Anda di halaman 1dari 12

Anamnesis1

Dalam anamnesis umum berisi identitas pasien, dari anamnesis bukan hanya dapat
diketahui siapa pasien, namun juga dapat diketahui bagaimana pasien dan permasalahan pasien.
Identitas pasien terdiri dari nama pasien, umur, jenis kelamin, alamat, agama dan pekerjaan pasien.

Keluhan utama

Merupakan keluhan atau gejala yang mendorong atau membawa penderita mencari
pertolongan. Biasanya merupakan ada atau tidak nyeri, oedem, keterbatasan gerak sendi akibat
fraktur. (pada kasus pasien dibawa ke UGD RS karena tidak dapat berdiri dan kesakitan ketika
berusaha mengangkat pahanya)

Riwayat Penyakit Sekarang

Menggambarkan riwayat penyakit secara lengkap dan jelas. Yang biasa ditanyakan adalah
kapan terjadi fraktur, mekanisme terjadinya fraktur, penanganan pertama setelah trauma, dimana
letak keluhan, faktor yang memperberat dan memperingan keluhan. (pada kasus pasien baru saja
mengalami fraktur karena jatuh ketika mengendarai motor dengan kecepatan sedang)

Riwayat penyakit dahulu

Riwayat penyakit baik fisik maupun psikiatrik yang pernah diderita sebelumnya. Dapat
diketahui apakah pasien dulu pernah mempunyai penyakit yang serius, trauma, pembedahan.

Riwayat keluarga

Penyakit-penyakit dengan kecenderungan herediter atau penyakit menular, misalnya apakah di


dalam keluarga pasien ada yang mempunyai penyakit, misalnya apakah mempunyai penyakit pada
tulang.

Riwayat pribadi

Menggambarkan hobby, olahraga, pola makan, minum alkohol, kondisi lingkungan baik
di rumah, sekolah atau tempat kerja yang mungkin ada hubungannya dengan kondisi pasien.

Pemeriksaan Fisik2-4

1
Pertama hal yang harus di periksa adalah kesadaran apakah masih dalam kesadaran penuh
atau tidak. Setelah itu periksa tanda- tanda vitalnya seperti tekanan darah, suhu tubuh, denyut nadi
dan frekuensi pernapasannya. Perlu juga di periksa apakah adanya syok, perdarahan atau kelainan
patologis lainnya. Seperti pada skenario terlihat adanya edema, hematom dan deformitas pada
regio distal femur dextranya. Pemeriksaan fisik berikut bisa dilakukan:

Inspeksi (Look)
Arti inspeksi adalah dilihat. Dilihat secara anterior, posterior dan lateral dari frakturnya dengan
melihat bagian yang dikeluhkan oleh pasien tersebut apakah ada pembengkakan, memar dan
deformitas. Apakah ada hal lain yang abnormal. Hal lain yang juga penting adalah jika kulit
tersebut robek atau tidak. Serta luka yang memiliki hubungan dengan fraktur tersebut.Hal-hal
yang dapat diamati dalam kasus ini ada pada extermitas bawah pasien adalah adanya edema
atau bengkak ataupun perubahan warna kulit pada daerah regio femur dextra 1/3 distal karena
adanya hematom dan tampak deformitas.
Palpasi (Feel)
Palpasi adalah meraba, jika ada nyeri tekan ditempat fraktur tersebut. Perlu juga memmeriksa
nadi/ pulsasi apakah lemah atau kuat di tempat tersebut. Bisa saja terjadi cedera pembuluh
darah yang menunjukan keadaan darurat yang perlu pembedahan.Pada kasus saat dipalpasi
atau feel di dapatkan nyeri tekan dan terabanya pulsasi distal.
Pergerakan (Movement)
Pada pergerakan dapat ditemukan gerakan abnormal seperti krepitasi atau bunyi kretek-
kretek pada sendi yang terdapat fraktur terutama pada sendi lutut dengan. Dengan cara Tes
Thomas dapat diketahui krepitasi tersebut. Tapi lebih penting untuk menanyakan apakah
pasien dapat menggerakan sendi- sendi di bagian yang mengalami cedera jika pasien tersebut
masih dalam keadaan sadar.Pada kasus gerakan tungkai pasien terbatas dan adanya krepitasi
Neiurovaskular distal (NVD)
Hal yang dinilai adalah pulsus arteri, sensasi motorik dan sensorik. Pada fraktur femur distal
ini perlu dilakukan pemeriksaan terhadap arteri poplitea.

Pemeriksaan Penunjang5

2
Rontgent Radiologi
Fraktur dapat terlihat dengan pemeriksaan klinik. Walaupun demikian, pemeriksaan
radiologis diperlukan untuk keadaan serta lokasi fraktur. Untuk menghindari kesalahan
dalam penatalaksanaan diperlukan pemeriksaan foto tulang ini. Tujuannya untuk konfirmasi
adanya fraktur, bagaimana letak dan jenis frakturnya. Dari foto juga bisa diperkirakan kapan
fraktur nya terjadi, apakah baru atau sudah dari lama. Serta melihat benda asing yang masuk
ke tulang itu apa tidak, walau misalnya fraktur itu tertutup, tetap harus dilihat juga supaya
tidak salah dalam pengobatan.5

Gambar Gambaran radiologi pada fraktur suprakondilar femur

MRI (Magnetic Resonance Imaging)


MRI menghasilkan gambar yang dapat menunjukan perbedaan yang sangat jelas dan lebih
sansitif untuk menilai anatomi jaringan lunak dalam tubuh terutama otak, sumsum tulang
belakang, saraf dibanding CT Scan atau X-ray biasa. MRI juga bisa digunakan untuk susunan
muskuloskeletal seperti otot, ligament, tendon, ruang sendi atau pun fraktur. Tapi struktur
tulang akan lebih dapat diteliti lebih baik dengan CT Scan.

Gambar. Foto MRI pada lutut kanan

CT Scan (Computer Tomography Scan)

3
CT Scan adalah jenis x-ray khusus yang menggunakan komputer. Mirip dengan MRI hanya
saja CT dibuat lebih mudah untuk melihat tumor dalam jaringan otak. CT sangat baik untuk
struktur tulang.

Gambar. Femur pada foto CT Scan

Working Diagnosis5-6

Fraktur Femur
Dalam hal ini, laki- laki itu merasa kesakitan pada paha bagian distalnya sebelah kanan.
Pada paha manusia hanya ada satu tulang, yaitu tulang femur. Jadi diaognosis fraktur & dislokasi
bisa disingkirkan. Selain itu, pasien mengalami fraktur dibagian distal femur kanan yang berarti
dislokasi femur juga tidak memungkinkan karena dislokasi femur terjadi pada caput femur yang
terlepas dari fossa acetabulum tulang pelvis. Dengan demikian, diagnosis fraktur dislokasi juga
tersingkirkan.
Jadi, diagnosis pada pasien ini adalah fraktur femur pada bagian 1/3 distal dextra nya. Dari
bukti foto rontgent radiologi pasti bisa menambah bukti bahwa adanya fraktur di bagian tersebut.
Karena fraktur pasien terletak pada 1/3 distal femur kanan yang mendekati lututnya, jadi
kemungkinan fraktur tersebut terletak di daerah supracondylar. Fraktur pasien ini juga
digolongkan ke closed fracture atau fraktur tertutup karena tidak adanya luka, lesi atau benda dari
luar yang masuk ke paha dan lututnya.

Gambar. Epicondylus pada bagian distal femur

4
Differential Diagnosis

1. Fraktur5
o Jenis Fraktur
- Tanda tidak pasti fraktur: edema, nyeri, memar.
- Tanda- tanda fraktur: nyeri gerak, nyeri sumbu, krepitasi ditempat fraktur.
- Tanda pasti fraktur: pemendekan, rotasi, angulasi, false movement.

Secara umum, fraktur dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bagian yaitu :

o Berdasarkan keutuhan kulit


Fraktur tertutup (closed) bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia
luar.
Fraktur terbuka (open/compound), bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan
dunia luar karena adanya perlukaan di kulit. Fraktur terbuka terbagi atas tiga derajat
(menurut R. Gustillo) yaitu:
Derajat I:
Luka <1cm
Tidak kotor
Fraktur sederhana, transversal, oblik, atau kominutif ringan.
Derajat II :
Laserasi 1- 10cm
Luka sedikit kotor
Kerusakan jaringan tendon (sedikit)
Fraktur kominutif sedang
Derajat III :
Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur kulit, otot, dan neurovaskular
serta kontaminasi derajat tinggi. Fraktur derajat III terbagi atas:
a. Luka >10cm, Tulang rusak secara komunitif, banyak oto rusak, kulit masih dapat
menutup luka.
b. Adanya kulit yang tidak dapat menutup luka (skin loss)
c. Terdapat lesi neuro- vaskuler (mengenai saraf)

5
Berdasarkan bentuk patah tulang5
o Fraktur complete yaitu pemisahan tulang menjadi 2 fragmen
o Fraktur incomplete yaitu patah bagian dari tulang tanpa adanya pemisahan.
o Fraktur comminate yaitu fraktur lebih dari 1 garis fraktur, fragmen tulang patah
menjadi beberapa bagian.
o Impacted fraktur yaitu salah satu ujung tulang menancap ke tulang didekatnya

Berdasarkan garis patahnya5


o Green stick yaitu retak pada sebelah sisi tulang, sering terjadi pada anak-anak
dengan tulang lembek/ tulang yang masih dalam pertumbuhan.
o Transverse yaitu patah tulang pada posisi melintang.
o Longitudinal yaitu patah tulang pada posisi memanjang
o Oblique yaitu garis patah miring
o Spiral yaitu garis patah melingkar tulang
o kominitif adalah fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa fragmen
o kompresi adalah fraktur dengan tulang mengalami kompresi (biasanya tulang
belakang

Gambar. Jenis- jenis fraktur.

Sementara itu, klasifikasi fraktur femur sendiri dapat dibagi menjadi beberapa bagian, tergantung
pada letak fraktur yang terjadi, yaitu:
a) Fraktur Collum Femur
Fraktur collum femur sering terjadi pada usia di atas 60 tahun dan lebih sering pada wanita
yang disebabkan oleh kerapuhan tulang akibat kombinasi proses penuaan dan osteoporosis
pasca menopause. Fraktur collum femur dapat disebabkan oleh trauma langsung, yaitu

6
misalnya penderita jatuh dengan posisi miring dimana daerah trochanter mayor langsung
terbentur dengan benda keras (jalanan) ataupun disebabkan oleh trauma tidak langsung, yaitu
karena gerakan exorotasi yang mendadak dari tungkai bawah.
Fraktur collum femur sendiri dibagi dalam dua tipe, yaitu:
1. Fraktur intrakapsuler
2. Fraktur extrakapsuler
b) Fraktur Subtrochanter Femur
Fraktur subtrochanter femur merupakan fraktur dimana garis patahnya berada 5 cm distal dari
trochanter minor. Fraktur ini dapat diklasifikasikan kembali berdasarkan posisi garis
patahnya, yaitu:
1. tipe 1 : garis fraktur satu level dengan trochanter minor
2. tipe 2 : garis patah berada 1-2 inch di bawah dari batas atas trochanter minor
3. tipe 3 : garis patah berada 2-3 inch di bawah dari batas atas trochanter minor
c) Fraktur Batang Femur
Fraktur batang femur biasanya terjadi karena trauma langsung akibat kecelakaan lalu lintas
atau jatuh dari ketinggian. Patah tulang yang terjadi pada daerah ini dapat menimbulkan
perdarahan yang cukup banyak dan dapat mengakibatkan penderita jatuh dalam kondisi syok.
salah satu klasifikasi fraktur batang femur dibagi berdasarkan adanya luka yang berhubungan
dengan daerah yang patah.
d) Fraktur Femur Supracondyler
Fraktur ini relatif lebih jarang dibandingkan fraktur batang femur. Seperti halnya fraktur
batang femur, fraktur suprakondiler dapat dikelola secara konservatif dengan traksi skeletal
dengan lutut dalam posisi fleksi 90. Fraktur supracondyler pada fragmen bagian distal selalu
terjadi dislokasi ke arah posterior. Hal ini biasanya disebabkan karena adanya tarikan dari
otototot gastroknemius. Biasanya fraktur supracondyler ini disebabkan oleh trauma langsung
karena kecepatan tinggi sehingga terjadi gaya axial dan stress valgus atau varus dan disertai
gaya rotasi.
e) Fraktur Femur Intercondyler
Fraktur ini juga relatif jarang dan biasanya terjadi sebagai akibat jatuh dengan lutut dalam
keadaaan fleksi dari ketinggian. Permukaan belakang patella yang berbentuk baji , melesak

7
ke dalam sendi lutut dan mengganjal di antara kedua kondilus dan salah satu atau keduanya
retak. Pada bagian proksimal kemungkinan terdapat komponen melintang sehingga didapati
fraktur dengan garis fraktur berbentuk seperti huruf T atau Y.

2. Dislokasi
Dislokasi adalah peristiwa dimana tulang lepas dari tempat yang seharusnya. Jadi
kmisalnya pada caput femur yang lepas dari fossa acetabulum atau caput humerus yang lepas
dari scapula.

3. Fraktur Dislokasi
Fraktur ini terjadi pada tulang yang sama. Jadi, pada satu tulang terdapat patahan, dan
tulang itu juga lepas dari tempat yang seharusnya. Patahannya bisa berbentuk apa saja.
Misalnya pada caput femur yang lepas dari fossa acetabulum dan pada batang nya mengalami
patahan.
4. Fraktur & Dislokasi
Fraktur dan dislokasi berarti terjadi pada tulang yang berbeda. Jadi ada 2 tulang dalam
hal ini. Patahannya pun juga bisa apa saja. Satu tulang mengalami fraktur dan satunya
mengalami dislokasi. Contohnya pada tulang ulna yang mengalami patah dan lepasnya dari
tulang radius.

Manifestasi Klinik
a. Deformitas
Daya tarik kekuatan otot menyebabkan fragmen tulang brrpindah dari tempatnya perubahan
keseimbangan dan contur terjadi seperti :

Rotasi pemendekan tulang


Penekanan tulang
b. Bengkak : edema muncul secara cepat dari lokasi dan ekstravaksasi darah dalam jaringan yang
berdekatan dengan fraktur.
c. Echumosis dan perdarahan subculaneus
d. Spasme otot spasme involunters dekat fraktur.
e. Tendernes/keempukan

8
f. Nyeri mungkin disebabkan oleh spasme otot berpindah tulang dari tempatnya dan kerusakan
struktur di daerah yang berdekatan.
g. Kehilangan sensasi (Mati rasa, munkin terjadi dari rusaknya saraf / perdarahan)
h. Pergerakan abnormal
i. Syock hipovolemik dari hilangnya hasil darah.
j. Krepitasi

Penatalaksanaan7

Medika Mentosa

Pemberian obat- batan pada penderita trauma dengan fraktur tidak banyak. Hanya saat
operasi, perlu diberikan anastesi. Karena pembedahan ekstremitas bawah lebih kompleks dari
ektremitas atas, maka diperlukan Spine anasthetic. Serta setelah operasi, pasien harus diberi
antibiotika dosis tinggi.

Non- Medika Mentosa


Pasien dengan fraktur membutuhkan istirahat yang cukup untuk memulihkan tulang
dan sendi- sendi disekitarnya. Pasien harus terus memantau perkembangan pasca operasi, dan
harus merehabilitasi kaki yang dioperasi supaya bisa kembali berjalan.
Tindakan Pembedahan
Pengelolaan penderita yang terluka memerlukan penilaian yang cepat dan pengalolaan
yang tepat untuk menghindari kematian. Pada penderita trauma, waktu sangatlah penting,
karena itu diperlukan adanya suatu cara yang mudah dilaksanakan. Sebelum mengambil
keputusan untuk melakukan pengobatan, prinsip pada fraktur ada 4 atau prinsip 4R:7
o Recognition
Yaitu penilaian dan diagnosis fraktur. Prinsip pertama adalah mengetahui dan menilai
keadan fraktur dengan anamnesis dan pemeriksaan klinik serta radiiologis. Pada awal
pengobatan perlu diperhatikan juga lokalisasi fraktur, bentuk fraktur, menentukan teknik
yang sesuai untuk pengobatan dan komplikasi yang mungkin terjadi setelah pengobatan.

o Reduction
9
Yaitu reduksi draktur atau tindakan pengembalian tulang ke posisi semula agar dapat
berfungsi kembali seperti semula. Pada fraktur intra-artikuler diperlukan reduksi atau
dibenarkan secara anatomis dan mengembalikan fungsi normal. Tidak hanya tulang, sendi
pun juga harus dibenarkan untuk mencegah komplikasi seperti kekakuan, dan deformitas.
o Retaining
Artinya tindakan imonilisasi untuk mengistirahatkan alat gerak yang sakit tersebut sampai
mendapat kesembuhan. Dalam kasus ini laki- laki tersebut berarti harus istirahat dengan
tidak boleh banyak berjalan karena akan berdampak pada femurnya.
o Rehabilitation
Adalah tindakan untuk mengembalikan kemampuan dari anggota atau alat gerak yang
sakit agar dapat berfungsi kembali. Berarti pasien harus berlatih berjalan misalnya dengan
gips, atau tongkat supaya tulang femurnya bisa berfungsi dengan baik.

Terapi pada fraktur dapat berupa operatif dan non- operatif:7

a.
Terapi non-operatif
Terapi non-operatif termasuk reduksi tertutup dan traksi skeletal dengan
membenarkan lewat operasi tertutup dan imobilisasi cast yaitu dengan gips. Metode ini
diharuskan dengan kenyamanan di tempat tidur, waktu yang lama, mahal, dan tidak cocok
dengan pasien dengan kerusakan multiple serta pasien yang tua.
Beberapa fraktur dapat direduksi dengan traksi yang melewati traksi skeletal yang
melewati distal femur atau proximal tibia. Tapi, pemasangan dari pin pada distal femur
bisa menjadi sulit karena bisa menjadi pembengkakan jaringan lunak (tendon),
hemaarthrosis dan fraktur komunisi.

Gambar. A) titik masuk pin 2cm dibawah dan belakang dari tuberositas tibia. B) pin dimasukan dari
lateral ke medial. C) pin terpasang paralel menghadap ke sendi lutut.
7
b. Terapi operatif

10
Lebih dikenal dengan tindakan ORIF (Open Reduction Internal Fixation). Dengan
internal fiksasi dapat menjadi cara reduksi fraktur, khususnya pada permukaan sendi. Jika
fasilitas tersedia, terapi ini menjadi suatu pilihan yang baik. Pada pasien yang lebih tua,
imobilisasi yang lebih cepat merupakan hal penting dan fiksasi internal merupakan suatu
yang wajib dilakukan. Kadang, keadaan tulang yang osteoporotic, namun perawatan di
tempat tidur lebih mudah dan pergerakan lutu dapat dimulai lebih cepat. Alat yang
digunakan adalah:
Locked internal medullary nail untuk tipe fraktur ringan
Plat, dipasang pada permukaan lateral femur. (cocok untuk tipe fraktur berat)
Lag screw, cocok untuk tipe fraktur sedang yang dipasang paralel dengan kepala screw
dimasukan kedalam sendi untuk menghindari pengelupasan dari permukaan sendi juga
menjaga untuk menghindari kerusakan supracondylar.

Komplikasi3,8

a. Komplikasi dini
Kerusakan arteri. Insiden kerusakan arteri memang jarang, tapi juga harus diwaspadai.
Contohnya seperti kerusakan arteri poplitea setelah trauma. Hal ini terjadi karena kumpulan
vaskular terhambat. Serta bisa juga karena laserasi langsung.
b. Komplikasi lanjut
o Kekakuan sendi lutut. Hal ini hampir tidak dapat dihindari, karena itu diperlukan banyak
latihan.
o Non-union. Hal ini dapat disertai kekakuan lutut dan mungkin diakibatkan oleh gerakan
lutut yang dipaksakan terlalu awal. Fraktur sulit diterapi dan kecuali kalau dilakukan
dengan hati- hati.
o Mal-union. Fiksasi internal sangat sulit dan malunion kadang terjadi. Osteotomi
dibutuhkan pada pasien yang masih melakukan aktivitas fisik untuk melakukan koreksi
terhadap malunion yang terjadi.

Prognosis8

11
Prognosis dari kasus fraktur femur tergantung tipe dan tingkat keparahan fraktur. Semakin
kompleks fraktur yang terjadi, semakin jelek prognosisnya. Pada umumnya terapi yang sesuai akan
memberikan hasil yang baik pada pasien.

Kesimpulan

Kesimpulannya laki- laki itu menderita fraktur femur tertutup pada bagian 1/3 distal dextra.
Maka hipotesis terbukti. Fraktur tersebut kemungkinan besar terletak dibagian supracondylar.
Bentuk frakturnya bisa bermacam- macam. Maka dari itu, diperlukan pemeriksaan fisik dan
penunjang seperti foto polos tulang radiologis untuk memastikannya. Selanjutnya adalah tindakan
pembedahan jika perlu. Karna frakturnya tetutup dan masih di kategori ringan, maka cara operatif
lah yang baik serta dengan locked internal medullary nail yang cocok untuk fraktur pasien ini.
Namun, jika tidak ditangani dengan cepat dan benar, komplikasi dapat terjadi. Jadi, pasien dengan
fraktur harus ditangani dengan cepat dan tepat.

12