Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH TENTANG USAHA

KESEHATAN SEKOLAH (UKS)

DISUSUN OLEH:

- ALFIKRI BAHANITI
- KADEK ANGGUN SETIAWAN
- MAYA NOVITA

1
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT, yang memberi rahmat dan karunianya,
sehingga pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini. Dimana tugas makalah
ini penulis sajikan dalam bentuk baku dan sederhana. Adapun judul tugas makalah ini adalah
USAHA KESEHATAN SEKOLAH
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menambah ilmu pengetahuan kita tentang Ilmu
Kesehatan Masyarakat khususnya dalam ruang lingkup Usaha Kesehatan Sekolah. Penulis
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu kritik dan saran
yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnan makalah ini.
Penulis berharap makalah ini dapat memberikan manfat bagi kita semua.
Terima Kasih.

Penyusun

2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR. 2
DAFTAR ISI.. 3
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang4
B. Rumusan Masalah 4
C. Tujuan Penulisan. .. . 5
D. Manfaat Penulisan. 5

BAB II : PEMBAHASAN
1. Pengertian UKS.6
2. Pengendalian Penyakit Pada usia Anak-anak 7
3. Perkembangan UKS 7
4. Dukungan Uks Thd Pengendalian Penyakit Anak2.. 13
5. Sarana & Prasarana yg tdpt di UKS 18
BAB III : PENUTUP
A. Kesimpulan20

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tujuan pembangunan bidang kesehatan adalah terwujudnya derajat kesehatan masyarakat yang
optimal. Dalam kehidupan sosial yang beragam di masyarakat, keluarga adalah unit sosial
terkecil, oleh karena itu diperlukan upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan keluarga
terutama kesehatan ibu dan anak. Masa anak merupakan waktu yang tepat untuk meletakkan
landasan yang kokoh bagi terwujudnya manusia yang berkualitas.
Anak usia sekolah baik tingkat pra sekolah, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan
Sekolah menengah Atas adalah suatu masa usia anak yang sangat berbeda dengan usia dewasa.
Di dalam periode ini didapatkan banyak permasalahan kesehatan yang sangat menentukan
kualitas anak di kemudian hari. Masalah kesehatan tersebut meliputi kesehatan umum, gangguan
perkembangan, gangguan perilaku dan gangguan belajar. Permasalahan kesehatan tersebut pada
umumnya akan menghambat pencapaian prestasi pada peserta didik di sekolah. Kesempatan
belajar tersebut membutuhkan kondisi fisik prima yaitu tubuh yang sehat, oleh karena itu
diperlukan suatu upaya kesehatan untuk anak sekolah agar anak dapat tumbuh menjadi manusia
yang berkualitas dibutuhkan pendidikan di sekolah, salah satunya melalui UKS.
Oleh karena itu kami tertarik untuk membahas lebih lanjut mengenai peranan UKS dalam anak
yang sehat.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan UKS?
2. Bagaimana pengendalian penyakit pada usia anak-anak?
3. Bagaimana perkembangan UKS?
4. Bagaimana dukungan UKS terhadap pengendalian penyakit pada usia anak
anak?
5. Sarana dan Prasarana apa saja yang terdapat dalam UKS ?

4
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan UKS.
2. Untuk mengetahui pengendalian penyakit pada usia anak-anak.
3. Untuk mengetahui perkembangan UKS.
4. Untuk mengetahui dukungan UKS terhadap pengendalian penyakit pada usia anak-anak.

D. Manfaat
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan UKS.
2. Mengetahui pengendalian penyakit pada usia anak-anak.
3. Mengetahui perkembangan UKS.
4. Mengetahui dukungan UKS terhadap pengendalian penyakit pada usia anak-anak.

5
BAB II
PEMBAHASAN

1. PENGERTIAN UKS
Usaha kesehatan sekolah (UKS) upaya pelayanan kesehatan yang terdapat di sekolah, guna
menolong murid dan juga warga sekolah yang sakit di kawasan lingkungan sekolah. UKS
biasanya dilakukan di ruang kesehatan suatu sekolah.
UKS tidak hanya menangani murid yang mengalami kecelakaan ringan di sekolah (upaya
pertolongan pertama pada kecelakaan), melayani kesehatan dasar bagi murid selama sekolah
(pemberian imunisasi), pemantauan pertumbuhan anak. Tetapi juga mengajarkan hal-hal kecil
namun penting bagi siswa, seperti menanamkan mencuci tangan sebelum dan sesudah makan,
pengenalan makanan empat sehat lima sempurna, perilaku menggosok gigi setelah makan, dan
perilaku-perilaku lain yang dapat membentuk kebiasaan sehat bagi anak.
Hal tersebut perlu dilakukan karena UKS merupakan upaya terpadu lintas program dan lintas
sektoral untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat.

Makna Simbol UKS

a. Segitiga Sama Sisi


Menggambarkan 3 program pokok UKS (Trias UKS)
1) Pendidikan Kesehatan.
2) Pelayanan Kesehatan.
3) Pembinaan Lingkungan Sekolah Sehat.

b. Lingkaran
Menggambarkan bahwa program UKS dilaksanakan secara terpadu oleh seluruh sektor terkait.

c. Tulisan Uks (Ditulis Secara Vertikal & Horizontal)


Menggambarkan bahwa UKS dilaksanakan mulai dari TKA/RA sampai SLTA/MA, serta
dilaksanakan secara berjenjang dari sekolah/ Madrasah sampai pusat secara terkoordinasi baik
antara sekolah dengan Tim Pembina, Tim Pembina UKS dibawahnya dengan yang diatasnya
maupun antar sesama TIM Pembina UKS yang sejajar.

6
2. PENGENDALIAN PENYAKIT PADA USIA ANAK-ANAK
Usia anak adalah periode yang sangat menentukan kualitas seorang manusia dewasa nantinya.
Saat ini masih terdapat perbedaan dalam penentuan usia anak, berdasarkan pertumbuhan fisik dan
psikososial, perkembangan anak, dan karakteristik kesehatannya.
Anak usia sekolah baik tingkat pra sekolah, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan
Sekolah menengah Atas adalah suatu masa usia anak yang sangat berbeda dengan usia dewasa.
Di dalam periode ini didapatkan banyak permasalahan kesehatan yang sangat menentukan
kualitas anak di kemudian hari. Masalah kesehatan tersebut meliputi kesehatan umum, gangguan
perkembangan, gangguan perilaku dan gangguan belajar. Permasalahan kesehatan tersebut pada
umumnya akan menghambat pencapaian prestasi pada peserta didik di sekolah.
Sasaran pelayanan usaha kesehatan sekolah adalah seluruh peserta didik dari tingkat pendidikan
taman kanak-kanak, pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan agama, pendidikan
kejuruan, pendidikan khusus atau pendidikan sekolah.

3. PERKEMBANGAN UKS
1. Kegiatan UKS sebelum Tahun 1990
a. Pemantauan Pertumbuhan dan Status Gizi
Ilustrasi kegiatan UKS sebelum tahun 1990 dapat dijadikan cermin atau
evaluasi kegiatan pada institusi sekolah untuk anak usia 6-12 tahun. Banyak
kegiatan yang berhubungan dengan antropometri anak yang telah dilakukan
di UKS namun semuanya hampir tidak ada tindak lanjutnya. Kegiatan
pemantauan pertumbuhan dan status gizi yang dilakukan sebelum tahun
1990an dapat digambarkan sebagai berikut :
1) pengukuran tinggi badan lebih banyak menggunakan meteran dinding;
sementara pengukuran berat badan sudah menggunakan Timbangan injak.
Semua data hasil pengukuran dicatat dalam buku besar panjang karena belum ada KMS untuk
anak sekolah (KMS-AS).
2) Minimnya alat antropometri pada waktu itu membuat guru UKS
berimprovisasi dalam menentukan status gizi anak. Selain itu pemantauan pertumbuhan belum
jalan karena masih banyak TK-SD yang belum memiliki KMS anak sekolah. Akibatnya status
kesehatan yang terdeteksi tidak mencerminkan status kesehatan yang sebenarnya namun hanya
merupakan status gizi dan status kesehatan saat dilakukan pengukuran.
3) Kelainan status gizi anak usia sekolah tidak dapat diketahui secara pasti
apalagi dipantau terus menerus. Akibatnya tindakan promotif, preventif, kuratif maupun

7
rehabilitatif anak tidak dapat dilakukan sedini mungkin.
UKS adalah kegiatan yang sangat bagus dan relevan dari sekolah yang akan berhasil guna baik
dalam jangka waktu dekat maupun jangka waktu panjang. Upaya penanggulangan gizi salah
(malnutrisi / malnutrition) adalah upaya lintas sektor, dimana melibatkan banyak institusi,
termasuk lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan sangat berperan dalam upaya pencegahan
(preventif) dan peningkatan (promotif) melalui upaya-upaya pendidikan gizi, pemantauan yang
telah ada dan telah dilaksanakan melalui kegiatan UKS. Status Gizi adalah suatu keadaan /
kondisi / state yang bersifat dinamis, dimana merupakan suatu akibat dari faktor ganda
(multifactorial) yang terutama hasil dari suatu keseimbangan antara asupan dan kebutuhan zat
gizi. Oleh karena status gizi ini merupakan suatu proses yang selalu berlangsung dan berubah dari
waktu ke waktu, maka upaya-upaya pemantauannya perlu dilakukan secara sinambung dan tepat
(Purwoko, 2001).

b. Pendidikan Kesehatan dan Olah Raga


Begitu padatnya kurikulum Sekolah Dasar (SD), sehingga guru UKS juga bertanggungjawab
terhadap materi pendidikan kesehatan dan praktek olahraga. Dahulu guru olahraga kita selalu
menyebut tentang men sana in korporisano yang diartikan sebagai dalam tubuh yang sehat
terdapat jiwa yang kuat. Sampai sekarang motto tersebut masih relevan, namun sudah jarang
dikumandangkan oleh para guru UKS yang biasanya merangkap sebagai guru olahraga dan
kesehatan. Akan tetapi guru UKS tahun 1970-1990 lebih banyak menghubungkan faktor gizi,
kesehatan dan olahraga dengan motto empat sehat lima sempurna.
c. Pembinaan warung / Kantin Sekolah
Integrasi pembinaan UKS dengan warung / kantin sekolah sangatlah tepat, namun sampai
sekarang belum ada laporan tentang hasil evaluasi pelaksanaan pengintegrasian tersebut.
Pembinaan warung /kantin sekolah di beberapa kecamatan ternyata banyak warung/kantin
sekolah yang pengelolaannya sepenuhnya diserahkan kepada penjaga sekolah (Pak Bon). Namun
ada beberapa SD yang warung/kantin sekolah telah dikelola oleh koperasi PKK desa, oleh guru
PKK,b ada yang sudah dikelola antara koperasi guru sekolah dengan perkumpulan orangtua
murid. Hal ini terjadi karena belum ada pedoman penyelenggaraan warung / kantin sekolah.
Sejak tahun 1993 Depkes, RI telah mengeluarkan pedoman penyelenggaran warung sehat di
sekolah, dengan falsafah penyelenggaraannya adalah :
1) Warung Sekolah adalah Tempat Penjualan Makanan yang berada di lingkungan Sekolah.
2) Warung Sekolah sebagai wahana pendidikan gizi dan Kesehatan.
3) Makanan Warung Sekolah adalah aneka ragam makanan bergizi dan sehat dari berbagai

8
golongan bahan makanan, mengandung 50-300 kalori.
4) Warung Sekolah melayani murid pada waktu istirahat dan dibuka selama hari sekolah.
5) Pengawasan dan penanggung jawab Warung Sekolah adalah Kepala Sekolah / guru sekolah.
6) Harga makanan di Warung Sekolah disesuaikan dengan kemampuan murid.
Selanjutnya Menurut Depkes (1993) ada beberapa tujuan penyelenggaraan Warung Sekolah /
Kantin, yaitu:
1) Warung Sekolah atau kantin merupakan tempat penjualan makanan dan minuman yang
diorganisir oleh masyarakat sekolah, berada dalam pekarangan sekolah dan dibuka selama hari
sekolah.
2) Pengelolaan Warung Sekolah. Pengelolaan makanan sekolah adalah serangkaian kegiatan
yang saling berkaitan mulai dari perencanaan menu hingga evaluasi makanan Warung Sekolah
dalam rangka pelaksanaan penyediaan makanan bagi anak sekolah.
Ditinjau dari aspek kesehatan, tujuan penyelenggaraan makanan di Warung Sekolah adalah :
1) Mendidik anak untuk dapat memilih makanan yang bergizi baik, sehigga lambat laun tercipta
pola makan yang sehat.
2) Memperkenalkan makanan yang beraneka ragam sebagai variasi hidangan dan motivasi
anak untuk memilih makanan bergizi.
3) Menanamkan kebiasaan yang baik dan menurut syarat kesehatan, termasuk perilaku
sebelum, pada saat dan sesudah makan.
4) Menambah dan melengkapi makanan murid baik dalam kuantitas maupun kualitas.
5) Meningkatkan selera makan, menimbulkan rasa akrab antar teman, dan pertemuan sosial
yang menyenangkan.
6) Melatih anak untuk disiplin, sabar, tertib pada pekerjaan yang praktis secara bergilir.
7) Menerapkan cara belajar sambil berbuat dan membina suatu bentuk koperasi sekolah.
Untuk melaksanakan seluruh proses pengelolaan Warung Sekolah, mulai dari perencanaan menu
hingga evaluasi penyediaan makanan pelayanan atau penjualan, termasuk kebersihan dan sanitasi
diperlukan tenaga pelaksana terampil.
Tenaga Warung Sekolah harus berbadan sehat, bebas dari penyakit menular, bersih dan rapi,
mengerti tentang gizi, kesehatan dan memiliki disiplin kerja yang tinggi. Dengan demikian
warung/kantin sekolah yang belum memiliki sarana air bersih perlu segera bekerjasama dengan
Dewan Sekolah untuk melaksanakan pembangunan sarana air bersih secara serentak (Tim Pekan
Sanitasi, 1999).
Modal pertama yang diperlukan dalam penyelenggaaan makanan di Warung / Kantin Sekolah
adalah dana untuk sarana fisik, penyelenggaraan makanan dan bahan makanan. Dana dapat
bersumber dari sekolah sepenuhnya, dari sekolah dengan orang tua murid, pihak swasta yang
ditunjuk atau koperasi sekolah, tabungan guru dan OSIS. Perputaran dana selanjutnya diperoleh
dan dimanfaatkan melalui penjualan di Warung /Kantin Sekolah.
Lokasi Warung Sekolah harus dalam pekarangan sekolah dan sedapat mungkin di lingkungan

9
gedung sekolah, tidak berdekatan dengan jamban, kamar mandi dan tempat pembuangan
sampah. Ruangan harus cukup luas, bersih, nyaman dengan ventilasi dan sirkulasi udara yang
baik. Lantai terbuat dari bahan kedap air dan mudah dibersihkan. Dinding dan langit-langit
selalu bersih dan dicat terang. Jendela yang dipergunakan sebagai ventilasi hendaknya berkasa
untuk menghindari lalat masuk. Ruang makan dilengkapi dengan tempat cuci tangan yang
letaknya mudah dijangkau oleh anak sekolah. Namun kondisi ideal warung sekolah seperti
anjuran depkes (1999) tersebut hampir belum ada yang dapat memenuhinya.

2. Kegiatan UKS sesudah Tahun 1990


a) Pemantauan Pertumbuhan dan Status Gizi
Ada beberapa cara menilai status gizi dalam rangka pemantuan maupun dalam rangka pendidikan
gizi. Penilaian status gizi ada dua macam yaitu : Penilaian status gizi masyarakat dan penilaian
status gizi individu. Untuk keperluan kegiatan UKS maka yang lazim digunakan adalah penilaian
status gizi individu murid. Pada penilaian status gizi murid sekolah, dapat dilakukan pengukuran-
pengukuran tolok ukur yang sudah lazim digunakan dalam langkah-langkah penilaian status gizi.
Penilaian status gizi dapat dilakukan secara langsung maupun secara tidak langsung. Pada
kegiatan UKS penilaian status gizi dapat atau mungkin digunakan dan dilaksanakan penilaian
status gizi anak sekolah secara langsung antara lain :
1) antropometri,
2) gejala klinis,
3) pemeriksaan laboratoris.
Dalam pengertian bahwa pada kegiatan UKS pengukuran tolok ukur status gizi tersebut dipilih
dengan mempertimbangkan faktor : kemudahan, dapat dilakukan secara massal, sederhana tetapi
dapat dipercaya (valid dan reliabel). Sesuai dengan tujuan penilaian status gizi anak usia sekolah
pada kegiatan UKS, maka pengukuran antropometri adalah salah satu yang penting untuk
diketahui oleh para penanggung jawab dan pelaksana UKS. Antropometri adalah : suatu bagian
dari cabang ilmu yang mempelajari tentang ukuran (dimension) dari tubuh manusia beserta ciri
dan sifat-sifatnya. Antropometri ini dapat dimanfaatkan dan diterapkan pada banyak bidang
kehidupan, salah satunya adalah diterapkan pada bidang gizi. Pada ilmu gizi lazim disebut dengan
antropometri gizi. Pada antropometri gizi banyak sekali dimensi tubuh manusia yang dapat
dijadikan tolok ukur pada penilaian status gizi individu. Tetapi pemilihan dimensi tubuh
tergantung pada banyak faktor antara lain :
1) tujuan umum, dan masalah yang akan diselidiki,
2) grup / kelompok umur,
3) ciri biologis tolok ukur,
4) sifat epidemiologis

10
5) kepraktisan.
Dengan mempertimbangkan semua faktor tersebut maka hanya beberapa cara / metode
antropometri saja yang dapat dilakukan di UKS. Beberapa metode antropometri yang praktis dan
mudah, tetapi cukup valid dan reliabel, sesuai dengan tujuan penilaian status gizi di UKS yaitu
deteksi dini gizi salah, dapat dipilih dan dilakukan dengan melakukan evaluasi secara sinambung
(Purwoko, 2001).
Selain pengenalan beberapa gejala klinis sederhana pada beberapa kasus gizi salah, maka
beberapa metode antropometri gizi dapat dilakukan secara rutin di UKS. Dengan mengingat
keterbatasan tenaga, waktu, pendanaan dan kebijakan yang ada di setiap sekolah maka hanya
beberapa metode antropometri saja yang dapat dipilih dan dilaksanakan sekolah pada kegiatan
UKS. Sedangkan untuk tujuan lain, misalkan untuk penelitian atau pelaksanaan program
kesehatan dan gizi yang lebih serius, maka sekolah dapat bekerjasama atau meminta bantuan
pada instansi lain yang mampu dan berkompeten. Maka dalam kaitan ini, cukup dengan
melakukan pengukuran berat badan dan tinggi badan secara berkala saja, maka sudah cukup
memadai untuk melakukan deteksi dini kasus gizi salah di UKS. Dengan menggunakan kedua
dimensi tubuh tersebut maka sudah dapat dipergunakan seperlunya untuk menilai status gizi anak,
asal dilakukan dengan teliti dan tepat.
Sejak tahun 2000an mulai dipikirkan oleh banyak pakar gizi masyarakat, bahwa kegiatan
pemantauan pertumbuhan di UKS dapat digunakan sebagai upaya pencegahan terjadinya growth
faltering (khususnya pencegahan stunted) dikalangan anak usia sekolah.
Strategi yang diperlukan secara langsung untuk mendukung kegiatan pendayagunaan KMS-AS di
UKS adalah:
1) Pelatihan petugas UKS dan guru UKS agar lebih terampil dalam pengukuran antropometri
dan pemeriksaan kesehatan dasar pada fisik anak usia sekolah.
2) Pelatihan petugas UKS dan guru UKS tentang pengisian KMS-AS yang akurat
3) Perbaikan semua alat pendukung pengukuran antropometri (Timbangan, Mikrotoise, mit-line
lingkar lengan / lingkar kepala, dllnya)
4) Memberikan pelatihan non-kurikuler kepada anak didik tentang bagaimana melakukan
penimbangan dan pengukuran tinggi badan yang benar.
b) Pendidikan Gizi, Kesehatan dan Olah Raga
Gizi salah dapat dialami oleh semua golongan umur dan keadaan ini dapat mengakibatkan cacat
baik fisik maupun psikik yang kadangkala bersifat menetap. Di Indonesia telah disepakati ada 4
(empat) masalah gizi utama yaitu : Kekurangan Energi Protein (KEP), Kekurangan Vitamin A
(KVA), Anemia Gizi Besi (AGB) dan Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI). Masalah
gizi utama tersebut hampir merata diderita oleh semua golongan umur. Tetapi untuk golongan
umur anak usia sekolah lebih memberikan gambaran yang spesifik karena sifat-sifat fisiologik
dan psikologik mereka yang sangat berhubungan dengan keadaan / ciri-ciri mereka antara lain :
1) Anak usia sekolah dalam taraf pertumbuhan dan perkembangan.

11
2) Adanya perubahan pola dan selera makan.
3) Adanya perubahan atau menurunnya perhatian orang tua mereka.
4) Adanya penyakit infestasi parasit yang diderita sejak usia dini.
5) Kelainan-kelainan keadaan gizi atau status gizi mereka mempunyai
gambaran yang sangat khas untuk anak-anak usia sekolah tersebut.
c) Pembinaan warung / Kantin Sekolah
Sesuai dengan perkembangan dan kemajuan pengelolaan sekolah, maka pembinaan warung
/kantin di sekolah sejak tahun 1999 telah mengalami perubahan yang cukup nyata. Hal ini
disebabkan adanya Dewan Sekolah yang terdiri dari tokoh masyarakat setempat, orangtua murid,
dan donatur sekolah (Dewan Penyantun Sekolah) yang didukung oleh pemerintah setempat.
Menurut Depkes (1999) Warung /Kantin Sekolah hendaknya memiliki persyaratan sebagai
berikut :

1) Tenaga Pengelola
Pengelolaan warung sekolah memerlukan seorang penanggung jawab yang mempunyai tugas
sebagai penanggung jawab kelangsungan Warung Sekolah secara keseluruhan, baik ke dalam
sekolah maupun keluar yaitu kepada orang tua murid dan instansi terkait terutama bila terjadi hal-
hal yang tidak diinginkan atau tak terduga. Misalnya terjadi keracunan makanan yang dijual di
warung sekolah, maka penanggungjawab warung yang harus mampu memberikan penjelasan dan
bertindak untuk penyelamatan murid. Sebaiknya penanggungjawan warung sekolah adalah
kepala sekolah, namun tidak menutup kemungkinan dapat dilakukan oleh guru / pamong/ PKK
desa, dll.
Kepala Sekolah, sebagai penanggung jawab seluruh kegiatan akademik dan administrasi sekolah
dapat merangkap sebagai pengelola dan penyelenggara Warung Sekolah. Sementara Guru
Sekolah mempunyai tugas membina dan mengawasi langsung pelaksanaan Warung Sekolah,
jenis makanan dan minuman yang disediakan, kebersihan Warung Sekolah dan lingkungannya
(termasuk pengadaan dan jaminan adanya air bersih).
2) Mitra Pengelola
Orang tua peserta didik bersama tokoh masyarakat dapat menjadi mitra dan melakukan
perencanaan peningkatan kualitas atau perbaikan warung/kantin sekolah, dengan cara :
a) Berpartisipasi membantu modal Warung Sekolah.
b) Ikut menyediakan makanan dan minuman bergizi yang memenuhi
persyaratan kesehatan.
c) Ikut membantu mengawasi kebersihan Warung Sekolah dan cara
pemasakan / pengolahan makanan dan minuman di Warung Sekolah.

12
4. DUKUNGAN UKS TERHADAP PENGENDALIAN PENYAKIT PADA USIA ANAK-
ANAK
Periode anak-anak disebut periode memanjang secara fisik fungsi organ otak mulai terbentuk
mantap sehingga perkembangan kecerdasannya cukup pesat. Oleh karena itu dibutuhkan upaya-
upaya agar anak mampu menjaga kesehatannya sehingga perkembangan kecerdasan dapat
maksimal.
Nemir (1990, dalam Effendi 1998) mengelompokkan usaha kesehatan sekolah menjadi tiga
kegiatan pokok, yaitu :

1. Pendidikan Kesehatan di Sekolah (Health Education in School)


Pendidikan kesehatan di sekolah dasar dapat dilakukan berupa kegiatan intrakurikuler, kegiatan
ekstrakurikuler dan penyuluhan kesehatan dari petugas kesehatan Puskesmas. Maksud dari
kegiatan intrakurikuler yaitu pendidikan kesehatan merupakan bagian dari kurikulum sekolah,
dapat berupa mata pelajaran yang berdiri sendiri seperti mata pelajaran ilmu kesehatan atau
disisipkan dalam ilmuilmu lain seperti olah raga dan kesehatan, ilmu pengetahuan alam dan
sebagainya. Kegiatan ekstrakurikuler disini adalah pendidikan kesehatan dimasukkan dalam
kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler dalam rangka menanamkan perilaku sehat peserta didik.
Penyuluhan kesehatan dari petugas puskesmas yang berkaitan dengan higiene personal yang
meliputi pemeliharaan gigi dan mulut, kebersihan kulit dan kuku, mata, telinga, lomba poster
sehat dan perlombaan kebersihan kelas.
Pendidikan ini meliputi :
a. Pengetahuan tentang dasar dasar hidup sehat.
b. Sikap tanggap terhadap persoalan kesehatan.
c. Latihan atau demonstrasi cara hidup sehat.
d. Penanaman kebiasaan hidup sehat dan upaya peningkatan daya tangkal
terhadap pengaruh buruk dari luar.

Tujuan pendidikan kesehatan adalah:


a. Memiliki pengetahuan tentang ilmu kesehatan termasuk cara hidup sehat dan teratur.
b. Memiliki nilai dan sikap yang positif terhadap prinsip hidup sehat.
c. Memiliki ketrampilan dalam melaksanakan hal yang berkaitan dengan pemeliharaan

13
pertolongan dan perawatan kesehatan.
d. Memiliki kemampuan dan ketrampilan untuk berlaku hidup sehat dalam kehidupan sehari
hari.
e. Memiliki kebiasaan hidup sehari hari yang sesuai dengan syarat kesehatan.
f. Memiliki pertumbuhan termasuk bertambahnya tinggi badan dan berat badan yang
proporsional.
g. Mengerti dan dapat menerapkan prinsip-prinsip pengutamaan pencegahan penyakit dalam
kaitannya dengan kesehatan dan keselamatan dalam kehidupan sehari hari.
h. Memiliki daya tangkal terhadap pengaruh buruk dari luar (narkoba, arus informasi).
i. Memiliki kesegaran jasmani dan kesehatan yang optimal serta mempunyai daya tahan tubuh
yang baik terhadap penyakit.

2. Pemeliharaan Kesehatan Sekolah (School Health Service)


Pemeliharaan kesehatan sekolah untuk tingkat sekolah dasar, dimaksudkan untuk memelihara,
meningkatkan dan menemukan secara dini gangguan kesehatan yang mungkin terjadi terhadap
peserta didik maupun gurunya. Pemeliharaan kesehatan di sekolah dilakukan oleh petugas
puskesmas yang merupakan tim yang dibentuk dibawah seorang koordinator usaha kesehatan
sekolah yang terdiri dari dokter, perawat, juru imunisasi dan sebagainya. Untuk koordinasi pada
tingkat kecamatan dibentuk tim pembina usaha kesehatan sekolah dengan kegiatan yang
dilakukan meliputi pemeriksaan kesehatan, pemeriksaan perkembangan kecerdasan, pemberian
imunisasi, penemuan kasus-kasus dini yang mungkin terjadi, pengobatan sederhana, pertolongan
pertama serta rujukan bila menemukan kasus yang tidak dapat ditanggulangi di sekolah.
Pelayanan kesehatan ini dilaksanakan dengan kegiatan komprehensif yang meliputi ;
a. Kegiatan Peningkatan Kesehatan ( Promotif )
Kegiatan promotif kesehatan tersebut berupa latihan ketrampilan teknis dalam rangka
pemeliharaan kesehatan, dan pembentukan peran serta aktif peserta didik dalam pelajaran
kesehatan, antara lain:
1) Dokter Kecil
2) Kader Kesehatan Remaja
3) Palang Merah Remaja
4) Pembinaan warung sekolah sehat.
5) Pembinaan lingkungan sekolah yang terpelihara dan bebas dari vektor pembawa penyakit.
6) Pembinaan perilaku hidup bersih dan sehat.
b. Kegiatan pencegahan (Preventif )
Berupa kegiatan peningkatan daya tahan tubuh, kegiatan pemutusan rantai

14
penularan penyakit dan kegiatan penghentian proses penyakit pada tahap dini
sebelum timbul kelainan. Kegiatan preventif ini berupa :
1) Pemeliharaan kesehatan yang bersifat umum maupun yang bersifat khusus
untuk penyakit penyakit tertentu.
2) Penjaringan kesehatan anak sekolah.
3) Memonitor/ memantau pertumbuhan peserta didik.
4) Imunisasi peserta didik.
5) Usaha pencegahan penularan penyakitdengan jalan memberantas sumber
infeksi dan pengawasan kebersihan lingkungan sekolah.
6) Konseling kesehatan di sekolah .
c. Kegiatan penyembuhan dan pemulihan ( Kuratif dan rehabilitatif)
Berupa kegiatan mencegah komplikasi dan kecacatan akibat proses
penyakit atau untuk meningkatkan kemampuan peserta didik agar dapat
berfungsi optimal.

Kegiatan kuratif dan rehabilitatif ini adalah :


1) Diagnosa dini.
2) Pengobatan ringan.
3) Pertolongan pertama pada kecelakaan, pertolongan pertama pada penyakit.
4) Rujukan medik.
Pelakasanaan pelayanan kesehatan dilakukan secara terpadu, baik secara antar kegiatan pokok
dari puskesmas, maupun secara terpadu dengan para tenaga kependidikan, dengan peran serta
peserta didik dan orang tua mereka. Puskesmas adalah kesatuan unit organisasi kesehatan yang
langsung memberi pelayanan kepada masyarakat secara menyeluruh dan terintegrasi di wilayah
kerja tertentu dalam bentuk usaha usaha kesehatan. Berdasarkan ketentuan tersebut, maka
pembinaan kesehatan dalam rangka usaha-usaha kesehatan sekolah merupakan salah satu
kegiatan pokok puskesmas.
Tugas dan fungsi puskesmas dalam melaksanakan kegiatan pembinaan kesehatan dalam rangka
usaha kesehatan sekolah mencakup :
a. Memberikan pencegahan terhadap suatu penyakit dengan immunisasi dan lainnya yang
dianggap perlu.
b. Merencanakan pelaksanaan kegiatan dengan pihak yang berhubungan dengan peserta didik.
c. Memberikan bimbingan tekhnis medis kepada kepala sekolah dan guru dalam rangka
pelaksanaan Usaha Kesehatan Sekolah.
d. Memberikan penyuluhan tentang kesehatan pada umumnya dan UKS pada khususnya kepada
kepala sekolah, guru, dan pihak lain dalam rangka meningkatkan peran serta dalam pelaksanaan
UKS.
e. Memberikan pelatihan/penataran kepada guru UKS dan kader UKS ( dokter kecil dan kader

15
kesehatan remaja)
f. Melakukan penjaringan dan rujukan terhadap kasus- kasus tertentu yang memerlukan.
g. Memberikan pembinaan dan pelaksanaan konseling.
h. Menginformasikan kepada kepala sekolah tentang derajat kesehatan dan tingkat kesegaran
jasmani peserta didik dan cara peningkatannya.
i. Menginformasikan secara teratur kepada tim pembina UKS setempat
meliputi :
1) Segala kegiatan pembinaan kesehatan yang telah, sedang, dan akan dilakukan.
2) Permasalahan yang dialami dan saran untuk penanggulangannya.
Tujuan pelayanan kesehatan :
a. Supaya peserta didik memiliki ketrampilan dan kemampuan untuk menjalankan tindakan
hidup sehat dan terdorong untuk melaksanakan perilaku hidup sehat.
b. Supaya peserta didik memiliki daya tahan serta tercegahnya kelainan/ kecacatan.
c. Supaya proses penyakit berhenti dan tercegahnya komplikasi penyakit, sehingga
kemampuan peserta didik dapat pulih kembali dan berfungsi secara optimal.
d. Supaya peserta didik sehat baik mental, fisik maupun sosial.
3. Lingkungan Sekolah yang Sehat
Lingkungan sekolah yang dimaksud dalam program usaha kesehatan sekolah untuk tingkat
sekolah dasar meliputi lingkungan fisik, psikis dan sosial. Kegiatan yang termasuk dalam
lingkungan fisik berupa pengawasan terhadap sumber air bersih, sampah, air limbah, tempat
pembuangan tinja, dan kebersihan lingkungan sekolah. Kantin sekolah, bangunan yang sehat,
binatang serangga dan pengerat yang ada dilingkungan sekolah, pencemaran lingkungan tanah,
air dan udara di sekitar sekolah juga merupakan bagian dari lingkungan fisik sekolah. Kegiatan
yang dilakukan berhubungan dengan lingkungan psikis sekolah antara lain memberikan perhatian
terhadap perkembangan peserta didik, memberikan perhatian khusus terhadap anak didik yang
bermasalah, serta membina hubungan kejiwaan antara guru dengan peserta didik. Sedangkan
kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan sosial meliputi membina hubungan yang
harmonis antara guru dengan guru, guru dengan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik,
serta membina hubungan yang harmonis antara guru, murid, karyawan sekolah serta masyarakat
sekolah.
Pembinaan lingkungan kehidupan sekolah sehat dilaksanakan dalam rangka menjadikan sekolah
sebagai institusi pendidikan yang dapat menjamin berlangsungnya proses belajar mengajar yang
mampu menumbuhkan kesadaran, kesanggupan dan ketrampilan peserta didik untuk menjalankan
prinsip hidup sehat, kegiatan ini meliputi:
a. Program pembinaan lingkungan sekolah
1) Lingkungan fisik sekolah meliputi :
a) Penyediaan air bersih
b) Pemeliharaan penampungan air bersih

16
c) Pengadaan dan pemeliharaan tempat pembuangan sampah
d) Pengadaan dan pemeliharaan air limbah
e) Pemeliharaan WC/kakus
f) Pemeliharaan kamar mandi
g) Pemeliharaan kebersihan dan kerapihan ruang kelas, perpustakaan,
laboratorium dan tempat ibadah
h) Pemeliharaan kebersihan dan keindahan halaman dan kebun
sekolah
2) Lingkungan mental dan sosial
Program pembinaan lingkungan mental dan sosial ini dilakukan dalam
bentuk kegiatan :
a) Konseling kesehatan
b) Bakti sosial masyarakat sekolah terhadap lingkungan
c) PMR, dokter kecil, kader kesehatan remaja
a. Pembinaan lingkungan keluarga
Pembinaan lingkungan keluarga ini bertujuan :
1) Meningkatan pengetahuan orang tua peserta didik tentang hal hal yang
berhubungan dengan kesehatan.
2) Meningkatkan kemampuan dan partisipasi orang tua peserta didik dalam
pelaksanaan hidup sehat.
Pembinaan lingkungan keluarga dapat dilakukan dengan:
1) Kunjungan rumah yang dilakukan oleh pelaksana UKS.
2) Ceramah kesehatan yang dilakukan di sekolah

b. Pembinaan masyarakat sekitar


Pembinaan masyarakat sekitar dengan cara :
1) Penyelenggaraan ceramah kesehatan dan pentingnya arti pembinaan lingkungan sekolah
sebagai lingkungan sekolah yang sehat.
2) Penyuluhan baik melalui media cetak dan audio visual.
Dilihat dari tujuan yang ingin dicapai pada setiap kegiatan UKS, maka jelas terlihat peran dan
hubungan UKS dalam mengendalikan kesehatan anak. Ketiga program utama UKS telah
mencerminkan upaya dari pihak sekolah untuk menjaga bahkan meningkatkan kesehatan peserta
didik.
Pengamatan dan pemantauan keadaan gizi anak usia sekolah merepukan tanggung jawab kita
semua. Karena sekolah merupakan salah satu tempat yang strategis dalam kehidupan anak, maka
sekolah dapat difungsikan secara tepat sebagai salah satu institusi yang dapat membantu atau
berperan dalam upaya optimalisasi tumbuh kembang anak usia sekolah. Paling tidak UKS dapat
berperan sebagai institusi yang dapat melakukan kerjasama dalam upaya promotif dan preventif

17
pada kelainan gizi (Graeff, Elder, Booth; 1996). Oleh karena itu, UKS menjadi salah satu hal
penting di dunia pendidikan dalam kaitannya dengan kesehatan peserta didik, baik disekolah
ataupun kebiasaan hidup sehat siswa di rumah.
Dengan melakukan kerjasama yang erat dengan institusi yang berwenang dan mampu menangani
masalah gizi dan kesehatan masyarakat, maka upaya tersebut perlu dilakukan secara efisien dan
efektif (Gillespie; McLachlan; Shrimpton; 2003).

5. SARANA DAN PRASARANA YANG TERDAPAT DALAM UKS


Adapun sarana dan prasarana yang terdapat dalam UKS adalah sebagai
berikut :
1. Kondisi Ideal: Ruang UKS 8 m x 7 m
2. Tempat tidur lengkap minimal 2 buah, satu untuk anak perempuan dan satu
untuk anak laki laki yang dibatasi dengan srem putih yang berlogo UKS
3. Lemari obat yang berisi obat obatan yang sifatnya emergency
4. Timbangan berat badan, Pengukur tinggi badan, Termometer suhu badan,Tensimeter,
buku tes buta warna, pengukuran ketajaman mata ( snelen )
5. Tempat cuci tangan (wastafel) lengkap dengan sabun dan lap tangan
6. Dispenser
7. Poster , leaflet dan lembar balik (media penyuluhan kesehatan)
8. Buku buku administrasi UKS dan alat tulis
9. Struktur UKS
10. Toilet
11. Alat dan kotak P3K
12. Alat-alat Kebersihan
13. Tandu
14. Meja dan kursi
15. Rak Sepatu/keset
16. KMS anak Sekolah
17. Bendera UKS
18. Trias UKS
19. Papan Data dan papan informasi
20. Contoh model organ tubuh
21. Lemari ADM
22. Ruang Konseling
23. Kipas angin
24. Micropon

18
25. Data tiga tahun terakhir
OBATOBATAN DAN PERALATAN YANG ADA DI LEMARI / KOTAK P3K
1. Kasa
2. Kapas
3. Plaster
4. Oralit
5. Minyak kayu putih
6. Handscund
7. Revanol
8. Spalak / bidai
9. Mitela

Buku Administrasi UKS


1. Buku Pemeriksaan Kesehatan
2. Buku Daftar Pasien
3. Buku Daftar Rujukan
4. Buku Penerimaan Barang
5. Buku Agenda Surat Masuk & sura Keluar
6. Buku Inventaris UKS
7. Buku Belanja Obat
8. Buku Laporan Kegiatan UKS
9. Buku Tamu
10. Buku Kegiatan kader UKS

19
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Usaha kesehatan sekolah (UKS) upaya pelayanan kesehatan yang terdapat di sekolah, guna
menolong murid dan juga warga sekolah yang sakit di kawasan lingkungan sekolah. UKS
memiliki 3 program pokok (Trias UKS), yaitu:
1. Pendidikan Kesehatan.
2. Pelayanan Kesehatan.
3. Pembinaan Lingkungan Sekolah Sehat.
Tujuan UKS secara umum adalah mempertinggi nilai kesehatan, mencegah dan mengobati
penyakit serta rehabilitasi anak-anak sekolah dan lingkungannya sehingga didapatkan anak-anak
yang sehat jasmani, rohani, dan sosialnya. Sedangkan tujuan UKS secara khusus ialah mencapai
keadaan sehat anak-anak sekolah, keluarganya dan lingkungannya sehingga dapat memberikan
kesempatan tumbuh dan berkembang secara harmonis serta belajar secara efisien dan optimal.
Usia anak adalah periode yang sangat menentukan kualitas seorang manusia dewasa nantinya.

Permasalahan perilaku kesehatan pada anak usia TK dan SD biasanya berkaitan dengan
kebersihan perorangan dan lingkungan seperti gosok gigi yang baik dan benar, kebiasaan cuci
tangan pakai sabun, kebersihan diri.
Ketiga program utama UKS telah mencerminkan upaya dari pihak sekolah untuk menjaga
bahkan meningkatkan kesehatan peserta didik. Sekolah merupakan salah satu tempat yang
strategis dalam kehidupan anak, maka sekolah dapat difungsikan secara tepat sebagai salah satu
institusi yang dapat membantu atau berperan dalam upaya optimalisasi tumbuh kembang anak
usia sekolah. Paling tidak UKS dapat berperan sebagai institusi yang dapat melakukan kerjasama
dalam upaya promotif dan preventif pada kelainan gizi (Graeff, Elder, Booth; 1996). Dengan
melakukan kerjasama yang erat dengan institusi yang berwenang dan mampu menangani masalah
gizi dan kesehatan masyarakat, maka upaya tersebut perlu dilakukan secara efisien dan efektif
(Gillespie; McLachlan; Shrimpton; 2003).

20
Sign me up Go

21