Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN HASIL PRAKTIKUM

TOKSIKOLOGI LINGKUNGAN

pemeriksaan merkuri pada kosmetik

Oleh :

Nama : Anjasmoro Abd Samad

Nim : 13047

Jurusan : Kesehatan lingkungan

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN TERNATE

2013 / 2014
A. Tinjauan teori

Merkuri atau air raksa diberikan simbol kimia Hg yang merupakan


singkatan yang berasal bahasa Yunani Hydrargyricum ( air / cairan perak )
dengan nomor atom 80 serta mempunyai massa molekul relatif 200,59. Unsur
golongan logam transisi ini berwarna keperakan dan merupakan satu dari lima
unsur ( bersama cesium, fransium, galium, dan brom) yang berbentuk cair dalam
suhu kamar, serta mudah menguap.

Hg akan memadat pada tekanan 7.640 Atm. Kelimpahan Hg di bumi


menempati di urutan ke-67 di antara elemen lainnya pada kerak bumi. Raksa
banyak digunakan sebagai bahan penambal gigi, termometer, barometer, dan
peralatan ilmiah lain. Bentuk fisik dan kimianya sangat menguntungkan karena
merupakan satu-satunya logam yang berbentuk cair dalam temperatur kamar (
25C ), titik bekunya paling rendah ( -39C ), mempunyai kecenderungan
menguap lebih besar, mudah bercampur dengan logam-logam lain menjadi logam
campuran ( Amalgam / Alloy ), juga dapat mengalirkan arus listrik sebagai
konduktor baik tegangan arus listrik tinggi maupun tegangan arus listrik rendah
sehingga merkuri banyak digunakan dalam laboratorium maupun industri.

Sebagian besar merkuriyang terdapat di alam ini dihasilkan oleh sisa


industri dalam jumlah 10.000 ton setiap tahunnya. Penggunaan merkuri sangat
luas di mana 3.000 jenis kegunaan dalam industri pengolahan bahan-bahan
kimia, proses pembuatan obat-obatan yang digunakan oleh manusia serta sebagai
bahan dasar pembuatan insektisida untuk pertanian.

Beberapa logam toksik, dalam hal ini logam merkuri, mempunyai separuh
hayat biologi yang panjang dan menyebabkan akumulasi di dalam tubuh. Merkuri
dapat digolongkan sebagai merkuri organik dan anorganik.

Unsur merkuri

Mempunyai tekanan uap yang tinggi dan sukar larut di dalam air. Pada
suhu kamar kelarutannya kira-kira 60 mg/l dalam air dan antara 5- 50 mg/l dalam
lipida. Bila ada oksigen, merkuri diasamkan langsung ke dalam bentuk ionik.
Uap merkuri hadir dalam bentuk monoatom (Hg). Saluran pernapasan merupakan
jalan utama penyerapan unsur raksa dalam bentuk uap.

- Merkuri Organik

Merkuri organik adalah senyawa merkuri yang terikat dengan satu logam
karbon, contohnya metil merkuri. Metil merkuri merupakan merkuri organik yang
selalu menjadi perhatian serius dalam toksikologi. Ini karena metil merkuri dapat
diserap secara langsung melalui pernapasan dengan kadar penyerapan 80%.
Uapnya dapat menembus membran paru-paru dan di dalam darah, 90% dari metil
merkuri diserap ke dalam sel darah merah.

- Merkuri Anorganik (Hg2+ dan Hg2 2+)

Di antara dua tahapan pengoksidaan, Hg2+ adalah lebih reaktif. Ia dapat


membentuk kompleks dengan ligan organik, terutama golongan sulfurhidril.
Contohnya HgCl2 sangat larut dalam air dan sangat toksik, sebaliknya HgCl tidak
larut dan kurang toksik.

Struktur Merkuri

Merkuri dibagi menjadi beberapa jenis dan strukturnya, yaitu:

Merkuri organik ( RHg, R2Hg, ArHg )

- Metil merkuri nitril ( CH3 - Hg - CN )


- Metil merkuri asetat ( CH3-Hg-COOH )
- Senyawa etil merkuri klorida ( C2H5 Hg - Cl )

Merkuri anorganik ( Hg+, Hg2+ )

- Merkuri nitrat ( Hg ( NO3 ) 2 )


- Merkuri klorida ( HgCl2 )
- Merkuri oksida ( HgO )
Kegunaan Merkuri

Penggunaan logam merkuri pada saat ini sudah hampir mencakup seluruh
aspek kehidupan manusia dan lingkungan. Merkuri digunakan berdasarkan
kegunaannya. Seperti, merkuri digunakan dalam bidang kesehatan atau
kedokteran, pertanian, dan industri. Dalam bidang kesehatan atau kedokteran
misalnya merkuri digunakan sebagai campuran untuk bahan penambal gigi
(amalgam), pemutih gigi oleh para Dokter gigi, obat-obatan (obat pencahar, obat
diuretik dan antiseptik), juga sebagai bahan untuk cairan Termometer.

Dalam bidang pertanian, merkuri digunakan untuk membunuh jamur


sehingga baik digunakan untuk pengawet produk hasil pertanian. Merkuri organik
juga digunakan untuk pembasmi hama pada tanaman seperti buah apel dan juga
digunakan sebagai pembasmi hama padi.

Dalam bidang industri, terbanyak adalah pabrik alat-alat listrik yang


menggunakan lampu-lampu merkuri untuk penerangan jalan raya. Hal ini
disebabkan biaya pemasangan dan operasi yang murah dan arus listriknya dapat
dialiri dengan voltase yang tinggi. Merkuri juga digunakan pada pembuatan
baterai, karena baterai dengan bahan yang mengandung merkuri dapat tahan lama
dan tahan terhadap kelembapan yang tinggi.

Kemudian merkuri juga dipergunakan dalam industri cat sebagai salah


satu bahan untuk membuat cat.

Dampak merkuri

Pada dasarnya telah lama diketahui bahwa merkuri dan turunannya sangat
beracun, sehingga kehadirannya di lingkungan perairan dapat mengakibatkan
kerugian pada manusia karena sifatnya yang mudah larut dan terikat dalam
jaringan tubuh organisme air. Pengaruh toksisitas merkuri terhadap ikan dan biota
perairan dapat bersifat lethal dan sublethal. Pengaruh lethal disebabkan gangguan
pada saraf pusat sehingga ikan tidak bergerak atau bernapas akibatnya cepat mati.
Pengaruh sub lethal terjadi pada organ-organ tubuh, menyebabkan kerusakan pada
hati, mengurangi potensi untuk perkembangbiakan, pertumbuhan dan sebagainya.
Selain itu pencemaran perairan oleh merkuri mempunyai pengaruh
terhadap ekosistem setempat yang disebabkan oleh sifatnya yang stabil dalam
sedimen, kelarutannya yang rendah dalam air dan kemudahannya diserap dan
terkumpul dalam jaringan tubuh organisme air, baik melalui proses
bioaccumulation maupun biomagnification yaitu melalui food chain. Merkuri
yang dapat diakumulasi adalah merkuri yang berbentuk methyl merkuri (CH3Hg),
yang mana dapat diakumulasi oleh ikan, dan juga merupakan racun bagi manusia.
Sehingga menimbulkan efek negatif bagi manusia yaitu, sistem saraf pusat adalah
target organ dari toksisitas metil merkuri tersebut, sehingga menimbulkan gejala
yang terlihat erat hubungannya dengan kerusakan saraf pusat. Gejala yang timbul
adalah sebagai berikut:

- Gangguan saraf sensoris: Paraesthesia, kepekaan menurun dan sulit


menggerakkan jari tangan dan kaki, penglihatan menyempit, daya
pendengaran menurun, serta rasa nyeri pada lengan dan paha.
- Gangguan saraf motorik: lemah, sulit berdiri, mudah jatuh, ataksia, tremor,
gerakan lambat, dan sulit berbicara.
- Gangguan lain: gangguan mental, sakit kepala. Tremor pada otot
merupakan gejala awal dari toksisitas merkuri tersebut.

Tetapi derajat berat atau ringannya toksisitas ini bergantung pada lama
mengkonsumsi, dan umur dari penderita. Dengan demikian, semakin banyak dan
semakin lama orang mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi metil merkuri
per hari, maka semakin berat gejala terjadinya penyakit karena toksisitas metil
merkuri tersebut. Di samping itu, anak-anak lebih peka terhadap toksisitas metil
merkuri ini daripada orang dewasa.

Selain dari pencemaran limbah yang menggunakan merkuri, dalam bidang


kesehatan kulit pun merkuri menimbulkan efek negatif. Awalnya penggunaan
kosmetik yang mengandung merkuri memang menimbulkan efek positif, seperti
kulit lebih terlihat halus dan sehat.
Namun, setelah penggunaan dalam jangka waktu yang cukup panjang,
penggunaan kosmetik yang mengandung merkuri menimbulkan efek negatif,
yaitu:
- Dapat memperlambat pertumbuhan janin, bahkan bisa mengakibatkan
keguguran (Kematian janin dan Mandul).
- Flek hitam pada kulit akan memucat (seakan pudar) dan bila pemakaian
dihentikan, flek itu dapat atau akan timbul lagi dan bertambah parah
(melebar).
- Efek rebound yaitu memberikan respon berlawanan, kulit akan menjadi
gelap atau kusam saat pemakaian kosmetik dihentikan.
- Bagi Wajah yang tadinya bersih lambat laun akan timbul flek yang sangat
parah (lebar).
- Dapat mengakibatkan kanker kulit.

Walau tidak seburuk efek merkuri yang tertelan dari makanan ikan yang
tercemar, tetap menimbulkan efek buruk pada tubuh. Kendati cuma dioleskan ke
permukaan kulit, merkuri mudah diserap masuk ke dalam darah, lalu ,memasuki
system saraf tubuh.

Manifestasi gejala keracunan merkuri akibat pemakaian krim kulit muncul sebagai
gangguan system saraf, seperti tremor (gemetar), insomnia (tidak bisa tidur),
pikun, gangguan penglihatan, ataxia (gerakan tangan tak normal), gangguan
emosi, depresi, dan lain-lain.

Pemeriksaan kandungan merkuri pada kosmetik dapat dilakukan dengan


dengan cara membakar kawat tembaga yang telah di celupkan ke dalam sample
menggunakan api bunsen hingga menimbulkan percikan api, percikan api perak
menunjukan sample positive merkuri.

Warna percikan disebabkan pergerakan elektron dalam ion-ion logam yang


terdapat dalam senyawa. Sebagai contoh, sebuah ion natrium dalam keadaan tidak
tereksitasi memiliki struktur 1s22s22p6. Jika dipanaskan, elektron-elektron akan
mendapatkan energi dan bisa berpindah ke orbital kosong manapun pada level
yang lebih tinggi. contoh, berpindah ke orbital 7s atau 6p atau 4d atau yang
lainnya, tergantung pada berapa banyak energi yang diserap oleh elektron tertentu.
Masing-masing perpindahan elektron melibatkan sejumlah energi tertentu yang
dilepaskan sebagai energi cahaya, dan masing-masing memiliki warna tertentu.
Sebagai akibat dari semua perpindahan elektron ini, sebuah spektrum garis yang
berwarna akan dihasilkan. Warna yang dilihat adalah kombinasi dari semua warna
individual. Besarnya lompatan / perpindahan elektron dari segi energi, bervariasi
dari satu ion logam ke ion logam lainnya. Ini berarti bahwa setiap logam yang
berbeda akan memiliki pola garis-garis spektra yang berbeda, sehingga warna
percikan yang berbeda pula.

B. Tujuan

Untuk mengetahui ada atau tidaknya kandungan Merkuri pada sampel Kosmetik.

C. Metode pengamatan

Metode yang di lakukan dalam pengamatan ini yaitu Metode Kualitatif.

D. Alat dan bahan

1. Erlenmeyer
2. Timbangan analitik
3. Batang pengaduk
4. Gelas ukur
5. Pipet ukur
6. Balb
7. Kawat tembaga
8. Bunsen
9. Cruistang
10. 50 gram Sampel ( kosmetik )
11. Aquadest
12. HCl pekat
13. Amplas
E. Cara kerja
1. Timbang 50 gram sampel ke dalam Erlenmeyer dengan menggunakan
Neraca analitik
2. Tambahkan 50 ml Aquadest ke dalam Erlenmeyer
3. Tambahkan 20 ml HCl pekat dengan menggunakan Pipet ukur, dan
Homogenkan.
4. Amplas kawat tembaga, celupkan ke dalam larutan sampel
5. Dengan bantuan Cruistang, bakar tembaga atau panaskan dengan api
Bunsen
6. Amati warna api yang terjadi
7. Warna api perak menunjukan Sampel Positif Merkuri.

F. Hasil dan kesimpulan

Hasil pengamatan

Taggal : 30 November 2013

Waktu : 08:00 WIT

Tempat : Laboraturium Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes `


Kemenkes Ternate

Dengan cara membakar kawat tembaga yang telah di celupkan ke dalam


Erlenmeyer yang berisi Sampel, pada Sampel A tidak terjadi percikan api
berwarna Perak, oleh karena itu, pada Sampel A tidak Mengandung Merkuri (
Negative ), sedangkan pada Sampel B terdapat percikan api akan tetapi warna api
yang terjadi bukannya berwarna perak melainkan kuning, warna kuning berarti
Sampel B tidak Mengandung Merkuri ( Negative ).

Kesimpulan

Dari hasil pengamatan dapat di simpulkan bahwa pada Sampel A dan B tidak
mengandung Merkuri ( Negative ).
Dokumentasi