Anda di halaman 1dari 15

PHARMACY, Vol.13 No.

02 Desember 2016 ISSN 1693-3591

FORMULASI DAN EVALUASI SPRAY GEL FRAKSI ETIL ASETAT PUCUK DAUN TEH HIJAU
(Camelia sinensis [L.] Kuntze) SEBAGAI ANTIJERAWAT

FORMULATION AND EVALUATION OF ANTIACNE SPRAY GEL FROM ETHYL ACETATE


FRACTION OF SHOOT GREEN TEA LEAF (Camelia sinensis [L.] Kuntze)

Sani Nurlaela Fitriansyah, Sohadi Wirya, Cici Hermayanti

Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia,


Jl. Soekarno Hatta, Cibiru, Bandung, Indonesia 40617
Email: Saninurlaelaapt@gmail.com; Saninurlaela@stfi.ac.id (Sani Nurlaela Fitriansyah)

ABSTRAK

Teh hijau sangat berpotensi sebagai antijerawat. Flavonoid dalam teh hijau diketahui
merupakan senyawa yang bertanggung jawab sebagai antijerawat. Sediaan krim fraksi
etil asetat teh hijau sudah berhasil diformulasikan dan mempunyai aktivitas antijerawat.
Penelitian ini bertujuan menghasilkan formulasi sediaan spray gel fraksi etil asetat pucuk
daun teh hijau sebagai antijerawat. Pucuk daun teh hijau diekstraksi dengan metode
seduhan menggunakan pelarut air. Kemudian difraksinasi dengan ekstraksi cair-cair
(ECC). Pengujian aktivitas antijerawat dengan menentukan Kadar Hambat Minimum
(KHM) dari fraksi etil asetat daun teh hijau terhadap Propionibacterium acnes
menggunakan metode sumur. Formulasi spray gel fraksi etil asetat teh hijau
menggunakan karbopol dengan variasi konsentrasi NaOH sebagai penstabil viskositas
dan pH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KHM dari fraksi etil asetat pucuk daun teh
hijau terhadap Propionibacterium acnes adalah 0,06%. Hasil uji stabilitas sediaan spray
gel menunjukkan sediaan yang diperoleh kurang stabil. Viskositas dan pH sediaan spray
gel mengalami penurunan selama 28 hari penyimpanan. Hasil uji iritasi pada kulit kelinci
menunjukkan bahwa sediaan spray gel aman untuk digunakan dan tidak menimbulkan
iritasi kulit. Hasil analisis statistik menggunakan one way Anova, aktivitas antijerawat
menunjukkan sediaan spray gel memiliki diameter zona hambat yang berbeda signifikan
antara F0, F1, F2 terhadap kontrol positif dengan nilai p<0,05.

Kata kunci: antijerawat, pucuk daun teh hijau (Camelia sinensis), spray gel.

ABSTRACT

Green tea (Camellia sinensis L.) is very potencial as antiacne. Flavonoids in green tea is
considered as active substances for antiacne. Cream of ethyl acetate fraction of green
tea has been formulated and it had antiacne activity. The purpose of this research was to
produce a spray gel of ethyl acetate fraction of green tea leaves as antiacne. Shoots of
green tea leaves were extracted by steeping method using water and then fractionated
with liquid-liquid extraction (LLE). Antiacne activity from ethyl acetate fraction of shoot

202
PHARMACY, Vol.13 No. 02 Desember 2016 ISSN 1693-3591

of green tea leaves showed by MIC to Propionibacterium acnes using hole method.
Spray gel formulations of ethyl acetate fraction of shoot green tea using carbopol with
varying concentrations of NaOH as viscosity and pH stabilizer. The results showed the
MIC of the fraction of ethyl acetate of shoot green tea leaves to Propionibacterium acnes
were 0.06%. The results of stability testing of spray gel preparation is less stable. The
viscosity and pH of the spray gel preparation has decreased during the 28 days of
storage. Results of irritation test in skin rabbit showed that the dosage of spray gel is
safe to use and does not cause skin irritation. Results of statistical analysis using one-
way Anova, spray gel of ethyl acetate fraction of shoot green tea has inhibitory zone
diameters that were different significantly between the F0, F1, and F2 to the positive
control with p<0.05.

Key words: antiacne, shoot green tea leaves (Camellia sinensis L.), spray gel.

203
PHARMACY, Vol.13 No. 02 Desember 2016 ISSN 1693-3591

Pendahuluan dan Kuldiloke, 2013; Daud dkk., 2013).


Jerawat merupakan penyakit Oleh karena itu, penggunaan sediaan
kulit yang sering mengganggu dan topikal yang mengandung antibiotik
membuat orang-orang depresi dan sebagai pilihan pertama untuk
kehilangan kepercayaan dirinya (Purvis penyembuhan jerawat harus ditinjau
dkk., 2006; Eshtiaghy dan Kuldiloke, kembali untuk membatasi dampak
2013). Penyebab timbulnya jerawat di negatif dan adanya resistensi dari
antaranya penimbunan minyak atau antibiotik yang digunakan (Leyden, 1976;
lemak pada kulit, ketidakseimbangan Eady dkk., 1993; Enshaleh dkk., 2007).
hormonal, dan infeksi bakteri khususnya Adanya dampak negatif yang
Propionibacterium acnes (Eshtiaghy dan dapat ditimbulkan dari penggunaan
Kuldiloke, 2013). Jerawat (acne vulgaris) antibiotik untuk mengobati jerawat,
yang disebabkan adanya infeksi bisa orang-orang lebih memilih antimikroba
menimbulkan inflamasi pada permukaan alami sebagai alternatif dalam
kulit (Vats dan Sharma, 2012). Infeksi ini mengobati jerawatnya (Daud dkk.,
menyerang pilosebasea kulit yaitu 2013). Zat kimia alami yang mempunyai
bagian kelenjar sebasea dan folikel aktivitas sebagai antimikroba di
rambut (De Polo, 1998; Daud dkk., antaranya asam laurat (Nakatsuji dkk.,
2013). Jerawat yang disebabkan oleh 2009), xanthone (Pothitirat dkk., 2009),
infeksi bakteri sulit untuk dikontrol katekin dan flavonoid (Rohdiana dkk.,
(Esthiagi dan Kuldiloke, 2013). Cara 2007). Beberapa contoh tanaman yang
menanggulangi jerawat di antaranya dapat dijadikan alternatif dalam
menggunakan terapi secara sistemik pengobatan jerawat adalah Angelica
melalui sediaan topikal. Sediaan topikal anomala, Garcinia mangostana (Kim
ini mengandung antibiotik atau dkk., 2006; Cho dkk., 2009), Glycyrrhiza
antimikroba dan antiinflamasi (Daud glabra (Mills dan Bone, 2000), dan
dkk., 2013). Penggunaan antibiotik Camellia sinensis (Rohdiana dkk., 2007).
dalam jangka waktu yang lama akan Camellia sinensis atau sering
mengakibatkan jerawat timbul lagi disebut teh, merupakan tanaman asli
karena kemungkinan besar bakteri Indonesia dan mudah didapatkan. Teh
penyebab jerawat tersebut resisten hijau merupakan varietas dari spesies
terhadap antibiotik tersebut (Esthiagi teh yang paling berpotensi dalam

204
PHARMACY, Vol.13 No. 02 Desember 2016 ISSN 1693-3591

memberikan aktivitas farmakologi sediaan lain yang digunakan sebagai


seperti, antikanker, efek antijerawat. Pemanfaatan polimer
imunomodulator, antiviral (Nand dkk., sebagai pembentukan film untuk
2012), antibakteri (Rohdiana dkk., 2007), membalut sekaligus mengobati luka
antioksidan (Davis dkk., 1997; Nand dkk., sedang gencar dilakukan (Widyaningrum
2012) dan antiinflamasi (Cattopadhyay dkk., 2015). Kunci dari formulasi spray
dkk., 2004). Rohdiana dkk. (2007) gel adalah adanya ketepatan dalam
menunjukkan fraksi etil asetat dari pemilihan polimer dan plasticizer
ekstrak air daun teh hijau mempunyai (Widyaningrum dkk., 2015) sehingga
aktivitas antibakteri terhadap ketika digunakan akan mudah kering dan
Propionibacterium acnes yang tidak lengket di kulit. Sediaan spray gel
merupakan bakteri penyebab jerawat. mempunyai kelebihan dari sediaan
Teh banyak mengandung flavonoid, topikal lainnya yaitu lebih aman, lebih
polifenol, dan katekin (Rani dan Raaz, praktis penggunaannya, dan lebih
2013). Flavanol atau katekin merupakan mudah dicuci.
metabolit sekunder yang paling banyak
terkandung dalam teh hijau (Kaur dkk., Metode Penelitian
2015). Bahan
Sediaan topikal di pasaran yang Simplisia yang digunakan yaitu
sering digunakan untuk mengobati pucuk daun teh hijau diperoleh dari
jerawat yaitu bentuk krim, gel, dan Perkebunan Teh Negara Kanaan
lotion. Penelitian sebelumnya (Rohdiana Rancabali. Bahan-bahan kimia yang
dkk., 2007 dan Yoon dkk., 2013) sudah digunakan antara lain akuades, larutan
berhasil memformulasikan teh hijau gelatin 1%, karbopol (teknis), gliserin
dalam bentuk sediaan krim dengan (teknis), NaOH (teknis), dinatrium EDTA
formula yang berbeda sebagai (teknis), NaCl (teknis). Untuk uji
antibakteri. Sediaan spray gel sebagai antibakteri digunakan biakan murni
antijerawat dari fraksi etil asetat teh Propionibacterium acnes, larutan DMSO,
hijau belum dilaporkan. Pengembangan akuades steril, alkohol 70%, media
formulasi sediaan topikal untuk nutrient agar, NaCl 0,9%, klindamisin
antijerawat perlu dilakukan supaya bisa fosfat (Medi-Klin). Untuk uji iritasi
menemukan kelebihan dari bentuk digunakan kelinci (Albino galur lokal).

205
PHARMACY, Vol.13 No. 02 Desember 2016 ISSN 1693-3591

Determinasi Tanaman Uji Kadar Hambat Minimum (KHM)


Fraksi Etil Asetat dari Ekstrak Air Teh
Tanaman teh hijau (dideterminasi
Hijau
di Laboratorium Taksonomi, Jurusan
Uji KHM dilakukan secara in-vitro
Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu
yaitu menggunakan metode sumur (hole
Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas
method). Disiapkan cawan petri steril,
Padjajaran.
sebanyak 1 mL suspensi bakteri uji
Ekstraksi dan Fraksinasi
dimasukkan ke dalam cawan petri,
Ekstraksi dilakukan dengan
kemudian dituangkan dengan 20 mL
metode seduhan (Rohdiana dkk., 2009).
media nutrient agar lalu dihomogenkan.
Serbuk simplisia daun teh hijau sebanyak
Setelah media padat, dibuat lubang.
300 gram direndam dalam akuades
Kemudian lubang diisi dengan 50 L
sebanyak 3 L yang telah dipanaskan
fraksi etil asetat teh hijau dengan
sampai mendidih, proses penyeduhan
rentang konsentrasi 1% sampai 0,04%
dilakukan selama 5 menit, sambil
yang telah dilarutkan dalam larutan
sesekali diaduk, kemudian disaring dan
DMSO 2% dan 50 L larutan DMSO
filtratnya ditampung. Proses ini
sebagai kontrol negatif. Cawan petri
dilakukan tiga kali sampai filtrat yang
diinkubasi pada suhu 37 oC selama 24
diperoleh bening untuk memaksimalkan
jam, selanjutnya diukur diameter
penarikan katekin. Filtrat yang diperoleh,
hambatan pertumbuhan bakteri uji, yang
dipekatkan sampai diperoleh filtrat yang
ditunjukkan dengan terbentuknya zona
kental sebanyak 105 gram.
hambat yaitu daerah jernih di sekitar
Ekstrak kental difraksinasi
lubang atau sumuran. Pengukuran
menggunakan ekstraksi cair-cair (ECC).
dilakukan dari dasar cawan petri dengan
Pelarut yang digunakan secara berturut
jangka sorong. Pengujian dilakukan 3 kali
turut adalah n-heksana dan etil asetat
kemudian ditentukan nilai KHM dari
sampai diperoleh fraksi etil asetat. Fraksi
fraksi etil asetat ekstrak air teh hijau.
etil asetat dilarutkan dalam air kemudian
Optimasi Formula Basis Spray gel
dikentalkan menggunakan waterbath
Optimasi formula basis spray gel
dengan suhu 40 C untuk menghilangkan
dilakukan dengan membuat 3 formula
pelarut etil asetat, kemudian ekstrak
dengan variasi konsentrasi NaOH yang
dikeringkan menggunakan oven dengan
selanjutnya disebut B1, B2, B3, dan B4.
suhu 60 C.

206
PHARMACY, Vol.13 No. 02 Desember 2016 ISSN 1693-3591

Formulasi basis spray gel dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Formula basis spray gel (Kamishita dkk., 1992)


Jumlah (%)
Komposisi
B1 B2 B3 B4
Gliserin 1 1 1 1
Karbopol (0,4% dalam air) 17,5 17,5 17,5 17,5
NaOH (0,2% dalam air) 5 10 15 20
Na2EDTA (0,1% dalam air) 10 10 10 10
NaCl (1% dalam air) 2 2 2 2
Akuades ad 100 100 100 100

Pada optimasi basis spray gel, kemudian ditambahkan pada basis spray
karbopol ditambahkan NaOH sedikit gel yang terpilih sedikit demi sedikit
demi sedikit, diaduk menggunakan sambil diaduk hingga homogen. Lalu
homogenizer dengan kecepatan 5000 sediaan ditambahkan akuades hingga
rpm sampai membentuk gel. Campuran 100%, dan diaduk kembali hingga
ditambahkan larutan dinatrium EDTA homogen.
dan gliserin, diaduk sampai homogen, Evaluasi Fisik Sediaan Spray Gel
ditambahkan larutan NaCl, diaduk dan Evaluasi fisik meliputi uji
ditambahkan akuades, selanjutnya organoleptik, daya sebar, kondisi
kembali diaduk sampai homogen. semprotan, sifat ketahanan melekat, dan
Terhadap masing-masing formula basis waktu kering. Uji organoleptik dilakukan
dilakukan evaluasi fisik meliputi pH, untuk melihat tampilan fisik sediaan
viskositas, ketahanan melekat, daya dengan cara pengamatan terhadap
sebar, dan waktu kering. bentuk, warna, dan bau dari sediaan
Formulasi Sediaan Spray Gel yang telah dibuat.
Sediaan spray gel yang 1. Daya sebar
mengandung fraksi etil asetat teh hijau Sediaan disemprotkan pada
(F1 dan F2) dibuat dengan basis spray gel plastik mika dengan jarak 5 cm.
yang terpilih. Pada pembutan sediaan Kemudian diukur daya sebar sediaan
ini, fraksi etil asetat teh hijau terlebih dengan menggunakan penggaris.
dahulu dilarutkan dalam akuades

207
PHARMACY, Vol.13 No. 02 Desember 2016 ISSN 1693-3591

Parameter yang digunakan adalah 4. Waktu kering


diameter. Untuk pengujian waktu kering,
2. Kondisi semprotan sediaan diaplikasikan pada sisi dalam
Uji ini dilakukan untuk dari lengan bagian bawah
mengetahui kondisi semprotan dari sukarelawan. Kemudian dihitung
sediaan spray gel, dengan mengikuti waktu yang perlukan hingga cairan
standar sebagai berikut: yang disemprotkan mengering.
Buruk 1: tidak menyemprot keluar. Uji Stabilitas Sediaan Spray Gel
Buruk 2: menyemprot keluar, tetapi Uji stabilitas sediaan dilakukan
Tidak dalam bentuk partikel dengan metode uji stabilitas dipercepat.
melainkan dalam bentuk Uji stabilitas dipercepat dilakukan
tetesan/gumpalan. dengan menyimpan sediaan gel pada
Buruk 3: menyemprot keluar, tetapi suhu 40 oC selama 28 hari dan diamati
partikel terlalu besar. pada hari ke-1, 3, 5, 7, 14, 21, dan 28.
Baik: menyemprot keluar seragam dan Hal-hal diperhatikan meliputi pH dan
dalam bentuk partikel kecil viskositas.
(Kamishita dkk., 1992). Penetapan pH dilakukan dengan
3. Sifat ketahanan melekat menggunakan pH meter. pH meter
Untuk pengujian sifat ketahanan dikalibrasi dengan cara elektroda
melekat, sediaan diaplikasikan pada dimasukkan ke dalam larutan buffer pH
sisi dalam dari lengan bagian bawah 4 dan dibiarkan sampai stabil, kemudian
sukarelawan, dengan cara dibilas dengan akuades dan dikeringkan.
menyemprotkan spray gel pada jarak Elektroda dimasukkan ke dalam larutan
3 cm. Ketika tetesan spray gel buffer 7 dan dibiarkan sampai stabil.
menetes setelah 10 detik maka di Elektroda dibilas kembali dengan
evaluasi sebagai menetes, dan ketika akuades dan dikeringkan. Kemudian
tetesan spray gel tidak menetes elektroda dimasukkan ke dalam sampel,
setelah 10 detik maka dievaluasi dibiarkan sampai stabil, dan dicatat pH
sebagai melekat (Kamishita dkk., yang tertera (Panigrahi dkk., 1997).
1992). Viskositas sediaan spray gel
diukur menggunakan viskotester Rion
LV-04. Sediaan spray gel sebanyak 75 mL

208
PHARMACY, Vol.13 No. 02 Desember 2016 ISSN 1693-3591

dimasukkan ke dalam cup. Kemudian kemudian dihitung nilai rata-rata efek


dipasang spindle no. 3, hasil viskositas antibakteri pada formula spray gel.
dicatat setelah viskotester menunjukan Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan
angka yang stabil. Pengukuran viskositas pada hari ke-0, 14, dan 28. Hasil uji
dilakukan dengan replikasi tiga kali aktivitas antibakteri dianalisis
(Panigrahi dkk., 1997; Vats dan Sharma, menggunakan one-way Anova (Shafira
2012). dkk., 2015).
Pengujian Aktivitas Antibakteri Sediaan Uji Iritasi terhadap Sediaan Spray Gel
Spray Gel
Uji iritasi dilakukan pada 3 ekor
Uji aktivitas antibakteri sediaan
kelinci (Oryctolagus cuniculus). Kelinci
diuji secara in-vitro yaitu dengan
yang digunakan adalah kelinci dewasa,
menggunakan metode sumur. Cawan
sehat, dengan bobot badan 1,52 kg.
petri steril disiapkan, diberi tanda untuk
Sebelum pengujian dimulai, hewan uji
masing-masing formula. Sebanyak 1 mL
diaklimatisasi di ruang percobaan kurang
suspensi bakteri uji dimasukkan ke
lebih selama 5 hari dan hewan
dalam cawan petri, kemudian
ditempatkan pada kandang individual.
dituangkan dengan 20 mL media nutrient
Bulu hewan harus dicukur pada daerah
agar lalu dihomogenkan. Setelah media
punggung seluas lebih kurang 10x15 cm.
padat, dibuat lubang. Kemudian lubang
Dosis yang digunakan untuk sediaan uji
diisi dengan 50 L spray gel F0, F1, dan
cair adalah sebanyak 0,5 mL dan untuk
F2 yang telah dilarutkan dalam larutan
sediaan uji padat atau semipadat
DMSO 2%, dan 50 L gel komersial yang
sebanyak 0,5 g. Sediaan uji dipaparkan di
telah dilarutkan dalam larutan DMSO 2%
area kulit seluas 6 (2x3) cm2, kemudian
sebagai kontrol positif. Cawan petri
lokasi pemaparan ditutup dengan kasa
diinkubasi pada suhu 37 oC selama 24
dan diplester dengan plester yang
jam, kemudian diukur diameter
bersifat noniritan. Semua hewan uji
hambatan pertumbuhan bakteri uji yang
harus diamati ada atau tidaknya eritema
ditunjukkan dengan terbentuknya zona
dan udema, penilaian respon dilakukan
hambat yaitu daerah jernih di sekitar
pada jam ke-24, 48, dan 72 setelah
lubang atau sumuran. Pengukuran
pembukaan tempelan (BPOM, 2014).
dilakukan dari dasar cawan petri dengan
jangka sorong. Pengujian dilakukan 3 kali

209
PHARMACY, Vol.13 No. 02 Desember 2016 ISSN 1693-3591

Hasil diameter 8,8 mm. Hal itu memungkinkan


Ekstraksi dan Fraksinasi fraksi etil asetat untuk diformulasikan
Rendemen ekstrak yang sebagai sediaan antijerawat dalam spray
dihasilkan sebesar 35% dan rendemen gel, karena tidak memerlukan fraksi etil
fraksi etil asetat 12,9%. Rendemen yang asetat teh hijau dalam jumlah besar yang
diperoleh menyatakan jumlah ekstrak akan mengganggu estetika dari sediaan
atau fraksi atau senyawa-senyawa dalam spray gel.
daun teh hijau yang dapat ditarik oleh Evaluasi Fisik terhadap Hasil Optimasi
Formula Basis Spray gel
pelarut air selama proses ekstraksi.
Basis spray gel yang dipilih
Organoleptis ekstrak air teh hijau yang
adalah B3 karena merupakan basis yang
dihasilkan berwarna kuning kecoklatan
paling memenuhi persyaratan
dengan bau khas teh hijau.
dibandingkan dengan formula lainnya
Uji Kadar Hambat Minimum (KHM)
Fraksi Etil Asetat dari Ekstrak Air Teh (Tabel 2). Adanya perbedaan viskositas
Hijau
dan pH dari masing-masing formula basis
Nilai KHM dari fraksi etil asetat
diakibatkan oleh variasi jumlah NaOH
ada pada konsentrasi 0,06% dengan
(0,2% dalam air).

Tabel 2. Evaluasi fisik terhadap basis spray gel


Evaluasi B1 B2 B3 B4
pH 4,9 5,6 6,1 6,8
Viskositas 30 cPs 80 cPs 100 cPs 100 cPs
Ketahanan Melekat Menetes Melekat Melekat Melekat
Daya Sebar 6 cm 8 cm 6,5 cm 6,5 cm
Waktu Kering 328 350 320 350
Keterangan: - Satuan viskositas centipoise.

Hasil Formulasi Sediaan Spray Gel Fraksi Tabel 3. Terhadap masing-masing


Etil Asetat Teh Hijau
sediaan spray gel, dilakukan evaluasi fisik
Pada pembuatan sediaan spray
(Tabel 4), yang meliputi kondisi semprot,
gel, fraksi etil asetat teh hijau dibuat 3
sifat ketahanan melekat, daya sebar,
formula yaitu F0 (tanpa fraksi), F1 (0,6
waktu kering, dan uji stabilitas
gram fraksi), dan F2 (1,2 gram fraksi).
dipercepat terhadap pH dan viskositas
Komposisi sediaan dapat dilihat pada
(Tabel 5). Hasil evaluasi fisik masih

210
PHARMACY, Vol.13 No. 02 Desember 2016 ISSN 1693-3591

memenuhi persyaratan sediaan spray gel menunjukkan secara organoleptis F1 dan


menurut kesukaan yang telah dilakukan F2 relatif stabil. Viskositas dan pH dari
(Kamishita dkk., 1992). F1 dan F2 F0, F1, dan F2 mengalami penurunan
mempunyai warna coklat dan tidak ada selama penyimpanan 28 hari. Namun
perubahan warna yang signifikan selama penurunan tersebut tidak terlalu besar.
28 hari penyimpanan. Hal itu

Tabel 3. Formula sediaan spray gel fraksi etil asetat teh hijau
Jumlah (%)
Komposisi
F0 F1 F2
Fraksi etil asetat teh hijau - 0,6 1,2
Gliserin 1 1 1
Karbopol (0,4% dalam air) 17,5 17,5 17,5
NaOH (0,2% dalam air) 14 14 14
Dinatrium edetat (0,1% dalam air) 10 10 10
NaCl (1% dalam air) 2 2 2
Akuades ad 100 ad 100 ad 100

Tabel 4. Hasil evaluasi fisik sediaan


Evaluasi F0 F1 F2
Kondisi semprot Baik Baik Baik
Sifat ketahanan melekat Melekat Melekat Melekat
Daya sebar 6,3 cm 0,28 6,1 cm 0,28 6,3 cm 0,57
Waktu kering 3' 26" 3' 26" 3' 07"

Tabel 5. Hasil pengamatan pH dan viskositas sediaan spray gel


Hari F0 F1 F2
ke- pH Viskositas pH Vikositas pH Viskositas
0 6,280,07 1000 6,040,06 96,75,7 5,760,04 8017,3
1 6,280,07 1000 6,040,06 96,75,7 5,760,04 8017,3
3 6,130,05 83,35,7 5,560,11 8010 5,360,05 73,35,7
5 6,30,1 9010 5,40,05 8010 5,30,1 73,35,7
7 6,30,05 86,75,7 5,40,05 8010 5,40 600
14 6,30,05 86,75,7 5,40,2 73,315,2 4,90,28 41,72,8
21 6,30,1 86,75,7 5,50,2 7010 4,90,3 43,35,7
28 6,30,1 86,75,7 5,40,25 66,75,7 4,80,15 46,75,7
Keterangan: Satuan viskositas centipoise.

211
PHARMACY, Vol.13 No. 02 Desember 2016 ISSN 1693-3591

Hasil Pengujian Aktivitas Antibakteri Sediaan spray gel F1 dan F2 masih


Sediaan Spray Gel
memiliki aktivitas antijerawat selama
Hasil uji aktivitas sediaan spray
penyimpanan 28 hari. Aktivitas
gel fraksi etil asetat teh hijau sebagai
antibakteri sediaan spray gel F1 maupun
antijerawat dibandingkan dengan
F2 masih relatif kecil jika dibandingkan
kontrol positif (Tabel 6). Kontrol positif
dengan aktivitas yang diberikan oleh
yang dipakai adalah salah satu sediaan
kontrol positif.
spray gel komersial yang ada di pasaran.

Tabel 6. Diameter hambat sediaan spray gel terhadap Propionibacterium acnes


Diameter Zona Bening (mm)
Formula
0 Hari 14 Hari 28 Hari
F0 80 80 80
F1 140 13,40,22 12,90,13
F2 160,1 150,17 14,30,12
Kontrol (+) 200 20,30,3 20,30,3
Keterangan: Kontrol (+) adalah sediaan gel komersial

Uji Iritasi terhadap Sediaan Spray Gel hijau. Pemilihan ini berdasarkan potensi
Uji iritasi yang telah dilakukan yang dimiliki teh hijau. Teh hijau sudah
terhadap sediaan spray gel fraksi etil terbukti mempunyai potensi besar
asetat teh hijau menggunakan kelinci sebagai antibakteri terhadap
albino galur lokal dewasa dengan bobot Propionibacterium acnes (Rohdiana dkk,
masing-masing 1,52 kg. Hasil yang 2009). Katekin yang ada di daun teh
diamati setelah 72 jam pengujian hijau merupakan senyawa yang
menunjukkan sediaan spray gel (F0, F1, bertanggung jawab terhadap potensi
dan F2) tidak menunjukkan adanya iritasi antibakteri (Li dkk., 2006). Proses
pada punggung masing-masing kelinci ekstraksi menggunakan metode
uji. seduhan, dengan cara merendam
simplisia oleh air suling sampai mendidih
Pembahasan selama 5 menit dengan tujuan supaya
Bahan baku yang dipakai dalam bisa menarik katekin dalam pucuk daun
penelitian ini adalah pucuk daun teh teh hijau. Pada proses ini harus

212
PHARMACY, Vol.13 No. 02 Desember 2016 ISSN 1693-3591

diperhatikan suhu, karena faktor suhu Hasil formulasi sediaan spray gel
sangat menentukan kualitas katekin. fraksi etil asetat pucuk daun teh hijau,
Ekstrak air daun teh hiijau diekstraksi menunjukkan F1 dan F2 relatif stabil. Hal
kembali dengan ekstraksi cair-cair tersebut berdasarkan hasil evaluasi fisik
menggunakan pelarut secara berurutan (uji organoleptik, daya sebar, kondisi
n-heksana dan etil asetat. N-heksana semprotan, sifat ketahanan melekat, dan
digunakan untuk menarik senyawa waktu kering) masih memenuhi
nonpolar sehingga dapat terpisah dari parameter formula spray gel yang baik.
senyawa yang diinginkan yaitu katekin. Paarameter formula spray gel yang baik
Etil asetat merupakan pelarut semi untuk kulit adalah memiliki pH antara
polar, dapat menarik senyawa katekin 4,5-6,5; viskositas kurang dari 150 cPs;
dan dapat menjaga kestabilan senyawa melekat saat disemprotkan; daya sebar
katekin (Rohdiana dkk., 2009). antara 5-7; dan waktu kering kurang dari
Pengujian aktivitas antibakteri 5 menit (Kamishita dkk., 1992). Hasil uji
Propionibacterium acnes dilakukan stabilitas yang ditunjukkan dengan nilai
dengan menentukan KHM. Bakteri yang pH dan viskositas dari F1 dan F2
dipilih adalah Propionibacterium acnes, menunjukkan terjadinya penurunan.
dimana bakteri ini merupakan bakteri Namun penurunan tersebut tidak terlalu
khas penyebab jerawat (Vats dan besar dan nilai pH dan viskositas dari F1
Sharma, 2012). KHM merupakan dan F2 masih memenuhi parameter
konsentrasi terkecil yang dapat formula spray gel yang baik (Kamishita
menghambat pertumbuhan bakteri dkk., 1992). Penurunan nilai pH dan
setelah satu hari diinkubasi. KHM dari viskositas pada F2 cenderung lebih besar
fraksi etil asetat berada pada konsentrasi daripada F1. Hal itu menunjukkan bahwa
0,06% dengan diameter 8,8 mm. Hal F1 lebih stabil selama penyimpanan 28
tersebut menunjukkan fraksi etil asetat hari daripada F2.
pada konsentrasi 0,06% memiliki potensi Hasil pengujian aktivitas
antibakteri sedang. Zona hambat antibakteri terhadap Propionibacterium
antibakteri dengan ukuran 6-10 mm acnes menunjukkan bahwa F1 dan F2
dikategorikan sedang, zona hambat 11- masih memiliki aktivitas antijerawat
20 mm dikategorikan kuat, zona hambat selama penyimpanan 28 hari. Aktivitas
21 mm dikategorikan sangat kuat. antijerawat F1 dan F2 dibandingkan

213
PHARMACY, Vol.13 No. 02 Desember 2016 ISSN 1693-3591

dengan kontrol positif (sediaan spray gel kuat. Berdasarkan hasil analisis statistik
komersial yang ada di pasaran) untuk menggunakan one-way Anova, aktivitas
melihat seberapa besar potensi F1 dan antibakteri sediaan spray gel memiliki
F2 sebagai antijerawat. Apabila dilihat diameter zona hambat yang berbeda
dari diameter zona hambat F1 dan F2 signifikan antara F1, F2 terhadap kontrol
pada hari ke-28, potensi antijerawat F1 positif dengan nilai p<0,05.
6/10 dari kontrol positif, sedangkan F2
7/10 dari kontrol positif. Hal itu Daftar Pustaka
didukung dengan hasil analisis statistik Cattopadhyay, P., Besra, S.E., Gomes, A.,
Das, M., Sur, P., Mitra, S.,
menggunakan one-way Anova. Aktivitas
Vedasiromoni, J.R. 2004. Anti-
antijerawat sediaan spray gel memiliki inflammatory activity of tea
(Camelia sinensis) root extract.
diameter zona hambat yang berbeda
Life Sci., 74(15):1839-1849.
signifikan antara F1 dan F2 terhadap
Cho, S.C., Sultan, M.Z., Moon, S.S. 2009.
kontrol positif. Aktivitas antijerawat
Antiacne activities of
sediaan spray gel F1 dan F2 tergolong pulsaquinone, hydro-
pulsaquinone and structurally
kuat.
related 1,4quinone derivatives.
Arch. Pharm. Res., 32:489-94.
Kesimpulan
Daud, F.S., Wankhede, S., Joshi, M.,
Nilai KHM dari fraksi etil asetat Pande, G. 2013. Development of
herbal antiacne gel and its
teh hijau terhadap Propionibacterium
evaluation against acne causing
acnes sebesar 0,06%. Formula basis yang bacteria Propionibacterium acne
and Staphylococcus epidermidis.
memenuhi persyaratan untuk sediaan
Int. J. Res. Ayurveda Pharm.,
spray gel adalah menggunakan karbopol 4(5):781-786.
(0,4% dalam air) sejumlah 17% dengan
Davis, A.L., Lewis, J.R., Cai, Y., Powell, C.,
penambahan NaOH (0,2% dalam air) Davis, A.P., Wilkins, J.P.G.,
Pudney, P., Clifford, M.N. 1997.
sejumlah 15%. Formula sediaan spray gel
A polyphenolic pigment from
antijerawat (F1 dan F2) relatif stabil black tea. Phytochemistry,
46(8):1397-1402.
selama penyimpanan 28 hari dan tidak
menimbulkan iritasi pada permukaan De Polo, K.F. 1998. A short Textbook of
Cosmeetology. 1st ed. Augsburg:
kulit kelinci. Aktivitas antijerawat masih
Verlag fur chemische Industrie.
dimiliki F1 dan F2 selama penyimpanan
28 hari dan tergolong aktivitas yang

214
PHARMACY, Vol.13 No. 02 Desember 2016 ISSN 1693-3591

Eady, E.A., Jones, C.E., Tipper, J.L., Cove, Mills, S.Y. dan Bone, K. 2000. Principles
J.H., Cunliffe, W.J., Layton, A.M. and pPactice of Phytotherapy:
1993. Antibiotic resistant Modern Herbal Medicine.
Propionibacteria in acne: need London: Churchill Livingstone.
for policies to modify antibiotic
usage. BMJ, 306:555-556. Nakatsuji, T., Kao, M.C., Fang, J.Y.,
Zouboulis, C.C., Zhang, L., Gallo,
Enshaleh, S., Jooya, A., Siadat, H.A., Iraji, R.L., Huang, C.M. 2009.
F. 2007. The efficacy of 5% Antimicrobial property of lauric
topical tea tree oil gel in mild to acid against Propionibacterium
moderate acne vulgaris: a acnes: its therapeutic potential
randomized, double-blind for inflammatory acne vulgaris. J.
placebo-controlled study. Indian Invest. Dermatol., 129(10):2480-
J. Dermatol. Venereol Leprol, 2488.
73(1):22-25.
Nand, P., Drabu, S., Gupta, R.K. 2012.
Esthiaghi, M.N. dan Kuldiloke, J. 2013. Phytochemical and antimicrobial
Formulation of antiacne cream screening of medicinal plants for
containing natural the treatment of acne. Indian J.
antimicrobials. Int. Res. J. Nat. Prod. Resour., 3(1):28-32.
Pharm., 4(11):20-25.
Panigrahi, L., John, T., Shariff, A.,
Kamishita, T., Miyazaki, T., Okuno, Y. Shobarani, R.S. 1997.
1992. Spray Gel Base and Spray Formulation and evaluation of
Gel Preparation Using Thereof. lincomycin HCl gels. Indian J.
Osaka: Toko Yakuhin Kogyo Pharma. Sci., 59:610-613.
Kabushiki Kaisha.
Pothitirat, W., Chomnawang, M.T.,
Kaur, H.P., Kaur, S., Rana, S. 2015. Gritsanapan, W. Anti-acne
Antibacterial activity and inducing bacteria activity and -
phytochemical profile tea, black mangostin content of Garcina
tea, and divya peya herbal tea. mangostana fruit rind extracts
Int. J. Pure App. Biosci., 3(3):117- from different provenience.
123. Songklanakarin. J. Sci. Technol.,
31(1):41-47.
Kim, C., Jung, H.Y., Kim, J.H., Shin, C.S.
2006. Effect of monascus Li, B.H, Zhang, R., Du, Y.T., Sun, Y.H.,
pigment derivatives on the Tian, W.X. 2006. Inactivation
electrophorectic mobility of mechanism of the -ketoacyl-
bacteria, and the cell absorption [acyl zarrier protein] reductase
and antibacteria activities of of bacterial type-II fatty acid
pigment. Colloid Surf. B., 47:153- synthase by epigallocatechin
159. gallate. Biochem. Cell Bio.,
84(5):755-762.
Leyden, J.J. 1976. Antibiotic resistant
acne. Cutis., 17:593-596. Purvis, D., Robinson, E., Merry, S.,
Watson P. 2006. Acne, anxiety,

215
PHARMACY, Vol.13 No. 02 Desember 2016 ISSN 1693-3591

depression and suicide in Fakultas MIPA Unisba. Hal. 564-


tennager: a cross-sectional 566.
survey of New Zealand
secondary school student. J. Vats, A. dan Sharma, P. 2012.
Paediatr. Child Health, Formulation and evaluation of
42(12):793-796. topical antiacne formulation of
Coriande extract. Int. J. Pharm.
Rani, B. dan Raaz, M. 2013. Vigour and Sci. Re. Res., 16(2):97-103.
vitality from Camelia sinensis
plant. Universal Journal Widyaningrum, N., Fudholi, A.,
Pharmacy, 2(2):42-46. Sudarsono, Setyowati, E.P. 2015.
Aktivitas antibakteri formula
Rohdiana, D., Agustini, R., Alatas, F. optimum krim anti-acne fraksi
2007. Pengujian ekstrak air dan etil asetat ekstrak dau teh hijau
fraksi-fraksi daun teh (Camelia (Camelia sinensis). Prosiding
sinensis (L.) Kuntze) terhadap seminar nasional peluang herbal
aktivitas bakteri penyebab sebagai alternatif medicine.
jerawat (Propionibacterium Semarang. Hal. 2-8.
acnes dan Staphylococcus
aureus). Jurnal Penelitian Teh Widyaningrum, N., Fudholi, A.,
dan Kina, 10(1-2):44-50. Sudarsono, Setyowati, E.P. 2015.
Buffer and emusifier
Rohdiana, D., Agustini, R., Alatas, F. optimization in cream with its
2009. Formulasi sediaan krim antibacterial activity and
antijerawat ekstrak etil asetat sensitivity. Int. J. of Pharm. Sci.
daun teh hijau (Camellia sinensis and Research, 6(12):1000-1006.
(L.) Kuntze). Jurnal Penelitian
Teh dan Kina. Hal. 11. Yoon, J.Y., Kwon, H.H., Min, S.U.,
Thiboutot, D.M., Suh, D.H. 2013.
Shafira, U., Gadri, A., Lestari, F. 2015. Epigallocatechin-3-3 gallate
Formulasi sediaan spray gel improves acnes in humans by
serbuk getah tanaman jarak cina modulating intracellular
dengan variasi jenis polimer molecular targets and inhibiting
pembentuk film dan jenis P. acnes. J. Invest. Dermatol.,
plasticizer. Prosiding Penelitian 133(2):429-440.
SPeSIA Unisba 2015. Bandung:

216