Anda di halaman 1dari 51

REFERAT

ASMA BRONKIAL

Oleh :
Annisa Nadya Pradita
1102013037

Pembimbing :
dr. Fikri Faisal, Sp.P

TUGAS KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT DALAM


RSU DR. SLAMET GARUT
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
PERIODE MEI JULI 2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Asma adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia. Asma adalah
suatu penyakit inflamasi kronik saluran nafas yang berhubungan dengan
hiperesponsif dan penyempitan saluran nafas yang menimbulkan gejala-gejala
gangguan pernafasan secara episodik yang membaik secara spontan atau setelah
pemberian obat. Dengan mengobatinya asma dapat dikontrol secara efektif hingga
jarang terjadi eksaserbasi dan penderita dapat menjalani kualitas hidup yang baik1.
Hampir separuh dari seluruh pasien asma pernah dirawat di rumah sakit dan
melakukan kunjungan ke bagian gawat darurat setiap tahunnya. Hal tersebut
disebabkan manajemen dan pengobatan asma yang masih jauh dari pedoman yang
direkomendasikan Global Initiative for Asthma (GINA)2.
Kemajuan ilmu dan teknologi di belahan dunia ini tidak sepenuhnya diikuti
dengan kemajuan penatalaksanaan asma, hal itu tampak dari data berbagai negara
yang menunjukkan peningkatan kunjungan ke darurat gawat, rawat inap, kesakitan
dan bahkan kematian karena asma. Berbagai argumentasi diketengahkan seperti
perbaikan kolektif data, perbaikan diagnosis dan deteksi perburukan dan
sebagainya. Akan tetapi juga disadari masih banyak permasalahan akibat
keterlambatan penanganan baik karena penderita maupun dokter (medis).
Kesepakatan bagaimana menangani asma dengan benar yang dilakukan
oleh National Institute of Heallth National Heart, Lung and Blood Institute
(NHLBI) bekerja sama dengan World Health Organization (WHO) bertujuan
memberikan petunjuk bagi para dokter dan tenaga kesehatan untuk melakukan
penatalaksanaan asma yang optimal sehingga menurunkan angka kesakitan dan
kematian asma. Petunjuk penatalaksanaan yang telah dibuat dianjurkan dipakai di
seluruh dunia disesuaikan dengan kondisi dan permasalahan negara masing-

2
masing. Merujuk kepada pedoman tersebut, disusun pedoman penanggulangan
asma di Indonesia. Diharapkan dengan mengikuti petunjuk ini dokter dapat
menatalaksana asma dengan tepat dan benar, baik yang bekerja di
layanan kesehatan dengan fasiliti minimal di daerah perifer, maupun di rumah
sakit dengan fasiliti lengkap di pusat-pusat kota1.

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ASMA BRONKIAL


2.1.1 Definisi Asma Bronkial
Asma adalah penyakit inflamasi kronis saluran pernapasan yang
dihubungkan dengan hiperresponsif, keterbatasan aliran udara yang reversibel dan
gejala pernapasan. Asma bronkial adalah salah satu penyakit paru yang termasuk
dalam kelompok penyakit paru alergi dan imunologi yang merupakan suatu
penyakit yang ditandai oleh tanggap reaksi yang meningkat dari trakea dan bronkus
terhadap berbagai macam rangsangan dengan manifestasi berupa kesukaran
bernapas yang disebabkan oleh penyempitan yang menyeluruh dari saluran napas.
Penyempitan ini bersifat dinamis dan derajat penyempitan dapat berubah, baik
secara spontan maupun karena pemberian obat2.

2.1.2 Epidemiologi Asma Bronkial


Prevalensi asma dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain jenis kelamin,
umur pasien, status atopi, faktor keturunan, serta faktor lingkungan. Pada masa
kanak-kanak ditemukan prevalensi anak laki-laki berbanding anak perempuan 1,5
: 1, tetapi menjelang dewasa perbandingan tersebut lebih kurang sama dan pada
masa menopause perempuan lebih banyak dari laki-laki. Umumnya prevalensi
asma anak lebih tinggi dari dewasa, tetapi ada pula yang melaporkan prevalensi
dewasa lebih tinggi dari anak. Angka ini juga berbeda-beda antara satu kota dengan
kota yang lain di negara yang sama. Di Indonesia prevalensi asma berkisar antara
5-7%2.
Berdasarkan data World Health Organization (WHO), hingga saat ini
jumlah penderita asma di dunia diperkirakan mencapai 300 juta orang dan
diperkirakan angka ini akan terus meningkat hingga 400 juta penderita pada tahun
20252.

4
2.1.3. Klasifikasi Asma Bronkial
Asma dapat diklasifikasikan berdasarkan etiologi, berat penyakit dan pola
keterbatasan aliran udara. Klasifikasi asma berdasarkan berat penyakit penting bagi
pengobatan dan perencanaan penatalaksanaan jangka panjang, semakin berat asma
semakin tinggi tingkat pengobatan. Berat penyakit asma diklasifikasikan
berdasarkan gambaran klinis sebelum pengobatan dimulai tabel 1. Pada umumnya
penderita sudah dalam pengobatan; dan pengobatan yang telah berlangsung
seringkali tidak adekuat. Dipahami pengobatan akan mengubah gambaran klinis
bahkan faal paru, oleh karena itu penilaian berat asma pada penderita dalam
pengobatan juga harus mempertimbangkan pengobatan itu sendiri. Tabel 1
menunjukkan bagaimana melakukan penilaian berat asma pada penderita yang
sudah dalam pengobatan. Bila pengobatan yang sedang dijalani sesuai dengan
gambaran klinis yang ada, maka derajat berat asma naik satu tingkat. Contoh
seorang penderita dalam pengobatan asma persisten sedang dan gambaran klinis
sesuai asma persisten sedang, maka sebenarnya berat asma penderita tersebut
adalah asma persisten berat. Demikian pula dengan asma persisten ringan. Akan
tetapi berbeda dengan asma persisten berat dan asma intemiten. Penderita yang
gambaran klinis menunjukkan asma persisten berat maka jenis pengobatan apapun
yang sedang dijalani tidak mempengaruhi penilaian berat asma, dengan kata lain
penderita tersebut tetap asma persisten berat. Demikian pula penderita dengan
gambaran klinis asma intermiten yang mendapat pengobatan sesuai dengan asma
intermiten, maka derajat asma adalah intermiten1.

5
Tabel 1. Klasifikasi derajat berat asma berdasarkan gambaran klinis1

2.1.4 Patofisiologi
Asma merupakan inflamasi kronik saluran napas dan disebabkan oleh
hiperreaktivitas saluran napas yang melibatkan beberapa sel inflamasi terutama sel
mast, eosinofil, sel limfosit T, makrofag, neutrofil dan sel epitel yang menyebabkan
pelepasan mediator seperti histamin dan leukotrin yang dapat mengaktivasi target
saluran napas sehingga terjadi bronkokonstriksi, kebocoran mikrovaskular, edema
dan hipersekresi mukus. Inflamasi saluran napas pada asma merupakan proses yang
sangat kompleks melibatkan faktor genetik, antigen dan berbagai sel inflamasi,
interaksi antara sel dan mediator yang membentuk proses inflamasi kronik2.
Proses inflamasi kronik ini berhubungan dengan peningkatan kepekaan
saluran napas sehingga memicu episode mengi berulang, sesak napas, batuk
terutama pada malam hari. Hiperresponsivitas saluran napas adalah respon bronkus

6
berlebihan yaitu penyempitan bronkus akibat berbagai rangsangan spesifik dan
non-spesifik2.

Gambar 1. Patofisiologi Asma4

7
Gambar 2. Patofisiologi Asma4

Gambar 3. Patogenesis asma1

8
2.1.5 Manifestasi Klinis Asma Bronkial
Gambaran klinis asma klasik adalah serangan episodik batuk, mengi, dan
sesak napas. Pada awal serangan sering gejala jelas seperti rasa berat di dada, dan
pada asma alergik mungkin disertai pilek atau bersin. Meskipun pada mulanya
batuk tanpa disertai sekret, tetapi pada perkembangan selanjutnya pasien akan
mengeluarkan sekret baik yang mukois, putih kadang-kadang purulen. Ada
sebagian kecil pasien asma yang gejalanya hanya batuk tanpa disertai mengi,
dikenal dengan istilah cough variant asthma. Bila hal yang ini dicurigai, perlu
dilakukan pemeriksaan spirometry sebelum dan sesudah bronkodilator atau uji
provokasi bronkus dengan metakolin2.
Pada asma alergik, sering hubungan antara pemajanan allergen dengan
gejala asma tidak jelas. Terlebih lagi pasien asma alergik juga memberikan gejala
terhadap faktor pencetus non-alergik seperti asap rokok, asap yang merangsang,
infeksi saluran napas ataupun perubahan cuaca2.
Lain halnya dengan asma akibat pekerjaan. Gejala biasanya memburuk pada
awal minggu dan membaik menjelang akhir minggu. Pada pasien yang gejalanya
tetap memburuk sepanjang minggu, gejalanya mungkin akan membaik bila pasien
dijauhkan dari lingkungan kerjanya, seperti waktu cuti misalnya. Pemantauan
dengan alat peak flow meter atau uji provokasi dengan bahan tersangka yang ada di
lingkungan kerja mungkin diperlukan untuk menegakkan diagnosis2.

2.1.6 Diagnosis Asma Bronkial


Diagnosis asma didasarkan pada riwayat penyakit, pemeriksaan fisis, dan
pemeriksaan penunjang. Pada riwayat penyakit akan dijumpai keluhan batuk, sesak,
mengi, atau rasa berat di dada. Tetapi kadang-kadang pasien hanya mengeluh
batuk-batuk saja yang umumnya timbul pada malam hari atau sewaktu kegiatan
jasmani. Adanya penyakit alerho yang lain pada pasien maupun keluarganya seperti
rinitis alergi, atau dermatitis atopik membantu diagnosis asma. Gejala asma sering
timbul pada malam hari, tetapi dapat pula muncul sembarang waktu. Adakalanya
gejala lebih sering terjadi pada musim tertentu. Yang perlu diketahui adalah faktor-

9
faktor pencetus kemudian menghindarinya, maka diharapkan gejala asma dapat
dicegah3.
Faktor-faktor pencetus pada asma yaitu3:
- Infeksi virus saluran napas: influenza
- Pemajanan terhadap alergen tungau, debu rumah, bulu binatang
- Pemajanan terhadap iritan asap rokok, minyak wangi
- Kegiatan jasmani: lari
- Ekspirasi emosional takut, marah, frustasi
- Obat-obat aspirin, penyekat beta, anti-inflamasi non-steroid
- Lingkungan kerja: uap zat kimia
- Polusi udara: asap rokok
- Pengawet makanan: sulfit
- Lain-lain, misalnya haid, kehamilan, sinusitis

Tabel 2. Faktor Risiko dan Pencetus pada Asma4


Faktor Endogen Faktor Lingkungan
Genetik Alergen di dalam ruangan
Atopi Alergen di luar ruangan
Hiperresponsif saluran Occupational sensitizers
Jenis kelamin Perokok pasif
Etnik Infeksi saluran napas
Obesitas Diet
Infeksi virus Acetaminophen (paracetamol)
Pencetus
Alergen
Infeksi virus pada saluran napas atas
Olahraga dan hiperventilasi
Udara dingin
Sulfur dioksida dan gas iritan
Obat-obatan (beta bloker, aspirin)

10
Stress
Iritan

Yang membedakan asma dengan penyakit paru yang lain yaitu pada asma
serangan dapat hilang dengan atau tanpa obat, artinya serangan asma tanpa diobati
ada yang hilang sendiri. Tetapi membiarkan pasien asma dalam serangan tanpa obat
selain tidak etis, juga dapat membahayakan nyawa pasien. Gejala asma juga sangat
bervariasi dari satu individu ke individu lain, dan bahkan bervariasi pada individu
sendiri misalnya gejala pada malam hari lebih sering muncul dibanding siang hari3.

PEMERIKSAAN FISIK
Penemuan tanda pada pemeriksaan fisik pasien asma, tergantung dari
derajat obstruksi saluran napas. Ekspirasi memanjang, mengi, hiperinflasi dada,
pernapasan cepat sampai sianosis dijumpai pada pasien asma. Dalam praktek jarang
dijumpai kesulitan dalam membuat diagnosis asma, tetapi sering juga dijumpai
pasien bukan asma mempunyai mengi, sehingga diperlukan pemeriksaan penunjang
untuk menegakkan diagnosis3.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
- Spirometri1,2,4
Cara yang paling cepat dan sederhana untuk menegakkan diagnosis asma
adalah melihat respons dengan pengobatan dengan bronkodilator. Peeriksaan
spirometri dilakukan sebelum dan sesudah pemberian bronkodilator hirup (inhaler
atau nebulizer) golongan adrenergik beta. Peningkatan VEP1 sebanyak 12% atau
( 200 mL) menunjukkan diagnosis asma. Tetapi respons yang kurang dari 12%
atau 200 mL, tidak berarti bukan asma. Hal-hal tersebut dapat dijumpai pada pasien
yang sudah normal atau mendekati normal. Demikian pula respons terhadap
bronkodilator tidak dijumpai pada obstruksi saluran napas yang berat, oleh karena
obat tunggal bronkodilator tidak cukup kuat memberikan efek yang diharapkan.
Untuk melihat reversibilitas pada hal yang disebutkan di atas mungkin diperlukan
kombinasi obat golongan adrenergik beta, teofilin dan bahkan kortikosteroid untuk

11
jangka waktu pengobatan 2-3 minggu. Reversibilitas dapat terjadi tanpa pengobatan
yang dapat dilihat dari hasil pemeriksaan spirometri yang dilakukan pada saat yang
berbeda-beda misalnya beberapa hari atau beberapa bulan kemudian.
Spirometri terutama pengukuran VEP1[volume ekspirasi paksa dalam 1
detik] dan KVP[kapasitas vital paksa] serta pengukuran APE[arus puncak
ekspirasi]. Pengukuran VEP1 lebih dapat di andalkan dibandingkan dengan
pengukuran APE. Penurunan VEP1 dapat ditemukan di berbagai penyakit paru atau
teknik penggunaan alat yang salah, tetapi jika terdapat pengurangan rasio dari
VEP1 ke KVP menandakan adanya keterbatasan aliran udara. Dari beberapa
penelitian, rasio VEP1/KVP normalnya lebih besar dari 0.75 - 0.80, dan pada anak-
anak lebih besar dari 0.90.
Dalam praktik klinis, ketika sebuah obstruksi sudah dikonfirmasi, maka
pemeriksaan spirometri dapat dilihat dari VEP1 atau KVP. Reversibilitas
penyempitan saluran napas yang merupakan ciri khas asma dapat dinilai dengan
peningkatan volume ekspirasi paksa detik pertama (VEP1) dan atau kapasiti vital
paksa (FVC) sebanyak 20% atau lebih sesudah pemberian bronkodilator.
Pemeriksaan spirometri selain penting untuk menegakkan diagnosis, juga
penting untuk menilai beratnya obstruksi dan efek pengobatan. Banyak pasien asma
tanpa keluhan, tetapi pemeriksaan spirometrinya menunjukkan obstruksi. Hal ini
mengakibatkan pasien mudah mendapatkan serangan asma dan bahkan bila
berlangsung lama atau kronik dapat berlanjut menjadi penyakit paru obstruktif
kronik.

- Uji Provokasi Bronkus


Uji provokasi bronkus membantu menegakkan diagnosis asma. Pada
penderita dengan gejala asma dan faal paru normal sebaiknya dilakukan uji
provokasi bronkus. Pemeriksaan uji provokasi bronkus merupakan cara untuk
membuktikan secara objektif hiperreaktivitas saluran napas pada orang yang diduga
asma. Uji provokasi bronkus terdiri dari tiga jenis yaitu uji provokasi dengan beban
kerja (exercise), hiperventilasi udara dan alergen non-spesifik seperti metakolin dan
histamin2.

12
- Pemeriksaan Sputum
Sputum eosinofil sangat karakteristik untuk asma, sedangkan neutrofil
sangat dominan pada bronkitis kronik. Selain untuk melihat adanya eosinofil,
kristal Charcot-Leyden, dan Spiral Curchsman, pemeriksaan ini juga penting untuk
melihat adanya miselium Aspergillus fumigatus2.
- Pemeriksaan Esionofil Total
Jumlah eosinofil total dalam darah sering meningkat pada pasien asma dan
hal ini dapat membantu dalam membedakan asma dari bronkitis kronik.
Pemeriksaan ini juga dapat dipakai sebagai patokan untuk menentukan cukup
tidaknya dosis kortikosteroid yang dibutuhkan pasien asma2.
- Uji Kulit
Tujuan uji kulit adalah untuk menunjukkan adanya antibodi IgE spesifik
dalam tubuh. Uji ini hanya menyokong anamnesis, karena uji alergen yang positif
tidak selalu merupakan penyebab asma, demikian pula sebaliknya2.
- Pemeriksaan Kadar IgE Total dan IgE Spesifik Dalam Sputum
Pemeriksaan ini dilakukan hanya menyokong adanya atopi. Pemeriksaan
IgE spesifik lebih bermakna dilakukan bila uji kulit tidak dapat dilakukan atau
hasilnya kurang dapat dipercaya2.
Adanya atopik meningkatkan kemungkinan seseorang dengan gejala
respirasi mempunyai asma alergi, tetapi ini bukan merupakan pemeriksaan yang
spesifik untuk asma. Atopik dapat di identifikasi dengan cara skin prick test atau
dengan mengukur kadar immunoglobulin spesifik (sIgE) di dalam serum. Skin prick
test sangat mudah dan cepat dilakukan, harga yang terjangkau dan memiliki
sensitivitas yang tinggi. Pengukuran kadar sIgE lebih mahal tetapi dapat digunakan
pada pasien yang tidak kooperatif untuk pemeriksaan skin prick test seperti pasien
yang memiliki penyakit kulit luas, atau jika memiliki riwayat anafilaksis. Hasil skin
prick test dan sIgE yang positif tidak berarti seseorang dapat di diagnosis asma,
melainkan harus di konfirmasi ulang melalui anamnesis2.
- Foto Thorax
Pemeriksaan foto toraks dilakukan untuk menyingkirkan penyakit lain yang
memberikan gejala serupa seperti gagal jantung kiri, obstruksi saluran nafas,

13
pneumothoraks, pneumomediastinum. Pada serangan asma yang ringan, gambaran
radiologik paru biasanya tidak memperlihatkan adanya kelainan2.
- Analisis Gas Darah
Pemeriksaan ini hanya dilakukan pada asma yang berat. Pada fase awal
serangan, terjadi hipoksemia dan hipokapnia (PaCO2 < 35 mmHg) kemudian pada
stadium yang lebih berat PaCO2 justru mendekati normal sampai normo-kapnia.
Selanjutnya pada asma yang sangat berat terjadinya hiperkapnia (PaCO 2 45
mmHg), hipoksemia, dan asidosis respiratorik2.

DIAGNOSIS BANDING
Bronkitis kronik
Bronkitis kronik ditandai dengan batuk kronik yang mengeluarkan
sputum 3 bulan dalam setahun untuk sedikitnya 2 tahun. Gejala utama batuk
yang disertai sputum dan perokok berat. Gejala dimulai dengan batuk pagi,
lama kelamaan disertai mengi dan menurunkan kemampuan jasmani2.
Emfisema paru
Sesak napas merupakan gejala utama emfisema, sedangkan batuk dan
mengi jarang menyertainya2.
Gagal jantung kiri
Dulu gagal jantung kiri dikenal dengan asma kardial dan timbul pada
malam hari disebut paroxysmal nocturnal dispnea. Penderita tiba-tiba
terbangun pada malam hari karena sesak, tetapi sesak menghilang atau
berkurang bila duduk. Pada pemeriksaan fisik ditemukan kardiomegali dan
edema paru2.
Emboli paru
Hal-hal yang dapat menimbulkan emboli paru adalah gagal jantung.
Disamping gejala sesak napas, pasien batuk dengan disertai darah
(haemoptoe)2.

14
Diagnosis banding pada pasien yang dicurigai asma sangat bervariasi sesuai dengan
usia (tabel 3). Diagnosis banding ini mungkin dapat ditemukan bersamaan dengan
asma.

Tabel 3. Diagnosis banding asma pada dewasa, remaja dan anak usia 6-11 tahun5
Usia Kondisi Gejala
6-11 Sindrom batuk kronis Bersin, gatal, hidung tersumbat
tahun Aspirasi benda asing Tiba-tiba, mengi
Bronkiektasis Infeksi berulang, batuk produktif
Diskinesia silier primer Infeksi berulang, batuk produktif,
sinusitis
Penyakit jantung kongenital Murmur
Displasia bronkopulmonar Kelahiran prematur, gejala sejak
lahir
Fibrosis kistik Batuk kronik dengan mukus,
gejala gastrointestinal
12-39 Sindrom batuk kronis Bersin, gatal, hidung tersumbat
tahun Disfungsi pita suara Dyspnea, stridor
Hiperventilasi Pusing, parastesi, sighing
Bronkiektasis Infeksi berulang, batuk produktif
Fibrosis kistik Batuk kronik dengan mukus,
gejala gastrointestinal
Penyakit jantung kongenital Murmur
Defisiensi alpha1-antritipsin Napas pendek, riwayat keluarga
emfisema
Aspirasi benda asing Tiba-tiba, mengi
>40 Disfungsi pita suara Dyspnea, stridor
tahun Hiperventilasi, PPOK Pusing, parastesi, sighing
Bronkiektasis Infeksi berulang, batuk produktif
Gagal jantung Dyspnea, gejala timbul malam hari
Batuk akibat pengobatan Golongan obat ACE-inhibitor

15
Penyakit parenkim paru Dyspnea, batuk tidak produktif,
finger clubbing
Emboli paru Dyspnea tiba-tiba, nyeri dada
Obstruksi saluran napas sentral Dyspnea, tidak responsif terhadap
bronkodilator

2.1.7 Penatalaksanaan Asma Bronkial1,2,5


PENGOBATAN ASMA MENURUT GINA (GLOBAL INITIATIVE for ASTHMA)
Tujuan penatalaksanaan asma adalah untuk:
- Mencapai dan mempertahankan kontrol gejala-gejala asma
- Mempertahankan aktivitas yang normal termasuk olahraga
- Menjaga fungsi paru senormal mungkin
- Mencegah eksaserbasi asma
- Menghindari reaksi samping obat asma
- Mencegah kematian karena asma
Untuk mencapai tujuan di atas GINA merekomendasikan 5 komponen yang saling
terkait dalam penatalaksanaan asma:
- Bina hubungan yang baik antara pasien dengan dokter
Kerja sama yang baik antara dokter-pasien, akan mempercepat tujuan
penatalaksanaan asma. Dengan bimbingan dokter, pasien didukung untuk
mampu mengontrol asmanya. Pasien akan mampu mengenal kapan
asmanya memburuk, mengetahui tindakan sementara sebelum
menghubungi dokter, kapan harus menghubungi dokternya, kapan harus
segera mengunjungi instalasi gawat darurat dan akhirnya akan
meningkatkan kepercayaan diri dan ketaatan berobat.
- Identifikasi dan kurangi pemaparan faktor risiko
Untuk mencapai kontrol asma diperluka identifikasi mengenai faktor-faktor
yang dapat memperburuk gejala asma atau lebih dikenal sebagai faktor
pencetus. Menghindari faktor pencetus diharapkan dapat mengurangi gejala
dan serangan asma. Berbagai alergen, baik di dalam rumah maupun di luar
rumah. Alergen yang sering didapatkan di dalam rumah antara lain tungau,

16
debu, bulu binatang, dan kecoa. Alergen yang sering didapatkan di luar
rumah antara lain polusi udara dan lingkungan kerja. Perlu diidentifikasi
juga faktor-faktor pencetus lain seperti infeksi virus influenza, ketegangan
jiwa, rinosisnusitis, dan refluks gastroesofageal.
- Penilaian, pengobatan dan pemantauan keadaan kontrol asma
Tujuan terpenting penatalaksanaan asma adalah mencapai dan
mempertahankan kontrol asma. Derajat berat asma dapat berubah seiring
dengan berjalannya waktu atau pengaruh pengobatan. Oleh karena itu
sekarang diperkenalkan istilah kontrol asma yang lebih mengarah kepada
upaya pencegahan dengan cara mengendalikan gejala klinik penyakit
termasuk juga perbaikan fungsi paru. GINA membagi tingkat kontrol asma
menjadi tiga tingkatan yaitu terkontrol sempurna, terkontrol sebagian dan
tidak terkontrol.
Pada sebagian besar pasien dengan intervensi obat asma dan
hubungan dokter pasien yang baik, tujuan di atas dapat tercapai. Pengobatan
merupakan proses yang berkesinambungan. Bila dengan obat yang
diberikan saat ini asma belum terkontrol, dosis atau jenis obat ditingkatkan.
Seperti diketahui pada panduan penatalaksanaan asma yang baru, terdapat
5 tingkatan pengobatan asma. Bila kontrol asma dapat tercapai dan dapat
dipertahankan terkontrol paling tidak selama 3 bulan maka tingkat
pengobatan asma dapat dicoba untuk diturunkan. Sebaliknya bila respons
pengobatan belum memadai tingkat pengobatan dinaikkan. Pada tingkat
berapa pengobatan untuk mencapai kontrol dimulai, tergantung berat atau
tidaknya kontrol asma. Bila dianggap ringan tingkat 2, yang agak berat
tingkat 1 (tabel 4).

17
Tabel 4. Tingkat Kontrol Asma2
Karakteristik Kontrol Terkontrol Sebagian Tidak
Penuh Terkontrol
Gejala harian Tidak ada ( >2x/mgg 3
2x/mgg)
Keterbatasan Tidak ada Ada Sebagian ada
aktivitas dalam setiap
minggu
Gejala Tidak ada Ada
nokturnal
Kebutuhan Tidak ada ( >2x/mgg
pelega 2x/mgg)
Fungsi paru Normal <80% prediksi /
(APE/VEP1) nilai terbaik
Eksaserbasi Tidak ada 1/tahun 1x/mgg

- Atasi serangan asma


Tujuan pengobatan serangan asma yaitu:
Menghilangkan obstruksi saluran napas dengan segera
Mengatasi hipoksemia
Mengembalikan fugsi faal paru ke arah normal secepat mungkin
Mencegah terjadinya serangan berikutnya
Memberikan penyuluhan kepada pasien dan keluarganya mengenai
cara-cara mengatasi dan mencegah serangan asma
Dalam penatalaksanaa serangan asma perlu diketahui lebih dahulu derajat
beratnya serangan asma baik berdasarkan cara bicara, aktivitas, tanda-tanda
fisik, nilai APE, dan bila mungkin analisis gas darah seperti terlihat pada
tabel. Hal lain yang juga perlu diketahui apakah pasien termasuk pasien
asma yang berisiko tinggi untuk kematian karena asma, yaitu pasien yang:
Sedang memakai atau baru saja lepas dari kortikosteroid sistemik

18
Riwayat rawat inap atau kunjungan ke unit gawat darurat karena
asma dalam setahun terakhir
Gangguan kejiwaan atau psikososial
Pasien yang tidak taat mengikuti rencana pengobatan

Tabel 5. Klasifikasi Derajat Beratnya Serangan Asma2


Ringan Sedang Berat
Aktivitas Dapat berjalan Jalan terbatas Sukar berjalan
Dapat berbaring Lebih suka Duduk
duduk membungkuk ke
depan
Bicara Beberpa kalimat Kalimat terbatas Kata demi kata
Kesadaran Mungkin Biasanya Biasanya
terganggu terganggu terganggu
Frekuensi napas Meningkat Meningkat Sering
>30x/menit
Retraksi otot-otot Umumnya tidak Kadang kala ada Ada
bantu napas ada
Mengi Lemah sampai Keras Keras
sedang
Frekuensi nadi <100 100-120 >120
Pulsus Tidak ada (<10 Mungkin ada Sering ada (>25
paradoksus mmHg) (10-25 mmHg) mmHg)
APE sesudah >80% 60-80% <60%
bronkodilator
PaCO2 <45 mmHg <45 mmHg <45 mmHg
SaO2 >95% 91-95% <90%

Pengobatan Asma Akut


Prinsip pengobatan asma akut adalah memelihara saturasi oksigen yang
cukup (SaO2 92%) dengan memberikan oksigen, melebarkan saluran napas

19
dengan pemberian bronkodilator aerosol (agonis beta 2 dan ipratropium
bromida) dan mengurangi inflamasi serta mencegah kekambuhan dengan
memberikan kortikosteroid sistemik. Pemberian oksigen 1-3L/menit,
diusahakan mencapai SaO2 92%, sehingga bila penderita telah mempunyai
SaO2 92% sebenarnya tidak lagi membutuhkan inhalasi oksigen.
Bronkodilator khususnya agonis beta 2 hirup (kerja pendek) merupakan
obat anti-asma pada serangan asma, baik dengan MDI atau nebulizer. Pada
serangan asma ringan atau sedang, pemberian aerosol 2-4 kali setiap 20 menit
cukup memadai untuk mengatasi serangan. Obat-obat anti-asma yang lain
seperti antikolinergik hirup, teofilin, dan agonis beta 2 oral merupakan obat-obat
alternatif karena mula kerja yang lama serta efek sampingnya yang lebih besar.
Pada serangan asma yang lebih berat, dosis agonis beta 2 hirup dapat
ditingkatkan. Sebagian peneliti menganjurkan pemberian kombinasi
Ipratropium bromida dengan salbutamol, karena dapat mengurangi biaya
pengobatan.
Kortikosteroid sistemik diberikan bila respons terhadap agonis beta 2 hirup
tidak memuaskan. Dosis prednisolon yang diberikan berkisar antara 0,5-1
mg/kgBB atau ekuivalennya. Perbaikan biasanya terjadi secara bertahap, oleh
karena itu pengobatan diteruskan untuk beberapa hari. Tetapi bila tidak ada
perbaikan atau minimal, pasien segera di rujuk ke fasilitas pengobatan yang lebih
baik.

Pasien harus segera dirujuk bila:


Pasien dengan risiko tinggi untuk kematian karena asma
Serangan asma berat APE <60% nilai prediksi
Respons bronkodilator tidak segera, dan bila ada respons hanya bertahan
kurang dari 3 jam
Tidak ada perbaikan dalam waktu 2-6 jam setelah mendapat pengobatan
kortikosteroid
Gejala asma semakin memburuk

20
- Penatalaksaan keadaan khusus
Kehamilan
Selama kehamilan berat penyakit asma dapat berubah sehingga penderita
memerlukan pengaturan jenis dan dosis obat asma yang dipakai. Penelitian
retrospektif memperlihatkan bahwa selama kehamilan 1/3 penderita mengalami
perburukan penyakit, 1/3 lagi menunjukkan perbaikan dan 1/3 sisanya tidak
mengalami perubahan. Meskipun selama kehamilan pemberian obat-obat harus
hati-hati, tetapi asma yang tidak terkontrol bisa menimbulkan masalah pada bayi
berupa peningkatan kematian perinatal, pertumbuhan janin terhambat dan lahir
prematur, peningkatan insidensi operasi caesar, berat badan lahir rendah dan
perdarahan postpartum. Prognosis bayi yang lahir dari ibu menderita asma tapi
terkontrol sebanding dengan prognosis bayi yang lahir dari ibu yang tidak
menderita asma. Oleh sebab itu mengontrol asma selama kehamilan sangat
penting untuk mencegah keadaan yang tidak diinginkan baik pada ibu maupun
janinnya. Pada umumnya semua obat asma dapat dipakai saat kehamilan kecuali
komponen adrenergik, bromfeniramin dan epinefrin.. Kortikosteroid inhalasi
sangat bermanfaat untuk mengontrol asma dan mencegah serangan akut
terutama saat kehamilan. Bila terjadi serangan, harus segera ditanggulangi
secara agresif yaitu pemberian inhalasi agonis beta-2, oksigen dan kortikosteroid
sistemik.

Pemilihan obat pada penderita hamil, dianjurkan :


- Obat inhalasi
- Memakai obat-obat lama yang pernah dipakai pada kehamilan sebelumnya

yang sudah terdokumentasi dan terbukti aman.

Pembedahan
Hiperesponsif jalan napas, gangguan aliran udara dan hipersekresi mukosa pada
penderita asma merupakan faktor predisposisi timbulnya komplikasi respirasi
selama dan sesudah tindakan bedah. Komplikasi pembedahan pada asma

21
tergantung pada beberapa faktor yaitu berat penyakit saat pembedahan, jenis
pembedahan (bedah toraks dan abdomen bagian atas mempunyai risiko lebih
tinggi) dan jenis anestesi (anestesi umum dan penggunaan pipa endotrakeal
mempunyai risiko lebih tinggi). Faktor-faktor tersebut perlu dinilai/ evaluasi
termasuk pemeriksaan spirometri. Jika memungkinkan evaluasi penilaian
tersebut dilakukan beberapa hari sebelum operasi, untuk memberikan
kesempatan pengobatan tambahan. Bila didapatkan VEP1 < 80% nilai terbaik/
prediksi, maka pemberian kortikosteroid akan mengurangi obstruksi jalan napas.
Pada penderita yang mendapat kortikosteroid sistemik dalam 6 bulan terakhir,
sebaiknya diberikan kortikosteroid sistemik selama operasi yaitu hidrokortison
IV 100 mg atau ekivalennya setiap 8 jam dan segera diturunkan dalam 24 jam
pembedahan. Harus diperhatikan pemberian kortikosteroid jangka lama dapat
menghambat penyembuhan luka.
Untuk penderita asma stabil yang akan di bedah dianjurkan pemberian
aminofillin infus 4 jam sebelum operasi dan kortikostroid injeksi 2 jam sebelum
pembedahan untuk mencegah terjadi bronkospasme.

Kategori Pengobatan Asma:


- Controller medications: Pencegah adalah obat asma yang digunakan jangka
panjang untuk mengontrol asma, karena mempunyai kemampuan untuk
mengatasi proses inflamasi yang merupakan patogenesis dasar penyakit asma.
Obat ini diberikan setiap hari untuk mencapai dan mempertahankan keadaan
asma terkontrol pada asma persisten, dan sering disebut sebagai obat pencegah6.

22
Tabel 6. Dosis rendah, sedang dan tinggi kortikosteroid inhalasi5

- Reliever medications: Prinsipnya untuk dilatasi jalan napas melalui relaksasi


otot polos, memperbaiki dan atau menghambat bronkostriksi yang berkaitan
dengan gejala akut seperti mengi, rasa berat di dada dan batuk, tidak
memperbaiki inflamasi jalan napas atau menurunkan hiperesponsif jalan
napas6.
Agonis beta2 kerja singkat
Termasuk golongan ini adalah salbutamol, terbutalin, fenoterol,
dan prokaterol yang telah beredar di Indonesia. Mempunyai waktu
mulai kerja (onset) yang cepat. Mekanisme kerja sebagaimana
agonis beta-2 yaitu relaksasi otot polos saluran napas, meningkatkan
bersihan mukosilier, menurunkan permeabiliti pembuluh darah dan

23
modulasi penglepasan mediator dari sel mast. Merupakan terapi
pilihan pada serangan akut dan sangat bermanfaat sebagai praterapi
pada exercise-induced asthma
Kortikosteroid sistemik.
Steroid sistemik digunakan sebagai obat penghilang gejala bila
penggunaan bronkodilator yang lain sudah optimal tetapi hasil
belum tercapai, penggunaannya dikombinasikan dengan
bronkodilator lain.
Antikolinergik
Pemberiannya secara inhalasi. Mekanisme kerjanya memblok
efek penglepasan asetilkolin dari saraf kolinergik pada jalan napas.
Menimbulkan bronkodilatasi dengan menurunkan tonus kolinergik
vagal intrinsik, selain itu juga menghambat refleks bronkokostriksi
yang disebabkan iritan. Termasuk dalam golongan ini adalah
ipratropium bromide dan tiotropium bromide.
- Add-on therapies for patients with severe asthma2: Biasanya digunakan untuk
pasien yang memiliki gejala yang persisten dan atau eksaserbasi yang
menggunakan dosis tinggi terapi kontroler (dosis tinggi ICS dan LABA).

Gambar 3. Farmakokinetik Kortikosteroid Inhalasi4

24
Tabel 7. Rekomendasi Terapi Controller pada Pasien Dewasa dan Remaja5
Gejala saat ini Pilihan controller inisial
Gejala asma atau butuh SABA kurang Tidak perlu controller (Bukti D)*
dari 2 kali sebulan; tidak terbangun
karena asma di bulan lalu; dan tidak
ada faktor risiko eksaserbasi, termasuk
tidak ada eksaserbasi dalam 1 tahun
lalu
Gejala asma jarang, tapi pasien ICS dosis rendah** (Bukti D)*
memiliki satu atau lebih faktor risiko
eksaserbasi; seperti penurunan fungsi
paru, atau eksaserbasi yang
membutuhkan OCS dalam 1 tahun
lalu, atau pernah dirawat di ICU karena
asma
Gejala asma atau butuh SABA antara 2 ICS dosis rendah** (Bukti B)
sampai 3 kali dalam seminggu, atau
pasien terbangun karena asma 1 kali
atau lebih dalam sebulan
Gejala asma atau butuh SABA lebih ICS dosis rendah** (Bukti A)
dari 2 kali seminggu Pilihan lain yang kurang efektif yaitu
LTRA atau teofilin
Gejala asma yang mengganggu ICS dosis sedang/tinggi (Bukti A),
#
keseharian; atau terbangun karena atau ICS/LABA dosis rendah (Bukti
asma 1 kali atau lebih dalam seminggu, A)
terutama jika terdapat faktor risiko
Awal kedatangan pasien dengan asma Korikosteroid oral jangka pendek dan
berat tidak terkontrol, atau dengan mulai pemberian controller reguler;
eksaserbasi akut pilihannya:

25
ICS dosis tinggi (Bukti A), atau
ICS/LABA dosis rendah#
(Bukti D)
Sebelum memulai terapi controller inisial
Catat bukti diagnosis asma, bila memungkinkan
Catat tingkat kontrol gejala dan faktor risiko, termasuk fungsi paru
Pertimbangkan faktor yang mempengaruhi pilihan terapi
Pastikan pasien dapat menggunakan inhaler dengan benar
Jadwalkan kunjungan follow-up
Setelah memulai terapi controller inisial
Evaluasi respons pasien setelah 2-3 bulan, atau dapat lebih awal tergantung
kegawatan klinis
Lihat Kotak 3-5 untuk rekomendasi terapi lanjutan dan masalah
pengendalian lainnya
Turunkan terapi apabila kontrol yang baik telah dipertahankan selama 3
bulan
ICS: inhaled corticosteroids; LABA: long-acting beta2-agonist; LTRA:
leukotriene receptor antagonist; OCS: oral corticosteroids; SABA: short-acting
beta2-agonist.
Tabel ini disesuaikan dengan bukti yang tersedia dari berbagai penelitian dan
konsensus, termasuk pertimbangan biaya.
*Rekomendasi ini menggambarkan bukti untuk inflamasi saluran napas kronik
pada asma bahkan ketika gejala jarang muncul, manfaat yang diketahui dari ICS
dosis rendah dalam menurunkan eksaserbasi serius pada populasi asma, dan
kurangnya penelitian yang membandingkan efek ICS dan SABA saja pada kasus
eksaserbasi.
**Sesuai dengan tahap 2 pada Kotak 3-5
Sesuai dengan tahap 3 pada Kotak 3-5
# Tidak direkomedasikan sebagai terapi inisial pada anak usia 6-11 tahun.

26
Pendekatan bertahap untuk kontrol gejala dan mengurangi risiko5

ICS: inhaled corticosteroids; LABA: long-acting beta2-agonist; med: medium dose;


OCS: oral corticosteroids; SLIT: sublingual immunotherapy.
Lihat Kotak 3-6 untuk ICS dosis rendah, sedang dan tinggi untuk orang dewasa,
remaja dan anak-anak 6-11 tahun. Lihat Bab 3 Bagian D untuk pengelolaan
bronkokonstriksi yang diinduksi aktivitas fisik.
* Tidak untuk anak-anak <12 tahun.
** Untuk anak 6-11 tahun, Tahap 3 yang diutamakan adalah ICS dosis sedang.
# ICS/formoterol dosis rendah adalah obat reliever untuk pasien yang diberi terapi
pemeliharaan budesonid/formoterol dosis rendah atau terapi
beclometason/folmoterol dosis rendah dan terapi reliever.

27
+ Tiotropium dengan inhaler asap adalah perawatan tambahan untuk pasien dengan
riwayat eksaserbasi; Hal ini tidak untuk anak-anak <12 tahun.
TAHAP 1: Inhaler reliever sesuai kebutuhan5
Pilihan utama: inhalasi short-acting beta2-agonist (SABA) sesuai kebutuhan
Direkomendasikan untuk pasien dengan gejala siang hari yang jarang (misalnya
<2 kali sebulan) dalam durasi singkat (beberapa jam), tanpa gejala yang
membangunkan tidur malam dan dengan fungsi paru normal.
Pilihan lain
Pada pasien yang berisiko mengalami eksaserbasi harus dipertimbangkan
pemberian ICS dosis rendah yang teratur, selain SABA sesuai kebutuhan.
Pilihan lain, tidak disarankan untuk penggunaan rutin
Ipratropium, SABA oral atau teofilin short-acting adalah alternatif potensial
sebagai terapi reliever gejala asma; namun, agen tersebut memiliki onset kerja
obat yang lebih lambat.
LABA onset cepat, yaitu formoterol, sama efektif dengan SABA sebagai terapi
reliever pada orang dewasa dan anak.

TAHAP 2: Obat controller dosis rendah ditambah obat reliever sesuai


kebutuhan5
Pilihan utama: ICS dosis rendah biasa ditambah SABA yang dibutuhkan
Pilihan lain
Antagonis reseptor Leukotrien (Leukotriene receptor antagonists, LTRA)
kurang efektif dibandingkan ICS. Cocok sebagai terapi controller inisial untuk
pasien yang tidak bisa menggunakan ICS.
Untuk pasien dewasa atau remaja yang sebelumnya tidak menggunakan terapi
controller, kombinasi ICS/LABA dosis rendah dapat mengurangi gejala dan
memperbaiki fungsi paru-paru dibandingkan dengan ICS dosis rendah saja.
Pilihan tidak disarankan untuk penggunaan rutin
Teofilin sustained-release hanya memiliki khasiat lemah pada asma dan efek
sampingnya sering terjadi, dan dapat mengancam jiwa pada dosis tinggi.

28
Chromones (nedocromil sodium dan sodium cromoglycate) memiliki profil
keamanan yang baik namun tidak efektif.

TAHAP 3: Satu atau dua obat controller ditambah obat reliever sesuai
kebutuhan5
Pilihan utama (dewasa/remaja): kombinasi dosis rendah ICS/LABA sebagai
perawatan pemeliharaan plus SABA ATAU kombinasi dosis rendah ICS/formoterol
(budesonide atau beclometason) sebagai perawatan pemeliharaan dan reliever.
Pilihan utama (anak 6-11 tahun): dosis sedang ICS plus SABA sesuai kebutuhan
Menambahkan LABA ke dosis ICS yang sama memberikan perbaikan tambahan
pada gejala dan fungsi paru-paru dengan penurunan risiko eksaserbasi.
Pilihan lain
Meningkatkan ICS menjadi dosis sedang, namun ini kurang efektif. Pilihan lain
yang kurang manjur adalah ICS dosis rendah ditambah dengan LTRA atau
teofilin sustained-release dosis rendah.

TAHAP 4: Dua atau lebih obat controller ditambah obat reliever sesuai
kebutuhan5
Pilihan utama (dewasa/remaja): kombinasi ICS/formoterol dosis rendah sebagai
pemeliharaan dan reliever, ATAU kombinasi dosis sedang ICS/LABA plus SABA
sesuai kebutuhan
Pilihan utama (anak 6-11 tahun): rujuklah untuk penilaian dan saran ahli
Untuk pasien dewasa dan remaja dengan eksaserbasi 1 pada tahun sebelumnya,
kombinasi ICS/formoterol dosis rendah sebagai pengobatan pemeliharaan dan
reliever lebih efektif dalam mengurangi eksaserbasi daripada ICS/LABA dosis
yang sama atau dosis ICS yang lebih tinggi. Untuk pasien yang memakai
ICS/LABA dosis rendah dengan SABA sesuai kebutuhan, dengan asma tidak
terkontrol, pengobatan dapat ditingkatkan menjadi dosis sedang ICS/LABA;
Untuk anak 6-11 tahun, jika asma tidak terkontrol dengan baik pada ICS dosis
sedang, rekomendasinya adalah merujuk anak tersebut.

29
Pilihan lain
Tiotropium (antagonis muskarinik jangka panjang) dapat digunakan sebagai
terapi tambahan untuk pasien dewasa atau remaja dengan riwayat eksaserbasi;
tidak dianjurkan pada anak-anak <12 tahun.
Kombinasi dosis tinggi ICS/LABA dapat dipertimbangkan pada orang dewasa
dan remaja, namun kenaikan dosis ICS umumnya memberikan sedikit manfaat
tambahan, dan ada peningkatan risiko efek samping, termasuk penekanan
adrenal.
Teofilin seharusnya tidak digunakan pada anak-anak.
Budesonide dosis sedang atau tinggi, kemanjurannya dapat ditingkatkan dengan
dosis empat kali sehari.

TAHAP 5: Perawatan tingkat lanjut dan/atau pengobatan lanjutan5


Pilihan utama: rujukan untuk investigasi dan pertimbangan terapi tambahan oleh
spesialis

Pilihan pengobatan:

Tambahan tiotropium (antagonis muskarinik jangka panjang) pada pasien


berusia 12 tahun dengan riwayat eksaserbasi meskipun telah menjalani
pengobatan tahap 4.
Tambahan anti-imunoglobulin E (anti-IgE) (omalizumab): untuk pasien
berusia 6 tahun dengan asma alergi sedang atau berat yang tidak
terkontrol pada tahap 4 (Bukti A).
Tambahan anti-interleukin-5 (mepolizumab subkutan, reslizumab
intravena): untuk pasien berusia 12 tahun dengan asma eosinofilik berat
yang tidak terkontrol pada tahap 4 (Bukti B).
Pengobatan berdasarkan sputum: untuk pasien dengan gejala dan/atau
eksaserbasi menetap meskipun diberi ICS dosis tinggi atau ICS/LABA,

30
pengobatan dapat disesuaikan berdasarkan eosinofilia (> 3%) pada
sputum.
Pengobatan tambahan dengan termoplasty bronkial: dapat
dipertimbangkan untuk beberapa pasien dewasa dengan asma berat.
Tambahan kortikosteroid oral dosis rendah (setara dengan prednison 7,5 mg /
hari): efektif untuk beberapa orang dewasa dengan asma berat; Pasien ini harus
dinilai dan dipantau untuk melihat risiko osteoporosis akibat kortikosteroid.

31
Tabel 8. Mengobati faktor risiko yang dapat dimodifikasi untuk
mengurangi eksaserbasi2
Faktor risiko Strategi pengobatan Bukti
Pasien dengan Pastikan pasien mendapat terapi controller ICS A
faktor risiko secara teratur
eksaserbasi 1 Pastikan pasien memiliki rencana pengobatan A
(termasuk kontrol tertulis A
gejala yang Evaluasi pasien lebih sering dibandingkan dengan
buruk) pasien risiko rendah A

Periksa teknik penggunaan inhaler dan kepatuhan D

Identifikasi faktor risiko yang dapat dimodifikasi


1 eksaserbasi Pertimbangkan regimen controller untuk A
berat pada tahun mengurangi risiko eksaserbasi, seperti
lalu ICS/formoterol sebagai terapi pemeliharaan dan
reliever. A
Pertimbangkan untuk meningkatkan terapi jika
tidak terdapat faktor risiko yang dapat C
dimodifikasi
Identifikasi pencetus eksaserbasi
Terpapar asap Anjurkan berhenti merokok untuk A
rokok pasien/keluarga; berikan nasihat dan kiat-kiatnya.
Pertimbangkan ICS dengan dosis lebih tinggi jika B
asma tidak terkontrol
FEV1 rendah, Pertimbangkan percobaan terapi selama 3 bulan B
terutama jika dengan ICS dosis tinggi dan/atau 2 minggu dengan
diprediksi <60% OCS D
Singkirkan kemungkinan penyakit paru lain,
seperti PPOK D
Rujuk ke spesialis jika tidak ada perbaikan
Obesitas Strategi untuk menurunkan berat badan B
D

32
Bedakan gejala asma dengan gejala kurang enak
badan, keterbatasan gerak, dan/atau akibat sleep
apnea
Masalah Jadwalkan pemeriksaan kesehatan mental D
psikologis berat Bantu pasien untuk membedakan gejala asma dan D
ansietas; berikan nasihat untuk mengatasi
serangan panik
Masalah Identifikasi regimen ICS dengan biaya yang D
sosioekonomi paling hemat
berat
Alergi makanan Anjurkan hindari makanan yang menyebabkan A
alergi; berikan injeksi epinefrin
Paparan alergen Pertimbangkan strategi sederhana menghindari C
alergen; pertimbangkan biaya
Pertimbangkan peningkatan terapi controller D
Efektivitas imunoterapi pada asma hanya terbatas A
Eosinofilia pada Tingkatkan dosis ICS terlepas dari tingkatan A*
sputum (pusat kontrol gejala
kesehatan
tertentu)
FEV1: forced expiratory volume in 1 second; ICS: inhaled corticosteroids;

OCS: oral corticosteroids.

*Berdasarkan bukti penelitian yang relatif kecil pada suatu populasi.

TERAPI LAIN5
Allergen Immunotherapy
Imunoterapi spesifik alergen dapat menjadi pilihan jika alergi berperan
penting. Saat ini ada dua pendekatan: imunoterapi subkutan (SCIT) dan sublingual
immunotherapy (SLIT). SCIT dikaitkan dengan penurunan skor gejala dan
kebutuhan pengobatan, dan memperbaiki hiperresponsivitas saluran nafas. Efek

33
samping meliputi reaksi anafilaksis yang jarang terjadi. SLIT untuk HDM
menunjukkan manfaat dalam mengurangi eksaserbasi asma ringan sampai sedang.
Pada pasien dengan eksaserbasi meskipun telah menjalani terapi tahap 3 atau tahap
4, SLIT sekarang dapat dianggap sebagai terapi tambahan. Efek samping meliputi
gejala oral dan gastrointestinal ringan.
Vaksinasi
Influenza berkontribusi pada beberapa eksaserbasi asma akut, dan pasien
dengan asma sedang-berat disarankan untuk menerima vaksinasi influenza setiap
tahun, atau saat vaksinasi populasi umum disarankan.
Thermoplasty bronkial
Thermoplasty bronkial adalah pilihan pengobatan potensial pada tahap 5 di
untuk pasien dewasa dengan asma tidak terkontrol. Pengobatan dikaitkan dengan
efek plasebo yang besar.104 Dibutuhkan studi kohort yang lebih besar untuk
menilai efektivitas dan keamanan, termasuk untuk fungsi paru-paru.
VITAMIN D
Beberapa penelitian cross-sectional telah menunjukkan bahwa kadar
vitamin D serum yang rendah terkait dengan gangguan fungsi paru-paru. Namun
sampai saat ini, belum ada bukti berkualitas bahwa suplementasi vitamin D
menyebabkan perbaikan kontrol asma atau pengurangan eksaserbasi.

MENGELOLA ASMA DENGAN KOMORBIDITAS5


Obesitas
Gambaran klinis
Asma lebih sulit dikendalikan pada pasien obesitas. Pasien ini memiliki
komorbiditas kontributif seperti obstructive sleep apnea, penyakit refluks
gastroesofagus (GERD), serta kurangnya kebugaran dan pengurangan volume paru-
paru karena lemak perut dapat menyebabkan dyspnea.
Pengelolaan
ICS tetap merupakan pengobatan andalan pada pasien obesitas (Bukti B),
walaupun responsnya berkurang dibanding pasien non-obesitas. Anjurkan
penurunan berat badan dan peningkatan aktivitas fisik harus disertakan dalam

34
rencana terapi (Bukti B). Penurunan berat badan 5-10% dapat menyebabkan
peningkatan kontrol asma dan kualitas hidup.

Penyakit gastroesophageal reflux (GERD)


Gambaran klinis
GERD dapat menyebabkan gejala seperti dada rasa terbakar, dan nyeri
epigastrik atau nyeri dada, dan juga merupakan penyebab umum batuk kering.
GERD lebih sering terjadi pada orang dengan asma daripada pada populasi umum.
Beberapa obat asma seperti beta2-agonis dan teofilin dapat menyebabkan relaksasi
sfingter esofagus bagian bawah.
Pengelolaan
Pilihan terapi meliputi proton pump inhibitor, agen motilitas, perubahan
gaya hidup dan fundoplikasi. Secara umum, manfaat proton pump inhibitor pada
asma terbatas pada pasien dengan refluks simtomatik dan gejala pernapasan malam
hari.

Kecemasan dan depresi


Gambaran klinis
Gangguan kejiwaan, terutama gangguan depresi dan kecemasan, lebih
umum terjadi pada orang-orang dengan asma. Gejala-gejala cemas dan depresi telah
dikaitkan dengan peningkatan eksaserbasi terkait asma dan kunjungan darurat.
Serangan panik terkadang salah didiagnosis sebagai asma.
Pengelolaan
Terapi obat-obatan obat dan terapi perilaku kognitif telah digambarkan
memiliki beberapa potensi pada pasien asma; namun, bukti yang tersedia saat ini
terbatas, dibutuhkan penelitian yang lebih lanjut.

Alergi makanan dan anafilaksis


Gambaran klinis
Alergi makanan jarang menjadi pencetus gejala asma (<2% penderita
asma). Pada pasien dengan reaksi alergi yang diinduksi makanan (anafilaksis),

35
asma merupakan faktor risiko yang kuat untuk menimbulkan reaksi yang lebih
parah dan bahkan fatal. Pada pasien dengan alergi makanan penting untuk
memeriksa adanya asma. Rujuk pasien dengan alergi makanan atau intoleransi
makanan untuk pemeriksaan oleh spesialis, termasuk pengujian seperti tes tusukan
kulit dan/atau tes IgE spesifik.
Pengelolaan
Pasien harus dilatih dan harus sedia auto-injektor epinefrin setiap saat.
Pasien dan keluarganya, harus dididik dalam strategi penghindaran makanan yang
tepat.

Rhinitis, sinusitis dan polip hidung


Gambaran klinis
Penyakit saluran napas bagian atas dan bawah saling memiliki hubungan.
Sebagian besar penderita asma, alergi atau non-alergi, juga mengalami rhinitis, dan
10-40% pasien dengan rhinitis alergi menderita asma. Pemeriksaan jalan napas atas
harus dilakukan untuk penderita asma berat.
Pengelolaan
Pedoman berbasis bukti (Rhinitis Alergi pada Asma, ARIA)
merekomendasikan kortikosteroid intranasal untuk pengobatan rhinitis alergi.
Dalam studi berbasis populasi, pengobatan rinitis dengan kortikosteroid intranasal
dikaitkan dengan kurangnya kebutuhan akan kunjungan rawat inap dan kunjungan
di rumah sakit yang asma.

MENGELOLA ASMA PADA POPULASI ATAU KONDISI KHUSUS5


Remaja
Gambaran klinis
Perawatan remaja dengan asma harus memperhitungkan perubahan fisik,
emosional, kognitif dan sosial yang cepat yang terjadi selama masa remaja. Perilaku
ingin mencoba dan mengambil risiko seperti merokok terjadi lebih tinggi pada
remaja dengan penyakit kronis daripada pada remaja yang sehat.

36
Pengelolaan
Pengelolaan penyakit kronis pada remaja dapat dilakukan dengan
melibatkan pasien dan orang tua dalam sebuah konsultasi untuk pengelolaan diri.
Regimen pengobatan harus disesuaikan dengan kebutuhan dan gaya hidup remaja

Bronkokonstriksi yang diinduksi aktivitas fisik (Exercise induced


Bronchoconstriction, EIB)
Gambaran klinis
Aktivitas fisik merupakan pencetus penting untuk gejala asma bagi banyak
pasien, dengan gejala dan bronkokonstriksi yang biasanya memburuk setelah
berhenti olahraga. Namun, sesak napas atau mengi saat berolahraga juga
berhubungan dengan obesitas atau kurangnya kebugaran.
Pengelolaan
Jika gejala hanya muncul selama atau setelah berolahraga, dan tidak ada
faktor risiko eksaserbasi lainnya, dapat digunakan SABA yang dihirup sebelum
berolahraga. LTRA atau chromones dapat menjadi terapi pra-olahraga alternatif.
Pemanasan yang cukup juga mengurangi kejadian dan tingkat keparahan EIB.

Atlet
Gambaran klinis
Atlet memiliki peningkatan risiko berbagai gangguan pernapasan
dibandingkan dengan non-atlet. Asma pada atlet umumnya ditandai dengan
kurangnya korelasi antara gejala dan fungsi paru; dimana volume paru-paru dan
arus ekspirasi lebih tinggi; inflamasi saluran napas eosinofilik yang lebih sedikit;
lebih sulit dalam mengendalikan gejala.
Pengelolaan
Dianjurkan tindakan pencegahan untuk menghindari paparan polusi udara
yang tinggi, tingkat alergen dan kadar klorin dalam kolam, kondisi yang sangat
dingin, terutama selama masa pelatihan. Disarankan menggunakan ICS,
minimalisasi penggunaan agonis beta2 menghindari terjadinya toleransi.

37
Kehamilan
Gambaran klinis
Eksaserbasi pada kehamilan sering terjadi terutama pada trimester kedua.
Hal ini mungkin karena perubahan mekanis atau hormonal, atau penghentian atau
pengurangan obat asma karena kekhawatiran ibu dan/atau penyedia layanan
kesehatan. Wanita hamil sangat rentan terhadap efek infeksi pernapasan virus,
termasuk influenza.
Pengelolaan
Keuntungan mengobati asma secara aktif dalam kehamilan secara nyata
lebih besar daripada risiko kerugian potensial dari obat controller dan reliever.
Penggunaan ICS, beta2-agonis, montelukast atau teofilin tidak terkait dengan
peningkatan kelainan pada janin. Infeksi pernapasan harus dipantau dan dikelola
dengan tepat selama kehamilan.
Selama persalinan, obat controller tetap diberikan, dengan reliever jika
dibutuhkan. EHipoglikemia neonatal dapat terjadi terutama pada bayi prematur,
jika digunakan beta agonis dosis tinggi dalam 48 jam sebelum melahirkan. Periksa
kadar glukosa darah pada bayi (terutama jika prematur) selama 24 jam pertama.

Asma akibat kerja


Gambaran klinis
Dalam lingkungan pekerjaan, rhinitis sering mendahului kejadian asma.
Begitu pasien menjadi peka terhadap alergen kerja, tingkat paparan yang diperlukan
untuk menginduksi gejala mungkin sangat rendah; akibatnya eksaserbasi menjadi
semakin parah.
Pengelolaan
Semua pasien dengan asma onset dewasa harus ditanya tentang riwayat
kerja dan paparan lainnya. Identifikasi awal dan eliminasi paparan di tempat kerja
adalah aspek penting pengelolaan asma akibat kerja. Pasien yang dicurigai
mengalami asma akibat kerja harus dirujuk untuk pemeriksaan dan saran dari ahli,
jika jika memungkinkan.

38
Lansia
Gambaran klinis
Fungsi paru umumnya berkurang dengan durasi asma yang lebih lama dan
bertambahnya usia, karena kekakuan pada dinding dada, berkurangnya fungsi otot
pernapasan, hilangnya rekoil elastis dan remodeling dinding jalan napas.
Pengelolaan
Pasien lanjut usia harus ditanya tentang semua obat lain yang mereka
minum, termasuk obat tetes mata, dan interaksi obat potensial harus
dipertimbangkan. Pasien yang lebih tua mungkin mengalami kesulitan dengan
rejimen pengobatan yang rumit. Pasien dengan gangguan kognitif mungkin
memerlukan perawat untuk membantu mereka menggunakan obat asma mereka.

Pembedahan dan asma


Gambaran klinis
Tidak ada bukti peningkatan risiko perioperatif untuk populasi asma umum.
Kejadian bronkospasme perioperatif yang parah pada pasien asma jarang terjadi,
namun dapat mengancam nyawa.
Pengelolaan
Bagi pasien yang membutuhkan operasi emergensi, risiko melanjutkan
tanpa terlebih dahulu mencapai kontrol asma yang baik harus dipertimbangkan.
Pasien yang memakai ICS dosis tinggi jangka panjang atau yang telah menerima
OCS selama lebih dari 2 minggu dalam 6 bulan terakhir harus menerima
hidrokortison perioperatif karena mereka berisiko mengalami krisis adrenal selama
operasi. Untuk semua pasien, mempertahankan terapi controller reguler selama
periode perioperatif merupakan hal yang penting.

Penyakit pernafasan yang diperberat oleh aspirin


Gambaran klinis
Penyakit pernafasan terkait aspirin (aspirin exacerbated respiratory
disease, AERD, yang sebelumnya disebut asma akibat aspirin) dimulai dengan

39
kongesti dan anosmia hidung, dan berlanjut menjadi rinosinusitis kronis dengan
polip hidung yang tumbuh kembali dengan cepat setelah operasi. Asma dan
hipersensitivitas terhadap aspirin berkembang kemudian.
Aspirin challenge (oral, bronkus atau nasal) adalah standar emas untuk
diagnosis, namun hanya boleh dilakukan di pusat kesehatan khusus dengan
kemampuan resusitasi kardiopulmoner.
Pengelolaan
Pasien dengan AERD harus menghindari aspirin atau produk yang
mengandung NSAID dan obat lain yang menghambat cyclooxygenase-1 (COX-1).
Bila NSAID diindikasikan untuk kondisi medis lainnya, pertimbangkan inhibitor
COX-2 atau parasetamol dengan pengawasan dan pengamatan minimal 2 jam
setelah pemberian.

Asma yang sulit diobati dan asma berat


Istilah 'sulit diobati' digunakan untuk pasien dengan komorbiditas,
kepatuhan yang buruk, dan paparan alergen yang terus berlanjut dapat mengganggu
kontrol asma yang baik. Asma 'resisten-pengobatan' merujuk pada pasien asma
yang gejalanya atau eksaserbasi tetap tidak terkontrol meskipun diberi ICS dosis
tinggi ditambah dengan controller kedua seperti LABA.

Tabel 9. Investigasi dan pengelolaan asma berat5


Investigasi pada asma berat
Konfirmasi diagnosis asma: disfungsi saluran napas bagian atas, bersamaan
dengan PPOK, dan infeksi saluran pernapasan rekuren harus dianggap sebagai
diagnosis alternatif atau sebagai kontributor gejala persisten.
Investigasi komorbiditas, termasuk sinusitis kronis, obesitas, GERD, AERD,
obstructive sleep apnea dan gangguan psikologis atau kejiwaan, yang dapat
memperburuk kontrol gejala asma atau berkontribusi terhadap gejala.
Kemampuan untuk memperbaiki asma berat dengan mengobati komorbiditas
masih belum dikonfirmasi.

40
Memeriksa teknik pemakaian inhaler dan kepatuhan pengobatan:
penggunaan inhaler yang salah dan kepatuhan yang buruk adalah alasan paling
sering dalam kegagalan mencapai kontrol asma yang baik, dan sering
ditemukan pada asma berat. Pada asma yang sulit diobati, kepatuhan dan
outcome kesehatan dapat ditingkatkan dengan intervensi peningkatan
kepatuhan menyeluruh.
Investigasi untuk paparan lingkungan yang terus-menerus terhadap asap
tembakau, alergen atau zat beracun: pemicu tersebut, jika ada di rumah atau
di tempat kerja harus ditangani bila memungkinkan.
Pengelolaan asma berat
Sangat sedikit pasien yang benar-benar resisten terhadap kortikosteroid, jadi ICS
tetap menjadi terapi andalan asma yang sulit diobati. Pilihan terapeutik tambahan
meliputi:
Optimalisasi dosis ICS/LABA: beberapa pasien mungkin merespons terhadap
ICS dengan dosis yang lebih tinggi daripada yang direkomendasikan secara
rutin untuk penggunaan umum. Namun, hal ini menimbulkan risiko efek
samping sistemik; setelah beberapa bulan dosis optimal dapat dicapai dengan
menurunkan tahap terapi pada interval 3-6 bulan; Lihat Kotak 3-7.
Kortikosteroid oral: beberapa pasien dengan asma berat memperoleh manfaat
dari pengobatan OCS dosis rendah, namun potensi efek samping jangka
panjang harus dipertimbangkan. Pasien harus dipantau untuk melihat risiko
osteoporosis akibat kortikosteroid, dan diharapkan agar pasien yang diobati
selama 3 bulan harus diberi konseling gaya hidup dan terapi yang relevan
untuk pencegahan osteoporosis (bila perlu).
Pengobatan tambahan: Pada pasien dengan gejala yang tidak terkontrol dan
keterbatasan aliran napas persisten meskipun telah diberi ICS dan LABA dosis
sedang-tinggi, pengobatan tambahan dengan bronkodilator anti-muskarinik
jangka panjang, yaitu tiotropium, menunjukkan peningkatan fungsi paru dan
peningkatan onset eksaserbasi. Obat controller tambahan lainnya seperti

41
teofilin dan LTRA, walaupun disarankan pada asma berat, menunjukkan
manfaat yang terbatas pada sejumlah kecil penelitian.
Pengobatan berdasarkan sputum: di pusat kesehatan yang dapat melakukan
analisis sputum, pengobatan untuk asma berat yang disesuaikan dengan
eosinofil sputum dapat menurunkan dosis kortikosteroid dan/atau frekuensi
eksaserbasi.
Pengobatan tambahan berdasarkan fenotip: pasien dengan asma berat yang
tidak terkontrol pada terapi tahap 4, dapat memanfaatkan kategorisasi fenotip
seperti asma alergi, eksaserbasi asma akibat aspirin atau asma eosinofilik.
Pasien berusia 6 tahun dengan asma alergi berat dengan peningkatan kadar
IgE mendapatkan manfaat dari terapi omalizumab (anti-IgE), pasien berusia
12 tahun dengan asma eosinofilik berat mendapatkan manfaat dari terapi anti-
IL5 (mepolizumab, reslizumab), dan LTRA dapat membantu pada pasien yang
diketahui sensitif terhadap aspirin.
Intervensi non-farmakologis: termoplasti bronkial dapat membantu pasien
dengan asma berat tertentu, namun diperlukan lebih banyak penelitian untuk
mengidentifikasi efektivitas dan keamanan jangka panjang pada populasi asma
berat yang lebih luas. Uji coba yang terkendali penting dilakukan karena efek
plasebo yang besar telah terlihat dalam beberapa penelitian sampai saat ini.
Terapi dengan ketinggian atau intervensi psikologis dapat membantu beberapa
pasien. Tempat untuk terapi dan strategi asma berat ini belum ditentukan.

Pengelolaan
Rujukan pasien asma berat ke layanan kesehatan yang memiliki keahlian dalam
manajemen asma dapat membantu penyelidikan dan pengobatan. Tujuan
pengobatan adalah untuk meminimalkan eksaserbasi dan kebutuhan akan intervensi
medis darurat sambil mencapai tingkat kontrol gejala yang baik.

Pencegahan agar asma terkontrol dengan baik


Meminum obat yang teratur jika asma masih belum terkontrol dengan baik,
menghindari faktor-faktor pencetus asma, menjaga kesehatan agar tidak sakit

42
dengan cara olahraga teratur, makan-makanan yang bergizi, dan hindari terjadinya
flu walaupun sulit untuk dilakukan7.

2.1.8 Komplikasi2
- Penumotoraks
- Pneumodiastinum dan emfisema subkutis
- Atelektasis
- Aspergilosis bronkopulmoner alergik
- Gagal napas
- Bronkitis
- Fraktur iga

2.1.9 Prognosis
Keadaan yang berkaitan dengan prognosis yang kurang baik antara lain asma tidak
terkontrol secara klinis, eksaserbasi sering terjadi dalam satu tahun terakhir,
menjalani perawatan kritis karena asma, VEP1 yang rendah, paparan terhadap asap
rokok, pengobatan dosis tinggi3.
Mortalitas akibat asma sedikit nilainya. Gambaran yang paling akhir
menunjukkan kurang dari 5000 kematian setiap tahun dari populasi beresiko yang
berjumlah kira-kira 10 juta. Sebelum dipakai kortikosteroid, secara umum angka
kematian penderita asma wanita dua kali lipat penderita asma pria. Juga kenyataan
bahwa angka kematian pada serangan asma dengan usia tua lebih banyak, kalau
serangan asma diketahui dan dimulai sejak kanak kanak dan mendapat
pengawasan yang cukup kira-kira setelah 20 tahun, hanya 1% yang tidak sembuh
dan di dalam pengawasan tersebut kalau sering mengalami serangan common cold
29% akan mengalami serangan ulang2.
Pada penderita yang mengalami serangan intermitten angka kematiannya
2%, sedangkan angka kematian pada penderita yang dengan serangan terus menerus
angka kematiannya 9%2.

43
2.2 PENGELOLAAN ASMA YANG BERTAMBAH BERAT DAN
EKSASERBASI
2.2.1 Definisi eksaserbasi asma5
Eksaserbasi asma adalah episode yang ditandai dengan peningkatan
progresif gejala sesak napas, batuk, mengi atau dada sesak dan penurunan progresif
fungsi paru-paru. Eksaserbasi dapat terjadi pada pasien yang sudah terdiagnosis
asma atau kadang sebagai presentasi pertama asma.

Identifikasi pasien yang berisiko mengalami kematian terkait asma


Tabel 10. Faktor yang meningkatkan risiko kematian terkait asma5
Riwayat asma hampir fatal yang membutuhkan intubasi dan ventilasi
mekanik
Riwayat rawat Inap atau kunjungan ke unit gawat darurat karena asma pada
tahun lalu
Saat ini sedang menggunakan atau baru saja berhenti menggunakan
kortikosteroid oral (penanda tingkat keparahan kejadian)
Saat ini tidak menggunakan kortikosteroid inhalasi
Penggunaan SABA berlebihan, terutama penggunaan lebih dari satu tabung
salbutamol (atau yang setara) dalam 1 bulan
Riwayat penyakit psikiatri atau masalah psikososial
Tidak patuh dengan menggunakan obat asma dan/atau tidak patuh (atau
kurang) pada rencana pengobatan tertulis
Alergi makanan pada penderita asma

2.2.2 DIAGNOSIS EKSASERBASI


Penurunan aliran udara ekspirasi dapat dihitung dengan pengukuran fungsi
paru-paru seperti peak expiratory flow (PEF) atau volume ekspirasi paksa dalam 1
detik (FEV1), kemudian dibandingkan dengan fungsi paru-paru pasien sebelumnya
atau nilai yang diprediksi. Frekuensi gejala dapat menjadi ukuran yang lebih sensitif
dari onset eksaserbasi dibandingkan PEF2.

44
2.2.3 PENGELOLAAN MANDIRI DENGAN RENCANA TERAPI ASMA
TERTULIS
Pilihan pengobatan untuk rencana terapi asma tertulis5
Agonis beta2 short-acting inhalasi
Dosis berulang dengan bronkodilator SABA memberikan kelegaan
sementara sampai penyebab gejala yang memburuk berlalu.
Kortikosteroid inhalasi
Dosis ICS yang lebih tinggi dapat membantu mencegah perburukan asma
menjadi eksaserbasi berat. Pada pasien dewasa dengan perburukan akut, ICS dosis
tinggi selama 7-14 hari (500-1600mcg Setara BDP-HFA) memiliki efek setara
dengan OCS jangka pendek.
Kombinasi ICS dosis rendah (budesonide atau beclometasone) dengan rapid-
onset LABA (formoterol)
Kombinasi inhaler ICS / formoterol dapat diberikan hingga dosis formoterol
maksimum 72 mcg dalam sehari. Regimen ini juga efektif dalam mengurangi
eksaserbasi pada anak berusia 4-11 tahun, tetapi belum disetujui untuk kelompok
usia ini pada banyak negara.

45
Tabel 11. Pengelolaan mandiri untuk asma yang memberat pada dewasa dan
remaja dengan rencana terapi tertulis

Kombinasi lainnya adalah pengendali ICS / LABA


Untuk orang dewasa yang menggunakan kombinasi ICS/LABA sebagai
obat controller dosis tetap, dosis ICS dapat ditingkatkan dengan menambahkan
inhaler ICS terpisah. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk membakukan strategi
ini.
Antagonis reseptor leukotrien
Bagi pasien yang menggunakan antagonis reseptor leukotrien (LTRA)
sebagai controller, tidak ada penelitian spesifik tentang bagaimana mengelola
perburukan asma.

46
Kortikosteroid oral
Biasanya OCS jangka pendek pada dewasa digunakan 40-50 mg/hari
biasanya selama 5-7 hari. Untuk anak 6-11 tahun, dosis OCS yang dianjurkan
adalah 1-2 mg/kg/hari sampai maksimum 40 mg/hari, biasanya selama 3-5 hari.
Pasien harus diberi tahu tentang efek samping yang umum, termasuk gangguan
tidur, peningkatan nafsu makan, refluks, dan perubahan mood.365 Pasien harus
menghubungi dokter mereka jika mereka mulai memakai OCS.

2.2.3 MANAJEMEN EKSASERBASI ASMA PADA LAYANAN PRIMER


Menilai tingkat keparahan eksaserbasi5
Anamnesis
Anamnesis harus mencakup:
Onset dan penyebab (jika diketahui) eksaserbasi saat ini
Keparahan gejala asma, termasuk aktivitas yang membatasi atau mengganggu
tidur
Gejala anafilaksis
Faktor risiko kematian terkait asma
Semua obat reliever dan controller saat ini, termasuk dosis dan alat yang
digunakan, pola kepatuhan, perubahan dosis terakhir, dan respons terhadap
terapi saat ini.
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik harus menilai:
Tanda-tanda keparahan eksaserbasi dan tanda vital.
Faktor yang memperberat (misalnya anafilaksis, pneumonia, pneumotoraks)
Tanda-tanda kondisi alternatif yang dapat menjelaskan sesak nafas akut
(misalnya gagal jantung, disfungsi saluran napas atas, inhalasi benda asing atau
emboli paru).
Pengukuran obyektif
Oksimetri. Saturasi <90% pada anak atau orang dewasa mengindikasikan
perlunya terapi agresif.
PEF pada pasien yang berusia lebih dari 5 tahun.

47
Mengobati eksaserbasi pada perawatan primer5
Agonis beta2 short-acting inhalasi
Untuk eksaserbasi ringan sampai sedang, pemberian SABA yang dihirup
berulang-ulang (sampai 4-10 puff setiap 20 menit untuk jam pertama) biasanya
efektif mengembalikan aliran udara. Setelah satu jam pertama, dosis SABA yang
dibutuhkan bervariasi dari 4-10 puff setiap 3-4 jam sampai 6-10 puff setiap 1-2 jam,
atau lebih sering.

Tabel 12. Pengelolaan eksaserbasi asma pada layanan primer (dewasa,


remaja, anak usia 6-11 tahun)5

48
Terapi oksigen terkontrol (jika tersedia)
Terapi oksigen harus disesuaikan terhadap oksimetri untuk
mempertahankan saturasi oksigen pada 93-95% (94- 98% untuk anak-anak 6-11
tahun).
Kortikosteroid sistemik
Dosis yang dianjurkan untuk orang dewasa adalah prednisolon 1 mg/kg/hari
sampai maksimum 50 mg/hari, dan 1-2 mg/kg/hari untuk anak usia 6-11 tahun
sampai maksimum 40 mg/hari. OCS biasanya harus dilanjutkan selama 5-7 hari.
Obat controller
Pasien yang telah diberi resep obat controller harus diberi nasehat untuk
menaikkan dosis selama 2-4 minggu ke depan. Pasien yang saat ini tidak memakai
obat pengontrol biasanya harus diobati dengan terapi yang mengandung ICS
reguler.
Antibiotik (tidak disarankan)
Bukti tidak mendukung peran antibiotik dalam eksaserbasi asma kecuali ada
bukti kuat infeksi paru-paru.

49
BAB III

KESIMPULAN

Asma adalah penyakit inflamasi kronis saluran pernapasan yang


dihubungkan dengan hiperresponsif, keterbatasan aliran udara yang reversibel dan
gejala pernapasan. Diagnosis asma didasarkan pada riwayat penyakit, pemeriksaan
fisis, dan pemeriksaan penunjang. Pada riwayat penyakit akan dijumpai keluhan
batuk, sesak, mengi, atau rasa berat di dada. Penemuan tanda pada pemeriksaan
fisik pasien asma, tergantung dari derajat obstruksi saluran napas. Ekspirasi
memanjang, mengi, hiperinflasi dada, pernapasan cepat sampai sianosis dijumpai
pada pasien asma. Selanjutnya dengan pemeriksaan penunjang. Cara yang paling
cepat dan sederhana untuk menegakkan diagnosis asma adalah melihat respons
dengan pengobatan dengan bronkodilator. Pemeriksaan spirometri dilakukan
sebelum dan sesudah pemberian bronkodilator hirup (inhaler atau nebulizer)
golongan adrenergik beta.
Tujuan penatalaksanaan asma adalah untuk:
- Mencapai dan mempertahankan kontrol gejala-gejala asma
- Mempertahankan aktivitas yang normal termasuk olahraga
- Menjaga fungsi paru senormal mungkin
- Mencegah eksaserbasi asma
- Menghindari reaksi samping obat asma
- Mencegah kematian karena asma
Terdapat tiga kategorei pengobatan asma, yaitu: Controller medications,
Reliever medications dan Add-on therapies for patients with severe asthma

50
DAFTAR PUSTAKA

1. Perhimpunan Paru Indonesia 2003. Asma Pedoman dan Penatalaksana di


Indonesia. www.klikpdi.com
2. Sundaru H, Sukamto. Asma Bronkial dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam
Jilid I Edisi VI. Jakarta: Interna Publishing; 2015. hlm 478-488.
3. Alwi I, Simon S, Rudy H, Juferdy K, dkk. Penatalaksanaan di bidang ilmu
penyakit dalam, panduan praktik klinis perhimpunan dokter spesialis penyakit
dalam Indonesia. Jakarta: InternaPublishing; 2016. hlm 5-11.
4. Barnes PJ. Asthma in Harrisons Principles of Internal Medicine 19th Edition.
Mc Graw Hill Education: 2015. hlm 1669-1680.
5. Global Initiative for Asthma. Global strategy for asthma management and
prevention. www.ginasthma.org. 2017. hlm 13-98.
6. Beasley R, Robert J H, Matire H, Kyle Perrin, dkk. Asthma and Respiratory
Foundation NZ adult asthma guidelines: a quick reference guide. NZMA:
2016, vol 129 No 1445.
7. What is Asthma?. Am J Respir Crit Care Med Vol 188, P7-P8, 2013.

51