Anda di halaman 1dari 4

KOMPRESOR PISTON (RECIPROCATING)

Oleh : Ninik Lintang

Kompresor adalah alat untuk mengkompresi gas hingga tekanan ribuan psi. Terdapat
beberapa jenis desain kompresor yang umum, yaitu rotary vane, sentrifugal, aksial, lobe
(root blower) dan reciprocating (bolak balik). Keunggulan utama kompresor reciprocating
adalah kemampuannya mencapai rasio tekanan (P2/P1) yang tinggi, dan harganya murah,
namun kapasitas yang dihasilkan relatif rendah.

Pada dasarnya kompresor reciprocating dilengkapi dengan sebuah motor sebagai


penggerak kompresor melalui sebuah sabuk (V-belt) transmisi daya. Kompresor
reciprocating bekerja dengan prinsip tekanan bolak-balik dari piston yang digerakkan oleh
poros engkol. Bagian utama peralatan ini terdiri dari piston dan silinder dengan pegas
masukan dan kerangan (valve) pengeluaran yang dikendalikan secara otomatis. Gas
keluaran dari piston diakumulasikan di dalam tangki penampung (yang biasanya difungsikan
sebagai energi penggerak peralatan dengan udara tekan). Skema aliran gas pada
kompresor reciprocating ditunjukkan pada gambar 1.

Gambar 1 Skema aliran gas pada Kompresor reciprocating a. Satu silinder, b. Dua silinder

Alian udara pada kompresor satu tahap dengan dua piston paralel disajikan pada gambar 2:

Piston
Tangki
Stabili akumulator
F sator udara
Cooler valve
P
valve

Gambar 2 Skema aliran udara pada Kompresor dua piston paralel


Untuk keperluan praktis, maka antara mahkota piston dan bagian atas silinder diberikan jarak
(clearance). Udara yang terperangkap di dalam volume clearance tidak akan tersalurkan keluar,
karena udara akan mengembang/terekspansi ketika piston bergerak mundur. Dengan demikian maka
volume udara baru yang ditarik oleh piston pada siklus berikutnya menjadi lebih kecil.

Kapasitas kompresor dinyatakan dalam volume udara yang dapat dihasilkan, atau free air delivery
(FAD), yaitu volume udara yang ditarik oleh kompresor dari atmosfer. Setelah kompresi dan
pendinginan, udara dikembalikan ke temperatur asalnya, namun pada tekanan yang lebih tinggi.

Jika kondisi atmosfer (FAD) adalah P a, Ta dan Va, dan kondisi setelah kompresi adalah P, V dan T, maka
dengan menggunakan hukum gas ideal:

Biasanya FAD diukur pada kondisi atmosfer di ketinggian permukaan laut (standard sea level/ SSL),
sehingga kapasitas kompresor pada kondisi lokasi perlu dikonversi.

Turun menjadi
Vol udara aktual pd
Vol udara aktual pd
FAD tekanan dan
tekanan tertentu
temperatur masukan

Catatan: massa udara yang ditarik sama dengan massa udara yang dikeluarkan pada setiap siklus,
valaupun volume udara ditarik berbeda dengan udara keluar.

Analisis Siklus

Pada kompresor piston (reciprocating), siklus yang terjadi dilukiskan pada gambar 3. Gas
ditarik dari posisi 4 ke titik 1 pada tekanan masuk. Kemudian gas terperangkap di dalam silinder dan
dikompresi. Pada titik 2 tekanan sama dengan pada titik keluaran, dan katub terbuka. Kemudian
udara didorong keluar pada tekanan keluar. Tekanan keluar ini akan sedikit meningkat pada saat
gerakan penarikan jika gas yang ditekan berada pada ruang dengan volume tetap. Demikian cara
peningkatan tekanan sejak mesin dinyalakan.

Suatu siklus dianalisa sebagai dua proses tak mengalir (non flow, yaitu kompresi dan ekspansi) dan
dua proses aliran, yaitu aliran masuk dan keluar. Perubahan volume dan tekanan yang terjadi pada
kompresor disajikan pada gambar 3.
P

Gambar 3 Kurva siklus PV pada kompresor reciprocating

Efisiensi Volumetrik,
adalah rasio antara FAD kompresor per stroke terhadap pemindahan oleh kompresor.

Karena efisiensi volumetrik biasanya dinyatakan pada kondisi standar (SSL), maka efisiensi
volumetrik yang diamati pada kondisi udara masuk harus dikoreksi, sebagai berikut:

Indeks s : standar ; i : inlet

n : indeks politropik ( 1<n<k), n = 1 : isotermal, n = k : adiabatik, untuk udara n = 1,3


Efisiensi Isotermal: