Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN TRAINING NEW COMER

DEPARTEMENT DYEING
MESIN JET DYEING (EXHAUST)

Disusun oleh :

Hanaji Triana

Trainer :

PT.Sansan Saudaratex Jaya

Jl. Cibaligo No.33, Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jawa Barat 40522
DAFTAR ISI

Daftar Isi..................................................................................................................................i

Daftar Gambar.........................................................................................................................ii

Daftar Tabel............................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Sejarah Mesin Jet Dyeing....................................................................................................1


1.2 Fungsi Mesin Jet Dyeing.....................................................................................................2
1.3 Fungsi Mesin Scutcher........................................................................................................2
1.4 Fungsi Mesin Shortloop.......................................................................................................2

BAB II ISI LAPORAN

2.1 Mesin Jet Dyeing Yang Digunakan..................................................................................4


2.2 Bagian-Bagian Pada Jet Dyeing...........................................................................................4

2.3 Alur Proses Mesin Jet Dyeing...........................................................................................6

2.4 Zat Kimia Yang Digunakan Dalam Jet Dyeing..............................................................10

2.5 Bagian Bagian Mesin Scutcher..........................................................................................11

2.6 Bagian Bagian Mesin Shortloop........................................................................................13

2.7 Cara Bersosialisasi Dengan Departement Dyeing...........................................................14

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan...................................................................................................................15

3.2 Saran.............................................................................................................................16

1
DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Nozzle.................................................................................................................5

Gambar 2.2 Winch Reel........................................................................................................5

Gambar 2.3 Feed Tank, Pompa Sirkulasi, Penukar Panas...................................................6

Gambar 2.4 Alur Proses Dispers Reactive..........................................................................7

Gambar 2.5 Alur Proses Reduce Cleaning..........................................................................8

Gambar 2.6 Alur Proses Reactive Dyeing..........................................................................9

Gambar 2.7 Detwister........................................................................................................11

Gambar 2.8 Textarguider..................................................................................................12

Gambar 2.9 Plaiter...........................................................................................................12

Gambar 2.10 J-Box..........................................................................................................12

Gambar 2.11 Pengepak....................................................................................................13

2
DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Komposisi Kimia Dispers Dyeing..................................................................10

Tabel 2.2 Komposisi Kimia Reduce Cleaning...............................................................10

Tabel 2.3 Komposisi Kimia Reactive Dyeing...............................................................11

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 SEJARAH MESIN JET DYEING

Berlandaskan pada kekurangan yang ada pada winch dyeing machine, maka
diciptakan mesin baru yang bekerja lebih cepat dan menghasilkan kerataan yang lebih baik.
Untuk itu proses migrasi, adsorpsi, dan difusi diperbaiki dengan tetap berprinsip tidak
menimbulkan tegangan pada kain yang dikerjakan. Dilakukan pengembangan mesin jet
stream dyeing machine dimana kain digerakkan dengan kecepatan tinggi karena adanya daya
dorong larutan (jet) melalui suatu nozzle. Karena kuatnya dorongan jet tersebut maka kain
bergerak cepat dan secara otomatis larutan diaduk dengan lebih baik. Serta dapat digunakan
untuk mencelup kain dari yang berukuran ringan sampai berat terbuat dari bermacam-macam
serat. Pada perkembangan selanjutnya, ada HT eco soft, merupakan short liquor ratio 1:6
dengan kapasitas 300 kilogram dan kecepatan 40-400 meter/menit, dilengkapi dengan winch
reel untuk membantu gerakan kain. Longclose Ltd. Hongkong mengembangkan longflow HT
yang dilengkapi dengan winch reel untuk membantu gerakan kain dengan kecepatan 60-300
meter/menit, pemakaian energi yang minimum serta pemeliharaan yang lebih sederhana.
Kemudian ada EL H softslow dengan liquor ratio 1:4 dan sirkulasi total larutan 8 kali per
menit. Kemudian ada mesin dengan kecepatan winch reel 220 yards/menit dan 350
yards/menit kecepatan jetnya. Ada pula scholl HT-compact dengan kecepatan winch reel 60-
350 meter/menit dengan kapasitas pompa 160 liter/detik. Jenis jet dyeing yang pertama
diproduksi adalah model vertikal. Model ini sebenarnya lebih menghemat tempat, tetapi
memerlukan panggung tempat kerja sehingga kurang praktis. Kemudian diciptakan model
horizontal dan dipasang tandem.

Beberapa kelebihan yang dimiliki jet dyeing :

a. Karena mesin berisi penuh larutan maka tidak memungkinkan adanya udara sehingga
pembentukan busa dapat dihindari.
b. Dengan kecepatan mesin yang tinggi 120-300 meter permenit dan kekuatan pompa
yang dapat mensirkulasi seluruh larutan sekali setiap menit maka kain terbebas dari
kemungkinan terbentuknya lipatan permanen.

1
c. Kain selalu mengambang di dalam larutan sehingga dengan mudah digerakkan oleh
dorongan larutan tanpa ada penegangan
d. Beberapa mesin dipasang dengan sistem tandem sehingga instalasinya lebih hemat
e. Kecepatan gerakan larutan serta sirkulasi larutan yang tinggi memungkinkan mesin ini
dipakai untuk mencelup kain dari berbagai ketebalan serta terbuat dari berbagai
macam serat atau campurannya.

Beberapa kekurangan yang dimiliki jet dyeing:

a. Kain dicelup dalam bentuk tali sehingga ada risiko keterikatan dan dapat membentuk
lipatan
b. Biaya peralatan dan perawatan tinggi, pembusaan bisa menjadi masalah, dan beberapa
kain mungkin terkikis dalam prosesnya

1.2 FUNGSI MESIN JET DYEING

Secara umum mesin jet dyeing berfungsi untuk proses desizing (penghilangan
kanji), scouring (pemasakan) dan dyeing (pencelupan), kain yang dapat dimasukan ke
mesin jet dyeing diantaranya ialah poliester, cotton, dan campuran, terdapat bagian bagian
pada mesin jet dyeing diantaranya ialah whinch reel, nozzle, pompa sirkulasi, tank
feeding, dan heat exchanger.

1.3 FUNGSI MESIN SCUTCHER

Mesin scutcher digunakan untuk mengembalikan tali lipatan kain yang dihasilkan
dari proses jet dyeing sehingga didapatkan kain yang lurus dan rata, serta kering dari air
sisa pencucian pada mesin jet dyeing. Komponen yang terdapat pada mesin scutcher
diantaranya adalah dtwister, texterguider, padder, pengepak,dan plaiter.

1.4 FUNGSI MESIN SHORTLOOP

Mesin shortloop digunakan untuk mengeringkan secara cepat kain hasil dari
proses scutcher agar didapatkan kain yang kering dan rata. Terdapat komponen yang
terdapat pada mesin shortloop diantaranya adalah tension bar, spiral roll, expander roll,
blangket, nozzle, blower, plaiter.

2
BAB II

ISI LAPORAN

2.1 MESIN JET DYEING YANG DIGUNAKAN

3
a. Kun Nan Jet Dyeing
Di PT Sansan Saudaratex Jaya, menggunakan 3 buah mesin jet dyeing kun nan
yang berasal dari Taiwan, mesin kun-nan 1 berkapasitas 800kg, mesin kun-nan 2
berkapasitas 1200kg dan mesin kun-nan 3 berkapasitas 100kg, mesin ini dapat
digunakan untuk proses desizing, scouring, dyeing dispers dan reactive. Mesin ini
dikontrol secara otomatis oleh sistem PLC PVH yang telah tersimpan program.

b. Tong-Wu Jet Dyeing


Di PT Sansan Saudaratex Jaya juga menggunakan 1 buah mesin jet dyeing
bermerek Tong-wu yang berasal dari Korea, mesin ini memiliki kapasitas
sebanyak 600kg, namun pada saat ini mesin tersebut tidak bisa melakukan
pengisian air secara otomatis seperti mesin kun-nan, jadi pengisian air dilakukan
secara manual.

c. Asma Jet Dyeing


Di PT Sansan Saudaratex Jaya juga menggunakan 1 buah mesin jet dyeing
bermerek Asma yang berasal dari China, mesin ini memiliki kapasitas sebanyak
150kg.

2.2 BAGIAN-BAGIAN PADA JET DYEING

Elemen dan peralatan penting yang terdapat pada mesin jet dyeing :

a. Nozzle merupakan suatu peralatan berbentuk terompet yang memungkinkan


daya dorong(jet) terjadi. Alat ini dipasang pada leher mesin dan dapat diganti menurut
keperluaannya disesuaikan dengan tebal tipisnya kain. Apabila nozzle yang dipakai
terlalu kecil sedang kain yang diproses cukup tebal, maka kain akan menyumbat
nozzle sehingga tidak terjadi sirkulasi kain terlalu tipis. Maka akan terjadi slip
sehingga tidak terjadi sirkulasi kain.

4
Gambar 2.1 Nozzle

b. Winch reel, merupakan roda berputar aktif membantu sirkulasi kain dipasang di
bagian atas didalam mesin

Gambar 2.2 Winch Reel

c. Feeding tank, karena mesin bekerja pada temperatur dan tekanan tinggi maka tidak
mungkin penyuapan larutan/zat-zat dilakukan secara langsung dengan membuka
bejana utama. Oleh karena itu larutan/zat-zat yang akan ditambahkan ditampung
dalam feeding tank dan melalui pompa disuapkan ke dalam bejana utama. Feeding
tank ini juga menampung larutan yang tumpah dari bejana utama untuk disuapkan
kembali

5
Gambar 2.3 Feed Tank, Pompa Sirkulasi, Penukar Panas

d. Level indicator, merupakan penunjuk batas larutan minimal dan maksimal sehingga
sirkulasi larutan berlangsung sesuai dengan kapasitas pompa
e. Heat exchanger, yang berfungsi untuk menaikkan atau menurunkan temperatur
f. Entagling alarm, yang akan berbunyi apabila kain macet, tidak tersirkulasi
g. Peralatan pengatur program yang berfungsi untuk menaik turunkan temperatur.
h. Pompa sirkulasi, untuk mensirkulasi larutan minimal sekali dalam satu menit. Menit
tinggi kemampuan sirkulasi pompa akan menghasilkan pencelupan yang lebih rata dan
lebih tua
i. Pompa isap tekan, untuk menyedot larutan dari feeding tank dan diusapkan ke dalam
bejana utama
j. Unloading wheel, berfungsi untuk membantu penarikan kain keluar dari mesin

2.3 ALUR PROSES MESIN JET DYEING

a. Dispers Reactive
Pewarna dispersi adalah pewarna universal untuk kain poliester. Pewarna
dispersi dapat digunakan dengan berbagai teknik dan mudah akan mewarnai sintetis
seperti poliester, nilon, selulosa asetat, vilene, viscose, velvet sintetis dan PVC.
Pewarna dispersi juga bisa digunakan untuk memberi warna plastik. Sekarang
pewarna kita sepenuhnya bergantung pada pewarna reaktif dan zat warna dispersi.
Lebih dari 80% menggunakan pewarna reaktif dan zat warna dispersi untuk
pencelupan barang tekstil

6
Gambar 2.4 Alur Proses Dispers Reactive

Berikut penjelasan dari alur proses diatas :

1. Isi air selama 5 menit


2. Isi kimia Dispers dyes, Dispersing agent dan PH adjuster selama 15 menit
3. Masukan kain yang akan dicelup selama 20 menit
4. Masukan kimia dispers dyeing selama 10 menit
5. Naikan suhu sampai 90 derajat selama 24 menit
6. Jaga suhu sebesar 90 derajat celcius selama 5 menit
7. Naikan suhu sampai 130 derajat celcius selama 26 menit
8. Jaga suhu sebesar 130 derajat celcius selama 45 menit
9. Buang air hasil celupan selama 20 menit

b. Reduce Cleaning (RC)


Pembersihan reduksi digunakan untuk menghancurkan dan menghilangkan zat
warna dispersi yang diendapkan pada serat poliester. Karena pemborosan besar air, energi
dan waktu karena pembilasan diperlukan untuk menghilangkan zat pereduksi. Sangat
mencemari karena tingginya konduktivitas yang dihasilkan. Pembersihan reduksi
dilakukan pada pencelupan kain poliester.

7
Gambar 2.5 Alur Proses Reduce Cleaning

Berikut penjelasan dari alur proses diatas :

1. Keadaan awal larutan hasil pencelupan dispers telah dibuang sempurna


2. Masukan air sebanding dengan banyaknya kain yang dicelup
3. Masukan kimia caustic soda, hydrosulphite dan soaping agent selama 30 menit
4. Alirkan selama 10 menit
5. Buang air selama 5 menit
6. Isi air lagi selama 5 menit
7. Naikan suhu hingga 80 derajat celcius selama 13 menit
8. Jaga suhu tetap 80 derajat celcius selama 30 menit
9. Buang air selama 10 menit

c. Reactive Dyeing
Proses ini dilakukan setelah melakukan reduce cleaning untuk kain campuran
antara poliester dan kain cotton, reactive dyeing mengakibatkan ikatan kovalen antara
pewarna kain dengan serat kain cotton sehingga pewarna kain dapat menempel pada
kain cotton. Adapun langkah yang dilakukan pada proses ini dapat dilihat pada gambar
2.6 :

8
Gambar 2.6 Alur Proses Reactive Dyeing

Berikut penjelasan dari alur proses diatas :

1. Keadaan awal air dan larutan kimia untuk proses reduce cleaning telah dibuang
sempurna
2. Setelah itu dilakukan pengisian air sesuai dengan perbandingan antara kain dan air
sebanyak 1:10
3. Lakukan pengisian kimia squestering Anti crease selama 5 menit pada suhu air
antara 30 40 derajat celcius
4. Setelah 5 menit, masukan kimia Reactive Dyes (zat pewarna) selama 10 menit pada
suhu 30 40 derajat celcius
5. Setelah 10 menit, masukan kimia glauber salt selama 10 menit
6. Naikan suhu hingga 40 derajat celcius selama 10 menit
7. Jaga suhu tetap 40 derajat celcius selama 50 menit
8. Masukan soda ash, dalam 3 tahap selama 30 menit
9. Naikan temperatur hingga 60 derajat celcius
10. Jaga suhu tetap 60 derajat celcius selama 50 menit
11. Kosongkan air selama 10 menit

2.4 ZAT KIMIA YANG DIGUNAKAN DALAM JET DYEING


a. Dispers Dyeing
Komposisi kimia yang digunakan pada proses tersebut ialah:
Dispers dyes X %
Dispersing agent 0.5 gr/L
Anti Crease 2 gr/L
Squestering Agent 0.5 gr/L

9
PH adjuster 0.5 gr/L

Tabel 2.1 Komposisi Kimia Dispers Dyeing

b. Reduce Cleaning (RC)


Komposisi kimia yang digunakan pada proses tersebut ialah:
hydrosulphite 2 gr/L
Caustic 28 Be 5 cc/L
Soaping Agent 1 gr/L

Tabel 2.2 Komposisi Kimia Reduce Cleaning

c. Reactive Dyeing
Komposisi kimia yang digunakan pada proses tersebut ialah:

reactive dyes X %
Glauber salt Y gr/L
Soda Ash Z gr/L
Anti Crease 2 gr/L
Squestering Agent 0.5 gr/L

Tabel 2.3 Komposisi Kimia Reactive Dyeing

2.5 BAGIAN BAGIAN MESIN SCUTCHER

a. Detwister
Berfungsi untuk membuka ikatan atau kain yang berbentuk tali menjadi kain
yang terbuka lurus, lalu menarik kain tersebut ke bagian textarguider.

Gambar 2.7 Detwister

10
b. Textarguider
Berfungsi untuk membuka dan meratakan kain yang telah dibuka oleh
detwister, bagian ini membuka lapisan kain yang masih terlipat dan meratakan antara
kanan dan kirinya.

Gambar 2.8 Textarguider


c. Plaiter
Berfungsi untuk menyalurkan kain yang telah rata dan lurus ke bak penampung

Gambar 2.9 Plaiter

d. J-box
Berfungsi untuk menampung sementara kain yang telah di buka lilitan nya untuk
selanjutnya di peras oleh padder, dan di rentangkan oleh spirall roll dan pengepak

Gambar 2.10 J-Box

e. Whinch reel

11
Berfungsi untuk menarik kain yang masih berbentuk tali untuk di buka pada detwister

f. Pengepak
Berfungsi untuk merentangkan kain agar tidak kusut, dan dapat sedikit lurus
untuk selanjutnya di ratakan oleh spiral roll

Gambar 2.11 Pengepak

2.6 BAGIAN BAGIAN MESIN SHORTLOOP

a. Tension bar
Alat ini berfungsi untuk memberikan tegangan pada kain, tegangan kain yang
cukup akan membuat permukaan kain menjadi bebas kerutan.

b. Spiral roll
Alat ini berfungsi untuk membuka lipatan kain dan menjaga agar kain tetap
berada ditengah.

c. Padder
Alat ini berfungsi untuk memeras air yang terbawa dan menyerap pada kain,
sehingga didapatkan kain dengan kondisi agak kering, untuk selanjutnya meringankan
kerja shortloop dalam mengeringkan kain.

d. Expander roll
Alat ini berfungsi untuk merentangkan kain agar kain tidak terlipat pada saat
sebelum masuk pada blangket seng.

e. Blangket seng
Alat ini berfungsi untuk menghantarkan kain secara berulang ke arah vertikal,
untuk mendapatkan panas yang merata sehingga didapatkan hasil kain yang kering.

f. Nozzle
Untuk menyemburkan udara panas agar memiliki tekanan dan panas yang
cukup, pada atas dan bawah kain.

12
g. Blower
Untuk meniupkan udara panas dari boiler oli ke nozzle, agar panas dari boiler
oli dapat tersalurkan pada kain.

h. Plaiter
Untuk melipat dan menyalurkan kain pada bak kain yang telah disediakan

2.7 CARA BERSOSIALISASI DENGAN DEPARTEMENT DYEING

Metode yang saya gunakan dalam bersosialisasi dengan departement dyeing


adalah dengan metode pendekatan dimana saya mempelajari kebiasaan, sikap, ide-ide,
pola-pola nilai dan tingkah laku dalam mengoperasikan mesin dyeing sesuai dengan
standart yang berlaku, dan aktif berinteraksi dengan kepala bagian terkait apabila tidak
paham terhadap materi yang dijelaskan, serta berusaha ikut serta dalam pemberian
saran agar tercipta kondisi yang lebih baik lagi di bagian dyeing.

13
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

a. Sejarah Mesin Jet Dyeing

Berlandaskan pada kekurangan yang ada pada winch dyeing machine, maka diciptakan mesin
baru yang bekerja lebih cepat dan menghasilkan kerataan yang lebih baik. Untuk itu proses
migrasi, adsorpsi, dan difusi diperbaiki dengan tetap berprinsip tidak menimbulkan tegangan
pada kain yang dikerjakan

b. Fungsi Mesin Jet Dyeing


mesin jet dyeing berfungsi untuk proses desizing (peghilangan kanji), scouring (pemasakan)
dan dyeing (pencelupan).

c. Fungsi Mesin Scutcher


Mesin scutcher digunakan untuk mengembalikan tali lipatan kain yang dihasilkan dari proses
jet dyeing.

d. Fungsi Mesin Shortloop


Mesin shortloop digunakan untuk mengeringkan secara cepat kain hasil dari proses scutcher

e. Mesin Jet Dyeing Yang Digunakan


Kun-nan jet dyeing
Tong-wu jet dyeing
Asma jet dyeing

f. Bagian-Bagian Pada Jet Dyeing


Nozzle
Winch reel
Feeding tank
Level indicator
Heat exchanger
Entagling alarm,
Peralatan pengatur program
Pompa sirkulasi
Pompa isap tekan
Unloading wheel

g. Alur Proses Mesin Jet Dyeing

14
Dispers Dyeing
Reduce Cleaning
Reactive Cleaning

h. Bagian Bagian Mesin Scutcher

Winch Reel
Detwister
Texterguider
Pengepak
Padder
Plaiter

i. Bagian Bagian Mesin Shortloop

Tension bar
Spiral roll
Padder
Expander
Nozzle
Blower
Plaiter
3.1 Saran

Pada proses dyeing sebaiknya selalu diperhatikan kondisi air yang digunakan, agar
kualitas pencelupan menjadi lebih baik, serta selalu periksa setiap langkah langkah yang
dilalui agar tidak terjadi human error. Pada mesin scutcher selalu ada air yang menggenang
dilantai hasil dari proses memeras kain oleh padder, sebaiknya dibuatkan drain untuk
menyalurkan air tersebut ke pembuangan air, serta selalu melakukan pembersihan secara
berkala pada sensor sensor yang digunakan pada mesin.

15