Anda di halaman 1dari 13

BAB III

DASAR TEORI

3.1. Struktur Kekar


Davis and Reynolds, 1996, menyebutkan kekar adalah retakan yang cukup
menerus membentuk bidang rata yang panjangnya dapat mencapai beberapa sentimeter,
puluhan sentimeter hingga ratusan meter. Van Der Pluijm and Marshak, 2004,
menyebutkan bahwa kekar adalah retakan alami dalam batuan yang tidak menunjukkan
adanya pergeseran.
Davis and Reynolds, 1996, menyebutkan kekar dihasilkan dari deformasi brittle
dan terjadi ketika kemampuan batuan menahan tekanan telah terlampaui. Pergerakan
sangat kecil yang diakomodasi oleh kekar umumnya berupa bukaan yang tegaklurus
(perpendicular) terhadap permukaan bidang kekar. Pergerakan yang terjadi pada kekar
sifatnya mikroskopis tidak dapat diamati dalam skala singkapan.
Barnes and Lisle, 2004, mengemukakan bahwa kekar dapat terjadi dalam setiap
jenis batuan baik batuan sedimen, piroklastik, plutonik, hypabisal, vulkanik dan metamorf.
Davis and Reynolds, 1996, menyebutkan bahwa kekar merupakan struktur yang hampir
dijumpai di setiap singkapan batuan dan merupakan struktur geologi yang paling umum
dijumpai. Panjang dan spasi kekar berhubungan dengan ukuran atau ketebalan serta
kekakuan tubuh batuan dimana kekar terbentuk. Batuan yang lemah dan tipis
menghasilkan spasi kekar yang berdekatan, sedangkan batuan yang kaku dan tebal
menghasilkan spasi kekar yang lebih lebar atau renggang. Jarak antar kekar umumnya
berbanding lurus dengan besarnya ketebalan batuan dimana kekar dijumpai (Davis and
Reynolds (1996),

Gambar 3.1. Kekar mode I,II dan III (Davis and Reynolds, 1996).

Terdapat 3 mode retakan utama dalam batuan untuk menggambarkan pergerakan


yang terjadi dalam pembentukan dan penjalaran retakan dan shear fracture yaitu
opening/bukaan (mode I), sliding (mode II) dan scissors (mode III) (Atkinson, 1987;

55
Engelder, 1987 dalam Davis and Reynolds, 1996). Joints menurut Davis and Reynolds,
1996 adalah fracture mode I atau extensional fractures yang membuka tegak lurus
terhadap permukaan bidang kekar (Gambar A diatas). Fracture mode II dan mode III
keduanya adalah shear fractures ditandai oleh pergerkan yang parael dengan bidang
kekar. Mode II dicirikan oleh pergerakan geser paralel dengan permukaan retakan dan
tegak lurus terhadap bagian depan retakan (Gambar B diatas). Pergerakan mode III
dicirikan oleh pergerakan menggunting paralel terhadap permukaan kekar dan paralel
juga dengan bagian depan retakan. (Gambar C diatas) (Davis and Reynolds, 1996).

Gambar 3.2. Kekar sistematik dan non-sitematik (Van Der Pluijm and Marshak, 2004)
Van Der Pluijm and Marshak, 2004, mengemukakan kekar sistematik adalah
bidang kekar yang membentuk sekelompok kekar yang saling sejajar satu sama lainnya
serta membentuk spasi antar kekar yang relatif sama. Kekar ini dapat terjadi dengan
kemungkinan memotong banyak lapisan batuan ataupun hanya terdapat dalam satu
lapisan batuan saja. Kekar non-sistematik memiliki spasi distribusi yang tak teratur, kekar
ini tidak saling sejajar dengan kekar di sekitarnya serta mereka cenderung tidak
membentuk bidang datar. Kekar non-sistematik kemungkinan berhenti di kekar lainnya.
Kekar sistematik dan non-sistematik memungkinkan dijumpai dalam satu singkapan
batuan.

Gambar 3.3. Diagram shear dan extensional fractures pada lipatan antiklin
(Mc Clay 1991 dalam Coe, 2010)

56
Coe, 2010, menyebutkan bahwa orientasi kekar dapat memberikan gambaran
mengenai keadaan kompresi regional. Kekar gerus umumnya hadir secara berpasangan
dalam orientasi yang tampak seperti dicerminkan oleh bidang min dan max, membentuk
pola karakter berbentuk huruf X.

Gambar 3.4. Orientasi berbagai jenis kekar sebagai hasil dari gaya utama tertentu
(Fossen, 2010)

Fossen, 2010, menyebutkan shear fracture atau slip surface (diterjemahkan


sebagai kekar gerus) adalah rekahan dimana memiliki pergerakan relatif paralel terhadap
bidang rekahan. Fossen, 2010, menggunakan istilah shear fracture untuk rekahan dengan
pergerakan yang sangat kecil (mm sampai dm). Sedangkan extension fracture adalah
rekahan yang menunjukkan ekstensi (rekahan membuka) tegak lurus terhadap dinding
rekahan. Fossen, 2010, memberikan istilah joint digunakan untuk menunjuk rekahan yang
memiliki pergerakan makroskopis yang sangat kecil atau tidak memiliki pergerakan sama
sekali, namun pengamatan lebih detail lagi menunjukkan sebagian besar joint memiliki
pergerakan ekstensi sepanjang permukaan joint, oleh karenanya joint disebut sebagai
extension fracture yang sebenarnya. Ketika extension fracture terisi oleh udara atau fluida
kita sebut sebagai fisssure. extension fracture yang terisi mineral disebut sebagai veint.
Joint, veint dan fissure semuanya merujuk pada extension fracture (Fossen, 2010).

57
Gambar 3.5. Skema deformasi britle pada masa batuan homogen. Diagram bunga
menggambarkan orientasi dari tensile dan shear fracture karena ketiga orde deformasi
(Ruhland, 1973 dalam Singhal and Gupta, 2010).

Ruhland, 1973 dalam Singhal and Gupta, 2010, menyatakan deformasi brittle
menyebabkan shear turunan beberapa orde membentuk kecenderungan berturut-turut
menyimpang dari pola awal, yang menyebabkan persebaran kecenderungan arah dari
kekar gerus yang terbentuk. Proses shearing juga diikuti oleh deformasi tensile. Sehingga
deformasi brittle dapat menghasilkan rekahan yang berbeda besar dan arahnya pada
orde-orde selanjutnya. Pada batuan yang mengalami kekar karena tiga orde pada
deformasi rapuh, rekahan tensile dapat menyebar dalam rentang sekitar 75o dan kekar
gerus dalam rentang sekitar 135o seperti dalam gambar diatas.

3.2. Struktur Sesar


Davis and Reynolds, 1996, mengemukakan difinisi sesar adalah rekahan yang
menunjukkan adanya patahan yang dapat diamati karena pergeseran sejajar dengan
permukaan rekahan.
Rowland, et al., 2007, mengemukakan penelitian laboratorium mengenai rekahan
batuan, telah menunjukkan bahwa ketika tubuh batuan isotropik patah di bawah tekanan
yang diberikan, permukaan rekahan memiliki orientasi yang dapat diprediksi berhubungan
dengan stres ellipsoid. Seperti yang ditunjukkan pada Gambar berikut, ada dua prediksi
permukaan fraktur, atau permukaan geser konjugasi, yang keduanya tegak lurus dengan
bidang 1- 3. Rekahan geser membentuk sudut tajam ke arah 1 dan sudut tumpul ke
arah 3. Sudut antara 1 dan masing-masing rekahan geser adalah bervariasi,

58
tergantung pada perbedaan besarnya sudut antara 1, 2, dan 3, dan juga pada sifat
material batuan, tetapi selalu kurang dari 45o.

Gambar 3.6. Hubungan antara three principal stresses dan


conjugate shear surfaces (Rowland, et al., 2007)

59
Gambar 3.7. Macam-macam deformasi rapuh (Van Der Pluijm and Marshak, 2004)

Gambar diatas menjelaskan berbagai macam deformasi pada batuan rapuh,


bagian a) orientasi gaya-gaya utama disekitar tubuh batuan yang masih utuh. b) tensile
crack atau kekar tarik paralel terhadap 1 dan tegak lurus terhadap 3; c) shear fracture,
terbentuk pada sudut 30o terhadap 1; d) tensil crack yang telah tereorientasi sebagai
respon terhadap gaya di sekitarnya dan berubah menjadi sesar; e) tensile crack yang
telah tereaktifasi menjadi cataclastic shear zone; f) shear fracture yang berevolusi menjadi
sesar; g) shear fracture yang telah berubah menjadi cataclastic shear zone (Van Der
Pluijm and Marshak, 2004).

60
Gambar 3.8. Hubungan antara orientasi gaya utama dan rezim tektonik menurut
Anderson (1951) dalam Fossen, 2010. Stereonet menunjukkan daerah
tekanan/compression (P) dan taikan/tension (T).

Fossen, 2010, menyatakan klasifikasi tradisional rezim stres tektonik menjadi


rezim normal, naik dan strike-slip diciptakan pada tahun 1951 pada publikasi Anderson
yang terkenal. Anderson membuat asumsi bahwa, karena tidak ada tegangan geser pada
permukaan bumi (shear stres tidak dapat terjadi dalam cairan), salah satu tegangan
utama harus vertikal, menyiratkan bahwa dua lainnya horisontal. Tergantung yang mana
dari tiga tegangan utama yang vertikal, Anderson ditetapkan tiga rezim, seperti
digambarkan pada Gambar diatas.
Van Der Pluijm and Marshak, 2004, mengulas teori Anderson mengenai
pensesaran, menyatakan bahwa dalam kerangka acuan permukaan bumi, patahan
normal terjadi di mana 2 dan 3 horisontal dan 1 adalah vertikal, sesar naik terjadi di
mana 1 dan 2 horisontal dan 3 vertikal, dan sesar mendatar terjadi bilamana 1 dan
3 horisontal dan 2 adalah vertikal. Selain itu, dip sesar naik harus ~ 30 , kemiringan
sesar normal harus ~60 , dan dip dari sesar mendatar harus sekitar vertikal. Sebagai
contoh, jika orientasi 1 di batas pertemuan lempeng/konvergen adalah horisontal, teori
Anderson memprediksi bahwa sesar naik harus terbentuk di lingkungan ini, dan memang
daerah sesar naik terbentuk di sabuk pegunungan hasil tumbukan lempeng.

61
Gambar 3.9. Pengukuran dan penggambaran plunge dan pitch (Mc Clay, 2007)

Mc Clay, 2007, menggambarkan pengukuran dan penggambaran plunge dan pitch


seperti dalam Gambar 3.9. Bagian (a) menjelaskan pengukuran sudut Plunge dari lineasi
L 20 060 dalam bidang sesar. Sudut 20 diukur pada bidang vertikal (azimut 060)
yang berisi lineasi L. Bagian (b) menjelaskan pengukuran Pitch/Rake dari lineasi L diukur
sebagai 28 E dari garis Strike N40E di bidang sesar. Bagian (c) menggambarkan
proyeksi stereographic lower hemispere Plunge dan Pitch dari lineasi/gores garis L.
Delvauk dan sperner, 2003 dalam Niewland, 2003, mengemukakan bahwa
penentuan tegasan purba dapat ditentukan dengan dua tipe struktur dasar hasil deformasi
rapuh yakni struktur sesar dengan slip lines/slickensides dan bidang struktur rekahan
lainnya.

62
Gambar 3.10. Klasifikasi sesar menurut Rickard, 1972, dalam Ragan, 2009

Ragan, 2009, menjelaskan klasifikasi Rickard 1972, dimana mengklasifikasikan


sesar dengan pendekatan penggabungan dip bidang sesar pitch dari net slip pada
diagram triangular. Tiap kemungkinan pasangan dip-pitch menempati posisi yang tertentu.
Sebagai contoh sesar dengan dip 60o dan pitch 80o memiliki simbul indek D60R80 (R
adalah rake/pitch untuk menghindari kesalah pahaman dengan plunge). Ini kemudian
ditunjukkan dengan sebuah titik pada grid trianguler (Gambar a). Empat triangel yang
berbeda diperlukan guna menggambarkan pergerakan normal, naik, mengiri dan
menganan (Gambar b).

3.3. Struktur Lipatan


Sebuah lipatan adalah distorsi dari volume material batuan yang
memanifestasikan dirinya sebagai lengkungan atau sekumpulan lengkungan dalam
elemen garis atau bidang (Hansen, 1971, dalam Ragan 2009). Lipatan, baik yang dapat

63
diamati pada skala mikro, meso atau macroscale, jelas merupakan jendela yang paling
penting bagi kita dalam mempelajari sejarah deformasi lokal dan regional di masa lalu.
geometri dan ekspresi lipatan membawa informasi penting tentang jenis deformasi,
kinematika dan tektonik suatu daerah (Fossen, 2010)
Lipatan akan mudah dipelajari dalam penampang yang tegak lurus terhadap
lapisan yang terlipatkan atau tegaklurus terhadap permukaan sumbu lipatan. Secara
umum, lipatan terbentuk dari sumbu yang menghubungkan 2 orientasi sayap yang
berbeda. Sumbu dapat tegas atau jelas, namun lebih sering berupa lengkungan sumbu
yang gradual, sehingga hadir istilah hinge zone (Fossen, 2010)
.

Gambar 3.11. Aspek geometri lipatan (Fossen, 2010)

64
Gambar 3.12. Klasifikasi lipatan berdasarkan orientasi hinge line dan axial surface (Fleuty,
1964 dalam Fossen, 2010)

Fossen, 2010, Orientasi lipatan dapat dijelaskan dengan orientasi axial surface
dan hinge line. Kedua parameter ini dapat diplotkan satu sama lainnya sepeti dalam
gambar diatas, dan nama dapat diperoleh untuk jenis lipatan yang bermacam-macam.
Umumnya digunakan istilah upright fold (vertical axial plane dan horizontal hinge line) dan
recubent fold (axial plane dan hinge line horisontal).
Semua yang ditunjukkan dalam gambar diatas adalah antiform. Sebuah antiform
adalah struktur dimana kemiringan sayap ke arah bawah dan menjauh dari hinge zone,
sedangkan synform adalah seballiknya. Bila urutan stratugrafi diketahui, antiform disebut
antiklin bila lapisan batuan muda menjauh dari axial surface lipatan. Demikian pula sinklin
adalah lipatan dimana lapisan batuan menjadi lebih muda ke arah axial surface (Fossen,
2010).

65
Gambar 3.13. Bentuk-bentuk dasar lipatan. Gambar h menunjukkan bagaimana berbagai
jenis syn dan antiform dapat terjadi dari perlipatan kembali sebuah lipatan (Fossen 2010).

Gambar 3.14. Klasifikasi lipatan berdasarkan sudut antar sayap


(interlimb angle) (Fossen 2010)

Gambar 3.15. Klasifikasi Ramsay (1967) dalam Fossen 2010, berdasarkan dip isogon.
Dip isogon adalah garis-garis yang menghubungkan titik-titik dengan dip yang sama untuk
lipatan berorientasi vertikal.

66
Gambar 3.16. Klasifikasi Lipatan (Rickard, 1971, dalam Ragan, 2009)
a). Grid pengeplot lipatan; b). Klasifikasi jenis-jenis lipatan

Dalam prakteknya, grid trianguler digunakan untuk mengklasifikasikan lipatan


(Gambar 3.16a). Langkah pertama adalah menuliskan lipatan dengan menggunakan
nomor indeks: dip D bidang sumbu dan plunge P dari garis sumbu lipatan. Misalnya,
lipatan D70 P50 diwakili oleh titik perpotongan garis dip miring sejajar dengan sisi kiri
segitiga dan garis-garis plunge melengkung (lihat titik diplot pada Gambar. 3.16a). Hal ini
bisa juga diplotkan dengan menggunakan sudut pitch R, memberikan indeks D70 R55
dan menggunakan garis memancar dari titik dari segitiga di sebelah kanan.
Setelah titik ini diplot, kita kemudian dapat menentukan posisi titik pada bidang
yang digambarkan pada segitiga (Gambar. 3.16b). Meskipun model ini masih bisa dibagi-
bagi lagi, ini merupakan metode sederhana untuk memberikan penamaan. Untuk kasus
yang lebih umum, presisi diperoleh dengan penggunaan nomor indeks.

67

Anda mungkin juga menyukai