Anda di halaman 1dari 77

Relief

Bentuk wilayah : keadaan tinggi rendah suatu wilayah di permukaan bumi


ditinjau dari segi perbedaan tinggi dan kemiringannya (lereng)
atau
Bentuk ketidakteraturan secara vertikal, baik dalam ukuran besar maupun
kecil dari permukaan litosfer.
Misal :
Berombak, bergelombang, berbukit, dan lain-lain

Topografi
Menyatakan ketinggian tempat di permukaan bumi dengan ukuran satuan
ketinggian tertentu
Relief Orde I
Benua dengan paparan, dan cekungan samudera
Contoh :
Benua Asia, Afrika, Australia, Eropa, dan Amerika
Paparan (Bagian dari benua yang ditutupi laut merupakan daerah dangkal 200
m di bawah permukaan laut). Di Indonesia tdpt paparan Sunda dan Sahul
Cekungan Samudera : atlantik, Pasifik, dan India

Relief Orde II
Mrpk bagian dari benua dan cekungan samudera, berupa deretan
pegunungan-pegunungan besar, plateau, dan deretan daratan.

Relief Orde III


Terdiri dr lekuk-lekuk dan bentuk-bentuk yang relatif kecil spt bukit-bukit,
lembah-lembah, punggungan, cekungan danau, gunungapi, kipas alluvial,
delta, gawir, buttes, mesa
Pembentukan relief Orde III banyak dipengaruhi oleh kerja destruktif sungai,
glasial, gelombabang, angin.
Sunda Shelf (paparan Sunda) bagian dari Eurasia Plate. Sedangkan yang timur bagian dari
Australian Plate.
Batasnya sudah diperkirakan oleh ahli biologi Wallace, disebut Wallace line.
Cirinya Indonesia barat lautnya dangkal, Indonesia Timur lautnya sangat dalam.
Bentuk-bentuk destruksi oleh sungai :
Bentuk-bentuk erosi : gullies (alur), valleys (lembah), gorges (jurang),
dan canyon.
Bentuk-bentuk residu : puncak-puncak (peaks), bukit sisa (monadnocks)
Bentuk-bentuk endapan : kipas alluvial (aluvial fans), dataran banjir (flood
plains), dan delta
12 km west of Alora, along the river
Guadalhorce, El Chorro is a breathtaking
gorge formed by the river. 200 meters high,
with a narrow opening leading to the
reservoir now formed by the dam, it is an
amazing site.
Deep Canyon (jurang tebing-terjal)
Grand Canyon adalah sebuah jurang tebing-terjal, diukir oleh Sungai Colorado, di utara Arizona.
a monadnock in North Carolina, United States.
A monadnock or inselberg is an isolated rock hill, knob, ridge, or small mountain that rises
abruptly from a gently sloping or virtually level surrounding plain.
Kipas Aluvial : kenampakan
berbentuk kipas dari
endapan alluvial, pada
mulutlembah di daerah
pegunungan yang
penyebarannya memasuki
wilayh dataran.
Gambar : kipas Aluvial
Kudus
Bentuk-bentuk destruksi Gelombang :
Bentuk-bentuk erosi : gua-gua laut atau pantai (sea caves)
Bentuk-bentuk residu : tebing akibat benturan atas erosi ombak (wave-
cutcliff), batu tanggul (banchis), gerbang laut (stacks), dan tubir laut
(arches)
Dengan bantuan endapan arus laut berupa beting (beaches) dan gosong-
gosong (bars).

Bentuk-bentuk destruksi Angin:


Erosi atau pengikisan : lubang tiupan (blowholes) di daratan atau daerah-
daerah berpasir
Bentuk-bentuk residu : tiang (padestral) dan batuan cendawan
(mushroom rocks)
Bentuk-bentuk endapan : gumuk-gumuk pasir (sand dunes) dan losess
Bentuk-bentuk destruksi Glasier :
Bentuk-bentuk erosi : cirques dan glacial troughs
Bentuk-bentuk residu : puncak-puncak matter horn (matter horn peaks),
aretes, dan roches mountonnees
Bentuk-bentuk endapan : moraines, drumlins, kames, dan eskers
Terrain
Merupakan istilah yang diperuntukkan guna menyatakan keadaan medan
suatu wilayah di permukaan bumi, baik keadaan reliefnya,
vegetasi/penggunaan lahan, adanya sungai-sungai, rawa-rawa, sifat-sifat
umum batuan dan lahan, dll.
Istilah ini digunakan terutama untuk keperluan militer (PD I, II)
The collection, analysis, evaluation, and interpretation of geographic
information on the natural and manmade features of the terrain, combined
with other relevant factors, to predict the effect of the terrain on military
operations. Military Dictionary (DOD, NATO)

Digital Geomorphometry based on the use of DEMs is nowadays covered by the


concept of terrain analysis (Wilson dan Gallant, 2000)
Digital Terrain Analysis
The use of remote sensing satellite data for mapping various aspects of terrain, such as land cover, land
use, and soils. Software may then be utilized to derive terrain parameters, such as aspect, catchment
area, and wetness index, which are then used to describe the morphology of the landscape and the
influence of topography on environmental processes.

C:/Sleman/3_D/m
obil_3D.sxd
Imagery

Digital
Terrain Data
(DEM)

3D
Digital Model
2007 Intermap Technologies, Inc. All rights reserved.

D:/Military/
Morphometric parameters
elevation change gradients (slope)
orientation gradients (aspect, steepest downhill slope, viewshed) 3D Analyst
curvature gradients (horizontal or tangent curvature) C:/Sleman/3_D/srtm_slm_box

vertical or profile curvature (mean curvature


combined gradients (tangential curvature).
Generic landforms
Stream channel (Valley bottom) - Locations of water accumulation and transition; high number of upstream elements and
concave shapes.
Ridge (Peak) - Locations of water run-off; lowest upstream contributing area and convex shapes.
Slope - Sloping part with generally higher shape complexity.
Plain (Terrace) - Flat areas of low relief and low shape complexity.
Pit - Conical concave landform.
D:/military/tinkrsb_ras
Perencanaan dan Operasi Militer

Drop Zone 1

Target Objective

Drop Zone 2

Pemahaman karakteristik medan menentukan akses yang efektif


Landscape (bentanglahan)
Panorama atas suatu hamparan daratan yang terdiri dari berbagai keadaan
alam baik alami maupun buatan manusia (artifisial).
Landscape comprises the visible features of an area of land, including
physical elements such as landforms, living elements of flora and fauna,
abstract elements like lighting and weather conditions, and human elements
like human activity and the built environment.
Landform (bentuklahan)
Bentukan alam di permukaan bumi yang terjadi karena proses pembentukan
tertentu dan melalui serangkaian evolusi tertentu pula.
atau
Bagian dari permukaan bumi yang mempunyai bentuk khas sebagai akibat
pengaruh dari proses, struktur geologi, dan batuan selama periode waktu
tertentu. Oleh karena itu bentuklahan ditentukan oleh faktor-faktor
topografi, struktur geologi, batuan, dan proses eksogen.
atau
merupakan bentangan permukaan lahan yang mempunyai relief khas
karena pengaruh kuat dari struktur kulit bumi dan akbibat dari proses alam
yang bekerja pada batuan di dalam ruang dan waktu tertentu. Masing-
masing bentuklahan dicirikan oleh adanya perbedaan dalam hal struktur
dan proses geomorfologi, relief/topografi dan material penyusun/litologi
(Strahler, 1983 dan Whiton, 1984).

Misal :
Teras sungai : proses sedimentasi oleh aktivitas sungai dan
berkembang sampai terbentuknya (evolusi)
(1) Structural Landforms - landforms that are created by massive earth
movements due to plate tectonics. This includes landforms with some of the
following geomorphic features: fold mountains, rift valleys, and volcanoes.
(2) Weathering Landforms - landforms that are created by the physical or
chemical decomposition of rock through weathering. Weathering produces
landforms where rocks and sediments are decomposed and disintegrated.
This includes landforms with some of the following geomorphic features:
karst, patterned ground, and soil profiles.
(3) Erosional Landforms - landforms formed from the removal of weathered
and eroded surface materials by wind, water, glaciers, and gravity. This
includes landforms with some of the following geomorphic features: river
valleys, glacial valleys, and coastal cliffs.
(4) Depositional Landforms - landforms formed from the deposition of
weathered and eroded surface materials. On occasion, these deposits can
be compressed, altered by pressure, heat and chemical processes to become
sedimentary rocks. This includes landforms with some of the following
geomorphic features: beaches, deltas, flood plains, and glacial moraines.
The chief morphotectonic features of a passive continent margin with mountains. Source:
Adapted from Ollier and Pain (1997)
The three main types of geomorphic surfaces. The gure shows the position
of each surface at time1 and time2.
After Follmer (1982).
Landforms at different scales and their interactions with exogenic and endogenic processes.
Geomorphology includes

a) Endogenic Processes or Agents:


Volcanism
Plate Tectonics \
Diastrophism: Folding, Faulting, Warping
b) Exogenic Processes and Agents:
Weathering
Mass Wasting
Agents of Erosion, Transportation, and Depositional
o Alluvial/Fluvial (flowing water)
o Glacial (ice)
o Eolian (wind)
o Coastal (waves)
I. Geomorphology
is the scientific study of landscapes and the processes that
shape them. The science of geomorphology has two major
goals.
1. One is to organize and systematize the description of
landscapes by intellectually acceptable schemes of
classification.
2. The other is to recognize in landscapes evidence for
changes in the processes that are shaping them and
have shaped them (Arthur Bloom)

http://www.uwm.edu/Course/416-403/geomorph_rs_apps.htm
II. Geomorphology
is the study of landforms and landscapes,
including the description, classification, origin,
development, and history of planetary surfaces.
Geomorphology seeks to identify the regularities
among landforms and what processes lead to
patterns. (Predictability).

http://www.uwm.edu/Course/416-403/geomorph_rs_apps.htm
III. Geomorphology
Studi mengenai bentuk bumi (Derbyshire, 1979, p. 15)
Studi tentang bentuk lahan (landform)

Lingkup studi
Derbyshire, 1979, p. 17

F = f(P,M) dt
F : Landform (bentuklahan)
f : Fungsi dari
P : Proses
M : Material
dt : Perubahan menurut waktu
Derbyshire membedakan 4 level dari studi geomorfologi

Level 1 : study of elements of the equation


(studi tentang bentuklahan, proses, dan material, masing-masing
secara terpisah)

Level 2 : Balancing the equation


Mencari hubungan timbal balik antara bentuklahan, proses, dan
material pada suatu daerah tertentu pada saat tertentu pula

Level 3 : Differenciating the equation


Termasuk dalam hal ini pengujian cara-cara mengetahui hubungan
timbal balik antara ketiga elemen tersebut dan variasinya menurut
waktu

Level 4 : Applying the equation


Penggunaan manfaat dari ketiga level tsb di atas untuk maksud
pengelolaaan lingkungan
IV. Geomorphology
is the study of landforms
(Lobeck, 1939)

V. Geomorphology
is the science of landforms
(Thornbury, 1954)

VI. Geomorphology
is the study whichdescribes landforms and the process which
their formation, and investigates the interrelationship, of
these forms and process and their special arragement
(Van Zuidam, et. al., 1979)
VII. Geomorphology
is the study of landforms, and in particular of their nature,
origin, processes of development, and material
composition.
(Cooke, et. al., 1974)

VIII. Geomorphology
Dalam lingkup studi geomorofologi tercakup:
Bentuk lahan (landform)
Proses-proses geomorfologi
Genesis (asal-usul/perkembangan jangka panjang)
(Verstappen, 1977, p. 2)
Karmono Mangunsukardjo (1986) menjabarkan 4 aspek geomorfologi :

1. Studi mengenai bentuklahan, atau disebut dengan morfologi,


mempelajari relief secara umum yang meliputi aspek :

a). Morfologi
Yakni aspek-aspek yang bersifat pemerian suatu daerah, antara
lain teras sugai, beting pantai, kipas aluvial dan plato

b). Morfometri
Yakni aspek-aspek kuantitatif dari suatu daerah seperti
kemiringan lereng, bentuk lereng, ketinggian, beda tinggi,
kekerasan medan, bentuk lembah, tingkat pengikisan dan pola
aliran
2. Studi mengenai proses geomorfologi,
Yakni proses yang mengakibatkan perubahan bentuklahan dalam
waktu pendek serta proses terjadinya bentuklahan yang mencakup
morfogenesa, dengan aspek-aspek :

a). Morfo-struktur pasif


meliputi litologi (tipe dan struktur batuan) yang
berhubungan dengan pelapukan

b). Morfo-struktur aktif


berupa tenaga endogen

c). Morfo-dinamik
berupa tenaga eksogen yang berhungan dengan tenaga
angin, air, es, gerak masa batuan dan volkanisme
3. Studi geomorfologi yang menekankan pada evolusi pertumbuhan
bentuklahan atau morfo-kronologi, menentukan dan memerikan
bentuklahan dan proses yang mempengaruhinya dari segi umur relatif
dan umur mutlak

4. Geomorfologi yang mempelajari hubungannya dengan lingkungan,


studi ini mempelajari hubungan antara bentuklahan dengan unsur-
unsur bentangalam seperti batuan, struktur geologi, tnnah, air,
vegetasi dan penggunaan lahan
Geomorphology should not be viewed as a product of lithosphere
processes but as part of an integrated earth-surface system of
interacting "sphere": lithosphere, hydorsphere, atmosphere, and
biosphere. Geomorphology is an environmental science as much
as it is a geologic science.
KLASIFIKASI BENTUKLAHAN
Tujuan klasifikasi bentuklahan adalah untuk mempermudah dalam
penelitian geomorfologi, yaitu dengan menyederhanakan bentuklahan
permukaan bumi yang kompleks menjadi satuan-satuan yang mempunyai
kesamaan dalam sifat dan perwatakannya.

Sifat dan perwatakan bentuklahan dicerminkan oleh kesamaan :


1. Struktur geologi : memberikan informasi morfologi, morfogenesa dan
morfokronologi
2. Proses Geomorfologi : memberikan informasi bagaimana
bentuklahan terbentuk, meliputi informasi morfografi, morfogenesa,
dan morfokronologi
3. Kesan topografi dan ekspresi topografi : konfigurasi permukaan
bentuklahan yang memberikan informasi morfometri dan bentuk
lereng.

Klasifikasi satuan bentuklahan mempunyai karakteristik tertentu yang sangat


tergantung pada skala peta yang digunakan. Semakin besar skalanya semakin
detil karakteristik yang dapat mencirikan satuan geomorfologi atau satuan
bentuk lahannya.
Beberapa dasar klasifikasi bentuklahan, a.l. :
Berdasarkan relief/topografi (Dana)
Dataran
Plateau (dataran tinggi)
Pegunungan
Dll

Berdasarkan struktur dan tingkat erosi (Davis)


Lipatan
Patahan
Dome
Volkanis
Dll
Berdasarkan Genesis (Powell, Davis, Johnson, dll)
Constructional
Destructional

Berdasarkan surface form


Plain (dataran)
Plateau (dataran tinggi)
Tebing (scarp)
Lembah (valley)
Dll

Berdasarkan ukuran (Salisbury, Barrows, Tower, dll)


Orde I
Orde II
Orde III
Dll
Masing-masing bentuk lahan dicirikan oleh adanya perbedaan
dalam hal
1. relief/topografi dan
2. material penyusun/litologi.
3. struktur dan proses geomorfologi,

Nama bentuklahan yang banyak digunakan sekarang kebanyakan


didasarkan pada paduan dari :
Genesis
Surface form (topografi)
Struktur dan tingkat erosi/pengikisan
Relief atau kesan topografi memberikan informasi tentang
konfigurasi permukaan bentuklahan yang ditentukan oleh
keadaan morfometriknya.

Litologi memberikan informasi jenis dan karakteristik batuan


serta mineral penyusunnya yang akan mempengaruhi
pembentukan bentuklahan.

Struktur geomorfologi memberikan informasi tentang asal usul


dari bentuklahan tersebut, yang dapat dilihat dari bentuklahan
utamanya.

Proses geomorfologi dicerminkan oleh tingkat pentorehan atau


pengikisan, sedangkan relief ditentukan oleh perbedaan titik
tertinggi dengan titik terendah dan kemiringan lereng.
Pemberian nama bentuklahan sebaiknya mencakup :
Relief
Struktur atau materialnya
Proses yang sedang berlangsung atau letaknya

Maksud pemberian nama tersebut : supaya karakteristik lahanya tampak dari


nama tsb.
Contoh :
Pegunungan lipatan terkikis kuat
Dataran aluvial pantai
Pegunungan kapur terkikis kuat
Seringkali nama satuan bentuklahan yang panjang seperti tersebut diganti
dengan istilah yag sudah dikenal secara luas
Misal :
Tanggul alam (natural levee)
Piedmont
Lerengkaki (foot slope)
Dike
Dll.
RELIEF :
1. datar (D)
2. landai (L)
3. berombak (B)
4. bergelombang (Gb)
5. berbukit kubah (humocky)/Bk
6. berbukit (Bt)
7. bergunung (Gn)

HUBUNGAN RELIEF LERENG DAN BEDA TINGGI (US Soil Survey)

Topografi Lereng (%) Beda tinggi (m)


Datar/hampir datar 0-2 <5
Berombak/Topografi landai 3-7 5-50
Berombak-bergelombang, topografi 8-13 25-75
miring
Bergelombang-berbukit, topografi 14-20 50-200
dengan lereng sedang
Perbukitan/topografi terjal 21-55 200-500
Pegunungan/topografi sangat terjal 56-140 500-1000
Pegunungan sangat curam >140 >1000
HUBUNGAN RELIEF LERENG DAN BEDA TINGGI (Sunardi J., 1985)

Topografi Lereng (%) Beda tinggi (m)


Datar 0-3 <5
Landai/berombak 5-8 5-10
Landai/Miring 8-15 10-25
Miring/berbukit 15-25 25-100
Miring terjal/ berbukit terjal 25-45 100-200
Terjal (berbukit terjal) 45-100 200-500
Sangat terjal (bergunung) >100 >500
Panjang LERENG (US Soil Survey)

Panjang Lereng (m) Keterangan


0 - 15 Sangat pendek
25 - 50 Pendek
50 - 250 Panjang menengah
250 - 500 Panjang
> 500 Sangat Panjang
Geomorphic components of slopes in a landscape with an open drainage system.
After Ruhe (1975b).
(b) Two-
Two-dimensional components, i.e., the ve elements of fully developed slopes.
The concept of slope gradient. (a) How slope is measured on the landscape and the two ways in which it
can be expressed (degrees and percent). (b) Limits and denitions of slope classes used by the Natural
Resources Conservation Service. Map units with complex slopes require the use of more than one term,
e.g., steep and moderately steep. The overlap of ranges allows them to be specically set for each
survey area. After the Soil Survey Division Staff (1993).
Examples of
Simple (S),
Compound (C),
Complex (Cx)
hillslope proles,
slope breaks (Br),
as viewed in cross-section.
After Ahnert (1970).
The nine basic geometric forms of hillslopes,
with owlines illustrating how water and debris (theoretically)
moves on them. After Ruhe (1975b) and Huggett (1975).
Komponen dari relief yaitu :
a. amplitude (beda tingggi anatara lembah dan puncak)
b. bentuk punggung
c. bentuk lereng
d. bentuk lembah

Aspek relief yang lain :


1. hubungan antara unit reliief kemiringan lereng dan
perbedaan tinggi relief
2. kepadatan aliran
3. pola aliran sungai
Morfologi Positif:
Gunung (Mountain)
Bukit (Hill)
Kubah (Dome)
Punggungan (Ridge)

Morfologi Negatif
Lembah (Valley)
Cekungan (Basin)
Figure 11.7b. A classification of generalized landscape profiles in which R(r) = round, F(f) = flat, and
A(a) = angular, for inferfluve (capital letter and valley losercase letter) profiles (from Ollier, 1967).
Gambaran proses geomorfologi, seperti :
1. erosi,
2. transportsi,
3. sedimentasi,
4. pelapukan, dan
5. gerak massa batuan

Disamping itu juga dapat memberikan gambaran tingkat


pentorehan dan relief permukaan secara kualitatif.
Tingkat pengikisan dinyatakan dengan angka dibelakang garis
miring dan dibedakan menjadi 5 kelas, yaitu :
1. Untuk tanpa pengikisan atau terkikis sangat ringan
2. Untuk pengikisan ringan
3. Untuk pengikisan sedang
4. Untuk pengikisan berat
5. Untuk pengikisan sangat berat.
Kerapatan drainage/tingkat pengikisan (sungai orde I)

Jennis kerapat Jarak pada Karakteristik


skala 1 : 20.000
Kerapatan halus < 0,5 cm Aliran air pemukaan sungai tingggi
Kerapatan Sedang 0,5 5 cm Aliran Permukaan Sedang
Kerapatan Kasar > 5 cm Aliran Permukaan Rendah
Bentukan Asal Denudasional (D) coklat Bentukan Asal Struktural (S) purple
D1 Perbukitan terkikis S1 Blok sesar
D2 Pegunungan terkikis S2 Gawir sesar
D3 Bukit sisa S3 Gawir garis sesar
D4 Bukit terisolasi S4 Pegunungan antiklinal
D5 Dataran nyaris S5 Perbukitan antiklinal
D6 Dataran nyaris yang terangkat S6 Pegunungan sinklinal
D7 Lereng kaki S7 Perbukitan sinklinal
D8 Pedimen (permukaan transportasi) S8 Pegunungan monoklinal
D9 Piedmont S9 Perbukitan monoklinal
D10 Gawir (lereng terjal) S10 Pegunungan dome (kubah)
D11 Kipas rombakan lereng S11 Perbukitan dome
D12 Daerah dengan gerak masa batuan kuat S12 Dataran tinggi (plateau)
D13 Lahan rusak S13 Cuesta
S14 Hogback
S15 Bentuk seterika (flat iron)
S16 Lembah antiklinal
S17 Lembah sinklinal
S18 Lembah subsekuen
S19 Sembul (horst)
S20 Tanah terban (graben)
S21 Perbukitan lipatan kompleks
Bentukan Asal volkanik/Gunung api (V) merah Bentukan asal fluvial (F) biru
V1 Kepundan F1 Dataran aluvial gelap
V2 Kerucut gunungapi F2 Dasar sungai
V3 Lereng gunungapi atas F3 Danau
V4 Lereng gunungapi tengah F4 Rawa
V5 Lereng gunungapi bawah F5 Rawa belakang
V6 Kaki gunungapi F6 Saluran/sungai mati
V7 Dataran kaki gunungapi F7 Dataran banjir
V8 Dataran fluvial gunungapi F8 Tanggul alam
V9 Padang lava F9 Ledok Fluvial
V10 Padang lahar F10 Bekas dasar danau
V11 Lelehan lava F11 Hamparan celah/tonjolan
V12 Aliran lahar fluvial/crevasse splays
V13 Dataran antar gunungapi F12 Gosong lengkung dalam
V14 Dataran tinggi lava (lava plateau) F13 Gosong sungai
V15 Planezes F14 Teras fluvial
V16 Padang abu, tuff atau lapili F15 Kipas aluvial aktif
V17 Solfatar F16 Kipas aluvial tidak aktif
V18 Fumarol F17 Delta
V19 Bukit gunungapi terdenudasi F18 igir delta
V20 Leher gunungapi F19 Ledok delta
V21 Sumbat gunungapi F20 Pantai delta
V22 Kerucut parasiter F21 Rataan delta
V23 Boka
V24 Dike
V25 Baranko
Bentukan asal marin (M) hijau Bentukan asal pelarutan (karst) (K) orange
M1 Pelataran pengikisan gelombang laut K1 Dataran tinggi karst
M2 Tebing terjal dan takik pantai K2 Lereng dan perbukitan karstik
M3 Gisik terkikis
M4 Beting gisik/bura K3 Kubah karst
M5 tombolo K4 Bukit sisa batugamping terisolasi
M6 Depresi antar beting gisik K5 Dataran aluvial karts
M7 Gumuk pantai aktif K6 Uval, dolin
M8 Gumuk pantai tidak aktif K7 Poltje
M9 Rataan pasang surut bervegetasi K8 Lembah kering
M10 Rataan pasang surut tidak bervegetasi K9 Ngarai karst
M11 Dataran aluvial pantai (payau)
M12 Dataran aluvial pantai (tawar)
M13 Dataran aluvial pantai tergenang
M14 Teras pantai
M15 Atol dan cicncin terumbu
M16 Terumbu koral
M17 Rataan terumbu
M18 Tudung terumbu
M19 Perisai dan akumulasi pasir koral
M20 Lagun
M21 Gosong laut
Bentukan asal glasial (G) biru Bentukan asal aeolin (A) kuning
G1 Cirque cerah A1 Gumuk pasir memanjang
G2 Lembah bergantung glasial longitudinal
G3 Pegunungan tertutup salju, gletser, es A2 Gumuk pasir barkan (sabit)
abadi A3 Gumuk pasir parabola
G4 Padang berangkal, puing batuan
G5 Dataran endapan material glasial
Interpretasi foto udara untuk geomorfologi dilakukan dengan
mendasarkan pada karakteristik FU yang meliputi rona, tekstur,
struktur, pola, ukuran, bentuk, site dan situasi.

Kenampakan-kenampakan proses geomorfologi tertentu akan


memberikan karakteristik yang khas pula pada FU.

Tingkat pentorehan yang bersifat kualitatif dapat dinyatakan


dengan membandingkan kerapatan dan besar alur yang tampak
pada FU, demikian pula dengan relief yang secara umum dapat
dilihat dan dibedakan berdasarkan bentuk, ukuran, pola, dan
teksturnya.
Ada 3 cara pendekatan yang dapat ditempuh untuk identifikasi
satuan bentuklahan yaitu :

1. Pendekatan pola
Daerah dipilahkan menjadi satuan bentanglahan utama
kemudian diperinci berdasarkan :
a. bentuk
b. alur sungai/pengaliran dan drainagse
c. kenampakan erosi, dan
d. vegetasi dan benatang budaya

2. Pendekatan geomorfologis atau fisiografis


Pemilahan wiayah didasarkan pada genesis atau asal usul mula
proses terbentuknya
3. Pendekatan unsur atau parameter bentuklahan,
yaitu :
Daerah dipilahkan menjadi satuan bentanglahan utama
kemudian diperinci berdasarkan :
bentuk atau relief
density atau rona (warna)
lokasi atau situasi ekologi bentang alam
Systems for naming hillslope elements.
Ruhes (1960) slope units.
The chief hydrological processes that inuence the geomorphology of hillslopes and
streams. Water ows over and through landscapes in unconcentrated and concentrated
forms.
SEKIAN