Anda di halaman 1dari 29

PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT KHUSUS IBU DAN ANAK

WIJAYAKUSUMA
NOMOR: 118/PER.DIR/RSKIA.WK/VII/2017
Tentang
PEDOMAN PELAYANAN INSTALASI RADIOLOGI

DIREKTUR RUMAH SAKIT KHUSUS IBU DAN ANAK WIJAYAKUSUMA

a. bahwa dalam upaya memberikan pelayanan


Menimbang : kesehatan dengan kualitas tinggi dan mengutamakan
keselamatan pasien, maka diperlukan Pedoman
Pelayanan Instalasi Radiologi di Rumah Sakit
Khusus Ibu dan Anak Wijayakusuma.
b. Bahwa sesuai poin a di atas, perlu ditetapkan
dengan Peraturan Direktur Rumah Sakit Khusus Ibu
dan Anak Wijayakusuma

1. Undang - Undang No. 29 tahun 2004 tentang Praktik


Mengingat : Kedokteran
2. Undang - Undang No. 36 tahun 2009 tentang
Kesehatan
3. Undang - Undang No. 36 tahun 2014 tentang Tenaga
Kesehatan
4. Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 44
Tahun 2009 tentang Rumah Sakit.
5. Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2008 tentang
Perizinan Sumber Radiasi Pengion dan Bahan Nuklir
(Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2008
Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4839)
6. Permenkes Nomor 357/ MENKES/PER/V/2006
tentang Registrasi dan Izin Kerja Radiografer
7. Permenkes Nomor 357/ MENKES/PER/V/2006
tentang StandarRadiografer
8. Permenkes Nomor 780/ MENKES/PER/VIII/2008
tentang penyelenggaraan Pelayanan Radiologi.
9. Peraturan KEMENKES RI No.
1250/MENKES/SK/XII/2009 Tentang Pedoman
Kendali Mutu (Quality Control) Peralatan

1
Radiodiagnostik.

MEMUTUSKAN

Menetapkan :

Kesatu : PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT KHUSUS IBU


DAN ANAK WIJAYAKUSUMA TENTANG PEDOMAN
PELAYANAN INSTALASI RADIOLOGI

Kedua : Panduan Pedoman instalasi Instalasi Radiologi dimaksud


Diktum Kesatu sebagaimana terlampir dalam Lampiran
Peraturan ini

Ketiga : Panduan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA)


dimaksud Diktum Kedua dijadikan sebagai acuan dalam
program peningkatan Keselamatan Pasien di Rumah
Sakit Khusus Ibu dan Anak Wijayakusuma

Keempat : Peraturan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan

Ditetapkan di : KEBUMEN
Pada tanggal : 27 Juli 2017

Direktur
Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak Wijayakusuma

dr. Indah Mukarromah

2
LAMPIRAN

PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT


KHUSUS
IBU DAN ANAK WIJAYAKUSUMA
NOMOR: /PER.DIR/RSKIA.WK/III/2017
TENTANG
PEDOMAN PELAYANAN RADIOLOGI

DAFTAR ISI
PEDOMAN PELAYANAN RADIOLOGI

PERATURAN DIREKTUR ......................................................................................... i

DAFTAR ISI ............................................................................................................... ii

BAB I. PENDAHULUAN ...................................................................................... 1

A. Latar Belakang ..........................................................................................1

B. Tujuan Pedoman........................................................................................1

C. Ruang Lingkup Pelayanan ........................................................................2

D. Batasan Operasional .................................................................................2

E. Landasan Hukum ......................................................................................3

BAB II. STANDAR KETENAGAAN.........................................................................5

A. Kualifikasi sumber daya manusia ..............................................................5

B. Distribusi Ketenagaan ...............................................................................5

C. Pengaturan Jaga .......................................................................................5

BAB III. STANDAR FASILITAS ...............................................................................7

A. Denah Ruang ............................................................................................7

B. Standar Fasilitas ......................................................................................7

BAB IV. KEBIJAKAN PELAYANAN ..........................................................................12

BAB V . TATA LAKSANA PELAYANAN ....................................................................14

BAB VI. LOGISTIK ..................................................................................................17

BAB VII. KESELAMATAN PASIEN ..........................................................................19

BAB VIII. KESELAMATAN KERJA .........................................................................21

BAB IX. PENGENDALIAN MUTU ............................................................................24

3
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................25

4
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan adalah salah satu unsur kesejahteraan umum yang dapat
diwujudkan dengan upaya pembangunan nasional yang berkesinambungan
untuk menjadikan sumber daya manusia yang berkualitas dan handal.
Kesehatan bukanlah tanggung jawab departemen kesehatan melainkan juga
tanggung jawab seluruh sektor, masyarakat dan swasta yang sangat
diharapkan.
Menciptakan kondisi kesehatan masyarakat yang berkualitas telah di
atur dalam Undang undang No. 36 tahun 2009, bertujuan untuk
mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat. Salah satu
tujuan dan pembangunan kesehatan di Indonesia adalah upaya untuk
memperbaiki kualitas pelayanan kesehatan. Kualitas pelayanan kesehatan
harus dilaksanakan di seluruh sarana pelayanan kesehatan pemerintah
maupun swasta. Dengan pelayanan kesehatan yang bermutu diharapkan
masyarakat akan lebih berminat untuk memanfaatkan sarana pelayanan
kesehatan Rumah Sakit dan pelayanan kesehatan lainnya.
Rumah Sakit menyediakan dan menawarkan beberapa pelayanan
medis sebagai bentuk pendukung pelayanan kesehatan kepada masyarakat,
salah satu diantaranya adalah pelayanan Radiologi. Pelayanan Radiologi
yaitu pelayanan penunjang medis yang bertujuan memberikan hasil
diagnosa. Pelayanan Radiologi dalam operasionalnya memanfaatkan radiasi
pengion yaitu Sinar x- ray dan radiasi non pengion yaitu dengan pelayanan
Ultrasonografi (USG). Sinar x-Ray yang telah diketahui selain manfaatnya
juga ada dampak negativenya, maka dari itu perlu mendapatkan perhatian
sehingga dalam pemanfaattannya sesuai dengan prosedur dan
memperhatikan keselamatan pasien.
Untuk mencapai hal- hal tersebut diperlukan Standar Pelayanan
Instalasi Radiologi yang disusun sebagai acuan dan standar yang berlaku,
yang disesuaikan dengan kondisi Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak
Wijayakusuma sehingga dapat memberikan gambaran Pelayanan Unit
Radiologi dan sisi landasan hukum. Mekamnisme pelayanan, sarana
pendukung SDM, logistik, sanitasi, K3 dan pengendalian mutu.

B. Tujuan Pedoman
Tujuan pembuatan pedoman pelayanan radiologi diagnostik Rumah
Sakit Khusus Ibu dan Anak Wijayakusuma adalah:

1
1. Sebagai acuan penyelenggaraan pelayanan pelayanan radiologi
diagnostik Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak Wijayakusuma.
2. Meningkatkan mutu pelayanan radiologi diagnostik di rumah sakit.
3. Sebagai pedoman dalam upaya pengembangan pelayanan radiologi
diagnostik Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak Wijayakusuma di masa
depan.

C. Ruang Lingkup Pelayanan


Pelayanan radiologi diagnostik Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak
Wijayakusuma meliputi :
1. Pelayanan Radiodiagnostik
2. Pelayanan Imejing Diagnostik
Pelayanan radiodiagnostik adalah pelayanan menggunakan radiasi pengion
yaitu pelayanan pemeriksaan x-ray konvensional,
Pelayanan imejing diagnostik adalah pelayanan menggunakan radiasi non
pengion yaitu pelayanan pemeriksaan dengan gelombang suara atau
Ultrasonografi (USG).

D. Batasan Operasional
1. Radiologi adalah cabang ilmu kedokteran yang menggunakan energi
pengion dan energi non pengion dalam bidang diagnostik imejing dan
terapi, yang meliputi energi pengion yaitu sinar rontgen (Sinar- X) dan
energi non pengion seperti gelombang suara (gelombang ultrasonik).
2. Radiologi diagnostik merupakan sarana pelayanan kesehatan yang
menggunakan alat- alat/ teknologi pencitraan menggunakan radiasi
pengion dan non pengion dalam bidang radiodiagnostik.
3. Radiodiagnostik imaging adalah cabang ilmu Radiologi dalam bidang
diagnostik yang menggunakan alat-alat yang memancarkan energi
pengion maupun non pengion yang akan menghasilkan citra (Imej) dari
morfologi tubuh manusia dan faal tubuh manusia untuk diagnosis medis
yang menggunakan sinar- x dan gelombang suara.
4. Pelayanan radiologi diagnostik adalah kegiatan-kegiatan yang
mencangkup perencanaan, pemeriksaan, evaluasi dan laporan hasil
pemeriksaan, pelayanan konsultasi, pemecah masalah, penanganan
peralatan dan bahan penunjang, pemantapan kualitas dan pembinaan
teknis dalam bidang radiologi diagnostik.
5. Pelayanan radiologi sederhana adalah pelayanan penunjang untuk
diagnostik dengan menggunakan peralatan radiologi sederhana meliputi
pemeriksaan Thorax dan Abdomen polos.

2
6. Standar Pelayanan Radiologi adalah sumber yang berlaku dengan
tingkat atau kelas rumah sakit dan sarana pelayanan kesehatan lainnya
yang menyelenggarakan pelayanan radiologi tersebut.
7. Pesawat X-Ray Sederhana adalah pelayanan radiodiagnostik yang
paling sederhana untuk radiografi.
8. Tenaga Profesional adalah tenaga yang mencangkup Dokter
Spesialis Radiologi, Radiografer, Petugas Proteksi Radiasi.
9. Standar Prosedur Operasonal (SPO) adalah kumpulan instruksi/
langkah- langkah yang telah dibakukan untuk menyelesaikan proses
kerja rutin tertentu.
10. USG (Ultrasonografi) adalah alat pemeriksaan organ tubuh manusia
dengan menggunakan gelombang suara yang frekwensinya 1- 10 juta
Hz.
11. Informed Concent adalah surat persetujuan pasien atau keluarga
untuk pelaksanaan tindakan medis.
12. Apron adalah alat pelindung diri dari radiasi sinar x.
13. Developer dan Fixer adalah zak kimia yang berfungsi untuk
memproses film radiografi sehingga terbentuk bayangan tampak.
14. Marker adalah tanda atau kode yang terbuat dari bahan tidak tembus
sinar- X yang berfungsi untuk identifikasi pasien.
15. Kaset adalah alat yang digunakan untuk menempatkan film sehingga
terlindungi dari cahaya saat pemeriksaan rontgen.
16. Media kontras adalah suatu bahan atau media yang dimasukkan
kedalam tubuh pasien untuk membantu pemeriksaan radiografi.
17. AP ( Antero Posterior ) yaitu arah sinar dari sisi pasien menuju ke sisi
belakang pasien sejajar bidang sagital.
18. Lateral yaitu arah sinar dari sisi samping pasien atau sejajar dengan
bidang coronal pasien.
19. Oblique yaitu arah sinar membentuk sudut 45 dari bidang sagital
atau coronal pasien.
20. Sistem manajemen mutu adalah kebijakan, prosedur, dokumen dan
lainnya yang bertujuan agar mutu pemeriksaan dan sistem mutu secara
keseluruhan berlangsung dengan proses yang baik dan mampu telusur
secara periodik dan berkesinambungan.

E. Landasan Hukum
1. Undang - Undang No. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
2. Undang - Undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
3. Undang - Undang No. 36 tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan

3
4. Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang
Rumah Sakit.
5. Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2008 tentang Perizinan
Sumber Radiasi Pengion dan Bahan Nuklir (Lembaga Negara Republik
Indonesia Tahun 2008 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4839)
6. Permenkes Nomor 357/ MENKES/PER/V/2006 tentang Registrasi
dan Izin Kerja Radiografer
7. Permenkes Nomor 357/ MENKES/PER/V/2006 tentang
StandarRadiografer
8. Permenkes Nomor 780/ MENKES/PER/VIII/2008 tentang
penyelenggaraan Pelayanan Radiologi.
9. Peraturan KEMENKES RI No. 1250/MENKES/SK/XII/2009 Tentang
Pedoman Kendali Mutu (Quality Control) Peralatan Radiodiagnostik.

4
BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia


Pola ketenagaan dan kualifikasi SDM Instalasi Radiologi adalah :

Nama Jabatan Kualifikasi Formal Keterangan

Kepala Instalasi S2 Spesialis Radiologi Bersertifikat, SIP

Petugas Proteksi Radiasi S1 Fisika Medis Bersertifikat, SIB PPR


(PPR)

Kepala Ruang Instalasi D III Teknik Bersertifikat, SIKR


Radiologi Radiodiagnostik dan
Radioterapi

Radiografer Pelaksana D III Teknik Bersertifikat, SIKR


Radiodiagnostik dan
Radioterapi

B. Distribusi Ketenagaan
Pola pengaturan ketenagaan instalasi radiologi berdasarkan shift/ non shift,
yaitu:
1. Untuk shift pagi
Yang bertugas 1 (satu ) orang : radiographer sebagai penanggungjawab dan
pelaksana,
2. Untuk shift siang
Yang bertugas 1 (satu ) orang : radiographer sebagai penanggungjawab dan
pelaksana,
3. Untuk cito/ segera : on call
4. Untuk pengaturan jadwal Dokter Spesialis Radiologi
Setiap hari Senin, Rabu dan Jumat

C. Pengatuaran Jaga
Jadwal jaga petugas Radiologi Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak
Wijayakusuma
1. Pengaturan jadwal dibuat dan dipertanggungjawabkan oleh kepala
instalasi radiologi dan disetujui oleh direktur Rumah Sakit Khusus Ibu dan
Anak Wijayakusuma.
2. Jadwal jaga terbagi atas shift pagi dan shift sore,
3. Pengaturan jadwal dibuat untuk jangka waktu 1 (satu ) bulan,

5
4. Untuk tenaga radiologi yang memiliki keperluan penting pada hari
tertentu, maka jadwal disesuaikan dengan petugas lain.

BAB III
STANDAR FASILITAS

6
A. Denah Ruang
1. Ruang radiologi konvensional
U
A J Keterangan:
A: Casette Stand
B B:
B: Meja
Meja Pemeriksaan
Pemeriksaan
C
C: Alat Rontgen
C: Alat Rontgen
D: Meja Registrasi
D D: Meja Registrasi
E: Kamar Pas
E E: KamarKering
F: Meja Pas
D F:
G: Meja Kering
Bak Cuci Film
F H: Bak
G: Rak/Cuci
Lemari
Film

H
G I: Pengering Film
H: Rak/ Lemari
I: Pengering Film
I

2. Ruang Ultrasonografi (USG)


U
A E Keterangan:
A: Meja Pemeriksaan
Gynecologi
B F
B: Meja Pemeriksaan
G C: Alat USG
C D: Meja Registrasi
E. Wastafel
D F. Peralatan Alkes dan
Non Alkes
G. Pintu

B. Standar Fasilitas
Penyelenggaraan pelayanan Radiologi di Rumah Sakit harus didukung
oleh sarana dan peralatan yang memenuhi ketentuan dan perundang-
undangan yang sesuai dengan standar pelayanan radiologi diagnostik yang
telah ditetapkan.
Peralatan yang memerlukan ketepatan pengukuran harus dilakukan
kalibrasi alat dan pengujian secara berkala oleh lembaga pengamanan
fasilitas kesehatan/ lembaga yang telah terakreditasi dan ditunjuk oleh
BAPETEN. Peralatan radiologi harus dilakukan pemeliharaan,
didokumentasikan, serta dievaluasi secara berkala dan berkesinambungan.
1. Sarana
Fasilitas ruang harus memadai dalam hal kualitas dan kuantitas agar
dapat menunjang fungsi dan proses pelayanan radiologi diagnostik

7
menjamin lingkungan kerja yang aman untuk petugas, pasien dan
lingkungan sekitar ruang radiologi dan memudahkan sistem komunikasi
rumah sakit.
Fasilitas utama dalam kegiatan pelayanan di instalasi radiologi terdiri dari:
a. Ruang penyinaran / ruang x-ray
1) Ukuran ruangan : 500 cm x 400 cm x 320 cm
2) Ketebalan dinding dilapisi bata merah 30 cm dan 2,5
mmPb
3) Letak unit radiologi mudah dijangkau dari ruangan
gawat darurat, perawatan intensive care unit, kamar bedah
dan ruang lainnya.
4) Suhu ruangan pemeriksaan 20 24 C
5) Pintu ruangan dilapisi dengan timah hitam (Pb)
6) Ventitasi setinggi 2 meter,
7) Pintu ruang pemeriksaan radiologi, dilengkapi dengan
tanda bahaya radiasi.

b. Ruang pas untuk ganti pakaian pasien


1) Ruang ganti ada di ruang pemeriksaan radiologi,
2) Luas sesuai dengan kebutuhan.

c. Ruang operator
1) Ukuran ruangan : 270 cm x 200 cm
2) Ketebalan dingding dilapisi bata merah 30 cm dan 2,5
Pb

d. Ruang kamar gelap


Terdiri dari daerah basah dan daerah kering
1) Ukuran memanjang untuk manual prosesing film
radiografi,
2) Lantai tidak menyerap air, tidak licin dan tahan
terhadap cairan prosesing.
3) Dinding kamar gelap dicat dengan warna yang gelap,
4) Dilengkapi dengan exhaust fan yang kedap cahaya,
5) Pintu masuk kamar gelap yang kedap cahaya,
6) Kelengkapan daerah basah terdapat safe light dan
hanger film,
7) Kelengkapan daerah kering terdapat meja penempatan
untuk kaset dan box film.

8
e. Ruang ultrasonografi (USG)
1) Ukuran : 430 cm x 320 cm
2) Dinding terbuat dari batu bata tanpa Pb
3) Perlengkapan: meja pemeriksaan pasien, meja
registrasi pasien dan alat USG beserta kelengkapannya.
4) Dilengkapi dengan pendingin udara (AC)

f. Ruang baca dokter


1) Ruang baca Dokter Spesialis Radiologi terpisah
dengan ruang pemeriksaaan
2) Luas sesuai dengan kebutuhan
3) Terdapat satu buah meja kerja untuk membaca foto,
viewing box, dan kursi dokter.
4) Satu buah komputer, printer dan kursi duduk,
5) Dilengkapi dengan pendingin udara (AC)

g. Ruang tunggu pasien


1) Ruang tunggu pasien radiologi bersama dengan
sarana ruang tunggu poliklinik.
2) Fasilitas terdapat wastafel, toilet dan televisi.

2. Peralatan
Fasilitas peralatan harus memenuhi syarat terutama untuk
perlengkapan pemeriksaan radiologi diagnostic dan diagnostic imejing
(USG). Fasilitas peralatan telah memenuhi persyaratan kalibrasi dan
perijinan pemanfaatan penggunaan sinar- x / radiasi pengion.

Peralatan
1.1 Daftar barang inventaris penunjang medis di ruang
radiologi

No Nama Barang Jumlah

1. Pesawat Rontgen 1 buah


2. Meja Pemeriksaan 1 buah
3. Cassette Stand 1 buah
4. Drying Machine 1 buah
5. Tangki Chemical 3 buah
6. Cassette Flim ukuran 18 x 24 cm 2 buah
7. Cassette Flim ukuran 24 x 30 cm 2 buah

9
8. Cassette Flim ukuran 30 x 40 cm 1 buah
9. Cassette Flim ukuran 35 x 35 cm 1 buah
10. Hanger Film 18 x 24 cm 6 buah
11. Hanger Film 24 x 30 cm 5 buah
12. Hanger Film 30 x 40 cm 2 buah
13. Hanger Film 35 x 35 cm 2 buah
14. Marker Huruf dan Angka 1 set
15. Apron 2 buah
16. Save light 1 buah
17. Film Badge 5 buah

1.2 Daftar barang inventaris non medis di ruang radiologi

No Nama Barang Jumlah

1. Meja 2 buah

2. Kursi 2 buah

3. Lemari 1 buah

4. Tiang infuse 1 buah

5. AC 1 buah

6. Troly 1 buah

7. Exhaust Fan 2 buah

8. Telepon 1 buah

9. Tempat sampah 1 buah

10. Box File 2 buah

11. Buku Registrasi Pasien 1 buah

12. Pulpen Hitam dan Biru 2 buah

10
13. Spidol 2 buah

14. Tape- x 1 buah

15. Gunting 1 buah

16. Penggaris 2 buah

17. Kain Lap Bersih 1 buah

18. Kain Lap Kotor 2 buah

19. Horden 2 buah

20. Jam dinding 1 buah

11
BAB IV
KEBIJAKAN PELAYANAN RADIOLOGI

Kebijakan
1. Setiap pemeriksaan radiologi harus berdasarkan permintaan dokter.
2. Pelayanan radiologi harus selalu berorientasi kepada mutu dan
keselamatan pasien.
3. Dalam melaksanakan tugasnya, setiap petugas radiologi wajib
mematuhi ketentuan dalam K3 ( Keselamatan dan Kesehatan Kerja ),
termasuk penggunaan APD ( Alat Pelindung Diri ).
4. Setiap petugas radiologi harus bekerja sesuai dengan standar profesi,
standar prosedur operasional yang berlaku, etika profesi, etiket dan
menghormati hak pasien.
5. Pemeriksaan radiologi tanpa kontras oleh radiographer, pemeriksaan
dengan kontras dilaksanakan/ dalam pengawasan Dokter Spesialis
Radiologi.
6. Setiap tindakan yang dapat menimbulkan risiko terhadap pasien
harus mendapatkan persetujuan tertulis dari pasien atau keluarganya/
penanggungjawabnya.
7. Pemberian ekspertise / hasil pemeriksaan radiologi dilaksanakan oleh
Dokter Spesialis Radiologi.
8. Hasil pemeriksaan radiologi/ ekspertise telah di terima pasien dalam
waktu paling lambat 24 jam.
9. Hasil pemeriksaan radiologi dicatat dalam rekam medik.
10. Untuk mempertahankan dan meningkatkan kompetensi, setiap
petugas wajib mengikuti pelatihan yang diselenggarakan.
11. Penyediaan tenaga harus mengacu kepada pola ketenagaan.
12. Untuk mengatasi keadaan gawat darurat akibat reaksi dari bahan
kontras wajib disediakan obat dan peralatan sesuai dengan standar yang
ditetapkan.

12
13. Untuk melaksanakan koordinasi dan evaluasi wajib dilaksanakan
rapat rutin bulanan minimal satu bulan sekali.
14. Pelayanan Radiologi dilaksanakan dua shift;
Shift pagi : Pukul 07.00 s/d 14.00 WIB
Shift Siang : Pukul 14.00 s/d 21.00 WIB
15. Untuk pelayanan Cito dapat dilakukan dengan On Call petugas
radiologi sesuai dengan jadwal jaga.
16. Untuk menjamin mutu peralatan radiologi maka peralatan radiologi
harus selalu dilakukan pemeliharaan dan kalibrasi sesuai dengan ketentuan
yang berlaku.
17. Instalasi Radiologi melakukan pelatihan untuk prosedur atau
penggunaan alat yang menggunakan bahan berbahaya baru jika ada.

13
BAB V
TATA LAKSANA PELAYANAN

A. Tata Laksana Pendaftaran dan Pencatatan Pasien


1. Petugas penanggungjawab
Radiografer
2. Perangkat kerja
Lembar/ formulir permintaan pemeriksaan radiologi yang diisi dan ditanda
tangani oleh dokter pengirim dengan disertai keterangan klinis dari pasien
tersebut.
3. Tata laksana pendaftaran pasien radiologi diagnostik/ diagnostik
imajing (USG).
a. Dokter Internal Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak
Wijayakusuma
- Dokter pengirim pasien rawat inap maupun rawat jalan harus
mengisi formulir permintaan pemeriksaan radiologi disertai klinisnya
sebelum dilakukan tindakan pemeriksaan radiologi
- Pasien rawat jalan membawa sendiri formulir permintaan
pemeriksaan radiologi disertai klinisnya dari dokter pengirim ke bagian
pendaftaran/ administrasi rawat jalan selanjutnya akan diantarkan ke
bagian radiologi.
- Pasien rawat inap diantar oleh perawat untuk pemeriksaan
radiologi ke unit radiologi dengan membawa formulir permintaan
pemeriksaan radiologi dan lembar edukasi. Apabila pemeriksaan
radiologi memerlukan persiapan, perawat cukup menghubungi
petugas radiologi untuk dilakukan persiapan dan dijadwalkan
pemeriksaannya.
b. Dokter Eksternal Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak
Wijayakusuma

14
Pasien rawat jalan dari luar poli Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak
Wijayakusuma yang akan dilakukan pemeriksan radiologi harus
membawa surat pengantar pemeriksaan radiologi dari dokter pengirim.

B. Persiapan Pemeriksaan
1. Persiapan pemeriksaan Radiologi Diagnostik
a. Persiapan alat (marker,screen,film),
b. Pesawat sinar-x,
c. Cassette film ukuran (secara umum)
18x24, 24x 30, 30x40, 35x35 cm.
d. Persiapan bahan kontras dan alat kesehatan lain jika diperlukan
untuk prosedur pemeriksaan menggunakan bahan kontras.

2. Persiapan pemeriksaan diagnostik imejing/ Ultrasonografi (USG)


a. Periksa status pasien di formulir permintaan pemeriksaan radiologi
b. Persiapan pemeriksaan USG yang membutuhkan persiapan seperti
puasa 4 5 jam sebelum pemeriksaan yang ditetapkan dalam prosedur
pemeriksaan
c. Periksa identitas pasien, permintaan pemeriksaan, indikasi
pemeriksaan.
d. Alat Ultrasonografi (USG),
e. Gel untuk tindakan pemeriksaan USG.

C. Pelaksanaan Pemeriksaan
Pelaksanaan pemeriksaan radiologi di bagi menjadi dua pemeriksaan, yaitu
pemeriksaan dengan bahan kontras dan tanpa bahan kontras
a. Pemeriksaan radiologi dengan bahan kontras:
1. Pemanggilan pasien/ keluarga,
2. Periksa kembali data pasien ( identitas pasien, permintaan
pemeriksaan dan indikasi pemeriksaan ) dan persiapan pemeriksaannya,
3. Penjelasan ke pasien atau kepada keluarga pasien tentang tindakan
pemeriksaan radiologi yang akan dilakukan, tujuan dan prosedur
tindakan pemeriksaan radiologi tersebut.
4. Pasien/ keluarga pasien menandatangani inform concent tindakan
pemeriksaan,
5. Dokter spesialis radiologi mempersiapkan diri akan melakukan
pemeriksaan,
6. Pelaksanaan pemeriksaan dilakukan oleh dokter spesialis radiologi
dibantu oleh radiografer.

15
7. Setelah selesai tindakan pemeriksaan radiologi, pasien/ keluarga
dijelaskan untuk pengambilan hasil pemeriksaan radiologi.

b. Pemeriksaan radiologi tanpa bahan kontras


1. Pemanggilan pasien
2. Periksa data pasien, identitas pasien, permintaan pemeriksaan dan
indikasi pemeriksaan,
3. Penjelasan ke pasien atau komunikasikan kepada pasien tentang
foto yang dibuat, tujuan pemotretan dan prosedur,
4. Pelaksanaan pemeriksaan dilakukan langsung oleh radiografer.
5. Setelah pemeriksaan radiologi selesai pasien dijelaskan pengambilan
hasil pemeriksaan radiologi.

Pelaksanaan Radiologi Imejing yaitu Ultrasonografi (USG)


1. Pemanggilan pasien,
2. Periksa data pasien, identitas pasien, permintaan pemeriksaan
indikasi pemeriksaan dan persiapan pasien
3. Penjelasan ke pasien atau komunikasikan kepada pasien tentang
tindakan USG yang akan dilakukan dan prosedurnya,
4. Pelaksanaan pemeriksaan USG oleh Dokter Spesialis Radiologi.

D. Pencucian Film Radiografi setelah dilakukan Pemeriksaan


Salah satu bagian yang penting dalam kegiatan radiologi adalah proses
pencucian film radiografi di kamar gelap. Proses ini menggunakan larutan kimia
antara lain developer dan fixer. Developer merupakan suatu cairan untuk
pembangkit gambaran pada film radiografi, sedangkan larutan fixer merupakan
larutan yang digunakan untuk penetapan gambaran radiografi. Tahapan
pengolahan film sendiri secara utuh terdiri dari pembangkitan (developing),
pembilasan (rinsing), penetapan (fixing), pencucian (washing), dan pengeringan
(drying). Setelah tahapan drying atau dikeringkan gambaran pada film radiografi
sudah dapat dibaca dan didiagnosa oleh radiolog/ Dokter Spesialis Radiologi.

E. Pengelolaan Limbah
Limbah radiologi berasal dari larutan kimia pada prosesing film di kamar
gelap, limbah radiologi tersebut berupa cairan developer dan cairan fixer. Limbah
cairan tersebut berasal dari kegiatan radiologi yang tergantung pada proses
pemakaian pencucian film radiografi.
1. Limbah cairan developer

16
Limbah cairan developer di buang ke septiktang khusus/ IPAL dikarenakan
sifat kimia dari cairan developer larut dalam air.
2. Limbah cairan fixer
Limbah cairan fixer di simpan pada drum air/ penampungan air untuk
kemudian diolah oleh pihak kedua dengan perjanjian kerjasama yang telah
disepakati bersama.

F. Laporan Hasil dan Arsip


Laporan Hasil pemeriksaan radiologi dalam pelaksanaannya dicatat di
bagian administrasi berupa informasi tindakan radiologi, rekap tindakan
pemeriksaan, biaya tindakan dan hasil pemeriksaan radiografi.
Untuk Arsip radiologi berupa foto radiografi dan salinan ekspertise dokter di
simpan dua tahun terakhir.

BAB VI
LOGISTIK

Penyiapan logistik untuk pelayanan radiologi menjadi sangat penting tanpa


adanya logistik yang memadai baik dari jumlah, spesifikasi barang dan ketepatan
distribusi maka sudah dapat dipastikan pelayanan akan terganggu. Oleh sebab itu
perencanaan jumlah pemakaian film, bahan kimia untuk prosesing film, kontras
media radiografi serta peralatan medik lainnya untuk setiap bulan pemakaian harus
diperhitungkan dengan cermat dan akurat.

Setiap jenis logistik radiologi dilaksanakan berdasarkan prosedur tetap


(Protap) atau Standar Prosedur Operasional (SPO) yang ada. Protap yang tersedia
sehubungan dengan kegiatan persediaan logistik di unit radiologi RSKIA
Wijayakusuma.
1. Protap penanganan film radiografi serta penggunaannya
2. Protap permintaan dan peneriman cairan kimia serta penggunaannya.
3. Protap permintaan kontras media radiografi serta penggunaannya

Protap permintaan dan penerimaan logistik ditetapkan sebagai acuan


melaksanakan alur permintaan dan penerimaan barang sehingga alur permintaan
dan penerimaan barang teratur akan membantu kelancaran aktivitas radiologi
terutama dalam pengadaan film, cairan kimia dan kontras media radiografi.

Cek stok Film, Cairan, BK Persetujuan kepada radiologi


Pengajuan pembelian Bon permintaan ke farmasi

Tempat penyimpanan Petugas Radiologi Petugas farmasi Distributor 17

Buku penerimaan
Gambar 5.1 Alur permintaan dan penerimaan reagensia radiologi Rumah
Sakit Khusus Ibu dan Anak WIjayakusuma

Berdasarkan alur di atas, maka prosedur permintaan logistik adalah sebagai


berikut:
1. Petugas bagian pengajuan pembelian barang mengecek reagensia yang
perlu diadakan
2. Petugas bagian pengajuan pembelian barang, menulis permintaan reagensia
pada formulir Bon permintaan ke farmasi yang berisi : Nomor urut, nama
barang, satuan, permintaan (diminta/ dikoreksi), diberikan dan keterangan.
3. Formulir tersebut diserahkan kepada petugas farmasi setelah disetujui oleh
koordinasi radiologi.

Sedangkan prosedur penerimaan reagensia adalah:


1. Petugas instalasi farmasi menyerahkan barang yang di minta oleh petugas
radiologi kepada petugas
2. Petugas Radiologi yang menerima barang menulis pada buku penerimaan,
kemudian ditanda tangani oleh yang menerima dan memberikan barang
tersebut.
3. Petugas radiologi yang menerima barang melaporkan kepada petugas
bagian pengajuan pembelian barang untuk dicatat dalam buku pembelian
barang radiologi.

18
BAB VII
KESELAMATAN PASIEN

Keselamatan pasien rumah sakit adalah suatu sistem dimana rumah sakit
membuat asuhan pasien lebih aman yang meliputi asesmen resiko, identifikasi dan
pengelolaan hal yang berhubungan dengan resiko pasien, pelaporan dan analisis
insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi
solusi untuk meminimalkan timbulnya resiko dan mencegah terjadinya cidera yang
disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak
mengambil tindakan yang seharusnya diambil.
Publikasi terbaru di AS tahun 2011 menunjukkan 1 dari 3 pasien yang dirawat
di rumah sakit mengalami KTD. Jenis yang paling sering adalah kesalahan
pengobatan, kesalahan operasi dan prosedur, serta infeksi nosokomial. Belum lagi
dari studi 10 rumah sakit di North Carolina menemukan hasil serupa. Satu dari 4
pasien rawat inap mengalami KTD, 63% di antaranya sebenarnya dapat dicegah
dan ternyata upaya penurunan KTD di negara maju berjalan lambat,.Sementara itu
di Indonesia, keselamatan pasien telah menjadi perhatian serius.
Oleh sebab Keselamatan pasien merupakan isu utama akhir-akhir ini baik di
Indonesia maupun di luar negeri. Kepedulian pengambil kebijakan, manajemen dan
praktisi klinis terhadap keselamatan pasien. Berbagai seminar, workshop, dan
pelatihan banyak diadakan; patient safety, risk management, clinical audit, patient
safety indicators dengan berbagai motif. Bahwa sistem regulasi pelayanan
kesehatan bersifat kompleks.
Di Indonesia, mutu pelayanan dan keselamatan pasien disebutkan secara
eksplisit dalam UU Kesehatan No 36/2009, antara lain, melalui uji kompetensi
tenaga kesehatan, kendali mutu, pelayanan sesuai standar dan audit medis, Sarana

19
dan prasarana serta SDM kesehatan harus terstandarisasi. Sementara itu, di
Indonesia sosialisasi serta pelatihan mutu dan keselamatan pasien telah dilakukan
secara aktif oleh pemerintah dan institusi lainnya sejak 2005.

Di Instalasi radiologi semua individu tenaga kesehatan yang terkait dengan


pelayanan radiologi khususnya radiographer harus berperan aktif sangat dibutuhkan
dimulai dari sadar akan kualitas, mahir dan trampil melakukan bagaimana cara
mengurangi, dan atau menghilangkan KTD bila mungkin, agar tidak menambah
keparahan pasien, sehingga hasil layanan tidak saja bermutu tinggi juga
mengandung norma-norma keselamatan pasien.

Kebijakan dan upaya peningkatan mutu pelayanan radiologi pada dasarnya


juga sama seperti kebijakan pelayanan kesehatan umumnya yang mengutamakan
kesehatan dan keselamatan pasen antara lain :
- Regulasi perizinan penyelenggaraan radiologi
- Standar Pelayanan Radiologi.
- Pemantapan jejaring pelayanan radiologi
- Penyelenggaraan quality assurance
- Penetapan dan penerapan berbagai stndar pelayanan radiologi
- Pemenuhan persyaratan dalam standar
-Pelaksanaan akreditasi pelayanan radiologi (radiodiagnostik dan radioterapi)
- Peningkatan pengawasan pelaksanaan pelayanan radiologi baik oleh pusat
yang dilakukan oleh Depkes dan Bapeten maupun oleh daerah
-Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
- Pengembangan Teknik Pemeriksaan Radiologi
Upaya peningkatan mutu di bidang pelayanan radiologi harus dilakukan baik
untuk kepentingan diagnostik maupun untuk pengobatan, agar dengan demikian
selain dapat memberikan perlindungan maksimal terhadap keselamatan pasien,
petugas dan lingkungan.

20
BAB VIII
KESELAMATAN KERJA

Pemeriksaan diagnostik radiologi telah menjadi bagian yang tidak dapat


dipisahkan dari kehidupan kita sehari-hari, terutama didalam penatalaksanaan klinis
pasien di dalam pelayanan kesehatan. Perkembangan teknologi radiologi telah
memberikan banyak sumbangan tidak hanya dalam perluasan wawasan ilmu dan
kemampuan diagnostik radiologi, akan tetapi juga dalam proteksi radiasi pada
pasien-pasien yang mengharuskan pemberian radiasi kepada pasien serendah
mungkin sesuai dengan kebutuhan klinis merupakan aspek penting dalam
pelayanan diagnostik radiologi yang perlu mendapat perhatian secara kontiyu.
Karena selama radiasi sinar-x menembus bahan/materi terjadi tumbukan foton
dengan atom-atom bahan yang akan menimbulkan ionisasi didalam bahan tersebut,
oleh karena itu sinar-x merupakan radiasi pengion, kejadian inilah yang
memungkinkan timbulnya efek radiasi terhadap tubuh, baik yang bersifat non
stokastik , stokastik maupun efek genetik.
Dengan demikian diperlukan upaya yang terus menerus untuk melakukan
kegiatan keselamatan dan kesehatan kerja dalam medan radiasi pengion melalui
a. Tindakan proteksi radiasi, baik berupa kegiatan survey radiasi, personal
monitoring,
Tindakan proteksi radiasi pada pemanfaatan diagnostik radiologi adalah
azas manfaat dan justifikasi yang berarti harus ada izin pemanfaatan dari
BAPETEN ( Badan Pengawas Tenaga Atom ) dan semua penyinaran harus
diusahakan serendah-rendahnya ( As Low As Reasonable Achievable
ALARA ) dengan mempertimbangkan faktor ekonomi dan sosial dan dosis

21
equivalent yang diterima seseorang tidak boleh melampaui Nilai Batas Dosis
( NBD ) yang telah ditetapkan. Jaminan kualitas

b. Jaminan Kualitas radiodiagnostik.


Jaminan Kualitas radiodiagnostik didefinisikan sebagai kegiatan dari
seluruh staf yang mengoperasikan fasilitas dan peralatan radiodiagnostik yang
mempunyai mental dasar untuk berfikir dan bertindak serta sadar akan
pentingnya kualitas. Dengan demikian akan selalu terjamin baik fisik maupun
fungsi semua fasilitas dan peralatan radiodiagnostik dapat laik pakai.
c. Ketaatan terhadap Prosedur kerja dengan radiasi, standar pelayanan
radiografi, standar prosedur pemeriksaan radiografi dan semua
perangkat tersebut untuk meminimalkan tingkat paparan radiasi yang
diterima oleh pekerja radiasi, pasien maupun lingkungan dimana pesawat
radiasi pengion tersebut dioperasikan. Tidak akan terjadi lagi kesalahan-
kesalahan pengoperasian alat, teknik pemeriksaan maupun kesalahan
yang diakibatkan oleh kelalaian radiografer dan pekerja lainnya, karena
selalu taat terhadap standar prosur kerja yang telah ditetapkan. Dengan
demikian dapat tercapai tujuan dan sasaran penyelenggaraan pelayanan
radiologi dengan produksivitas yang tinggi, efektif dan efesien serta aman
baik untuk bagi seluruh pekerja radiasi, pasien maupun masyarakat
lingkungan.

Upaya-upaya yang telah dan perlu di lakukan untuk terjaminnya tingkat


kesehatan dan keselamatan kerja dengan radiasi pengion.
A. Upaya yang telah dilakukan :
1. Pengurusan izin pemenfaatan pemakaian pesawat radiologi.
2. Petugas proteksi Radiasi yang berlisensi BAPETEN telah ada dan
telah melakukan tugasnya sesuai dengan kompetensinya,
3. Membuat standar prosedur oprasional terkait dengan pelayanan
radiologi,
4. Membuat tanda-tanda adanya bahaya radiasi dengan jelas sehingga
mudah terlihat dan menempatkan pada tempat-tempat yang semestinya.
5. Memelihara peralatan proteksi radiasi agar selalu dalam keadaan
yang memadai baik fisik maupun fungsi.
6. Membuat Kartu Dosis perorangan yang di simpan dengan baik
sehingga mudah diperiksa apabila diperlukan.
7. Menganalisa dosis perorangan dari kartu dosis untuk mengetahui
apakah ada pekerja radiasi terpapar radiasi melebihi NBD untuk pekerja
radiasi.

22
8. Merekomendasikan untuk memeriksa kesehatan bagi pekerja setiap 6
(enam) bulan sekali.
9. Membuat Standar Prosedur Pelayanan Pemeriksaan Radiologi
10. Membuat Standar Prosedur pemeriksaan radiologi baik dengan
bahan kontars maupun tanpa bahan kontras.
11. Membuat Standar Prosedur pemeriksaan radiografi baik dengan
bahan kontras maupun tanpa bahan kontras.
12. Membuat Standar Prosedur tindakan kedaruratan medik akibat
penggunaan bahan kontras pada pemeriksaan radiologi.
13. Melakukan pemeliharan secara berkala terhadap sarana, fasilitas dan
peralatan radiologi sesuai dengan batas kewenangan radiografer, agar
keadaan baik fisik maupun fungsi sarana, fasilitas dan peralatan radiologi
selalu laik pakai, khususnya pemeliharaan kebersihan pesawat rontgen,
kaset dan intensifying screen, alat prosesing film otomatis.
14. Melakukan reject film analisis untuk mengetahui apakah hasil
pelayanan radiografi telah mencapaikualitas yang diharapkan ( jumlah film
yang ditolak ternyata masih dalam batas normal 2% setiap bulan )

23
BAB IX
PENGENDALIAN MUTU

Pengendalian mutu adalah program penjaminan kualitas suatu peralatan


yang dilakukan secara berkala yang menitikberatkan aktifitas programnya pada
teknik-teknik yang diperlukan bagi pengawasan (monitoring), perawatan dan
menjaga (maintenance) elemen-elemen teknis dari suatu sistem peralatan
radiografi dan imaging yang tujuannya agar peralatan tersebut selalu dalam
keadaan baik untuk menghasilkan keluaran yang maksimal dan mempengaruhi
mutu gambar. Kualitas dan keselamatan pelayanan radiodiagnostik merupakan
faktor terpenting karena dapat menimbulkan bahaya terhadap petugas, pasien dan
lingkungan di sekitar ruangan radiologi apabila tidak dikelola dengan benar
sehingga sangat perlu dilakukan pengendalian mutu secara teratur.
Pengendalian mutu di bidang Radilogi bisa meliputi :
A. Kegiatan kendali mutu untuk pesawat sinar-x yang terdiri dari:
1. Pengujian terhadap tabung kolimasi
2. Pengujian terhadap tabung pesawat sinar-x
3. Pengujian terhadap automatic exposure control
Pengujian- pengujian di atas dilaksanakan oleh lembaga yang telah diberikan
kewenangan (BAPETEN atau Lembaga yang terkait yang sudah disertifikasi).
B. Kegiatan kendali mutu untuk perlengkapan radiografi terdiri dari:
1. Pengujian terhadap film
2. Pengujian terhadap kaset dan tabir penguat
3. Pengujian untuk alat pelindung diri berupa inspeksi kebocoran
4. Pengujian tingkat pencahayaan film illuminator/ viewing box

24
C. Kegiatan kendali mutu untuk ruang pemproses film radiografi yang terdiri dari
1. Pengujian terhadap rancangan ruangan
2. Pengujian alat pemproses film radiografi secara otomatis
3. Pengujian alat pemproses film radiografi secara manual
4. Pengujian alat pemproses film termal

DAFTAR PUSTAKA

- Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2008 tentang Perizinan


Sumber Radiasi Pengion dan Bahan Nuklir (Lembaga Negara Republik
Indonesia Tahun 2008 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4839)
- Permenkes Nomor 357/ MENKES/PER/V/2006 tentang Registrasi
dan Izin Kerja Radiografer
- Permenkes Nomor 357/ MENKES/PER/V/2006 tentang Standar
Radiografer
- Permenkes Nomor 780/ MENKES/PER/VIII/2008 tentang
penyelenggaraan Pelayanan Radiologi.
- Peraturan KEMENKES RI No. 1250/MENKES/SK/XII/2009 Tentang
Pedoman Kendali Mutu (Quality Control) Peralatan Radiodiagnostik.
- Undang - Undang No. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
- Undang - Undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
- Undang - Undang No. 36 tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan
- Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang
Rumah Sakit.

25