Anda di halaman 1dari 27

BUKU SATUAN AJAR PENDIDIKAN (SAP)

SISTEM
INDRA KHUSUS
Disusun Oleh
Tim Sistem Indra Khusus Program Studi Kedokteran
FKK UMJ

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2014

1
KATA PENGANTAR

Sistem Indera khusus mempelajari tentang struktur normal komponen


indera khusus yaitu pendengaran dan keseimbangan oleh telinga,
penglihatan oleh mata, penghidu oleh hidung, pengecapan oleh lidah dan
sensasi perabaan, getar dan suhu oleh kulit. Selain itu pula dipelajari fisiologi
sistem indera khusus dan mekanisme patofisiologi proses kelainan indera
khusus. Dalam sistem ini dipelajari juga pemeriksaan-pemeriksaan yang
mendukung kelainan indera khusus, penatalaksanaan kelainan tersebut dan
aspek-aspek yang berhubungan dengan promosi, prevensi dan rehabilitasi
kelainan indera khusus.
Buku Satuan Ajar Pendidikan (SAP) ini dibuat sebagai pedoman untuk
memudahkan mahasiswa angkatan 2012, dosen pengampu, instruktur CSL
dan tutor PBL selama pelaksanan Sistem Indra Khusus.
Di dalam buku ini terdapat berbagai ketentuan dan tujuan proses
pengajaran Sistem Indra Khusus, mulai dari mata kuliah juga mencangkup
penjelasan CSL dan PBL. Melalui buku ini diharapkan semua pihak yang
terkait memiliki sebuah buku pedoman yang menjadi petunjuk selama
pelaksanaan sistem ini.
Terima kasih kepada Tim Sistem Indra Khusus Program Studi
Kedokteran FKK UMJ yang telah bekerja sama dengan baik sehingga Buku
ini dapat rangkum.

Wassalamualaikum Wr.Wb.

Koordinator Sistem Indra Khusus

2
PERNYATAAN PERSETUJUAN

Buku Satuan Ajar Pendidikan (SAP)


Sistem Indra Khusus Angkatan 2012 T.A. 2014-2015
ini telah disahkan oleh:

Wakil Dekan 1

dr. Amir Syafruddin, M.Med.Ed


Koordinator Sistem Ketua Prodi. Kedokteran

dr. Abdi Kelana P. , Sp. M dr. Tri Ariguntar W., Sp.PK

3
DAFTAR ISI

Kata Pengantar .... 2


Daftar Isi. 3
Tata Tertib 4
Kelompok Tutorial dan CSL . 7
Modul PBL
MODUL I (Mata Merah) ......................... 9
MODUL II (Tuli) ............................................. 26
MODUL III (Gatal) ............. 36

4
TIM SISTEM INDRA KHUSUS DAN KONTRIBUTOR

Tim Sistem:

Koordinator Sistem : dr. Abdi Kelana Putra, Sp.M


Sekretaris Sistem : dr. Ikrimah Nisa Utami
Koordinator Bagian Akademik : Hayati Hasan, SKM.
Koordinator Bagian MEU : Ahmad Fauzy R. , SKM
Koordinator Skill Lab : Ahmad Hudhori, Am. Kep
Koordinator Praktikum : Nursaleh Riyadi

Kontributor:

1. Departemen Anatomi:
dr. Yusnam Syarief, PAK.

2. Departemen Histologi:
dr. H. Nizamuddin, MS

3. Departemen Ilmu Penyakit Mata:


dr. Sri Fulina, Sp.M
dr. Abdi Kelana Putra, Sp.M

4. Departemen Ilmu Penyakit Kulit Kelamin:


dr. Heryanto, Sp.KK
dr. Rizqa Haerani Saenong, M.Kes, Sp.KK
dr. Erni Bachtiar, Sp.KK

5. Departemen Ilmu Penyakit THT-KL:


dr. Heldarjah Syahruddin, Sp. THT
dr. Putri Anugrah Rizki, Sp.THT

6. Departemen Ilmu Penyakit Syaraf:


Dr. dr. Sitti Airiza Jenie, Sp.S(K)
dr. Robiah Khairani Hasibuan, Sp.S

5
7. Tutor PBL dan Instruktur CSL
CIRENDEU (12 Kel) CEMPUT (6 Kel)
Tutor PBL
dr. Yusri Hapsari, MKM, Sp.KJ DR. dr. Busjra M. Nur., MSc
dr. Nizamuddin, MS dr. Farsida, MPH
dr. Sugiarto, SpPA dr. Rayhana. M.Biomed
DR. dr. Tjahaja H.S., SpPark dr. Yusnam Syarief, PAK
dr. Kartono Ichwani, SpBK dr. Sitti Airiza, Sp.S
dr. Pitut Aprilia, MKK dr. Eddy Multazam, Sp.FK
dr. Atthariq, MPH
Instruktur CSL CIRENDEU
dr. Kartono Ichwani, SpBK
Anamnesis Kasus mata dan THT
dr. Sugiarto, SpPA
dr. Putri Anugrah Putri, SpTHT
Pemfis THT dr. Nur Aini Djunet, Mgizi
dr. Donna Novita Suparman
dr. Atthariq, MPH
Esktraksi Cerumen dan Garputala
DR. dr. Tjahaja H.S., SpPark
Tes Keseimbangan, Tes Penghidu dan dr. Robiah, SpS
Tes Pengecap dr. Nizamuddin, MS
dr. Abdi Kelana, SpM
Pemeriksaan Mata Sederhana
dr. Pitut Aprilia, MKK
dr. Yusri Hapsari, MKM, Sp.KJ
Pemeriksaan Sensorik
dr. Wildan Fauzan
Instruktur CSL CEMPAKA PUTIH
DR. dr. Busjra M. Nur., MSc
Anamnesis Kasus mata dan THT
dr. Suratno Lulut R, Ph. D
dr. Yusnam Syarief, PAK
Pemfis THT
dr. Heldarsjah, SpTHT
dr. Fanny Septiani, M. Biomed
Esktraksi Cerumen dan Garputala
dr. Ahmad Muchlis, MS
Dr. dr. Anwar Wardy Warongan,
Tes Keseimbangan, Tes Penghidu dan Sp.S., DFM
Tes Pengecap dr. Rizqa H, SpKK
dr. Farsida, MPH
dr. Sri Fulina, Sp.M
Pemeriksaan Mata Sederhana
dr. Eddy Multazam, Sp.FK
dr. Irfan Taufik, Sp.S
Pemeriksaan Sensorik Dr. dr. Sitti Airiza, SpS
dr. Heryanto, SpKK

KURIKULUM OPERASIONAL SISTEM INDRA KHUSUS

6
Beban Studi : 6 SKS
Waktu Studi : 6 minggu
Semester : V (lima)
Pelaksanaan : 20 Oktober - 28 November 2014

Muatan Sistem Indera Khusus


Sistem Indera Khusus merupakan blok kedua dari semester ganjil
(semester 5) yang diberikan kepada Angkatan 2012. Beban studinya sebesar
6 SKS yang berlangsung selama 6 minggu.
Blok ini tersusun dari berbagai kegiatan meliputi kuliah tatap muka dan
teleconference, praktikum, PBL, dan Skill Lab. Kandungan pengetahuan
Sistem Indera Khusus meliputi aspek pengetahuan dasar organ indera
(anatomi, histologi, dan fisiologi), epidemiologi, etiopatogenesis, pemeriksaan
penunjang, diagnosis, dan penatalaksanaan dari kelainan atau penyakit
organ indera khusus (mata, telinga, hidung, kulit dan adneksanya) yang
sesuai dengan Standard Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI).

Tujuan Umum
1. Meningkatkan pengetahuan mahasiswa di bidang Indra Khusus
( terdiri dari Ilmu Penyakit Mata, Ilmu Penyakit THT-KL, Ilmu Penyakit Kulit
dan Kelamin, Ilmu Penyakit Saraf, dan lain-lain) secara komprehensif.
2. Mencapai Kompetensi Pendidikan Dokter.

Area Kompetensi
Pada Sisem Indra Khusus, terdapat 6 area kompentesi yaitu sebagai berikut:
1. Area komunikasi efektif
2. Area keterampilan klinis
3. Area landasan ilmiah ilmu kedokteran
4. Area pengelolaan masalah kesehatan
5. Area mawas diri dan pengembangan diri
6. Area etika moral, medikolegal dan profesionalisme

Penyakit di dalam daftar SKDI dikelompokkan menurut sistem tubuh manusia


disertai tingkat kemampuan yang harus dicapai di akhir masa pendidikan.
Tingkat kemampuan yang harus dicapai:
Tingkat Kemampuan 1: mengenali dan menjelaskan
Lulusan dokter mampu mengenali dan menjelaskan gambaran klinik
penyakit, dan mengetahui cara yang paling tepat untuk mendapatkan
informasi lebih lanjut mengenai penyakit tersebut, selanjutnya
menentukan rujukan yang paling tepat bagi pasien. Lulusan dokter juga
mampu menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan.
Tingkat Kemampuan 2: mendiagnosis dan merujuk
Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik terhadap penyakit
tersebut dan menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan

7
pasien selanjutnya. Lulusan dokter juga mampu menindaklanjuti sesudah
kembali dari rujukan.
Tingkat Kemampuan 3: mendiagnosis, melakukan penatalaksanaan awal,
dan merujuk
3A. Bukan gawat darurat
Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi
pendahuluan pada keadaan yang bukan gawat darurat. Lulusan dokter
mampu menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan pasien
selanjutnya. Lulusan dokter juga mampu menindaklanjuti sesudah
kembali dari rujukan.
3B. Gawat darurat
Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi
pendahuluan pada keadaan gawat darurat demi menyelamatkan nyawa
atau mencegah keparahan dan/ atau kecacatan pada pasien. Lulusan
dokter mampu menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan
pasien selanjutnya. Lulusan dokter juga mampu menindaklanjuti sesudah
kembali dari rujukan.
Tingkat Kemampuan 4: mendiagnosis, melakukan penatalaksanaan secara
mandiri dan tuntas
Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik dan melakukan
penatalaksanaan penyakit tersebut secara mandiri dan tuntas.
4A. Kompetensi yang dicapai pada saat lulus dokter
4B. Profisiensi (kemahiran) yang dicapai setelah selesai internsip dan/
atau Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan (PKB)

Dengan demikian, level kompetensi tertinggi adalah 4A. Berikut terlampir


kompetensi pada sistem Indra yang tertera pada Buku Standar Kompetensi
Dokter Indonesia (SKDI) tahun 2012:

8
9
10
0

11
Sasaran Pembelajaran
Setelah menyelesaikan sistem ini diharapkan mahasiswa semester V dapat:
Menyebutkan penyakit-penyakit pada THT, mata, dan kulit.
Menjelaskan penyebab dari penyakit-penyakit yang menyebabkan
gejala pada THT, mata, dan kulit.
Menjelaskan patomekanisme penyakit-penyakit yang menyebabkan
gejala pada THT, mata, dan kulit.
Menjelaskan fisiologi pendengaran dan keseimbangan, penglihatan,
dan perabaan.
Menjelaskan gangguan struktur pada penyakit-penyakit mata, THT, dan
kulit.
Menyebutkan pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk
mendiagnosis penyakit mata, THT, dan kulit.
Menjelaskan penatalaksanaan penyakit mata, THT, dan kulit.
Menjelaskan komplikasi lain penyakit mata, THT, dan kulit.
Menjabarkan masalah penyakit pada masyarakat.
Memformulasikan upaya-upaya pencegahan penyakit-penyakit pada
masyarakat.

Lingkup Pembahasan
1. Kuliah pendahuluan (penjelasan sistem Indra Khusus).
2. Organum Vestibulo-khoklearis Organum Gustatorium Wajah &
indera khusus Organum visuale Struktur wajah.
3. Histologi Organ penglihatan, organ pendengaran & keseimbangan
Histologi organ Penciuman & pengecapan Histologi kulit & adneksa
4. Gross Anatomi dan Fisiologi Indra pendengaran & keseimbangan,
kelainan telinga luar , gangguan keseimbangan, gangguan telinga
tengah, gangguan penghidu dan pengecapan, serta gangguan
pendengaran.
5. Dermatosis Eritroskuamosa, Dermatosis Vesikobulosa, Dermatitis,
Neoplasma, kelainan rambut, kelainan pigmen, penyakit kulit alergi dan
iktiosis
6. Akomodasi dan Refraksi , Diskus Optik dan saraf mata, penyakit retina,
Aparatus Lakrimalis, Kelopak mata, Penyakit konjungtiva, Penyakit
Kornea, Sklera, Glaukoma, Kelainan Lensa, Iris dan badan silier
7. Kelainan syaraf kranial dan aplikasi klinis

12
Penilaian
Sistem penilaian akan dilakukan terus sepanjang sistem berlangsung,
Mahasiswa akan dinilai secara individual dalam hal pengetahuan, ketrampilan
dan sikap. Ketiga komponen ini dinilai melalui empat evaluai dengan bobot
penilaian:
Ujian Teori (50%)
Ujian Praktikum (20%)
Ujian CSL (20%)
Diskusi PBL (10%)
Ujian teori diberikan dalam bentuk multiple choice question dan skenario
soal. Soal ujian teori dibuat oleh kontributor dalam sistem indra khusus.
Penyususnan soal-soal ujian tersebut disesuaikan dengan learning objective
sistem indra khusus.

13
TATA TERTIB UMUM

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter FKK UMJ harus


mematuhi tata tertib seperti di bawah ini :
1. Berpakaian, berpenampilan dan bertingkah laku yang baik dan sopan
layaknya seorang dokter. Tidak diperkenankan memakai pakaian
ketat, berbahan jeans, baju kaos (dengan/tanpa kerah), dan sandal.
2. Mahasiswa laki-laki wajib berambut pendek dan rapih.
3. Mahasiswi diwajibkan memakai jilbab dan busana muslimah di setiap
kegiatan berlangsung.
4. Tidak diperkenankan merokok di lingkungan PSPD FKK UMJ.
5. Menjaga ketertiban dan kebersihan di lingkungan PSPD FKK UMJ.
6. Melaksanakan registrasi administrasi dan akademik semester yang
akan berjalan.
7. Memakai papan nama resmi yang dikeluarkan dari PSPD FKK UMJ di
setiap kegiatan akademik kecuali perkuliahan. Jika papan nama rusak
atau dalam proses pembuatan, maka mahasiswa wajib membawa
surat keterangan dari bagian pendidikan.
8. Mahasiswa yang tidak hadir di kegiatan akademik karena sakit wajib
memberitahu bagian pendidikan saat itu dan selanjutnya membawa
lampiran keterangan bukti diagnosis dari dokter (diterima paling lambat
3 hari setelah tanggal sakit).

Sanksi Pelanggaran Tata Tertib Umum

1. Bagi mahasiswa yang tidak mematuhi tata tertib umum tidak dapat
mengikuti setiap kegiatan akademik.
2. Bagi mahasiswa yang terlambat melakukan registrasi tidak berhak
memperoleh pelayanan akademik.
3. Bagi mahasiswa yang tidak mengajukan/merencanakan program
studinya (mengisi KRS) pada waktu yang telah ditentukan sesuai
kalender akademik tidak boleh mengikuti segala aktifitas perkuliahan.
4. Bagi mahasiswa yang terlambat hadir, tidak dapat mengikuti setiap
kegiatan.

14
Tata Tertib Diskusi Tutorial

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter FKK UMJ harus mematuhi


tata tertib diskusi tutorial seperti dibawah ini :

1. Kelompok diskusi terdiri dari 10 sampai 15 mahasiswa yang diatur oleh


Bagian Pendidikan PSPD FKK UMJ.
2. Kelompok diskusi ini difasilitasi oleh satu orang atau lebih tutor, yang
juga merupakan bagian dari kelompok diskusi.
3. Anggota kelompok diskusi memilih ketua dan sekretaris kelompok.
4. Ketua bertugas untuk mengarahkan diskusi dan membagi tugas pada
anggota kelompok.
5. Sekretaris bertugas menuliskan semua hasil diskusi pada satu kertas
lembar balik.
6. Wajib mengikuti seluruh kegiatan tutorial. Bila tidak mengikuti kegiatan
tutorial pertemuan pertama dan atau kedua tanpa alasan yang jelas
mahasiswa tidak mendapat penilaian diskusi tutorial saat itu.
7. Datang 10 menit sebelum tutorial dimulai.
8. Mahasiswa akan mendapatkan pretest sebelum tutorial dimulai.
9. Berpakaian, berpenampilan dan bertingkah laku yang baik dan sopan
layaknya seorang dokter. Tidak diperkenankan memakai pakaian
ketat, berbahan jeans, baju kaos (dengan/tanpa kerah), dan sandal.
10. Bagi mahasiswa laki-laki yang berambut panjang tidak diperkenankan
mengikuti kegiatan diskusi tutorial.
11. Mahasiswi diwajibkan memakai jilbab selama perkuliahan berlangsung.
12. Tidak diperkenankan merokok di lingkungan belajar PSPD FKK UMJ.
13. Memakai papan nama resmi yang dikeluarkan dari PSPD FKK UMJ.
Jika papan nama rusak atau dalam proses pembuatan, maka
mahasiswa wajib membawa surat keterangan dari bagian pendidikan.
14. Menjaga ketertiban dan kebersihan lingkungan ruang diskusi.
Buanglah sampah pada tempat sampah yang telah disediakan.
15. Laporan hasil diskusi tutorial dalam bentuk paper dan powerpoint
dikumpulkan ke bagian pendidikan maksimal 1 hari sebelum rapat
pleno dilaksanakan. Perbaikan laporan diskusi tutorial paling lambat 7
(tujuh) hari setelah rapat pleno. Jika belum mengumpulkan, tidak
dapat mengikuti ujian teori sistem.
16. Setiap kelompok wajib menyerahkan paper kelompoknya kepada
kelompok lain maksimal 1 hari sebelum rapat pleno dilaksanakan.
17. Hal hal yang belum tercantum dalam tata tertib ini akan ditentukan
kemudian.
Tata tertib ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan apabila dikemudian hari
ternyata terdapat kekeliruan dalam tata tertib ini, akan diadakan perbaikan
sebagaimana semestinya.

15
Tata Tertib Rapat Pleno

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter FKK UMJ harus mematuhi


tata tertib rapat pleno seperti dibawah ini :

1. Hadir 15 menit sebelum pleno dimulai.


2. Berpakaian, berpenampilan dan bertingkah laku yang baik dan sopan
layaknya seorang dokter. Tidak diperkenankan memakai pakaian
ketat, berbahan jeans, baju kaos (dengan/tanpa kerah), dan sandal.
3. Bagi mahasiswa laki-laki yang berambut panjang, tidak diperkenankan
mengikuti kegiatan rapat pleno.
4. Mahasiswi diwajibkan memakai jilbab selama perkuliahan berlangsung.
5. Tidak diperkenankan merokok di lingkungan belajar PSPD FKK UMJ.
6. Memakai papan nama resmi yang dikeluarkan dari PSPD FKK UMJ.
Jika papan nama rusak atau dalam proses pembuatan, maka
mahasiswa wajib membawa surat keterangan dari bagian pendidikan.
7. Seluruh kelompok mahasiswa wajib menyerahkan slide presentasi
kepada bagian pendidikan maksimal 15 menit sebelum pleno dimulai.
8. Berperan aktif dalam rapat pleno. Setiap keaktifan mahasiswa akan
mendapatkan nilai.
9. Tidak diperkenankan meninggalkan ruang pleno kecuali pada waktu
yang ditentukan.
10. Bagi mahasiswa yang tidak hadir pleno tanpa alasan yang jelas, akan
mendapatkan sanksi tegas yang diatur kemudian.
11. Menjaga ketertiban jalannya rapat pleno.
12. Menjaga kebersihan lingkungan ruang diskusi. Buanglah sampah
pada tempat sampah yang telah disediakan.
13. Hal hal yang belum tercantum dalam tata tertib ini akan ditentukan
kemudian.

Tata tertib ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan apabila dikemudian hari
ternyata terdapat kekeliruan dalam tata tertib ini, akan diadakan perbaikan
sebagaimana semestinya.

16
Tata Tertib Clinical Skill Lab (CSL)

Sebelum pelatihan
1. Membaca Penuntun Belajar (manual) Keterampilan Klinik Sistem yang
bersangkutan dan bahan bacaan rujukan tentang keterampilan yang akan
dilakukan.
Pada saat pelatihan
1. Datang 10 menit sebelum CSL dimulai.
2. Wajib mengikuti seluruh kegiatan CSL sesuai dengan jadwal rotasi
yang telah ditentukan.
3. Tidak diperkenankan memanjangkan kuku lebih dari 1 mm.
4. Mengenakan jas laboratorium yang bersih dan dikancing rapih pada
setiap kegiatan CSL. Bagi mahasiswi yang berjilbab, jilbabnya harus
dimasukkan ke bagian dalam jas laboratorium.
5. Buanglah sampah kering yang tidak terkontaminasi (kertas, batang
korek api, dan sebagainya) pada tempat sampah non medis. Sampah yang
telah tercemar (sampah medis), misalnya kapas lidi yang telah dipakai, harus
dimasukkan ke tempat sampah medis yang mengandung bahan desinfektan
untuk didekontaminasi, dan sampah tajam dimasukan pada tempat sampah
tajam.
6. Berpartisipasi aktif pada semua kegiatan latihan.
7. Memperlakukan model seperti memperlakukan manusia atau bagian
tubuh manusia.
8. Bekerja dengan hati-hati.
9. Tidak diperkenankan menghilangkan, mengambil atau meminjam
tanpa ijin setiap alat dan bahan yang ada pada ruang CSL.
10. Setiap selesai kegiatan CSL mahasiswa harus merapihkan kembali
alat dan bahan yang telah digunakan.
11. Pengulangan CSL dapat dilaksanakan dengan ketentuan sebagai
berikut :
a. Membuat surat permohonan pengulangan CSL ke bagian pendidikan
tembusan ke bagian CSL dengan melampirkan materi yang akan
diulang dan jumlah peserta yang akan ikut paling lambat 3 hari sebelum
hari pelaksanaan.
b. Pengulangan CSL dilaksanakan pada saat tidak ada jadwal perkuliahan
dengan atau tanpa pendamping dari instruktur.
c. Pengulangan CSL dilaksanakan sampai maksimal pukul 21.00 WIB.

17
Sanksi Pelanggaran Tata Tertib Clinical Skill Lab (CSL)

1. Bagi mahasiswa yang tidak mengikuti kegiatan CSL pada materi


tertentu, maka mahasiswa tersebut tidak diperkenankan mengikuti
kegiatan CSL pada jadwal berikutnya untuk materi tertentu tersebut.
2. Bagi mahasiswa yang mengikuti kegiatan CSL dan praktikum tidak
sesuai dengan jadwal rotasinya dianggap tidak hadir.
3. Bagi mahasiswa yang persentasi kehadiran CSLnya < 75 % dari
seluruh jumlah tatap muka CSL, maka mahasiswa tidak dapat
mengikuti ujian CSL.
4. Kerusakan alat dan bahan yang ada pada ruang CSL dan praktikum
yang terjadi karena ulah mahasiswa, resikonya ditanggung oleh
mahasiswa yang bersangkutan.
5. Bagi mahasiswa yang menghilangkan, mengambil atau meminjam
tanpa ijin setiap alat dan bahan yang ada pada ruang CSL dan
praktikum akan mendapatkan sanksi tegas sesuai dengan peraturan
yang berlaku.
6. Bagi mahasiswa yang persentase kehadiran praktikumnya < 75 %
dari seluruh jumlah tatap muka praktikum tidak dapat mengikuti ujian
praktikum.

18
PANDUAN TUTORIAL
Problem Based Learning

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM ( TIU )

Setelah mempelajari modul ini, mahasiswa akan dapat menjelaskan tentang penyebab,
patomekanisme, gambaran klinik, pemeriksaan penunjang, penatalaksanaan,
komplikasi, dan pencegahan penyakit-penyakit yang menyebabkan kelainan pada
mata, telinga hidung tenggorok, serta kelainan pada kulit tersebut.

Tujuan Instruksional Khusus (TIK)

Setelah mempelajari modul ini, mahasiswa diharapkan dapat :


1. Menyebutkan anatomi organ-organ yang berkaitan dengan sistem penginderaan
khusus.
2. Menjelaskan histologi organ indra khusus.
3. Menjelaskan fisiologi penglihatan, fisiologi pendengaran dan keseimbangan, serta
fisiologi kulit.
4. Menjelaskan struktur telinga yang terganggu pada penyakit-penyakit yang
menyebabkan ketulian.
5. Menjelaskan patomekanisme penyakit-penyakit dengan mata merah yang disertai
penglihatan normal, dan penyakit mata merah yang disertai penglihatan kabur dan
penurunan tajam penghlihatan tanpa disertai mata merah.
6. Menjelaskan patomekanisme terjadinya ketulian dan gatal.
7. Menyebutkan penyakit-penyakit yang menyebabkan gejala mata merah,
penglihatan kabur dan penurunan tajam penglihatan, penyakit yang
menyebabkan gejala ketulian, serta penyakit yang menyebabkan gejala gatal.
8. Menjelaskan gambaran klinik lain yang menyertai penyakit-penyakit tersebut.
9. Menjelaskan pemeriksaan pemeriksaan penunjang yang bisa membantu
diagnosa penyakit.
10. Menjelaskan penatalaksanaan yang diberikan pada penderita pada penyakit-
penyakit tersebut.
11. Menjelaskan komplikasi lain dari penyakit-penyakit tersebut.
12. Menjabarkan masalah gangguan penglihatan, masalah ketulian, dan keluhan gatal
pada masyarakat.
13. Menjelaskan promotif dan preventif penyakit-penyakit mata merah baik pada
penglihatan normal maupun penglihatan kabur.

19
Tugas Mahasiswa
1. Setelah membaca dengan teliti skenario tutorial, mahasiswa harus mendiskusikan
kasus tersebut pada suatu kelompok diskusi yang dipimpin oleh seorang ketua
dan memilih seorang notulen untuk mencatat semua hasil diskusi
2. Melakukan aktivitas pembelajaran individual dengan mencari bahan informasi
yang mendukung diskusi
3. Melakuakn diskusi kelompok mandiri ( tanpa tutor)
4. Berkonsultasi pada narasumber yang ahli pada permasalahan yang dimaksud
untuk memperoleh pengertian yang lebih mendalam
5. Mengikuti kuliah (kuliah pakar) dalam kelas untuk masalah yang belum jelas

Proses Pemecahan Masalah


Dalam diskusi kelompok, mahasiswa diharapkan memecahkan problem yang terdapat
dalam scenario ini yaitu dengan mengikuti 7 langkah penyelesaian masalah yaitu :
1. Klasifikasi istilah yang tidak jelas dalam scenario diatas dan tentukan
kata/kaliamat kunci scenario diatas
2. Indentifikasi problem dasar scenario diatas, dengan membuat beberapa pertanyaan
penting
3. Analisa problem problem tersebut dengan menjawab pertanyaan pertanyaan
diatas
4. Klassifikasi jawaban atas pertanyaan pertanyaan tersebut diatas.
5. Tentukan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai mahasiswa atas kasus diatas
6. Cari informasi tambahan tentang kasus diatas diluar kelompok tatap muka
7. Laporkan hasil diskusi dan sintesis informasi-informasi yang ditemukan

Keterangan :
- Langkah 1-5 dilakukan dalam diskusi pertama bersama tutor
- Langkah 6 dilakukan dengan belajar mandiri,dapat dilakukan berkelompok atau
sendiri-sendiri, yang kemudian didiskusikan ulang bersama kellompok (tanpa
kehadiran tutor)
- Langkah tujuh dilakukan dalam diskusi dengan tutor

Jadwal Kegiatan

1. Pertemuan pertama dalam kelas besar dengan tatap muka satu arah dan tanya
jawab. Tujuan : menjelaskan tentang modul dan cara menyelesaikan modul, dan
membagi kelompok diskusi. Pada pertemuan pertama buku modul dibagikan.
2. Pertemuan kedua : diskusi mandiri. Tujuan :
Memilih ketua dan sekretaris kelompok,
Brain-storming untuk proses 1 3,
Membagi tugas
3. Pertemuan ketiga: diskusi tutorial dipimpin oleh mahasiswa yang terpilih menjadi
ketua dan penulis kelompok, serta difasilitasi oleh tutor. Tujuan: untuk melaporkan
hasil diskusi mandiri dan menyelesaikan proses sampai langkah 5.

20
4. Anda belajar mandiri baik sendiri-sendiri. Tujuan: untuk mencari informasi baru
yang diperlukan,
5. Pertemuan keempat: adalah diskusi tutorial. Tujuan: untuk melaporkan hasil
diskusi lalu dan mensintese informasi yang baru ditemukan. Bila masih diperlukan
informasi baru dilanjutkan lagi seperti No. 2 dan 3.
6. Pertemuan terakhir: dilakukan dalam kelas besar dengan bentuk diskusi panel untuk
melaporkan hasil diskusi masing-masing kelompok dan menanyakan hal-hal yang
belum terjawab pada ahlinya (temu pakar).

Strategi Pembelajaran

1. Diskusi kelompok mandiri tanpa tutor, melakukan curah pendapat bebas


antar anggota kelompok
2. Diskusi kelompok yang diarahkan oleh tutor untuk mlihat pertanyaan
alternatif terhadap maslah tertentu
3. Konsultasi pada nara sumber yang ahli pada permasalahan dimaksud untuk
memperoleh pengertian yang lebih mendalam
4. CSL : pemeriksaan visus, funduskopi
5. Praktikum : Anatomi mata, Histologi, PA
6. Aktivitas pembelajaran individual di perpustakaan dengan menggunakan buku
ajar, majalah, slide, dan internet.

Sumber Bacaan
Buku Ajar
1. Kanski. Clinical of Ophthalmology
2. AAO. Retina and Vitreous. 2003
3. Grant Boileau JC. A Method of Anatomy, 6th ed, The Williams and Wilkins Co.,
Baltimore, 1958
4. Gray Henry, Mayo Goss : Anatomy of the Human Body, 17 th ed., Lea and Fabiger,
Philadelphia, 1959
5. Grans Atlas of Anatomy
6. Atlas Spaltelhotz
7. Dikat kuliah penyakit THT Bagian THT-KL FK-Unhas
8. Allan G Kerr. Scot Browns Otolaryngology, Basic Science
9. Goodman & Gillmans. The pharmacological Basis of therapeutics 9 th ed. New York.
Mc Graw Hill 1996.Di Piro J. Pharmacotherapy A Patophysiologic approach. New
York. Elsevier. 1989
10. A Textbook of Radiology and Imaging, David Suton, 1993
11. Synopsis of Analysis of Rontegen Sign in General Radiology, Isadore Meschan, 1976
12. Diktat Kuliah Radiologi
13. Cranial MRI and CT, Lee SH, Kao KC, Zimmerman, 1992
14. L. Kathelen Mahan & Marian Arrlin, Krause's: Food Nutrition & Diet therapy,
Philadelphia, WB Saunders Company, 9th ed., 1998

21
15. Shils ME, Olson JA: Modern Nutrition in Health and Disease, Philadelphia,lippincott
williams & wilkins, 9th eds., 1999
16. Wijaya Caroline (Editor Bahasa Indonesia) 1995, Referensi Manual Kedokteran
Keluarga, Hipokrates, Jakarta
17. Noor N Nasri, 1997, Dasar Epidemiologi, PT. Rineka Cipta, Jakarta
18. World Health Organization, 1992, International Statistical Classification of Diseases
and Related Health Problems, Tenth Revision, vol.1, WHO, Geneva

A. Sumber lain
1. Internet
2. VCD
3. Journal
4. Majalah-majalah ilmiah lainnya

22
PANDUAN MANUAL
Clinical Skill Lab

Daftar Station CSL


Terdapat enam station dalam CSL di sistem Indra Khusus ini, yaitu:
1. Anamnesis Kasus Mata dan THT
2. Pemeriksaan Fisik THT
3. Ekstraksi Serumen dan Garputala
4. Pemeriksaan keseimbangan penghidu dan pengecap
5. Pemeriksaan Mata Sederhana
6. Pemeriksaan Sensoris

Tujuan Umum
Mahasiswa mampu melakukan anamnesis kasus mata dan THT; pemeriksaan fisis
telinga, hidung dan tenggorokan ; melakukan tes fungsi pendengaran, keseimbangan,
penghidu dan pengecapan; melakukan pemeriksaan mata sederhana; serta mampu
melakukan pemeriksaan sensorik secara baik dan benar.

Tujuan Khusus
1. Mahasiswa mampu mengenal dan menjelaskan alat dan bahan yang akan
digunakan.
2. Mahasiswa mampu mempersiapkan penderita dalam rangka persiapan
pemeriksaan.
3. Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan tersebut dengan baik dan benar.
4. Mahasiswa dapat menginterpretasi hasil pemeriksaan dengan tepat untuk
kepentingan diagnosis keluhan pasien.
5. Mahasiswa mampu menentukan apakah kelainan-kelainan yang ditemukan
merupakan kelainan kongenital, keganasan, infeksi , trauma atau kelainan
degeneratif.

23
Media dan Alat Bantu Pembelajaran
1. Buku panduan skill lab
2. Daftar panduan skill lab
3. Gambar / slide cara pemeriksaan fisis THT dan tes-tes fungsi pendengaran,
keseimbangan, penghidu dan pengecapan
4. Alat tulis menulis / spidol
5. Pemutaran film pemeriksaan fisis THT dan tes-tes fungsi pendengaran,
keseimbangan, penghidu dan pengecapan

Metode Pembelajaran
CSL akan dilaksanakan sebanyak dua sesi, dimana sesi kedua adala Responsi. Alokasi
waktu untuk Sesi pertama sebanyak 3x50 menit sementar asesi responsi sebanyak
2x50 menit. Dalam sesi CSL aka dilaksanakan dengan tahapan
se3bagai berikut:

1. Demonstrasi dan alih ketrampilan


2. Diskusi
3. Daftar tilik dengan sistem skor

24
Deskripsi Kegiatan Anamnesis dan PF THT

KEGIATAN WAKTU DESKRIPSI


1. Pengantar 10 menit Pengantar skill lab
2. Persiapan dan presentasi 15 menit a. Mengatur posisi duduk mahasiswa
pendahuluan b. Mempersiapkan model
c. Dosen memberikan penjelasan hal-hal
yang penting
d. Memberikan kesempatan mahasiswa
untuk bertanya
e. Semua media dan alat sudah disiapkan
f. Menjelaskan jalannya skill lab dan
menyampaikan berkumpul kembali untuk
interpretasi hasil melalui audio visual
3. Persiapan Praktek 15 menit a. Mahasiswa dibagi dalam beberapa
kelompok
b. Disampaikan setiap mahasiswa
c. Diperlukan mentor untuk mengamati
setiap mahasiswa
d. Siapkan audio visual di ruangan terentu /
terpisah
4. Pelaksanaan pemerik- 60 menit a. persiapan penderita probandus.
saan fisis THT, tes b. Persiapan posisi penderita probandus.
fungsi pendengaran c. Melakukan pemeriksaan fisis telinga
dan keseimbangan, tes f. Melakukan tes garpu tala
fungsi penghidu dan g. Melakukan tes kalori
pengecapan h. Melakukan tes fungsi penghidu dan
penge-capan
h. Pembacaan hasil
g. Interpretasi hasil
5. Diskusi / curah pendapat 20 menit a. Apa yang dirasakan mudah dan yang
sulit?
b. Mahasiswa menyimpulkan hasil pemerik-
saan fisis telinga , tes garpu tala, tes kalori
dan tes fungsi penghidu dan pengecapan
yang telah dilakukan
c. Instruktur menjelaskan apa yang kurang
jelas
d. Instrukutur menjawab pertanyaan
e. Instruktur menyimpulkan semua hal
tentang
pemeriksaan yang telah dilakukan
Total Waktu 120 mnt

Deskripsi Kegiatan Pemeriksaan Mata

25
Kegiatan Waktu Deskripsi
1. Pengantar secara 15 menit 1. Pengantar oleh intruktur
umum 2.Demnonstasi melalui video
2. Bermain peran, 25 menit 3. Dua orang dosen memberikan
Tanya dan Jawa contoh bagaimana cara
melakukan anamnesis lengkap,
pemeriksaan mata disesuaikan
tahap demi tahap sesuai
penuntun belajar.
4. Mahasiswa menyimak sesuai
dengan menggunakan Penuntun
Belajar.
5. Memberikan kesempatan
kepada mahasiswa untuk
bertanya dan dosen memberikan
penjelasan tetang aspek-aspek
yang penting.
3. Praktek bermain 100 menit 6. Mahasiswa dibagi menjadi
peran dengan umpan pasangan-pasanga. Seorang
balik mentor diperlukan untuk
mengamati 3 pasangan.
7. Setiap pasangan berpraktek
melakukan pemeriksaan. (secara
bergantian berlaku sebagai
pemeriksa dan penderita)
8. Mentor berkeliling diantara
mahasiswa dan melakukan
supervisi menggunakan cek lis.
9. Mentor memberikan tema
khusus umpan balik kepada
setiap pasangan.
4. Curah 15 menit 10. Curah pendapat/diskusi: apa
pendapat/diskusi yang dirasakan mudah, apa yang
sulit. Menanyakan bagaimana
perasaan mahasiswa yang
berperan sebagai penderita. Apa
yang dapat dilakukan oleh
pemeriksa agar penderita lebih
nyaman.
11. Dosen menyimpulkan
denganmenjawab pertanyaan
dan menjelaskan masalah yang
belum dimengerti.
Total waktu 155 menit

26
Deskripsi Kegiatan Pemeriksaan Sensoris

Kegiatan Waktu Deskripsi


# 1. Pengantar 2 menit Pengantar
# 2. Bermain Peran Tanya 30 menit 1. Mengatur posisi duduk mahasiswa
& Jawab 2. Dua orang dosen memberikan contoh
bagaimana cara melakukan pemeriksaan
sensoris (neurologis).
Mahasiswa mengamati peragaan dengan
menggunakan Penuntun Belajar.
3. Memberikan kesempatan kepada
mahasiswa untuk bertanya dan dosen
memberikan penjelasan tentang aspek-
aspek yang penting
# 3. Praktek bermain peran 100 menit 1. Mahasiswa dibagi menjadi pasangan-
dengan Umpan Balik pasangan. Diperlukan minimal seorang
Instruktur untuk mengamati setiap
langkah yang dilakukan oleh paling
banyak 4 pasangan.
2. Setiap pasangan berpraktek melaku-
kan langkah-langkah pemeriksaan
neurologis secara serentak
3. Instruktur berkeliling diantara ma-
hasiswa dan melakukan supervisi
menggunakan check list.
4. Instruktur memberikan pertanyaan
dan umpan balik kepada setiap pasangan
# 4. Curah Pendapat/ 15 menit 1. Curah Pendapat/Diskusi : Apa yang
Diskusi dirasakan mudah? Apa yang sulit?
Menanyakan bagaimana perasaan
mahasiswa yang pada saat melakukan
pemeriksaan Apa yang dapat dilakukan
oleh dokter agar klien merasa lebih
nyaman?
2. Instruktur membuat kesimpulan
dengan menjawab pertanyaan terakhir dan
memperjelas hal-hal yang masih belum
dimengerti
Total waktu 150 menit

27