Anda di halaman 1dari 34

Modul Kulit dan Penyakit Menular Seksual

Seorang Mahasiswi Dengan Keluhan Bercak-Bercak Merah di Kedua Lipat Paha


yang Sangat Gatal Disertai Keputihan.

KELOMPOK IX

030.2006.027 Andriati Nadhilah W


030.2008.138 Krisna Herdiyanto
030.2009.006 Ahmad Fatahillah
030.2009.024 Anissa Aulia Adjani
030.2009.052 Chaterine Grace Tauran
030.2009.075 Dudi Novri Wijaya
030.2009.102 Giovanni Duandino
030.2009.128 Katherine Rinova
030.2009.142 Marco Indrakusumah
030.2009.176 Nyimas Ratih Amandhita
030.2009.204 Ricky Suritno
030.2009.214 Ronald Aditya Prasetya
030.2009. 267 Widya Rahayu Arini Putri

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI


JAKARTA, 18 MEI 2011
BAB I
PENDAHULUAN

Candidiasis disebabkan oleh infeksi dengan spesies dari genus Candida, terutama
dengan Candida spesies albicans. Candidiasis adalah infeksi jamur oportunistik yang
paling sering terjadi pada manusia. Manifestasi klinis yang terjadi, bisa beragam
tergantung dari system imun host tersebut. Namun sebenarnya, jamur candida adalah
flora normal yang ada di kulit manusia. Ia menjadi pathogen bila terjadi perubahan
keseimbangan dari flora-flora normal kulit. (1,2)
Di Amerika Serikat spesies candida menjadi penyebab dari hampir seluruh infeksi
jamur pada orang-orang immunocompromised. Kolonisasi orofaring ditemukan pada 30-
55% dari dewasa muda yang sehat. Dan spesies candida dapat ditemukan pada 40-65%
feces orang normal. 3 dari 4 wanita paling tidak pernah mengalami sekali vulvovaginal
candidiasis pada hidupnya.
Peningkatan prevalensi penyakit lokal dan sistemik yang disebabkan oleh spesies
Candida telah mengakibatkan berbagai gejala klinis baru, ekspresi yang terutama
tergantung pada status kekebalan tubuh host. Spesies Candida menghasilkan spektrum
yang luas dari penyakit, mulai dari penyakit mukokutan dangkal untuk penyakit invasif,
seperti kandidiasis hepatosplenic, Candida peritonitis, dan kandidiasis sistemik.
Pengelolaan kandidiasis invasif serius dan mengancam nyawa tetap sangat terganggu
oleh keterlambatan dalam diagnosis dan kurangnya metode diagnostik yang handal yang
memungkinkan deteksi baik invasi fungemia dan jaringan oleh spesies Candida. (1,2)
BAB II
LAPORAN KASUS

Waty 20 tahun seorang mahasiswi mengeluh ada bercak-bercak merah di kedua lipat
paha yang sangat gatal dan disertai keputihan sudah 2 bulan ini. Untuk mengatasinya
waty menggunakan panty shield setiap hari tapi penyakitnya malah bertambah berat dan
meluas.
BAB III
PEMBAHASAN KASUS
A. Identitas
Nama : Wati
Jenis kelamin : perempuan
Usia : 20 tahun
Pekerjaan : mahasiswi

B. Keluhan utama
Bercak merah di lipat paha, sangat gatal, dan keputihan.

C. Keluhan Tambahan
Setelah memakai panty shield, keluhan bertambah berat dan makin meluas.

D. Riwayat Penyakit Sekarang


Bercak merah di lipat paha sangat gatal disertai keputihan sudah 2 bulan. Menggunakan
panty shield, keluhan bertambah berat dan meluas.

E. Hipotesa
Masalah Hipotesa
Bercak merah di lipat paha yang sangat Infeksi
gatal Jamur : tinea kruris, kandidiasis
intertriginosa
Bakteri : eritrasma
Keputihan Infeksi
Jamur : kandidiasis vulvovaginits
Parasit : trikomoniasis
Setelah menggunakan panty shield keluhan Penyebab penyakit berkaitan dengan
bertambah berat. kelembaban memperkuat hipotesa
infeksi jamur (Jamur berkembang biak
dengan baik pada suhu dan kelembaban
tinggi)

F. Patofisiologi
Tinea kruris
Disebabkan oleh jamur Microsporum, Trichophyton, dan Epidermophyton. Ketiga
jamur ini mempunyai enzim yang dapat mencerna keratin sehingga dapat menginvasi
stratum korneum. Setelah itu hifa berkolonisasi dan mengeluarkan enzim keratolitik yang
berdifusi ke epidermis, lalu terjadilah reaksi peradangan.

Kandidiasis
Disebabkan oleh jamur Candida. Proses infeksi dimulai dengan perlekatan
Candida sp. pada sel epitel vagina. Kemampuan melekat ini lebih baik pada C.albicans
daripada spesies Candida lainnya. Kemudian, Candida sp. mensekresikan enzim
proteolitik yang mengakibatkan kerusakan ikatan-ikatan protein sel pejamu sehingga
memudahkan proses invasi. Selain itu, Candida sp. juga mengeluarkan mikotoksin
diantaranya gliotoksin yang mampu menghambat aktivitas fagositosis dan menekan
sistem imun lokal. Terbentuknya kolonisasi Candida sp. memudahkan proses invasi ter-
sebut berlangsung sehingga menimbulkan gejala pada pejamu.

Interaksi Imunologi
Koloni Candida akan meningkatkan beban antigenik yang selanjutnya menimbulkan
peralihan dari tipe Th1 menjadi Th2. Transformasi yang dominan ke Th2 justru
menghambat proteksi dan menimbulkan reaksi hipersensitivitas segera (tipe 1). Lebih
lanjut, reaksi proteksi lokal imunitas selular pada mukosa vagina dapat berkurang atau
hilang bersamaan dengan meningkatnya reaksi alergi.

Interleukin(IL)-1 memicu Th1 untuk memproduksi IL-2. IL-2 akan merangsang


pembentukan Th1 lebih banyak. Th1 memproduksi IFN-gamma yang berfungsi
menghambat pembentukan germ tube. Reaksi hipersensitivitas tipe 1 berhubungan
dengan reaktivitas Th2, yang menghasilkan IL-4 dan meningkatkan produski IgE melalui
sel B serta lepasnya PGE2. PGE2 selanjutnya menghambat proliferasi dan produksi dari
IL-2. Maka dari itu, adanya PGE2 akan menghambat kemampuan proteksi mukosa
vagina terhadap Candida. Selain itu, PGE2 juga menghambat aktivitas makrofag. Dengan
kata lain, PGE2 merupakan down regulatory biological response modifier.

Sekitar 71% sekret vagina penderita kandidiasis vulvovagina rekurens (KVVR) dapat
ditemukan IgE dan PGE2 sehingga reaksi hipersensitivitas tipe I memberikan respons
yang akan merangsang terbentuknya IgE dan meningkatkan virulensi jamur melalui
pembentukan germ tube atau melalui supresi pertahanan lokal pejamu. Di samping itu,
reaksi hipersensitivitas tipe I menimbulkan tanda dan gejala kandidosis vaginal seperti
kemerahan, gatal, terbakar dan bengkak.

Dalam dinding sel Candida terdapat bahan polidispersi yang mempunyai berat molekul
tinggi yang menginduksi proliferasi limfosit, produksi IL-2 dan IFN-gama, serta
membangkitkan perlawanan sitotoksik sel NK. MP65 yang terdapat di dalam dinding sel
C. albicans merupakan antigen yang imunodominan untuk respons imunitas selular pada
manusia normal dan mampu menstimulir produksi IL-1b, IFN-g, serta IL-6.
Ada 2 faktor predisposisi kandidiasis:
1. Faktor endogen: kehamilan (perubahan pH), umur, kegemukan, iatrogenic,
penyakit kronik lain, imunologik
2. Faktor eksogen: iklim, panas, dan kelembaban, kebersihan, kontak dengan
penderita lain

Anamnesis tambahan
Apakah ada demam ?
Untuk menyingkirkan adanya infeksi bakteri
Apakah sering berkeringat ?
Keringat membuat lembab, merupakan predisposisi untuk tumbuhnya jamur
Bagaimana kebersihan pasien ?
Berkaitan dengan predisposisi untuk infeksi jamur dan bakteri
Seberapa sering ganti panty shield ?
Panty shield pada dasarnya menambah kelembaban daerah vagina, yang justru
akan memperbanyak jamur candida sehingga gejala makin berat
Seberapa banyak cairan keputihan, warnanya, apakah bau, apakah terasa panas ?
ada perbedaan secret dari infeksi candida dan trichomonas vaginalis
Apakah ada riwayat diabetes ?
Pada penderita Diabetes Melitus urin yang dihasilkan mengandung glukosa yang
tinggi, dan jamur menyukai itu, sehingga perkembang biakannya akan meningkat
Apakah ada nyeri setelah miksi ?
Bila sudah terjadi nyeri, kemungkinan infeksi yang terjadi sudah kronis
Apakah pernah berhubungan seksual ?
Biasanya infeksi daerah genitalia ditularkan secara seksual, termasuk trichomonas
vaginalis
Apakah sering bertukar pakaian ?
Apakah pernah kontak dengan penderita yang sama ?
Jika seseorang sering bertukar pakaian dengan orang yang menderita candidiasis
makan dengan mudah akan terinfeksi juga
Apakah memakai antibiotik atau kortikosteroid ?
Obat-obatan seperti antibiotic yang berkepanjangan akan merusak flora-flora
normal sehingga terjadi infeksi oportunistik. Sedangkan pada penggunaan
kortikosteroid akan mensupresi system imun tubuh sehingga jamur candida yang
tadinya tidak pathogen menjadi pathogen

G. Pemeriksaan fisik

Pada kasus tidak diungkapkan , namun disini kami menjelaskan manifestasi klinis
dari tiap-tiap hipotesis kami
Status Generalis
o Keadaan umum : kesan sakit, kesadaran.
o Tanda vital : nadi, suhu, tekanan darah, respiratory rate, antropometri (BB
&TB)
o Kepala ( konjungtiva, sclera), leher (kgb), thorax (jantung & paru),
abdomen, ekstremitas.
Status lokalis
- Kandidiasis: komorbid, lesi pusat dikelilingi lesi-lesi kecil, secret vagina
putih susu
- Tinea kruris: berbatas tegas, bagian tepi lebih meradang, labia dan vulva
eritema dan bengkak
- Trichomonas vaginalis: secret vagina seropurulen berwarna kuning, kuning-
hijau, berbau, dan berbusa

H. Pemeriksaan penunjang
- Langsung: kerokan kulit dengan KOH 10-20 %. Pada kandidiasis terlihat
pseudohifa blastopora, sedangkan pada tinea kruris terlihat hifa bersekat,
bercabang, maupun spora berderet. Untuk kandidiasis dapat pula diperiksa
dengan menggunakan pewarnaan Gram.

- Biakan : bahan yang akan diperiksa ditanam dalam agar dekstrosa glukosa
Sabouraud + kloramfenikol untuk menghindarkan jamur terkontaminasi
bakteri. Perbenihan disimpan dalam suhu kamar atau lemari suhu 370C,
koloni tumbuh setelah 24-48 jam, berupa yeast like colony. Identifikasi
Candida albicans dilakukan dengan membiakan tumbuhan tersebut pada corn
meal agar.

- Pengukuran pH vagina : Kadar pH vagina pada kandidiasis normal (4-4,5).


Pengukuran pH vagina perlu dilakukan agar dapat membedakan dengan
infeksi bakterial vaginosis, trikomoniasis, atau infeksi campur yang biasanya
bersifat basa (pH >5).

I. Diagnosis Kerja
Diagnosis kerja pada kasus ini adalah Kandidiasis vulvovaginitis.
Diagnosis diambil berdasarkan gejala klinis berupa bercak merah yang sangat
gatal dilipat paha yang disertai keputihan. Hipotesa Tinea cruris dijadikan diagnosis
banding karena pada kasus ini bercak merah timbul disertai adanya keputihan(pada tinea
cruris -). Begitu pula dengan hipotesa Trikomoniasis dimana perlu ditanyakan lagi
mengenai aktifitas seksual pasien dimana insiden trikomoniasis meningkat pada orang
dengan aktifitas seksual yang tinggi. Namun perlu pemeriksaan lebih lanjut untuk
menegakkan diagnosis ini dengan cara melakukan pemeriksaan penunjang yang telah
diajukan.

J. Diagnosis Banding
Tinea kruris
Trikomoniasis
GO Akut
Leukoplakia

K. Tatalaksana
1. Menghindari atau menghilangkan faktor predisposisi.
2. Topikal :
Larutan ungu gentian -1 % untuk selaput lendir, 1-2 % untuk kulit,
dioleskan zaher 2kali selama 3 hari.
Mikonazol 2 % berupa krim atau bedak atau klotrimazol 1% berupa
bedak, larutan dan krim
3. Sistemik :
Kotrimazol %)) mg pervaginam atau ketokonazol 2 x 200 mg selama 5
hari. Jika mempunyai gangguan fungsi hepar, dapat diberikan
itrakonazol(dosis orang dewasa 2x100 mg sehari, selama 3 hari).
4. Pastikan vagina tetap dalam keadaan bersih, kering dan tidak lembab
5. Tidak menggunakan obat- obat anti septik setiap hari.

Efek samping ketokonazol :


Mual, muntah, nyeri abdomen, sakit kepala, kerusakan hati, hepatitis meningkat pada
pemakaian lama
Cara kerja :
permeabilitas dinding sel melalui penghambatan sitokin pada jamur
menghambat enzim pada jamur yang mengakibatkan kadar toksis hidrogen
peroksida.

L. Prognosis :
Ad vitam : Bonam
Ad fungsionam : Bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam
Secara keseluruhan prognosis baik, karena candida tidak membahayakan jiwa, sedangkan
candida metastatik jarang terjadi dan biasanya terjadi pada orang yang sangat lemah
sistem imun tubuhnya. Jika diobati dan pasien merubah pola hidupnya menjadi lebih
bersih, fungsi organ akan kembali normal, candidiasis sebenarnya disebabkan oleh pola
hidup yang kurang bersih. Jika pola hidupnya diatur candidiasis tidak akan berulang.

M. Komplikasi :
Komplikasi kandida tergantung pada kekebalan atau imun pada pasien tersebut. Dapat
menjadi kandida sistemik dan metastatik ke organ-organ lain seperti liver, limpa, Sistem
Saraf Pusat dan ginjal.
BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA

A. ANATOMI KULIT3
Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasinya dari lingkungan
hidup manusia. Luas kulit orang dewasa 1,5 m2 dengan berat kira-kira 15% berat badan.
Kulit merupakan organ yang esensial dan vital serta merupakan cermin kesehatan dan
kehidupan. Pembagian kulit secara garis besar tersusun atas 3 lapisa utama yaitu:
1. Lapisan epidermis atau kutikel
2. Lapisan dermis (korium, kutis vera, true skin )
3. Lapisan subkutis (hipodermis)
Tidak ada garis tegas yang memisahkan dermis dan subkutis, subkutis ditandai dengan
adanya jaringan ikat longgar dan adannya sel dan jaringan lemak.
1. Lapisan epidermis
Lapisan epidermis terdiri atas stratum korneum, stratum lusidum, stratum
granulosum, stratum spinosum dan stratum basale

Stratum korneum (lapisan tanduk) adalah lapisan kulit yang paling luar dan terdiri
atas beberapa lapis sel-sel gepeng yang mati, tidak berinti, dan protoplasmanya telah
berubah menjadi keratin (zat tanduk).
Stratum lusidum terdapat langsung di bawah lapisan koneum, merupakan lapisan
sel-sel gepeng tanpa inti dengan protoplasma yang berubah menjadi protein yang disebut
eleidin. Lapisan tersebut tampak lebih jelas di telapak tangan dan kaki.
Stratum granulosum (lapisan keratohialin) merupakan 2 atau 3 lapis sel-sel gepeng
dengan sitoplasma berbutir kasar dan terdapat inti di antaranya. Butir-butir kasar ini
terdiri atas keratohialin. Mukosa biasanya tidak mempunyai lapisan ini. Stratum
granulosum juga tampak jelas di telapak tangan dan kaki.
Stratum spinosum (stratum malphigi) atau disebut pula prickle cell layer (lapisan
akanta) terdiri atas beberapa lapis sel yang berbentuk poligonal yang besarnya berbeda-
beda karena adanya proses mitosis. Protoplasmanya jernih karena banyak mengandung
glikogen, dan inti terletak ditengah-tengah. Sel-sel ini makin dekat ke permukaan makin
gepeng bentuknya. Diantara sel-sel stratum spinosum terdapat jembatan-jembatan antar
sel (intercellular bridges) yang terdiri atas protoplasma dan tonofibril atau keratin.
Perlekatan antar jembatan-jembatan ini membentuk penebalan bulat kecil yang disebut
nodulus bizzozero. Di antara sel-sel spinosum terdapat pula sel langerhans. Sel-sel
stranum spinosum mengandung banyak glikogen.
Stratum basale terdiri atas sel-sel berbentuk kubus ( kolumnar) yang tersusun
vertikal pada perbatasan dermo-epidermal berbaris seperti pagar (palisade) lapisan ini
merupakan lapisan epidermis yang paling bawah. Sel-sel basal ini mengadakan mitosis
dan berfungsi reproduktif. Lapisan ini terdiri atas dua jenis sel yaitu sel-sel yang
berbentuk kolumnar dengan protoplasma basofilik inti lonjong dan besar, dihubungkan
satu dengan yang lain oleh jembatan antar sel serta sel pembentuk melanin (melanosit)
atau clear cell merupakan sel-sel berwarna muda, dengan sitoplasma basofilik dan inti
gelap, dan mengandung butir pigmen (melanosomes).

2. Lapisan dermis
Lapisan dermis adalah lapiasan dibawah epidermis yang jauh lebih tebal daripada
epidermis. Lapisan ini terdiri atas lapisan elastik dan fibrosa padat dengan elemen-elemen
cellular dan folikel rambut. Secara garis besar dibagi menjadi dua bagian yakni pars
papilare, yaitu bagian yang menonjol ke epidermis, berisi ujung serabut saraf dan
pembuluh darah serta pars retikulare, yaitu bagian dibawahnya yang menonjol kearah
subkutan, bagian ini tediri atas serabut-serabut penunjangn misalnya serabut kolagen,
elastin, dan retikulin. Dasar (matriks) lapisan ini terdiri atas cairan kental asam hialuronat
dan kondroitin suflat, dibagian ini terdapat pula fibroblas. Serabut kolagen dibentuk oleh
fibroblas, membentuk ikatan (bundel) yang mengandung hidroksiprolin dan hidroksisilin.
Kolagen muda bersifat lentur dengan bertambah umur menjadi kurang larut sehingga
makin stabil. Retikulin mirip kolagen muda. Serabut elastin biasanya bergelombang,
berbentuk amorf dan mudah mengembang serta lebih elastis.
3. Lapisan subkutis
Lapisan subkutis adalah kelanjutan dermis, terdiri atas jaringan otot longgar, berisi
sel-sel lemak di dalamnya. Sel-sel lemak merupakan sel bulat, besar, dengan inti terdesak
ke pinggir sitoplasma lemak yang bertambah.
Sel-sel ini membentuk kelompok yang dipsahkan satu dengan yang lain oleh
trabekula yang fibrosa. Lapisan sel-sel lemak disebut panikulus adiposa, berfungsi
sebagai cadangan makanan. Di lapisan ini terdapat ujung-ujung saraf tepi, pembuluh
darah, dan getah bening. Tebal tipisnya jaringan lemak tidak sama bergantung pada
lokalisasinya. Di abdomen dapat mencapai ketebalan 3 cm, di daerah kelopak mata dan
penis sangat sedikit. Lapisan lemak ini juga merupakan bantalan.
Vaskularisasi di kulit diatur oleh 2 Pleksus, yaitu Pleksus yang terletak di bagian atas
dermis (pleksus superfisial) dan yang terletak di subkutis (pleksus profunda). Pleksus
yang di dermis bagian atas mengadakan anastomosis di papil dermis, pleksus yang di
subkutis dan di pars retikulare juga mengadakan anastomosis, di bagian ini pembuluh
darah berukuran lebih besar. Bergandengan dengan pembuluh darah terdapat saluran
getah bening.

Adneksa Kulit
Adneksa kulit terdiri atas kelenjar-kelenjar kulit, rambut, dan kuku. Kelenjar kulit
terdapat di lapisan dermis dan terdiri atas kelenjar keringat (Glandula sudorifera) dan
kelenjar palit (glandula sebasea). Kuku adalah bagian terminal lapisan tanduk (stratum
korneum) yang menebal. Dan kemudian rambut terdiri atas bagian yang terbenam dalam
kulit (akar rambut) dan bagian yang berada di luar kulit (batang rambut).

B. CANDIDIASIS3

Pendahuluan
Infeksi Candida pertama kali didapatkan di dalam mulut sebagai thrush yang
dilaporkan oleh FRANCOIS VALLEIX ( 1836 ). LANGERBACH ( 1839 ) menemukan
jamur penyebab thrush, kemudian BERHOUT ( 1923 ) member nama organisme tersebut
sebagai Kandida.
Definisi
Kandidosis adalah penyakit jamur, yang bersifat akut atau disebabkan oleh
spesies Candida, biasanya oleh spesies Candida albicans dan dapat mengenai mulut,
vagina, kulit, kuku, bronki, atau paru, kadang kadang dapat mentebabkan septicemia,
endokarditis atau meningitis. (3)

Sinonim
Kandidiasis, moniliasis

Epidemiologi
Penyakit ini tedapat di seluruh dunia, dapat menyerang semua umur, baik laki
laki maupun perempuan. Jamur penyebabnya terdapat pada orang sehat sebagai
saprofit. Gambaran klinisnya bermacam macam sehingga tidak diketahui data data
penyebaran dengan tepat.

Etiologi
Yang tersering sebagai penyakit adalah Candida albicans yang dapat diisolasi
dari kulit, mulut, selaput mukosa vagina, dan feses orang normal. Sebagai penyebab
endokarditis kandidosis ialah C. parapsilosis dan penyebab kanidosis septicemia adalah
C. tropicalis. (3)
Klasifikasi4
Berdasarkan tempat yang terkena CONANT dkk. (1971 ), membaginya sebagai
berikut :

Kandidosis selaput lendir :


1. Kandidosis oral (thrush)
2. Perlche
3. Vulvovaginitis
4. Balanitis atau balanopostitis
5. Kandidosis mukokutan kronik
6. Kandidosis bronkopulmonar dan paru

Kandidosis kutis :
1. Lokalisata :
a. Daerah intertriginosa
b. Daerah perianal
2. Generalisata
3. Paronikia dan onikomikosis
4. Kandidosis kutis granulomatosa

Kandisosis sistemik :
1. Endokarditis
2. Meningitis
3. Pielonefritis
4. septicemia
reaksi id. (kandidid)

Patogenesis
Infeksi kandida dapat terjadi, apabila ada faktor predisposisi baik endogen maupun
eksogen.
Faktor Endogen :
1. Perubahan fisiologik :
a. Kehamilan, karena perubahan pH dalam vagina
b. Kegemukan, karena banyak keringat
c. Debilitas
d. Latrogenik
e. Endokrinopatik, gangguan gula darah kulit
f. Penyakit kronik : tuberculosis, lupus eritematosus dengan keadaan umum yang
buruk
2. Umur : orang tua dan bayi lebih mudah terkena infeksi karena status imunologiknya
tidak sempurna.
3. Imunologik : penyakit genetic

Faktor Eksogen :
1. iklim, panas dan kelembaban menyebabkan perspirasi meningkat
2. Kebersihan kulit
3. Kebiasaan berendam kaki dalam air yang terlalu lama menimbulkan maserasi dan
memudahkan masuk jamur
4. Kontak dengan penderita, misalnya pada thrush, balanopositis

Cara membedakan keputihan fisiologi dan patologi

Leukoria fisiologis

Leukorea fisiologik ditemukan pada :

Bayi yang baru lahir sampai umur kira-kira 10 hari,disebabkan pengaruh estrogen
dari plasenta terhadap uterus dan vagina

Waktu di sekitar menarche karena mulai terdapat pengaruh estrogen.

Wanita dewasa apabila dia dirangsang sebelyum dan pada waktyu coitus
Waktu disekitar ovulasi

Leukorea patologik jika ada infeksi. Disini cairan mengandung banyak leukosit dan
warnanya agak kekuningan sampai hijau,seringkali kental dan berbau.

C. TINEA KRURIS

Definisi

Tinea Cruris adalah dermatofitosis pada sela paha, perineum dan sekitar anus.
Kelainan ini dapat bersifat akut atau menahun, bahkan dapat merupakan penyakit yang
berlangsun seumur hidup. Lesi kulit dapat terbatas pada daerahgenito-krural saja atau
bahkan meluas ke daerah sekitar anus, daerah gluteus dan perut bagian bawah atau bagian
tubuh yang lain. Tinea cruris mempunyai nama lain eczema marginatum, jockey itch,
ringworm of the groin, dhobie itch (Rasad, Asri, Prof.Dr. 2005) (4) (5)

Epidemiologi
Tinea cruris dapat ditemui diseluruh dunia dan paling banyak di daerah
tropis. Angka kejadian lebih sering pada orang dewasa, terutama laki-laki dibandingkan
perempuan. Tidak ada kematian yang berhubungan dengan tinea cruris.Jamur ini sering
terjadi pada orang yang kurang memperhatikan kebersihan diri atau lingkungan sekitar
yang kotor dan lembab (Wiederkehr, Michael. 2008)
Etiologi

Jamur dermatofita yang sering ditemukan pada kasus tinea kruris


adalah, E.Floccosum, T. Rubrum,dan T. Mentagrophytes.

Pria lebih sering terkena daripada wanita. Maserasi dan oklusi kulit lipat paha
menyebabkan peningkatan suhu dan kelembaban kulit yang akan memudahkan infeksi.
Tinea kruris biasanya timbul akibat penjalaran infeksi dari bagian tubuh lain. Penularan
juga dapat terjadi melalui kontak langsung dengan individu yang terinfeksi atau tidak
langsung melalui benda yang mengandung jamur, misalnya handuk, lantai kamar mandi,
tempat tidur hotel dan lain-lain.

Patofisiologi
Cara penularan jamur dapat secara angsung maupun tidak langsung. Penularan
langsung dapat secara fomitis, epitel, rambut yang mengandung jamur baik dari manusia,
binatang, atau tanah. Penularan tidak langsung dapat melalui tanaman, kayu yang
dihinggapi jamur, pakaian debu. Agen penyebabjuga dapat ditularkan melalui
kontaminasi dengan pakaian, handuk atau sprei penderita atau autoinokulasi dari tinea
pedis, tinea inguium, dan tinea manum. Jamur ini menghasilkan keratinase yang
mencerna keratin, sehingga dapat memudahkan invasi ke stratum korneum. Infeksi
dimulai dengan kolonisasi hifa atau cabang-cabangnya didalam jaringan keratin yang
mati. Hifa ini menghasilkan enzim keratolitik yang berdifusi ke jaringan epidermis dan
menimbulkan reaksi peradangan. Pertumbuhannya dengan pola radial di stratum korneum
menyebabkan timbulnya lesi kulit dengan batas yang jelas dan meninggi (ringworm).
Reaksi kulit semula berbentuk papula yang berkembang menjadi suatu reaksi
peradangan. (4)(5)
Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap timbulnya kelainan di kulit adalah:
a.Faktor virulensi dari dermatofita
Virulensi ini bergantung pada afinitas jamur apakah jamur antropofilik, zoofilik,
geofilik. Selain afinitas ini massing-masing jamur berbeda pula satu dengan yang lain
dalam hal afinitas terhadap manusia maupun bagian-bagian dari tubuh
misalnya: Trichopyhton rubrum jarang menyerang rambut, Epidermophython
fluccosum paling sering menyerang liapt paha bagian dalam.
b.Faktor trauma
Kulit yang utuh tanpa lesi-lesi kecil lebih susah untuk terserang jamur.
c.Faktor suhu dan kelembapan
Kedua faktor ini jelas sangat berpengaruh terhadap infeksi jamur, tampak pada
lokalisasi atau lokal, dimana banyak keringat seperti pada lipat paha, sela-sela jari
paling sering terserang penyakit jamur.
d.Keadaan sosial serta kurangnya kebersihan
Faktor ini memegang peranan penting pada infeksi jamur dimana terlihat insiden
penyakit jamur pada golongan sosial dan ekonomi yang lebih rendah sering
ditemukan daripada golongan ekonomi yang baik
e.Faktor umur dan jenis kelamin (Boel, Trelia.Drg. M.Kes.2003)

Manifestasi Klinis
1. Anamnesis
Keluhan penderita adalah rasa gatal dan kemerahan di regio inguinalis dan dapat
meluas ke sekitar anus, intergluteal sampai ke gluteus. Dapat pula meluas ke supra pubis
dan abdomen bagian bawah. Rasa gatal akan semakin meningkat jika banyak berkeringat.
Riwayat pasien sebelumnya adalah pernah memiliki keluhan yang sama. Pasien berada
pada tempat yang beriklim agak lembab, memakai pakaian ketat, bertukar pakaian
dengan orang lain, aktif berolahraga, menderita diabetes mellitus. Penyakit ini dapat
menyerang pada tahanan penjara, tentara, atlit olahraga dan individu yang beresiko
terkena dermatophytosis.
2. Pemeriksaan Fisik
Efloresensi terdiri atas bermacam-macam bentuk yang primer dan
sekunder. Makula eritematosa, berbatas tegas dengan tepi lebih aktif terdiri dari papula
atau pustula. Jika kronis atau menahun maka efloresensi yang tampak hanya makula
hiperpigmentasi dengan skuama diatasnya dan disertai likenifikasi. Garukan kronis dapat
menimbulkan gambaran likenifikasi.
Manifestasi tinea cruris :
1.Makula eritematus dengan central healing di lipatan inguinal, distal lipat paha, dan
proksimal dari abdomen bawah dan pubis
2.Daerah bersisik
3.Pada infeksi akut, bercak-bercak mungkin basah dan eksudatif
4.Pada infeksi kronis makula hiperpigmentasi dengan skuama diatasnya dan disertai
likenifikasi
5.Area sentral biasanya hiperpigmentasi dan terdiri atas papula eritematus yang tersebar
dan sedikit skuama
6.Penis dan skrotum jarang atau tidak terkena
7.Perubahan sekunder dari ekskoriasi, likenifikasi, dan impetiginasi mungkin muncul
karena garukan
8.Infeksi kronis bisa oleh karena pemakaian kortikosteroid topikal sehingga tampak
kulit eritematus, sedikit berskuama, dan mungkin terdapat pustula folikuler
9.Hampir setengah penderita tinea cruris berhubungan dengan tinea pedis (Wiederkehr,
Michael. 2008).

Pemeriksaan penunjang

Pada tinea kruris, bahan untuk pemeriksaan jamur sebaiknya diambil dengan
mengerok tepi lesiyang meninggi atau aktif. Khusus untuk lesi yang berbentuk lenting-
lenting, seluruh atapnya harus diambil untuk bahan pemeriksaan. Pemeriksaan
mikroskopik (dengan menggunakan mikroskop) secara langsung menunjukkan artrospora
(hifa yang bercabang) yang khas pada infeksi dermatofita.

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik dengan melihat
gambaran klinis dan lokasi terjadinya lesi serta pemeriksaan penunjang seperti yang telah
disebutkan dengan menggunakan mikroskop pada sediaan yang ditetesi KOH 10-20%,
sediaan biakan pada medium Saboraud, punch biopsi, atau penggunaan lampu wood.

Diagnosis Banding
Candidosis intertriginosa
Kandidosis adalah penyakit jamur yang disebabkan oleh spesies Candida biasanya
oleh Candida albicans yang bersifat akut atau subakut dan dapat mengenai mulut, vagina,
kulit, kuku, bronki.Penyakit ini terdapat di seluruh dunia, dapat menyerang semua umur,
baik laki-laki maupun perempuan.
Patogenesisnya dapat terjadi apabila ada predisposisi baik endogen maupun eksogen.
Faktor endogen misalkan kehamilan karena perubahan pH dalam vagina, kegemukan
karena banyak keringat, debilitas, iatrogenik, endokrinopati, penyakit kronis orang tua
dan bayi, imunologik (penyakit genetik). Faktor eksogen berupa iklim panas dan
kelembapan, kebersihan kulit kurang, kebiasaan berendam kaki dalam air yang lama
menimbulkan maserasi dan memudahkan masuknya jamur, kontak dengan penderita.
Dapat mengenai daerah lipatan kulit, terutama ketiak, bagian bawah payudara, bagian
pusat, lipat bokong, selangkangan, dan sela antar jari; dapat juga mengenai daerah
belakang telinga, lipatan kulit perut, dan glans penis (balanopostitis). Pada sela jari
tangan biasanya antara jari ketiga dan keempat, pada sela jari kaki antara jari keempat
dan kelima, keluhan gatal yang hebat, kadang-kadang disertai rasa panas seperti terbakar.
Lesi pada penyakit yang akut mula-mula kecil berupa bercak yang berbatas tegas,
bersisik, basah, dan kemerahan. Kemudian meluas, berupa lenting-lenting yang dapat
berisi nanah berdinding tipis, ukuran 2-4 mm, bercak kemerahan, batas tegas, Pada
bagian tepi kadang-kadang tampak papul dan skuama. Lesi tersebut dikelilingi oleh
lenting-lenting atau papul di sekitarnya berisi nanah yang bila pecah meninggalkan
daerah yang luka, dengan pinggir yang kasar dan berkembang seperti lesi utama. Kulit
sela jari tampak merah atau terkelupas, dan terjadi lecet. Pada bentuk yang kronik, kulit
sela jari menebal dan berwarna putih.

Penatalaksanaan

Menghilangkan faktor penunjang sangat penting, misalnya mengusahakan


daerah lesi selalu kering dengan memakai baju yang menyerap keringat. Obat antijamur
yang dioleskan adalah terapi pilihan untuk lesi yang terbatas dan dapat dijangkau.
Berbagai macam obat imidazol dan alilamin tersedia dalam beberapa formulasi.
Semuanya memberikan keberhasilan terapi yang tinggi (70-100%) dan jarang ditemukan
efek samping. Obat ini digunakan pagi dan sore hari selama sekurang-kurangnya 2-4
minggu. Terapi dioleskan sampai 3 cm di luar batas lesi dan diteruskan sekurang-
kurangnya 2 minggu setelah lesi menyembuh.
Pengobatan dengan obat yang diminum diperlukan jika lesi luas atau gagal dengan
pengobatan topikal. Obat oral yang dapat digunakan adalah.

o griseofulvin microsized 500-1000 mg/hari selam 2-6 minggu, meskipun beberapa


laporan menunjukkan kemungkinan kasus kebal terhadap pengobatan
o ketokonazol 200 mg/hari selama kurang lebih 4 minggu
o itrakonazol 100 mg/hari selama 2 minggu atau 200 mg/hari selama 1 minggu
o terbinafin 250 mg/hari selama 1-2 minggu

Mengobati atau menghilangkan sumber penularan merupakan hal penting untuk


mencegah penularan jamur kembali dan penyebaran lebih lanjut kepada manusia

Pencegahan

Agar terhindar dari 2 jenis penyakit infeksi ini (kandidosis dan tinea kruris), menjaga
kebersihan adalah hal yang paling utama.

Sebelum menggunakan kloset, biasakan untuk menyiramnya terlebih dahulu. Ini


untuk memastikan tidak ada kuman atau kotoran yang masih menempel pada
kloset.

Bersihkan dudukan kloset sebelum digunakan. Lap dengan menggunakan tisu


atau semprotlah dengan menggunakan cairan antiseptik agar lebih higienis. Ini
penting dilakukan, terutama jika Anda menggunakan fasilitas toilet umum.

Siram kloset setiap habis digunakan. Menurut pakar mikrobiologi lingkungan,


terdapat sekitar 3,2 juta mikroba di dalam toilet yang Anda gunakan. Pada saat
Anda menyiram kloset, bakteri bisa terciprat keluar dan menempel pada bagian
lain dari kloset. Karena itu, siramlah kloset duduk Anda dalam kondisi tertutup.
Sebisa mungkin hindari menggunakan air di dalam ember untuk membersihkan
daerah intim Anda. Lebih baik menggunakan air yang keluar dari selang untuk
membasuh organ intim Anda, karena kemungkinan air yang tertampung di dalam
ember atau bak mandi mengandung kuman penyakit cukup besar terutama di
toilet umum.

Bersihkan kedua tangan Anda dengan sabun setelah membersihkan daerah intim.
Lalu keringkanlah dengan menggunakan handuk, tisu atau hand drierjika Anda
menggunakan fasilitas toilet umum. Ini bertujuan untuk membersihkan diri dari
kuman-kuman penyakit yang berasal dari toilet.

Pastikan Anda selalau membawa perlengkapan toilet saat hendak bepergian jauh.
Perlengkapan seperti tisu, air mineral, sabun, semprotan antiseptik, pembalut dan
plastik wajib dibawa untuk mencegah terjadinya hal-hal buruk yang tidak
diinginkan.

Komplikasi
Tinea cruris dapat terinfeksi sekunder oleh candida atau bakteri yang lain. Pada
infeksi jamur yang kronis dapat terjadi likenifikasi dan hiperpigmentasi kulit.

D. TRIKOMONIASIS
A. Definisi
Trikomoniasis merupakan penyakit infeksi protozoa yang
disebabkanTrichomonas vaginalis, biasanya ditularkan melalui hubungan seksual dan
sering menyerang traktus urogenitalis bagian bawah pada wanita maupun pria, namun
pada pria perannya sebagai penyebab penyakit masih diragukan. (6)
B. Etiologi
Penyebab trikomoniasis ialah Trichomonas vaginalis yang merupakan satu-
satunya spesies Trichomonas yang bersifat patogen pada manusia dan dapat dijumpai
pada traktus urogenital. Pertama kali ditemukan oleh Donne pada tahun 1836, dan
untuk waktu yang lama sejak ditemukannya dianggap sebagai komensal.
Trichomonas vaginalis merupakan flagelata berbentuk filiformis, berukuran
15-18 mikron, mempunyai 4 flagela, dan bergerak seperti gelombang. Mempunyai
membran undulans yang pendek, tidak mencapai dari setengah badannya. Pada
sediaan basah mudah terlihat karena gerakan yang terhentak-hentak. Membentuk
koloni trofozoit pada permukaan sel epitel vagina dan uretra pada wanita; uretra,
kelenjar prostat dan vesikula seminalis pada pria.
Parasit ini berkembang biak secara belah pasang memanjang dan dapat hidup
dalam suasana pH 5-7,5. Pada suhu 50C akan mati dalam beberapa menit, tetapi
pada suhu 0C dapat bertahan sampai 5 hari.Cepat mati bila mengering, terkena sinar
matahari, dan terpapar air selama 35-40 menit.
Ada dua spesies lainnya yang dapat ditemukan pada manusia, yaitu
Trichomonas tenax yang hidup di rongga mulut dan Pentatrichomonas hominisyang
hidup dalam kolon, yang pada umumnya tidak menimbulkan penyakit.

C. Patogenesis
Trichomonas vaginalis mampu menimbulkan peradangan pada dinding
saluran urogenital dengan cara invasi sampai mencapai jaringan epitel dan subepitel.
Masa tunas rata-rata 4 hari sampai 3 minggu. Pada kasus yang lanjut terdapat bagian-
bagian dengan jaringan granulasi yang jelas. Nekrosis dapat ditemukan di lapisan
subepitel yang menjalar sampai di permukaan epitel. Di dalam vagina dan uretra
parasit hidup dari sisa-sisa sel, kuman-kuman, dan benda lain yang terdapat dalam
secret(6)
D. Gejala Klinis
1. Trikomoniasis Pada Wanita
Gejala klinis trikomoniasis pada wanita tidak merupakan parameter
diagnostik yang dapat dipercaya. Masa tunas sulit untuk dipastikan, tetapi
diperkirakan berkisar antara 3-28 hari.
Pada wanita sering tidak menunjukkan keluhan maupun gejala sama
sekali. Bila ada keluhan biasanya berupa duh tubuh vaginal yang banyak dan
berbau. Biasanya penderita datang dengan keluhan gatal pada daerah kemaluan
dan gejala keputihan.Dari data-data yang dikumpulkan oleh Wolner-Hanssen
(1989) dan Rein (1989) yang terdapat pada tabel 1, ternyata hanya 50-70%
penderita yang mengeluh adanya duh tubuh vaginal, sehingga pernyataan bahwa
trikomoniasis pada wanita harus selalu disertai duh tubuh vaginal merupakan hal
yang tidak benar

.
Tabel 1. Prevalensi keluhan dan gejala klinis penderita wanita dengan trikomoniasis.

Keluhan dan gejala Prevalensi (%)


Keluhan : 9 56
1. Tidak ada 50 75
2. Duh tubuh (discharge) 10 67
23 82
Berbau
10 50
Menimbulkan iritasi/gatal
30 50
3. Dispareunia
5 12
4. Disuria
15
5. Perasaan tidak enak pada perut bawah 10 37
Gejala : 5 42
1. Tidak ada 8 50
2. Eritema vulva yang difus 20 75
3. Duh tubuh berlebihan, kuning, hijau 12
45
berbusa
4. Inflamasi dinding vagina
5. Strawberry cervix
Pengamatan langsung
Pengamatan dengan kolposkop
Yang diserang terutama dinding vagina, dapat bersifat akut maupun
kronis. Pada kasus akut terlihat sekret vagina seropurulen berwarna kekuning-
kuningan, kuning-hijau, berbau tidak enak (malodorous), dan berbusa. tubuh yang
banyak sering menimbulkan keluhan gatal dan perih pada vulva serta kulit
sekitarnya. Dinding vagina dan labium tampak kemerahan dan sembab serta
terasa nyeri. Sedangkan pada vulva dan paha bagian atas kadang-kadang
ditemukan abses-abses kecil dan maserasi yang disebabkan oleh fermen
proteolitik dalam duh tubuh. Kadang-kadang juga terbentuk abses kecil pada
dinding vagina dan serviks, yang tampak granulasi berwarna merah dan dikenal
sebagai strawberry appearance, yang menurut Fouts et al, hal ini hanya
ditemukan pada 2% kasus trikomoniasis.Keluhan lain yang mungkin terjadi
adalah dispareunia, perdarahan pascakoitus, dan perdarahan intermenstrual. Bila
sekret banyak yang keluar dapat timbul iritasi pada lipat paha atau di sekitar
genitalia eksterna. Selain vaginitis dapat pula terjadi uretritis, Bartholinitis,
skenitis, dan sistitis yang pada umumnya tanpa keluhan. Pada kasus yang kronik
gejalanya lebih ringan dan sekret vagina biasanya tidak berbusa.(6)
Kadang-kadang reaksi radang sangat minimal sehingga duh tubuh sangat
minimal pula, bahkan dapat tidak tampak sama sekali. Polakisuria dan disuria
biasanya merupakan keluhan pertama pada infeksi traktus urinarius bagian bawah
yang simptomatik. Dua puluh lima persen penderita mengalami infeksi pada
uretra.
2. Trikomoniasis Pada Pria
Seperti pada wanita spektrum klinik trikomoniasis pada pria sangat luas,
mulai dari tanpa gejala sampai pada uretritis yang hebat dengan komplikasi
prostatitis. Masa inkubasi biasanya tidak melebihi 10 hari.
Pada laki-laki yang diserang terutama uretra, kelenjar prostat, kadang-
kadang preputium, vesikula seminalis, dan epididimis. Pada umumnya gambaran
klinis lebih ringan dibandingkan dengan wanita. Bentuk akut gejalanya mirip
uretritis nongonore, misalnya disuria, poliuria, dan sekret uretra mukoid atau
mukopurulen. Urin biasanya jernih, tetapi kadang-kadang ada benang-benang
halus. Pada bentuk kronik gejalanya tidak khas; gatal pada uretra, disuria, dan
urin keruh pada pagi hari.
E. Diagnosis
Diagnosis kurang tepat bila hanya berdasarkan gambaran klinis,
karenaTrichomonas vaginalis dalam saluran urogenital tidak selalu menimbulkan
gejala atau keluhan. Uretritis dan vaginitis dapat disebabkan bermacam-macam
sebab, karena itu perlu diagnosis etiologik untuk menentukan penyebabnya.
Diagnosis trikomoniasis ditegakkan setelah ditemukannya T. vaginalispada
sediaan langsung (sediaan basah) atau pada biakan duh tubuh penderita.
Diagnosis pada pria menjadi lebih sulit lagi, karena infeksi ditandai oleh
jumlah kuman yang lebih sedikit bila dibandingkan dengan wanita. Uretritis non
gonore (UNG) yang disebabkan oleh T. vaginalis tidak dapat dibedakan secara klinis
dari UNG oleh penyebab yang lain.
Respon terhadap pengobatan dapat menunjang diagnosis. UNG yang gagal
diobati dengan rejimen yang efektif terhadap C. trachomatis dan U. urealyticum,
namun respon terhadap pengobatan dengan metronidazol, menunjang diagnosis
trikomoniasis.
Untuk mendiagnosis trikomoniasis dapat dipakai beberapa cara, misalnya
pemeriksaan mikroskopik sediaan basah, sediaan hapus, dan pembiakan. Sediaan
basah dicampur dengan garam faal dan dapat dilihat pergerakan aktif parasit. Pada
pembiakan dapat digunakan bermacam-macam pembenihan yang mengandung
serum.
F. Pemeriksaan Laboratorium
Cara pengambilan spesimen pada wanita, yaitu spesimen berupa hapusan
forniks posterior dan anterior yang diambil dengan lidi kapas atau sengkelit steril.
Hendaknya spekulum yang dipakai jangan memakai pelumas. Pada pria, spesimen
yang diambil dengan mengerok (scraping) dinding uretra secara hari-hati dengan
menggunakan sengkelit steril. Pengambilan spesimen sebaiknya dilakukan sebelum
kencing pertama.
Bila parasit tidak ditemukan, maka dilakukan pengambilan spesimen berupa
sedimen dari 20 cc pertama urin pertama pagi-pagi. Spesimen tersebut, terutama yang
diambil setelah masase prostat dapat menghasilkan 15% hasil positif pada kasus-
kasus yang tidak terdiagnosis dengan pemeriksaan spesimen uretra. Pada spesimen
tersebut dilakukan pemeriksaan :
1. Sediaan Langsung (Sediaan Basah)
Lidi kapas dicelupkan ke dalam 1 cc garam fisiologis, dikocok. Satu tetes
larutan tersebut diteteskan pada gelas objek, kemudian ditutup dengan kaca
penutup. Spesimen pada ujung sengkelit dimasukkan pada satu tetes garam
fisiologis yang telah diletakkan pada kaca objek.
Sebelum diamati sediaan dipanaskan sebentar dengan hati-hati, untuk
meningkatkan pergerakan T. vaginalis. Pada pemeriksaan diperhatikan pula
jumlah leukosit.
2. Sediaan Tidak Langsung
Bila pada sediaan langsung tidak ditemukan kuman penyebab, maka
dilakukan biakan pada media Feinberg atau Kupferberg. Biakan diperlukan pada
pemeriksaan kasus-kasus asimtomatik. Enam puluh persen spesimen yang diambil
dari uretra pria dengan trikomoniasis akan menghasilkan biakan positif.
Dikemukan bahwa hasil positif pada pemeriksaan sediaan basah pada wanita
berkisar antara 40-80%, sedangkan biakan berkisar antara 95%. Biakan 10-15% lebih
sensitif dari sediaan basah. Berdasarkan hal tersebut biakan masih tetap merupakan
pemeriksaan yang dianjurkan untuk menunjang diagnosis trikomoniasis.
Tabel 2. Prevalensi hasil pemeriksaan laboratorium pada penderita trikomoniasis.

Jenis pemeriksaan Prevalensi (%)


pH > 4,5 66 91
Sniff test positif 75
Sediaan basah 75
Leukosit meningkat 40 80
Trichomonas dengan pergerakan khas 89 90
Fluorescent antibody <1
Pengecatan 60
Gram 50
Acridine orange 56 70
Giemsa
Pap smear
G. Diagnosis Banding
Diagnosis banding trikomoniasis adalah kandidosis vulvovaginalis, vaginosis
bakterialis, infeksi gonokokus, infeksi genital nonspesifik (I.G.N.S).
1. Kandidosis Vulvovaginalis
Disebabkan oleh Candida albicans. Keluhan utama adalah gatal di daerah
vulva. Pada keadaan yang sangat berat dapat pula timbul panas, nyeri sesudah
miksi dan dispareunia.Flour albus pada kandidosis berwarna kekuningan. Tanda
yang khas adalah disertai gumpalan-gumpalan sebagai kepala susu berwarna putih
kekuningan
2. Vaginosis Bakterialis
Disebabkan oleh Gardnerella vaginalis. Wanita akan mengeluh adanya
duh tubuh dari vagina yang ringan atau sedang dan berbau tidak enak (amis), yang
dinyatakan oleh penderita sebagai satu-satunya gejala yang tidak menyenangkan.
Bau lebih menusuk setelah senggama dan mengakibatkan darah menstruasi
berbau abnormal. Iritasi daerah vagina atau sekitar vagina, sepertiga akan
menyebabkan gatal dan rasa terbakar dan seperlima timbul kemerahan dan edema
pada vulva. Nyeri abdomen, dispareunia, atau nyeri waktu kencing jarang terjadi.
Pada pemeriksaan sangat khas, dengan adanya duh tubuh vagina yang
bertambah, warna abu-abu homogen, viskositas rendah atau normal, berbau dan
jarang berbusa. Duh tubuh melekat pada dinding vagina dan terlihat sebagai
lapisan tipis atau kilauan yang difus, pH sekret vagina antara 4,5-5,5. Gejala
peradangan umum tidak ada. Terdapat eritema pada vagina atau vulva atau
petekie pada dinding vagina. Pada sediaan basah sekret vagina terlihat tidak ada
atau sedikit leukosit, sel epitel banyak, dan adanya kokobasil sehingga batas sel
tidak jelas, disebut clue cells yang patognomonik.
3. Infeksi Gonokokus
Sesudah lewat masa tunas 3-5 hari, penderita mengeluh nyeri dan panas
pada waktu kencing. Kemudian keluar nanah yang berwarna putih susu dari uretra
dan muara uretra membengkak, merah dan ektropion. Pada wanita portio uteri
merah, edema dengan sekret mukopurulen dan dapat timbul flour albus.
4. Infeksi Genital Nonspesifik (I.G.N.S)
Kurang lebih 75% disebabkan oleh Chlamydia trachomatis,Ureaplasma
urealyticum dan Mycoplasma hominis. Gejala klinis pada wanita umumnya tidak
menunjukkan gejala. Sebagian kecil dengan keluhan keluarnya duh tubuh vagina,
disuria ringan, sering kencing, nyeri di daerah pelvis dan dispareunia. Pada
pemeriksaan serviks dapat dilihat tanda-tanda servisitis yang disertai adanya
folikel-folikel kecil yang mudah berdarah.
Pada pria biasanya gejala baru timbul setelah 1-3 minggu kontak seksual
dan umumnya tidak seberat gonore. Gejalanya berupa disuria ringan, perasaan
tidak enak di uretra, sering kencing, dan keluarnya duh tubuh seropurulen. Pada
beberapa keadaannya tidak terlihat keluarnya duh tubuh.
H. Penatalaksanaan
Pengobatan dapat diberikan secara topikal atau sistemik.Pengobatan
trikomoniasis harus diberikan kepada penderita yang menunjukkan gejala maupun
yang tidak.
1. Topikal
a. Bahan cairan berupa irigasi, misalnya hidrogen peroksida 1-2% dan larutan
asam laktat 4%.
b. Bahan berupa supositoria, bubuk yang bersifat trikomoniasidal.
c. Jel dan krim, yang berisi zat trikomoniasidal.
2. Sistemik (oral)
Obat yang sering digunakan tergolong derivat nitromidazol seperti:
a. Metronidazol : dosis tunggal 2 gram atau 3 x 500 mg/hari, selama 7 hari.
b. Nimorazol : dosis tunggal 2 gram.
c. Tinidazol : dosis tunggal 2 gram.
d. Omidazol : dosis tunggal 1,5 gram.
Penderita dinyatakan sembuh bila keluhan dan gejala telah menghilang,
serta parasit tidak ditemukan lagi pada pemeriksaan sediaan langsung.
Pada waktu pengobatan perlu beberapa anjuran pada penderita:
a. Pemeriksaan dan pengobatan terhadap pasangan seksual untuk mencegah
jangan terjadi infeksi pingpong.
b. Jangan melakukan hubungan seksual selama pengobatan dan sebelum
dinyatakan sembuh.
c. Hindari pemakaian barang-barang yang mudah menimbulkan transmisi.
3. Pengobatan Pada Kehamilan
Kehamilan pada trimester pertama merupakan kontra indikasi pemberian
metronidazol. Sehubungan telah banyak bukti-bukti yang menunjukkan adanya
kaitan antara infeksi T. vaginalis dengan pecahnya ketuban sebelum waktunya,
maka metronidazol dapat diberikan dengan dosis efektif yang paling rendah pada
trimester kedua dan ketiga.
4. Infeksi Pada Neonatus
Bayi dengan trikomoniasis simtomatik atau dengan kolonisasi T.
vaginalis melewati umur 4 bulan, harus diobati dengan metronidazol 5
mg/kgBB/oral, 3 x sehari selama 5 hari.
I. Prognosis
Umumnya baik,Sembilan puluh lima persen penderita yang diobati sembuh.
BAB V
KESIMPULAN

Kelompok kami menyimpulkan bahwa dugaan sementara pasien ini menderita


candidiasis. Hal ini berdasarkan gejala-gejala dari pasien berupa keputihan dan gatal-
gatal bercak merah di kedua lipat paha. Dan keluhan bertambah berat dengan penggunaan
panty shield. Biasanya keluhan keputihan dan gatal-gatal dan diperparah oleh pemakaian
panty shield merupakan ciri khas dari infeksi candida. Namun masih diperlukan
pemeriksaan lebih lanjut berupa pemeriksaan fisik dan penunjang untuk diagnosis pasti
dari pasien ini. Umumnya, prognosis dari candidiasis baik, dan komplikasi dari
candidiasis jarang terjadi selama system imun tubuh pasien masih baik.
DAFTAR PUSTAKA

1. Hidalgo Jose. Candidiasis. Available at :


http://emedicine.medscape.com/article/213853-followup#a2650. Accessed on : 16
Mei 2011. Updated on : 11 Januari 2010
2. Hedayati Tarlan. Candidiasis. Available at :
http://emedicine.medscape.com/article/781215-overview#showall. Accessed on :
16 Mei 2011. Updated on: 15 Februari 2010.
3. Djuanda A. Hamzah M, Aisah S, editor. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, edisi
Keenam. Jakarta. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.2010 :3-5, 94-95,
106-9
4. Siregar RS. Saripati Penyakit Kulit, edisi kedua. Jakarta. EGC. 2004 : 29-31
5. Daily SF. Trikomoniasis. Dalam: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, editor. Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi V. Jakarta: FKUI; 2009.1: 362-3.
6. Siregar RS. Trikomoniasis. Dalam: Siregar RS, editor. Atlas Berwarna Saripati
Penyakit Kulit. Edisi II. Jakarta: EGC; 2005. 1: 177.