Anda di halaman 1dari 10

PENGUKURAN KADAR POLIFENOL

Oleh :
Gina Amalia B1J013004

Kelompok 3
Rombongan 1

LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2016
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tanaman pangan diketahui kaya akan senyawa-senyawa bioaktif,


terutama polifenol, yang mempunyai khasiat sebagai antioksidan dan
antimikroba (Sartini, et al.,2007). Sumber antioksidan dari jenis tumbuhan lain
adalah daun teh. Daun teh mengandung senyawa polifenol, khususnya
golongan katekin. Polifenol adalah kelompok zat kimia yang ditemukan
pada tumbuhan. Zat ini memiliki tanda khas yakni memiliki banyak
gugus fenol dalam molekulnya. Polifenol berperan dalam memberi warna
pada suatu tumbuhan seperti warna daun saat musim gugur. Polifenol dapat
ditemukan pada kacang-kacangan, teh hijau, teh putih, anggur merah, anggur
putih, minyak zaitun dan turunannya, cokelat hitam, dan delima. Kadar
polifenol yang lebih tinggi dapat ditemukan pada kulit buah seperti
pada anggur, apel, dan jeruk (Nely, 2007).
Kandungan polifenol berbagai jenis tumbuhan berbeda-beda.
Beberapa jenis bahan pangan mengandung polifenol yang tinggi, sedangkan
jenis bahan pangan lain mengandung polifenol yang rendah. Oleh karena itu,
perlu dilakukan pengujian kandungan total polifenol beberapa jenis bahan
pangan untuk mengetahui kemampuan suatu bahan pangan sebagai
antioksidan dalam menangkal radikal bebas (Nely, 2007).
Polifenol dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis berdasarkan
unit basanya antara lain Asam Galia, Asam Sinamat, dan Flavon. Selain itu
senyawa-senyawa polifenol jika berdasarkan komponen penyusun fenolnya
dapat dibagi menjadi Fenol, pyrocatechol, pirogallol,resorsinol, floroglucinol,
dan hidroquinon. Menurut Romero et al. (2004), polifenol jika diklasifikasikan
berdasarkan unit basanya dibagi menjadi kelompok empat kelompok, yaitu:
a. Asam Galic, dimana Senyawa ini memiliki struktur benzen yang
tersubtitusi dengan 3 gugus OH dan satu gugus Karboksilat. Contohnya
seperti jenis hydrolyzabletannins yang merupakan jenis tanin yang dapat
larut di dalam air membentuk asam gallic dan asam protocatechuic dan
gula. Contoh jenis ini adalah gallotanin.
b. Asam galat, senyawa ini tidak terlalu berperan didalam tumbuhan tetapi
cukupmemberikan sumbanganmanfaat bagi manusia khususnya dalam
bidangkesehatan. Senyawa jenis ini telah diteliti dapatmenghamba tumor,
anti-virus, anti oksidasi, anti deabetes dan anti cacing.
c. Flavon, jenis polifenol ini yang paling banyak terdapat di alam. Senyawa
ini juga termasuk flavonoid. Contoh senyawa ini adalah epicatechin dan
epigalocatechin, senyawaini terkandung di dalam teh yang memiliki fungsi
sebagai antioksidan.
d. Asam sinamat. Senyawa jenis ini memliki struktur umum asam sinamat,
Salah satu contoh jenis ini adalah lignin. Lignin banyak terdapat pada
tumbuhan sebagai penyusun dinding sel. Senyawa ini berupa polimer yang
memiliki struktur kompleks dan berat molekul lebih dari 10.000 monomer
pada lignin disebut monolignols.
Manfaat polifenol adalah sebagai anti oksidant yang yang sangat kuat
dalam menangkal radikal bebas, mampu meredam perkembangan aktifasi sel
kanker hingga 50%, untuk mengobati asam urat, eksim, migraine, demam, asma,
mencegah penakit degenaratif seperti : kanker, klesterol, jantung maupun stroke
serta mampu menurunkan kadar gula dalam plasma darah sehingga baik diminum
bagi penderita diabetes, memiliki kemampuan anti aging. Selain itu, pada
beberapa penelitian disebutkan bahwa kelompok polifenol memiliki peran
sebagai antioksidan yang baik untuk kesehatan. Antioksidan polifenol dapat
mengurangi risiko penyakit jantung dan pembuluh darah dan kanker. Terdapat
penelitian yang menyimpulkan polifenol dapat mengurangi risiko penyakit
Alzheimer (Singleton & Rossi, 1965).

1.2 Tujuan

Tujuan praktikum kali ini yaitu praktikan mampu mengukur senyawa-


senyawa polifenol yang ada dalam simplisia
II. MATERI DAN PROSEDUR KERJA

2.1 Materi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah timbangan


analitik, tabung reaksi, labu Erlenmeyer, gelas ukur, mikropipet,
spektrofotometer, yellow tip dan blue tip.
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah ekstrak
kental (the, seledri, kunyit), reagen Folin Ciocalteu, Na Karbonat, akuades,
dan asam galat.

2.2 Prosedur Kerja

Prosedur kerja yang dilakukan pada praktikum kali ini yaitu:


1. Asam galat 8, 16, 32 dan 89 mg disiapkan sebagai pembanding
2. Ekstrak kental ditimbang sebanyak 50 gram, kemudian dimasukkan ke
dalam tabung reaksi.
3. Ditambahkan reagen Folin Cocalteu sebanyak 250 l.
4. Setelah 1 menit, ditambahkan 750 l Na karbonat 20%.
5. Ditambahkan akuades hingga volume 10 ml.
6. Diinkubasi pada suhu 250oC selama 90 menit.
7. Dilakukan spektrofotometer dengan panjang gelombang 760 nm.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil
3.2 Pembahasan

Polifenol adalah kelompok zat kimia yang ditemukan pada tumbuhan.


Zat ini memiliki tanda khas yaitu memiliki banyak gugus phenol dalam
molekulnya. Polifenol sering terdapat dalam bentuk glikosida polar dan
mudah larut dalam pelarut polar (Hosttetman et al., 1985). Beberapa golongan
bahan polimer penting dalam tumbuhan seperti lignin, melanin dan tanin
adalah senyawa polifenol dan kadang-kadang satuan fenolitik dijumpai pada
protein, alkaloid dan terpenoid (Harbone, 1987).
Senyawa fenol dapat di definisikan secara kimiawi oleh adanya satu
cincin aromatik yang membawa satu (fenol) atau lebih (polifenol) substitusi
hydroksil, termasuk derifat fungsionalnya. Polifenol adalah kelompok zat
kimia yang ditemukan pada tumbuhan. Zat ini memiliki tanda khas yakni
memiliki banyak gugus fenol dalam molekulnya. Polifenol memiliki
spektrum luas dengan sifat kelarutan pada suatu pelarut yang berbeda-beda.
Hal ini disebabkan oleh gugus hidroksil pada senyawa tersebut yang dimiliki
berbeda jumlah dan posisinya. Turunan polifenol sebagai antioksidan dapat
menstabilkan radikal bebas dengan melengkapi kekurangan elektron yang
dimiliki radikal bebas, dan menghambat terjadinya reaksi berantai dari
pembentukan radikal bebas. Polifenol merupakan komponen yang
bertanggung jawab terhadap aktivitas antioksidan dalam buah dan sayuran
(Hattenschwiler & Vitousek, 2000).
Senyawa fenol sangat peka terhadap oksidasi enzim dan mungkin
hilang pada proses isolasi akibat kerja enzim fenolase yang terdapat dalam
tumbuhan. Ekstraksi senyawa fenol tumbuhan dengan etanol mendidih
biasanya mencegah terjadinya oksidasi enzim. Semua senyawa fenol berupa
senyawa aromatik sehingga semuanya menunjukkan serapan kuat di daerah
spektrum UV. Selain itu secara khas senyawa fenol menunjukkan geseran
batokrom pada spektrumnya bila ditambahkan basa. Karena itu cara
spektrumetri penting terutama untuk identifikasi dan analisis kuantitatif
senyawa fenol (Harbone, 1987). Polifenol berperan dalam memberi warna
pada suatu tumbuhan seperti warna daun saat musim gugur. Polifenol banyak
ditemukan dalam buah-buahan, sayuran serta biji-bijian. Rata-rata manusia
mengkonsumsi polifenol dalam sehari sampai 23 mg. Khasiat dari polifenol
adalah menurunkan kadar gula darah dan efek melindungi terhadap berbagai
penyakit seperti kanker. Polifenol membantu melawan pembentukan radikal
bebas dalam tubuh sehingga dapat memperlambat penuaan dini (Arnelia,
2002).
Metode analisis total polifenol yang digunakan dalam praktikum ini
ialah metode Follin-ciocalteau. Prosedur kerja yang dilakukan yaitu asam
galat 8, 16, 32 dan 89 mg disiapkan sebagai pembanding, kemudian ekstrak
kental ditimbang sebanyak 50 gram, kemudian dimasukkan ke dalam tabung
reaksi. Selanjutnya, ditambahkan reagen Folin Cocalteu sebanyak 250 l.
Folin ciocalteu merupakan reagen yang digunakan untuk mengukur
kandungan fenol. Setelah 1 menit, ditambahkan 750 l Na karbonat 20%.
Fungsi penambahan Na karbonat yiatu sebagai penarik senyawa fenol.
Akuades ditambahkan hingga volume 10 ml dan diinkubasi pada suhu 250oC
selama 90 menit. Dilakukan spektrofotometer dengan panjang gelombang 760
nm. Langkah terakhir, data yang didapat dianalisis.
Prinsip metode Folin-Ciocalteu adalah reaksi oksidasi dan reduksi
kolorimetrik untuk mengukur semua senyawa fenolik dalam sampel uji.
Pereaksi Folin-Ciocalteu merupakan larutan kompleks ion polimerik yang
dibentuk dari asam fosfomolibdat dan asam heteropolifosfotungstat. Pereaksi
ini terbuat dari air, natrium tungstat, natrium molibdat, asam fosfat, asam
klorida, litium sulfat, dan bromin (Folin & Ciocalteu, 1944). Pada
kenyataannya reagen ini mengandung rangkaian polimerik yang memiliki
bentukan umum dengan pusat unit tetrahedral fosfat (PO4)3- yang dikelilingi
oleh beberapa unit oktahedral asam-oksi molibdenum. Struktur tungsten dapat
dengan bebas bersubstitusi dengan molibdenum.
Prinsip metode Folin-Ciocalteu adalah oksidasi gugus fenolik
hidroksil. Pereaksi ini mengoksidasi fenolat (garam alkali), mereduksi asam
heteropoli menjadi suatu kompleks molibdenum-tungsten (Mo-W). Fenolat
hanya terdapat pada larutan basa, tetapi pereaksi Folin-Ciocalteu dan
produknya tidak stabil pada kondisi basa. Selama reaksi belangsung, gugus
fenolik-hidroksil bereaksi dengan pereaksi Folin-Ciocalteu, membentuk
kompleks fosfotungstat-fosfomolibdat berwarna biru dengan struktur yang
belum diketahui dan dapat dideteksi dengan spektrofotometer. Warna biru
yang terbentuk akan semakin pekat setara dengan konsentrasi ion fenolat
yang terbentuk, artinya semakin besar konsentrasi senyawa fenolik maka
semakin banyak ion fenolat yang akan mereduksi asam heteropoli sehingga
warna biru yang dihasilkan semakin pekat (Singleton & Rossi, 1965).
Menurut Neilsen (2003), kandungan zat-zat kimia yang terdapat
dalam rimpang kunyit adalah sebagai berikut :
a. Zat warna kurkuminoid yang merupakan suatu senyawa diarilheptanoid 3-
4% yang terdiri dari Curcumin, dihidrokurkumin, desmetoksikurkumin
dan bisdesmetoksikurkumin.
b. Minyak atsiri 2-5% yang terdiri dari seskuiterpen dan turunan
fenilpropana turmeron (aril-turmeron, alpha turmeron dan beta turmeron),
kurlon kurkumol, atlanton, bisabolen, seskuifellandren, zingiberin, aril
kurkumen, humulen.
c. Tanin.
IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa :


DAFTAR REFERENSI

Arnelia. 2002. Fito-Kimia Komponen Ajaib Cegah PJK, DM, dan Kanker
http://Puslitbangbogor.go.id/ 12 November 20015.

Folin, Octo, Ciocalteu, Vintila, 1944. On Tyrosine and Tryptophane


Determinations in Proteins, Jour.Bio.Chem., 73 : 627-650, 1927, in. Todd-
Sanford, 10, 412.

Hainrich, Michael., Barnes, Joanne., Gibbons, Simon., Williamso, Elizabeth M.


2004. Fundamental of Pharmacognosy and Phytotherapi. Hungary: Elsevier.

Harborne, J. B. 1987. Metode Fitokimia: Penuntun Cara Modern Menganalisis


Tumbuhan. Bandung: Penerbit ITB.

Hattenschwiller, S dan Vitousek, P. M. 2000. The role of polyphenols interrestrial


ecosystem nutrient cycling. Review PII: S0169-5347(00)01861-9 TREE vol.
15, no. 6 June 2000.

Neilsen, S.S. 2003. Food Analysis. New York: Plenun Publishers.

Nely. Fani. 2007. Aktivitas Antioksidan Rempah Pasar dan Bubuk Rempah Pabrik
dengan Metode Polyfenol dan Uji Aom. Skripsi tidak diterbitkan. Bogor:
Jurusan Teknik Pertanian Institut Pertanian Bogor.

Romero, R., Bagur, M.G., Gazquez, D., Sanchez-Vinas, M., Cuadros-Rodrigues,


L., and Ortega, M. 2004. Estimation of the Main Source of Uncertainty in
Chromatographic Analysis: Determination of Biogenic Amines. LCGC The
Application Notebook: Supplement To LCGC North America, June: 95103

Sartini., M. Natsir Djide., Gemini Alam. 2007. Ekstraksi Komponen Bioaktif Dari
Limbah Kulit Buah Kakao Dan Pengaruhnya Terhadap Aktivitas Antioksidan
Dan Antimikroba. Jurnal Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin,
Makassar.

Singleton, V.L., & Rossi, J.A., 1965, Colorimetry of Total Phenolic with
Phosphomolybdic-Phosphotungstic Acid Reagent, Am. J. Enol. Vitic, 16, 147.