Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Indikator


kesehatan suatu bangsa salah satunya dapat dilihat dari tinggi atau rendahnya
angka kematian bayi. Hal ini tercantum dalam sasaran yang ingin di capai dari
Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2015 tujuan ke 4 yaitu
menurunkan angka kematian bayi 34/1000 kelahiran hidup pada tahun 2007
menjadi 19/1000 kelahiran hidup pada tahun 2015 (Peter Stalker,2008).

Penyebab Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia menurut WHO


pada tahun 2003 yaitu IUGR 19,8% , BBLR 10,5% kelahiran premature 18,5
% dan kematian bayi 33/1000 kelahiran hidup (Kramer MS. 2003).

Pertumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungan sangat


tergantung pada kondisi kesehatan ibu. Kesehatan ibu yang terganggu akan
berdampak pada bayi dengan kelahiran aterm tetapi terdapat gangguan dalam
pertumbuhan (IUGR) atau merupakan kombinasi keduanya (UNICEF &
WHO, 2014).

Beberapa faktor resiko terjadinya kehamilan dengan IUGR karena


pengaruh penyakit ibu (hipertensi, DM, infeksi, hipoksemia), malnutrisi ibu,
kelainan bawaan atau kelainan kromosom pada janin, gestasi multiple dan
kelainan plasenta (Departement of Midwifery 2009).

Contoh kehamilan beresiko banyak ditemukan dimasyarakat, tetapi


tenaga kesehatan tidak dapat menemukan satu persatu, karena itu peran serta
bidan sangat dibutuhkan dalam mendeteksi ibu hamil. Salah satu tindakan
bidan yaitu melalui promosi kesehatan dan pencegahan resiko, seperti
pemberian suplemen nutrisi, zat besi, imunisasi tetanus toksoid, pemberian

1
konseling tentang tanda-tanda bahaya kehamilan, keluarga berencana, dan
melakukan deteksi dini. Hal ini perlu menjadi perhatian karena besarnya
kecacatan dan kematian yang terjadi akibat IUGR.

Pada kasus-kasus IUGR yang sangat parah dapat berakibat janin lahir
mati (still birth) atau jika bertahan hidup dapat memiliki efek buruk jangka
panjang dalam masa kanak-kanak nantinya. Kasus-kasus IUGR dapat muncul,
sekalipun sang ibu dalam kondisi sehat, meskipun faktor-faktor kekurangan
nutrisi dan perokok adalah yang paling sering. Menghindari cara hidup
beresiko tinggi, makan makanan bergizi, dan lakukan kontrol kehamilan
secara teratur dapat menekan resiko munculnya IUGR.

1.2 Tujuan Penulisan


1.2.1 Tujuan Umum

Agar mahasiswa mampu melakukan Asuhan Kebidanan pada Ibu hamil


yang mengalami IUGR secara menyeluruh melalui pendekatan menejemen
kebidanan.

1.2.2 Tujuan Khusus

a. Melaksanakan pengkajian pada Ibu dengan IUGR


b. Menginterpretasikan data hasil pengkajian
c. Menentukan masalah potensial
d. Menentukan tindakan segera yang harus dilakukan
e. Membuat perencanaan dan pelaksanaan tindakan
f. Serta melakukan evaluasi terhadap keputusan dan tindakan yang telah di
ambil

1.3 Metode Penulisan


Dalam penyusunan Asuhan Kebidanan pada Ibu hamil yang
mengalami IUGR, penulis menggunakan dua metode yakni :

2
1.3.1 Studi Kasus

Dengan menggunakan pendekatan proses manajemen asuhan kebidanan


yang meliputi : pengumpulan data, analisis dan perumusan diagnose atau
masalah actual dan potensial, perencanaan tindakan, evaluasi, dan
pendokumentasian.

1.3.2 Studi Kepustakaan

Mempelajari buku-buku atau literature lainnya, mengambil data dari


internet, membaca buku yang berkaitan dengan ibu hamil yang mengalami
IUGR dan termasuk karya tulis yang ada.

1.3.3 Studi Dokumentasi

Penulis memperoleh informasi atau data berdasarkan catatan medic


klien dari bidan, dokter, maupun data-data penunjang lalinnya.

1.3.4 Diskusi

Penulis melakukan diskusi dengan tenaga kesehatan dan pembingbing


Akademik demi kelancaran penulisan Makalah ini.

1.4 Ruang Lingkup

Dalam penulisan makalah ini penulis akan membahas Asuhan


Kebidanan pada Ibu hamil yang mengalami IUGR di RSIA Budi Kemuliaan
tanggal 25-05-2014.

1.5 Sistematika Penulisan

Untuk memperoleh gambaran umum tentang Makalah ini maka


penulis menyusun dengan sistematis ebagai berikut:

BAB I : Pendahuluan

3
Meliputi latar belakang, Tujuan Penulisan baik secara
Umum maupun khusus, ruang lingkup serta sistematika
penulisan.

BAB II : Tinjauan Teori


Definisi IUGR, Patologi , Diagnosis , Etiologi dan Faktor
Resiko, Preeklamsia, Pemantauan Denyut Jantung Janin.
BAB III : Laporan Kasus
Meliputi pengkajian data, subjektif , objektif dan, analisa
masalah, masalah potensial, perencanaan, tindakan
segera.
BAB IV : Pembahasan
Membahas tentang asuhan yang diberikan dan
menjelaskan tentang adanya kesenjangan antara tinjauan
teori dengan kasus yang ditangani.
BAB V : Penutup
Memuat kesimpulan dan saran tentang kasus yang
dibahas.

4
BAB II

TINJAUAN TEORI

2. 1. Definisi

Menurut Buku Sarwono (2012, halaman 697) IUGR ditentukan bila


berat janin kurang dari 10% dari Berat yang harus dicapai pada usia
kehamilan tertentu. Biasanya IUGR di ketahui setelah 2 minggu tidak ada
pertumbuhan.

Menurut Gordon, JO (2005) IUGR (Intrauterine growth retardation)


diartikan sebagai suatu kondisi dimana janin berukuran lebih kecil dari
standar ukuran biometri normal pada usia kehamilan. Umumnya janin dengan
IUGR memiliki taksiran berat dibawah persentil ke-10. Artinya janin
memiliki berat kurang dari 90 % dari keseluruhan janin dalam usia kehamilan
yang sama. Janin dengan IUGR pada umumnya akan lahir prematur (<37
minggu) atau dapat pula lahir cukup bulan (aterm, >37 minggu).

Menurut WHO (2004), janin yang mengalami pertumbuhan yang


terhambat adalah janin yang mengalami kegagalan dalam mencapai berat
standard atau ukuran standard yang sesuai dengan usia kehamilannya.

Pertumbuhan fetus yang terhambat beresiko tinggi untuk terjadinya


kesakitan dan kematian. Diperkirakan kematian perinatal 6-10 kali lebih
tinggi pada neonatus yang mengalami pertumbuhan terhambat dibandingkan
dengan yang memiliki ukuran atau berat badan yang sesuai dengan usia
kehamilan ( Buku sarwono, 2012 hal. 696). Beberapa hal yang berhubungan
dengan kesakitan yang serius perlu mendapatkan perhatian pada periode
setelah terjadinya kegagalan pertumbuhan dalam uterus termasuk didalamnya
aspiksia bayi baru lahir, hipoglikemi pada neonates, hypoklasemia, aspirasi
mekonium, dan Persisten fetal sirculation.

5
2.2.Patologi

Pada kelainan sirkulasi uteroplasenta akibat dari perkembangan


plasenta yang abnormal, pasokan oksigen, masukan nutrisi, dan pengeluaran
hasil metabolik menjadi abnormal. Janin menjadi kekurangan oksigen dan
nutrisi pada trimester akhir sehingga timbul IUGR yang asimetrik yaitu
lingkar perut yang jauh lebih kecil daripada lingkar kepala. Pada keadaan
yang parah mungkin akan terjadi kerusakan tingkat seluler berupa kelainan
nukleus dan mitokondria.

Simetris adalah ukuran Janin kecil secra proporsional akibat gangguan


jangka panjang, sedangkan asimetrik adalah pertumbuhan janin lebih lanjut
dibandingkan pertumbuhan tubuh akibat gangguan jangka pendek (efek
terhadap pertumbuhan otak tidak terganggu. (PPT dr. Bambang SpoG, 2006).
Pada keadaan hipoksia, produksi radikal bebas di plasenta menjadi sangat
banyak dan antioksidan yang relative kurang ( misalnya pre eklamsia) akan
menjadi lebih parah.

2.3. Diagnosis

Secara klinik awal pertumbuhan janin yang terhambat di kenal setelah


28 minggu. Melalui ultrasonografi mungkin dapat diduga lebih awal dengan
adanya taksiran berat janin yang tidak sesuai dengan usia gestasi. Menurut
Buku Sarwono (20012, halaman 698) Secara kelinik pemeriksaan tinggi
fundus umumnya akan sesuai dengan usia kehamilan, bila lebih rendah dari 3
cm, patut di curigai adanya IUGR.

2. 4. Etiologi dan faktor resiko


A. Faktor Resiko IUGR

1. Faktor risiko dari Ibu :

Alkohol, merokok, Obat obatan (Corticosteroid, propanolol,


Dilantin, Coumadin, Heroin), Anemia, malnutrisi, Berat badan Ibu Kurang

6
dari 50 Kg, penyakit Jantung Cyanotic, Hipertensi kronis, Pregnancy
Induced Hipertensi, Diabetus Mellitus dengan gangguan Vasculopaty,
Connective Tissue Disease.

2.Faktor Resiko dari bayi :


Kelainan genetic (misalnya : dwarf sindrom), kelainan kromosom
(trisomi 12, 18 dan 21), congenital anomaly (misalnya : gastroschisis),
infeksi fetus (misalnya : virus, protozoa).

3.Faktor Risiko dari Uterus dan Plasenta :


Kelainan Muller (septum uterus) dan insufisiensi plasenta yang
dapat berupa : Infark, Infeksi pada plasenta, chorioangioma, multi fetal
Pregnancy, circum valata plasenta, plasenta previa, Focal Abruption,
marginal Insersi of the cord).

Pertumbuhan Janin Terhambat bisa dikibatkan kelainan pada plasenta,


misalnya luas permukaan yang tidak sesuai kehamilan , adanya kelainan-
kelainan pertumbuhan jaringan ikat yang berlebihan pada plasenta. Pada usia
kehamilan 37 minggu, berat dan luas permukaan plasenta tumbuh mencapai
maksimal, pertumbuhan berikutnya melambat dan banyak didapatkan
mioinfark.

Keadaan yang paling umum terjadi yang mengurangi luas permukaan


plasenta adalah penyakit vaskuler kronik pada ibu sebagai akibat dari
hipertensi kroniknya. Penyakit-penyakit lain pada ibu yang juga dapat
merusak pembuluh darah arteria spiralis adalah diabetes mellitus, lupus
eritematosus, pielonefritis kronik, glumerulonefritis, dan arteriosklerosis.

Hipertensi karena kehamilan dan pre-eklampsia juga bisa


menyebabkan gangguan pada sistem vaskuler. Oleh karena hipertensi akut
dalam kehamilan biasanya muncul setelah plasenta terbentuk. Hipoksemia
pada janin terjadi bila :

1. Penurunan kadar oksigen pada darah yang menuju uterus

7
2. Penurunan fungsi plasenta
3. Penurunan kadar oksigen dalam darah janin.

Pada plasenta, gangguan pasokan darah ke uterus atau permukaan


plasenta yang tidak luas dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan yang
serius pada janin. Pelepasan plasenta pada pinggir-pinggirnya dalam
kehamilan muda disertai perdarahan dan pembentukan parut disana (placenta
circumvallata) bisa membatasi pertumbuhan janin dan menyebabkan
hambatan pertumbuhan interuterin. Implantasi plasenta pada daerah serviks
bisa menyebabkan pertumbuhan plasenta terbatas.

Plasenta yang mempunyai banyak infark kecil-kecil kehilangan luas


permukaan untuk pertukaran dan merusak pengangkutan substrat yang
mencukupi kepada janin. Solusio plasenta yang kronik mengurangi luas
permukaaan fungsionalnya dan dengan demikian juga dapat menyebabkan
hambatan pertumbuhan interuterin pada janin.

B. Klasifikasi Intra Uterin Growth Restriction

Secara Klinis IUGR dibagi 3, berdasarkan waktu kapan mulai dan


berapa lamanya pengaruh yang menghambat pertumbuhan itu berlangsung.

1. Tipe 1, simetrik IUGR


Tipe 1 IUGR menunjuk pada bayi dengan potensi penurunan
pertumbuh. Lingkar dada dan kepala, panjang dan beratnya semua dibawah
10 persentil untuk usia kehamilan, tetapi bayi ini memiliki Indek Ponderal
yang normal.Type 1 IUGR merupakan akibat dari hambatan pertumbuhan
pada awal kehamilan. Pada tahapan awal pertumbuhan embrio fetus, ditandai
dengan mitosis pada usia kehamilan 4 sampai dengan 20 minggu yang disebut
fase hiperplasti.Apabila ada kondisi patologis selama fase ini akan
mengurangi jumlah sel untuk bayi.

IUGR simetrik terjadi pada 20-30% pada fetus yang mengalami


hambatan pertumbuhan. Keadaan ini disebabkan adanya hambatan mitosis

8
ketika terjadi infeksi dalam kandungan (misalnya, herpes simplek, rubella,
cytomegalovirus dan toksoplasma),kelainan kromosom, dan kelainan
congenital.Harus diingat, bagaimanapun, fetus yang simetris mungkin secara
aturan kecil dan menderita tetapi tidak semuanya mengalami
ketidaknormalan.

2. Tipe 2, Asimetrik IUGR

Tipe 2 atau Asymetrik, IUGR menunjuk pada hambatan pertumbuhan


pada neonatus dan frekuensi terbanyak berhubungan dengan isufisiensi
uteroplasental. Tipe 2 IUGR merupakan hasil keterlambatan pertumbuhan
Tipe 1 dan selalu terjadi sesudah minggu ke 28 dari kehamilan. Pada akhir
trimester II, pertumbuhan fetus normal ditandai dengan adanya Hipertropi.
Pada fase hipertropi, secara cepat telah terjadi peningkatan ukuran sel dan
pembentukan lemak, otot, tulang dan jaringan yang lainnya.

Hambatan pertumbuhan fetus yang asimetrik, total jumlah sel


mendekati normal, tetapi sel sel tersebut mengalami penurunan/pengecilan
ukuran. Fetus IUGR asimetris memiliki Indek Ponderal yang rendah
dibandingkan dengan rata rata bawah berat bayi, tetapi ukuran lingkar kepala
dan panjang lengan adalah normal.

Pada beberapa kasus asimetrik IUGR, pertumbuhan fetus adalah


normal sampai dengan akhir Trimester II dan awal Trimeseter III, ketika
pertumbuhan kepala tetap normal, sedangkan pertumbuhan abdominal lambat
(Brain Sparring Effect, http://sinagachristin.wordpress.com/2013/06/19/).

Tipe Asymetris ini merupakan hasil dari mekanisme kompensasi fetus


dalam memberikan reaksi terhadap fase penurunan perfusi plasenta.
Bagaimanapun, isufisiensi plasenta adalah merugikan selama akhir
kehamilan, pertumbuhan kepala menjadi rata, dan ukurannya mungkin
menjadi turun pada curve pertumbuhan normal.

9
Diperkirakan, 70% - 80% hambatan pada pertumbuhan fetus adalah
type 2. IUGR ini seringkali berhubungan dengan penyakit ibu seperti
Hipertensi kronis, gangguan ginjal, Diabetus Mellitus dengan vaskulopaty,
dan yang lainnya.

3. Intermediate IUGR

IUGR Intermediate menunjuk pada hambatan pertumbuhan yang


merupakan kombinasi Type 1 dan Tipe 2. Gangguan pertumbuhan pada tipe
ini diperkirakan terjadi selama fase pertengahan pertumbuhan- pada fase
hyperplasia dan hipertropi- yang mana terjadi pada usia kehamilan 20-28
minggu. Pada fase ini, terjadi penurunan kecepatan mitosis dan peningkatan
yang progesif secara menyeluruh pada ukuran sel.

Bentuk IUGR ini keadannya tidak sebanyak jika dibandingkan dengan


type1 dan 2, diperkirakan sekitar 5- 10%, dari semua hambatan pertumbuhan
fetus. Hipertensi kronis, Lupus Nepritis, atau penyakit vascular ibu yang
lainnya, menjadi berat dan jika terjadi lebih awal pada timeser II akan
mengakibatkan Intermediate IUGR dengan pertumbuhan simetrik dan tidak
memberikan efek Brain Sparring.

2.5 Pemeriksaan USG digunakan untuk mendiagnosa IUGR

Deteksi intrauterin terhadap hambatan pertumbuhan janin merupakan


cara klinik dengan ketepatan diperkirakan 30 % yang dipengaruhi oleh
kehamilan. Kelebihan dari USG objektif, dapat dipercaya, dan caranya efektif
untuk mengidentifikasi hambatan pertumbuhan janin intrauterine.
Bagaimanapun, untuk membuat diagnosis yang tepat dan diperkirakan
penanganan pada hambatan pertumbuhan janin, ini penting untuk menentukan
uasia kehamilan secara akurat.

Pada trimester I, pengukuran panjang kepala bokong memungkinkan


untuk memperkirakan usia kehamilan dengan jarak 4.7 hari dengan taraf

10
kepercayaan 95%. Antara 12 sampai 24 minggu, ukuran diameter biaparietal
(BPD) merupakan penuntun yang dapat dipercaya bila dibandingkan dengan
ukuran panjang kepala bokong yang dilakukan pada trimester I kehamilan.
Diluar usia kehamilan 28-30 minggu terjadi peningkatan progresif pada
variasi BPD, dan ketepatan penetapan dari usia kehamilan kurang
memuaskan.

Korelasi Femur Lenght dengan usia kehamilan, terutama selama usia


kekamilan 14 sampai 24 minggu, dengan jarak 6-7 hari pada taraf
kepercayaan 95 %. Ketepatan diagnosis antenatal pada IUGR dapat
mencegah tingginya angka kesakitan dan kematian perinatal yang
dihubungkan dengan kondisi ini dan mendasari manajemen yang tepat serta
intervensi. Beberapa peneliti percaya, ketika IUGR didiagnosa setelah
kehamilan 37 minggu, kelahiran adalah indikasi untuk menurunkan resiko
kematian janin. Beberapa parameter sonografi dapat digunakan untuk
mendiagnosa IUGR. Beberapa parameter sangat kritis ditinjau dalam
beberapa bagian.

2.6 Preeklamsia

Menurut Buku Sarwono (2012, halaman 544) Preeklampsia Berat


merupakan preeclampsia dengan tekanan darah tinggi sitolik 110mmHg
disertai proteinuria lebih dari % g/24 jam.

Memberikan pengaruh buruk pada janin yang disebabkan oleh


menurunnya perfusi utero plasenta, hipovolemia, vasospasme, dan kerusakan
sel endotel pembuluh darah plasenta.Dampak dari preeklamsia dan eklamsia
pada janin adalah intrauterine growth restriction (IUGR) dan
oligohidramnion.

11
2.7 Pemantauan Denyut Jantung Janin

Denyut jantung janin harus selalu dinilai pada setiap kali pasien
melakukan pemeriksaan hamil (umumnya setelah kehamilan trimester
pertama), pada trimester kedua dan selanjutnya. DJJ dapat dinilai dengan
menggunakan leanec atau Doppler. DJJ dihitung dalam satu menit penuh
dalam satu menit dengan memperhatikan keteraturan serta frekuensinya.

Pemantauan DJJ dipantau saat ada his dan diluar His. Adanya
iregularitas (aritmia) atau frekuensi dasar yang abnormal ( takhikardi : 160-
180 dpm atau bradikardi : 100-120 dpm, apalagi bila gawat janin (DJJ<100
dpm atau > 180 dpm) harus segera ditindaklanjuti. ( Standarisasi Pemantauan
Kesejahteraan Janin , Januadi, Jud. FK UPN Veteran 2006).
Interpretasi NST:

1. Reasuring (Reaktif)

Terdapat gerakan janin sedikitnya 2 kali dalam 20 menit, disertai dengan


akselerasi sedikitnya 15 dpm

Frekuensi dasar DJJ di luar gerakan janin antara 120-160 dpm

Variabilitas DJJ antara 5-25 dpm

2. Non reassuring (non-Reaktif)

Tidak terdapat gerakan janin dalam 20 menit, atau tidak terdapat akselerasi
pada gerakan janin

Frekuansi dasar DJJ abnormal (kurang dari 120 menit, atau lebih dari 160
dpm)

Variabilitas Djj kurang dari 2 dpm

3. Meragukan

Gerakan janin kurang dari 2 kali dalam 20 menit, atau terdapat akselerasi
yang kurang dari 15 dpm

12
Frekuensi dasar DJJ abnormal

Variabilitas DJJ antara 2-5 dpm

Hasil NST yang baik hanya dapat diikuti dengan keadaan janin yang
baik sampai 1 minggu kemudian (spesifisitas 95%-99%). Hasil NST non
reaktif disertai dengan keadaan janin yang jelek dengan sensitivitas sebesar
20 %. Hasil NST yang meragukan harus diulang dalam waktu 24 jam. Oleh
karena rendahnya nilai sensitivitas NST, maka setiap hasil NST yang non-
reaktif sebaiknya dievaluasi lebih lanjut dengan Contraction stress test (CST)
selama tidak ada kontraindikasi.

13
BAB III

LAPORAN KASUS

Ny. C Tn. W 412774


G5 P3 A1 h. 37 minggu (USG) d/ Pk 1 laten+PEB+bekas SC 1x
th 1998. susp IUGR
Janin Tunggal Hidup Persentasi Kepala

25-5-2014
Ps datang sendiri ke UGD d/

Keluhan utama : mules sejak jam 19.30

Quick Check : pusing (-), muntah(-), pandangan kabur(-),


sesak(-), nyeri uluhati (-), keluar air-air (-
), gerakan bayi (+) aktif.

Riwayat Kehamilan ini


Ps mengatakan saat ini hamil ke5, keguguran 1x kuret di RSIA
BK th 08. ANC rutin di RSIA BK kesan IUGR, tensi tidak
pernah tinggi. Tadi pagi ps. sudah datang ke RSBK 1 cm, NST
kesan Reaktif. Ps di anjurkan pulang karena mules jarang. USG
terakhir tgl 17 -05-14 kesan :
FW: 2106 gr, ica 10,7, plasenta korpus belakang gret II-III.
HPHT : 05-08-13 yakin TP: 12-05-14
TP(USG) 12-6-14

Riwayat Kehamilan Lalu


1. JK=Laki-Laki, BB= 2350 gr, 1998,Atrm,RSBK,SC a/I
KPD
2. JK= Perempuan ,BB= 2390 gr,2000,Atrm,RSBK,Spontan
3. Abortus, 10 mgg, 2008, RSBK, kuretase.
4. JK=Laki-Laki ,BB= 1700, 2010,Preterem, RSBK, spontan.
5. ini

14
Riwayat alergi obat : Tidak ada
Riwayat penyakit : Tidak ada
Riwayat Operasi : Sc 1x thn 1998

Pemeriksaan Fisik

- Stat. generalis : KU :Baik, Kes:CM, Konj : tdk pucat,


Sklera: tdk ikterik. TD : 150/90mmHg, Nd: 83x/mnt, Sh:
36,4c.RR: 22x Oedem +/+.
- Stat. obstetri : Palp.Abd TFU: 29 cm, puka, pres: kepala.
DJF (+) 145 HIS 2x1025. Inspeksi luka oprasi insisi
teampak tenang.

PD a/ i menilai keadaan:
Portio : tebal lunak cm arah depan
Pembukaan : 3cm
Ketuban +menempel
Persentasi kepala
Penurunan Hodge II
Posisi sutura sagitalis lintang
Molase : tidak ada
Pemeriksaan Penunjang : Cek protein uria (+3)

Analisa masalah
G5P3A1 H. 37 mgg (USG) d/ PK1 Laten+PEB+bekas Sc
1x th98, sups IUGR
Janin Tunggal Hidup Persentasi Kepala.
Maspot = Eklamsia, Ruptur, gawat janin,

Rencana Diognostik
Cek PEB rutin,sceraning, USG, NST

15
Rencana Terapi
Mengimpormasikan hasil pemeriksaan kepada ibu dan
keluarga.
Mengobservasi TTV 1 jam
Mengobservasi His dan DJF 30 detik
Memberikan ibu pendamping persalinan
Memberikan rasa nyaman kepada ibu
Memberikan ibu hidrasi
Menganjurkan ibu untuk miring kiri,
Melakukan kolaborasi dengan dr. jaga:
Melakukan tatalaksana PEB (ps. dapat nipedipine
10 mg oral, di pasang infus, di pasang Dc, urin
warena kuning jernih 100 cc, ps. dapat MgS04 2
gr/bolus).
Siapkan USG dan cek PEB rutin,
NST dan rencana lapor dr. konsulen

Hasil USG :
Janin tunggal hidup Persentasi kepala DJF (+) gerak bayi (+),
BPD 86,2~34 minggu, FW = 2060 gr.plasenta corpus belakang
grade II-III. ICA = 10,4, Tampak gambaran tali pusat di sekitar
leher 1kali.
Hasil Lab :
HB 10,9, Leukosit 10,2, HT 33,7 , Trom 186,
Urin = albumin +4 (ps. dpt MgSO4 2 gr/bolus), darah samar +1

j. 21.10 Ps. masuk KH


s/ pusing (-), mual (-), muntah (-), pandangan kabur (-), nyeri ulu
hati (-), mules (+), pergerakan janin(+) aktif.

0/ Ku baik, kesadaran komposmentis, konjungtiva pucat,


sekleraikhterik, TD 158/85 mmHg, N 81x/mt, rr 22x/mt, sh

16
36,6c, DJF (+) 154x/mt,, palp.abdomen lemas, HIS 2x1025
inspeksi perd. (-).

A/ G5 P3 A1 H. 37 mgg d/ PK1 Laten+PEB+bekas Sc 1x th98,


IUGR
Janin Tunggal Hidup Persentasi Kepala.
Maspot = Eklamsia, Ruptur, gawat janin

P/ Mengobservasi KU dan TTV setiap 1 jam


Mengobservasi His dan DJF setiap 30 menit
Melakukan tatalaksana PEB
Melakukan NST-kesan non reasuring
-melakukan NST ulang ps. miring kiri :
kesan non reasuring
Ps. di pasang O2 nasal 3lt/mt miring kiri,
Melukan pemberitahuan ke NICU by d/ IUGR
Dr. jaga lapor dr. kosulen a/p SC cito.
Penjelas kepada suami (+) SIT (+).
PS. dan suami ingin kontrasepsi mantap, SIT (+)

j. 22.00 Ps. dibawa ke kamar oprasi

j.22.25 Oprasi dimulai

j.23.05 Bayi Lahir A/S 8/9


BB 1950 gr, PB 42 cm
Bayi Masuk neo4.
Di lakukan tubektomi pada kedua tuba , perdarahan total 500 cc.

Diagnosa pasca Bedah


P5 A1 Pos.Sc d/I PEB+IUGR+bekas SC 1x th 98+IUGR+St.pom

j. 23.45 OP. selesai

17
j. 23.50 Ps. masuk RR
S/ pusing (-), mual (-), muntah (-),
Kaki belum dapat digerakan.

O/ Ku baik, kesadaran komposmentis, konjungtiva pucat,


sekleraikhterik, TD 149/89 mmHg, N 81x/mt, rr 22x/mt, sh
36,6c, palp abd. Lemas, TFU sepusat, luka op. tertutup, sesak (-),
kembung (-). Terpasang RL+ 20 u synto, terpasang DC.

A/ P4A1 p.sc d/ bks sc 2x +PEB+IUGR+p.St.pom

P/ Memberikan informasi kepada ibu mengenai hasil pemeriksaan


memberikan rasa nyaman kepada ibu,
membantu ibu memberikan nutrisi dan hidarasi
mengobservasi . Ku ,TTV
mengobservasi kont ut, Perd
mengobservasi Luka op, rembesan,
mengobservasi Balance cairan.

18
BAB IV

PEMBAHASAN

Pada kasus Ny. C Tn. W G5 P3 A1 h. 37 minggu (USG) d/ Pk 1


laten+PEB+bekas SC 1x th 1998. susp IUGR, di dalam kasus ini di katakan
IUGR berdasarkan hasil pemeriksaan penunjang USG Fw yang di dapat 2060
gr, namun pada saat bayi lahir Berat Badan yang di dapatkan 1950 gram, ini
sesuai denga teori dalam buku Ilmu Kebidanan Sarwono yang menyatakan
bahwa IUGR ialah janin yang mengalami kegagalan dalam mencapai berat
standar atau ukuran standard yang sesuai dengan usia kehamilannya.

Pada pemeriksaan kehamilan sebelumnya telah ditemukan IUGR, ini


mejadi salah satu kewaspadaan pada saat di melakukan pemeriksaan ANC,
bukan hanya di butuhkan pemeriksaan ANC yang ketat, tapi perlu di lakukan
USG. USG disini bukan hanya sekedar USG standar, namun perlu di lakukan
USG Fetomaternal untuk melihat gangguan yang telah menyebabkan Bayi.
Menjadi IUGR.

Salah satu faktor penyebab dari IUGR sendiri ialah komplikasi


kehamilan yang di derita oleh Ny. C yakni Preeklamsia berat dengan kadar
albumin 4, ini sesuai dengan teori yang menyatakan pada faktor faktor
penyebab IUGR, serta sesuai dengan dampak dari komplikasi kehamilan
yakni disebabkan oleh menurunnya perfusi utero plasenta, hipovolemia,
vasospasme, dan kerusakan sel endotel pembuluh darah plasenta.

Pada pasien ini di lakukan SC Cito karena di dapatkan hasil NST


nonreasuring, serta di lakukan kontap dikarenakan ny.C termasuk
grandemulti, di lakukan kontap sesuai dengan permintaan keluarga ps.

19
BAB V

PENUTUP

1.1 Kesimpulan

Salah satu penyebab IUGR di dalam kasus ini adalah faktor dari ibu
yakni terjadi komplikasi Preeklamsi Berat. Faktor ini bukan hanya salah satu
penyebab dari IUGR, masih banyak faktor lain yang dapat menyebabkan
IUGR, namun sayangnya pada kasus ini tidak di lakukan pemeriksaan lebih
lanjut lagi dengan menggunakan USG Fetomaternal sehingga tidak diketahui
penyebab dari terjadinya IUGR.

1.2 Saran

1.2.1 Untuk dapat mendeteksis secara dini dan mencegah terjadinya


IUGR maka dalam melakukan ANC, bidan harus memberika
pelayanan yang berkualitan dan sesuai dengan stnadar

1.2.2 Diharapkan pada tenaga kesehatan khususnya bidan untuk lebih


mengkaji dalam hal nutrisi pada pasien terlebih jika ditemuka
ketidak sesuain antara tinggi Fundus dengan usia kehamilan pada
pasien.

20