Anda di halaman 1dari 14

A.

LEMBAR IDENTITAS
1. Nama :
2. Nim :
3. Kelas : Geotermal IIA
4. Jurusan/Prodi : Fisika Geotermal
5. Kelompok :1
6. Judul Percobaan : Indeks Bias Prisma
7. Tanggal Percobaan : Maret 2016
8. Tanggal Memasukkan Laporan : Maret 2016
B. TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan percobaan pada praktikum Fisika Dasar 2 tentang Deviasi dan Indeks Bias Prisma adalah:
1. Agar mahasiswa dapat melakukan pengukuran dengan benar sudut deviasi dan sudut deviasi
minimum dengan alat-alat yang tersedia.
2. Dengan data yang diperoleh dari pengukuran, mahasiwa dapat menghitung dengan benar
besarnya indeks bias bahan prisma

C. ALAT DAN BAHAN


Alat dan bahan yang kami gunakan dalam praktikum ini adalah:
1. Prisma sama sisi 1 buah
2. Prisma sama kaki 1 buah
3. Jarum pentul 4 buah
4. Busur derajat 1 buah
5. Penggaris (Mistar) 30 cm 1 buah

D. DASAR TEORI
Prisma adalah zat bening (transparan) terbuat dari kaca yang dibatasi oleh dua bidang datar dan
membentuk sudut tertentu yang berfungsi menguraikan (sebagai pembias) sinar yang mengenainya.
Permukaan ini disebut bidang pembias, dan sudut yang dibentuk oleh kedua bidang pembias disebut
sudut pembias (). Apabila seberkas sinar datang pada salah satu bidang prisma yang kemudian disebut
sebagai bidang pembias I, akan dibiaskan mendekati garis normal. Sampai pada bidang pembias II,
berkas sinar tersebut akan dibiaskan menjauhi garis normal.
Pada bidang pembias I, sinar dibiaskan mendekati garis normal, sebab sinar datang dari zat optik
kurang rapat ke zat optik lebih rapat yaitu dari udara ke kaca. Sebaliknya pada bidang pembias II, sinar
dibiaskan menjauhi garis normal, sebab sinar datang dari zat optik rapat ke zat optik kurang rapat
yaitu dari kaca ke udara. Akibatnya, seberkas sinar yang melewati sebuah prisma akan mengalami
pembelokan arah dari arah semula.
Cahaya yang melalui prisma akan mengalami dua kali pembiasan, yaitu saat memasuki prisma dan
meninggalkan prisma. Jika sinar datang mula-mula dan sinar bias akhir diperpanjang, maka keduanya
akan berpotongan di suatu titik dan membentuk sudut yang disebut sudut deviasi. Jadi, sudut deviasi ()
adalah sudut yang dibentuk oleh perpanjangan sinar datang mula-mula dengan sinar yang
meninggalkan bidang pembias atau pemantul.
Gambar 1. Proses Pembiasan pada Prisma
Gambar tersebut memperlihatkan bahwa berkas sinar tersebut dalam prisma mengalami dua kali
pembiasan sehingga antara berkas sinar masuk ke prisma dan berkas sinar keluar dari prisma tidak lagi
sejajar. Besarnya sudut deviasi tergantung pada sudut datangnya sinar. Jadi, sudut deviasi dirumuskan
sebagai:
=( i 1 +r 2 )
di mana :
: sudut deviasi
i1 : sudut datang pada prisma
r2 : sudut bias sinar meninggalkan prisma
: sudut pembias prisma
Besarnya sudut deviasi sinar bergantung pada sudut datangnya cahaya ke prisma. Apabila sudut
datangnya sinar diperkecil, maka sudut deviasinya pun akan semakin kecil. Sudut deviasi akan
mencapai minimum (m atau = 0) jika sudut datang cahaya ke prisma sama dengan sudut bias cahaya
meninggalkan prisma atau pada saat itu berkas cahaya yang masuk ke prisma akan
memotong prisma itu menjadi segitiga sama kaki, sehingga berlaku: i1 = r2 = i (dengan i adalah sudut
datang cahaya ke prisma) dan i2 = r1 = r (dengan r adalah sudut bias cahaya memasuki prisma). Oleh
karena itu, persamaan sudut deviasi di atas dapat dituliskan kembali dalam bentuk:
=( i 1 +r 2 )
m=( i 1+ i1 )
m=2 i1
m +
i 1=
2
Selain itu, sudut deviasi minimum juga bisa terjadi jika i 2 = r1, maka dari rumus sudut pembiasan
prisma dapat ditulis kembali sebagai berikut:
=i 2+ r 1
=r 1 +r 1=2r 1
1
r 1=
2
Dalam pembiasan cahaya terdapat suatu hukum yang dikenal dengan Hukum Snellius. Hukum
Snellius adalah rumus matematika yang memberikan hubungan antara sudut datang dan sudut bias pada
cahaya atau gelombang lainnya yang melalui batas antara dua medium isotropik berbeda, seperti udara
dan gelas atau kaca. Nama hukum ini diambil dari matematikawan Belanda Willebrord Snellius, yang
merupakan salah satu penemunya. Hukum ini juga dikenal sebagai Hukum Descartes atau Hukum
Pembiasan. Hukum Snellius terdiri atas dua hukum, yaitu:
Hukum Snellius I

Jika suatu cahaya melalui perbatasan dua jenis zat, maka garis
semula tersebut adalah garis sesudah sinar itu membias dan garis
normal di titik biasnya, ketiga garis tersebut terletak dalam satu

Hukum Snellius II

Perbandingan sinus sudut datang dengan sinus sudut bias selalu


konstan. Nilai konstanta dinamakan indeks bias.

sin i sin i n 2
=konstan =
sinr sin r n1
di mana:
n1 : indeks bias medium di sekitar prisma (biasanya adalah udara)
n2 : indeks bias prisma
Berdasarkan Hukum Snellius, maka besar sudut deviasi minimum dapat dinyatakan:
m + 1
i 1= Dan r 1=
2 2

sini n2
=
sin r n1
m+
sin
2 n
= 2
1 n1
sin
2

1 +
n2 sin =n1 sin m
2 2

1
sin ( min )
2
E. n= JALANNYA PERCOBAAN
1
sin
2
1. letakkan styrofoam di atas meja, kemudian diletakkan selembar kertas di atasnya
2. kemudian letakan prisma di atas kertas dan tandai dengan pensil bidang alas prisma tersebut.
Kemudian prisma tersebut diangkat dan dipindahkan.
3. Tandai titik di tengah-tengah garis kiri sisi segitiga. buatlah garis tegak lurus sisi tepat di titik
tersebut. Kemudian dengan busur buatlah sudut 35o di titik sudut tersebut.
4. Tancapkan 2 buah jarum pentul di garis yang membuat sudut 35o terhadap garis tegak lurus. Dan
letakkan kembali prisma pada posisi semula. Sekarang amati dari sisi lainnya agar kedua jarum
pentul tersebut kelihatan berhimpit. Dan sementara itu tancapkan kembali jarum pentul ketiga
dan keempat sehingga nampak jarum tersebut berhimpit (tinggal kelihatan 1)
5. Tandai dengan pensil posisi jarum ketiga dan keempat agar garisnya menyentuh sisi prisma
sebelah kanan
6. Perpanjang garis tersebut agar berpotongan dengan perpanjangan garis yang dari jarum 1 dan
jarum 2. Ukurlah sudut yang terbentuk dari dua garis tersebut.
7. Ulangi langkah 3 s.d 5 dengan merubah sudut datang menjadi 40o, 45o, 50o, dan akan lebih baik
untuk setiap sudut datang dibuat pada kertas yang baru.
8. Lakukan langkah 1 s.d 6 untuk jenis prisma yang lain
F. DATA HASIL PENGAMATAN

Jenis prisma i1 r2
35o
40o
Prisma sama sisi 60o
45o
50 o
35o
40o
Prisma siku-siku sama kaki 45o
45o
50 o

1. Lampiran gambar (prisma sama sisi):


2. Lampiran gambar (prisma siku-siku sama kaki):
G. PENGOLAHAN DATA
1. Grafik fungsi sebagai fungsi dari perubahan sudut datang i1.

Grafik Fungsi terhadap i1 pada Prisma Sama Sisi


50
45
40
Sudut Deviasi () dalam derajat

35
30
25
20
15
10
5
0
35 40 45
Sudut datang (i1) dalam derajat

Grafik Fungsi terhadap i1 pada Prisma Siku-siku Sama Kaki


25.5

25

24.5
Sudut Deviasi () dalamderajat

24

23.5

23

22.5

22
35 40 45
Sudut datang (i1) dalam derajat

2. Grafik sebagai fungsi ( + i1) untuk kedua jenis prisma yang digunakan.
Grafik Fungsi + i1 pada Prisma Sama Sisi
100
90
80
70
+ i1 dalam derajat

60
50
40
30
20
10
0
35 40 45
Sudut datang (i1) dalam derajat

Grafik Fungsi + i1 pada Prisma Siku-siku Sama Kaki


80

70

60

50
+ i1 dalam derajat

40

30

20

10

0
35 40 45
Sudut datang (i1) dalam derajat

3. Menghitung harga indeks bias prisma.


1 +
n2 sin =n1 sin m
2 2
1 +
n2 sin =sin m
2 2
m +
sin
2
n=
1
sin
2
m+
sin
2
n=
1
sin
2
23+45
sin
2 sin34 0,559
n= = = =1,5
1 sin 22,5 0,382
sin 45
2

H. PEMBAHASAN
1. Analisis Data
Kami melakukan perhitungan dan pengolahan data mengenai penentuan nilai indeks
bias prisma berdasarkan pengukuran sudut deviasi dan sudut deviasi minimum yang
digunakan dalam praktikum Fisika Dasar II ini.
Dalam data hasil pengamatan, nilai i 1 dan untuk prisma sama sisi adalah sama untuk
masing-masing sudut datang (35o, 40o, 45 o
dan 50o) karena ketiga sudut datang
membentuk sudut r2 yang sama, yakni 60o); sedangkan untuk prisma siku-siku sama kaki
nilai i1 dan berbeda satu sama lain. Nilai sudut deviasi () yang didapat dari masing-
masing jenis prisma, sudut bias, dan sudut datang yang sebelumnya telah ditentukan,
telah diuji dengan menggunakan rumus deviasi:
=( i 1 +r 2 )
Dan mendapatkan hubungan yang tepat dan benar berdasarkan rumus di atas. Untuk
menentukan nilai indeks bias prisma (n), pertama-tama kami menghitung terlebih dahulu
sudut deviasi minimum (m). Deviasi minimum sebenarnya terjadi jika i 1 = r2, namun
dalam praktikum yag kami laksanakan didapati bahwa nilai i1 tidak sama dengan r2, baik
untuk jenis prisma sama sisi maupun prisma siku-siku sama kaki. Oleh karena itu, untuk
mendapatkan nilai sudut deviasi minimum kami mengambil nilai deviasi yang paling
kecil atau mendekati (i1 r2). Setelah itu, kami masukkan dalam persamaan dari
Hukum Snellius II:
m +
sin
sin i n 2 2 n
= = 2
sinr n 1 1 n1
sin
2
Karena diketahui untuk nilai indeks bias udara (n 1) bernilai 1, maka persamaan di atas
akan menjadi:
m+ +
sin sin m
2 n 2
= 2 n2=
1 1 1
sin sin
2 2
Sehingga nilai indeks bias prisma dapat dicari. Kami menemukan bahwa nilai indeks
bias prisma yang kami dapatkan (1,5) lebih besar dari nilai indeks bias udara (1). Gambar
datangnya sinar yang ditunjukkan pada data hasil pengamatan menunjukkan bahwa sinar
dibiaskan mendekati garis normal pada titik bias prisma. Hal ini sesuai dengan
penjabaran hukum I Snellius.

2. Kesalahan Dalam Percobaan


Dalam praktikum tentang deviasi dan indeks bias prisma ini, baik dalam pelaksanaan
praktikum maupun dalam pengolahan data yang telah dikumpul, terdapat kesalahan-
kesalahan tertentu yang mungkin terjadi, yaitu:
1) Ketidaktelitian dalam menentukan dan melukis garis sinar dengan tepat
2) Ketidaktelitian dalam mengukur sudut dengan busur
3) Kesalahan atau ketidaktelitian alat ukur yang digunakan, dalam hal ini adalah
busur
4) Prisma yang digunakan dalam keadaan tidak layak pakai atau terdapat cacat pada
prisma
5) Perhitungan yang salah pada proses pengolahan data
I. KESIMPULAN
Setelah kami melakukan percobaan, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan:
1. Prisma mempunyai dua bidang pembias. Apabila seberkas sinar datang pada salah
satu bidang prisma yang kemudian disebut sebagai bidang pembias I, akan dibiaskan
mendekati garis normal. Sampai pada bidang pembias II, berkas sinar tersebut akan
dibiaskan menjauhi garis normal.
2. Sudut deviasi adalah sudut yang dibentuk oleh perpanjangan sinar datang mula-mula
dengan sinar yang meninggalkan bidang pembias atau pemantul. Sudut deviasi dapat
dirumuskan sebagai berikut:
=( i 1 +r 2 )
3. Sudut deviasi mencapai minimum ketika besar sudut datang sinar sama dengan besar
sudut bias prisma (i1 = r2)
4. Hubungan mengenai pembiasan yang terjadi pada cahaya yang melalui dua medium
yang berbeda dapat dijelaskan dengan Hukum Snellius:
Hukum Snellius I :
Jika suatu cahaya melalui perbatasan dua jenis zat, maka garis semula tersebut
adalah garis sesudah sinar itu membias dan garis normal di titik biasnya, ketiga garis
tersebut terletak dalam satu bidang datar.
Hukum Snellius II :
Perbandingan sinus sudut datang dengan sinus sudut bias selalu konstan. Nilai
konstanta dinamakan indeks bias.
5. Nilai indeks bias pada prisma dapat ditentukan melalui hubungan Hukum Snellius II
dan rumus sudut deviasi minimum prisma:
m +
sin
sin i n 2 2 n
= = 2
sinr n 1 1 n1
sin
2
6. Nilai indeks bias prisma lebih besar daripada nilai indeks bias pada udara (n 2 > n1 atau
n2 > 1), karena itu sinar datang pada prisma dibiaskan atau dibelokkan mendekati
garis normal
DAFTAR PUSTAKA

----. 2016. Penuntun Praktikum Fisika Dasar 2. Tondano: Jurusan Fisika FMIPA Universitas
Negeri Manado.

http://masteropik.blogspot.com/2010/05/pembiasan-cahaya-pada-prisma.html