin mengetahui apa pun tentang eksistensi
Tuhan. Ketidaktahuan tentang seluruh hal-ihwal tentang alam membuat manusia mudah
percaya pada khayalannya sendiri atau khayalannya orang lain. Rasa takut berakar dari
kebodohan atau ketidaktahuan manusia sendiri, yang cenderung menggunakan praduga-
praduga dan mendalihkan pada mereka sendiri berbagai hal yang sifatnya ghaib yang
mendapatkan kewajarannya pada agama. Menurut Thomas Hobbes materialisme
menyangkal adanya jiwa atau roh karena keduanya hanyalah pancaran dari materi.
Dapat dikatakan juga bahwa materialisme menyangkal adanya ruang mutlak lepas dari
barang-barang material (Hamersma, 1984: 119).
c. Sumbangan Filsafat Materialisme terhadap Ilmu Pengetahuan Masa Kini
Materialisme tidak seluruhnya dari dulu sampai sekarang dalam satu konsep
pendapat yang tetap dan sama. Akan tetapi, materialisme mengalami perubahan seiring
dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Adanya aliran dalam materialisme tersebut hanya
terbatas dalam pemikiran atau ide-ide saja yang disebabkan oleh adanya pendekatan yang
berbeda. Adapun aliran-aliran tersebut adalah :
29
1) Materialisme mekanik (mekanisme)
Materialisme adalah teori yang mengatakan bahwa semua bentuk dapat
diterangkan menurut hukum yang mengatur materi dan gerak. Bagi seorang pengikut
aliran materialisme mekanik, semua perubahan dunia, baik perubahan yang menyangkut
atom atau perubahan yang menyangkut manusia, semuanya bersifat kepastian semata-
mata. Terdapat suatu rangkaian sebab-musabab yang dijelaskan dengan prinsip-prinsip
sains alam semata-mata. Materialisme mekanik merupakan doktrin yang mengatakan
bahwa alam itu diatur oleh hukum-hukum alam yang dapat diruangkan dalam bentuk-
bentuk matematika jika data-datanya telah terkumpul. Seorang pengikut aliran
materialisme mekanik berpendirian bahwa semua fenomena dapat dijelaskan dengan
cara yang dipakai dalam sains fisik (Abdul, 2008 : 369-371).
Dasar-dasar materialisme dibentuk oleh sains matematika dan fisika. Prinsip-
prinsip penjelasan tersebut kemudian dipakai oleh ilmu-ilmu: biologi, psikologi, dan
ilmu masyarakat.
2) Materialisme dialektika
Materialisme dialektika merupakan ajaran Karl Marx. Materialisme dialektik
timbul dari perjuangan sosial yang hebat, yang muncul sebagai akibat dari Revolusi
Industri. Pandangan materialisme yang menyatakan bahwa realitas seluruhnya terdiri
dari materi, berarti bahwa tiap-tiap benda atau kejadian dapat dijabarkan kepada materi
atau salah satu proses materiil. Dalam filsafat Marx, tampak ada pandangan dualistik,
yaitu ia menganggap bahwa ala mini terdiri dari dua kenyataan, yaitu materi dan idea
tau kesadaran (conciousness) (Abdul, 2008 : 369-371).
Materi diartikan sebagai segala sesuatu yang berupa objek atau kegiatan
kerohanian manusia yang meliputi pikiran, perasaan, kemauan, watak. Prinsip dalam
aliran materialisme dialektika memandang bahwa alam semesta ini bukan tumpukan
yang terdiri dari segala sesuatu yang berdiri sendiri dan terpisah-pisah, tetapi
merupakan satu keseluruhan yang bulat dan saling berhubungan. Alam ini bukan suatu
yang diam, tetapi selalu dalam keadaan bergerak terus-menerus dan berkembang. Dalam
proses perkembangannya, pada alam semesta ini terdapat perubahan kuantitas dan
kualitas dan sebaliknya. Secara singkat ciri-ciri materialisme dialektika adalah
mempunyai asas gerak, asas saling berhubungan, asas perubahan kuantitas dan kualitas.
3) Materialisme historis
Perkembangan sejarah manusia dan masyarakat pun tunduk dan mempunyai
watak yang materialistik idealektis. Oleh sebab itu, bila teori itu diterapkan pada gejala
masyarakat, tumbulah apa yang dinamakan metarialisme historis. Disini pikiran dasar
ialah bahwa arah yang ditempuh sejarah sama sekali ditentukan oleh perkembangan
sarana-sarana produksi yang material. Jika sebagai contoh kita memilih pengolahan
tanah maka perkembangan sarana-sarana produksi adalah umpamanya : tongkat, pacul,
30
bajak, mesin. Biarpun sarana-sarana produksi sendiri merupaakan buah hasil pekerjaan
manusia. Namun arah sejarah tidak tergantung dari kehendak manusia (Bertens,1981:
80-81).
B. Keunggulan dan Kekurangan Filsafat Barat
1. Keunggulan Filsafat Barat Modern
a. Kelebihan Rasionalisme adalah mampu menyusun sistem-sistem kefilsafatan yang berasal
dari manusia. Umpamanya logika, yang sudah ada sejak zaman Aristoteles, kemudian
matematika dan kebenaran rasio diuji dengan verifikasi konsistensi logis. Kelebihan
rasionalisme adalah dalam hal nalar dan menjelaskan penalaran-penalaran yang rumit,
kemudian rasionalisme berpikir menjelaskan dan menekankan akal budi sebagai karunia
lebih yang dimiliki oleh semua manusia.
b. Kelebihan Empirisme selalu menggunakan indera untuk memperoleh pengetahuan yang
berasal dari pengalaman indera. John Locke mengemukakan bahwa manusia itu pada
mulanya kosong dari pengetahuan. Mula-mula tangkapan indera yang masuk itu sederhana,
lama-kelamaan menjadi kompleks, lalu tersusunlah pengetahuan berarti. Jadi
bagaimanapun kompleks pengetahuan manusia, ia selalu dapat dicari ujungnya pada
pengalaman indera. Sesuatu yang tidak dapat diamati dengan indera bukanlah pengetahuan
yang benar. Jadi pengalaman itulah sumber pengetahuan yang benar.
c. Kelebihan Positivisme lahir dari faham empirisme dan rasional, sehingga kadar dari faham
ini jauh lebih tinggi dari pada kedua faham tersebut. Positivisme telah mampu mendorong
lajunya kemajuan disektor fisik dan teknologi. Positivisme sangat menekankan aspek
rasionali-ilmiah, baik pada epistemologi ataupun keyakinan ontologik yang dipergunakan
sebagai dasar pemikirannya.
d. Kelebihan Pragmatisme membawa kemajuan-kemajuan yang pesat bagi ilmu pengetahuan
maupun teknologi. Pragmatisme telah berhasil membumikan filsafat dari corak sifat yang
Tender Minded yang cenderung berfikir metafisis, idealis, abstrak, intelektualis (Pratiwi,
2012).
2. Kekurangan Filsafat Barat Modern
a. Kelemahan Rasionalisme adalah mengenai kriteria untuk mengetahui akan kebenaran dari
suatu ide yang menurut seseorang adalah jelas dan dapat dipercaya tetapi menurut orang
lain tidak. Jadi masalah utama yang dihadapi kaum rasionalisme adalah evaluasi dari
kebenaran premis-premis ini semuanya bersumber pada penalaran induktif, karena premis-
premis ini semuanya bersumber dari penalaran rasional yang bersifat abstrak. Terbebas dari
pengalaman maka evaluasi semacam ini tidak dapat dilakukan. Oleh sebab itu maka lewat
penalaran rasional akan didapatkan bermacam-macam pengetahuan mengenai satu objek
tertentu tanpa adanya konsensus yang dapat diterima oleh semua pihak. Dalam hal ini maka
pemikiran rasional cenderung untuk bersifat solipsistik dan subjektif.

31
b. Kelemahan Empirisme adalah timbul dalam penyusunan pengetahuan secara empiris yaitu
bahwa pengetahuan yang dikumpulkan cenderung untuk menjadi suatu kumpulan fakta-
fakta. Kumpulan tersebut belum tentu bersifat konsisten dan mungkin saja terdapat hal-hal
yang bersifat kontradiktif. Suatu kumpulan mengenai fakta atau kaitannya antara berbagai
fakta, belum menjamin terwujudnya suatu system pengetahuan yang sistematis kecuali
kalau dia hanya seorang kolektor barang-barang serbaneka. Lebih jauh Einsten
memingatkan bahwa tak terdapat metode induktif yang memungkinkan berkembangnya
konsep dasar suatu ilmu.
c. Kelemahan Positifisme
1) Analisis biologik yang ditransformasikan ke dalam analisis sosial dinilai sebagai akar
terpuruknya nilai-nilai spiritual dan bahkan nilai-nilai kemanusiaan. Hal ini dikarenakan
manusia tereduksi ke dalam pengertian fisik-biologik.
2) Akibat dari ketidakpercayaannya terhadap sesuatu yang tidak dapat diuji kebenarannya,
maka faham ini akan mengakibatkan banyaknya manusia yang nantinya tidak percaya
kepada Tuhan, Malaikat, Setan, surga dan neraka. Padahal yang demikian itu didalam
ajaran Agama adalah benar kebenarannya dan keberadaannya. Hal ini ditandai pada saat
paham positivistik berkembang pada abad ke 19, jumlah orang yang tidak percaya
kepada agama semakin meningkat.
3) Manusia akan kehilangan makna, seni atau keindahan, sehingga manusia tidak dapat
merasa bahagia dan kesenangan itu tidak ada. Karena dalam positivistik semua hal itu
dinafikan.
4) Hanya berhenti pada sesuatu yang nampak dan empiris sehingga tidak dapat
menemukan pengetahuan yang valid.
5) Positivisme pada kenyataannya menitik beratkan pada sesuatu yang nampak yang dapat
dijadikan obyek kajiaannya, di mana hal tersebut adalah bergantung kepada panca
indera. Padahal perlu diketahui bahwa panca indera manusia adalah terbatas dan tidak
sempurna. Sehingga kajiannya terbatas pada hal-hal yang nampak saja, padahal banyak
hal yang tidak nampak dapat dijadikan bahan kajian.
6) Hukum tiga tahap yang diperkenalkan Comte mengesankan dia sebagai teorisi yang
optimis, tetapi juga terkesan lincar, seakan setiap tahapan sejarah evolusi merupakan
batu pijakan untuk mencapai tahapan berikutnya, untuk kemudian bermuara pada
puncak yang digambarkan sebagai masyarakat positivistik. Bias teoritik seperti itu tidak
memberikan ruang bagi realitas yang berkembang atas dasar siklus yakni realitas
sejarah berlangsung berulang-ulang tanpa titik akhir sebuah tujuan sejarah yang final
(Pratiwi, 2012).
d. Kelemahan Pragmatisme adalah sesuatu yang nyata, praktis, dan langsung dapat di nikmati
hasilnya oleh manusia, maka pragmatisme menciptkan pola pikir masyarakat yang

32
matrealis. Pagmatisme sangat mendewakan kemampuan akal dalam mencapai kebutuhan
kehidupan, maka sikap-sikap semacam ini menjurus kepada ateisme (Pratiwi, 2012).

33
SIMPULAN
Berdasarkan penjelasan diatas mengenai Filsafat Barat Modern Rasionalisme, Empirisme,
Kritisme, Positifisme , Materialisme serta Keunggulan dan Kelemahannya dapat disimpulkan bahwa:
1. Filsafat Abad Modern memiliki corak yang berbeda dengan periode filsafat Abad Pertengahan
Perbedaan itu terletak terutama pada otoritas kekuasaan politik dan ilmu pengetahuan.
2. Inti dari Rasionalisme adalah sumber pengetahuan yang secara alamiah dapat dipakai
manusia, yaitu akal (rasio) dan pengalaman (empiri). Karena orang mempunyai
kecenderungan untuk membentuk aliran berdasarkan salah satu di antara keduanya, maka
kedua-duanya sama-sama membentuk aliran tersendiri yang saling bertentangan. Tokohnya
antara lain Rene Descartes, Spinoza, Blaise Pascal.
3. Kelebihan Rasionalisme mampu menyusun system-sistem kefilsafatan yang berasal dari
manusia, kelemahannya adalah tentang penerimaan kondisi yang benar oleh orang lain.
4. Empirisme merupakan suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam
memperoleh pengetahuan serta pengetahuan itu sendiri, dan mengecilkan peranan akal,
tokohnya antara lain John Locke, David Hume.
5. Kelebihan Empirisme adalah sumber pengetahuan yang benar sudah dibuktikan melalui
pengalaman sedangkan kelemahannya sumber pengalaman tersebut belum tentu bersifat
konsisten
6. Inti faham Kritisisme adalah semua pengetahuan bersumber pada akal (rasionalisme), tetapi
adanya pengertian timbul dari benda (empirisme). Ibarat burung terbang harus mempunyai
sayap (rasio) dan udara (empiris), Tokohnya Immanuel Kant.
7. Paham positivisme meyakini bahwa hanya ada sedikit perbedaan (jika ada) antara ilmu sosial
dan ilmu alam, karena masyarakat dan kehidupan sosial berjalan berdasarkan aturan-aturan,
demikian juga alam, tokohnya Auguste Comte, John Stuart Mill, H. Taine, Emile Durkheim.
8. Materialisme mengatakan bahwa realitas seluruhnya tediri dari materi. Itu berarti bahwa tiap-
tiap benda atau kejadian dapat dijabarkan kepada materi atau salah satu proses material,
tokohnya Karl Marx, Thomas Hobbes, Hornby, Van Der Welj, Ludwig Freuerbach.

34

Anda mungkin juga menyukai