Anda di halaman 1dari 24

-2-

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang


Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5063);
2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
PERATURAN
Indonesia
MENTERI
TahunKESEHATAN
2014 Nomor
REPUBLIK
244, Tambahan
INDONESIA
Lembaran Negara Republik IndonesiaNOMOR
Nomor285587)
TAHUN 2017
sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir
TENTANG
dengan Undang-Undang
IZIN DAN PENYELENGGARAAN
Nomor 9 Tahun
PRAKTIK
2015 tentang
BIDAN
Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23
Tahun 2014 tentang
DENGAN RAHMAT
Pemerintahan
TUHAN YANG
Daerah
MAHA
(Lembaran
ESA
Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58,
Tambahan MENTERI
LembaranKESEHATAN
Negara Republik
REPUBLIKIndonesia
INDONESIA,
Nomor 5679);
3. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang
Menimbang : a. Tenaga
bahwa
Kesehatan
dalam rangka
(Lembaran
melindungi
Negara masyarakat
Republik penerima
Indonesia
pelayanan Tahun
kesehatan,
2014 Nomor
setiap298,
tenaga
Tambahan
kesehatan yang
akan Lembaran
menjalankan
Negara
praktik
Republik
keprofesiannya
Indonesia Nomor
harus 5607);
4. Peraturan
memiliki Menteri
izin sesuai
Kesehatan
denganNomor
ketentuan
001 Tahun
peraturan
2012
tentang Sistem Rujukan Pelayanan
perundang-undangan;
Kesehatan
8. c.
d.
Keputusan
7.
b.
5.
6.
bahwa
bahwa
Peraturan
bahwa
Peraturan
kesehatan
369/Menkes/SK/III/2007
perlu
Penyelenggaraan
tentang
Undang
tentang
Nomor
Perorangan;
Kerja
dimaksud
Negara
menyelenggarakan
1464/Menkes/Per/X/2010
melaksanakan
Peraturan
berdasarkan
Menteri
Bidan
menetapkan
64
Kementerian
tentang
Nomor
Menteri
Pendayagunaan
Asing
Registrasi
dengan
Menteri
yang
Tahun
dalam
merupakan
sesuai
Republik
Kesehatan
Menteri
(Berita
36
memiliki
(Berita
ketentuan
pertimbangan
Izin
perkembangan
2015
Kesehatan
Praktik
huruf
Tahun
Peraturan
Kesehatan
pelayanan
dengan
Kesehatan
Tenaga
Indonesia
Indonesia
dan
Kesehatan
tentang
salah
Negara
Tenaga
a,
Negara
Nomor
tentang
2009
kewenangan
Bidan
tentang
Penyelenggaraan
Pasal
huruf
bidang
Republik
Kesehatan
satu
Menteri
Nomor
tentang
Republik
sebagaimana
asuhan
dan
Organisasi
(Berita
Kesehatan
Republik
perlu
Tahun
Tahun
Standar
Nomor
23
b,
dari
2012
2013
Bidan;
keahlian
Izin
kebutuhan
46ayat
67untuk
huruf
Kesehatan
Indonesia
kebidanan
Kesehatan
Tahun
disesuaikan
2015
2013
(Berita
jenis
Nomor
Indonesia
Negara
dan
Indonesia
Profesi
(5)
Warga
dan
c,
Praktik
Nomor
yang
Nomor
2013
hukum;
tenaga
Undang-
122);
1320);
dan
Tata
Republik
Negara
dimiliki;
Tahun
1508);
untuk
977);
Tahun
Bidan;
-3-

MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN MENTERI KESEHATAN TENTANG IZIN DAN
PENYELENGGARAAN PRAKTIK BIDAN.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1
Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan;
1. Bidan adalah seorang perempuan yang lulus dari
pendidikan bidan yang telah teregistrasi sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
2. Praktik Kebidanan adalah kegiatan pemberian
pelayanan yang dilakukan oleh Bidan dalam bentuk
asuhan kebidanan.
3. Surat Tanda Registrasi Bidan yang selanjutnya
disingkat STRB adalah bukti tertulis yang diberikan
oleh Pemerintah kepada Bidan yang telah memiliki
sertifikat kompetensi sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
4. Surat Izin Praktik Bidan yang selanjutnya disingkat
5. Instansi
6. Praktik
kabupaten/kota
rangkaian
kerja
SIPB
pemerintah
sebagai
dengan
adalah
yang
Mandiri
Pemberi
pemberian
kegiatan
ditunjuk
daerah
ketentuan
bukti
untuk
Bidan
dilakukan
Izin
tertulis
kabupaten/kota
pelayanan
kewenangan
oleh
menerbitkan
adalah
peraturan
pemerintah
oleh
yang
tempat
instansi
kebidanan
untuk
Bidan
perundang-undangan.
praktik
izin
diberikan
kepada
pelaksanaan
daerah
menjalankan
secara
atau
sesuai
yang
kebidanan.
Bidan
satuan
oleh
perorangan.
-4-

7. Fasilitas Pelayanan Kesehatan adalah suatu alat


dan/atau tempat yang digunakan untuk
menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik
promotif, preventif, kuratif, maupun rehabilitatif yang
dilakukan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah,
dan/atau masyarakat.
8. Organisasi Profesi adalah wadah berhimpunnya tenaga
kesehatan bidan di Indonesia.
9. Pemerintah Pusat adalah Presiden Republik Indonesia
yang memegang kekuasaan pemerintahan negara
Republik Indonesia yang dibantu oleh Wakil Presiden
dan menteri sebagaimana dimaksud dalam Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945.
10. Pemerintah Daerah adalah kepala daerah sebagai
unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah yang
memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang
menjadi kewenangan daerah otonom.
11. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan
urusan pemerintahan di bidang kesehatan.

memiliki
Dalam menjalankan
kualifikasiPraktik
jenjangKebidanan,
pendidikan
kebidanan.
Bidan
diploma
paling
tiga
Kualifikasi
rendah
Bagian
PERIZINAN
Kesatu
Pasal
BAB
Bidan
II2
-5-

Bagian Kedua
STRB

Pasal 3
(1) Setiap Bidan harus memiliki STRB untuk dapat
melakukan praktik keprofesiannya.
(2) STRB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperoleh
setelah Bidan memiliki sertifikat kompetensi sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) STRB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku
selama 5 (lima) tahun.
(4) Contoh surat STRB sebagaimana tercantum dalam
formulir II yang merupakan bagian tidak terpisahkan
dari Peraturan Menteri ini.

Pasal 4
STRB yang telah habis masa berlakunya dapat
diperpanjang selama memenuhi persyaratan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

Bagian Ketiga
(1)
(3)
(1)
(2)Bidan
(4)selama
SIPB
Bidan
SIPB sebagaimana
hanya
sebagaimana
yang
STR Bidan
untuk
diperpanjang
dapat
menjalankan
kepada
masih
1dimaksud
memiliki
dimaksud
(satu)
Bidan
berlaku,
praktik
selama
Fasilitas
pada
paling
pada
yang
memenuhi
ayat
keprofesiannya
dan
ayat
memiliki
SIPB.
telah
banyak
dapat
Pelayanan
(1)
(1)memiliki
persyaratan.
berlaku
2berlaku
diberikan
SIPB.
(dua)
Kesehatan.
wajib
STRB.
Pasal
SIPB65
-6-

(2) Permohonan SIPB kedua, harus dilakukan dengan


menunjukan SIPB pertama.

Pasal 7
(1) SIPB diterbitkan oleh Instansi Pemberi Izin yang
ditunjuk pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.
(2) Penerbitan SIPB sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
harus ditembuskan kepada dinas kesehatan
kabupaten/kota.
(3) Dalam hal Instansi Pemberi Izin merupakan dinas
kesehatan kabupaten/kota, Penerbitan SIPB
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak
ditembuskan.

Pasal 8
(1) Untuk memperoleh SIPB, Bidan harus mengajukan
permohonan kepada Instansi Pemberi Izin dengan
melampirkan:
a. fotokopi STRB yang masih berlaku dan
dilegalisasi asli;
b. surat keterangan sehat dari dokter yang memiliki
(2) f.
Persyaratan
sebagaimana
d.
e.rekomendasi
Pelayanan
surat
pas
Pelayanan
c.
foto
keterangan
surat
Kesehatan
surat
dimaksud
terbaru
dikecualikan
Kesehatan
dari
g. pernyataan
keterangan
rekomendasi
kepala
pada
dari
dan
tempat
4X6
tempat
berwarna
ayat
pimpinan
untuk
dinas
kabupaten/kota
cmmemiliki
Bidan
dari
sebanyak
dari
(1)
Bidan
Praktik
kesehatan
pimpinan
dengan
akan
huruf
Fasilitas
Organisasi
surat
berpraktik;
tempat
akan
3berpraktik
Mandiri
(tiga)
dukuran
setempat;
izin
Fasilitas
praktik;
Profesi.
praktik;
lembar;
Bidan.
dan
-7-

(3) Dalam hal Instansi Pemberi Izin merupakan dinas


kesehatan kabupaten/kota, persyaratan rekomendasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f tidak
diperlukan.
(4) Untuk Praktik Mandiri Bidan dan Bidan desa,
Rekomendasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf f dikeluarkan oleh dinas kesehatan
kabupaten/kota setelah dilakukan visitasi penilaian
pemenuhan persyaratan tempat praktik Bidan.
(5) Contoh surat permohonan memperoleh SIPB
sebagaimana tercantum dalam formulir III yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan
Menteri ini.
(6) Contoh SIPB sebagaimana tercantum dalam formulir
IV yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari
Peraturan Menteri ini.

Pasal 9
(1) Dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari
kerja sejak berkas permohonan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) diterima dan
b.c.
(2)
masa
dicabut
mengeluarkan
Pernyataan
(1)
dinyatakan
berlaku
dibuktikan
a.oleh
tempat
STRB
lengkap
pejabat
lengkap,
SIPB
SIPB
dengan
telah
praktik
sesuai
sebagaimana
yang
dinyatakan
Instansi
habis
surat
tidak
peraturan
dengan
berwenang
d.
dan
tanda
sesuai
Bidan
Pemberi
dimaksud
tidak
ketentuan
tidak
kelengkapan
diperpanjang;
atau
perundang-undangan.
penerimaan
memberikan
meninggal
lagi
berlaku
Izin
pada
dengan
harus
berkas.
ayat
dalam
izin;
dunia.
SIPB;
Pasal
hal: 10
-8-

Pasal 11
(1) Bidan warga negara asing yang akan menjalankan
Praktik Kebidanan di Indonesia harus memiliki
sertifikat kompetensi, STR sementara, dan SIPB.
(2) Sertifikat kompetensi sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) diperoleh Bidan warga negara asing setelah
lulus evaluasi kompetensi.
(3) Evaluasi kompetensi sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) digunakan sebagai salah satu syarat untuk
memperoleh STR sementara.
(4) Untuk memperoleh SIPB, Bidan warga negara asing
harus melakukan permohonan kepada Instansi
Pemberi Izin dan memenuhi persyaratan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1).
(5) Selain ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), Bidan warga negara asing harus memenuhi
persyaratan lain sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

Pasal 12
STR sementara dan SIPB bagi Bidan warga negara asing
(satu)
sebagaimana
(3)
(1) Untuk
(2) Bidan
akan
STRB
ayat
setelah
negeri
Pemberi
tahun
dengan
melakukan
sebagaimana
(1),
memperoleh
warga
harus
dimaksud
dan
melakukan
Izin
Bidan
ketentuan
negara
dapat
melakukan
dan
Praktik
warga
dalam
SIPB
dimaksud
memenuhi
diperpanjang
proses
Indonesia
peraturan
sebagaimana
negara
Pasal
Kebidanan
permohonan
dimaksud
harus
evaluasi
pada
tahun
persyaratan
11
lulusan
Indonesia
ayat
memiliki
perundang-undangan.
hanya
berlaku
dalam
berikutnya.
di
dimaksud
kompetensi
kepada
Indonesia
(1)
luar
untuk
Pasal
sebagaimana
lulusan
selama
diperoleh
STRB
Instansi
negeri
pada
1 8dan
(satu)
sesuai
ayat
1luar
yang
SIPB.
Pasal
(1). 13
-9-

Pasal 14
(1) Pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan dilarang
mempekerjakan Bidan yang tidak memiliki SIPB.
(2) Pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) harus melaporkan Bidan yang
bekerja dan berhenti bekerja di Fasilitas Pelayanan
Kesehatannya pada tiap triwulan kepada kepala dinas
kesehatan kabupaten/kota dengan tembusan kepada
Organisasi Profesi.

BAB III
PENYELENGGARAAN KEPROFESIAN

Bagian Kesatu
Umum

Pasal 15
(1) Bidan dapat menjalankan Praktik Kebidanan secara
mandiri dan/atau bekerja di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan.
(2) Praktik Kebidanan secara mandiri sebagaimana
(1)
(3)Bidan
Fasilitas
a.
Kesehatan
dimaksud
Bidan
yang yang
berpraktik
Pelayanan
pada
berupa
d. melakukan
Fasilitas
ayat
dalam
puskesmas
Kesehatan
(1)
di
Pasal
Fasilitas
berupa
praktik
Pelayanan
15
sebagaimana
pada
sebagaimana
c.
ayat
Praktik
a.
b.
kebidanannya
rumah
Pelayanan
ayat
klinik;
puskesmas;
Kesehatan
Bidan
(3)
puskesmas;
sakit;
Mandiri
huruf
(1)
dimaksud
desa.
dimaksud
dapat
lainnya.
bdi
dan/atau
Bidan.
meliputi
dan
berupa:
Pasal 16
-10-

(2) Bidan desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf


b merupakan Bidan yang memiliki SIPB di puskesmas,
dan bertempat tinggal serta mendapatkan penugasan
untuk melaksanakan Praktik Kebidanan dari
Pemerintah Daerah pada satu desa/kelurahan dalam
wilayah kerja puskesmas yang bersangkutan.
(3) Praktik Bidan desa sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) merupakan tempat praktik bidan desa sebagai
jaringan Puskesmas.
(4) Dalam rangka penjaminan mutu pelayanan kesehatan
praktik Bidan desa sebagai jaringan Puskesmas
sebagaimana dimaksud pada ayat (3), dinas kesehatan
kabupaten/kota setempat harus melakukan penilaian
pemenuhan persyaratan tempat yang akan
dipergunakan untuk penyelenggaraan praktik Bidan
desa dengan menggunakan Formulir 1 yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan
Menteri ini.
(5) Hasil penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (4)
menjadi dasar rekomendasi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 8 ayat (1) huruf f, sebelum SIPB untuk
berupa
persyaratan
b.
Bidan
a.
c. memiliki
lokasi
waktu
tidak
pada
Praktik
bersamaan
desaPraktik
satu
Praktik
bergabung
dapat
sebagaimana
tempat
tinggal
Mandiri
desa/kelurahan
dengan
mengajukan
Mandiri
Mandiri
Praktik
dan
dengan
Bidan,
waktu
dimaksud
penugasan
Bidan
Bidan
Mandiri
tempat
selama
Permohonan
pelayanan
sesuai
dan
yang
yang
dalam
dari
praktik
mengikuti
memenuhi
Bidan
Bidan
dan
desa.
diajukan,
dengan
diajukan,
praktik
Pasal
SIPB
Pemerintah
tersendiri
desa
Bidan
tempat
kedua
8ketentuan:
tidak
Bidan
ayat
diterbitkan.
berada
desa;
Daerah;
(1)
yang
Pasal 17
-11-

Bagian Kedua
Kewenangan

Pasal 18
Dalam penyelenggaraan Praktik Kebidanan, Bidan memiliki
kewenangan untuk memberikan:
a. pelayanan kesehatan ibu;
b. pelayanan kesehatan anak; dan
c. pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan
keluarga berencana.

Pasal 19
(1) Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 18 huruf a diberikan pada masa sebelum
hamil, masa hamil, masa persalinan, masa nifas, masa
menyusui, dan masa antara dua kehamilan.
(2) Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) meliputi pelayanan:
a. konseling pada masa sebelum hamil;
b. antenatal pada kehamilan normal;
c. persalinan normal;
(3) Dalam
d.g.
sebagaimana
penanganan
f.
e.
fasilitasi/bimbingan
memberikan
pemberian
f.c.konseling
penjahitan
kegawat-daruratan,
dimaksud
pelayanan
vitamin
tablet
pada
b.pada
luka
tambah
pertolongan
Ainisiasi
masa
kesehatan
dosis
promosi
ayat
jalan
antara
darah
d.
e.
berwenang
a.
tinggi
dilanjutkan
(2),
menyusu
lahir
air
ibu
episiotomi;
ibu
persalinan
pada
dua
dengan
Bidan
susu
nifas
menyusui;
pada
tingkat
kehamilan.
ibu
dini
melakukan:
ibu
perujukan;
ibu
normal;
hamil;
dan
normal;
eksklusif;
Inifas;
dan
dan II;
-12-

h. pemberian uterotonika pada manajemen aktif


kala tiga dan postpartum;
i. penyuluhan dan konseling;
j. bimbingan pada kelompok ibu hamil; dan
k. pemberian surat keterangan kehamilan dan
kelahiran.

Pasal 20
(1) Pelayanan kesehatan anak sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 18 huruf b diberikan pada bayi baru lahir,
bayi, anak balita, dan anak prasekolah.
(2) Dalam memberikan pelayanan kesehatan anak
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Bidan
berwenang melakukan:
a. pelayanan neonatal esensial;
b. penanganan kegawatdaruratan, dilanjutkan
dengan perujukan;
c. pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita,
dan anak prasekolah; dan
d. konseling dan penyuluhan.
(3) Pelayanan noenatal esensial sebagaimana dimaksud
(4) suntikan
Penanganan
pada
pemotongan
a.
kasus
perujukan
dan
bahaya,
pemeriksaan
penanganan
tepat
ayat
pembersihan
yang
Vit
pemberian
(2)
kegawatdaruratan,
sebagaimana
waktu
dan
K1,
tidak
fisik
huruf
awal
perawatan
pemberian
ke
dapat
jalan
tanda
bayi
asfiksia
Fasilitas
a meliputi
dimaksud
ditangani
nafas,
baru
identitas
tali
imunisasi
bayi
dilanjutkan
dan/atau
lahir,
Pelayanan
pusat,
ventilasi
inisiasi
pada
byang
baru
dalam
meliputi:
diri,
B0,
pemantauan
ayat
lebih
pemberian
kompresi
lahir
kondisi
Kesehatan
menyusui
dengan
tekanan
dan
(2)
mampu.
melalui
merujuk
huruf
jantung;
tanda
stabil
positif,
dini,
-13-

b. penanganan awal hipotermia pada bayi baru lahir


dengan BBLR melalui penggunaan selimut atau
fasilitasi dengan cara menghangatkan tubuh bayi
dengan metode kangguru;
c. penanganan awal infeksi tali pusat dengan
mengoleskan alkohol atau povidon iodine serta
menjaga luka tali pusat tetap bersih dan kering;
dan
d. membersihkan dan pemberian salep mata pada
bayi baru lahir dengan infeksi gonore (GO).
(5) Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita, dan
anak prasekolah sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
huruf c meliputi kegiatan penimbangan berat badan,
pengukuran lingkar kepala, pengukuran tinggi badan,
stimulasi deteksi dini, dan intervensi dini
peyimpangan tumbuh kembang balita dengan
menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan
(KPSP)
(6) Konseling dan penyuluhan sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf d meliputi pemberian komunikasi,
informasi, edukasi (KIE) kepada ibu dan keluarga
Dalam
perempuan
a.dimaksud
penyuluhan
b.tentang
tanda
kesehatan,
memberikan
pelayanan
dan
dalam
bahaya
perawatan
keluarga
danpasal
imunisasi,
pelayanan
kontrasepsi
konseling
padaperempuan
berencana
18
bayi
bayi
huruf
kesehatan
gizi
kesehatan
baru
baru
oral,
c,
dan
memberikan:
seimbang,
sebagaimana
lahir,
lahir,
Bidan
kondom,
keluarga
reproduksi
tumbuh
reproduksi
ASI
pelayanan
berwenang
PHBS,
dan
eksklusif,
kembang.
berencana;
suntikan.
dan dan
Pasal 21
-14-

Bagian Ketiga
Pelimpahan kewenangan

Pasal 22
Selain kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
18, Bidan memiliki kewenangan memberikan pelayanan
berdasarkan:
a. penugasan dari pemerintah sesuai kebutuhan;
dan/atau
b. pelimpahan wewenang melakukan tindakan pelayanan
kesehatan secara mandat dari dokter.

Pasal 23
(1) Kewenangan memberikan pelayanan berdasarkan
penugasan dari pemerintah sesuai kebutuhan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 huruf a, terdiri
atas:
a. kewenangan berdasarkan program pemerintah;
dan
b. kewenangan karena tidak adanya tenaga
kesehatan lain di suatu wilayah tempat Bidan
(3)
(2)
(4)
(5)berdasarkan
Pelatihan
Kewenangan
diselenggarakan
Bidan
Bidan
terstandarisasi
dimaksud
pada
Pemerintah
yang
ayat
yang
diperoleh
sebagaimana
pada
sebagaimana
modul
telah
(1)
diberi
Daerah
ayat
harus
oleh
kepala
dan
mengikuti
sesuai
Bidan
kewenangan
bersama
(2)
dimaksud
kurikulum
Pemerintah
mendapatkan
dimaksud
dinas
dengan
berhak
setelah
pelatihan
organisasi
kesehatan
sebagaimana
pada
yang
ketentuan
memperoleh
pada
Pusat
mendapatkan
perundang-undangan.
pelatihan.
penetapan
ayat
ayat
sebagaimana
bertugas.
atau
profesi
kabupaten/kota.
(2)
peraturan
(1)
dimaksud
sertifikat
dari
pelatihan.
terkait
-15-

Pasal 24
(1) Pelayanan kesehatan yang diberikan oleh Bidan
ditempat kerjanya, akibat kewenangan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 23 harus sesuai dengan
kompetensi yang diperolehnya selama pelatihan.
(2) Untuk menjamin kepatuhan terhadap penerapan
kompetensi yang diperoleh Bidan selama pelatihan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Dinas kesehatan
kabupaten/kota harus melakukan evaluasi
pascapelatihan di tempat kerja Bidan.
(3) Evaluasi pascapelatihan sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) dilaksanakan paling lama 6 (enam) bulan
setelah pelatihan.

Pasal 25
(1) Kewenangan berdasarkan program pemerintah
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) huruf
a, meliputi:
a. pemberian pelayanan alat kontrasepsi dalam
rahim dan alat kontrasepsi bawah kulit;
b. asuhan antenatal terintegrasi dengan intervensi
g.
c.
d. melaksanakan
e.
f. penanganan
pemberian
melakukan
pemantauan
memberikan
Menular
bidang
sekolah
kesehatan
Seksual
imunisasi
pembinaan
bayi
tumbuh
penyuluhan
dan
deteksi
remaja,
dan
anak
(IMS)
kembang
ibu
dengan
anak
rutin
peran
dini,
terhadap
pra
kondom,
dan
dan
termasuk
balita
dan
serta
bayi,
pedoman
merujuk,
sekolah
anak,
penyehatan
khusus
tambahan
dan
Infeksi
sakit
masyarakat
anak
pemberian
anak
program
yang
dan
penyakit
penyakit
dan
balita,
sesuai
usia
lingkungan;
anak
sesuai
ditetapkan;
pemerintah;
di
sekolah;
lainnya;
tertentu;
-16-

h. pencegahan penyalahgunaan Narkotika,


Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA)
melalui informasi dan edukasi; dan
i. melaksanakan pelayanan kebidanan komunitas;
(2) Kebutuhan dan penyediaan obat, vaksin, dan/atau
kebutuhan logistik lainnya dalam pelaksanaan
Kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

Pasal 26
(1) Kewenangan karena tidak adanya tenaga kesehatan
lain di suatu wilayah tempat Bidan bertugas
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) huruf
b tidak berlaku, dalam hal telah tersedia tenaga
kesehatan lain dengan kompetensi dan kewenangan
yang sesuai.
(2) Keadaan tidak adanya tenaga kesehatan lain di suatu
wilayah tempat Bidan bertugas sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh kepala dinas
kesehatan kabupaten/kota setempat.
(3)(2)
(1)
Pelimpahan
tertulis
Tindakan
sebagaimana
Pelimpahan
melebihi
keadaan
kesehatan
dimaksud
dimaksud
Kesehatan
tindakan
oleh
di
pelayanan
ketersediaan
dalam
pada
secara
wewenang
mana
dimaksud
dokter
ayat
Pasal
tingkat
terdapat
pelayanan
mandat
kesehatan
Kesehatan
melakukan
pada
(1)
pada
22
dokter
pertama
hanya
dari
huruf
Fasilitas
kebutuhan
ayat
kesehatan
sebagaimana
di
dokter
tingkat
tindakan
dapat
(1)
bdengan
tempat
Fasilitas
diberikan
dilakukan
Pelayanan
pelayanan
diberikan
sebagaimana
pertama
ketentuan:
pelayanan
Bidan
Pelayanan
secara
bekerja.
yang
tersebut.
dalam
Pasal 27
-17-

a. tindakan yang dilimpahkan termasuk dalam


kompetensi yang telah dimiliki oleh Bidan
penerima pelimpahan;
b. pelaksanaan tindakan yang dilimpahkan tetap di
bawah pengawasan dokter pemberi pelimpahan;
c. tindakan yang dilimpahkan tidak termasuk
mengambil keputusan klinis sebagai dasar
pelaksanaan tindakan; dan
d. tindakan yang dilimpahkan tidak bersifat terus
menerus.
(4) Tindakan pelayanan kesehatan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) menjadi tanggung jawab
dokter pemberi mandat, sepanjang pelaksanaan
tindakan sesuai dengan pelimpahan yang diberikan.

Bagian Keempat
Kewajiban dan Hak

Pasal 28
Dalam melaksanakan praktik kebidanannya, Bidan
berkewajiban untuk:
h. melakukan
b.
e.
c.
f.d.
g. memberikan
menyimpan
merujuk
melakukan
mematuhi
meminta
penyelenggaraan
pelayanan
pencatatan
kasus
standar
persetujuan
rahasia
pencatatan
informasi
yang
lainnya
dan
pasien
profesi,
pasien
Praktik
bukan
tentang
pelaporan
dapat
asuhan
tindakan
pelaporan
peraturan
yang
dan
sesuai
kewenangannya
Kebidanan
standar
ditangani
standar
a.
diberikan
pelayanan
kebidanan
masalah
yang
menghormati
dengan
kelahiran
perundangan-undangan;
pelayanan,
prosedur
akan
termasuk
kesehatan
dengan
secara
yang
dan
ketentuan
atau
dilakukan;
dan
hak
dibutuhkan;
tepat
tidak
operasional;
sistematis;
dan
kematian;
pasien;
waktu;
-18-

i. pemberian surat rujukan dan surat keterangan


kelahiran; dan
j. meningkatkan mutu pelayanan profesinya, dengan
mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi melalui pendidikan dan pelatihan sesuai
dengan bidang tugasnya.

Pasal 29
Dalam melaksanakan praktik kebidanannya, Bidan
memiliki hak:
a. memperoleh perlindungan hukum sepanjang
melaksanakan pelayanannya sesuai dengan standar
profesi, standar pelayanan, dan standar prosedur
operasional;
b. memperoleh informasi yang lengkap dan benar dari
pasien dan/atau keluarganya;
c. melaksanakan tugas sesuai dengan kompetensi dan
kewenangan; dan
d. menerima imbalan jasa profesi.

BAB IV
(2)
ayat
Persyaratan
(1)Persyaratan
lokasi
meliputi
Bidan
(2)
persyaratan
harus
yang
berupa
yang
memenuhi
lokasi
mudah
persyaratan
memperhatikan
sebagaimana
peralatan,
menyelenggarakan
Praktik
memperoleh
untuk
sebagaimana
persyaratan,
Mandiri
akses
lokasi,
serta
dimaksud
aspek
SIPB
rujukan
dimaksud
Bidan
obat
Praktik
bangunan,
sebagaimana
selain
kesehatan
pada
dalam
PRAKTIK
dan
harus
dan
dalam
ketentuan
Mandiri
ayat
bahan
Pasal
prasarana,
berada
MANDIRI
lingkungan.
dimaksud
(1)
Pasal
habis
8Bidan
ayat
pada
BIDAN
30pakai.
Pasal
(1). 31
30
-19-

Pasal 32
Persyaratan bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
30 ayat (2) meliputi ruang dalam bangunan Praktik Mandiri
Bidan yang terdiri atas:
a. ruang tunggu;
b. ruang periksa;
c. ruang bersalin;
d. ruang nifas;
e. WC/kamar mandi; dan
f. ruang lain sesuai kebutuhan.

Pasal 33
(1) Selain persyaratan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 32, bangunan Praktik Mandiri Bidan harus
bersifat permanen dan tidak bergabung fisik bangunan
lainnya.
(2) Ketentuan tidak bergabung fisik bangunan lainnya
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak termasuk
rumah tinggal perorangan, apartemen, rumah toko,
rumah kantor, rumah susun, dan bangunan yang
(4)
(3)
Persyaratan
dimaksud
Bangunan
Dalam
dan
dimaksud
keamanan,
pemberian
perorangan,
b.penyandang
kesehatan
sistem
hal
dalam
praktik
prasarana
praktik
harus
pada
kenyamanan
pelayanan
kelistrikan
Pasal
akses
bagi
cacat,
ayat
terpisah
mandiri
mandiri
Praktik
semua
30
pintu
(1)
anak-anak
serta
dan
ayat
atau
Bidan
harus
dari
orang
berada
keluar
kemudahan
Mandiri
a.
(2)
perlindungan
pencahayaan
tempat
sebagaimana
memperhatikan
sistem
termasuk
dan
paling
sejenis.
di
masuk
Bidan
orang
rumah
dalam
tinggal
air
sedikit
tempat
keselamatan
sebagaimana
yang
usia
bersih;
tinggal
fungsi,
perorangan.
praktik
cukup;
lanjut.
memiliki:
Pasal 34
-20-

c. ventilasi/sirkulasi udara yang baik; dan


d. prasarana lain sesuai kebutuhan.

Pasal 35
Persyaratan peralatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
30 ayat (2) berupa peralatan Praktik Mandiri Bidan harus
dalam keadaan terpelihara dan berfungsi dengan baik
untuk menyelenggarakan pelayanan.

Pasal 36
(1) Persyaratan obat dan bahan habis pakai Praktik
Mandiri Bidan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30
ayat (2) meliputi pengelolaan obat dan bahan habis
pakai yang diperlukan untuk pelayanan antenatal,
persalinan normal, penatalaksanaan bayi baru lahir,
nifas, keluarga berencana, dan penanganan awal
kasus kedaruratan kebidanan dan bayi baru lahir.
(2) Obat dan bahan habis pakai sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) hanya diperoleh dari apotek melalui
surat pesanan kebutuhan obat dan bahan habis
pakai.
(4)
(3) Contoh
Bidan
obat
formulir
kebutuhan
melakukan
dimaksud
sebagaimana
yang
yang
suratVpada
baik
melakukan
obat
pendokumentasian
pesanan
yang
dimaksud
ayat
sesuai
dan
merupakan
obat
bahan
(2)
praktik
dengan
pada
serta
dan
habis
bagian
ayat
surat
mandiri
bahan
ketentuan
melakukan
dari
perundang-undangan.
pakai
(2)
tidak
pesanan
habis
Peraturan
tercantum
harus
sebagaimana
peraturan
terpisahkan
pengelolaan
pakaiMenteri
dalam ini.
-21-

Pasal 37
Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan bangunan,
prasarana, peralatan, dan obat-obatan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 30 sampai dengan Pasal 36
tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

Pasal 38
(1) Praktik Mandiri Bidan harus melaksanakan
pengelolaan limbah medis.
(2) Pengelolaan limbah medis sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dapat dilakukan melalui kerjasama
dengan institusi yang memiliki instalasi pengelolaan
limbah.

Pasal 39
(1) Praktik Mandiri Bidan harus memasang papan nama
pada bagian atau ruang yang mudah terbaca dengan
jelas oleh masyarakat umum dengan ukuran 60x90
cm dasar papan nama berwarna putih dan tulisan
berwarna hitam.
(2)
(2)
(1) Papan
Hasil
paling
Dinas
sampai
pada
rekomendasi
Formulir
instrumen
penilaian
Mandiri
nama
penilaian
huruf
Kesehatan
sedikit
dengan
Bidan
sebagaimana
I penilaian
terhadap
(1),
yang
sebagaimana
Pasal
memuat
kelayakan
sebagaimana
Kabupaten/Kota
menjadi
merupakan
36,
pemenuhan
sebagaimana
nomor
nama
dimaksud
dengan
dasar
dimaksud
sebagaimana
Bidan,
bagian
dimaksud
SIPB,
persyaratan
dalam
dari
harus
pada
menggunakan
ayat
tercantum
dan
dalam
nomor
tidak
Peraturan
ayat
dalam
pembuatan
melakukan
(1)
dimaksud
waktu
Pasal
STRB,
terpisahkan
huruf
(1)
Praktik
Pasal
dalam
pelayanan.
8Menteri
f.30 Pasal
ini.
40
-22-

Pasal 41
(1) Praktik Mandiri Bidan tidak memerlukan izin
penyelenggaraan sebagai Fasilitas Pelayanan
Kesehatan.
(2) Izin penyelenggaraan Praktik Mandiri Bidan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) melekat pada
SIPB yang bersangkutan.

Pasal 42
(1) Bidan dalam menyelenggarakan Praktik Mandiri Bidan
dapat dibantu oleh tenaga kesehatan lain atau tenaga
nonkesehatan.
(2) Tenaga kesehatan lain sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) harus memiliki SIP sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

Pasal 43
(1) Bidan yang berhalangan sementara dalam
melaksanakan praktik kebidanan dapat menunjuk
Bidan pengganti dan melaporkannya kepada kepala
(2)
Dalam
sederhana
Mandiri
Bidan
harus
rangka
Bidan
pengganti
antenatal
memiliki
melaksanakan
dapatSIPB
sebagaimana
sesuai
melakukan
dan
praktik
dengan
tidak
pemeriksaan
perundang-undangan.
dimaksud
kebidanan,
ketentuan
harus
puskesmas
tersebut.
SIPB
pada
laboratorium
peraturan
Praktik
di
ayat
setempat.
tempat
(1) Pasal 44
-23-

BAB V
PENCATATAN DAN PELAPORAN

Pasal 45
(1) Bidan wajib melakukan pencatatan dan pelaporan
sesuai dengan pelayanan yang diberikan.
(2) Pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
ditujukan ke puskesmas wilayah tempat praktik.
(3) Pencatatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan dan disimpan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(4) Ketentuan pelaporan sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) dikecualikan bagi Bidan yang melaksanakan
praktik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan selain Praktik
Mandiri Bidan.

BAB VI
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

Pasal 46
(1) Menteri, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, dan/atau
(3)
(2)pelayanan,
Pembinaan
pada
Dalam
masyarakat
Dinas
Kepala
pada
pembinaan
praktik
ayat
ayat
melakukan
Kesehatan
Dinas
dan
bidan
(1),
keselamatan
(1)
dan
terhadap
pengawasan
Kesehatan
Menteri,
diarahkan
pengawasan
sesuai
pembinaan
Kabupaten/Kota
menimbulkan
mengikutsertakan
segala
pasien,
dengan
Dinas
Kabupaten/Kota
sebagaimana
untuk
sebagaimana
terhadap
kemungkinan
kewenangan
Kesehatan
dan
bahaya
meningkatkan
dapat
masing.
melindungi
pelaksanaan
dimaksud
organisasi
bagi
dimaksud
melakukan
yang
Provinsi,
masing-
kesehatan.
mutu
dapat
profesi.
-24-

(4) Dalam rangka pelaksanaan pengawasan sebagaimana


dimaksud pada ayat (1), Menteri, Dinas Kesehatan
Provinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat
memberikan tindakan administratif kepada bidan yang
melakukan pelanggaran terhadap ketentuan
penyelenggaraan praktik.
(5) Tindakan administratif sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilakukan melalui:
a. teguran lisan;
b. teguran tertulis;
c. pencabutan SIP untuk sementara paling lama 1
(satu) tahun; atau
d. pencabutan SIPB selamanya.

BAB VII
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 47
(1) Praktik Mandiri Bidan yang telah terselenggara
berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
1464/Menkes/Per/X/2010 tentang Izin dan
(2) Praktik
Penyelenggaraan
1464/Menkes/Per/X/2010
berdasarkan
menyelenggarakan
dengan
Penyelenggaraan
Mandiri
tahun
Peraturan
Peraturan
sejak
Bidan
Praktik
Praktik
pelayanan
Menteri
Peraturan
yang
tentang
Menteri
Bidan
Bidan,
ini
diselenggarakan
sampai
tetap
Menteri
paling
Izin
Kesehatan
berlakunya
harus
habis
dapat
dan
lambat
ini
menyesuaikan
Nomor
masa
diundangkan.
izin.
2 (dua)