Anda di halaman 1dari 15

Kecelakaan kerja dalam Kedokteran Okupasi

Sebastian Ivan K
102014242
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jakarta Barat
Jalan Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510
Telp. 021-56942061 Fax. 021-5631731
e-mail : isakofficial@yahoo.com

Pendahuluan
Dalam kehidupan di masyarakat, kita dapat menemukan berbagai macam keluhan
medis yang membuat sang pasien datang ke institusi pelayanan kesehatan seperti puskesmas.
Berbagai macam keluhan tersebut umumnya memiliki berbagai macam jenis dan sifat sakit
termasuk faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya sakit. Penyakit yang diderita pasien dapat
berupa penyakit infeksi, penyakit keganasan (cth : kanker), penyakit autoimun, sampai pada
penyakit alergi. Dalam kasus didapatkan seorang laki-laki memiliki keluhan sering pusing,
mengantuk dan lemas.
Tujuan dari pembuatan makalah adalah agar mahasiswa mampu untuk menegakkan
diagnosis klinis, tatalaksana kasus terutama sesuai bidang okupasi, pencegahan, serta sistem
manajemen terhadap penyakitnya.

1
Kecelakaan kerja dalam Kedokteran Okupasi

Skenario 2
Seorang laki-laki berusia 30 tahun datang ke klinik dengan keluhan sering pusing sejak 1 bulan
terakhir, selain itu pasien juga mengeluh sulit konsentrasi saat bekerja dan sulit untuk tidur.

Anamnesis

Identitas Pasien : nama, alamat, usia, tempat tanggal lahir, tempat tinggal, pekerjaan, agama,
pendidikan terakhir.
Status keluarga.
Keluhan Utama : sering pusing, mengantuk dan lemas
RPD : (-)
RPK :
PF: normal
Langkah Diagnosis Penyakit Akibat Kerja (PAK)
Penyakit akibat kerja: man made disease
Penyakit yang disebabkan oleh: pekerjaan, proses kerja, alat kerja, lingkungan kerja, dan
bahan kerja.
Penyakit akibat kerja
Penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dan lingkungan kerja (Permenaker&trans
no.01/1981)
- pneumokoniosis, bronkopulmoner, asma kerja, alveolitis alergis, penyakit oleh Be, penyakit
oleh Cd, penyakit oleh P, penyakit oleh Cr, dan penyakit oleh Mg.
(Permenaker&trans no.01/1981):
- penyakit oleh Pb, penyakit oleh As, penyakit oleh Hg, penyakit oleh carbon disulfida,
penyakit oleh dernat halogen beracun, penyakit oleh benzena & homolog racun, penyakit
oleh nitrogen & amino bezenadan kebisingan, vebrasi serta radiasi

Penyakit akibat kerja (Kepmenaker no. 333/1989)


- ditemukan/didiagnosa saat pemeriksaan kesehatan berkala
- oleh:

2
1. pemeriksaan klinis
2. Pemeriksaan kondisi lingkungan kerja
Diagnosis PAK Berkontribusi terhadap:
1. Pengendalian pajanan
2. Identifikasi pajanan baru secara dini
3. Asuhan medis dan upaya rehabilitasi pekerja yang sakit dan/atau cedera
4. Pencegahan terulang/makin berat kejadian penyakit/kecelakaan
5. Perlindungan pekerja lain
6. Pemenuhan hak kompensasi pekerja
7. Identifikasi ada hub baru pajanan vs penyakit.1
Diagnosis (dokter perusahaan) berdasarkan:
1. Klinis
2. Laboratorium & pemeriksaan penunjang
3. Data lingkungan kerja & analisis riwayat pekerjaan
Tujuh langkah diagnosis penyakit akibat kerja (7 steps):
1. Tentukan diagnosis klinis
2. Tentukan pajanan yang dialami
3. Apa pajanan dapat menyebabkan penyakit tersebut?
4. Apa jumlah pajanan cukup besar
5. Apa ada faktor-faktor individu yang berpengaruh
6. Cari kemungkinan lain di luar pekerjaan
7. Penyakit akibat kerja, atau penyakit bukan akibat kerja
Dasar membuat diagnosis penyakit akibat hubungan kerja
membedakan:
Pajanan ditempat kerja menyebabkan penyakit.
Pajanan ditempat kerja merupakan salah satu penyebab bermakna bersama dengan faktor
risiko lain.
Pajanan ditempat kerja memperberat penyakit yang sudah diderita sebelumnya.
1. Diagnosis klinis
- lakukanlah sesuai prosedur medis yang berlaku.
- bila perlu lakukan: pemeriksaan penunjang /tambahan & rujukan informasi ke spesialis
lain.
2. Pajanan yang dialami
Pajanan saat ini dan pajanan sebelumnya.
3
Beberapa pajanan -> 1 penyakit atau sebaliknya.
Lakukan anamnesis (lebih bernilai bila ditunjang data obyektif): deskripsi pekerjaan
secara kronologis, periode waktu kerja masing-masing, apa yang diproduksi, bahan yang
digunakan dan cara bekerja. 1
3. Apa ada hubungan pajanan dengan penyakit
- Lakukan identifikasi pajanan
- Evidence based: pajanan-penyakit
- Bila tidak ada: pengalaman -> penelitian awal
4. Jumlah pajanan cukup?
- Perlu mengetahui patifisiologi penyakit & bukti epidemiologis.
- Dapat dengan pengamatan kualitatif -> cara kerja, proses kerja, bagaimana lingkungan
kerja.
- Masa kerja.
- Pemakaian alat pelindung sesuai/tepat?
5. Faktor individu berperan
- Riwayat atopi/alergi.
6. Faktor lain di luar pekerjaan
Pajanan lain yang dapat menyebabkan penyakit -> Bukan faktor pekerjaan cth : Rokok,
pajanan di rumah, hobi.
7. Menentukan diagnosis PAK
Langkah-langkah medis
1. Anamnesis riwayat penyakit dan riwayat pekerjaan
a. Riwayat penyakit sekarang deskrispsikan keluhan dengan perjalanan penyakit.
b. Riwayat penyakit dahulu.
c. Riwayat pekerjaan: faktor di tempat kerja, riwayat penyakit dan gejala dan riwayat
pekerjaan dari dulu sampai saat ini (jenis kerja, waktu, lama, hasil produksi, bahan yang
dipakai, dll). 1

Anamnesis pekerjaan
- Deskripsi semua pekerjaan secara kronologis, Waktu, Lamanya bekerja per hari dan
masa kerja, Apa yang diproduksi, Bahan apa yang digunakan, Jumlah pajanan
(kuantitatif), Alat pelindung diri yang digunakan, Hubungan gejala dengan waktu kerja,
Pengaruh terhadap pekerjaan lain, dan Menurut pekerja apa keluhan ada hubungan dengan
pekerjaan
4
2. Pemeriksaan klinis
3. Pemeriksaan lab (darah urin, faeses)
4. Pemeriksaan rontgen untuk paru-paru
5. Pemeriksaan tempat kerja : faktor penyebab & hasil pengukuran
6. Diagnosis kerja & diagnosis differensial
7. Diagnosis okupasi: Ada hubungan diagnosis kerja dengan pekerjaan/proses
kerja/lingkungan kerja

Penatalaksanaan PAK:
A. Terapi medikamentosa:
- Terhadap kasual (bila mungkin)
- Pada umumnya PAK/PAHK irreversibel, sehingga terapi sering kali hanya secara
simptomatis saja
contoh: silikosis (irreversibel), terapi hanya mengatasi sesak nafas, nyeri dada
Prinsip: lebih baik mencegah PAK/PAHK
B. Terapi okupasi:
- Pindah ke bagian yang tidak terpapar
- Lakukan cara kerja yang sesuai dengan kemampuan fisik. 1

Prinsip pencegahan
Pencegahan awal (primer) : penyuluhan, perilaku K3 yang baik, dan olahraga.
Pencegahan setempat (sekunder) : pengendalian melalui undang-undang, pengendalian
melalui administrasi/organisasi, dan pengendalian secara teknis (substitusi, ventilasi, isolasi,
ventilasi, alat pelindung diri).
Pencegahan dini (tertier): pemeriksaan kesehatan berkala.

Penatalaksanaan kasus -> cepat dan tepat.


- Pengelolaan penyakit akibat kerja: deteksi dini PAK, pemeriksaan kesehatan awal,
pemeriksaan kesehatan berkala, pemeriksaan kesehatan khusus.
- Pelayanan kesehatan: Promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif.
- Penilaian potential hazard di tempat kerja.
- Pengendalian lingkungan kerja.
- Surveilans PAK.

5
Penyebab Kecelakaan
Kecelakaan tidak terjadi kebetulan melainkan ada sebabnya. Oleh karena ada
penyebabnya, sebab kecelakaan harus diteliti dan ditemukan, agar untuk selanjutnya dengan
tindakan korektif yang ditujukan kepada penyebab itu serta dengan upaya preventif lebih lanjut
kecelakaan dapat dicegah dan kecelakaan serupa tidak berulang kembali.
Ada dua golongan penyebab kecelakaan kerja. Golongan pertama adalah faktor
mekanis dan lingkungan, yang meliputi segala sesuatu selain faktor manusia. Golongan kedua
adalah faktor manusia itu sendiri yang merupakan penyebab kecelakaan. Untuk menentukan
sebab dari suatu kecelakaan dilakukan analisis kecelakaan. Untuk menentukan sebab dari suatu
kecelakaan dilakukan analisis kecelakaan. Contoh analisis kecelakaan kerja adalah sebagai
berikut: Seorang pekerja mengalami kecelakaan kerja yang dikarenakan oleh kejatuhan benda
tepat mengenai kepalanya. Sesungguhnya pekerja tidak perlu mengalami kecelakaan itu,
seandainya ia mengikuti pedoman kerja yang selalu diingatkan oleh supervisor kepada segenap
pekerja agar tidak berjalan di bawah katrol pengangkat barang. Jadi dalam hal ini penyebab
kecelakaan adalah faktor manusia. 2
Faktor mekanis dan lingkungan dapat pula dikelompokkan menurut keperluan dengan
suatu maksud tertentu. Misalnya di perusahaan penyebab kecelakaan dapat disusun menurut
kelompok pengolahan bahan, mesin penggerak dan pengangkat, terjatuh di lantai dan tertimpa
banda jatuh, pemakaian alat atau perkakas yang dipegang dengan tangan (manual), menginjak
atau terbentur barang, luka bakar oleh benda pijar, dan transportasi. Kira-kira sepertiga dari
kecelakaan yang menyebabkan kematian dikarenakan terjatuh, baik dari tempat yang tinggi,
maupun di tempat datar.
Kesehatan berpengaruh penting bagi terwujudnya keselamatan. Sebaliknya gangguan
kesehatan atau penyakit dapat menjadi sebab kecelakaan. Orang sakit tidak boleh dipaksa
bekerja, ia perlu pengobatan, perawatan dan istirahat. Jika dipaksakan untuk bekerja, sangat
besar kemungkinan orang sakit mengalami kecelakaan. Bukan hanya penyakit keras saja,
gangguan kesehatan ringan pun misalnya pusing kepala, rasa kurang enak badan, atau sekedar
merasa hidung tersumbat menyebabkan risiko terjadinya kecelakaan. Sekalipun ringan,
gangguan kesehatan menurunkan konsentrasi dan mengurangi kewaspadaan sehingga
kecelakaan terjadi. 2

6
Kecenderungan Untuk Celaka
Adalah kenyataan bahwa pekerja tertentu cenderung untuk mengalami kecelakaan
(accident prone). Kecelakaan bertubi-tubi terjadi pada yang bersangkutan. Frekuensi
kecelakaan pada pekerja tersebut jauh melebihi pekerja pada umumnya. Di sini jelas betapa
pentingnya faktor manusia selaku individu pada terjadinya peristiwa kecelakaan termasuk
kecelakaan di tempat kerja. Memang ada orang yang mempunyai sifat sembrono, berprilaku
asal-asalan, berbuat semaunya, terlalu lamban mengambil sikap, berlaku masa bodoh, suka
melamun, terlalu berani, selalu bergegas, gemar bermain-main terhadap risiko bahaya, dan sifat
lainnya, sehingga orang itu berulang-kali ditimpa kecelakaan dan oleh karenanya ia dinyatakan
sebagai mempunyai kecenderungan untuk celaka. Pekerja yang terlalu lamban tentu tidak
sesuai untuk melakukan pekerjaan yang memerlukan kegesitan. Jika pekerja dipaksakan untuk
mengerjakan pekerjaan yang memerlukan kecekatan, dan hal itu tidak sesuai dengan sifat yang
dimilikinya, cepat atau lambat pada akhirnya kecelakaan akan terjadi kepadanya. Demikian
pula dengan pekerja yang kebiasaannya selalu tergesa-gesa, terburu-buru mengejar waktu,
pekerja demikian cenderung pula untuk mengalami kecelakaan; mungkin ia terjatuh atau
terpeleset atau tergelincir atau mungkin pula akan terlindas kendaraan bermotor di perjalanan.
Kecenderungan untuk mengalami kecelakaan dapat pula bersumber pada keadaan kesehatan
pekerja. Kelambanan yang menjadi ciri pekerja mungkin didasari oleh kurang gizi atau
penyakit anemia, sedangkan ketergesaan seseorang dapat saja dikarenakan kelainan jiwa yang
impulsif.
Penelitian menunjukkan, bahwa 85% penyebab kecelakaan bersumber kepada faktor
manusia. Apabila berbicara tentang faktor manusia, sebagai konsekuensinya persoalannya
cukup rumit. Ambillah misal kecelakaan yang dikarenakan oleh keadaan emosi para pekerja,
seperti rasa ketidakadilan, persengketaan dengan sesama pekerja atau keributan di rumah
tangga dengan keluarga, atau peristiwa percintaan segitiga. Tanpa diduga dan benar-benar di
luar perkiraan seseorang dapat saja dengan sengaja mencelakakan diri sendiri atau merekayasa
terjadinya suatu kecelakaan, sehingga kata kecelakaan menjadi tidak tepat lagi. Peristiwa
seperti itu menjelma misalnya sebagai akibat luar biasanya kejemuan, pekatnya kebencian, atau
pun dalamnya keputusasaan. Mudah dipahami, bahwa dalam hal ini faktor kejiwaan
memainkan peranan besar. Memang benar bahwa ada orang yang mempunyai dorongan
kejiwaan untuk berbuat nekad dan melakukan apa saja menurut gejolak batinnya. Sering pula
bahwa kecelakaan disengaja guna memperoleh kompensasi terhadap cacat yang diakibatkan

7
kecelakaan yang disengajanya. Juga terdapat berbagai hal unik lainnya yang berkaitan dengan
faktor manusia sebagai penyebab kecelakaan. 3
Gaya hidup untuk selamat dan tidak mengalami kecelakaan adalah satu aspek penting
dalam budaya kerja dari kehidupan modern. Pada masyarakat industry keselamatan kerja dan
pencegahan kecelakaan diwujudkan melalui ketentuan perundang-undangan di samping segala
upaya lainnya ditingkatkan pelaksanaannya. Keselamatan kerja dan bebas dari kecelakaan
kerja merupakan hak azasi manusia (HAM). Transformasi dari kehidupan agraris kepada
masyarakat industry maju antara lain mencakup perubahan cara hidup dari tidak menjadi
pemerduli keselamatan kerja dan pencegahan kecelakaan sebagai gaya hidup yang terpateri
pada sikap dan perilaku sehari-hari. Sehubungan dengan itu, tidak ada lagi tempat bagi siapa
pun dengan dalih apa pun untuk mempunyai kecenderungan untuk mengalami kecelakaan.
Kerugian Oleh Karena Kecelakaan
Korban kecelakaan kerja mengeluh dan menderita, sedangkan sesama pekerja ikut
bersedih dan berduka cita. Kecelakaan seringkali disertai terjadinya luka, kelainan tubuh, cacat
bahkan kematian. Dengan terjadinya luka ataupun kelainan maka pekerja yang bersangkutan
menjadi sakit. Gangguan terhadap pekerja demikian adalah suatu kerugian besar bagi pekerja
dan keluarganya serta juga perusahaan tempat ia bekerja. Sekalipun terhadap cacat berlaku
perlindungan jaminan sosial antara lain dalam bentuk kompensasi, namun kecacatan sedikit
atau banyak mengurangi kemampuan kerja dan hal ini sangat merugikan pekerja.
Tiap kecelakaan merupakan suatu kerugian, yang antara lain tergambar dari
pengeluaran dan besarnya biaya kecelakaan. Biaya yang dikeluarkan akibat terjadinya
kecelakaan seringkali sangat besar, padahal biaya tersebut bukan semata-mata beban suatu
perusahaan melainkan juga beban masyarakat dan Negara secara keseluruhan. Biaya ini dapat
dibagi menjadi biaya langsung dan biaya tersembunyi. Biaya langsung ialah biaya atas PPPK,
pengobatan, dan perawatan, biaya rumah sakit, biaya angkutan, upah selama pekerja tak
mampu bekerja, kompensasi cacat, dan biaya atas kerusakan bahan, perlengkapan, peralatan
dan mesin. Biaya tersembunyi meliputi segala sesuatu yang tidak terlihat pada waktu dan
beberapa waktu pasca kecelakaan terjadi. Biaya ini meliputi berhentinya operasi perusahaan,
oleh karena pekerja lainnya menolong korban atau berhenti bekerja sebagaimana biasa dialami
pada peristiwa terjadinya kecelakaan, biaya yang harus diperhitungkan untuk mengganti orang
yang tertimpa kecelakaan dan sedang sakit serta berada dalam perawatan dengan orang baru
yang belum biasa bekerja pada pekerjaan di tempat terjadinya kecelakaan. Penelitian tentang

8
biaya kecelakaan memperlihatkan bahwa perbandingan antara biaya langsung dan tersembunyi
itu adalah 1 (satu) terhadap 4 (empat). 4
Lebih lanjut analisis terhadap data kecelakaan menunjukkan, bahwa selain terjadinya
peristiwa kecelakaan berat terdapat kecelakaan-kecelakaan ringan atau juga hampir kecelakaan,
yang ratio di antara keduanya adalah 1 terhadap 300. Yang biasa dilaporkan dan dicatat adalah
kecelakaan berat, kecelakaan ringan biasanya berada diluar jangkauan perhatian, padahal justru
jumlah biaya keseluruhan dari kecelakaan ringan dan hampir kecelakaan merupakan komponen
terbesar. Kecelakaan ringan diartikan sebagai kecelakaan yang tidak menyebabkan pekerja
tidak masuk kerja sehingga tidak kehilangan hari kerjanya sebagai akibat dari suatu kecelakaan
dan kerusakan yang disebabkan kecelakaan tidak cukup berarti. Biasanya pada kecelakaan
ringan pekerja yang bersangkutan tidak sepenuhnya sakit sehingga masih mampu bekerja,
mungkin mengalami cedera ringan dan masih dapat berada ditempat kerja dan berbuat sesuatu
yang berhubungan dengan pekerjaannya, tetapi ia tidak dapat melakukan pekerjaan
sebagaimana biasanya. Contoh kecelakaan ringan ialah kecelakaan yang menyebabkan luka
pada telunjuk; kondisi kesehatan pekerja yang ditimpa kecelakaan baik, tetapi oleh karena
telunjuknya luka pekerja tidak bisa bekerja penuh. Adapun hampir kecelakaan adalah
kecelakaan yang tidak menyebabkan luka atau cedera kepada pekerja dan kerugian didasarkan
atas kerusakan material.
Sebagai gambaran tentang demikian luar biasa besarnya korban kecelakaan kerja
diambil contoh perbandingan antara korban perang dengan korban akibat kecelakaan kerja.
Untuk Amerika Serikat korban perang seluruhnya pada Perang Dunia Kedua sebanyak 22.088
(luka dan meninggal), sedangkan korban kecelakaan kerja di perusahaan adalah 1.219
meninggal dan 160.747 luka-luka. Demikian pula untuk Inggris, korban perang 8.126,
sedangkan korban kecelakaan di perusahaan adalah 107 kematian 22.002 luka-luka.
Data kecelakaan kerja di Indonesia atas populasi tenaga kerja 7-8 juta menunjukkan
100.000 peristiwa kecelakaan kerja dengan hilang hari kerja setiap tahunnya; kerugian rata-
rata Rp 100-200 milyar per tahunnya; korban meninggal per tahunnya rata-rata antara 1500-
2000 orang; penelitian khusus untuk tahun 2000 akibat kecelakaan kerja 70 juta hari kerja atau
500 juta jam kerja hilang. Jika terhadap angka-angka tersebut diambil asumsi bahwa populasi
tenaga kerja adalah 50 juta, perbandingan biaya tersembunyi terhadap biaya langsung 4
banding 1 sedangkan perbandingan seluruh kecelakaan terhadap kecelakaan berat yang
dilaporkan adalah 300 kali, maka kerugian yang dinyatakan dalam uang per tahunnya adalah
Rp 2 triliyun atau kehilangan jam kerja 5 triliyun jam kerja yang hilang. Angka demikian tentu
perlu dipertanyakan; oleh karena lemahnya data statistik kecelakaan, angka yang benar-benar
9
pasti tidak tersedia; namun mengingat kepedulian terhadap keselamatan kerja dan pencegahan
kecelakaan masih sangat kurang maka pasti angka kerugian akibat kecelakaan kerja bukan
main besarnya. Kerugian akibat kecelakaan kerja ini, jika dilakukan pencegahan dan berhasil,
akan sangat besar artinya bagi menggerakkan kegiatan dunia usaha. Kerugian demikian belum
meliputi kerugian akibat penyakit akibat kerja yang data statistiknya relative sangat minim,
tetapi penelitian lapangan menunjukkan prevalensi yang cukup berarti.
Data kecelakaan kerja dunia sungguh menyeramkan. Setiap tahunnya terjadi 270 juta
kecelakaan kerja. Oleh karena kecelakaan kerja tersebut, tenaga kerja yang meninggal adalah
355.000 orang per tahunnya. Pada sepertiga kecelakaan kerja tersebut, kehilangan hari kerja
adalah 4 atau lebih hari kerja. Insidensi penyakit akibat kerja adalah 160 juta kasus setiap
tahunnya. Kematian oleh kecelakaan dan penyakit akibat kerja per harinya adalah 5000 orang.
4% Gross Domestic Product (GDP) dunia atau US$1.251.353 juta hilang oleh karena
membiayai cedera, kematian dan penyakit. (World Safety 2004)

Kecelakaan Menurut Jenis Pekerjaan


Jenis pekerjaan mempunyai peranan besar dalam menentukan macam kecelakaan.
Kecelakaan di perusahaan perindustrian berlainan dengan kecelakaan di perkebunan,
kehutanan, pertambangan, atau perkapalan. Demikian pula macam kecelakaan pada berbagai
kesatuan operasi dalam suatu proses produksi. Serta seterusnya demikian pula pada berbagai
pekerjaan yang tergolong kepada suatu kesatuan operasi dari suatu proses produksi. Macam
kecelakaan kerja pertambangan antara lain ledakan, rubuh dinding dan atap tambang, terjatuh
ketika manaiki atau menuruni tangga, selipnya lori, atau lainnya. Contoh macam kecelakaan
pada industry maritime adalah tenggelam, diserang ikan, luka oleh terumbu karang atau terkena
bisa binatang laut, dan sebagainya. Macam kecelakaan yang terjadi di perkebunan atau
kehutanan antara lain tertimpa kayu gelomdongan, terjatuh, terjerambab, luka oleh gergaji
listrik atau perkakas tangan, dan lain-lain. Macam kecelakaan di dok kapal selain kecelakaan
biasa, juga bahaya terjatuh ke laut atau tenggelam. Kecelakaan di sektor pembangunan gedung
ialah terjatuh, tertimpa benda jatuh, luka oleh perkakas kerja, dan lain-lain. Pekerjaan dengan
menggunakan perkakas tangan biasanya menyebabkan luka di tangan. Selain langsung melukai
atau menyebabkan cedera, bagian mesin yang berputar dapat menimbulkan gaya tarik yang
sangat kuat, sehingga baju yang longgar atau rambut yang terurai tertarik oleh bagian mesin
yang bergerak tersebut dan seringkali mendatangkan musibah besar, misalnya lepasnya kulit
kepala atau seringkali mendatangkan musibah besar, misalnya lepasnya kulit kepala atau

10
sering-sering merenggut maut. Kecelakaan dengan lepasnya kulit kepala demikian telah
beberapa kali terjadi pada industry pertekstilan. Mesin potong (punch machine), yaitu suatu
mesin yang memotong atau membuat lobang tidak jarang menyebabkan putusnya tangan atau
jari. Atau gergaji listrik untuk memotong kayu atau lempeng aluminium sering pula
menyebabkan kecelakaan dari yang ringan luka di tangan sampai kepada yang fatal. Pekerjaan
yang berhubungan dengan arus listrik terutama yang tegangannya tinggi dapat sangat
berbahaya, terutama bagi orang-orang yang tidak tahu seluk-beluk masalah listrik. Kawat yang
beraliran listrik harus tertutup oleh isolasinya, bila tidak akan terjadi hubungan arus pendek
(kortsluiting), kebakaran, dan pekerja mungkin terkena sengatan arus listrik. Arus listrik
bertekanan tinggi hanya boleh diperiksa oleh orang-orang yang bener-bener ahli dalam bidang
tersebut. Lemari sakelar juga hanya boleh dimasuki oleh ahlinya dan harus selalu tertutup dan
terkunci. Perbaikan instalasi listrik hanya dikerjakan, apabila arusnya telah dimatikan terlebih
dahulu. Kecelakaan oleh arus listrik umumnya sangat tergantung dari lintasan arus dalam tubuh;
umumnya arus yang melalui jantung sangat berbahaya. Memberikan pertolongan kepada
korban hanya dilakukan sesudah arus listrik dimatikan atau menggunakan alat bantu isolator
yang diyakini sepenuhnya akan menjamin memberikan perlindungan. Untuk beberapa
perusahaan, petir dapat menimbulkan kebakaran, hal ini terjadi misalnya pada perusahaan
tekstil. Industri kimia yang menggunakan bahan baku yang mudah terbakar menghadapi
bahaya kebakaran dan juga peledakan. Untuk perusahaan apapun sebaiknya tersedia alat atau
instalasi pemadam kebakaran terutama untuk menyelamatkan perusahaan dari bahaya api.
Jarak pemadam kebakaran harus cukup dekat, oleh karena dalam peristiwa terjadinya
kebakaran, manusia dan api seolah-olah berlomba untuk menjadi yang paling dahulu. Sebagai
jalan keluar untuk maksud penyelamatan harus ada pintu-pintu darurat yang cukup jumlahnya
dan tepat penempatannya. 4

Pencegahan Kecelakaan
Jelas bahwa kecelakaan kerja menelan biaya yang luar biasa tinggi. Dari segi biaya saja
dapat dipahami, bahwa terjadinya kecelakaan kerja harus dicegah. Pernyataan ini berbeda dari
pendapat umum jaman dahulu yang menyatakan bahwa kecelakaan adalah nasib. Kecelakaan
kerja seolah-olah takdir yang harus diterima. Tidak. Kecelakaan dapat dicegah, asal ada
kemauan yang cukup untuk mencegahnya dan pencegahan dilakukan atas dasar pengetahuan
yang memadai tentang sebab-sebab terjadinya kecelakaan dan penguasaan teknik-teknologi
upaya preventif terhadap kecelakaan.

11
Pencegahan kecelakaan berdasarkan pengetahuan tentang penyebab kecelakaan.
Sebab-sebab kecelakaan pada suatu perusahaan diketahui dengan mengadakan analisis setiap
kecelakaan yang terjadi. Metoda analisis penyebab kecelakaan harus betul-betul diketahui dan
diterapkan sebagaimana mestinya. Selain analisis mengenai penyebab terjadinya suatu
peristiwa kecelakaan, untuk pencegahan kecelakaan kerja sangat penting artinya dilakukannya
identifikasi bahaya yang terdapat dan mungkin menimbulkan insiden kecelakaan di perusahaan
serta mengases (assessment) besarnya risiko bahaya. 4

Ketentuan Tentang Alat Pelindung Diri


Ketentuan mengenai alat pelindung diri diatur oleh peraturan pelaksanaan UU No. 1
Th. 1970 yaitu Instruksi Menteri Tenaga Kerja No. Ins. 2/M/BW/BK/1984 tentang Pengesahan
Alat Pelindung Diri; Instruksi Menteri Tenaga Kerja No. Ins.05/M/BW/97 tentang Pengawasan
Alat Pelindung Diri; Surat Edaran Dirjen Binawas No. SE 05/BW/97 tentang Penggunaan Alat
Pelindung Diri dan Surat Edaran Dirjen Binawas No. SE 06/BW/97 tentang Pendaftaran Alat
Pelindung Diri. Instruksi dan Surat Edaran tersebut mengatur ketentuan tentang pengesahan,
pengawasan dan penggunaan alat pelindung diri. Jenis APD menurut ketentuan tentang
pengesahan, pengawasan dan penggunaannya meliputi alat pelindung kepala, alat pelindung
telinga, alat pelindung muka dan mata, alat pelindung pernafasan, pakaian kerja, sarung tangan,
alat pelindung kaki, sabuk pengaman, dan lain-lain. 4
Faktor Bahaya Bagian tubuh yang perlu Alat pelindung diri
dilindungi
Cairan dan zat atau bahan Kepala Topi plastik/karet
kimiawi Mata Goggles
Muka Pelindung muka dari plastic
Alat pernapasan Respirator khusus tahan zat
Jari, tangan, lengan kimia
Tubuh Sarung plastic/karet
Betis, tungkai Pakaian plastic/karet
Mata kaki, kaki Pelindung khusus dari
plastic/karet
Sepatu karet, plastic atau
kayu
Tabel 1. APD

12
Saran
Saat ini sekitar 7 dari 100 pekerja penuh ( full time ) yang bekerja di sektor swasta
setiap tahunnya mengalami kecelakaan atau penyakit akibat kerja. Di dunia sekitar 2,8 juta
kasus mengakibatkan hilangnya waktu berproduksi dan setiap tahunnya pula 6000 pekerja
meninggal dunia akibat kecelakaan di tempat kerja. 5
Perencanaan perlu dilaksanakan untuk mengidentifikasi bahaya penilaian pengendalian
resiko. Perencanaan harus didokumentasikan dan terus diperbaharui sesuai dengan keadaan.
Mengidentifikasikan bahaya, resiko dan implementasi pencegahan termasuk kegiatan rutin dan
non rutin, dan kegiatan setiap personal yang mempunyai akses ke tempat kerja termasuk
kontraktor dan tamu.
Metode untuk mengidentifikasi bahaya dan penilaian resiko :
1. Mendefinisikan sesuai ruang lingkup, sifat alami dan waktu untuk memastikan proaktif.
2. Klasifikasi resiko dan identifikasi mana yang harus dihilangkan atau dikontrol.
3. Konsisten dengan pengalaman operasi dan kemampuan pengontrolan resiko yang
dimiliki.
4. Menentukan fasilitas yang diperlukan, identifikasi pelatihan yang mungkin diperlukan
atau pengembangan kontrol opersional.
5. Memonitor langkah-langkah yang mungkin yang diperlukan untuk memastikan
efektivitas dan ketepatan waktu implementasi.
Identifikasi bahaya, penilaian resiko dan pengontrolan resiko dijelaskan dalam formulir
HIRARC (Hazard Identification Resico Assesement dan Resico Control).
Suatu perusahaan harus mempunyai kebijakan untuk selalu mamperhatikan dan menjamin
implementasi, peraturan keselamatan, kesehatan dan lingkungan yang meliputi :
1. Peningkatan berkelanjutan
2. Sesuai dengan aturan dan perundangan keselamatan dan kesehatan ditempat kerja yang
berlaku.
3. Mengkomunikasikan keseluruh karyawan agar karyawan sadar dan mawas mengenai
kewajiban keselamatan dan kesehatan pribadi.
4. Dapat diketahui atau terbuka bagi pihak-pihak yang berminat.
5. Evaluasi berkala untuk mempertahankan agar tetap relevan dan sesuai dengan
perusahaan.

13
Perusahaan juga harus memiliki kewajiban-kewajiban didalam manajemen keselamatan kerja
yaitu :
1. Safety Policy
Mendefinisikan kebijaksanaan umum suatu perusahaan didalam hal keselamatan kerja.
2. Organisation / Management Commitment
Merinci komitmen manajemen disetiap level dan dalam bentuk tindakan sehari-hari.
3. Accountability
Mengindikasikan hal-hal yang dapat dilaksanakan oleh bawahan untuk menjamin keselamatan
kerja.
Yang dimaksud Accountability dalam manajemen keselamatan kerja adalah suatu pengukuran
yang aktif oleh manajemen untuk menjamin terpenuhinya suatu target keselamatan. Didalam
Accountability ini tercakup dua hal yaitu :
4. Responsibility
Yaitu keharusan menanggung aktivitas dan akibat-akibatnya didalam suatu keselamatan.
5. Authority
Yaitu hak untuk memperbaiki, memerintahkan dan menentukan arahan dan tahapan suatu
tindakan. 3

Kesimpulan
Pada peristiwa terjadinya kecelakaan maka pertama-tama dan utama adalah menolong
korban agar jiwanya dapat diselamatkan dan selanjutnya pengobatan dan perawatan dapat
diselenggarakan dengan sebaik-baiknya. Pertolongan kepada korban dipastikan secepat-
cepatnya dalam peride 1 (satu) jam tersebut sangat berperan. Untuk itu penting bagi pimpinan
regu atau kelompok pekerja dan juga para pekerjanya sendiri telah mendapat latihan PPPK.
Ketentuan PPPK diatur oleh peraturan khusus yang tetap berlaku sebagai peraturan
pelaksanaan UU No. 1 Tahun 1970.

14
Daftar Pustaka
1. Barry S. Levy, David H. Wegman. Occupational Health : Recognizing and Preventing
Work Related Disease. Edisi ke-3,2006. hal18-24.
2. De Vuyst P, Gevenois PA : Occupational Disesase.Eds WB Saunders, London,2002.
hal. 16-9.
3. Direktorat Bina Kesehatan Kerja. Pedoman Tata Laksana Penyakit Akibat Kerja bagi
Petugas Kesehatan, Departemen Kesehatan, 2008. hal. 44-6.
4. Sumamur. Higiene perusahaan dan kesehatan kerja (hiperkes). Jakarta: Sagung Seto;
2009. hal. 57-62.
5. Sidarta I, et al. Ilmu Penyakit mata ed. 2. Jakarta: Sagung Seto; 2010. hal 93-105.

15