Anda di halaman 1dari 129

ANALISA PRESSURE BUILD UP TEST UNTUK RESERVOIR

KARBONAT DENGAN MENGGUNAKAN SAPHIR 3.20


PADA SUMUR X-02 LAPANGAN Y
JOB PERTAMINA-PETROCHINA EAST JAVA

SKRIPSI

Disusun oleh :

ADRIANUS BONDAN SAMUDRA


113100079

PROGRAM STUDI TEKNIK PERMINYAKAN


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN
YOGYAKARTA
2017
\q

ANALISA PRESSUNE BUILD tIP TE.ST UNTT]K RESERVOIR


KARBONAT DENGAN MENGGUNAXAITI SAPHIR 3.20
PAI}A SUMUR *X.02' I,APAITIGAFI "Y"
JOB PERTAMINA.PETROCHINA EAST JAVA

SKRIPSI

4.
?ur
o
E
A
A

Dfousun oleh:

ADRIAI\ruSBONDAI\ISAMUDRA @,,,
[v-
rt ra
1t310ffi79 <A Alrrt
6ut
TSTUDITEKNIK -9 1;
FAKT}L'TAS TE,KNOLOGI MII{ERAI
UNIVNNSITAS PEMBANGT}NAIIT NASIONAA ..Y81P1141g"
YOGYAKARTA
2017

I
A}IALISA ETESSUNE BEilU' UP NEST UNTTJK RESERVOIR
KARBONAT DENGAN MENGGIINAXAI\I S/TPEIR 3.20
PAI}A SUMUR "X{2' TAPAFIGAFT "Y'
JOB PERTAMINA.PETR(rcHINA EAST JAVA

SKRIPSI

Disusun ohh:

ADRIANUS BONI}AI{ SAI}IUDRA


1131m079

D.isefi{iui unark

Program Studi Teknik Ferminyakan Fakultas


Tekhnologi Minerat
Universias Pembangunan Nasional'Yeteran Yogyakarta
Oleh:

Pembinbing I Pembimbing tr

rWwfu'
4/a "?s
Ir. Aqus Widvilto.Mf
-Z
3 t7't:
_11

f
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :


NAMA : Adrianus Bondan Samudra
NIM : 113100079
Dengan ini menyatakan bahwa judul dan keseluruhan isi dari skripsi ini
adalah asli karya ilmiah saya. Selama penyusunan karya ilmiah ini, saya selalu
berkonsultasi dengan dosen pembimbing hingga menyelesaikan karya ilmiah ini,
tidak melakukan penjiplakan (plagiasi) terhadap karya orang lain atau pihak lain
baik karya lisan maupun tulisan, baik secara sengaja ataupun tidak disengaja.
Apabila dikemudian hari terbukti bahwa skripsi saya mengandung unsur
penjiplakan (plagiasi) dari karya orang lain, maka sepenuhnya menjadi tanggung
jawab saya, dan bukan tanggung jawab dari dosen pembimbing saya. Oleh karena
itu saya bersedia bertanggung jawab secara hukum dan bersedia dibatalkan/
dicabut gelar kesarjanaan saya oleh Otoritas/ Rektor Universitas Pembangunan
Nasional Veteran Yogyakarta dan diumumkan di khalayak ramai.

Yogyakarta, 17 Maret 2017


Yang Menyatakan

Adrianus Bondan Samudra

Nomor Telepon/HP : 08994505071


Alamat E-mail : adrianusbondansamudra92@gmail.com
Nama dan alamat Orang Tua : Martiyah / Nitipuran no 229 rt 07 rw 17
Ngestiharjo Kasihan Bantul

3
HALAMAN PERSEMBAHAN

Skripsi Ini Kupersembahkan Kepada :

Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus


Terimakasih Atas Kebaikan Dan Kasih Karunia-Mu Yang Sungguh Tidak Terselami.
Kubersyukur Karena Penyertaan-Mu Sehingga Hamba-Mu Mampu Menyelesaikan
Laporan ini.

Bunda Maria
Terima Kasih Ya Bunda Atas Perlindungan dan Terima Kasih Telah Mengdengarkan
Doaku dan Menyampaikannya Kepada Yesus Putra-Mu dan Allah Bapa di Surga.

My Family
Terima kasih Atas Doa, Kasih Sayang Dan Kesabaran Selama Ini. Kubersyukur Memiliki
Orang Tua Seperti Kalian.

Pembimbing
Terima kasih Atas Bimbingannya Selama Proses Penyusunan Skripsi Ini Dengan Penuh
Kesabaran

Iuuuhh brotherhood
RERA,RIO,ANWAR,ARGA,ERWIN,REZA,ACENG,RADIT,SINDU,ULI,
BINTANG,PURBO,UHUY

iv
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur dipanjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
rahmat-Nya dapat terselesaikan penyusunan Skripsi dengan judul ANALISA
PRESSURE BUILD UP TEST UNTUK RESERVOIR KARBONAT
DENGAN MENGGUNAKAN SAPHIR 3.20 PADA SUMUR X-02
LAPANGAN Y JOB PERTAMINA-PETROCHINA EAST JAVA.
Penulisan Skripsi ini dibuat sebagat salah satu syarat akademik untuk memperoleh
gelar S-1 Program Studi Teknik Perminyakan, Fakultas Teknologi Mineral,
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta.
Ucapan terima kasih dan penghargaan penulis ingin menyampaikan kepada:
1. Prof. Dr. Ir. Sari Bahagiarti Kusumayudha, Msc., selaku Rektor UPN
Veteran Yogyakarta.
2. Dr. Ir. Hj. Dyah Rini R, MT., selaku Dekan Fakultas Teknologi Mineral UPN
Veteran Yogyakarta.
3. Ir. Drs. Herianto, Msc, PhD., selaku Ketua Program Studi Teknik
Perminyakan UPN Veteran Yogyakarta.
4. Ir. Suwardi, MT., selaku Sekretaris Program Srtudi Teknik Perminyakan UPN
Veteran Yogyakarta.
5. Bambang Santoso Budi, ST, MT., selaku Dosen Wali.
6. Ir. Agus Widiarso, MT., selaku Dosen Pembimbing I.

7. Dr. Ir. Sudarmoyo, SE, MS., selaku Dosen Pembimbing II.

8. Bayu Rizky Nugroho, ST., selaku Pembimbing Lapangan di JOB Pertamina-


Petrochina East Java.
Penulis menyadari bahwa Skripsi ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu
penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari berbagai
pihak sangat diharapkan, semoga Skripsi dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Yogyakarta, Juli 2016

Penulis

v
RINGKASAN

Untuk megetahui produktifitas formasi karbonat perlu didapakan parameter


reservoir seperti tekanan reservoir dan permeabilitas rekahan (kf) formasi tersebut
serta karakteristik dari reservoir karbonat yang digambarkan oleh parameter lamda
() dan omega (), dan besarnya kerusakan formasi atau skin (S).
Metodologi dalam skripsi ini, analisa pressure build up untuk formasi
karbonat dengan menggunakan saphir 3.20 pada sumur X-02 lapangan Y, yang
pertama adalah pengumpulan data. Data-data yang dibutuhkan berupa data
karakteristik reservoir, data pengujian/test, data produksi. Yang kedua adalah
pengolahan data, pengolahan data dilakukan dengan metode Horner secara manual
dan software dilakukan dengan memplot log t vs P, kemudian membuat garis lurus
dengan kemiringan 455 (pada kondisi ideal) dimana pada data awal menunjukan
adanya wellbore storage. Tarik garis 1,0-1,5 cycle dari titik tersebut untuk
menentukan end of wellbore storage coefficient, selanjutnya buat Horner plot antara
Pws vs ((tp+t)/t), didapatkan harga slope, maka dapat ditentukan harga
permeabilitas dan tekanan awal reservoir (Pi). P1jam ditentukan dari ekstrapolasi garis
lurus pada t = 1 jam sehingga didapatkan harga faktor skin, produktivity index dan
flow efficiency. Dari analisa menggunakan software didapat model reservoir,
boundary, permeabilitas, tekanan reservoir, skin, omega, dan lamda.
Hasil analisa dari manual didapat permeabilitas sebesar 6164.606 md, skin
sebesar 4922.75, Pi sebesar 2595. Dan hasil analisa dari software didapat model
reservoir adalah dual porosity dengan boundary infinite mempunyai harga
permeabilitas sebesar 5960 md ,tekanan reservoir sebesar 2595.71 psia, dan skin
sebesar 4900, omega () sebesar 0.0063 yang berarti fluida dominan di matriks, dan
lamda () sebesar 1.7E-08 yang berarti fluida dimatrik susah untuk diproduksikan.

vi
DAFTAR ISI

Hal
HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................... ii
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH ............................................. iii
HALAMAN PERSEMBAHAN....................................................................... iv
KATA PENGANTAR ...................................................................................... v
RINGKASAN................................................................................................... vi
DAFTAR ISI .................................................................................................... vii
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... ix
DAFTAR TABEL ............................................................................................ xiii
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... x
BAB
I. PENDAHULUAN ................................................................... 1
II. TINJAUAN LAPANGAN Y .................................................... 7
2.1. Letak Geografis Lapangan dan Sejarah Lapangan Y..... 7
2.2. Kondisi Geologi Lapangan Y......................................... 8
2.3. Stratigrafi Lapangan Y..................................................... 8
2.4. Geofisika Lapangan Y.................................................... 13
2.5. Karakteristik Reservoar Lapangan Y............................... 14
2.5.1. Kondisi Reservoar ................................................ 14
2.5.2. Karakteristik Batuan.............................................. 15
2.5.3. Sifat Fisik Fluida ................................................. 17
2.5.3. Mekanisme Pendorong.......................................... 21
2.6. Sejarah Produksi Lapangan Y.......................................... 21
III. TEORI DASAR PRESSURE BUILD-UP TEST...................... 22
3.1. Reservoir Karbonat ........................................................ 22
3.2. Pengumpulan Data........................................................... 31
3.2.1. Data Karakteristik Reservoir ............................... 32
3.2.2. Data Test ............................................................... 45

vii
DAFTAR ISI
(LANJUTAN)

Hal
3.2.3. Data Produksi ....................................................... 47
3.3. Aliran Fluida Dalam Media Berpori............................... 47
3.4. Landasan Teori Pressure Build Up Test.......................... 48
3.4.1. Pressure Build Up Yang Ideal ........................... 55
3.4.2. Pressure Build Up Actual.................................. 55
3.4.3. Karakteristik Pressure Buil Up Test ................. 57
3.4.4. Faktor Yang Mempengaruhi Kurva Tekanan..... 58
` 3.4.5. Karakteristik Kurva Pressure Build-Up
Reservoir Rekah Alami ..................................... 61
3.5. Analisa Pressure Build Up.............................................. 62
3.5.1. Metode Pseudo Steadystate............................... 63
3.6. Analisa Pressure Derivative........................................... 67
3.6.1. Metode Bourdet................................................. 70
3.6. Analisa Pressure Build Up dengan saphir 3.20.............. 72
IV. ANALISA PRESSURE BUILD UP PADA SUMUR X
LAPANGAN Y
.............................................................................................
86
4.1. Analisa Pressure Build Up secara manual pada
Sumur X Lapangan Y............................................... 87
4.2. Analisa Pressure Build Up dengan menggunakan
software Saphir 3.20 pada Sumur X Lapangan Y.... 94
4.3. Perbandingan hasil Analisa Pressure Build Up secara
manual dan software Saphir 3.20 pada Sumur X
Lapangan Y.................................................................. 102
V. PEMBAHASAN ..................................................................... 103
VI. KESIMPULAN ........................................................................ 106

viii
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 107
LAMPIRAN..................................................................................................... 108

ix
DAFTAR GAMBAR

Gambar Hal

1.1. Diagram Alir Metodologi Analisa Pressure Build Up................. 5


2.1. Peta Lokasi Lapangan Y.......................................................... 7
2.2. Ringkasan Stratigrafi Lapangan Y........................................... 12
2.3. Play Types Jawa Timur Basin...................................................... 13
2.4. Peta Struktur Top Karbonat Lapangan Y................................. 14
2.5. Sejarah Tekanan Struktur Y..................................................... 15
2.6. Permeabilitas Horisontal versus Vertikal Lapangan Y ................ 16
2.7. Permeabilitas Horisontal versus Porositas Lapangan Y.......... 16
2.8. Saturasi Air Connate versus Porositas dari Ektraksi Dean Stark .... 17
2.9. Tekanan Kapiler dari Beberapa Core Plug Lapangan Y.......... 17
2.10. Grafik Rs versus Tekanan Struktur Lapangan Y ......................... 20
2.11. Grafik Bo versus Tekanan Struktur Lapangan Y..................... 20
2.12. Grafik o versus Tekanan Struktur Lapangan Y..................... 20
2.13. Mekanisme Pendorong Struktur Lapangan Y.......................... 21
2.14. Kumulatif Produksi Lapangan Y............................................. 21
3.1. Klasifikasi Genetic dari Karbonat............................................... 24
3.2. Klasifikasi Genetic dari Karbonat menurut Folk......................... 29
3.3. Klasifikasi Batuan karbonat Dunham.......................................... 30
3.4. Klasifikasi Batuan karbonat Embry dan Klovan......................... 31
3.5. Kondisi lubang bor ideal............................................................. 35
3.6. Peralatan logging......................................................................... 35
3.7. Presentasi spontaneous potensial................................................. 37
3.8. Rangkaian induction log ............................................................. 38
3.9. Rangkaian Laterolog-Rxo log..................................................... 40
3.10. Rangkaian density log ............................................................... 41
3.11. Penentuan porositas dari densitas batuan.................................... 42

9
DAFTAR GAMBAR
(LANJUTAN)

Gambar Hal

3.12. Skema neutron log............................................................................ 43


3.13. Sistem dasar sonic log................................................................. 44
3.14. Grafik porositas vs interval transit time...................................... 45
3.15. Rangkaian Peralatan DST............................................................ 46
3.16. Skema Pencatatan DST............................................................... 47
3.17. Idealisasi Beberapa Pola Aliran Yang Terjadi Di Reservoir........ 48
3.18. Idealisasi sejarah laju alir dan tekanan untuk pressure build up. 50
3.19. Sejarah Laju Alir untuk Ideal Pressure Buildup Test.................. 55
3.20. Pressure Build Up Pada Kondisi Ideal........................................... 55
3.21. Grafik Pressure Build-up Test Sebenarnya.................................. 56
3.22. Karakter pada Pressure Build-up Test......................................... 57
3.23. Wellbore Storage.......................................................................... 60
3.24. Gas Hump Pada Sumur Setelah Penutupan................................. 61
3.25. Tipe kurva build-up..................................................................... 62
3.26. Pressure Derivative...................................................................... 69
3.27. Pressure Derivative Type Curve Bourdet.................................... 72
3.28. Layar Main Option...................................................................... 73
3.29. Layar Information........................................................................ 74
3.30. Layar Pemilihan Satuan............................................................... 74
3.31. Layar Input Data PVT................................................................. 75
3.32. Layar Pemilihan Data.................................................................. 76
3.33. Layar Ekstraksi Parameter Delta P.............................................. 76
3.34. Layar Hasil Ekstraksi Delta......................................................... 77
3.35. Layar Proses Matching................................................................ 78
3.36. Plot Derivative pada Aliran Radial Infinite Acting..................... 80

10
DAFTAR GAMBAR
(LANJUTAN)

Gambar Hal

3.37. Plot Derivative pada Karakteristik Kerusakan Sumur ................ 81


3.38. Plot Derivative pada Finite Conductivity Fracture...................... 81
3.39. Plot Derivative pada Infinite Conductivity Fracture................... 81
3.40. Plot Derivative pada Sistem Dual-Porosity................................. 82
3.41. Plot Derivative pada Closed Outer Boundary
(Pseudosteady state).................................................................... 82
3.42. Plot Derivative pada Constant Pressure Boundary...................... 82
3.43. Plot Derivative pada Linear Impermeable Boundary.................. 83
3.44. Daerah Infinite Acting dengan Reservoir Constant Pressure
Boundary.................................................................................... 82
3.45. Aliran Radial Pada Infinite Acting.............................................. 84
3.46. Reaksi Buildup dan Drawdown pada Closed Reservoir
(pseudosteady state)..................................................................... 85
3.47. Reaksi Buildup dan Drawdown pada Reservoir Constant Pressure
Boundary..................................................................................... 85
4.1. Grafik Log-log pada sumur X-02 .......................................... 88
4.2. Grafik Horner Plot pada sumur X-02....................................... 89
4.3. Layar Main Option Sumur X-02 ............................................ 94
4.4. Layar Information Sumur X-02 ............................................ 94
4.5. Layar Pemilihan Satuan Sumur X-02...................................... 95
4.6. Layar Input Data PVT Sumur X-02......................................... 95
4.7. Layar Load P (Pressure) Sumur X-02...................................... 96
4.8. Layar Load Q (Rate) Sumur X-02........................................... 96
4.9. Layar Ekstraksi Parameter Delta P Sumur X-02..................... 97
4.10. Layar Hasil Ekstraksi Delta P Sumur X-02............................. 97

11
DAFTAR GAMBAR
(LANJUTAN)

Gambar Hal

4.11. Layar Pemilihan Model Reservoir Sumur X-02...................... 98


4.12. Layar Improve ........................................................................... 98
4.13. History Plot pada Sumur X-02
model reservoir dual porosity tpss ............................................ 99
4.14. Log-Log Plot pada Sumur X-02
model reservoir dual porosity tpss ............................................ 100
4.15. Horner Plot pada Sumur X-02
model reservoir dual porosity tpss ............................................ 100

12
DAFTAR TABEL

Tabel Hal

II-1. Ringkasan Hasil Anlisis PVT...................................................... 18


II-2. Tabulasi Data PVT Struktur Y ( Sumur Y-6)............................... 18
II-3. Parameter Sifat Fisik Fluida Struktur Y ( Y-6)............................ 19
III-.1 Komposisi Kimia Limestone....................................................... 23
III-.2 Ringkasan Variasi Aliran Fluida.................................................. 80
IV-1. Data Input Analisa PBU ............................................................. 86
IV-2. Hasil Analisa Pressure Build Up dengan saphir 3.20
Model reservoir dual porosity dengan boundary circle............... 101
IV-3. Hasil akhir Analisa Pressure Build Up pada Sumur X-02....... 102

13
DAFTAR LAMPIRAN

Hal
LAMPIRAN A. DATA ANALISA PRESSURE BUIL UP........................ 108
1. Data Produksi....................................................................... 108
2. Data Penampang sumur....................................................... 109
3. Data Reservoir dan PVT....................................................... 109
4. Data Uji Tekanan................................................................. 111

xiv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG MASALAH


Pengujian sumur khususnya dengan pressure build up sudah lama dilakukan
untuk lapangan minyak dan gas. Pengujian ini merupakan suatu teknik pengujian
transien yang dilakukan dengan cara memproduksi sumur selama suatu selang
waktu tertentu dengan laju alir yang tetap, kemudian menutup sumur tersebut
sehingga tekanan menjadi naik dan dicatat sebagai fungsi waktu. Metode analisa
data pada pressure build up dapat digunakan metode horner dan analisa
derrivative dengan software saphir 3.20.
Pada lapangan dengan reservoir karbonat yang mengandung mineral kalsit dan
dolomit merupakan reservoir yang baik. Reservoir ini dapat mempunyai porositas
primer dan porositas sekunder. Oleh sebab itu Warren-Root mengembangkan
sebuah metode berdasarkan dari metode horner dan Bourdett mengembangkan
metode yang berdasarkan type curve matching.Kedua metode ini kemudian
dikenal sebagai metode Warren-Root dan type curve Bourdett yang dapat
dilakukan pada reservoir karbonat.
Sehingga dengan digunakan metode ini dapat diketahui karakteristik reservoir
yang berupa tekanan awal reservoir (Pi), permeabilitas rekahan (kf), skin factor (s)
dan parameter baru yaitu lamda ( ) dan omega ( ). Parameter baru ini
menggambarkan karakteristik dari reservoir karbonat (rekah alami).Lamda ( )
menggambarkan kemampuan dari matrik mengalirkan fluidanya menuju rekahan
,sedangkan omega ( ) menggambarkan dimana fluida reservoir terkandung
matrik atau rekahan.

1.2. PERMASALAHAN
1. Berapakah harga tekanan reservoir awal (Pi) dan harga permeabilitas rekahan
(kf) reservoir karbonat sumur x?

1
2

2. Berapakah harga storavity capacitance coefficient ( ) dan interflow porosity


coefficient ()?
3. Apakah terjadi kerusakan formasi (S) pada sumur x?

3.1. MAKSUD DAN TUJUAN


Maksud dari penelitian ini adalah mengetahui kemampuan suatu sumur
berproduksi dan tingkat kerusakan formasi pada sumur X lapangan Y
berdasarkan analisa pressure build up baik secara manual maupun dengan
menggunakan software saphire 3.20.
Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui permeabilitas effektif, tekanan
reservoir dan besarnya harga skin.

1.4. METODOLOGI
Metodologi dalam penelitian analisa pressure build up untuk formasi karbonat
(reservoir rekah alami) dengan menggunakan saphir 3.20 pada sumur x
lapangan y ini yaitu:
1. Mengumpulkan data-data yang dibutuhkan
Data-data yang dibutuhkan meliputi:
A. Data Karakteristik reservoir, terdiri dari:
Data sifat fisik batuan reservoir (porositas, wettabilitas, tekanan kapiler,
saturasi fluida, permeabilitas, kompresibilitas)
Data sifat fisik fluida reservoir (o, g, w, Bo, Bg, Bw, Rs dan o, g, w,
API, Ct, Cf)
Data geometri reservoir (jari-jari sumur (tw), ketebalan formasi
produktif (h))
B. Data pengujian/test, terdiri dari:
(Tekanan versus waktu selama pengujian berlangsung, tekanan alir sumur
(Pwf), waktu produksi (tp))
C. Data produksi, terdiri dari:
(Qo, Qg, Qw, NP, GOR, WOR)
3

1. Melakukan Analisa Pressure Build Up menggunakan metode horner, analisa


derivative, dan software saphire 3.20.
a. Metode Horner
Menentukan

Membuat plot antara log

Membuat garis lurus dengan kemiringan 450 pada data awal yang
menunjukkan adanya pengaruh wellbore storage selanjutnya
menentukan titik awal penyimpangan dan ukur 1-1,5 cycle (data
yang terletak diluar jarak tersebut adalah data yang bebas dari
pengaruh wellbore storage.
Membuat grafik horner plot

Menentukan harga slope garis lurus


Menentukan harga P* dan Pws pada saat 1 jam
Menentukan harga permeabilitas
Menentukan harga skin
Menentukan jari-jari pengamatan (ri)
Menentukan flow efisiensi
Menentukan produktivity index (PI)

b. Software Saphire 3.20


Menginput data karakteristik reservoir
Menginput data pengujian/test pressure build up
Melakukan ekstrak untuk menghasilkan log-log plot, history
plot dan semi log plot (superposition plot)
Memilih model yang sesuai dengan plot derivative hasil dari
ekstrak

Melakukan improvement untuk untuk memperbaiki hasil match


antara plot derivative dari ekstrak dengan model derivative
yang kita pilih
4

Setelah melakukan langkah-langkah tersebut akan memperoleh


model reservoir, tekanan reservoir, permeabilitas effektif, jari-jari
pengamatan.
2. Membandingkan hasil analisa pressure build up manual dengan hasil analisa
menggunakan software.
3. Pembahasan
Setelah membandingkan hasil dari langkah 3 maka dapat ditentukan hasil yang
valid jika perbedaan tidak lebih dari 5%. Jika perbedaan lebih dari 5 % maka
lakukan kembali langkah 2 dan 3.
4. Kesimpulan
Mendapatkan harga P*, kf,, skin (S), omega (

Untuk memudahkan pemahaman metodologi diatas dapat dilihat pada diagram


alir pada gambar 1.1.
5
6

1.5. HASIL YANG DIPEROLEH


Hasil analisa dari manual didapat permeabilitas sebesar 6164.606 md, skin
sebesar 4922.75, Pi sebesar 2595. Dan hasil analisa dari software didapat model
reservoir adalah dual porosity dengan boundary infinite mempunyai harga
permeabilitas sebesar 5960 md ,tekanan reservoir sebesar 2595.71 psia, dan skin
sebesar 4900, omega () sebesar 0.0063 yang berarti fluida dominan di matriks,
dan lamda () sebesar 1.7E-08 yang berarti fluida dimatrik susah untuk
diproduksikan.

1.6. SISTEMATIKA PENULISAN

Sistematika penulisan Tugas Akhir ini adalah pada Bab I yaitu


pendahuluan yang berisi penjelasan secara umum mengenai latar belakang,
permasalahan, maksud dan tujuan, metodelogi, hasil yang diharapkan, dan
sistematika penulisan. Bab II yaitu tinjauan lapangan dan data pendukung yang
diperoleh. Bab III yaitu teori dasar pressure build-up test, bab ini berisi teori-teori
dan persamaan yang menjadi dasar dalam menganalisa pressure build-up test
dengan metode Horner secara manual, didapatkan parameter yaitu permeabilitas
(K), faktor skin (S), productivity index (PI) dan flow efficiency (FE). Bab IV
berisikan tentang analisa pressure build-up test dengan menggunakan metode. Bab
V merupakan bab pembahasan dari hasil keseluruhan analisa data pressure build
up. Bab VI berisikan tentang kesimpulan yang didapatkan dari hasil penelitian.
BAB II
TINJAUAN LAPANGAN

2.1. Letak Geografis Lapangan dan Sejarah Lapangan Y


Lapangan Y terletak sekitar 135 km barat kota Surabaya, Jawa Timur.
Lapangan Y berada diantara Blok Cepu (yang dioperasikan oleh Pertamina EP)
dan Tuban PSC (yang sekarang dioperasikan oleh JOB Pertamina-PetroChina East
Java (JOB P-PEJ)). Hal ini dijelaskan pada Gambar 2.1. Seperti saat ini
dipetakan, bahwa batas barat lapangan Y terletak di bawah kota Bojonegoro.

LapanganY

Gambar 2.1.
Peta Lokasi Lapangan Y

Lapangan Y ditemukan dengan adanya sumur Y-1, yaitu sumur eksplorasi


yang dibor dekat dengan batas barat dari Tuban PSC antara bulan April dan Juni
2001, selanjutnya dibor sumur Y-2. Pada kedua sumur tersebut telah dilakukan uji
produksi pada beberapa interval pada reservoar Karbonat Tuban, selanjutnya
dilakukan rencana pengembangan lapangan Y yang dibuat dalam skenario
bertahap.
Dari hasil studi dengan LAPI ITB didapat cadangan minyak (OOIP) dari
struktur Y sebesar 302.9 MMSTB dan cadangan gas (OGIP) sebesar 269.53
BSCF. Dengan recovery factor 51.68 %, maka diperkirakan cadangan yang dapat

7
8

terambil adalah sebesar 156.56 MMSTB untuk minyak dan 140.3 BSCF untuk
gas.
2.2. Kondisi Geologi Lapangan Y
Lokasi Struktur Y termasuk dalam kompleks North East Java Basin yang
telah mengalami beberapa kali proses deformasi, dengan proses tektonik yang
cukup komplek pada awal pembentukan. Proses pengendapan pada umur Tersier
Awal pada cekungan ini dikontrol oleh perkembangan sistem struktural
extentional horst dan graben yang dimulai sejak umur Pre-Tersier. Struktur
berikutnya berkembang dari Miosen Tengah hingga seterusnya mencerminkan
interaksi kompleks tiga lempeng utama, yaitu Lempeng Australia, Lempeng
Pasifik, dan Lempeng Sunda-Eurasia yang mengakibatkan terjadinya kompresi,
pengangkatan, dan inversi.
Lapangan Y secara stratigrafi diinterpretasikan sebagai Terumbu Karbonat
berumur Miosen Awal di Formasi Tuban. Terumbu ini terbentuk pada sisi Timur
dan di atas Platform Karbonat umur Oligosen Akhir dari Formasi Kujung, yang
melampar hingga Blok Cepu. Meskipun Terumbu Karbonat Y secara geologis
mempunyai persamaan dengan Lapangan Mudi, geometri tiga dimensi lebih jelas
terlihat bahwa Y ini merupakan terumbu karbonat. Karakter terumbu karbonat ini
ditentukan dengan data seismik yang menunjukkan adanya onlapping-onlapping
Tuban shale terhadap terumbu karbonat. Batuan penutup yang utama adalah shale
dan mudstone Formasi Ngrayong yang berada di atas maupun onlapping Formasi
Tuban. Refleksi seismik dari kedua formasi pada bagian selatan dan barat prospek
mengindikasikan adanya potensi kebocoran dari batupasir porous di atasnya. Hal
ini dipercaya sebagai alasan Struktur Y tidak terisi hidrokarbon secara penuh.
2.3. Stratigrafi Lapangan Y
Section pemboran yang menembus formasi di Lapangan Y dari permukaan
hingga mencapai total kedalaman secara umum sama dengan perkiraan awal,
dengan formasi batuan yang berumur Miosen Awal hingga Tersier atau umur
sekarang. Penentuan top-top formasi berdasarkan referensi informasi yang sudah
ada termasuk data paleontologi, data elektrik log, data serbuk pemboran dan
kecepatan bor dan korelasi dengan sumur-sumur terdekat.
9

Sumur-sumur Y ditajak pada sedimen klastik dari Formasi Recent


Alluvium, yang terdiri atas perlapisan antara batulempung dengan batupasir
dengan sedikit atau jarang sisipan siltstone dan batugamping. Stratigrafi lapangan
Y dapat dilihat pada Gambar 2.2 dan Gambar 2.3 untuk lebih jelas, yang
tersusun dari porositas paling rendah ke yang paling tinggi.
A. Formasi Lidah
Formasi Lidah yang berumur Pleistosen didominasi oleh batulempung
dengan sedikit sekali siltstone. Batulempung umumnya berwarna abu-abu hingga
abu-abu cerah, sangat lunak dan sedikit calcareous, sedikit mineral karbon yang
sangat halus dan fosil foram benthonik, serta dijumpai lithic dan shell fragment.
Siltstone berwarna abu-abu hingga abu kehijauan, lunak hingga firm, sub blocky,
dan calcareous dengan sedikit bergradasi menjadi batupasir sangat halus.
B. Formasi Mundu
Anggota Mundu berada tidak selaras di bawah Formasi Lidah dan terdiri
atas perlapisan batulempung dengan sedikit siltstone, batupasir, dan sisipan
batugamping. Batulempung dominan berwarna abu-abu cerah, abu-abu, dan abu
kehijauan, dan umumnya sangat lunak hingga lunak, sedikit calcareous hingga
calcareous, sedikit foram dan jarang carbonacoues specks dan berlimpah
fosil/shell fragments. Siltstone dominan berwarna abu-abu hingga abu-abu gelap,
soft-firm, sub blocky-blocky dan sedikit calcareous dan bergradasi menjadi
batupasir sangat halus. Batupasir berwarna abu-abu hingga off-white, kuarsa
berbutir sangat halus-medium dengan local lithic fragment, sub angular-sub
rounded, menunjukkan tidak ada porositas hingga porositas buruk. Batugamping
dijumpai pada bagian bawah formasi dari 2100 ft ke bawah, berwarna off-white,
putih-putih keabuan mudstone dan wackestone, dan umumnya keras moderat
hingga keras dan argillaceous.
C. Formasi Ledok
Anggota Ledok yang berumur Pliosen Awal merupakan anggota formasi
dari Formasi Kawengan yang dicirikan dengan perubahan batuan dari dominan
batulempung dan siltstone menjadi dominan Batugamping dengan sedikit
batulempung pada kedalaman sekitar 3140 ft MD. Batugamping umumnya
10

berwarna off white-white, putih keabuan dan kadang buff wackstone-packstone.


Batugamping mempunyai kekerasan sedang hingga keras, sedikit argillaceous
dengan fosil foram globigerinid inklusi dan foram lepas yang berlimpah. Porositas
secara visual umumnya antara porositas buruk hingga tidak ada porositas.
Batulempung berwarna abu-abu cerah hingga abu-abu gelap, umumnya lunak,
slightly calcareous-calcareous, platy dengan sedikit material karbon.
D. Formasi Wonocolo
Secara selaras di bawah Anggota Ledok adalah Formasi Wonocolo yang
berumur Miosen Tengah-Akhir, terdiri atas batulempung, batugamping, siltstone,
dan batupasir. Kedalaman 3140 ft hingga sekitar 4550 ft MD dijumpai
batugamping berwarna putih krem hingga putih keabuan berupa mudstone,
wackestone, dan packstone. Umumnya dengan kekerasan sedang-keras, lunak di
beberapa tempat, berbutir sangat halus-halus, slightly argillaceous, dengan fosil
foram yang berlimpah dan jarang sekali mineral pirit dan material karbon. Section
bagian bawah dari Formasi Wonocolo didominasi oleh batulempung berwarna
abu-abu, abu kehijauan abu-abu cerah. Umumnya lunak, calcareous, sub blocky-
blocky, sangat jarang shell fragment dan fosil foram berlimpah. Batupasir berlapis
berwarna off white-white, clear, translucent, dan hijau cerah, terdiri butiran kuarsa
lepas hingga rapuh, berbutir sangat halus-halus dan kasar di beberapa tempat, sub
angular-sub rounded, sortasi buruk-bagus dengan tersementasi oleh material
calcareous dan porositas sedang hingga bagus. Siltstone umumnya berwarna abu-
abu cerah hingga abu-abu gelap, hijau cerah dan hijau keabuan di beberapa
tempat, kekerasan lunak hingga sedang, slightly-very calcareous dan bergradasi
menjadi batupasir sangat halus di beberapa tempat.
E. Formasi Ngrayong
Di bawah Formasi Kawengan, dijumpai Formasi Ngrayong yang berumur
Miosen Tengah yang didominasi oleh batulempung abu-abu dan coklat gelap
hingga cerah berselang seling dengan batupasir lepas hingga rapuh berwarna putih
kotor, clear, dan translucent. Siltstone berwarna coklat cerah abu-abu cerah dan
batugamping berwarna abu-abu cerah dan gelap. Batulempung umumnya soft-
firm, sub blocky-blocky, slightly-very calcareous dengan sedikit material karbon
11

dan mineral pirit. Batupasir kuarsa dengan butiran sangat halus-halus dan sedang
dibeberapa tempat, sub angular hingga sub rounded, sortasi sedang-bagus dengan
sedikit calcareous sebagai semen. Lithic fragment berlimpah dan mineral mika
sangat halus dan glauconite, dengan porositas buruk hingga bagus. Siltstone soft-
firm dan kadang rapuh, slightly calcareous-calcareous dengan foram plantonik
dan benthonik yang sangat jarang dijumpai, yang bergradasi menjadi batupasir
sangat halus di beberapa tempat. Batugamping berwarna abu-abu gelap, masif,
keras, argillaceous wackestone hingga packstone dan merupakan penanda yang
jelas. Tiga lapis batugamping yang penting berkembang di atas reservoar Formasi
Tuban pada Sumur Y-1 meskipun tidak hadir di sumur Y-2. Ketiga lapisan
Batugamping tersebut onlapp terhadap Terumbu A, yang merefleksikan posisi
lereng dan puncak dari Sumur Y-1 dan Y-2.
F. Formasi Tuban
Section yang tidak selaras di bawah Formasi Ngrayong hingga kedalaman
total dari tiap sumur adalah reservoar hidrokarbon Lapangan Y, Formasi Tuban.
Section ini berumur Miosen Awal yang terdiri atas batugamping berupa
wackstone-packstone berwarna putih keabuan-putih dan krem-putih krem, dengan
kekerasan sedang-keras, dan sedikit chalky dan fosil foram dan fragmen
bioklastik, juga sering dijumpai porositas vuggy dan secondary skeletal-mouldic,
kadang pori vuggy terisi oleh mudstone.
G. Formasi Kujung
Formasi Kujung tersingkap di desa Kujung daerah Tuban, terdiri dari marl
dan shale dengan interklasi atau sisipan batugamping tipis, berubah keatas
menjadi lempung napalan atau marly clays tanpa ada interklasi atau sisipan.
Diendapkan pada kondisi permukaan air laut high stand dan kondisi laut dangkal
sampai laut dalam, pada kala oligosin. Pada Formasi terjadi ketidakselarasan yang
kemungkinan besar disebabkan karena adanya erosi berumur oligosin dan tidak
ada sumur dari lapangan Y yang mencapai formasi ini.
H. Formasi Ngimbang
Formasi Ngimbang terdiri dari shale, karbonat dan sedimen klastik kasar
dan lempung marin. Diendapkan dalam graben dan horst, dalam kondisi atau
12

lingkungan aluvial atau sungai, delta dan lakustrin serta laut dangkal,pada kala
eosin tengah sampai eosin akhir. Sebagai akibat adanya proses penurunan
cekungan (subsidence) atau kenaikan permukaan air laut, terjadilah proses
trangresi, sehingga pengendapan sedimen klastik menurun dan berkembang
pengendapan batuan karbonat dan akibatnya dibagian atas diendapkan lempung
marin yang cukup luas penyebarannya.

Gambar 2.2.
Ringkasan Stratigrafi Lapangan Y
13

Gambar 2.3.
Play Types Jawa Timur Basin

2.4. Geofisika Lapangan Y


Pada tahun 2002, TAC Mobil Cepu Ltd memulai program akuisisi 3D
Seismik melewati struktur A. Seismik data tersebut diakuisisi sebagai bagian
besar program akuisisi data 3D seismik dan lebih banyak dari TAC Cepu. Setelah
pengeboran dan Seismik 3D, didapat peta struktur kedalaman yang dibuat dan
ditunjukkan pada Gambar 2.4. Data seismik 3D lebih baik dibandingkan dengan
data 2D sehingga memberikan lebih banyak kepercayaan pada saat pemetaan
lapangan.
Interpretasi saat ini menunjukkan bahwa struktur buildup Y lebih besar
daripada peta struktur kedalaman sebelumnya dengan beberapa kulminasi baru
yang terletak pada sebelah barat dan selatan dari wilayah produksi, yang dibatasi
oleh patahan.
Struktur kedalaman dari top karbonat diperoleh dengan menggunakan
model kecepatan dari processing seismik saat ini, yang dikontrol dengan
hubungan kedalaman-waktu dari sumur yang tersedia. Analisis seismik inversi
juga digunakan untuk distribusi porositas di dalam reservoar.
Hasil pemetaan menggunakan parameter reservoar 35% Vshale, 5%
porositas, 2 Md permeabilitas dan 65% saturasi air, dan mengindikasikan bahwa
14

dibutuhkan 23 sumur produksi untuk memperoleh Estimated Ultimate Recovery


(EUR) 302.9 MMSTB dari reservoar Y.

Sumur X-02

Gambar 2.4.
Peta Struktur Top Karbonat Lapangan Y

2.5. Karakteristik Reservoar Lapangan Y


Reservoar dari lapangan Y yaitu formasi Tuban merupakan karbonat build
up dengan umur awal Miocene.
2.5.1. Kondisi Reservoar
Kondisi awal yaitu tekanan awal reservoar (Pi) dan temperatur awal
reservoar (Ti) merupakan hasil dari data survey tekanan dari DST dan uji
Pressure Build Up (PBU) di sumur Y-1 dan Y-2 diketahui tekanan awal reservoar
(Pi) 2890 psi dengan temperatur 263 F. Gambar 2.5 menunjukkan sejarah
tekanan di Y.
15

Gambar 2.5.
Sejarah Tekanan Struktur Y

2.5.2 Karakteristik Batuan


Karakterisitik batuan di struktur Y diperoleh dari hasil coring di Y-2 pada
interval kedalaman 6810-6930 ftMD. Data tersebut meliputi permeabilitas
horisontal dan vertikal, porositas, sisa cairan saturasi, berat jenis batuan, dan
analisis spesial batuan (SCAL), seperti tekanan kapiler dan permeabilitas relatif.
a. Permeabilitas dan Porositas
Gambar 2.6 menunjukkan plot permeabilitas horisontal terhadap
permeabilitas vertikal. Dalam hal ini dapat dilihat bahwa rasio permeabilitas
vertikal-horisontal adalah mendekati satu. Gambar 2.7 adalah cross-plot untuk
permeabilitas horisontal terhadap porositas. Meskipun korelasi permeabilitas-
porositas menghasilkan koefisien korelasi yang tinggi 0.812, terdapat berbagai
porositas antara 5% sampai 20% di mana tingkat penyebaran nilai permeabilitas
yang cukup lebar menunjukkan bahwa formasi karbonat Y heterogen.
16

Gambar 2.6.
Permeabilitas Horisontal versus Vertikal Lapangan Y

Gambar 2.7.
Permeabilitas Horisontal versus Porositas Lapangan Y

b. Saturasi Air
Untuk sampel core Y, hasil korelasi yang baik antara porositas terhadap
saturasi air dapat diamati melalui gambar 2.8.
17

Gambar 2.8.
Saturasi Air Connate versus Porositas dari Ektraksi Dean Stark

c. Tekanan Kapiler
Data tekanan kapiler yang tersedia yang dihasilkan dari penggunaan
metode centrifuge dari core Y-2 ditunjukkan pada gambar 2.9 di bawah.

Gambar 2.9.
Tekanan Kapiler dari Beberapa Core Plug Lapangan Y

2.5.3. Sifat Fisik Fluida


Data sifat fisik fluida Y diperoleh dari hasil uji laboratorium fluida
hidrokarbon (PVT) dari sumur Y-01, Y-02, Y-06, Y-14, dan Y-18. Ringkasan
18

hasil analisa PVT dapat dilihat pada Tabel II-1. Tabulasi data PVT struktur Y
dapat dilihat pada Tabel II-2 dan II-3 merupakan sifat fisik fluida reservoar
struktur A. Data ini menunjukkan bahwa tekanan bubble point mulai dari 2462 psi
sampai 2908 psi dan solution rasio gas-minyak awal dari 917 SCF/STB ke 1017
SCF/STB. Selama dua tahun pertama masa produksi, lapangan ini telah
menghasilkan minyak dengan relatif konstan Gas-Oil Ratio (GOR) berkisar antara
870 sampai 960 SCF/STB.
Tabel II-1
Ringkasan Hasil Anlisis PVT

interval Pb Rsi Boi oi


Well
(ftMD) (psig) (scf/bbl) (bbl/bbl) (cp)
Y-06 6620 - 6660 2405 1112 1.885 0.429
Y-14 7180 - 7202 2667 1297 1.955 0.26
Y-18 8260 - 8310 2835 1192 1.869 0.255

Table II-2
Tabulasi Data PVT Struktur Y ( Sumur Y-6)
19

Table III-3
Parameter Sifat Fisik Fluida Struktur Y ( Y-6)

Gambar 2.10 sampai 2.12 berturut-turut adalah hubungan kelarutan gas di


dalam minyak terhadap waktu, hubungan faktor volume formasi minyak terhadap
tekanan, dan hubungan viskositas minyak terhadap tekanan.
20

Gambar 2.10.
Grafik Rs versus Tekanan Struktur Lapangan Y

Gambar 2.11.
Grafik Bo versus Tekanan Struktur Lapangan Y

Gambar 2.12.
Grafik o versus Tekanan Struktur Lapangan Y
21

2.5.4. Mekanisme Pendorong


Dari hasil studi GGR lapangan Y, juga dilakukan perhitungan metode
material balance sehingga diperoleh bahwa mekanisme pendorong dari struktur Y
adalah kombinasi yaitu mekanisme pendorong water drive dan solution gas drive,
dapat dilihat pada Gambar 2.13.

Gambar 2.13.
Mekanisme Pendorong Struktur Lapangan Y

2.6. Sejarah Produksi Lapangan Y


Lapangan Y berproduksi dari Juli 2004 sampai dengan saat ini. Hasil
kumulatif produksi lapangan Y sampai dengan Desember 2014 adalah 80
MMMCF gas, 99 MMBbls minyak, dan 10 MMBbls air. Gambar 2.14
menunjukkan kumulatif produksi lapangan Y.

Gambar 2.14.
Kumulatif Produksi Lapangan Y
BAB III
TEORI DASAR

3.1. Reservoir Karbonat


Batuan karbonat adalah semua kelompok batuan yang mengandung
80% kalsium karbonat atau magnesium karbonat dan tersusun oleh mineral-
mineral garam karbonat seperti kalsit, dolomit, argonit, magnesium serta
cangkang-cangkang binatang karang. Organisme sangat berperan dalam
pembentukan batuan karbonat, yaitu sebagai penghasil unsur CaCO3.
Komposisi utama batuan karbonat adalah kalsit,sebab itu kandungan dari
CaO dan CO2 tinggi seperti telihat pada Tabel III-1, untuk beberapa keadaan
kandungan kalsit lebih dari 95%. Unsur pokok yang penting lainnya adalah MgO,
jika kandungannya melebihi 1 atau 2 persen, kemungkinan mengindikasikan
adanya mineral dolomit. Magnesian limestone mengandung 1 sampai 2 persen
MgO, normalnya magnesium terbentuk dengan proses dolomitisasi.
Jika mengandung mineral dolomit lebih dari 50% maka dapat disebut
dengan dolomit. Pada dasarnya komposisi kimia dolomite pada dasarnya hamper
mirip dengan limestone, kecuali unsur MgO merupakan unsur yang penting dan
jumlahnya cukup besar. Sedangkan unsur unsur batuan yang mempunyai
komposisi pertengahan antar limestone dan dolomit mempunyai nama yang
bermacam macam, tergantung dari unsure yang di kandungnya. Untuk batuan
yang unsur kalsitnya melebihi dolomite limestone, dan yang unsure dolomitnya
melebihi kalsit disebut dengan limy, calcitic, calciferous atau calcitic dolomit.
Porositas pada karbonat berbeda dari porositas pada batu pasir. Porositas
karbonat terbentuk oleh proses pengendapan, proses diagenesa, dan rekahan
mekanik.
Proses diagenasa dapat mengubah porositas endapan (depositional
porosity) dengan dissolution ,sementasi, kompaksi, rekristalisasi dan replacement.
Hal ini dapan menambah ataupun mengurangi porositas originalnya dan
membentuk porositas total yang baru. Proses seperti sementasi, kompaksi,

22
23

replacement, atau rekristalisasi dapat mengurangi besarnya porositas. Diagenesa


juga dapat menambah porositas dengan dissolusi, replacement, dan rekristalisasi
(jarang). Dan porositas rekahan terbentuk dibawah differential stress. Besarnya
porositas rekahan bergantung pada besar, type, dan arah dari differential stress
tersebut. Sebagian besar porositas rekahan terjadi karena tektonik. Porositas dari
hasil proses diagenesa dan perekahan ini dapat berupa :
1. Cetakan (Mold), pelarutan dari butiran atau fosil.
2. Saluran (channelling)
3. Rongga (vug).
4. Lubang bor organisms.
5. Retakan desikasi atau breksi.
6. Retakan tektonik atau kekar dan lain sebagainya.

Tabel III-1
Komposisi Kimia Limestone 7)
24

3.1.1. Klasifikasi Batuan Karbonat


3.1.1.1. Menurut Pettijhon (1957)
Pettijohn (1957) mengklasifikasikan batuan karbonat menjadi tiga
komponen utama yang berdasarkan genesanya, yaitu Batugamping Autocthonous
(non klastrik), Batugamping Allocthoous (klastik) dan Batugamping Metasomatik
(klastik) seperti Gambar 3.1.

Gambar 3.1.
Klasifikasi Genetic dari Karbonat7)

A. Batugamping Autocthonous (non klastik)


Batugamping Autocthonous yaitu batugamping yang terdiri dari unsur
kalsium karbonat, terbentuk langsung dari presipitasi air laut akibat proses
biokimia. Batugamping ini merupakan batuan karbonat yang primer, yaitu batuan
karbonat yang terbentuk pada tempat asalnya (insitu). . Contoh Batugamping
Autocthonous yaitu terumbu.
Terumbu
Terumbu (reef) dapat menjadi suatu batuan reservoar yang baik. Pada
umumnya terumbu terdiri dari kerangka koral, ganggang dan sebagainya yang
tumbuh dalam laut yang jernih, berenergi gelombang yang tinggi dan mengalami
25

pembersihan sehingga rongga-rongganya menjadi bersih. Di antara kerangka


tersebut juga terdapat fragmen koral, foraminifera dan bioklastik lainnya.
Porositas yang terbentuk terutama berada dalam rongga-rongga bekas binatang
hidup yang biasanya kemudian mengalami penyemenan sehingga porositas
menjadi besar karena adanya pelarutan. Bentuk terumbu koral ini sangat terbatas
sekali Karena terumbu ini hanya dapat tumbuh pada kondisi tertentu saja.
Pada umumnya reservoar jenis terumbu ini dapat dibagi menjadi dua, yaitu
terumbu yang bersifat fringing dan terumbu tiang.
a. Terumbu Yang Bersifat Fringing
Terumbu jenis ini bentuknya memanjang di sepanjang pantai dan kadang
berasosiasi dengan bioklastik lainnya dan membentuk suatu akumulasi sedimen
dan kadangkala membentuk suatu koloni. Terumbu yang berbentuk linear atau
penghalang (barrier) biasanya selain memanjang juga besar serta memperlihatkan
suatu asimetri yang sering terdapat pada pinggiran suatu cekungan. Seringkali
terumbu jenis ini terdapat pada suatu pingiran paparan yang landai dan berenergi
rendah tiba-tiba berubah menjadi cekungan yang dalam, sehingga pada ujung
paparan ini berbentuk komplek terumbu yang merupakan penghalang.
b. Terumbu Tiang
Yaitu terumbu yang terisolir atau terpisah-pisah yang sering disebut
pinnacle atau patch reef atau lebih tepat dikatakan sebagai bioherm yang muncul
tak teratur dan berukuran kecil. Lapangan minyak yang ditemukan dalam terumbu
jenis ini adalah di Libya, yaitu lapangan Idris dalam cekungan Sirte yang berumur
paleosen.

B. Batugamping Allocthonous (klastik)


Batugamping Allocthonous atau batugamping detritus, yaitu batugamping
yang telah mengalami proses transportasi dari tempat lain. Mempunyai komposisi
lebih dari 50 % batuan karbonat. Contoh Batugamping Allocthonous yaitu
Kasirudit, Kalkarenit, Kalsilutit.
Kasirudit, Kalkarenit, Kalsilutit
26

Kasirudit, Kalkarenit, Kalsilutit merupakan gamping klastik. Kalkarudit


merupakan batugamping dimana butiran penyusun batuannya lebih dari 2 mm,
kalkarenit merupakan batu gamping dimana butiran penyusun batuannya
berukuran antara 2 mm 62 m, dan kalsilutit merupakan batugamping dimana
butiran penyusun batuannya kurang dari 62 m. Gamping klastik merupakan
reservoir yang sangat baik, terutama jika berasosiasi dengan oolite yaitu
kalkarenit. Batuan reservoar dimana terdapat oolite ini merupakan pengendapan
berenergi tinggi dan ditemukan dalam jalur sepanjang pantai dangkal dengan arus
gelombang kuat. Porositas yang didapatkan biasanya jenis intergranular, yang
kadang-kadang diperbesar dengan adanya pelarutan. Porositas bisa mencapar
32%, tetapi hanya mempunyai permeabilitas 5 milidarcy.

C. Batugamping Metasomatik (klastik)


Batugamping Metasomatik merupakan batugamping yang terbentuk
karena adanya proses diagenesa yang tebentuk pada batugamping, sehingga sifat
dan karakteristiknya dapat berbeda dengan batuan asalnya. Contoh batugamping
metasomatik adalah Dolomit dan gamping afanitik.
Dolomit
Dolomit merupakan batuan reservoar karbonat yang jauh lebih penting
daripada batuan karbonat lainnya. Harus diingat bahwa kebanyakan batuan
karbonat seperti terumbu atau oolite sedikit banyak telah mengalami proses
dolomitisasi. Pada umumnya dolomit disini bersifat sekunder atau terbentuk
sesudah sedimentasi. Dolomit biasanya mempunyai porositas yang baik, bersifat
sukrosik yaitu berbentuk hampir menyerupai gula pasir. Dolomit dapat
dikelompokkan menjadi dua, yaitu dolomit yang bersifat primer dan dolomit yang
bersifat rubahan (replacement).
a. Dolomit Yang Bersifat Primer
Terbentuk dalam suatu laguna atau laut tertutup yang sangat luas dengan
temperatur yang sangat tinggi. Misalnya di tepi teluk Persia terdapat suatu
paparan yang dangkal tetapi luas dan tertutup dari laut terbuka dimana terjadi
evaporasi yang sangat cepat. Keadaan ini akan menghasilkan air laut yang kadar
27

garamnya tinggi. Selain itu terjadi pula pengendapan kalsit karena keluarnya CO2
oleh temperatur yang tinggi yang selanjutnya akan mengendapkan kalsium sulfat,
gypsum dan anhidrit. Dengan demikian akan menyerap kedalam sedimen
gamping yang telah terendapkan terlebih dahulu yang kemudian merubah
gamping tersebut menjadi dolomit.
b. Dolomit Yang Bersifat Rubahan (replacement)
Terutama terjadi pada dolomitisasi gamping yang bersifat terumbu. Proses
pembentukan ini dikemukakan oleh Lucia dan Weyl (1965) dengan suatu teori
yang disebut Supratidal Seepage Reflux. Disini dijelaskan suatu laguna di
belakangnya. Laguna ini hanya terisi oleh air laut pada saat badai dan air laut yang
terdapat di belakang terumbu yang menghalangi itu menjadi sangat tinggi kadar
garamnya sehingga terjadi peningkatan kadar Ca dan Mg. Sebelumnya CaCO4
atau Gypsum telah terendapkan terlebih dahulu tetapi endapan gypsum seperti ini
akan mudah larut kembali kedalam air hujan atau air laut. Air garam yang terjebak
didalam laguna yang demikian kadar Mg-nya akan sangat tinggi dan berat
jenisnya meningkat. Oleh karena itu akan terjadi perembesan kembali (reflux)
melalui pori-pori yang terdapat dalam gamping kerangkal atau terumbu untuk
kembali lagi ke laut bebas. Dan pada saat terjadi proses dolomitisasi.
Gamping Afanitik
Batu gamping afanatik dapat pula bertindak sebagai batuan reservoar,
terutama jika porositasnya adalah sekunder misalnya karena adanya perekahan
atau pelarutan dibawah suatu ketidakselarasan. Batuan karbonat dapat dibagi
menjadi beberapa klasifikasi yaitu:
a. Type Compact Cristallin
Pada tipe ini matrik tersusun rapat oleh kristalin yang saling mengisi
diantara pori-pori ini kurang begitu efektif. Permukaan batuannya merupakan
permukaan yang paling licin.
b. Type Chalky
Untuk tipe ini matrik batuan tersusun dari kristal-kristal kecil, sehingga
ruang pori-pori terisi rapat oleh partikel-partikel tersebut dan hanya tampak bila
dilihat dengan mikroskop. Permeabilitanya berkisar antara 10-30 md. Dengan
28

kenampakan batuannya yang baru dibelah akan menunjukkan permukaan yang


suram seperti kapur.
c. Type Granular satu sacharoidal
Pada tipe ini matrik tersusun dari kristal-kristal, yang hanya sebagian saja
kontak antara satu sama lainnya. Sehingga akan memberikan ruang antar pori-pori
yang saling berhubungan. Permebilitas sangat tinggi , hingga bisa mencapai
beberapa ratus milidarcy.

3.1.1.2.. Menurut Folk (1959-1962)


Klasifikasi batuan karbonat yang dikemukakan oleh Folk pada
Gambar 3.2 membagi menjadi tiga kelompok utama yaitu: sparry allochemical
limestone, dan micerocrystalline, dan lainnya adalah biolithites yang merupakan
struktur organik insitu. Limestone Klasifikasi folk didasarkan pada tiga komponen
utama penyusun karbonat, yaitu butiran(allochems), mikrit (matrik) dan sparit
(semen).
A. Allochems
Merupakan butiran karbonat yang berukuran pasir kerikil, yang berasal
dari sedimen klastik. Termasuk di dalamnya adalah Ooid, Peloid, bioclast,
intraclast.
B. Micrite (matrik)
Merupakan agregat halus yang berukuran 14 mikron, sebagai pembentuk
mineral kalsit, terjadi secara biokimia ataupun kimiawi dari presipitasi air laut,
terbentuk dalam lingkungan pengendapan dan menunjukkan sedikit atau tidak
adanya transportasi yang berarti. Hal ini dinyatakan bahwa mikrit adalah tidak
sama dengan Lumpur karbonat.
C. Sparite (semen)
Merupakan semen yang mengisi ruang antar butir dan rekahan, berukuran
butir halus (0,02 1 mm). Dapat terbentuk langsung dari sediment secara insitu
ataupun dari kristalisasi mikrit.
29

Gambar 3.2.
Klasifikasi Genetic dari Karbonat menurut Folk10)

3.1.1.3. Menurut Dunham (1962)


Klasifikasi batuan karbonat menurut Dunham (1962) Gambar 3.3 adalah
dengan berdasarkan pada tekstur pengendapannya.
Dunham (1962) mengklasifikasikan batuan karbonat sebagai berikut:
A. Butiran didukung oleh lumpur (mud supported)
Jika jumlah butiran kurang dari 10%: Mudstone
Jika jumlah butiran lebih banyak dari 10%: Wakcstone
B. Butiran saling menyangga (grain supported)
Dengan butiran: Packstone
Sedikit atau tanpa butiran: Grainstone
C. Komponen yang terikat bersamaan saat pengendepan (Boundstone)
D. Tekstur pengendapan tidak teramati dengan jelas (batu gamping kristalin)
30

Gambar 3.3.
Klasifikasi Batuan karbonat Dunham 10)

3.1.1.4. Menurut Embry dan Klovan (1971)


Klasifikasi batuan karbonat menurut Embry dan Klovan Gambar 3.4 ini
merupakan modifikasi dari klasifikasi yang diusulkan oleh Dunham (1962),
dengan pembagiannya sebagai berikut:
A. Batugamping Allocthonous, dengan lebih dari 10% komponen yang berukuran
lebih besar dari 2 mm:
Didukung matriks: Floatstone
Komponen yang saling menyangga: Rudstone
B. Batugamping Autochonous, dengan komponen organik yang saling terikat
pada waktu pengendapan:
Disusun oleh organisme yang membentuk fosil yang menyerupai tangkai:
Bafflestone.
Disusun oleh organisme yang saling terikat dan mengeras, membentuk fosil
yang tipis dan rata: Bindstone.
Disusun oleh organisme yang membentuk jalinan fosil yang massif:
Framestone.
31

Gambar 3.4
Klasifikasi Batuan karbonat Embry dan Klovan 12)

3.2. Pengumpulan Data


Data yang dibutuhkan untuk melakukan analisa pressure build up dapat
diperoleh dari berbagai sumber data. Data yang diperlukan dalam analisa pressure
build up adalah sebagai berikut:
A. Data Karakteristik reservoir, terdiri dari:
Data sifat fisik batuan reservoir (porositas, wettabilitas, tekanan kapiler,
saturasi fluida, permeabilitas, kompresibilitas)
Data sifat fisik fluida reservoir (o, g, w, Bo, Bg, Bw, Rs dan o, g, w,
API, Ct, Cf)
Data geometri reservoir (jari-jari sumur (rw), ketebalan formasi
produktif (h))
B. Data pengujian/test, terdiri dari:
(Tekanan versus waktu selama pengujian berlangsung, tekanan alir sumur
(Pwf), waktu produksi (tp))
32

C. Data produksi, terdiri dari:


(Qo, Qg, Qw, NP, GOR, WOR)

3.2.1. Data Karakteristik Reservoir


Untuk mendapatkan data karakteristik reservoir dapat dilakukan penilaian
formasi. Penilaian formasi adalah proses pengumpulan data serta penaksiran yang
dilakukan secara kontinyu pada lubang bor beserta isinya tentang sifat-sifat fisik
batuan dan sifat fisik fluida formasi serta kondisi formasi. Terdapat beberapa
metode penilaian formasi, antara lain: analisa cutting, analisa coring, analisa well
logging, analisa PVT.
3.2.1.1. Data Cutting
Data cutting didapat dari analisa cutting. Analisa cutting ini dilakukan
dalam kerangka pekerjaan Mud Logging yang terutama digunakan untuk
mengidentifikasi saturasi hidrokarbon dan mengestimasikan karakteristik batuan
reservoir.Yang dilakukan pada analisa ini adalah analisa lithologi untuk
menggambarkan macam-macam batuan untuk tiap kedalaman dengan
pendikripsian lithologi( warna, tekstur, kekerasan, lapisan, pabrikasi, mineral
tambahan),analisa porositas yang bersifat kualitatif, dan analisa indikasi
hidrokarbon melihat penampakan noda,bau (odour)dan pemeriksaan hidrokarbon.
3.2.1.2. Data Core
Data-data coring dapat diperoleh dengan melakukan analisa core di
laboratorium,analisa core adalah analisa langsung pada batuan reservoir yang
didapat dengan melakukan bottom hole coring atau sidewall coring.Prosedur
analisa inti batuan pada dasarnya terdiri dari analisa core rutin dan analisa core
spesial.
Analisa inti batuan rutin mencakup pengukuran porositas dengan cara
menentukan volume pori menggunakan metode porosimeter boyle dan desaturasi,
pengukuran permeabilitas absolut (kabs) menggunakan liquid permeameter atau
gas permeameter, dan pengukuran saturasi menggunakan metode retort dan
distilasi.
33

Sedangkan analisa core spesial meliputi: pengukuran wetabilitas


menggunakan metode Amott (dengan alat laboratorium yaitu spontaneous
imbitition), pengukuran tekanan kapiler menggunakan restored state capillary
pressure apparatus (Bruce dan Welge).kompresibitas batuan, permeabilitas relatif.
3.2.1.3. Data PVT
Data PVT dapat diperoleh dari laboratorium,analisa PVT adalah analisa
pada fluida hidrokabon untuk mengetahui data sifat fisik fluida hidrokarbon.
Dengan teknik analisa dan perhitungan yang baik pada proses pengolahan minyak
akan didapatkan hasil yang baik pula.Hasil analisa Crude oil juga sangat
dipengaruhi oleh cara pengambilan sample fluida,karena fluida yang dihasilkan
oleh sumur produksi dapat berupa gas, minyak, dan air.
Adapun metoda pengambilan sample tersebut ada dua cara yaitu :
1. Bottom hole sampling : sample fluida diambil dari dasar lubang sumur hal
ini bertujuan agar didapat sample yang lebih mendekati kondisi di
reservoir.
2. Surface sampling (sampling yang dilakukan dipermukaan) biasanya
dilakukan pada well head atau pada separator.
Setelah sample didapat selanjutnya dianalisa di laboratorium sehingga
mendapatkan parameter-parameter meliputi:
1. Densitas minyak,densitas air, densitas gas (o, g, w).
2. Faktor volume foramasi minyak, air, gas (Bo, Bg, Bw)
3. Kelarutan gas dalam minyak (Rs)
4. Viskositas minyak ,air, gas (o, g, w)
5. Kompresibilitas minyak, air, gas, formasim tota (CO, CW, Cg, Ct, Cf)
3.2.1.4. Data Logging
Data logging diperoleh dari metode logging, metode logging pada
dasarnya adalah pencatatan data sifat-sifat batuan formasi, seperti sifat kelistrikan,
radioaktif, cepat rambat gelombang suara dan sebagianya ke dalam bentuk grafik
terhadap terhadap kedalaman lubang bor. Memperoleh data yang akurat dan
lengkap dari log sangatlah penting, untuk itu sebaiknya memahami sifat-sifat dari
34

kurva setiap log serta kondisi-kondisi yang mempengaruhinya terhadap kondisi


lubang bor,kondisi lubang bor yang ideal dapat dilihat pada Gambar 3.5. .
Tujuan dilakukannya well logging secara umum adalah:
1. Pemerian lithologi, batas lapisan dan korelasi. Dapat menunjukkan
struktur geologi yang penting, menentukan tebal lapisan dan potensi
reservoir.
2. Secara kuantitatif mampu membedakan lapisan minyak, gas dan air, serta
letak GOC dan WOC.
3. Dapat menentukan porositas, saturasi dan permeabilitas bila kondisi
memungkinkan.
4. Membantu penentuan interval zona produktif secara tepat dan perkiraan
produktivitas sumur.
Logging dilakukan dengan mennggunakan truck dan kemudian memasang
kabel logging melalui katrol bawah dan atas dan menghubungkan dengan alat
logging. Setelah itu alat diturunkan ke dalam lubar bor seperti terlihat pada
Gambar 3.6 ,kecepatan logging diatur konstan antara 1800-5400 ft/hr, tergantung
dari alat loggingnya.
Terdapat beberapa metode logging, meliputi:
1. Log lithologi (SP log, GR log)
2. Log Resistivity (Dual induction log, Dual laterolog)
3. Log Porosity (density log, neutron log,
35

Gambar 3.5.
Kondisi lubang bor ideal3)

Gambar 3.6.
Peralatan logging3)
36

1. Log Lithologi
Lithologi Log digunakan untuk mengidentifikasi lapisan porous dan
permeabel,terdapat 2 alat dapat digunakan yaitu spontaneous potensial (SP log)
dan gamma ray log (GR log).
Spontaneous Potensial Log (SP Log)
Merupakan rekaman mengenai perbedaan arus DC dalam milivolts antara
potensial natural karena pergerakan elektroda dalam lubang bor dengan elektroda
yang ditempatkan di permukaan. SP log hanya digunakan dalam kondisi
conductive mud/water base mud.SP log juga tidak dapat digunakan di dalam
kondisi oil base mud, lubang kosong ,dan cased hole. Harga Sp log untuk serpih
cenderung konstan (shale base line), lapisan permeabel ditandai dengan adanya
defleksi SP log dari shale base line. Defleksi kurva SP log yang tergambar pada
slip log Gambar 3.7 akan memberikan bentuk-bentuk sebagai berikut:
1. Lurus dan biasa disebut dengan shale base line
2. Untuk lapisan yang permeabel (air asin), kurva SP log akan
berkembang negatif (ke kiri) dari shale base line
3. Untuk lapisan permeable (hidrokarbon), kurva SP log akan berkembang
negatif (ke kiri) dari shale base line
4. Untuk lapisan permeabel (air tawar), kurva SP log akan berkembang
positif (ke kanan) dari shale base line
Manfaat dari SP log antara lain adalah untuk menentukan ketebalan
lapisan porous dan permeable, mengestimasi harga tahanan air formasi atau Rw,
mengevaluasi harga Vclay, dan dapat digunakan untuk membuat korelasi batuan
dari beberapa sumur yang berdekatan.Persamaan dasar yang digunakan dalam
interpretasi kurva SP log:

Keterangan:
SSP = Static spontaneous potensial, mv
Rmfe = resistivitas filtrat lumpur, ohm-meter
Rw = resistivitas air, ohm-meter
T = temperatur formasi, F
37

Gambar 3.7.
Presentasi spontaneous potensial3)

Gamma Ray Log


Gamma Ray log adalah suatu kurva yang menunjukkan besaran intensitas
radioaktif yang ada dalam formasi. Prinsip kerja dari gamma ray log, yaitu alat
mula-mula dimasukkan sampai ke dasar lubang bor, hal ini dilakukan untuk
mengecek supaya tidak terjadi hambatan atau sangkutan. Kemudian alat ditarik ke
atas secara perlahan-lahan dan detektor menangkap radiasi sinar radioaktif
alamiah yang dipancarkan batuan formasi. Di dalam detector sinar radioaktif
(sinar gamma) tidak dapat diukur secaranlangsung tetapi melalui proses ionisasi
(pelepasan elektron-elektron dari atom yang sebelumnya netral, dimana pelepasan
elektron ini akan menimbulkan arus listrik yang dideteksi oleh alat). Sinar
radioaktif disebabkan oleh disintegrasi unsur-unsur radioaktif, seperti: Uranium
, Thorium , Potassium . Fungsi dari gamma ray log, antara
lain:
1. Membedakan lapisan shale dan non shale pada sumur open hole atau
closed hole dan juga pada kondisi ada lumpur maupun tidak.
38

2. Sebagai pengganti SP log untuk pendeteksian lapisan permeable, karena


untuk formasi yang tidak terlalu resesif hasil SP log tidak
akurat.
3. Untuk korelasi batuan
4. Untuk mengetahui prosentase kandungan shale pada lapisan permeable
5. Untuk mendeteksi mineral-mineral radioaktif
6. Untuk menentukan kedalaman perforasi yang telah diinjeksi air

2. Resistivity Log
Resistivity tool digunakan untuk mengukur tahanan batuan formasi untuk
mengindikasi zona permeabel, yang mana tahanan ini bergantung pada porositas
efektif , salinitas air formasi, dan banyaknya hidrokarbon dalam pori-pori batuan,
jenis log yang digunakan yaitu: dual induction log dan dual laterolog.
Induction Logs
Induction log melihat konduktivitas dari formasi yang mana merupakan
kebalikan dari resistivitas. Prinsip kerja dari induction log dapat dilihat pada
Gambar 3.8.

Gambar 3.8.
Rangkaian induction log3)
39

Sebuah arus konstan dengan frekuensi tertentu diberikan ke transmitter


coil. Sehingga menghasilkan medan elektromagnetik yang menyebabkan arus
bolak-balik (foucault atau arus eddy) untuk mengalir didalam lingkupan medium.
Arus ini menghasilkan medan elektromagnetik yang mempengaruhi voltage
(tegangan) pada receiver coil. Tegangan ini sebanding dengan konduktivitasnya.
Dan dari tegangan (voltage) konduktivitas formasi dan kemudian resistivitasnya
dapat ditentukan dari presentasi yang diperlihatkan pada log. Kondisi optimum
dari induction log ini adalah sebagai berikut:
1. Kondisi ketika dan
2. Dapat bekerja pada kondisi oil base (nonconductive) mud atau pada
lubang kosong.
3. Kecepatan logging 5000-6000 ft/hr.
4. Pada kondisi open hole
Laterolog
Laterolog menggunakan multi elektrode untuk memancarkan arus survei
secara menyamping melalui lumpur dan adjacent formation. Keuntungannya
mempunyai kemampuan untuk beroperasi pada salt mud, baik untuk menjelaskan
formasi tersebut.
Gambar 3.9 adalah skema dari sistem ini. Bagian utama pada alat
terdapat 9 elektroda yang memberikan kurva resistivitas deep ( ) dan shallow
( . Pada bagian bawah alat terdapat MSFL (microspherically Focused Log)
yang memberikan kurva resistivitas flushed zone ( ). Hubungan empat lengan
yang mendukung MSFL memberikan kurva caliper dan juga menyentralisasikan
bagian bawah alat.Bagian atas alat disentralisasikan oleh centralizer yang lain.
Kondisi optimum dari induction log ini adalah sebagai berikut:
1. Bekerja pada kondisi dimana < dan > 200 ohmm
2. Quick look saturasi hidrokarbon dan indikasi minyak dapat diketahui
3. Kecepatan logging 5000-6000 ft/hr
40

Gambar 3.9.
Rangkaian Laterolog-Rxo log3)

3. Log Porosity
Log Porosity digunakan untuk mengukur harga porositas pada batuan
formasi. Ada tiga jenis alat yang digunakan yaitu density log, neutron log, dan
sonic log.Setiap log tidak hanya merspon terhadap jenis matriks
batuan.Kombinasi dari log-log ini sangat penting untuk kondisi-kondisi tertentu.
Density Log
Density Log melihat densitas formasi dengan mengukur besarnya sinar
gamma antara sumber dan detektor. Gambar 3.10 menunjukkan bagian-bagian
dari alat log Density. Sebuah sumber dan dua detektor dipasang dengan panjang
sekitar 3 ft yang berada di lubang bor dengan lengan penyangga pada bagian
belakang.
Sinar gamma dipancarkan terus menerus dari sumber (dengan tipe 0.66
mev,dari disalurkan dalam formasi. Dalam formasi sinar gamma
mengalami banyak tubrukan dengan elektron yang menyebabkan kehilangan
energy dan menyebar ke segala arah. Hal ini tergantung pada densitas elektron
41

dari formasi (jumlah elektron per cc), yang berhubungan dengan densitas bulk. Ini
adalah standard dari penentuan density.
Fungsi density log, antara lain:
1. Untuk mengkur porositas batuan
2. Untuk mengidentifikasi mineral batuan
3. Untuk mengevaluasi shally sand dan lithologi yang kompak

Gambar 3.10.
Rangkaian density log3)

Porosity dapat ditentukan dari densitas bulk. Untuk formasi dengan matrik
(atau grain) densitas ,, densitas , dan porositas , densitas batuan
(bulk), , diberikan dengan persamaan :

Porositas dihitung dengan:

Densitas matrik, gr/cc;


= 2.65 untuk sand,sandstone, dan kwarsa
42

= 2.68 untuk limey sand atau sandy lime


= 2.71 untuk limestone
= 2.87 untuk dolomite
Densitas fluida tergantung dari mud filtrate:
= 1.0 untuk fresh mud
= 1.0 + 0.73 N untuk salt mud
dimana N adalah konsentrasi sodium cloride,ppm x
Porosity juga dapat ditentukan dari Gambar 3.11,yang menyertakan solusi
grafik dari persamaan .Densitas batuan pada sumbu x dan porositas pada sumbu y.

Gambar 3.11.
Penentuan porositas dari densitas batuan3)

Neutron Log
Log ini dapat digunakan pada cased hole maupun open hole, umumnya
digunakan pada open hole dan dapat digunakan untuk semua jenis lumpur. Fungsi
dari Neutron log, antara lain:
1. Untuk menentukan porositas total
2. Untuk mendeteksi adanya formasi gas setelah dikombinasikan dengan
porosity tool
43

3. Untuk penentuan korelasi batuan


Prinsip kerjanya neutron log akan memancarkan neutron terus menerus
(dari americum dan berylium). Neutron-neutron ini akan bertabrakan dengan
atom-atom dari formasi dan mengakibatkan neutron akan kehilangan sebagian
energinya. Karena massa atom hidrogen sama dengan neutron, karena hidrogen
berada dalam formasi berada di por-pori yang terisi fluida, kehilangan energi akan
berhubungan dengan porositas formasi.Skema neutron log dapat dilihat pada
Gambar 3.12.

Gambar 3.12.
Skema neutron log3)

Pengaruh adanya shale dalam batuan dapat dituliskan oleh persamaan :

Dimana :
= Pembacaan Neutron Log (%).
= Porositas Neutron Log yang sebenarnya (%).
Vclay = Kandungan clay dalam batuan (%).
= Pembacaan Neutron Log pada formasi shale 100 % (%).
44

Sonic Log
Sonic log adalah log porositas yang mengukur interval transit time ( )
dari gelombang suara yang melewati setiap feet dari formasi. Prinsip kerja dari
sonic log, adalah sebuah transmitter melepaskan gelombang suara ke formasi ,
setelah melewati formasi diterima dua receiver. Perbedaan waktu tiba gelombang
(two way travel time = ) diukur dan dibagi dengan jarak ( ). Nilai besarnya
(interval transit time- ) yang melalui beberapa matriks dapat dilihat pada tabel
berikut ini dan skema sonic log dapat dilihat pada Gambar 3.13. :

Gambar 3.13.
Sistem dasar sonic log3)

Persamaan porositas diberikan sebagai berikut:

Keterangan:
t = travel time dari batuan berpori, s/ft
= porositas sonic, fraksi
tf = travel time fluida, s/ft
tma = travel time matrik, s/ft
45

Penentuan porositas dapat ditentukan juga dengan menggunakan Gambar


3.14 dimana sumbu x adalah interval transit time dan sumbu y adalah porositas.

Gambar 3.14.
Grafik porositas vs interval transit time3)

3.2.2. Data Test


Pengambilan data tekanan versus waktu dapat dilakukan dengan beberapa
cara,salah satunya dengan menggunakan peralatan DST (drill stem test).
Penentuan zona test didasarkan dari analisa cutting dan logging. Untuk melakukan
zona pengetesan tersebut drill stem test dirangkai dengan drill string yang
kemudian diturunkan sampai zona tes.DST ini merupakan temporary completion
dan zona test diisolir untuk menghilangkan pengaruh tekanan hidrostatik
lumpur,sehingga memungkinkan fluida formasi mengalir melalui drill pipe dan
secara kontinyu mencatat tekanan selama tes.
Prosedur tes DST umumnya meliputi suatu periode mula-mula yang
pendek (the initial flow period), suatu periode penutupan mula-mula yang pendek
(the initial build up period), suatu periode aliran kedua yang panjang (the secound
46

flow period), dan suatu periode penutupan akhir yang panjang (the final build up
period). DST dilakukan hanya pada satu periode yaitu satu periode pengaliran dan
penutupan, cara ini disebut satu cycle. Dan jika tes ini meliputi tahapan the
initial build up dan the final build up, disebut dua cycle. Pada DST dapat
dilakukan lebih dari dua cycle tetapi yang paling umum dilakukan di lapangan
adalah dua cycle.
Peralatan tes DST yang dirangkai pada drill string merupakan satu
rangkaian seperti ditunjukkan pada Gambar 3.15. Hasil pencatatan tekanan
versus waktu secara skematik dapat dilihat pada Gambar 3.16. Periode A-B
memperlihatkan terjadinya pertambahan tekanan hidrostatik kolom lumpur
sewaktu alat diturunkan mencapai dasar lubang bor. Periode B-C menunjukan
bahwa telah terjadi kenaikan tekanan yang disebabkan oleh kerja packer pada
interval tes sehingga lumpur di dalam annulus akan terkompresi. Periode C-D
memperlihatkan kelakuan tekanan sewaktu alat bekerja dan membebaskan fluida
formasi kedalam alat. Periode D-E menyatakan suatu periode tekanan build-up
dimana dimulai pada saat alat sudah menutup. Periode G-H sumur dibuka untuk
aliran kedua (the secound flow period) dan diikuti periode H-I penutupan tahap
akhir.

Gambar 3.15.
Rangkaian Peralatan DST4)
47

Gambar 3.16.
Skema Pencatatan DST5)

3.2.3. Data Produksi


Data produksi yang dibutuhkan antara lain adalah:
Qo ,Qw ,Qg
Kumulatif produksi (NP)
Gas-Oil Ratio (GOR), Water-Oil Ratio (WOR)

3.3. Aliran Fluida Dalam Media Berpori


Dasar dari Pressure Transien adalah persamaan-persamaan dasar yang
menerangkan aliran fluida dalam media berpori. Konfigurasi lubang bor
menembus formasi serta geometri dan karakteristik reservoirnya menyebabkan
pola aliran fluida yang terjadi berbeda, seperti: pola aliran radial, pola aliran linier,
pola aliran spherical, aliran bilinier, aliran semi linier dan gradien flow model.
Aliran-aliran tersebut dapat dilihat pada Gambar 3.17. Pola-pola aliran fluida
dalam media berpori ke lubang sumur dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
sifat fisik dari batuan formasi dan sifat fisik dari fluida formasi. Apabila
perubahan tekanan diplot sebagai fungsi waktu akan diperoleh pola aliran yang
terjadi dan juga besaran karakteristik reservoirnya.
48

Gambar 3.17.
Idealisasi Beberapa Pola Aliran Yang Terjadi Di Reservoir1)

Pola aliran yang umumnya digunakan untuk menggambarkan aliran fluida


dalam media berpori adalah aliran radial. Pada reservoir dengan pola aliran radial,
persamaan differensialnya diturunkan berdasarkan prinsip-prinsip :
Hukum Darcy
Persamaan Kontinuitas
Persamaan Keadaan

3.4. Landasan Teori Pressure Build up Testing


Pressure Build up Testing adalah pengujian yang pertama-tama dilakukan
dengan memproduksikan sumur selama suatu selang waktu tertentu dengan laju
aliran yang tetap,kemudian menutup sumur tersebut.
Dasar analisa pressure build up ini diajukan oleh horner, yang pada
dasarnya adalah memplot tekanan terhadap suatu fungsi waktu. Prinsip yang
mendasari analisa ini yaitu yang terkenal dengan prinsip superposisi
(superposition principle).
Dari tekanan yang didapat, kemudian dapat ditentukan permeabilitas
effektif formasi, daerah pengurasan saat itu, adanya faktor skin, batas reservoir
49

bahkan keheterogenitasan suatu formasi.Penggunaan prinsip Superposisi untuk


aliran yang bervariasi selama interval waktu t, dengan laju produksi qi
penurunannya adalah:

Pada laju waktu t1, laju produksi naik sebesar (q2 q1) kenaikan ini
menyebabkan bertambahnya kehilangan tekanan. Maka tekanan selama periode t 1
dapat dihitung, yaitu dengan menjumlahkan kehilangan tekanan yang disebabkan
oleh kenaikkan laju produksi sebesar (q2 q1) pada saat dimulai t1 dapat dihitung.
Secara matematis dapat dijabarkan sebagai berikut:
Untuk : 0 t t1

Untuk : t1 t,

Dimana persamaan ini dapat berlaku untuk q1 lebih besar daripada q2 atau
q2 lebih kecil dari q1. Untuk menetukan gradien tekanan selama periode awal (t
t1) adalah:

Untuk periode kedua (t1 t t2) adalah :

Pada waktu t2 laju produksi berubah dari q2 menjadi q1, maka penambahan
penurunan tekanan selama periode dua, dapat dihitung yaitu dengan
menjumlahkan kehilangan tekanan yang disebabkan oleh kenaikkan laju produksi
sebesar (q3 q2).
Untuk periode ketiga (t1 < t < t1) adalah:
50

Sehingga untuk perubahan laju produksi yang terjadi sebanyak n kali, akan
memberikan hubungan sebagai berikut:

atau secara umum dinyatakan :

Persamaan (3-13) merupakan bentuk umum dari persamaan aliran untuk


laju produksi yang berubah-ubah dengan menggunakan prinsip superposisi.
Setelah memahami prinsip superposisi diatas,selanjutnya pembicaraan pressure
build up tes akan lebih mudah dimengerti.Suatu sejarah produksi yang
diperlihatkan oleh Gambar 3.18 ,mula-mula sumur diproduksikan dengan laju
tetap, q, selama waktu tp. Kemudian sumur ditutup selama waktu .

Gambar 3.18.
Idealisasi sejarah laju alir dan tekanan untuk pressure build up1)
51

Kemudian Persamaan (3-14) disusun menjadi :

atau:

Keterangan :
Pws = Tekanan Dasar Sumur, Psia
Pi = Tekanan Initial, Psia
q = Laju Alir Fluida, Bbl/D
= Viskositas Fluida, cp
B = Faktor Volume Formasi, RB/STB
k = Permeabilitas, mD
h = Tebal Lapisan Produktif, ft
t p t
= Horner Time, Hours
t
Persamaan (3-15) dan (3-16) memperlihatkan bahwa Pws shut-in BHP,

yang dicatat selama penutupan sumur, apabila diplot terhadap log

merupakan lurus dengan kemirungan :

Keterangan :
m = Slope/Kemiringan Psia/cycle
q = Laju Alir Fluida, Bbl/D
= Viskositas Fluida, cp
B = Faktor Volume Formasi, RB/STB
52

k = Permeabilitas, mD
h = Tebal Lapisan Produktif, ft
Pengujian yang ideal dapat dilihat dari Gambar 3.19. Kemudian
permeabilitas k,dapat ditentukan dari slope m, sedangkan apabila garis ini
diekstrapolasi keharga Horner Time sama dengan 1 (ekuivalen dengan
penutupan sama dengan tekanan awal reservoir tersebut).
Sesaat sumur ditutup akan berlaku hubungan :

Pada saat waktu penutupan = , berlaku hubungan :

Kalau Persamaan (3-18) dan (3-19) dikombinasikan,dapat dihitung faktor skin,


S, sehingga :

Didalam industri perminyakan dipilih = 1 jam sehingga PWS pada


Persamaan (3-20) menjadi P1jam. P1jam ini harus diambil pada garis lurus atau

garis ekstrapolasinya. Kemudian faktor log dapat diabaikan sehingga :

Keterangan :
S = Faktor Skin
P1jam = Tekanan pada Waktu 1 jam, Psia
Pwf = Tekanan Alir Dasar Sumur, Psia
= Porositas, fraksi
53

= Viskositas Fluida, cp
ct = Kompressibilitas Total Batuan, 1/Psia
rw = Jari-jari Sumur, ft
Apabila S :
Berharga positif (+) berarti ada kerusakan (damage) yang pada umumnya
dikarenakan adanya filtrat lumpur pemboran yang meresap ke dalam
formasi atau mud cake di sekeliling lubang bor pada formasi produktif
yang kita amati.
Berharga negatif () berarti menunjukkan adanya perbaikan, yang biasanya
terjadi setelah dilakukan pengasaman atau suatu perekahan hidraulik.
Akibat adanya skin menyebabkan terjadinya hambatan aliran fluida disekitar
lubang bor. Hambatan tersebut akan menyebabkan terjadinya penurunan tekanan,
PS.

Karena slope m terletak pada garis segmen waktu pertengahan, Persamaan (3-25)
akan menjadi :

Keterangan :
Ps = Penurunan tekanan akibat skin, psi
m = Slope/kemiringan, psi/cycle
S = Skin factor.
Sehingga besarnya produktifitas formasi (PI) dan flow efficiency (FE)
berdasarkan analisa pressure build up ini dapat ditentukan menggunakan
persamaan:

Keterangan :
PI = Productivity Index, (Bbl/D)/Psia
54

q = Laju Alir, Bbl/D


P* = Tekanan Statik Fluida, Psia
Pwf = Tekanan Alir Fluida, Psia
Ps = Kehilangan Tekanan akibat adanya Skin, Psia
Dan

Keterangan :
J = Productivity index, Bbl/D/psi
q = Laju aliran, Bbl/D
P* = Tekanan statik reservoir, psi
Pwf = Tekanan dasar lubang bor. Psi
Ps = Kehilangan tekanan akibat adanya skin, psi
FE = Flow efficiency, %.
Sedangkan untuk mengetahui besarnya radius of investigation (ri) dapat
ditentukan menggunakan Persamaan :

Keterangan :
ri = Radius Investigation, ft
k = Permeabilitas, mD
t = Waktu Penutupan, jam
= Porositas, fraksi
= Viskositas Fluida, cp
ct = Kompresibilitas Batuan, 1/Psia
Untuk reservoir yang bersifat infinite acting, tekanan rata-rata reservoir ini
adalah P* = Pi = Pave.
55

Gambar 3.19.
Sejarah Laju Alir untuk Ideal Pressure Buildup Test 1)

3.4.1. Pressure Build Up yang Ideal


Seperti terlihat pada Persamaan sebelumnya, plot antara Pws vs log
t p t
merupakan garis lurus. Ini merupakan hal yang ideal tanpa adanya
t
pengaruh awal dari wellbore storage terlihat pada Gambar 3.20.

Gambar 3.20.
Pressure Build Up Pada Kondisi Ideal 1)

3.4.2. Pressure Build Up Actual


Pada kenyataan yang sebenarnya, kurva respons tekanan didalam horner
plot munkin tidak sesederhana seperti contoh diatas. Banyak faktor yang
56

mempengaruhi bentuk kurva tersebut. Untuk lebih jelasnya, Gambar 3.21


menunjukkan bentuk kurva horner yang sering terjadi dari suatu hasil pengujian
dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu: segmen data awal (early times), segmen
waktu tengah (middle times) dan waktu lanjut (late times).
Adanya penyimpangan dari garis lurus horner (segmen waktu tengah dapat
disebabkan oleh banyak hal. Secara skematis, Gambar 3.22 mengilustrasikan
berbagai macam faktor yang menyebabkan terjadinya penyimpangan pada
segmen-segmen data awal dan data waktu lanjut. Misalnya segmen data awal
dipengaruhi oleh :wellbore storage, faktor skin, phase segregation (gas hump.
Sedangkan waktu lanjut dipengaruhi oleh batas reservoiir, pengaruh sumur-sumur
produksi atau injeksi disekeliling sumur yang diuji, dan lain-lain.

Gambar 3.21.
Grafik Pressure Build-up Test Sebenarnya 1)
57

Gambar 3.22.
Karakter pada Pressure Build-up Test 1)

3.4.3. Karakteristik Pressure Build Up


Karakteristik kurva Pressure Buildup Test dapat menggambarkan bagian-
bagian dari ulah tekanan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 3.21.
Dari gambar tersebut terlihat bahwa ulah tekanan dapat dibagi menjadi tiga bagian
yang meliputi :
1. Segmen Data Awal (Early Time)
2. Segmen Data Tengah (Middle Time)
3. Segmen Data Lanjut (Late Time)

1. Segmen Data Awal (Early Time)


Mula-mula sumur ditutup, tekanan memasuki segmen data awal, dimana
aliran didominasi oleh adanya pengaruh wellbore storage, skin dan phase
segregation (gas hump). Bentuk kurva yang dihasilkan oleh bagian ini merupakan
58

garis melengkung pada kertas semilog, dimana mencerminkan penyimpangan


garis lurus akibat adanya kerusakan formasi disekitar lubang sumur atau adanya
pengaruh wellbore storage seperti terlihat pada Gambar 3.22.
2. Segmen Waktu Pertengahan (Middle Times)
Dengan bertambahnya waktu, radius pengamatan akan semakin jauh
menjalar kedalam formasi. Dan ketika pengaruh dari segmen data awal berhenti
(end of wellbore storage),akan didapatkan garis lurus yang ideal. Dengan garis
lurus ini dapat ditentukan beberapa parameter reservoir yang penting, seperti:
kemiringan garis atau slope (m), permeabilitas effektif (k), storage capacity (kh),
faktor kerusakan formasi (s) dan tekanan rata-rata reservoir.Garis lurus ini akan
berlanjut hingga jari-jari pengamatan tercapai atau lebih hingga reservoir
boundaries, massive heterogenity.
3. Segmen Waktu Lanjut (Late Times)
Bagian akhir dari suatu kurva setara tekanan adalah bagian waktu lanjut
(late times) yang ditunjukkan dengan berlangsungnya garis lurus semilog
mencapai batas akhir sumur yang diuji dan adanya penyimpangan kurva garis
lurus. Hal ini disebabkan karena respon tekanan sudah dipengaruhi oleh kondisi
batas reservoir dari sumur yang diuji atau pengaruh sumur-sumur produksi
maupun injeksi yang berada disekitar sumur yang diuji.

3.4.4. Faktor Yang Mempengaruhi Kurva Tekanan


Pada kenyataannya kurva respon tekanan tidaklah ideal. Banyak faktor
yang mempengaruhi bentuk kurva tersebut. Adanya penyimpangan dari asumsi-
asumsi yang berbeda dari kondisi idealnya. Sebenarnya disinilah letak manfaat
dari asumsi-asumsi yang diberikan, karena terjadinya anomali kurva respon
tekanan yang akan memberikan gambaran adanya kelainan. Faktor tersebut antara
lain adalah pengaruh wellbore storage, redistribusi fasa dalam lubang bor maupun
heterogenitas reservoir.
1. Wellbore Storage
Wellbore storage menyebabkan beberapa masalah, salah satunya dalam
penentuan middle time region (MTR). Penentuan garis MTR sangatlah penting
59

untuk keberhasilan analisis build-up berdassarkan pada ploting Pws vs log


(tp+ . Dari garis MTR tersebut untuk mengestimasi harga permeabilitas
reservoir, skin faktor, dan tekanan reservoir. Oleh karena itu perlu diketahui
waktu wellbore strorage berakhir
Adapun rangkaian pengerjaan analisa pressure buildup dapat dilakukan
sebagai berikut :
1. Membuat plot log P = (Pws Pwf) versus log t seperti terlihat pada
Gambar 3.23.
2. Wellbore Storage effect terlihat dengan adanya unit slope yang dibentuk
oleh data awal. Dari unit slope tersebut dapat diperkirakan Wellbore
Storage coeficient (CS) di dalam satuan.

dimana :
q = laju aliran STB/D
B = Oil formation volume factor, bbl/STB
t = waktu, jam
P = tekanan, psia
dimana t dan P tersebut berasal dari sembarang titi yang dipilih pada
unit slope.
3. Dari titik data yang mulai meninggalkan unit slope kemudian diukur 1 atau
1.5 log cycle. Data yang terletak di luar jarak tersebut adalah data yang
bebas dari pengaruh Wellbore Storage.
4. Seperti biasa buat Horner plot, (t + t) / t versus Pws. Horner straight
line dibentuk dari titik-titik data yang bebas dari Wellbore Storage di atas.
Kemudian berdasarkan garis lurus yang berbentuk tersebut dianalisa
harga-harga k, P*, S dan FE seperti contoh terdahulu.
60

Gambar 3.23.
Wellbore Storage 5)

2. Redistribusi Fasa Dalam Lubang Bor


Fenomena redistibusi fasa dalam lubang bor terjadi ketika penutupan sumur
dipermukaan dimana gas, minyak dan air mengalir bersama-sama didalam tubing.
Adanya pengaruh gravitasi, cairan akan bergerak kebawah sedangkan gas akan
bergerak naik ke permukaan. Oleh karena cairan yang relatif tidak dapat bergerak
serta gas tidak dapat berkembang didalam sistem yang tertutup ini, redistribusi
fasa ini akan menambah kenaikkan tekanan pada lubang bor sehingga dapat
mencapai keadaan yang lebih tinggi dari tekanan formasinya sendiri, yang
kemudian disebut Gas Hump seperti terlihat pada gambar 3.24. tekanan naik
sampai titik maksimum kemudian mengalami penurunan.
61

Gambar 3.24.
Gas Hump Pada Sumur Setelah Penutupan 1)

Stegeimer dan Matthews menyelidiki perilaku gas hump baik secara teoriti
maupun laboratorium dan menunjukan bahwa perilaku ini disebabkan oleh adanya
pemisahan minyak dan air dalam tubing dan casing ketika terjadi shut-in naiknya
gelembung-gelembung gas akan meningkatkan tekanan pada dasar lubang.
Adanya gas dalam jumlah besar akan mendorong cairan secara paksa kembali ke
formasi.

3. Heterogenitas Reservoir
Salah satu sifat heterogenitas reservoir yang mempengaruhi bentuk kurva ulah
tekanan untuk uji sumur adalah ketidakseragaman permeabilitas. Pengecilan
permeabilitas dapat disebabkan oleh penyumbatan dari scale atau kotoran,
maupun hydrasi clay dan swelling, sedangkan pembesaran permeabilitas dapat
disebabkan oleh adanya stimulation pada sumur seperti pengasaman ataupun
hydraulic fracturing.

3.4.5. Karakteristik Kurva Pressure Build-Up Reservoir Rekah Alami


Karakteristik kurva PBU pada reservoir rekah alami dapat digambarkan bagian
bagian dari ulah tekanan,pada Gambar 3.25 ulah tekanan dapat dibagi menjadi
tiga tahap yaitu :
62

1. Pada tahap awal dari build-up diperlihatkan dari gari lurus terjadi
penambahan fluida kedalam rekahan.
2. Selama tahap kedua garis lurus (quasi constant pressure vs waktu)
menunjukkan aliran dari fluida rekahan ke dalam matrik.
3. Selama tahap ketiga seluruh reservoir berkelakuan seperti reservoir
homogen, dan kelakuannya kembali membentuk garis lurus yang parallel
dengan tahap awal.

Gambar 3.25.
Tipe kurva build-up3)

3.5. Analisa Pressure Build Up


Untuk menganalisa data data hasil pengujian didasarkan pada teori analisa
ulah tekanan (Pressure Build-Up), yang dikemukakan oleh Horner, dimana untuk
memberlakukan teori ini digunakan anggapan sebagai berikut :
a. Sumur berproduksi pada laju aliran tetap dari pusat reservoir tak
terbatas dengan tekanan yang tetap pada batas luar reservoir.
b. Aliran fluida hanya satu fasa.
c. Kompressibilitas dan viscositas fluida konstan pada interval tekanan
dan temperatur yang bervariasi.
63

d. Sumur ditutup pada muka batupasir dan tidak terjadi aliran after flow
production kedalam lubang sumur.
e. Formasi mempunyai permeabilitas homogen dalam arah aliran.

3.5.1. Metode Warren-Root (Pseudo Steady State)


Ada suatu asumsi dasar yang dipakai oleh Warren dan Root dalam
memecahkan persoalan rekah alami, yaitu mereka menganggap bahwa aliran dari
matrik ke fracture ada dibawah kondisi pseudo steady state. Begitu terjadi
penurunan tekanan pada fracture (karena fluidanya mengalir ke lubang sumur),
maka segera tekanan pada setiap titik pada matriks akan turun mencapai suatu
tekanan rata-rata dengan membebaskan fluidanya kedalam fracture. Adapun
persamaan differensial parsial yang menerangkan sistem ini adalah:

Keterangan:
= storage capacitance coefficient
=
= interflow porocity coefficient

= porositas rekahan
= kompressibilitas rekahan
= porositas matrik
= kompressibilitas matrik
= shape factor
km = permeabilitas matriks (core)
kf = permeabilitas rekahan
Apabila semakin kecil harga maka storage capacity matriksnya semakin
besar artinya fluida banyak terdapat pada matriks. Semakin besar harga ( ~ 1),
maka fluida banyak terdapat di rekahan. Apabila semakin kecil harga maka
64

semakin kecil harga permeabilitas matriksnya da kemampuan fluida akan sulit,


begitu sebaliknya. Persamaan (3-31) dan (3-32) ini mempunyai solusi untuk
reservoir yang infinite acting sebagai berikut:

Saat harga t kecil, maka harga Ei pada Persamaan (5-32) dapat ditiadakan.
Dimana harga Ei kedua berharga konstan, sehingga plot antara Pws terhadap log
menghasilkan garis lurus yang mempunyaikemiringan (slope ,m).
Sedangkan parameter dapat dihitung dengan mengukur beda tekanan secara
vertical dari segmen garis lurus pertama dengan segmen garis lurus terakhir ( ),
dan memasukinya ke persamaan :

Keterangan :
jarak vertikal antara slope awal dengan slope akhir
slope garis lurus segmen awal.. .
Tahapantahapan interpretasi Pressure Build Up Test dengan menggunakan
metode Warren-Root berdasarkan pada metode Horner adalah sebagai berikut :
1. Siapkan data data pendukung, antara lain :
- Kumulatif Produksi
- Produksi Harian sebelum Test
- Porositas
- Kompressibilitas Batuan
- Jarijari Sumur
- Faktor Volume Formasi
- Viskositas fluida
- Ketebalan Lapisan Produktif
2. Hitung berapa lama sumur telah diproduksikan dengan rumus :
65

Np, kumulatif produksi, STB


tp 24 jam
qlast, produksi rata - rata terakhir sebelum test, STB/day

3. Buat tabel data uji tekanan dasar sumur (Pws), waktu penutupan (dt), ((tp +
dt)/ dt), dan Pws Pwf, dimana Pwf adalah tekanan dasar sumur pada waktu t =
0.
4. Plot antara log P = (Pws Pwf) vs log t pada kertas log-log. Garis lurus
dengan kemiringan 45 (slope = 1) pada data awal menunjukkan adanya
pengaruh wellbore storage. Dari garis ini, tentukan titik awal penyimpangan
dan ukur 1 1,5 cycle dari titik tersebut untuk menentukan awal dari tekanan
yang tidak terpengaruh oleh wellbore storage.
5. Hitung wellbore storage coefficient (cs) dalam satuan Bbl/Psia dengan
menggunakan Persamaan (3-27)

6. Plot Horner antara Pws vs log


7. Dari plot Horner tersebut dapatkan harga-harga slope garis lurus segmen awal
( m), jarak vertikal segmen akhir dan awal ( ).
8. Ekstrapolasikan garis lurus segmen akhir ke harga log
sehingga didapat harga tekanan awal reservoir (P*) dan Pws pada saat satu
jam ( ).
9. Berdasarkan kemiringan (slope,m) tentukan permeabilitas berdasarkan
kemiringan (slope,m) segmen garis pertama, tentukan permeabilitas rekahan
(kf), yaitu :

10. Tentukan besarnya skin faktor (S) dengan persamaan :

11. Hitung besarnya harga storage capacity ( )


66

12. Tentukan harga koefisien aliran antara porositas (), tarik garis horisontal
melalui tengah-tengah zona transisi. Waktu pada perpotongan garis ini
dengan garis lurus semilog yang pertama dan kedua adalah t1 dan t2.
Interporosity flow coefficient, , dapat dihitung oleh:

dimana eksponential dari konstanta Euler ( = 1.781). Harga ( dan


( diperoleh dari metode yang konvensional. Dari porosity log dapat
dibaca porositas matrik, . Sedangkan ( dihitung dari coSo, cgSg,
cwSw,dan cf. Harga Vma fraksi dari total sistem yang berupa matriks jauh lebih
besar dari fraksi rekahan sehingga dianggap sama dengan 1. Kemudian
(Vct)f dapat dihitung dengan persamaan :

13. Hitung ri (radius of investigation) dengan rumus,

14. Hitung Flow Efficiency (FE) dengan Persamaan (3-25)

Keterangan :
FE < 1 menunjukkan permeabilitas formasi disekitar lubang sumur
mengecil akibat adanya kerusakan.
FE > 1 menunjukkan permeabilitas formasi disekitar lubang sumur
telah diperbaiki dan harganya lebih besar dari harga semula..
67

15. Hitung Productivity Index (PI)

3.6. Analisa Pressure Derivative


Pada tahun 1980 muncul suatu instrumen yang berevolusi tinggi karena
lebih unggul dengan menggunakan media elektronik. Instrumen ini membantu
kita untuk memperoleh tekanan yang lebih teliti dibandingkan instrumen standart
bourden tube yang telah digunakan sejak tahun 1930. Revolusi ini dikenal dengan
Pressure Derivative yang akhir-akhir ini sering digunakan daripada analisa
lainnya. Pada masa sekarang, derivative digunakan secara rutin dalam
menganalisa pengukuran tekanan. Metode ini pertama kali diperkenalkan pada
buku Ground Water Hydrologi oleh Chow (1952). Di dalam industri
perminyakan, metode derivative pertama kali diaplikasikan dan diperkenalkan
oleh Jones (1957). Dia tertarik pada kontak fluida dan keberadaan dari batas. Pada
tahun 1962, ia melanjutkan idenya untuk uji batas reservoir. Carter (1966)
menggunakan gagasan Jones untuk menghitung volume reservoir. Prasad (1979)
telah menghitung volume reservoir dengan menggunakan analisa PBU. Alasan
penggunaan pressure derivative adalah pada penentuan akhir dari efek wellbore
storage dengan menggunakan metode analisa Horner tidak dapat memberikan
harga yang tepat dan juga metode analisa Horner tidak bisa memberikan hasil
yang akurat apabila digunakan untuk menganalisa reservoir yang kompleks. Pada
metode Horner, penentuan akhir dari efek wellbore storage ditandai dengan
perubahan deviasi (pembelokan) pada kurva tekanan atau yang biasa disebut
dengan unit slope, kemudian unit slope ini ditambahkan dengan satu setengah
cycle.
Umumnya plot kurva pressure derivative terdiri dari dua bagian seperti
yang terlihat pada Gambar 3.26. Bagian pertama, merupakan plot antara kurva
beda tekanan penutupan (Pws) dengan tekanan aliran dasar sumur (Pwf) yang
dinyatakan dengan P terhadap waktu penutupan (t) pada kertas grafik log-log.
Plot kurva pertama ini bertujuan untuk mengetahui flat curve dan akhir efek
68

wellbore storage. Bagian kedua merupakan plot antara unit slope (m) terhadap
waktu penutupan (t) juga pada kertas grafik log-log.
P f(In H) ..............................................................................................(3 - 35)
Jika Pws dinyatakan sebagai :
qB
Pws Pi 70.6 ln (H) ...................................................................(3 - 36)
kh
Persamaan diatas didentik dengan persamaan garis lurus :
y = a + mx ..............................................................................................(3 - 37)
Harga slope (m) didapatkan melalui cara statistik least square yang merupakan
garis seminimum jumlah pangkat dua, dengan syarat: untuk menimunisasi fungsi,
turunan pertama terhadap a (Pi) sama dengan nol dan turunan pertama terhadap
slope (m) juga sama dengan nol. Slope suatu garis berdasarkan superposisi titik
sebelumnya dinyatakan :

n (ln H 1 P1 ) ( P1 ) ln( H 1 )
m ................................................(3 - 38)
ln( H ) n ln( H 1 )
2 2
1

Keterangan :
P1 = Tekanan penutupan dari data ke 1, psi
H1 = (tp+t)/t) waktu horner untuk data ke 1
m = Slope curve
a = Tekanan initial, psi
n = Jumlah data.
69

Gambar 3.26.
Pressure Derivative9)

Jika respon tekanan pada reservoir mencapat batas, umumnya derivative


plot cenderung menunjukan penurunan tren bahkan untuk sifat pseudosteady
state. Untuk waktu produksi sumur yang singkat, kurva derivative akan
menunjukan penurunan tren diakhir waktu. Apabila reservoirnya adalah infinite
acting, penurunan tren dapat dihilangkan dengan menggunakan effective time
(perlu dicatat bahwa kadang-kadang hal tersebut tidak dapat digunakan apabila
waktu produksi yang dipakai tidak valid). Jika penurunan tren tidak bisa
dihilangkan dengan menggunakan effective time, adanya kemungkinan terjadi
beberapa efek boundary tetapi efek tersebut tidak terlalu jelas. Umumnya semua
jenis boundary selalu mempengaruhi kurva derivative dengan cara yang sama.
Walaupun disuperposisi bisa membantu, solusi terbaik adalah terletak pada
informasi geologi tentang reservoir suatu daerah produksi.
70

3.6.1. Metode Bourdet (Derivative Pressure Type Curve)


Type curve dari pressure derivative dikembangkan juga untuk reservoir
dengan system double porosity, karena bentuk kurvanya memperlihatkan adanya
rekahan gambar 3.27 sehingga lebih pasti dalam menginterpretasikan data. Type
curve ini didasarkan pada persamaan model aliran liquid yang sedikit
compressible pada formasi yang homogen. Kondisi awal diasumsikan pada
tekanan yang sama sepanjang daerah pengurasan sumur pada kondisi outer
boundary diasumsikan pada tekanan yang sama sepanjang daerah pengurasan
sumur pada kondisi outer boundary diasumsikan sebagai infinite acting reservoir,
sedangkan kondisi inner boundary adalah laju alir tetap dengan pengaruh wellbore
storage dan pengaruh skin.
Dalam menganalisa data pressure build up menggunakan type curve
drawdown, telah dijelaskan bahwa harga [(tp+dt)/dt]=1, hal ini berlaku untuk
sumur gas dan minyak. Apabila harga waktu produksi(tp) kecil atau dt besar,
maka penggunaan type curve drawdown menjadi tidak berlaku. Untuk mengatasi
keterbatasan tersebut, maka agarwal merumuskan waktu baru sebagai equivalen
drawdown time, yaitu sebagai berikut:
tp
t e t ...........................( )
t p t
Untuk persamaan derivative, maka Persamaan (3-40) akan menjadi
Pws Pws
t e t e P 1 .....................................................( )
(ln t e ) (t e )
Data aktual harus di plot dte dP vs dte dan dP vs dte pada kertas grafik log-
log. Sebagai hasil match, maka dapat ditentukan hubungan antara (dte, td/Cd) dan
(dP,PD), sehingga permeabilitas formasi dapat ditentukan dari matching tekanan
dengan persamaan :

141.2qB PD
k [ ] MP .....................................................................( )
h P
Sedangkan dari match waktu, maka koefisien wellbore storage dapat ditentukan
dengan persamaan :
71


0.0002637 t e .................................................................( )
CD
C t rw2 t D MP

CD

Langkah-langkah pengerjaan untuk melakukan analisa menggunakan


pendekatan Bourdet ini adalah sebagai berikut :
1. Buat plot pada kertas log-log hubungan antara dt dP [(tp+dt)/dt] vs dt dan
plot antara dP vs dt
2. Lakukan penyesuaian atau matching terhadap kurva derivatif Bourdet
untuk plot pada langkah 1 tersebut.
3. Catat harga-harga match point yang didapat dari matching tersebut, yaitu:

P, t , PD , t D C D , C D e 2 a f m

, C D e 2s f
dari plot P VS t


C D f m 1 dari plot tP ' t p t t vs t
4. Tentukan harga-harga:

PD MP P MP , t D C D MP t MP , C D e 2 s f m C D e 2 s f

5. Tentukan permebilitas rekahan dengan menggunakan Persamaan (3-42)


6. Tentukan besarnya koefisien wellbore storage (Cs) menggunakan
persamaan:
2.95 x10 4 k f ht MP
CS
t C
D D
t
7. Tentukan koeffisien wellbore storage dimesionless (CD)f-m dengan
persamaan:

0.8936C S
C D f m
C t hrw2
8. Tentukan besarnya skin factor (S) dengan persamaan :


C D e 2 s f m
S 0.5 ln
2s
C D e f
9. Tentukan besarnya koeffisien aliran antara porositas (), yaitu:
72


1
C D f m

Gambar 3.27.
Pressure Derivative Type Curve Bourdet 6)

3.7. Metode Simulasi Munggunakan Simulator Saphir 3.20


Perangkat lunak Saphir 3.20 dikembangkan untuk menganalisa hasil uji
sumur dengan beberapa metode, diantaranya metode Horner, metode pressure
derivative dan metode lainnya. Langkah kerja analisa Pressure Build Up dengan
simulator tersebut terdiri dari empat tahapan, yaitu: inisialisasi, input data, ekstrak
Delta P dan analisis model. Hasil analisa Pressure Build Up valid, apabila tahapan
analisis dilakukan dengan benar dan semua data yang dibutuhkan benar atau valid.
1. Inisialisasi
Inisialisasi merupakan tahap awal dalam langkah kerja analisis dengan
perangkat lunak Saphir 3.20. Tahap ini terdiri dari empat bagian, yaitu : Main
Option, Information, Units dan Comments.
a. Main Option
Pada tampilan Layar Main Option pada Gambar 3.28, input data yang
dilakukan adalah jenis uji sumur, jari-jari lubang sumur (rw), ketebalan lapisan
73

produktif (h), porositas, reference time dan reference phase yang diperoleh dari
well testing data sheet.

Gambar 3.28.
Layar Main Option 13)

b. Information
Berisi keterangan tentang uji sumur yang akan dianalisis terlihat pada
Gambar 3.29, nama perusahaan yang melaksanakan, nama informasi, nama
sumur, waktu pelaksanaan PBU, jenis pressure gauge yang digunakan, kedalaman
pengukuran dan informasi yang perlu dilengkapi.
74

Gambar 3.29.
Layar Information 13)
c. Units
Tampilan layar pada Gambar 3.30. berikut berfungsi untuk memilih
satuan yang digunakan.

Gambar 3.30.
Layar Pemilihan Satuan 13)
75

d. Comments
Comment digunakan untuk memberi catatan atau note diprint out hasil
interpretasi. Pada tahapan inisialisasi ini diinput data PVT seperti: Faktor volume
formasi (Bo), viskositas fluida (o) dan kompresibilitas total (Ct) terlihat pada
Gambar 3.31.

Gambar 3.31.
Layar Input Data PVT 13)

2. Interpretasi Tahap Pertama


Setelah tahap inisialisasi, langkah selanjutnya adalah interpretasi tahap
pertama. Pada tahap ini langkah kerja yang dilakukan, yaitu : Load Q dan Load P,
Extract delta P, Generate dan Improvement
a. Load Q dan load P
Data tekanan yang didapat dari hasil pembacaan memori gauge selama
Pressure Build Up disimpan dalam format Ascii file seperti terlihat pada Gambar
3.32. sedangkan harga laju aliran (q) didapat dari kegiatan swabbing dan
diinputkan secara manual.
76

Gambar 3.32.
Layar Pemilihan Data 13)

b. Extract delta P
Setelah data tekanan dan laju alir di-input-kan, langkah selanjutnya adalah
ekstrak delta P dengan menginputkan harga smooling factor (L), jumlah filtration
dan harga Pwf pada saat sumur ditutup dt = 0 seperti pada Gambar 3.33.

Gambar 3.33.
Layar Ekstraksi Parameter Delta P 13)

Ekstraksi data tersebut akan menghasilkan log-log plot, history plot dan semi log
(superposition plot) seperti terlihat pada Gambar 3.34.
77

Gambar 3.34.
Layar Hasil Ekstraksi Delta 13)

c. Generate Model
Plot derivative yang dihasilkan dari ekstrak delta P merupakan kurva yang
menggambarkan kondisi reservoir tersebut. Oleh karena itu, model yang dipilih
harus sesuai (match). Pemilihan model dilakukan dengan membandinkan plot
derivative data lapangan dan hasil ekstraksi dengan katalg model kurva pressure
derivative yang tersedia. Adapun model tersebut, yaitu model sumur, model
reservoir dan model batas reservoir.
1. Model sumur (well models)
- Storage and Skin
- Fracture Uniform flux
- Fracture Infinite Conductivity
- fracture finite Conductivity
- Sumur Horizontal
- Limited Entry
- Changing Weilbore Storage. dapat diterapkan untuk seluruh model.
- Rate Dependent Skin, dapat diterapkan untuk semua jenis fluida.
2. Model reservoir (reservoir models)
- Homogen
78

- Double Porosity Pseudosteady State


- Double Porosity Transient
- Two Layers With Cross Flow
- Radial Composite
- Linear composite
3. Model Batas Reservoir (boundary models)
- Infinite
- Circle
- One Fault
- Intersecting Faults
- Parallel Faults
- Rectangle
- Leaky Fault
Setelah data diinput, langkah selanjutnya adalah menyelaraskan model
kurva derivative dengan plot derivative data lapangan. Caranya dengan mengubah
parameter model reservoir dan harga faktor skin atau dengan menggeser secara
langsung (drag) grafik model reservoir yang dipilih hingga berhimpit terhadap
grafik data lapangan seperti pada Gambar 3.35.

Gambar 3.35.
Layar Proses Matching 13)
79

Jika plot data derivative dan data lapangan belum selaras dengan kurva
derivative, maka dapat digunakan fasilitas KIWI (Kappa Intellegent Well Tset
Interpretation) yang berfungsi untuk mempercepat proses penyelarasan.

d. Improvement
Improvement dilakukan untuk memperbaiki hasil match antara derivative
dan data lapangan dengan model derivative yang kita pilih, terhadap mode regresi
non-linear. Kurva dapat dikatakan selaras apabila kurva derivative memiliki
bentuk yang sama dengan plot derivative dan data lapangan dimana kedua kurva
tersebut saling berhimpit. Kondisi ini menunjukan bahwa model kurva derivative
reservoir yang kita pilih sudah mendekati gambaran reservoir yangs
sesungguhnya.

3.7.1. Plot Derivative


Tabel III-2 menjelaskan perbedaan plot-plot yang digunakan untuk
maksud atau penjelasan tertentu, dan lebih banyak analisa membutuhkan
pertimbangan dari banyak plot. Pressure derivative plot adalah analisa modern
yang diperkenalkan oleh Bourdet, Douglas, dan Pirard. Keunggulan dari plot ini
adalah dapat ditampilkan dalam bentuk tunggal dengan banyak karakteristik yang
dihasilkan. Berikut model-model kurva derivative untuk beberapa kondisi
reservoir terlihat pada Gambar 3.36 sampai dengan Gambar 3.43.
80

Tabel III-2
Ringkasan Variasi Aliran Fluida 9)

Gambar 3.36.
Plot Derivative pada Aliran Radial Infinite Acting 9)
81

Gambar 3.37.
Plot Derivative pada Karakteristik Kerusakan Sumur (Positive Skin) 9)

Gambar 3.38.
Plot Derivative pada Finite Conductivity Fracture 9)

Gambar 3.39.
Plot Derivative pada Infinite Conductivity Fracture 9)
82

Gambar 3.40.
Plot Derivative pada Sistem Dual-Porosity 9)

Gambar 3.41.
Plot Derivative pada Closed Outer Boundary (Pseudosteady state) 9)

Gambar 3.42.
Plot Derivative pada Constant Pressure Boundary 9)
83

Gambar 3.43.
Plot Derivative pada Linear Impermeable Boundary 9)

3.7.1.1. Plot-Plot Derivative Untuk Buildup Test


Buildup Test pada plot-plot derivative akan selalu bernilai stabil pada
akhirnya, karena pressure derivative cenderung mendekati nol. Pressure derivative
cenderung ke bawah pada waktu akhir, walaupun rezim aliran adalah infinite-
acting terlihat pada Gambar 3.44.

Gambar 3.44.
Daerah Infinite Acting dengan Reservoir Constant Pressure Boundary 9)
84

Gambar 3.45.
Aliran Radial Pada Infinite Acting 9)

Sejak plot derivative menggunakan skala log-log, waktu effektif bisa


digunakan untuk meyelesaikan daerah aliran radial pada infinite acting,
sebagaimana diperlihatkan oleh Gambar 3.45. Waktu effektif hanya bisa
menyelesaikan plot derivative ketika periode buildup dan drawdown
memperlihatkan kelakuan semilog ( aliran radial infinite acting). Jika reservoir
sedang memberikan reaksi terhadap beberapa batas, kemudian plot derivative
sepertinya memiliki kecenderungan ke bawah untuk pseudosteady state. Gambar
3.46 dan Gambar 3.47 membandingkan reaksi buildup dan drawdown pada
closed reservoir dan reservoir dengan constant pressure boundary.
85

Gambar 3.46.
9)
Reaksi Buildup dan Drawdown pada Closed Reservoir (pseudosteady state)

Gambar 3.47.
Reaksi Buildup dan Drawdown pada Reservoir Constant Pressure Boundary 9)
BAB IV
ANALISA PRESSURE BUILD UP TEST

Bab VI ini akan membahas mengenai perhitungan analisa pressure build


up test pada sumur X-02 pada lapangan Y JOB Pertamina-Petrochina East Java.
Pada dasarnya pengujian pressure build up dilakukan dengan memproduksikan
sumur selama selang waktu tertentu dengan laju alir tetap dan kemudian menutup
sumur tersebut selama jangka waktu tertentu. Penutupan ini akan menyebabkan
kenaikan tekanan pada dasar sumur.
Analisa pressure build up ini dilakukan untuk mendapatkan parameter
berupa wellbore storage, permeabilitas efektif reservoir (K), skin (S), P* (pressure
initial), produktivity indeks (PI), dan flow effisiency (FE).
Metode yang digunakan untuk mendapatkan parameter-parameter diatas
dari analisa data pressure build up pada sumur X-02 lapangan Y adalah metode
Horner secara manual, dan dengan menggunakan simulator saphir 3.20.
Untuk data waktu penutupan dan tekanan saat dilakukan test PBU dapat
dilihat di lampiran A yang ditunjukan oleh Tabel A-4. Sedangkan untuk data
sumur, data PVT, data produksi dan data reservoir dapat dilihat pada Tabel IV-1
dibawah.

Tabel IV-1
Data Input Analisa PBU

Data Nilai Satuan

Lapisan/Formasi Tuban

Interval Perforasi 7460-7498 ft

ID casing 7 inch
Radius sumur (rw) 0.3 ft

86
87

Data Tes Produksi

Kumulatif produksi (Np) 870.166667 STB

Gas oil ratio (GOR) 657 (Mscfd/bopd)

Laju produksi minyak (qo) 1347 STBOPD

Laju produksi gas (qg) 885 MSCFD

Laju produksi air (qw) 235 STBWPD

Data Reservoir dan PVT

Porositas () 0.18 fraksi

Kompresibilitas total (Ct) 0.00005 Psi-1

o
Temperatur reservoir (Tres) 258.88 F

Tekanan reservoir (Pr) 2595.15 psia

Tekanan bubble point (Pb) 2405 psia

Tebal Lapisan (h) 140 ft

Viskositas minyak (o) 0.44 cp

FVF minyak (Bo) 1.612 bbl/STB

4.1. Analisa Presure Build up pada sumur X-02 dengan Metode Horner
secara manual
Langkah pertama dalam PBU Test dengan Metode Horner manual pada
sumur X-02 adalah menyiapkan data-data penunjang seperti yang tercantum
dalam Tabel IV-1 (data sumur, data PVT, data produksi dan data reservoir) dan
data waktu penutupan dan tekanan saat dilakukan test PBU dapat dilihat di
88

lampiran A yang ditunjukan oleh Tabel A-4. Apabila data-data tersebut telah
tersedia, hitung tp, dt, dP (Pws Pwf) dan ((tp+dt)/dt). Dari data tersebut,
kemudian plot t vs P pada kertas grafik log-log untuk menentukan End of
Wellbore Storage dan ((tp+dt)/dt) vs Pws pada kertas grafik semilog untuk
menentukan P1jam, permeabilitas, skin,PI dan FE.
Langkah dan perhitungan dapat dilihat dibawah ini:
1. Penentuan waktu tes produksi (tp)
24 kumulatif produksi( Np )
tp , jam
qlast

24 870.166667
tp 15.50408 jam
1347
2. End Off Wellbore Storage
Berdasarkan log-log antara t vs P (Pws Pwf ) pada gambar 4.1
diketahui waktu berakhirnya efek wellbore storage didapat dari titik yang
meniggalkan garis unit slope kemudian diukur 1.5 cycle, maka diperoleh end of
wellbore storage pada t = 2.5 jam.

Gambar 4.1.
Grafik Log-log pada sumur X-02
89

3. End Off Wellbore Storage pada Horners Time


Pada plot Horner time seperti pada gambar 4.2 end of wellbore storage
pada t = 2.5 jam sehingga besarnya Horners time:
Tp t 15.50408 2.5 7.20163 jam
t 2.5

Gambar 4.2
Grafik Log-log pada sumur X-02

4. Tekanan Reservoir (P*)


Harga P* didapatkan secara manual berdasarkan persamaan yang terlihat
pada gambar 4.2.. sehingga harga P* :
P* -0.18log(x) + 2595 0.18log(1)+ 2595
P* = 2595 Psi
5. Slope (m)
Berdasarkan gambar 4.2 didapatkan harga slope yaitu :
P1 -0.18log(x ) + 2595 0.18log(1) + 2595 2595 psia
P2 -0.18log(x ) + 2595 0.18log(10 ) + 2595 2594.82 psia
90

P1 - P2
m , psi/cycle
1cycle

2595 - 2594.82
m
1cycle

m 0.18 Psi/cycle

6. Permeabilitas Minyak (Ko)


Harga permeabilitas batuan dapat diperoleh dengan persamaan:

162.6 q o Bo
ko , mD
mh

162.6 1347 0.44 1.612


ko
0.18 140

k o 6164.606 mD

7. Tekanan pada saat t = 1 jam


Penentuan harga P pada waktu t = 1 jam diperlukan waktu Horners time
yang akan dipotongkan dengan garis slope. seperti yang terlihat pada gambar 4.2
yaitu:

Tp t 15.50408 1 16.50408 jam


t 1

Sehingga di dapat P1 jam = 2594.7808 Psi.

8. Harga Skin (S)


Harga skin dapat diperoleh dengan persamaan:

P1jam Pwf k
S 1.151 log 3.23
c r 2
m t w
91

2594 .7808 1823.09 6164 .606


S 1.151 log 3.23

0.18 0.44 0.00005 0.3
2
0.18

S 4922.75

9. Penurunan Tekanan sebagai Akibat Adanya Skin (Pskin)


Harga Pskin dapat diperoleh dengan persamaan:

Pskin = 0.87 x m x S

Pskin = 0.87 x 0.18 x (4922.75)

Pskin = 770.9027 Psi

10. Produktivitas Indeks (PI)


Harga PI dapat diperoleh dengan persamaan:

q
PI actual
P * Pwf
1347
PIactual
2595 1823.09

PIactual 1.74 STB / d / Psi

q
PI ideal
P * Pwf Pskin

1347
PI ideal
2595 1823.09 770.9027

PI ideal 1337 .226 STB / d / Psi

11. Flow Efficiency (FE)


Flow Efficiency merupakan besaran untuk mengetahui apakah sumur
mengalami kerusakan atau mengalami perbaikan. Bila harga PI actual < PI ideal
sumur mengalami kerusakan formasi. harga FE dapat diperoleh dengan
persamaan:
92

PI actual
FE
PI ideal

1.74
FE
1337.226

FE 0.001305

12. Radius Pengamatan (ri)


Radius pengamatan dapat diperoleh dengan persamaan:

ko t
ri 0.03
ct
6164 .606 32
ri 0.03
0.18 0.44 0.00005

ri 6695.782 ft

13. Omega ()
Dari software didapat harga omega sebesar 0.0063 selanjutnya bisa
dihitung porositas rekahannya dengan persamaan:

f Cf

f C f m C m

= 0.063
ct = 0.00005 Psi-1
Cm = 0.000004 Psi-1
Cf = 0.000046 Psi-1
m =0.18

f 0.000046
0.063
f 0.000046 0.18 0.00004
93

f 0.00105
f 0.00105
0.0058
m 0.18
Terlihat dari hasil persamaan diatas harga perbandingan porositas rekahan
dengan porositas matrik sangatlah kecil, hal ini berarti fluida hdrokarbon dominan
berada di matrik.

14. Lamda ()
Dari software didapat harga lamda sebesar 1.78E-8, kf sebesar 5960 md,
rw sebesar 0.3 ft dan re sebesar 3200 ft, maka dapat dihitung km dengan
persamaan dibawah:

a km rw2

kf
Untuk betuk vertikal silinder persamaan menjadi:
8 km rw2

rm 2 kf

= 1.78E-8

kf = 5960 md

rw= 0.3 ft

rm= 3200 ft

8 km 0.32

3200 2 5960

km 1508.807 md

Dilihat dari hasil harga permeabilitas matriknya lebih kecil dibanding


permeabiliata rekahan ,hal ini menyebabkan fluida dari matrik nantinya susah
untuk diproduksikan.
94

4.3. Analisa Pressure Build Up pada sumur X-02 menggunakan simulator


Saphir 3.20

Dari data-data yang telah didapat selanjutnya dilakukan analisa Pressure


Build Up dengan menggunakan saphir 3.20.Berikut langkah-langkah analisa
Pressure Build Up menggunakan saphir 3.20.
1. Input data Pressure Build Up, data informasi sumur, unit satuan (oil field),
dan PVT sumur X-02

Gambar 4.3.
Layar Main Option Sumur X-02

Gambar 4.4.
Layar Information Sumur X-02
95

Gambar 4.5.
Layar Pemilihan Satuan Sumur X-02

Gambar 4.6.
Layar Input Data PVT Sumur X-02
96

2. Load P (plot data tekanan vs waktu) dan load Q (laju alir vs waktu) dan
disimpan dalam format clipboatd

Gambar 4.7.
Layar Load P (Pressure) Sumur X-02

Gambar 4.8.
Layar Load Q (Rate) Sumur X-02
97

3. Setelah data tekanan dan laju alir diinputkan, kemudian dilakukan Ekstrak
delta P dan menginputkan harga smoothing faktor (L), jumlah filtration
dan harga dari Pwf pada saat sumur ditutup dt=0 yang ditunjukkan oleh
gambar 4.9.

Gambar 4.9.
Layar Ekstraksi Parameter Delta P Sumur X-02

4. Plot Derrivative yang dihasilkan dari Ektrak delta P merupakan kurva


yang menggunakan kurva yang menggambarkan kondisi reservoir
tersebut. Oleh karena itu, model yang dipilih harus sesuai (match)
ditumjukkan pada gambar 4.10.

Gambar 4.10.
Layar Hasil Ekstraksi Delta P Sumur X-02
98

5. Pemilihan model dilakukan dengan membandingkan plot derrivative data


lapangan dan hasil ekstraksi, dengan katalog model kurva pressure
derrivative yang tersedia.

Gambar 4.11.
Layar Pemilihan Model Reservoir Sumur X-02

6. Pilih improve untuk menyesuaikan (matching) model yang sudah dipilih,


kemudian run.

Gambar 4.12.
Layar Improve
99

Output dari perhitungan saphir 3.20 dengan pemilihan model reservoir


dual porosity dengan boundary infinite disajikan dalam grafik history plot
(gambar 4.13), log-log plot (gambar 4.14.), dan horner plot (gambar 4.15), dan
untuk hasil analisa disajikan pada tabel IV-2.

Gambar 4.13.
History Plot pada Sumur X-02 model reservoir dual porosity
100

Gambar 4.14.
Log-Log Plot pada Sumur X-02 model reservoir dual porosity

Gambar 4.15.
Horner Plot pada Sumur X-02 model reservoir dual porosity
101

Tabel IV-2
Hasil Analisa Pressure Build Up dengan saphir 3.20 pada Sumur X-02
Model reservoir dual porosity dengan boundary circle

Name Value Unit Name Value Unit

Selected Model C 0.0799 bbl/psi


Model
option Standard Model Ci/Cf 0.418 Fraksi

well Storage + Skin Alpha 12400 Fraksi

WBS Type Changing storage Total Skin 4900 Fraksi


Delta P
Reservoir Two Porosity PSS Skin 792.487 Psi

Boundary Circle k.h 8.34E+5 md.ft

Results ko 5960 Md

TMatch 7000 [hr]**-1 Omega 0.063 Fraksi

PMatch 6.18 [psia]**-1 Lamda 1.7E-08 Fraksi


Re -
constant
Delta Q 1347 STB/D pressure 3200 ft

P @ dt=0 1821.16 psia

Pi 2595.71 psia

Dari Hasil Analisa Presure Build Up diperoleh harga faktor skin yang
relatif besar 4900 sementara hasil permeabilitas rata-rata (ko) 5960 md, dan harga
tekanan reservoir sebesar 2595.71 psia dengan model reservoir Dual Porosity
Pseudo Steady State dan model boundary circle dengan nilai omega ( ) = 0.063
lamda () = 1.7E-08, dan Re sebesar 3200 ft.
102

4.3. Perbandingan hasil Analisa Pressure Build Up secara manual dan


software Saphir 3.20 pada Sumur X
Berikut adalah hasil akhir akhir dari analisa pressure build up secara
manual dan software.

Tabel IV-3
Hasil akhir Analisa Pressure Build Up pada Sumur X-02

Parameter Software
Reservoir manual (dual porosity)
Model reservoir - Dual porosity
boundary - circle
ko (md) 6164.606 5960
S 4922.75 4900
Pi (psia) 2595 2595.71
omega () - 0.063
lamda () - 1.7E-08
Ri(ft) 4660.681 -
Re (ft) - 3200

Dari Hasil akhir Analisa Pressure Build up terlihat hasil dari analisa
manual dan dengan menggunakan software tidak jauh berbeda. Didapat harga
permeabilitas efektif yang besar yang berasal dari permeabilitas rekahan dan
harga skin yang besar dan positif mengindikasikan adanya kerusakan formasi.
BAB V
PEMBAHASAN

Sumur X-02 ini berproduksi pada formasi Tuban yang merupakan batu
karbonat pada interval perforasi 7460-7498 ft MD. Sumur ini dilakukan Pressure
Buil up tes pada tanggal 6 November 2014, Hasil dari Pressure Build up test ini
adalah parameter-parameter seperti permeabilitas efektif (K), skin faktor (S), flow
efficiency (FE) dan tekanan awal reservoir (Pi). Serta pada reservoir karbonat
yang terdiri dari porositas ganda mempunyai karakteristik yang dapat
digambarkan oleh dua parameter yaitu omega dan lamda. Dimana omega ()
adalah parameter yang menunjukkan dimana letak sebagian besar fluida
hidrokarbon dikandung, semakin kecil harga omega () maka storage capacity
matriksnya semakin besar, dan makin kecil pulalah kontribusi fracturenya
terhadap total storage dari sistim ini. Dan lamda () adalah parameter yang
menunjukkan seberapa jauh kemudahan matriks mengeluarkan fluida untuk
diproduksi.
Pressure build up tes ini dilakukan pertama-tama dengan cara
memproduksi sumur selama selang waktu tertentu dengan laju produksi yang
tetap, setelah itu dilakukan penutupan sumur sementara waktu yang menyebabkan
naiknya tekanan yang dicatat sebagai fungsi waktu.
Analisa dengan menggunakan pressure build up test adakalanya dijumpai
hambatan dalam menganalisa datanya. Hambatan yang terjadi dalam menganalisa
dengan menggunakan metode horner adalah pengaruh wellbore storage yang
mendominasi segmen data awal. Pada segmen data awal bentuk kurva yang
dihasilkan merupakan garis lengkung pada kertas semilog, dimana mencerminkan
penyimpangan dari garis lurus akibat adanya pengaruh wellbore storage. Idealnya
untuk menganalisa data yang dihasilkan uji sumur dengan baik maka pengujian
sumur harus berlangsung cukup lama sehingga data tekanan yang didapat
merupakan data tekanan formasi yang sebenarnya.
Analisa pressure build up dilakukan dengan menggunakan metode horner,
pressure derrivative (type curve) secara manual dan dengan simulator saphir 3.20.

103
104

Data-data yang diperlukan dalam menganalisa suatu sumur dengan metode


pressure build up baik secara manual ataupun simulator saphir 3.20 adalah data
tekanan sebagai fungsi waktu (data tes), data produksi, data reservoir,dan data
PVT.
Analisa yang dilakukan berdasarkan bentuk uji tekanan yang diajukan oleh
horner ini. dapat diketahui regim aliran didaerah pengurasan sumur. sehingga baik
segmen early time, middle time maupun late time dapat dikenali dengan baik.
Waktu berakhirnya wellbore storage atau pada segmen middle time region ini
dapat digunakan sebagai dasar dalam menentukan garis lurus pada metode horner.
Terjadi gejala redistribusi fasa ini terjadi di lubang sumur selama
penutupan sumur dimana gas, minyak, dan air mengalir secara bersama-sama
didalam tubing. Adanya pengaruh gravitasi, cairan akan bergerak kebawah
sedangkan gas akan bergerak naik ke permukaan. Oleh karena cairan yang relatif
tidak dapat bergerak serta gas tidak dapat berkembang didalam sistem yang
tertutup ini, redistribusi fasa ini akan menambah kenaikan tekanan pada lubang
bor sehingga dapat mencapai keadaan yang lebih tinggi dari formasinya atau dapat
disebut gas hump, gas hump tersebut terjadi pada early time region.
Horner plot pada semilog menunjukan hubungan antara penutupan tekanan
dasar sumur (Pws) dengan Horner time ((tp + t)/ t), kondisi ideal horner plot
pada semilog menunjukan adanya satu garis lurus. Kemiringan garis lurus ini
diekstrapolasi pada harga ((tp + t)/t) = 1 dengan mengetahui kemiringan garis
lurus ini maka dapat diperoleh harga slope (m), permeabilitas (k), faktor skin (S),
tekanan awal reservoir (P*).
Harga skin memberikan indikasi tentang keadaan formasi disekitar lubang
bor apakah formasi tersebut baik (mengalami perbaikan) yang ditunjukan dengan
harga skin yang negatif (-) atau formasi tersebut mengalami kerusakan ditandai
dengan harga skin yang positif (+). Selain harga skin, indikasi yang lain adalah
permeabilitas efektif minyak serta flow eficiency. Harga FE < 1 menunjukan
permeabilitas formasi disekitar lubang sumur mengecil akibat adanya kerusakan.
Sedangkan FE > 1 menunjukan permeabilitas formasi disekitar lubang sumur
telah diperbaiki dan harganya lebih besar dari harga semula. Besar kecilnya harga
105

parameter tersebut menunjukan keadaan disekitar lubang sumur. Besarnya harga


parameter-parameter sangatlah relatif, tidak ada satu harga yang pasti, akan tetapi
tergantung pada kondisi dan keadaan lapangan tersebut.
Hasil analisa secara manual dengan metode horner diperoleh permeabilitas
(k) sebesar 6164.606 md, Skin sebesar 4922.75, dan tekanan reservoir sebesar
2595 psia. Sedangkan hasil analisa dengan software saphir 3.20 diperoleh harga
permeabilitas sebesar 5960 md , tekanan reservoir sebesar 2595.71, dan skin
sebesar 4900.
Dari software simulator saphir 3.20 dapat diperoleh model reservoirnya
dan tipe boundarynya, dari hasil simulasi software saphir 3.20 dipilih model
reservoirnya adalah dual porosity PSS dengan boundary infinite acting. Pada
sistem dual porosity, reservoir terdiri dari dua porositas matiks dan fracture dan
ditandai adanya parameter omega () dan lamda (). Omega () adalah rasio
storavitas, fraksi dari volume yang dimiliki oleh rekahan terhadap total pori yang
saling berhubungan, sedangkan lamda () adalah parameter aliran antar pori,
kemampuan matriks untuk mengalirkan fluida ke fracture, dimana semakin kecil
harga omega () maka pori matriksnya semakin besar dan semakin kecil
kontribusi dari frature, sedangkan semakin kecil harga lamda () semakin kecil
juga permeabilitas matriksnya. Dari analisa dengan software didapat harga omega
() sebesar 0.063 dan harga f/m sebesar 0.0058, yang berarti fluida
hidrikarbon sebagian besar berada pada matriks dan lamda () sebesar 1.7E-08
dengan kf sebesar 5960 md dan km sebesar 1508,807 md, yang berarti fluida pada
matriks akan sulit untuk diproduksikan.
BAB VI
KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat ditarik


beberapa kesimpulan, yaitu :
1. Hasil analisa secara manual menggunakan metode horner diperoleh harga
permeabilitas sebesar 6164.606 md, harga Skin sebesar 4922.75, tekanan
reservoir sebesar 2595 psia
2. Hasil analisa dengan menggunakan software didapat harga permeabilitas
sebesar 5960 md, harga Skin sebesar 4900, tekanan reservoir sebesar 2595.71
psia dengan model reservoir dual porosity PSS, dan model infinite acting
dengan harga omega () sebesar 0.063 dan harga lamda () sebesar 1.7E-08.
3. Harga omega () sebesar 0.063 dan didapat harga f/m sebesar 0.0058, dan
harga lamda () sebesar 1.7E-08 dengan kf sebesar 5960 md dan km sebesar
1508,807 md, dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan fluida dominan di
matrik namun permeabilitas matriksnya lebih kecil dari permeabilitas rekahan
sehingga minyak dalam matrik sulit diproduksikan.
4. Harga skin yang besar dan positif mengindikasikan telah terjadi kerusakan
formasi yang menyebabkan menurunnya produktivitas formasi.
5. Untuk meningkatkan produktifitas formasi perlu dilakukan penanganan
kerusakan formasi atau workover.

106
DAFTAR PUSTAKA

1 Abdasah, Dody, Dr. Ir., Analisa Sentara Tekanan, Jurusan Teknik


Perminyakan, Institut Teknologi Bandung, 1985.
2 Agiulera Roberto. , : Naturally Fractured Reservoirs, PennWell Publishing
company, Tulsa, Oklahoma, USA. 1980
3 Dewan, John T,Modern Open-Hole Log Interpretation,Penwell Books
Publishing Company, Tulsa, Oklahoma, USA, 1983.
4 Earlougher,R. C,Advances in Well Test Analysis,Marathon Oil Co, SPE
Series, 1977.
5 Kristanto, Dedi,Buku Panduan Praktikum Penilaian Formasi, Progrram
Studi Teknik Perminyakan UPNVeteran Yogyakarta, 2012.
6 Lee, John., Well Testing, Society of Petroleum Engineering of AIME, New
York, Dallas, 1982.
7 PettiJohn, F.J., Sedimentary Rock, 2nd, Oxford and IBH Publishing Co.,
Schlumberger Limited 277 Park Avenue, New York, 1972.
8 Rukmana, Dadang, Kristanto, Dedy, Cahyoko Aji, Dedi, Teknik Reservoir
Teori dan Aplikasi, Pohon Cahaya, Yogyakarta, 2012.
9 Roland N. Horne., Modern Well Test Analysis, A Computer Approach,
Stanford University, 1990.
10 Tucker, Maurice E, Paul Wright,V, Carbonate Sedimentology, Blackwell
Publishing Company, USA, 1990.
11 Van GolfRacht, T.D.,: Fundamental of Of Fractured Reservoir
Engineering, Elsevier Scientific Publishing Company, Amsterdam, oxford,
New York, 1982.
12 Wayne,M. AHR, Geology of Carbonate Reservoir ,John Wiley & Sons, Inc,
New Jersey, USA, 2008.
13 ............, Saphir Version 3.20 Manual Book, Kappa
Engineering.

107
LAMPIRAN
Lampiran A
Data Analisa Pressure Build Up

I. Data Produksi
\Tabel A-1 berikut menunjukkan data uji produksi yang dilakukan pada SumurX-
02

Tabel A-1
Data Uji Produksi Sumur X-02

FWH
Choke Oil Gas Water Gross Water GOR P FWHT Hrs
Date (/64) (BOPD) (MMSCFD) (BWPD) BLPD Cut(%) SCF/STB (PSI) (F) Test

32 788 0.583 267 1,033 26 735 146 146 8

6 -7
Nov 24 432 0.334 140 572 24 773 138 138 6
emb
er 30 651 0.585 493 1,144 43 899 150 150 6
201
4
36 1,347 0.885 235 1,582 15 657 150 150 6
PBU (7 - 8 Nov 2014) 32

108
109

2. Data penampang Sumur


Tabel A-2 dan Gambar A.1 dibawah menunjukkan data sumur X-02

Tabel A-2
Data Penampang Sumur X-02

Data Nilai Satuan

Formasi Tuban

Interval Perforasi 7460-7498 ft

Radius sumur (rw) 0.3 ft

3. Data Reservoir dan PVT


Tabel A-3 menunjukkan data reservoir dan data PVT pada Sumur X-02

Tabel A-3
Data Reservoir dan PVT Sumur X-02

Data Nilai Satuan


Porositas () 0.18

Kompresibilitas total (Ct) 0.00005 Psi-1

o
Temperatur reservoir (Tres) 258.88 F

Tekanan reservoir (Pr) 2595.15 psia

Tekanan buble point (Pb) 2405 psia

Tebal Lapisan (h) 140 ft

Viskositas minyak (o) 0.44 Cp

FVF minyak (Bo) 1.612 bbl/STB


110

Gambar A.1
Profile Sumur X-02
111

4. Data Uji Tekanan


Tabel A-4 menunjukkan hasil perhitungan data pressure build up pada sumur
X-02.
Tabel A-4
Data Uji Tekanan Sumur X-02

dt ,jam dp ,psia Pressure ,psia Horner time ,jam


0 0 1823.033 #DIV/0!
0.00139 2.544 1825.577 11163.05
0.002778 5.733 1828.766 5582.0235
0.01111 27.153 1850.186 1396.381
0.020833 51.879 1874.912 745.2079
0.030556 76.426 1899.459 508.39898
0.040278 98.495 1921.528 385.92684
0.05 120.382 1943.415 311.08166
0.061111 147.755 1970.788 254.70364
0.081944 195.824 2018.857 190.2034
0.1 232.31 2055.343 156.04083
0.3 421.683 2244.716 52.680277
0.4 452.075 2275.108 39.760208
0.5 464.655 2287.688 32.008166
0.6 474.572 2297.605 26.840139
0.7 480.289 2303.322 23.14869
0.8 473.185 2296.218 20.380104
0.9 484.684 2307.717 18.226759
0.911111 487.35 2310.383 18.016679
0.925 493.196 2316.229 17.761171
0.9375 501.993 2325.026 17.537689
0.945833 509.98 2333.013 17.391988
0.959722 535.88 2358.913 17.154765
0.969444 552.432 2375.465 16.992758
0.983333 574.834 2397.867 16.76687
1 599.667 2422.7 16.504083
1.022222 629.398 2452.431 16.167041
1.054167 666.157 2489.19 15.707426
1.077778 688.988 2512.021 15.385229
1.1 707.534 2530.567 15.094621
1.1125 716.952 2539.985 14.936255
1.126389 726.373 2549.406 14.764413
1.15 739.883 2562.916 14.481811
112

1.2 761.347 2584.38 13.920069


1.3 782.628 2605.661 12.926218
1.4 780.088 2603.121 12.074345
1.75 772.832 2595.865 9.8594761
1.85 772.726 2595.759 9.3805855
2 772.62 2595.657 8.752042
3 772.25 2595.28 6.168028
4 771.83 2594.862 4.876021
8 771.92 2594.952 2.93801
9 771.92 2594.952 2.722676
10 771.92 2594.957 2.550408
15 771.96 2594.99 2.033606
16 771.98 2595.008 1.969005
17 771.96 2594.989 1.912005
22 771.96 2594.996 1.704731
23 771.99 2595.019 1.674091
24 771.96 2594.991 1.646003
30 772.1 2595.134 1.516803
31 772.12 2595.154 1.500132
32 772.13 2595.159 1.484503