Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH LIMA BENANG MERAH DALAM

ASUHAN PERSALINAN DAN KELAHIRAN BAYI

Di Susun Oleh Kelompok I:

1.
2.
3.
4. Sri Purwiyati

POLITEKNIK KESEHATAN SURAKARTA

PROGRAM STUDI D IV KEBIDANAN ALIH JENJANG

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunianya sehingga
makalah dengan judul LIMA BENANG MERAH DALAM ASUHAN
PERSALINAN DAN KELAHIRAN BAYI ini dapat di selesaikan dengan baik.

Makalah ini merupakan salah satu tugas kelompok yang harus di penuhi
oleh mahasiswa dalam perkuliahan D IV Kebidanan Alih Jenjang.

Dalam penyusunan makalah ini penulis menyadari masih bayak terdapat


kekurangan. Oleh karena itu, penulis akan bersikap terbuka dan berbesar hati
apabila ada pihak-pihak yang memberikan kritik dan saran demi makalah yang
lebih baik lagi.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada
pembaca. Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini. Semoga Tuhan Yang Maha
Esa senantiasa memberikan kelancaran dan kemudahan bagi kita semua.

Surakarta, 15 Maret 2017

ii
DAFTAR ISI

COVER ............................................................................................................ i

KATA PENGANTAR ..................................................................................... ii

DAFTAR ISI ................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG ........................................................................ 1


B. TUJUAN ............................................................................................. 1
C. SASARAN .......................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN

A. MEMBUAT KEPUTUSAN KLINIK ................................................. 3


1. Pengertian ..................................................................................... 3
2. Langkah Dalam Membuat Keputusan Klinik ............................... 4
B. ASUHAN SAYANG IBU DAN BAYI ............................................... 9
1. Pengertian ...................................................................................... 9
2. Asuhan Sayang Ibu Proses Persalinan Dan Pascapersalinan ........ 9
C. PENCEGAHAN INFEKSI ................................................................. 11
1. Pengertian ..................................................................................... 11
2. Tujuan Tindakan Pi Dalam Pelayanan Asuhan Kesehatan ........... 12
3. Istilah Tindakan Dalam Pencegahan InfeksiYaitu ....................... 12
4. Pedoman Pencegahan Infeksi ( PI )............................................... 13
D. PENCATATAN ( REKAM MEDIK ) ASUHAN PERSALINAN ..... 16
1. Pengertian ..................................................................................... 16
2. Fungsi Dari Pencatatan Rutin........................................................ 16
3. Aspek Aspek Penting Dalam Pencatatan ................................... 17
4. Salinan Catatan ............................................................................. 17
5. Hal Yang Perlu Diingat ................................................................ 17

iii
E. RUJUKAN ........................................................................................... 18
1. Pengertian ..................................................................................... 18
2. Lokasi Fasilitas Rujukan .............................................................. 18
3. Yang Harus Diketahui Penolong Persalinan ................................. 18
4. Persiapan Dan Informasi Yang Harus Dimasukkan Dalam
Rencana Rujukan........................................................................... 19

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN ................................................................................... 20
B. SARAN ............................................................................................... 20

iv
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Persalinan adalah proses alamiah dimana terjadi dilatasi serviks,
lahirnya bayi dan plasenta dan rahirn ibu. Bab ini akan memberikan
gambaran mengenai kala satu persalinan dan asuhan bagi ibu selama waktu
tersebut, dan juga mendefinisikan proses fisiologis persalinan normal. Juga
dijelaskan bagaimana cara memberikan asuhan sayang ibu selama persalinan,
melakukan anamnesis dan melakukan pemeriksaan fisik pada ibu dalam
persalinan. Selain itu, dikaji pula tentang deteksi dini dan penatalaksanaan
awal berbagai masalah dan penyulit, kapan dan bagaimana cara merujuk ibu.
Di sini juga akan dijelaskan tentang penggunaan partograf. Partograf
adalah alat bantu untuk membuat keputusan klinik, memantau, mengevaluasi
dan menatalaksana persalinan dan kewajiban untuk menggunakannya secara
rutin pada setiap persalinan. Partograf dapat digunakan untuk deteksi dini
masalah dan penyulit untuk sesegera mungkin menatalaksana masalah
tersebut atau merujuk ibu dalam kondisi optimal. Partograf tidak digunakan
Selama fase laten persalinan, instrumen ini merupakan salah satu komponen
dan pemantauan dan penatalaksanaan proses persalinan secara lengkap. Pada
prinsipnya, setiap penolong persalinan diwajibkan untuk rnemantau dan
mendokumentasikan secara seksama kesehatan dan kenyamanan ibu dan
janin dan awal hingga akhir persalinan.

B. TUJUAN
1. Menjelaskan langkah-langkah pengambilan keputusan klinik
2. Menjelaskan asuhan sayang ibu dan bayi
3. Menjelaskan prinsip dan praktik pencegahan infeksi
4. Menjelaskan manfaat dan cara pencatatan medik asuhan persalinan
5. Menjelaskan hal-hal penting dalam melakukan rujukan
C. SASARAN
Lima benang merah dalam asuhan persalinan dan kelahiran bayi ini
dibuat agar dapat bermanfaat untuk semua pihak yang berkepentingan
terhadap pengembangan pelayanan kebidanan di Indonesia, terutama tenaga
kesehatan, yaitu dokter, dokter spesialis, bidan, perawat, dan lainnya yang
bertugas di layanan obstetri, ginekologi, neonatus dan tenaga kesehatan
lainnya yang terkait

2
BAB II
PEMBAHASAN

Ada liama aspek dasar atau lima benang merah yang penting dan saling
terkait dalam asuhan persalinan yang bersih dan aman. Berbagai aspek trsebut
melekat pada setiap persalinan, baik normal ataupun patologis. Lima benng merah
tersebut adalah:

A. MEMBUAT KEPUTUSAN KLINIK


1. Pengertian
Membuat keputusan merupakan proses yang menentukan untuk
menyelesaikan masalah dan menentukan asuhan yang diperlukan oleh pasien.
Keputusan itu harus akurat, komprehensif dan aman, baik bagi pasien dan
keluarganya maupun petugas yang memberikan pertolongan.
Membuat keputusan klinik tersebut dihasilkan melalui serangkaian
proses dan metode yang sistematik menggunakan informasi dan hasil dari
olah kognitif dan intuitif serta dipadukan dengan kajian teoritis dan intervensi
berdasarkan bukti (evidence-based), keterampilan dan pengalaman yang
dikembangkan melalui berbagai tahapan yang logis dan diperlukan dalam
upaya untuk menyelesaikan masalah dan terfokus pada pasien (Varney, 1997)
Semua upaya diatas akan bermuara pada bagaimana kinerja dan
perilaku yang diharapkan dari seorang pemberi asuhan dalam menjalankan
tugas dan pengalaman ilmunya kepada pasien atau klien. Pengetahuan dan
keterampilan saja ternyata tidak dapat menjamin asuhan atau pertolongan
yang diberikan dapat memberikan hasil maksimal atau memenuhi standar
kualitas pelayanan dan harapan pasien apabila tidak disertai dengan perilaku
yang terpuji.

3
2. Langkah Dalam Membuat Keputusan Klinik
a. Pengumpulan Data
Semua pihak yang terlibat mempunyai peranan penting dalam
setiap langkah untuk membuat keputusan klinik. Data utama
(misalnya, riwayat persalinan), data subyektif yang diperoleh dari
anamnesis (misalnya, keluhan pasien), dan data obyektif dari
pemeriksaan fisik (misalnya, tekanan darah) diperoleh melalui
serangkaian upaya sistematik dan terfokus. Validitas dan akurasi
data akan sangat membantu pemberi pelayanan untuk melakukan
analisis yang pada akhirnya, akan menghasilkan keputusan klinik
yang tepat. Data subyektif adalah informasi yang diceritakan ibu
tentang apa yang dirasakannya, apa yang sedang dan telah
dialaminya. Data subyektif juga meliputi informasi tambahan yang
diceritakan oleh anggota keluarga tentang status ibu, terutama jika
ibu merasa sangat nyeri atau sangat sakit. Data obyektif adalah
informasi yang dikumpulkan berdasarkan pemeriksaan/ pengamatan
terhadap ibu atau bayi baru lahir.Pengumpulan data dapat dilakukan
dengan cara:
1) Dat Subjektif (Anamnesa dan observasi langsung)
Berbicara dengan ibu mengajukan pertanyaan-pertanyaan
mengenai kondisi dan mencatat riwayat kesehatan ibu.
Termasuk juga mengamati perilaku ibu dan apakah ibu terlihat
sehat atau sakit, merasakan nyaman atau nyeri.
2) Data Objektif
a) Pemeriksaan fisik:
Melipurti inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi.
b) Pemeriksaan penunjang:
Pemeriksaan laboratorium, USG, Rontgen, dan sebagainya.
c) Catatan medik.

4
b. Interpretasi Data Dan Identifikasi Masalah
Setelah data dikumpulkan, penolong persalinan melakukan
analisis dan mengikuti algoritma diagnosis. Peralihan dari analisis
data menuju pada pembuatan diagnosis bukanlah suatu proses yang
linear (berada pada suatu garis lurus) melainkan suatu proses sirkuler
(melingkar) yang berlangsung terus menerus. Suatu diagnosis kerja
diuji dan dipertegas atau dikaji ulang berdasarkan pengamatan dan
pengumpulan data secara terus menerus.Untuk identifikasi masalah
dan membuat diagnosis, diperlukan:
1) Data yang lengkap dan akurat
2) Kemampuan untuk menginterpretasi/ analisis data
3) Pengetahuan esensial, intuisi dan pengalaman yang relevan
dengan masalah yang ada.
Diagnosis dibuat sesuai dengan istilah yang dikenal/ biasa
dipakai spesifik kebidanan yang mengacu pada data utama, analisis
dan subyektif dan obyektif yang diperoleh. Diagnosis menunjukkan
variasi kondisi yang berkisar antara normal dan patologik yang
memerlukan upaya korektif untuk menyelesaikannya. Masalah dapat
memiliki dimensi yang luas dan mungkin berada di luar konteks
sehingga sulit untuk segera diselesaikan. Masalah obstetrik
merupakan bagian dari diagnosis sehingga selain upaya korektif
dalam penatalaksanaan, juga diperlukan upaya penyertaan untuk
mengatasi masalah.
c. Diagnosis Kerja Atau Perumusan Masalah
Bagian ini dianalogikan dengan proses diagnosis kerja setelah
mengembangkan berbagai kemungkinan lain (diagnosis banding).
Rumusan masalah mungkin saja terkait langsung maupun tidak
langsung terhadap diagnosis tetapi dapat pula merupakan masalah
utama yang paling terkait dengan beberapa masalah penyerta atau
faktor lain yang berkontribusi dalam terjadinya masalah utama.

5
Dalam pekerjaan sehari-hari, penolong persalinan yang
terampil, akan segera mengetahui bahwa seorang pasien adalah
primigravida dalam fase aktif persalinan (diagnosis). Tetapi apabila
sang ibu juga mengalami anemia (masalah) maka identifikasi
penyebab masalah ini tidak mudah seperti membuat diagnosis di
atas. Hal tersebut memerlukan analisis lanjutan untuk menentukan
apakah anemia tadi disebabkan oleh definisi zat besi (kurang
asupan), investasi parasit (malaria, cacing, dsb) atau budaya
setempat (faktor sosial dan rendahnya pendidikan) yang melarang
ibu hamil mengkonsumsi makanan bergizi (malnutrisi). Dengan kata
lain, walaupun sudah ditegakkan diagnosis kerja tetapi bukan berarti
bahwa tidak ada masalah lain yang dapat menyertai atau
mengganggu upaya pertolongan yang akan diberikan oleh seorang
penolong pesalinan.
d. Menilai Adanya Kebutuhan Dan Kesiapan Intervensi Untuk
Mengatasi Masalah
Petugas kesehatan di lini depan atau bidan di desa, tidak hanya
diharapkan terampil membuat diagnosis bagi pasien atau klien yang
dilayaninya tetapi juga harus mampu mendeteksi setiap situasi yang
dapat mengancam keselamatan jiwa ibu dan bayinya. Untuk
mengenai situasi tersebut, para bidan harus pandai membaca situasi
klinik dan budaya masyarakat setempat sehingga mereka tanggap
dalam mengenali kebutuhan terhadap tindakan segera sebagai
langkah penyelamatan ibu dan bayinya apabila situasi gawat darurat
memang terjadi.
Upaya ini dikenal sebagai kesiapan menghadapi persalinan dan
tanggap terhadap komplikasi yang mungkin terjadi (birth
preparedness and complication readiness). Dalam uraian-uraian
berikutnya, petugas pelaksana persalinan akan terbiasa dengan istilah
rencana rujukan yang harus selalu disiapkan dan didiskusikan
diantara ibu, suami dan penolong persalinan.

6
e. Menyusun Rencana Pemberian Asuhan
Rencana asuhan atau intervensi bagi ibu bersalin
dikembangkan melalui kajian data yang telah diperoleh, identifikasi
kebutuhan atau kesiapan asuhan dan intervensi, dan mengukur
sumberdaya atau kemampuan yang dimiliki. Hal ini dilakukan untuk
membuat ibu bersalin dapat ditangani secara baik dan melindunginya
dari berbagai masalah atau penyulit potensial dapat mengganggu
kualitas pelayanan, kenyamanan ibu ataupun mengancam
keselamatan ibu dan bayi.
Rencana asuhan harus dijelaskan dengan baik kepada ibu dan
keluarganya agar mereka mengerti manfaat yang diharapkan dan
bagaimana upaya penolong untuk menghindarkan ibu dan bayinya
dari berbagai gangguan yang mungkin dapat mengancam
keselamatan jiwa atau kualitas hidup mereka.
f. Melaksanakan Asuhan/ Intervensi Terpilih
Setelah membuat rencana asuhan, laksanakan rencana tersebut
secara tepat waktu dan aman. Hal ini akan menghindarkan terjadinya
penyulit dan memastikan bahwa ibu dan/ atau bayinya yang baru
lahir akan menerima asuhan atau perawatan yang mereka butuhkan.
Jelaskan pada ibu dan keluarga tentang beberapa intervensi yang
dapat dijadikan pilihan untuk kondisi yang sesuai dengan apa yang
sedang dihadapi sehingga mereka dapat membuat pilihan yang baik
dan benar. Pada beberapa keadaan, penolong sering dihadapkan pada
pilihan yang baik dan benar. Pada beberapa keadaan, penolong
sering dihadapkan pada pilihan yang sulit karena ibu dan keluarga
meminta penolong yang menentukan intervensi yang terbaik bagi
mereka. Penjelasan bahwa hal tersebut tidak sesuai dengan hak klien,
memerlukan pengertian dan kerja sama yang baik dari ibu dan
keluarganya. Jelaskan bahwa kewajiban petugas adalah memberikan
konseling, penjelasan objektif dan mudah dimengerti agar klien dan
keluarga memahami situasi yang dihadapi dan mampu membuat

7
keputusan untuk memperoleh hasil yang terbaik bagi ibu, bayi dan
keluarga.Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pilihan adalah:
1) Bukti-bukti ilmiah
2) Rasa percaya ibu terhadap penolong persalinan
3) Pengalaman saudara atau kerabat untuk kasus yang serupa
4) Tempat dan kelengkapan fasilitas kesehatan
5) Biaya yang diperlukan
6) Akses ke tempat rujukan
7) Luaran dari sistem dan sumberdaya yang ada.
g. Memantau Dan Mengevaluasi Efektifitas Asuhan Atau Intervensi.
Penatalaksanaan yang telah dikerjakan kemudian dievaluasi
untuk menilai efektivitasnya. Tentukan apakah perlu dikaji ulang
atau diteruskan sesuai dengan rencana kebutuhan saat itu. Proses
pengumpulan data, membuat diagnosis, memilih intervensi, menilai
kemampuan diri, melaksanakan asuhan atau intervensi dan evaluasi
adalah proses sirkuler (melingkar). Lanjutkan evaluasi asuhan yang
diberikan kepada ibu dan bayi baru lahir. Jika pada saat evaluasi
ditemukan status ibu atau bayi baru lahir telah berubah, sesuaikan
asuhan yang diberikan untuk memenuhi perubahan kebutuhan
tersebut.
Asuhan atau intervensi dengan membawa manfaat dan teruji
efektivitasnya apabila masalah yang dihadapi dapat diselesaikan atau
membawa dampak yang menguntungkan terhadap diagnosis yang
telah diberikan. Apapun jenisnya, asuhan dan intervensi yang
diberikan harus efisien, efektif, dan dapat diaplikasikan pada kasus
serupa dimasa datang. Bila asuhan atau intervensi tidak membawa
hasil atau dampak seperti yang diharapkan maka sebaiknya
dilakukan kajian ulang dan penyusunan kembali rencana asuhan
hingga pada akhirnya dapat memberikan dampak seperti yang
diharapkan.

8
B. ASUHAN SAYANG IBU DAN BAYI
1. Pengertian

Asuhan Sayang Ibu adalah asuhan yang menghargai budaya,


kepercayaan dan keinginan sang ibu. Cara proses paling mudah
membahayakan mengenai Asuhan Sayang Ibu adalah dengan
menanyakan pada diri kita sendiri, Seperti inikah asuhan yang ingin
saya dapatkan? atau Apakah asuhan yang seperti ini yang saya
inginkan untuk keluarga saya yang sedang hamil?.
Beberapa prinsip dasar Asuhan Sayang Ibu adalah dengan
mengikutsertakan suami dan keluarga selama proses persalinan dan
kelahiran bayi. Banyak hasil penelitian menunjukkan bahwa jika para ibu
diperhatikan dan diberi dukungan selama persalinan dan kelahiran bayi
serta mengetahui dengan baik mengenai proses persalinan dan asuhan
yang akan mereka terima, mereka akan mendapatkan rasa aman dan hasil
yang lebih baik (Enkin, et al., 2000). Disebutkan pula bahwa hal tersebut
di atas dapat mengurangi terjadinya persalinan dengan vakum, cunan,
dan seksio sesar, dan persalinan berlangsung lebih cepat (Enkin et. al.,
2000).

2. Asuhan Sayang Ibu Proses Persalinan Dan Pascapersalinan


Penerapan asuhan sayang ibu dan bayi dalam proses persalinan
dan pascapersalinan/ post partum
a. Asuhan Sayang Ibu dalam Proses Persalinan
1) Panggil ibu sesuai dengan namanya, hargai dan jaga
martabatnya
2) Jelaskan semua asuhan dan perawatan kepada ibu sebelum
memulai asuhan tersebut
3) Jelaskan proses persalinan kepada ibu dan keluarganya
4) Anjurkan ibu untuk bertanya dan membicarakan rasa takut atau
khawatir
5) Dengarkan dan tanggapi pertanyaan dan kekhawatiran ibu

9
6) Berikan dukungan, besarkan dan tentramkan hatinya serta
anggota-anggota keluarganya
7) Anjurkan ibu untuk ditemani suami dan/ atau anggota keluarga
lain selama persalinan dan kelahiran bayinya
8) Ajarkan suami dan anggota-anggota keluarga tentang bagaimana
mereka memperhatikan dan mendukung ibu selama persalinan
dan kelahiran bayinya
9) Laksanakan praktik-praktik pencegahan infeksi yang baik secara
konsisten
10) Hargai privasi ibu
11) Anjurkan ibu untuk mencoba berbagai posisi selama persalinan
dan kelahiran bayi
12) Anjurkan ibu untuk mencoba berbagai posisi selama persalinan
dan kelahiran bayi
13) Anjurkan ibu untuk minum dan makan makanan ringan
sepanjang ia menginginkannya
14) Hargai dan perbolehkan praktik-praktik tradisional yang tidak
merugikan kesehatan ibu
15) Anjurkan ibu untuk memeluk bayinya sesegera mungkin untuk
melakukan kontak kulit ibu-bayi, insiasi menyusu dini dan
membangun hubungan psikologis
16) Membantu memulai pemberian ASI dalam satu jam pertama
setelah bayi lahir
17) Siapkan rencana rujukan (bila perlu)
18) Mempersiapkan persalinan dan kelahiran bayi dengan baik dan
mencukupi semua bahan yang diperlukan. Siap untuk
melakukan resusitasi bayi baru lahir pada setiap kelahiran.
b. Asuhan Sayang Ibu dan Bayi pada Masa Pasca Persalinan
1) Anjurkan ibu untuk selalu berdekatan dengan bayinya (rawat
gabung)

10
2) Bantu ibu untuk menyusukan bayinya, anjurkan memberikan
ASI sesuai dengan yang diinginkan bayinya dan ajarkan tentang
ASI eksklusif
3) Ajarkan ibu dan keluarganya tentang nutrisi dan istirahat yang
cukup setelah melahirkan
4) Anjurkan suami dan keluarganya untuk memeluk bayi dan
mensyukuri kelahiran bayi
5) Ajarkan ibu dan keluarganya tentang gejala dan tanda bahaya
yang mungkin terjadi dan anjurkan mereka untuk mencari
pertolongan jika timbul atau kekhawatiran.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa ibu-ibu di
Indonesia tidak mau meminta pertolongan tenaga terlatih untuk
memberikan asuhan persalinan dan melahirkan bayi. Sebagian
dari mereka beralasan bahwa penolong terlatih tidak
memperhatikan kebutuhan atau kebudayaan, tradisi dan
keinginan pribadi para ibu dalam persalinan dan kelahiran
bayinya. Penyebab lain dari kurangnya utilisasi atau
pemanfaatan fasilitas kesehatan adalah peraturan yang rumit dan
prosedur tak bersahabat/ menakutkan bagi para ibu. Contohnya
adalah tak memperkenankan ibu untuk berjalan-jalan selama
proses persalinan, tidak mengizinkan anggota keluarga
menemani ibu, membatasi ibu hanya pada posisi tertentu selama
persalinan dan kelahiran bayi dan memisahkan ibu dari bayinya
segera setelah bayi dilahirkan.

C. PENCEGAHAN INFEKSI
1. Pengertian
Pencegahan infeksi ( PI ) harus diterapkan dalam setiap aspek
asuhan untuk melindungi ibu, bayi baru lahir, keluarga, penolong
persalinan dan tenaga kesehatan lainnya.

11
Pencegahan infeksi ( PI ) adalah bagian yang esensial dari semua
asuhan yang diberikan kepada ibu dan bayi baru lahir dan harus
dilaksanakan secara rutin pada saat menolong persalinan dan kelahiran
bayi, saat memberikan asuhan selama kunjungan antenatal atau
pascapersalinan atau bayi baru lahir atau saat menetalaksana penyulit.

2. Tujuan Tindakan PI Dalam Pelayanan Asuhan Kesehatan


a. Meminimalkan infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme
seperti bakteri, virus, dan jamur
b. Menurunkan resiko penularan penyakit yang mengancam jiwa
seperti hepatitis dan HIV / AIDS

3. Istilah Tindakan Dalam Pencegahan InfeksiYaitu


a. Asepsis ( Teknik Aseptik )
Semua usaha mencegah masuknya mikroorganisme ke tubuh
yang berpotensi untuk menimbulkan infeksi dengan cara
mengurangi atau menghilangkan sejumlah mikroorganisme pada
kulit, jaringan, dan benda mati ( alat ).
b. Antisepsis
Pencegahan infeksi dengan cara membunuh atau menghambat
pertumbuhan mikroorganisme pada kulit dan jaringan tubuh
dengan menggunakan larutan antiseptik misalnya yodium ( 1-3% ),
alkohol ( 60-90% ), hibiclon, savlon, dan betadine.
c. Dekontaminasi
Tindakan untuk memastikan bahwa petugas kesehatan dapat
menangani secara aman berbagai benda yang terkontaminasi darah
dan cairan tubuh.
d. Mencuci Dan Membilas
Tindakan tindakan untuk menghilangkan semua cemaran
darah, cairan tubuh atau benda asing misalnya debu, kotoran dari
kulit atau instrumen atau peralatan.

12
e. Desinfeksi
Tindakan untuk menghilangkan hampir semua atau sebagian
besar mikroorganisme dari benda mati.
f. Desinfeksi Tingkat Tinggi ( DTT )
Tindakan untuk menghilangkan semua mikroorganisme (
kecuali beberapa bakteri endospora ) pada benda mati atau
instrumen.
g. Sterilisasi
Tindakan untuk menghilangkan semua mikroorganisme
termasuk endospora bakteri pada benda mati atau instrumen.

4. Pedoman Pencegahan Infeksi ( PI )


Untuk memutus rantai penyebaran infeksi, antara lain :
a. Cuci Tangan Dengan Benar
Yaitu dengan 7 langkah setiap sebelum dan sesudah
melakukan tindakan
b. Memakai Sarung Tangan
Pakai sarung tangan sebelum menyentuh sesuatu yang basah
(kulit tak utuh, selaput mukosa, darah atau cairan tubuh lainnya),
peralatan, sarung tangan atau sampah yang terkontaminasi. Ada 3
macam sarung tangan, yaitu :
1) Sarung tangan steril atau DTT
Untuk prosedur apapun yang akan mengakibatkan kontak
dengan jaringan di bawah kulit seperti persalinan, penjahitan
vagina atau pengambilan darah.
2) Sarung tangan bersih
Untuk menangani darah atau cairan tubuh
3) Sarung tangan rumah tangga atau tebal
Untuk mencuci peralatan, menangani sampah, juga
membersihkan darah dan cairan tubuh

13
Jangan gunakan sarung tangan yang sudah retak, tipis atau
ada lubang dan robekan. Buang dan gunakan sarung tangan
yang lain.
c. Memakai APD ( Alat Pelindung Diri )
Seperti kaca mata pelindung, masker wajah, penutup
kepala, celemek, dan sepatu boots yang digunakan untuk
menghalangi atau membatasi petugas dari percikan cairan tubuh,
darah atau cidera selama melaksanakan prosedur klinik.
d. Menggunakan Teknik Antisepsis
Karena kulit dan selaput mukosa tidak dapat disterilkan
maka penggunaan antiseptik akan sangat mengurangi jumlah
mikroorganisme yang dapat mengkontaminasi luka terbuka dan
menyebabkan infeksi.
e. Memproses Alat Bekas Pakai
1) Dekontaminasi (rendam dalam larutan klorin 0,5 % selama 10
menit)
2) Cuci dan bilasgunakan detergen dan sikatpakai sarung tangan
tebal untuk menjaga agar tidak terluka oleh benda benda
tajammetode yang dipilih metode alternatif
3) Sterilisasi dttotoklaf panas kering (dry heat) rebus / kukus
kimiawi106kpa 1700 c panci tertutup rendam1210 c 60 menit
20 menit 20 menit30 menit (terbungkus)20 menit (tidak
terbungkus)
4) Dinginkanperalatan yang sudah diproses dapat disimpan
dalam wadah tertutup yang di dtt
5) Siap digunakanjika jarang dibuka bisa digunakan selama 1
minggujika sering dibuka hanya bisa digunakan selama 3
hari
f. Menangani Peralatan Tajam Dengan Aman
Pedoman penggunaan peralatan tajam yaitu :

14
1) Letakkan benda benda tajam di atas baki steril atau DTT atau
dengan menggunakandaerah amanyang sudah ditentukan (
daerah khusus untuk meletakkan dan mengambil peralatan
tajam )
2) Hati hati saat melakukan penjahitan agar terhindar dari luka
tusuk secara tidak sengaja
3) Gunakan pemegang jarum dan pinset pada saat menjahit.
Jangan pernah meraba jarum ujung atau memegang jarum jahit
dengan tangan
4) Jangan menutup kembali, melengkungkan, mematahkan atau
melepaskan jarum yang akan dibuang
5) Buang benda benda tajam dalam wadah tahan bocor dan
segel dengan perekat jika sudah 2/3 penuh dan harus dibakar
dalam insinerasi
6) Jika benda benda tajam tidak bisa dibuang secara aman
dengan cara insinerasi, bilas 3 kali dengan larutan klorin 0,5 %
( dekontaminasi ), tutup kembali menggunakan teknik satu
tangan dan kemudian kuburkan.Cara melakukan teknik satu
tangan, yaitu :
a) Letakkan penutup jarum pada permukaan yang keras dan
rata
b) Pegang tabung suntik dengan satu tangan dan gunakan
ujung jarum untuk mengait penutup jarum. Jangan
memegang penutup jarum dengan tangan lainnya
c) Jika jarum sudah tertutup seluruhnya, pegang bagian
bawah jarum dan gunakan tangan yang lain untuk
merapatkan penutupnya
g. Menjaga kebersihan dan sanitasi lingkungan termasuk pengelolaan
sampah secara benar.

15
D. PENCATATAN ( REKAM MEDIK ) ASUHAN PERSALINAN
1. Pengertian
Pencatatan (pendokumentasian) adalah bagian penting dari proses
membuat keputusan klinik karena memungkinkan penolong persalinan
untuk terus menerus memperhatikan asuhan yang diberikan selama proses
persalinan dan kelahiran bayi.
Partograf adalah bagian terpenting dari proses pencatatan selama
persalinan.
Mengkaji ulang catatan memungkinkan untuk menganalisa data
yang telah dikumpulkan dan dapat lebih efektif dalam merumuskan suatu
diagnosis dan membuat rencana asuhan atau perawatan bagi ibu atau
bayinya.

2. Fungsi Dari Pencatatan Rutin


a. Sebagai alat bantu untuk membuat keputusan klinik dan
mengevaluasi kesesuaian dan keefektifan asuhan atau perawatan,
mengidentifikasi kesenjangan pada asuhan yang diberikan dan untuk
membuat perubahan dan peningkatan pada rencana asuhan atau
perawatan
b. Sebagai tolak ukur keberhasilan dalam proses membuat keputusan
klinik
c. Sebagai catatan permanen tentang asuhan, perawatan dan obat yang
diberikan
d. Dapat dibagikan di antara para penolong persalinan sehingga lebih
dari satu penolong persalinan akan memberikan perhatian dan
asuhan pada ibu atau bayi baru lahir
e. Dapat mempermudah kelangsungan asuhan dari satu kunjungan ke
kunjungan berikutnya, dari satu penolong persalinan ke penolong
persalinan lainnya, atau dari seorang penolong persalinan ke fasilitas
kesehatan lainnya.
f. Dapat digunakan untuk penelitian atau studi kasus

16
g. Diperlukan untuk memberi masukan data statistik nasional dan
daerah, termasuk catatan kematian dan kesakitan ibu atau bayi baru
lahir

3. Aspek Aspek Penting Dalam Pencatatan


a. Tanggal dan waktu asuhan diberikan
b. Identifikasi penolong persalinan
c. Paraf atau tanda tangan ( dari penolong persalinan ) pada semua
catatan
d. Mencakup informasi yang berkaitan secara tepat, dicatat dengan
jelas dan dapat dibaca
e. Suatu sistem untuk memelihara catatan pasien sehingga selalu siap
tersedia
f. Kerahasiaan dokumen dokumen medis

4. Salinan Catatan
Ibu harus diberikan salinan catatan ( catatan klinik antenatal,
dokumen dokumen rujukan, dan lain lain ) beserta panduan yang jelas
mengenai :
a. Maksud dari dokumen dokumen tersebut
b. Kapan harus dibawa
c. Kepada siapa harus diberikan
d. Bagaimana menyimpan dan mengamankannya, baik di rumah atau
selama perjalanan ke tempat rujukan

5. Hal Yang Perlu Diingat


a. Catat semua data, hasil pemeriksaan, diagnosis, obat obat, asuhan
atau perawatan, dan lain lain.
b. Jika tidak dicatat, maka dapat dianggap bahwa asuhan tersebut tidak
dilakukan

17
c. Pastikan setiap partograf bagi setiap pasien diisi dengan lengkap dan
benar.

E. RUJUKAN
1. Pengertian
Rujukan diharapkan mampu menyelamatkan jiwa para ibu dan bayi
baru lahir. Syarat bagi keberhasilan upaya penyelamatan yaitu kesiapan
untuk merujuk bayi dan atau bayinya ke fasilitas kesehatan rujukan secara
optimal dan tepat waktu (jika penyulit terjadi).

2. Lokasi Fasilitas Rujukan


Setiap penolong persalinan harus mengetahuilokasi fasilitas
rujukan yang mampu untuk melaksanakan kasus kegawatdaruratan
obstetri dan bayi baru lahir seperti :
a. Pembedahan termasuk bedah sesar
b. Transfusi darah
c. Persalinan mengggunakan ekstraksi vakum atau cunam
d. Pemberian antibiotik intravena
e. Resusitasi bayi baru lahir dan asuhan lanjutan bagi bayi baru lahir

3. Yang Harus Diketahui Penolong Persalinan


Adapun yang wajib untuk diketahui oleh setiap penolong
persalinan, antara lain :
a. Informasi tentang pelayanan yang tersedia di tempat rujukan
b. Ketersediaan pelayanan purna waktu
c. Biaya pelayanan
d. Waktu dan jarak tempuh ke tempat rujukan

18
4. Persiapan Dan Informasi Yang Harus Dimasukkan Dalam Rencana
Rujukan
Karena sangat sulit untuk menduga kapan penyulit akan terjadi,
maka pada saat ibu melakukan kunjungan antenatal anjurkan ibu untuk
membahas dan membuat rencana rujukan bersama suami dan
keluarganya. Dan tawarkan agar penolong mempunyai kesempatan untuk
berbicara dengan suami dan keluarganya untuk menjelaskan tentang
perlunya rencana rujukan apabila diperlukan.Ada beberapa persiapan
persiapan dan informasi yang harus dimasukkan dalam rencana rujukan,
antara lain :
a. Siapa yang akan menemani ibu atau bayi baru lahir
b. Tempat tempat rujukan mana yang lebih disukai ibu dan keluarga
(jika ada lebih dari satu kemungkinan tempat rujukan, pilih tempat
rujukan yang paling sesuai berdasarkan jenis asuhan yang
diperlukan)
c. Sarana transportasi yang akan digunakan dan siapa yang akan
mengendarainya. (ingat bahwa transportasi harus tersedia segera,
baik siang maupun malam kapan pun waktunya)
d. Orang yang ditunjuk menjadi donor darah, jika transfusi darah
diperlukan
e. Uang yang disisihkan untuk asuhan medis, transportasi, obat
obatan dan bahan bahan.
f. Siapa yang akan tinggal dan menemani anak anak yang lain pada
saat ibu

19
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Membuat keputusan merupakan proses yang menentukan untuk
menyelesaikan masalah dan menentukan asuhan yang diperlukan oleh pasien.
Keputusan itu harus akurat, komprehensif dan aman, baik bagi pasien dan
keluarganya maupun petugas yang memberikan pertolongan. Membuat
keputusan klinik tersebut dihasilkan melalui serangkaian proses dan metode
yang sistematik menggunakan informasi dan hasil dari olah kognitif dan
intuitif serta dipadukan dengan kajian teoritis dan invervensi berdasarkan
bukti (evidence-based), keterampilan dan pengalaman yang dikembangkan
melalui berbagai tahapan yang logis dan diperlukan dalam upaya untuk
menyelesaikan masalah dan terfokus pada pasien (Varney, 1997).
Semua upaya diatas akan bermuara pada bagaimana kinerja dan
perilaku yang diharapkan dari seorang pemberi asuhan dalam menjalankan
tugas dan pengalaman ilmunya kepada pasien atau klien. Pengetahuan dan
keterampilan saja ternyata tidak dapat menjamin asuhan atau pertolongan
yang diberikan dapat memberikan hasil maksimal atau memenuhi standar
kualitas pelayanan dan harapan pasien apabila tidak disertai dengan perilaku
yang terpuji.

B. SARAN
Jika dalam penulisan makalah ini terdapat kekurangan dan kesalahan,
kami mohon maaf. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang
sifatnya membangun agar kami dapat membuat makalah yang lebih baik
dikemudian hari.

20
DAFTAR PUSTAKA

JNPK-KR/ POGI, dan JHPIEGO. 2008. Asuhan Persalinan Normal. Jakarta.


JNPK.
Manuaba, Ida Bagus Gde. 2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan &
Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC.
Saifuddin, Abdul Bari. 2006. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.
Jakarta : YBP-SP.
Mochtar, R, 1998, SinopsisObstetri, Edisi 2 Jilid 1, EGC, Jakarta.
Sarwono, P, 2003, BukuAcuanNasionalPelayananKesehatan Maternal Dan
Neonatal, YBP SP, Jakarta.
Scoot, J, dkk, 2002, DandorftBukuSakuObstetri Dan Ginekologi, Cetakan I,
WidyaMerdeka, Jakarta.

21