Anda di halaman 1dari 17

Meningkatnya Sekresi Asam Lambung yang Berlebihan

Pamela Vasikha

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana NIM 102013407

Jalan Arjuna Utara no. 6 Jakarta Barat 11510

Pamelavasikha@yahoo.com

Abstrak

Semua makhluk hidup memerlukan makanan dan minuman setiap harinya untuk dapat bertahan
hidup. Makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh akan dicerna oleh sistem pencernaan. Salah
satu organ yang berperan penting dalam proses pencernaan adalah gaster (lambung). Di dalam lambung
terdapat asam lambung yang sangat penting untuk membantu proses pencernaan. Peningkatan asam
lambung yang berlebihan bisa disebabkan oleh makanan dan minuman tertentu, salah satu contohnya
adalah senyawa kafein yang terkandung di dalam kopi. Sering terlambat makan juga merupakan salah
satu penyebab meningkatnya asam lambung karena asam lambung tetap diproduksi oleh lambung secara
terus menerus walaupun tidak ada makanan yang masuk ke lambung sama sekali. Jika asam lambung
terus diproduksi tetapi tidak ada makanan yang dicerna, menyebabkan terkikisnya mukosa lambung.
Terkikisnya mukosa lambung dapat menyebabkan orang tersebut menderita penyakit lambung.

Kata kunci: Sistem pencernaan, gaster, asam lambung

Abstracts

All living things need food and drink every day in order to survive. Food and drink into the body
will be digested by the digestive system. One organ that plays an important role in the process of
digestion is gastric (stomach). Gastric acid in the stomach are very important to help the digestive
process. Increased excessive stomach acid can be caused by certain foods and beverages, one example is
a compound of caffeine contained in coffee. Often late meal is also one of the causes of increased gastric
acid because gastric acid produced by the stomach remained constant even though there is no food that
enters the stomach at all. If stomach acid continues to be produced but no food is digested, causing
erosion of the gastric mucosa. Erosion of the gastric mucosa can cause the person suffering from gastric
disease.

Keywords: digestive system, the stomach, gastric acid

1
Pendahuluan

Di dalam skenario 11, seorang mahasiswa berusia 19 tahun datang berkonsultasi ke


dokter karena sering merasa mual, kembung dan nyeri ulu hati. Dari anamnesis diketahui bahwa
ia tidak pernah sarapan pagi dan selalu minum kopi. Dokter mengatakan bahwa ia menderita
penyakit lambung.
Sebagai makhluk hidup, kita memerlukan makanan dan minuman untuk dapat bertahan
hidup. Makanan yang masuk ke dalam tubuh akan diolah dan diubah oleh tubuh untuk
menghasilkan energi yang akan kita pakai untuk beraktivitas sehari-hari. Semua makanan dan
minuman yang masuk ke dalam tubuh melalui mulut akan dicerna oleh tubuh di dalam sistem
pencernaan. Makanan dan minuman masuk ke dalam tubuh pertama kali melalui mulut
kemudian masuk ke dalam gaster (lambung) melalui esophagus dan nantinya akan dibawa ke
usus halus dan usus besar dan kemudian zat-zat sisa pencernaannya akan dikeluarkan oleh tubuh
melalui anus.

Struktur Makro Saluran Pencernaan

- Gaster
Lambung / gaster terletak oblik dari kiri ke kanan menyilang di abdomen atas tepat di
bawah diaphragma. Dalam keadaan kosong, lambung menyerupai tabung berbentuk J dan
bila penuh akan berbentuk seperti buah pir raksasa. Kapasitas normal lambung adalah 1
2 L. Secara anatomis, lambung terbagi atas fundus, korpus, dan pylorus yang terbagi
menjadi antrum pyloricum dan canalis pyloricus. Sebelah kanan atas lambung terdapat
cekungan kurvatura minor (suatu tempat perlekatan untuk omentum minus), dan bagian
kiri bawah lambung terdapat kurvatura mayor (suatu tempat perlekatan ligamentum
gastrosplenicum / gastrolienale dan omentum majus). Gaster mempunyai dua incisura,
yaitu incisura cardiac dan incisura angularis. Incisura cardiaca yang membentuk sudut
superior saat esophagus memasuki gaster sedangkan incisura angularis merupakan takik
pada kurvatura minor. Sfingter pada kedua ujung lambung mengatur pengeluaran dan
pemasukan yang terjadi. Sfingter kardia atau sfingter esofagus bawah, mengalirkan
makanan masuk ke dalam lambung dan mencegah refluks isi lambung memasuki esofagus
kembali. Daerah lambung tempat pembukaan sfingter kardia dikenal dengan nama daerah
kardia. Sedangkan sfingter pyloricum mengelilingi ostium pyloricum. Ostium pyloricum
berada tepat di sisi kanan garis tengah pada suatu bidang yang melewati tepi bawah
vertebra lumbal satu (planum transpyloricum). Di saat sfingter pilorikum terminal
berelaksasi, makanan masuk ke dalam duodenum dan ketika berkontraksi, sfingter ini
akan mencegah terjadinya aliran balik isi usus ke dalam lambung.1,2
Vaskularisasi gaster meliputi arteria gastrica sinistra dari truncus coeliacus, arteria
gastrica dextra dari arteria hepatica propria, arteria gastro-omentalis (epiploica) dextra dari

2
arteri gastroduodenalis, arteria gastro-omentalis (epiploica) sinistra dari arteri splenica
(lienalis) dan arteri gastrica posterior dari arteri splenica (lienalis) yang tidak selalu dapat
ditemukan (lihat gambar 1.1) .1

Gambar 1.1 Struktur Makroskopis Gaster3

Gambar 1.2 Sistem Vaskularisasi Gaster3

3
- Pankreas
Pankreas merupakan struktur berlobulus yang memiliki fungsi eksokrin dan
endokrin. Kelenjar eksokrin mengeluarkan cairan pancreas menuju duktus
pancreaticus, dan akhirnya ke duodenum. Sekresi ini penting untuk pencernaan dan
absorbsi protein, lemak, dan karbohidrat. Endokrin pancreas bertanggung jawab untuk
produksi serta sekresi glucagon dan insulin, yang terjadi dalam sel-sel khusus di pulau
Langerhans.4

- Hati
Hati memiliki 6 fungsi utama, yaitu: 1) Sekresi: hati memproduksi empedu yang
berperan dalam emulsifikasi dan absorbsi lemak. 2) Metabolisme: hati memetabolis
protein, lemak, dan karbohidrat yang tercerna. Hati berperan penting dalam
mempertahankan homeostatik gula darah. Hati menyimpan glukosa dalam bentuk
glikogen dan mengubahnya kembali menjadi glukosa jika diperlukan tubuh. Hati juga
mengurai protein dari sel-sel tubuh dan sel darah merah yang rusak. Organ ini
membentuk urea dari asam amino berlebih dan sisa nitrogen. Hati juga turut
menyintesis lemak dari karbohidrat dan protein, dan terlibat dalam penyimpanan dan
pemakaian lemak. Hati juga turut menyintesis unsur-unsur pokok membrane sel
(lipoprotein, kolestrol, dan fosfolipid). Dan hati juga menyintesis protein plasma dan
faktor-faktor pembekuan darah. Organ ini juga menyintesis bilirubin dari produk
penguraian hemoglobin dan mensekresinya ke dalam empedu. 3) Penyimpanan: hati
menyimpan mineral, seperti zat besi dan tembaga, serta vitamin larut lemak (A,D,E,
dan K) dan hati juga menyimpan toksin tertentu (contohnya pestisida) serta obat yang
tidak dapat diuraikan dan disekresikan. 4) Detoksifikasi: hati melakukan inaktivasi
hormone dan detoksifikasi toksin dan obat. Hati memfagosit eritrosit dan zat asing
yang terdisintegrasi dalam darah. 5) Produksi panas: berbagai aktivitas kimia dalam
hati menjadikan hati sebagai sumber utama panas tubuh, terutama saat tidur. Dan 6)
penyimpanan darah: hati merupakan reservoir untuk sekitar 30% curah jantung dan
bersama dengan limpa, mengatur volume darah yang diperlukan tubuh.3

- Kantung Empedu
Kantung empedu memiliki fungsi yaitu sebagai tempat menyimpan cairan empedu
yang secara terus menerus disekresi oleh sel-sel hati, sampai diperlukan dalam
duodenum. Di antara waktu makan, sfingter oddi menutup dan cairan empedu
mengalir ke dalam kantung empedu yang relaks. Pelepasan cairan ini dirangsang oleh
CCK. Kantung empedu juga mengkonsentrasi cairannya dengan cara mereabsorbsi air
dan elektrolit. Dengan demikian kantung ini mampu menampung hasil 12 jam sekresi
empedu hati.3

4
- Intestinum tenue
Intestinum tenue merupakan bagian terpanjang dari tractus gastrointestinalis dan
terbentang dari ostium pyloricum gaster sampai plica ileocaecale. Struktur berupa tabung
ini panjangnya sekitar 6-7 meter dengan diameter yang menyempit dari permulaan sampai
ujung akhir, yang terdiri dari duodenum, jejunum, dan ileum.
A. Duodenum merupakan bagian pertama dari intestinum tenue. Struktur ini
berbentuk seperti huruf c, bersebelahan dengan caput pancreas, panjangnya sekitar 20-25
cm dan berada di atas umbilicus; lumennya adalah yang terlebar dibandingkan dengan
bagian intestinum tenue yang lain. Struktur ini terletak retroperitoneale kecuali bagian
awalnya, yang dihubungkan dengan hepar oleh suatu ligamentum duodenale, yang
merupakan bagian dari omentum minus. Duodeni terbagi menjadi empat bagian yaitu pars
superior, pars descendens, pars inferior / horizontalis, dan pars ascendens. Pars superior
(bagian pertama) terbentang dari ostium pyloricum gaster sampai collum vesicae fellea,
berada tepat di sisi kanan corpus vertebrae lumbal satu, dan berjalan di anterior ductus
choledochus, arteria gastroduodenalis, vena portaehepatis, dan vena cava inferior. Secara
klinis, permulaan bagian ini disebut ampulla atau duodenal cap, dan ulcus duodenalis
paling sering ditemui. Pars descendens duodeni (bagian kedua) berada tepat di sisi kanan
garis tengah tubuh dan terbentang dari collum vesica fellea sampai ke tepi bawah vertebra
lumbal tiga. Permukaan anteriornya disilang oleh colon transversum, di posteriornya
terdapat ren dextra, dan di medialnya terdapat caput pancreas. Bagian duodeni ini berisi
papilla duodeni major yang merupakan pintu masuk bersama bagi ductus choledochus dan
ductus pancreaticus, dan papilla duodeni minor yang merupakan pintu masuk bagi ductus
pancreaticus accessories, dan pertemuan dari pre-enteron dan mesenteron tepat di bawah
papilla duodeni major. Pars inferior / horizontalis duodeni (bagian ketiga) adalah bagian
yang terpanjang, menyilang vena cava inferior, aorta, dan columna vertebralis. Bagian ini
disilang di anteriornya oleh arteria dan vena mesenterica superior. Pars ascendens
duodeni(bagian keempat) berjalan naik pada atau di sisi kiri dari aorta sampai kira-kira di
tepi atas vertebra lumbal dua dan berakhir sebagai flexura duodenojejunalis. Flexura
duodenojejunalis dikelilingioleh suatu lipatan peritoneum yang berisi sabut-sabut
musculus yang disebut sebagai musculus suspensorius duodeni (ligamentum duodenum
dari Treitz).1
Vascularisasi duodenum meliputi cabang-cabang arteria gastroduodenalis,
arteria supraduodenalis dari arteri gastroduodenalis, rami duodenales dari arteria
pancreaticoduodenalis superior anterior (dari arteria gastroduodenalis), rami duodenales
dari arteria pancreaticoduodenalis superior posterior (dariarteriagastroduodenalis), rami
duodenales dari arteria pancreaticoduodenalis inferior anterior (dari arteria
pancreaticoduodenalis inferior sebuah cabang dari arteria mesenterica superior), rami
duodenales dari arteria pancreaticoduodenalis inferior posterior (dari arteria

5
pancreaticoduodenalis inferior sebuah cabang dari arteria mesenterica superior) dan
cabang pertama arteriae jejunales dari arteria mesenterica superior (lihat gambar 1.3).1

Gambar 1.3 Struktur Makroskopis Jejunum1

.
B. Jejunum bersama ileum merupakan dua bagian akhir intestinum tenue.
Jejunum merupakan 2/5 bagian proximal. Sebagian besar jejunum berada di kuadran kiri
atas abdomen dan lebih besar diameternya serta memiliki dinding yang lebih tebal
dibandingkan ileum. Lapisan bagian dalam mukosa jejunum ditandai dengan adanya
banyak lipatan menonjol yang mengelilingi lumennya (plicae circulares). Karakteristik
unik jejunum lainnya adalah adanya arcade arteriae yang kurang jelas dan vasa recta
(arteri-arteri lurus) yang lebih panjang dibandingkan dengan yang ada di ileum.
Vascularisasi jejunum didapat dari arteriae jejunales dari arteria mesenterica superior.1
C. Ileum menyusun 3/5 bagian distal intestinum tenue dan sebagian besar berada
di kuadran kanan bawah. Dibandingkan dengan jejunum, ileum memiliki dinding yang
lebih tipis, lipatan-lipatan mucosa (plicae circulares) yang lebih sedikit dan kurang
menonjol, vasa recta yang lebih pendek, lemak mesenterium lebih banyak, dan lebih
banyak arcade arteriae. Ileum bermuara ke dalam intestinum crassum, tempat caecum dan
colon ascendens bertemu. Daerah pertemuan ini dikelilingi oleh dua lipatan yang

6
menonjol kedalam lumen intestinum crassum (plica ileocaecale). Lipatan-lipatan plica
ileocaecale ini bertemu pada ujung-ujungnya dan membentuk peninggian. Musculature
ileum berlanjut sampai di setiap lipatan, membentuksuatu sphincter. Fungsi plica
ileocaecale termasuk mencegah refluks / kembalinyaisi lumen dari caecum kedalam ileum,
dan mengatur jalannya isi lumen ileum menuju caecum.Vascularisasi ileum berasal dari
arteriae ileales dari arteria mesenterica superior dan suatu cabang dari arteria ileocolica
(dari arteria mesenterica superior).1

Struktur Mikro Saluran Pencernaan

- Lambung
Struktur mikroskopis lambung terdiri atas empat lapisan yaitu:
a) Lapisan peritoneal luar yang merupakan lapisan serosa5
b) Lapisan berotot (muskularis eksterna) yang terdiri atas tiga lapis, a) serabut
longitudinal, yang tidak dalam dan bersambung dengan otot oesofagus, b)
serabut sirkuler yang palingtebal dan terletak di pylorus serta membentuk otot
sfingter dan berada di bawah lapisan pertama, dan c) serabut oblik yang
terutama dijumpai pada fundus lambung dan berjalan dari orifisium kardiak
kemudian membelok ke bawah melalui kurvatura minor.5
c) Lapisan submukosa yang terdiri atas jaringan areolar berisi pembuluh darah
dan saluran limfe.5
d) Lapisan mukosa yang terletak di sebelah dalam, tebal dan terdiri atas banyak
kerutan atau rugue yang hilang bila organ itu mengembang karena terisi
makanan. Membran mukosa dilapisi epithelium silindris dan berisi banyak
saluran limfe. Semua sel-sel ini mengeluarkan sekret mucus. Permukaan
mukosa ini dilintasi saluran-saluran kecil dari kelenjar-kelenjar lambung.
Semua ini berjalan dari kelenjar lambung tubuler yang bercabang-cabang dan
lubang-lubang salurannya dilapisi oleh epithelium silinder. Epithelium ini
bersambung dengan permukaan mukosa dari lambung. Epithelium dari
bagian kelenjar yang mengeluarkan sekret berubah-ubah dan berbeda-beda di
beberapa daerah lambung.5 Epitel kolumner tunggal yang mensekresikan mucus

7
melapisi seluruh permukaan luminal termasuk faveola gastrica dan terdiri dari
lapisan sel mukosa permukaan yang melepaskan mukus gastrik dari permukaan
apikal untuk membentuk lapisan licin protektif tebal diseluruh permukaan gaster.
Epithelium ini bermulai secara langsung pada orifikum kardiak, dimana terdapat
transisi drastis anatar epitel oesophagus berupa epitel berlapis gepeng dan epitel
gaster.6
Kelenjar Gastrik: Bentuk kelenjar ini beragam dan komposisi selulernya juga
berbeda-beda tergantung region tertentu pada lambung. Kelenjar ini dapat dibagi
menjadi tiga kelompok berdasarkan letak regionnya, yaitu kelenjar kardiak,
principal (korpus dan fundus), dan pylorik. Funduns dan korpus membentuk
bagian major dari gaster yang menghasilkan sebagian besar sekresi gaster atayu
getah untuk pencernaan.6
Kelenjar gastrik principal: Kelenjar gastrik prinsipal ditemukan pada
korpus dan fundus, tiga hingga tujuh saluran dari tiap faveola gastrica. Batas
antara kelenjar ini dengan dasar dari faveola gastrik ini disebut bagiam
isthmus kelenjar dan lebih ke basal adalah leher, merupakan perpanjangan
dari dasar. Pada dinding kelenjar terdapat paling tidak 5 jenis sel yang
berbeda-beda : sel chief, sel parietal, sel leher mukosa, sel stem, dan sel
neuroendokrin. A) Sel chief (peptik) merupakan sumber enzim pencernaan
yaitu enzim pepsin dan lipase. Sel chief ini biasanya terletak pada bagian
basal, bentuknya berupa silindris (kolumner) dan nukleusnya berbentuk
bundar dan euchromatik. Sel ini mengandung granul zimogen sekretoris dan
karena banyaknya sitoplasmik RNA maka sel ini sangat basophilic. B) Sel
parietal (sel oksintik) merupakan sumber asam lambung dan faktor intrinsik,
yaitu glycoprotein yang penting untuk absorbsi vitamin B12. Sel in
berukuran besar, oval dan sangat eosinophilic dengan nukleus terletak pada
pertengahan sel. Sel ini terletak terutama pada apikal kelenjar hingga bagian
isthmus. Sel ini didapati hanya pada interval sel-sel lainnya disepanjang
dinding faveola dan menggembung di lateral dalam jaringan konektif. C) Sel
leher mukosa sangat banyak pada leher kelenjar dan tersebar sepanjang
dinding regio bagian basal, sel ini mengsekresikan mukus, dengan vesikel
skretorik apikalnya mengandung musin dan nukelusnya terletak pada bagian

8
basal. Namun, produksinya secara histokimia berbeda dengan produksi dari

sel mukosa permukaan. Sel bakal merupakan sel mitotik yang belum

berdiferensiasi dari jenis sel kelenjar lainnya. Sel ini relatif sedikit dan

terletak pada regio isthmus kelenjar dan bagian basal dari faveola gastrik. Sel

ini berbentuk silindris (kolumner) dengan sedikit mikrovili yang pendek. Sel

ini secara periodik mengalami mitosis, sel yang dihasilkan bergerak ke

apikal untuk berdiferensiasi menjadi sel mukosa permukaan, atau ke basal

membentuk sel leher mukosa, sel parietal dan sel chief, serta sel

neuroendokrin. Semua sel ini memiliki durasi hidup yang terbatas, terutama

yang mengsekresikan mukus, dan yang selalu diganti. Periode pergantian

dari sel mukosa permukaan adalah tiap 3 hari, sel leher mukosa diganti tiap

minggu. D) Sel neuroendokrin ditemukan disemua jenis kelenjar gatrik

namun lenbih banyak ditemukan pada korpus dan fundus. Sel ini terletak

pada bagian terdalam dari kelenjar, diantara kumpulan sel chief. Sel ini

berbentuk pleomorfik dengan nucleus ireguler yang diliputi oleh granular

sitoplasma yang mengandung kluster granul sekretorik yang besar (0,3

mikrom). Sel ini mensintesis beberapa amino biogenik dan polipeptida yang

penting dalam mengendalikan motilitas dan sekresi glanduler. Pada lambung

sel ini termasuk sel G ( yang mengsekresi gastrin), sel D (somatostatin), dan

sel enterokromatifin/ECL (histamin). Sel-sel ini membentuk sistem sel

neuroendokrin berbeda-beda.6

Kelenjar kardiak: Sel kardiak terbatas pada area kecil dekat dengan

orifikum kardiak. Beberapa berupa kelenjar tubuler sederhana, lainnya

merupakan tubuler bercabang.6

9
Kelenjar pylorik: Kelenjar pylorik bermula sebagai dua atau tiga

pipa berlekuk-lekuk menjadi suatu dasar dari faveola gastrik pada natrum

pylori, faveola mengambil sekitar 2/3 kedalam mukosa. Kelenjar pylorik

kebanyakan ditempati oleh sel penghasil mukus, sel parietal sedikti, dan sel

chief sangat jarang ditemukan. Sebaliknya terdapat sangat banyak

ditemukan sel neuroendokrin, terutama sel G yang mengsekresikan gastrin

ketika diaktifkan oleh stimulus mekanis yang sesuai. Walaupun sel parietal

jarang ditemukan pada kelenjar pylorik, sel ini selalu ditemukan pada
jaringan janin dan bayi. Pada dewasa sel ini dapat terlihat pada mukosa
duodenum yang dekat dengan pylorus.6

- Usus halus

a) Duodenum

Dinding duodenum terdiri dari empat lapisan: mukosa dengan epitel


pelapisnya, lamina propria, dan mukosa muskularis; jaringan ikat
submukosa di bawahnya dengan kelenjar duodenal (Brunner) mukosa; kedua
lapisan otot polos muskularis eksterna; dan serosa (peritoneum viseral).
Lapisan-lapisan ini menyatu dengan lapisan yang serupa pada gaster, usus
halus, dan usus besar.7
Usus halus ditandai banyak tonjolan mirip jari yang disebut vili; epitel
pelapis berupa selapis sel silindris dengan mikrovili yang membentuk
striated borders; sel-sel goblet yang terpulas pucat; dan kelenjar intestinal
tubular pendek (kripti Lieberkuhn) di dalam lamina propria. Kelenjar
duodenal di dalam submukosa menjadi ciri duodenum bagian awal.
Kelenjar ini tidak terdapat pada bagian lain usus halus maupun usus besar.7
Lamina propria mengandung kelenjar intestinal; kelenjar ini bermuara ke
dalam ruang antar vili. Lamina propria juga mengandung serat-serat
jaringan ikat halus dengan sel retikulum, jaringan limfoid difus, dan/atau

10
limfonoduli. Di duodenum, hampir seluruh submukosanya diisi oleh
kelenjar duodenal tubular yang sangat bercabang.7
Pada potongan melintang sediaan duodenum biasa, muskularis eksterna
terdiri atas lapisan sirkular dalam dan lapisan longitudinal luar otot polos.
Juga tampak sarang sel-sel ganglion parasimpatis pleksus saraf mienterikus
(Auerbach) di dalam jaringan ikat di antara kedua lapisan otot muskularis
eksterna. Serosa (peritoneum viseral) mengandung sel-sel jaringan ikat,
pembuluh darah, dan sel-sel lemak) serosa adalah lapisan terluar
duodenum.7
b) Jejunum & Ileum
Jejunum dan ileum serupa dengan duodenum. Perkecualiannya adalah tidak
ada kelenjar duodenal (Brunner) yang hanya terbatas pada bagian atas
duodenum. Vili memiliki ukuran dan bentuk yang bervariasi pada bagian
bagian usus halus berbeda, namun hal ini tidak selalu jelas pada sediaan
histologik. Di bagian akhir ileum, terdapat kumpulan limfonoduli (plak
Peyer) dengan interval tertentu. Tampilan dan distribusi mukosa muskularis,
submukosa, muskularis eksterna, dan serosa adalah khas untuk usus halus.
Sel-sel ganglion parasimpatis pleksus mienterikus terlihat di dalam jaringan
ikat di antara lapisan otot polos sirkular (dalam) dan longitudinal (luar)
muskularis eksterna. Sel-sel ganglion pleksus submukosus juga terdapat di
usus halus.7

Fungsi dan Mekanisme Kerja Lambung

Gaster memiliki 6 fungsi utama yaitu sebagai tempat penyimpanan makanan, untuk
produksi kimus, digesti protein, produksi mucus, produksi faktor intrinsic, dan absorpsi. Sebagai
tempat penyimpanan makanan, kapasitas lambung normal memungkinkan adanya interval waktu
yang panjang antara saat makan dan kemampuan menyimpan makanan dalam jumlah besar
sampai makanan ini dapat terakomodasi di bagian bawah saluran. Untuk produksi kimus,
aktivitas lambung mengakibatkan terbentuknya kimus (masa homogen setengah cair, berkadar
asam tinggi yang berasal dari bolus) dan mendorongnya ke dalam duodenum. Untuk digesti
protein, lambung memulai digesti proteinnya melalui sekresi tripsin dan asam klorida. Untuk
produksi mukus, mukus yang dihasilkan dari kelenjar membentuk barier setebal 1 mm untuk

11
melindungi lambung terhadap aksi pencernaan dari sekresinya sendiri. Untuk produksi faktor
intrinsic (glikoprotein yang disekresi sel parietal), vitamin B12 didapat dari makanan yang dicerna
di lambung, terikat pada faktor intrinsic. Kompleks faktor intrinsic vitamin B12 dibawa ke ileum
usus halus, tempat vitamin B12 diabsorbsi. Dan untuk absorbsi, absorbsi nutrient yang
berlangsung dalam lambung hanya sedikit.3
Motilistas dilambung dapat dibagi menjadi empat bagian yaitu:
a. Empty Stomach Contractility: Kotraksi pada lambung menuju bagian distal dari saluran
pencernaan. Diperlukan waktu 90 menit untuk mencapai usus besar. Berfungsi sebagai
housekeeping , menyapu sisa-sisa makanan dan bakteri keluar dari traktus GI ke usus besar.7
b. Pengisian Lambung: Volume lambung jika kosong sekitar 50 ml, tetapi organ ini dapat
mengembang hingga kapasitasnya mencapai sekitar 1 liter (1000 ml) ketika makan. Lambung
dapat menampung peningkatan volume hingga 20 kali lipat dengan tidak banyak mengalami
perubahan tegangan di dindingnya dan peningkatan tekanan intra lambung, melalui mekanisme
berikut. Bagian interior lambung membentuk lipatan-lipatan dalam. Sewaktu makan, lipatan
menjadi lebih kecil dan nyaris mendatar sewaktu lambung sedikit melemas setiap kali makanan
masuk, seperti ekspansi bertahap kantung es yang sedang diisi. Relaksasi refleks lambung
sewaktu menerima makanan disebut relaksasi reseptif; relaksasi ini meningkatkan kemampuan
lambung menampung tambahan volume makanan dengan hanya menyebabkan sedikit
peningkatan tekanan lambung. Namun jika makanan yang dikonsumsi lebih dari 1 liter maka
lambung mengalami peregangan berlebihan dan tekanan intralambung meningkat sehingga yang
bersangkutan akan merasa tidak nyaman. Relaksasi reseptif dipicu oleh tindakan makan dan
diperantarai oleh saraf vagus.7
c. Pencampuran Lambung: Volume telah menyentuh 1 L, tekanan dalam lambung akan
meningkat. Ketika Kontraksi peristaltik lambung yang kuat merupakan penyebab makanan
bercampur dengan sekresi lambung, seperti asam dan enzim pencernaan, dan menghasilkan
kimus. Setiap gelombang peristaltik antrum mendorong kimus ke depan ke arah sfingter pilorus.
Apabila kimus terdorong oleh kontraksi peristaltik yang kuat akan melewati sfingter pilorus dan
terdorong ke duodenum tetapi hanya sebagian kecil saja. Sebelum lebih banyak kimus dapat
diperas keluar, gelombang peristaltik sudah mencapai sfingter pilorus menyebabkan sfingter
berkontraksi lebih kuat, menutup dan menghambat aliran kimus ke dalam duodenum. Sebagian
besar kimus antrum yang terdorong ke depan tapi tidak masuk ke duodenum berhenti secara tiba-
tiba pada sfingter yang tertutup dan bertolak kembali ke dalam antrum, hanya untuk didorong
kedepan dan bertolak kembali pada saat gelombang peristaltik yang baru datang.Gerakan maju
mundur tersebut disebut retropulsi, menyebabkan kimus bercampur secara merata di antrum.
Motilitas gastric dibawah kontrol saraf dan ini distimulasioleh distensi lambung.7
d. Pengosongan Lambung: Kontraksi peristaltik antrum, selain menyebabkan pencampuran
lambung juga menghasilkan gaya pendorong untuk mengosongkan lambung. Jumlah kimus yang
masuk ke duodenum pada setiap gelombang peristaltik sebelum sfingter pilorus menutup erat

12
tergantung pada kekuatan peristaltik. Intensitas peristaltik antrum sangat bervariasi tergantung
dari pengaruh berbagai sinyal dari lambung dan duodenum.7

Mekanisme Sekresi Asam Lambung

Pengaturan sekresi lambung dapat dibagi menjadi fase sefalik, fase gastric, dan fase
intestinal. Fase sefalik sudah dimulai bahkan sebelum makanan masuk lambung, yaitu akibat dari
melihat, mencium, memikirkan atau mengecap makanan. Fase ini diperantarai seluruhnya oleh
saraf vagus dan dihilangkan dengan vagotomi. Sinyal neurogenik yang menyebabkan fase sefalik
berasal dari korteks serebri atau pusat nafsu makan. Impuls eferen kemudian dihantarkan melalui
saraf vagus ke lambung. Hal ini mengakibatkan kelenjar gastrik terangsang untuk
mengsekresikan HCL, pepsinogen, dan menambah mucus. Fase sefalik menghasilkan sekitar
10% dari sekresi lambung normal yang berhubungan dengan makanan.
Fase gastric dimulai saat makanan mencapai antrum pylorus. Distensi antrum juga dapat
menyebabkan terjadinya rangsangan mekanis dari reseptor-reseptor pada dinding lambung.
Impuls tersebut berjalan menuju medulla melalui aferen vagus dan kembali ke lambung melalui
eferen vagus; impuls ini merangsang pelepasan hormone gastrin dan secara langsung juga
merangsang kelenjar-kelenjar lambung. Gastrin dilepas dari antrum dan kemudian dibawa oleh
aliran darah menuju kelenjar lambung, untuk merangsang sekresi. Pelepasan gastrin juga
dirangsang oleh pH alkali, garam empedu di antrum, dan terutama oleh protein makanan dan
alcohol. Membran sel parietal di fundus dan korpus lambung mengandung reseptor untuk gastrin,
histamine, dan asetilkolin, yang merangsang sekresi asam. Setelah makan, gastrin dapat bereaksi
pada sel parietal secara langsung untuk sekresi asam dan juga dapat merangsang pelepasan
histamine dari sel enterokromafin dari mukosa untuk sekresi asam. Fase sekresi gastric
menghasilkan lebih dari 2/3 sekresi lambung total setelah makan, sehingga merupakan bagian
terbesar dari total sekresi lambung harian yang berjumlah sekitar 2000 ml. Tempat pembentukan
gastrin terletak di antrum pylorus.
Fase intestinal dimulai oleh gerakan kimus dari lambung ke duodenum. Fase sekresi
lambung diduga sebagian besar bersifat hormonal. Adanya protein yang tercerna sebagian dalam
duodenum tampaknya merangsang pelepasan gastrin usus, suatu hormone yang menyebabkan
lambung terus-menerus menyekresikan sejumlah kecil cairan lambung. Meskipun demikian,
peranan usus kecil sebagai penghambat sekresi lambung jauh lebih besar. Distensi usus halus
menimbulkan reflex enterogastrik, diperantarai oleh pleksus mienterikus, saraf simpatis dan
vagus, yang menghambat sekresi dan pengosongan lambung. Adanya asam (pH kurang dari 2,5),
lemak, dan hasil-hasil pemecahan protein menyebabkan lepasnya beberapa hormon usus.
Sekretin, kolesitokinin, dan peptide penghambat gastric (gastric inhibiting peptide (GIP))
semuanya memiliki efek inhibisi terhadap sekresi lambung.2

13
Enzim Enzim di dalam Gaster

Lambung atau perut besar merupakan kantung yang terletak di rongga perut agak ke
sebelah kiri. Getah lambung di sekresikan oleh sel utama (chief cell) dan sel parietal. Getah
lambung yang mengisi lumen lambung terdiri atas 99,4% air. Sisanya tersusun atas musin,
garam-garam anorganik, dan enzim-enzim pencernaan yaitu pepsin (gastric proteinase), renin
(gastric caseinase), dan lipase lambung (gastric lipase). Asam klorida lambung yang diproduksi
oleh sel-sel parietal berperan sebagai activator pepsinogen menjadi pepsin dan membunuh
kuman-kuman atau bakteri-bakteri yang masuk ke dalam lambung bersama-sama makanan atau
minuman.3
Pada usus halus, getah usus halus mengandung enzim-enzim yang dihasilkan oleh kelenjar-
kelenjar yang terdapat pada dinding usus halus. Enzim-enzim tersebut adalah enterokinase (yang
berperan sebagai activator tripsinogen (mengaktivasi tripsinogen pancreas menjadi tripsin, yang
kemudian mengurai protein dan peptide menjadi peptide yang lebih kecil) dan erepsinogen),
beberapa peptidase (seperti aminopeptidase, tripeptidase, dan dipeptidase yang mengurai peptida
menjadi asam amino bebas), amilase usus (menghidrolisis zat tepung menjadi disakarida
(maltosa, sukrosa dan laktosa)), lipase usus (memecah monogliserida menjadi asam lemak dan
gliserol), disakaridase-disakaridase (yang memecah disakarida menjadi 2 molekul monosakarida,
misalnya laktase, maltase, dan sakarase), dan glukosidase dan fosfatase.3,8

Proses Pencernaan Karbohidrat, Protein dan Lemak

- Karbohidrat
Sebelum karbohidrat dapat dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan tubuh, maka
karbohidrat harus dipecah dulu menjadi persenyawaan yang lebih sederhana untuk
dapat melewati dinding usus, kemudian masuk ke sirkulasi darah. Monosakarida
adalah karbohidrat sederhana yang secara normal bisa melewati dinding usus. Proses
pemecahan karbohidrat komplek menjadi persenyawaan yang lebih sederhana ini
disebut proses pencernaan karbohidrat, dimana proses ini berlangsung dengan bantuan
enzim. Starch splitting enzyme = amylase = ptyalin, sedangkan Disacharide
splitting enzyme = disakharidase.
Dalam mulut, makanan bercampur dengan amylase yang akan mengubah
starch/pati menjadi dekstrin. Umumnya hanya sebagian kecil saja yang dapat dicerna.
Sebelum makanan bereaksi asam dengan adanya HCl yang diproduksi di lambung,
pati akan diubah sedapat-dapatnya menjadi disakharida. Dalam lambung, tidak ada
starch splitting enzyme, maka di sini tidak ada pemecahan pati. Kemudian dari
lambung makanan akan masuk ke usus, media yang sedikit basa adalah penting untuk
bekerjanya starch splitting enzyme yang disekresikan oleh kelenjar-kelenjar dinding
usus. Pankreatic amylase memecah pati manjadi disakharida. Perubahan akhir dari
pemecahan sukrosa fruktosa + glukosa dilakukan oleh enzim intestinal sukrase.

14
Maltosa glukosa + glukosa dilakukan oleh enzim intestinal maltase. Laktosa
galaktosa + glukosa dilakukan oleh enzim intestinal laktase.9
- Protein
Baik protein yang dicerna (dari makanan) maupun protein endogen (di dalam
tubuh) yang masuk ke lumen saluran cerna dari tiga sumber berikut dicerna dan
diserap: a) enzim pencernaan yang semuanya adalah protein yang disekresikan ke
dalam lumen, b) protein di dalam sel yang terdorong hingga lepas dari vilus ke dalam
lumen selama proses pertukaran mukosa, dan c) sejumlah kecil protein plasma yang
normalnya bocor dari kapiler ke dalam lumen saluran cerna.9
Sekitar 20 sampai 40 g protein endogen masuk ke lumen setiap hari dari ketiga
sumber tersebut. Jumlah ini dapat berjumlah lebih dari jumlah protein yang berasal
dari makanan. Semua protein endogen harus dicerna dan diserap bersama dengan
protein makanan untuk mencegah terkurasnya simpanan protein tubuh. Asam-asam
amino yang diserap dari protein makanan dan endogen terutama digunakan untuk
membentuk protein baru di tubuh. Protein yang disajikan ke usus halus untuk diserap
terutama berada dalam bentuk asam amino dan beberapa potongan kecil peptide.
Asam amino diserap menembus sel usus oleh transport aktif sekunder, serupa dengan
penyerapan glukosa dan galaktosa. Karena itu, glukosa, galaktosa dan asam amino
semuanya mendapat tumpangan gratis untuk masuk dari transport Na+ yang
membutuhkan energy. Peptida kecil memperoleh jalan masuk melalui pembawa yang
berbeda dan diuraikan menjadi asam-asam amino konstituennya oleh aminopeptidase
di membran brush border atau oleh peptidase intrasel. Seperti monosakarida, asam
amino masuk ke anyaman kapiler di dalam vilus.10

- Lemak
1. Pencernaan lemak di dalam usus: Sejumlah kecil trigliserida dicerna didalam
lambung oleh lipase lingual yang disekresikan oleh kelenjar lingual di dalam mulut
dan ditelan bersama dengan saliva.11
2. Emulsivikasi lemak oleh asam empedu dan lesitin: Tahap pertama dalam
pencernaan lemak adalah secara fisik memecahkan gumpalan lemak menjadi ukuran
yang sangat kecil, sehingga enzim pencernaan yang larut air dapat bekerja pada
permukaan gumpalan lemak. Proses ini disebut emulsivikasi lemak, dan dimulai
melalui pergolakan didalam lambung untuk mencampur lemak dengan produk
pencernaan lambung. Lalu, kebanyakan proses emulsifikasi tersebut terjadi didalam
duodenum dibawah pengaruh empedu, sekresi dari hati yang tidak mengandung enzim
pencernaan apapun. Akan tetapi, empedu mengandug sejumlah besar garam empedu
juga fosfolipid lesitin.keduanya, tetapi terutama lesitin, sangat penting untuk
mengemuli lemak.11
3. Pencernaan trigliserida oleh lipase pancreas: Sejauh ini enzim yang paling
penting untuk pencernaan trigleserida adalah lipase pankreas, terdapat dalam jumlah

15
sangat banyak didalam getah pankreas cukup untuk mencernakan dalam satu menit
semua trigleserida yang dicapainya.11
4. Produk akhir pencernaan lemak: Sebagian besar trigleserida dalam makanan
dipecah oleh getah pankreas menjadi asam lemak bebas dan 2-monogliserida.11

Kesimpulan

Untuk dapat mengolah dan mencerna makanan yang masuk ke dalam tubuh, setiap organ-
organ di dalam sistem pencernaan memiliki fungsinya masing-masing. Salah satu organ yang
berperan penting dalam sistem pencernaan adalah gaster / lambung dan usus. Setiap makanan
yang masuk ke dalam tubuh akan diproses secara kimiawi oleh gaster. Gaster mempunyai enzim-
enzim yang diperlukan untuk mencerna makanan seperti pepsin, renin, dan lipase yang memiliki
tugasnya masing-masing. Dalam kasus skenario 11, mahasiswa tersebut sering merasa mual,
kembung dan nyeri ulu hati yang disebabkan oleh meningkatnya asam lambung yang berlebihan
di dalam lambung. Peningkatan asam lambung yang berlebihan bisa disebabkan oleh makanan
dan minuman tertentu, salah satu contohnya adalah senyawa kafein yang terkandung di dalam
kopi. Sering terlambat makan juga merupakan salah satu penyebab meningkatnya asam lambung
karena asam lambung tetap diproduksi oleh lambung secara terus menerus walaupun tidak ada
makanan yang masuk ke lambung sama sekali. Jika asam lambung terus diproduksi tetapi tidak
ada makanan yang dicerna, menyebabkan terkikisnya mukosa lambung. Terkikisnya mukosa
lambung dapat menyebabkan orang tersebut menderita penyakit lambung.

Daftar Pustaka

1. Kalanjati VP, Purwidyastuti D, Sakina, Rimbun, Sari DR. Gray dasar-dasar anatomi.
Diterjemahkan dari Drake RL, Vogl AW, Mitchell AWM. Grays basic anatomy. Edisi
ke-1. Singapore: Elsevier Pte; 2012.h.153-7.
2. Pendit BU, Hartanto H, Wulansari P, Mahanani DA. Patofisiologi: konsep klinis
proses-proses penyakit. Diterjemahkan dari Price SA, Wilson LM.
Pathophysiology: clinical concepts of disease processes. Edisi ke-6. Jakarta:
EGC; 2005.h.417-20.
3. Veldman J. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Diterjemahkan dari Sloane E. Anatomy
and physiology: an easy learner. Jakarta: EGC; 2003.h.286,291-3.
4. Rahmalia A. At a glance series anatomi. Diterjemahkan dari Faiz O, Moffat D.
Anatomy at a glance. Jakarta: Penerbit Erlangga; 2008.h.43.

16
5. Pearce EC. Anatomi dan fisiologi untuk paramedis. Jakarta: PT. Gramedia;2009.h.218.
6. Bloom, Fawcett. Buku ajar histologi. Jakarta: EGC; 2002.h.545-50.
7. Eroschenko VP. Atlas histologi di fiore dengan korelasi fungsional. Edisi ke-9. Jakarta:
EGC; 2003.h.148
8. Sumardjo D. Pengantar kimia buku panduan kuliah mahasiswa kedokteran. Jakarta:
EGC; 2008.h.20.
9. Suhardjo, Kusharto CM. Prinsip-prinsip ilmu gizi. Yogyakarta: Penerbit Kanisius;
2010.h.101.
10. Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Edisi ke-6. Jakarta: EGC;2011.h.654-
6.
11. Anderson P. Anatomi dan Fisiologi Tubuh Manusia. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran; 2005.234-5

17