Anda di halaman 1dari 6

Anemia, Kelainan hematologik

Recombinant Human Erythropoetin 50 150 U/kg 3x seminggu i.v / s.c.

Transfused Packed Red Cell (PRC)

Hipertensi

Pengaturan diet

Antihipertensi

Dialisis

Hiper-/Hipo-kalemia

Nac Bikarbonat i.v

Glukosa i.v disertai insulin

Kalsium glukonat i.v

Dialisis

Gangguan Saluran GI

Pengaturan diet

Antasida sirup saat dispepsia

H-2 Bloker

Dialisis

Gangguan Metabolisme Ca dan Fosfat

Kalsium Karbonat

Vitamin D 0,25 mikrogram/hari


PRC DAN ERITROPOIETIN

Fungsi ginjal yang terganggu >> penurunan ketidakmampuan ginjal untuk menghasilkan cukup
erythropoietin, karena ginjal bertanggung jawab untuk sekitar 90% dari erythropoietin yang dihasilkan
dalam tubuh.

ginjal bertanggung jawab untuk sekitar 90% dari erythropoietin yang dihasilkan dalam tubuh >>
penurunan fungsi ginjal >>> ketidakmampuan ginjal untuk menghasilkan cukup erythropoietin >>
(eritropoietin merupakan prekursor sel darah merah yang akan dihasilkan di sumsum tulang belakang
selain itu eritropoietin juga bertanggung jawab pada umur sel darah merah >>> menyebabkan
menurunnya jumlah sel darah merah dan memperpendek umur sel darah merah >>> anemia

Selain itu pasien dengan penyakit ginjal kronis mungkin berpotensi mengalami fibrosis sumsum tulang
akibat sistem terpisah yang melibatkan hormon paratiroid>>>peningkatan hormon paratiroid akhirnya
menyebabkan osteodistrofi ginjal>>> fibrosis sumsum tulang. Yang menyebabkan sumsum tulang itu
sendiri kurang responsif terhadap erythropoietin>> penurunan sel darah merah >> anemia
ANTIHIPERTENSI

Hipertensi merupakan salah satu etiologi dari ckd dan merupakan salah satu factor meningkatkan
keparahan dari ckd, menurunnya nilai gfr>> menurunnya area fitrasi di ginjal>> Peningkatan tekanan
kapiler glomerulus >>> injury pada endotel >> proteinuria>> Perkembangan penyakit ginjal

dipiro ed 7

Antihipertensi merupakan salah satu lini pertama terapi farmakologi dalam terapi CKD selain terapi non
farmakologi yaitu diet rendah protein, The Seventh Joint National Committee on Prevention, Detection,
Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure merekomendasikan tiga atau lebih obat tekanan
darah yang berbeda yang biasanya dibutuhkan untuk mengontrol tekanan darah pada pasien ckd

Dengan mengontrol tekanan darah dapat mengurangi tingkat penurunan nilai GFR dan derajat
albuminuria pada pasien tipe hipertensi 1 dan tipe 2.. ACEI dan ARB terbukti dapat mengurangi tekanan
dan volume kapiler glomerulus (mengurangi tekanan intraglomerular)
Pengaturan diet

Anoreksia dan malnutrisi adalah komplikasi CKD. pedoman NKF K / DOQI merekomendasikan
mengevaluasi tanda-tanda gizi buruk ketika GFR lebih rendah dari 60 mL / menit per 1,73 m2
(STAGE 3, 4, dan 5). Penyelidikan untuk gizi buruk harus mencakup penilaian diet untuk protein
dan asupan kalori, serum albumin, dan atau penilaian dari ada atau tidaknya protein dalam urin.
Terapi non farmakologi yang dilakukan untuk pasien CKD ialah diet rendah protein, karena
berdasarkan penelitian mampu meringankan kerja dari ginjal sehingga tidak memperparah
penurunan fungsi ginjal pasien. Tetapi harus diperhatikan karena dapat menyebabkan mal
nutrisi akibat adanya proteinuria, sehingga dianjurkan asupan protein 0,6 g / kg per hari pada
pasien dengan GFR <25 mL/menit per 1,73 m2. Titrasi asupan protein hingga 0,75 g / kg per hari
disarankan untuk pasien yang tidak dapat mencapai atau mempertahankan status gizi yang
memadai dengan diet rendah protein (0,6 g / kg per hari).

Dialysis

diindikasikan untuk menghilangkan racun uremik dan untuk menjaga stabilitas hemodinamik.

Pada gagal ginjal kronik fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme protein yang normalnya diekskresikan ke
dalam urin tertimbun dalam darah. Terjadi uremia dan mempengaruhi setiap sistem tubuh. Semakin banyak
timbunan produk sampah, maka gejala akan semakin berat. Penurunan jumlah glomeruli yang normal
menyebabkan penurunan klirens substansi darah yang seharusnya dibersihkan oleh ginjal. Dengan menurunnya
glomerulo filtrat rate (GFR) mengakibatkan penurunan klirens kreatinin dan peningkatan kadar kreatinin serum.
Hal ini menimbulkan gangguan metabolisme protein dalam usus yang menyebabkan anoreksia, nausea maupan
vomitus yang menimbulkan perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. Peningkatan ureum kreatinin sampai
ke otak mempengaruhi fungsi kerja, mengakibatkan gangguan pada saraf, terutama pada neurosensori. Semakin
menurunnya fungsi renal terjadi asidosis metabolik akibat ginjal mengekskresikan muatan asam (H+) yang
berlebihan.

Deteksi dan terapi komplikasi. Awasi dengan ketat kemungkinan ensefalopati uremia, perikarditis, neuropati
perifer, hiperkalemia yang meningkat, kelebihan cairan yang meningkat, infeksi yang mengancam jiwa, sehingga
diperlukan dialisis.

Bikarbonat

Salah satu fungsi ginjal ialah mengatur keseimbangan Ph darah dengan mekanisme mereabsorpsi dan
mensekresi ion bikarbonat dan ion H+. Orang dengan fungsi ginjal yang normal menghasilkan ion
hidrogen yang cukup untuk merebut kembali semua bikarbonat disaring. Akibatnya, pH cairan tubuh
dipertahankan secara konstan melalui buffer ion hidrogen dengan protein, hemoglobin, fosfat, dan
bikarbonat. ammoniagenesis ginjal dan ekskresi buffer fosfat urin dan akan memfasilitasi ekskresi asam.
Pada pasien CKD yang parah, semua bikarbonat yang disaring direklamasi, tetapi kemampuan ginjal
untuk mensintesis amonia terganggu sehingga menurunkan produksi buffer sal kemih dan menurunkan
ekskresi asam sehingga keseimbangan ion hidrogen positif terganggu; akibatnya, terjadi asidosis
metabolik. Asidosis metabolik adalah keasaman darah yang berlebihan, yang ditandai dengan rendahnya
kadar bikarbonat dalam darah. Bila peningkatan keasaman melampaui sistem penyangga pH, darah akan
benar-benar menjadi asam.

Hipokalium dan Hipernatrium

Ginjal adalah rute utama eliminasi kalium. Hubungan antara kalium plasma dan seluler dipengaruhi
oleh keseimbangan asam basa dan hormon. Asidosis cenderung menggeser kalium keluar dari sel
dan alkalosis mempermudah gerakan dari cairan ekstraseluler menuju dalam sel. Hubugan antara
pH darah dan kalium plasma adalah kompleks dan dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk
jenis asidosis, lamanya perubahan keadaan keseimbangan asam-basa dan perubahan bikarbonat
plasma.

Penurunan dalam volume sirkulasi yang efektif cenderung mengganggu ekskresi kalium. Dalam
keadaan seperti deplesi garam dan air atau gagal jantung kongestif, laju filtrasi glomerulus
berkurang dan reabsorbsi cairan meningkat. Penurunan penghantaran cairan ke tubulus distal ini,
membatasi sekresi kalium ke dalam air kemih.

Gangguan GI

PGK dapat menyebabkan berbagai manifestasi klinis, salah satunya adalah gangguan gastrointestinal, yang
merupakan gangguan non renal yang paling sering ditemukan di samping diabetes melitus dan penyakit arteri
KORONER. Gangguan gastrointestinal berkaitan dengan malnutrisi yang menyebabkan meningkatnya
morbiditas dan mortalitas pasien gagal ginjal.
Penelitian menunjukkan pemanjangan waktu transit kolon yang signifikan
Kaitan antara konstipasi dengan PGK berhubungan dengan
perubahan gaya hidup yaitu berkurangnyaaktivitas, berkurangnya masukan serat karena diet rendah kalium,
penggunaan pengikat fosfat, dan adanya komorbid lain seperti diabetes melitus dan penyakit serebrovaskuler.
Pemanjangan waktu transit kolon serta berkurangnya digesti protein di usus halus
dan diet kurang serat dapat menyebabkan perubahan fl ora kolon. Hal ini menyebabkan
konsentrasi bakteri proteolitik pada pasien PGK lebih tinggi daripada orang normal. Bakteri
proteolitik menghasilkan molekul seperti fenol, indol dan amina yang terakumulasi di
saluran cerna pasien PGK. Molekul yang disebut sebagai molekul retensi uremik inilah
yang diduga berkontribusi menyebabkan
sindrom uremia.