Anda di halaman 1dari 14

HIDROLIKA SUMUR

1. HIDROLIKA SUMUR

Akifer merupakan suatu lapisan batuan yang mampu menyimpan dan mengalirkan air.
Secara hidrodinamik, di alam ada 3 (tiga) tipe akifer, yaitu :

1.Confined Akuifer(Akuifer Tertekan)

Merupakan suatu akifer yang bagian atas dan bawahnya dibatasi oleh lapisan bersifat
akifug atau akiklud(Lapisan Kedap Air) (Gambar 1).

2. Unconfined Akuifer(Akuifer Tidak Tertekan)

Unconfined aquifer (akifer tidak tertekan) Akifer yang dibatasi oleh 1 lapisan
impermeabel di bagian bawahnya (dan pada bagian atasnya tidak ada lapisan
penutup/impermeabel layer (Gambar 2).

Gambar 1 Gambar 2

Gambar 1. Konfigurasi akifer tertekan dan muka airtanah pada sumur (Kruseman, 1994)
Gambar 2. Konfigurasi akifer tak tertekan dan muka airtanah (Kruseman, 1994)
3. Leaky aquifer ( semi confined atau akifer bocor)

Akifer yang dibatasi oleh lapisan semi permiabel / lapisan akitard (di atas dan atau di
bawahnya. (Gambar 3).

Gambar 3. Konfigurasi akifer bocoran dan muka airtanah pada sumur (Kruseman, 1994)

1.1 SIFAT HETEROGENITAS SUATU AKIFER DAN KEISOTROPIKANNYA


Suatu akifer dapat dikelompokkan pula berdasarkan karakteristik kehomogenan batuan
dan sifat isotropiknya ( Kruseman G.P & de Ridder, 1994 ).
A. Kondisi Akifer Homogen
Akifer Homogen merupakan suatu akifer yang homogen dan isotropik yang tersusun
atas litologi yang sama. Masing-masing memiliki besar butir yang sama (homogen)
dan aliran airtanah memiliki kecepatan aliran yang sama ke segala arah. Besaran
vektor konduktifitas hirolik horizontal sama dengan vektor berarah vertikal (Kh=Kv)
atau disebut isotropik. Contoh : batupasir, dll.
B. Kondisi Akifer Heterogen
Akifer Heterogen merupakan akifer yang bersifat heterogen/anisotropik dengan
litologi campuran serta memiliki besar butir yang tak seragam. Aliran airtanah pada
akifer tersebut memiliki kecepatan aliran yang tidak seragam dimana Kh tidak sama
dengan Kv (ansotropik). Contoh Batupasir dengan struktur sedimen

1.2 PENGALIRAN PADA SUATU SUMUR


pengaliran pada suatu sumur baik pada akuifer tertekan maufun akuifer bebasa dapat
diakibatkan oleh pemompaan.Pada suatu pemompaan dengan debit tetap(Konstan) pada
sumur ada 2 kemungkinan yaitu:
1.Mula mula muka air tanah(bidang pisometrik) turun sampai batas tertentu tidak terjadi
penurunan lagi.Hal ini disebut telah tercapai tingkat keeimbangan(steady
steak:equilibriumstage).
2.Dipompa dengan debit tetap terjadi penurunan muka ai tanah(bidang
pisometrik).Keadaaan ini dikatakan tidak seimbang(unsteady stage=non equilibruim)

2. EFISIENSI SUMUR
Salah satu tahap akhir dari rangkaian pekerjaan pemboran adalah menguji
kuantitas air yang akan dieksploitasi. Kuantitas airdapat ditentukan berdasarkan uji
pemompaan. Adapun sasaran utama pelaksanaan ujii pemompaan ini adalah :
1. Pengujian Akuifer (Aquifer Test)
Pengujian akuifer atau lebih dikenal dengan metode long-term Constant rate test
dimaksudkan untuk pengukuran parameter yang arahnya horisontal terhadap sumur uji,
sehingga diperlukan beberapa Sumur pengamat disekitar sumur uji,dan pada uji akuifer
ini biasanya disertai pula dengan recovery test atau uji kambuh, merupakan
ujiPemulihan kedudukan muka airtanah setelah dipompa.

2. Pengujian sumur (Well test)


Tujuannya untuk menetapkan kemampuan sumur dan tidakdibutuhkannya
piziometer didekatnya serta lebih sederhana daripadapengujian akuifer. Uji ini lebih
ditekankan pada perekaman data /parameter sumur secara vertikal. Dari debit dan muka
air tanah yangdiukur, dapatdiperoleh kapasitas jenis (specific capacity) sumur, yang
dinyatakan oleh besarnya debit setiap satuan penurunan dan dapatdiperoleh
penurunan jenis ( specific drawdown ) yang dinyatakandengan besarnya penurunan
setiap satuan debit.

2.1 UJI PEMOMPAAN


Uji pemompaan (Pumping Test) biasanya dilaksanakan dengan dua metode :
1. Uji pemompaan bertahap (Step-drawdown test)
2. Uji pemompaan debit konstan (Long-term constant rate test)

Dari kedua metode uji pemompaan tersebut data-data yang direkam adalah :

1. Muka airtanah/pisometrik awal (sebelum pemompaan)


2. Debit pemompaan
3. Penurunan muka airtanah selama pemompaan (drawdown), baik pada sumur yang
dipompa maupun pada sumur pengamat
4. Waktu sejak dimulainya pemompaan
5. Sifat fisik dan kimia airtanah
6. Kenaikan muka airtanah kambuh (recovery) setelah pompa dihentikan
7. Waktu setelah pompa dimatikan.
8. Diameter sumur yang diuji.
9. Jarak antara sumur pengamat dan sumur yang diuji.

Uji pemompaan dari suatu sumur percobaan dalam lapisan tembus air yang
didasari oleh lapisan kedap air (Unconfined Aquifer).

Di lapangan, koefisien rembesan rata-rata yang searah dengan arah aliran dari suatu
lapisan tanah dapat ditentukan dengan cara mengadakan uji pemompaan dari sumur.
Gambar 1.5 menunjukkan suatu lapisan tanah tembus air (permeable layer), yang
koefisien rembesannya akan ditentukan, di mana di sebelah bawah dibatasi oleh suatu
lapisan kedap air (impermeable layer).

Gambar 4 Sumur percobaan yang dibuat sampai lapisan tembus air yang didasari oleh
lapisan kedap air (Unconfined Aquifer)

Di dalam melakukan percobaan, air dipompa keluar dari sumur uji yang mempunyai
mantel silinder berlubang dengan kecepatan tetap. Beberapa sumur observasi dibuat di
sekeliling sumur uji dengan jarak yang berbeda-beda. Ketinggian air di dalam sumur uji
dan sumur observasi diteliti secara terus menerus sejak pemompaan dilakukan hingga
keadaan tunak (steady state) dicapai. Jumlah air tanah yang mengalir ke dalam sumur uji
per satuan waktu (debit = q) adalah sama dengan jumlah air yang dipompa keluar dari
sumur uji per satuan waktu; keadaan ini dapat dituliskan sebagai berikut :

q=k ( dhdr ).2. .r .h (1.17)


Atau :
r1 h1

drr = 2 . q . k . h. dh
( )
r 2 h2

Jadi :
r1

k=
2, 303 .q . log 10 .
( )
r2
. ( h21 h 22 )
(1.18)

Dari pengukuran di lapangan, apabila q, r1, r2, h1, dan h2 diketahui, koefisien
rembesam dapat dihitung dari Persamaan 1.18 di atas.

2.2 STEP TEST


Step test pada dasarnya dilaksanakan setelah pelaksanaan konstruksi sumur dan
setelah pembersihan / penyempurnaan sumur atau dengan kata lain tahap akhir
dari rangkaian Pekerjaan pemboran airtanah. Step test dilakukan dengan cara
mengukur penurunan muka airtanah di dalam sumur uji dengan debitpemompaan
yang ditambah secara bertahap
Step Test Merupakan langkah-langkah untuk pengujian efisiensi sumur
Tujuan Step Test
Mengetahui kesempurnaan konstruksi sumur
Menentukan besaran kapasitas jenis sumur .
Efisiensi sumur .
Menentukan parameter hidraulik akuifer atau sumur
Alat dan bahan
Lembar data pengukuran uji pemompaan, yang memuat : waktu, debit
pemompaan, dan pengukuran muka airtanah di sumur uji.
Lembar kerja ( kertas semi log dan kertas bilog).

2.3 Metode pengujian Efisiensi sumur

Metode Bierschenk ( dalam Suharyadi) menyatakan bahwa

efisiensi sumur itu tergantung besarnya pemompaan yang terdiri atas efisiensi
pemompaan (Ep) dan Faktor development (Fd).

Efisiensi pemompaan dinyatakan :

Ep = BQ/Sw x 100 %

Besarnya pemompaan yang efisien apabila harga Epnya minimal 50%

Faktor development dinyatakan dengan :

Fd = C/B 100

Metode I (Metode Jacob)


1. Dari data uji step test dibuat grafik hubungan antara s (drawdown) dan t(waktu
pemompaan).

2. Dari grafik hubungan antara s dan t di atas tentukan harga Ds (tambahan penurunan
muka airtanah) pada setiap step.

3. Untuk menentukan harga-harga C dan B, plot pada kertas milimeter harga-harga Q


( l/detik ) lawan Sw/Q ( m/l/detik ), tarik garis berat (lurus) yang melalui titik
titik hasil pengeplotan, selanjutnya menentukan harga a dan b.

4. Menghitung harga BQ dan CQ2

5. Menentukan harga Sw dapat berdasarkan kurva pada atau dengan rumus Sw = BQ +


CQ2

6. Menentukan Efisiensi pemompaan (Ep)

7. Menentukan Faktor development (Fd)

8. Menentukan klas dan kondisi sumur

Metode II (Metode Jacob)

Pada metode ini dilakukan dengan cara membandingkansetiap kapasitas jenis pada
setiap step pemompaan Jadi :

Q1/Sw1 : Q2/Sw2 : .. Qn /Swn (m3/jam/l)

Apabila harga mendekati kesamaan dengan perbedaan <1 maka kontruksi sumur
sempurna.

Metode Metode Logans

1. Dari data pengamatan step test dan perhitungan, dibuat tabulasi data

2. Membuat gambar kurva dalam kertas milimeter, antara Sw/Q pada koordinat dan Q
pada absis untuk mencari Q optimum

3. Menentukan Q optimum dengan cara menarik garis dari titik harga Sw/Q = 50 searah
dengan absis hingga memotong kurva.
4. Dari perpotongan antara garis Sw/Q = 50 dan kurva, tarik garis tegak lurus ke arah
absis.

5. Titik hasil perpotongan antara garis tegak lurus dan garis absis dibaca sebagai nilai Q
optimum.

6. Untuk seterusnya dihitung T (keterusan) dengan metode Logans.

Q = Q optimum

Sw : (harga Sw pada saat Q optimum) = Qoptimum x 50

7. Menghitung harga k = permeabilitas dengan rumus T = k.D dimana D = Tebal


akuifer

3. JARING-JARING ALIRAN (FLOWNET) AIR TANAH

Flownet merupakan peta yang berisikan kontur airtanah dan arah aliran airtanah. Garis
kontur menunjukkan daerah-daerah yang mempunyai tinggi muka airtanah sama yang dapat
dibuat melalui interpolasi dari titik-titik tinggi muka airtanah yang telah diketahui
sebelumnya. Sedangkan arah aliran airtanah dapat ditentukan dengan menarik garis tegak
lurus kontur tinggi muka airtanah.

Selain dapat mengetahui arah aliran airtanah, flownet juga berfungsi untuk memprediksi
arah pencemaran airtanah, menentukan debit dan volum (potensi) airtanah di daerah tertentu,
mengetahui daerah tangkapan (recharge) dan daerah pemanfaatan (discharge), serta
mengetahui perubahan pola aliran /anomali karena penurapan airtanah.

Flow net terdiri atas:

- Garis aliran (Flow Lines)


- Garis ekipotensial (Equipotential Lines)
Garis aliran adalah suatu garis sepanjang mana butir-butir akan bergerak dari bagian
hulu ke bagian hilir sungai melalui media tanah yang tembus air (permeable).
Ciri-ciri garis aliran sebagai berikut:

- Bergerak pararel dengan lapisan impermeable

- Bergerak pararel dengan permukaan air

- Merupakan lapisan impervious

Garis ekipotensial adalah suatu garis sepanjang mana tinggi potensial di semua titik
pada garis tersebut adalah sama.
Ciri-ciri garis ekipotensial:

- Merupakan garis yang menunjukkan titik dengan total head yang sama

- Menghubungkan antara struktur/bangunan air dengan lapisan impervious

- Berpotong dengan garis aliran dan permukaan tanah dengan membentuk sudut 900

Gambar 5 menunjukkan definisi garis aliran dan garis ekipotensial untuk aliran di
dalam lapisan tanah yang tembus air (permeable layer) di sekeliling jajaran turap yang
ditunjukkan pada gambar tersebut (untuk kx = kz = k)

Kombinasi dari beberapa garis aliran dan garis ekipotensial dinamakan jaringan aliran (flow
net). Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa jaringan aliran dibuat untuk menghitung
aliran air tanah.
Gambar 5.Flownet

Metode Three Point Problem dalam Pembuatan Flownet (Todd, 1980)

Metode Three Point Problem ini didasarkan pada data-data ketinggian muka airtanah
yang telah diperoleh dari hasil pengolahan data kedalaman muka airtanah. Titik-titik
ketinggian muka airtanah yang telah diketahui digunakan untuk mencari titik-titik ketinggian
muka airtanah yang belum diketahui, yaitu dengan cara interpolasi. Titik-titik yang
mempunyai nilai TMA sama selanjutnya dihubungkan dengan garis yang kemudian disebut
dengan Equipotensial line atau garis kontur.

3. Buatlah garis arah aliran airtanah, yaitu dengan menarik garis dari daerah dengan TMA
tinggi menuju daerah dengan TMA rendah dengan membentuk sudut 90 0 pada setiap
perpotongan dengan garis kontur yang dilaluinya. Konsep ini merujuk pada sifat air yang
mengalir dari tempat tinggi menuju ketempat rendah.
Apabila arah aliran telah terbentuk, maka flownet airtanah telah jadi dan siap untuk
digunakan sebagai dasar analisis potensi airtanah suatu daerah.

Flownet airtanah yang ideal adalah apabila antara garis-garis kontur dan garis-garis
arah aliran membentuk jaring-jaring persegi. Akan tetapi, flownet ideal hanya akan terbentuk
pada daerah yang datar dan isotropis.

Berikut cara pembuatan flownet :

1. Plot data tinggi muka air (TMA) pada tiap-tiap sumur.

Apabila yang ada hanyalah data kedalaman muka air sumur, maka terlebih dahulu
diubah menjadi data tinggi muka air tanah,yaitu data elevasi (ketinggian) tempat di
mana sumur berada dikurangi kedalaman air sumur, maka akan diperoleh nilai TMA.
Tinggi muka airtanah merupakan ketinggian muka airtanah dari rata-rata muka airlaut.

Cara memperoleh data kedalaman sumur di lapangan dapat diilustrasikan pada


gambar berikut :

Dalam hal ini perlu diingat bahwa apa yang dimaksud kedalaman air sumur adalah
berbeda dengan apa yang dimaksud ketinggian muka airtanah (TMA). Pada gambar di atas,
apabila diketahui kedalaman air sumur (c) adalah 10 meter,sedangkan lokasi di mana sumur
tersebut berada mempunyai ketinggian 245 mdpal, maka nilai TMA = 245-10=235.

2. Hubungkan titik-titik yang memiliki nilai TMA sehingga diperoleh kontur TMA
(equipotensial line). Pembuatan kontur TMA dapat menggunakan metode Three Point
Problem, seperti yang dapat dilihat pada gambar berikut :

Penggunaan FlowNet

1. Menghitung Debit Rembesan

Debit yang lewat pada satu aliran secara matematis sebagai berikut

q=k h
dari gambar flow net dapat dihitung alur aliran(Nf) maka untuk setiap satu satuan
panjang tegak lurus bidang gambar:

q=N f k h

Jika jumlah potensial drop dan perbedaan tinggi bagian hulu dan hilir diketahui,
maka:

H
h=
Nd

Sehingga

H
q=N f k
Nd

Nf dan Nd dapat dihitung dari gambar flow net, h dan k merupakan data yang
dketahui.

2. Menghitung Tekanan Rembesan

Perhatikan prisma kecil dengan tampang bujur sangkar a x a , tebaldalam arah tegak
lurus bidang gambar satu satuan dan searah garis aliran. Selisih potensial hulu dan
hilir adalah h1 dan h2. Gaya potensial air terhadap prisma:

P=( h 2h 1 ) w = a
P = gaya rembesan yang bekerja pada tanah dengan volume a x a x 1

v = a2

D = tekanan rembesan = gaya rembesan yang bekerja pada suatu satuan volume tanah

P
D=
v

h a w h w
D= 2
=
a a

h
Jika i=
l

Pada setiap titik dalam tanah bekerja tekanan rembesan yang besar dan arahnya dapat
dilihat pada flownet. Arahnya searah dengan garis aliran dititik itu. Besarnya
ditentukan oleh gradien hidrolik yang dapat dilihat dari ukuran kotak floe net di titik
itu.

3. Menghitung tekanan air pori sama dengan tekana hidrostatis pada suatu titik.

Digunakan rumus bernoulli:

U
h=z + atau h=z +h w
w

hw =hz

Dimana:

z = elevasi titik terhadap datum (muka air hilir)


hw = tinggi tekana pori

h = potensial titik, dilihat dalam flow net, di mana letak titik tersebut terhadap garis
eqipotensial. Jika titik tersebut terletak pada garis eqipotensial Nd, maka potensial
tersebut adalah

h=Nd h