Anda di halaman 1dari 795

i

DAFTAR ISI

PKMI Kelompok 1

Kode Judul Nama_Ketua PT


PKMI-1-1 Gambaran Pemilihan Bahan M. Freddy Candra Univ. Sumatera
pangan Sumber Protein Pasca Sitepu Utara
Pemberitaan Penyalahgunaan
Formalin dalam bahan makanan di
Kecamatan Medan Tuntungan
PKMI-1-2 Efektivitas Penyulingan Daun Betty Herlina Universitas
Nilam Destilation dengan Bengkulu
Perlakuan Pendahuluan
Pengeringan Suhu Rendah
Termodifikasi
PKMI-1-3 Fortifikasi Cookies dengan Fe Dian Sukma K Institut Pertanian
Organik dari Bayam (Amaranthus Bogor
tricolor L) untuk Wanita
Menstruasi
PKMI-1-4 Kloning Fragmen DNA Genom Rika Indri Astuti Inst. Pertanian
Yang Terlibat Dalam Toleransi Bogor
Asam-Aluminium Pada
Bradyrhizobium Japonicum
PKMI-1-5 Metode Pelatihan Pengelolaan Tri Yunia Metya Inst. Teknologi
Sampah Domestik bagi Ibu Bandung
Rumah Tangga di Pemukiman
Sub-urban. (Studi Kasus : Desa
Bojongkacor Kelurahan
Cibeunying Kaler Kec.Cimenyan
Kabupaten Bandung
PKMI-1-6 Efektivitas Penggunaan Metode Mochamad Usman Universitas Negeri
Solfegio Untuk Pembelajaran Wafa Semarang
Keterampilan Bermain Musik di
Sekolah Dasar
PKMI-1-7 Efek Teh (Camillia sinensis (L) Avrillia Ekawati Universitas Gadjah
O.K.) Dalam Mencegah Mada
Peningkatan Ketebalan Dinding
Arteri Koronaria tikus Putih
(Rattus novergicus) akibat
Pemberian Diet Tinggi Lemak
PKMI-1-8 Pemanfaatan Abu Tandan Kosong Yoeswono Univ. Gadjah Mada
Kelapa Sawit sebagai Katalis Basa
pada Reaksi Transesterifikasi
Minyak Kelapa Sawit unto
Pembuatan Biodiesel
PKMI-1-9 Komunikasi Politik Elit nahdatul Eka Nada Shofa Univ. Sebelas
Ulama di Media Alkhajar Maret Surakarta
PKMI-1-10 Selulosa Cross and Bevan Tangkai Willy Saputra Institut Teknologi
Daun Eceng Gondok sebagai 10 Nopember
Bahan Baku Papan Partikel Surabaya

i
PKMI-1-11 Dampak Pembangunan Mal Chairul Maulidi Univ. Brawijaya
Olympic Garden Terhadap
Resapan dan Limpasan
PKMI-1-12 Pengaruh Kebiasaan Nyethe Qoni' Zamili Univ. Negeri
Terhadap Kehidupan Sosial Malang
Masyarakat di kabupaten
Tulungagung Jawa Timur
PKMI-1-13 Harapan dan Ancaman Kenaikan Bagas Nugroho Univ. Mulawarman
Tarif Dasar Listrik
PKMI-1-14 Situs Porno, Ancaman pada Etika Amirul Muslim Univ.
Generasi Muda Muhammadiyah
Sumatera Utara
PKMI-1-15 Perlakuan Penyeduhan Air Panas Pratiwi Erika Universitas
pada Proses Fermentasi Singkong Katholik Indonesia
dengan Aspergillus niger Atmajaya Jakarta
PKMI-1-16 Perbandingan Prestasi Belajar Usep Kosasih Univ. Islam
siswa Dalam Mata Pelajaran Nusantara Bandung
Matematika Antara Yang
Menggunakan Kurikulum 1994 Di
SMA PGRI Rancaekek
PKMI-1-17 Masker (Mask) Standar dan Muhammad Iqbal Univ. Ahmad
Murah untuk Pengendara Sepeda Dahlan Yogyakarta
Motor
PKMI-1-18 Pengaruh Ekstrak Biji Mimba Hasan Basri Universitas Tunas
terhadap Penekanan Serangan Nasution Pembangunan
Wereng Batang Padi Coklat Surakarta
PKMI-1-19 Pengembangan Potensi Wisata Cristin Cahyanti Univ.
Sejarah Perpustakaan Persada Muhammadiyah
Bung Karno di Kota Blitar Malang
Sebagai Wujud Wisata Pendidikan
PKMI-1-20 Optimalisasi Dosis Hormon Metil Sunandar Univ.
Testosteron dan Lama Muhammadiyah
Perendaman Benih Ikan Gurami Malang
(Osphronemus gouramy Lac.)
Terhadap Keberhasilan
Pembentukan Kelamin Jantan

PKMI Kelompok 2

Kode Judul Nama_Ketua PT


PKMI-2-1 "Sistem Pembiayaan Pendidikan Wiko Saputra Universitas Andalas
Indonesia Menuju Millenium
Development Goals (MDG) 2015"
PKMI-2-2 Regenerasi Bentonit Bekas Secara Meldia Evika Fikri Universitas
Kimia Fisika dengan Aktivator Lampung
Asam Klorida dan Pemanasan
Pada Proses Pemucatan CPO
PKMI-2-3 Isolasi Bakteri Amilolitik Toleran Tika Tresnawati Institut Pertanian
pH9 dari Tanah di Taman Wisata Bogor
Alam Situ Gunung Sukabumi

ii
PKMI-2-4 Analisis Respon Masyarakat Desa Riski Dwijayanti Inst. Pertanian
Terhadap Program Keluarga Bogor
Berencana (KB) Dalam Rangka
Meningkatkan Kualitas Sumber
Daya Manusia (Studi Kasus Desa
Cihedeung Udik Kab.Bogor)
PKMI-2-5 Software Analyzer Untuk Lia Laela Sarah Universitas
Menganalisis Gandengan Tiga Pendidikan
Pipa Sebagai Filter Akustik Indonesia
PKMI-2-6 Pemanfaatan Rangkaian Pengukur Riza Uldin Akhyari Universitas Negeri
Intensitas Cahaya Untuk Rancang Semarang
Bangun Alat Pengukur Tingkat
Kekeruhan air
PKMI-2-7 Ekstrak Etanol Biji Mahkota Anis Widyasari Univ. Gadjah Mada
Dewa (Phaleria macrocarpa
(Scheff) Boerl) Meningkatkan
Ekspresi Caspase-3 Aktif pada
Cell Line Ca Colon WiDr
PKMI-2-8 Aplikasi Sistem Informasi M. Nurhadi Satya Universitas Negeri
Geografis untuk Membuat Peta Yogyakarta
Penduduk Digital di Kecamatan
Tawangmangu Kabupaten
Karanganyar Propinsi Jawa
Tengah
PKMI-2-9 Aplikasi Linear Programming Elisabet Univ. Sebelas
untuk Penjadwalan Produksi Mie Maret Surakarta
Kering di PT. Tiga Pilar Sejahtera
PKMI-2-10 Upaya Meningkatkan Hetty Oktaviana Institut Teknologi
Keselamatan Lalu Lintas Jalan 10 Nopember
Raya di Indonesia Dengan Surabaya
Pendekatan Psikologi Persuasi
PKMI-2-11 Studi Pembuatan French Fries Ubi Idan Daniawan Univ. Brawijaya
Jalar (Ipomoea batatas L) Kajian
Perlakuan Blanching dan
Konsentrasi CaCL2 sebagai
Larutan Peredam.
PKMI-2-12 Aktivitas Fibrinolisis Jus Bawang Samsul Arifin Universitas Jember
Putih (Allium Sativum) Pada
Tikus Wistar Yang di Papar Asam
Traneksamat
PKMI-2-13 Pelatihan Membuat Cendramata Akmal Baharuddin Universitas Negeri
Perahu Pinishi dari Limbah Kayu Makassar
Gergajian pada Anak Panti
Asuhan Setia Karya Kota
Makassar

PKMI-2-14 Pengukuran Kekuatan dan Jon Heri Univ.


Perilaku Mekanik Helmet Industri Muhammadiyah
yang Dikenai Beban Impak Sumatera Utara
Kecepatan Tinggi Menggunakan
Teknik Dua Gage.

iii
PKMI-2-15 Nilai Kadar Protein dan Aktivitas Erick Sidarta UNIKA Atma
Amilase Selama Proses Jaya, Jakarta
Fermentasi Umbi Kayu Dengan
Aspergillus Niger
PKMI-2-16 Hambatan Pembinaan Siswa Ahfi Wahyu Universitas
Bermasalah oleh Konselor di SMP Hidayat Muhammadiyah
Muhammadiyah 7 Kotagede Yogyakarta
Yogyakarta
PKMI-2-17 Sittotoksisitas Fraksi Protein Daun Robbyono Univ. Sanata
Mimba (Azadicachta indica A. Dharma
Juss) Hasil Pengendapan dengan Yogyakarta
Amonium Sulfat 30%, 60% dan
100% Jenuh terhadap Kultur Sel
HeLa dan Sel Raji
PKMI-2-18 Pengaruh Limbah Padat Pabrik Woro Hastutik Univ. Tunas
Kertas Terhadap Hasil Tanaman Pembangunan
Bawang Merah Surakarta
PKMI-2-19 Efek Getah Pelepah Pisang (Musa Dharma Hananta Univ.
spp) Terhadap Pertumbuhan Muhammadiyah
Pseudomonas aeruginosa Secara Malang
In Vitro
PKMI-2-20 Pemanfaatan Nilai-nilai Didaktik Ulfa Riza Umami Univ.
Nyanyian Permainan Anak-anak Muhammadiyah
Sapeken di Pulau Sapeken Malang
Kecamatan Sapeken Kabupaten
Sumenep

PKMI Kelompok 3

Kode Judul Nama_Ketua PT


PKMI-3-1 Makna Filosofis pada Ukiran Itiak Syayid Sandi Universitas Andalas
Pulang Patang dalam Adat Sukandi
Mingkabau
PKMI-3-2 Uji Ketahanan Korosi Temperatur Beni Hermawan Univ. Lampung
Tinggi (550OC) Dari Logam
Zirkonium dan Ingot Paduan Zr-
Mo-Fe-Cr Sebagai Kandidat
Kelongsong (Cladding) Bahan
Bakar Nuklir
PKMI-3-3 Potensi Ekstrak Biji Mahoni Bayo Alhusaeri Inst. Pertanian
(Swietenia macrophylla) dan Akar Siregar Bogor
Tuba (Derris Elliptica) Sebagai
Bioinsektisida Untuk
Pengendalian Hama Caisin
PKMI-3-4 Inventarisasi Gen Myostatin Taufiq Maulana Inst. Pertanian
Dalam Rangka Peningkatan Bogor
Kualitas Domba dan Kambing di
Indonesia

iv
PKMI-3-5 Karakteristik Morfologi dan Optik Iing Mustain Universitas
Film Tipis Ti O2 : Co yang Pendidikan
Ditumbuhkan dengan Metode Indonesia
Mocud Diatas Substrat Silikon
PKMI-3-6 Prototipe Percobaan Rutherford Khamdan Univ. Negeri
sebagai Alat Peraga Pembelajaran Kurniawan Semarang
Model Atom Rutherford untuk
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa
(Studi Kasus Penggunaan
Prototipe Percobaan Rutherford di
SMA 2 Kendal)
PKMI-3-7 "Tracking " : Cara Mudah Ari Darmawan Univ. Gadjah Mada
Mengenal Hutan dan Praktek
Berbahasa Inggris Melalui Model
Permainan
PKMI-3-8 Pemanfaatan Lahan Pasir Pantai Andri Eko Universitas Negeri
untuk Budidaya Buah Naga Riyantoro Yogyakarta
(Cactaceae hylocereus)
PKMI-3-9 Perilaku Korosi Material Amorf M. Mukhlas Universitas
Gelas Metalik Biner dan Tersier Roziqin Airlangga
Berbasis Zirkonium Terhadap
Laju Korosi
PKMI-3-10 Mekanisme Sistem Penjualan di Surya Dian Universitas Negeri
PT. Jawa Pos Surabaya Enitasari Surabaya
PKMI-3-11 Pendaftaran Merk Masal Sebagai Ika Arlina Prabowo Univ. Brawijaya
Alternatif Meminimalisasi
Pembajakan Merek Menuju Law
Enforcement HKI (Studi Kasus di
Sentra UKM Tas dan Koper
Kecamatan Tanggulangin
Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur)
PKMI-3-12 Hubungan Penyuluhan Kesehatan Berlian Univ. Jember
Gigi dan Mulut Dengan Perilaku Prihatinningrum
Mngobati Sendiri dan angka
Terjadinya Karies gigi pada
Masyarakat Desa Mlokoerejo
Kec. Puger Antara Usia 12 - 50
Tshun
PKMI-3-13 Pelatihan Membuat Lampu Hias Misbahuddin Univ. Negeri
dan Maket Rumah Panggung Makassar
Berbagai Model dengan
memanfaatkan Kayu Tusuk Es
Crim pada Anak Jalanan di kota
Makassar
PKMI-3-14 Pengemasan Listrik Lagu Popular Maulana Yudha Univ.
Dewasa Dalam Versi Anak Anggara Muhammadiyah
Sebagai Upaya Sumatera Utara
Mentranspormasikan Nilai-Nilai
Edukatif Kepada Anak Jalanan
PKMI-3-15 Evaluasi Hasil Fermentasi Limbah Fandi Setyawan UNIKA Atma
Sawit dari Tempat Pengolahan Jaya, Jakarta
Kelapa sawit

v
PKMI-3-16 Sosialisasi Siswa Akselerasi SMP FX. Yanuar Universitas
Pangudi Luhur Domenico Savio Sidharta Katholik
Semarang Soegijapranata
Semarang
PKMI-3-17 Etika Politik dalam Karikatur Bandung Mawardi Universitas
Surat Kabar Harian Solo Pos Muhammadiyah
Surakarta
PKMI-3-18 Kajian Karakteristik Selai Tempe Nur'aini Dwi Univ. Slamet
Dengan Variasi Penambahan Gula Kurniati Riyadi, Surakarta
dan Coklat Bubuk
PKMI-3-19 Perbandingan Kinerja Middle Eka Wulandiri Univ.
Manajer Perusahaan Muhammadiyah
Multinasional dan Nasional Malang
PKMI-3-20 Perbaikan Sifat Tanah Lempung Abib Nur Rahman Universitas Widya
Ekspansif Dengan Penambahan Gama Malang
Abu Terbang (Fly Ash)

PKMI Kelompok 4

Kode Judul Nama_Ketua PT


PKMI-4-1 Analisa Kalsium dan Posfor Gusri Yanti Univ. Andalas
Dalam Dadih
PKMI-4-2 Analisis dan Pengkajian Hasil Wulan Tristiyanti Universitas
Survei Jentik serta Hubungannya Indonesia
dengan Kasus Demam Berdarah
Dengue di Tiga Kelurahan di
Jakarta Pada Tahun 2004
PKMI-4-3 Kearifan Tradisional Masyarakat Gilang Fajar Inst. Pertanian
Suku Dayak di Sun DAS Sibau Ramadhan Bogor
Taman Nasional Betung Kerihun
Dalam Melestarikan Burung
PKMI-4-4 Uji Fitokimia dan Konsentrasi Wulan Tri Wahyuni Inst. Pertanian
Letal (LC50) Minyak Pala Bogor
PKMI-4-5 Flora Sunda : Tafsir Cultural Aditia Gunawan Univ. Pendidikan
Studies Idiom dan Peribahasa Indonesia
Sunda
PKMI-4-6 Pendekatan Sets (Science, Indah Lestari Univ. Negeri
Environment, Technology, dan Semarang
Sciety) dalam pembelajaran
Sistem Periodik dan Struktur
Atom Kelas X SMA
PKMI-4-7 Preparasi Membran Polimer Khairil Amri Univ. Gadjah Mada
Elektrolit Sebagai Komponen
Dasar Fuel Cell Dengan Matriks
Yang Berasal Dari Bahan Alami
Indonesia

PKMI-4-8 Biosorpsi Logam Berat Kadmium Elmi Hanifah Univ. Negeri


Oleh Ragi Yarrowia Lipolitica Yogyakarta

vi
PKMI-4-9 Pembuatan Model Manekin Iffa Ahsanur Universitas
Tangan Buatan Lokal untuk Rasyida Airlangga
Latihan Ketrampilan Medik
PKMI-4-10 Formulasi Feromon Sintetik Denok Rachmawati Universitas
dengan Metode Brawijaya
Elektroantenografi (EAG) Untuk
Pengendalian Hama Kumbang
Kelapa Rhynchophorus spp.
PKMI-4-11 Tanaman Koleksi Kebun Raya Sashadi Sofyan Univ. Brawijaya
Purwodadi Peredam Kebisingan
PKMI-4-12 Formulasi Karboksi Metil Mahmudi Herman Univ. Tanjungpura
Selulosa (CMC) dan Tepung
Tapioka Sebagai Bahan Pengisi
Dalam Pembuatan Tepung Lidah
Buaya.
PKMI-4-13 Implementasi Strategi Konflik I Ketut Wijaya Ikip Negeri
Kognitif dalam Pembelajaran Singaraja
Fisika di SMP Negeri I Singaraja
(Studi Kuasi Eksperimen Pada
Pokok Bahasan Gerak dan Gaya)
PKMI-4-14 Faktor-Faktor Penunjang Surya Dharma Poltek Manufaktur
Keberhasilan Pembelajaran dalam Timah Bangka
Menyiapkan Tenaga Siap Kerja
Di Jurusan Teknik Mekanik
Polman Timah
PKMI-4-15 Hambatan Komunikasi dalam Siti Nur Aulyana Univ. Bina
Perusahaan jepang di Indonesia Nusantara
PKMI-4-16 Motivasi Pengembangan Usaha Alfons Rosario Universitas
Pengolahan Rumput Laut di Desa Fernandez Katholik
Gempol Sewu Kecamatan Soegijapranata
Rowosari Kabupaten Kendal Semarang
PKMI-4-17 Upaya Meningkatkan Ketrampilan Miftakhul Huda Universitas
Menulis Wacana Muhammadiyah
Surakarta
PKMI-4-18 Pengujian Lama Aerasi Terhadap Siti Nurjana Universitas
Produksi Mikroalga Anabaena Muhammadiyah
azollae pada Media Tunggal Malang
Magnesium dalam Skala
Biorektor
PKMI-4-19 Proses Pengolahan Mengkudu Lucia Triastuti Univ.
(Morinda Citrifolia L.) Instan Muhammadiyah
Malang

PKMI Kelompok 5

Kode Judul Nama_Ketua PT


PKMI-5-1 Pengaruh penambahan Abu Hendra Gunawan Univ. Riau
terbang terhadap Kuat Tekan
Mortar Bubuk Kaca

vii
PKMI-5-2 Kuasa Perempuan Pada Masa Timurti Novia K. Universitas
Jawa Kuna Terkait dengan Peran Indonesia
yang Dimilikinya: Data Prasasti
Abad 7-15 Masehi
PKMI-5-3 Bio-Filter Nikotin Asap Rokok R. Ronaldo Inst. Pertanian
Dari Chitin-Chitosan Bogor
PKMI-5-4 Rancang Bangun Mesin Pengurai Ja,afar Sodiq Poltek Negeri
Dan Pengayak Tembakau Jakarta
PKMI-5-5 Pembuatan Biodiesel dari Minyak Rizky Widyo Univ. Diponegoro
Goreng Bekas dengan Proses Laksito
Catalytic Cracking
PKMI-5-6 Efek Anti Proliferatif Ekstrak Esti Widayanti Universitas Gadjah
Etanolik Daun Gynura Mada
procumbens (Lour) Merr. Pada
Hepar Tikus (Rattus norvegicus)
Betina Galur Spargue Dawley
Terinduksi 7,12-dimentil
Benz(a)Antrazena
PKMI-5-7 Pemanfaatan Biji Bengkuang Th. Desy Askitosari Univ. Gadjah Mada
(Pachyrhizuserosus Urb) sebagai
Insektisida Alami Ulat Grayak
(Spodoptera litura)
PKMI-5-8 Studi Optimasi Pengaruh Arief Ismayanto Univ. Sebelas
Orientasi Serat dan tebal Lamina Maret Surakarta
pada Komposit Sandwich Serat
Glass dengan Core Divinyl Cell
PKMI-5-9 Uji Aktifitas Antimalaria Ekstrak Achmad Fachrizal Univ. Airlangga
Air Daun Jambu Biji (Psidium
guajava) pada Kultur Plasmodium
Falciparum in Vitro
PKMI-5-10 Studi Senyawa Kairomon Batang Muhammad Idris Universitas
Kelapa Sebagai Pengendali Brawijaya
Kumbang Kelapa
(Rhynchophorus spp.)
PKMI-5-11 Peran Mahasiswa Melalui Yusron Hidayat Univ. Brawijaya
Program Kuliah Kerja Nyata
(KKN) Dalam Usaha Reboisasi
Hutan Mangrove Di Kawasan
Pesisir
PKMI-5-12 Efisiensi Pengikatan Substrat Tenno Ukaga Univ. Lambung
Amilium Oleh Enzim x- Amilase Mangkurat
Saliva pada Penderita Demam
Berdarah Dengue
PKMI-5-13 Uji Kualitas Tanah Liat Merah Erna Risdiana IKIP Negeri
(Earthenware) di Desa Banyuning, Singaraja
Tukad Mungga, dan Sumbangan
Kab. Buleleng sebagai Bahan
Dasar Pembuatan Keramik
PKMI-5-14 Peningkatan Potensi Limbah Lakshmi Sandhow Universitas
Organik dalam Budi Daya Katholik Indonesia
Lentinula edodes dan Pleurotus Atmajaya Jakarta
ostreatus

viii
PKMI-5-15 Pengembangan Serta Penanganan July Five Sekolah Tinggi
Gangguan Pada Jaringan Akses Teknologi Telkom
Pelanggan Oleh Subdinas Bandung
Transmisi Akses Pelanggan PT.
Telkom
PKMI-5-16 Mengembangkan Kreativitas Tiya Dwi UNIKA
Anak Melalui Menggambar dan Rachmanti Soegijapranata
Mewarnai Semarang
PKMI-5-17 Tradisi Pementasan Wayang Triningsih Univ.
Topeng Dalam Rangka Sedekah Muhammadiyah
Bumi dan Dampaknya Bagi Surakarta
Masyarakat (Studi Kasus di
Dukuh Kedung Panjang Desa
Soneyan Kecamatan Margoyoso
Kabupaten Pati Jawa Tengah)
PKMI-5-18 Aplikasi GKM (Gugus Kendali Achmad Priyono Univ.
Mutu) Mengurangi Jumlah Winarko Muhammadiyah
Komplain Customer Terhadap Malang
Kualitas Susu Sapi Perah Program
Kereatifitas Mahasiswa Ilmiah
PKMI-5-19 Nilai Ketangguhan dan Bentuk Muhammad Sukron Univ.
Perpatahan Hasil Pengelasan Muhammadiyah
Busur Terendam Pipa Spiral Baja Malang
Api 5L X-52.

ix
PKMI-1-1-1

GAMBARAN PEMILIHAN BAHAN PANGAN SUMBER PROTEIN


PASCA PEMBERITAAN PENYALAHGUNAAN FORMALIN DALAM
BAHAN MAKANAN DI KECAMATAN MEDAN TUNTUNGAN

M. Freddy C Sitepu, A Ardi, TAP Siregar, YS Nasution, Fila Effendi


Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
Incidence of formalin issues in protein food-stuff could increase of
malnutrition prevalence especially Protein Energy Malnutrition to affect
degradation of human resource in Indonesia. This research purpose explained
society behavior in chosening protein source food after news formalin issues in
food-stuff. It was a descriptive survey with cross sectional design. Amount of
sample in this research was 60 respondens in compilation of household menu in
Medan Tuntungan Subdistrict. The result of research indicated the decreasing
frequency of protein source food after news formalin issues in food-stuff. This
research can be expected for database and reference materials in effort improve
awareness of society about compilation of well-balanced menu to prevent
malnutrition because of it news influence and decrease malnutrition prevalence.

Key words: Malnutrition, Protein Sources, Formalin

PENDAHULUAN
Pada bulan Desember 2005 sampai dengan Februari 2006 pemberitaan
penyalahgunaan formalin dalam bahan pangan semakin meningkat.1-4
Berdasarkan hasil sampling dan pengujian laboratorium di beberapa kota besar
Indonesia diperoleh data tentang bahan pangan yang mengandung formalin untuk
produk tahu terdapat 1,91 % (terbanyak di Kendiri sekitar 10,42 %), untuk mi
basah terdapat 2,41 % (terbanyak di Bandar Lampung 15 %),5 dan untuk ikan
basah sebanyak 26,36 %.6 Selanjutnya, pengujian sampling yang dilakukan di
Medan terdapat produk mi basah, bakso, dan ikan asin sebagai bahan pangan yang
mengandung formalin7 dan bahan pangan lain seperti ayam potong, cumi-cumi,
dan jenis ikan segar lainnya.1
Formalin yang dijadikan sebagai pengawet bahan pangan tersebut adalah
suatu zat kimia dengan nama dagang larutan formaldehid dalam air dengan kadar
30 40 %. Di pasaran, formalin dapat diperoleh dalam bentuk yang telah
diencerkan, yaitu dengan kadar formaldehid-nya 40, 30, 20 dan 10 % serta dalam
bentuk tablet yang beratnya masing-masing sekitar 5 gram. Formalin ini
digunakan sebagai: bahan baku industri lem, playwood, dan resin; desinfektan
untuk pembersih lantai, kapal, gudang, dan pakaian; germisida dan fungisida pada
tanaman dan sayuran; serta pembasmi lalat dan serangga lainnya.
Terdapatnya penyalahgunaan formalin dalam bahan pangan dikarenakan
formalin dapat mengawetkan bahan pangan sumber protein dalam jangka waktu
yang cukup lama. Selain itu, bahan ini juga dinilai murah dan mudah diperoleh.
Namun, formalin tidak diperbolehkan dan dilarang penggunaannya dalam bahan
pangan8-11 karena merupakan: zat beracun; karsinogenik yang menyebabkan
kanker; mutagen yang menyebabkan perubahan sel dan jaringan tubuh; korosif;
dan iritatif.10-11
PKMI-1-1-2

Penyalahgunaan formalin dalam bahan pangan sumber protein seperti tahu,


mi basah, ikan laut, cumi-cumi, ikan asin, bakso, daging ayam potong, dan
sebagainya sangat berbahaya bagi kesehatan. Padahal sumber protein ini
merupakan salah satu zat gizi kebutuhan utama tubuh manusia terutama pada
masa pertumbuhan dan perkembangan bayi dan anak.12-13 Protein memiliki
banyak fungsi antara lain untuk: pertumbuhan dan perkembangan; micronutrients
transport; memperbaiki sel-sel yang rusak; dan sebagai sistem imunitas tubuh.14
Salah satu dampak akibat kekurangan protein tersebut adalah terjadinya
gizi buruk, terutama Kurang Kalori Protein/Protein Energy Malnutrition yang
rawan terjadi pada balita (bayi dibawah 5 tahun).15-17 Berdasarkan hasil surveilans
Dinas Kesehatan Propinsi di Indonesia dari bulan Januari sampai dengan bulan
November 2005 total kasus gizi buruk di Indonesia berjumlah 71.815 balita.18
Jumlah ini dikuatirkan dapat terjadi peningkatan kasus setelah berkembangnya
pemberitaan penyalahgunaan formalin dalam bahan pangan sumber protein yang
nantinya akan berdampak pada penurunan sumber daya manusia Indonesia.
Oleh karena itu, penelitian yang dilakukan ini bertujuan untuk menjelaskan
perilaku masyarakat terhadap pemilihan bahan pangan sumber protein pasca
pemberitaan penyalahgunaan protein dalam bahan makanan. Penelitian ini
diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan acuan dalam usaha meningkatkan
kesadaran masyarakat tentang pemilihan bahan pangan yang baik, serta sebagai
data awal dan referensi untuk melakukan penelitian selanjutnya sehingga dapat
menurunkan prevalensi gizi buruk.

METODE PENELITIAN
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Medan Tuntungan, yang
dilaksanakan pada Minggu III bulan Januari Minggu II bulan Maret 2006.
Cara Pemilihan Lokasi dan Sampel
Pemilihan Kecamatan Medan Tuntungan sebagai lokasi penelitian
dilakukan secara sengaja berdasar data karakteristik sosial ekonomi dan frekuensi
konsumsi makanan responden pra pemberitaan penyalahgunaan formalin dalam
makanan.19 Teknik penarikan sampel yang digunakan adalah random sampling,20
berjumlah 60 responden. Responden dalam penelitian ini adalah ibu rumah tangga
yang terlibat dalam penyusunan menu makanan keluarga sehari-hari.
Kerangka Penelitian
Bahan pangan dan gizi memiliki hubungan yang sangat erat, sebab
keadaan gizi seseorang tergantung pada jenis dan kondisi bahan pangan yang
dikonsumsinya. Pemilihan bahan pangan dipengaruhi oleh masalah ketahanan
pangan di tingkat rumah tangga, yaitu kemampuan rumah tangga memperoleh
makanan untuk semua anggota keluarga dengan terjaminnya konsumsi yang
cukup jumlah dan nilai gizi (mutu), yang dipengaruhi baik oleh faktor internal
(karakteristik keluarga) maupun faktor eksternal (lingkungan di luar keluarga).
Selain itu, juga harus memperhatikan aspek keamanan pangan. Aman yang
dimaksud disini berarti bebas dari pencemaran fisik, intrinsik, dan ekstrinsik
berupa: toksin alami; zat antinutrisi dalam pangan; kontaminasi biologis,
mikrobiologis, kimia, dan logam berat; serta pencemaran lain yang dapat
merugikan dan membahayakan kesehatan manusia.
PKMI-1-1-3

Gambar 1. Kerangka Konsep Penelitian

Jenis dan Cara Pengumpulan Data


Jenis data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder.
Data primer yang dikumpulkan meliputi identitas keluarga, konsumsi dan
frekuensi makanan, yang diperoleh melalui wawancara mendalam (indepth
interview) dengan menggunakan alat ukur kuesioner.
Data identitas keluarga meliputi nama, umur, jenis kelamin, tingkat
pendidikan, pekerjaan, pendapatan keluarga per bulan, dan jumlah anggota
keluarga. Data konsumsi dan frekuensi makanan terdiri dari recall konsumsi
makanan dalam waktu satu hari (24 jam) sebelum hari dilakukannya wawancara.
Data konsumsi dan frekuensi makanan ini (pokok, sumber protein hewani dan
nabati) dipakai untuk mengetahui perilaku pemilihan bahan pangan sumber
protein pasca pemberitaan penyalahgunaan formalin dalam bahan makanan.
Data sekunder yang meliputi keadaan penduduk dan keadaan umum
wilayah penelitian, diperoleh melalui wawancara dengan petugas kelurahan,
pengamatan langsung pada lokasi penelitian, dan penelusuran kepustakaan.21,22

Pengolahan dan Analisa Data


Data dikumpulkan dan ditabulasi, kemudian dianalisa secara deskriptif.
Data karakteristik keluarga yang meliputi tingkat pendidikan, pekerjaan,
pendapatan keluarga per bulan, dan jumlah anggota keluarga dianalisa secara
deskriptif. Data konsumsi dan frekuensi makanan juga dianalisa secara deskriptif.
Data perubahan perilaku konsumsi dianalisa secara deskriptif dengan
menggunakan tabulasi sederhana guna mengetahui sumber media yang
PKMI-1-1-4

menginformasikan penyalahgunaan formalin pada beberapa bahan pangan sumber


protein, dan melihat perubahan perilaku yang terjadi akibat pemberitaan tersebut.

HASIL PENELITIAN
Keluarga responden mayoritas memiliki karakteristik sebagai berikut
(Tabel 1): berpendidikan menengah (6-12 tahun); pekerjaan sebagai ibu rumah
tangga; pendapatan keluarga antara Rp 500.000,- sampai dengan Rp 1.000.000,-;
dan jumlah anak kurang dari 3 orang.
Tabel 1. Karakteristik Keluarga Responden

Variabel n % Variabel n %

Lama Pendidikan Responden Pendapatan Keluarga


Rendah (< 6 thn) 26 43% Rendah (<500 ribu) 22 37%
Menengah (6-12 thn) 32 53% Menengah (500 ribu 1 juta) 34 57%
Tinggi (>12 thn) 2 3% Tinggi (>1 juta) 4 7%
Total 60 100% Total 60 100%

Pekerjaan Responden Jumlah Anak


Petani 6 10% <3 orang anak 31 52%
Wira Usaha 12 20% 3-5 orang anak 24 40%
Buruh 4 7% >5 orang anak 5 8%
Ibu Rumah Tangga 37 62% Total 60 100%
Guru 1 2%
Total 60 100%
Keterangan: n = jumlah responden

Tabel berikut memperlihatkan pola konsumsi sehari-hari keluarga


responden yang terdiri dari: nasi sebagai makanan pokok; telur sebagai sumber
protein hewani; serta tempe dan kacang-kacangan sebagai sumber protein nabati.
Tabel 2. Sebaran Keluarga Responden Menurut Pola Konsumsi Sehari-Hari

Frekuensi Konsumsi n %

Makanan Pokok
Nasi 60 100 %
Roti/Mi 4 7%
Singkong/Jagung 1 2%
Protein Hewani
Telur 15 25 %
Ikan Segar 13 22 %
Ikan Asin 9 15 %
Protein Nabati
Tahu 6 10 %
Tempe 11 18 %
Kacang-Kacangan 5 18 %
Keterangan: n = jumlah responden
PKMI-1-1-5

Gambar 2 memperlihatkan perubahan perilaku konsumsi sumber protein pra19 dan


pasca pemberitaan penyalahgunaan formalin dalam bahan pangan.

100
90
80
Persentase

70
60 Sebelum Pemberitaan
50
40 Pasca Pemberitaan
30
20
10
0

n
r

pe
m

hu
in
ga

ga
ya

as

m
ta
se

an
te
ra

n
n

ac
ika
lu

ika

-k
te

ng
ca
ka

Jenis Bahan Pangan

Gambar 2. Sebaran Keluarga Responden Menurut Persentase


Konsumsi Sumber Protein

PEMBAHASAN
Karakteristik Keluarga Responden
Berdasarkan hasil penelitian (Tabel 1) diperoleh bahwa umumnya
responden berpendidikan menengah (53 %) dan rendah (43 %). Lamanya
pendidikan yang diperoleh diduga terkait dengan kemampuan menyerap sumber
informasi tentang gizi sehingga dapat mencerminkan pengetahuan ibu dalam
memilih bahan pangan sumber protein. Tingkat pendidikan juga berpengaruh
terhadap jenis pekerjaan yang diperoleh. Mayoritas pekerjaan responden adalah
ibu rumah tangga (62 %) serta pendapatan keluarga responden umumnya
menengah (57 %) dan rendah (37 %) sesuai dengan jenis pekerjaan yang
diperoleh. Semakin tinggi tingkat pendidikan semakin terbuka lapangan pekerjaan
yang memadai sehingga mempermudah peningkatan pendapatan keluarga.
Menurut Hatmadji dan Anwar (1993), jumlah anak mempengaruhi
pendidikan orang tua dan tingkat pendapatan keluarga.23 Sebagian besar
responden memiliki jumlah anak kurang dari 3 orang (52 %) dan antara 3 5
orang (40 %). Jumlah anak akan menentukan penyesuaian pendapatan keluarga
dalam memilih bahan pangan sumber protein. Semakin sedikit jumlah anak
semakin siap orang tua untuk memenuhi kebutuhan hidup anak-anaknya.

Perubahan Pola Konsumsi Makanan Sumber Protein


Berdasarkan hasil penelitian, terlihat bahwa tidak ada perubahan konsumsi
nasi sebagai makanan pokok (100 %) pasca pemberitaan penyalahgunaan formalin
dalam makanan. Roti, mi, singkong, dan jagung hanya merupakan makanan
selingan atau jajanan saja (Tabel 2).
PKMI-1-1-6

Keluarga responden tidak mengkonsumsi daging (ayam dan sapi) sebagai


bahan pangan sumber protein hewani dikarenakan pendapatan keluarga yang
terbatas dalam pemenuhan kebutuhan keluarga. Responden mengetahui bahwa
daging merupakan salah satu makanan sumber protein terbaik. Hal ini didukung
oleh pemahaman responden tentang makanan empat sehat lima sempurna
(Lampiran 1). Selain itu, konsumsi ikan asin lebih rendah daripada konsumsi ikan
segar dan telur, masing-masing dalam persentase 15 %, 22 %, dan 25 %. Padahal
ikan asin merupakan bahan pangan sumber protein dengan harga lebih terjangkau
daripada ikan segar dan telur, terutama pasca kenaikan harga bahan bakar minyak
yang diikuti kenaikan harga bahan-bahan pokok. Sedangkan untuk protein nabati,
konsumsi tempe (18 %) dan kacang-kacangan (18 %) lebih tinggi daripada
konsumsi tahu (10 %). Hal ini dikarenakan bahan pangan sumber protein seperti
ikan asin, ikan segar, tahu, mi basah, bakso, ayam potong, dan cumi-cumi24-25
telah diketahui responden mengandung formalin melalui media massa.1-7
Berdasarkan hasil penelitian yang dapat dijelaskan pada Gambar 2 terlihat
adanya perubahan perilaku konsumsi sumber protein pra dan pasca pemberitaan
penyalahgunaan formalin dalam bahan makanan. Konsumsi telur ayam sedikit
mengalami penurunan walaupun tidak diisukan mengandung formalin, ini
dikarenakan keterbatasan pendapatan keluarga dalam memilih bahan pangan
sumber protein. Konsumsi ikan segar, ikan asin, dan tahu cenderung mengalami
penurunan pasca pemberitaan penyalahgunaan formalin.
Namun, untuk memenuhi kebutuhan protein, para responden melakukan
perubahan perilaku dalam memilih bahan pangan sumber protein dengan
meningkatkan konsumsi tempe dan kacang-kacangan.
Perubahan perilaku dalam memilih bahan pangan sumber protein ternyata
dipengaruhi oleh pemahaman responden tentang makanan empat sehat lima
sempurna. Meskipun demikian, dalam pemilihan makanan responden lebih
mempertimbangkan selera dan harga daripada nilai gizi yang terkandung dalam
bahan pangan tersebut (Lampiran 2). Selain itu, peranan media massa sebagai
transfer pengetahuan terutama dalam hal gizi dan makanan sumber protein, juga
sangat menentukan. Televisi menjadi media informasi dominan (Lampiran 3).
Namun, informasi tentang gizi dan kesehatan akan lebih optimal jika sumbernya
langsung dari puskesmas atau posyandu. Hal ini dikarenakan bahwa puskesmas
dan posyandu setempat lebih mengetahui situasi dan kondisi masyarakat sehingga
mempermudah usaha untuk melakukan pemilihan bahan pangan pengganti.
Pemberitaan penyalahgunaan formalin dalam makanan sangat
mempengaruhi pengetahuan keluarga dalam pemilihan bahan pangan sumber
protein. Oleh karena itu, pemahaman keluarga tentang pentingnya protein bagi
tubuh dan kesehatan harus lebih dioptimalkan. Penyuluhan dan pembagian leaflet
(Lampiran 4) sebagai media informasi yang tepat sasaran dan berkesinambungan
akan meningkatkan pemahaman keluarga tentang fungsi dan pemilihan bahan
pangan sumber protein yang baik sehingga dapat membantu menurunkan
prevalensi gizi buruk di Indonesia.

KESIMPULAN
Pemberitaan penyalahgunaan formalin dalam bahan makanan
menyebabkan perubahan perilaku terhadap pemilihan bahan pangan sumber
protein. Pengetahuan tentang gizi serta pertimbangan selera dan harga dapat
PKMI-1-1-7

mempengaruhi perilaku dalam pemilihan bahan pangan sumber protein. Maka


dari itu, penelitian ini diharapkan dapat menjadi data awal untuk melakukan
perbaikan konsumsi gizi dan penelitian lanjutan dalam usaha menurunkan kasus
gizi buruk (Kurang Kalori Protein/Protein Energy Malnutrition) di Kota Medan.
Selain itu, dari pertimbangan hasil yang diperoleh sebagai keluaran, disusun
sebuah leaflet yang berisi informasi sumber dan fungsi protein bagi tubuh untuk
melakukan penyuluhan gizi seimbang, yang dapat menjawab permasalahan yang
timbul pasca pemberitaan penyalahgunaan formalin dalam bahan makanan,
sehingga informasi yang disampaikan lebih mudah dimengerti oleh orang-orang
yang terlibat dalam penyusunan menu makanan keluarga sehari-hari.

DAFTAR PUSTAKA
1. Sudjianto T. Laporan Hasil Pengujian Laboratorium. Bidang Sertifikasi dan
Layanan Informasi Konsumen BB-POM. Surabaya. Kamis, 29 Desember
2005.
2. Nashihah M. Awas, Bahaya Formalin. Suara Merdeka. Senin, 2 Januari 2006.
3. Febriane S. Kini Konsumen Pilih yang Buruk dan Cepat Basi. Kompas.
Senin, 9 Januari 2006.
4. Widaryana IDM. Formalin yang Kontroversial. Laporan Staf Seksi
Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah. Health
Learning Resource Centre. Yogyakarta. Rabu, 15 Februari 2006.
5. Sampurno. Keterangan Pers Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan
Republik Indonesia No Kh.00.01.1.241.029 tentang Hasil Tindak Lanjut
Pengawasan terhadap Penyalahgunaan Formalin sebagai Pengawet Tahu dan
Mi Basah. Jakarta. Selasa, 24 Januari 2006.
6. Badan Pengawas Obat dan Makanan. Hasil Temuan Produk Mi Basah, Tahu,
dan Ikan Berformalin. Data Januari 2006.
7. Manurung J. Laporan Kepala Bidang Sertifikasi dan Layanan Konsumen
BBPOM. Medan. Selasa, 3 Januari 2006.
8. Lubis NDA. Pengawetan Makanan yang Aman. Disampaikan pada Seminar
Dampak Penyalahgunaan Formalin di Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara tanggal 14 Januari 2006. Medan.
9. Lanita. Himbauan Staf Ahli Teknologi Pangan Politeknik Kesehatan
Departemen Kesehatan RI pada Simposium Dampak Buruk Formalin bagi
Kesehatan Manusia di FK UI tanggal 13 Januari2006. Jakarta.
10. Syam AF. PB PAPDI: Soal Formalin Sangat Berbahaya bagi Kesehatan
Manusia. Laporan Humas PB PABDI. Jakarta. Senin, 2 Januari 2006.
11. Anwar J. Dampak Formalin bagi Kesehatan. Disampaikan pada Seminar
Dampak Penyalahgunaan Formalin di Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara tanggal 14 Januari 2006. Medan.
12. Departemen Kesehatan. Rencana Aksi Pangan dan Gizi Nasional 2001-2005.
2001.
13. Griffiths M, Dickin K, Favin M. Promoting the Growth of Children: What
Works. Rationale and Guidance for Programs. The World Bank. 1996.
14. WHO. Nutrition for Health and Development. WHO, Geneva. 2000.
15. UNICEF. The State of the Worlds Children 2000. UNICEF, New York. 2000.
16. ACC/SCC. Fourth Report on the World Nutrition Situation. WHO, Geneva.
2000.
PKMI-1-1-8

17. Anderson PP, Pellettier D, Alderman H (ed). Child Growth and Nutrition
Development in Developing Countries. Ithaca New York: Cornell University
Press; 1995.
18. Perkembangan Penanggulangan Gizi Buruk di Indonesia (Keadaan sampai
Bulan November Tahun 2005). Diperoleh dari: URL: http: //www.gizi.net/
busung-lapar/Bahan%20Gizi%20Buruk-Nop2005.pdf. Pada hari Senin,
tanggal 13 Februari 2006 pukul 16.25 WIB.
19. Survey Dasar Pangan dan Gizi di Propinsi Sumatera Utara Tahun 2005. Dinas
Kesehatan Propinsi Sumatera Utara. Medan. 2005.
20. Singarimbun M, Effendi S. Metode Penelitian Survei. Jakarta: LP3ES; 1989.
21. Biro Pusat Statistik. Medan dalam Angka. BPS Medan. 2004
22. Biro Pusat Statistik. Medan Tuntungan dalam Angka. BPS Medan. 2004.
23. Hatmadji S, Anwar EN. Transisi Keluarga di Indonesia: Perspektif Global.
Makalah Seminar Mengisi Hari Keluarga Nasional. 1993.
24. National Academy of Sciences: Recommended Dietary Allowances. 10th ed.
Washington DC: National Academy Press; 1989.
25. United States Department of Agriculture: Food Guide Pyramid. A Guide to
Daily Food Choices. Home and Garden Bulletin; No. 252. Washington DC:
Human Nutrition Information Services; 1992.
PKMI-1-1-9

LAMPIRAN

Lampiran 1. Pemahaman tentang Makanan Empat Sehat Lima Sempurna


Keterangan:
n = 60 responden

Lampiran 2. Peringkat Faktor Penentu Pemilihan Bahan Pangan

Keterangan: n = 60 responden

Lampiran 3. Media Pemberitaan Formalin dalam Makanan

Keterangan: n = 60 responden
PKMI-1-1-10

Lampiran 4. Leaflet Zat Gizi Sumber Protein


PKMI-1-2-1

EFEKTIFITAS PENYULINGAN DAUN NILAM METODE STEAM


DESTILLATION DENGAN PERLAKUAN PENDAHULUAN
PENGERINGAN SUHU RENDAH TERMODIFIKASI

Betty Herlina, Harry Perjaka, Derry Arisandi, Yuli Henriyani, Hendres DJ

Program Studi Teknologi Industri Pertanian


Fakultas PERTANIAN Universitas Bengkulu, Bengkulu

ABSTRAK
Propinsi Bengkulu merupakan salah satu daerah penghasil minyak nilam yang
memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi komoditi ekspor. Salah satu
masalah yang dihadapi petani minyak nilam di wilayah Bengkulu adalah
rendemen minyak nilam masih rendah sekitar 2-2,5% dan mutunya kurang baik.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh antara penyulingan
dengan pendahuluan pengeringan suhu rendah termodifikasi dan penyulingan
dengan perlakuan tinggi tumpukan bahan terhadap efektifitas penyulingan
berdasarkan rendemen minyak yang dihasilkan. Manfaat penelitian ini adalah
sebagai bahan evaluasi dan pembanding antara proses penyulingan yang
dilakukan pada penelitian ini dan yang dilakukan oleh petani/pekebun nilam dan
sebagai kajian dan pedoman bagi petani pekebun nilam dalam melakukan
perlakuan pendahuluan dan penyulingannya, sehingga kinerja dari proses
penyulingan yang telah dilakukan dapat diperbaiki dan akan meningkatkan
kesejahteraannya. Berdasarkan penelitian ini diperoleh informasi hasil
penyulingan nilam jenis nilam aceh (Pogostemon cablin), dengan metode steam
destillation dan perlakuan pendahuluan suhu termodifikasi menghasilkan
rendemen penyulingan tertinggi pada kecepatan pengeringan minimum, yaitu
3,312% serta hasil terendah diperoleh pada kecepatan pengeringan minimum
dengan ketinggian tumpukan rendah yaitu 2,29%. Secara signifikan hasil
penelitian menunjukan bahwa rendemen minyak meningkat dengan peningkatan
kecepatan pengeringan dan meningkatnya tinggi tumpukan bahan dalam katel
suling.

Kata kunci : Nilam, Steam Destillation, Perlakuan Pendahuluan

PENDAHULUAN
Tanaman nilam (Pogostemon cablin) merupakan salah satu tanaman
penghasil minyak atsiri utama di Indonesia dan memiliki nilai ekonomis yang
tinggi. Indonesia merupakan negara pensuplai minyak nilam terbesar dipasaran
dunia, hampir 70% dari total kebutuhan minyak nilam dunia berasal dari
Indonesia. Sedangkan negara pemasok nilam lainnya adalah dari Cina (Lutony,
1994). Pulau Sumatera merupakan daerah penghasil minyak nilam, tak terkecuali
propinsi Bengkulu. Propinsi Bengkulu merupakan salah satu daerah penghasil
minyak nilam yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi komoditi
ekspor.
Minyak nilam merupakan suatu komoditi ekspor yang memiliki prospek
yang sangat cerah dan selalu dibutuhkan secara berkesinambungan dalam
PKMI-1-2-2

industri-industri parfum, wewangian, kosmetik, sabun, farmasi, flavouring agent


dan lain-lain. Minyak nilam dalam industri dipakai sebagai fiksasi yang sampai
saat ini belum dapat digantikan oleh minyak lain. Selain itu, minyak nilam adalah
minyak atsiri yang tidak dapat dibuat secara sintetis. (Ketaren, 1985) dan
(Anonim, 1991) dalam (Dewi, 1994).
Salah satu masalah yang dihadapi petani minyak nilam di wilayah
Bengkulu adalah rendemen minyak nilam masih rendah sekitar 2-2,5% dan
mutunya kurang baik. Menurut Guenther (1948) dan Sieng (1962) dalam Dewi
(1994), mutu minyak nilam dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain mutu
daun, penyulingan dan penyimpanan minyak. Menurut Ketaren (1985), ada
beberapa cara penanganan bahan sebelum penyulingan yaitu, pengecilan ukuran
bahan, pengeringan, pelayuan dan fermentasi oleh mikro organisme. Menurut
Hernani dan Risfaheri (1989), dalam Anonim (1989), menyatakan bahwa semakin
lama penjemuran cenderung menurunkan rendemen minyak dan sebaliknya,
pelayuan yang semakin lama memperlihatkan kenaikan rendemen minyak nilam.
Menurut Wijaya (2000), pada penelitian penyulingan jeruk purut dinyatakan
bahwa rendemen minyak jeruk purut dipengaruhi oleh tinggi tunpukan bahan
dalam drum penyuling dan pengecilan ukuran bahan yang disuling. Pada
tumpukan bahan yang rendah didapatkan hasil rendemen yang lebih tinggi bila
dihaluskan, kemudian pada tumpukan bahan yang tinggi dihasilkan rendemen
yang tinggi bila bahan dirajang.
Salah satu faktor yang mempengaruhi rendemen minyak nilam adalah
perlakuan sebelum minyak nilam disuling atau perlakuan pendahuluan. Perlakuan
tersebut adalah pengeringan daun nilam. Pengeringan adalah pengurangan
sebagian kandungan air dalam bahan dengan cara termal.
Faktor lain yang mempengaruhi rendemen adalah cara penyulingan.
Menurut Anonim (1986) dan Ketaren (1985), ada 3 cara penyulingan daun nilam
yaitu antara lain :
a. Penyulingan dengan air (water destillation), ini merupakan cara yang paling
sederhana karena daun nilam yang akan disuling dimasukkan kedalam drum
kemudian ditambahkan air dan dipanaskan, kemudian uap yang terjadi
dialirkan melalui kondensor dan minyak nilam yang terjadi ditampung dalam
tempat penampung atau botol. Penyulingan ini jarang dilakukan karena
minyak nilam yang diperoleh mutunya rendah dan rendemennya juga rendah.
b. Penyulingan dengan air dan uap (water and steam destillation). Penyulingan
ini banyak dilakukan oleh petani nilam di Sumatera Utara dan Aceh dengan
kapasitas bahan (daun nilam) 35 kg. Daun nilam yang akan disuling
ditempatkan didalam tempat atau drum penyuling dan tidak dicampur dengan
air, namun air tersebut dipanaskan dalam bioler dan uap yang terjadi dialirkan
kedalam drum penyulingan , kemudian uap yang terjadi dari penyulingan
dialirkan melalui kondensor, cara ini biasanya disebut dengan pengkukusan.
Waktu penyulingan sekitar 5 jam, menghasilkan rendemen minyak nilam 2,5
3,0 % dan mutunya cukup bagus.
c. Penyulingan dengan uap ( steam destillation). Cara penyulingan ini biasanya
dilakukan oleh pabrik penyulingan dengan kapasitas yang besar yaitu 250 kg,
caranya adalah mengalirkan uap dari tabung uap ketumpukan daun nilam pada
tabung destilasi dimana tabung uap dan tabung destilasi tempatnya terpisah.
Rendemen minyak nilam yang dihasilkan sekitar 2-2,5%.
PKMI-1-2-3

Faktor-faktor yang mempengaruhi rendemen minyak nilam antara lain :


jenis tanaman, umur tanaman, waktu panen, perubahan bentuk daun (pengecilan
ukuran daun), perlakuan pendahuluan sebelum penyulingan (cara pengeringan)
dan teknik penyulingan (metode uap, metode uap air, pengaturan tumpukan bahan
dalam drum penyulingan, tekanan dalam drum penyulingan dan besarnya energi
untuk perebusan).
Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui besarnya rendemen
minyak nilam dari masing-masing perlakuan, untuk mengetahui tingkat efektivitas
masing-masing perlakuan penyulingan minyak nilam, dan mengetahui
kemampuan puncak minyak nilam yang dihasilkan pada masing-masing
kombinasi perlakuan.
Pada penelitian ini akan dilakukan pengamatan dan kajian pada pengaruh
perlakuan pendahuluan daun nilam sebelum penyulingan terhadap rendemen dan
hubungan antara laju kecepatan perolehan minyak dengan waktu penyulingan
(efektivitas pengeringan). Perlakuan pendahuluan yang akan dikerjakan adalah
cara pengeringan daun nilam dengan menggunakan alat pengering pada suhu
udara kamar akan tetapi kecepatan udara yang dihembuskan ke ruang pengering
bervariasi. Cara penyulingan yang akan dilakukan adalah penyulingan metode uap
air penumpukan bahan (daun nilam) yang bervariasi. Perlakuan-perlakuan tersebut
diharapkan dapat menghasilkan minyak nilam dengan rendemen yang tinggi,
memenuhi syarat standar mutu dan dapat dilihat efektivitas dari masing-masing
perlakuan.

METODE Penelitian
Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Pertanian Program
Studi Teknologi Industri Pertanian Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian
Universitas Bengkulu dan Laboratorium Kimia FMIPA UNIB, dimulai pada
bulan Januari 2005 dan berakhir bulan Maret 2005.

Bahan dan Alat


Bahan yang akan dipakai dalam penelitian ini adalah daun nilam
(Pogostemon cablin BENT) yang berasal dari tanaman petani di Rejang lebong,
air, minyak tanah dan alat tulis.
Alat yang digunakan adalah alat pengering tray dryer yang
dimodifikasikan pengaturan kecepatan udara pengeringnya, termometer, stop
wacth, blower, komponen pemanas (kawat elemen pemanas), alat pengontrol suhu
udara, alat pengukur kecepatan udara (anemometer), meteran, seperangkat alat
penyuling metode uap (steam destillation), gunting, botol warna hijau (gelap),
timbangan biasa, timbangan analitik, gelas ukur, pipet, saringan, kompor gas dari
minyak tanah, kalkulator, corong, wadah penampung hasil minyak nilam, kertas
grafik, alat tulis dan kertas.
PKMI-1-2-4

Tahapan Penelitian
Tahapan Penelitian meliputi :
1. Persiapan bahan baku: bahan baku yang digunakan adalah daun nilam
(Pogostemon cablin BENT).
2. Pengecilan ukuran: daun nilam yang berada dibagian ujung cabang
dipotong, yaitu pada pangkal tempat bersatunya helai daun.
3. Pengeringan: pengeringan daun nilam dilakukan dengan menggunakan
alat pengering tray dryer (rak pengering) dengan modifikasi suhu udara
pengering yang diatur sedikit diatas suhu kamar yaitu sekitar 350C. Untuk
mengatur suhu kamar yang stabil dan konstan , dipasang elemen pemanas
elektrik yang kemudian suhunya diatur dengan alat pengontrol suhu
(thermo control). Kecepatan udara pengeringan juga diatur mulai dari
kecepatan udara normal (di ruang terbuka) hingga ditentukan suatu
interval kecepatan udara diatas normal. Cara untuk menentukan kecepatan
udara pengeringan dengan menggunakan anemometer. Kemudian
ditentukan 3 variasi kecepatan udara pengeringan (V1,V2,V3).
Pengeringan diakhiri setelah kadar air bahan mencapai 14%, selama
pengeringan daun nilam perlu dibolak-balik sehingga kadar air akhir dari
daun nilam dapat merata.
4. Penyulingan: penyulingan dilakukan dengan alat penyuling yang biasa
dilakukan petani/pekebun nilam sekarang ini yaitu menggunakan metode
uap (steam destillation). Ketel suling dengan ketinggian 74,5 dan
diameter30 cm dibagi 2 ruangan (lihat Lampiran 1).
5. Nilam yang sudah dikenai perlakuan pendahuluan dengan kadar air 14%
disuling dengan metode steam destillation dengan perlakuan penyulingan
tiga tinggi tunpukan bahan, yaitu tinggi bahan penuh, tinggi bahan ,
tinggi bahan setengan drum penyuling.
6. Untuk mengetahui volume dan berat minyak nilam yang dihasilkan dari
proses penyulingan dapat dilakukan dengan mengukur volume dan
menimbang berat perolehan minyak nilam dengan menggunakan gelas
ukur setiap periode waktu tertentu yaitu setiap 15 menit. Pengukuran
volume dan penimbangan berat minyak nilam selalu dicatat berdasarkan
waktu proses penyulingan minyak nilam.
7. Pengeplotan volume dan berat minyak nilam.Hasil yang diperoleh dari
pengukuran volume maupun berat minyak diplotkan pada kertas grafik
atau dibuat grafik, sehigga akan terlihat hubungan antara volume dan berat
minyak nilam berdasrkan interval waktu proses penyulingan.

Analisis hasil penelitian yang dilakukan terdiri atas :


1. Analisis grafis, yaitu menentukan efektivitas penyulingan minyak nilam
berdasarkan hasil ploting atau grafik yang dihasilkan pada masing-masing
kombinasi perlakuan.
2. Menentukan kemampuan dan kemampuan puncak minyak nilam yang
dihasilkan pada masing-masing kombinasi perlakuan
3. Analisis menggunakan Rancang Acak Lengkap (RAL).
4. Membuat kesimpulan efektifitas kombinasi perlakuan yang terbaik dari
proses penyulingan minyak nilam. Menganalisa masing-masing kombinasi
perlakuan proses penyulingan minyak nilam dilihat dari aspek teknisnya.
PKMI-1-2-5

HASIL DAN PEMBAHASAN

Rendemen Minyak Nilam Hasil Penyulingan


Rendemen minyak nilam dinyatakan dengan persentase berat minyak
nilam yang dihasilkan per berat daun yang disuling. Rata-rata tertinggi hasil
penyulingan terdapat pada kecepatan pengeringan 1, terlihat pada tinggi tumpukan
penuh (V1H3) yaitu 3,312 %. Rata-rata terendah hasil penyulingan terdapat pada
kecepatan penering 1, pada tinggi tumpukan rendah (V1H1) yaitu 2,29%.
Rendemen hasil penyulingan dapat dilihat pada gambar 2 . Penelitian Dewi (1994)
menyatakan bahwa rendemen hasil penyulingan untuk daerah Bengkulu hanya
mencapai 2-2,5%. Rendemen yang diperoleh melalui penyulingan yang dilakukan
secara langsung dengan uap menurut Rusli dan Syafril (1991), dan Weiss (1997)
dapat mencapai 1,8% sampai dengan 2,5%.

3.5
V1H1
3 V1H2
2.5 V1H3
V2H1
Rendemen

2
V2H2
1.5 V2H3
1 V3H1
V3H2
0.5 V3H3
0
30 60 80 120 150 180 210 240
Waktu (menit)
Gambar 1. Redemen Hasi Peyulingan Nilam

Rekapitulasi rata-rata hasil pengukuran rendemen minyak disajikan pada tabel 1.


Hasil analisis varian menunjukkan bahwa faktor H (tinggi tumpukan bahan pada
saat penyulingan ) memberikan pengaruh yang nyata terhadap rendemen minyak
nilam yang dihasilkan, sedangkan faktor V (kecepatan udara pengeringan) tidak
memiliki perbedaan yang nyata atau dengan kata lain kecepatan udara
pengeringan tidak mempengaruhi rendemen minyak yang dihasilkan.

Tabel 1. Rekapitulasi rata-rata rendemen hasil penyulingan.

No Perlakuan Rata-rata
1 V1H1 2,229
2 V1H2 3,186
3 V1H3 3,312
4 V2H1 2,561
5 V2H2 2,883
6 V2H3 3,113
7 V3H1 2,649
8 V3H2 2,389
9 V3H3 3,032
PKMI-1-2-6

Hasil dari uji lanjut DMRT terhadap faktor H (tinggi tumpukan bahan),
didapat bahwa faktor H1 dengan tinggi tumpukan bahan 30 cm tidak memiliki
perbedaan yang nyata terhadap faktor H2 dengan tinggi tumpukan bahan 45 cm,
demikian juga halnya dengan faktor H3 dengan tinggi tumpukan bahan 60 cm
tidak memiliki perbedaan yang nyata terhadap faktor H2 dengan tinggi tumpukan
bahan 45 cm, akan tetapi faktor H3 dengan tinggi tumpukan bahan 60 cm
memiliki perbedaan yang nyata terhadap faktor H1 dengan tinggi tumpukan bahan
30 cm. Hasil analisis varian dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2 Analisis varian pada berbagai perlakuan penyulingan

Source SS Df MS F P
Main Effects
H 2.701486519 2 1.350743259 9.630370334 0.0014 **
V 0.232643185 2 0,116321593 0,829336002 0,4523 ns

Interaction
HxV 0,493012593 4 0,123253148 0,878755791 0,4961 ns

Error 2.52465667 18 0,140258704


Total 5,951798963 26

Berdasarkan Uji Lanjut DMRT memperlihatkan bahwa H3 (tinggi


tumpukan bahan 60 cm) memberikan rendemen minyak tertinggi dibandingkan
dengan perlakuan tinggi tumpukan bahan yang lainnya. Hasil Uji Lanjut DMRT
Tinggi Tumpukan Bahan terhadap Rendemen minyak nilam dapat dilihat pada
tabel 3. Uji Lanjut DMRT faktor V (kecepatan udara pengeringan)
memperlihatkan bahwa rendemen minyak nilam hasil penyulingan tertinggi
dicapai pada perlakuan V1 (kecepatan udara pengeringan 90 m/menit).

Tabel 3. Uji Lanjut DMRT Tinggi Tumpukan Bahan Terhadap Rendemen Minyak
Nilam

Rank Trt # Mean N Non significant ranges


1 3 3,15222 9 a
2 2 2,906 9 a
3 1 2,392889 9 b

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa rendemen minyak nilam yang


dihasilkan meningkat dengan kecepatan pengeringan yang paling rendah (V1) dan
meningkatnya tinggi tumpukan bahan dalam ketel suling.

Titik Maksimum /Kemampuan Puncak


Titik maksimum/kemampuan puncak rata-rata yang dicapai hanya pada
awal penyulingan (pada menit ke-30) diwakili oleh perlakuan V1H1 dapat dilihat
pada gambar 2.
PKMI-1-2-7

Pertambahan Jumlah
1.5

Minyak
0.5

0
30 60 90 120 150 210 240
Waktu Penyulingan (menit)
Gambar 2. Hubungan antara pertambahan jumlah minyak terhadap interval waktu penyulingan

Hasil dari penelitian ini dapat dilihat secara umum titik maksimum/
kemampuan puncak yang dicapai adalah hanya pada awal penyulingan (pada
menit ke 30) dan terus menurun hingga pada batas waktu yang ditentukan.

Waktu Proses Penyulingan Nilam dan Efektifitas Penyulingan


Penentuan proses penyulingan dilakukan dengan menimbang minyak atsiri
yang dihasilkan setiap 30 menit sekali. Berdasarkan hasil penelitian, persentase
rata-rata tertinggi rendemen dan efektifitas penyulingan perlakuan H1 (tinggi
tumpukan bahan 30 cm) terdapat pada kombinasi perlakuan V3H3 yaitu sebesar
3,032%. Hal ini disebabkan perlakuan V3 (kecepatan udara pengeringan 125
m/menit) merupakan kecepatan udara pengering yang paling tinggi dibanding
dengan perlakuan kecepatan udara pengering yang lainnya (V1 dan V2). Proses
pengeringan dan pelayuan menyebabkan kandungan air dalam bahan berkurang,
dengan menguapnya air maka sel minyak pecah sehingga ada celah yang
memudahkan air masuk dan menarik minyak keluar, dengan demikian proses
penyulingan lebih mudah dan rendemen akan lebih tinggi (anonim, 1989).
Rendemen dan efektifitas penyulingan dengan tinggi tumpukan bahan 1 dapat
dilihat pada gambar 3.

3
2.5
2
Rendemen

1.5
1 V1H1
V2H1
0.5
V3H1
0
30 60 80 120 150 180 210 240
Waktu (menit)
Gambar 3.Hubungan Redemen dengan waktu pada tinggi tumpukan bahan 1

KESIMPULAN

Rendemen minyak nilam dinyatakan dengan persentase berat minyak


nilam yang dihasilkan per berat daun yang disuling. Rata-rata tertinggi hasil
penyulingan terdapat pada kecepatan pengeringan , terlihat pada tinggi tumpukan
penuh (V1H3) yaitu 3,312 %. Rata-rata terendah hasil penyulingan terdapat pada
PKMI-1-2-8

kecepatan pengeringan 1 pada tinggi tumpukan rendah (V1H1) yaitu 2,29%. Hasil
analisis menunjukan bahwa faktor tinggi tumpukan bahan pada saat penyulingan
memberikan pengaruh yang nyata terhadap rendemen minyak nilam yang
dihasilkan, sedangkan kecepatan udara pengeringan tidak memiliki perbedaan
yang nyata. Dapat disimpulkan bahwa rendemen minyak nilam yang dihasilkan
meningkat dengan kecepatan pengeringan yang paling rendah dan meningkatnya
tinggi tumpukan bahan dalam ketel suling.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2003. Peranan Program Unit Pelayanan Pengembangan dan


Pengolahan Hasil Pertanian dalam Rangka Mendukung
Pengembangan Agroindustri Pedesaan di Propinsi Bengkulu. Seminar
HIMATIN UNIB. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Propinsi
Bengkulu, Bengkulu.
Dewi, R. 1994. Pengaruh Berbagai Tipe Pengeringan Terhadap Rendemen dan
Mutu Minyak Nilam (Pogostemon cablin Bent). Skripsi Jurusan
Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas bengkulu,
Bengkulu (tidak dipublikasikan)
Hernani dan Risfaheri. 1989. Pengaruh Perlakuan Bahan Sebelum Penyulingan
Terhadap Rendemen dan Karakteristik Minyak Nilam. Pemberitaan
Penelitian Tanaman Industri. Vol. XV (2) : 84-86
Ketaren, S. 1985. Pengantar Teknologi Minyak Atsiri. Balai Pustaka. Jakarta.
Lutony. 1994. Produksi dan Perdagangan Minyak Atsiri. Jakarta
Santoso, H.R. 1990. Bertanaman Nilam (Bahan Industri Wewangian). Kanisius,
Yogyakarta.
Wijaya,H.S. 2000. Ekstraksi Minyak Atsiri dari Daun Jeruk (Citrus hystrix DC)
pada skala Pilot-Plant. Jurnal Teknologi Industri Pertanian Vol.9 (3) :
164-171.
Wiraadmaja, H.,S.taib,G.,Said,G. 1987. Operasi Pengeringan Pada
Pengolahan Hasil Pertanian. Mediatama Sarana. Jakarta.
PKMI-1-2-9

Lampiran 1. Gambar Skema Alat Penyuling Metode Steam Destillation

TOWER

Nilam
xxx
Tan xxx Plat Air
xxx Pendingin
BOILER Alumanium
xxx xxx
xxx
xxx
Katel Suling
Penampungan Penampungan
Nilam Nilam
Sumber Panas

Pengeluaran
Sumber Air
Air
PKMI-1-03-1

FORTIFIKASI Fe ORGANIK DARI BAYAM (Amaranthus tricolor L)


DALAM PEMBUATAN COOKIES UNTUK WANITA MENSTRUASI

Dian Sukma Kuswardhani, Yaniasih, Bot Pranadi


Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Institut Pertanian Bogor, Bogor

ABSTRAK
Defisiensi zat besi dapat menyebabkan anemia, yaitu berkurangnya jumlah sel
darah merah sehingga oksigen yang dibawa ke jaringan menurun. Akibatnya
terjadi kekurangan energi, kelesuan, sakit kepala, dan pusing-pusing. Anemia
lebih banyak dialami oleh wanita karena pada wanita terjadi kehilangan zat besi
yang lebih banyak akibat kehilangan darah selama menstruasi. Hal ini dapat
dicegah dengan cara mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi yang
cukup tinggi. Bayam merupakan salah satu sumber zat besi dengan kandungan
sebesar 3.9 mg/g. Penambahan bayam pada produk cookies diharapkan dapat
meningkatkan kadar zat besi produk tersebut sehingga baik dikonsumsi oleh
wanita menstruasi. Pemilihan fortifikasi pada produk cookies karena produk ini
sudah banyak dikenal konsumen, disukai karena teksturnya yang renyah,
pembuatannya mudah, dan biaya pembuatannya relatif murah. Penelitian
pembuatan cookies dilakukan dengan menggunakan enam formula konsentrasi
penambahan bayam, yaitu sebesar 0%, 5%, 10%, 15%, 20%, dan 25%. Formula
penambahan bayam yang paling baik berdasarkan kadar Fe dan penerimaan
organoleptik adalah cookies bayam 10%. Kandungan Fe pada cookies bayam
10% adalah sebesar 0.0749 mg/g cookies. Bila kebutuhan Fe wanita menstruasi
sebesar 1.2 2.0 mg per hari maka kebutuhan ini dapat dipenuhi dengan
mengkonsumsi minimal 9 cookies per hari dengan asumsi daya serap Fe pada
cookies bayam sebesar 20%.
Kata kunci : zat besi, bayam, cookies, wanita menstruasi

PENDAHULUAN
Fe (zat besi) merupakan mineral penting yang berperan dalam
metabolisme tubuh. Fe berfungsi sebagai pembentuk hemoglobin, katalisator
perubahan betakaroten menjadi vitamin A, sintesis purin dan kolagen, produksi
antibodi, dan detoksifikasi obat-obatan dalam hati (Hadisoeganda, 1996).
Fe dalam tubuh secara otomatis diperbaharui oleh makanan. Namun bila
kehilangan Fe tidak segera diganti, lama kelamaan akan terjadi defisiensi Fe yang
mengakibatkan metabolisme tubuh terganggu. Dalam urin, keringat, hasil
pernafasan, dan feses yang diekskresikan manusia setiap hari terkandung sejumlah
Fe. Melalui proses itulah terjadi kehilangan Fe dari tubuh. Total Fe yang hilang
dari tubuh per hari mencapai 0.71.0 mg (Guthrie, 1975). Angka tersebut
merupakan kisaran jumlah Fe yang hilang secara umum pada orang dewasa pria.
Pada wanita terjadi peningkatan kehilangan Fe akibat proses menstruasi 28
hari sekali. Jumlah Fe yang hilang sekitar 16-32 mg per bulan atau 0.5-1.0 mg per
hari. Ini berarti, wanita menstruasi membutuhkan sekitar 0.5-1.0 mg Fe per hari
untuk mengganti Fe yang hilang. Dengan asumsi bahwa daya absorbsi tubuh
PKMI-1-03-2

adalah 20% dari total zat besi yang dikonsumsi dalam satu hari maka jumlah
konsumsi Fe per hari harus digandakan beberapa kali lipat sesuai kebutuhannya.
Bayam mempunyai kandungan Fe yang tinggi, yaitu 3.9 mg/100 g. Selain
itu, bayam juga kaya serat, harganya murah, dan siklus pemanenannya sangat
cepat (2 minggu ) (Hadisoeganda 1996). Oleh karena itu, produk yang dihasilkan
dari penambahan bayam diharapkan memiliki kadar Fe yang tinggi, baik untuk
dikonsumsi wanita menstruasi, dan dapat dijangkau oleh seluruh lapisan
masyarakat.
Hal yang tidak kalah penting adalah kandungan vitamin C bayam yang
cukup tinggi, yaitu 80.0 mg/100 g. Vitamin C ini sangat penting untuk membantu
reduksi Fe3+ menjadi Fe2+ sehingga lebih mudah diserap oleh tubuh. Vitamin C ini
juga membantu penyerapan zat besi 36 kali.
Untuk meningkatkan konsumsi Fe pada wanita menstruasi, dilakukan
fortifikasi Fe dari bayam ke dalam cookies. Cookies menjadi pilihan karena bahan
dasarnya, yaitu tepung terigu telah dikenal konsumen, dapat langsung dikonsumsi,
kadar airnya rendah sehingga tahan lama, teksturnya digemari karena renyah, dan
mudah dibuat. Untuk itu, fortifikasi Fe dalam cookies dapat dijadikan sebagai
terobosan baru dalam pengembangan pangan fungsional saat ini.
Tujuan umum penelitian ini adalah membuat produk cookies dengan kadar
Fe tinggi dari campuran bayam untuk mengatasi kehilangan Fe pada wanita
menstruasi. Tujuan khusus penelitian ini adalah mengetahui metode pembuatan
cookies yang difortifikasi oleh Fe organik dari bayam segar untuk mengatasi
kekurangan Fe yang terjadi pada wanita selama proses menstruasi, mengetahui
formula yang tepat dalam pembuatan cookies bayam, dan melakukan analisa
kimia terhadap kadar Fe serta uji organoleptik terhadap cookies yang dihasilkan.

BAHAN DAN METODE


Penelitian Pendahuluan
Penelitian dimulai dengan menyusun formula cookies dengan mengadopsi
peneliian Sufianti (1992). Formula dasar terdiri atas tepung teigu (450 g), gula
halus (150 g), margain (250 g), kuning telur (35 g), baking powder (1 g), dan
garam (1 g). Total bobot fomula dasa adalah 887 gram. Selanjutnya ke dalam
formula dasar ditambahkan bayam sebanyak 0%, 5%, 10%, 15%, 20%, dan 25 %
terhadap bobot formula dasar.
Pembuatan cookies terdiri dari tiga tahapan penting yaitu pembuatan
adonan, pencetakan adonan dan pemanggangan adonan. Pada tahap pembuatan
adonan dilakukan pembuatan krim melalui pencampuran gula halus, garam dan
kuning telur dengan menggunakan mixer. Hal ini bertujuan untuk
menghomogenkan campuran sehingga diperoleh kualitas sensori yang diinginkan.
Setelah semua adonan tercampur, bayam yang telah diblanching dan diblender
dimasukkan dalam adonan sambil ditambahkan terigu sedikit demi sedikit. Tahap
pencetakan adonan dilakukan dengan mencetak adonan yang telah ditipiskan
sesuai bentuk yang diinginkan. Setelah dicetak, cookies dipanggang pada suhu
200oC selama 30 menit.Proses pembuatan cookies bayam dapat dilihat pada
diagram alir pada Gambar 1.

Bayam segar Gula halus dan margarin


PKMI-1-03-3

Pencucian
Pengadukan (mixer)

Blansir (100oC, 2 menit)

Pengirisan
Kuning telur

Penggilingan dengan blender


Tepung terigu

Bubur bayam

Pengadukan

Pencetakan Adonan

Pemanggangan (200oC, 30 menit) Cookies

Gambar 1. Skema proses pembuatan cookies dengan penambahan bayam

Penelitian Utama
Penelitian utama yang dilakukan meliputi pembuatan cookies bayam, uji
organoleptik, dan analisis sifat kimia.
Penilaian organoleptik dilakukan dengan menggunakan formulir hedonik
scale dengan skor kesukaan (1) sangat tidak suka, (2) tidak suka, (3) agak tidak
suka, (4) agak suka, (5) suka dan (6) sangat suka. Analisa lengkap hasil uji
organoleptik menggunakan uji lanjut Duncan pada =5%. Panelis yang dipilih
adalah wanita dewasa sebanyak 25 orang.
Sifat kimia yang dianalisis, yaitu kadar air, kadar abu (Apriyantono et al.,
1989), kadar protein metode Mikro Kjeldahl, kadar lemak metode Ekstraksi
Soxhlet (AOAC, 1984), kadar karbohidrat by different, jumlah kalori by
calculation (DSN, 1992) dan kadar Fe dengan alat AAS (Atomic Absorption
Spectrophotometer).
Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah
rancangan acak lengkap satu faktor dengan enam taraf dengan dua kali ulangan.
Uji organoleptik dilakukan terhadap enam sampel penambahan bayam oleh 25
panelis.

HASIL DAN PEMBAHASAN


PKMI-1-03-4

Karakteristik Organoleptik Cookies


Hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa perlakuan penambahan enam
tingkat konsentrasi bayam pada produk cookies memberikan hasil yang berbeda
nyata (p < 0.05) terhadap tingkat kesukaan konsumen pada atribut sensori warna,
aroma, kerenyahan dan rasa. Skor uji organoleptik produk cookies dapat dilihat
pada Gambar 2.

6
Skor Penilaian Panelis

0
Warna Aroma Kerenyahan Rasa
Atribut Sensori
0% 5% 10% 15% 20% 25%

Gambar 2. Skor uji organoleptik produk cookies

Warna
Warna merupakan atribut sensori pertama yang dapat langsung diamati
panelis. Oleh karena itu warna merupakan faktor sensori yang memegang peranan
penting dan mempengaruhi sifat sensori yang lain (Sufianti, 2002). Produk
cookies semakin berwarna hijau gelap dengan semakin tingginya konsentrasi
bayam yang ditambahkan. Hal ini disebabkan bayam hasil blender yang
ditambahkan ke dalam adonan berwarna hijau pekat. Skor tingkat kesukaan warna
cookies berkisar antara 2.6 5.2 atau agak tidak suka sampai suka. Nilai skor
rata-rata cookies dengan penambahan bayam 10% adalah 4.2 (agak suka). Ini
artinya warna cookies bayam 10% paling diterima panelis.

Aroma
Peranan aroma dalam makanan sangat penting karena aroma turut
menentukan daya terima konsumen terhadap makanan (Lasmini, 2002). Skor
kesukaan rata-rata aroma cookies berkisar antara 3.3 5.1 atau antara agak tidak
suka sampai suka. Nilai skor rata-rata cookies dengan penambahan bayam 5%
adalah 4.2 (agak suka) yang menujukkan sampai konsentrasi penambahan ini
produk cookies masih dapat diterima. Nilai skor aroma rata-rata cookies dengan
penambahan bayam 10% adalah 3.7 (agak tidak suka) yang menunjukkan bahwa
pada konsentrasi bayam 10%, aroma produk cookies mulai kurang disukai. Bayam
yang digiling dengan blender mengeluarkan aroma yang khas. Karena proporsi
bahan lain yang digunakan untuk membuat adonan sama, aroma khas bayam ini
memberikan pengaruh terhadap aroma akhir produk.
PKMI-1-03-5

Kerenyahan
Skor tingkat kesukaan rata-rata kerenyahan cookies berkisar antara 2.95.2
atau agak suka sampai suka. Nilai kesukaan terhadap cookies dengan penambahan
bayam 5% adalah 4.7 (agak suka). Sedangkan Nilai skor rata-rata cookies dengan
penambahan bayam 10% adalah 3.5 (agak tidak suka) yang menujukkan pada
konsentrasi penambahan ini, kerenyahan produk cookies mulai kurang disukai.
Penambahan bayam yang semakin besar menyebabkan penurunan tingkat
kerenyahan cookies. Hal ini disebabkan oleh bertambahnya kadar air yang berasal
dari bayam sehingga dengan waktu pemanggangan yang sama, air belum
menguap dengan sempurna.

Rasa
Nilai skor kesukaan rata-rata terhadap rasa cookies berkisar antara 3.0 -
5.2. Nilai kesukaan tertinggi adalah terhadap kontrol, diikuti oleh cookies dengan
penambahan bayam 5% dan 10%. Penambahan bayam yang semakin tinggi
menyebabkan penurunan tingkat kesukaan. Hal ini disebabkan oleh rasa yang
khas dari bayam.

Karakteristik Kimia dan Gizi Cookies


Sifat kimia dan gizi yang dianalisis meliputi kadar air, kadar abu
(Apriyantono et al, 1989), kadar protein metode Mikro Kjeldahl, kadar lemak
metode Ekstraksi Soxhlet, kadar karbohidrat by different, jumlah kalori by
calculation dan kadar Fe dengan alat AAS (Atomic Absorption
Spectrophotometer). Karakteristik kimia dan gizi cookies dapat dilihat pada
Gambar 3, Gambar 4, dan Gambar 5.

70
0% 5% 10% 15% 20% 25%
60

50
Kadar (%)

40

30

20

10

0
Kadar air Kadar abu Kadar protein Kadar lemak Kadar
karbohidrat
Sifat Kim ia

Gambar 3. Hasil analisis sifat kimia cookies

Kadar Air
PKMI-1-03-6

Kadar air produk cookies yang dihasilkan berkisar antara 2.129.18%.


Berdasarkan standar mutu SNI No. 01-2973-1992 (DSN, 1992) kadar air cookies
adalah 5%, sehingga hanya cookies dengan konsentrasi bayam 5 dan 10% yang
memenuhi syarat mutu SNI. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa
penambahan bayam berpengaruh nyata terhadap kadar air cookies (p < 0.05).
Secara umum kadar air meningkat dengan semakin meningkatnyan konsentrasi
bayam. Hal ini disebabkan karena kadar air bayam yang cukup tinggi yaitu sekitar
87% pada bayam segar (Direktorat Gizi Depkes RI, 1979). Dengan demikian
produk cookies bayam ini akan tahan lama disimpan.

Kadar Abu
Abu adalah komponen yang tidak menguap pada pembakaran senyawa
organik. Kadar abu pada produk cookies yang dihasilkan berkisar antara 1.19
1.60%. Berdasarkan standar SNI No. 01-2973-1992 (DSN, 1992), kadar abu
cookies maksimum adalah 1.5%, sehingga cookies dengan penambahan bayam 5,
10, dan 15% telah memenuhi standar mutu SNI. Hasil uji statistik kadar abu
menunjukkan bahwa penambahan bayam berpengaruh nyata terhadap kadar abu
cookies (p < 0.05). Secara umum kadar abu meningkat dengan semakin
meningkatnya penambahan bayam. Hal ini disebabkan banyaknya kandungan
mineral dalam bayam sehingga kadar abunya meningkat.

Kadar Protein
Protein merupakan unsur gizi yang penting, sehingga hampir dalam semua
produk jumlahnya selalu disyaratkan. Kadar protein cookies dalam SNI No. 01-
2973-1992 (DSN, 1992) minimal 9%, sementara kadar protein rata-rata produk
hasil adalah 5.786.25%. Hal ini menunjukkan bahwa semua cookies yang
ditambah bayam belum memenuhi syarat mutu SNI. Hasil uji statistik
menunjukkan tidak ada pengaruh nyata (p > 0.05) penambahan jumlah terhadap
kadar protein cookies. Secara umum kadar protein semakin menurun dengan
semakin bertambahnya bayam, hal ini disebabkan oleh kadar protein bayam yang
lebih rendah dibandingkan kadar protein adonan. Oleh karena itu, diperlukan
adanya penambahan bahan yang mempunyai kadar protein yang cukup tinggi,
misalnya tepung kedelai.

Kadar Lemak
Lemak dalam cookies berfungsi sebagai pemberi citarasa dan pelembut
tekstur. Lemak yang digunakan adalah lemak dari margarin. Kadar lemak rata-
rata produk berkisar antara 23.0627.51%. Dengan demikian seluruh cookies
memenuhi standar mutu SNI No. 01-2973-1992 (DSN, 1992) yang ditetapkan
minimum 9%. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa penambahan cookies
berpengaruh nyata terhadap kadar lemak cookies. Kadar lemak semakin menurun
dengan semakin banyaknya bayam yang ditambahkan. Hal ini disebabkan oleh
rendahnya kadar lemak dalam bayam. Namun kekurangan tersebut sudah dapat
ditutupi oleh lemak dari bahan yang lainnya.

Kadar Karbohidrat
PKMI-1-03-7

Kadar karbohidrat rata-rata cookies berkisar antara 54.4063.25%, dengan


demikian cookies dengan penambahan bayam belum memenuhi standar SNI yang
ditetapkan sebesar 70%. Hal ini disebabkan terjadi hidrolisis polisakarida menjadi
monosakarida akibat suhu pemanggangan yang tingga (di atas titik lebur gula).
Hasil uji statistik menunjukkan bahwa penambahan bayam berpengaruh nyata
terhadap kadar karbohidrat (p< 0.05). Secara umum penambahan bayam
menyebabkan penurunan kadar karbohidrat karena kadar karbohidrat bayam yang
rendah, yaitu 6.5% (Direktorat Gizi Depkes RI, 1979).

Kadar Fe
Hasil analisis kadar Fe menunjukkan kadar Fe rata-rata berkisar antara
4.65-10.99 mg Fe/100 gram cookies. Kadar Fe semakin meningkat dengan
semakin besarnya konsentrasi bayam yang ditambahkan. Hal ini dapat dilihat pada
Gambar 4. Hasil uji statistik menunjukkan penambahan bayam berpengaruh nyata
terhadap peningkatan kadar Fe cookies (p < 0.05).

12

10
Kadar Fe (mg/100g)

0
0 5 10 15 20 25
% Penam bahan Bayam

Gambar 4. Hasil analisis kadar Fe cookies

Kalori
Kalori rata-rata produk cookies yang dihasilkan berkisar antara 448.16
524.33 Kkal dalam 100 gram cookies. Syarat mutu cookies yang ditetapkan SNI
adalah sebebsar 400 Kkal/100 gram, sehingga produk cookies memenuhi syarat
mutu kalori SNI. Hasil uji statistik menunjukkan penambahan bayam berpengaruh
nyata terhadap kalori (p < 0.05). Bila dilihat dari Gambar 5, kalori cookies
menurun dengan penambahan konsentrasi bayam. Hal ini dikarenakan kalori
bayam yang rendah hanya sekitar 36 kkal/100 gram (Direktorat Gizi Depkes RI,
1979).
Meskipun cookies dengan penambahan bayam 5% lebih diterima secara
organoleptik, namun dari segi kadar Fe masih lebih baik cookies dengan
penambahan bayam 10% meskipun secara organoleptik lebih rendah tetapi masih
bisa diterima. Pemilihan ini didasarkan pada tujuan awal penelitian, yaitu
memperoleh produk dengan kandungan Fe yang cukup tinggi dan dapat diterima
konsumen.
PKMI-1-03-8

600

500

Kalori (Kkal)
400

300

200

100

0
0 5 10 15 20 25
% Penam bahan Bayam

Gambar 5. Hasil analisis kalori cookies

Cookies dengan penambahan bayam 10% mengandung Fe sebesar 7.49


mg/100 gram, berarti terdapat 0.0749 mg tiap gram cookies. Wanita menstruasi
membutuhkan 1.2 2.0 mg per hari untuk mengganti Fe yang hilang. Dengan
asumsi hanya 20% dari total Fe cookies yang dapat diserap tubuh, maka cookies
yang dikonsumsi harus mengandung minimal 10 mg Fe. Angka 10 ini merupakan
angka yang aman karena dianggap wanita menstruasi juga masih mengkonsumsi
sumber Fe yang lain untuk menutupi kehilangan Fe, sehingga jika dihitung
dengan bobot tiap cookies yang diproduksi sebesar 15 gram maka tiap cookies
mengandung 0.0749 mg/g x 15 g = 1.1235 mg Fe. Dengan demikian untuk
menutupi keghilangan Fe dengan mengkonsumsi 10 mg Fe dari cookies
dianjurkan untuk mengkonsumsi cookies sebanyak 10 mg / 1.1235 mg yaitu 9
keping cookies per hari.

KESIMPULAN
Hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa penambahan bayam
memberikan pengaruh nyata terhadap tingkat kesukaan konsumen pada atribut
warna, aroma, kerenyahan maupun rasa cookies (p < 0.05). Secara umum, atribut
sensori pada penambahan bayam hingga 10% masih dapat diterima oleh
konsumen. Berdasarkan hasil uji kandungan Fe dan uji organoleptik cookies yang
dipilih adalah cookies dengan penambahan bayam 10%.
Hasil analisis statistik kandungan gizi menunjukkan bahwa penambahan
bayam berpengaruh nyata terhadap kadar air, abu, lemak, karbohidrat, kalori dan
Fe (p < 0.05), namun tidak berpengaruh nyata terhadap kadar protein (p > 0.05).
Penambahan bayam menyebabkan terjadinya peningkatan kadar Fe, kadar air
serta kadar abu, sedangkan kadar protein, kadar lemak, kadar karbohidrat dan
kalori cenderung menurun dengan semakin naiknya jumlah bayam yang
ditambahkan.
Cookies terbaik berdasarkan penelitian ini adalah cookies dengan
konsentrasi bayam 10% dengan kadar air 5.02%, kadar abu 1.29%, kadar protein
6.25%, kadar lemak 26.75%, karbohidrat 61.70%, kalori 512.53 kkal/100 gram
serta kadar Fe sebesar 7.74 mg/100 gram. Secara umum kandungan gizi cookies
tersebut telah memenuhi persyaratan mutu yang ditetapkan SNI. Dengan demikian
PKMI-1-03-9

untuk memenuhi kebutuhan Fe wanita menstruasi, jumlah cookies dengan


konsentrasi 10% yang harus dikonsumsi minimal 9 keping per hari.
Kandungan protein dan karbohidrat cookies yang belum memenuhi standar
SNI dapat diatasi dengan menambahkan bahan yang dapat meningkatkan kadar
zat tersebut. Berdasarkan penelitian Fortifikasi Fe Organik dari Bayam
(Amaranthus tricolor L) dalam Pembuatan Cookies untuk Wanita Menstruasi,
disarankan adanya penelitian lanjutan guna mengkaji aplikasinya dalam skala
industri sehingga dapat cookies bayam dapat diolah sebagai pangan fungsional
yang bermanfaat bagi kesehatan dan berdaya jual.

DAFTAR PUSTAKA
AOAC. 1984. Official Methods of Analysis of Association of Afficial Chemistry
Analytical Chemist. Virginia, USA.
Apriyantono, A., Fardiaz,D., Puspitasari, N.L, Sedanawati, dan Budiyanto, S.
1989. Petunjuk Laboratorium Analisis Pangan. Institut Pertanian Bogor
Press. Bogor.
Direktorat Gizi Depkes RI. 1982. Daftar Komposisi Bahan Makanan. Bharata
Karya Aksara. Jakarta.
Guthrie, H.A. 1975. Introductory Nutrition. The CV. Mosby Company. Saint
Louis.
Hadisoeganda, A.W. 1996. Bayam: Sayuran Penyangga Petani di Indonesia. Balai
Penelitian Tanaman Sayuran. Bandung.
Lasmini, A.Y. 2002. Pemanfaatan Tepung Iles-iles Kuning (Amorphallus
oncophyllus) sebagai Sumber Serat pada Pembuatan Cookies Berserat
Tinggi. Skripsi. Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. Fateta, IPB. Bogor.
DSN. 1992. Standar Mutu Cookies.Dewan Standardisasi Nasional. Jakarta.
Sufianti, F. 2002. Pengaruh Penambahan Tepung Bayam (Manihot esculenta, c)
dan Terong Panjang (Solanum melongena, I) serta Margarin Kaya Asam
Lemak Tidak Jenuh terhadap Mutu Cookies. Skripsi. Jurusan Teknologi
Pangan dan Gizi, Fateta IPB. Bogor.
PKMI-1-04-1

KLONING FRAGMEN DNA GENOM YANG TERLIBAT DALAM


TOLERANSI ASAM-ALUMINIUM PADA
BRADYRHIZOBIUM JAPONICUM

Rika Indri Astuti, Dewi Monasari, Sarah Asih Faulina


Departemen Biologi, Fakultas MIPA, Institut Pertanian Bogor.
Jl. Raya Pajajaran Bogor 16144

ABSTRAK
Mutan sensitif asam-aluminium dari bakteri Bradyrhizobium japonicum galur 38
(AAS38) berhasil dikonstruksi melalui mutagenesis transposon untuk
mengidentifikasi gen yang terlibat dalam sifat toleransi asam-aluminium pada
bakteri bintil akar kedelai, B. japonicum. Transposon ditransfer ke dalam sel B.
japonicum toleran asam-Al melalui proses konjugasi antara sel Escherichia coli
S17-1 ( pir) yang membawa pUTmini-Tn5Km1 dengan B. japonicum toleran
asam-Al pada tiga waktu inkubasi mating yang berbeda. Frekuensi
transkonjugasi tertinggi sebesar 6.5 x 10-7 cell tiap resipiennya setelah inkubasi
mating selama 18 jam. AAS38 tidak mampu tumbuh pada media Ayanaba (pH
4.5) yang ditambahkan 50 M aluminium. Fragmen DNA sebesar 0.8 kb berhasil
diisolasi dengan teknik inverse polymerase chain reaction (Inverse PCR) dari
genom AAS38. Fragmen tersebut berhasil diklon ke dalam pGEM-T Easy (~3 kb)
untuk mendapatkan plasmid rekombinan yang didesain sebagai pGEMT-38 (~3.8
kb).

Kata kunci: Bradyrhizobium japonicum, Toleran asam-aluminium, Transposon


Mutagenesis, Kloning

PENDAHULUAN
Efektivitas sistem simbiosis antara bakteri bintil akar (BBA) dengan
tanaman legum sangat dipengaruhi oleh kondisi tanah. Keyser & Munns (1979)
menyatakan bahwa aluminium dengan konsentrasi tinggi (50 M) merupakan
salah satu faktor cekaman yang dapat menghambat pertumbuhan dan
memperpanjang fase lag BBA. Richardson et al. (1988) juga menyatakan bahwa
konsentrasi Al sebesar 7.5 M pada pH 4.8 dapat menghambat ekspresi gen nod
yang berperan untuk nodulasi. Lebih jauh Johnson & Wood (1990) menyatakan
bahwa kation Al3+ dapat mengikat PO43- pada DNA sehingga menghambat proses
replikasi maupun transkripsi DNA. Oleh karena itu, galur BBA yang toleran
terhadap asam dan Al tinggi penting digunakan sebagai inokulan tanaman legum
sehingga dapat meningkatkan produksi kedelai secara keseluruhan. Dalam
simbiosisnya dengan tanaman legum, BBA berperan untuk memfiksasi nitrogen
dan mengubahnya menjadi amonia yang dapat digunakan oleh tanaman.
Beberapa galur BBA kedelai tumbuh lambat, Bradyrhizobium japonicum,
yang efektif dalam menambat nitrogen dapat memenuhi lebih kurang 74%
pasokan nitrogen yang dibutuhkan tanaman kedelai tanaman kedelai (Yutono
1985). Beberapa di antaranya diketahui mampu tumbuh pada media Keyser dan
Munns (pH 4.5) dan toleran terhadap konsentrasi Al yang cukup tinggi (50M).
Oleh karena itu, telaah mengenai gen yang bertanggung jawab terhadap sifat
toleransi asam-Al tersebut penting diketahui untuk menelaah lebih lanjut respons
PKMI-1-04-2

fisiologi dan karakter molekuler yang berperan dalam sifat toleransi asam-Al pada
B. japonicum.
Mutagenesis transposon merupakan teknik yang banyak digunakan untuk
analisis genetika molekuler pada berbagai macam bakteri (Voelker & Dybvig
1998). Transposon merupakan elemen DNA yang dapat berpindah dan menyisip
dari satu tempat ke tempat lainnya dalam suatu genom (Snyder & Champness
2003). Transposon yang sering digunakan untuk mutagenesis pada bakteri gram
negatif adalah Tn5 (Bruijn & Lupski 1984).
Transposon yang digunakan dalam penelitian ini ialah mini-Tn5Km1 yang
membawa gen penanda resistensi terhadap kanamisin. Transposon ini merupakan
salah satu turunan dari Tn5 (de Lorenzo et al. 1990) yang dapat menyisip secara
acak pada genom bakteri dan penyisipannya bersifat stabil (Herero et al. 1990).
Penyisipan mini-Tn5Km1 ke dalam genom akan menjadikan bakteri tersebut
memiliki sifat resisten terhadap kanamisin. Dalam penelitian ini, mutagenesis
transposon Mini-Tn5Km1 dan inverse PCR dilakukan untuk mengidentifikasi gen
atau fragmen DNA genom yang terlibat dalam toleransi asam-Al pada B.
japonicum.
Penelitian ini bertujuan mengklon fragmen DNA genom yang terlibat dalam
sistem toleransi asam-aluminium pada B. japonicum melalui mutagenesis
transposon.

BAHAN DAN METODE


Galur Bakteri, Plasmid, dan Kondisi Pertumbuhan.
Galur B. japonicum 38 (Endarini et al. 1995) secara rutin ditumbuhkan pada
media yeast mannitol agar-agar dengan komposisi manitol 10 g/L, K2HPO4 0.5
g/L, MgSO4.7H2O 0.2 g/L, NaCl 0.2 g/L, ekstrak khamir 5 g/L, Congo Red (CR)
0.0025%) ditambah rifampisin (Rif) 100 g/ml dan diinkubasi pada suhu ruang.
Galur Escherichia coli DH5 ditumbuhkan pada media Luria broth (LB) (tripton
10 g/L, NaCl 10 g/L, ekstrak khamir 5 g/L) pada suhu 37 oC dan E. coli S17-1
( pir) yang membawa plasmid pUTmini-Tn5Km1 ditumbuhkan pada media
Luria broth yang ditambah kanamisin (Km) 50 g/ml dan ampisilin 50 g/ml
(Herrerro et al. 1990). Plasmid pGEM-T Easy (~3 kb) (Promega) digunakan
sebagai vektor dalam kegiatan kloning hasil inverse PCR (TA Cloning).

Mutagenesis transposon.
Mutagenesis dilakukan dengan konjugasi menggunakan membran filter
(Wahyudi et al. 1998) yang dimodifikasi. Konjugasi antara B. japonicum 38
sebagai resipien dan E. coli S 17-1 ( pir) pembawa plasmid pUT-MiniTn5Km1
yang membawa tansposon Mini-Tn5Km1 sebagai donor, dilakukan dengan
perbandingan 1:1 (jumlah sel sekitar 108). Perkawinan antara kedua galur tersebut
dilakukan dengan lama waktu yang berbeda-beda, selama 12, 18 dan 24 jam, di
atas membran filter (0.45 m) pada media Luria agar-agar modifikasi dengan
kandungan NaCl 10 % dari komposisi NaCl pada media LA biasa. Inkubasi
dilakukan pada suhu ruang (Wahyudi et al. 1998). Hasil konjugasi disebar pada
media YMA yang ditambah rifampisin (50 g/ml) dan kanamisin (50 g/ml) dan
diinkubasi pada suhu ruang selama 5-7 hari.
Seleksi Mutan
PKMI-1-04-3

Mutan yang tumbuh pada masing-masing cawan YMA + CR 0.0025% + Rif


50 g/ml + Km 50 g/ml dibuat replikanya pada media yang sama. Setiap koloni
pada cawan ditumbuhkan pada media Ayanaba (pH 4.5) yang ditambahkan 50 M
Al (Ayanaba et al. 1983) dan diinkubasi pada suhu ruang selama 10 hari. Koloni
yang tidak menampakkan adanya pertumbuhan diduga merupakan koloni B.
japonicum 38 yang sensitif terhadap asam-Al.

Isolasi DNA Genom Mutan B. japonicum Sensitif Asam-Al


Sel mutan B. japonicum 38 sensitif asam-Al ditumbuhkan dalam 25 ml
media cair YMB + Rif (50 g/ml) + Km (50 g/m) dan diinkubasi pada inkubator
bergoyang dengan kecepatan 140 rpm selama 4-5 hari pada suhu ruang. Isolasi
DNA genom dilakukan mengikuti metode standar seperti yang diterangkan oleh
Sambrook & Russel (2001).

Amplifikasi Fragmen DNA Genom Pengapit Transposon dengan Inverse


PCR
Strategi untuk melakukan inverse PCR mengikuti metode seperti yang
diterangkan Wahyudi et al. (2001). DNA genom mutan sensitif asam-Al dipotong
dengan EcoRV (enzim ini diketahui tidak memotong transposon mini-Tn5Km1),
selanjutnya diekstraksi dengan menggunakan metode ekstraksi fenol/khloroform
(Sambrook & Russell 2001). DNA yang telah dipotong kemudian diligasikan
kembali (sirkularisasi) menggunakan enzim DNA ligase T4 untuk membentuk
lingkaran monomerik. Untuk mengamplifikasi DNA genom yang mengapit
transposon mini-Tn5Km1, DNA yang telah disirkularisasi tersebut diamplifikasi
dengan menggunakan mesin PCR 2400 (Perkin Elmer, USA) pada reaksi
campuran yang mengandung 8 L dNTP, 25 L GC buffer II, 0.5 L LA Taq
Polymerase, 1 L primer Km (I) dan Km (0) dengan konsentrasi masing-masing
10 pmol, kemudian ditambahkan DNA (hasil ligasi) sebanyak 5 L. Campuran
ditera dengan ddH2O hingga volume akhir 50 L. Sekuens primer Km (I) yang
digunakan adalah :5-ACACTGATGAATGTTCCGTTG-3 dan primer Km (O)
adalah :5-ACCTGCAGGCATG- CAAGCTTC-3 (Wahyudi et al. 2001). Proses
denaturasi DNA cetakan dilakukan pada suhu 95oC selama 2 menit, annealing
pada 58oC selama 1 menit dan elongasi pada suhu 72oC selama 1 menit dan 10
menit untuk siklus terakhir. DNA diamplifikasi sebanyak 30 siklus. Fragmen
DNA produk PCR kemudian dipisahkan dengan elektroforesis gel agarosa 1%.

Kloning Fragmen DNA Genom Pengapit Transposon


Fragmen DNA genom pengapit transposon hasil inverse PCR dipurifikasi
menggunakan Gene clean II kit (Bio 101) dan diligasikan ke dalam plasmid
pGEMT Easy (~3 kb; Promega) membentuk plasmid rekombinan pGEMT-38.
Plasmid rekombinan ini kemudian ditransformasi ke dalam sel E.coli DH5
dengan metode heat shock (Sambrook & Russell 2001). Transforman diseleksi
menggunakan media LA yang ditambah ampisilin 50 g/ml dan X-Gal 40 g/ml.
Koloni putih yang tumbuh pada media tersebut selanjutnya dikultur dan diisolasi
plasmid rekombinannya, dipotong dengan EcoRI, dan dipisahkan dengan
elektroforesis gel agarosa 1%.
PKMI-1-04-4

HASIL
Mutagenesis transposon dan Seleksi Mutan
Transkonjugan atau sel mutan merupakan sel B. japonicum yang genomnya
tersisipi transposon mini-Tn5Km1 sehingga memiliki sifat resistensi kanamisin.
Sifat resisten ini dibawa oleh transposon mini-Tn5Km1. Frekuensi transkonjugasi
yang didapatkan dari konjugasi B. japonicum 38 dengan E. coli S17-1 ( pir)
tertera pada Tabel 1. Waktu inkubasi mating 18 dan 24 jam tidak terlalu berbeda
yakni berada pada kisaran 10-7 sel/resipien.
Dari proses seleksi mutan didapatkan satu mutan sensitif asam-Al dari B.
japonicum 38 yakni AAS38. AAS38 kemudian digunakan untuk analisis genetika
sifat toleransi asam-Al pada B. japonicum

Tabel 1. Frekuensi transkonjugasi transposon mini-Tn5Km1 dari E. coli S17-1 (


pir) ke B. japonicum 38 pada berbagai waktu inkubasi mating
Lama mating (jam) Frekuensi transkonjugasi
12 6.7 x 10-8
18 6.5 x 10-7
24 1.3 x 10-7

Amplifikasi DNA Genom Pengapit Transposon dengan Inverse PCR


Hasil inverse PCR fragmen DNA genom pengapit transposon dari genom
mutan AAS38 menunjukkan ukuran fragmen DNA hasil amplifikasi berukuran
sekitar 0.8 kilo pasang basa (kpb), seperti terlihat pada Gambar 1A.

Kloning Fragmen DNA Genom Pengapit Transposon


Fragmen DNA genom pengapit transposon telah berhasil diligasi kedalam
vektor plasmid pGEM-T Easy membentuk plasmid rekombinan pGEMT-38 dan
ditransformasi ke dalam sel E. coli DH5. Koloni putih hasil transformasi setelah
diekstrak plasmid rekombinannya, dipotong dengan EcoRI, dan dipisahkan
dengan elektroforesis gel agarosa 1%, hasilnya tertera pada Gambar 1B.
kb 1 2
A B
12 1 2 3 ~ 3kb
kb
(pGEMT-Easy)
12

3
2
3 ~ 0.8 kb
1.65
(DNA pengapit
2
1 transposon)
~ 0.8 kb 1.65
0.85
1
0.85

Gambar 1. A) Hasil elektroforesis gel agarosa 1% dari DNA genom pengapit


transposon yang diamplifikasi dengan inverse PCR dari genom mutan AAS38.
PKMI-1-04-5

Sumur 1: marker DNA (1 kb ladder plus), sumur 2: DNA hasil inverse PCR. B)
Hasil elektroforesis plasmid pGEMT-38 yang dipotong dengan enzim EcoRI.
Sumur 2 dan 3 terdapat dua pita yang berukuran ~3 kb (pGEMT-Easy) dan ~0.8
kb (DNA genom pengapit transposon) hasil pemotongan EcoRI.

Hasil pemotongan dengan enzim EcoRI didapatkan dua pita yang


menunjukkan adanya plasmid vektor pGEM-T (~3 kb) dan DNA sisipan yaitu
fragmen DNA genom pengapit transposon yang terlibat dalam toleransi asam-Al
(0.8 kb). Peta plasmid rekombinan pGEMT-38 (~3.8 kb) dapat dilihat pada
Gambar 2.

Gambar 8. Peta Plasmid rekombinan pGEMT-38 (~3.8 kb) hasil ligasi fragmen
DNA genom yang terlibat dalam toleransi asam-Al (~0.8 kb) dengan pGEMT-
Easy (~3kb).

PEMBAHASAN
Koloni B. japonicum 38 berbentuk bulat, berwarna putih, elevasi cembung,
dengan diameter koloni melebihi 1 mm setelah inkubasi 10 hari pada suhu ruang.
Selain itu, B. japonicum 38 ini memiliki konsistensi lengket dan berlendir. Tipe
koloni BJ 38 umumnya disebut dengan tipe large watery (Endarini et al. 1995).
Menurut Keyser & Munns (1979) galur-galur B. japonicum yang menghasilkan
lendir banyak atau memiliki tipe koloni large watery lebih memiliki sifat toleran
terhadap kondisi asam dibandingkan tipe koloni yang sedikit menghasilkan lendir
atau yang biasa disebut dengan tipe koloni small dry (kering). B. japonicum telah
diketahui memiliki sifat resistensi terhadap antibiotik rifampisin (100 g/ml),
tetrasiklin (100 g/ml) dan ampisilin (100 g/ml). Namun demikian, B. japonicum
tersebut tidak mampu tumbuh pada media yang mengandung antibiotik kanamisin
(50 g/ml) (Wahyudi 1998). Sifat sensitivitas terhadap kanamisin ini merupakan
salah satu alasan penggunaan transposon mini-Tn5Km1, sehingga kanamisin
dapat digunakan sebagai penanda seleksi transkonjugan.
Frekuensi konjugasi B. japonicum 38 berkisar 10-8 hingga 10-7 sel per
resipien. Waktu inkubasi mating 18 jam memberikan frekuensi konjugasi yang
PKMI-1-04-6

lebih besar dibandingkan mating selama 12 jam dan 24 jam. Namun demikian,
frekuensi konjugasi pada waktu inkubasi 18 dan 24 jam tidak berbeda jauh yakni
pada kisaran 10-7 sel per resipien. Dalam hal ini waktu inkubasi 18 jam
merupakan waktu mating yang dianggap cukup untuk mendapatkan koloni mutan
dari B. japonicum 38 jika dibandingkan penggunaan waktu mating 24 jam.
Wahyudi et al. (1998) yang juga telah melakukan konjugasi pada B. japonicum
BJ 11 mendapatkan frekuensi konjugasi sebesar 3.6 x 10-9 sel per resipien.
Frekuensi konjugasi ini didapatkan dengan melakukan proses konjugasi
menggunakan perbandingan konsentrasi sel E. coli S 17-1 ( pir) dengan B.
japonicum sebesar 1:10. Pada penelitian ini digunakan perbandingan E. coli S 17-
1 ( pir) dengan B. japonicum sebesar 1:1, dan memperlihatkan frekuensi
konjugasi yang lebih besar. Hal ini memperlihatkan bahwa perbandingan donor
dan resipien nampaknya mempengaruhi hasil konjugasi. Perbedaan frekuensi
transkonjugasi berdasarkan waktu inkubasi mating, juga dapat disebabkan
keberhasilan transposisi yang dipengaruhi oleh DNA polimerase I, faktor
terminasi transkripsi (Rho) dan protein serupa histon (Berg 1989). Menurut
Braam et al. (1999) frekuensi transposisi juga ditentukan oleh aktivitas gen tnp
yang menyandikan enzim transposase (53 kDa; 476 aa) yang berperan dalam
proses eksisi transposon dari plasmid pembawanya. Waktu inkubasi mating yang
lebih lama dan tepat dapat menghasilkan frekuensi konjugasi yang besar karena
dapat mempengaruhi keberhasilan transfer pUT miniTn5 Km1 ke dalam sel B.
japonicum.
Telaah molekuler genom mutan AAS38 memperlihatkan hasil inverse PCR
sebesar 0.8 kb yang merupakan fragmen DNA genom yang terlibat dalam
toleransi asam-Al kemungkinan besar belum mengindikasikan sekuen gen
lengkap yang berperan dalam sifat toleransi asam-Al. Hal ini karena tidak
menutup kemungkinan adanya sistem operon yang berperan dalam sifat toleransi
ini. Namun demikian, hasil inverse PCR ini merupakan bukti kuat adanya
keterlibatan fragmen DNA genom/gen dalam toleransi asam-Al pada B.
japonicum 38, karena dengan adanya penyisipan mini-Tn5Km1 pada fragmen
genom tersebut menyebabkan terganggunya sistem fisiologis yang berperan dalam
sifat toleransi terhadap asam-Al.
Studi genetik pada sel rhizobia toleran asam memperkirakan sedikitnya
dua lokus dari megaplasmid atau kromosom dalam hal ini gen pengatur pH yang
diperlukan dalam pertumbuhan rhizobia toleran pada pH rendah (Chen et al.
1991; 1993). Pada R. loti, sifat toleran pH rendah berhubungan dengan komposisi
dan struktur membran. Pada galur R. loti yang toleran asam terdapat satu protein
membran dengan ukuran 49.5 kDa dan tiga protein terlarut dengan ukuran
66.0, 85.0, dan 44.0 kDa. Protein-protein tersebut yang merupakan hasil ekspresi
gen yang meningkat ketika sel ditumbuhkan pada pH 4.0. Sifat toleransi R. loti
pada kondisi asam diperkirakan melibatkan mekanisme yang bersifat konstitutif
seperti permeabilitas membran luar dengan respon adaptif termasuk fase
pertumbuhan sel dan perubahan ekspresi protein (Correa & Borneix 1997). Flis et
al. (1992) juga menyatakan beberapa fungsi fisiologis untuk ketahanan rhizobia
terhadap asam-Al diantaranya ialah pengikatan ion Al3+ oleh eksopolisakarida
untuk meminimalkan toksisitas Al.
Pada sel B. japonicum yang tidak toleran asam-Al umumnya memiliki
kandungan posfat yang lebih rendah dibandingkan sel toleran. Posfat merupakan
PKMI-1-04-7

salah satu molekul anion yang dapat mengikat Al3+ sehingga mengurangi
toksisitas Al (Flis et al. 1992). Dari kondisi tersebut mungkin dapat dihipotesiskan
adanya mekanisme antiport H+/posfat sebagai salah satu mekanisme toleransi
asam-Al pada B. japonicum. Adanya penyisipan transposon pada gen yang
menyandikan protein permease yang berperan dalam sistem antiport tersebut
dapat menyebakan B. japonicum menjadi sensitif terhadap asam-Al.
Plasmid rekombinan hasil ligasi antara vektor pGEMT-Easy dengan DNA
sisipan merupakan alat penting untuk telaah molekuler lebih lanjut. Plasmid
rekombinan yang ditransformasi ke dalam sel E. coli DH5 ini dimaksudkan
untuk pembentukan klon, yaitu sel-sel individu yang mengandung molekul DNA
rekombinan yang dapat dipropagasi dan disimpan untuk memproduksi molekul
DNA rekombinan dalam jumlah besar sehingga dapat digunakan untuk
mempelajari karakter fisiologis tertentu ataupun untuk mengkonservasi molekul
DNA rekombinan dalam keadaan stabil (Dawson et al. 1996). Plasmid
rekombinan ini juga dapat digunakan untuk menganalisis sekuen DNA sisipan
(DNA yang terlibat dalam toleransi asam-Al), sehingga dapat ditemukan sekuen
homologinya dengan sekuen organisme lain pada database GeneBank. Selain itu
juga dapat digunakan untuk mengetahui protein yang disandikan oleh sekuen gen
tersebut dengan cara membandingkan dan mensejajarkan data urutan asam amino
DNA sisipan dengan data GeneBank.

KESIMPULAN
Fragmen DNA genom sebesar 0.8 kb yang terlibat dalam toleran asam-Al
pada B. japonicum 38 telah berhasil diisolasi dengan menggunakan teknik inverse
PCR, melalui mutagenesis transposon mini-Tn5Km1. Fragmen DNA tersebut
berhasil diklon ke dalam plasmid vector pGEMT-Easy (~3kb) menghasilkan
plasmid rekombinan pGEMT-38 yang berukuran ~ 3.8 kb.

DAFTAR PUSTAKA
Ayanaba A, Asanuma S, Munns DN. 1983. An Agar plaete method for rapid
screening of Rhizobium for tolerance to acid-aluminium stress. Soil Sci
Soc Am J 47: 256-258.
Berg DE. 1989. Transposon Tn5. Di dalam Berg DE, Howe MM (editor). Mobile
DNA. Washington: Washington Press. hlm 185-210.
Braam LAM, Goryshin IY, Reznikoff WS. 1999. A Mechanism for Tn5 Inhibition
carboxyl-terminal dimerization. J Biol Chem 274: 86-92.
Bruijn FJ, Lupski JR. 1984. The use of transposon Tn 5mutagenesis in the rapid
generation of correlated physical and geneticalmaps of DNA segments
cloned into multicopy plasmids. A review. Gene 27:131-149.
Chen H, Gartner E, Rolfe BG. 1991. Involvement of genes on a megaplasmid in
the acid-tolerant phenotype of Rhizobium leguminosarum biovar trifolii.
Appl Environ Microbiol 59:1058-1064 [Abstrak].
Chen H, Richardson AE, Rolfe BG. 1993. Studies on the physiological and
genetic basis of acid tolerance in Rhizobium leguminosarum biovar
trifolii. Appl Environ Microbiol 59:1798-1800 [Abstrak].
PKMI-1-04-8

Correa OS, Barneix AJ. 1997. Cellular mechanisms of pH tolerance in Rhizobium


loti. World J Microbiol Biotechnol 13:153-157.
Dawson MT, Powell R, Gannon F. 1996. Gene Technology. Graham JM,
Billington D, Gilmartin PM, editor. Oxford: BIOS Scientific Publ. Ltd.
hlm 91-95.
De Lorenzo V, Herrero M, Jakubzik U, Timmis KN. 1990. Mini -Tn5 Transposon
derivatives for insertion mutagenesis, promoter probing, and
chromosomal insertion of cloned DNA in gram negative eubacteria. J
Bacteriol 172: 6568-6572.
Endarini T. Wahyudi AT, Imas T. 1995. Seleksi galur-galur Bradyrhizobium
japonicum indigenus toleran medium asam-Al. Hayati 2: 15-18.
Flis SE, Glenn AR, Dilworth MJ. 1992. The interaction between aluminium and
root nodule bacteria. Soil Biol Biochem 25:403-417.
Herrero M, de Lorenzo V, Timmis KN.1990. Transposon vectors containing non-
antibiotic resistance selestion markers for cloning and stable
chromosomal insertion of foreign genes in gram negative bacteria. J
bacteriol 172:6557-6567.
Johnson AC,Wood M. 1990. DNA, a possible site of action of aluminum in
Rhizobium spp. Appl Environ Microbiol 56:3629-3633.
Keyser HH, Munns DN. 1979. Tolerance of Rhizobia to acidity, aluminum and
phospate. Soil Sci Soc Am J 43:519-523.
Richardson AE, Simpson RJ, Djordjevic MA, Rolfe BJ. 1988. Expression of
nodulation genes in Rhizobium leguminosarum bv. trifolii is affected by
low pH and by Ca2+ and Al ions. Appl Environ Microbiol 54:2541-
2548.
Sambrook W, Russel DW. 2001. Molecular Cloning: A Laboratory Manual. Vol
1. Ed ke-3. New York: Cold Spring Harbor Laboratory Press.
Snyder L, Champness W. 2003. Molecular Genetics of Bacteria. Washington
DC: ASM Press.
Voelker LL, Dybvig K. 1998. Transposon mutagenesis. Methods Mol Biol
104:235-238.
Wahyudi AT, Suwanto A, Tedja-Imas T, Tjahjoleksono A. 1998. Screening of
acid-aluminium tolerant Bradyrhizobium japonicum strains: analysis of
marker genes and competition in planta. Aspac J Mol Biol Biotechnol 6
: 13-20.
Wahyudi AT, Matsunaga T, Takeyama H. 2001. Isolation of Magnetospirillum
magneticum AMB-1 Mutants Defective in Bacterial Magnetic Particle
Synthesis by Transposon Mutagenesis. Appl Biochem Biotechnol 91-
93:147-154.
Yutono.1985. Inokulasi Rhizobium pada kedelai . Di dalam: Somaatmadja et al.
(editor). Kedelai. Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Bogor: Puslitbangtan
PKMI-1-05-1

METODE PELATIHAN PENGELOLAAN SAMPAH DOMESTIK BAGI


IBU RUMAH TANGGA DI PERMUKIMAN SUB-URBAN
(Studi Kasus : Desa Bojongkacor Kelurahan Cibeunying
Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung)

Tri Yunia M., Rakhmita Akhsayanty, R. Maya Sarah G.K., Dewi Lestariyani A.
Program Studi Teknik Lingkungan, Institut Teknologi Bandung

ABSTRAK
Meningkatnya volume sampah di Bandung telah menimbulkan masalah yang
kompleks dalam pengelolaannya. Untuk itu dibutuhkan strategi yang efektif untuk
mereduksi volume sampah sejak dari sumbernya, terutama sampah domestik, di
mana ibu rumah tangga berperan penting di dalamnya. Bagaimana ibu rumah
tangga mengelola sampah dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan dan
kesadarannya. Untuk itu dibutuhkan sebuah metode pelatihan yang mampu
mengakomodasi kebutuhan tersebut. Selama ini belum ada metode pelatihan yang
baku dan sesuai dengan potensi dan kebutuhan ibu rumah tangga. Penelitian ini
merekomendasikan sebuah metode pelatihan pengelolaan sampah bagi ibu rumah
tangga yang disesuaikan dengan modalitas belajar dan tingkat pengetahuannya.
Dalam mengidentifikasi faktor-faktor tersebut dilakukan survei dan pengambilan
sampel yang dilakukan dengan metode simple cluster random sampling pada
daerah sub-urban, sebagai studi kasus yaitu Desa Bojongkacor RW 22 Kelurahan
Cibeunying Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung. Metode pelatihan yang
dihasilkan dalam penelitian ini sesuai dengan modalitas belajar dominan ibu
rumah tangga, yaitu visual dan kinestetik. Materi pelatihan yang diberikan
ditekankan pada aspek-aspek yang mampu meningkatkan pemahaman
persampahan dan pengelolaannya serta aplikatif dilakukan dalam skala rumah
tangga. Selain itu, untuk mencapai kualitas output yang berkesinambungan,
diperhatikan pula prakondisi seperti penyelenggaraan lomba kebersihan.
Penetapan materi sederhana yang aplikatif serta metode yang mendukung
modalitas belajar visual dan kinestetik dalam metode pelatihan yang telah dibuat
diprediksi akan memberikan hasil yang lebih efektif.

Kata kunci : sampah domestik, ibu rumah tangga, modalitas belajar, tingkat
pengetahuan, metode pelatihan.

PENDAHULUAN
Sampah menjadi persoalan yang cukup pelik bagi Pemerintah Kota
Bandung terutama setelah tanggal 21 Februari 2005, jutaan kubik sampah setinggi
30 meter di TPA Leuwigajah Kecamatan Cimahi Selatan longsor hingga
menewaskan 143 jiwa. Adapun TPA yang kemudian dipergunakan pascatragedi
Leuwigajah seperti TPA Cicabe, Pasir Impun, dan Jelekong ternyata tidak memiliki
kapasitas sebesar TPA Leuwigajah. Dengan produksi sampah warga Kota Bandung
yang mencapai 7.500 meter kubik per hari ditambah masalah keterbatasan TPA,
sampah yang menggunung dan belum terangkut di TPS-TPS seputar kota Bandung
menjadi pemandangan yang tidak asing dan tidak sedap dipandang mata (Pikiran
Rakyat, 2006).
PKMI-1-05-2

Sebagian besar sampah dihasilkan dari aktivitas rumah tangga, dikenal


sebagai sampah domestik (Damanhuri, 2004). Peranan ibu rumah tangga dalam
keluarga cukup besar untuk mengatur dan mengurus segala kepentingan dan
keperluan keluarga. Hal ini salah satunya digambarkan oleh hasil penelitian yang
pernah dilakukan dimana peran seorang istri dalam pengambilan keputusan rumah
tangga yakni kebutuhan sehari-hari (75,7%) belanja sehari-hari (82,4%) mengganti
perabot rumah tangga (56,2%) (Wiludjeng, et al., 2005).
Akan tetapi, bagaimana seorang ibu rumah tangga mengelola sampah
rumah tangga akan sangat bergantung pada pengetahuannya tentang pengelolaan
persampahan yang baik dan kesadaran untuk melaksanakannya. Sebuah hasil
penelitian di Kota Surabaya memperlihatkan bahwa ibu-ibu rumah tangganya
memiliki manifestasi perilaku yang sangat rendah tentang pemisahan sampah
domestik, program 3R yang meliputi reduce atau mengurangi, reuse atau
menggunakan kembali, recycle atau mendaur ulang, dan pemusnahan sampah
domestik. Sedang manifestasi perilaku yang sangat tinggi ditunjukkan dalam hal
penyediaan tempat sampah domestik dan retribusi sampah (Irawati, 1999).
Untuk meningkatkan pengetahuan sekaligus menumbuhkan kesadaran para
ibu rumah tangga itulah dibutuhkan sebuah metode pelatihan yang memperhatikan
kondisi nyata ibu rumah tangga, terutama terkait dengan modalitas belajar dan
pengetahuan yang telah dimiliki. Hal ini menjadi penting untuk dilakukan karena
sampai saat ini pihak pemerintah terkait belum memiliki metode baku untuk
pelatihan dengan tujuan sejenis. Pelatihan yang selama ini diadakan bersifat
insidental dan hanya menggunakan metode ceramah dimana efektivitasnya
dominan ditentukan oleh kelihaian teknik komunikasi pembicara (PD Kebersihan
Kota Bandung, 2006)
Peranan ibu rumah tangga yang signifikan dalam mereduksi sampah
domestik, makin banyaknya desa-desa yang beralih fungsi menjadi permukiman
sub-urban di masa depan, dan belum adanya sebuah metode pelatihan yang baku
bagi mereka untuk mengubah perilakunya terhadap lingkungan menjadikan hasil
penelitian ini penting untuk dikembangkan dan diaplikasikan.
Masalah yang akan dibahas pada penelitian ini yaitu bagaimana metode
pelatihan bagi para ibu rumah tangga yang sesuai dengan modalitas belajar,
pengetahuan, dan kebutuhannya akan pengelolaan sampah.
Tujuan penelitian ini adalah membuat sebuah rekomendasi metode
pelatihan yang sesuai dengan modalitas belajar, pengetahuan, dan kebutuhan para
ibu rumah tangga terhadap pengelolaan sampah.

METODE PENDEKATAN
Analisis Kebutuhan
Langkah analisis kebutuhan diperlukan untuk mengetahui keterampilan
kerja spesifik yang dibutuhkan, menganalisis keterampilan dan kebutuhan calon
peserta (Dessler, Gary. 2004). Dalam menentukan analisis kebutuhan, penulis
menggunakan metode pendekatan kuantitatif dengan survei. Selanjutnya, dalam
penelitian digunakan pendekatan kualitatif dalam rangka mendukung data
kuantitatif. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode simple cluster random
sampling. Kehomogenan sampel terletak pada status sosial responden yaitu
perempuan yang telah menikah dan bekerja sebagai ibu rumah tangga.
Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam, kuesioner, dan pengamatan
PKMI-1-05-3

berperanserta. Sementara itu, data sekunder diperoleh melalui penelusuran literatur


atau studi pustaka baik dari buku maupun internet.
Penelitian dilakukan terhadap 30 orang ibu rumah tangga di daerah sub-urban
tepatnya Desa Bojongkacor RW 22 Kelurahan Cibeunying Kecamatan Cimenyan
Kabupaten Bandung. Waktu pelaksanaan penelitian yaitu minggu terakhir bulan
Februari hingga minggu pertama bulan Maret 2006.
Jenis-jenis pertanyaan yang diberikan terkait dengan modalitas belajar,
pengetahuan tentang pengelolaan sampah, pengelolaan sampah eksisting, dan
animo mengikuti pelatihan.
Penetapan pra-kondisi
Penetapan pra-kondisi dibutuhkan untuk memastikan kesadaran peserta
telah mulai terbangun dan terdapat persiapan program partisipatoris struktural
pascapelatihan sehingga hasil pelatihan dapat terjaga secara kontinu.
Penetapan blok materi
Materi dalam training dibagi menjadi blok-blok materi berdasarkan
kesamaan tema yang ingin disampaikan. Satu blok materi terdiri atas beberapa
metode dan materi pelatihan.
Penetapan materi dan metode
Materi dan metode ditentukan dengan mempertimbangkan kondisi input
mengenai pengetahuan persampahan serta modalitas belajar untuk mencapai
tujuan-tujuan khusus
Penetapan suasana dan kelengkapan
Penetapan suasana dan kelengkapan pelatihan yang dibutuhkan untuk
menciptakan lingkungan pelatihan yang nyaman bagi peserta terutama untuk
mendukung modalitas belajar peserta.
Penentuan metode evaluasi
Penentuan metode evaluasi untuk mengukur ketercapaian tujuan pelatihan.
Metode yang dipilih untuk digunakan adalah focus group discusion.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Dari survei diperoleh hasil bahwa sebagian besar responden yang berusia
30 hingga 50 tahun (80%) dan berpendidikan di bawah SMU (52%) memiliki
pengetahuan tentang persampahan masih relatif rendah. Hal ini dapat dilihat pada
Gambar 1.

Pengetahuan dan Perilaku Responden


Pengetahuan tentang istilah persampahan diukur berdasarkan pengetahuan
terhadap istilah sampah organik, istilah ini dianggap paling penting untuk
diketahui dan paling mewakili pengetahuan tentang istilah persampahan karena
merupakan istilah dasar untuk pemilahan sampah yang merupakan langkah awal
pengelolaan sampah yang baik. Ternyata sebagian besar ibu rumah tangga (70%)
mengetahui istilah ini sehingga istilah ini tidak ditekankan untuk diperkenalkan
ulang pada pelatihan. Para ibu rumah tangga juga sebagian besar telah mengetahui
tentang pemilahan sampah (69%), namun dalam aplikasinya sebagian besar belum
melakukan (53%) dengan beragam cara seperti terlihat pada Gambar 1-2. Dari sini
direkomendasikan untuk menekankan motivasi, penekanan urgensi, dan contoh
praktis yang mudah dilakukan oleh ibu rumah tangga untuk mengaplikasikan
pemilahan sampah.
PKMI-1-05-4

Gambar 1. Pengetahuan Responden

Dalam pengelolaannya, 53 % responden tidak melakukan pemisahan


sampah menurut jenisnya. Demikian pula dengan pengelolaan sampah yang masih
bernilai ekonomis hanya 7 % responden yang memanfaatkan kembali, sebagian
besar dijual (62%), dan sisanya dibuang (31%).
Dari seluruh responden yang belum pernah mendapatkan pelatihan atau
penyuluhan mengenai persampahan, sebagian besar (90%) antusias untuk
mengikuti pelatihan atau penyuluhan jika diadakan.

Gambar 2. Perilaku Responden

Dari data yang didapat, modalitas belajar responden yang cenderung


menonjol yaitu gaya belajar visual dan kinestetik. Hal ini dapat dilihat pada
Gambar 3.
PKMI-1-05-5

Untuk memperoleh hasil yang diinginkan dari suatu metode pelatihan,


langkah awal yang penting dilakukan adalah mengenali modalitas belajar
seseorang sebagai modalitas visual, auditorial, atau kinestetik, yang menyatakan
bagaimana seseorang mampu menyerap informasi dengan mudah (DePorter, 1992).
Berdasarkan hasil survei, diketahui bahwa sebagian besar ibu rumah tangga
memiliki modalitas belajar visual dan kinestetik. Karakteristik khas seseorang
dengan modalitas belajar visual adalah mengolah informasi dengan cara melihat,
sedangkan kinestetik mengolah informasi dengan cara bergerak, bekerja, dan
menyentuh. Akan halnya auditorial mengolah informasi dengan cara mendengar
dan ini tidak dominan ditemui pada sampel. Karenanya, metode pelatihan yang
dibuat harus mengedepankan aspek-aspek visual dan kinestetik agar informasi
yang diberikan mudah diserap oleh para ibu rumah tangga.
Pendekatan visual dalam metode dilakukan dengan menggunakan alat
bantu berupa poster di sekeliling ruangan, film pendek, slide-show, fotonovela, dan
memastikan posisi pembicara terlihat oleh seluruh peserta (khusus untuk materi
indoor). Sedangkan pendekatan kinestetik dilakukan dengan memperbanyak sesi
praktek untuk beberapa materi seperti pewadahan, pemilahan, dan komposting.
Pembicara juga diusahakan untuk selalu melakukan kontak fisik dengan peserta.
Untuk mendukung output yang dihasilkan, keluarga akan dilibatkan dalam sebuah
momentum bersama dengan tema persampahan yang termasuk dalam blok materi
review dan remotivation.
Untuk mendukung kenyamanan suasana belajar, ruangan akan diisi dengan
musik-musik yang dapat menstimulus kerja otak, yakni musik klasik. Pencahayaan
juga diatur agar selalu sesuai dengan suasana yang akan dibangun. (DePorter,
1992)
Materi pelatihan yang diberikan ditekankan pada aspek-aspek yang mampu
meningkatkan pemahaman persampahan dan pengelolaannya serta aplikatif
dilakukan dalam skala rumah tangga.
PKMI-1-05-6

Berdasarkan hasil survei, diketahui bahwa sebagian besar ibu rumah tangga
belum mengetahui istilah-istilah persampahan, urgensi pemilahan di sumber dan
3R, serta bagaimana melakukan pengelolaan yang baik secara aplikatif di rumah
tangga.
Dengan kebutuhan yang disebutkan di atas, pelatihan ini dirancang dengan
memperhatikan kondisi awal (prakondisi), materi dan metode pelatihan untuk
mendapatkan suatu kondisi ideal yang tertuang dalam tujuan pelatihan. Diagram
alir pelatihan persampahan disajikan dalam Gambar 4.

Gambar 4. Diagram Alir Pelatihan Sampah

Sebelum pelatihan dilakukan, prakondisi yang dibutuhkan adalah


terstimulasinya kepekaan masyarakat terhadap pengelolaan sampah dan kesiapan
manajerial dari aparat dalam sistem pengelolaan sampah. Beberapa alternatif yang
ditawarkan yaitu pengadaan lomba kebersihan antar RT, pengadaan sarana
komposting terpusat, dan fasilitasi pengumpulan sampah bernilai ekonomi. Tanpa
prakondisi, pelatihan dapat berjalan, akan tetapi hasilnya tidak lebih terjamin akan
berkesinambungan ketimbang dengan adanya pra-kondisi.
Adapun materi pelatihan dibagi atas blok-blok materi dengan tujuannya
masing-masing yang dilaksanakan secara serial. Evaluasi diadakan di akhir
pelatihan dengan mengadakan focus group discussion untuk menilai motivasi dan
pemahaman peserta pascapelatihan.
Deskripsi dari pelaksanaan metode beserta tujuannya disajikan dalam
Tabel 1 6
PKMI-1-05-7

Tabel 1. Deskripsi Blok Materi I

Blok Materi I
Tujuan Peserta termotivasi mengikuti training hingga akhir
Materi Manfaat training
Metode Talk show
Games kelompok tebak gambar
Suasana Indoor
Kondisi duduk peserta huruf U
Pencahayaan cukup
Ada musik
Penempelan gambar dan poster
Kelengkapan Doorprize
Sound system
Hadiah
Gambar-gambar
Laptop/ komputer
Lagu
Seluruh peserta dilibatkan secara aktif
Parameter Keberhasilan Games diikuti dengan antusias

Tabel 2. Deskripsi Blok Materi II

Blok Materi II
Menyadarkan pentingnya peranan ibu dalam perbaikan
Tujuan kualitas dan kesehatan keluarga serta pengelolaan
persampahan
Urgensi peranan ibu rumah tangga dalam pengelolaan
Materi
sampah Urgensi pengelolaan sampah domestik rumah tangga
Metode Pemutaran film pendek
Pembacaan puisi
Refleksi film
Suasana Pengaturan pencahayaan
Back sound
Cahaya terang
Kelengkapan Infokus
Laptop/ computer
Parameter Seluruh peserta antusias mengikuti acara
Keberhasilan
PKMI-1-05-8

Tabel 3. Deskripsi Blok Materi III

Blok Materi III


Tujuan Memberikan pengetahuan tentang persampahan
Karakteristik sampah dan urgensi pemilahan serta
Materi pewadahan sampah
Pengetahuan
Komposting
Metode Lomba memilah sampah
Ceramah
Composting Group
Suasana Nyaman dan santai
Outdoor
Ada musik
Kelengkapan Kantong plastic
Sampel sampah
Sound system
Lagu
Sarung tangan
Komposter
Peserta mampu secara mandiri melakukan pemilahan dan
composting
Peserta mampu menjelaskan kembali langkah-langkah
pengerjaannya.
Parameter Peserta bersemangat melakukan pemilahan sampah di
Keberhasilan rumahnya

Tabel 4. Deskripsi Blok Materi IV

Blok Materi IV
Tujuan Review dan remotivasi peserta
Materi 3R (Reuse-Recycle-Reduce)
Lomba kreativitas keluarga (Memanfaatkan
Metode barang-barang bekas)
Launching program oleh aparat kelurahan
Suasana Santai
Outdoor
Ada musik
Kelengkapan Barang-barang bekas
Sound system
Lagu
Seluruh keluarga peserta hadir
Parameter Terbangun suasana yang menyenangkan dan penuh
Keberhasilan kebersamaan
PKMI-1-05-9

Tabel 5. Deskripsi Blok Materi V

Blok Materi V
Tujuan Membangun kesadaran dan partisipasi aktif warga dan
aparat desa dalam pengelolaan sampah
Materi Program-program Follow Up
Musyawarah/rembug desa
Metode dan waktu
Suasana Indoor
Semi-serius
Kelengkapan Sound system
Papan tulis
Parameter Seluruh aparat terkait dan tokoh-tokoh masyarakat hadir dan
Keberhasilan berpartisipasi aktif dalam rembug.

Tabel 6. Deskripsi Blok Materi VI

Blok Materi VI
Tujuan Mengevaluasi tingkat keberhasilan training dan
rekomendasi perbaikan
Materi -
Diskusi dalam kelompok dipandu oleh assesor (focus
Metode group discussion)
Suasana Indoor
Semi-serius
Kelengkapan Fasilitator, assesor
Parameter
Keberhasilan Seluruh peserta berperanserta aktif dalam diskusi

KESIMPULAN
Identifikasi modalitas belajar dan pengetahuan riil eksisting ibu rumah
tangga terkait dengan pengelolaan sampah penting sebagai dasar awal pembuatan
sebuah pelatihan sehingga kemungkinan akan tingginya tingkat efektivitas
pelatihan akan semakin besar.
Survei menunjukkan bahwa sebagian besar ibu rumah tangga memiliki
modalitas belajar visual dan kinestetik dengan pengetahuan dasar pengelolaan
sampah yang relatif sedikit. Materi pelatihan yang telah dibuat meliputi pemberian
motivasi, pemahaman urgensi peranan ibu rumah tangga dalam pengelolaan
sampah, pengetahuan persampahan, review dan remotivation, rembug program dan
partisipasi aktif warga-aparat desa, serta evaluasi. Penetapan materi sederhana yang
aplikatif serta metode yang mendukung modalitas belajar visual dan kinestetik
dalam metode pelatihan yang telah dibuat diprediksi akan memberikan hasil yang
lebih efektif.
PKMI-1-05-10

DAFTAR PUSTAKA
Damanhuri, Enri. 2001. Diktat Pengelolaan Sampah. Bandung, Penerbit ITB.
DePorter, Bobbi dan Hernacki, Mike. 1992. Quantum Learning Membiasakan
Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Bandung, Kaifa.
Dessler, Gary. 2004. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta, PT INDEKS.
Irawati, Henie Mimien. 1999. Manifestasi Perilaku Ibu-ibu Rumah Tangga dalam
Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di Kotamadya Surabaya. Malang,
Universitas Negeri Malang.
PD Kebersihan Kota Bandung. Sumber fakta dari Kepala Humas PD Kebersihan
Kota Bandung, Bapak S. Yosep.
Wiludjeng, H. Habsjah, A. dan Wibawa, Dhevy S. 2005. Dampak Pembakuan
Peran Gender terhadap Perempuan Kelas Bawah di Jakarta. Jakarta,
LBH-APIK.
www.pikiranrakyat.com. Diakses tanggal 26 Februari 2006.
PKMI-1-06-1

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN METODE SOLFEGIO


UNTUK PEMBELAJARAN KETRAMPILAN BERMAIN MUSIK
DI SEKOLAH DASAR

Mochamad Usman Wafa, Ferry Bayu Arianto, Bagasworo D.S.


Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang, Semarang

ABSTRAK
Pada umumnya proses pembelajaran musik di Sekolah Dasar belum disertai
penerapan metode yang tepat. Berkaitan dengan hal tersebut penelitian ini secara
khusus akan mengujicobakan metode solfegio pada pembelajaran praktek
instrumen musik. Penelitian ini dilakukan di SD Negeri 01 Sekaran Gunungpati
Semarang. Penelitian ini menggunakan metode tindakan kelas yang didukung
dengan strategi pencarian data yang meliputi: (1) observasi partisipatif, (2)
dokumentasi, dan (3) angket. Analisis yang diperlukan adalah teknik deskriptif
dengan prosentase. Berdasarkan data penelitian diperoleh informasi bahwa
metode solfegio dapat meningkatkan efektivitas, keaktifan, efisiensi dan
keterlibatan siswa sehingga dapat mengatasi kendala-kendala yang dihadapi
dalam pembelajaran ketrampilan bermain musik (ansembel). Hasil penelitian
menunjukkan bahwa sebelum diterapkan metode solfegio hanya 10% siswa yang
mampu belajar musik Setelah dilakukan tindakan pembelajaran dengan
menggunakan metode solfegio sight reading terdapat peningkatan kualitas dalam
penguasaan musik. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari rincian data berikut:
31% siswa menguasai materi belajar dengan tingkat sangat baik, 43% siswa
menguasai materi belajar dengan tingkat baik, 26% siswa menguasai materi
belajar dengan tingkat sedang. Ketika diujicobakan metode solfegio ear training.
Dari hasil observasi penampilan bermain musik, hasilnya adalah 20% siswa
menguasai materi belajar dengan tingkat sangat baik, 46% siswa menguasai
materi belajar dengan tingkat baik, 34% siswa menguasai materi belajar dengan
tingkat sedang. Berkaitan dengan hal tersebut, maka disarankan agar guru musik
mnenerapkan metode solfegio dalam setiap kegiatan belajar mengajar
ketrampilan bermain musik disetiap kelas, sesuai keragaman materi seni yang
diajarkan di Sekolah Dasar.

Kata kunci: metode solfegio (Sight Reading dan Ear training), ketrampilan musik

PENDAHULUAN
Tidak dapat disangkal bahwa seni termasuk seni musik merupakan bagian
yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Salah satu implementasi dari
ketakterpisahan ini adalah berupa peran seni dalam mempengaruhi perkembangan
jiwa manusia. Pemanfaatan ini tentunya dalam arti positif, yaitu pengkajian seni
untuk mengembangkan aspek estetis yang dimiliki manusia. Usaha untuk
mencapai tujuan tersebut antara lain melalui pendidikan seni yang
diselenggarakan di sekolah.
Keragaman materi dan teknik pengajaran ketrampilan berkesenian
menuntut digunakannya berbagai metode belajar kesenian (musik) yang dapat
PKMI-1-06-2

dilaksanakan untuk keberhasilan pembelajaran. Hal ini berdampak pula pada


corak pembelajaran ketrampilan bermain musik yang dilakukan oleh guru musik
dan akan pula menentukan intensitas dan keajegan pembelajaran sesuai dengan
alokasi waktu yang tersedia.
Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa dalam proses pembelajaran
ketrampilan bermain musik (ansambel musik sekolah) ternyata memerlukan
sebuah metode yang spesifik sehingga relevan dengan karakteristik mata pelajaran
seni musik. Pada saat peneliti mulai mengajar di kelas V di SD Sekaran 01
Semarang, peneliti mendapatkan data bahwa dari jumlah 35 siswa kelas V, hasil
belajar ketrampilan bermain musik (ansambel) menunjukkan hanya 10% siswa
yang menguasai ketrampilan bermain musik, sedang sisanya 90% mengalami
kesulitan.
Secara eksplisit tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas
pembelajaran KTK di SD, melalui penerapan metode solfegio. Secara implisit
penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan efektifitas penggunaan metode
solfegio serta penggunaan teknik sight reading dan ear training dalam
pembelajaran keterampilan bermain musik bagi siswa SD.
1. Untuk mendeskripsikan efektifitas penggunaan metode solfegio untuk
pembelajaran ketrampilan bermain musik bagi siswa kelas V SD 01 Sekaran
Semarang.
2. Untuk mendeskripsikan efektifitas penggunaan tehnik ear training dan sight
reading untuk pembelajaran ketrampilan bermain musik bagi siswa SD 01
Sekaran Semarang.
3. Untuk mendeskripsikan ada atau tidaknya peningkatan kualitas pembelajaran
KTK siswa kelas V SD 01 Sekaran Semarang.

Musik adalah bahasa emosi yang bersifat universal. Melalui pendengaran


musik dapat dimengerti dan dirasakan makna dan kesan yang terkandung
didalamnya. Manusia normal sejak lahir sudah dibebani dengan kemampuan
reaksi terhadap bunyi atau musik. Sehingga tanpa kegiatan mendengar, manusia-
manusia tidak dapat memberikan reaksi terhadap rangsangan yang berbentuk
bunyi (Jamalus, 1981 : 49). Selanjutnya dikemukakan pula bahwa dalam
mempelajari teori musik, harus diberikan melalui bunyinya, sehingga siswa dapat
mendengar dan menghayati apa yang disebut dengan tangga nada, interval, melodi
dan kord.
Dalam dunia musik dikenal suatu metode yang disebut Solfegio yaitu
istilah yang mengacu pada menyanyikan tangga nada, interval dan latihan-latihan
meoldi dengan sillaby zolmization, yaitu menyanyikan nada musik dengan
menggunakan suku kata (Stanley, 1980 : 454). Dalam perkembangan selanjutnya
solfegio tidak hanya menyanyikan saja tetapi juga mendengar nada. Kemampuan
membaca not disebut dengan istilah sight reading dan kemampuan mendengar not
disebut dengan istilah ear training.
Sight Reading merupakan membaca not tanpa persiapan (Last 1980 : 135).
Selanjutnya dinyatakan bahwa sight reading adalah kesanggupan sekaligus untuk
membaca dan memainkan notasi musik yang belum pernah dikenal sebelumnya.
Hal ini sering disebut dengan istilah prima vista.
Kennedy (1985 : 667) mendefinisikan sight reading sebagai berikut: The
reading of music at first sight in order to performance it. Selain berfungsi untuk
PKMI-1-06-3

meningkatkan kemampuan membaca dan menambah pengetahuan tentang bahasa


musik, sight reading juga berfungsi untuk menemukan hal-hal baru dalam musik
dan memberikan kenikmatan dalam bermusik bagi pemain atau penyaji musik
hingga pada tingkat ketrampilan (kemahiran ) yang tinggi.
Untuk dapat menguasai sight reading dibutuhkan banyak latihan yang teratur.
Namun demikian bukan banyaknya latihan yang penting melainkan latihan-latihan
(meskipun sedikit) yang dilakukan tiap hari secara teratur dan terus-menerus akan
lebih dirasakan manfaatnya (Last 1980 : 136).
Florentinus (1997 : 60) membagi lebih lanjut kemampuan membaca not
(sight reading) ke dalam tiga indikator kemampuan, yaitu: (1) kemampuan
membaca ritme/irama, (2) kemampuan membaca melodi/rangkaian nada, dan (3)
kemampuan membaca akord/keselarasan gabungan nada.
Ear training merupakan latihan kemampuan pendengaran atau ketajaman
pendengaran musik, baik ketepatan ritmik maupun ketepatan nadanya.
Kemampuan ini merupakan gabungan dari dua faktor, yaitu faktor kebiasaan dan
pembawaan (Benward 1989 : 9). Faktor kebiasaan ini dapat dikembangkan
melalui latihan teratur disamping faktor lain yang tidak dapat dipisahkan darinya
yaitu faktor pembawaan dan musikalitas.

METODE PENELITIAN
Model Penelitian
Dalam penelitian ini dipilih model Spiral ( Kemmis dan Taggart, 1988)
dengan langkah-langkah meliputi: (1) perencanaan/persiapan; (2) siklus I; dan (3)
siklus II.

Subyek dan Variabel Penelitian


Subyek penelitian ini adalah 35 siswa kelas V SD Sekaran 01
Gunungpati Semarang.
Variabel penelitian dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: (1) Variabel input
meliputi kondisi awal siswa, persiapan guru dan mahasiswa, serta keberadaan
sarana dan prasarana yang menunjang dan menarik perhatian siswa dalam
pembelajaran musik, (2) Variabel proses meliputi kondisi proses pembelajaran
musik dengan metode solfegio dengan evaluasi tiap siklus, (3) Variabel output
meliputi kondisi siswa berkaitan dengan peningkatan ketrampilan bermain musik
(ansambel) tiap siklus.

Teknik Pengumpulan Data


Pengumpulan data diperoleh melalui: (1) Observasi partisipasif yang
dilakukan peneliti bersama guru kelas/musik selama metode solfegio digunakan
sebagai cara pembelajaran ketrampilan bermain musik di SD Sekaran 01; (2)
Dokumentasi hasil belajar musik siswa setelah pembelajaran; (3) Angket balikan
yang diisi langsung oleh siswa berkaitan dengan hambatan ketrampilan bermain
musik setelah PBM selesai.
PKMI-1-06-4

Teknik Analisis Data


Data yang diperoleh diolah dengan: (1) Pengecekan kelengkapan data; (2)
Pentabulasian data; dan (3) Analisis data. Analisis yang diperlukan adalah tehnik
deskriptif dengan prosentase. Selanjutnya dari hasil analisis tersebut
dideskripsikan dalam tindakan: (a) Afektifitas penggunaan metode solfegio untuk
pembelajaran ketrampilan musik; (b) Hambatan dalam proses pembelajaran KTK
di SD.

HASIL PEMBAHASAN
Kondisi Awal Pembelajaran
Mengenai kondisi awal pembelajaran ketrampilan bermain musik kelas V
di SDN Sekaran 01 Semarang, menunjukan yaitu: (1) Pembelajaran seni kelas V
di SDN Sekaran 01 Semarang diisi dengan ketrampilan bermain musik (ansambel
musik), (2) Pengajarnya adalah guru kelas (3) Materi pelajaran yang diberikan
mengacu pada standar kompetensi ketrampilan bermain musik untuk kelas V SD,
(4) Faktor yang menyebabkan hambatan pembelajaran ketrampilan bermain musik
adalah keterbatasan bahan lagu-lagu model, belum tersedianya media
pembelajaran, model pembelajaran musik yang tepat, dan keterbatasan
kemampuan terampil dan kreativitas siswa.

Pelaksanaan Tindakan Kelas


Siklus I
Pembelajaran materi ketrampilan bermain musik di kelas V dengan
metode solfegio (sight reading) dengan menggunakan notasi angka dan notasi
balok. Hasil monitoring selama tindakan berlangsung adalah dapat meningkatkan
kualitas proses dan hasil belajar ketrampilan bermain musik. Berdasarkan survey
awal hanya 10% siswa yang mampu menguasai ketrampilan bermain musik
dengan baik dan benar. Setelah mendapat pembelajaran dengan metode sight
reading terdapat banyak peningkatan siswa yang mampu menguasai ketrampilan
bermain musik di atas rata-rata. Aktivitas individu siswa lebih baik dan
bersemangat, meskipun tingkat kemajuannya berbeda-beda/bervariasi. Dari hasil
observasi penampilan bermain musik, hasilnya adalah 31% telah menguasai
dengan sangat baik, 43% menguasai dengan tingkat baik, 26% menguasai pada
tingkat sedang, dan 0% belum bisa menguasai atau pada tingkatan buruk.
Hambatannya adalah keterbatasan waktu dan ketrampilan siswa, hal ini
disebabkan karena sejak kelas I hingga 4 belum banyak dikenalkan dan diajarkan
teknik bermain instrumen musik sekolah (rekorder, pianika, glockenspiel, snare
drum dan bass drum). Persoalannya adalah belum ada guru yang secara khusus
mampu/memiliki kompetensi untuk membelajarkan kemampuan memainkan
instrumen musik sekolah tersebut.

Siklus II
Pembelajaran ketrampilan bermain musik di kelas V dengan metode
Solfegio (ear training) baik dengan notasi angka maupun balok. Hasil observasi
PKMI-1-06-5

Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) hasilnya adalah: (1) Penggunaan metode ear
training dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran ketrampilan
musik. Setelah mendapatkan pembelajaran dengan metode ear training terdapat
banyak peningkatan siswa mampu menguasai ketrampilan bermain musik di atas
rata-rata. Siswa terampil memainkan lagu Mother How Are You Today tanpa
kesulitan yang berarti meskipun sebagian masih kurang cermat dalam ketepatan
membidik nada dan pernafasan yang tidak sama, (2) Dari hasil observasi
penampilan bermain musik, hasilnya adalah 20% telah menguasai dengan sangat
baik, 46% menguasai dengan tingkat baik, 34% menguasai pada tingkat sedang,
dan 0% menguasai pada tingkat buruk, (3) Pembelajaran bermain musik dengan
metode ear training dapat efektif meningkatkan ketrampilan bermain musik siswa
kelas V SDN Sekaran 01 Semarang dalam memainkan lagu model, (4) Kendala
penelitian ini adalah keterbatasan kemampuan ketrampilan dan kreativitas siswa,
waktu, lagu model, dan pengalaman dalam penelitian tindakan kelas.

KESIMPULAN
Dari hasil penelitian dan analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan
bahwa metode solfegio dapat diterapkan pada setiap materi praktek berolah
ketrampilan bermain musik yang diajarkan di SD. Metode ini juga dapat
meningkatkan keefektifitasan, keaktifan, efisiensi dan keterlibatan belajar siswa
sehingga dapat mengatasi kendala-kendala yang dihadapi dalam pembelajaran
ketrampilan bermain musik (ansambel). Dapat pula disimpulkan bahwa metode
solfegio berpotensi memberikan kesempatan berekspresi, berkreasi memberi
keterampilan musik melalui kegiatan pengalaman musik sesuai dengan tuntunan
kurikulum 2004 yang berbasis kompetensi untuk perbaikan kualitas proses
pembelajaran musik di SD khususnya kelas V. Dengan demikian, maka metode
solfegio dapat berfungsi sebagai alat bantu / strategi mengajar guru dan sebagai
sumber belajar siswa dalam ketrampilan bermain musik khususnya di kelas V SD.

DAFTAR PUSTAKA
Benward, Burt. 1989. Work Book in Ear Training. New York: Brown Company
Publisher.
Florentinus, Totok, S., 1997. Pengembangan Instrument Pengukuran Kemampuan
Solfegio. Thesis. Jakarta: IKIP Jakarta.
Jamalus, 1988. Pengajaran Musik Melalui Pengalaman Musik. Jakarta
Depdikbud.
Kennedy, M., 1980. The Concise Oxford Dictionary of Music. London: Oxford University Press.
Kennedy, M., 1980. The Concise Oxford Dictionary of Music. London: Oxford
University Press.
Kodiyat, Latifah., 1983. Istilah Istilah Musik. Jakarta: Depdikbud.
Last, Joan., 1980. Interpretation in Piano Study. New York: Oxford University
Press.
Wisbey, A.Stanley., 1980. Music as The Source of Learning. Baltimore: Iniversity
Park Press.
PKMI-1-07-1

PENGARUH TEH HITAM (CAMELLIA SINENSIS (L.)O.K.) TERHADAP


KETEBALAN DINDING ARTERI KORONARIA TIKUS PUTIH (RATTUS
NORVEGICUS) YANG DIBERI DIET TINGGI LEMAK

A. Ekawati, D. D. Andriyani, I. S. Rukmini, L. Indriani


Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

ABSTRAK
Teh hitam merupakan sumber flavonoid yang memiliki efek anti oksidan yang kuat.
Beberapa antioksidan menunjukkan peningkatan fungsi endotel dan penghambatan
LDL oksidasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh teh hitam
terhadap peningkatan ketebalan dinding arteri koronaria tikus putih setelah
pemberian diet tinggi lemak. Penelitian ini menggunakan metode randomized
control trial terhadap 35 ekor tikus putih yang dikelompokkan menjadi 5 kelompok.
Kelompok I, tidak diberi diet tinggi lemak ataupun seduhan teh hitam. Kelompok II
diberi diet tinggi lemak tetapi tidak diberi seduhan teh hitam. Kelompok III, IV, dan
V diberi diet tinggi lemak dan teh hitam dengan dosis berturut-turut 2,5%, 5%, dan
10% sebanyak 2 ml 2 kali sehari. Data penelitian yang diambil berupa rata-rata
rasio tebal dinding terhadap jari-jari arteri (T/R). Pada akhir penelitian diperoleh
rasio T/R kelompok I (0,49 0,13), kelompok II (0,690,21), kelompok III (0,58
0,19), kelompok IV (0,51 0,14), dan kelompok V (0,50 0,18). Dari analisis post
hoc test dapat diketahui bahwa kelompok IV (0,51 0,14) dan kelompok V (0,50
0,18) memiliki rasio T/R yang tidak berbeda secara bermakna (p>0,05) dengan
kelompok I (0,49 0,13), sedangkan kelompok II (0,690,21) dan kelompok III
(0,58 0,19) berbeda bermakna secara statistik (p<0,05) dengan kelompok I
(0,49 0,13). Disimpulkan bahwa pemberian teh hitam berpengaruh terhadap
ketebalan dinding arteri koronaria tikus putih.

Kata Kunci: Teh Hitam, Flavonoid, Antioksidan, Dinding arteri koronaria,


Arterosklerosis

PENDAHULUAN

Teh hitam mengandung beberapa kandungan organik, diantaranya


memberikan keuntungan medis dan kesehatan. Selain protein dan karbohidrat, teh
juga mengandung substansi polifenol. Senyawa ini mempunyai aktivitas biologis
1,2
yang unik dan diperkirakan mempunyai efek terhadap kesehatan .
Flavanoid yang merupakan komponen polifenol sering ditemukan di dalam
berbagai jenis tumbuhan mempunyai efek antioksidan secara in vitro dan ex vivo
serta mempunyai efek menurunkan kolesterol pada manusia maupun hewan.
Menurut Wiseman, beberapa studi epidemiologi menunjukan hubungan antara
3
konsumsi teh hitam atau flavonoid dengan resiko penyakit jantung .
PKMI-1-07-2

Penyakit kardiovaskuler merupakan penyebab kematian utama di dunia,


yaitu sepertiga dari seluruh kematian total di dunia. Sekitar 85% dari kematian
akibat penyakit kardiovaskuler tersebut terjadi di negara-negara miskin atau di
negara-negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia. Di Asia Tenggara
total kematian akibat penyakit kardiovaskuler pada tahun 1999 adalah 3,797 juta
jiwa, dan 1,972 juta jiwa dari kematian tersebut disebabkan oleh Penyakit Jantung
4
Koroner (PJK) .
PJK dapat disebabkan oleh arterosklerosis yang merupakan penebalan pada
dinding arteri koronaria. Keadaan tersebut ditandai oleh pembentukan bercak
jaringan ikat-lemak dalam tunika intima yang ditunjukkan oleh adanya gumpalan di
bagian tengah yang kaya akan lemak, dan menyebabkan penyempitan lumen
5
pembuluh darah .
Salah satu faktor resiko terjadinya arterosklerosis adalah hiperlipidemia
akibat mengkonsumsi lemak jenuh dan kolesterol dari bahan makanan hewani.
Berbagai upaya telah ditempuh untuk menanggulangi masalah tingginya kadar
kolesterol dalam darah, dan salah satu caranya adalah dengan mengurangi dan
menghindari konsumsi lemak jenuh dan kolesterol, atau dengan mengupayakan
6
bahan makanan penggantinya yang aman bagi kesehatan . Apabila upaya
pencegahan dengan pengaturan diet tidak mampu menurunkan kadar kolesterol,
maka dapat dilakukan terapi dengan intervensi bahan-bahan obat agar kadar
kolesterol yang terlanjur tinggi tersebut dapat turun ke nilai normal, atau setidaknya
7
tidak berlanjut ke aterom .
Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh teh hitam (Camellia
sinensis (L.) O.K.) terhadap penebalan dinding arteri koronaria akibat pemberian
diet tinggi lemak pada tikus putih (Rattus norvegicus).

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode randomize control trial terhadap 35


ekor tikus putih (Rattus norvegicus) betina, galur Wistar murni, berumur 2 bulan,
berat badan berkisar 95 110 gram, yang diperoleh dari Unit Pengembangan
Hewan Coba (UPHP) UGM.
Sebelum penelitian hewan coba diadaptasikan di kandang UPHP selama 3
hari. Ketiga puluh lima hewan coba tersebut dikelompokkan menjadi 5 kelompok
secara acak. Kelompok I, tidak diberi diet tinggi lemak ataupun seduhan teh hitam.
Kelompok II diberi diet tinggi lemak tetapi tidak diberi seduhan teh hitam.
Kelompok III, IV, dan V diberi diet tinggi lemak dan teh hitam dengan dosis
berturut-turut 2,5%, 5%, dan 10% sebanyak 2 ml 2 kali sehari. Diet tinggi lemak
AIN-93 diberikan selama 7 hari kemudian dilanjutkan pemberian diet standar dan
pemberian seduhan teh hitam sesuai dosis masing-masing selama 30 hari. Teh
diperoleh dari fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Pengukuran darah
dilakukan pada 3 titik waktu: (1) awal penelitian; (2) setelah pemberian diet tinggi
lemak; (3) setelah pemberian seduhan teh hitam.
Pengukuran data dilakukan setelah 37 hari perlakuan. Hewan coba dibedah
untuk diambil dan diamati arteri koronaria yang terletak antara ventrikel kanan dan
ventrikel kiri. Hewan coba dikorbankan dengan cara dekapitasi, karena penggunaan
PKMI-1-07-3

eter dapat menurunkan tonus otot polos pembuluh darah, sehingga mempengaruhi
gambaran mikroanatominya. Selanjutnya jantung diambil dan difiksasi dengan
larutan Formalin 10% kemudian dipotong 3 mm di distal perbatasan atrium dan
ventrikel.
Pembuatan preparat mikroskopis dengan cara memotong jantung yang telah
difiksasi kemudian diambil untuk dibuat preparat mikroskopis sesuai dengan
prosedur dan diwarnai dengan pengecatan HE. Data penelitian yang diambil berupa
rata-rata rasio tebal dinding terhadap jari-jari arteri (T/R). Data yang diperoleh
dianalisis menggunakan one way anova dengan post Hoc Test. Signifikansi
diterima jika p<0,05.
Analisis biokimia dilakukan sebagai penunjang untuk menujukkan
gambaran kadar kolesterol dalam darah selama perlakuan terhadap tikus putih.
Kolesterol total diukur dengan metode CHOD-PAP, kemudian dianalisis
menggunakan one way anova dengan post hoc test.
Hasil
Seluruh hewan coba mampu menyelesaikan semua tahap penelitian. Rasio
rata-rata tebal dinding arteri koronaria terhadap jari-jari arteri koronaria (T/R) dapat
dilihat pada tabel 1 serta gambar 1.

Tabel 1. Rasio rata-rata tebal dinding terhadap jari-jari arteri (T/R)


Kelompok Rata-rata T/R SD
I 0,49 0,13
II 0,69 0,21
III 0,58 0,18
IV 0,51 0,14
V 0,50 0,18

Gambar 1. Grafik rasio rata-rata tebal dindng terhadap jari-jari arteri (T/R)

Dari analisis Post Hoc Test diketahui bahwa kelompok IV dan kelompok
V memiliki rasio T/R yang tidak berbeda bermakna dengan kelompok I,
sedangkan kelompok II dan kelompok III berbeda bermakna dengan kelompok I.
Hasil pemeriksaan kadar kolesterol pada 3 titik pemeriksaan selama penelitian
dapat dilihat pada tabel 2. Analisis statistik one way anova menunjukkan bahwa pada
PKMI-1-07-4

pemeriksaan pertama, yaitu sebelum pemberian diet tinggi lemak (sebelum perlakuan)
kadar kolesterol semua kelompok tidak berbeda bermakna. Pada pemeriksaan kedua,
setelah 7 hari pemberian diet tinggi lemak, kadar kolesterol darah kelompok II, III, IV
dan V mengalami peningkatan dan berbeda bermakna secara statistik dengan kelompok
I. Pada pemeriksaan ketiga terjadi penurunan kadar kolesterol pada kelompok III, IV
dan V secara bermakna.

Tabel 2. Rerata kadar kolesterol total dalam mg/dL


Pemerik Kelompok
saan ke
I II III IV V
1 98.11 1.49 98.94 98.46 98.94 4.17 99.53
0.92 1.30 1.05
2 98.77 1.34 201.06 201.10 203.19 203.18
2.21 3.55 4.18 3.66
3 100.83 1.79 199.05 172.73 137.80 106.26
1.88 5.00 4.39 3.36

a. Kelompok I d. Kelompok IV
PKMI-1-07-5

Gambar 2. Gambaran penampang melintang arteri koronaria tikus putih (Rattus


norvegicus)

Diskusi

Keadaan hiperlipidemi dapat menyebabkan penumpukan kolesterol dan ester


kolesterol dari lipoprotein yang mengandung Apo B-100 pada jaringan ikat dinding arteri
koronaria. Keadaan ini memudahkan terjadinya jejas endotel akibat radikal bebas yang
8
dihasilkan dari auto-oksidasi lipid darah . Jejas endotel ini akan memacu monosit untuk
bermigrasi ke lapisan subendotel dari pembuluh darah arteri koronaria dan menginduksi
sekresi growth factor dari endotel (PDGF). Di lapisan subendotelium tersebut monosit
yang sudah berdeferensiasi menjadi makrofag memfagositosis kolesterol yang ada dalam
lapisan tersebut, dan terbentuklah foam cells. Makrofag tersebut juga akan merusak
endotel sehingga memacu timbulnya agregasi platelet. Akibat dari sekresi growth factor
dan agregasi platelet memacu proliferasi endotel, sehingga terjadi penonjolan dinding ke
9
arah lumen .
Pada penelitian ini didapatkan hasil yang menunjukkan adanya penghambatan
penebalan dinding arteri koronaria akibat tingginya kadar kolesterol dalam darah oleh
kandungan antioksidan dalam teh hitam. Hal ini sesuai dengan mekanisme peningkatan
fungsi endotel serta penghambatan LDL oksidasi yang sesuai dengan penelitian-penelitian
sebelumnya tentang fungsi antioksidan.
Dalam teh hitam terkandung antioksidan yang menurut beberapa penelitian
antioksidan ditengarai mampu mencegah terjadinya lesi aterosklerosis. Antioksidan
10
tersebut adalah katekin yang termasuk golongan polifenol . Banyak penelitian mengenai
efek antioksidan polifenol. Secara in vitro, katekin teh adalah antioksidan kuat dengan
kemampuan untuk membersihkan radikal bebas bersumber dari oksigen termasuk
- 2
OH reaktif . Senyawa ini efisien membersihkan peroksidan seperti H2O2 (hidrogen
11
peroksida), SOR (superoxide anion radical), dan askorbil radikal .
Hasil penelitian Kaul dan Khanduja menemukan bahwa polifenol menghambat
produksi SOR (superoxide anion radical) yang diinduksi BPO (benzoil peroxide).
Penghambatan XO (xantin oxidase) juga dapat dilakukan oleh EGCG. Enzim ini banyak
terdapat di hepar yang berperan memproduksi asam urat dan ROS (reactive oxygenase)
12
selama katabolisme purin .
Pada penelitian lain yang dilakukan oleh Middleton dan Kandaswami,
dikemukakan beberapa mekanisme kerja polifenol (terutama katekin) antara lain : Katekin
mencegah LDL dari kerusakan akibat oksidasi baik melalui kemampuannnya mengkhelat
logam; menghambat radikal bebas; maupun dengan cara mendaur-ulang antioksidan lain
13
seperti vitamin E .
Selain sebagai antioksidan, katekin juga dapat menurunkan kadar kolesterol, LDL,
dan trigliserida. Mekanisme penurunan tersebut adalah dengan cara meningkatkan
PKMI-1-07-6

aktivitas lipoprotein lipase, sehingga katabolisme lipoprotein kaya trigliserida seperti


VLDL dan IDL meningkat. Kadar kolesterol HDL meningkat secara tidak langsung akibat
menurunnya kadar trigliserida VLDL atau karena meningkatnya produksi apo AI dan apo
AII. Efek penurunan kolesterol LDL diduga berhubungan dengan meningkatnya bersihan
14
VLDL dan IDL dalam hati sehingga produksi LDL menurun .
Selain mengandung katekin, teh hitam juga mengandung resin. Resin menurunkan
kadar kolesterol dengan cara mengikat asam empedu dalam saluran cerna atau dengan kata
lain mengganggu sirkulasi enterohepatik sehingga ekskresi steroid dalam tinja meningkat.
Penurunan kadar empedu karena pemberian resin akan menyebabkan meningkatnya
produksi asam empedu yang berasal dari kolesterol. Karena sirkulasi enterohepatik
dihambat oleh resin, maka kolesterol yang diabsorbsi lewat saluran cerna akan terhambat
dan keluar bersama tinja. Kedua hal ini akan menyebabkan penurunan kolesterol dalam
hati. Selanjutnya penurunan kolesterol dalam hati akan akan menyebabkan dua hal, yaitu:
meningkatnya reseptor LDL sehingga katabolisme LDL meningkat dan meningkatnya
HMG CoA reduktase. Dari sini tampak pula bahwa efek resin tergantung kemampuan sel
14
hati dalam meningkatkan reseptor LDL fungsional untuk menangkap LDL sirkulasi .
Antioksidan flavonoid dalam teh hitam mampu mencegah stres oksidasi yang
disebabkan LDL teroksidasi, sementara resin dan katekin mampu mengurangi kadar lipid
darah. Kedua hal tersebut bersama-sama mencegah pembentukan plak aterom sehingga
penebalan dinding arteri tidak terjadi.

KESIMPULAN
Pemberian seduhan teh hitam sebanyak 4 ml per hari selama 30 hari berpengaruh terhadap
ketebalan dinding arteri koronaria tikus putih (Rattus norvegicus). Pada dosis 5 % dan 10
% teh hitam mampu menurunkan ketebalan dinding arteri koronaria tikus putih hingga
tidak berbeda bermakna dengan kelompok yang tidak diberi diet tinggi lemak.

DAFTAR PUSTAKA
1 Beecher, G.R., Warden, B.A., and Merken, H. 1999. Analysis of Tea Polyphenols.
PSEBM, Vol 220
2 Gunawijaya, F.A. 1996. Penentuan LD-50 Ekstrak Teh Hijau pada Mencit Strain C3H.
TH
Majalah Ilmiah FK USAKTI, Vol 15 : 4. International Limited. 4 Ed. New Zealand
3 Davies et al. 2003. Black Tea Consumption Reduces Total and LDL Cholesterol in
Mildly Hypercholesterolemic Adults, Vol. 0022:3166. American Society for
Nutritional Sciences
4 World Health Organization. 2002. Integrated Management of Cardiovascular Risk.
Health and Development Network. France
5 Petch, Michael. 1991. Penyakit Jantung. Penerbit Arcan. Jakarta : 33-44
6 Saidin, Muhammad. 1999. Kandungan Kolesterol dalam Berbagai Bahan Makanan
Hewani Vol. 27 No. Buletin Penelitian Kesehatan Departemen Kesehatan. Jakarta :
224-230
7 Kusmana, D. 1997. Penyakit Jantung Koroner Penyebab Kematian Utama. Berita
Ikatan Dokter Indonesia. Kusmana, D. 1997, Penyakit Jantung Koroner Penyebab
Kematian Utama. Berita Ikatan Dokter Indonesia. Yayasan penerbit IDI. 16:4. Jakarta
8 Mayes, P.A., Murray R.K., Granner D.K., dan Rodwell V.W. 1997. Biokimia Harper.
EGC. Jakarta
9 Underwood, J.C.E. 2000. Patologi Umum dan Sistemik. Edisi 2. EGC. Jakarta
10 Dreosti, I.E. 1996. Bioacktive Ingredients : Antioxidants and Polyphenols in Tea.
Nutrition Reviews, Vol. 54 (11) : 551-558. EGC. Ed. 24. Jakarta. FK-UI. Ed. 4. Jakarta
11 Merken, H.M., and Beecher, G.R. Measurement of Food Flavonoids by High
PKMI-1-07-7

Performance Liquid Chromatography : A Review. Journal of Agricultural and Food


Chemistry, Vol 48 (3) : 577-599
12 Aucamp, J., Gaspar, A., Hara, Y., and Apostolides, Z. 1997. Inhibition of Xanthine
Oxidase by Catechine from Tea (Camellia sinensis). Anticancer, 17(60) : 4381-4385
13 Anderson, J. W., Smith, B. M., and Washnock, C. S. 2001. Cardiovasculer and
Renal Benefit of Dry Soybean Intake. Am J Clin Nutr 70:464-474
14 Suyatna F.D, S.K. dan Tony Handoko. 1995. Hipolipidemik dalam Farmakologi
dan Terapi FK UI. FK UI. Jakarta
PKMI-1-08-1

PEMANFAATAN ABU TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT SEBAGAI


KATALIS BASA PADA REAKSI TRANSESTERIFIKASI DALAM
PEMBUATAN BIODIESEL

YOESWONO, JOHAN SIBARANI, SYAHRUL KHAIRI


Jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

ABSTRAK
Telah dilakukan reaksi transesterifikasi minyak kelapa sawit dalam media
metanol dengan memanfaatkan abu tandan kosong kelapa sawit sebagai katalis
basa. Karakterisasi abu TKKS dilakukan dengan uji AAS dan titrasi indikator.
Variabel yang dipelajari adalah pengaruh berat abu tandan kosong kelapa sawit
(5 g, 10 g, 15 g, 20 g dan 25 g) yang direndam di dalam 75 mL metanol dan rasio
mol metanol-minyak (3:1;6:1;9:1 dan 12:1). Biodiesel diperoleh dengan
merefluks minyak kelapa sawit dengan metanol yang telah terlebih dahulu
direndam di dalamnya abu tandan kosong kelapa sawit. Refluks dilakukan pada
temperatur kamar selama 2 jam. Lapisan ester didistilasi pada temperatur 74 C,
diekstraksi dengan aquades, kemudian sisa air diikat dengan penambahan
Na2SO4 anhidrat dan disaring. Biodiesel yang dihasilkan dikarakterisasi dengan
kromatografi gas-spektroskopi massa (GC-MS), ASTM D 1298 (gravitasi spesifik
pada 60/60F), ASTM D 97 (titik tuang), ASTM D 2500 (titik kabut), ASTM D 93
(titik nyala), ASTM D 445 (viskositas kinematik pada 40C), ASTM D 482 (kadar
abu), dan ASTM D 189 (sisa karbon Conradson). Biodiesel yang diperoleh
memiliki penyusun utama berupa campuran metil ester dengan senyawa utama
berupa metil palmitat. Kenaikan berat abu tandan kosong kelapa sawit
memberikan konversi biodiesel maksimum pada berat abu sebesar 15 g, dan
menurun untuk berat yang lebih besar. Kenaikan jumlah mol metanol menaikkan
konversi biodiesel sampai optimum pada perbandingan mol metanol minyak 9:1
(84,12%) dan menurun pada rasio 12:1 (75,58%). Sebagian besar biodiesel yang
dihasilkan telah sesuai dengan karakter fisis minyak solar dan minyak diesel.

Kata Kunci: abu tandan kosong kelapa sawit, biodiesel, transesterifikasi,


metanol.

PENDAHULUAN
Kebutuhan minyak bumi yang semakin besar merupakan tantangan yang
perlu diantisipasi dengan pencarian alternatif sumber energi. Minyak bumi
merupakan sumber energi yang tak terbarukan, butuh waktu jutaan bahkan ratusan
juta tahun untuk mengkonversi bahan baku minyak bumi menjadi minyak bumi,
peningkatan jumlah konsumsi minyak bumi menyebabkan menipisnya jumlah
minyak bumi. Dari berbagai produk olahan minyak bumi yang digunakan sebagai
bahan bakar, yang paling banyak digunakan adalah bahan bakar diesel, karena
kebanyakan alat transportasi, alat pertanian, peralatan berat dan penggerak
generator pembangkit listrik menggunakan bahan bakar tersebut.
Biodiesel merupakan salah satu solusi dari berbagai masalah tersebut.
Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif pengganti minyak diesel yang
diproduksi dari minyak tumbuhan atau lemak hewan. Penggunaan biodiesel dapat
dicampur dengan petroleum diesel (solar) (anonim, 2003). Biodiesel mudah
PKMI-1-08-2

digunakan, bersifat biodegradable, tidak beracun, dan bebas dari sulfur dan
senyawa aromatik. Selain itu biodiesel mempunyai nilai flash point (titik nyala)
yang lebih tinggi dari petroleum diesel sehingga lebih aman jika disimpan dan
digunakan.
Penggunaan minyak kelapa sawit atau minyak nabati lainnya sebagai
bahan bakar diesel menimbulkan suatu masalah karena tingginya viskositas yang
dapat menyebabkan kerusakan pada mesin. Untuk mengatasinya dapat dilakukan
pereaksian minyak dengan alkohol berantai pendek dengan bantuan katalis, proses
ini dikenal dengan reaksi transesterifikasi atau alkoholisis. Reaksi transesterifikasi
dengan katalis basa biasanya menggunakan logam alkali alkoksida, NaOH, KOH,
dan NaHCO3 sebagai katalis. Katalis basa ini lebih efektif dibandingkan katalis
asam, konversi hasil yang diperoleh lebih banyak, waktu yang dibutuhkan juga
lebih singkat serta dapat dilakukan pada temperatur kamar (Juwita, 2005). Logam
dari basa terekstraksi ke dalam alkohol yang kemudian bereaksi dengan alkohol
membentuk alkoksida yang bersifat nukleofilik, alkoksida akan menyerang gugus
karbonil. Reaksi ini diikuti tahap eliminasi yang menghasilkan ester dan alkohol
baru. Secara umum reksi transesterifikasi minyak dengan alkohol dapat dituliskan
pada gambar 1.
Penggunaan katalis ini dapat diganti dengan menggunakan abu tandan
kosong kelapa sawit, hasil pembakaran tandan kosong kelapa sawit yang berupa
abu ternyata memiliki kandungan kalium yang cukup tinggi sebesar 30-40%
sebagai K2O. Abu tandan ternyata memiliki komposisi 30-40% K2O, 7% P2O5,
9% CaO, 3% MgO dan unsur logam lainnya (Fauzi, 2005). Dengan melarutkan
sejumlah tertentu abu ke dalam sejumlah tertentu alkohol (metanol atau etanol),
logam kalium akan terekstraksi ke dalam alkohol dan diharapkan akan bereaksi
lebih lanjut membentuk garam metoksida jika menggunakan metanol atau garam
etoksida jika menggunakan etanol. Garam inilah yang akan membantu
mempercepat proses reaksi transesterifikasi minyak nabati.
Telah diketahui, bahwa pengolahan kelapa sawit selain menghasilkan
CPO (Crude Palm Oil) juga menghasilkan produk-produk samping dan limbah,
yang bila tidak diperlakukan dengan benar akan berdampak negatif terhadap
lingkungan. Satu ton tandan buah segar kelapa sawit mengandung 230250 kg
tandan kosong kelapa sawit (TKKS), 130-150 kg serat, 65-65 kg cangkang dan
55-60 kg biji dan 160-200 kg minyak mentah (Fauzi, 2005). Penggunaan tandan
kosong kelapa sawit selama ini adalah sebagai substrat dalam budidaya jamur,
bahan bakar boiler, dan dibakar untuk dimanfaatkan abunya.
Pembuatan biodiesel dari minyak kelapa sawit dengan katalis abu tandan
kosongnya, diharapkan mampu mengatasi berbagai permasalahan, di antaranya
meningkatkan nilai jual minyak kelapa sawit ketika produk kelapa sawit
membanjir di pasaran, menambah khazanah penelitian bahan bakar alternatif, juga
mengoptimalkan penggunaan kelapa sawit tidak hanya produk minyak tetapi juga
limbah yang dihasilkan industri tersebut.
PKMI-1-08-3

H 2C OCOR1 RCOOR1
H 2C OH
+
k a talis
HC OCOR2 3 ROH RCOOR2 + HC OH
+
+
H 2C OCOR3 RCOOR3 H 2C OH

trig lise rid a alk o h o l c a m p u ran a lk il e ster g lise ro l

Gambar 1. Reaksi transesterifikasi molekul minyak

METODE

Preparasi Abu Tandan Kosong Kelapa Sawit

Abu TKKS digerus dengan dengan mortar dan disaring dengan


penyaring mesh 100. Selanjutnya abu dikeringkan dalam oven pada temperatur
110C selama 2 jam. Karakterisasi abu TKKS dilakukan dengan uji AAS dan
titrasi indikator.
Proses Pembuatan biodiesel

Sejumlah tertentu abu tandan kosong kelapa sawit direndam dalam 75


mL metanol teknis dari Brataco Chemika (BM = 32,04 g mol-1) selama 48 jam
pada temperatur kamar. Ekstrak yang diperoleh dicukupkan volumenya sehingga
diperoleh rasio mol metanol/minyak tertentu yang akan digunakan untuk
melakukan reaksi transesterifikasi terhadap 250 g minyak goreng curah (dengan
asumsi bahwa minyak goreng curah merupakan minyak kelapa sawit dengan BM
= 704 g mol-1).
Reaksi transesterifikasi dilakukan pada labu leher tiga kapasitas 500 mL, yang
dilengkapi dengan pemanas listrik, termometer, pengaduk magnet, dan sistem
pendingin, refluks dilakukan pada temperatur kamar. Ditimbang 250 g minyak
goreng curah dan dituang dalam labu leher tiga, kemudian dirangkai dengan
sistem pendingin. Sejumlah tertentu larutan metanol yang telah dipersiapkan
dituang ke dalam labu leher tiga tersebut, dan pengaduk magnet dihidupkan.
Waktu reaksi dicatat sejak pengaduk magnet dihidupkan.
Setelah reaksi berjalan 2 jam, pengadukan dihentikan, campuran yang
terbentuk dituang dalam corong pemisah, dibiarkan terjadi pemisahan selama 2
jam pada temperatur kamar. Lapisan metil ester yang terbentuk dipisahkan dari
lapisan gliserol, selanjutnya didistilasi sampai temperatur 74C untuk
menghilangkan sisa metanol. Untuk menghilangkan sisa katalis dan gliserol dalam
metil ester dilakukan pencucian dengan menggunakan air berulang kali, sampai
diperoleh lapisan air yang jernih. Kemudian metil ester dikeringkan dengan
penambahan Na2SO4 anhidrat p.a (E.Merck).
Prosedur proses transesterifikasi di atas dilakukan dengan variasi berat
abu (rasio mol metanol minyak 6 : 1, waktu reaksi 2 jam, temperatur kamar, dan
kecepatan pengadukan dijaga konstan), variasi rasio mol metanol/minyak (berat
abu terpilih, waktu reaksi 2 jam, temperatur kamar, dan kecepatan pengadukan
dijaga konstan), dan variasi temperatur (berat abu terpilih, waktu reaksi 2 jam,
rasio metanol/minyak terpilih, dan kecepatan pengadukan dijaga konstan).
PKMI-1-08-4

Analisis Biodiesel

Lapisan metil ester yang telah dimurnikan ditimbang, sehingga dapat


diketahui persentase hasil, dengan rumus sebagai berikut.
W
% hasil = 100 X P (1)
WB
Keterangan:
WP = berat produk yang diperoleh, g, dan
WB = berat bahan baku, g.
Komposisi metil ester yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan
GC-MS (Shimadzu QP-5000) jenis pengionan EI (Electron Impact).
Untuk menetapkan kesesuaian biodiesel yang dihasilkan sebagai bahan
bakar alternatif pengganti minyak solar, dilakukan analisis dengan beberapa
metode-metode uji ASTM (ASTM D 1298, ASTM D 97, ASTM D 2500, ASTM
D 93, ASTM D 445, dan ASTM D 482) (Laboratorium Penguji Produksi
Pusdiklat Migas)

HASIL
Berdasarkan analisis kadar logam total dalam abu tandan kosong sawit
(TKKS) dengan AAS, logam kalium merupakan kandungan logam terbesar yang
terdapat dalam abu TKKS sebesar 196,63 g/kg berat abu. Dengan temperatur
pengabuan yang kurang dari 900 C dimungkinkan kalium tersebut sebagai
kalium karbonat. Kalium karbonat mempunyai kelarutan dalam metanol sebesar
16,500 ppm (Anonim, 2006).
Untuk masing-masing berat abu (5; 10; 15; 20; dan 25 g) yang diekstrak
dengan metanol, jumlah kalium yang terekstrak dapat ditampilkan seperti pada
Tabel 1.
Untuk memastikan kalium yang terdapat pada abu TKKS berada dalam
bentuk senyawa kalium karbonat (K2CO3), dapat diketahui melalui uji alkalinitas
dengan metode titrasi indikator. Berdasarkan hasil data pengujian dapat diambil
kesimpulan bahwa anion karbonat (CO3=) merupakan anion yang paling dominan
yang terdapat pada abu TKKS dengan kadar sebesar 196,63 g/kg berat abu.
Dengan demikian dapat dipastikan bahwa kalium yang terdapat dalam abu TKKS
berada dalam bentuk persenyawaan K2CO3 .

Tabel V.1 Kadar kalium dalam ekstrak abu TKKS dengan 75 mL metanol teknis

Berat abu TKKS, g Kalium terekstrasi, mg


5,0075 238,60
10,0179 377,09
15,0180 510,04
20,0234 543,19
25,0120 601,95

Pada penentuan berat abu maksimum, dilakukan variasi berat abu yang
direndam ke dalam 75 mL metanol selama 48 jam pada temperatur kamar, berat
PKMI-1-08-5

abu yang digunakan adalah 5, 10, 15, 20 dan 25 g. Specific gravity digunakan
sebagai indikator untuk melihat berat abu terbaik yang dapat digunakan.

Tabel 2. Specific gravity biodiesel hasil transesterifikasi dengan variasi berat abu

No Berat Abu,g Rasio mol Sp. gr. Obsd. Tempt. Obsd., F Sp. Gr. 60/60F
1 5 6:01
2 10 6:01 0,895 84,5 0,904
3 15 6:01 0,893 83,5 0,901
4 20 6:01 0,890 84,0 0,898
5 25 6:01 0,888 84,5 0,897

Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa biodiesel hasil transesterifikasi dengan


menggunakan katalis abu tandan kosong kelapa sawit sebanyak 10 gram
memberikan specific gravity yang paling tinggi diantara abu dengan berat 15, 20,
dan 25 g. Pada sistem dengan berat abu sebesar 5 g, biodiesel tidak terbentuk
dalam waktu reaksi selama 2 jam karena jumlah kalium yang terekstraksi untuk 5
g berat abu TKKS terlalu sedikit, sehingga katalis tersebut belum efektif
digunakan sebagai katalis dalam reaksi transesterifikasi. Pengukuran Specific
gravity menggunakan alat uji standar ASTM D 1298.
Pengaruh rasio mol metanol-minyak terhadap konversi hasil metil ester
diamati dengan memvariasi rasio mol metanol-minyak 3:1, 6:1, 9:1 dan 12:1.
Rekasi seluruhnya dilakukan pada kondisi tetap yaitu katalis sebesar 15 g per 75
mL metanol, selanjutnya direfluks pada temperatur kamar. Konversi biodiesel
dihitung dengan persamaan (1) sehingga diperoleh hasil seperti disajikan pada
Gambar 2.

90 84.12
80 75.58
66.8 70.36
70
60
Konversi, %

50
40
30
20
10
0
3:01 6:01 9:01 12:01
Rasio molar metanol/minyak

Gambar 2. Rasio minyak-metanol dengan konversi biodiesel

Analisis dengan menggunakan GC dan GC-MS bertujuan untuk


mengetahui komponen-komponen yang terdapat dalam biodiesel serta mengetahui
kuantitas masing-masing komponen tersebut. Persentase dari komponen biodiesel
hasil konversi dari minyak kelapa sawit disajikan dalam Tabel 3.
PKMI-1-08-6

Tabel 3. Komponen biodiesel hasil transesterifikasi dengan variasi mol reaktan

Rasio mol metanol-minyak


Nama 3:01 6:01 9:01 12:01
senyawa Peak % Peak % Peak % Peak %
no no no no
Metil kaprilat 2 7,56 3 9,19 5 8,75 3 6,56
Metil kaprat 3 5,82 5 7,11 6 7,57 4 6,59
Metil laurat 4 8,75 6 8,29 8 8,76 5 9,69
Metil miristat 5 18,15 7 17,36 10 18,25 6 19,39
Meil palmitat 6 50,06 8 47,91 11 46,79 7 48,17
Metil oleat 7 5,99 9 6,31 12 5,97 8 5,99
Metil stearat 8 3,36 10 2,69 13 2,87 9 3,49

Data karakteristik produk biodiesel selengkapnya disajikan pada Tabel 3.


karakteristik biodiesel diuji dengan alat-alat uji standar ASTM D 1298 untuk berat
jenis, ASTM D 97 untuk titik tuang, ASTM D 2500 untuk titik kabut, ASTM D
93 untuk titik nyala, ASTM D 445 untuk viskositas kinematis, dan ASTM D 482
untuk kandungan abu.

Tabel 4. Sifat-sifat fisik biodiesel

Hasil uji Batasan diesel


No Parameter Rasio mol metanol-minyak dan solar
3:01 6:01 9:01 12:01 min maks
Berat jenis pada
1 0,9104 0,9143 0,8721 0,8714 0,840 0,920
60/60 F
Viskositas
2 kinematik pada 16,81 10,68 3,063 2,823 1,6 7,0
100 F, cSt
Viskositas
3 redwood pada 68,08 43,25 12,40 11,43 6,84 28,35
100 F, sec *)
4 Titik tuang, F 55 40 25 25 - 65
5 Titik kabut, F 59 42,8 32 41 - -
Sisa karbon
6 Conradson, 0,0826 0,0836 0,0799 0,0737 - 1
%berat
Titik nyala, cc,
7 C
142 128 112 114 150 -
Kandungan abu,
8 %berat
0,0810 0,0825 0,0757 0,0739 - 0,02

(Trisunaryanti, 2004)
PKMI-1-08-7

PEMBAHASAN
Secara stoikhiometri 1 mol alkohol bereaksi dengan 3 mol trigliserida,
tetapi untuk menggeser reaksi kearah produk, digunakan pereaksi yang berlebih,
dalam hal ini alkohol dibuat berlebih. Sesuai dengan hukum kesetimbangan kimia,
jika reaktan yang berada disebelah kiri panah reaksi ditambah kuantitasnya, maka
kesetimbangan akan bergeser kearah produk yang berada di sebelah kanan panah
reaksi, begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu, ketika reaktan ditambah, maka
produk akan terbentuk hingga terjadi kesetimbangan antara produk dan reaktan,
begitu juga ketika produk yang terbentuk diambil, maka reaktan akan terkonversi
menjadi produk hingga terjadi kesetimbangan.
Dari Gambar 2 dapat dilihat pada rasio mol metanol-minyak kelapa
sawit sebesar 9:1 memberikan hasil konversi biodiesel yang paling besar yaitu
sebesar 84,12%. Peningkatan rasio mol pereaksi diikuti dengan meningkatnya
konversi metil ester yang dihasilkan sampai optimum pada rasio mol 9:1,
kemudian terjadi penurunan konversi metil ester pada perbandingan mol reaktan
12:1. Konversi metil ester yang dihasilkan pada rasio mol 3:1 paling rendah
(66,8%) disebabkan oleh terjadinya reaksi penyabunan terhadap hasil ester yang
terbentuk. Hal yang sama terjadi paada rasio mol 6:1 meskipun sabun yang
terbentuk lebih sedikit. Reaksi penyabunan/saponifikasi ini disebabkan oleh
adanya air.
Meskipun keberadaan air tak dapat dihindari, ternyata pada rasio mol 9:1
dan 12:1 tidak terbentuk padatan sabun. Penggunaan metanol yang berlebihan
semakin memperlambat laju hidrolisis (penyabunan) terhadap ester karena
metanol dalam bentuk ion metoksida berekasi cepat dengan trigliserida
menghasilkan metil ester. Akan tetapi pada rasio mol 9:1 dan 12:1 terbentuk
semacan emulsi yang agak sulit dipisahkan dalam campuran metil ester. Hal ini
disebabkan metanol yang berlebihan melarutkan gliserol yang konsentrasinya
semakin meningkat. Emulsi yang terbentuk pada rasio mol 12:1 lebih sulit
dipisahkan daripada rasio mol 9:1. Dengan demikian penambahan rasio mol
metanol-minyak cenderung menyebabkan emulsi dalam campuran metil ester
sekaligus menyulitkan pengambilan kembali gliserol yang larut dalam metanol.
Emulsi akan hilang dengan pendiaman beberapa lama (2-3 hari) serta melalui
penyaringan.
Penurunan konversi pada rasio 12:1 kemungkinan juga disebabkan oleh
metanol yang berlebihan larut dalam gliserol yang terbentuk. Akibatnya metanol
yang bereaksi dengan trigliserida untuk membentuk metil ester semakin
berkurang. Selain itu dengan adanya peningkatan hasil ester dan gliserol yang
terus terbentuk selama reaksi berlangsung mengakibatkan reaksi dapat berbalik
arah membentuk senyawa antara seperti monogliserida. Hal ini sebagaimana
dinyatakan oleh Krisnangkura dan Simamaharrnnop dalam Encinar et al. (2002)
bahwa keberadaan gliserol dapat menyebabkan kesetimbangan kembali bergeser
ke arah kiri (reaktan) sehingga mengurangi hasil ester. Peningkatan konversi metil
ester seiring penambahan mol metanol juga berkaitan dengan distribusi katalis
antara lapisan ester dan lapisan gliserol. Pada transesterifikasi minyak kelapa
dengan rasio mol 3:1 dimungkinkan katalis lebih tertarik ke lapisan gliserol
sebagaimana yang dinyatakan oleh Junek dan Mittel (dalam Encinar et al, 2002)
bahwa untuk rasio molar metanol/minyak 3:1, katalis lebih tertarik ke lapisan
gliserin. Oleh karenanya katalis tidak cukup tersedia pada lapisan ester, yang
PKMI-1-08-8

menyebabkan reaksi transesterifikasi tidak berjalan sempurna. Dengan kata lain


tidak seluruh trigliserida bereaksi membentuk metil ester. Selanjutnya menurut
Junek dan Mittel, metanol yang berlebihan mengakibatkan distribusi katalis
semakin merata di kedua lapisan ester dan gliserol. Dengan didasari oleh
pernyataan tersebut maka pada eksperimen ini ditunjukkan bawa penggunaan
metanol berlebih yang menyebabkan distribusi katalis semakin merata pada
lapisan ester dan lapisan gliserol ternyata diikuti oleh peningkatan konversi metil
ester sampai batasan optimun pada rasio mol metanol-minyak 9:1.
Pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa metil palmitat merupakan komponen
utama penyusun biodiesel dengan persentase paling besar, karena asam palmitat
pada trigliserida (minyak) kelapa sawit merupakan komponen terbesar, pada
konversi biodiesel dari perbandingan 9:1 diperoleh metil palmitat sebesar 46,79%,
kemudian diikuti dengan metil laurat sebagai komponen kedua terbanyak sebesar
18,25% dan sisanya adalah metil ester yang berasal dari asam-asam lemak lain
penyusun minyak kelapa sawit, yaitu metil kaprilat, metil kaprat, metil miristat,
metil oleat dan metil stearat.
Untuk mengetahui kualitas biodiesel yang dihasilkan maka dapat
diketahui dari data pengujian karakteristik biodiesel seperti yang tercantum dalam
tabel 4. Penambahan mol metanol dalam reaksi transesterifikasi minyak kelapa
sawit disertai dengan penurunan viskositas, dari viskositas minyak murni sekitar
30 cSt turun menjadi 3,063 cSt untuk biodiesel dengan perbandingan reaktan 9:1.
Penambahan mol metanol menyebabkan biodiesel yang dihasilkan semakin murni
karena semakin banyak jumlah trigliserida yang terkonversi menjadi metil ester.
Campuran metil ester masih dimungkinkan mengandung trigliserida yang tidak
bereaksi, sisa minyak atau senyawa hidrokarbon rantai panjang. Dari keempat
variasi, hanya biodiesel dengan rasio mol pereaksi 3:1 dengan viskositas yang
tidak masuk spesifikasi karena masih melampaui batas maksimum yang diijinkan,
dan biodiesel dengan rasio mol 6:1 berada sedikit di atas nilai viskositas yang
telah ditentukan.
Titik tuang berkaitan erat dengan viskositas karena semakin rendah
viskositas maka semakin mudah biodiesel untuk mengalir pada kondisi tertentu.
Nilai titik tuang biodiesel semuanya masuk spesifikasi karena masih di bawah 65
C. Nilai titik tuang biodiesel 9:1 dan 12:1 adalah sama karena keduanya memiliki
viskositas yang hampir sama. Karakter fisik biodiesel lain yang diamati adalah
berat jenis (spesific gravity) pada 60/60 F. Berat jenis biodiesel naik dari rasio
mol 3:1 ke 6:1 dan kemudian turun sampai rasio mol 12:1. Karakter titik nyala
biodiesel seluruhnya masuk spesifikasi bahan bakar diesel standar nilai rata-rata di
atas 65.5 F. Karakter ini mempengaruhi keamanan bahan bakar untuk disimpan
pada kondisi temperatur tertentu. Semakin tinggi nilai titik nyala, maka bahan
bakar semakin aman untuk disimpan pada kondisi temperatur yang relatif rendah.
Titik nyala biodiesel yang dihasilkan cukup baik yaitu di atas 100 C.
Karakter sisa karbon Conradson dari seluruh biodiesel yang dihasilkan
cukup baik karena masih di bawah batas maksimum bahan bakar diesel sebesar
0,1. Karakter ini berhubungan dengan parameter kebersihan biodiesel, yaitu
kecenderungan untuk meninggalkan deposit karbon pada mesin setelah
pembakara. Biodiesel memilik karakter sisa karbon yang rendah, sehingga dapat
dikatakan bahwa pembakaran biodiesel cukup sempurna tanpa banyak
PKMI-1-08-9

meninggalkan residu berupa arang/karbon yang dapat mengganggu operasi mesin


diesel.
Berbeda dengan karakter fisik biodiesel lainnya, kadar abu dari biodiesel
yang dihasilkan ternyata tidak memenuhi spesifikasi bahan bakar diesel standar.
Kadar abu yang tinggi pada biodiesel ini dapat disebabkan oleh adanya kotoran-
kotoran yang memang sejak awal telah terkandung dalam minyak kelapa sawit.
Kadar abu yang tinggi dapat mengganggu operasi mesin diesel.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis logam-logam dengan AAS dalam abu TKKS,
logam kalium merupakan komponen terbesar (29,8 % massa). Logam kalium
dalam abu TKKS dimungkinkan berada dalam bentuk senyawa karbonat. Hal ini
dibuktikan dengan uji alkalinitas terhadap abu TKKS. Dengan sifat basa yang
dimiliki kalium karbonat maka abu TKKS mempunyai potensi untuk digunakan
sebagai sumber katalis basa dalam pembuatan biodiesel. Penambahan rasio mol
metanol terhadap minyak (3:1, 6:1, 9:1 dan 12:1) meningkatkan konversi
Biodiesel. Besarnya konversi tersebut adalah rasio mol 3:1 = 66,8% ; 6:1 =
70,36% ; 9:1 = 84,12% dan 12:1 = 75,58%. Reaksi dengan rasio mol metanol-
minyak 9:1 merupakan kondisi optimun dalam pembuatan biodiesel karena
menghasilkan konversi biodiesel tertinggi dan memiliki karakter fisik yang paling
sesuai dengan spesifikasi bahan bakar diesel standar.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2006, Potassium Carbonate Handbook, http://www.armandroducts.com,
13 Februari 2006.
Anonim, 2003, National Biodiesel board, website, www.biodiesel.org
Encinar, J. M., Gonzales, J.F., Rodriguez, J.J., Tejedor, A., 2002, Biodiesel Fuels
from Vegetable Oils : Transesterefication of Cynara cardunlus L. Oils
with Ethanol, Energy & Fuels. J.A.C.S.,16
Fauzi, Y., 2005, Kelapa Sawit, Budi Daya Pemanfaatan Hasil dan Limbah,
Analisis Usaha dan Pemasaran, edisi revisi, Penebar Swadaya, Jakarta
Juwita, A., 2005, Kajian Pengaruh Rasio Mol Metanol Minyak Kelapa Terhadap
Kuantitas dan Kualitas Biodiesel Hasil Transesterifikasi Minyak Kelapa
dengan katalis NaOH, Skripsi, Jurusan Kimia, FMIPA UGM, Yogyakarta
Trisunaryanti, W., Yahya, M.U., Julia, D., 2004, Kajian Pengaruh Temperatur
dan Persen Berat Katalis KOH Terhadap Hasil Transesterifikasi Minyak
Kelapa Dalam Media Metanol pada Pembuatan Biodiesel, Prosiding
Seminar Nasional Kimia XV, Yogyakarta
PKMI-1-09-1

KOMUNIKASI POLITIK ELIT NAHDLATUL ULAMA DI MEDIA


Eka Nada Shofa Alkhajar, Anastasia Lilin Yuliantina, Bagus Sandi Tratama
Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Sebelas Maret, Surakarta

ABSTRAK
Sebagai organisasi Islam terbesar di dunia, sangatlah beralasan jika setiap gerak
langkah organisasi Nahdlatul Ulama (NU) mendapat perhatian dari media
massa. Namun, dinamika NU dalam muktamar ke-31 di Boyolali mempunyai
perbedaan dibanding muktamar-mukatmar sebelumnya. Mengingat muktamar
kali ini telah menyeret elit NU ke dalam pusaran konflik. Puncaknya adalah
terpolarisasinya kekuatan menjadi dua kubu. Yaitu kubu NU struktural pimpinan
Hasyim Muzadi di satu sisi dan NU kultural di bawah kendali Abdurrahman
Wahid (Gus Dur) di sisi yang berlawanan. Menariknya, kedua kubu sama-sama
merasa didukung poros kiai sebagai pemegang saham NU terbesar. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana Harian Kompas dan Harian
Republika memaparkan komunikasi politik para elit NU pada masa pelaksanaan
muktamar ke-31 NU dan mengetahui bagaimana framing kedua media tadi dalam
mengambil sudut pandang (angle) pemberitaan terhadap komunikasi elit NU di
media. Dengan menggunakan teknik analisis framing, peneliti mencoba
menganalisis permasalahan melalui teks berita dan wawancara mendalam (in-
depth interview) dengan praktisi media yang terlibat dalam liputan muktamar
NU. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah wacana konflik elit NU dalam
muktamar ke-31 NU dianggap penting oleh Kompas dan Republika. Terbukti,
kedua harian nasional tersebut memberikan halaman khusus untuk setiap berita
muktamar NU. Hal itu dibuktikan lagi melalui hasil wawancara penulis terhadap
praktisi media dari Kompas dan Republika konflik elit NU memiliki nilai berita
(news value) yang tinggi. Karena dianggap penting, Kompas dan Republika
memiliki kebijakan khusus terhadap isu ini. Kebijakan khusus itu mempunyai
pengaruh terhadap frame pemberitaan di masing-masing media. Kompas
memberikan apresiasi yang tinggi kepada Gus Dur dan kelompok kulturalnya
dibandingkan Hasyim Muzadi. Sebaliknya, Republika memberikan apresiasi lebih
tinggi kepada Hasyim Muzadi dan kelompok strukturalnya dibandingkan Gus
Dur.

Kata kunci : komunikasi, politik, pemimpin NU

PENDAHULUAN
Indonesia adalah negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Melihat
Islam tentu tidak dapat dipisahkan dengan Nahdlatul Ulama (NU) dengan warga
lebih dari empat puluh juta menjadikannya sebagai organisasi Islam terbesar di
dunia, sangatlah beralasan jika setiap gerak langkah organisasi Nahdlatul Ulama
(NU) mendapat perhatian dari media massa. Namun, dinamika NU dalam
muktamar ke-31 di Boyolali mempunyai perbedaan dibanding muktamar-
muktamar sebelumnya. Mengingat muktamar kali ini telah menyeret elit NU ke
dalam pusaran konflik. Puncaknya adalah terpolarisasinya kekuatan menjadi dua
kubu. Yaitu kubu NU struktural pimpinan Hasyim Muzadi dan kubu NU kultural
PKMI-1-09-2

di bawah kendali Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Menariknya, kedua kubu sama-
sama merasa didukung pemegang saham NU terbesar yakni poros kiai.
Permasalahan yang muncul adalah adanya perpecahan internal di tubuh
NU. Pecahnya nahdliyin ke dalam dua kubu besar : NU struktural pro Hasyim di
satu kubu dan NU kultural pro Gus Dur di kubu lain. Meski telah terbiasa dengan
kultur berbeda pendapat, tetapi perpecahan NU kali ini telah mencapai tahap yang
mengancam eksistensi organisasi. Sumber konflik dua kubu besar ini adalah
konflik dua orang yang masing-masing memiliki pengaruh besar di NU yaitu KH
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Hasyim Muzadi.
Komunikasi politik diantara elit NU selama menjelang dan pada saat
pelaksanaan muktamar di atas diliput dan diberitakan oleh media sehingga
memunculkan realitas baru yaitu realitas simbolik (symbolic reality) tentang
Hasyim Muzadi yang mendapat dukungan NU struktural dan Gus Dur yang
mewakili kelompok NU kultural. Citra kelompok dan tokoh NU yang merebutkan
pengaruh tidak saja dipengaruhi oleh realitas objektif dari para pelaku sosial
politiknya, tetapi juga dipengaruhi oleh penggambaran yang dilakukan oleh
media.
Hampir dalam setiap penyelenggaraan muktamar, konggres, atau
pertemuan politik lainnya media di satu sisi, menjadi tumpuan masyarakat dalam
hal penyebarluasan informasi dan membantu menciptakan situasi yang kondusif.
Di sini pers dituntut perlunya kejujuran (honesty), akurasi (accuracy), dan
keseimbangan (fairness).
Pada muktamar ke-31 NU yang di dalam sistemnya memberikan
kesempatan lebih luas kepada seluruh warga NU untuk ikut mengamati dan
berpartisipasi, pers dituntut bekerja tidak hanya lebih keras, tetapi juga lebih
profesional. Muktamar kali ini memiliki potensi konflik yang lebih besar sehingga
pers bekerja dalam situasi yang lebih rentan.
Dengan demikian muncul pertanyaan bagaimana cara Harian Kompas dan
Republika memaparkan komunikasi politik NU dan bagaimana framing yang
dilakukan mengingat pemilihan Calon rois aam dan ketua PBNU tertentu dengan
visi-misi tertentu harus diberitakan seperti apa, angle liputan apa dan harus ditulis
bagaimana ketika perbedaan begitu tajam, dan di mana posisi yang harus diambil
pers ketika terjadi konflik menjadi hal yang sangat esensial dalam setiap
pemberitaan.
Besarnya tuntutan publik atas media dengan keterbatasan sumber daya
membuat posisi pers dalam upayanya memuaskan semua pihak menjadi tidak
mungkin. Pers juga memiliki keterbatasan ruang. Padahal berbagai aktivitas
politik pada masa muktamar ke-31 NU cukup banyak dan berlangsung dalam
waktu yang relatif bersamaan. Keterbatasan-keterbatasan ini, ditambah dengan
orientasi politik media (ideologi), membuat pers harus memilih. Pers akan
menyeleksi, menonjolkan peristiwa tertentu, dan mengabaikan peristiwa yang
lain.
Dalam situasi demikian media sudah tidak dapat lagi sebagai saluran yang
pasif, netral, dan sekedar menjadi kumpulan medium yang melaporkan informasi.
Akan tetapi, pers telah menjadi arena sosial atau panggung publik yaitu suatu
arena dimana berbagai kelompok berusaha menampilkan definisi situasi serta
definisi realitas sosial menurut versi mereka sendiri (Nugroho, 1991 : viii). Dalam
PKMI-1-09-3

kondisi serba sulit dan penuh kemustahilan pers akan cenderung langkah-langkah
yang realistis dan pragmatis.
Media tentu tidak dapat dimaknai secara harfiah sebagai suatu institusi
yang hanya menyalurkan realitas ke dalam bentuk teks. Karena, media memiliki
realitas sendiri, memiliki kaidah-kaidah sendiri, dan memiliki kesepakatan-
kesepakatan proses yang dilembagakan sendiri. Bahkan orang-orang dalam
struktur internal media sangat mungkin memiliki agenda, atau minimal perspektif
sendiri. Hal itu menjadikan kemasan peristiwa dalam bentuk berita dan isu
tertentu dibingkai menurut perspektif mereka sendiri.
Institusi media adalah kumpulan banyak orang yang memiliki beragam
realitas subjektif yang bergabung dalam satu komponen. Hasilnya realitas objektif
media tidak lebih dari hasil sintesa dari proses dialektika realitas subjektif masing-
masing aktor di balik media. Hasil proses itu kemudian menerpa kembali setiap
awak media massa dan mempengaruhi realitas subjektif masing-masing.
Dinamika internal itulah yang bersifat dinamis itulah yang menjadi awal realitas
simbolik media.
Lepas dari ideologi dan agenda politik, media pada dasarnya adalah
institusi ekonomi. Pengusaha media sudah tidak bisa lagi mengandalkan idealisme
dalam mengelola perusahaan, tetapi harus meningkatkannya menjadi industri
(Djuroto, 2000 : 5). Hingga lahir era industrialisasi media yang artinya, mau tidak
mau agar bisa bertahan, pers harus dikelola dengan profit oriented. Meski tidak
sepenuhnya, arus kepentingan ekonomi dan ideologi pasar menjadikan pilihan dan
ruang manuver para aktor media menjadi terbatas. Dalam kondisi ini media hanya
sebatas meliput konflik tanpa memperhatikan konteks karena acuan utamanya
adalah oplah.
Komunikasi politik elit NU menjadi wacana yang berskala nasional. Hal
ini tidak lepas dari peran media massa yang dalam waktu singkat menyebarkan
berita-berita kepada khalayak luas. Selanjutnya, khalayak sering terpengaruh oleh
sisi-sisi yang ditonjolkan oleh media dan mengesampingkan fakta yang tidak
ditampilkan. Kondisi ini akan mempengaruhi kognisi dan persepsi khalayak
terhadap gagasan, komunikasi, dan kesimpulan yang diambil. Persepsi tersebut
akan menimbulkan rentang yang cukup lebar bagi posisi khalayak dalam
mengambil sikap terhadap gagasan, konflik, dan komunikasi politik yang
dibangun (Zen, 2004 : 4).

METODE PENELITIAN
Paradigma berguna untuk memandu peneliti selama melakukan proses
penelitian. Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah paradigma
konstruksionisme maka seluruh elemennya : ontologi, epistemologi, dan
aksiologi harus menggunakan ruh konstruksionis.
Asumsi ontologis pada paradigma konstruktivisme adalah besifat relatif.
Artinya, realitas sosial dari suatu masalah yang diteliti merupakan realitas sosial
buatan yang memiliki unsur relativitas yang cukup tinggi dan berlaku sesuai
konteks spesifik yang dinilai relevan oleh pelaku sosial. Asumsi epistemologis
dalam pendekatan ini bersifat subjektif-dialektikal. Artinya pemahaman atau
temuan suatu realitas yang terdapat di dalam teks media merupakan hasil dari
penalaran peneliti secara subjektif dan sebagai hasil kreatif peneliti dalam
membentuk realitas. Asumsi aksiologis dalam paradigma ini adalah peneliti
PKMI-1-09-4

bertindak sebagai passionate participant, yakni berperan sebagai fasilitator yang


menjembatani keragaman subjektivitas pelaku sosial.
Analisis framing memiliki implikasi penting bagi komunikasi politik.
Framing menuntut perhatian terhadap beberapa aspek dari realitas dengan
mengabaikan elemen-elemen lainnya yang memungkinkan khalayak memiliki
dukungan berbeda.
Dari sejumlah item berita yang terdapat pada periode penelitian, yaitu
selama November-Desember 2004, terdapat lima berita pada masing-masing surat
kabar yang berkaitan dengan tema yang diangkat penulis.
Teknik pengumpulan data pada penelitian framing bersifat multilevel
karena akan dibagi menjadi dua level. Pertama, pengumpulan data pada level teks
media dan kedua, pengumpulan data pada level manajemen redaksional (produksi
berita) yang dilakukan oleh bagian redaksional dari masing-masing institusi
suratkabar (Birowo, 2004 : 186-187).
Dengan teknik analisis framing, peneliti mencoba menganalisis
permasalahan melalui teks berita dan wawancara mendalam (in-depth interview)
dengan praktisi media yang terlibat dalam liputan muktamar NU. Wawancara
dilakukan dengan asumsi bahwa pengalaman dan pengetahuan individu akan
mengendap dan mengkristal kemudian memberikan kemampuan bagi individu
yang bersangkutan untuk memetakan, menerima, mengidentifikasi, dan
memberikan label pada informasi yang diterima (Goffman dalam Agus Sudibyo,
2001)
Subyek penelitian wawancara ini sebanyak lima orang dengan rincian dua
wartawan Kompas dan tiga wartawan Republika yang melakukan liputan
langsung. Dari sini diharapkan informan benar-benar memiliki kompetensi dan
relevansi dengan permasalahan yang diangkat.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Wartawan Kompas dalam tataran implementasinya lebih mengedepankan
aspek humanisme transedental sesuai dengan visi misi yang diamanatkan redaksi.
Bentuknya berupa upaya untuk tidak menyakiti siapapun dalam setiap karya
jurnalistiknya. Mengingat melukai perasaan satu orang saja berarti mengingkari
nilai-nilai kemanusiaan yang ditekankan oleh Kompas. Awak media juga melihat
bahwa Kompas hidup di masyarakat yang sedemikian plural. Oleh karena itu
langkah untuk mengembangkan semangat toleransi dalam pluralitas harus
dijunjung tinggi.
Hal ini diungkapkan oleh redaktur Kompas, Nugroho sebagai berikut :
Berusaha agar berita-berita kita sesuai dengan visi dan misi Kompas yaitu
memberi pencerahan bagi masyarakat Indonesia agar lebih bermartabat,
demokratis dan kemanusiaan yang transendental. Kemanusiaan di tempat kita itu
namanya humanisme transendental. Berusaha untuk menyakiti orang karena
kemanusiaan itu benar-benar kemanusiaan, karena ketika satu orang pun kita tulis
itu adalah kemanusiaannya dia, kita berusaha tidak menyakiti, mengeluarkan
kalimat yang vulgar karena basisnya kemanusiaan memang seperti itu dimana
saja. (Wawancara dengan Nugroho, koordinator liputan Muktamar NU Kompas,
28 April 2005).
PKMI-1-09-5

Di lain pihak, wartawan Republika pun memahami betul bahwa medianya


bergerak untuk menyuarakan kepentingan Islam. Konsekuensinya meski tampil
sebagai koran umum, Republika lebih menitikberatkan untuk membela
kepentingan Islam. Bentuknya bisa diterjemahkan dalam semua aspek
pembahasan yang kemudian dikaitkan dengan Islam. Nilai aspek Islam dalam
politik, nilai Islam dalam praktik ekonomi, nilai Islam dalam pemanfaatan iptek,
nilai Islam dalam menjaga kesehatan jasmani rohani, aplikasi nilai budaya Islam
dan aspek kehidupan lainnya. Hasilnya dapat terlihat tampilan Republika kental
sebagai koran Islam.
Hal di atas diakui oleh redaktur dan wartawan Republika dalam proses
wawancara dengan penulis sebagai berikut :
Visinya kita koran Islam, berbasiskan Islam, dan memang lebih
menyuarakan suara umat Islam. Hal itu lebih menonjol. Sekalipun kita tetap koran
umum, tetapi lebih menitikberatkan pada menyuarakan aspirasi umat Islam.
(Wawancara dengan Eko Widiyanto, Redaktur berita Muktamar NU di
Republika, 9 Maret 2005).

Kedua media, baik Kompas maupun Republika memandang NU sebagai


organisasi yang memiliki news value yang tinggi. Setiap langkah, sikap, konflik,
dan pernak-pernik organisasi ini selalu menarik untuk diberitakan. Selain karena
jumlah massanya yang besar, bahkan menjadi yang terbesar se-dunia untuk ormas
Islam, NU juga memiliki sikap yang moderat dan inklusif. NU memiliki cara
penyelesaian konflik khas yang bisa dijadikan rujukan elemen lain bangsa ini. Hal
itu sesuai yang dikatakan Redaktur Kompas yang juga menjadi koordinator
Kompas untuk liputan muktamar NU yang lalu, Nugroho, sebagai berikut :
Kita selalu memberi perhatian khusus, perhatian besar terhadap NU.
(Alasannya apa?). Pertama, karena NU itu empat puluh juta (anggotanya), itu 25
persen dari penduduk kita dan empat puluh juta itu penyebarannya merata, di
Sumatera, di Jawa. Jadi dia (NU) bagian yang sangat inheren dari bangsa ini.
Kedua, penyikapan kita ini sangat berkepentingan untuk juga mendukung NU
yang lewat ajaran ahlussunnah wal jamaah, ajaran-ajarannya sangat menghargai
pluralisme. Ketika mendukung hal itu karena kita sadar Indonesia yang sangat
beragam. Walaupun kita tidak menihilkan organisasi-organisasi yang sektarian,
karena bagaimanapun kita media. Kita tidak menghilangkan fakta. Kita mengakui
bahwa itu fakta yang ada, ada Laskar Jihad, organisasi-organisasi, Hizbut Tahrir.
Itu kita tidak mengingkari. Tapi kalau penyikapan kita memberi perhatian kepada
NU memang karena NU ini menghargai pluralisme. (Wawancara dengan
Nugroho, koordinator liputan Muktamar NU Kompas, 28 April 2005)

Pengakuan yang sama juga diungkap oleh Republika melalui salah


seorang wartawannya sebagai berikut :
Sekarang malah lagi mendekati kalangan NU karena NU kan merupakan
kekuatan Islam yang sangat besar. Lagi mengarah ke sana. Dan kebetulan orang
Republika juga banyak yang berlatarbelakang NU, nahdliyin. Seperti wapemred-
nya juga orang NU, Mas Ichwanul Kirom. Beberapa wartawan juga orang NU.
Atas dasar itu, Pak Hasyim Muzadi itu masih menulis kolom di Republika setiap
minggu, ya bergantian. Sejak beberapa tahun ini dia rutin menulis kolom di
Republika. Berita-berita NU sekarang sering dimuat. Makanya muktamar NU itu
PKMI-1-09-6

diberi porsi besar. Satu halaman penuh di halaman sembilan dan di halaman
depan. Isu-isu yang sangat penting dimasukkan di halaman depan, porsinya
memang sangat besar. (Wawancara dengan Anjar Fahmiarto, 26 Maret 2005 ).

Dari komentar dua wartawan di atas memang ada kesamaan diantara


Kompas dan Republika dalam melihat NU sebagai organisasi yang menarik untuk
diberitakan. Akan tetapi kalau kita mencermati lebih lanjut, argumentasi dasar
yang digunakan kedua media tersebut berbeda. Kompas melihat NU penting
karena NU dianggap sebagai organisasi yang mampu menjaga nilai-nilai
pluralitas. Meski jumlahnya mayoritas tetap menghormati hak-hak minoritas.
Langkah NU selalu inklusif dan toleran terhadap keberagaman, termasuk
keberagaman beragama.
Dengan alasan yang berbeda, Republika juga menganggap NU sebagai
organisasi yang penting. Sebagai koran yang bervisi Islam, maka segmen
pembaca terbesarnya adalah umat Islam. Kalau berbicara umat Islam di Indonesia,
maka NU adalah ormas Islam dengan massa terbesar. Maka memberitakan
kepentingan dan gerak NU berarti juga memberitakan sebagian besar kepentingan
dan gerak umat Islam Indonesia. Atas alasan ini cukup beralasan jika Republika
juga memberikan perhatian lebih dalam aktivitas organisasi NU dalam muktamar
ke-31 di Boyolali.
Republika memiliki catatan sejarah khusus dalam konflik NU. Dalam
muktamar ke-29 tahun 1994 di Cipasung, Republika sempat berpihak kepada
salah satu calon tertentu dan sempat terlibat masuk dalam pusaran konflik.
Kedekatan Republika dengan pemerintah yang berkuasa saat itu, menjadikan
pemberitaan harian ini lebih membela calon yang didukung pemerintah saat itu.
Hal itu wajar karena selama masa orde baru NU dianggap menjadi organisasi
yang pheriperial dan bersikap kritis terhadap penguasa. Dari kasus itu, Republika
akhirnya berbenah dan mulai ada kesepahaman bersama antara awak media,
manajemen, dan direksi untuk tidak membenturkan kelompok Islam satu dengan
yang lain.

KESIMPULAN
Wacana konflik elit NU dalam muktamar ke-31 NU dianggap penting
oleh media, khususnya Kompas dan Republika. Terbukti, kedua harian nasional
tersebut memberikan halaman khusus untuk berita muktamar NU. Hal itu
dibuktikan lagi hasil wawancara penulis terhadap praktisi media dari Kompas dan
Republika konflik elit NU memiliki news value yang tinggi.
Karena dianggap penting, Kompas dan Republika memiliki kebijakan
khusus terhadap isu konflik elit politik NU dalam muktamar ke-31 NU. Kebijakan
khusus itu mempunyai pengaruh terhadap frame pemberitaan di masing-masing
media.
Kompas menilai isu konflik elit NU dalam muktamar penting karena dua
hal. Pertama, massa NU jumlahnya besar tetapi sangat mengedepankan
pluralisme dan menghormati kaum minoritas. Hal ini sesuai dengan misi Kompas.
Kedua, ada yang patut diteladani dari cara khas NU dalam menyelesaikan
masalahnya. Menurut Kompas, NU tidak pernah menyelesaikan masalahnya
dengan kekerasan dan nantinya akan berakhir dengan bijaksana.
PKMI-1-09-7

Republika memandang isu konflik elit NU dalam muktamar penting


karena media ini memiliki misi Islam. Mengingat massa Islam terbesar di
Indonesia berada di bawah payung organisasi NU, maka setiap gerak roda
organisasi NU layak untuk diberitakan di Republika.
Kompas memberikan apresiasi yang tinggi kepada Gus Dur dan kelompok
kultural dibanding Hasyim Muzadi. Hal ini terlihat dari pemberitaan dan hasil
wawancara penulis kepada praktisi media Kompas.
Sebaliknya, Republika memberikan apresiasi yang lebih tinggi kepada
Hasyim Muzadi. Hal ini juga terlihat dari pemberitaan dan hasil wawancara
penulis kepada praktisi media Republika. Faktor yang mempengaruhi hal ini
adalah Republika pernah memiliki sejarah yang kurang baik terhadap Gus Dur
dan kedekatan Republika terhadap sosok Hasyim Muzadi sebagai pengisi salah
satu rubrik di harian ini.
Metode wawancara mendalam (in-depth interview) lebih memperjelas
praktik framing yang dilakukan oleh media. Dengan melakukan wawancara
mendalam kepada praktisi media peneliti akan mengetahui lebih mendalam alur
lahirnya berita dari sebuah wacana menjadi berita, termasuk kecenderungan-
kecenderungan yang menyertainya.
Dalam menggali dan mengkonstruksi sebuah wacana di media cetak
dengan menggunakan analisis framing belum cukup menggunakan satu model dan
satu teori saja. Pendekatan dengan model dan teori lain akan lebih memperkaya
analisis bagi penentuan kedekatan antara realitas obyektif dan realitas semu.

DAFTAR PUSTAKA
Birowo, Antonius. (2004). Metode Penelitian Komunikasi Teori dan Aplikasi,
Yogyakarta, Gitanyali.
Djuroto, Totok. (2000). Manajemen Penerbitan Pers, Bandung, Rosda.
Nugroho, Bimo, Eriyanto, and Sudarsis F. (1991). Politik Media Mengemas
Berita, Jakarta, ISAI.
Sudibyo, Agus. (2001). Politik Media dan Pertarungan Wacana, Yogyakarta,
LkiS.
Zen, Fathurin. (2004). NU Politik; Analisis Wacana Media, Yogyakarta, LKiS.
PMI-1-10-1

SELULOSA CROSS AND BEVAN TANGKAI ECENG GONDOK


SEBAGAI BAHAN BAKU PAPAN PARTIKEL

Willy Saputra, Dedy Dwi Prasetyo


Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya

ABSTRAK
Eceng gondok termasuk tumbuhan air yang sangat berguna jika populasinya
dapat dikendalikan. Sebaliknya, eceng gondok juga dapat mengganggu
lingkungan dan aktivitas manusia jika populasinya tidak dapat dikendalikan.
Pertumbuhan eceng gondok yang sangat cepat memerlukan penanganan yang
serius. Kandungan selulosa Cross and Bevan eceng gondok sebesar 64,51% dari
berat total (Joedodibroto, 1983) memungkinkan eceng gondok dapat dipakai
sebagai bahan baku pembuatan papan partikel. Pemanfaatan eceng gondok
sebagai bahan baku pembuatan papan partikel merupakan salah satu alternatif
manfaat yang memberikan nilai tambah eceng gondok bagi masyarakat. Dengan
bertambahnya cara pemanfaatan eceng gondok maka populasinya diharapkan
dapat dikontrol, sehingga permasalahan yang timbul sebagaimana yang
dipaparkan sebelumnya dapat diatasi. Penlitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh komposisi resin dan ukuran partikel terhadap mutu papan berdasarkan
standar SII 1983 dan SNI 1996 pada pembuatan papan partikel dari selulosa
Cross and Bevan tangkai eceng gondok dan menganalisa prospek ekonominya.
Persiapan penelitian dimulai dengan mengeringkan batang batang eceng gondok,
memotongnya sepanjang 1 cm kemudian menggilingnya. Setelah itu dilakukan
pemisahan partikel yang berukuran lebih dari 20 mesh dankurang dari 20 mesh.
Selanjutnya mengoven partikel eceng gondok tersebut pada suhu 105 oC hingga
kadar airnya 2-8%. Tahap akhir dari persiapan bahan ini adalah mempersiapkan
perekat dengan campuran resin, air, kanji, dan hardener dengan perbandingan
100:80:50:6

Kata kunci:

PENDAHULUAN
Eceng gondok (Eichhornia crassipes) termasuk tumbuhan air yang
menyebar ke seluruh dunia dan tumbuh pada daerah dengan ketinggian berkisar
antara 0-1600 m di atas permukaan laut, pada iklim tropis dan sub tropis. Eceng
gondok termasuk tumbuhan air yang sangat berguna jika populasinya dapat
dikendalikan. Sebaliknya, eceng gondok juga dapat mengganggu lingkungan dan
aktivitas manusia jika populasinya tidak dapat dikendalikan. Eceng gondok sangat
sulit dikendalikan populasinya karena pertumbuhannya sangat cepat dan daya
tahan hidupnya tinggi. Pertumbuhan eceng gondok yang sangat cepat
memerlukan penanganan yang serius. Pemberantasan secara mekanik, kimia, dan
biologi di beberapa negara tidak pernah memberikan hasil yang optimal. Bahkan
karena hal ini akan berdampak negatif (Amin dkk, 2002). Indonesia mempunyai
lebih dari satu juta hektar danau alami dan danau buatan. Banyak dari perairan
tersebut yang ditumbuhi eceng gondok sebagai gulma, terutama di Jawa,
PMI-1-10-2

Kalimantan, dan Sumatera. Bahkan Danau Sentani di Irian Jaya sebagian


permukaannya telah tertutup eceng gondok (Tjondronegoro dan Pantjawarni,
1999). Hal ini memerlukan penanganan yang serius agar populasi eceng gondok
dapat dikendalikan.
Meningkatnya jumlah penduduk menyebabkan kebutuhan kayu
meningkat. Kebutuhan kayu untuk industri perkayuan di Indonesia diperkirakan
sebesar 70 juta m3 per tahun dengan kenaikan rata-rata sebesar 14,2% pertahun.
Produksi kayu bulat diperkirakan hanya sebesar 25 juta m3 per tahun, dengan
demikian terjadi defisit sebesar 45 juta m3 (Priyono, 2001 dalam Setyawati,
2004). Hal ini menunjukkan bahwa daya dukung hutan sudah tidak dapat
memenuhi kebutuhan kayu. Keadaan ini diperparah oleh adanya konversi hutan
alam menjadi lahan pertanian, perladangan berpindah, kebakaran hutan, praktek
pemanenan yang tidak efisien dan pengembangan infrastruktur lain yang diikuti
oleh perambahan hutan. Kondisi ini menuntut penggunaan kayu secara efisien dan
bijaksana dan pengembangan produk-produk inovatif bahan lain pengganti kayu.
Salah satu upaya untuk meningkatkan efisiensi penggunaan kayu dapat
dilakukan dengan teknik laminasi. Dengan teknik laminasi, potongan-potongan
kayu atau bahan berligno-selulosa lainnya yang relatif kecil ukurannya dipadukan
untuk memperoleh lembaran papan kayu yang lebih luas sebelum digunakan
sebagai bahan konstruksi. Produk laminasi yang ada antara lain berupa papan
serat, papan partikel, kayu lapis, serta produk-produk perekatan lainnya (Fakhri,
2002).
Kandungan selulosa Cross and Bevan eceng gondok sebesar 64,51% dari
berat total (Joedodibroto, 1983) memungkinkan eceng gondok dapat dipakai
sebagai bahan baku pembuatan papan partikel. Kandungan ekstraktifnya rendah,
yaitu sekitar 6% dari berat total, sehingga tidak mengganggu perekatan.
Pemanfaatan eceng gondok sebagai bahan baku pembuatan papan partikel
merupakan salah satu alternatif manfaat yang memberikan nilai tambah eceng
gondok bagi masyarakat. Dengan bertambahnya cara pemanfaatan eceng gondok
maka populasinya diharapkan dapat dikontrol, sehingga permasalahan yang
timbul sebagaimana yang dipaparkan sebelumnya dapat diatasi.
Tujuan dari penlitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh komposisi
resin dan ukuran partikel terhadap mutu papan berdasarkan standar SII 1983 dan
SNI 1996 pada pembuatan papan partikel dari selulosa Cross and Bevan tangkai
eceng gondok dan menganalisa prospek ekonominya.

Eceng Gondok
Winarno (1993) menyebutkan bahwa dekomposisi kimiawi eceng gondok dari
berat total adalah 36,59 % bahan organik, 21,23% C organik, 0,28% N, 0,0011%
P, dan 0,016% K. Joedodibroto (1983) mengemukakan hasil analisis komponen
kimia eceng gondok yang tidak digiling ternyata mengandung kadar abu 12% dan
setelah digiling menjadi 5,77%. Kandungan zat ekstraktif juga mengalami
penurunan setelah digiling.

Tabel 1. Susunan Kimia Batang Eceng Gondok Dalam Keadaan Kering Tanur.
PMI-1-10-3

Eceng gondok
No Analisa Sebelum digiling Setelah digiling
(%) (%)
1. Abu 12,00 5,77
2. Silikat 5,56 0,65
3. Lignin 7,69 8,93
4. Pentosan 15,61 18,14
5. Selulosa Cross and Bevan 64,51 72,63

Sumber : Joedodibroto, 1983

Papan Partikel
Papan partikel adalah papan komposit yang dibuat dari potongan-potongan kecil
kayu, termasuk serbuk gergaji atau bahan berligno-selulosa lain. Potongan-
potongan tersebut direkatkan dengan perekat atau resin sintetis, kemudian ditekan
sehingga membentuk papan dengan disain dan ukuran tertentu (Salomba dan
Purwanto, 1995).
Geometri partikel, jumlah resin, densitas papan, dan proses pembuatan
dapat dimodifikasi untuk menghasilkan produk yang sesuai pemakaian dan
spesifikasi. Pada proses pembuatan, bahan aditif dapat ditambahkan agar papan
partikel mempunyai karakteristik yang lebih stabil, tahan api, tahan kelembaban
dan lebih kuat.
Papan partikel biasanya dibuat dari pohon jarum (konifera). Papan partikel
juga dapat dibuat dari serat selain kayu, misalnya ampas tebu, bambu, dan rami.
Menurut Kolman dan Cote (1975), papan partikel dapat digunakan untuk dinding,
lantai, platform rumah, almari atau perabot lainnya yang menggunakan papan
lebar.

Gambar 2.3. Papan Partikel

METODE PENELITIAN

Variabel Penelitian

Variabel Bebas terdiri dari


PMI-1-10-4


Komposisi resin : 20 % (a1), 30 % (a2), 40 % (a3) berat partikel

Ukuran partikel : > 20 mesh (b1) dan < 20 mesh (b2)
Variabel yang ditetapkan terdiri dari
Komposisi bahan perekat : resin, air, kanji, dan hardener
dengan perbandingan 100:80:50:6
Tekanan Kempa : 60 kg/cm2
Suhu pengovenan papan : 110 oC

Alat dan Bahan


Peralatan yang digunakan adalah alat press hidrolik, cetakan, oven,
blender, dan ayakan berukuran 20 mesh. Bahan baku adalah eceng gondok yang
diperoleh dari sungai di daerah Gunung Sari, Surabaya. Bahan perekat yang
digunakan berupa resin urea formaldehid, diperoleh dari Intan Wijaya Chemical
Industries, Tangerang dengan merk dagang UFP 1001. Hardener menggunakan
ammonium sulfat, dan bahan pengisi menggunakan tepung kanji.

Prosedur Penelitian
Persiapan Bahan baku
Persiapan penelitian dimulai dengan mengeringkan batang batang eceng gondok,
memotongnya sepanjang 1 cm kemudian menggilingnya. Setelah itu dilakukan
pemisahan partikel yang berukuran lebih dari 20 mesh dankurang dari 20 mesh.
Selanjutnya mengoven partikel eceng gondok tersebut pada suhu 105 oC hingga
kadar airnya 2-8%. Tahap akhir dari persiapan bahan ini adalah mempersiapkan
perekat dengan campuran resin, air, kanji, dan hardener dengan perbandingan
100:80:50:6

Pembuatan Papan partikel


Pembuatan papan partikel dimulai dengan mencampur partikel eceng gondok
dengan perekat, sesuai variabel komposisi resin. Campuran yang telah dimasukan
ke dalam cetakan yang telah diolesi mirror glaze, dikempa dengan tekanan 60
kg/cm2 selama 30 menit. Memasukkan campuran ke dalam oven yang bersuhu
110oC selama 30 menit. Mendinginkan dan melepaskan papan partikel dari
cetakan.

Pengujian Papan Partikel


Pada pengujian papan, papan diuji kekuatan lentur, Kerapatan, dan uji tahan
kelembaban papan partikel berdasarkan standar SII 1983 dan SNI 1996.

HASIL DAN PMBAHASAN


Hasil Penelitian
Dari penelitian ini dihasilkan papan uji berbentuk silinder dan papan
berukuran 28 x 8 x 2,5 cm. Papan berbentuk silider digunakan untuk pengujian
PMI-1-10-5

kerapatan papan dan pengembangan volume papan dalam air sedangkan papan
berukuran 28 x 8 x 2,5 digunakan untuk pengujian kekuatan lentur.

Tabel 3.1. Hasil Pengujian

Memenuhi Memenuhi
b1 ( > 20 mesh ) standar b2 ( <20 mesh ) standar
Ya tidak Ya tidak
a1 -kekuatan lentur = 75.6 -kekuatan lentur = 68,04
20% kg/cm2 kg/cm2
Resin -kerapatan = 0,768 g/ml -kerapatan = 0,792 g/ml
-pengembangan volume 2 -pengembangan volume
jam = 16,90 % 2 jam =26,46 %
-pengembangan volume -pengembangan volume
24 jam = 22,69 % 24 jam = 47,22 %
a2 -kekuatan lentur = 105,84 -kekuatan lentur =83,16
30% kg/cm2 kg/cm2
Resin -kerapatan = 0,802 g/ml -kerapatan = 0,813 g/ml
-pengembangan volume 2 -pengembangan volume 2
jam = 10,36 % jam = 11,92 %
-pengembangan volume -pengembangan volume
24 jam = 12,37 % 24 jam = 29,56 %
a3 -kekuatan lentur = 158,76 -kekuatan lentur =
40% kg/cm2 113,40 kg/cm2
Resin -kerapatan = 0,873 g/ml -kerapatan = 0,897 g/ml
-pengembangan volume 2 -pengembangan volume
jam = 3,94 % 2 jam = 4,74 %
-pengembangan volume -pengembangan volume
24 jam = 7,41 % 24 jam = 8,23 %

Kekuatan Lentur Papan


Rata-rata kekuatan lentur papan partikel berada diantara 158.76 68.04
kg/cm2. Berdasarkan standar SII 1983 menyebutkan bahwa persyaratan minimal
kekuatan lentur papan adalah 100 kg/cm2. Dari tabel 1. dapat menginformasikan
bahwa papan yang memenuhi persyaratan minimum kekuatan lentur adalah papan
dengan perlakuan a3b1, a3b2, dan a2b1.
Gambar 1. menginformasikan hasil penelitian bahwa kekuatan lentur
papan meningkat dengan meningkatnya komposisi resin. Meningkatnya jumlah
resin akan meningkatkan persen luasan kontak antar partikel, sehinga ikatan antar
partikel semakin besar. Semakin besar ikatan antar partikel menyebabkan rongga
antar partikel semakin kecil, sehingga papan semakin padat dan kompak. Fakhri
(2002) mengatakan bahwa semakin padat dan kompak ikatan antar partikel, maka
sifat mekaniknya akan semakin baik.
Gambar 1.juga menginformasikan pengaruh ukuran partikel terhadap
kekuatan lentur. Partikel yang lebih kecil mempunyai luasan permukaan kontak
yang lebih besar dan membutuhkan banyak resin untuk melingkupi seluruh
permukaan partikel, artinya semakin kecil ukuran partikel, kebutuhan resin
semakin besar (Walker, 1997). Pada jumlah resin yang sama, papan dengan
ukuran partikel lebih kecil akan mempunyai persen kontak antar partikel semakin
kecil. Lin dan Huang (2004) melaporkan bahwa semakin meningkatnya persen
kontak antar partikel akan meningkatkan ikatan antar partikel. Jalaluddin, dkk
(2004) melaporkan hasil penelitiannya tentang pembuatan papan partikel dari
PMI-1-10-6

bambu bahwa semakin besar ukuran partikel, semakin bagus modulus of rupture
dan modulus of elasticity. Hal inilah yang menyebabkan papan partikel struktural
dibuat dari partikel yang relatif panjang dan lebar (Walker, 1997).

180
Kekuatan Lentur (kg/cm2)

140
>20 mesh
<20 mesh
100

60
0 20 40 60
Kom posisi Resin (%)

Gambar IV.1. Grafik hubungan komposisi resin dan kelenturan papan

Menurut Joedodibroto (1983), eceng gondok yang telah digiling dan


disertai penyaringan dapat menghilangkan sel-sel halus non serat. Sel-sel halus ini
adalah sel parenkim yang mempunyai susunan sedemikian hingga kadar abu dan
ekstraktifnya tinggi. Penghilangan sel-sel parenkim mempunyai implikasi positif
untuk meningkatkan mutu papan partikel. Untuk mendapatkan papan partikel
dengan kekuatan yang memadai, maka diperlukan ukuran papan yang tepat, kadar
air yang tepat, kadar ekstraktif, dan abu yang kecil (Walker, 1997).

Kerapatan Papan Partikel


Gambar 2. menginformasikan bahwa komposisi resin mempengaruhi
kerapatan papan. Kerapatan papan semakin besar sesuai dengan kenaikan
komposisi resin. Semakin besar jumlah resin yang digunakan resin semakin kuat
mengikat partikel dan mengisi rongga-rongga antar partikel, sehingga partikel
semakin rapat. Pada semua perlakuan, kerapatan papan masih sesuai dengan
standar yang diizinkan menurut SNI 1996, yaitu antara 0,5 0,9 g/cm3.
Gambar 2. juga menginformasikan bahwa ukuran partikel mempengaruhi massa
jenis papan. Semakin besar ukuran partikel, maka kerapatan papan semakin kecil.
Lin dan Huang (2004), menyebutkan bahwa semakin besar partikel, semakin
besar fraksi rongga. Sedangkan semakin besar rongga antar partikel, massa
jenisnya semakin kecil.
PMI-1-10-7

0.92

0.88

kerapatan (g/cm 3)
0.84
>20 mesh
<20 mesh
0.8

0.76

0.72
0 20 40 60
kom posisi resin (%)

Gambar IV.2. Grafik Hubungan Komposisi Resin Terhadap Kerapatan Papan

Persentase Pengembangan Volume dalam Air


Uji pengembangan dalam air bertujuan untuk mengetahui ketahanan
papan terhadap air. Pengembangan volume papan ditetapkan setelah contoh uji
direndam dalam air dingin / suhu kamar (30 oC) selama 2 jam dan 24 jam. Pada
perendaman dalam air selama 2 jam, hanya papan dengan komposisi resin 40%
yang memenuhi SII 1983, yaitu maksimal pengembangan volumenya 10%.
Sedangkan pada perendaman selama 24 jam, yang memenuhi standar adalah
papan dengan perlakuan a3b1, a3b2, dan a2b1.

30.00
pengembangan volume (%)

25.00

20.00
>20 mesh
15.00
<20 mesh
10.00

5.00

0.00
0 10 20 30 40 50
kom posisi resin (%)

Gambar IV.3. Hubungan komposisi resin terhadap % pengembangan


volume dalam air selama 2 jam
PMI-1-10-8

50

pengembangan volume (%)


40

30 >20 mesh

20 <20 mesh

10

0
0 10 20 30 40 50
kom posisi resin (%)

Gambar IV.4. Hubungan komposisi resin terhadap % pengembangan


volume dalam air selama 24 jam

Hasil pengujian (gambar 3. dan 4.) menunjukkan bahwa semakin besar


komposisi resin, maka % pengembangan volume papan semakin kecil atau
semakin tahan terhadap kelembaban. Carll (1997) menyimpulkan dari hasil
penelitian sebelumnya bahwa pengembangan volume papan dalam air berkurang
sesuai dengan bertambahnya jumlah bahan perekat yang digunakan.
Ukuran partikel mempengaruhi terhadap pengembangan volume papan dalam air.
Gambar IV.3. dan IV.4. menunjukkan bahwa semakin besar ukuran partikel, maka
% pengembangan volume dalam air semakin kecil. Semakin besar ukuran
partikel, maka absorbsi air semakin kecil. Semakin kecil absorbsi air maka %
pengembangan volume papan dalam air semakin kecil (Carll, 1997).

Aspek Ekonomi

Peluang Produksi
Saat ini cadangan sumber kayu semakin menipis karena luas hutan sebagai
sumber kayu semakin berkurang (Massijaya, 2004). Fenomena ini terjadi karena
manajemen hutan yang salah dan eksploitasi secara besar-besaran pada masa yang
lalu. Pada beberapa tahun mendatang, produksi kayu dari hutan alam akan
mengalami penurunan secara signifikan (Massijaya, 2004).
Berkurangnya sumber kayu dapat menyebabkan industri pengolahan kayu
semakin menurun di masa yang akan datang. Keadaan ini dapat menyebabkan sisa
dari industri pengolahan kayu semakin berkurang. Berkurangnya sisa pengolahan
kayu akan menimbulkan dampak negatif pada industri yang memanfaatkan sisa
pengolahan kayu, seperti industri papan partikel, MDF, dan lain sebagainya.
Sekitar 95% industri papan partikel menggunakan bahan baku dari sisa
pengolahan kayu, sedangkan sisanya dibuat dari bahan serat bukan kayu, seperti
bagas dari tebu, rami, dan bambu. Penggunaan bahan-bahan, baik bahan kayu
maupun serat non kayu, seringkali mengalami kendala akibat terbatasnya
persediaan bahan baku. Bahan kayu penyediaannya terkendala karena produksi
kayu yang semakin berkurang seperti yang dipaparkan sebelumnya, sedangkan
serat non kayu penggunaannya sangat terbatas karena tumbuhnya tergantung pada
PMI-1-10-9

musim (Walker, 1997). Kesulitan dalam penyediaan bahan baku turut


mempengaruhi produksi papan partikel.

Kelayakan Bahan Baku


Kandungan selulosa Cross and Bevan tangkai eceng gondok sekitar
64,51% (Joedodibroto, 1983) memungkinkan eceng gondok dapat dimanfaatkan
sebagai bahan baku pembuatan papan partikel. Purwanto dan Salomba (1995)
mengatakan bahwa papan partikel merupakan komposit yang terbuat dari bahan
berligno-selulosa. Kandungan ekstraktif eceng gondok juga sangat kecil, yaitu
sekitar 6%, sehingga tidak mengganggu dalam proses perekatan. Bahkan dengan
proses penggilingan, kandungan ekstraktif eceng gondok tersebut mengalami
penurunan (Joedodibroto, 1983). Oleh karena itu, pemanfaatan eceng gondok
sebagai bahan baku pembuatan papan partikel sangat mungkin dilakukan.

Kelangsungan Produksi
Pertumbuhan eceng gondok perlu diperhatikan untuk menjaga
kesinambungan penyediaan eceng gondok sebagai bahan baku industri papan
partikel. Kelangsungan produksi papan partikel dengan menggunakan bahan baku
eceng gondok sangat terjamin jika dilihat dari ketersediaan bahan baku.
Pertumbuhan eceng gondok sangat cepat, yaitu 0,45 - 0,3 kg/(hari . m3)
(Roekmijati, 1986). Dalam waktu 6 hari populasi eceng gondok menjadi dua kali
lipat (Batcher, 2004). Jika eceng gondok yang ada di Rawa Pening hanya
dipertahankan 25% saja atau 20% permukaan perairan tertutup eceng gondok agar
populasinya tidak mengganggu ekosistem di sekitarnya, maka perhari eceng
gondok di Rawa Pening bisa diprediksikan mampu menghasilkan papan sebesar
5.750 lembar papan berukuran 1200x2440x12 mm perhari atau setara dengan
2.181.945 m3 perhari. Jumlah ini juga masih lebih besar jika dibandingkan dengan
produksi total papan partikel Indonesia yang hanya 470.000 m3/tahun. Terlebih
lagi, Indonesia masih mempunyai banyak perairan-perairan luas yang ditumbuhi
eceng gondok seperti Danau Tondano (Sulwesi Utara), Danau Tempe (Sulawesi
Selatan), Waduk Saguling (Jawa Barat), Rawa Jombor (Jawa Tengah), Danau
Kerinci (Jambi), Waduk Batutulegi (Jambi), dan lain sebagainya.

Potensi Ekonomi
Perhitungan analisis ekonomi pada Lampiran 3 dilakukan dengan
menghitung rate of return invesment (laju pengembalian modal), minimum pay
out period (waktu minimal pengembalian modal), dan break even point (BEP).
Perhitungan analisis ekonomi ini menggunakan data dari pabrik papan partikel
di Padalarang, Bandung dengan kapasitas produksi
90.000 m3.
Rate of Return Invesment (laju pengembalian modal) hasil perhitungan
adalah sebesar 72,65%. Angka ini jauh lebih besar dari suku bunga deposito yang
hanya 6,5% (BNI, 3 Mei 2005). Informasi ini menunjukkan bahwa modal lebih
baik diinvestasikan dari pada disimpan di bank sebab hasilnya lebih
menguntungkan.
PMI-1-10-10

Minimum pay out period (waktu minimal pengembalian modal) hasil


perhitungan adalah sebesar 1,33 tahun. Jangka waktu ini menguntungkan karena
modal sudah dapat kembali minimal 1,33 tahun.
Perhitungan BEP dilakukan untuk mengevaluasi jumlah produksi. BEP
hasil perhitungan adalah sebesar 10,63%. BEP atau titik impas menunjukkan
bahwa pada kondisi ini produksi tidak mengalami kerugian dan memperoleh
keuntungan. BEP diperoleh dengan mengalikan asumsi produksi awal (90.000 m3
pertahun) dengan BEP hasil perhitungan. Sehingga produksi papan partikel
minimal harus diprodukasi sebanyak 9.576 m3/tahun.
Dari perhitungan secara ekonomis, pembuatan papan partikel dari eceng
gondok masih menguntungkan. Apalagi bila diproduksi dalam jumlah besar,
mengingat permintaan dunia akan produk papan partikel mengalami kenaikan tiap
tahun. Hal ini karena papan partikel banyak digunakan untuk keperluan industri
mebel, ubin lantai, pegangan tangga, pengemasan barang, dan kayu struktural.
Dengan adanya produksi papan partikel eceng gondok akan mempunyai
keuntungan, yaitu menambah pendapatan daerah, menambah lapangan pekerjaan,
dan menaikkan nilai ekonomi eceng gondok. Pemanfaatan eceng gondok secara
besar-besaran dan kontinu dapat mengendalikan perkembangan eceng gondok.
Eceng gondok harus dimanfaatkan secara kontinu agar pengendaliannya bisa
dilakukan secara kontinu pula. Oleh karena itu, selain memikirkan cara
pemberantasan eceng gondok, juga diperlukan penjajakan kemungkinan
memanfaatkan eceng gondok untuk keperluan industri secara luas sebagai
komoditas yang bernilai ekonomis, misalnya dengan memanfaatkan sebagai bahan
baku pembuatan papan partikel.
Pemanfaatan selulosa cross and bevan tangkai eceng gondok sebagai
bahan baku papan partikel sangat potensial untuk diteliti lebih lanjut. Untuk
penelitian lebih lanjut, penulis menyarankan proses pencampuran partikel eceng
gondok dan resin perlu dilakukan dengan menggunakan mesin pencampur untuk
mendapatkan campuran yang homogen. Pengempaan proses pembuatan papan
partikel sebaiknya dilakukan dengan menggunakan pengempaan panas.
PKMI-1-11-1

DAMPAK PEMBANGUNAN MAL OLYMPIC GARDEN


TERHADAP RESAPAN DAN LIMPASAN
Chairul Maulidi, Anjarwati S, Asia Ameliya S
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Brawijaya, Malang
ABSTRAK
Kecamatan Klojen yang merupakan pusat Kota Malang memiliki kondisi
resapan paling kritis dibandingkan dengan kecamatan lainnya di Kota Malang.
Air hujan yang teresap ke dalam tanah di Kecamatan Klojen hanya sebesar
1,61% dari curah hujan seluruhnya, sedangkan 98,39% lainnya menjadi limpasan.
Hal ini disebabkan sedikitnya luasan lahan resapan dan luasnya penutupan
permukaan tanah oleh lapisan kedap air. Luas area resapan Kecamatan Klojen
akan semakin berkurang dengan adanya rencana pembangunan Mal Olympic
Garden (MOG) seluas 8,408 hektar. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa
pembangunan MOG akan menimbulkan volume limpasan sebesar 148.818,05 m3
tiap tahunnya. Salah satu alternatif solusi untuk mengurangi dampak negatif
terhadap resapan dan limpasan ialah dengan pembangunan kolam resapan.
Kata kunci: Resapan, limpasan, mal olympic garden.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kota Malang merupakan kota terbesar kedua di Propinsi Jawa Timur
setelah Surabaya memiliki luas wilayah sebesar 110,06 km. Dalam kurun waktu
10 tahun terakhir Kota Malang telah mengalami perkembangan cukup pesat. Hal
ini dapat dilihat dari pertumbuhan jumlah penduduk dan perubahan tata guna
lahan di Kota Malang.
Sebagai konsekuensi dari pembangunan perkotaan adalah meluasnya area
terbangun. Padatnya bangunan menyebabkan semakin luasnya penutupan tanah
yang mengakibatkan ketidak-seimbangan lingkungan, misalnya proses-proses
yang melibatkan pergerakan air seperti limpasan permukaan, erosi dan resapan air
kedalam lapisab kedap air.
Kecamatan Klojen yang merupakan pusat Kota Malang memiliki kondisi
resapan yang paling kritis dibandingkan dengan kecamatan lainnya di Kota
Malang. Di samping itu, Kecamatan Klojen juga merupakan kecamatan dengan
luas lahan terbangun terbesar. Pada tahun 2002 kawasan terbangun telah mencapai
91,56% dari total luas kecamatan. (RDTRK Kecamatan Klojen 2003-2008).
Berdasarkan prosentase tersebut, lahan yang dapat dimanfaatkan baik sebagai
cadangan perkembangan kota maupun sebagai fungsi lindung adalah sebesar
8,44%.
Air hujan yang teresap ke dalam tanah di Kecamatan Klojen hanya sebesar
1,61% dari curah hujan seluruhnya, sedangkan 98,39% lainnya menjadi limpasan
(Azizah, 2001). Besarnya limpasan permukaan Kecamatan Klojen dirasakan
dampaknya pada Minggu sore tanggal 29 Januari 2006, banjir melanda 146 rumah
yang terletak di Kelurahan Bareng Kecamatan Klojen.. Penyebab terjadinya banjir
dikarenakan sistem drainase Kecamatan Klojen tidak mampu menampung
limpasan permukaan dari daerah sekitarnya (Malang Post, 30 Januari 2006).
Luas area resapan Kecamatan Klojen akan semakin berkurang dengan
adanya rencana pembangunan Mal Olympic Garden (MOG). Pembangunan yang
akan dilaksanakan di atas lahan seluas 8,408 hektar ini, terdiri atas mal,
hipermarket, hotel, wisma atlet, gedung perkantoran serta kolam renang. Dengan
PKMI-1-11-2

adanya MOG maka luasan permukaan tanah yang tertutup lapisan tidak tembus air
akan bertambah sehingga dapat diperkirakan akan semakin menurunkan resapan
air hujan serta meningkatkan limpasan air permukaan yang melebihi daya
tampung saluran drainase utama dan memperparah permasalahan banjir di
Kecamatan Klojen.
Penulisan ini disusun untuk mengetahui seberapa besar penurunan volume
resapan dan peningkatan volume limpasan dan perkiraan dampak yang
ditimbulkan oleh pembangunan Mal Olympic Garden. Hasil perhitunganan dan
analisa dampak selanjutnya dipergunakan dalam penyusunan saran untuk
minimalisir dampak negatif resapan dan limpasan dari pembangunan MOG.
Ruang Lingkup Penulisan
Untuk mencapai tujuan tersebut di atas, maka pembahasan dibatasi dalam
ruang lingkup konsep hidrologi pada aspek resapan dan aspek limpasan.
Sedangkan lokasi studi adalah lokasi rencana Pembangunan MOG, yaitu kawasan
Stadion Gajayana dan wilayah sekitarnya yang berada dalam satu area daerah
aliran sungai (DAS). Menurut batas administratif, mencakup Kelurahan Kauman
dan Kelurahan Bareng, Kecamatan Klojen, Kota Malang
METODE PENDEKATAN
Pendekatan Masalah
Penulisan menggunakan pendekatan konsep hidrologi aspek resapan dan
limpasan. Air hujan yang jatuh ke permukaan bumi akan teresap ke dalam tanah
dengan gaya gerak gravitasi dan kapiler dalam suatu aliran resapan. Pertama-tama
air akan meresap ke dalam tanah untuk meningkatkan kelembaban tanah,
selanjutnya akan turun menjadi air tanah. Namun, bila permukaan tanah telah
mencapai titik puncak kelembabannya dan hujan terus berlangsung. Maka air
hujan tidak lagi dapat teresap melainkan mengalir di atas permukaan tanah ke alur
sungai terdekat
Penelitian ini dimulai dengan melakukan pengukuran volume resapan dan
limpasan yang terjadi di lokasi studi sebelum pembangunan. Volume resapan
setelah pembangunan MOG diperoleh dari rumus yang sama tetapi menggunakan
variabel luas daerah tangkapan yang diperoleh dari pengukuran site plan.
Selanjutnya, penghitungan peningkatan volume limpasan setelah pembangunan
MOG diperoleh dengan menambahkan selisih volume resapan sebelum dengan
volume resapan setelah pembangunan ke angka volume limpasan sebelum
pembangunan MOG.
Asumsi yang digunakan dalam melakukan pengukuran volume resapan
dan limpasan adalah sebagi berikut :
1. Pada saat terjadi hujan, air yang diuapkan melalui proses eveporasi dan
transpirasi dianggap nol, karena saat itu udara dalam keadaan jenuh uap air
(tekanan uap air telah maksimum).
2. Sisa air yang tertinggal di kawasan terbuka (tergenang) dimasukkan sebagai
bagian air yang teresapkan ke dalam tanah.

Alat dan Bahan


Dua buah silinder infiltrometer mempergunakan kaleng plastik yang
dipotong menjadi silinder. Silinder pertama berdiamter kurang lebih 20 cm dan
silinder kedua berdiamter kurang lebih 35 cm. Peralatan lainnya adalah penggaris
besi, galon, gayung, dan gelas berskala.
PKMI-1-11-3

Peta hasil foto udara dipergunakan untuk menentukan batasan DAS lokasi
studi dan untuk analisa lokasi yang akan terkena dampak dari peningkatan
limpasan.
Tahapan Penulisan
Penulisan dilakukan melalui tiga tahapan yaitu, tahap pengumpulan data,
pengolahan data dan analisa sintesis.

Pengumpulan Data
Survei primer dilakukan untuk memperoleh angka laju resapan tanah di
lokasi rencana pembangunan MOG. Pengukuran laju resapan dilakukan dengan
menggunakan infiltrometer. Infiltrometer adalah sebuah tabung pendek yang
bergaris tengah lebar, atau perbatas kedap lainnya yang mengelilingi suatu luasan
tanah. Kedua cincin digunakan secara sepusat seperti pada gambar 1. Cincin
digenangi air hingga kedalaman 5 mm di atas permukaan tanah dan diisi kembali
terus-menerus untuk mempertahankan kedalaman tadi, dan pemasukan air ke
tabung yang tengah diukur. Tabung yang diluar berfungsi untuk meniadakan
pengaruh resapan ke arah samping oleh tanah yang lebih kering.

35 cm
Gambar 1. Model Infiltrometer (Ersin, 1990)
20 cm
Kedalaman
Survei sekunder berupa pengumpulan teori-teori ruang 5terbuka
mm hijau, resapan,
limpasan permukaan,
3-10 cmdan penanggulangan limpasan permukaan, serta gambaran
umum mengenai karakteristik fisik dasar Kecamatan Klojen dan peta hasil foto
Air yang Meresap
udara. Sumber dan jenis data yang diperlukan dapat dilihat pada tabel berikut;

Tabel 1. Sumber dan Jenis Data


No Sumber Data Jenis Data
1 Buku Teori tentang ruang terbuka hijau
Teori tentang resapan dan limpasan
permukaan
Teori tentang penanggulangan resapan
2 Jurnal, thesis, skripsi Penelitian terdahulu mengenai limpasan
permukaan Kota Klojen
Teknik penghitungan resapan dan limpasan
Teknik penanggulangan limpasan permukaan
3 RDTRK Karakteristik fisik dasar Kecamatan Klojen
4 Bakosurtanal Peta topografi lokasi studi
Pengolahan Data
Pengolahan data terdiri atas peghitungan koefisien resapan (C), volume
resapan (I), dan volume limpasan (R) sebelum dan setelah pembangunan MOG..
1. Penghitungan koefisien resapan (C)
Untuk penghitungan koefisien memerlukan data curah hujan dan data laju
resapan hasil pengukuran lapangan dan mempergunakan rumus berikut;
C = (I x 365 x A) / (P x A)
I : laju resapan (baseflow) (mm/hari)
PKMI-1-11-4

A: luas daerah tangkapan air (m2)


P: curah hujan tahunan (mm/tahun)
2. Penghitungan volume resapan (I)
Selanjutnya angka koefisien resapan hasil perhitungan (C) dipergunakan
untuk mendapatkan angka volume air hujan yang teresap.
Ia = CH(A) / 1000
Ia : imbuhan alami/ air hujan yang teresap (m3/tahun)
C : angka koefisien resap
H : curah hujan tahunan (mm/tahun)
A: luas kawasan terbuka (m2)

3. Penghitungan volume limpasan (R)


Penghitungan volume limpasan mempergunakan rumus yang dikemukan
oleh Linsley (1982);
Ro = P I
Ro : limpasan permukaan (mm)
P : curah hujan (mm)
I : resapan (mm)
Analisa Sintesis
Volume resapan dan limpasan hasil pengolahan data dipergunakan sebagai
bahan untuk menganalisa dampak yang ditimbulkan oleh pembangunan MOG.
Analisa dampak berupa angka yang menunjukkan seberapa besar penurunan
volume resapan dan peningkatan volume limpasan yang akan terjadi setelah
pembangunan MOG. Selanjutnya, analisa dilakukan untuk menentukan solusi
alternatif yang dapat meminimalisir dampak yang ditimbulkan.
HASIL
Pembangunan Mal Olympic Garden
Pembangunan Mal Olympic Garden dilaksanakan oleh PT. Mustika
Taman Olympic di atas lahan ruang terbuka hijau kawasan Stadion Gajayana
seluas 8,408 hektar. Pembangunan meliputi fasilitas olah raga lainnya seperti
kolam renang, lapangan tenis indoor dan outdoor, lapangan sepak bola luar, mal,
hotel bintang empat dan taman. Site rencana pembangunan MOG menunjukkan
bahwa pembangunan MOG akan memperkecil luasan ruang terbuka hijau yang
semula 8,408 hektar menjadi 1,6 hektar.
Kondisi Umum Lokasi Studi
Lokasi studi terbagi menjadi dua lokasi yang memiliki karakteristik fisik
yang berbeda, yaitu lokasi pembangunan MOG yang terletak di Kelurahan
Kauman dan Kelurahan Bareng. Kawasan Stadion Gajayana yang merupakan
lokasi rencana pembangunan Mal Olympic Garden terletak di Kelurahan Kauman
Kecamatan Klojen. Kelurahan ini terletak pada ketinggian 413 500 di atas
permukaan laut dengan kemiringan 0 15 %. Sedangkan Kelurahan Bareng yang
berada di sebelah selatan Kawasan Stadion Gajayana merupakan dataran paling
rendah di Kecamatan Klojen dengan kemiringan hingga 40 %.
Kelurahan Kauman dan Kelurahan Bareng berada dalam satu area DAS
dengan saluran drainase utamanya adalah Sungai Kasin. Saluran drainase
sekunder dari lokasi studi seluruhnya mengalir ke Sungai Kasin. Sungai yang
PKMI-1-11-5

berfungsi sebagai saluran pembuangan dari tengah Kota Malang ini mengalir dari
arah utara ke selatan.
Temperatur rata-rata di Kecamatan Klojen berkisar pada suhu 24,4oC
dengan curah hujan setahun 1.989 mm dan curah hujan rata-rata 82 mm. Pada
bulan Desember sampai Mei pada siang hari temperatur rata-rata Kecamatan
Klojen berkisar antara 20 25oC. Bulan Juni sampai agustus pada siang hari
berkisar antara 20 28oC. Bulan September sampai dengan November pada siang
hari berkisar antara 20 25oC.
Kecamatan Klojen sebagai pusat bagian wilayah Kota Malang memiliki
intensitas kegiatan yang padat. Pelayanan fasilitas yang terdapat di Kecamatan
Klojen menduduki hirarkhi tertinggi di Kota Malang dengan skala baik lokal
maupun regional. Berdasarkan Evaluasi RTRW Kota Malang tahun 2001 2010,
pemanfaatan lahan di Kecamatan Klojen diarahkan pada ;
- pusat perdagangan regional
- pusat pemerintahan Kota Malang
- pusat pendidikan skala nasional
- pusat pelayanan kesehatan skala regional
- perumahan
Penggunaan lahan Kelurahan Kauman didominasi oleh sarana perdagangan dan
jasa. Sedangkan Kelurahan Bareng merupakan daerah permukiman penduduk
menengah ke bawah.

Penghitungan Resapan dan Limpasan


Penghitungan mempergunakan data dasar berupa data curah hujan, angka
laju resapan, dan luasan daerah tangkapan. Lokasi studi memiliki curah hujan
rata-rata sebesar 1.989 mm/tahun dan memiliki angka laju resapan tanah sebesar 3
mm/hari. Sebelum pembangunan MOG daerah tangkapan lokasi studi seluas
8,408 hektar, sedangkan setelah pembangunan MOG daerah tangkapan hanya
sebesar 1,607 hektar.

Tabel 2. Data Volume Resapan dan Limpasan


Sebelum Setelah
Variabel Sumber
pembangunan pembangunan
Luas daerah tangkapan 84.080 16.075,5 Data sekunder
(m2)
Volume resapan 96.327,43 18.417,12 Perhitungan rumus
(m3/tahun)
Volume limpasan 70.907,74 148.818,05 Perhitungan rumus
(m3/tahun)
Sumber: hasil perhitungan
PEMBAHASAN
Dampak Pembangunan MOG Terhadap Resapan
Pembangunan MOG mengharuskan perubahan fungsi guna lahan Kawasan
Stadion Gajayana sebagai ruang terbuka hijau menajadi lahan terbangun. Lahan
ruang terbuka hijau seluas 8,408 hektar berkurang menjadi 1,607 hektar karena
tertutupi oleh berbagai fasilitas olah raga, gedung, mall dan hotel serta bahan
pengeras lainnya seperti aspal dan paving block. Berkurangnya lahan yang mampu
meresapkan air, akan mengakibatkan semakin parahnya kondisi lahan resapan
Kecamatan Klojen yang kritis, yang mana pada tahun 2001 nilai resapan
PKMI-1-11-6

Kecamatan Klojen hanya sekitar 1,61% dari seluruh curah hujan yang jatuh
(Azizah, 2001).
Berkurangnya nilai resapan berakibat pada penurunan kuantitas
ketersediaan air tanah Kecamatan Klojen. Sebelum pembangunan MOG, lokasi
studi mampu meresapkan air ke dalam tanah sebesar 96.327,43 m3/tahun.
Sedangkan setelah adanya pembangunan MOG, lokasi studi hanya mampu
meresapkan air kedalam tanah sebesar 18.417,12 m3/tahun.
Dampak Pembangunan MOG Terhadap Limpasan
Pembangunan MOG di kawasan Stadion Gajayana akan mengakibatkan
peningkatan limpasan seiring dengan penurunan resapan Kecamatan Klojen. Air
hujan yang semula dapat diresapkan akan berubah menjadi limpasan karena
tertutupnya permukaan tanah oleh lapisan kedap air. Peningkatan volume air
limpasan yang akan terjadi di Kecamatan Klojen akibat perubahan guna Lahan
ruang terbuka hijau Kawasan Stadion Gajayana menjadi Mal Olympic Garden
diperkirakan sebesar 148.818,05 m3 tiap tahunnya.
Air limpasan dari kawasan Stadion Gajayana akan mengalir di permukaan
tanah ke lokasi yang lebih rendah. Hasil permodelan aliran permukaan terhadap
garis ketinggian (kontur) menunjukkan limpasan akan mengalir ke Kelurahan
Bareng (lihat gambar 2). Permodelan ini diperkuat oleh keadaan eksisting bahwa
saluran drainase dari Kawasan Stadion Gajayana mengalir ke Sungai Kasin
melalui Kelurahan Bareng. Peningkatan volume limpasan yang mengalir ke
Kelurahan Bareng, akan membebani sistem drainase kelurahan yang didominasi
oleh guna lahan sebagai permukiman kelas menengah ke bawah ini.

Lokasi MOG

Permukiman
Kel. Kauman
Kontur

Aliran limpasan

Sungai Kasin

Saluran drainase dari wilayah Taman Gayam, APP, Simpang Ijen, Jalan
Kel. Bareng
Kawi (lokasi studi) dan Jl. Raya Langsep mengalir ke saluran di Kelurahan
Bareng khusunya RW08/RT14. kondisi ini menjadikan RT 14 sebagai salah satu
lokasi titik merupakan lokasi rawanGambar
banjir Kota Malang.
2. Aliran Pada tanggal
Limpasan 29 Januari
di Lokasi Studi
2006 yang lalu RT 14 telah mengalami banjir genangan setelah hujan deras
selama 2 jam (Malang Post, 30 Januari 2006). Rampungnya pembangunan MOG
yang diperkirakan akan mengakibatkan peningkatan volume limpasan yang tentu
akan semakin memperparah permasalahan banjir di Kelurahan Bareng.
Kolam Resapan Sebagai Alternatif Solusi
Sebagaimana hasil perhitungan sebelumnya, dengan terselesaikannya
pembangunan Mal Olympic Garden, dapat diperkirakan limpasan Kecamatan
Klojen akan meningkat hingga 148.818,05 m3/tahun. Limpasan akan mengalir ke
kawasan permukiman penduduk menengah ke bawah yang terletak di Kelurahan
Bareng. Limpasan tersebut tentu akan merugikan masyarakat Kelurahan Bareng
karena memperbesar ancaman terjadinya banjir di kawasan tersebut.. Selain itu,
PKMI-1-11-7

Kecamatan klojen akan kehilangan pengisian cadangan air tanah sebanyak


3
148.818,05 m tiap tahunnya sehingga menggangu kelestarian air tanah.
Oleh karena itu diperlukan upaya untuk meminimalisir dampak
peningkatan limpasan dan penurunan resapan yang diakibatkan oleh
pembangunan MOG. Satu cara yang dapat meminimalisir dua dampak negatif
tersebut adalah dengan memasukkan air hujan ke dalam tanah dengan
menggunakan sumur resapan. Sumur resapan ditujukan untuk dapat menampung
air hujan sebanyak 148.818,05 m3 dalam waktu yang lebih lama sehingga lebih
banyak waktu untuk meresap ke dalam tanah dan tidak menjadi limpasan.
Pembangunan MOG sangat perlu untuk disertai oleh penyediaan sumur
resapan. Mal Olympic Garden yang direncanakan bernuansa taman kota sangat
cocok mempergunakan metode sumur resapan kolektif berupa kolam resapan.
Yaitu satu atau dua sumur resapan yang berbentuk kolam taman berkapasitas
3
148.818,05 m untuk menampung aliran air hujan dari seluruh kawasan MOG.
Supaya air mengalir dengan lancar, kolam resapan sebaiknya diletakkan pada
lahan yang paling rendah diantara kawasan yang dilayani.

Gambar 3. Model Kolam Resapan


KESIMPULAN
1. Pembangunan Mal Olympic Garden diperkirakan dapat menurunkan resapan
dari 96.327,43 m3 menjadi 18.417,12 m3 tiap tahunnya dan meningkatkan
volume limpasan Kecamatan Klojen dari 70.907,74 m3 menjadi 148.818,05 m3
tiap tahunnya.
2. Penurunan resapan mengakibatkan penurunan kuantitas air tanah. Sedangkan
peningkatan limpasan akan memperparah masalah banjir di Kelurahan Bareng.
3. Kolam resapan diperlukan untuk menampung air hujan supaya dapat meresap
ke dalam tanah dan tidak menjadi limpasan permukaan.
DAFTAR PUSTAKA
Asdak, C. 2004. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Gajah Mada
University Press, Yogyakarta
Azizah, S. 2001. Akibat Perkembangan Kota, Thesis, tidak diterbitkan
Linsley, R.K. 1996. Hidrologi untuk Insinyur, Erlangga, Jakarta
Malang Post. Ratusan Rumah Terendam. Senin 30 Januari 2006
Seyhan, Ersin. 1990. Dasar-dasar Hidrologi, Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta
Soemarto, CD. 1999. Hidrologi Teknik, Erlangga, Jakarta
Sosrodarsono, S. 1985. Hidrologi Untuk Pengairan, PT Pradnya Paramita, Jakarta
Suripin. 2004. Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan, Andi, Yogyakarta
PKMI-1-11-8

Wilson, E.M. 1993. Hidrologi Teknik, ITB, Bandung


PKMI-1-12-1

PENGARUH KEBIASAAN NYETHE TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL


MASYARAKAT DI KABUPATEN TULUNGAGUNG, JAWA TIMUR

Qoni Zamili, M. Nur Hidayad, A.F. Sulaiman, Eryunpas Setya N.


Jurusan Sastra Inggris, Universitas Negeri Malang

ABSTRAK
Nyethe merupakan kebiasaan perokok di daerah Tulungagung yang sering
mendapat asumsi negatif dari masyarakat yang menganggap bahwa nyethe
merupakan aktivitas yang membuang-buang waktu (wasting time). Untuk itu
diperlukan penelitian untuk membuktikan asumsi negatif itu benar atau tidak.
Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan kegiatan apa saja yang
dilaksanakan dalam nyethe, pengaruh kebiasaan nyethe terhadap proses interaksi
sosial masyarakat dan pembentukan komunitas baru di masyarakat. Hasil
penelitian menunjukan bahwa kebiasaan nyethe bukan hal yang membuang-
buang waktu, tetapi merupakan aktivitas yang dapat menjalin kebersamaan
masyarakat melalui interaksi sosial yang terjadi, bahkan dapat dikatakan sebagai
awal pembentukan komunitas dan budaya baru di masyarakat Tulungagung.

Kata kunci: Nyethe, asumsi negatif, interaksi sosial, komunitas, budaya

PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Di dalam masyarakat Tulungagung, terdapat sebuah kebiasaan yang cukup
unik yaitu nyethe. Nyethe adalah suatu kebiasaan menggambar atau melukis di
atas rokok dengan menggunakan media endapan kopi (dalam bahasa jawa: cethe).
Kebiasaan ini dilakukan para perokok di warung-warung kopi khususnya warung
yang menyediakan kopi khusus untuk nyethe. Kebiasaan ini sudah membudaya di
kalangan masyarakat perokok di Tulungagung.
Berpijak dari uraian diatas, timbul suatu permasalahan sosial di
masyarakat bahwa telah terbentuk suatu kebiasaan baru yang kontroversial di
masyarakat karena ada berbagai pihak yang membuat generalisasi bahwa
kebiasaan tersebut merupakan kegiatan yang membuang-buang waktu. Disisi lain,
ada pihak yang menolak asumsi negatif tersebut. Mereka menganggap bahwa
nyethe bukan termasuk kegiatan yang membuang-buang waktu. Oleh karena itu,
perlu dilakukan penelitian untuk memperoleh gambaran objektif dan
komprehensif mengenai hal di atas dan bagaimana permasalahan tersebut ditinjau
dari sudut pandang sosial budaya.

Rumusan Masalah
Bertolak dari asumsi negatif dari masyarakat tersebut, dapat dirumuskan
masalah yang dibahas dalam artikel ini yaitu: (1) kegiatan apa saja yang dilakukan
pada waktu nyethe; (2) bagaimana pengaruh kebiasaan nyethe terhadap proses
interaksi sosial masyarakat; (3) bagaimana dampak kegiatan nyethe terhadap
pembentukan komunitas baru di masyarakat Tulungagung.
PKMI-1-12-2

Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kebiasaan nyethe
terhadap kehidupan sosial masyarakat di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.
Adapun tujuan tersebut dapat dirinci sebagai berikut: (1) mendiskripsikan
kegiatan apa saja yang dilaksanakan pada saat nyethe; (2) mendiskripsikan
pengaruh kebiasaan nyethe terhadap proses interaksi sosial masyarakat; (3)
mendiskripsikan dampak kegiatan nyethe terhadap proses pembentukan
komunitas baru di masyarakat. Dari hasil pembahasan ini diharapkan dapat
meluruskan asumsi negatif dari masyarakat sehinga masyarakat sadar bahwa
nyethe merupakan salah satu bentuk interaksi sosial yang bermanfaat.

METODE PENELITIAN
Sesuai dengan tujuan penelitian, maka penelitian ini menggunakan metode
penelitian kualitatif. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 14 sampai 20 Agustus
2005. Tempat penelitian meliputi warung-warung kopi cethe yang berada di
Tulungagung dan rumah-rumah masyarakat sekitar. Warung kopi tersebut
misalnya: Waris (di Kecamatan Kalangbret), Bilkop (di desa Tunggulsari), WK
(di desa Gilang) dan warung-warung kecil lainya yang tidak ada namanya. Subjek
penelitian sebagai sumber data adalah pelaku nyethe di Tulungagung yang berada
di warung-warung tersebut dan masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar
warung chethe yang ditetapkan secara purposif. Adapun jumlah subjek penelitian
adalah 21 orang, yang terdiri dari 11 orang pelaku nyethe dan 10 orang dari
masyarakat sekitar.. Sumber data dipilih karena dianggap dapat mewakili
karakteristik yang dimiliki subjek penelitian secara umum.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara
(interview) dan observasi lapangan. Dalam hal ini peneliti datang ke warung-
warung dan terjun langsung bergabung dengan subjek penelitian. Hal ini
dimaksudkan agar peneliti dapat memperoleh data verbal yang valid yang
langsung diambil dari habitatnya yang asli (Latief , 1999:112). Selain itu peneliti
melakukan wawancara secara terbuka terhadap masyarakat untuk mengetahui
anggapan masyarakat tentang nyethe.
Instrumen kunci dalam penelitian ini adalah human instrument, artinya
penelitilah yang mengumpulkan data, menyajikan data, mereduksi data,
mengorganisasi data, memaknai data, dan menyimpulkan hasil peneltian (Bogdan
dan Biklen, 1982).
Analisis data dilakukan secara terus menerus dan dilakukan hampir
bersamaan dengan proses pengumpulan data (Bodgan dan Biklen, 1982).
Pendekatan analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan
analisis data interaktif yang disarankan oleh Mile dan Huberman (1984) (dalam
Denzin dan Lincoln, 1994) sebagaimana pada bagan berikut.
Pengumpulan data dilakukan dengan memeriksa kembali catatan lapangan.
Pengurangan data dilakukan dengan memilih data yang relevan untuk dianalisis
dan membuang data yang kurang relevan. Sedangkan penyajian data dilakukan
dengan cara identifikasi, klasifikasi, penyusunan, penjelasan data secara
sistematis, obyektif, dan meyeluruh, dan pemaknaan. Penyimpulan dilakukan
berdasarkan pemaknaan data. Setelah kesimpulan diperoleh, dilakukan cek ulang
dengan melihat data yang sudah terkumpul maupun yang sedang dalam
PKMI-1-12-3

pengumpulan. Hal ini dilakukan untuk memperoleh data yang valid. Validitas data
diambil dengan cara; data diobservasi secara terus-menerus, data didiskusikan dan
dianalisis berdasarkan literatur, dan data diperiksa kembali secara cermat.

Pengumpulan Data Penyajian Data

Pengurangan Data

Kesimpulan:
Penggambaraan dan
Verifikasi

1.1 Bagan Analisis Data Kualitatif

HASIL PENELITIAN
Kegiatan Yang Dilakukan Pada Waktu Nyethe
Hasil penelitian menunjukan bahwa kegiatan yang dilakukan pada waktu
nyethe meliputi merokok, minum kopi, ngobrol, duduk-duduk santai, dan melukis
pada rokok. (2) para pengunjung warung cethe terdiri dari berbagai lapisan
masyarakat mulai dari pelajar, anak muda, wirausahawan, penganguran dan
sebagainya. (3) pengunjung biasanya datang ke warung bersama teman, jarang
sekali datang sendiri tanpa teman, (4) pengunjung biasanya duduk berkelompok
dua sampai lima orang atau lebih, (5) dalam satu kali kunjung ke warung,
pengunjung biasanya menghabiskan waktu dua sampai lima jam untuk nyethe; (6)
topik yang dibicarakan pada saat ngobrol sangat bervariasi, tergantung subyek
yang membicarakanya, mulai dari hal-hal yang bersifat ringan dan tidak serius
sampai hal-hal yang bersifat serius, misalnya tentang pacar, jual beli motor,
negosiasi harga handphone, masalah isu-isu di masyarakat yang sedang marak,
tentang berita di televisi, mengenai even-even terdekat yang akan diikuti, tentang
keluarga, mengenai pertandingan sepak bola, masalah isu-isu politik dan lain
sebagainya.
Pengaruh Nyethe Terhadap Proses Interaksi Sosial Masyarakat
Hasil penelitian menunjukan bahwa pengunjung yang berasal dari
berbagai lapisan, baik dari kalangan tua maupun muda, berbaur menjadi satu.
Mereka saling akrab dan tidak membedakan golongan tua maupun muda, kaya
maupun miskin.
Pengaruh Nyethe Terhadap Pembentukan Komunitas Baru

Dari data penilitian yang diperoleh dapat diketahui bahwa sering diadakan
lomba nyethe atau sering disebut Nyethe Competition di berbagai tempat baik
itu di warung-warung, di plasa atau dalam even-even peringatan hari besar.
PKMI-1-12-4

PEMBAHASAN
Kegiatan-Kegiatan Yang Dilakukan Pada Waktu Nyethe
Dari hasil penelitian, didapat beberapa temuan tentang kegiatan apa saja
yang dilakukan pada waktu nyethe. Dari data yang diperoleh tersebut, dapat
dibuat beberapa pengklasifikasian antara lain temuan yang mendukung asumsi
negatif dari masyarakat dan temuan yang menolak anggapan negatif masyarakat
tentang nyethe yang membuang-buang waktu. Adapun temuan yang mendukung
asumsi negatif masyarakat misalnya waktu yang biasa dihabiskan oleh orang yang
sedang melakukan nyethe yaitu 2 sampai 5 jam untuk satu kali nyethe. Ini bisa
benar jika dalam jangka waktu yang cukup panjang tersebut, orang yang nyethe
tidak melakukan hal-hal yang bermanfaat, misalnya hanya duduk-duduk santai
dan membicarakan hal-hal yang kurang penting dan berguna, apalagi
menggunjing atau membicarakan kejelekan-kejelekan orang lain (bahasa jawa:
ngrasani). Di sisi lain, juga ada beberapa temuan yang menolak ataupun
mengklarifikasi asumsi negatif dari masyarakat misalnya temuan tentang orang-
orang yang datang ke warung sering ngobrol lama dan topik yang dibicarakan
mengenai bisnis atau bahkan negoisasi jual beli sesuatu yang berakhir dengan
adanya transaksi maupun persetujuan. Hal ini menunjukan bahwa nyethe juga bisa
digunakan sebagai media untuk melakukan hal-hal yang penting dan berguna,
tidak selalu membuang-buang waktu.

Nyethe dalam Perspektif Interaksi Sosial


Ada dua pendapat yang dikemukakan oleh ahli sosiologi mengenai definisi
dari interaksi sosial, S.S Sargen menjelaskan interaksi sosial sebagai tingkah laku
sosial yang selalu dalam kerangka kelompok seperti struktur dan fungsi dalam
kelompok. Sementara itu, H. Bonner mendefinisikan interaksi sosial sebagai suatu
hubungan antara dua atau lebih individu manusia dimana kelakuan individu yang
satu mengubah atau memperbaiki kelakuan individu yang lain atau sebaliknya
(Santoso, 1992).
Kedua definisi tersebut tidak membedakan satu sama lain tetapi saling
melengkapi sehingga dapat ditarik kesimpulan tentang aspek-aspek interaksi
sosial. Aspek-aspek tersebut meliputi: adanya individu, adanya tujuan, adanya
hubungan antar individu maupun kelompok, dan adanya hubungan dengan
struktur dan fungsi kelompok (Santoso, 1992). Dalam proses interaksi sosial yang
nyata, keempat aspek tersebut saling mempengaruhi satu sama lain.
Dari data penelitian mengenai kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam
nyethe, jika dihubungkan dengan definisi dan aspek-aspek interaksi sosial,
terdapat kesamaan-kesamaan yang bisa menjadi dasar untuk menyatakan bahwa
dalam kegiatan nyethe terdapat unsur-unsur interaksi sosial. Kesamaan-kesamaan
tersebut bisa dilihat dari bentuk-bentuk kegiatan yang dilakukan dalam nyethe
yang lebih bersifat kelompok bukan secara individu, misalnya duduk
berkelompok dan mengobrol. Sangat jelas bahwa ketika beberapa orang duduk
bersama dan membicarakan sesuatu, disitulah terjadi suatu komunikasi.
Komunikasi ini menunjukan adanya hubungan antar individu dalam sekelompok
orang tersebut dan adanya tujuan tertentu dari komunikasi yang berlangsung. Dari
analisis ini jelas bahwa sedikitnya terdapat dua aspek yang membuktikan bahwa
nyethe dapat dikategorikan sebagai salah satu proses interaksi sosial yang terjadi
di masyarakat khususnya pada masyarakat perokok.
PKMI-1-12-5

Jika nyethe bisa dikategorikan sebagai interaksi sosial, maka muncul


pertanyaan yaitu interaksi sosial yang bagaimana yang terjadi dalam nyethe. Krout
(1983) (dalam Santoso, 1992) menyatakan bahwa terdapat empat macam interaksi
sosial yaitu komensialisme, parasialisme, mutualisme, dan sosiality. Dari keempat
macam interaksi sosial tersebut, nyethe dapat dikategorikan kedalam dua dari
empat macam interaksi sosial. Pertama, nyethe dapat dikategorikan sebagai
mutualisme yaitu interaksi sosial yang menguntungkan kedua belah pihak. Pihak
dalam pengertian tersebut tidak harus diartikan harus dua belah pihak, tetapi pihak
bisa lebih dari dua belah pihak atau beberapa pihak. Dalam kegiatan nyete tidak
ada salah satu pihak yang dirugikan tetapi semua pihak mendapat keuntungan
sesuai dengan peran dan tujuan masing-masing pihak yang terlibat, misalnya
pemilik warung mendapat laba dari kopi dan rokok yang dijual sedangkan
pngunjung mendapat kepuasan menikmati kopi dan rokok sambil nyethe di
warung. Di antara sesama pengunjung juga tidak ada individu yang dirugikan,
misalnya dalam berinteraksi mereka saling berukar pendapat, informasi maupun
sekedar ngobrol yang membuat masing-masing individu merasa sama-sama
senang dan enjoy. Yang kedua, selain dikategorikan sebagai mutualisme, nyethe
juga bisa dikategorikan sebagai sosiality. Sosiality adalah suatu interaksi sosial
yang bersifat kemasyarakatan.(Santosa, 1992). Kemasyarakatan didefinisikan
sebagai bentuk interaksi sosial yang bersumber dari masyarakat yang ada dan
berpengaruh pada masyarakat itu sendiri. Jika ditinjau dari segi historis, kegiatan
nyethe tercipta dari kesenangan (hobi) masyarakat khisusnya perokok sebagai
subyek pelaku, dan berpengaruh pada masyarakat itu sendiri secara sempit
maupun masyarakat keseluruhan secara umum.

Interaksi Sosial Sebagai Pembentuk Komunitas Baru di Masyarakat


Individu tidak dapat dilepaskan dari situasi dimana ia berada dan situasi
ini sangat berpengaruh terhadap kelompok yang terbentuk akibat situasi tersebut
(Santosa, 1992). Pengunjung warung cethe sebagai individu juga tidak terlepas
dari situasi warung dimana ia sedang berada. Karena terdapat beberapa
pengunjung dalam satu tempat yang melakukan hal yang sama yaitu nyethe maka
terciptalah suatu situasi nyethe yang selanjutnya membentuk kelompok atau
komunitas dalam satu tempat tersebut.
Santosa (1992) menyatakan bahwa situasi yang dihadapi individu dalam
kelompok dapat dibagi menjadi dua, yaitu situasi kelompok sosial dan situasi
kebersamaan. Situasi kelompok sosial didefinisikan sebagai suatu situasi dimana
terdapat dua individu yang telah mengadakan interaksi sosial yang mendalam satu
sama lain. Sedangkan situasi kebersamaan artinya suatu situasi dimana berkumpul
sekumpulan individu secara bersama sama. Berdasarkan definisi tersebut, situasi
nyethe dapat dikategorikan sebagai situasi kebersamaan. Situasi kebersamaan
dapat menciptakan kelompok kebersamaan yakni suatu kelompok individu yang
berkumpul pada suatu ruang dan waktu yang sama, tumbuh dan mengarahkan
tingkah laku secara spontan (Kinch, 1983) (dalam Santoso, 1992). Kelompok
kebersamaan memiliki ciri-ciri: bertanggung jawab dalam waktu yang relatif
pendek, para pesertanya berhubungan secara fisik, kurang adanya aturan yang
terorganisir, dan interaksinya bersifat spontan (Santosa, 1992). Berdasarkan ciri-
ciri tersebut, nyethe juga bisa dikatakan sebagai kelompok kebersamaan yang
PKMI-1-12-6

terbentuk dari situasi kebersamaan sebagai implikasi interaksi sosial yang terjadi
dalam aktivitas nyethe.
Kelompok kebersamaan yang terbentuk dalam aktivitas nyethe
selanjutnya secara jangka panjang dapat membentuk suatu komunitas baru di
masyarakat Tulungagung yaitu komunitas cethe mania.. Hal ini terbukti dengan
data hasil penelitian yang menyatakan bahwa sering diadakanya kegiatan-kegiatan
yang berusaha mengumpulkan dan mewadahi kreatifitas para pelaku nyethe,
misalnya lomba nyethe atau nyethe competition se-kabupaten Tulungagung.
Karena nyethe sudah menjadi kebiasaan para perokok khususnya di
daerah Tulungagung, maka nyethe bisa dikatakan sebagai budaya perokok di
daerah Tulungagung. Hal ini sesuai dengan definisi budaya. Culture is the
informal and often hidden patterns of human interactions, viewpoints, and
expressions that people share (Mutmainah, 2005). Budaya merupakan bentuk-
bentuk tersembunyi dan informal dari interaksi, pandangan dan ekpresi manusia .
dari definisi tersebut, diketahui bahwa nyethe termasuk budaya yang mempunyai
unsur ekspresi, interaksi, dan kebiasaan yang dilakukan secara umum dan
berulang-ulang di masyarakat Tulungagung khususnya masyarakat perokok.

KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa asumsi negatif
dari masyarakat yang menganggap nyethe adalah aktivitas yang membuang-buang
waktu tidak selalu benar. Hal ini terbukti dengan adanya data hasil penelitian yang
menunjukan bahwa kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada waktu nyethe
bervariasi dan hanya sedikit yang mengandung unsur membuang-buang waktu.
Bahkan ada yang menganggap nyethe mempunyai unsur seni. Membuang-buang
waktu atau tidaknya kegiatan nyethe sangat bergantung pada subyek pelaku
nyethe itu sendiri, apakah mereka memanfaatkan nyethe untuk hal-hal yang
berguna atau tidak.
Dipandang dari segi sosial budaya dan kemasyarakatan, nyethe merupakan
cikal bakal terbentuknya suatu interaksi sosial yang lebih bersifat positif. Dari
interaksi sosial tersebut selanjutnya terbentuk komunitas baru di masyarakat
Tulungagung yang secara langsung maupun tidak langsung menciptakan budaya
baru di kalangan masyarakat perokok di daerah Tulungagung.

DAFTAR PUSTAKA
Bodgan, Robert C. & Biklen, Sarri Krop. (1982). Qualitative Research for
Education: An Introduction to Theory and Methods, Toronto, Allyn &
Bacon, Inc.
Denzin, Norman K. & Lincoln, Yvonna S. (1994). Handbook of Qualitative
Research, California, Sage Publication.
Latief, Mohamad Adnan. (1999). Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif, Forum
Penelitian Kependidikan, 2, 112.
Mutmainah, Siti Nurul. (2005). Cross Cultural Understanding, Malang, English
Department UM.
Santoso, Slamet. (1992). Dinamika Kelompok, Jakarta, Bumi Aksara
PKMI-1-13-1

HARAPAN DAN ANCAMAN KENAIKAN TARIF DASAR LISTRIK

ANISA WARDAH, BAGAS NUGROHO, I GEDE HARIANDANA, SITI


FATIMAH, SITI MARFUAHABSTRAK
UNIVERSITAS MULAWARMAN, SAMARINDA

ABSTRAK
Studi ini merupakan kajian teoritas dan empiris, oleh sebab itu perlu ditinjau
labih lanjut agar nantinya dapat menghasilkan data yang akurat. Dalam hal ini
harga BBM mrupakan inti dari permasalahan dari kenaikan TDL bagi konsumen,
kenaikan harga selalu menjadi masalah, apalagi dalam situasi perekonomian saat
ini. Kenaikan tariff listrik yang direncanakan dikhawatirkan akan menekan daya
beli masyarakat yang sudah terpuruk saat ini. Alas an TDL dinaikan karena
Perusahaan Listrik Negara (PLN) tidak sanggup menenggung biaya operasional
yang harus dikeluarkan setiap bulan. Tapi apakah hal itu hanya berkaitan
langsung dengan kenaikan BBM atau tidak, belum dapat dipastikan. Sebab,
sebagaimana perusahaan negara lain, PLN juga tidak lepas dari permasalahan
manajemen. Untuk mendapatkan keterangan tersebut dikumpulkan data dan
informasi dengan menggunakan metode Interview kepada pihak-pihak yang
bersangkutan, dalam hal ini adalah pihak PLN. Selain itu digunakan juga metode
Dokumentasi sebagai pelengkap data. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis hubungan harga BBM dengan meningkatnya biaya operasional
TDL, penyebab kenaikan TDL, pengaruh kenaikan TDL, terhadap berbagai
kalangan, dan upaya penggulangan masalah kenaikan TDL. Dalam hal ini jika
TDL dinaikan, maka PLN yang beberapa tahun belakangan ini selalu mengalami
deficit dapat diminimalisir kerugiannya dan berpengaruh pada membaiknya
pelayanan PLN terhadap pelanggan, sedangkan bagi masyarakat hal ini
dirasakan sangat memberatkan. Tetapi lain halnya jika TDL tidak dinaikan maka
ketidakseimbangan antara biaya produksi dan pendapatan akan semakin besar
pada neraca keuangan PLN, selain itu mengakibatkan pelayanan terhadap
pelanggan menjadi tidak maksimal.

Kata kunci : BBM, kenaikan TDL, biaya operasional, permasalahan deficit

PENDAHULUAN
Seiring dengan lajunya pertumbuhan penduduk yang terjadi,
perkembangan perekonomian di Indonesia belakangan ini sangat memberatkan
bagi masyarakat. Perekomian di Indonesia mengalami pasang surut mulai dari
krisis moneter tahun 1998, melemahnya nilai rupiah terhadap kurs dollar, dan
kenaikan BBM. Imbas kenaikan bahan bakar minyak (BBM) belum hilang.
masyarakat kembali dihadapkan pada rencana pemerintah untuk menaikan tarif
dasar listrik (TDL). Rencana pemerintah untuk menaikkan TDL ternyata menurut
pihak PLN disebabkan merupakan rentetan akibat dari kenaikan BBM yang
semakin melambung. Saat harga BBM naik secara otomatis biaya produksi PLN
pun meningkat sehingga anggaran dana yang dialokasikan untuk biaya operasi
PKMI-1-13-2

tidak mencukupi. Hal lain yang memicu rencana kenaikan TDL adalah
pertumbuhan yang penduduk yang pesat mendorong kebutuhan akan listrik
meningkat. Dengan biaya operasional yang tidak seimbang dengan pendapatan
sangat sulit bagi PLN dapat memenuhi permintaan masyarakat yang semakin
banyak. Hal ini masih didukung oleh permasalahan manajemen di tubuh PLN itu
sendiri yang sampai sekarang dirugikan oleh banyak pihak . Salah sata solusi yang
terpikirkan oleh pihak PLN karena berbagai permasalahan ini adalah menaikan
TDL. Tetapi di sisi lain kenaikan TDL dikhawatirkan akan berpengaruh terhadap
kerterpurukan ekonomi yang berdampak pada menurunnya tingkat kesejahteraan
masyarakat, Saat TDL naik pengeluaran masyarakat untuk membayar biaya listrik
akan naik dan mengurangi pengalokasian dana pada kebutuhan yang lain. Dalam
hal ini posisi PLN sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang tidak hanya
berorientasi Prnfit oriented tetapi lebih kearah pelayanan masyarakat perlu
diperhatikan. Apabila TDL jadi dinaikan beban hidup masyarakat akan semakin
berat, masyarakat harus membayar dengan sangat mahal hak mereka atas energi
(listrik), yang sesungguhnya adalah milik mereka. DI sisi lain, keterbatasan
kemampuan keuangan negara kini tidak memungkinkan untuk melakukan
pembangunan di sektor listrik. Akibatnya terjadi pemadaman bergilir di berbagai
wilayah, dan ancaman pemadaman di wilayah lainnya. Pemerataan kesempatan
menikmati sambungan listrik kian sulit karena terhambatnya pembangunan
infrastruktur bank. Pada akhirnya, krisis listrik akan memperlambat roda
perekonomian. Dari permasalahan di atas peneliti berusaha mengungkapkan hal-
hal yang mendasari kenaikan TDL yang direncanakan pemerintah dengan dasar
pemikiran teori Biaya dan Demand Supply pada pasar monopoli.
Adapun permasalahan yang diungkapkan penulis adalah mengenai
besarnya pengaruh BBM terhadap biaya operasi, penyebab kenaikan TDL,
analisis biaya produksi listrik, pengaruh kenaikan TDL terhadap berbagai pihak
dimasyarakat, dan upaya dalam menanggulangi kenaikan TDL.
Studi dibuat dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh BBM terhadap
biaya operasional PLN sehingga nantinya diharapkan dapat memberikan masukan
kepada pihak-pihak yang berkompeten. Dengan mengetahui pengaruh biaya
produksi terhadap kegiatan operasional maka dapat dibentuk system pelaksanaan
yang ekonomis, efektif, dan efisien. Selain itu dapat juga dijadikan dasar dalam
pengidentifikasian manajemen PLN serta sebagai kontrol dalam pelaksanaan
kegiatannya, sehingga hal-hal yang merugikan seperti kebocoran (losses) akibat
administrasi maupun penyusutan serta tunggakan dari para pelanggan dapat
diminimalisir. Selain itu Karya Ilmiah ini dibuat untuk mengetahui pengaruh
kenaikan TDL. terhadap masyarakat, dan mencari solusi yang dapat dijadikan
pertimbangan dalam masalah kenaikan TDL ini.

METODE PENDEKATAN
Karya ilmiah ini dibuat dengan menggunakan Metode Interview dan
Dokumentasi. Metode Interview digumakan sebagai metode utama dalam
pengumpulan data, metode pelengkap dalam memperoleh informasi, serta sebagai
kriterium (pengukur) untuk meyakinkan atau mengukur suatu kebenaran
imformasi. Dalam penelitian ini pengiunpulan data dilakukan melalui interview
PKMI-1-13-3

dengan pihak PLN ( Persero ) Samarinda, yang dalam hal ini merupakan pajak
yang berkompeten dalam menyikapi masalah ini. Sedangkan Metode
Dokumentasi digunakan dalam pengumpulan data yang ditujukan kepada subyek
penelitian dan merupakan bahan penelitian yang merekam peristiwa penting.

HASIL
Menurut pemeriksa keuangan (BPK) yang datanya dilihat penulis dari
Tribun Samarinda pada bulan Maret 2006 , diketahui bahwa harga tarif dasar
listrik pada Agustus 2003 berdasarkan Kurs Dollar As Rp.8,871. inflast sebesar
6,63%, dan harga solar per liter Rp.1668. BPK dengan asumsi Kurs Dollar As
Rp.9700, inflasi 8 % dan harga sollar per liter Rp. 5000, memperoleh nilai deficit
keuangan PLN RP. 27,2 Triliun, dengan kemampuan subsidi pemerintah Rp. 17
Triliun.
Berdasarkan hasil interview dengan pihak PLN (PERSERO) Samarinda
pada tanggal 13 Maret 2006, diperoleh data bahwa harga jual listrik Rp.
630,00/kwh dengan rincian biaya produksi untuk BBM sebesar Rp. 5000,00 untuk
3 kwh. Biaya produksi untuk biaya selain BBM sebesar Rp. 1000,00 untuk 3 kwh,
sehingga didapat biaya total produksi sebesar Rp. 6.000,00 untuk 3 kwh atau Rp.
2000,00/kwh. Dimana perhitungan mengasilkan nilai defisit PLN sebesar 34
Triliun Rupiah, dengan kemampuan subsidi pemerintah 17 Triliun rupiah,
sehingga PLN masih mengalami kekurangan dana untuk menutupi sebesar Rp. 17
triliun.

BBM Naik
Nilai rupiah turun Biaya produksi PLN naik

Inflasi naik TDL naik

Daya beli masyarakat turun

Pengangguran

Gambar rantai kenaikan TDL

Saat harga naik, maka biaya produksi PLN meningkat, hal ini dikarenakan
BBM merupakan bahan baku utama dalam proses produksi, sehingga berpengaruh
pada kenaikkan TDL. Saat TDL naik maka biaya produksi perusahaan juga naik.,
akibatnya perusahaan melakukan efisiensi tenaga kerja (PHK), Oleh karena itu
terjadi pengangguran dan membuat daya beli masyarakat menurun, kemudian
berpengaruh pada kenaikan harga Inflasi. Untuk menutupi kerugian pemerintah
maka kembali lagi pemerintah mengambil kebijakan untuk menaikkan harga
BBM.
PKMI-1-13-4

PEMBAHASAN
Alasan kenaikan tarif listrik yang mengemuka saat ini tampak bagi
sebagian pihak tak masuk akal. PLN mengusulkan kenaikan TDL dengan
mengemukakan alasan depresiasi rupiah terhadap dollar AS, harga jual yang
masih rendah dari harga pokok produksi (HPP ), meningkatnya harga BBM,
kebuhihan investasi untuk memenuhi permintaan listrik yang tumbuh 10 persen
per tahun, dan kesepakatan kenaikan TDL menuju tarif keekonornian pada tahun
2004.
Korelasi antara kenaikan BBM dan biaya produksi adaiah dengan naiknya
harga BBM secara otomatis menaikan biaya bahan baku (BBB). Dalam operasi
kegiatan produksi di PLN, biaya BBM mempengaruhi sekitar 70% dari total
biaya, sehingga saat biaya BBM naik maka hal ini berimbas sangat besar terhadap
biaya pokok produksi (BPP).
Dengan fluktuasi kenaikan kurs dollar mengakibatkan harga perolehan
spare part meningkat. Apabila spare part tersebut di gunakan untuk perawatan
atau pemeliharaan mesin, maka itu akan menambah biaya pemeliharaan mesin,
dan apabila spare part tersebut di gunakan sebagai pengganti mesin yang rusak,
rnaka akan menambah biaya penyrrsutan. Korelasi antara biaya pemeliharaan dan
biaya penyusutan terhadap produksi yaitu balk biaya pemeliharaan maupun biaya
penyusutan termasuk dalam biaya overhead pabrik: ( BOP ). BOP merupakan
salah satu elemen dari BPP. Jadi, dapat disimpulkan saat biaya untuk spare part
tersebut naik, maka BPP pun meningkat.
karena adanya penrbahan harga mata yang rupiah pihak PLN melakukan
revaluasi asset untuk mengetahui nilai asset mereka saat ini. Revaluasi asset ini.
dilakukan pada tahun 2002. Akibatnya, jika dibandingkan dengan nilai asset PLN
yang pada tahun 2001 sebesar 79,9 triliun rupiah, pada tahun 2002 naik tiga kali
lipat menjadi 213,8 triliun nrpiah. Konsekuensi peningkatan nilai asset itu adalah
pada peningkatan biaya depresiasi. Jika volume depresiasi PLN untuk tahun buku
2001 hanya 3,4 triliun rupiah, maka tahun buku 2002 meningkat menjadi 15,6
triliun rupiah. Akibatnya, untuk tahun-tahun selanjutnva, seperti halnya tahun
2002, biaya penyusutan naik. Jadi kesimpulannya revalusi asset juga membuat
melonjaknya biaya produksi.
Seperti halnya perusahaan swasta, selain biaya produksi PLN, BBB,BOP,
dan BTK juga perlu diperhatikan. Untuk beberapa tahun belakangan ini BTK
tidak terlalu ada perubahan, hal ini disebabkan tidak adanya kenaikan gaji. Tapi
tidak menutup kemungkinan kedepannya.BTK ini akan naik, hal ini didorong oleh
tuntutan karyawan yang menginginkan kesejahteraan yang lebih baik dari semula.
Dikarenakan PLN adalah sebuah perusahaan yang sangat besar maka tidak
heran kalau dalam kegiatannya kadang melakukan kesalahan misalnya, kesalahan
perhitungan, kesalahan pembacaan meteran, atau kesalahan pencatatan, serta
pencurian. Karena hal ini menyebabkan kerugian semakin besar, maka PLN harus
efisien agar losses berkurang sehingga BPP dapat ditekan sampai harga yang lebih
murah.
Kenaikan BPP juga diakibatkan oleh mahalnya harga pembelian dari
Iistrik swasta. Working Group on Power Sector Restructuring (WGPSR)
menemukan bahwa harga pembelian listrik dari pembangkit listrik swasta oleh
PKMI-1-13-5

PLN rata-rata sebesar Rp 491,28 (5,8 sen dollar AS per kWh), jauh lebih tinggi
dari rata-rata harga listrik yang diproduksi anak perusahaan PLN, lndonesia
Power, yaitu Rp 344,54 (4 sen dollar AS per kWh). Sesuai data WGPSR, PLN
harus mengalokasikan dana sebesar Rp 11,5 triliun, atau 19 persen dari total
beban usaha PLN tahun 2003, guna membeli listrik swasta tersebut. Masalahnya
tidak seluruh listrik dari swasta dapat diserap oleh PLN karena ada masalah
dengan transmisi listrik di jaringan Jawa-Bali. Walaupun demikian, PLN tetap
wajib membayar listrik tersebut karena terikat kontrak take or pay.
Sebagai suatu perusahaan yang negara PLN sering mengalami kesulitan
dalam menagih pembayaran (piutang) kepada instansi. Karena untuk menjaga
nama baik instansi yang bersangkutan. PLN tidak bisa mengekspos hal ini,
sehingga sering terjadi tunggakan yang menumpuk dan relatif besar pada suatu
instansi.
Sebagai sebuah perusahaan salah satu pendapatannya berasal dari
pembayaran beban listrik. Selain itu juga ada tambahan dari pembayaran denda
akibat pelanggan terlambat membayar atau melakukan pelanggaran. Berbeda
dengan perusahaan swasta, PLN yang merupakan BUMN mendapat
subsidi dari pemerintah.
Rencana pemerintah utuuk menaikkan TDL menuai berbagai macam
reaksi dari berbagai macam kalangan, tidak hanya mahasiswa, Lembaga Swdaya
Masyarakat (LSM), masyarakat, dan sektor bisnis Juga menyuarakan
ketidaksetujuannya atas rencana pemerintah tersebut. Kenaikan TDL ditakutkan
masyarakat akan berpengaruh kuat terhadap kenaikan inflasi, karena dengan
naiknya TDL ini mengakibatkan biaya produksi menjadi naik dan otomatis diikuti
dangan kenaikan harga barang lain (spiral effect), sehingga daya beli masyarakat
menurun. Bila biaya produksi dalam suatu usaha meningkat maka perusahaan
cenderung melakukan efisiensi tenaga kerja (PHK), dan dengan kenaikkan TDL,
PLN akan mencapai titik BEP, dengan konsekuensi akan menurunkan
kesejahteraan rakyat.
untuk menutupi besarnya Biaya PLN guna melayani kebutuhan
konsekuensi dapat dilakukan berbagai upaya yaitu, memperbaiki manajemen
dalam tubuh PLN. menekan konsumsi BBM seoptimal munakin. dan
meningkatkan efisiensi penagihan dalam rangka mengurangi biaya losses yang
terjadi, menambah subsidi TDL dari berbagai macam pos-pos APBN.

KESIMPULAN
Gagasan menaikkan TDL berlandaskan pada alasan bahwa Perusahaan
Listrik Negara ( PLN ) sudah tidak mampu lagi menanggung beban biaya
produksi, jika revenue berpatokan pada TDL sekarang maka subsidi pemerintah
tidak cukup untuk menutupi beban biaya produksi PLN yang membengkak akibat
kenaikan tajam harga Bahan Bakar Minyak ( BBM ).
Selain BBM ada beberapa faktor yang membuat rencana kenaikan TDL
terlontar, misalnya adanya kebocoran dan revaluasi aset dimana ini semua
membuat BPP TDL (biaya pokok produksi tarif dasar listrik) meningkat.
Apabila kenaikan TDL dijadikan jalan satu-satunya maka dikhawatirkan
daya beli dan kesejahteraan masyarakat akan menurun. hal ini dikarenakan
PKMI-1-13-6

pengeluaran masyarakat untuk pembayaran beban listrik naik dan diikuti


menurunnya pengeluaran di kebutuhan yang lain. Dikarenakan oleh hal ini maka
rencana untuk menaikan TDL perlu dikaji ulang.
Selain dengan menaikan TDL, apabila PLN bisa memperbaiki
manajemennya, melakukan efisiensi, ada kemungkinan hal ini bisa menutupi
biaya produksi yang meningkat.

DAFT AR PUSTAKA
Reksoprayito. Soediyono. (2000). Pengantar Ekonomi Makro, edisi VI, BPFE-
Yokyakarta.
Mukyadi. (1999). Akuntansi Biaya, Aditya Media. Yokyakarta
Kaltim,, tribun.(2006 ). Purnomo: Kita Pusing Tujuh keliling, hlm 1. Samarinda.
Samarinda, Tribun. (2006). Tarif Listrik tak Jadi Naik, hlm 5, Samarinda
Http: www. Tribun Kaltim.comPT PLN PERSERO. (2001).
Berevetisasi Juru Tera III, Pandaan. Jawa Timur
PKMI-1-14-1

SITUS PORNO ANCAMAN PADA ETIKA GENERASI MUDA

Amirul Muslim, Fatimah Sari Siregar, dan Dian Hariyanti


Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Medan

ABSTRAK
Pergaulan bebas, hamil di luar nikah, atau kasus aborsi yang banyak terjadi
akhir-akhir ini menunjukkan betapa rendahnya etika generasi muda bangsa ini.
Fenomena tersebut menarik perhatian kami sebagai tim Peneliti untuk mencari
salah satu penyebabnya. Peneliti coba berfokus pada pengguna layanan warung
internet yang menyediakan situs porno. Hal ini dilakukan untuk membuktikan
terdapat pengaruh yang signifikan antara situs porno pada media internet
terhadap etika generasi muda, khususnya perilaku seks remaja yang menyimpang.
Dengan menggunakan metode Korelasi Asosiatif (hubungan sebab-akibat),
instrumen pengumpul data dengan cara menyebarkan angket kepada subjek
penelitian sebanyak 87 orang pengunjung warung internet Triple G II Medan,
dan teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis Korelasi
Spearman Rank. Berdasarkan hasil penelitian, hasil yang diperoleh adalah
tingginya peminat situs porno yang berdampak pada perilaku seks menyimpang
para remaja kota Medan. Kesimpulannya adalah terdapat pengaruh yang
signifikan antara situs porno terhadap etika generasi muda, khususnya perilaku
seks remaja.

Kata kunci : Situs Porno-Perilaku Seks Remaja

PENDAHULUAN
Internet merupakan sebuah jaringan komputer yang terdiri dari berbagai
macam ukuran jaringan komputer di seluruh dunia mulai dari sebuah personal
computer (PC), dan jaringan-jaringan lokal berskala kecil dan menengah
(Purwandi, 1997: 1). Ketidakterbatasan ruang lingkup internet yang mampu
menembus seluruh jaringan komputer yang ada di seluruh penjuru dunia telah
membawa peradaban baru manusia yang mengarah pada suatu perkembangan
pengetahuan dan teknologi yang lebih pesat dan cepat. Layanan yang diberikan
pun beraneka, seperti situs (Homepage), email, dan sebagainya.
Namun realita yang ditemukan ketika menjamurnya warung-warung
internet, fasilitas yang lebih digemari untuk dimanfaatkan adalah membuka
berbagai jenis situs porno yang dapat membangkitkan syahwat manusia. Bahkan
pemakainya lebih mengarah pada kalangan remaja.
Hal yang paling dikhawatirkan dari kebiasaan tersebut adalah
mempengaruhi timbulnya berbagai aktivitas seks yang menyimpang pada diri
remaja, seperti melakukan masturbasi, seks bebas dengan orang lain, dan yang
lebih mengerikan lagi adalah tersebarnya penyakit AIDS atau penyakit kelamin
yang menuntut nyawa taruhannya. Jika situs porno telah menjadi media untuk
membangkitkan gairah seks remaja, maka kesulitan yang akan dihadapi remaja
tersebut adalah mengendalikan gairah pada saat keinginan untuk berhubungan
badan seks dalam diri muncul (Gilbert dan Lumoindong, 1996:18).
PKMI-1-14-2

Dengan demikian ada dua rumusan masalah yang akan menjadi landasan
kami melakukan penelitian ini, yaitu :
1. Bagaimana minat pengunjung remaja untuk membuka situs porno
pada warung internet Triple G II Medan?
2. Bagaimana pengaruh situs porno terhadap etika generasi muda,
khususnya perilaku seks menyimpang remaja?
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan salah satu
faktor penyebab maraknya perilaku seks menyimpang di kalangan remaja yang
disebabkan oleh kebiasaan mengunjungi warung internet untuk membuka situs
pornoyang menampilkan berbagai bentuk gambar dan tulisan yang bersifat
sensualitas dan membangkitkan nafsu syahwat yang melihatnya.
Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai bahan rujukan
bagi seluruh lapisan masyarakat agar mewaspadai perkembangan warung-warung
internet pada saat ini yang telah dimanfaatkan oleh para remaja untuk melihat hal-
hal yang tidak senonoh dan kurang manfaatnya dari pada memfungsikan internet
sebagai media untuk memperluas wawasan ilmu pengetahuan.
Peneliti berpandangan, kurangnya sikap tegas para aparatur pemerintah
terhadap para pengusaha warung internet yang menyediakan fasilitas situs porno
sama halnya dengan mengijinkan disebarluaskannya VCD porno.

METODE PENELITIAN
Pendekatan
Penelitian ini dilakukan selama kurang lebih sepuluh hari, terhitung mulai
dari penyebaran angket kepada para pengunjung Warnet Triple G II Medan yang
berada Jl. Dr. Mansur No. 80A Medan sampai dengan penyerahan laporan hasil
penelitian.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskripsi kuantitatif
dengan instrumen penelitian memanfaatkan penyebaran angket yang bersifat
tertutup. Teknik pengambilan sampel yakni menggunakan teknik asidental yang
N
berdasar pada rumus Taro Yamane (Rakhmat, 2002:82), yaitu : n = (Ket
Nd 2 + 1
. n : jumlah sampel, N: jumlah populasi, d 2 : tingkat kesalahan penarikan sampel
yaitu 10 %) yang sebelumnya peneliti mengajukan pertanyaan secara lisan untuk
mengetahui usia pengunjung.
Berdasarkan rumus di atas, diperoleh sampel penelitian sebanyak 87 orang
dari 650 orang pengunjung warung internet Triple G II Medan yang memenuhi
syarat, yang salah satu syaratnya adalah seluruh remaja dengan rentang usia 14
sampai dengan 24 tahun (defenisi remaja berdasarkan usia sebagai standar batas
usia remaja yang dilakukan aparat pemerintah pada saat melakukan sensus
penduduk pada tahun 1984).

Operasionalisasi Variabel
Operasionalisasi variable, peneliti sajikan dalam bentuk tabel di bawah
ini:
PKMI-1-14-3

Tabel.1 Operasionalisasi Variabel

Variabel Operasional Variabel


Variabel Independen Kategori :
Situs Porno 1. Gambar Porno
2. Tulisan Porno
3. Karikatur Porno
4. Film Porno
Variabel Dependen Kategori :
Etika Generasi Muda 1. Sikap Seks
2. Masturbasi
3. Melakukan Hubungan Seks
4. Kepuasan Pribadi
Variabel Antara Kategori :
Generasi Muda 1. Usia
2. Jenis Kelamin
Catatan : Variabel antara diabaikan.

Defenisi Situs Porno, Etika, dan Generasi Muda


Tretter (dalam Purwandi, 1997:17) menyatakan bahwa situs (homepage)
merupakan sebuah menu yang disajikan dalam sebuah program internet yang
merupakan halaman depan dari sebuah alamat informasi. Sedangkan porno
diartikan sebagai segala sesuatu baik gambar maupun tulisan yang isinya tidak
senonoh atau cabul (Lesmana, 1995,70). Jadi, situs porno adalah salah satu menu
yang disajikan pada program internet berupa gambar dan tulisan yang isinya tidak
senonoh atau cabul.
Mengenai defenisi etika, peneliti lebih condong pada pendapat yang
dikemukakan oleh Sudarsono (1991:127), sebagai berikut :
Istilah etika yang berasal dari bahasa Yunani yaitu etos artinya
kebiasaan. Dan kata etika ini juga dikaitkan dengan moral yang dikenal
dengan susila. Moral dan etika mengandung arti praktis, ia merupakan ide-
ide universal tentang tindakan manusia yang tidak baik dan wajar dalam
masyarakat.

Salomoon (1991:7) menambahkan bahwa moralitas lebih khusus


merupakan hukum etika. Dengan demikian, bermoral-tidaknya seseorang dalam
bertindak dan berperilaku tidak dapat distandarkan pada setiap kalangan
masyarakat, melainkan bergantung pada konvensi suatu masyarakat tentang etis
atau tidaknya perilaku seseorang.
Generasi muda adalah generasi penerus suatu bangsa. Bila generasi muda
suatu bangsa baik, maka baiklah bangsa tersebut di masa yang akan dating,
demikian sebaliknya. Hal ini seperti isi GBHN yang menjelaskan bahwa generasi
muda sebagai generasi penerus cita-cita perjuangan bangsa dan sumber insani
bagi pembangunan nasional, perlu pembinaan dan pengembangan serta diarahkan
sehingga menjadi manusia yang berjiwa pancasila.
Generasi muda yang dimaksudkan pada penelitian ini adalah tingkat
remaja dengan rentang usia seperti yang disebutkan sebelumnya yaitu antara usia
PKMI-1-14-4

14 sampai dengan 24 tahun, dan mengabaikan jenis kelamin, pekerjaan,


pendidikan, atau tempat tinggal.
Menurut Sarwono (2002:8), remaja adalah suatu periode peralihan
perkembangan individu dari masa anak-anak menuju masa dewasa dengan
berbagai perkembangannya. Perkembangan tersebut mencakup antara lain sebagai
berikut :
1. Perkembangan biologis seperti matangnya hormon-hormon
reproduksi, termasuk perkembangan alat vital
2. Perkembangan psikologis, mencakup perkembangan kognitif, emosi,
kepribadian, dan moral
3. Perkembangan sosiologis yang lebih banyak dipengaruhi oleh
lingkungan masyarakat, teman sebaya, lingkungan tempat tinggal, dan
media massa
Namun dalam perkembangan dirinya, hal yang tersulit dihadapi oleh
remaja adalah mengendalikan dirinya, terlebih mengontrol seksualitasnya. Saputra
(dalam Sarwono, 2002:21), seorang psikiater lulusan Fakultas Kedoteran UI,
menyatakan bahwa dorongan seks manusia itu sudah ada semenjak manusia
dilahirkan. Oleh karena dorongan seks pada diri manusia sudah ada semenjak
lahir ketika ada suatu stimulus yang membangkitkan gairah seks seseorang, maka
seketika itu juga orang tersebut akan mencari objek untuk melampiaskan
hasratnya tersebut hingga kontrol diri hilang.

Pengukuran dan Penilaian


Angket yang disebarkan kepada para Pengunjung Warnet Triple G II
Medan dengan metode asidental dengan berdasar pada rumus Taro Yamane.
Berdasarkan instrumen tersebut diperoleh data yang peneliti sajikan dalam bentuk
tabel masing-masing variabel, sebagai berikut :

Tabel.2
Distribusi Responden untuk Variabel Independen
dengan Empat Kategori Layanan
Kategori : Gambar Porno Kategori : Karikatur Porno
Jawaban Jawaban
No Frekuensi Persentase No frekuensi Persentase
Responden Responden
1 Sangat sering 20 22,99% 1 Sangat sering 6 6,90%
2 Sering 47 54,02% 2 Sering 40 45,98%
3 Kadang-kadang 19 21,84% 3 Kadang-kadang 24 27,58%
4 Tidak pernah 1 1,15% 4 Tidak pernah 17 19,54%
Jumlah 87 100% Jumlah 87 100%
Kategori : Tulisan Porno Kategori : Film Porno
Jawaban Jawaban
No Frekuensi Persentase No Frekuensi Persentase
Responden Responden
1 Sangat sering 39 44,83% 1 Sangat sering 3 3,45%
2 Sering 23 26,44% 2 Sering 41 47,13%
3 Kadang-kadang 15 17,24% 3 Kadang-kadang 32 36,78%
4 Tidak pernah 10 11,49% 4 Tidak pernah 11 12,64%
Jumlah 87 100% Jumlah 87 100%
Catatan : skor untuk masing-masing opsi yaitu : Sangat sering :4
Sering :3
Kadang-kadang : 2
Tidak pernah :1
PKMI-1-14-5

Pengunjung yang membuka situs porno dengan kategori gambar porno


sebanyak 86 orang (98,85%) dan yang tidak pernah hanya 1 orang (1,15%),
kategori karikatur porno sebanyak 70 orang (80,46%) dan yang tidak pernah
sebanyak 17 orang (19,54%), kategori tulisan porno sebanyak 77 orang (88,54%)
dan yang tidak pernah sebanyak 11 orang (11,49%), dan kategori film porno
berjumlah 76 orang (87,36%) dan yang tidak pernah 11 orang (12,64%).

Tabel.3
Distribusi Responden untuk Variabel Dependen
dengan Empat Kategori Perilaku
Kategori : Sikap Seks Kategori : Melakukan Hubungan Seks
Jawaban Jawaban
No Frekuensi Persentase No frekuensi Persentase
Responden Responden
Sangat Sangat
1 terdorong
36 41,38% 1 7 8,04%
terdorong
2 Terdorong 27 31,03% 2 Terdorong 43 49,43%
Kurang Kurang
3 terdorong
19 21,84% 3 17 19,54%
terdorong
Tidak Tidak
4 5 5,57% 4 20 22,99%
terdorong terdorong
Jumlah 87 100% Jumlah 87 100%
Kategori : Masturbasi Kategori : Kepuasan Pribadi
Jawaban Jawaban
No Frekuensi Persentase No Frekuensi Persentase
Responden Responden
Sangat Sangat
1 18 20,69% 1 17 19,54%
terdorong terdorong
2 Terdorong 46 52,87% 2 Terdorong 45 51,72%
Kurang Kurang
3 terdorong
18 20,69% 3 terdorong
22 25,29%
Tidak Tidak
4 5 5,57% 4 3 3,45%
terdorong terdorong
Jumlah 87 100% Jumlah 87 100%
Catatan : skor untuk masing-masing opsi yaitu : Sangat terdorong : 4
Terdorong :3
Kurang terdorong : 2
Tidak terdorong : 1

Hasil jawaban responden tentang perilaku seks remaja pada masing-


masing kategori setelah membuka situs porno memberikan pengaruh yang besar.
Untuk kategori sikap seks yang menyatakan sangat terdorong sebanyak 36 orang
(41,38%), menyatakan terdorong 27 orang (31,03%), sebanyak 19 orang (21,58%)
menyatakan kurang terdorong, dan hanya 5 orang (5,57%) yang menyatakan tidak
terdorong. Untk kategori perilaku melakukan hubungan seks yaitu 7 orang
(8,04%) menyatakan sangat terdorong, 43 orang (49,43%) menyatakan terdorong,
17 orang (19,54%) menyatakan kurang terdorong, dan 20 orang (22,99%) yang
menyatakan tidak terdorong.
Distribusi perilaku seks remaja untuk bermasturbasi yaitu yang
menyatakan sangat terdorong 18 oarang (20,69%), menyatakan terdorong 46
orang (52,87%), menyatakan kurang terdorong sebanyak 18 orang (20,69%), dan
yang menyatakan tidak terdorong hanya 5 orang (5,57%). Serta untuk kategori
kepuasan pribadi distribusi yang diperoleh adalah 17 orang (19,54%) menyatakan
PKMI-1-14-6

sangat terdorong, 45 orang (51,72%) menyatakan terdorong, 22 orang (25,29%)


menyatakan kurang mendorong, dan hanya 3 orang (3,45%) menyatakan tidak
terdorong.
Guna menguji hipotesis keorelasi antara variabel independen terhadap
variabel dependen, peneliti menggunakan rumus Spearman Rank yaitu
6 bi 2
p = 1 (Sugiyono, 2000:229). Agar memudahkan pengolahan data,
n(n 2 1)
peneliti membuat tabel penolong sebagai berikut :

Tabel.4
Tabel Penolong untuk Menghitung Korelasi Spearman Rank
Variabel Variabel Rank Variabel Rank Variabel
No
Independen Dependen Independen Dependen
bi bi 2
1 270 268 1 1 0 0
2 209 211 4 4 0 0
3 265 251 2 3 -1 1
4 210 250 3 2 1 1

JUMLAH bi 2
=2

Berdasarkan tabel penolong di atas, maka data tersebut dimasukkan ke


dalam rumus Spearman Rank di atas, dan hasil yang diperoleh harga rho 0,8.
namun hasil tersebut belum menjadi patokan untuk menarik kesimpulan, sebab
rho tabel terbatas n=30. oleh karena itu, untuk menguji signifikansinya untuk
n2
n>30 menggunakan rumus t hit , yaitu t hit = r , dan diperoleh nilai
1 r2
t hit =1,888. maka perlu dibandingkan antara t hit dengan t tab untuk uji dua pihak
dengan dk=85 dan tingkat kesalahan 5% diperoleh perbandingan t hit > t tab
(1,888>0,679). Dan untuk melihat seberapa besar persentase variable independent
terhadap variable dependen, peneliti menggunakan rumus determinasi
D = px100 % dengan besar persentasenya adalah 80 % (merupakan nilai yang
cukup tinggi).
Dengan demikian, hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu terdapat
pengaruh yang signifikan situs porno terhadap etika generasi muda, khususnya
perilaku seks remaja yang menyimpang.

PEMBAHASAN

Kegemaran Remaja Membuka Situs Porno

Menjamurnya warung-warung internet pada era globalisasi saat ini, telah


banyak memberikan dampak bagi perkembangan remaja. Internet dengan ruang
gerak yang tidak terbatas memberikan wacana baru kepada pemakainya untuk
lebih mengenali bagaimana perkembangan yang terjadi di seluruh penjuru dunia.
Namun fenomena yang dihadapi dari kemajuan tersebut adalah di samping
memberikan dampak yang positif bagi ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi
PKMI-1-14-7

juga terdapat dampak yang negatif. Dampak tersebut salah satunya adalah
fenomena yang peneliti angkat pada PKMI ini.
Warung-warung internet pada saat ini sangat mudah untuk ditemukan dan
dimanfaatkan fasilitasnya, apalagi untuk wilayah pusat kota. Namun yang lebih
mengherankan adalah lokasi berdirinya warung-warung internet yang lebih
banyak berada di sekitar sekolah atau perguruan tinggi. Memang hal yang tepat
jika pemanfaatan warnet lebih difungsikan sesuai dengan fungsi edukatifnya
sebagai media pemerolehan informasi dan komunikasi modern untuk menambah
pengetahuan tentang perkembangan yang terjadi di seluruh penjuru dunia. Tetapi
jika sebaliknya, layanan warnet-warnet yang ada digunakan untuk melakukan hal-
hal negatif, seperti membuka situs-situs yang kurang bermanfaat tetntu akan lain
pula dampak yang diberikan.
Buktinya adalah seperti karya tulis yang disajikan ini. Ternyata lebih
dominan para pengunjung internet menggandrungi situs porno sebagai tujuan
mengunjungi warnet. Mulai dari hanya sekedar membuka tulisan-tulisan porno,
karikatur porno, sampai pada membuka situs yang menampilkan gambar manusia
bugil bahkan praktek melakukan hubungan senggama. Jelas kesemuanya itu
secara kodrati manusia akan membangkitkan gairah seks. Timbulnya perasaan
dipengaruhi oleh rangsangan atau stimulus tertentu, seperti rangsangan seksual
dan rangsangan emosional (Rakhmat, 2000:231).
Bardasarkan hasil penelitian yang tim peneliti lakukan terhadap 87 orang
Pengunjung Warnet Triple G II Medan, kurang lebih 77 orang gemar membuka
situs porno dengan berbagai kategori. Jika pada satu warnet yang membuka situs
porno sebanyak data yang diperoleh pada penelitian ini, maka dapat
dikuantitatifkan berapa banyak pengunjung melakukan hal yang sama. Dan
apalagi bila pengunjung tersebut lebih didominasi oleh para remaja, khusunya lagi
pelajar, dikarenakan letak warnet yang dekat dengan mereka.
Hal yang terjadi sesuai dengan pendapat yang dinyatakan oleh beberapa
ahli yang telah disebutkan sebelumnya. Remaja akan kehilangan kontrol dirinya
dan akan melakukan hal-hal menyimpang ketika ada sesuatu yang menstimulasi
perasaannya, seperti masturbasi atau juga melakukan hubungan seks dengan orang
lain. Dan dampak dari perilaku menyimpang tersebut sudah dapat diperkirakan.
Putus sekolah, pernikahan dini, hamil pranikah, praktek aborsi, bahkan terjangkit
penyakit-penyakit yang membahayakan, seperti terjangkit HIV-AIDS yang
sampai saat ini belum ada penawarnya.
Menurut pengamatan tim peneliti, ada beberapa faktor yang menyebabkan
tingginya tingkat pemakai situs porno, yaitu sebagai berikut :
1. Tingkat perkembangan remaja yang ingin menemukan jati dirinya,
seperti perkembangan biologis yang mencakup kematangan alat-alat
reproduksi, perkembangan psikologis yang mencakup kematang
kognitif, emosi, kepribadian, dan moral, atau juga perkembangan
social yang lebih dipengaruhi oleh lingkungan sekitar yang terdekat
dengan remaja.
2. Keberadaan dan ketersedian fasilitas yang mendukung. Hal ini
mengarah pada banyaknya warnet-warnet yang memberikan sajian
ekstra (situs porno) yang dapat dinikmati dengan biaya yang murah
dan keamanan yang lebih terjamin. Untuk warnet Triple G II Medan,
memberikan harga promosi yang cukup murah kepada
PKMI-1-14-8

pengunjungnya, khusunya bagi para pelajar. Hanya dengan membayar


Rp. 2.500,00 per-jamnya, pengunjung dapat menggunakan fasilitas
yang ada diwarnet tersebut. Harga tersebut bisa dikatakan lebih murah
jika dibandingkan dengan membeli atau menyewa kaset VCD porno di
rental-rental VCD.
3. Kurangnya perhatian dan ketegasan hukum dari Aparatur
Pemerintahan setempat terhadap para pengusaha warnet yang
memberikan layanan situs porno. Seperti pernyataan yang peneliti
pada bagian sebelumnya, bahwa tindakan penyediaan situs porno di
warung-warung internet sama dengan tindakan penyebaran VCD-
VCD porno.
4. Minimnya pengetahuan agama yang dimiliki oleh para remaja.
Sekolah sebagai lembaga yang menyalurkan ilmu pengetahuan dan
teknologi kepada siswanya hendaknya juga dibarengi dengan
membentengi siswa dengan nilai-nilai religi yang kuat. Sehingga
remaja dapat memilah-pilah mana hal yang baik untuk dilakukan dan
mana hal yang harus dihindarkan.

Pengaruh Situs Porno Terhadap Etika Generasi Muda

Dorongan seks pada diri manusia jika mendapat stimulus, maka akan
mendorong orang tersebut untuk melampiaskan hasratnya (Sarwono, 2002:21).
Situs porno yang menjadi konsumsi pengunjung internet akan membangkitkan
gairah seks pengunjung tersebut untuk menyalurkan hasratnya. Apakah
sekompleks adegan yang disajikan seperti melakukan hubungan senggama dengan
orang lain atau lebih sederhana lagi dengan melakukan masturbasi.
Hal ini dapat dilihat dari hasil pengolahan data yang tim peneliti peroleh
dari pengunjung yang gemar membuka situs porno. Mulai dari sikap seks,
melakukan hubungan seks, masturbasi, sampai kepuasan pribadi menunjukkan
frekuensi yang cukup tinggi.
Frekuensi tertinggi untuk perilaku menyimpang remaja setelah membuka
situs porno tampak pada kebiasaan melakukan masturbasi, bahkan sebanyak 50
orang pengunjung menyatakan dirinya terdorong ingin melakukan hubungan seks
setelah melihat situs porno tersebut. Untuk bermasturbasi secara normal mungkin
masih diterima akal jika hal itu yang terjadi, tetapi jika tuntutan untuk melakukan
hubungan seks pada remaja lebih kuat apakah juga masih dapat diterima akal?
Sehingga tidak mengherankan jika banyak anak-anak remaja yang putus sekolah
dengan alasan telah hamil di luar nikah.
Remaja tidak lagi merasa canggung untuk melakukan hal-hal negatif
bersama lawan jenisnya, berlaku tidak jujur kepada orang tua dan guru, dan yang
paling penting perasaan berdosa kepada Tuhan Yang Maha Esa karena melakukan
hal-hal yang melanggar hukum tuhan.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap para Pengunjung
Warnet Triple G II Medan untuk mengetahui korelasi antara situs porno terhadap
etika generasi muda, menunjukkan pengaruh yang signifikan di antara keduanya.
Para pengunjung warnet lebih gemar membuka situs porno, seperti tulisan porno,
PKMI-1-14-9

gambar porno, karikatur porno, dan film porno, daripad memnambah pengetahuan
tentang perkembangan yang terjadi di seluruh penjuru dunia.
Dan dampak dari kebiasaan membuka situs porno tersebut terhadap etika
generasi muda adalah munculnya perilaku seks remaja yang menyimpang seperti
sikap seks, kepuasan pribadi, masturbasi, dan mendorong remaja untuk
melakukan hubungan seks.

DAFTAR PUSTAKA
BP-7 Pusat.(1993). Bahan Penataran Penghayatan dan Pengamalan Pancasila,
UUD 1945. GBHN : Jakarta
Gilbert, I, dan Reinda Lumoindong.(1996). Pelacuran di Balik Seragam Sekolah.
Yogyakarta: Yayasan Andi (Anggota IKAPI)
Purwandi,H,Daniel.(1997). Mengenal Internet Jaringan Informasi Dunia. Jakarta:
Alex Media Komputindo
Rakhmat, Jalaluddin.(2000). Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja
Rosdakarya
.(2002). Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: Remaja
Rosdakarya
Sudarsono.(1991). Etika Islam tentang Kenakalan Remaja. Jakarta: Rhineka Cipta
Sugiyono.(2000). Statistik untuk Penelitian. Bandung: Alfabetha
Sarwono, Sarlito,W.(2002). Psikologi Remaja. Jakarta: Rajagrafindo Persada
PKMI-1-15-1

PERLAKUAN PENYEDUHAN AIR PANAS PADA PROSES


FERMENTASI SINGKONG DENGAN ASPERGILLUS NIGER

Pratiwi Erika, Sherly Widjaja, Lindawati, Fransisca Frenny


Fakultas Teknobiologi, Universitas katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta

ABSTRAK
Umbi singkong dapat digunakan sebagai pakan ternak karena kandungan pati
yang tinggi serta nilai jualnya yang rendah. Akan tetapi, kadar protein singkong
sangat kecil (1-3%) sehingga kurang efektif dalam penggunaannya sebagai pakan
ternak terutama unggas. Peningkatan kadar protein singkong dapat dilakukan
dengan proses fermentasi substrat padat. Substrat yang dipakai diberi perlakuan
dengan diseduh terlebih dahulu sebagai pengganti proses pengukusan dan
disuplementasi dengan amonium sulfat. Penyeduhan substrat sebelum proses
fermentasi efektif digunakan. Selain lebih ekonomis, kelangsungan proses
fermentasi tidak terhambat. Penambahan amonium sulfat pada substrat
menjadikan kandungan protein sejati (kadar protein kasar dikurangi sisa nitrogen
amonium sulfat) setelah proses fermentasi menjadi lebih tinggi dibandingkan
substrat tanpa penambahan amonium sulfat. Kenaikan nilai kadar protein sejati
mencapai 107%.
Kata kunci: umbi singkong, protein, Aspergillus niger, amonium sulfat, seduh

PENDAHULUAN
Produksi singkong di Indonesia terbilang cukup tinggi. Hal tersebut
disebabkan karena singkong merupakan tanaman yang mudah tumbuh bahkan
pada kondisi tanah yang miskin akan unsur hara. Pada masa panen, karena
produksi yang melimpah, harga jual singkong dapat menurun.
Dalam usaha peternakan, 70% biaya produksi ditentukan oleh biaya pakan.
Oleh karena itu, faktor keuntungan yang besar dapat diperoleh apabila ransum
dapat dimanipulasi secara efektif dan efisien, terutama dalam penggunaan bahan
pakan yang kaya akan protein (Manurung,1995). Tuntutan akan kebutuhan pakan
dengan kandungan protein tinggi semakin meningkat. Hal ini menyebabkan
Indonesia harus mengimpor pakan berkualitas baik, terutama dengan kandungan
protein yang tinggi seperti bungkil kedelai dan tepung ikan (Purwadaria et
al.,1997). Oleh sebab itu, pengembangan pakan ternak dengan sumber protein
lokal sangat diperlukan.
Umbi singkong memenuhi kriteria sebagai bahan pakan ternak karena
memiliki beberapa keuntungan. Keuntungan penggunaan singkong sebagai pakan
ternak antara lain ialah harganya yang relatif murah, mudah didapatkan, dan
kandungan patinya tinggi sehingga dapat digunakan sebagai karbohidrat terlarut.
Akan tetapi, singkong memiliki kandungan protein yang rendah sehingga
diperlukan suatu pengolahan yang dapat meningkatkan kadar protein dalam umbi
singkong tersebut. Peningkatan kandungan protein pada singkong dapat
menjadikan singkong sebagai pakan ternak dengan kualitas yang baik. Fermentasi
substrat padat dengan kapang Aspergillus niger dapat digunakan untuk
PKMI-1-15-2

meningkatkan kadar protein singkong. Umbi singkong yang telah difermentasikan


dengan menggunakan kapang A. niger dikenal sebagai cassava protein (cassapro)
(Sinurat et al., 1995).
Cassapro memiliki kandungan protein yang lebih tinggi dari bahan asalnya
yaitu singkong. Dengan demikian, cassapro dapat digunakan sebagai bahan
tambahan pada pakan ternak khususnya unggas (Kompiang et al., 1995; Sinurat et
al., 1995; Supriyati, 2003). Penambahan cassapro juga memberikan keuntungan
karena apabila ditambahkan pada pakan ternak utama dapat meningkatkan daya
cerna ternak terhadap pakan tersebut (Kompiang et al., 1995). Hal tersebut
disebabkan karena kemampuan A. niger untuk menghasilkan enzim-enzim
pencernaan seperti selulase, amilase, protease, fitase, dan mananase yang dapat
membantu mencerna pakan ternak (Ogundero, 1982; Sani et al., 1992; Purwadaria
et al., 1997; Purwadaria et al., 1998).
Pada proses pembuatan cassapro, substrat yang dipakai terlebih dahulu
dikukus. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kontaminasi selama proses
fermentasi dan gelatinasi. Untuk fermentasi dalam skala besar, metode
pengukusan dapat menjadi masalah karena membutuhkan biaya yang cukup besar.
Oleh karena itu, gelatinasi dapat dilakukan dengan menyeduh umbi singkong.
Penambahan amonium sulfat diharapkan dapat meningkatkan kadar protein
selama proses fermentasi karena akan digunakan kapang A. niger untuk
membentuk selnya.
Penelitian ini bertujuan meningkatkan kadar protein sejati produk cassapro
dengan perlakuan penyeduhan dan mengetahui pengaruh penambahan amonium
sulfat terhadap peningkatan kadar protein sejati.

METODOLOGI
Sumber Isolat dan Substrat
Isolat kapang yang digunakan ialah inokulum A. niger dari Balai
Penelitian Ternak. Substrat yang digunakan berupa substrat umbi singkong
kering. Singkong dikupas kulitnya kemudian dicacah dan dikeringkan dengan
sinar matahari.

Produksi Cassapro
Sebanyak 800 g singkong dibagi menjadi dua bagian masing-masing
bagian 400 g. Setiap bagian diseduh dengan air panas sebanyak 400 ml selama
dua jam. Kemudian singkong seduh dimasukkan ke dalam baki terpisah dan 8 g
inokulum A. niger ditaburkan secara merata. Satu bagian singkong ditambah
dengan 23.2 g dan satu bagian tanpa amonium sulfat. Jadi pada produksi cassapro
terdapat dua perlakuan yang berbeda, yaitu perlakuan diseduh tanpa penambahan
amonium sulfat dan perlakuan diseduh dengan penambahan amonium sulfat. Baki
ditutup dengan kertas hisap dan disimpan pada suhu 28 oC - 30 oC selama tiga hari
untuk proses fermentasi.
PKMI-1-15-3

Pengamatan Visual Pertumbuhan Kapang


Pengamatan secara visual dilakukan pada pembentukan air, pertumbuhan
miselia dan jumlah spora, serta aroma yang terbentuk setelah masa inkubasi tiga
hari.

Analisis Kimia
Analisis kimia dilakukan pada singkong sebelum fermentasi dan cassapro
setelah fermentasi. Analisis yang dilakukan meliputi penentuan kadar air, pH,
kehilangan bahan kering, kadar protein kasar dan protein terlarut, serta kadar
protein sejati dari masing-masing bagian. Penentuan kadar air dilakukan dengan
menghitung hasil pengurangan bobot singkong sebelum dikeringkan pada suhu
100 oC dengan bobot singkong yang sudah dikeringkan pada suhu 100 oC yang
kemudian dibagi dengan bobot singkong sebelum dikeringkan dan kemudian
dihitung dalam persentase. Pengukuran pH dilakukan menggunakan pH meter,
kadar protein kasar menggunakan metode AOAC (Williams, 1984), penentuan
kadar protein terlarut menggunakan metode Kjeldahl. Kadar protein sejati
diperoleh dengan cara mengurangi total protein dengan protein terlarut (Supriyati,
2003).

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil pengamatan visual terhadap pertumbuhan kapang selama fermentasi
substrat padat singkong dengan A. niger menunjukkan bahwa penambahan
(NH4)2SO2 mempengaruhi pembentukkan spora (Tabel 1). Hal ini berkaitan dengan
ketersediaan zat gizi, khususnya sumber nitrogen. Pada perlakuan tanpa amonium
sulfat, sumber nitrogen terbatas hanya dari bahan singkong. Oleh karena itu,
substrat lebih membatasi pertumbuhan miselia.setelah pertumbuhan miselia
terhenti. Spora akan langsung terbentuk untuk melidungi dirinya dari cekaman
kekurangan zat gizi. Dengan demikian, pada perlakuan dengan amonium sulfat,
pertumbuhan miselia menjadi lebih baik.

Tabel 1 Fermentasi singkong dengan penyeduhan dan penambahan (NH4)2


SO4 menggunakan Aspergillus niger

Perlakuan Miselia Jumlah Aroma Kandungan


Singkong Spora Air
Seduh + (NH4)2 SO4 Banyak Sedang Kurang Menyengat Banyak
- (NH4)2 SO4 Banyak Banyak Menyengat Banyak

Berdasarkan pada pengamatan kuantitatif terjadi penurunan pH setelah


fermentasi selama tiga hari (Tabel 2). Perubahan pH yang terjadi setelah proses
fermentasi menurun pada singkong yang diseduh dengan air panas, baik pada
perlakuan yang diberi penambahan ataupun tanpa penambahan amonium sulfat.
Akan tetapi, penurunan pH pada perlakuan penambahan amonium sulfat lebih
besar (2.64) dibandingkan dengan tanpa penambahan amonium sulfat (1.41).
Penurunan pH ini merupakan bukti telah terjadi proses fermentasi yang dilakukan
oleh kapang di mana karbohidrat singkong diubah oleh amilase dan selulase
kapang menjadi glukosa (Purwadaria et al., 1997) yang kemudian diubah menjadi
PKMI-1-15-4

asam. Pada perlakuan dengan amonium sulfat, pertumbuhan kapang menjadi lebih
baik sehingga karbohidrat yang dipecah menjadi asam lebih tinggi. Dengan
demikian, proses fermentasi pada substrat yang diberi perlakuan dengan amonium
sulfat berlangsung lebih baik dibandingkan dengan proses fermentasi tanpa
amonium sulfat.

Tabel 2 Hasil analisis kimia cassapro sebelum dan sesudah fermentasi

Analisis Kimia Masa Inkubasi Perlakuan (NH4)2 SO4


(hari) Dengan Tanpa
Nilai pH 0 6.42 6.41
3 3.78 5.00
Kadar air (%) 0 51.20 49.60
3 52.34 49.84
Kehilangan bahan kering (%) 0 0.00 0.00
3 8.48 6.49
Kadar protein kasar (%) 0 9.42 2.10
3 12.06 2.90
Kadar protein terlarut (%) 0 6.20 0.00
3 5.43 0.00
Kadar protein sejati (%) 0 3.32 2.17
3 6.87 2.98

Kadar air setelah fermentasi pada perlakuan dengan penambahan amonium


sulfat mengalami peningkatan sedikit lebih tinggi (1.14%) dibandingkan
dengan perlakuan amonium sulfat (0.24%). Pada perlakuan amonium sulfat
pertumbuhan kapang lebih baik sehingga lebih meningkatkan kadar air respirasi
yang dilakukan oleh kapang.
Penurunan bahan kering terjadi pada singkong dengan perlakuan
ammonium sulfat dan singkong tanpa amonium sulfat. Penurunan bahan kering
tersebut menunjukkan adanya bahan kering singkong yang hilang selama proses
fermentasi. Kapang yang tumbuh selama fermentasi kemungkinan menyebabkan
terjadinya kehilangan bahan kering singkong (substrat) karena kapang tersebut
melakukan proses respirasi yang merubah bahan kering organik singkong menjadi
air dan karbon dioksida selama proses fermentasi untuk proses pertumbuhannya.
Oleh karena itu, semakin besar kehilangan bahan kering, semakin baik pula
pertumbuhan mikroorganismenya. Pada perlakuan dengan atau tanpa penambahan
amonium sulfat nilai persentase kehilangan bahan kering cukup besar (8.48 versus
6.49%). Nilai persentase kehilangan bahan kering pada perlakuan dengan
amonium sulfat lebih besar dibandingkan dengan perlakuan tanpa amonium sulfat.
Kapang menggunakan amonium sulfat sebagai sumber nitrogen sehingga
pertumbuhannya menjadi lebih baik.
Kadar protein sejati pada singkong dengan perlakuan amonium sulfat
setelah fermentasi selama tiga hari mengalami peningkatan, yaitu dari 2-3% pada
0 hari menjadi 2-6% setelah fermentasi selama 3 hari. Peningkatan kadar (%)
protein sejati menunjukkan adanya protein yang terbentuk selama proses
fermentasi. Hal ini disebabkan karena kapang menggunakan amonium sulfat
sebagai sumber nitrogen untuk membuat protein dengan energi dan sumber
karbon dari proses pemecahan pati singkong. Sedangkan pada singkong dengan
perlakuan tanpa amonium sulfat, kapang hanya sedikit membentuk protein karena
PKMI-1-15-5

tidak tersedia sumber nitrogen yang melimpah. Peningkatan protein disebabkan


karena kehilangan karbohidrat (kehilangan bahan kering) sehingga menyebabkan
terjadinya pemekatan protein.
Pertumbuhan kapang dan peningkatan kadar protein dapat dilakukan
dengan perlakuan substrat singkong yang diseduh dengan air panas. Selain itu
pembentukan protein selama fermentasi membutuhkan penambahan amonium
sulfat. Peningkatan kadar protein pada perlakuan dengan penambahan mineral
akan lebih tinggi daripada perlakuan tanpa mineral (Kompiang et al., 1994).
Amonium sulfat merupakan mineral yang terdiri atas nitrogen anorganik. Jadi,
perlakuan substrat yang terbaik untuk fermentasi substrat padat pada singkong
adalah diseduh dengan air panas dan diberi penambahan amonium sulfat.
Untuk produksi cassapro sebagai pakan ternak dalam skala besar dapat
dilakukan metode penyeduhan sebelum proses fermentasi berlangsung. Metode ini
selain bertujuan untuk mengurangi kontaminasi dari kapang dan bakteri dapat
pula mengurangi biaya produksi. Biaya produksi yang tinggi disebabkan karena
proses pengukusan atau sterilisasi dengan autoklaf membutuhkan banyak biaya
dan energi. Melalui hasil penelitian ini terlihat bahwa metode penyeduhan mampu
menghasilkan cassapro yang berkualitas dengan biaya produksi dan penggunaan
energi yang lebih kecil dari penggunaan metode pengukusan. Dengan demikian
apabila ingin memproduksi cassapro sebagai pakan ternak dapat dipakai metode
penyeduhan ini agar lebih ekonomis. Selain itu, untuk memperoleh cassapro
dengan kandungan protein yang lebih tinggi maka sebelum dilakukan proses
fermentasi substrat singkong terlebih dahulu disuplementasi dengan amonium
sulfat.

KESIMPULAN
Peningkatan kadar protein sejati pada perlakuan dengan penambahan
amonium sulfat setelah tiga hari fermentasi lebih tinggi (3-6%) dibandingkan
dengan peningkatan kadar protein sejati tanpa amonium sulfat (2%). Dengan
demikian diketahui bahwa pembentukan protein selama fermentasi membutuhkan
penambahan amonium sulfat sebagai sumber nitrogennya. Jadi, perlakuan substrat
yang baik untuk fermentasi substrat padat ialah diseduh dengan air panas dan
diberi penambahan amonium sulfat. Kadar cassapro dalam pakan ternak perlu
diteliti lebih lanjut untuk mengetahui batas maksimal pemberian cassapro.

DAFTAR PUSTAKA
Kompiang I.P., Purwadaria T., Darma J., Supriyati K., & Haryati T. 1994.
Pengaruh kadar mineral terhadap sintesis protein dan laju pertumbuhan
Aspergillus niger. Pros. Sem. Hasil Penelitian dan Pengembangan
Bioteknologi II. Cibinong, 6-7 September, 1994. hlm. 468-473.
Kompiang I.P., Sinurat A.P., Purwadaria T., Darma J., dan Supriyati. 1995.
Cassapro in broiler ration: interaction with rice bran. JITV. 1(2):86-88.
Manurung T. 1995. Penggunaan hijauan leguminosa pohon sebagai sumber
protein ransum sapi potong. JI TV. 1(3):143-148.
Ogundero V. W. 1982. The production and activity of hydrolytic exoenzymes by
toxigenic species of Aspergillus from gari. Nigerian J. Sci. 16:11-20.
PKMI-1-15-6

Purwadaria T., Haryati T., Sinurat A.P., Kompiang I.P., Supriyati, and Darma J.
1997. The correlation between amylase and cellulose activities with starch
an fibre contents on the fermentation of cassapro (cassava proein) with
Aspergillus niger. Proc. Indonesian Biotechnology Conference. Jakarta,
17-19 Juni, 1997. Vol. I. hlm. 379-390.
Sani A., Awe F.A., dan Akiyanju J. A. 1992. Amylase synthesis in Aspergillus
flavus and Aspergillus niger grown on cassava peel. J. Indust. Microbiol.
10:55-59.
Sinurat A.P., Setiadi P., Purwadaria T., Setioko A.R., dan Dharma J. 1995. Nilai
gizi bungkil kelapa yang difermentsikan dan pemanfaatannya dalam
ransom itik jantan. JITV. 1(3):161-168.
Supriyati. 2003. Onggok terfermentasi dan pemanfaatannya dalam ransum ayam
ras pedaging. JITV. 8(3):146-150.
Williams J. 1984. Analytical Official Methods of Chemistry. Mc Graw-Hill Book
Co. New York.
PKMI-1-16-1

PERBANDINGAN PRESTASI BELAJAR SISWA DALAM MATA


PELAJARAN MATEMATIKA ANTARA YANG MENGGUNAKAN
KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI DENGAN KURIKULUM 1994
DI SMA PGRI RANCAEKEK
Usep Kosasih, Rani Suminar, Roswita, Jajang Hirdiyana, Tita Rosdiana
Jurusan Pendidikan Matematika dan IPA, Universitas Islam Nusantara Bandung
(Jalan Soekarno-Hatta No. 530 Bandung 40286 Tlp. (022)7509655)

ABSTRAK
Pendidikan pada hakikatnya merupakan proses memanusiakan manusia melalui
pengembangan seluruh potensinya sesuai dengan tuntutan yang berkembang di
lingkungannya. Pemerintah telah berupaya menyempurnakan sistem pendidikan
nasional, antara lain dengan pembaharuan kurikulum yang merubah tataran
paradigma pembelajaran. Pembelajaran matematika sampai saat ini masih
dihadapkan pada masalah besar yaitu siswa tidak mampu mencapai nilai
minimum yang disyaratkan dalam ketuntasan belajar. Pembelajaran berdasarkan
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), menyebabkan terjadinya pergeseran dari
penekanan isi (apa yang tertuang) ke kompetensi (bagaimana harus berpikir,
belajar dan melakukan), perubahan ini diharapkan memberikan hasil yang lebih
baik. Bertitik tolak dari hal tersebut, penulis tertarik untuk meneliti prestasi
belajar siswa dalam mata pelajaran matematika antara yang menggunakan KBK
dengan kurikulum 1994. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya
perbedaan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran matematika antara yang
menggunakan KBK dengan kurikulum 1994. Metode yang digunakan adalah
metode deskriptif, dengan objek penelitian nilai raport siswa kelas 1 tahun ajaran
2003/2004 dan 2004/2005, sumber data dari Pembantu Kepala Sekolah (PKS)
bidang kurikulum dan hasil wawancara dengan guru matematika. Teknik
pengumpulan data dengan cara meminta nilai raport kepada PKS bidang
kurikulum dan mewawancarai guru matematika. Teknik analisis data
menggunakan statistik penelitian untuk dua perlakuan. Berdasarkan hasil
pengolahan data diperoleh rata-rata nilai raport kelas yang menggunakan KBK
5,89 dan deviasi standar 0,62, sedangkan kelas yang menggunakan kurikulum
1994 memiliki rata-rata nilai 6,83 dan deviasi standar 0,74. Hasil pengujian
hipotesis diperoleh nilai W<W0,01 (80) atau 0<1082, berarti terdapat perbedaan
prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran matematika antara yang
menggunakan KBK dengan kurikulum 1994.

Kata kunci : Kurikulum 1994, KBK, Prestasi Belajar.

PENDAHULUAN

Pendidikan pada hakikatnya merupakan suatu proses memanusiakan


manusia melalui pengembangan seluruh potensinya sesuai dengan tuntutan yang
berkembang di lingkungannya. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana
untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
PKMI-1-16-2

keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (UU RI No.
20 tahun 2003).
Upaya meningkatkan kualitas pendidikan dalam mencapai tujuan pendidikan
nasional terus menerus dilakukan baik secara konvensional maupun inovatif.
Pemerintah telah melakukan upaya penyempurnaan sistem pendidikan nasional, salah
satunya dengan pembaharuan dalam bidang kurikulum, yaitu mengganti kurikulum
1994 dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).
Kurikulum 1994 merupakan kurikulum yang berbasis kepada pencapaian
tujuan. Pembelajaran yang sering digunakan dalam kurikulum 1994 adalah
pembelajaran aktif atau sering disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Pengertian
CBSA sendiri tidak mudah didefinisikan secara tegas, sebab kadar keaktifan siswa
untuk disebut siswa aktif itu tidak sama. T. Raka Jono (dalam Kusnanto, 2004)
menjelaskan bahwa hakikat CBSA menunjuk kepada keaktifan mental, meskipun
untuk maksud ini dalam banyak hal dipersyaratkan keterlibatan langsung dalam
berbagai keaktifan fisik. Mc. Keachi (dalam Kusnanto, 2004) mengemukakan kadar
keaktifan CBSA ditentukan oleh tujuh dimensi yaitu: (1) Partisipasi siswa dalam
menetapkan kegiatan pembelajaran, (2) Tekanan pada afektif dalam pembelajaran, (3)
Partisipasi siswa dalam pelaksanaan pembelajaran terutama interaksi antar siswa, (4)
Penerimaan guru terhadap perbuatan dan konstribusi siswa yang kurang relevan
bahkan salah sama sekali, (5) Kekohesian kelas sebagai kelompok, (6) Kesempatan
yang diberikan kepada siswa untuk mengambil keputusan, (7) Jumlah waktu yang
dipergunakan untuk menanggulangi masalah pribadi.
Sejalan dengan perkembangan zaman, maka kurikulum pun mengalami
penyesuaian. Kurikulum 1994 dikaji ulang dan diperbaharui sehingga
diberlakukannya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) pada tahun 2004
sebagai pengganti kurikulum 1994. Sebagai hasil revisi KBK diharapkan dapat
memenuhi tuntutan perkembangan zaman.
KBK merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi
yang dibakukan dengan penerapannya disesuaikan dengan keadaan (kontekstual).
KBK dapat diartikan sebagai suatu konsep yang menekankan pada pengembangan
kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performansi
tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik berupa penguasaan
terhadap seperangkat kompetensi tertentu. untuk mengimplementasikan KBK
mencakup tiga kegiatan pokok, yaitu : (1) Pengembangan program pengajaran, (2)
Pelaksanaan pembelajaran, (3) Evaluasi hasil belajar, (Mulyasa 2002).
Perbedaan Kurikulum 1994 dengan KBK (Depdiknas 2003) adalah sebagai
berikut: (1) Pendekatan penguasaan pengetahuan pada kurikulum 1994
menekankan pada materi berupa kecakapan kognitif, sedangkan KBK
menekankan kepada pemahaman, kemampuan atau kompetensi tertentu yang
berkaitan dengan pekerjaan di masyarakat. (2) Standar akademis pada kurikulum
1994 diterapkan secara seragam bagi setiap peserta didik, sedangkan pada KBK
memperhatikan perbedaan individu. (3) Kurikulum 1994 berbasis konten,
sehingga peserta didik dipandang sebagai kertas putih yang perlu ditulisi dengan
sejumlah pengetahuan, sedangkan KBK berbasis kompetensi, sehingga peserta
didik berada dalam proses perkembangan yang berkelanjutan dari seluruh aspek
kepribadian. (4) Pengembangan kurikulum pada kurikulum 1994 dilakukan secara
sentralisasi, sedangkan KBK dilakukan secara desentralisasi. (5) Materi yang
dikembangkan pada kurikulum 1994 seringkali tidak sesuai dengan potensi
PKMI-1-16-3

sekolah, kebutuhan dan kemampuan peserta didik, serta kebutuhan masyarakat


sekitar sekolah, sedangkan pada KBK sekolah diberi keleluasaan untuk
mengembangkan silabus mata pelajaran sehingga dapat mengakomodasi potensi
sekolah, kebutuhan dan kemampuan peserta didik serta kebutuhan masyarakat
sekitar sekolah. (6) Peran guru pada kurikulum 1994 menentukan segala sesuatu
yang terjadi di kelas, sedangkan pada KBK bertugas mengkondisikan lingkungan
belajar peserta didik. (7) Kecakapan pada kurikulum 1994 dikembangkan melalui
latihan, sedangkan pada KBK dikembangkan berdasarkan pemahaman yang
membentuk kompetensi individual. (8) Pembelajaran pada kurikulum 1994
cenderung hanya dilakukan di dalam kelas, sedangkan pada KBK mendorong
terjalinnya kerja sama antara sekolah, masyarakat dan dunia kerja dalam
membentuk kompetensi peserta didik. (9) Evaluasi nasional pada kurikulum 1994
tidak dapat menyentuh aspek-aspek kepribadian peserta didik, sedangkan pada
KBK evaluasi berbasis kelas.
Pemberlakuan KBK diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa
sehingga dapat mencapai kompetensi yang diharapkan. Kata prestasi belajar
berasal dari bahasa Belanda yaitu practice, kemudian diterjemahkan kedalam
bahasa Indonesia menjadi prestasi yang berarti hasil usaha. Arifin (dalam
Herdiyana, 2004). Menurut Abas Nurudin (dalam Herdiyana, 2004) pengertian
prestasi belajar yaitu hasil belajar dari individu yang dimanifestasikan kedalam
pola tingkah laku dan perbuatan, skill dan pengetahuan serta dapat dilihat dari
hasil belajar itu sendiri. Dalam KBK, penilaian hasil belajar siswa dilihat dari
tiga aspek kompetensi, yaitu: (1) Kompetensi kognitif, (2) Kompetensi afektif, (3)
Kompetensi psikomotorik (Bloom dalam Depdiknas, 2003).
Peningkatan prestasi belajar khususnya dalam mata pelajaran matematika,
sampai saat ini masih dihadapkan pada masalah besar yaitu sulitnya siswa untuk
mencapai nilai minimum yang disyaratkan dalam ketuntasan belajar. Hal ini
dikarenakan kurang siapnya sekolah untuk menerapkan KBK. Oleh karena itu,
implementasi KBK masih perlu dikaji oleh semua pihak.
Bertitik tolak dari hal tersebut, penulis tertarik untuk meneliti prestasi
belajar siswa dalam mata pelajaran matematika antara yang menggunakan KBK
dengan kurikulum 1994. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah Apakah
ada perbedaan antara prestasi belajar siswa SMA dalam mata pelajaran
matematika yang menggunakan KBK dengan kurikulum 1994?.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui ada atau tidak adanya
perbedaan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran matematika antara yang
menggunakan KBK dengan kurikulum 1994. (2) Mengetahui kesulitan-kesulitan
yang dihadapi oleh guru matematika dalam menerapkan KBK. Sedangkan
manfaat dari penelitian ini adalah memberi gambaran tentang implementasi KBK
dalam pembelajaran matematika di sekolah.

HIPOTESIS
Hipotesis keberadaannya sangat perlu dalam suatu penelitian karena
merupakan suatu rumusan yang menunjang tercapainya tujuan penelitian yang
berfungsi untuk mengarahkan kegiatan di dalam penelitian. Hipotesis dalam
penelitian ini adalah adanya perbedaan prestasi belajar siswa dalam mata
pelajaran matematika antara yang menggunakan KBK dengan kurikulum 1994.
PKMI-1-16-4

METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif yang bertujuan untuk
mengetahui bagaimana perbandingan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran
matematika antara yang menggunakan KBK dengan Kurikulum 1994. Penelitian
dilaksanakan selama dua bulan yaitu pada bulan Mei dan bulan Juni tahun 2005.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas 1 SMA PGRI
Rancaekek Kabupaten Bandung tahun ajaran 2003-2004 dan tahun ajaran 2004-
2005. Sedangkan sampelnya berupa sampel total yaitu seluruh populasi dijadikan
sampel.
Data yang digunakan berupa nilai raport mata pelajaran matematika siswa
kelas 1 tahun ajaran 2003-2004 yang menggunakan kurikulum 1994 dan nilai
raport siswa kelas 1 tahun ajaran 2004-2005 yang menggunakan KBK serta hasil
wawancara yang diperoleh dari guru mata pelajaran matematika. Data nilai raport
diperoleh dari pembantu kepala sekolah (PKS) bidang kurikulum. Data-data yang
diperoleh digunakan untuk mencari perbandingan antara kedua variabel yang
diteliti.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pedoman
Wawancara dengan guru mata pelajaran matematika yang bertujuan untuk
mengetahui kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam melaksanakan pembelajaran
berdasarkan pada KBK. Hasil pengolahan data nilai raport siswa digunakan untuk
melihat ada atau tidaknya perbedaan prestasi belajar.
Data-data yang telah diperoleh diolah dan dianalisis untuk menguji
kebenaran dari hipotesis yang diajukan. Teknik pengolahan data dilakukan
dengan menggunakan statistik penelitian untuk dua perlakuan, langkah-
langkahnya yaitu: (1) Mengetes normalitas dari distribusi masing-masing; (2) Jika
ternyata keduanya berdistribusi normal dilanjutkan dengan pengetesan tentang
homogenitas variansinya; (3) Jika ternyata kedua variansinya homogen
dilanjutkan dengan tes t; (4) Jika ternyata minimal satu dari dua distribusi tersebut
tidak normal, langkah selanjutnya diteruskan dengan menggunakan statistik tak
parametrik, yaitu tes wilcoxon; (5) Jika keduanya berdistribusi normal, tetapi
variansinya tidak homogen, dilanjutkan dengan tes t (Nurgana 1993).
Langkah-langkah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1)
Melakukan observasi awal. (2) Membuat instrumen penelitian dan
mengkonsultasikannya dengan pembimbing . (3) Mengumpulkan data nilai raport
siswa dari Pembantu Kepala Sekolah Bidang Kurikulum (PKS) dan melakukan
wawancara dengan guru mata pelajaran matematika. (4) Mengolah dan
menganalisis data hasil penelitian serta melakukan pembahasan. (5) Menentukan
kesimpulan hasil penelitian.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil pengolahan data diperoleh rata-rata nilai raport untuk kelas yang
menggunakan KBK 5,89 dan deviasi standar 0,62, sedangkan untuk kelas yang
menggunakan kurikulum 1994 memiliki rata-rata nilai 6,83 dan deviasi standar
0,74. Data nilai raport siswa kelas 1 yang menggunakan kurikulum 1994 dan kelas
1 yang menggunakan KBK dapat dilihat pada tabel 1 dibawah ini.
(tabel 1)
Data Prestasi Siswa
PKMI-1-16-5

Nilai Raport
4 4.5 5 5.5 6 6.5 7 8
Banyak Siswa
Kurikulum 1994 0 0 0 0 24 0 47 11
KBK 2 1 3 28 26 14 6 0

Berikut adalah hasil pengolahan data secara statistik: Kelas 1 yang


menggunakan KBK: Rata-rata: x = 5,89; deviasi standar: n 1 = 0,62; Chi-
Kuadrat: 2 = 44,1; derajat kebebasan: db = 77; nilai 2 dari daftar: 20,99 (77) =
100,4; normalitas: 2 < 20,99 (77) atau 44,1 < 100,4, maka nilai pada kelas 1 yang
menggunakan KBK berdistribusi normal. Sedangkan kelas Satu yang
menggunakan Kurikulum 1994: Rata-rata: x = 6,83; deviasi standar: n 1 =
0,74; Chi-Kuadrat: 2 = 175,57; derajat kebebasan: db = 80; nilai 2 dari daftar:
20,99 (80) = 112,3; normalitas: 2 > 20,99 (80) atau 175,57 > 112,3, maka nilai pada
kelas satu yang menggunakan kurikulum 1994 berdistribusi tidak normal. Karena
salah satu data berdistribusi tidak normal, maka digunakan tes Wilcoxon (statistik
tak parametrik). Tes Wilcoxon diperoleh: (1) daftar rank, (2) nilai W = 0, (3) nilai
W dari daftar: W0,01(80) = 1082, (4) Pengujian hipotesis: W<W0,01(80) atau 0<1082.
Hasil dari pengujian hipotesis: W < W0,01(80) atau 0 < 1082 menunjukkan
adanya perbedaan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran matematika antara
yang menggunakan KBK dengan kurikulum 1994, sehingga hipotesis diterima.
Berdasarkan hasil wawancara dengan salah seorang guru matematika kelas 1
SMA PGRI Rancaekek, kesulitan penerapan KBK dalam pembelajaran adalah
adanya Syarat Ketuntasan Belajar Minimun (SKBM) yang disesuaikan dengan (1)
sulit tidaknya suatu materi, (2) esensial tidaknya suatu materi, (3) daya dukung
sekolah, (4) kemampuan siswa. Nilai SKBM pada mata pelajaran matematika di
kelas 1 SMA PGRI Rancaekek adalah 5,0, sehingga apabila ada siswa yang
nilainya kurang dari 5,0, maka guru memberikan remedial maksimal tiga kali.
Meskipun nilai rata-rata raport mata pelajaran matematika untuk kelas yang
menggunakan KBK lebih kecil dari pada kelas yang menggunakan kurikulum
1994, akan tetapi pada pembelajaran yang menggunakan KBK ketuntasan belajar
siswa telah tercapai. Beberapa hal yang menyebabkannya yaitu: (1) Kurangnya
pemahaman guru terhadap aplikasi KBK, (2) Guru hanya menggunakan tes
sebagai alat penilaiannya, (3) Kurangnya sarana dan prasarana yang dapat
membantu mengaplikasikan KBK. Sedangkan kendala-kendala yang dihadapi
oleh guru matematika SMA PGRI Rancaekek adalah: (1) Kurangnya alat peraga
atau media pembelajaran matematika, (2) Kebijakan pemerintah yang belum jelas
seperti SKBM yang selalu berubah, (3) Penilaian pada KBK yang rumit, (4)
Adanya kesalahan pada buku laporan siswa.
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, ditemukan perbedaan prestasi
belajar siswa antara yang menggunakan KBK dengan kurikulum 1994. Nilai rata-
rata pada KBK lebih rendah daripada kurikulum 1994. Kurikulum 1994
menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan KBK. Hal ini terjadi
karena KBK baru dimplementasikan sehingga masih menghadapi berbagai macam
kendala dalam penerapannya. Kurang siapnya sekolah dalam memenuhi tuntutan
KBK menjadi kendala dalam mengimplementasikan KBK, seperti fasilitas sumber
belajar yang kurang memadai, kurang memahaminya guru terhadap prinsip
pelakasanaan pengajaran berdasarkan KBK termasuk cara mengevaluasi hasil
belajar siswa. Kendala lain adalah kurangnya sosialisasi KBK kepada sekolah atau
PKMI-1-16-6

guru sehingga sekolah menemui hambatan dalam menentukkan SKBM terutama


dalam mata pelajaran matematika.
Sedangkan kurikulum 1994 telah diterapkan lebih dari sepuluh tahun,
sehingga sekolah sudah dapat menyesuaikan dengan tuntutan kurikulum tersebut.
Guru sebagai pelaksana kurikulum pun sudah tidak asing lagi dengan prinsip
CBSA, sehingga penerapannya tidak menemui bayak kendala Selain itu Selain itu
prinsip-prinsip pengajaran matematika lebih sesuai dengan prisip-prinsip
pengajaran CBSA atau kurikulum 1994, sehingga hasilnya lebih baik
dibandingkan dengan KBK. Temuan ini menguatkan pendapat Ruseffendi yang
mengemukakan Pembelajaran matematika dengan menggunakan CBSA baik
digunakan karena CBSA sudah sesuai dengan prinsip pengajaran matematika
modern dan dianjurkan untuk diterapkan (Russeffendi 1991)
KBK merupakan salah satu hasil pembaharuan dalam bidang kurikulum
yang diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Kenyataannya,
prestasi belajar siswa dengan menggunakan kurikulum 1994 lebih baik apabila
dibandingkan dengan KBK. Kondisi ini menunjukan bahwa CBSA masih relevan
untuk diterapkan dalam pembelajaran matematika. Hal ini sesuai dengan pendapat
yang diungkapakn oleh Russeffendi (1991) Pembelajaran matematika dengan
menggunakan CBSA baik digunakan karena CBSA sudah sesuai dengan prinsip
pengajaran matematika modern dan dianjurkan untuk diterapkan.

KESIMPULAN
Kesimpulan dari penelitian ini adalah: (1) Adanya perbedaan prestasi
belajar siswa antara yang menggunakan kurikulum 1994 dengan yang
menggunakan KBK. (2) Prestasi belajar siswa pada mata pelajaran matematika
yang menggunakan kurikulum 1994 lebih baik dari pada yang menggunakan
KBK. (3) Penerapan KBK masih menghadapi kendala yakni kurang siapnya
sekolah untuk memenuhi tuntutan KBK tarmasuk kurang pahamnya guru mata
pelajaran matematika terhadap teknik evaluasi pada KBK.

DAFTAR PUSTAKA
Direktoriat Dikmenum (2003). Pengembangan Kurikulum dan Sistem Penilaian
Berbasis Kompetensi. Jakarta: Depdiknas.
Herdiyana, Yana. (2004). Skripsi Perbandingan Prestasi Belajar Siswa dalam
Matematika Antara yang Pembelajarannya Menggunakan Metode
Permainan Kartu dengan Metode Ekspositori di Kelas II SLTP
Warungkondang Kabupaten Bandung. Bandung: Uninus.
Kusnanto, Imam. (2002). Skripsi Perbandingan Prestasi Belajar Siswa dalam
Matematika Antara yang Mendapat Pelajaran pada Jam Awal dengan Jam
Akhir di Kelas 1 SMU Pasundan 9 Bandung. Bandung: Uninus.
Mulyasa, E. (2002). Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Nurgana, Endi. (1993). Statistik untuk Penelitian. Bandung: CV. Permadi.
Ruseffendi, ET. (1991). Pengantar kepada Membatu Guru Mengembangkan
Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan
CBSA. Bandung: Tarsito.
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU RI No. 20 Tahun 2003).
Jakarta : Absolut.
PKMI-1-17-1

MASKER (MASK) STANDAR DAN MURAH


UNTUK PENGENDARA SEPEDA MOTOR

Muhammad Iqbal, Akhida Riyawati, Bheti Nur Eva N., Sukmawan R.


Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta

ABSTRAK
Peningkatan aktivitas manusia dan kemajuan teknologi dalam bidang
transportasi berpengaruh terhadap kebersihan udara, khususnya akibat proses
pembakaran bahan bakar berupa fosil yang menghasilkan gas-gas sebagai zat
pencemar udara. Udara yang tercemar sangat berbahaya bagi kesehatan
manusia, terutama bagi pengendara sepeda motor di jalan raya. Oleh karena itu,
perlu dilakukan tindakan preventif untuk mencegah terjadinya akumulasi gas-gas
berbahaya di dalam paru-paru, salah satunya dengan menggunakan masker yang
dapat menyaring partikel-partikel dan molekul-molekul beracun yang terdapat di
udara. Untuk menyaring gas pencemar di udara digunakan Kalsium Dihidroksida
(Ca(OH)2) sebagai absorber, terutama untuk mengabsorbsi Karbon Monoksida
(CO) dan Karbon Dioksida (CO2). Ca(OH)2 yang sangat reaktif terhadap CO dan
CO2 dapat diperoleh dengan harga yang sangat murah. CO2 di udara bersifat
lebih stabil dari pada CO, sehingga CO tetap dapat diabsorbsi selama CO2 masih
terabsorbsi. Untuk mengetahui efektivitas Ca(OH)2 dalam mengabsorbsi CO2,
dilakukan uji eksperimental. Sampel udara diambil dari asap knalpot sepeda
motor. Untuk mengidentifikasi CO2 dalam sampel, digunakan spektrofotometer
inframerah. Konsentrasi CO2 di dalam sampel blanko (kontrol) adalah 5,17%.
Konsentrasi CO2 dari asap knalpot berkurang setelah melewati absorber dan
mulai jenuh setelah absorber dialiri 3.860 liter udara. Setelah dikonversi ke
udara ambien, ditemukan life time masker yang sesungguhnya, yaitu selama
215,84 jam (sekitar 70 hari pemakaian dengan rata-rata pemakaian 3 jam/hari),
sehingga tingkat efektivitas masker dalam mengabsorbsi CO dan CO2 memenuhi
standar untuk pemakaian.

Kata Kunci: masker, standar, murah, pengendara sepeda motor.

PENDAHULUAN
Peningkatan aktivitas manusia dan kemajuan teknologi di bidang
transportasi akan berpengaruh terhadap kebersihan udara, khususnya akibat dari
proses pembakaran bahan bakar kendaraan bermotor. Hasil pembakaran tersebut
menghasilkan gas-gas yang tercampur dengan udara, sebagai zat pencemar. Udara
di kota-kota yang tingkat kepadatan lalu lintasnya tinggi akan mudah tercemar
oleh gas-gas hasil pembakaran bahan bakar fosil, sehingga mengancam kesehatan
para pengguna jalan raya, terutama pengendara sepeda motor. Bahan kimia yang
merupakan zat pencemar udara paling besar adalah Sulfur Dioksida (SO2), Karbon
Monoksida (CO), Oksida Nitrogen (NOx), Hidrokarbon, dan partikulat (Yen,
1999).
Bahan-bahan kimia pencemar udara akan sangat berbahaya jika
terakumulasi dalam tubuh manusia, sesuai dengan kadarnya di dalam tubuh.
Misalnya keracunan gas CO untuk keadaan yang ringan ditandai dengan gejala-
gejala pusing, sakit kepala, dan mual. Keadaan lebih berat dapat berupa
PKMI-1-17-2

menurunnya kemampuan gerak tubuh, gangguan pada sistem kardiovaskuler,


serangan jantung sampai pada kematian (Wardhana, 1995). Oleh sebab itu, para
pengguna jalan raya terutama pengendara sepeda motor perlu melakukan tindakan
preventif untuk mencegah terjadinya keracunan gas-gas beracun yang terjadi
secara akumulatif di dalam tubuh, selain tetap melakukan tindakan pelestarian
lingkungan hidup.
Salah satu tindakan preventif untuk mencegah terjadinya keracunan gas
beracun terutama di jalan raya adalah dengan memakai masker (mask). Masker
yang banyak beredar sekarang masih mempunyai kelemahan, yaitu harganya
mahal dan dari segi estetika kurang menarik, sehingga para pengendara sepeda
motor lebih memilih menggunakan sapu tangan atau kain (biasa disebut slayer)
sebagai media untuk menyaring udara terpolusi, padahal media tersebut belum
memenuhi standar sebagai masker yang bisa menyaring partikel dan molekul
berbahaya yang ada di udara. Berdasar permasalahan tersebut, perlu diketahui
model dan bahan masker yang memenuhi standar dalam penyaringan partikel dan
molekul berbahaya di udara, tetapi harganya murah, dan dapat terjangkau
masyarakat, dalam hal ini kelompok menengah ke bawah.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas Ca(OH)2 sebagai
absorber masker dalam mengabsorbsi CO dan CO2, sehingga dapat menjadi
komponen masker tersebut. CO2 yang terdapat di udara bersifat lebih stabil dari
pada CO, sehingga absorber masker tetap dapat mengabsorbsi CO selama CO2
masih terabsorbsi. Oleh karena itu, parameter yang diuji dalam penelitian ini
hanya CO2, dengan asumsi bahwa CO tetap terabsorbsi.
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah untuk pencegahan
penyakit akibat kerja para pengendara sepeda motor yang disebabkan oleh polusi
udara. Pemakaian masker bagi pengendara sepeda motor dan sepeda dapat
memberikan kenyamanan dalam berkendaraan, memperkecil risiko kecelakaan
dan penyakit. Masker saat ini sebagai perlengkapan primer dalam berkendaraan di
jalan raya. Masker yang dihasilkan juga dapat digunakan untuk pekerjaan lain,
misalnya untuk polisi lalu lintas, petugas dinas kebersihan kota, dan sebagainya.
Telah dilakukan penelitian oleh beberapa perusahaan berkaitan dengan
masker (respiratory protection), misalnya oleh Shigematsu Works Company
Limited. Masker yang dibuat menggunakaan cartridge dengan komposisi utama
karbon aktif sebagai absorber (bahan aktif dalam masker sebagai penyerap
partikel dan molekul beracun di udara) (Yamada, tanpa tahun). Masker ini dipakai
sebagai salah satu Alat Perlindungan Diri (APD) pekerja pada pabrik-pabrik yang
mempunyai risiko sangat besar terpapar gas-gas berbahaya, yang ditimbulkan oleh
proses produksinya. Namun, sepanjang pengetahuan peneliti, penelitian tentang
penggunaan Ca(OH)2 sebagai absorber pada masker belum pernah dilakukan.
Spektrofotometri inframerah mempunyai fungsi utama untuk mengetahui
gugus fungsional (gugus yang menentukan sifat-sifat senyawa). Kegunaan yang
lain adalah untuk mengidentifikasi senyawa, menentukan struktur molekul,
mengetahui kemurnian, kontrol produksi, dan mempelajari reaksi yang sedang
berjalan (Hardjono dan Anwar, 1984). Ikatan-ikatan yang berbeda (C-C, C=C,
CC, C-O, C=O, O-H, N-H, dan sebagainya) mempunyai frekuensi vibrasi yang
berbeda. Adanya ikatan-ikatan tersebut dapat dideteksi dalam molekul organik
dengan mengidentifikasi frekuensi-frekuensi karakteristiknya sebagai pita serapan
dalam spektrum inframerah (Hardjono dan Anwar, 1984).
PKMI-1-17-3

Instrumen yang digunakan untuk mengukur serapan (absorban) radiasi


oleh suatu zat disebut fotometer dan spektrofotometer. Fotometer ialah istilah
yang sangat umum (menyatakan alat yang mengukur intensitas cahaya).
Spektrofotometer adalah fotometer yang dilengkapi dengan beberapa komponen
khusus, sehingga alat tersebut dapat mengukur perubahan terhadap intensitas sinar
monokromatis yang dilewatkan melalui suatu media (misalnya larutan).
Dalam penggunaan spektrofotometer, pertama larutan pembanding
(reference solution) yang disebut juga dengan larutan standar dimasukkan ke
dalam kuvet, alat kemudian dihidupkan dan skala pembacaan diatur agar %T (%-
transmittance) menunjuk ke skala 100 (absorban adalah 0). Kedua, larutan sampel
dipasang dan angka akan langsung menunjukkan harga %T-nya. Untuk
menghitung serapan dari suatu larutan dari %T, digunakan rumus:
Absorbans (A) = log(1/T) (Willard et al, 1988).
Udara di alam bebas pada umumnya mempunyai komposisi yang terdiri
dari unsur-unsur yang bermanfaat bagi kesehatan dan unsur-unsur yang kurang
bermanfaat bagi kesehatan. Menurut Sanropie (1989), unsur udara bebas pada
umumnya terdiri dari Oksigen (20,7%), Nitrogen (78,8%), CO2 (0,04%), uap air
(0,46%), Ozon (0,3%), Amoniak, gas cair, dan partikulat. Unsur-unsur tersebut
sering disebut dengan udara ambien.
Volume udara dalam paru manusia dibagi menjadi empat, yaitu: (1)
volume tidal yang besarnya kira-kira 500 ml, (2) volume cadangan inspirasi yang
besarnya mencapai 3000 ml, (3) volume cadangan ekspirasi yang besar normalnya
sekitar 1100 ml, dan (4) volume residu yang besarnya kira-kira 1200 ml (Guyton
dan John, 1997). Jumlah udara yang dihirup manusia dalam proses respirasi sama
dengan besar volume tidal, yaitu volume yang diinspirasi atau diekspirasi setiap
kali bernafas sebesar 500 ml atau 0,5 liter. Rata-rata respirasi yang dilakukan oleh
manusia dalam keadaan normal sebanyak 12 kali per menit (Shier et al, 1999).
Dengan demikian, volume udara yang dihirup manusia per jam adalah 12 x 60 x
0,5 liter = 360 liter.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental, dengan melakukan
percobaan yang berupa rancangan atau desain untuk mengetahui konsentrasi CO2
dalam asap knalpot baik sebelum atau setelah melewati absorber. Variabel
penelitian terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas penelitian
ini adalah Ca(OH)2 sebagai absorber masker, sedangkan variabel terikat adalah
konsentrasi CO2 dalam asap knalpot setelah melewati absorber.
Absorber masker terbuat dari kapas murni (selulosa) yang dicelupkan ke
dalam larutan jenuh Ca(OH)2. Larutan tersebut dibuat dengan melarutkan kapur
delingo (CaO) dengan aquades di dalam gelas beaker kemudian didiamkan
sampai terjadi pengendapan. Kapas dikeringkan di dalam wadah yang hampa
udara (eksikator) selama 24 jam. Udara yang ada di dalam eksikator disedot
dengan menggunakan pompa vacuum. Setelah kering, kapas tersebut ditimbang
dengan menggunakan timbangan analitik. Bahan-bahan lain yang digunakan
untuk pembuatan masker terdiri dari karbon aktif, kain, benang, dan karet elastis.
Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan seperangkat alat
yang telah didesain khusus. Pertama diambil blanko untuk mengetahui konsentrasi
CO2 di dalam asap knalpot tanpa melalui absorber. Setelah itu diambil sampel
PKMI-1-17-4

asap knalpot setelah melalui absorber dengan volume yang berbeda, yaitu 0,01,
0,06, 0,36, 0,86, 1,8, dan 3,8 m3. Udara diambil dengan menggunakan air pump
yang telah dikalibrasi sebelumnya. Agar kecepatan air pump stabil, digunakan
orifice meter untuk mengukur tekanan udara yang dipompa oleh air pump.
Rangkaian alat penguji masker dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 1. Rangkaian Alat Penguji Masker

Untuk mengidentifikasi senyawa CO2 di dalam sampel, digunakan


spektrofotometer inframerah. Pengujian dilakukan di Laboratorium Penelitian dan
Pengujian Terpadu (LPPT) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada tanggal 23
Oktober 2005. Dengan menggunakan perangkat lunak (soft ware) Microsoft
Office Excel 2003, ditemukan persamaan linier dari gas standar CO2 yang akan
digunakan untuk menghitung konsentrasi CO2 yang ada di dalam sampel.
Absorber masker dianggap jenuh (tidak berfungsi lagi) jika konsentrasi CO2 di
dalam asap knalpot yang melewati absorber pada volume sama dengan
konsentrasi CO2 di dalam blanko.
Konsentrasi CO2 yang diperoleh dari blanko dikonversi ke dalam
konsentrasi CO2 pada udara ambien untuk menentukan life time masker yang
sesungguhnya. Efektivitas masker yang sesungguhnya diasumsikan 15% dari
efektivitas masker pada sampel. Asumsi ini diambil karena kapas yang
mengandung Ca(OH)2 di dalam sampel dan masker memiliki ketebalan, diameter,
dan berat yang berbeda.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Gas CO2 Standar
Tabel 1. Nilai Bacaan Spektrofotometer Inframerah Pada Gas Standar
Konsentrasi Panjang Gelombang
Nilai %T Absorban (A)
CO2 (%) (cm-1)
0 634,0 95,6 0,0195
1 660,0 92,7 0,0329
2 642,0 87,7 0,0570
3 650,0 81,9 0,0867
4 640,0 79,1 0,1018
5 640,0 77,9 0,1085
6 648,0 74,5 0,1278
PKMI-1-17-5

Konsentrasi CO2 di Dalam Sampel


Tabel 2. Nilai %T, A, dan Konsentrasi CO2 Pada Sampel
Sampel Panjang Absorban Konsentrasi
Nilai %T
(liter) Gelombang (cm-1) (A) CO2 (%)
10 646,0 82,3 0,0846 4,42
60 626,0 84,3 0,0742 3,87
360 644,0 86,8 0,0615 3,20
860 650,0 85,7 0,0670 3,50
1800 676,0 84,8 0,0716 3,75
3800 640,0 80,4 0,0947 4,99
Blanko 624,0 79,8 0,0980 5,17

Unit Cost Bahan-bahan Masker


Tabel 3. Unit Cost dari Bahan-bahan Masker
Harga Harga Per Unit
No. Nama Bahan
(Rupiah) (Rupiah)
1 Kapas 50 gram 4.300 225
2 Karbon aktif 1 kg 15.000 250
3 Kapur delingo 1 kg 4.500 250
4 Kain, elastis, dan ongkos jahit 5.000 5.000
Total per unit Rp5.825,00

Regresi Linier dari Gas CO2 Standar


Gas pembanding (gas CO2 standar) yang dimasukkan ke dalam kuvet
dengan skala pembacaan diatur agar %T menunjuk ke skala 100 (absorban = 0)
dibaca dengan tajam oleh spektrofotometer inframerah pada panjang gelombang
636,0 cm-1 dengan %T = 14,3. Dari hasil pembacaan gas pembanding di atas,
ditemukan nilai-nilai dari %T sebagaimana terlihat pada lampiran 1. Pada gambar
tersebut terdapat panjang gelombang inframerah dan nilai %T.

Pada grafik di atas, terdapat persamaan: y = 0,0186 x + 0,0019. Nilai y


adalah %T yang didapat dari hasil pembacaan spektrofotometer inframerah, dan
nilai x merupakan konsentrasi CO2 di dalam sampel (persen volume).

Untuk mengetahui konsentrasi serapan (absorban), nilai %T dimasukkan


ke dalam rumus: Absorbans (A) = log (1/T). Hasil perhitungannya dapat dilihat
pada tabel 1. Dari hasil perhitungan ini ditemukan persamaan linier yang
digunakan untuk menghitung nilai dari %T pada sampel, sebagaimana terlihat
pada gambar berikut:
PKMI-1-17-6

Standar
Standar Gas CO2
Gas CO2

0.14
y = 0.0186x + 0.0019 0.1278
0.12
Absorber (A) 0.1085
0.1018
0.1 Series2
0.08 0.0867

0.06 0.057 Linear


0.04 (Series2)
0.0329
0.02 0.0195
0
0 1 2 3 4 5 6
Konsentrasi CO2
Konsentrasi CO2 (%
(%)
V)

Gambar 2. Grafik Persamaan Linier Gas CO2 Standar


Life Time Masker
Sampel udara knalpot yang diambil pada percobaan dimasukkan ke dalam
spektrofotometer inframerah untuk mengidentifikasi senyawa CO2 yang ada di
dalamnya. Hasil pembacaan spektrofotometer inframerah menunjukkan %T dari
masing-masing sampel. Nilai %T dari masing-masing sampel dapat dilihat pada
tabel 2 (lihat juga lampiran 2!). Jika nilai-nilai tersebut dimasukkan ke dalam
persamaan y = 0,0186 x + 0,0019, dengan x adalah konsentrasi CO2 dalam %V,
maka diperoleh hasil sebagaimana pada gambar berikut:

Konsentrasi CO
Konsentrasi CO22 dalam
dalam Sampel
Sampel

6
Konsentrasi CO2 (%V)

5 4.99 5.17
4.42
4 3.87 3.75
3.5
3 3.2

2
1
0
10 60 360 860 1860 3860 Blanko
Volume udara yang dialiri (liter)

---- Konsentrasi CO2


Konsentrasi CO2

Gambar 3. Grafik Konsentrasi CO2 Dalam Sampel

Pada grafik di atas terdapat nilai konsentrasi CO2 dari udara knalpot sebelum
melewati absorber (blanko) yaitu 5,17% dan konsentrasi CO2 dari udara knalpot
setelah melewati absorber, dari volume 10 liter sampai 3.860 liter.
PKMI-1-17-7

Absorber masker pada pengujian dikatakan jenuh jika konsentrasi CO2


dalam sampel udara yang melewati absorber sama dengan konsentrasi CO2 pada
sampel blanko. Pada gambar 3 dapat dilihat bahwa konsentrasi CO2 dari sampel
yang melewati absorber mulai mendekati 5,17% pada volume 3.860 liter
(konsentrasi CO2 = 4,99%). Artinya absorber tidak aktif lagi untuk menyerap CO2
setelah dialiri kurang lebih 4.000 liter (4 m3) udara yang berasal dari knalpot
sepeda motor.
Untuk menentukan life time masker, dilakukan perbandingan terhadap
ukuran absorber pada sampel dengan ukuran absorber pada masker yang
sebenarnya. Dengan mengetahui volume udara yang dihirup manusia per jam dan
perbandingan konsentrasi CO2 pada asap knalpot (sampel blanko) dengan
konsentrasi CO2 pada udara ambien maka life time masker yang sesungguhnya
dapat ditemukan.
Ketebalan absorber pada masker yang sebenarnya adalah 2 cm dengan
berat 23,4 gram. Adapun tebal absorber pada sampel adalah 20 cm dan
diameternya 2,5 cm dengan berat 48,5 gram. Berdasar perbandingan tersebut,
efektivitas masker yang sesungguhnya diasumsikan 15% dari efektivitas absorber
pada sampel, sehingga efektivitas masker yang sesungguhnya adalah setelah
masker dialiri udara sebanyak 4.000 liter x 0,15 = 600 liter. Artinya, masker yang
sesungguhnya tidak aktif lagi dalam mengabsorbsi CO dan CO2 setelah dialiri 600
liter udara dari knalpot.
Dari pustaka, diketahui bahwa volume udara yang dihirup manusia
(volume tidal) per jam sebanyak 360 liter. Masker yang dipakai oleh pengendara
akan berinteraksi dengan udara sebanyak udara yang dihirup oleh manusia selama
memakai masker. Dari rata-rata volume udara yang dihirup manusia per jam,
maka life time masker terhadap asap knalpot adalah 600 liter : 360 liter/jam = 1,67
jam. Jadi, masker dapat mengabsorbsi CO2 dari asap knalpot selama 1,67 jam.
Konsentrasi CO2 pada udara ambien yang didapat dari pustaka adalah
0,04%. Life time masker yang sesungguhnya dapat dihitung dengan mengalikan
life time masker pada sampel dengan hasil bagi antara konsentrasi CO2 udara
knalpot dengan konsentrasi CO2 udara ambien, sehingga:
5,17
Life time masker = 1,67 jam x = 215,84 jam.
0,04
Dari perhitungan tersebut diketahui bahwa masker dapat aktif mengabsorbsi CO2
selama 215,84 jam. Jika masker tersebut dipakai rata-rata 3 jam per hari, maka life
time masker adalah sekitar 70 hari.
Kalsium Hidroksida (Ca(OH)2) bersifat sangat reaktif terhadap CO dan
CO2. Secara kimiawi, reaksi yang terjadi adalah:
Ca(OH)2 + CO2 CaCO3 + H2O
Gas CO di udara tetap diabsorbsi oleh Ca(OH)2 selama CO2 masih terabsorbsi
karena sifatnya lebih stabil dibandingkan dengan CO. Untuk menghindari
interaksi antara Ca(OH)2 dengan partikel dan molekul lain di udara seperti NOx,
SOx dan partikulat, maka di depan Ca(OH)2 diberi kapas murni (selulosa) dan
karbon aktif, sehingga efektivitas Ca(OH)2 lebih lama. Bahan-bahan tersebut
mudah didapat dengan harga yang relatif murah (lihat tabel 3!).
PKMI-1-17-8

KESIMPULAN
Kalsium Hidroksida (Ca(OH)2) yang berfungsi sebagai absorber masker
efektif mengabsorbsi CO dan CO2 selama 215,84 jam. Jika masker tersebut
dipakai rata-rata 3 jam per hari, maka life time masker adalah sekitar 70 hari.
Saran yang diberikan berdasar kesimpulan penelitian ini adalah: (1) agar
dilakukan penelitian eksperimental lebih lanjut untuk mengetahui efektivitas
selulosa (kapas murni) dalam mengabsorbsi Sulfur Dioksida (SO2) dan Oksida
Nitrogen (NOx), (2) agar dilakukan penelitian eksperimental lebih lanjut tentang
desain masker yang paling ergonomis (adjustable) untuk menghasilkan produk
yang terbaik, dan (3) perlu adanya sosialisasi penggunaan masker tersebut bagi
para pengendara sepeda motor.

DAFTAR PUSTAKA
1. Guyton, A.C. dan John, E.H. (1997). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Jakarta,
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
2. Hardjono, S. dan Anwar, C. (1984). Spektrometri Inframerah, Yogyakarta,
Laboratorium Analisa Kimia dan Fisika Pusat, Universitas Gadjah Mada.
3. Sanropie, D. (Editor). (1989). Pengawasan Penyehatan Lingkungan
Pemukiman, Jakarta, Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan, Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.
4. Shier, D., Jackie, B. and Ricki, L. (1999). Holes Human Anatomy and
Physiology, North America, McGraw-Hill Book Co-Ltd.
5. Wardhana, W.A. (1995). Dampak Pencemaran Lingkungan, Yogyakarta,
Penerbit Andi Offset.
6. Willard, H.H., Lynne, L.M., John, A.D., and Frank, A.S. (1988). Instrumental
Methods of Analysis, California, Wadsworth, Inc.
7. Yamada, H. (tanpa tahun). Respiratory Protection, Jakarta, PT Keska Lestari.
8. Yen, T.F. (1999). Environmental Chemistry: Essentials of Chemistry for
Engineering Practice, Volume 4A, New Jersey, Prentice-Hall Inc.
PKMI-1-18-1

PENGARUH EKSTRAK BIJI MIMBA TERHADAP


PENEKANAN SERANGAN WERENG BATANG PADI COKLAT

Dies Rina Kusumastanti, Diana Puji Rahayu dan Rina Hastarita Nilawati
Fakultas Pertanian, Universitas Tunas Pembangunan, Surakarta

ABSTRAK
Wereng Batang Padi Coklat merupakan salah satu hama penting tanaman padi.
Pemakaian pestisida kimiawi secara terus-menerus akan menyebabkan resistensi,
resurgensi, ledakan hama kedua, terbubuhnya serangga hama bukan sasaran dan
tertinggalnya residu sehingga mengganggu keseimbangan lingkungan. Untuk
mengurangi dampak tersebut, pemakaian pestisida kimiawi sebaiknya diganti
dengan pestisida nabati, salah satunya adalah nimba (Azadirachta indica).
Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pestisida biologis (ekstrak biji
nimba) terhadap penekanan serangan Wereng Batang Padi Coklat (WBPC) pada
tanaman padi. Penelitian ini dilaksanakan didesa Triagan, kecamatan
Mojolaban, kabupaten Sukohardjo pada bulan Maret 2004 sampai dengan Mei
2004 dengan jenis tanah regosol pada ketinggian tempat 110 meter diatas
permukaan laut. Penelitian ini merupakan percobaan faktorial dengan rancangan
lingkungan Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan 2 perlakuan dengan 12
kombinasi perlakuan yang masing-masing diulang 3 kali. Faktor pertama
konsentrasi ekstrak biji Mimba yang terdiri 5 taraf yaitu kontrol (air), 12,5
gram/l; 25 gram/l ; 50 gram/l dan 100 gram/l. Faktor kedua: Pelarut ekstrak
yang terdiri 2 taraf yaitu pelarut air dan pelarut metanol. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa LC50 dicapai pada konsentrasi minimal 50%, macam
pelarut tidak berpengaruh nyata pada nilai LC50. Semakin tinggi konsentrasi
ekstrak biji mimba semakin tinggi pula tingkat kematian hama wereng batang
padi coklat, dan tidak ada perbedaan yang nyata mengenai tingkat kematian
hama pada pelarut ekstrak yang berbeda.
Kata kunci: Ekstrak, mimba, wereng, padi, LC50

PENDAHULUAN
Wereng batang padi coklat (WBPC)) Nilaparvata lugens Stal (Homoptera:
Delphacidae) merupakan salah satu hama penting tanaman padi di daerah tropik
termasuk Indonesia. Populasi WBPC sering ditemukan dalam jumlah tinggi yang
dapat mengakibatkan gagal panen. Selain merusak tanaman padi secara langsung
dengan cara menghisap cairan tanaman, WBPC juga dapat menularkan penyakit
virus kerdil rumput dan kerdil hampa (Anonim, 1990). Menurut Bahagiawati
(1987) hama ini dapat menyerang tanaman padi pada semua fase pertumbuhan,
baik di lahan sawah irigasi maupun di lahan rawa.
Keberadaan WBPC di Indionesia telah diketahui sebelum tahun 1930, saat
itu bukan merupakan hama penting tanaman padi. Pada tahun 1931, ditemukan
kerusakan tanaman di Bogor. Tahun 1939 di Mojokerto dan tahun 1940 di
Yogyakarta. Pada tahun 1968-1969, WBPC juga merusak tanaman padi di Jawa
tengah (Tegal, Brebes dan Klaten) seluas 2.000 ha dan di Jawa Barat (Subang dan
PKMI-1-18-2

Indramayu) seluas 50.000ha (Soehardjan, 1973). Menurut laporan Mochida


(1979) tahun 1972-1977 luas serangan berkisar 25.700-526.900 ha dan laporan
Wiyanti (1988) pada tahun 1984-1986 serangan WBPC di Indosesia lebih dari
50.000 ha.
Pengendalian WBPC telah dilakukan dengan menerapkan Sistem
Pengelolaan Hama Terpadu (PHT), yang didasarkan pada pertimbangan ekologi
dan efisiensi ekonomi. Selama sepuluh tahun terakhir sejak dilaksanakan program
nasional PHT, di daerah jawa tengah dan derah Istimew Yogyakarta (DIY) tidak
pernah terjadi letusan WBPC. Tetapi menurut laporan Mahrub (2000) pada
musim tanam (MT) 1998/1999 dan 1999 telah terjadi letusan WBPC di
Kabupaten Sleman Barat, DIY dan tahun 2002 kembali terjadi letusan WBPC di
beberapa tempat antara lain di Klaten seluas 888 ha (komunikasi pribadi dengan
Penyuluh Pertanian Lapangan Kabupaten Klaten).
Di tingkat petani, aplikasi pestisida kimia tetap merupakan pilihan utama
kerana cepat dapat dilihat hasilnya. Hal ini sesuai laporan penelitian Mahrub
(2000) bahwa sampai saat ini 80% petani di Kabupaten Sleman, DIY untuk
mengatsi serangan WBPC masih menggunakan pestisida kimiawi, sedangkan
sisanya (20%) menggunakan cara pengendalian lainnya seperti varietas tahan atau
bercocok tanam.
Pemakaian pestisida secara terus-menerus dan dengan dosis yang selalu
bertambah menyebabkan terjadinya resistensi, resurjensi, ledakan hama kedua,
terbunuhnya serangga bukan sasaran dan tertinggalnya residu sehingga
mengganggu keseimbangan lingkungan.Untuk mengurangi dampak tersebut pada
dua dasa warsa terakhir pemakaian pestisida kimia mulai beralih ke pestisida
nabati, salah satunya adalah nimba (Azadirachta indica).
Bagian tanaman nimba yang biasa digunakan dan diketahui mengandung
bahan aktif azadirachtin adalah kulit batang, daun dan biji. Menurut penelitian biji
paling banyak kandungan bahan aktif azadirachtin yaitu antara 2-4 mg/gram biji
(National Research Council, 1992).
Zat aktif azadirachtin dapat menimbulkan berbgai pengaruh pada
pertumbuhan dan perkembangan pada serangga melalui 1) penghambatan
perkembangan telur, larva atau pupa, 2) Memblokir proses ganti kulit selama
stadium larva, 3) gangguan terhadap proses kawin, terutama proses komunikasi
seksual, 4) Penolakan makan pada larva dan dewasa , 5) Mencegah meletakkan
telur, 6)Membuat serangga mandul, 7) Meracun larva dan dewasa (National
Research Council, 1992).

METODE PENELITIAN
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Maret sampai Oktober 2004.
dengan menggunakan bahan-bahan : benih padi varietas Mamberamo, biji Mimba,
Pupuk Organik Bokhasi, pupuk Urea , TSP, KCl. dan fungisida.
Penelitian ini dirancang faktorial dengan rancangan lingkungan Rancangan
Acak Kelompok Lengkap dengan 3 blok sebagai ulangan. Faktor pertama adalah
konsentrasi ekstrak biji nimba (K), terdiri atas lima aras, yaitu :
K0 = kontrol (air)
Kl = 12,5 gram / l
K2 = 25 gram / l
PKMI-1-18-3

K3 = 50 gram / l
K4 = 100 gram /
Faktor kedua adalah pelarut ekstrak (P)), terdiri atas dua aras, yaitu :
P1 = pelarut air
P2 = pelarut metanol.

Persiapan serangga :Wereng Batang Padi Coklat dibiakkan di laboratorium


Entomologi terapan UGM.

Persiapan biji mimba : Biji mimba diperoleh dari Ngawi, Jawa Timur. Biji
dijemur dan disaring, kemudian dihaluskan. Kemudian dibuat dua ekstrak, taitu
dengan pelarut air dan pelarut metanol. Untuk ekstrak dengan pelarut air cara
membuatnya serbuk biji mimba langsung direndam dalam air, diaduk dan
bibiarkan satu hari, setelah itu baru digunakan. Ekstrak dengan pelarut metanol
dibuat dengan metode penguapan (Martono, 1998).

Cara pengujian : Menyiapkan gelas plastik yang bagian bawahnya dilubangi 5


buah. Masing-masing lubang diisi 2 bibit padi varietas Mamberamo umur 5 hari.
Kemudian diinfestasi 20 ekor WBPC nimfa instar IV dan segera ditutup kain kasa
agar tidak terbang. Sehari kemudian tanaman disemprotlarutan biji mimba baik
pelarut air maupun pelarut metanol sesuai perlakuan.

Pengamatan : Pengamatan dilakukan 1,2,3,4,5,6 dan 7 hari setelah perlakuan.


Parameter pengamatan :
1. Nilai LC50 dihitung dari pengamatan hari ke-7
2. Mortalitas dihitung hari ke 1,2,3,4,5, dan 6
Analisis data dengan LC50 dan mortalitas dengan uji Duncan Multiple
Range Test taraf nyata 5%.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil Pengamatan

Tabel 1. Nilai LC50 pada berbagai Tingkat Konsentasi Ekstrak Biji Mimba

Konsentrasi (gram/liter) LC50

100 50 d
50 40 c
25 20 b
12,5 15 a
Kontrol (air)
PKMI-1-18-4

Tabel 2. LC50 pada berbagai Jenis Pelarut Ekstrak

Pelarut LC50
Air 42 a
Metanol 45 a

Tabel 3. Mortalitas Wereng Batang Padi Coklat (WBPC) dengan Perlakuan


berbagai Konsentrasi Ekstrak Biji Mimba (hari ke-6)

Konsentrasi (gram/l) Mortalitas (%)


100 100 d
50 65 c
25 60 b
12,5 25 a
Kontrol (air)

Tabel 4. Mortalitas Wereng Batang Padi Coklat (WBPC) dengan perlakuan


macam pelarut ekstrak (hari ke-6)

Pelarut Mortalitas (%)


Air 90 a
Metanol 95 a
Keterangan :
Nilai Mortalitas yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata taraf 5%
DMRT

Pembahasan
Dari pengamatan LC50 dari berbagai konsentrasi yang diperlakukan yaitu
konsentrasi 100 gram/liter bisa mematikan wereng 50 (jumlah wereng uji 60
ekor), konsentrasi 50 gram/liter bisa mematikan wereng 40, konsentrasi 25
gram/liter bisa mematikan wereng 20 ekor dan konsentrasi 12,5 gram/liter hanya
bisa mematikan wereng sebanyak 15 ekor dari jumlah 60 ekor. Hal ini artinya
konsentrasi yang dapat mematikan wereng batang padi coklat (WBPC) lebih 50%
adalah pada konsentrasi 50 gr/liter. Hal ini berarti dengan konsentrasi yang lebih
rendah dari 50 gram ekstrak biji mimba / liter pelarut belum bisa mematikan 50%
wereng batang padi coklat sehingga minimal harus menggunakan konsentrasi
50%.
Macam pelarut tidak berpengaruh secara signifikan terhadap LC50 artinya
baik pelarut air maupun pelarut metanol sama walaupun secara angka tidak sama
tetapi secara statistik tidak signifikan. Pada Tabel 2 tersebut diatas terlihat pelarut
metanol bisa mematikan 45 dari 60 wereng yang diujikan sedang dengan pelarut
air hanya 42 wereng yang mati dari 60 wereng yang diujikan.
Berdasarkan pengamatan dan uji statistik tingkat mortalitas pada berbagai
tingkat konsentrasi ekstrak biji mimba adalah sebagai berikut:
Pada konsentrasi 100% pada hari ke-6 sudah bisa mematikan wereng
100%, dengan konsentrasi 50% mematikan wereng 65%. Konsentrasi 25%
mematikan wereng 60% dan pada konsentrasi 12,5% hanya bisa mematikan
PKMI-1-18-5

wereng 25%. Konsentrasi 100% signifikan terhadap konsentrasi yang lain. Hal ini
berarti semakin tinggi konsentrasi ekstrak biji mimba tingkat kematian wereng
batang padi coklat semakin tinggi. Hal ini karena ekstrak biji mimba mengandung
senyawa azadirachtin yang bisa menimbulkan berbagai pengaruh pada
pertumbuhan dan perkembangan serangga antara lain 1) penghambatan
perkembangan telur, larva atau pupa 2) memblokir proses ganti kulit selama
stadium larva, 3) gangguan terhadap proses kawin, 4)penolakan makan pada larva
dan dewasa, 5)mencegah meletakkantelur, 6) membuat serangga mandul, 7)
meracun larva dan dewasa (National Research Council, 1992)
Dari hasil pengamatan dan uji statistik ternyata macam pelarut tidak
signifikan terhadap tingkat mortalitas wereng batang padi coklat. Pelarut air bisa
mematikan 90% populasi hama, sedang pelarut metanol bisa mematikan 95%
pupulasi hama yang diujikan. Hal ini membuktikan bahwa kedua pelarut dalam
melarutkan bahan aktif mempunyai kemampuan yang sama sehingga membuat
kematian wereng yang sama secara statistik.

KESIMPULAN
1. Konsentrasi ekstrak biji mimba berpengaruh terhadap LC 50 maupun
mortalitas wereng batang padi coklat.
2. Jenis pelarut ekstrak biji mimba tidak berpengaruh pada LC50 maupun
mortalitas wereng batang padi coklat.
3. Konsentrasi terbaik adalah 100% pada LC50 maupun mortalitas wereng
batang padi coklat.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1990. Wereng Batang Padi Coklat. Lokakarya Pengamatan Dan
Peramalan Organisme Pengganggu Tingkat Nasional. Juni-Juli 1990. 13
Hal.
Anonim, 1992. Budidaya Tanaman Padi. Kanisius. Yogyakarta. 172 Hal.
Bahagiawati, 1987. Perkembangan Biotipe Wereng Coklat di Indonesia.
Balittanpan Bogor. Hal.32-42.
Mahrub, 2000. Kajian terjadinya letusan Populasi Wereng Batang Padi Coklat di
Kabupaten Sleman (Studi Kasus : Tingkat pemahaman Petani Terhadap
prinsip Dasar PHT). Mediagama II : 26-32.
Mochida, 1979. Brown Planthopper Recuced Rice Production. J. Ind. Agric. Res.
And Dev l (1 & 2) : 2-7.
National Research Council, 1992. Neem : A tree For Soving Global Problems.
National Academy Press. Washington, D.C. 141 p.
Soehardjan, 1973. Observation Leafhoppers And Planthoppers On Rice In Java.
Cenr. CRIA. Bogor 3 : 1-10.
Harjadi,SS. 1996. Pengantar Agronomi. Gramedia. Jakarta. 197 Hal.
Wiyanti, 1988. Pengaruh Residu Insektisida Diazenon 60 EC, Elsan 60 EC,
Nogos 50 EC, lebaycid 550 EC dan Sumithion 50 EC Terhadap Populasi
Nilaparvata lugens Stall (Homoptera : Delphacidae) Generasi kedua
pada Varietas Padi PB 5. Laporan Khusus. IPB. 30 Hal.
PKMI-1-19-1

PENGEMBANGAN POTENSI WISATA SEJARAH PERPUSTAKAAN


PERSADA BUNG KARNO KOTA BLITAR SEBAGAI MODEL WISATA
PENDIDIKAN

Cristin. C, Danu P. P, Deny W. T, Marmorittarieta S.G


Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Malang, Malang

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengemas model pengembangan wisata
pendidikan berdasarkan potensi sejarah perpustakaan Bung Karno. Penelitian
dilakukan pada Desember 2005 sampai Februari 2006, di Perpustakan Persada
Bung Karno, beralamat di Jalan Kalasan No.1 Kota Blitar 66133, karena
perpustakaan ini berbeda dengan perpustakaan lainnya. Perpustakaan ini
berlatar belakang sejarah. Teknik pengumpulan data antara lain : observasi,
wawancara, kepustakaan dan dokumentasi, diperoleh dari Dinas Inkomparda
Kota Blitar dan Perpustakaan Persada Kota Blitar. Teknik analisa data yang
dipakai yaitu menggunakan metode kualitatif naratif. Data disusun selengkap-
lengkapnya, dirinci dan dianalisa berdasarkan hasil dari data di lokasi
penelitian. Hasil penelitian menyatakan bahwa Perpustakaan Persada Bung
Karno sebagai wisata sejarah juga berpotensi menjadi wisata pendidikan. Selain
melihat wisata sejarah, pengunjung diajak untuk menikmati koleksi buku yang
tersedia.

Kata Kunci : Sejarah, Wisata pendidikan, Perpustakaan

PENDAHULUAN
Wisata cenderung berada dalam frame pemikiran sebagai suatu yang
menyenangkan, tempat tempat untuk melepas lelah dan berlibur. Dengan makin
majunya kehidupan,wisata tidak lagi berada dalam frame yang sesempit itu.
Beragam sebutan mulai bermunculan mengikuti kata wisata tersebut sesuai
kebutuhannya. Mulai dari wisata budaya,wisata sejarah,wista pendidikan,dan lain-
lain. Karena makin majunya peradaban, maka manusia pun semakin mengalami
kemajuan pola berpikirnya. Dari sini unsur pendidikan makin ditekankan. Wisata
pendidikan menjadi suatu model alternatif untuk hal ini. Saat ini model wisata
pendidikan lebih diwujudkan pada sebuah studi lapangan, dengan perpustakaan
menjadi acuan utama. Perpustakaan biasanya mempunyai beberapa koleksi
berupa buku-buku ilmu pengetahuan,jurnal-jurnal umum,cerita-cerita fiksi-non
fiksi,artikel-artikel dan lain sebagainya. Meskipun ada model wisata pendidikan
lainnya seperti mengadakan kunjungan belajar (study tour) ke tempat-tempat
pendidikan, tetapi perpustakaan tetap menjadi model wisata pendidikan yang
permanent selama ini.
Sebagian besar model wisata pendidikan berupa perpustakaan terkesan
monoton dan membosankan bagi pengunjungnya. Hal ini disebabkan
perpustakaan hanya menyajikan menu yang monoton bagi pengunjungnya,
contohnya pengunjung hanya disediakan buku-buku pada saat memasuki
perpustakaan. Sehingga hanya pengunjung yang benar-benar hobby membaca saja
yang akan betah berada di perpustakaan. Berdasarkan hal ini, dihadirkan konsep
perpustakaan yang tidak terkesan monoton bagi pengunjungnya yaitu
PKMI-1-19-2

Perpustakaan Persada Bung Karno Kota Blitar. Perpustakaan Bung Karno Kota
Blitar tidak hanya menyuguhkan buku-buku, tetapi pengunjung juga disuguhi
beberapa fasilitas lain seperti perpustakaan audio visual, ruang baca ber-AC,ruang
seminar dan yang paling penting ialah pelayanan dari staf yang tanggap dan
cekatan.Seperti kita tahu bahwa sesuatu yang disuguhkan dalam bentuk audio
visual akan lebih menarik minat seseorang daripada yang bersifat manual, karena
visualisasi tidak akan membosankan. Saat ini Perpustakaan Bung Karno kurang
mengadakan publikasi yang bersifat besar sehingga pengunjung yang datang
kebanyakan merupakan wisatawan domestik. Keberadaan Perpustakaan Persada
Bung Karno di lingkungan Makam Bung Karno dan di sebelah museum Bung
Karno menambah keunggulan Perpustakaan Persada Bung Karno . Selain bisa
menikmati wisata pendidikan, pengunjung juga bisa menikmati wisata sejarah.
Penelitian ini bertujuan untuk mengemas model pengembagan wisata
pendidikan, berdasarkan potensi sejarah Perpustakaan Bung Karno.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode kuaklitatif naratif yaitu metode
penelitian dengan cara memaparkan cerita dari data-data yang didapat dari lokasi
penelitian, kemudian disusun. Penelitian ini berlokasi di Perpustakaan Persada
Bung Karno Kota Madya Blitar, yang beralamat di jalan Kalasan Nomor 1 Kota
Blitar pada bulan Desember 2005 sampai dengan Pebruari 2006. teknik
pengumpulan data menggunakan data primer sebagai berikut:
1. Observasi: mengadakan pengamatan langsung yang meliputi pencarian
data dan pengamatan ruang,yakni mengamati keberadaan perpustakaan
bung karno dan mencari model wisata pendidikan
2. Dokumentasi: peneliti mengumpulkan data-data yang berupa dokumen-
dokumen atau arsip-arsip perpustakaan,foto-foto, kliping, Koran, internet
dan lain sebagainya
Untuk melengkapi data primer kita juga menggunakan data sekunder sebagai
berikut:
1. Wawancara: dilakukan tanya jawab dengan pihak atasan dan staf
Perpustakaan Persada Bung Karno yang dianggap memiliki pengetahuan
yang memadai tentang persoalan atau fenomena yang sedang diamati
sehingga peneliti mengetahui lebih rinci tentang permasalahan penelitian.
2. Kepustakaan: sejumlah buku yang dapat dijadikan acuan pada pra, proses
dan hasil penelitian.
Setelah data terkumpul kemudian data tersebut di analisis dengan metode
kualitatif naratif yaitu memilah-milah data yang dianggap perlu dan mewakili.
Kemudian data yang telah dipilah disusun secara naratif (cerita runtut) dan
dipaparkan sesuai dengan keadaan sebenarnya pada saat penelitian. Penelitian ini
juga melewati beberapa tahapan kegiatan diantaranya :
1. Desember 2005, mengadakan observasi ke lokasi wisata Perpustakaan Persada
Bung Karno. Mengurus perijinan ke instansi terkait, kemudian melakukan
wawancara dengan pihak terkait.
2. Januari 2006, melanjutkan proses observasi dengan menambah kegiatan yaitu
dokumentasi dengan mengambil gambar-gambar Perpustakaan Persada Bung
Karno. Kami juga melengkapi data yang didapat dengan kegiatan kepustakaan
PKMI-1-19-3

3. Pebruari 2006, mengerjakan proses akhir yaitu pengolahan data yang didapat
dalam bentuk makalah dan data gambar yang didapat dalam bentuk video
profile.

HASIL PENELITIAN
Setelah mengadakan penelitian, akhirnya kami mendapatkan fenomena-
fenomena sejarah yang sangat menarik karena mampu berkolaborsi dengan unsur
pendidikan. Pengunjung yang datang tidak hanya sekedar melihat obyek wisata,
tetapi juga diajak untuk mengetahui tentang sejarah hidup dan perjuangan Bung
Karno dan beberapa tokoh negara sampai akhir hayatnya. Pengetahuan tentang
sejarah hidup Bung Karno bisa didapat dari koleksi perpustakaan, baik berupa
buku maupun peninggalan-peninggalan sejarah. Perpustakaan dibangun tanggal 7
Agustus 2003 dan selesai 3 Juli 2004 sekaligus merupakan peresmian
Perpustakaan tersebut.
Ide awal pembangunan Perpustakaan Persada Bung Karno berasal dari
Perpustakaan Nasional RI untuk mengenang jasa Bung Karno sebagai
Proklamator RI. Pembangunan gedung Perpustakaan Persada Bung Karno
memakan biaya Rp12 miliar, terbagi atas Rp 4,5 miliar anggaran Perpustakaan
Nasional RI dan Rp7,5 miliar dari Pemkot Blitar. Dana sebesar 12 miliar rupiah
tersebut termasuk untuk koleksi buku-bukunya. Gedung UPT Perpustakaan
Persada Bung Karno diresmikan oleh Megawati Soekarnoputri pada tanggal 3 Juli
2004.
Pengunjung Perpustakaan berasal dari berbagai daerah di Indonesia, yakni
wilayah Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jakarta Bali, Kalimantan,
Sumatera, Sulawesi, NTT, serta NTB. Jumlah rata-rata pengunjung baik koleksi
buku maupun non buku kurang lebih 100 orang/hari, untuk hari libur kurang lebih
200-500 orang/hari.
Arsitektur bangunan Perpustakaan Persada Bung Karno oleh Baskoro
Tedjo, seorang dosen ITB (Institut Teknologi Bandung). Bentuk bangunan
mencontoh peninggalan Candi Penataran. Atap tanpa genteng bermaknaberatap
langit yaitu mempunyai cita-cita tinggi. Tiang-tiang kokoh yang berjajar dari
utara ke selatan sebanyak 21 buah dan tinggi 6 meter bermakna tanggal wafatnya
Bung Karno. 21 ujung yang berbeda-beda di tiap tiang dimaknai sebagai budaya
yang berbeda dari seluruh Nusantara. Relief pada dinding yang memanjang
sepanjang jalan yang menghubungkan antara Makam Bung Karno dengan
Perpustakaan Persada Bung Karno. dari bahan perunggu merupakan biografi
Bung Karno dari lahir sampai wafatnya.
Perpustakaan Persada Bung Karno merupakan Unit Pelaksana Teknis
(UPT) Perpustakaan Nasional RI berdasarkan persetujuan Menteri Pendayagunaan
Aparatur Negara nomor: B/141/M.PAN/I.2005 tanggal 20 Januari tentang
Organisasi dan Tata Kerja UPT Perpustakaan Persada Bung Karno dan keputusan
Kepala Perpustakaan Nasional RI nomor 04 Tahun 2005 tanggal 8 Februari 2005.
Sebagai suatu model wisata pendidikan, Perpustakaan Persada Bung
Karno memiliki Maksud dan Tujuan, antara lain:
1. Menyediakan informasi lengkap dan obyektif kepada masyarakat tentang
perjalanan hidup Sang Proklamator Bung Karno.
2. Menyediakan informasi dan rekaman peristiwa perjuangan Bung Karno
3. Pelestarian fakta sejarah perjuangan Bung Karno
PKMI-1-19-4

4. Memperkaya khasanah wisata Makam Bung Karno sehingga wisatawan dapat


memperdalam apresiasinya tentang Bung Karno melalui kisah Sang Putra
Fajar di perpustakaan yang lokasinya dekat dekat makam.
Jumlah koleksi buku dalam Perpustakaan ini kurang lebih mencapai
20.000 buku dari kapasitas koleksi buku sebanyak 40.000 buku. Ada beragam
jenis koleksi Perpustakaan Persada Bung Karno, diantaranya;
1. Koleksi khusus (gedung A lantai 1 timur)
Berupa otobiografi Bung Karno, buku-buku karya Bung Karno, buku-buku
tentang Bung Karno dan buku-buku tentang lukisan dan patung Bung
Karno.
2. Koleksi Referensi (gedung A lantai 1 timur), berupa:
a.Kamus
Antara lain: kamus bahasa (Indonesia,Inggris,Mandarin,Spanyol,Jawa
Kuno,Tionghoa, dan sebagainya), kamus elektronika, fisika, kimia,
computer, filsafat, pariwisata, istilah perbankan, dan sebagainya.
b. Ensiklopedia
c. Perundang-undangan
d. Buku-buku langka
3. Terbitan Berkala (gedung A lantai 1 timur), berupa:
a. harian c. bacaan anak atau remaja
b. tabloid
4. Koleksi Umum (gedung A lantai 2 timur), jenis koleksinya berupa:
a. karya umum g. ilmu-ilmu terapan (teknologi)
b.filsafat h. kesenian dan olah raga
c. agama i. kesusastraan
d. ilmu-ilmu sosial j. Sejarah dan geografi
e. bahasa
f. ilmu-ilmu murni
5. Koleksi non buku (gedung A lantai 1 barat), berupa:
a. lukisan Bung Karno
b.peninggalan Bung Karno berupa baju dan koper
c. uang seri Bung Karno tahun 1964
d. serial lukisan Bung Karno di Rengas Dengklok
sebelum kemerdekaan
e. foto-foto Bung Karno sejak muda sampai menjadi presiden
6. Koleksi BOI (Books On Indonesia) di gedung B, berupa; Buku-buku tentang
Indonesia, yaitu terbitan dari berbagai negara, sebelum dan sesudah Indonesian
merdeka. Jenis koleksinya berupa; budaya, geografi, pemerintahan, ekonomi, dan
lain sebagainya.
7. Koleksi Audio Visual, berupa:
a. compact disk (CD) pidato Bung Krno c. teknologi dan sebagainya
b. ilmu pengetahuan

8. Internet
website: www.perpusbungkarno.go.id
E-mail : info@perpusbungkarno.net
Beberapa koleksi buku dan non buku dalam Perpustakaan tersebut merupakan
sumbangan atau berasal dari; Perpustakaan Nasional, Perpustakaan Mastrip,
PKMI-1-19-5

Perpustakaan Ida Ayu, negara-negara lain yang simpatik dengan Bung Karno,
sumbangan dari masyarakat, dan juga didapat dengan system copy digital.
Perpustakaan Persada Bung karno menyediakan beberapa fasilitas,
diantaranya:
1. Semua ruangan, baik untuk ruang koleksi buku maupun non buku dan ruang
pertemuan dilengkapi dengan AC.
2. Ruang Audio Visual (gedung C)
Untuk menikmati koleksi audio visual dalam bentuk CD dengan kapasitas 100
orang.
3. Ruang Seminar (gedung C)
Untuk kegiatan seminar,talk show, pelatihan singkat, presentasi. Terdapat 2
ruang dengan kapasitas @50 orang.
Ada satu ruangan yang hingga kini belum direalisasikan, namun sudah masuk
dalam rancangan, yaitu Amphi Theatre, sebuah panggung terbuka di samping
perpustakaan ini yang diproyeksikan sebagai tempat penampilan karya budaya
dan kesenian anak bangsa.
Karena pengunjung yang kian hari kian bertambah banyak, maka pihak
staf pengurus Perpustakaan Persada Bung Karno membuat waktu layanan bagi
pengunjungnya, yaitu:
1. Layanan Koleksi Buku
- dibuka setiap hari pukul 08.00-15.00 wib
- khusus hari Jumat, istirahat pukul 11.00-13.00 wib.
2. Layanan non Buku
- dibuka setiap hari pukul 07.00-17.00 wib
- khusus hari Jumat, istirahat pukul 11.00-13.00 wib.
3. Untuk sementara waktu perpustakaan ini masih menggunakan sistem layanan
tertutup dan koleksi hanya bisa dibaca di tempat.
Staf Perpustakaan Bung Karno yang melayani para wisatawan ini
berjumlah kurang lebih 59 orang, dengan Status sebagian PNS dan sebagian
dengan status Dipekerjakan.,waktu dan sistem kerja staf pun sama dengan
pegawai lainnya, kecuali hari sabtu diberlakukan sistem shift (bergantian) dengan
masing-masing 15 orang petugas pelayanan.
Dari banyaknya pengunjung yang datang setiap harinya, maka staf
pengurus membuka layanan keanggotaan pada perpustakaan ini. Dan syarat
menjadi anggota Perpustakaan Persada Bung Karno yaitu terbuka untuk seluruh
warga negara Indonesia berusia 13 tahun ke atas dengan persyaratan administrasi
sebagai berikut:
1. Mengisi formulir keanggotaan
2. menyerahkan kartu identitas (KTP/SIM/Kartu Pelajar)
3. khusus siswa SD harap melampirkan surat keterangan dari sekolah.
Dengan diajaknya pengunjung untuk belajar mengetahui sejarah Bung
Karno dan kontribusinya dimasa sekarang , maka wisata sejarah Bung Karno tidak
menjadi wisata sejarah belaka tetapi sudah mengalami pengembangan menjadi
model wisata pendidikan. Pengunjung diajak aktif untuk mencari tahu tentang
makna dibalik bangunan sejarah tersebut.
PKMI-1-19-6

KESIMPULAN
Dalam pembahasan ini wisata sejarah Bung Karno ternyata tidak hanya
menyuguhkan suatu bentuk bangunan sejarah seperti makam dan museum.
Dengan keberadaan Perpustakaan Persada Bung Karno, akan menjadi nilai
tambah model wisata pendidikan.
Perpustakaan Persada Bung Karno yang telah mengalami pengembangan
potensi dari wisata sejarah, menjadi model wisata pendidikan mampu memberi
penjelasan tentang makna tersimpan pada bangunan bersejarah. Pengunjung
diajak aktif untuk memahami dengan berfikir tentang makna sejarah melalui-
fasilitas-fasilitas yang disediakan.

DAFTAR PUSTAKA
Inkomparda. Kawasan Wisata Makam Bung Karno. Blitar: Dinas Inkomparda
Kota Blitar; 2004
Inkomparda. Pesona Wisata Kota Blitar. Blitar: Dinas Inkomparda Kota Blitar;
2004
Hamidi. Metode Penelitian Kualitatif, Aplikasi Praktis Pembuatan Proposal dan
Laporan Penelitian. Malang: UMM Press; 2004
Soekarno. Pidato Presiden Soekarno pada Hut Ke-21 Republik
Indonesia.Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah ( Never Leave
History ). Jakarta: Departemen Penerangan RI; 1966.
LPPM dan Tim Desain ITB. Laporan Pekerjaan Perancangan Konsep Desain
Gedung Perpustakaan Bung Karno di Blitar. Bandung; 2003.
Dokumentasi Dinas Inkomparda Kota Blitar
Dokumentasi Perpustakaan Persada Bung Karno
Web Site :
Perpustakaan Bung Karno Senilai Rp 12 Milyar Dibangun di Blitar (On-
line)www.pnri.go.id.Sabtu, 14 januari 2006 15.00 WIB
Melongok Perpustakaan Bung Karno. Juni 2005.www.suaramerdeka.com. (serial
0n-line 1(2):tggl akses : Senin, 16 Januari 2006, 17:42 WIB
Membangun Perpustakaan Bung Karno.www.perpusbungkarno.go.id. Senin,16
Januari 2006,17.50 WIB
PKMI-1-20-1

PERENDAMAN BENIH IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy Lac.)


TERHADAP KEBERHASILAN PEMBENTUKAN
KELAMIN JANTAN

Sunandar, Tri Makmun Arifin, Nunik Yuliani


Jurusan Perikanan, Universitas Muhammadiyah Malang, Malang

ABSTRAK
Pemenuhan kebutuhan akan konsumsi ikan gurami dan adanya permasalahan
yang spesifik yaitu lambatnya pertumbuhan ikan gurami mendorong untuk
melakukan riset tentang teknologi rekayasa pembentukan kelamin jantan ikan
gurami dengan menggunakan hormon metiltestosteron. Tujuan praktikum ini
untuk mengetahui pengaruh dosis hormon metiltestosteron dan lama perendaman
benih ikan gurami terhadap keberhasilan pembentukan kelamin jantan ikan
gurami, untuk mengetahui dosis hormon metiltestosteron dan lama perendaman
benih ikan gurami yang optimal dan kelulushidupan (survival rate) benih ikan
gurami yang terbaik. Metode praktikum yang digunakan adalah eksperimen
dengan Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan 12 perlakuan meliputi,
faktor 1 (dosis hormon metiltestosteron 0 mg/l, 2.5 mg/l, 5 mg/l, 7.5 mg/l) dan
faktor 2 (lama perendaman 3 jam, 6 jam dan 9 jam) dengan 3 ulangan blok.
Analisa data menggunakan ANAVA dan uji BNT sedangkan untuk mengetahui
dosis optimal menggunakan analisa regresi. Hasil praktikum ini menunjukkan
dosis 4.906 mg/l merupakan perlakuan dosis yang optimal dalam menghasilkan
66.986% ikan gurami jantan dan 30.267% ikan gurami betina, sedangkan lama
perendaman tidak bedanyata antar perlakuan, maka lama perendaman optimum
yang memiliki waktu lebih singkat yaitu lama perendaman 3 jam. Pengaruh dosis
hormon metiltestosteron dan lama perendaman tidak ada pengaruhnya terhadap
kelulushidupan benih ikan gurami. Kesimpulan dalam praktikum ini adalah
pemberian dosis hormon metiltestosteron pada ikan gurami berpengaruh sangat
nyata terhadap keberhasilan pembentukan kelamin jantan, sedangkan perlakuan
lama perendaman tidak berpengaruh. Dosis optimal dalam pembentukan kelamin
jantan ikan gurami adalah 4.906 mg/l. Pengaruh hormon metiltestosteron dan
lama perendaman benih ikan gurami selama perendaman dan selama
pemeliharaan tidak berpengaruh terhadap kelulushidupan benih ikan gurami.

Kata kunci: Kelamin jantan, metiltestosteron, perendaman

PENDAHULUAN
Ikan gurami (Oshpronemus gouramy Lac.) merupakan ikan asli Indonesia.
Ikan ini merupakan salah satu komoditi perikanan air tawar yang penting dilihat
dari permintaannya yang besar dan harganya yang relatif tinggi dan merupakan
salah satu sumber protein yang cukup tinggi, oleh sebab itu tidak mengherankan
apabila ikan gurami menjadi salah satu komoditi unggulan di sektor perikanan air
tawar.
Produksi ikan gurami di Indonesia pada tahun 1995 mencapai sekitar
7.000 ton (Tempo, 17 Oktober 2003). Selama periode 1991-1995, produksi
gurami mengalami peningkatan rata-rata 1.183,7 ton per tahun. Kemudian pada
PKMI-1-20-2

tahun 2000 meningkat menjadi 14.065 ton, dan pada tahun 2001 sampai sekarang
produksinya mencapai 19.027 ton (Kompas, 24 Februari 2004).
Akan tetapi terdapat permasalahan spesifik dalam produksi ikan gurami
yaitu ikan gurami memiliki pertumbuhan yang lambat, karena dalam masa
pemeliharaannya ikan gurami dari benih sampai ukuran konsumsi dengan berat
500 gram memerlukan waktu sampai 18 bulan (Adnan, dkk., 2002) . Terlalu lama
bagi bisnis di tingkat petani Indonesia. Maka, perlu adanya usaha menemukan
teknik yang tepat guna memacu pertumbuhan ikan gurami.
Pada ikan gurami diketahui pertumbuhan ikan jantan lebih cepat
dibandingkan ikan betina, jantan berumur 10-12 bulan dapat mencapai berat rata-
rata 250 gr/ekor, sedangkan betina hanya 200 gr/ekor. Ini berarti pertumbuhan
gurami jantan 20% lebih cepat dibandingkan gurami betina. Sehingga dengan
hanya memproduksi ikan gurami jantan saja dapat meningkatkan produksi dari
pembesaran ikan gurami.
Sex reversal adalah proses memproduksi ikan monosex atau memproduksi
ikan dengan satu jenis kelamin yaitu jantan atau betina saja. Sex reversal dengan
pemberian metiltestosteron dikenal cukup efektif untuk memproduksi populasi
jantan. Pemberian metiltestosteron melalui oral (pakan) dianggap kurang efisien
karena memerlukan dosis tinggi dan waktu pemberiannya relatif lebih lama
walaupun tingkat keberhasilan merubah kelamin jantan dapat mencapai 96100%,
sedangkan pemberian metiltestosteron melalui metode perendaman (dipping)
lebih efisien karena dosis yang diberikan relatif kecil dan waktu kontaknya lebih
singkat walaupun tingkat keberhasilan merubah kelamin jantan dibawah 96%
(Zairin, 2002), hal ini didukung oleh penelitian Priambodo (1998), pada ikan nila
bahwa dengan dosis 0,9-1,2 dengan lama perendaman dua jam sudah dapat
merubah jenis kelaminnya.
Maka untuk mengetahui pengaruh dosis dan lama perendaman benih ikan
gurami yang terbaik terhadap persentase pembentukan jenis kelamin dan waktu
kontak perlu dilakukan penelitian, apakah dosis hormon metiltestosteron dan
lama perendaman berpengaruh pada benih ikan gurami atau tidak.
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui pengaruh dosis
hormon metiltestosteron dan lama perendaman benih ikan gurami terhadap
keberhasilan pembentukan kelamin jantan ikan gurami, untuk mengetahui dosis
hormon metiltestosteron dan lama perendaman benih ikan gurami yang optimal
dalam pembentukan kelamin jantan dan kelulushidupan (survival rate ikan
gurami.

MATERI DAN METODE


Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada bulan OktoberDesember 2005, di
Kolam petani ikan gurami di Blitar dan Laboratorium Perikanan Fakultas
PeternakanPerikanan Universitas Muhammadiyah Malang.

Materi dan Alat Penelitian


Materi yang digunakan dalam praktikum ini adalah benih ikan gurami
berumur 21 hari yang berjumlah 18000 ekor, Hormon Metiltestosteron, Alkohol
96%, Asetokarmin dan Oksigen.
PKMI-1-20-3

Alat-alat yang digunakan untuk perlakuan adalah kolam berukuran 5 x 4


m2, happa, kantong plastik, karet gelang dan alat untuk mengukur kualitas air
(thermometer, pH, dan Oximeter), sedangkan untuk pengamatan morfologi
menggunakan mikroskop, dan section set.

Metode dan Rancangan Praktikum


Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah metode eksperimen,
dan rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial
(RAKF) dengan Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF) adalah Faktor 1
(A0 = Dosis 0 mg/liter, A1 = Dosis 2,5 mg/liter, A2 = Dosis 5 mg/liter, A3 =
Dosis 7,5 mg/liter) dan Faktor 2 (B1 = Lama perendaman 3 jam), (B2 = Lama
perendaman 6 jam, (B3 = Lama perendaman 9 jam).
Blok ulangan yang digunakan perbedaan wilayah kolam pemeliharaan
masing-masing adalah Blok I, Blok II, Blok III. Jumlah perlakuan 4 untuk dosis
hormon metiltestosteron dan 3 perlakuan untuk lama perendaman.

Prosedur Praktikum
1. Persiapan Praktikum
Menyediakan benih ikan gurami yang berumur 21 hari sebanyak 500 ekor
untuk 36 unit percobaan.
Menyiapkan materi penelitian
Menyiapkan alat dan bahan penelitian
2. Pelaksanaan Praktikum
a. Perlakuan pemberian dosis dan lama perendaman dengan metiltestosteron
Menyiapkan dosis metiltestosteron sesuai dengan perlakuan.
Melarutkan hormon dengan alkohol 96 % sebanyak 3 ml.
Menyiapkan kantong plastik sebanyak tiga buah pada tiap perlakuan
sehingga kantong plastik yang harus disediakan sebanyak 36 buah
serta mengisi kantong plastik dengan air sebanyak 1 liter.
Memasukkan benih yang berumur 21 hari sebanyak 500 ekor pada
tiap-tiap kantong plastik yang telah disiapkan.
Memasukkan hormon metiltestosteron sesuai dosis perlakuan ke
dalam kantong plastik, melakukan perlakuan lama perendaman
yaitu: lama perendaman 3 jam, lama perendaman 6 jam, lama
perendaman 9 jam.
Menambahkan O2 ke dalam kantong plastik dan mengikatnya
dengan karet gelang.
Mengamati dan mencatat survival rate (SR) benih ikan gurami
selama perendaman dalam kantong plastik.
b. Pemeliharaan Benih Ikan Gurami pada Keramba dalam Kolam
Mempersiapkan happa berukuran 1 m2 yang di letakkan di kolam,
mengisi air ke kolam sampai ketinggian 30 cm. Persiapan ini
dilakukan 2 hari sebelum benih ikan gurami ditebar.
Setelah perlakuan benih ikan gurami dimasukkan ke dalam happa.
Selama pemeliharaan diberi makanan alami (cacing tubifek)
Selama pemeliharaan mengamati parameter kualitas air dan
kelulushidupan (Survival Rate).
PKMI-1-20-4

c. Pengamatan Keberhasilan
Mengamati keberhasilan presentase pembentukan jenis kelamin
jantan, betina dan intersex. Pengamatan keberhasilan pembentukan
jenis kelamin dilakukan histology. Pengamatan histologi yaitu
dengan cara mengambil gonad ikan ikan uji dengan membedah ikan
uji. Metode pengamatan secara histology sebagai berikut:
Mengambil ikan uji sebanyak 15% dari 500 ekor atau sebanyak
75 ekor pada tiap unit percobaan, sesuai pendapat Arikunto
(2002), untuk pengambilan sampel kurang dari 100, lebih baik
diambil semua, selanjutnya jika jumlah samplel lebih dari 100
dapat diambil antara 10% atau 20% sampai 25% atau lebih.
Membedah sampel ikan uji dengan cara menggunting bagian
perut ikan mulai dari operculum sampai anus.
Mengambil sebagian gonad dan dileburkan dengan alat pencet.
Menetesi gonad dengan larutan asetokarmin sebanyak + 2 tetes.
Membiarkan selama + 10 menit agar larutan asetokarmin
meresap kedalam jaringan gonad.
Menutup gonad dengan cover glass.
Mengamati dibawah mikroskop dengan pembesaran 100x.
Menentukan jenis gonad atau kelamin ikan uji.
Mencatat presentase jenis kelamin jantan, dan betina untuk
menentukan keberhasilan perlakuan.

Parameter Uji
1. Parameter Utama
Parameter utama yang diamati dalam praktikum ini adalah keberhasilan
pembentukan jenis kelamin jantan. Menurut Zairin, (2002) keberhasilan
pembentukan jenis kelamin diukur dengan menggunakan rumus:
Jumlah Ikan Gurami Jantan (J)
Jumlah Ikan Jantan
J (%) = x100%
Jumlah Ikan Sampel
Jumlah Ikan Gurami Betina (B)
Jumlah Ikan Betina
B (%) = x100%
Jumlah Ikan Sampel
2. Parameter Penunjang
Parameter penunjang dalam praktikum ini berupa kelulushidupan ikan
gurami, pertumbuhan ikan gurami dan parameter kualitas air media ikan.
Kelulushidupan atau Survival Rate (SR) menurut Zonneveld, dkk (1991)
adalah persentasi ikan yang hidup pada akhir penelitian.
Pengukuran Parameter Kualitas Air
Pengukuran parameter kualitas air dilakukan dipagi, siang dan sore hari
meliputi pengukuran pH, oksigen terlarut dan suhu.

Analisa Data
Data yang diperoleh dianalisa dengan analisis variansi (ANAVA) di
lanjutkan dengan uji BNT (Beda Nyata Terkecil). Untuk mengetahui hubungan
antara perlakuan terhadap respon (hasil) dilakukan analisis regresi.
PKMI-1-20-5

HASIL PRAKTIKUM
Hasil praktikum ini didapatkan data rata-rata persentase keberhasilan
pembentukan kelamin dan kelulushidupan ikan gurami (Osphronemus gouramy
Lac.) pada Tabel 1. berikut ini :
Tabel P. Data Rata-rata Keberhasilan Pembentukan Kelamin (%) dan
Kelulushidupan (%) Ikan Gurami (Osphronemus gouramy Lac.)
PERLAKUAN
PRAMETER 0 mg 2,5 mg 5 mg 7,5 mg
UJI 3 6 9 3 6 9 3 6 9 3 6 9
Jam Jam Jam Jam Jam Jam Jam Jam Jam Jam Jam Jam
Jumlah Kelamin (%)
- Jantan 56 54.22 59.11 71.56 76.89 77.78 83.11 86.67 89.33 80.44 68 73.78

- Betina 44.00 45.78 40.89 26.67 22.22 21.78 16.44 12.89 10.67 19.56 32.00 26.22

- Intersex 0.00 0.00 0.00 1.78 0.89 0.44 0.44 0.44 0.00 0.00 0.00 0.00

Kelulushidupan (%)
- Pada saat 99.80 99.87 99.80 99.73 99.73 99.87 99.53 99.87 99.80 99.67 99.67 99.53
Perendaman
- Pada saat 56.60 71.27 56.33 68.40 68.40 63.93 66.87 70.40 67.47 61.80 64.93 62.93
Pemeliharaan

PEMBAHASAN
Pembentukan Kelamin Jantan
Hasil praktikum optimalisasi dosis hormon metiltestosteron dan lama
perendaman terhadap pembentukan kelamin jantan ikan gurami, hasil persentase
keberhasilan terbaik dari uji BNT ditemukan pada perlakuan dosis 5 mg/l (66.979
persen), sedangkan lama perendaman benih dengan menggunakan hormon tidak
berpengaruh nyata. Dosis optimun dari analisa regresi yang ditunjukkan oleh
Gambar 2, pembentukan kelamin jantan menunjukkan kecenderungan garis
kuadratik yaitu semakin tinggi dosis yang diberikan sampai batas dosis 4.906 mg/l
(66.986 persen) akan semakin tinggi persentase kelamin jantan yang dihasilkan.
Akan tetapi, apabila dosis melebihi 4.906 mg/l, maka akan terjadi sebaliknya yaitu
semakin menurun pembentukan kelamin jantan yang dihasilkan dan justru
memberikan pembentukan kelamin betina, hal ini dikarenakan dosis hormon
metiltestosteron yang berlebih dapat menyebabkan terhambatnya proses
pembentukan kelamin dan berakibat timbulnya proses sebaliknya, sesuai pendapat
Mukti (2002) kelebihan dosis hormon metiltestosteron yang diberikan pada ikan
dapat mengurangi jumlah kelamin jantan yaitu hormon metiltestosteron semakin
memacu perkembangan kelamin atau gonad betina ikan (bukan kelamin jantan).
PKMI-1-20-6

Grafi k Hu bu n gan Dosi s Horm on Metiltestosteron


Te rh adap Ke be rh asi l an Pe mbe n tu k an
Ke l am i n Jan tan Ban i h Ik an Gu rami
700

Keberhasilan Pembentukan
600

Kelamin Jantan
500

400
y = -7.0527x 2 + 69.202x + 433.12
300
r = 0.985
200

100

0
0 1 2 3 4 5 6 7 8
Dosi s Hormon Metiltestosteron

Gambar P. Grafik Hubungan Dosis Hormon Metiltestosteron Terhadap


Keberhasilan Pembentukan Kelamin Jantan

Pada dosis optimal 4.906 mg/l (66.986 persen) ternyata belum


menghasilkan pembentukan kelamin jantan maksimal seperti dugaan awal, yaitu
pembentukan kelamin jantan dengan metode perendaman (dipping) dapat
menghasilkan pembentukan kelamin jantan sebesar 93.3 persen (Santoso, 2004).
Tidak berpengaruhnya lama perendaman dan masih adanya kelamin betina
sebesar 30.267 persen diduga dipengaruhi oleh umur benih ikan gurami (21 hari)
memiliki gonad yang hampir sempurna (terdifferensiasi), maka laju difusi hormon
metiltestosteron yang akan masuk organ target terhambat karena permaebilitas
dari tubuh larva rendah, sehingga pembentukan kelamin jantan ikan gurami
menjadi tidak maksimal, hal ini didukung oleh pendapat Hepher dan Pruginin
(1982) yang menyatakan differensiasi gonad ikan terjadi antara 21 sampai 30 hari
setelah telur menetas.
Pemberian hormon metiltestosteron pada benih ikan gurami tidak
menyebabkan perubahan genetik ikan, karena hormon ini hanya akan mencapai
dan mempengaruhi organ target saja dan bukan kelamin ikan, differensiasi
kelamin atas pengaruh pemberian hormon mengubah fenotip kelamin, tetapi tidak
mengubah genotipnya (Zairin, 2002). Efektifitas pembentukan kelamin jantan
sangat ditentukan oleh ketepatan pemberian dosis hormon metiltestosteron dan
umur ikan sebelum gonad terdifferensiasi, karena dosis dan masa differensiasi
yang tepat akan menghambat pembentukan ovari dan sebaliknya pembentukan
gonad jantan semakin cepat, sehingga gonad akan berkembang menjadi testis.
Pematang gonad ikan yang bekerja dibawah kendali hormon-hormon,
secara umum mekanisme terjadi secara alamiah dan rekayasa (rangsangan).
Mekanisme secara alamiah kerja hormon untuk perkembangan dan pematangan
gonad dimulai dari adanya rangsangan dari luar seperti visual untuk fotoperiode,
kemoreseptor untuk suhu dan metabolit yang kemudian diterima oleh susunan
saraf otak melalui reseptor-reseptor penerima rangsangan susunan saraf otak
kemudian merangsang hipotalamus untuk melepaskan Gonadropin Releasing
Hormon (GnRH) untuk mestimulasi kelenjar hipofisa (pituitary) untuk
mengsekresikan Gonadotropin Hormon (GtH) kemudian dialirkan ke dalam darah
untuk merangsang kematangan gonad akhir melalui simulasi untuk mensintesis
hormon-hormon steroid pematangan (seperti hormon testoteron dan estradiol)
dalam ovarium atau testis, dan mempengaruhi perkembangan kelamin sekunder.
PKMI-1-20-7

Mekanisme rangsangan pembentukan gonad jantan dengan menggunakan


hormon metiltestosteron (hormon steroid) dimulai dari penyepan hormon kedalam
tubuh ikan secara difusi dan disekresikan melalui saluran darah (Montgonery, et
all., 1983). Proses bagaimana hormon steroid tersebut dapat merangsang
pemasakan oosit maupun sperma mekanismenya belum diketahui, tetapi diduga
melalui tranfer kode terjemahan RNA (Darwisito, 2002).

Kelulushidupan Benih Ikan Gurami


Hasil kelulushidupan benih ikan gurami selama perendaman dihasilkan
semua perlakuan memiliki rata-rata kelulushidupan sebesar 99,4 persen sampai
dengan 100 persen, dari hasil analisa sidik ragam diperoleh kesimpulan bahwa
perlakuan dosis dan lama peredaman hormon metiltestosteron tidak berpengaruh
terhadap kelulushidupan selama perendaman, karena dari perhitungan F hitung
lebih kecil dari F tabel 5% dan 1%. Tidak berpengaruhnya hormon terhadap
kelulushidupan selama perendaman membuktikan bahwa hormon metiltestosteron
pada dosis 7.5 mg/l tidak bersifat racun pada ikan gurami, karena hormon steroid
semacam metiltstosteron menurut Nurhidayat dalam Mukti (2002) mengatakan,
semakin tinggi dosis hormon yang diberikan dapat menurunkan tingkat
kelulushidupan ikan karena adanya sifat racun (toxit) dari hormon kepada ikan.
Berbeda dengan kelulushidupan benih ikan gurami selama pemeliharaan
didapatkan persentase kelulushidupan yang rendah yaitu rata-rata 56.33% sampai
dengan 70.40% dan hasil analisa sidik ragam memilki kesimpulan bahwa
perlakuan dosis dan lama peredaman hormon metiltestosteron yang berbeda tidak
berpengaruh terhadap kelulushidupan selama pemeliharaan, tetapi pemeliharaan
benih ikan gurami dalam happa berpengaruh terhadap kelulushidupan yang
rendah. Kelulushidupan yang rendah selama pemeliharaan diduga banyak
dipengaruhi oleh faktor penanganan (handling) dan ada pengaruh dari hormon
meskipun dari hasil analisa sidik ragam tidak berpengaruh, selain itu
kelulushidupan benih ikan gurami yang rendah memang dikarenakan
kelulushidupan masa benih cukup rendah, sesuai pendapat Adnan, dkk. (2002)
tingkat mortalitas atau kelulushidupan ikan gurami masa benih hanya mencapai
sekitar + 50% saja.

Kualitas Air
Hasil pengukuran kualitas air diperoleh kisaran media pemeliharaan masih
optimum untuk dipergunakan pemeliharaan benih ikan gurami. Suhu pagi hari
didapatkan rata-rata 24.70C, siang hari suhu rata-rata 30.40C, sore hari rata-rata
28.50C. pH tidak ada perubahan dari pagi hari sampai sore hari memliki pH
sebesar 8. Oksigen terlarut pagi hari rata-rata 5.56 mg/l, siang hari oksigen terlarut
rata-rata 6.42 mg/l dan pada sore hari rata-rata 5,92 mg/l.
Kualitas air yang optimum pada pemeliharaan benih ikan gurami menurut
Prihartono (2004) suhu yang baik untuk pemeliharaan benih ikan gurami berisar
antara 250C300C dan untuk pH berkisar antara 6.58.5. Untuk kandungan
oksigen terlarut yang baik menurut Tim Agro Media Pustaka (2001) kandungan
oksigen untuk pertumbuhan ikan gurami tidak boleh kurang 5 mg/l.
PKMI-1-20-8

KESIMPULAN
Hasil praktikum optimalisasi dosis hormon metiltestosteron dan lama
perendaman yang berbeda pada pada benih ikan gurami (Osphronemus gouramy
Lac.) terhadap keberhasilan pembentukan kelamin jantan diperoleh kesimpulan
bahwa, perlakuan dosis hormon metiltestosteron yang berbeda pada ikan gurami
(Osphronemus gouramy Lac.) berpengaruh sangat nyata terhadap keberhasilan
pembentukan kelamin jantan dan untuk perlakuan lama perendaman ikan gurami
(Osphronemus gouramy Lac.) tidak berpengaruh terhadap keberhasilan
pembentukan kelamin jantan. Sehingga didapatkan dosis optimal yang
memberikan pembentukan kelamin jantan ikan gurami yaitu pada dosis 4.906
mg/l sebesar 66.986%, untuk pengaruh hormon metiltestosteron dan lama
perendaman benih ikan gurami selama perendaman dan selama pemeliharaan
tidak berpengaruh terhadap kelulushidupan benih ikan gurami.

DAFTAR PUSTAKA
Adnan, D.W., Martawijaya, E.L., dan Setiawan, B.D. (2002). Pembenihan
Gurami di Dalam Akuarium. PT. Agro Media Pustaka. Jakarta
Darwisito, S. (2002). Stretegi Reproduksi Pada Ikan Kerapu. http://www. iptek.
net.id/ind/warintek/Budidaya_perikanan_idx.php?doc=3a2. diakses pada
tanggal 15 April 2005
Hepher, B. dan Pruginin, Y. (1982). Cemmercial Fish Farming. John Wiley and
Sons. New York. 261p
Kompas. (Kamis 26 Februari 2004). Seiring Wabah Flu Burung, Bisnis Perikanan
Bergairah Lagi. http://www.kompas.com/kompas-cetak/0402/26/jateng/
879329.htm. diakses pada tanggal 15 April 2005
Montgomery, R., Dryer. R. L., Conway, R. W., dan Spector A. A. (1983).
Biokimia: Suatu Pendekatan Berorietasi-Kasus Jilid 2 Edisi Keempat.
Gajah Mada Univercity. Yogyakarta
Mukti, A.T., Priambodo, B., Rustidja, dan Widodo, M.S. (2002). Optimalisasi
Dosis Hormon Sintetis 17 -Metiltestosteron dan Lama Perendaman
Larva Ikan Nila (Oreochromis spp.) Terhadap Keberhasilan Perubahan
Jenis Kelamin. http://digilib.brawijaya.ac.id/ virtuallibrary/mlgserial/Pdf%
20Material/Biosain%20Edisi%20. diakses pada tanggal 15 April 2005
Priambodo, B. (1998). Optimalisasi Dosis Hormon Sintetis 17 -Metiltestosteron
dan Lama Perendaman Larva Ikan Nila (Oreochromis spp.) Terhadap
Keberhasilan Perubahan Jenis Kelamin. Fakutas Perikanan Universitas
Brawijaya. Malang
Prihartono, P.E., 2004. Permasalahan Gurami dan Solusinya. Penebar Swadaya.
Jakarta
Tempo. (2003). Produksi Ikan Gurami Tiap Tahun Meningkat 35 Persen.
http://www.tempo.co.id/hg/ekbis/2003/10/17/brk%2C2003101740%2Cid.
html. diakses pada tanggal 15 April 2005
Tim Agro Media Pustaka, 2001. Budidaya Gurami. PT. Agro Media Pustaka.
Jakarta
Zairin, M. (2002). Sex Reversal: Memproduksi Benih Ikan Jantan atau Betina.
Penebar Swadaya. Jakarta
Zonneveld, N., Huisman, E. A. dan Boon, J. H. (1991). Prinsip-prinsip Budidaya
Ikan. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
PKMI-2-1-1

PEMBIAYAAN PENDIDIKAN INDONESIA:


MENUJU MILLINEUM DEVELOPMENT GOALS (MDGs) 2015

Wiko Saputra, Ayu Yuliana Tasya, Jorrie Andrean


Jurusan Ekonomi Pembangunan Universitas Andalas Padang

ABSTRAK
Salah satu kesepakatan dalam Millenium Development Goals (MDGs) 2015
adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia diseluruh dunia dengan
agenda utama tersedianya akses pendidikan dasar bagi seluruh lapisan
masyarakat. Secara eksplisit, MDGs 2015 mengarah pada program wajib belajar
sembilan tahun, dimana negara harus menyediakan kesempatan yang luas bagi
anak usia 7-15 tahun untuk mendapatkan pendidikan. Menghadapi MDGs 2015,
bidang pendidikan di Indonesia harus berbenah diri, hal utama yang dilakukan
adalah memperbaiki program wajib belajar sembilan tahun dan secara bertahap
mencanangkan program wajib belajar dua belas tahun. Masih minimnya
anggaran untuk sektor pendidikan (7-8 % dari APBN) dan kesalahan kebijakan
alokasi anggaran pendidikan yang sebagian besar digunakan bukan untuk
peningkatan kualitas pendidikan dan tersentralisasi pada level pusat bukanya
pada level sekolah merupakan masalah utama dalam pendidikan. Dilihat dari
segi financial, peranan pemerintah terhadap pembiayaan pendidikan masih kecil,
sebagian besar biaya pendidikan masih ditanggung oleh rumah tangga. Untuk
menuju MDGs 2015 permasalahan tersebut harus dapat diatasi. Diperlukan
peranan pemerintah dalam penyedian akses pendidikan terutama pembiayaan
pendidikan itu sendiri. Pemerintah harus berusaha menyediakan pendidikan yang
murah sehingga masyarakat mampu mengakses pendidikan. Sebuah tantangan
yang harus dihadapi bangsa Indonesia untuk dapat bersaing dalam MDGs 2015.

Kata kunci : Millenium Development Goals 2015, wajib sembilan belas tahun,
wajib belajar dua belas tahun, pembiayaan pendidikan, anggaran
pendidikan.

PENDAHULUAN

Sebuah harapan akan kehidupan madani yang menjadi cita-cita setiap


masyarakat mulai menjadi paradigma baru dalam tatanan kehidupan masyarakat
dunia pada saat ini. Masalah kemiskinan, diskriminasi, kelaparan,
keterbelakangan yang selama ini hidup dibawah kemerlapan dunia sehingga
menimbulkan perbedaan yang tajam antara masyarakat miskin dan masyarakat
kaya. Menghadapi masalah tersebut, negara-negara di dunia membuat sebuah
komitmen dan kesepakatan bersama yang tertuang dalam program Millenium
Development Goals (MDGs) 2015. Salah satu agenda MDGs 2015 adalah
perbaikan kualitas sumber daya manusia melalui penyedian kesempatan yang luas
bagi masyarakat untuk mendapatkan pendidikan dasar atau secara eksplisit tidak
ada anak usia 7-15 tahun yang tidak bersekolah. Bagaimana pendidikan Indonesia
menghadapi MDGs 2015 ?.
PKMI-2-1-2

Untuk pendidikan dasar, Indonesia


masih agak tertinggal dengan
beberapa negara lain, tingkat
partisipasi sekolah untuk pendidikan
dasar baru mencapai 85-94 % (lihat
gambar 1.1). Untuk SMP masih
berkisar 55 % dan SMA baru
mencapi 32 % (Balitbang Diknas
2004). Bandingkan dengan Malaysia
yang telah mampu mewujudkan
wajib belajar sembilan tahun.
Menghadapi MDGs 2015 hal utama
Sumber : www.worldbank.org/data
yang perlu dilakukan adalah secara
bertahap merancang program wajib
belajar dua belas tahun. Minimnya
Gambar 1.1 anggaran untuk sektor pendidikan
Angka Partisipasi Sekolah Dasar di merupakan penyebab utama masih
Beberapa Negara, 2004
rendahnya angka partisipasi sekolah.

Beban biaya pendidikan sebagian besar ditanggung oleh rumah tangga


sehingga banyak bagian masyarakat yang belum mampu mengakses pendidikan
terutama masyarakat miskin. Masalah lain adalah kecilnya alokasi anggaran
pendidikan yang kecil, banyak yang tidak tepat sasaran. Alokasi masih
terkosentrasi pada level pusat bukan pada level sekolah dan desentralisasi belum
menunjukan perubahan yang signifikan dalam kebijakan anggaran. Sistem inilah
yang harus diperbaiki untuk menuju MDGs 2015 sehingga wajib belajar dua belas
tahun dapat dilaksanakan di Indonesia.

TINJAUAN PUSTAKA
Konsep Pembiayaan Pendidikan
Selama ini sudah banyak study yang membahas satuan biaya pendidikan.
Dari berbagai study dengan karakteristik masing-masing menghasilkan suatu
definisi yang terus berkembang. Tapi yang jelas biaya (cost) pendidikan
merupakan semua jenis pengeluaran yang dikeluarkan untuk penyelenggaraan
pendidikan. Dari defenisi ini para praktisi pendidikan mengembangkan study
masing-masing. Richanson (dalam Ghazali, 2000a) menjabarkan konsep biaya
pendidikan dengan pendekatan biaya langsung kedalam yang terdiri dari biaya
adminstrasi, pengajaran, operasional, gedung dan perlengkapan. Sedangkan Koch
(dalam Ghazali, 2000a) menyatakan biaya pendidikan terdiri dari biaya langsung
dari murid, pengeluaran masyarakat dan pendapatan yang hilang dari
melaksanakan pendidikan (earning forgone). Seiring dengan konsep biaya
pendidikan yang dikemukan oleh Koch, Cohn (dalam Gahzali, 2000a),
memasukan earning forgone dan opportunity cost sebagai salah satu bagian dari
pembiayaan pendidikan. Pilihan pendidikan yang diambil oleh individu akan
menghilangkan kesempatan untuk mendapatkan penghasilan bila individu tersebut
PKMI-2-1-3

bersekolah sehingga pendapatan dan kesempatan yang hilang menjadi biaya tidak
langsung (indirect cost) dari pendidikan.
Woodhal (dalam Ghazali, 2000a) membedakan menjadi dua kategori
yaitu: pertama, biaya lancar (recurent cost) yang mencakup semua pengeluaran
untuk keperluan konsumtif seperti bahan-bahan dan buku pelajaran, jasa-jasa yang
memberikan manfaat jangka pendek dan secara reguler diperbaharui, kedua, biaya
kapital (capital cost) meliputi pembelian barang tahan lama seperti gedung atau
perlengkapan lain yang memberikan manfaat dalam jangka panjang. Selain
konsep tersebut, dalam perhitungan biaya pendidikan juga dikenal dengan biaya
uang (monetary cost) dan biaya bukan uang (non monetary cost) serta biaya yang
dikeluarkan individu (private cost) dan biaya yang ditanggung oleh masyarakat
untuk pendidikan (social cost). Selain biaya pendidikan, konsep pembiayaan
pendidikan juga memasukan anggaran biaya pendidikan sebagai instrument dasar
analisa pembiayaan. Dalam anggaran pendidikan yang terdiri dari pendapatan dan
pengeluaran pendidikan, dikenal istilah anggaran rutin (recurrent budget) dan
anggaran pembangunan (development budget) yang dialokasikan oleh untuk
pelaksanaan pendidikan. Luasnya konsep pembiayaan pendidikan, merupakan
suatu tantangan bagi pengambil kebijakan pendidikan dalam melihat dimensi
pembiayaan pelaksanaan pendidikan. Kesalahan kebijakan anggaran akan
menyebabkan pendidikan akan terjebak kedalam suatu sistem yang inefisiensi dan
pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas output
pendidikan.

Study Terdahulu Satuan Biaya Pendidikan


Dari beberapa srudy yang telah dilakukan untuk meganalisa seberapa besar
biaya pendidikan (unit cost) yang dikeluarkan baik oleh pemerintah dan
masyarakat untuk mendapatkan layanan pendidikan melihatkan indikasi yang
berbeda dalam besaran biaya. Munculnya perbedaan ini dapat dilihat dari dua
aspek. Pertama, terjadi perbedaan konsep analisis yang dilakukan dari beberapa
penelitian. Ditjend PUOD Depdagri (1993) menembangkan penelitian satuan
biaya pendidikan untuk tingkat SD melalui pendekatan makro dengan unit analisis
pada level dana pemerintah. Hal yang sama juga dikembangkan oleh David Clark
(ADB, 1996) tapi dengan memperluas cakupan analisis mulai SD sampai SMA.
Tahun 2001, model ini tetap dipakai oleh Walter, M. Mahon (World Bank, 2001)
dengan analisis biaya pendidikan pada level SD. Study terakhir dilakukan oleh
Dedi Supriadi (2004) dengan pendekatan mikro berbasis dana rumah tangga,
masyarakat dan pemerintah. Model ini dipakai oleh Depdiknas dalam strategi
pembiayaan pendidikan 2005-2009 (Depdiknas, 2005).
Dengan model yang relatif berbeda dan tahun penelitian yang juga berbeda
telah memberikan sebuah gambaran yang menarik dari perhitungan satuan
pembiayaan pendidikan di Indonesia. Study yang dilakukan oleh Ditjend PUOD
Depdagri (1993), untuk level pendidikan dasar, kebutuhan biaya pendidikan per
siswa (unit cost) sebesar Rp.140.850. Dengan model yang hampir mirip David
Clark menemukan sebesar Rp.221.000 untuk SD, Rp. 377.000 untuk SMP dan
Rp.721.000 untuk SMA. Walter W. MacMahon menghitung dalam studynya
sebesar Rp.467.000 untuk level pendidikan dasar. Dengan pendekatan mikro,
PKMI-2-1-4

study yang dilakukan oleh Dedi Supriadi (2004) mengasilkan perhitungan sebesar
Rp.1.324.166 untuk SD, Rp.2.743.605 untuk SMP dan Rp.3.552.269 untuk SMA.
Tujuan dari studi ini adalah untuk : 1) Menghitung satuan biaya
pendidikan dasar dan menengah dan komposisi peranan pemerintah, rumah tangga
dan masyarakat dalam pembiayaan pendidikan, 2) Menganalisa pola pembiayaan
ideal pendidikan dalam program wajib belajar dua belas tahun dan menghitung
besaran anggaran yang dibutuhkan menghadapi MDGs 2015, 3) Menganalisa
perubahan sistem anggaran pendidikan sebelum dan setelah desentralisasi di
Indonesia menghadapi MDGs 2015

METODE PENELITIAN
Lingkupan Penelitian
Study ini menganalisa sistem pembiayaan pendidikan di Indonesia
menghadapi MDGs 2015 dengan memperbaiki program wajib belajar sembilan
tahun menuju program wajib belajar dua belas tahun. Bagaimana pola pembiayaan
dan anggaran pendidikan terlebih dahulu mengungkap fenomena-fenomena mikro
yang terjadi saat ini. Dari fenomena mikro dikembangkan untuk melihat kondisi
makro dari pola pembiayaan dan anggaran pendidikan menghadapi MDGs 2015.
Pembiayaan pendidikan dalam penelitian ini memakai konsep pembiayaan
pendidikan secara mikro dengan unit analisis pada dana pemerintah, rumah tangga
dan masyarakat sehingga hasil perhitungan menunjukan nilai riil dari pembiayaan
pendidikan.Biaya pendidikan dihitung berdasarkan biaya langsung (direct cost)
yang dikeluarkan untuk pendidikan dan biaya tidak langsung (indirect cost) tapi
mendukung proses pendidikan. Tidak memasukan earning forgone atau
opportunity cost dalam perhitungan. Dengan kondisi yang terjadi, dapat dianalisa
pola kebijakan pembiayaan dan kebutuhan anggaran serta sistem pembiayaan
yang ideal untuk pendidikan dalam menghadapi program wajib belajar dua belas
tahun menuju MDGs 2015.

Sample Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan mengunakan data primer dengan dua jenis
level data yaitu data pada level siswa dan data pada level sekolah. Agar penelitian
ini memberikan gambaran yang luas terhadap perhitungan biaya pendidikan
diperlukan data dengan komposisi 144 data siswa dan 44 data sekolah
mengunakan empat daerah sample yang respresentatif terhadap hasil perhitungan
(lihat Tabel 1.1).

Kriteria dan Prosedur Pemilihan Sampel

Agar perhitungan satuan biaya pendidikan dasar dan menengah dapat mewakili
semua komponen strata ekonomi masyarakat maka dalam pemilihan sampel
ditentukan berdasarkan kriteria status sosial ekonomi (SSE) siswa. Berdasarkan
kriteria tersebut maka ada tiga kategori sekolah yang ditetapkan sebagai sampel
penelitian yaitu :
PKMI-2-1-5

1) Sekolah yang mewakili SSE tinggi atau sekolah favorit, indikator :


(a) Lebih 75 % siswanya berasal dari SSE tinggi dilingkungan masyarakat
tempat sekolah tersebut.
(b) Memeiliki popularitas atau terfavorit karena mutunya lebih baik
dibanding sekolah lain dilingkungan sekitar.
(c) Jumlah RAPBS merupakan tertinggi dibanding sekolah lain.
(d) Oleh Dinas Pendidikan sebagai sekolah unggulan.
2) Sekolah yang mewakili SSE menengah, indikator :
(a) Sekitar 50-75 % siswanya berasal dari SSE tinggi dan selebihnya
berasal dari SSE rendah dilingkungan masyarakat dilokasi sekitar.
(b) Popularitas sekolah tersebut berada pada level menengah dibanding
sekolah lain.
(c) Jumlah RAPBS sekolah tersebut termasuk rata-rata dibanding sekolah
lain.
(d) Oleh Dinas Pendidikan dinilai sebagai sekolah dengan kualitas
menengah.
3) Sekolah yang mewakili SSE rendah, indikator :
(a) Sekitar 75 % siswanya berasal dari SSE rendah dilingkungan
masyarakat dilokasi sekolah berada.
(b) Termasuk sekolah dengan reputasi rendah.
(c) Jumlah RAPBS termasuk yang rendah dibanding sekolah lain.
(d) Oleh Dinas Pendidikan dinilai sebagai sekolah dengan kualitas rendah.

Tabel 1.1 Distribusi Sampel Siswa Sekolah Dasar dan Menengah Negeri

JENJANG
PADANG B.TINGGI PARIAMAN SOLOK TOTAL
PENDIDIKAN
SD 5 5 5 5 20
Sampel RT 12 12 12 12 48
SMP 3 3 3 3 12
Sampel Siswa 12 12 12 12 48
SMA 3 3 3 3 12
Sampel siswa 12 12 12 12 48
Jumlah sekolah 11 11 11 11 44
Jumlah siswa/RT 36 36 36 36 144

Pengumpulan dan Pengolahan Data


Ada dua data yang digunakan dalam study ini. Pertama data primer yang
akan digunakan untuk menghitung satuan biaya pendidikan dasar dan menengah.
Ada dua kategori isian angket yang akan digunakan. (1) Angket untuk sekolah,
angket ini memuat rincian identitas sekolah dan pembiayaan pendidikan. (2)
Angket untuk siswa/orang tua siswa diberikan dalam bentuk kuisioner yang diisi
oleh siswa. Sampel diambil dari siswa kelas II untuk SMP dan SMA karena telah
satu tahun menempuh pendidikan. Untuk SD sampel diambil dari rumah tangga
yang memiliki anak, yang sedang menempuh pendidikan dasar. Pengambilan
sampel secara purpose random sampling, pada level sekolah bersifat purpose
dengan kriteria yang telah ditetapkan (rekomendasi dari Dinas Pendidikan) dan
PKMI-2-1-6

pada level rumah tangga bersifat systematical random sampling dengan


mengambil kelas tertentu yang tingkat variasinya banyak (rekomendasi pihak
sekolah). Tiap sekolah/ kelas diambil 4 orang siswa dengan teknik urutan tempat
duduk yang dipilih secara sistematik (star dari pintu masuk hitung 10 diambil
untuk satu sampel lalu kelipatan 10 untuk selanjutnya). Kedua data sekunder
berasal dari Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan
Nasional, Badan Pusat Statistik dan Human Development Report dari Bank
Dunia. Selain itu juga mengunakan study kepustakaan. Data diolah dengan
mengunakan statistical package for social sciences (SPSS)

HASIL DAN PEMBAHASAN


Satuan Biaya Pendidikan Dasar dan Menengah
Dengan pendekatan mikro pembiayaan pendidikan berbasis dana
pemerintah, rumah tangga dan masyarakat menunjukan nilai riil dari pembiayaan
pendidikan. Dari tabel (1.2) terlihat, pemerintah hanya berperan kecil dalam
pembiayaan pendidikan. Hampir 70-80 % pembiayaan pendidikan ditanggung
oleh rumah tangga. Ini memperlihatkan bahwa pemerintah belum maksimal dalam
pelayanan pendidikan. Dilihat dari alokasi dana pemerintah, terlihat semakin
tinggi jenjang pendidikan semakin kecil kontribusi pemerintah dalam pembiayaan
pendidikan. Sebagian subsidi pemerintah diserap untuk anggaran rutin terutama
pembayaran gaji (93 %) sedangkan sisanya untuk biaya pembangunan. Sedangkan
biaya yang ditanggung oleh rumah tangga sebagian besar diserap oleh biaya tidak
langsung (inderict cost) pendidikan terutama biaya transportasi dan uang saku
siswa. Alokasi pengeluaran rumah tangga dapat dilihat pada tabel (1.3).

Pendidikan Indonesia : Menuju Millenium Development Goals (MDGs) 2015


Sebuah tantangan bagi dunia pendidikan di Indonesia dalam melihat
dimensi MDGs 2015 karena secara struktural Indonesia masih jauh dari MDGs
2015. Agenda utama yang harus dilakukan oleh pemerintah Indonesia adalah
membenahi program wajib belajar sembilan tahun dan secara bertahap
melaksanakan program wajib belajar dua belas tahun untuk menuju MDGs 2015.
Target yang ingin dicapai adalah tersedianya kases pendidikan bagi seluruh anak
usia 7-15 tahun pada tahun 2010 dan anak usia 7-18 tahun pada tahun 2015.
Program ini akan memerlukan anggaran yang besar dan pola alokasi yang efisien.
Bagaimana pendidikan Indonesia menuju MDGs 2015, terutama masalah
pembiayaan dan anggaran pendidikan dapat dianalisis pada bagian ini.

Tabel 1.2 Satuan Biaya Pendidikan Dasar dan Menengah

Komponen SD SMP SMA


Pembiayaan
Jumlah (Rp) % Jumlah (Rp) % Jumlah (Rp) %
Pemerintah 518.942 28,1 684.942 23,4 813.356 21,4
Rumah tangga 1.321.428 71,6 2.235.632 76,3 2.965.054 78,1
Masyarakat 6.231 0,3 10.125 0,3 17.100 0,5
Total 1.846.601 100 2.930.699 100 3.795.510 100
PKMI-2-1-7

Tabel 1.3 Komponen Pembiayaan Pendidikan yang Ditanggung Rumah


Tangga

No Komponen Jumlah (%)


SD SMP SMA
1 Uang pangkal/uang pembangunan 7,3 6,7 6,4
2 Iuran rutin sekolah 6,8 8,1 12,1
3 Kegiatan ekstrakulikuler 2,3 1,4 2,0
4 Pembelian buku pelajaran dan LKS 6,9 7,9 7,3
5 Pembelian buku dan alat tulis 5,8 4,9 4,3
6 Pembelian tas sekolah 3,6 2,6 2,2
7 Pembelian sepatu sekolah 3,7 3,6 2,4
8 Biaya transportasi atau jemputan sekolah 13,4 17,7 17,7
9 Pembelian seragam sekolah dan atribut 7,2 5,7 7,6
10 Pembelian pakaian olahraga 3,5 1,9 1,4
11 Kursus atau les di sekolah 7,1 6,7 11,8
12 Uang saku dan jajan siswa 32,4 32,8 24,8
Total 100 100 100
Total Rp,- (1.321.428) (2.235.632) (2.965.054)

Satuan Biaya Pendidikan Ideal Menuju MDGs 2015


Pada bagian sebelumnya terlihat bahwa dalam pembiayaan pendidikan,
sebagian besar ditanggung oleh rumah tangga. Untuk menuju MDGs 2015 dengan
program wajib belajar dua belas tahun maka hal mendasar yang perlu dibenahi
adalah peningkatan kontribusi pemerintah dalam pembiayaan pendidikan. Wajib
belajar menuntut peran negara sebagai penyedia layanan pendidikan.

Tabel 1.4. Pola Pembiayaan Ideal Pendidikan Dasar dan Menengah


Menuju MDGs 2015

Keadaan Sekarang Menuju MDGs 2015


Tingkat Unit Cost
Pemerintah RT Masyarakat Pemerintah RT Masyarakat
SD 1.846.601 518.942 1.321.428 6.231 996.002 844.368 6.231
(100) (28,1) (71,6) (0,3) (53,9) (45,8) (0,3)
SMP 2.930.694 684.942 2.235.632 10.125 1.483.305 1.437.269 10.125
(100) (23,4) (76,3) (0,3) (50,6) (49,1) (0,3)

SMA 3.795.510 813.356 2.964.054 17.100 1.905.346 1.871.186 17.100


(100) (21,4) (78,1) (0,5) (50,2) (49,3) (0,5)

Dengan kondisi pembiayaan pendidikan sekarang, dimana peran


pemerintah hanya berkisar 20-30 % dari total pembiayaan pendidikan sedangkan
70-80 % ditanggung oleh rumah tangga menunjukan suatu ketimpangan dalam
peran serta pendidikan. Untuk menuju program wajib belajar dua belas tahun
dalam MDGs 2015 dituntut peran serta pemerintah yang besar dalam pelayanan
pendidikan. Pemerintah bertanggung jawab menyediakan akses pendidikan. Pada
tabel (1.4), terlihat untuk menghadapi MDGs 2015, peran pemerintah terhadap
pembiayaan pendidikan harus ditingkatkan. Komponen pembiyaan yang selama
PKMI-2-1-8

ini dibebankan pada rumah tangga seperti uang pembangunan, iuran rutin sekolah,
iuran kegiatan ekstrakulikuler, pembelian buku pelajaran, LKS, buku dan alat tulis
serta peningkatan mutu pembelajaran harus ditanggung oleh pemerintah sehingga
peran pemerintah mencapai 50 % dari total pembiayaan dan mengurangi beban
rumah tangga dalam pembiayaan pendidikan. Ini merupakan kondisi ideal dalam
kontribusi pemerintah terhadap pembiayaan pendidikan.

Anggaran Pendidikan dan Program Wajib Belajar Dua Belas Tahun Menuju
MDGs 2015
Hal dasar yang diperlukan dalam pelaksanaan program wajib belajar dua
belas tahun menuju MDGs 2015 adalah anggaran pendidikan. Untuk mencapai
program wajib belajar dua belas tahun, pemerintah harus merealisasikan 20 % dari
APBN untuk sektor pendidikan, komitmen ini sebenarnya telah tertuang dalam
UUD 1945 pasal 31 (4) tapi belum terealisasi sampai saat ini.
Dari tabel (1.5) dapat dilihat, angka partisipasi sekolah di Indonesia masih
rendah terutama pada level pendidikan menengah yang hanya berkisar 55,7 %
untuk SMP dan 32,3 % untuk SMA sedangkan untuk SD sudah mencapai 94,5 %.
Masih ada sekitar 16.337.204 atau 31,2 % anak usia 7-18 tahun yang tidak
mendapatkan akses pendidikan. Dengan dua agenda utama yaitu wajib belajar
sembilan tahun secara bertahap dapat dilaksanakan secara optimal pada tahun
2010 dan untuk wajib belajar dua belas tahun pada tahun 2015. Pada tabel (1.5)
juga dapat dilihat kondisi anggaran pendidikan, sekarang baru terealisasi sebesar
21,3 triliun untuk sektor pendidikan dasar dan menengah. Untuk mencapai
program wajib belajar sembilan tahun, pemerintah harus menyediakan anggaran
sebesar Rp.44,3 triliun, diperkirakan akan tercapai pada tahun 2010 sedangkan
untuk program wajib belajar dua belas tahun, pemerintah harus menyediakan
anggaran sebasar Rp. 70 triliun dengan target pada tahun 2015, semua anak usia
7-18 tahun dapat akses pendidikan. Dengan arti kata, diperlukan peningkatan
lebih 300 % dari anggaran pendidikan sekarang.

Desentralisasi Penyelenggaraan Pendidikan Menuju MDGs 2015

Perubahan tata kelola pemerintah di Indonesia dari sentralisasi menjadi


desentralisasi memberikan perubahan terhadap pengambilan kebijakan
pemerintah. Salah satu sektor yang diotonomikan adalah sektor pendidikan.
Namun perlu dipahami bahwa dalam kontek otonomi adalah tidak ada otonomi
pendidikan, yang ada adalah otonomi daerah dalam penyelenggaraan pendidikan
(Supriadi, 2004). Desentralisasai penyelenggaraan pendidikan menempatkan
sekolah sebagai pemegang peran besar dalam kewenangan putusan, kemandirian
mengelola dana dan akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan. Sebelum
desntralisasi peranan tersebut lebih dominan pada level pemerintah pusat dan
propinsi dengan berbagai birokrasi yang rumit sehingga pencapaian hasil tidak
optimal. Keadaan tersebut telah menimbulkan krisis dalam pendidikan di
Indonesia. Tujuan utama yang ingin dicapai dalam desentralisasi penyelenggaraan
pendidikan yaitu pemberdayaan sekolah, masyarakat dan daerah dalam
PKMI-2-1-9

mengembangkan potensi yang dimiliki. Pola perubahan dari sentralisasi ke


desentralisasi dapat dilihat pada tabel dibawah.

Tabel 1.5 Angka Partisipasi Sekolah dan Anggaran Biaya Pendidikan


Wajib Belajar 12 Tahun Menuju MDG 2015

Keadaan
Keterangan Sekarang (MDGs 2015) Tambahan Target
(2004)
Angka Partisipasi
Murni*

SD 24.435.036 25.857.177 1.422.141


(94,5) (100) (5,5)
SMP 7.293.961 13.095.083 5.801.122
(55,7) (100) (44,3) Tahun 2010
SMA 4.354.759 13.466.700 9.11.941
(32,3) (100) (68,7)
Total 36.083.756 52.418.900 16.337.204
(68,8) (100) (31,2) Tahun 2015

Anggaran Pendidikan
(triliun Rp)

SD 12,9* 24,9+ 12+


SMP 4,9* 19,4+ 14,5+
SMA 3,5* 25,7+ 22,2+
Total 21,3* 70+ 48,7+

Program

Wajib Belajar 9 Thn 44,3+ Tahun 2010


Wajib Belajar 12 Thn 70+ Tahun 2015
Ket : *dengan kondisi unit cost sekarang
+
dengan kondisi unit cost ideal menuju MDG 2015
(lihat tabel 3.3)

Tabel 1.5 Perubahan Penyelenggaraan Pendidikan dari Sentralisasi ke


Desentralisasi

Tingkat Kewenangan Kemandirian Akuntabilitas


Membuat Putusan Mengelola Dana Hasil
Sekolah :
Sebelum MBS Kecil Kecil Besar
Setelah MBS Besar/meningkat Besar/meningkat Besar/meningkat
Kab/Kota :
Sebelum Otda Kecil Kecil Besar
Setelah Otda Besar/meningkat Besar/meningkat Besar/meningkat
Propinsi :
Sebelum Otda Besar Besar Kecil
Setelah Otda Kecil/menurun Kecil/menurun Kecil/menurun
Pusat :
Sebelum Otda Besar Besar Kecil
Setelah Otda Kecil/menurun Kecil/menurun Kecil/menurun

Sumber : Supriadi (2004)


PKMI-2-1-10

KESIMPULAN
Minimnya alokasi anggaran untuk sektor pendidikan terutama pendidikan
dasar dan menengah yang hanya berkisar Rp. 21 triliun (7,8 % dari APBN 2005)
merupakan kendala utama dalam dunia pendidikan di Indonesia. Keadaan ini
menyebabkan sebagian besar pembiayaan pendidikan masih ditanggung oleh
runmah tangga, pemerintah hanya berperan sebesar 20-30 % dari total
pembiayaan pendidikan sehingga ada sekitar 16.337.204 atau sekitar 31,2 % anak
usia 7-18 tahun yang tidak mendapatkan akses pendidikan.
Secara eksplisit MDG 2015 mengarah pada penerapan wajib belajar dua
belas tahun, dimana tidak ada lagi anak usia 7-18 tahun yang tidak mendapatkan
akses pendidikan. Untuk merealisasi program tersebut, hal utama yang perlu
diperbaiki adalah peningkatan anggaran dan sistem pembiayaan untuk sektor
pendidikan. Permasalahan bukan saja pada anggaran tapi yang perlu juga
dipebaiki adalah sistem kebijakan anggaran yang selama ini masih belum sampai
pada sasaran. Desentralisasi penyelenggaraan pendidikan di Indonesia harus
sesuai dengan tatanan kebijakan, dimana anggaran pendidikan terkosentrasi pada
level sekolah sehingga teralokasi pada kebutuhan dari peningkatan mutu
pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA
Ariasinggam & Patrinos (1999), Decentralization Education : Demand-Side
Financing, The World Bank, Washington D.C
Boediono, (1994), Pembangunan Sektor Pendidikan dalam Hubungan dengan
Pengembangan SDM dalam REPELITA VI, Kelola No.5/III/Januari 1994
Boediono, (1983), Pengukuran Economies of Scale Pengeluaran Sekolah, Jurnal
Analisis Pendidikan tahun 1983
Clark, D. et, al, (1998), Financing of Education In Indonesia, Manila : Asian
Development Bank
Ditjen PUOD, (1993), Penelitian dan Pengkajian Satuan Biaya Pendidikan
Sekolah Dasar, Jakarta : Ditjen PUOD Depdagri
Depdiknas, (2001), Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah, Buku
Paduan, Jakarta : Dirjen Dikdasmen, Depdikbud
Elfindri, (2005), Financing Education in Indonesia : Phenomena Mikro to Makro
Policies, UKM Malaysia (akan terbit)
Fatah, Nanang, (2000), Ekonomi dan Pembiayaan Pendidikan, Rosda Bandung
Ghazali, Abbas, (2000a), Analisis Biaya Manfaat SMU dan SMK, Jurnal
Pendidikan dan Kebudayaan No. 022, tahun ke-5, Maret 2000
Ghazali, Abbas, (2000b), Pendidikan Antara Investasi Manusia dan Alat
Diskriminasi, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. No.023 Tahun ke-6, Mei
2000
Jalal, F dan Supriadi, D, (2001), Reformasi Pendidikan dalam Kontek Otonomi
Daerah, Yogyakarta, Adicita Karya Nusa
Koster, Wayan, (2002), Study Pembiayaan Pendidikan : Dampak Mekanisme
Pengalokasian dan Pemanfaatan Dana Pendidikan Terhadap Mutu
Pendidikan SLTP Negeri di Jakarta, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan No.
034, than ke-8, Januari 2002
PKMI-2-1-11

OECD/UNESCO, (2002), Financing Education : Investment and Return Analysis


of The World Education Indicator 2002, UNESCO Institute for Statistic, Paris
Supriadi, Dedi, (2004), Satuan Biaya Pendidikan Dasar dan Menengah, Rosda
Bandung
The World Bank (2004), World Development Indicator 2004,
www.worldbank.org/data
UNESCO (2000), Education for All : Year 2000 Assesment, Technical
Guildelines, www.unescobkk.org/infores/efa2000/tech2.html
PKMI-2-2-1

REGENERASI BENTONIT BEKAS SECARA KIMIA FISIKA DENGAN


AKTIVATOR ASAM KLORIDA DAN PEMANASAN PADA PROSES
PEMUCATAN CPO

Meldia Evika Fikri dan Reni Kusumadewi


Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Lampung, Lampung

ABSTRAK
Warna merupakan parameter utama dalam penentuan kualitas minyak pada
industri minyak kelapa sawit dan digunakan sebagai parameter di dalam dunia
perdagangan. Semakin gelap warna CPO, semakin mahal biaya yang dibutuhkan
dalam proses pemurnian. Selain itu yang gelap juga menandakan kualitas
minyak yang rendah. Salah satu tahap dalam pemurnian CPO menjadi minyak
goreng adalah tahap pemucatan (bleaching), yaitu dengan cara menambahkan
adsorben bentonit sebanyak 1,5% dari berat CPO ke dalam CPO. Industri
pemurnian CPO untuk menjadi minyak goreng merupakan konsumen terbesar
bentonit. Sekitar 200.000 ton/tahun bentonit digunakan dalam industri ini.
Bentonit sendiri merupakan sumber daya alam yang tak terbarukan. Dalam
upaya menghemat penggunaan bentonit maka dilakukan regenerasi bentonit
bekas (bentonit yang telah dikontakkan dengan CPO). Proses regenerasi yang
digunakan adalah regenerasi kimia fisika yaitu dengan menggunakan aktivator
asam klorida dan dilanjutkan dengan pemanasan. Parameter yang digunakan
adalah konsentrasi HCl dengan variasi 8% v/v, 10% v/v, 12% v/v dan temperatur
yang divariasikan 190oC, 270oC, 350oC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
bleached palm oil (CPO yang telah dikontakkan dengan bentonit) memiliki
kualitas terbaik setelah melewati proses pemucatan dengan menggunakan
bentonit hasil regenerasi pada perlakuan konsentrasi HCl 8% dan temperatur
190 oC dengan persen removal yang diperoleh adalah 47,86 %. Hasil ini lebih
baik dibandingkan dengan menggunakan persen removal sebesar 28,57 % dengan
waktu pengontakan 30 menit.

Keywords : pemucatan, bentonit bekas, CPO, bentonit regenerasi, bleached


palm oil

PENDAHULUAN
Bentonit adalah istilah yang digunakan di dalam dunia perdagangan untuk
sejenis lempung yang mengandung mineral montmorilonit. Potensi endapan
bentonit cukup banyak dan tersebar di berbagai daerah di Indonesia, seperti Jawa
Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan Lampung
(Prosiding Seminar Teknologi, 2003). Di daerah Lampung cadangan bentonit
terdapat di T Serdang, Pugung, Tanggamus, Way Umpu, dan Way Kanan namun
belum sampai pada tahap eksplorasi sehingga belum dapat dimanfaatkan secara
optimal (Dinas Pertambangan Lampung, 2003).
Pasaran bentonit di dalam negeri cukup besar untuk berbagai keperluan
industri. Hal ini dapat dilihat dari kebutuhan Ca-bentonit untuk industri minyak
goreng, kimia dasar, dan bahan galian non logam yang pada tahun 1993
mengkonsumsi sekitar 90,4% dari total konsumsi bentonit yaitu mencapai 20.498
PKMI-2-2-2

ton. Industri pemurnian minyak merupakan konsumen terbesar bentonit sebagai


bahan pemucat CPO, diperkirakan sekitar 200.000 ton bentonit dibutuhkan oleh
industri pemurnian minyak (Kun-She Low, 1998).
Proses pemurnian diperlukan untuk menghilangkan rasa serta bau yang
tidak enak, warna yang tidak menarik sehingga memperpanjang masa simpan
minyak. Pada pengolahan minyak pengerjaan yang dilakukan tergantung pada
sifat alami minyak tersebut dan juga tergantung dari hasil akhir yang dikehendaki.
Umumnya tahap-tahap pemurnian minyak terdiri dari degumming, netralisasi,
pemucatan (bleaching), deodorisasi dan pendinginan (Ketaren, 1986).
Kualitas minyak kelapa sawit ditentukan oleh tingkat kemurnian CPO.
Minyak kelapa sawit mentah masih mengandung beberapa impurities baik yang
terlarut maupun yang tidak terlarut dalam minyak serta suspensi yang turut
terekstraksi pada waktu pengepresan kelapa sawit (Ketaren, 1986). Impurities
pada minyak kelapa sawit ini sangat merugikan karena dapat menyebabkan warna
merah gelap yang tidak diinginkan pada minyak.
Dalam industri minyak kelapa sawit, warna merupakan parameter utama
dalam penentuan kualitas minyak dan digunakan sebagai dasar dalam penentuan
apakah minyak tersebut diterima atau tidak dalam dunia perdagangan. Semakin
gelap warna CPO maka akan semakin mahal biaya yang dibutuhkan dalam proses
pemurnian, selain itu warna yang gelap juga menandakan kualitas minyak yang
rendah (Kun-She Low, 1998).
Proses pemucatan dilakukan dengan cara penambahan adsorben bentonit
yang terdapat sebagai deposit di alam. Secara geologis bentonit terbentuk dari
abu vulkanik yang telah mengalami perubahan (alterasi) dan digolongkan sebagai
sumber daya alam yang tak terbarukan.
Bentonit yang telah digunakan sebagai penyerap impurities pada CPO lama-
kelamaan akan terdeaktifasi, yang ditunjukkan dengan berkurangnya atau bahkan
sama sekali tidak mampu lagi mengadsorb impurities pada CPO. Hal ini terjadi
karena bentonit tersebut memang benar-benar sudah jenuh dikarenakan seluruh
pori-porinya telah terisi penuh atau karena sisi aktifnya tertutupi oleh impurities.
Untuk alasan tersebut perlu dilakukan suatu proses regenerasi bentonit bekas yang
bertujuan untuk membersihkan permukaan bentonit dari impurities sehingga
membuka ruang sisi aktif yang tertutup impurities yang memperbesar luas
permukaan pori dan volume spesifiknya.
Bentonit bekas memungkinkan untuk diregenerasi sehingga menghasilkan
daya pemucatan mendekati daya pemucatan bentonit baru. Hal ini dikarenakan
bentonit memiliki kemampuan untuk melakukan pertukaran ion selain itu
peristiwa adsorpsi yang terjadi adalah adsorpsi fisik yang bersifat reversibel. Gaya
yang dihasilkan pada adsorpsi fisik ini adalah gaya van der Waals dengan
membentuk ikatan hidrogen yang lemah sehingga mudah diputuskan. Zat yang
diadsorpsi bersifat reversibel, sehingga relatif mudah dilepaskan dari permukaan
adsorben dengan cara melakukan regenerasi. Bentonit hasil regenerasi tersebut
dapat digunakan kembali sebagai adsorben pada pemucatan CPO, dengan cara ini
maka dapat menghemat penggunaan bentonit baru.
Konsentrasi asam dan temperatur merupakan parameter yang perlu
diperhitungkan dalam menentukan kondisi optimum regenerasi secara kimia-fisis.
Regenerasi secara fisika dilakukan dengan pemanasan yang bertujuan
menguapkan senyawa-senyawa yang mudah menguap seperti air, gas, asam dan
PKMI-2-2-3

zat-zat organik yang terperangkap dalam rongga bentonit. Regenerasi secara


kimia menggunakan asam yang bertujuan melarutkan logam dan melepaskan
impurities yang terdapat pada bentonit. Penelitian ini akan meregenerasi bentonit
bekas secara kimia-fisis yang merupakan gabungan dari kedua metode di atas
sehingga diharapkan daya adsorpsi bentonit yang telah diregenerasi dapat
mendekati daya adsorpsi bentonit baru (fresh bentonite). Daya pemucatan bentonit
hasil regenerasi ditunjukkan oleh warna merah dan kuning pada alat lovibond
tintometer setelah bentonit hasil regenerasi dikontakkan dengan CPO.

Minyak Kelapa Sawit


Minyak kelapa sawit mentah atau dikenal juga dengan Crude Palm Oil
(CPO) diperoleh dari ekstraksi sabut (mesokarp) buah kelapa sawit (Elaeis
guinensis, Jacq). Jenis pigmen yang menyebabkan warna kuning atau oranye
pada CPO adalah karotenoid. Diantara 55-65% dari karotenoid adalah dan
karoten sedangkan sisanya adalah Lycopen dan karotenoid yang bukan vitamin A
aktif sehingga dapat dihilangkan dengan proses pemucatan menggunakan
adsorben (Ketaren, 1986).

Rumus bangun karotenoid dapat dilihat pada gambar 1 berikut :

Gambar 1. Rumus bangun karotenoid Winarno dan Jennie (1973)

Komposisi Bentonit
Bentonit sebagai mineral lempung, terdiri dari 85 % montmorilonit dengan
rumus kimia bentonit adalah (Mg, Ca) xAl2O3. ySiO2. n H2O dengan nilai n
sekitar 8 dan x,y adalah nilai perbandingan antara Al2O3. dan SiO2.. Fragmen sisa
bentonit umumnya terdiri dari campuran kristoballit, feldspar, kalsit, gipsum,
kaolinit, plagioklas, illit (Gillson, 1960).
Setiap struktur kristal bentonit mempunyai tiga lapisan yaitu lapisan
oktahedral dari alumunium dan oksigen yang terletak antara dua lapisan
tetrahedral dari silikon dan oksigen. Penyusun terbesar bentonit adalah silikat
dengan oksida utama SiO2 (silika) dan Al2O3 (aluminat) yang terikat pada molekul
air. Penggabungan pada satu lapisan tetrahedral silika dengan satu lapisan
oktahedral alumina membentuk dua lapisan silika-alumina.
Dari gambar 2 skema struktur bentonit dapat dilihat bahwa setiap struktur
kristal bentonit mempunyai tiga lapisan yaitu lapisan oktahedral dari alumunium
dan oksigen yang terletak antara dua lapisan tetrahedral dari silikon dan oksigen.
Pada regenerasi secara kimia dengan pengontakan asam reaksi yang terjadi
adalah sebagai berikut:
H+
Al4 Si8 O20 (OH)4 + 3H+ Al3 Si8 O20(OH)2 + Al3+ + 2 H2O
PKMI-2-2-4

Gambar 2 Skema Struktur Bentonit

Pada kondisi di atas separuh dari atom Al berpindah dari struktur bersama
dengan gugus hidroksil, sehingga terjadi perubahan gugus oktahedral menjadi
gugus tetrahedral. Atom Al yang tersisa masih terkoordinasi dalam rangkaian
tetrahedral dengan empat atom oksigen tersisa (Thomas et al, 1984).
Perubahan dari gugus oktahedral menjadi tetrahedral membuat kisi kristal
bermuatan negatif. Muatan negatif pada permukaan kristal dapat dinetralkan oleh
logam-logam alkali dan alkali tanah yang terdapat pada bentonit. Ikatan antara
ion Al dengan kation penetral tersebut adalah ikatan ion yang mudah diputuskan,
karena kation-kation tersebut bukan bagian dari kerangka bentonit sehingga dapat
dengan mudah dipertukarkan. Selanjutnya, Ion H+ yang berasal dari asam akan
menggantikan kation-kation logam alkali dan alkali tanah dari bentonit.
Penelitian ini bertujuan untuk melakukan regenerasi bentonit bekas sehingga
mampu memucatkan CPO dan mempelajari pengaruh konsentrasi HCl dan
temperatur terhadap proses regenerasi bentonit bekas.

METODE PENDEKATAN
Alat dan Bahan
Peralatan dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
A. Proses regenerasi bentonit bekas
Alat yang digunakan pada proses regenerasi bentonit antara lain gelas
beaker, ayakan (mesh) kertas saring, oven, penggerus, labu ukur, pipet tetes,
erlenmeyer, corong, wadah porcelen dan furnace. Bahan yang digunakan dalam
proses regenerasi adalah HCl dan bentonit bekas dari CV. Bumi Waras.
B. Proses pemucatan CPO
Alat yang digunakan dalam proses pemucatan CPO antara lain pengaduk
magnetik yang dilengkapi hot plate, gelas beaker, thermometer, lovibond
tintometer, dan kertas saring. Bahan yang digunakan pada proses pemucatan CPO
adalah bentonit hasil regenerasi dan CPO yang diperoleh dari CV. Bumi Waras

Rancangan Percobaan
Penelitian ini menggunakan rancangan percobaan full factorial dengan dua
faktor. Faktor A (temperatur) mempunyai 3 level yaitu 190oC, 270oC dan 350oC.
Faktor B (konsentrasi) mempunyai 3 level yaitu 8 % v/v, 10 % v/v dan 12 % v/v.
PKMI-2-2-5

Cara Kerja
A. Tahap persiapan bahan baku
1. Bentonit bekas digerus hingga berukuran seragam yaitu 325 mesh.
2. Membuat larutan HCl dengan variasi konsentrasi asam 8 % v/v, 10 % v/v,
dan 12 % v/v.

B. Tahap regenerasi
1. Bentonit bekas yang telah digerus sebanyak 50 gr diaduk dengan 250 ml HCl
selama lima jam pada suhu ruang, kemudian disaring untuk memisahkan
filtrat dari bentonit.
2. Bentonit yang telah disaring dikeringkan di dalam oven selama 24 jam
pada
suhu 105oC.
3. Bentonit digerus kembali kemudian dimasukkan ke dalam furnace dengan
variasi temperatur 190 oC, 270 oC dan 350 oC selama 24 jam.

C. Tahap pemucatan minyak sawit mentah (CPO)


1. CPO sebanyak 50 gram dimasukkan ke dalam gelas beaker dan dipanaskan
hingga suhu mencapai 70oC.
2. Bentonit hasil regenerasi sebanyak 0,75 gr (1,5% dari berat CPO)
dikontakkan dengan CPO sambil diaduk dan dipanaskan hingga mencapai
suhu proses yaitu 105oC selama 30 menit.
3. Selanjutnya minyak disaring dari bentonit dengan menggunakan kertas
saring.

D. Tahap Analisa
1. Minyak yang telah melalui tahap pemucatan ditempatkan di glass cell.
2. Glass cell diletakkan ke dalam Lovibond Tintometer.
3. Warna sampel dicek dengan cara mengukur rak warna sampai warna yang
tepat.
4. Data diperoleh dalam bentuk perbandingan warna merah dan kuning.

Perhitungan Persen Removal Warna Minyak


Persen removal warna minyak setelah pengontakan dengan bentonit dapat
diketahui dengan membandingkan warna CPO awal.

Dari hasil pengamatan diketahui :


Warna CPO awal : M = 70, K = 53,5
Warna CPO setelah dikontakkan dengan bentonit bekas : M = 70, K = 54
Warna CPO setelah dikontakkan dengan bentonit baru (fresh bentonite) :
M = 50, K = 70
Keterangan:
M = Merah K = Kuning
Persen removal warna merah pada CPO setelah pengontakan dengan bentonit
dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut :
cx
x 100 %
c
PKMI-2-2-6

Keterangan :
c = warna merah CPO awal
x = warna merah CPO setelah pengontakan dengan bentonit bekas/ bentonit
baru/bentonit hasil regenerasi pada masing-masing konsentrasi HCl dan
temperatur untuk masing-masing data pengamatan

Tabel 6.1 Penurunan kekeruhan warna minyak (% removal)


Kondisi Merah % removal Kuning % removal
CPO awal 70 53,5 23,57
CPO + bentonit bekas 70 0 54 22,86
CPO + bentonit baru 50 28,57 70
CPO + bentonit regenerasi
8 %, 190oC 36,5 47,86 64 8,57
o
8 %, 270 C 40,45 42,21 52.5 25
8 %, 350oC 45 35,71 46 34,28
o
10%, 190 C 38 45,71 65 7,14
o
10%, 270 C 42 40,0 42 40
o
10%, 350 C 46,5 33,57 31,5 55
o
12%, 190 C 39,2 44 61,5 12.14
12%, 270oC 44 37,14 46 34,28
o
12%, 350 C 48 31,42 43,5 37,86

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil analisis warna CPO yang telah dikontakkan dengan bentonit oleh
lovibond tintometer pada penelitian ini diplot pada grafik hubungan antara
pengaruh konsentrasi HCl dan temperatur regenerasi terhadap hasil pemucatan
dengan warna merah dan kuning yang diperoleh. Pengaruh konsentrasi HCl dan
temperatur regenerasi terhadap hasil pemucatan ditunjukkan oleh warna merah
dan kuning dapat dilihat pada gambar 3.

70 8%Merah
65
10%Merah
60
55
Warna

12%Merah
50
8%Kuning
45
40 10%kuning
35
30 12%kuning
190 270 350
Temperatur

Gambar 3. Grafik pengaruh konsentrasi HCl dan temperatur regenerasi terhadap


hasil pemucatan yang ditunjukkan oleh warna merah dan kuning
PKMI-2-2-7

Bentonit hasil regenerasi diharapkan daya pemucatannya mendekati daya


pemucatan bentonit baru sehingga data warna merah dan kuning yang diperoleh
dari bentonit hasil regenerasi dibandingkan dengan warna merah dan kuning yang
diperoleh dari fresh bentonite.

Pengaruh Temperatur Regenerasi Terhadap Warna Merah


Warna merah dan kuning yang terukur pada alat lovibond tintometer untuk
fresh bentonite adalah 50 dan 70. Dari gambar 3 dapat dilihat bahwa warna merah
yang terukur pada alat lovibond tintometer untuk bentonit hasil regenerasi lebih
rendah dibandingkan dengan fresh bentonite untuk semua kondisi temperatur dan
konsentrasi HCl. Namun warna merah terendah didapat dari konsentrasi HCl 8 %
dan temperatur 190 oC.
Hal ini dapat dijelaskan karena perlakuan pemanasan terhadap bentonit
bekas akan mempengaruhi sifat fisik bentonit, yaitu bertambahnya luas
permukaan kontak bentonit, yang disebabkan terbukanya pori-pori bentonit yang
tertutupi impurities yang berupa air, udara, dan asam. Hal ini berarti telah terjadi
dehidrasi yang mengakibatkan kation-kation pada permukaan bentonit tak
terlindung dan terlepas sehingga secara fisik bentonit menjadi lebih aktif.
Akibatnya bentonit ini mampu mengadsorb impurities lebih banyak (Heri
Sucahyo, 1995).
Pada konsentrasi HCl tetap dan temperatur berubah, yaitu untuk
konsentrasi 8% dan temperatur 190oC warna merah yang terukur pada lovibond
tintometer lebih rendah dibandingkan pada temperatur 270oC dan 350oC.
Kecenderungan yang sama juga terjadi untuk konsentrasi HCl 10 % dan 12 %
dimana pada konsentrasi HCl tetap, warna merah yang terukur pada alat lovibond
semakin tinggi dengan meningkatnya temperatur regenerasi. Penjelasan untuk hal
ini adalah pada pemanasan dengan temperatur yang lebih tinggi lagi daya adsorpsi
bentonit menjadi berkurang, yang ditunjukkan oleh tingginya warna merah yang
terukur pada alat lovibond tintometer. Hal ini disebabkan pada temperatur
pemanasan yang terlalu tinggi Al pada kisi struktur bentonit dapat terlepas dan
mengakibatkan terjadi sedikit kerusakan pada struktur bentonit (Hairil Puad,
2001).

Pengaruh Konsentrasi HCl Terhadap Warna Merah


Dari gambar 3 pada temperatur tetap dan konsentrasi HCl berubah dapat
dilihat bahwa terjadi penurunan warna merah yang tajam dari bentonit baru jika
dibandingkan dengan bentonit hasil regenerasi pada temperatur regenerasi 190 oC
dan konsentrasi asam 8%, namun pada temperatur yang sama warna merah yang
terukur pada alat lovibond tintometer lebih tinggi pada konsentrasi 10% dan 12%.
Kecenderungan yang sama juga terjadi untuk temperatur 270 oC dan 350 oC.
Hal ini menunjukkan bahwa pada temperatur tetap, warna merah yang
terukur pada alat lovibond tintometer lebih tinggi dengan meningkatnya
konsentrasi HCl. Di sini asam berfungsi membersihkan permukaan pori bagian
dalam dan luar bentonit dengan cara melarutkan kation-kation yang mengotori
permukaan bentonit dan membuang senyawa pengotor. Ion H+ yang berasal dari
penambahan asam akan menggantikan kation logam-logam alkali dan alkali tanah
pada bentonit. Ion H+ ini memiliki keelektronegatifan yang lebih tinggi dari
logam-logam alkali tersebut sehingga dapat mengadsorb karoten lebih banyak.
PKMI-2-2-8

Dengan konsentrasi HCl yang semakin tinggi maka semakin banyak


molekul-molekul HCl yang melarutkan logam-logam, tetapi hasil yang diperoleh
adalah sebaliknya yaitu semakin tinggi konsentrasi HCl maka warna merah yang
yang terukur pada alat lovibond tintometer semakin tinggi. Hal ini terjadi diduga
karena konsentrasi HCl yang tinggi telah menyebabkan terjadinya pelarutan
sebagian Al yang disebut dealuminasi, sehingga daya pemucatannya berkurang
yang ditandai dengan penurunan warna merah yang rendah (Hilyati, 1991).

Pengaruh Temperatur Regenerasi dan Konsentrasi HCl terhadap Warna


Kuning
Berbeda dengan warna merah, pada gambar 3, warna kuning cenderung
tidak konsisten. Pada konsentrasi tetap dan temperatur berubah memang terdapat
kecenderungan penurunan warna kuning tetapi pada temperatur tetap dan
konsentrasi berubah warna kuning yang didapat tidak menunjukkan
kecenderungan yang sama.
Hal ini dapat dilihat pada temperatur 190 oC dan konsentrasi 8% warna
kuning mengalami penurunan dari bentonit baru, namun pada konsentrasi 10%
warna kuning yang terukur pada alat lovibond tintometer lebih tinggi, kemudian
pada konsentrasi 12% warna kuning kembali menurun. Pada temperatur 270 oC
memberikan hasil yang berbeda, dimana awalnya warna kuning mengalami
penurunan dari bentonit baru pada konsentrasi 8%, kemudian warna kuning yang
terukur lebih rendah lagi pada konsentrasi 10%. Pada konsentrasi 12 % warna
kuning yang terukur lebih tinggi dibandingkan pada konsentrasi 10 %.
Kecenderungan yang sama dengan temperatur 270 oC juga terjadi pada temperatur
350 oC.
Warna kuning yang terukur pada alat lovibond tintometer menyesuaikan
dari warna merah untuk mendapatkan warna yang sesuai dengan warna minyak
yang terdapat pada cell. Artinya skala warna merah sangat berpengaruh terhadap
perubahan warna minyak namun skala warna kuning tidak terlalu berpengaruh.
Dengan kata lain beda satu angka pada warna merah memberikan pengaruh yang
besar dibandingkan beda satu angka pada skala warna kuning. Untuk itulah pada
dunia industri yang paling berperan dalam menentukan kualitas minyak adalah
warna merah. (Lovibond Model E Tintometer, Instruction Manual).

Perbandingan dengan Hasil Penelitian Lain


Dari hasil penelitian Kun-She Low, regenerasi bentonit bekas dengan
menggunakan H2SO4 dan pemanasan diperoleh kondisi terbaik pada konsentrasi
asam 10 % dan temperatur 350 oC. Hasil yang berbeda diperoleh dari penelitian
ini dengan kondisi regenerasi terbaik pada konsentrasi HCl 8 % dan temperatur
190 oC.
Dari kedua hasil penelitian tersebut dapat dilihat bahwa regenerasi kimia
menggunakan HCl memberikan hasil yang lebih ekonomis, karena selain harga
HCl yang lebih murah, konsentrasi asam dan temperatur yang dibutuhkan juga
lebih rendah dibandingkan bentonit bekas yang diregenerasi menggunakan H2SO4.
HCl dengan konsentrasi 8 % telah mampu membersihkan impurities yang
mengotori permukaan pori bagian luar dan pori bagian dalam bentonit sehingga
perlakuan dengan pemanasan cukup dengan temperatur 190 oC.
PKMI-2-2-9

KESIMPULAN DAN SARAN


Dari penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa bentonit hasil
regenerasi dapat digunakan kembali sebagai adsorben pada proses pemucatan
CPO. Kondisi terbaik regenerasi bentonit bekas yang dilakukan secara kimia
fisika dengan aktivator asam HCl dan pemanasan dicapai pada konsentrasi HCl 8
% dan temperatur 190 oC dengan persen removal sebesar 47,86 %. Semakin
tinggi konsentrasi HCl, maka akan semakin sedikit warna merah yang mampu
diserap dan semakin rendah kualitas minyak. Semakin tinggi temperatur
regenerasi, maka akan semakin sedikit warna merah yang mampu diserap dan
semakin rendah kualitas minyak.
Kondisi terbaik didapat pada variasi konsentrasi HCl dan temperatur
terendah yaitu 8% dan 190oC sehingga disarankan untuk penelitian selanjutnya
sebaiknya mengambil range temperatur dibawahnya dengan batasan tertentu,
untuk temperatur minimal pada 105oC. Selain itu perlu dilakukan variasi terhadap
waktu untuk mempelajari waktu kesetimbangan guna mengetahui life time (usia
kerja) bentonit hasil regenerasi.

DAFTAR PUSTAKA
Akhrizal. 1996. Pengaruh Konsentrasi Adsorben dan Suhu pada Proses
Pemucatan Minyak sebagai Bahan Baku Sabun Mandi. Institut Pertanian
Bogor. Bogor.
Dinas Pertambangan Lampung. 2003. Bandar Lampung.
Gillson, 1960 dalam Iwan Agustiawan. 1992. Aktivasi Bentonit dengan Limbah
Sulfat. Institut Teknologi Indonesia. Serpong.
Hairil, P. 2001. Pemanfaatan Zeolit Lampung yang diaktivasi dengan NaOH
sebagai Adsorben Uap pada Kondensasi Uap Industri Karet Remah
(Crumb Rubber). Universitas Lampung. Bandar Lampung.
Hanafiah, K. A. 2000. Rancangan Percobaan. Teori dan Aplikasi. Edisi revisi.
PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Hilyati dan Widihastono, B. 1991. Adsorpsi Zat Warna Tekstil Pada Zeolit Alam
dari Bayah. Jurnal Kimia Terapan Indonesia. Vol. 1, No. 2.
Keenan, Klleinfelter, and Wood. 1992. Kimia untuk Universitas. Jilid 2.
Erlangga. Jakarta.
Ketaren, S. 1986. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. UI Press.
Jakarta.
Kun-She Low, Chnoong-Kheng Lee, dan Lee-Yong Kong. 1998. Decolorisation
of CPO by Acid Activated Spent Bleaching Earth. Journal of Chemical
Technology and Biotechnology. Volume 72. Hal 67-73.
Lovibond Model E Tintometer AF 900. Instruction Manual.
Oxtoby, Gillis, and Nachtrieb. 2001. Prinsip-prinsip Kimia Modern. Jilid 1.
Edisi 4. Jakarta.
Patterson, HBW. 1992. Bleaching and Purifying Fats and Oil. American Oil
Chemistry. Illeneis.
Ragina, Friga S. 2002. Kajian Pemucatan Minyak Kelapa Sawit Sebagai Bahan
Dasar Rolling Oil dengan Menggunakan Bentonit dan Asam Sitrat.
Institut Pertanian Bogor. Bogor.
PKMI-2-2-10

Sucahyo, H. 1995. Pengaruh Pengaktifan Zeolit Lampung Dengan Pemanasan


Sebagai Adsorben Ion Amonium. Universitas Lampung. Bandar
Lampung.
Suyartono dan Husaini. 1992. Kegiatan Penelitian dan Pengembangan Zeolit
Indonesia Periode 1980-1981. Majalah Pertambangan dan Energi Nomor
5 Tahun XVII, 1992. Hal 52 - 61.
Thomas, Hickey, and Stecker dalam Iwan Agustiawan. 1992. Aktivasi Bentonit
dengan Limbah Sulfat. Institut Teknologi Indonesia. Serpong.
Winarno dan Jennie, 1973 dalam Eka Puspita , 2003. Optimasi Produksi Pigmen
Klorofil dan Karotenoid dari Mikroalga kelas Bacillariophyceae.
Universitas Lampung. Bandar Lampung.
http://www.distam-propsu.go.id
http://www.kutaitimur.com
PKMI-2-3-1

ISOLASI BAKTERI AMILOLITIK TOLERAN pH 9 DARI TANAH DI


TAMAN WISATA ALAM SITU GUNUNG-SUKABUMI

Tika Tresnawati, Anna Mariam Fadhillah, Asih Widayani


Departemen Biologi, Institut Pertanian Bogor, Bogor

ABSTRAK
Sebanyak lima isolat bakteri amilolitik yang toleran pH 9 berhasil diperoleh dari
contoh tanah di TWA Situ Gunung, Sukabumi. Bakteri amilolitik yang dimaksud
adalah bakteri yang mampu memproduksi enzim amilase dan memecah pati di
luar selnya. Contoh tanah diambil dari empat lokasi yang berbeda yaitu tepi
hutan (TH), hutan (H), lapang (TL), dan tepi danau (TD). Dari contoh tanah
tersebut didapatkan 16 isolat bakteri yang mampu tumbuh pada media yang
mengandung pati dengan pH 9. Lima isolat di antaranya menghasilkan zona
bening di sekitar koloni. Hal tersebut menunjukkan adanya aktivitas amilase
ekstraselular. Tiga isolat yang menghasilkan zona bening terbesar yaitu isolat H
1.1, H 3.1, dan TL 1.1. Ketiga isolat tersebut masing-masing memiliki aktivitas
spesifik sebesar 4.128 U/mg, 0 U/mg, dan 0 U/mg. Dari hasil pengukuran, isolat
yang memiliki aktivitas amilase hanya isolat H 1.1 yaitu sebesar 0.161 U/ml
dengan kadar protein sebesar 0.039 mg/ml. Sedangkan untuk isolat TL 1.1
memiliki kadar protein sebesar 0.099 mg/ml dan isolat H 3.1 memiliki kadar
protein sebesar 0.048 mg/ml.

Kata kunci : Amilolitik, Amilase, pH 9, aktivitas amilase.

PENDAHULUAN
Taman Wisata Alam (TWA) Situ Gunung terletak 15 km dari Sukabumi,
tepatnya di daerah Cisaat Desa Kadudampit, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten
Sukabumi, Jawa Barat. Daerah ini terletak di lereng hutan tropis dan termasuk ke
dalam wilayah Taman Nasional Gunung Pangrango dengan ketinggian 1000 m
dari permukaan laut. TWA Situ Gunung merupakan kawasan yang memiliki
keanekaragaman flora dan fauna yang cukup tinggi. Flora yang terdapat di sana
diantaranya puspa, rasamala, damar, saninten, hamirung, dan beberapa jenis
anggrek yang dilindungi, serta terdapat 62 jenis satwa liar. Kondisi hutan tersebut
sangat memungkinkan terdapatnya keanekaragaman bakteri yang tinggi antara
lain bakteri amilolitik. Substrat untuk pertumbuhan bakteri pendegradasi pati ini
melimpah di TWA Situ Gunung.
Amilase merupakan enzim yang bekerja menghidrolisis pati yang dapat
dihasilkan oleh bakteri, fungi, tumbuhan dan hewan. Amilase yang dihasilkan
oleh bakteri banyak dimanfaatkan dalam industri, terutama industri makanan,
minuman, tekstil, farmasi, dan detergen. Hal ini karena umumnya amilase asal
bakteri mempunyai aktivitas yang tinggi dan bersifat lebih stabil dibandingkan
yang berasal dari tumbuhan dan hewan. Sebagian besar industri, seperti industri
makanan dan minuman menggunakan amilase tahan asam (Whittaker 1994).
Namun lain halnya dalam industri detergen yang justru menggunakan amilase
basa atau alkalin. Selain itu, amilase juga mampu menghasilkan
maltooligosakarida spesifik dalam hidrolisis pati pada tingkat yang cukup tinggi
(Tigue et al. 1995). Hal tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuat
PKMI-2-3-2

detergen dan obat. Fungsi amilase dalam detergen untuk menyingkirkan kotoran
seperti coklat, keringat, dan telur dari pakaian.
Bakteri amilolitik merupakan adalah bakteri yang memproduksi enzim
amilase dan memecah pati (Frazier & Westhoff 1988). Genus bakteri yang
termasuk kelompok bakteri amilolitik yang cukup dikenal luas ialah Bacillus dan
Clostridium, Bacteriodes, Lactobacillus dan Micrococcus (Pelczar 1988).
Dalam dasawarsa terakhir ini, pemakaian enzim yang sifatnya efisien,
selektif, mengatalisis reaksi tanpa produk samping dan ramah lingkungan
meningkat pesat. Oleh karena itu diperlukan upaya seleksi bakteri yang
mempunyai aktivitas amilolitik. Upaya tersebut akan lebih bermanfaat jika
dilakukan seleksi sehingga diperoleh bakteri amilolitik yang unggul.
Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengungkapkan isolat bakteri
amilolitik alkali yang didapat dari hasil penelitian yang dilakukan pada beberapa
contoh tanah. Penelitian ini dilakukan dua tahap, yaitu pengambilan contoh tanah
yang dilakukan pada tanggal 26-28 Juli 2004 di TWA Situ Gunung, Sukabumi
dan seleksi bakteri penghasil enzim ekstraseluler dan pengujian aktivitas -
amilase yang dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi, Departemen Biologi,
FMIPA, IPB, Bogor.

BAHAN DAN METODE


Bahan
Bahan yang digunakan yaitu contoh tanah dari beberapa lokasi di TWA
Situ Gunung, yang terdiri atas (1) tepi hutan (TH), merupakan tanah berserasah
yang diambil pada jarak 6 meter dari tepi jalan aspal; (2) hutan (H), merupakan
tanah yang berasal dari tepi hutan, dimana vegetasi tanamannya berupa pohon; (3)
lapang (TL), merupakan tanah dari lapangan terbuka yang tidak ditumbuhi oleh
vegetasi apapun di pinggir danau; dan (4) tepi danau (TD), merupakan tanah yang
diambil dari tepi danau, yaitu 2 m dari tepi danau.

Pengambilan Contoh
Contoh tanah dimasukkan ke dalam kantung plastik dan dibawa ke
laboratorium untuk dianalisis kandungan bakteriologis yang terdapat di dalamnya
dan diukur derajat keasamannya (pH). Derajat keasaman tanah diukur dengan
mencampur 3.0 gram contoh tanah dengan 7.5 ml akuades (perbandingan 1:2.5).
Sebelum diukur, tanah dan akudes diaduk dan partikel tanah dibiarkan
mengendap. Bagian supernatan diukur pH-nya dengan kertas pH indikator
universal.

Seleksi Mikrob Amilolitik


Mikrob diseleksi dengan cara ditumbuhkan dalam 50 ml medium adaptasi
dan pengayaan yaitu media kaldu yang mengandung pati tepung tapioka 0.5%,
KH2PO4 0.13%, MgSO4.7H2O 0.05%, ekstrak khamir 1%. Medium ini ditetapkan
pada pH 9 dengan menambahkan NaOH 0.1 M. Isolat diinkubasi pada suhu 37 C
dengan kecepatan 140 rpm selama 48 jam. Biakan pengayaan ini digores dengan
metode kuadran di media agar-agar pati ber-pH 9 dengan komposisi pati tepung
tapioka 0.5%, KH2PO4 0.13%, MgSO4.7H2O 0.05%, ekstrak khamir 1%, dan
agar-agar 2%. Biakan diinkubasi pada suhu 37 C. Setelah 48 jam koloni yang
tumbuh digores kembali pada medium agar-agar pati untuk disiapkan menjadi
PKMI-2-3-3

inokulum. Sisa koloni yang terdapat pada agar cawan ditetesi larutan iodium
(komposisi : Kalium Iodida (KI) 4.0 gram, I2 4.0 gram, air suling 600 ml) untuk
pengamatan zona bening dan pengukuran indeks amilolitik. Setelah 24 jam
sebanyak 2 lup koloni yang tumbuh pada agar-agar pati diinokulasikan ke dalam
tabung ulir yang berisi 10 ml medium agar pati dengan komposisi yang sama.
Tabung ulir diinkubasi pada suhu 37 C selama 24 jam dan pada akhir masa
inkubasi biakan siap dipakai sebagai inokulum.

Penapisan Isolat
Penentuan indeks amilolitik (IA) dilakukan dengan cara mengukur
diameter zona bening yang terbentuk di sekitar koloni bakteri, kemudian dibagi
dengan diameter koloni yang tumbuh. Untuk memperjelas pembentukan zona
bening, cawan berisi isolat ditetesi dengan larutan iodium. Pati yang tidak terurai
akan berwarna biru kehitaman karena mengikat iodium. Tiga isolat dengan IA
terbesar ditapis lebih lanjut berdasarkan aktivitas amilase yang dihasilkan.
Sebanyak dua lup bakteri ditumbuhkan dalam 25 ml media kaldu pati dengan
komposisi yang sama dengan media pengayaan. Lalu dikocok selama 24 jam pada
suhu kamar. Supernatan yang mengandung ekstrak kasr enzim dperoleh dengan
cara disentrifus dengan kecepatan + 2700 x g selama 20 menit.

Identifikasi Isolat
Isolat diidentifikasi berdasarkan ciri-ciri morfologi koloni, pewarnaan
gram, dan endospora.

Pengukuran Aktivitas -amilase dan Kadar Protein


Sebanyak 1 ml ekstrak kasar enzim hasil sentrifugasi dicampur dengan 1
ml subtrat (pati terlarut 1% dalam bufer tris HCl 0.05 M pH 9) lalu diinkubasi
selama 10 menit pada suhu 30 C. Reaksi dihentikan dengan penambahan 2 ml
asam 3,5 dinitrosalisilat (DNS) kemudian dikocok kuat-kuat dengan vortex dan
dipanaskan dalam air mendidih selama 5 menit (Bernfeld 1955). Lalu didinginkan
di dalam air es selama 20 menit. Setelah dingin diukur absorbansinya pada =550
nm. Blanko mendapat perlakuan yang sama dengan sampel, namun penambahan
enzim dilakukan setelah campuran dipanaskan. Satu unit aktivitas -amilase
didefinisikan sebagai jumlah enzim yang diperlukan untuk melepas 1 mol gula
pereduksi/menit atau setara dengan 1 mol maltosa/menit. Kurva standar maltosa
dibuat pada kisaran konsentrasi maltosa 100 500 g/ml dengan selang 100
g/ml.
Penentuan kadar protein dilakukan berdasarkan metode Bradford (1976),
dengan cara mencampur 0.4 ml ekstrak kasar enzim dengan 4 ml reagen Bradford
lalu dikocok dengan vortex, kemudian diukur absorbansi pada =595. Standar
protein yang digunakan ialah bovin serum albumin (BSA) pada kisaran
konsentrasi 0.01 0.1 mg/ml dengan selang 0.01 mg/ml.

HASIL
Isolasi dan Identifikasi Isolat Amilolitik
Dari enam contoh tanah yang diambil di Taman Wisata Alam Situ
Gunung-Sukabumi, berhasil diisolasi 16 isolat yang tumbuh pada pH 9, lima dari
keseluruhan isolat merupakan isolat amilolitik. Tabel 1 menunjukkan kondisi
contoh tanah yang diambil dari Situ Gunung.
PKMI-2-3-4

Tabel 1 Kondisi contoh tanah dari TWA Situ Gunung- Sukabumi

Contoh Tanah
Keterangan Tepi Tanah Tepi
Hutan 1 Hutan 2 Hutan 3
Hutan Lapang Danau
Suhu (C) 18 19 21 18 21 19
pH 6 5 5 6 5 4.5
coklat
Warna coklat coklat coklat coklat coklat
keabu-
Tanah kehitaman tua kehitaman muda muda
abuan
Jenis tanah gembur gembur kering lembab lembab lumpur
Jumlah total
2 3 2 2 3 4
isolat
Jumlah isolat
1 1 - 1 2 -
amilolitik
Keterangan : pengambilan contoh tanah dilakukan antara pukul 08.49-11.12,
tanggal 27 Juli 2004.

Dari lima isolat yang memiliki indeks amilolitik dipilih tiga isolat yang
indeks amilolitiknya paling besar yaitu TL 1.2, H 1.1, dan H 3.1 untuk pengujian
aktivitas -amilase (Tabel 2). Berdasarkan pewarnaan gram dan spora, bakteri TL
1.2 dan H 3.1 menunjukkan ciri-ciri yang sama yakni bakteri gram positif
berbentuk batang, aerob, dan menghasilkan endospora yang diduga termasuk
genus Bacillus. Sedangkan bakteri H 1.1 adalah bakteri gram negatif yang
berbentuk bulat (Tabel 3)

Gambar 1. Koloni isolat H 1.1 yang dikelilingi oleh zona bening.

Tabel 2 Indeks amilolitik kelima isolat terpilih

Indeks
Isolat Asal koloni (mm) Zona (mm)
Amilolitik (IA)
H1.1 Tanah tengah hutan 2 8 3
H3.1 Tanah tengah hutan 2.3 9 2.9
TH1.2 Tanah tepi hutan 10 23 1.3
TL1.1 Tanah lapang 5 13 1.6
TL1.2 Tanah Lapang 1 7 6
PKMI-2-3-5

Tabel 3 Morfologi isolat amilolitik terpilih

Sifat
Bakteri Warna Elevasi Tepi Bentuk Endospora
Gram
TL 1.2 Kuning Cembung Licin Positif Batang Ada
tua
H 1.1 Putih Timbul Berombak Negatif Bulat Tidak ada
keruh
H 3.1 Kuning Cembung Licin Positif Batang Ada

Pengukuran Kadar Protein dan Aktivitas Amilase


Kadar protein pada isolat TL 1.2 sebesar 0.099 mg/ml dan kadar protein pada
isolat H 3.1 sebesar 0.048 mg/ml (Gambar 2, 3 dan 4). Isolat yang memiliki
aktivitas amilase hanya pada isolat H 1.1, yaitu sebesar 0.161 U/ml dengan kadar
protein sebesar 0.039 mg/ml dan aktivitas spesifik sebesar 4.128 U/mg.

Gambar 2. Kadar protein isolat amilolitik terpilih.

Gambar 3. Aktivitas -amilase isolat amilolitik terpilih diukur pada pH 9 suhu


37 C.
PKMI-2-3-6

Gambar 4. Aktivitas spesifik isolat amilolitik terpilih diukur pada pH 9 suhu


37C.

PEMBAHASAN
Dari 16 isolat yang berhasil diseleksi, hanya terdapat 5 isolat (31.25%)
yang memiliki aktivitas -amilase. Isolat yang menghasilkan amilase ekstraseluler
terlihat dari pembentukan zona bening di sekitar koloni bakteri. Pembentukan
zona bening menunjukkan bahwa pati yang terdapat di dalam media dihidrolisis
oleh enzim amilase menjadi senyawa yang sederhana seperti maltosa, dekstrin dan
glukosa (Winarno 1983). Untuk memperjelas adanya zona bening, media pati
padat yang telah ditumbuhi bakteri ditetesi larutan iodium. Daerah di luar zona
bening akan berwarna biru setelah diberi larutan ini, warna biru yang terbentuk
karena larutan ini bereaksi dengan pati yang tidak dihidrolisis. Zona bening tidak
ikut terwarnai karena pada zona tersebut pati sudah terhidrolisis menjadi senyawa
yang lebih sederhana seperti disakarida atau monosakarida. Enzim amilase
ekstraseluler yaitu enzim yang dikeluarkan dan menghidrolisis makromolekul
seperti pati yang ada di lingkungan luar sel, kemudian hasil hidrolisis diserap
kembali ke dalam sel (Crueger & Crueger 1982).
Faktor lingkungan mempengaruhi produksi enzim. Faktor-faktor tersebut
meliputi kandungan nutrisi, derajat keasaman media, tekanan osmotik, tingkat
aerasi, suhu, dan kontrol terhadap kontaminasi selama fermentasi (Pandey et al.
2000).
Berdasarkan pengamatan morfologi koloni, pewarnaan gram, dan
endospora, ketiga isolat terpilih tidaklah memiliki ciri yang sama. Isolat TL 1.2
dan H 3.1 adalah gram positif dengan bentuk batang dan memiliki endospora,
sedangkan isolat H 1.1 adalah gram negatif dengan bentuk bulat. Pengujian
sampai tingkat spesies tidak dilakukan karena diperlukan uji lebih lanjut seperti
ciri-ciri mikroskopiknya.
Isolat yang memiliki aktivitas amilase hanya pada H 1.1. Aktivitas amilase
tidak ditemukan pada isolat TL 1.2 dan H 3.1. Indeks amilolitik yang tinggi tidak
selalu menunjukkan aktivitas enzim yang optimum. Seperti pada isolat TL yang
memiliki IA terbesar namun tidak memiliki aktivitas amilase. Hal ini diduga
karena kondisi pH dan suhu tidak berada pada kondisi optimum untuk aktivitas -
amilase. Secara umum, pH optimum sebagian besar enzim amilase yaitu 5-6
PKMI-2-3-7

(Tigue et al. 1995). Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa
Bacillus licheniformis memiliki aktivitas optimum amilase pada pH 6-7 (Tigue et
al. 1995) dan B. firmus KH. 9.4 memiliki aktivitas optimum pada pH 6 dan suhu
80oC (Rachmania et al. 2004).
Kondisi optimum untuk produksi enzim perlu dicari untuk mengetahui
aktivitas enzim tertinggi dari mikroorganisme penghasilnya. Mencari kondisi
optimum bagi sintesis enzim dapat pula berarti mencari kondisi optimum bagi
pertumbuhan mikrob dan mencari hubungan antara sintesis enzim spesifik dengan
kecepatan pertumbuhan. Faktor-faktor yang mempengaruhi fermentasi antara lain
pH, suhu, aerasi dan jenis media (Crueger & Crueger1982).
Amilase umumnya stabil pada kisaran pH 5.5-8 dan aktivitas optimum
biasanya terdapat di antara pH 4.8 dan 6.5. Tetapi nilai optimum pH bergantung
pula pada sumber penghasil enzim. Dalam penelitian sebelumnya, diketahui pada
Bacillus TS-23 derajat keasaman awal optimal untuk produksi enzim amilase
yaitu 8.5 ( Lin et al. 1998). Sedangkan pada Bacillus sp. IMD derajat keasaman
optimal untuk produksi amilase yaitu 10.0 (Tigue et al. 1995).
Pada penelitian ini isolat bakteri penghasil amilase yang didapat adalah
isolat bakteri yang tahan pada pH 9. Walaupun sebagian besar industri, seperti
industri makanan dan minuman, menggunakan amilase yang tahan pada pH asam,
amilase yang tahan pada pH basa pun diperlukan, misalnya pada industri sabun
atau detergen.

KESIMPULAN
Sebanyak lima isolat dari 16 isolat toleran pH 9 yang berhasil diisolasi dari
tanah Taman Wisata Alam Situ Gunung, Sukabumi adalah bakteri yang memiliki
aktivitas amilolitik ekstraseluler. Dua isolat amilolitik diantaranya memiliki
indeks amilolitik tinggi dan diidentifikasi sebagai Bacillus sp. Isolat H 1.1 yang
termasuk bakteri gram negatif memiliki aktivitas spesifik tertinggi dibandingkan
dengan isolat lainnya.
Ketiga isolat amilolitik toleran pH 9 berpotensi untuk menghasilkan enzim
amilase ekstraseluler yang dapat digunakan dalam industri, misalnya detergen.

DAFTAR PUSTAKA
Bernfeld P. 1955. Amylases - and -. Di dalam : Colowick SP, Kaplan NO
(Eds). Methods In Enzymologyl. New York: Academic Pr. pp: 149-150.
Bradford M.M. 1976. A rapid and sensitive method for the quantification of
microgram quantities of protein utilizing the principles of protein-dye
binding. Anal Biochem 72: 248-254.
Crueger W, Crueger A . 1982. Biotechnology. Madison: Science Tech, Inc.
Frazier WC, Westhoff. 1988. Food Microbiology. New York: McGraw-Hill.
Lin LL, Chyau CC, Hsu WH. 1998. Production and properties of a raw-starch-
degrading amylase from the thermophilic and alkaliphilic Bacillus sp. ST-
23. Biotechnol Appl Biochem 28: 61-68.
Pandey A et al. 2000. Advances in microbial amylases [review]. Biotechnol Appl
Biochem 31: 135-152.
Pelczar MJ, Chan ECS. 1988. Dasar-dasar Mikrobiologi Jilid 2. Terjemahan
Ratna Siri, Tedja Imas, S. Sutarmi Tjitrosomo, Sri Lestari Angka. Jakarta:
UI-Press.
PKMI-2-3-8

Rachmania N, Iswati R, Imas T. 2004. Karakterisasi -amilase Bacillus firmus


KH.9.4 alkalotoleran dari limbah cair tapioka. Biota 3: 129-135.
Tigue M.A.Mc, Kelly C.T, Doyle E.M, Fogarty W.M. 1995. The alkaline amylase
of the alkalophilic Bacillus sp. IMD 370. Enzyme Microbial Technol 17:
570-573.
Whittaker JR. 1994. Principles of Enzymology for the Food Sciences. New York:
Marcel Dekker Inc.
Winarno, FG. 1983. Enzim Pangan. Jakarta: PT. Gramedia.
PKMI-2-4-1

ANALISIS RESPON MASYARAKAT DESA TERHADAP PROGRAM


KELUARGA BERENCANA (KB) DALAM RANGKA PENINGKATAN
KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA (SDM)
(Studi Kasus Desa Cihideung Udik Kabupaten Bogor)

Riski Dwijayanti, A Anas, E Sumanto, DV Panjaitan, A Jayanthy FAF


PS Ilmu Ekonomi Institut Pertanian Bogor

ABSTRAK
Penelitian ini menekankan pada respon masyarakat desa terhadap program
Keluarga Berencana (KB) dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya
manusia. Respon yang diamati mencakup alasan-alasan mengapa masyarakat
desa menggunakan atau tidak menggunakan KB, siapa yang paling berperan
dalam memberikan informasi KB dan bagaimana hubungan antara tingkat
pendidikan orang tua dengan peningkatan kualitas anak. Penelitian ini dilakukan
secara purposive dengan menyebarkan kuisioner ke masyarakat Desa Cihideung
Udik di empat sub-desa, yakni Sinagar, Babakan Kemang, Pabuaran, dan
Cinangneng yang kemudian diambil contoh sebanyak seratus responden. Dari
hasil penelitian, mayoritas responden sebesar 82 % menggunakan alat KB
dengan alasan utama agar dapat menjaga jarak antar anak (30 %), dan yang
paling berperan dalam memberikan informasi KB adalah bidan (50 %). Pada
kasus desa Cihideung Udik, faktor pendidikan terakhir orang tua tidak cukup
berpengaruh terhadap jumlah anak yang dimiliki. Hal ini ditunjukkan dengan 22
% responden yang berpendidikan terakhir SD memiliki dua orang anak.
Berdasarkan hasil penelitian, masyarakat belum memprioritaskan pendidikan
sebagai aspek yang penting, oleh karena itu pola pikir tersebut perlu untuk
diubah, termasuk persepsi masyarakat mengenai program KB, sehingga program
KB tidak hanya dipandang sebagai cara untuk membatasi jumlah anak, tetapi
juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia, karena pada
dasarnya anak merupakan investasi yang bernilai ekonomis bagi orang tua di
masa yang akan datang.

Kata Kunci: Keluarga Berencana, responden, Sumber Daya Manusia.

PENDAHULUAN
Isu kependudukan merupakan isu yang mendesak, mengingat jumlah
penduduk Indonesia pada tahun 2005 yang mencapai 219 juta jiwa mengharuskan
pemerintah untuk memberikan perhatian khusus pada masalah ini (BKKBN,
2005). Selain itu, Indonesia menyandang peringkat 111 dari 177 negara pada
Human Development Index (HDI) 2005 yang membuktikan bahwa peningkatan
jumlah penduduk tersebut tidak diikuti oleh peningkatan Sumber Daya Manusia
(SDM). Salah satu cara yang dilakukan pemerintah untuk mengendalikan jumlah
penduduk ini melalui program Keluarga Berencana (KB). Menurut BKKBN
(2004), Keluarga Berencana adalah usaha untuk mengontrol jumlah dan jarak
kelahiran anak, untuk menghindari kehamilan yang bersifat sementara dengan
menggunakan kontrasepsi sedangkan untuk menghindari kehamilan yang sifatnya
menetap yang bisa dilakukan dengan cara sterilisasi dan aborsi bisa digunakan
untuk mengakhiri kehamilan jika terjadi kegagalan kontrasepsi.
PKMI-2-4-2

Visi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yaitu


melakukan reorientasi dan reposisi pembangunan program KB berupa "Menuju
Keluarga Berkualitas 2015". Definisi keluarga berkualitas menurut BKKBN
adalah keluarga yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sejahtera, sehat,
maju, mandiri, memiliki jumlah anak ideal, bertanggung jawab, harmonis, dan
berwawasan ke depan. Visi baru ini berorientasi luas, tidak hanya pendekatan
demografi. Dalam visi baru itu jumlah anak ideal tidak dibatasi dua, melainkan
sesuai keinginan dan kemampuan keluarga, namun tetap memperhatikan
kepentingan sosial. Dengan adanya reorientasi Program KB Nasional tersebut,
berarti akan menjamin kualitas pelayanan KB dan kesehatan reproduksi lebih
baik. Dalam arti lain, program ini menghargai dan melindungi hak-hak
reproduksi, yang menjadi bagian dari hak asasi manusia universal (BKKBN,
2004).
Penelitian mengenai peningkatan kualitas SDM telah banyak dilakukan
terutama di sektor pendidikan. Sedangkan penelitian mengenai SDM dari sisi
pengaturan jumlah anak masih terbatas, padahal dari sisi tersebut dapat dilihat
upaya peningkatan kualitas SDM seiring dengan peningkatan kesejahteraan anak.
Agar pengaturan jumlah anak berhasil diperlukan sosialisasi program KB yang
berkesinambungan. Untuk mewujudkannya diperlukan peran aktif dari semua
pihak, baik pemerintah, masyarakat maupun mahasiswa. Salah satu peran yang
dapat dilakukan mahasiswa adalah melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN),
program KKN ini dilakukan di Desa Cihideung Udik, Kecamatan Ciampea Bogor.
Berdasarkan data tahun 2003, penduduk desa Cihideung Udik umumnya
berpendidikan Sekolah Dasar yaitu sebesar 7.243 jiwa dari 7.826 penduduk yang
mengenyam pendidikan atau sebesar 92,55 %. Sedangkan Jumlah Akseptor KB di
desa tersebut mencapai 1.473 jiwa. Oleh karena itu, dalam program KKN
mahasiswa dapat berperan aktif dalam menganalis respon masyarakat desa
terhadap program Keluarga Berencana.
Dalam penelitian ini dirumuskan beberapa hal yang berkaitan dengan
perilaku masyarakat terhadap program KB, yaitu: (1) Mengapa masyarakat desa
menggunakan atau tidak menggunakan KB ?; (2) Siapa yang paling berperan
dalam memberikan informasi KB ?; (3) Bagaimana hubungan antara tingkat
pendidikan orang tua dengan kualitas anak ?
Adapun penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut: (1) Mengetahui dan
menganalisis alasan masyarakat desa memilih menggunakan KB atau tidak; (2)
Menganalisis siapa yang paling berperan dalam memberikan informasi KB; (3)
Menganalisis hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan kualitas anak.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak
yaitu: Pertama, manfaat bagi pemerintah Indonesia dimana hasil penelitian ini
dapat membantu pemerintah dalam memberikan informasi tentang pelaksanaan
program KB di masyarakat desa, sehingga pemerintah dapat terus membantu dan
mendukung usaha meningkatkan jumlah sarana dan prasarana kesehatan, serta
tenaga medis khususnya bagi program KB di desa.
Kedua, penelitian ini merupakan wujud kepedulian kepada masyarakat,
khususnya masyarakat desa dalam memanfaatkan program KB. Usaha ini
dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas SDM masyarakat desa. Ketiga,
manfaat bagi mahasiswa yang diharapkan dapat menumbuhkan kepekaan dan
kepedulian terhadap program KB, mengembangkan kecerdasan emosional
PKMI-2-4-3

khususnya dalam hal membina kerjasama dan kekompakan dalam tim,


membiasakan diri untuk berpikir ilmiah, cerdas dalam menganalisis permasalahan
dan membantu mewujudkan visi "Menuju Keluarga Berkualitas 2015".

METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan proses pengambilan contoh dengan metode
judgement (purposive) sampling. Langkah-langkah penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Pemilihan lokasi: purposive karena lokasi ini merupakan tempat Kuliah
Kerja Nyata (KKN) periode Juni-Agustus 2005, dan dari data diketahui
bahwa jumlah akseptor KB Desa Cihideung terbanyak serta tenaga
pelayan kesehatan juga terbanyak diantara 19 desa di Kecamatan Ciampea
(BPS Kabupaten Bogor, 2004).
2. Pemilihan contoh responden secara purposive di empat sub-desa yaitu:
Sinagar, Babakan Kemang, Pabuaran, dan Cinangneng, dimana masing-
masing sub-desa diambil 25 responden sehingga total responden seratus.
3. Berdasarkan peta kerja. Enumerator mengunjungi alamat responden dan
menunjuk ibu rumah tangga sebagai responden. Tidak dijadikannya suami
sebagai responden karena umumnya keikutsertaan suami mengikuti
program KB masih rendah, ini didukung oleh laporan BKKBN mengenai
kesertaan ber-KB pria sampai dengan tahun 2002 yaitu di bawah 2,5 %.
4. Enumerator menanyakan secara langsung dan menuliskan jawaban
kuisioner (schedule).

Penelitian ini menggunakan beberapa parameter pengukuran, yaitu: (1)


Menggunakan atau tidak menggunakan KB dengan berbagai alasan; (2) Sumber
informasi KB; (3) Tingkat pendidikan orang tua. Adapun analisis data dilakukan
secara statistik dan deskriptif. Jenis data yang dikumpulkan meliputi:
1. Data primer yang meliputi data karakteristik responden (nama responden,
umur, tempat tinggal, pendidikan terakhir, usia pasangan saat menikah,
pekerjaan, jumlah anak), data faktor internal (alasan menggunaan KB atau
tidak, jenis KB yang digunakan, lama penggunan, kecocokkan penggunaan
KB), dan data faktor eksternal (sumber informasi KB).
2. Data sekunder yang diambil dari BPS Kabupaten Bogor 2004 dan
Pemerintah Desa Cihideung Udik 2004.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Karakteristik Responden
Penelitian ini dilakukan terhadap seratus ibu rumah tangga sebagai
responden. Tabel 1 memperlihatkan karakterisitik responden berdasarkan
pendidikan terakhir orang tua, jenis pekerjaan dan jumlah anak.

Tabel 1. Karakteristik Responden


Pendidikan Terakhir Jenis Jumlah
Persentase Persentase Persentase
Orang Tua Pekerjaan Anak
Ibu rumah
Tidak Tamat SD 0 87 Satu 28
tangga
SD dan/ MI
63 Pedagang 6 Dua 35
PKMI-2-4-4

SMP dan/ MTs 24 Tukang kredit 3 Tiga 15


Karyawati
SMA 12 2 Empat 9
konveksi
Pegawai
AKPER 1 1 Lima 9
swasta
Diatas
S1/ S2/ S3 0 Wiraswasta 1 4
Lima

Tabel di atas menunjukan bahwa tingkat pendidikan responden mayoritas


lulusan SD sebesar 63 % dan responden dengan tingkat pendidikan tertinggi
merupakan lulusan AKPER sebesar 1 %. Berdasarkan jenis pekerjaannya
mayoritas responden sebagai ibu rumah tangga, yaitu sebesar 87 % sehingga
memiliki cukup waktu untuk mengurus rumah tangganya. Sebanyak 35 %
responden memiliki dua anak, jumlah anak yang dimiliki responden ini
memperlihatkan sudah adanya kesadaran responden untuk membatasi jumlah
anaknya.

Faktor Internal
Alasan menggunakan atau tidak menggunakan KB
Sebanyak 18 % responden yang tidak menggunakan alat KB dengan
berbagai alasan, dikarenakan faktor usia lanjut sebesar 1 %, karena sudah steril
sebesar 2 %, malas menggunakan KB 1 %, sakit dan mengalami pendarahan 2 %,
baru menikah 1 %, anak sudah besar 2 %, ingin mempunyai anak lagi 3 %, dan
tidak memberikan alasan sebesar 6 %. Sedangkan 82 % responden menggunakan
alat KB karena berbagai alasan yang dapat dilihat dari diagram 1 berikut:

Menekan jumlah anak Tidak pakai


6% 18%
Pertimbangan ekonomi
Mengatur jumlah anak
25% 5%

Mencegah kehamilan
11% Ada jarak antar anak
Pemberian pendidikan 30%
dalam keluaraga Repot mengurus
3% anak 2 %

Tidak pakai Pertimbangan


Repot mengurus anak ekonomi Ada jarak antar anak
Repot mengurus anak 2%
Pemberian pendidikan dalam keluarga Mencegah kehamilan
Mengatur jumlah anak Diagram 1.Menekan
Alasanjumlah Menggunakan
anak Alat KB

Berdasarkan diagram 1 dapat diketahui bahwa 30 % responden


menggunakan alat KB agar ada jarak beberapa tahun diantara anaknya, 25 %
responden merencanakan berapa jumlah anak yang akan dilahirkan dengan cara
mengatur jumlah anak, 11 % responden mencegah kehamilan karena kondisi fisik
dan mentalnya belum siap. Responden yang ingin menekan jumlah anak sebesar 6
% karena merasa bahwa jumlah anak mereka telah cukup, 5 % berikutnya karena
pertimbangan ekonomi dimana responden lebih mengambil perspektif dalam
jangka panjang, yaitu perlunya mengeluarkan biaya yang besar dengan semakin
banyaknya jumlah anak, termasuk biaya pendidikan sekolah. Kemudian 3 %
responden merasa bahwa jika mempunyai anak harus memberikan pendidikan
terkait dengan masalah moral dan etika dalam keluarga yang cukup bagi anaknya,
sehingga tidak dibutuhkan banyak anak, dan 2 % sisanya karena alasan repot
mengurus anak.
PKMI-2-4-5

Dari kecenderungan tersebut dapat ditarik informasi bahwa mayoritas


responden yang merupakan masyarakat desa hanya berpikir tentang jangka
pendek, sebab hanya 5 % dari mereka yang berpikir untuk meningkatkan kualitas
hidup anak melalui pendidikan sekolah dalam jangka panjang.

Jenis Alat KB yang digunakan


Berdasarkan hasil penelitian yang terdapat pada tabel 2, mayoritas
responden yakni sebesar 64 % menggunakan alat suntik KB yang disuntikkan
sekali tiap tiga bulan, hal ini dikarenakan penggunaan alat suntik KB yang mudah
dan murah.

Tabel 2. Jenis Alat KB yang digunakan


No. Jenis Alat KB yang digunakan Jumlah Responden (%)

1. Alat Suntik KB 64
2. Pil KB 17
3. Sterilisasi 1

Sebanyak 17 % responden lainnya menggunakan pil KB, walaupun


harganya relatif lebih mahal dibandingkan alat suntik, tetapi beberapa responden
khusus menggunakannya seperti ibu-ibu yang sedang menyusui. Responden yang
menggunakan sterilisasi sebesar 1 %, persentase yang kecil ini disebabkan
disamping harganya yang lebih mahal juga karena sifatnya yang permanen.

Lama Penggunaan KB
Mayoritas 49 % responden menggunakan alat KB selama 1-5 tahun dan
pemakaiannya dilakukan secara bertahap. Setelah mempunyai anak, responden
memakai alat KB dan jika ingin mempunyai anak lagi maka pemakaian alat KB
dihentikan. Data selengkapnya mengenai lama penggunaan KB dapat dilihat pada
tabel dibawah ini.
Tabel 3. Lama Penggunaan KB
No. Lama Penggunaan KB (tahun) Jumlah Responden (%)
1. <1 6
2. 1-5 49
3. 6-10 18
4. 11-15 3
5. 16-20 3
6. 21-25 2
7. 25-30 1

Mayoritas responden yaitu sebesar 84 % mengaku cocok menggunakan


alat KB, ini berarti efek negatif yang dirasa responden lebih kecil dibandingkan
manfaat yang diperolehnya. Dibandingkan dengan 5 % responden yang tidak
cocok baik karena mengalami pendarahan, mual, obesitas ringan, dan tidak enak
badan, persentase responden yang cocok jauh lebih besar, hal ini membuktikan
bahwa alat KB cocok untuk digunakan. Responden yang memberikan jawaban
tidak tahu sebanyak 11 % dikarenakan baru menikah dan belum pernah memakai
alat KB.
PKMI-2-4-6

Kecocokan Penggunaan KB
Persentase kecocokan menggunakan alat KB dapat dilihat dalam diagram
2 berikut :

Tidak tahu
11%
Tidak cocok
5%

Cocok
84%

Cocok Tidak cocok Tidak tahu

Diagram 2. Kecocokan Menggunakan Alat KB

Faktor Eksternal
Sumber Informasi KB
Mayoritas responden (50 %) mendapat informasi tentang KB dari bidan
walaupun jumlah bidan di Desa Cihideung Udik hanya satu orang ini
membuktikan bahwa keberadaan bidan sangat efektif dalam menginformasikan
KB. Dari puskesmas/ posyandu/ poliklinik sebesar 24 % meskipun biaya relatif
terjangkau tetapi keberadaan pelayanan kesehatan ini kurang bisa memberikan
informasi karena terbatasnya jumlah kader-kader KB.

Diagram 3 : Sumber Informasi KB

Lainny a TV
9% 6%
Dok ter
11%
Bidan
50%
Pus kes mas/
Posyandu/
Polik linik
24%

Bidan Pusk esmas / Posy andu/ Polik linik Dokter Lainny a TV

Sumber informasi KB pada diagram 3 menunjukkan peranan dokter hanya


sebesar 11 %, dikarenakanDiagram
jika melakukan konsultasi
3. Sumber InformasikeKB
dokter maka biaya yang
dikeluarkan relatif lebih mahal. Media televisi memberikan peranan 6 % dalam
membantu menyebarkan informasi tentang KB karena hanya sedikit responden
yang memiliki televisi selain itu, informasi KB di televisi juga kurang, dan dari
pihak lainnya sebesar 9 %, yaitu dorongan dari suami, tetangga, dan orang tua.

Analisis Hubungan antara Tingkat Pendidikan Orang Tua dengan Kualitas


Anak
Diagram 4 menunjukkan hubungan antara pendidikan terakhir orang tua
dengan jumlah anak yang dimiliki.
Perspektif yang ada selama ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi
tingkat pendidikan orang tua maka ia akan memiliki kesadaran yang cukup tinggi
untuk mengatur dan merencanakan jumlah anak yang harus dimiliki, sehingga
anak tersebut lebih mendapat perhatian dan pada akhirnya kualitas anak akan
meningkat. Berdasarkan diagram 4 terlihat bahwa orang tua yang memiliki tingkat
PKMI-2-4-7

pendidikan terakhir SD (22 %) memiliki dua orang anak, meski demikian yang
memiliki jumlah anak lebih dari dua juga besar. Hal ini mengindikasikan bahwa
untuk kasus desa Cihideung Udik faktor pendidikan terakhir orang tua tidak
cukup berpengaruh terhadap jumlah anak yang dimiliki.

Diagram 4 : Jumlah Anak Berdasarkan


Pendidikan Terakhir Orang Tua
JumlahResponden(%)

25 Satu
Dua
20
Tiga
15 Empat
10 Lima
5 Enam
0 Tujuh
SD dan/ SMP dan/ SMA AKPER Delapan
MI MTs
Jenis Pendidikan

Diagram 4. Jumlah Anak Berdasarkan Pendidikan Terakhir Orang Tua

Rendahnya pemikiran untuk meningkatkan kualitas hidup anak disebabkan


karena pola pikir masyarakat masih cenderung homogen. Rata-rata tingkat
pendidikan masyarakat Desa Cihideung Udik adalah lulusan SD, yaitu sebesar 63
% dari total responden. Hal ini akan berdampak pada pola pikir orang tua dalam
membesarkan anak, bahwa pendidikan bukanlah prioritas yang penting, sehingga
tingkat pendidikan anak-anak mereka juga cenderung rendah. Pola pikir seperti ini
menyebabkan kualitas SDM menjadi rendah dan pada akhirnya produktivitas
mereka akan rendah pula.
Pola pikir masyarakat tersebut perlu untuk diubah, termasuk persepsi
masyarakat mengenai program KB, sehingga program KB tidak hanya dijadikan
sebagai cara untuk membatasi jumlah anak, tetapi juga bertujuan untuk
meningkatkan kualitas SDM, karena pada dasarnya anak merupakan investasi
yang bernilai ekonomis bagi orang tua di masa yang akan datang.
Semakin sedikit jumlah anak yang dimiliki maka kesejahteraan anak akan
lebih terjamin. Dalam jangka panjang, hal ini merupakan pendorong peningkatan
kualitas anak. Salah satu tujuan program KB adalah untuk membatasi jumlah anak
dalam rangka meningkatkan kualitas hidup anak. Menurut Todaro (2004) dalam
teori Ekonomi Fertilitas yang berlaku di negara-negara berkembang, penambahan
jumlah anak dianggap sebagai bentuk investasi.
Dalam memutuskan perlu tidaknya menambah jumlah anak, orang tua
diasumsikan memperhitungkan keuntungan dan kerugian secara ekonomis.
Keuntungan ekonomi yang diharapkan adalah pendapatan yang dihasilkan oleh
anak bila ia bekerja, serta jaminan keuangan bagi orang tua di masa depan. Di lain
pihak, terdapat dua bentuk kerugian atau biaya yang diperhitungkan. Pertama,
biaya oportunitas (opportunity cost) berupa waktu ibu untuk memelihara si anak,
sehingga tidak sempat melakukan kegiatan yang produktif. Kedua, biaya
pendidikan anak yang menyebabkan orang tua menghadapi dilema. Jika anaknya
PKMI-2-4-8

sedikit mereka bisa menyekolahkannya setinggi mungkin, sehingga berpotensi


mendapatkan penghasilan yang tinggi. Di sisi lain, jika anaknya banyak,
kemungkinan untuk menyekolahkan anak sampai jenjang yang tinggi lebih kecil,
sehingga potensi anak untuk menghasilkan pendapatan yang potensial di masa
mendatang tidak bisa terlalu diharapkan.
Berdasarkan hasil penelitian, 63 % responden memiliki satu sampai dua
anak, sementara 87 % responden berperan sebagai ibu rumah tangga yang dilihat
dari sisi ekonomi kegiatan tersebut dinilai tidak produktif. Seharusnya dengan
sedikitnya jumlah anak, para ibu dapat melakukan kegiatan ekonomi yang
produktif.
Pembatasan jumlah anak melalui program KB memungkinkan orang tua
memberikan kesempatan pendidikan yang lebih tinggi. Menurut teori Human
Capital, kualitas SDM selain ditentukan oleh kesehatan juga ditentukan oleh
pendidikan. Pendidikan dapat menambah pengetahuan dan juga meningkatkan
keterampilan tenaga kerja yang pada gilirannya akan meningkatkan produktivitas.
Produktivitas di satu pihak dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan di lain
pihak dapat meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan penduduk. Informasi
yang didapat dari hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya 5 % dari responden
yang berpikir untuk meningkatkan kualitas hidup anak melalui pendidikan
sekolah dalam jangka panjang.

KESIMPULAN
Program KB merupakan salah satu cara yang dilakukan untuk
mengendalikan jumlah penduduk, hal ini dilakukan dengan membatasi jumlah
anak yang akan dilahirkan. Dari hasil penelitian di desa Cihideung Udik dapat
diketahui bahwa masyarakat yang melakukan KB lebih terdorong karena ingin
menjaga jarak antar anak, dan karena ingin merencanakan jumlah anak yang akan
dilahirkan, ini menunjukkan bahwa keikutsertaan dalam program KB tidak
terdorong untuk meningkatkan kualitas hidup anaknya.
Peranan bidan sangat besar dalam menginformasikan KB, ini terlihat
bahwa meskipun di Desa Cihideung Udik hanya terdapat satu bidan tetapi mampu
melayani keperluan KB masyarakat desa. Mayoritas responden yaitu sebesar 84 %
mengaku cocok menggunakan alat KB, ini didukung oleh 64 % responden yang
menggunakan alat suntik KB. Dengan adanya 82 % responden yang menggunakan
alat KB dapat dilihat bahwa kesadaran masyarakat desa cukup tinggi sebab
mereka merasa efek negatif yang dirasakannya lebih kecil dibandingkan manfaat
yang diperolehnya.
Pada kasus desa Cihideung Udik, faktor pendidikan terakhir orang tua
tidak cukup berpengaruh terhadap jumlah anak yang dimiliki. Hal ini ditunjukkan
dengan 22 % responden yang berpendidikan terakhir SD memiliki dua orang anak
Pendidikan sebagai aspek yang penting belum diprioritaskan oleh sebagian
besar masyarakat, sehingga pola pikir tersebut perlu untuk diubah, termasuk
persepsi masyarakat mengenai program KB, sehingga program KB tidak hanya
dipandang sebagai cara untuk membatasi jumlah anak, tetapi juga bertujuan untuk
meningkatkan kualitas SDM, karena pada dasarnya anak merupakan investasi
yang bernilai ekonomis bagi orang tua di masa yang akan datang.
PKMI-2-4-9

DAFTAR PUSTAKA
Anas, Azwar et. al. 2005. Peningkatan Kualitas Sumber Daya Desa Cihideung
Udik Melalui Pemberdayaan Potensi Sumber Daya Alam dan Sumber
Daya Manusia. LPPM IPB, Bogor.
Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. 2004. Kesehatan Reproduksi
Menuju Keluarga Berkualitas. http://www.bkkbn.go.id. [9 Maret 2006].
. 2005. Keluarga Berencana Prasyarat Pembangunan Sumber Daya
Manusia dan Ekonomi. http://www.bkkbn.go.id. [13 Maret 2006].
Badan Pusat Statistik Kabupaten Bogor. 2004. Katalog BPS 1403. 3201. BPS,
Bogor.
Juanda, Bambang. 2003. Metodologi Penelitian. Departemen Ilmu Ekonomi
Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Medicastore. 2005. Keluarga Berencana. http://www.medicastore.com/cybermed/
detail_pyk.php?idktg=17&iddtl=575 - 50k. [13 Maret 2006].

Noerdin, Mazwar. 2003. Peningkatan Kesejahteraan Rakyat melalui Program


Keluarga Berencana Nasional. BKKBN, Jakarta.
Pemerintah Desa Cihideung Udik. 2004. Laporan Pelaksanaan Tugas Kepala
Desa Cihideung Udik Kecamatan Ciampea. Pemerintah Kabupaten Bogor,
Bogor.
Supriyoko, Ki. 2004. "HDI Indonesia Tetap Rendah". [Kompas Online].
http://www.jpkm-online.net .[13 Maret 2006].
Todaro, Michael P. Dan Stephen C. Smith. 2004. Pembangunan Ekonomi di
Dunia Ketiga. Erlangga, Jakarta.
PKMI-2-5-1

SOFTWARE ANALYZER UNTUK MENGANALISIS


GANDENGAN TIGA PIPA SEBAGAI FILTER AKUSTIK

Lia Laela Sarah


Jurusan pendidikan Fisika, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung

ABSTRAK
Gandengan tiga pipa sebagai filter akustik dapat dianalisis dari persamaan
transmitansi akustiknya. Harga transmitansi akustik ini bergantung pada
perbandingan luas penampang pipa dan panjang buffer. Analisis konstruksi dapat
dipermudah dengan software analyzer yang telah dibuat menggunakan delphi 5.
Software ini juga dapat digunakan untuk menentukan panjang buffer yang
optimal untuk menapis frekuensi yang dikehendaki.
Kata kunci: filter akustik, transmitansi akustik, software analyzer

PENDAHULUAN
Dalam kehidupan sehari-hari gandengan tiga pipa telah banyak digunakan
berkaitan dengan fungsinya sebagai filter akustik, misalnya untuk mengurangi
tingkat kebisingan, pada kendaraan bermotor biasa dilengkapi dengan mufflers
atau disebut juga filter. Mufflers atau filter memiliki konstruksi yang khas yaitu
merupakan gandengan tiga pipa dengan diameter dua pipa bagian tepi berukuran
sama dan penampang pipa tengah (buffer) lebih besar dari keduanya, tampak pada
Gambar 1. Contoh lain dari penerapan gandengan tiga pipa sebagai filter akustik
diantaranya pada saluran pembuangan gas (exhaust chamber), peredam pistol
(silencer), bahkan kalau diperhatikan prinsip gandengan ini terdapat juga dalam
konstruksi ruang pleno atau ruang pertunjukan yang bertujuan untuk
mengeleminasi adanya pengaruh gelombang bunyi dari luar.

Gambar 1 Knalpot Kendaraan bermotor

Dalam bidang fisika, salah satu penggunaan gandengan tiga pipa sebagai
filter akustik yaitu pada eksperimen Spektroskopi Fotoakustik (SFA) misalnya
yang telah digunakan oleh Angeli pada tahun 1991, lihat Gambar 2.

50 8
8

42

Gambar 2 Filter Akustik pada eksperimen SFA (Angeli,1991)


PKMI-2-5-2

Oleh karena itu penulis melakukan suatu studi literatur mengenai analisis
perambatan gelombang dalam gandengan tiga pipa dan hasil yang diperoleh
dituangkan dalam sebuah software analyzer yang dapat digunakan untuk
mempermudah analisis selanjutnya.

Gelombang Akustik
Pada dasarnya gelombang akustik merupakan fluktuasi tekanan dalam
medium yang fungsinya dinyatakan oleh persamaan (Kinsler,1985) :
~
p = Ae i ( kx t ) (1)
~
Perbandingan dari tekanan gelombang akustik p dalam medium dengan
kecepatan partikel medium u didefinisikan sebagai impedansi spesifik akustik
dari medium z yang dinyatakan (Kinsler, 1985) :
~p
z= , (2)
u
Untuk gelombang yang menjalar ke arah kanan dan dengan mensubstitusikan
harga kecepatan gelombang dalam medium maka persamaan di atas menjadi :
z = v . (3)
yang disebut juga impedansi karakteristik. Sifat fisis lain dari medium dalam pipa
yang dilalui gelombang dinyatakan oleh besaran impedansi akustik. Impedansi
akustik Z dari medium yang menempati ruang dengan luas permukaan S
didefinisikan sebagai perbandingan antara tekanan gelombang akustik ~ p pada
permukaan dengan kecepatan aliran elemen volume medium yang dinyatakan
oleh persamaan (Kinsler, 1985) :
~
p
Z= (4)
dX dt
Untuk satu fase gelombang yang melalui luas permukaan tertentu, karena
gerak partikel elemen fluida searah permukaan pada setiap titik maka :posisi
elemen fluida yang melalui permukaan diperikan oleh persamaan (Zahara
Muslim,1998) :
X = S , (5)

dan dengan menurunkannya terhadap t kemudian mensubstitusikan pers.(2) dan


pers. (4) diperoleh harga impedansi akustik sebesar :
z
Z= (6)
S
Harga impedansi akustik ini merupakan variabel yang mempengaruhi besarnya
daya atau arus energi gelombang dalam pipa tersebut yang besarnya dapat
dituliskan :
~
p2
P= (7)
Z
Adapun perbandingan daya gelombang yang ditransmisikan (Pt) dengan daya
gelombang datang (Pd) didefinisikan sebagai besaran transmitansi (T) :
P
T= t (8)
Pd
PKMI-2-5-3

Transmisi Gelombang Akustik Dalam Gandengan Tiga Pipa


Dalam gandengan tiga pipa seperti gb.(3), gelombang akustik yang
menjalar pada pipa pertama S1, dinyatakan oleh :
pi (1) = A1e i (t kx ) (9)
Setelah gelombang ini melewati perbatasan pada x = 0, karena pada pipa kedua S2
ada perbedaan impedansi akustik, maka daya gelombang yang ditransmisikan
menjadi berubah, sebagian daya gelombang dipantulkan kembali menuju pipa
pertama.
x=l
x=0

S1 S2 S3

Gambar 3 Gandengan tiga pipa dengan luas penampang berbeda

Adapun persamaan gelombang tekanan yang dipantulkan menuju pipa satu


dan persamaan gelombang yang diteruskan ke pipa 2 dinyatakan berturut-turut
oleh pers. (10) dan pers.(11) yaitu :
p r (1) = B1e i (t +kx ) (10)
pi ( 2 ) = A2 e i (t kx ) . (11)

Demikian juga pada saat melewati perbatasan pipa ketiga yaitu pada x = l,
sebagian daya gelombang yang diteruskan dan sebagian lagi dipantulkan kembali.
Sehingga dalam pipa dua persamaan gelombang pantulnya adalah :

pr ( 2 ) = B2 e i (t + kx ) (12)

dan persamaan gelombang tekanan yang ditransmisikan dalam pipa tiga yaitu :

p t ( 3) = A3 e i [t k ( x l )] (13)

Dalam hal ini A1, B1, A2, B2, A3 merupakan amplitudo gelombang pada masing-
masing pipa, k yaitu bilangan gelombang , yaitu frekuensi gelombang dan l
yaitu panjang pipa kedua (buffer).
Pada saat gelombang melalui perbatasan x = 0, berlaku kontinuitas
tekanan artinya total seluruh gelombang pada pipa pertama akan sama dengan
total gelombang pada pipa kedua, sehingga berlaku :
pi (1) + pr (1) = pi ( 2 ) + pr ( 2 ) (14)
Selain kontinuitas tekanan, pada perbatasan ini juga berlaku kontinuitas kecepatan
aliran fluida, dalam hal ini adalah kontinuitas kecepatan partikel medium yang
berosilasi antara pipa pertama dan pipa kedua pada saat dilalui gelombang.
Persamaan kontinuitas kecepatan aliran partikel ini memenuhi :
PKMI-2-5-4

S1 (ui (1) + ur (1) ) = S 2 (ui ( 2) + ur ( 2 ) ) , (15)


Demikian juga pada saat gelombang melewati perbatasan pipa x=l,
berlaku kontinuitas tekanan dan kontinuitas aliran partikel, sehingga diperoleh
persamaan :
A
A1 = 3 {(1 + s13 ) cos kl + i ( s12 + s23 ) sin kl} (16)
2
S S S
dengan s12 = 2 , s 23 = 3 dan s13 = 3
S1 S2 S1
Dengan demikian harga transmitansi akustik yang berlaku dalam
gandengan tiga pipa sesuai dengan gb.3 adalah :
4s13
T= (17)
(1 + s13 ) cos kl + ( s12 + s23 ) 2 sin 2 kl
2 2

Harga stasioner dari persamaan transmitansi tersebut terjadi pada saat dilalui oleh
gelombang yang frekuensinya memenuhi persamaan :
nv
f = atau (18)
2l
(2n 1)v
f = (19)
4l
Bila disubstitusikan dalam persamaan derivatif kedua dari persamaan transmitansi
tersebut akan menghasilkan transmitansi maksimum sebesar :
4s13
Tmaks = (20)
(1 + s13 ) 2
dan menghasilkan transmitansi minimum sebesar :
4s13
Tmin = (21)
( s12 + s23 ) 2

SOFTWARE ANALYZER
Software analyzer merupakan suatu program grafik yang berguna untuk
mempermudah analisis konstruksi gandengan tiga pipa sebagai filter akustik
dilihat dari grafik transmitansinya. Selain itu program ini juga dapat digunakan
untuk menentukan panjang buffer yang optimal sehingga mampu menapis
frekuensi yang dikehendaki. Program ini dibuat dengan menggunakan delphi 5.
Adapun tampilan program tampak pada gb.4.
Tampilan pada gb.(4.a) merupakan halaman keterangan yaitu mengenai
keterangan pembuat program, dalam hal ini adalah penulis sendiri. Tampilan pada
gb.(4.b) yaitu halaman penentuan karakteristik pipa, tampilan ini merupakan
program grafik transmitansi pers.(17) dengan variabel bebas frekuensi dan
transmitansi minimum sesuai pers.(21). Pada halaman ini, kita dapat menganalisis
suatu filter akustik dengan memasukan harga konstruksi pipa. Dan tampilan 3
gb.(4.c) yaitu halaman penentuan panjang pipa, fungsinya adalah untuk
menentukan panjang buffer optimal sehingga mampu menapis gelombang akustik
dengan frekuensi sesuai yang diharapkan.
Kelemahan software ini adalah belum dapat menentukan perbandingan
luas penampang yang optimal bila transmitansi minimumnya telah ditentukan
terlebih dahulu. Untuk mengatasinya, kita dapat melakukan teknik ujicoba yaitu
PKMI-2-5-5

dengan memasukan data terlebih dahulu dalam konstruksi pipa, kemudian dilihat
harga transmitansi minimumnya, bila tidak sesuai kita bisa mengganti data
masukannya dengan mudah sampai diperoleh harga transmitansi yang diinginkan.

Gambar 4.a. Tampilan 1

Gambar 4.b. Tampilan 2


PKMI-2-5-6

Gambar 4.c Tampilan 3

ANALISIS DAN PEMBAHASAN


Dari pers.(17) tampak bahwa besarnya transmitansi akustik dalam
gandengan tiga pipa bergantung pada perbandingan luas penampang pipa dan
panjang buffer. Karena bilangan gelombang dalam hal ini bukan bagian dari
konstruksi pipa, maka tidak dapat dikatakan sebagai karakteristik pipa. Dengan
mengambil hubungan antara bilangan gelombang dan frekuensinya, maka
persamaan di atas secara praktis dapat digunakan untuk menganalisis konstruksi
gandengan tiga pipa sebagai filter akustik dalam rentang frekuensi yang
diharapkan dengan memerikannya dalam grafik.
Selanjutnya, mari kita tinjau suatu filter akustik yang digunakan oleh
Angeli pada tahun 1991 dengan diameter pipa pertama sama dengan diameter pipa
ketiga sebesar 8 mm dan diameter buffer 50 mm panjangnya 42 mm tampak pada
gb.(2). Grafik transmitansinya terlihat pada gb.(5).
Dari grafik dapat dilihat untuk rentang frekuensi antara 0-2000 Hz grafik fungsi
menurun, dari 2400-3000 Hz grafik mulai terlihat naik kembali. Hal ini
menunjukan bahwa daya gelombang akustik yang berfrekuensi sekitar 1800 Hz
2300 Hz (~2 kHz) mengalami transmisi yang paling kecil dilihat dari harga
transmitansinya yang merupakan transmitansi minimum dan harganya cukup kecil
(tmin = 0.0026). Dari tafsiran grafik tersebut dapat disimpulkan bahwa konstruksi
ini dapat menapis frekuensi gelombang akustik yang memiliki range frekuensi
sekitar 2 kHz. Hasil analisis ini sesuai dengan hasil eksperimen yang dilakukan
oleh Angeli (1991).
PKMI-2-5-7

Gambar 5. Grafik Transmitansi dari filter akustik Angeli.(1991)

Bila konstruksi ini ingin kita gunakan sebagai filter akustik yang mampu
menapis gelombang akustik dengan range frekuensi 3000 Hz, maka panjang
buffer yang optimal dapat ditentukan dari grafik transmitansi Gambar 6 :

Gambar 6 Grafik transmitansi untuk menentukan panjang buffer

Dari grafik, terlihat panjang buffer yang dapat menapis frekuensi tersebut
berada pada rentang 24-34 mm dan panjang buffer dengan transmitansi minimum
yaitu sekitar 28 mm. Dari tafsiran ini dapat disimpulkan bahwa konstruksi pipa di
atas bila ingin dijadikan filter akustik yang mampu menapis frekuensi 3 kHz maka
panjang buffer optimal yang dapat digunakan yaitu 28 mm.
PKMI-2-5-8

KESIMPULAN DAN SARAN


Berdasarkan persamaan transmitansi gelombang akustik, gandengan tiga
pipa dapat dianalisis sebagai filter akustik untuk range frekuensi tertentu.
Besarnya transmitansi minimum akustik ditentukan oleh perbandingan luas
penampang pipa Adapun untuk mendapatkan filter akustik yang mampu menapis
harga frekuensi tertentu dapat divariasikan dari panjang buffer. Dalam
menganalisis dan merancang filter akustik dipermudah dengan bantuan software
analyzer yang telah dibuat menggunakan Delphi 5.
Untuk penelitian lebih lanjut dapat dibahas mengenai :
1. Harga optimal perbandingan luas penampang filter akustik yang dapat
digunakan sehingga transmitansi akustik yang diperoleh sangat minimum atau
mendekati nol.
2. Menganalisa konstruksi filter yang hanya mampu menapis satu frekuensi
gelombang akustik.
3. Melakukan eksperimen untuk mengetahui frekuensi gelombang dalam
kendaraan bermotor baik dalam keadaan diam maupun dalam keadaan
bergerak, kemudian dianalisis sehingga diperoleh konstruksi filter yang
sesuai.

DAFTAR PUSTAKA
Angeli, G.Z., Bozoki, Z.,Miklos, A., Lorinz, A., Thony, A, Sigrist, M. W.1991.
Design an Characterization of windowless resonant Photoacoustic
Chamber Equippedwith Resonance Locking Circuitry. Rev. Sci. Instrum.
Vol.62, No. 3, 810-813.
Kinsler, E. Lawrence dan Frey, R.Austin, 1985. Fundamental of Acoustic. John
Wiley & Sons. INC., London
Muslim, Zahara.1998. Gelombang dan Optika. Jurusan Fisika FPMIPA-UGM,
Yogyakarta.
Nurulhana, M. 2002. Pemrograman Software Multimedia Pembelajaran Dengan
Bahasa Delphi. Laboratorium Komputer Pendidikan Jurdik Kimia UPI,
Bandung
PKMI-2-6-1

PEMANFAATAN RANGKAIAN PENGUKUR INTENSITAS CAHAYA


UNTUK RANCANG BANGUN ALAT PENGUKUR
TINGKAT KEKERUHAN AIR

Riza Uldin A, Masroah


Jurusan Fisika, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Semarang, Semarang

ABSTRAK
Air yang keruh akan menyebabkan intensitas cahaya yang masuk kedalamnya
berkurang. Dengan demikian tingkat kekeruhan air dapat dideteksi dengan alat
pengukur intensitas cahaya. Kegiatan rancang bangun dilakukan dengan tujuan
untuk menghasilkan alat yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat
kekeruhan air sebagai pemanfaatan piranti elektronika berupa fototransistor.
Proses rancang bangun meliputi pembuatan rangkaian Op-Amp sederhana yang
berfungsi sebagai penguat dan desain sistem sensor fototransistor yang bekerja
berdasar prinsip efek fotolistrik. Alat hasil kegiatan rancang bangun
dikarakterisasi dengan melakukan kalibrasi. Caranya adalah dengan
membandingkan besaran keluaran yang ditunjukkan oleh alat ukur, yaitu berupa
tegangan, dengan hasil pengukuran intensitas cahaya yang dihasilkan oleh
luxmeter produk industri. Ujicoba aplikasi alat untuk mengukur tingkat kekeruhan
air dilakukan pada air yang dibuat keruh secara sengaja, yaitu dengan
menambahkan bahan berupa tinta dan bubuk susu coklat. Hasil karakterisasi
menunjukkan bahwa perubahan konsentrasi larutan tinta dan susu coklat
(sebagai indikasi tingkat kekeruhan) pada air berpengaruh pada tegangan
keluaran yang dihasilkan. Semakin bertambah konsentrasinya (yang berarti
semakin keruh) tegangan keluaran yang dihasilkan juga semakin kecil.
Perubahan tegangan keluaran terhadap tingkat kekeruhan mengikuti pola
eksponensial turun, sebagaimana terjadi pada banyak proses yang berlangsung
secara alamiah. Cara pengukuran tingkat kekeruhan air dengan alat ini tidak
dapat dilakukan oleh alat pengukur intensitas cahaya yang tidak resisten
terhadap cairan, seperti luxmeter produk industri yang ada di Laboratorium
Fisika UNNES. Sifat sistem sensornya yang permisif untuk dicelupkan ke dalam
air dan biaya pembuatannya yang murah adalah di antara keunggulan dari alat
ini selain hasil pengukuran yang baik.
Kata Kunci: Fototransistor, Turbidymeter, luxmeter, Intensitas cahaya, LED.

A. PENDAHULUAN
Secara fisis air bersih diindikasikan dengan keadaannya yang bening, tidak
berwarna dan tidak berbau. Kondisi seperti ini terjadi jika air tidak dikotori oleh
bahan organik atau anorganik. Sedangkan secara optis, air yang tercampuri oleh
bahan pengotor keadaannya akan berubah, mungkin menjadi berwarna atau
menjadi keruh.
Air yang keruh akan menyebabkan intensitas cahaya yang masuk
kedalamnya menjadi berkurang. Cahaya yang melewati air yang keruh akan
mengalami pengurangan intensitas cahaya secara mencolok. Hal tersebut
disebabkan cahaya yang melewati air keruh mengalami penyerapan atau
pemantulan, sehingga hanya sedikit yang diteruskan. Berkurangnya intensitas
PKMI-2-6-2

cahaya tersebut dapat dideteksi oleh alat yang peka terhadap perubahan intensitas
cahaya, yaitu fototransistor.
Fototransistor dapat dimanfaatkan sebagai rangkaian pengukur intensitas
cahaya dengan sebuah rangkaian penguat sederhana berdasar rangkaian Op Amp.
Dengan demikian secara praktis rangkaian pengukur intensitas cahaya yang
bekerja karena perubahan intensitas cahaya ini dapat digunakan juga untuk
mendeteksi tingkat kekeruhan air.
Sebenarnya di pasaran telah tersedia alat untuk menentukan tingkat
kekeruhan air, misalnya alat yang dinamakan Turbidymeter. Sayangnya alat
tersebut berharga sangat mahal, sehingga hanya pihak-pihak (biasanya
perusahaan) tertentu saja yang memilikinya. Oleh karena itu kegiatan
pengembangan rancang bangun alat pengukur tingkat kekeruhan air ini memiliki
prospek kedepan yang bagus. Meskipun wujud rancang bangunnya sederhana,
tetapi unjuk kerjanya sangat baik. Selain itu alat ini sangat ekonomis, karena biaya
pembuatannya sangat murah dan mudah dalam mengoperasikannya. Dengan
demikian alat ini sangat cocok untuk digunakan oleh masyarakat umum yang
tidak memerlukan unjuk kerja berpresisi tinggi.
Dalam tulisan ini dilaporkan hasil kegiatan yang bertujuan melakukan
studi mengenai proses rancang bangun dan karakterisasi alat untuk mengukur
tingkat kekeruhan air dengan memanfaatkan rangkaian pengukur intensitas
cahaya.

Air dan intensitas cahaya


Air bersih yang ideal adalah jernih, tidak berwarna, tidak berasa, tidak
berbau, tidak mengandung pathogen, tidak mengandung zat kimia yang dapat
mengubah fungsi tubuh, tidak korosif dan tidak meninggalkan endapan pada
seluruh jaringan distribusinya. Pada hakekatnya, tujuan pembuatan batasan
tersebut untuk mencegah terjadinya serta meluasnya penyakit bawaan air (water-
borne diseases). (Juli Soemantri Slamet, 1994). Di Indonesia, standar air minum
yang berlaku di buat pada tahun 1975 yang kemudian diperbaiki pada tahun 1990.
Kekeruhan air disebabkan oleh zat padat yang terlarut, baik yang bersifat
anorganik maupun yang organik (Siti Khanafiah dkk., 1999). Zat anorganik
biasanya berasal dari lapukan batuan dan logam, sedangkan yang organik dapat
berasal dari lapukan tanaman dan kotoran hewan. Buangan industri dapat pula
merupakan sumber kekeruhan. Zat organik dapat menjadi makanan bakteri,
sehingga mendukung perkembangbiakannya. Bakteri ini juga merupakan zat
organik terlarut, sehingga pertambahannya akan menambah pula kekeruhan air.
Air yang keruh sulit didesinfeksi, karena mikroba terlindung oleh zat terlarut
tersebut. Hal ini tentu berbahaya bagi kesehatan, bila mikroba ini pathogen.
Tingkat kekeruhan air dapat diukur dengan alat ukur yang disebut
Turbidymeter, atau dengan membandingkan tingkat kekeruhan suatu air dengan
atau perairan dengan air bersih. (Gabriel. J.F. 1996).
Pengukuran intensitas cahaya didasarkan pada banyaknya energi cahaya
yang diterima oleh alat ukur. Banyaknya energi cahaya yang diterima atau diukur
oleh alat ukur dipengaruhi oleh fluks cahaya dan penghalang atau pengotor.
Bermacam-macam satuan pengukuran intensitas cahaya digunakan selama
bertahun-tahun. Satuan Lux berkaitan dengan banyaknya energi cahaya yang jatuh
pada suatu permukaan dalam satu detik yang disebut kuat penerangan (illuminasi).
PKMI-2-6-3

Satuan yang berkaitan dengan pancaran cahaya dari sumber cahaya standar adalah
candela ( tidak jauh berbeda dengan cahaya yang dipancarkan dari lilin sebagai
sumber cahaya standar awal).
Q
F= ..................................................................................1
t
dimana:
F = fluks cahaya (lumen)
Q = energi cahaya (lumen second atau lum.sec)
t = waktu (second).
Jika fluks cahaya mengenai sebuah permukaan, maka dikatakan bahwa
permukaan itu diterangi. Illuminasi E adalah fluks cahaya yang menyinari daerah
per satuan luas.
dF
E= ..................................................................................2
dA
dimana:
dF = fluks cahaya yang mengenai daerah luasan kecil (lumen)
dA = daerah luasan kecil (m2 )
jika kuat penerangan sama untuk semua titik pada permukaan dengan luasan
tertentu, dan F adalah fluks cahaya yang mengenai permukaan tersebut, maka
besarnya kuat penerangan dirumuskan
F
E = ....................................................................................3
A
Fototransistor
Fototransistor adalah sebuah detektor cahaya yang merupakan kombinasi
fotodioda dan penguatan transistor (Malcolm Plant, Jan stuart. 1985). Disini lensa
memfokuskan cahaya pada bagian tipe P (sangat kecil), sedangkan penutupnya
yaitu tipe N kolektor dan tipe N emitor. Walaupun fototransistor terbagi atas 3
bagian, tapi transistor hanya mempunyai dua pin. Arus listrik yang mengalir pada
komponen ini berasal dari cahaya yang jatuh pada sambungan basis-kolektor pada
fototransistor.
Arus listrik fototransistor sangat dipengaruhi oleh intensitas cahaya yang
masuk pada jendela transistor dan sedikit dipengaruhi oleh tegangan yang
digunakan pada rangkaian luar. Besarnya sudut yang dibentuk transistor dan
sumber cahaya adalah faktor yang penting. Diasumsikan bahwa illuminasi
fotojunction adalah sebanding dengan cosinus sudut arah pancaran cahaya yang
tegak lurus terhadap permukaan fotojunction. Adanya lensa optik atau jendela
akan lebih mempertajam kepekaan fototransistor.

Light Emiting Diode (LED)


LED merupakan suatu semikonduktor sambungan PN yang memancarkan
cahaya apabila diberi panjar maju (Sutrisno. 1987). Semikonduktor tipe N
mempunyai sejumlah elektron bebas. Sedangkan semikondukor tipe P memiliki
sejumlah hole bebas. Jika semikonduktor tipe N dan P disambungkan akan
terbentuk suatu penghalang energi (junction). Baik hole bebas maupun elektron
bebas tidak memiliki cukup energi untuk berekombinasi. Apabila diberi suatu
tegangan maju maka besarnya junction akan mengecil, sehingga elektron bebas
PKMI-2-6-4

dan hole bebas memiliki cukup energi untuk berpindah melewati sambungan,
maka elektron akan turun kebidang valensi dan kemudian berekombinasi dngan
hole tersebut. Energi yang dilepaskan pada peristiwa itu akan diubah menjadi
energi optik dalam bentuk foton. (Sutrisno. 1987)
Rangkaian pengukur intensitas cahaya
Rangkaian ini pada dasarnya memanfaatkan perubahan intensitas cahaya.
Alat yang memiliki kepekaan terhadap intensitas cahaya adalah fototransistor.
Karena fototransistor menghasilkan sinyal yang kecil maka perlu diperkuat
sehingga dapat diukur oleh alat ukur (meter). Gambar 1 menunjukkan sebuah
rangkaian penguat sederhana yang didasarkan atas Op Amp 741 yang
menghasilkan tegangan keluaran menurut persamaan
Vout=-Iph x Rf...........................................................................4
dimana:
Vout = tegangan keluaran (V)
Iph = arus listrik yang dihasilkan fototransistor (A)
Rf = nilai hambatan pada variable resistor (VR1) (Ohm)
R

cahaya LM
Fototransistor 741

Gambar 1. Rangkaian pengukur intensitas cahaya


(Herman Widodo Soemitro. 1992)

METODE PENDEKATAN
Tahap Perancangan Alat Ukur
Perancangan telah dilakukan pada beberapa elemen yang diperlukan untuk
membuat alat ukur. Tahap pertama adalah membuat rancangan sistem rangkaian
elektronika yang dapat digunakan untuk mendeteksi perubahan intensitas cahaya
dengan menggunakan sensor berupa piranti fototransistor. Selanjutnya dibuat pula
rancangan atau desain PCB yang diperlukan untuk merealisasi pembuatan
rangkaian. Selain itu didesain pula kotak alat ukur yang berfungsi sebagai
kemasan sekaligus melindungi sistem rangkaian elektronika yang ada di
dalamnya. Perancangan alat ukur dilengkapi dengan desain rangkaian sensor
eksternal yang berfungsi sebagai detektor.
PKMI-2-6-5

4
2 3

1 6

inset 8

Gambar 2. Inset desain jalur rangkaian alat ukur pada PCB dan desain
bagian dalam kotak alat ukur.
Keterangan:
1. Fototransistor 5. PCB (rangkaian)
2. Tempat baterai 9 volt 6. Penghubung
3. Tampilan (display) 7. Potensio
4. Potensio pengatur tegangan 8. Trimpot untuk mengatur batas voltmeter

Tahap Pembuatan Alat Ukur


Pembuatan alat ukur diawali dengan membuat sistem rangkaian
elektronika yang diperlukan dan selanjutnya dicoba pada papan proyek (project
board atau bread board). Setelah uji rangkaian dengan papan proyek berjalan atau
berhasil, selanjutnya dibuat PCB dengan menggunakan bahan pertinaks berlapis
tembaga yang dijual di pasaran. Setelah PCB selesai, komponen-komponen sistem
rangkaian elektronika dipasang pada PCB tersebut (dengan disolder). Selanjutnya
rangkaian yang sudah jadi dipasang pada kotak alat yang berfungsi memberi
tampilan alat sekaligus melindungi komponen elektronika yang ada di dalamnya.
3
2 4 7

9
8

1 5
Gambar 3. Desain kotak alat ukur tingkat kekeruhan air
Keterangan;
1. Kotak alat ukur 6. Saklar pengatur fungsi alat
2. Tampilan 7. Saklar On-Off
3. Pengatur keterangan LED out 8. Penghubung sensor eksternal
4. Pengkalibrasi (pengatur gain) 9. Fototransistor
5. LED penunjuk On
PKMI-2-6-6

Kotak alat dibuat dengan menggunakan bahan utama berupa lempeng


alumunium. Pengerjaan pembuatan kotak dilakukan di ruang Workshop/Bengkel
Laboratorium Fisika UNNES. Selanjutnya dibuat sistem sensor yang berfungsi
sebagai detektor. Sistem kotak alat ukur dan sensor tersebut kemudian digabung
dan siap untuk digunakan atau dikarakterisasi.

3
Keterangan:
1
1. LED
2 2. Fototransistor
3. Penghubung

Gambar 4. Desain rangkaian sensor eksternal yang berfungsi sebagai detektor.

Karakterisasi
Karakterisasi alat dilaksanakan dengan melakukan kalibrasi alat, yaitu
membandingkan hasil pengukuran intensitas cahaya dengan alat hasil rancang
bangun dengan hasil pengukuran dengan memggunakan luxmeter. Sensor
fototransistor dan luxmeter diletakkan pada jarak yang sama terhadap satu sumber
cahaya. Oleh alat hasil rancangan, besarnya intensitas sumber cahaya ditunjukkan
oleh indikator keluaran berupa tegangan. Ketika melakukan kalibrasi, alat tersebut
dioperasikan bersama-sama dengan luxmeter dan tegangan keluaran yang
dihasilkan dikalibrasi terhadap nilai yang ditunjukkan oleh luxmeter. Kuat
penerangan sumber cahaya (lampu) yang ddigunakan dibuat bervariasi dengan
cara mengubah masukan Vi dari pengatur tegangan dengan rentang tegangan 10-
240 volt.

Pengukuran Tingkat Kekeruhan Air


Aplikasi alat untuk mengukur tingkat kekeruhan air dilakukan pada air
yang dibuat keruh secara sengaja. Manipulasi tingkat kekeruhan dilakukan dengan
menggunakan tinta dan bubuk susu coklat dengan cara mengubah-ubah
konsentrasinya. Tingkat kekeruhan hasil penambahan tinta atau susu coklat
tersebut dicari pengaruhnya terhadap tegangan keluaran yang dihasilkan alat.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Alat ukur tingkat kekeruhan air menggunakan sensor fototransistor yang
berfungsi mengubah energi cahaya menjadi arus listrik. Cahaya yang mengenai
fototransistor menghasilkan arus fotolistrik iph yang dikonversikan menjadi
tegangan (current to voltage converter). Tegangan keluaran yang dihasilkan
dirumuskan sebagai Vout=iph x Rf. hambatan Rf merupakan hambatan dari
potensio VR1. dan ditampilkan dalam voltmeter sehingga dapat dikatakan bahwa
yang berperan sebagai pengatur besar tegangan hasil adalah hambatan Rf. prinsip
inilah yang digunakan pada pengukuran tingkat kekeruhan air. Cahaya LED yang
diatur sedemikian rupa akan diterima fototransistor yang diletakkan tepat
didepannya. Semakin keruh air yang terletak antara komponen LED dan
PKMI-2-6-7

fototransistor, maka semakin kecil cahaya LED yang diterima fototransistor


akibatnya tegangan yang dihasilkan akan semakin kecil.

Karakterisasi alat ukur tanpa filter

Grafik karakteris as i alat ukur tingkat kekeruhan air


9.00
8.00
Tegangan keluaran (volt)

7.00
6.00
5.00 data naik
4.00
data turun
3.00
2.00
1.00
0.00
-1.00 0 50 100 150 200 250 300

Tegangan masukan (volt)

Gambar 5. Grafik karakterisasi alat ukur tingkat kekeruhan air tanpa filter

Pada gambar 5 tampak bahwa tegangan keluaran akan meningkat, ketika


tegangan masukkan berkisar 0 sampai 80 volt. Pada tegangan masukan 80 volt
dihasilkan tegangan keluaran tertinggi 7,88 volt. Dan ketika tegangan masukan
lebih dari 80 volt, maka tegangan keluaran yang dihasilkan adalah konstan atau
cenderung menurun. Hal ini disebabkan fototransistor memiliki karakteristik
dipengaruhi oleh intensitas cahaya yang masuk pada jendela transistor dan sedikit
dipengaruhi oleh tegangan yang digunakan dalam rangkaian. Fototransistor
bertindak sebagai sumber arus listrik konstan, dan arus listrik itu hampir semua
tergantung pada illuminasi dan tegangan. Dapat dikatakan bahwa pada tegangan
masukan 80 volt fototransistor menghasilkan arus yang paling tinggi, selebihnya,
arus yang dihasilkan fototransistor adalah konstan atau cenderung menurun.

Karakterisasi alat ukur dengan filter

Graf ik karakterisasi (naik-turun) pada alat ukur kekeruhan


air dengan f ilter
9.00
8.00
Tegangan keluaran (volt)

7.00
6.00
5.00 data naik
4.00
data turun
3.00
2.00
1.00
0.00
-1.00 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 220 240 260
Tegangan masukan (volt)

Gambar 6. Grafik karakterisasi alat ukur tingkat kekeruhan air dengan filter.
PKMI-2-6-8

Gambar 6 pada dasarnya menyerupai gambar 5. hanya saja tegangan


masukan yang digunakan maksimal 90 volt. Tegangan masukan 90 volt
menghasilkan tegangan keluaran sebesar 7,92 volt. Dan dari gambar 6 dapat
dikatakan bahwa pemberian filter berupa mika, dapat meningkatkan daerah
pengukuran pada alat ukur.

Pengukuran Tingkat Kekeruhan Air


Pada gambar 7 dan 8, tampak bahwa perubahan konsentrasi larutan tinta
dan susu coklat pada air bersih mempengaruhi besarnya tegangan keluaran.
Penambahan konsentrasi tinta dan susu coklat pada air bersih mengakibatkan
penurunan tegangan keluaran, yang berlangsung secara eksponensial.

Grafik kekeruhan air oleh oleh tinta

0.200
Tegangan (volt)

0.150
data 1
0.100 data 2
data 3
0.050
data 4
0.000 data 5
0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50
konsentrasi larutan (ml/100ml)

Gambar 7. Grafik tingkat kekeruhan air oleh tinta

Grafik kekeruhan air oleh susu coklat


0.200
Tegangan (Volt)

0.150
data 1
0.100
data 2
0.050 data 3

0.000 data 4
0.000 5.000 10.000 15.000 data 5

Konsentrasi larutan (gram/100ml)

Gambar 8. Grafik tingkat kekeruhan air oleh susu coklat

Penurunan tegangan yang dihasilkan oleh penambahan konsentrasi tinta


inilah yang dinamakan pencemaran. Jadi semakin tinggi tingkat pencemaran maka
akan semakin menurun tegangan keluaran yang dihasilkan.
PKMI-2-6-9

Dari kedua macam perlakuan tersebut, grafik yang dihasilkan memiliki


bentuk hampir sama yaitu keduanya berbentuk grafik eksponensial hanya saja
tegangan terlihat berbeda pada konsentrasi sama. Hal ini dikarenakan bahan
pencemar pada ample berbeda. Grafik yang tampak ini menyerupai proses
peluruhan yang terjadi di alam.

KESIMPULAN
Berdasarkan karakterisasi terhadap alat hasil rancangan dapat disimpulkan
bahwa alat yang telah dibuat mampu memberikan respon yang signifikan terhadap
perubahan tingkat kekeruhan air. Respon meningkatnya kekeruhan air ini berupa
penurunan tegangan yang memiliki kecenderungan eksponensial.
Agar alat ukur tingkat kekeruhan air dapat dipakai oleh masyarakat umum
secara mudah maka perlu dipikirkan mengenai konversi respon tegangan kedalam
bentuk display yang disesuaikan dengan skala kekeruhan yang berlaku.

DAFTAR PUSTAKA
Gabriele J. F. 1996. Fisika Kedokteran. Jakarta: EGC.
Juli Soemirat Slamet. 1994. Kesehatan Lingkungan. Jogjakarta: Gajah Mada
University Press.
Malcolm Plant, Jan stuart. 1985. Pengantar Ilmu Instrumentasi. Jakarta: PT
Gramedia.
Robert F.C dan Frederick F. D. 1985, diterjemah: Herman Widodo Soemitro.
1992. Penguat Operasional dan Rangkaian Terpadu Linier. Jakarta: PT
Gelora Aksara Pratama.
Siti Khanafiah dkk. 1999. Fisika Lingkungan. Semarang: Fisika FMIPA UNNES.
Sutrisno. 1987. Elektronika 2. Teori dan Penerapannya. Bandung: penerbit ITB
Bandung
PKMI-2-7-1

EKSTRAK ETANOL BIJI MAHKOTA DEWA (PHALERIA


MACROCARPA (SCHEFF.) BOERL.) MENINGKATKAN EKSPRESI
CASPASE-3 AKTIF PADA CELL LINE CA COLON WIDR

Anis Widyasari, Dwi Retnoningsih, Naima Lassie


Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

ABSTRAK
Tanaman mahkota dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.) oleh masyarakat
sering digunakan untuk pengobatan kanker, namun mekanismenya sebagai
antikanker belum diketahui. Baru-baru ini, ekstrak etanol biji mahkota dewa
diperlihatkan memiliki efek sitotoksik pada cell line Ca colon WiDr. Pada
penelitian ini kami ingin mengetahui apakah kematian cell line Ca colon yang
diberi ekstrak etanol biji mahkota dewa tersebut terjadi dengan pengaktifan jalur-
jalur apoptosis, dengan melihat ekspresi dari caspase-3 aktif. Cell line ca colon
WiDr diinkubasi dengan ekstrak etanol biji mahkota dewa dengan tiga
konsentrasi yang berbeda selama 48 jam. Ekspresi Caspase-3 aktif dilihat dengan
metode imunohistokimia dan dihitung persentase sel imunopositif. Pada
perlakuan dengan ekstrak etanol biji mahkota dewa 45,4 ug/ml (2xIC50), 22,7
ug/ml (IC50) and 11,35 ug/ml (1/2 IC50) ditemukan sel imunopositif sebanyak
63%, 49% and 20,4%. Pada perlakuan dengan 5-FU dosis IC50 hanya ditemukan
sel imunopositif sebanyak 27,4%. Analisis dengan uji Chi-Square memberikan
hasil yang bermakna (p<0,05). Efek sitotoksik ekstrak etanol biji mahkota dewa
terjadi dengan pengaktifan caspase-3. Ekstrak etanol mahkota dewa
meningkatkan pengaktifan caspase-3 lebih banyak dari 5-FU.

Kata kunci: Mahkota Dewa cell line WiDr Caspase 3 - apoptosis

PENDAHULUAN
Kanker masih merupakan masalah kesehatan utama di negara industri, dan
juga di negara berkembang. Pada tahun 2005 di Amerika Serikat terdapat kira-kira
1.372.000 penduduk yang terdiagnosis menderita kanker dan 570.280 orang
diperkirakan akan meninggal karenanya. Kanker kolorektal adalah kanker yang
biasa terjadi dan menempati posisi keempat di dunia. Insiden kanker kolon lebih
tinggi pada negara-negara maju dibandingkan dengan negara-negara berkembang.
Angka kejadian di negara-negara berkembang tidak mencapai sepertiga dari
kejadian kanker seluruhnya. Di Indonesia insiden kanker kolorektal terus
meningkat walaupun secara statistik belum terdapat angka yang pas (1).
Bagi kebanyakan orang, menerima diagnosis kanker hampir serupa dengan
menerima vonis kematian, karena masalah pembiayaan pengobatan kanker yang
sangat mahal. Masalah utama yang saat ini dihadapi dalam menangani kanker
ialah toksisitas dari kemoterapi dan radioterapi terhadap jaringan normal (2).
Salah satu upaya pengobatan yang sudah dirintis sejak jaman dulu adalah
pemanfaatan fitofarmaka, menggali kandungan unsur kimiawi dalam tumbuh-
tumbuhan yang potensial dapat dipakai sebagai obat. Banyak tanaman yang
sudah digunakan sebagai obat untuk berbagai penyakit, namun penelitian untuk
mengetahui zat aktif yang terkandung di dalamnya, titik tangkap dan dosis terapi
serta efek sampingnya masih perlu ditingkatkan. Dari beribu-ribu tanaman yang
PKMI-2-7-2

telah digunakan oleh masyarakat sebagai obat, salah satunya ialah tanaman
mahkota dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.) (3).
Tanaman mahkota dewa oleh masyarakat Indonesia telah banyak
digunakan untuk pengobatan berbagai penyakit termasuk kanker (3). Ekstrak
etanol biji dan buah mahkota dewa bersifat sitotoksik terhadap Artemia salina
Leach (4). Ekstrak etanol bijinya juga menimbulkan kematian cell line Ca colon
WiDr dan kanker payudara T47-D (5,6). Namun demikian, kandungan zat aktif
dalam mahkota dewa dan mekanismenya sebagai antikanker belum banyak
diteliti.
Kematian sel kanker dapat terjadi dengan pengaktifan jalur apoptosis yang
ditandai dengan pengaktifan caspase. Caspase-3 merupakan enzim sentral yang
teraktifkan melalui jalur pengaktifan death receptor maupun dari jalur
mitokondria sehingga caspase-3 sering dipakai sebagai penanda sel yang telah
mengaktifkan program apoptosisnya (7,8). Penelitian ini untuk mengetahui
apakah kematian cell line Ca colon yang diberi ekstrak etanol biji buah mahkota
dewa tersebut terjadi dengan pengaktifan jalur apoptosis dengan melihat ekspresi
caspase-3 aktif.

CARA PENELITIAN
Alat dan Bahan
Alat
Untuk membuat ekstrak tanaman diperlukan alat-alat antara lain: peralatan
gelas, neraca analitik (Sartorius), blender (National), penyaring 360 mesh dan
rotary evaporator (Laboratorium Equipment Sydney). Sedang alat yang
digunakan untuk kultur sel ialah microplate 24 sumuran, cover slip, tissue culture
flask (TCF) 75 cm2, tabung 15 ml, tabung 50 ml, pipet eppendrof, yellow tip, blue
tip, inkubator CO2, laminary flow cabinet. Dan alat untuk uji imunohistokimia
ialah blue tip, yellow tip, peralatan gelas, gelas obyek, mikroskop cahaya.

Bahan
Penelitian ini menggunakan ekstrak etanol biji mahkota dewa sebagai
bahan utama. Cell line Ca colon WiDr diperoleh dari Laboratorium Ilmu Hayati
UGM, koleksi Drs. M. Ghufron M.S. Untuk kultur sel diperlukan media yang
terdiri dari RPMI 1640, Fetal Bovine Serum (FBS) 10%, fungizon, penisilin &
streptomisin (penstrep), tripsin dan 5-Fluorouracil. Sedang bahan yang diperlukan
untuk uji imunohistokimia antara lain: 3% hidrogen peroksidase dalam metanol,
Phosphate-Buffered Saline (PBS), substrat 1,3-diamino benzidin (DAB), konjugat
streptavidin terhadap peroksidase (Lab Vision), streptavidin, antibodi biotinilasi
sekunder (biotinylated anti-rabbit secondary antibody), aquades, PBS/0,1%
Tween 20, serum normal, antibodi anti caspase-3 aktif (Promega), Hematoxilin,
alkohol 70%-90%, Xylena dan mounting media.

Determinasi Tanaman Mahkota Dewa


Tanaman mahkota dewa (buah, batang, daun, bunga) yang diperoleh pada
bulan Desember 2004 di daerah Godean Yogyakarta dilakukan determinasi di
Bagian Farmakognosi Laboratorium Biologi Fakultas Farmasi UGM.
PKMI-2-7-3

Pembuatan Ekstrak
Biji mahkota dewa diblender sampai halus, disaring dengan ukuran 360 mesh,
kemudian direndam dalam etanol selama 24 jam. Selanjutnya ampas diperas dan
disaring. Hal tersebut diulangi sampai tiga kali. Cairan diuapkan dengan rotary
evaporator hingga didapatkan cairan yang pekat.

Penanaman Sel
Cell line Ca colon WiDr dikultur dalam medium RPMI 1640 yang
ditambah streptomisin 2%, fungizon 0,5% dan FBS 10%. Dalam microplate 24
sumuran yang telah diberi cover slip, masing-masing ditanam sebanyak 500.000
sel. Terdapat 5 kelompok perlakuan yaitu perlakuan dengan ekstrak etanol biji
mahkota dewa 45,4 ug/ml (2xIC50), 22,7 ug/ml (IC50), 11,35 ug/ml (1/2xIC50), 5-
flourouracil (5-FU) 46,56 ug/ml (IC50) dan kontrol negatif. Konsentrasi tersebut
sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Riastiti (5). Selanjutnya sel
diinkubasi dalam almari lembab dengan kadar CO2 5% pada suhu 37C selama 48
jam.

Uji Imunohistokimia
Sel pada cover slip difiksasi dengan paraformaldehid 2% dalam PBS
selama 5 menit. Setelah dicuci dengan PBS, peroksidase endogen diblok dengan
H2O2 dalam methanol. Sel diinkubasi dengan serum normal, dilanjutkan inkubasi
dengan antibodi anti caspase-3 aktif dengan pengenceran 1:200 selama 24 jam
pada suhu 4oC. Sel imunopositif diperlihatkan dengan metode imunoperoksidase
dengan pemberian DAB. Seluruh inti sel dicat dengan hematoksillin sehingga
seluruh sel baik yang imunopositif dan imunonegatif dapat dihitung.

Pengukuran Hasil dan Analisis


Ekspresi caspase-3 aktif pada cell line Ca colon WiDr diamati
menggunakan mikroskop cahaya. Sel yang mengekspresikan caspase-3 aktif akan
memberikan warna coklat, sedangkan yang tidak mengekspresikan akan berwarna
biru pada intinya. Ekspresi caspase-3 aktif dihitung berdasarkan jumlah sel
imunopositif per 500 sel yang dinyatakan dalam satuan %. Perbedaan persentase
sel imunopositif pada masing-masing kelompok diuji dengan Uji Chi-Square.

HASIL
Sel kanker yang masih hidup berbentuk poligonal membentuk satu lapisan
sel pada gelas penutup. Sedangkan sel yang mati bentuknya menjadi bulat dan
ukurannya lebih kecil dari sel hidup. Sel kanker kolon WiDr yang
mengekspresikan caspase-3 aktif berwarna coklat pada inti dan sitoplasmanya dan
sel imunonegatif hanya berwarna biru pada intinya karena pengecatan
hematoksilin (gambar 1).
Pada kelompok tanpa perlakuan (gambar 1D) hampir tidak ditemukan
adanya sel imunopositif. Sel pada kelompok tersebut terlihat tersebar padat,
melekat pada gelas penutup. Sel WiDr yang diberi perlakuan dengan ekstrak
etanol biji mahkota dewa sebesar xIC50 memperlihatkan adanya sel-sel
imunopositif yang tersebar (gambar 1A). Morfologi sel secara umum masih belum
banyak memperlihatkan perbedaan dengan sel yang tidak diberi perlakuan.
Pemberian dosis ekstrak etanol biji mahkota dewa sebesar IC50 membuat semakin
PKMI-2-7-4

banyak sel imunopositif yang terlihat (gambar 1B) dibandingkan dengan


kelompok sel yang diberi ekstrak etanol biji mahkota dewa dengan dosis sebesar
xIC50. Pada kelompok ini sel tidak lagi tersebar merata pada cover slip, namun
terlihat membentuk kelompok-kelompok sel. Jumlah sel pada kelompok ini
terlihat berkurang dibandingkan dengan kelompok yang diberi dosis xIC50,
namun ukuran sel terlihat masih belum jauh berbeda dengan yang terlihat pada
kelompok tanpa perlakuan dan kelompok perlakuan dengan dosis xIC50.
Pemberian dosis 2xIC50 (gambar 1C) juga menjadikan sel tergabung dalam
kelompok-kelompok sel. Ukuran sel menjadi lebih kecil dengan jumlah sel
imunopositif yang lebih banyak dibandingkan jumlah sel imunopositif pada
kelompok IC50. Namun demikian, sel imunonegatif juga masih dapat ditemukan
pada kelompok ini. Pemberian 5-FU dosis IC50 (46.56 ug/ml) juga memberikan
gambaran berkurangnya jumlah sel dengan adanya sel-sel imunopositif yang lebih
sedikit dari sel imunopositif pada kelompok perlakuan dengan ekstrak mahkota
dewa IC50 gambar 1 E.

30 um

Gambar 1. Imunohistokimia sel WiDr dengan antibodi anti-


caspase-3 aktif. Sel difiksasi 48 jam setelah perlakuan. A.
Mahkota dewa xIC50, B. Mahkota dewa IC50, C. Mahkota
dewa 2xIC50, D. tanpa perlakuan, E. 5-FU. Tanda panah
menunjukkan sel immunopositif terlihat sebagai sel dengan
warna kecoklatan pada sitoplasmanya.

Perbedaan kelompok perlakuan 5-FU dengan perlakuan ekstrak etanol biji


mahkota dewa adalah sel-sel pada kelompok perlakuan 5-FU terlihat lebih
tersebar dengan ukuran yang tidak jauh berbeda dengan ukuran sel pada kelompok
tanpa perlakuan. Pada setiap kelompok diamati dan dihitung jumlah sel
imunopositif pada 500 sel. Hasil perhitungan diperlihatkan pada gambar 2.
PKMI-2-7-5

70 63

persentase sel imunopositif


60
49
50

40
27,4
30
20,4
20

10
0
0
MD 2xIC50 MD IC50 MD 1/2xIC50 5-FU Kontrol
kelompok

Gambar 2. Persentase sel imunopositif pada lima kelompok perlakuan.


Persentase tertinggi ada pada kelompok MD2xIC50. Pada kelompok
kontrol tidak ditemukan sel imunopositif. Sel imunopositif pada kelompok
5-FU lebih rendah dari kelompok MDIC50.

Pada gambar 2 terlihat bahwa perlakuan dengan ekstrak etanol biji


mahkota dewa dosis IC50 terdapat sel imunopositif sebesar 49.0%, sedangkan pada
pemberian 5-FU sebesar IC50 dapat ditemukan sel imunopositif sebanyak 27.4%.
Uji Chi-Square memberikan hasil yang bermakna pada semua kelompok
perlakuan (p<0,05).

PEMBAHASAN
Dari hasil di atas terlihat bahwa peningkatan dosis ekstrak etanol mahkota
dewa menyebabkan peningkatan persentase sel yang mengekspresikan caspase-3
aktif. Dosis xIC50 mahkota dewa hanya mengaktifkan apoptosis pada kurang
dari seperlima jumlah sel dengan jumlah sel yang relatif masih belum terlalu jauh
berkurang dibandingkan dengan jumlah sel pada kelompok kontrol negatif. Pada
dosis IC50 ekstrak etanol biji mahkota dewa terlihat bahwa jumlah sel telah jauh
berkurang dibandingkan kontrol negatif dan bahkan bila dibandingkan dengan sel
dengan perlakuan dosis xIC50.
Bila dibandingkan dengan pemberian 5-FU yang juga menggunakan dosis
IC50, dapat kita lihat bahwa ekstrak etanol biji mahkota dewa mengakibatkan
pengaktifan apoptosis yang lebih banyak. Hal ini menunjukkan adanya
kemungkinan bahwa mekanisme pengaktifan caspase-3 oleh ekstrak etanol biji
mahkota dewa melalui titik tangkap yang berbeda dengan mekanisme yang
terjadi pada pemberian 5-FU. Ekstrak etanol mahkota dewa juga mungkin
memiliki lebih dari satu zat aktif sehingga ekstrak mahkota dewa bekerja melalui
beberapa titik tangkap yang berbeda dan menghasilkan efek yang lebih besar dari
5-FU dalam mengaktifkan caspase-3.
5-FU telah diketahui mengaktifkan caspase-3 (8). Di dalam tubuh, 5-FU
diubah menjadi 5-Fluoro-2deoxyuridin-5-monophosphate (5-FdUMP) yang
PKMI-2-7-6

menghambat aktivitas dari thymidylate synthase (TS), enzim yang berperan pada
sintesis de novo dTMP (deoxythymidine monophosphate) dari dUMP (deoxyuridin
mono phosphate). Penghambatan enzim tersebut akan menyebabkan terjadinya
kerusakan DNA yang akan mengaktifkan proses apoptosis, akhirnya terjadilah
thymineless death, kematian sel sebagai akibat terhambatnya aktivitas TS (9).
Sejak diperkenalkan oleh Berger et.al (1957), 5-FU benar-benar menjadi obat
antineoplasma yang paling penting dalam terapi kanker kolorektal (2). Namun 5-
FU hanya bisa menyembuhkan kanker kolon sebesar 24% dan karsinoma
hepatoseluler sebesar 21,5% (10,11). Mekanisme terjadinya resistensi sel kanker
terhadap obat ini antara lain dapat disebabkan mutasi gen yang mengkode TS atau
defisiensi 5,10-methilene tetrahydrofolate yang mempertahankan kompleks
FdUMP dan TS (2). Karena itu diperlukan obat lain yang dapat digunakan pada
kasus resistensi 5-FU tersebut.
Ekstrak etanol mahkota dewa mengaktifkan caspase-3 pada sel WiDr
namun belum diketahui dimana titik tangkap sebenarnya. Namun bila melihat zat
aktif yang terkandung di dalamnya (12) ekstrak etanol biji mahkota dewa
kemungkinan bekerja melalui kandungan flavonoid, alkaloid dan saponinnya.
Flavonoid diketahui memacu apoptosis dengan meningkatkan kadar protein pro-
apoptosis Bax dan Bad serta menurunkan kadar protein anti-apoptosis Bcl-2 dan
Bcl-xl (13). Sementara itu, efek anti kanker alkaloid telah dibuktikan pada
tanaman tapak dara (14). Alkaloid memacu apoptosis dengan meningkatkan
permeabilitas membran mitokondria sehingga terjadi pelepasan sitokrom c
menuju sitosol (15). Saponin juga telah diketahui memiliki aktivitas dalam
memacu apoptosis, tetapi belum diketahui letak titik tangkapnya (16).
Untuk dapat lebih memahami efek sitotoksik ekstrak etanol biji mahkota
dewa pada sel kanker perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui titik
tangkap pengaktifan jalur apoptosis oleh ekstrak etanol biji mahkota dewa ini.
Selain itu perlu juga dipelajari lebih lanjut zat aktif yang terkandung di dalamnya.
Efek pada sel normal juga perlu dipelajari sehingga dapat meminimalkan efek
samping bila nantinya dapat digunakan dalam terapi kanker. Pengujian in vivo
merupakan langkah selanjutnya dalam upaya pengembangan biji mahkota dewa
sebagai obat pada terapi kanker terutama pada kasus yang telah mengalami
resistensi terhadap 5-FU.

KESIMPULAN
Dari penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa ekstrak etanol biji
mahkota dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl) bersifat sitotoksik pada sel
cell line Ca colon WiDr melalui pengaktifan caspase-3. Peningkatan dosis
menyebabkan peningkatan ekspresi caspase-3 aktif. Ekstrak etanol biji mahkota
dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.) lebih poten dibandingkan dengan 5-
FU dalam mengaktifkan caspase-3 pada cell line Ca colon WiDr.

UCAPAN TERIMA KASIH


Ucapan terima kasih kami haturkan kepada dr.Rina Susilowati, Ph.D dan
Dr.Med.dr.Indwiani Astuti selaku dosen pembimbing, Drs. M. Ghufron M.S yang
telah memberikan cell line ca colon WiDr dan kepada semua pihak yang telah
membantu jalannya penelitian hingga tahap akhir penyelesaian laporan penelitian
ini.
PKMI-2-7-7

DAFTAR PUSTAKA
1. Siregar GA. Deteksi Dini Karsinoma Kolo-Rektal. Nusantara
2002;35(4):157-161.
2. Devita VT, Hellman S. Cancer Principles and Practice of Oncology. 6th
ed. Philadelphia: Lippincot Williams and Wilkins,2001.
3. Harmanto N. Sehat dengan Ramuan Tradisional Mahkota Dewa Obat
Pusaka Para Dewa. Jakarta: Agro Media Pustaka, 2001.
4. Purwantini I, Setyowati EP dan Hertiani P. Uji Aktivitas Ekstrak Etanol:
Buah, Biji, Daun Makuto Dewo (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.)
terhadap Artemia salina Leach dan Profil Kromatografi Lapis Tipis Ekstrak
Aktif. Majalah Farmasia Indonesia 2002;13(2):101-6.
5. Riastiti Y. Pengaruh Ekstrak Etanol Biji Buah Mahkota Dewa (Phaleria
macrocarpa) terhadap Proliferasi dan Apoptosis Sel Ca Colon [thesis],
Program Pasca Sarjana: Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 2004.
6. Bakhriansyah M. Uji Sitotoksik Ekstrak Etanol Biji Buah Mahkota Dewa
(Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.) dan Pengaruhnya terhadap Ekspresi
Siklooksigenase-2 Sel Kanker Payudara [thesis], Program Pasca Sarjana:
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 2004.
7. Smolewski P, Darzynkiewicz Z, Robak T. Caspase-mediated Cell Death in
Hematological Malignancies: Theoretical Considerations, Method of
Assessment, and Clinical Implications. Leukimia & Lymphoma
2003;44(7):1089-1104.
8. Tamaki T and Naomoto Y. Apoptosis in Normal Tissue Induced by Anti-
Cancer Drugs. The Journal of International Medical Research 2003;31:6-
16.
9. Katzung BG, Trevors AJ. Pharmacology-Examination and Board Review.
6th ed. Singapore: Mc.GrawHill, 2003
10. Moertel CG. Chemotherapy for Colorectal Cancer. The New England
Journal of Medicine. [serial online] 2001 April 21 [cited 2005 Nophember
23]. Available from URL: http://www.nejm.org
11. Enjoji M, et al. Re-evaluation of Antitumor Effects of Combination
Chemotherapy with Interferon-a and 5-fluorouracil for Advanced
Hepatocellular Carcinoma. World J Gastroenterol [serial online] 2005
September 28 [cited December 17]; 11(36):5685-5687.
12. Padua LS, Bunyapraphatsara N, Lemmens RHMJ. Plant Resources of Soth-
East Asia. Bogor: Prosea, 1999.
13. Nichenametla SN, et al. A Review of the Effects and Mechanism of
Polyphenolics in Cancer. Critical Reviews in Food Science and Nutrition
2006;46:161-183.
14. Soedibyo M. Alam Sumber Kesehatan : Manfaat dan Kegunaan. Jakarta:
Balai Pustaka, 1998.
15. Kluza J, et al. Apoptosis Induced by the Alkaloid Sampangine in HL-60
Leukimia Cells. Ann.N.Y.Acad.Sci. 2003;1010:331-334.
16. Hoffmann JJ, et al. Triterpenoid Saponins from Acacia victoriae (Bentham)
Decrease Tumor Cell Proliferation and Induce Apoptosis. Cancer Research
2001;61:5486-5490.
PKMI-2-8-1

APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK MEMBUAT


PETA PENDUDUK DIGITAL DI KECAMATAN TAWANGMANGU
KABUPATEN KARANGANYAR PROPINSI JAWA TENGAH

M. Nurhadi Satya, Ardian Sinta Budiyono, Arif Ashari


Pendidikan Geografi, Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk membuat model penyajian peta dalam bentuk
digital yang dapat disimpan, diakses, diupdate dan dicetak secara massal.
Penelitian ini merupakan penelitian yang merancang dan membuat model peta
penduduk digital. Teknik pengumpulan data menggunakan cara dokumentasi.
Dokumen ini diperoleh dari instasi-instansi yang terkait dengan pembuatan peta
digital ini. Peta ini dapat dimanfaatkan untuk memantau perkembangan jumlah
penduduk suatu kecamatan dan sebagai bahan acuan untuk melakukan kebijakan-
kebijakan untuk pengembangan wilayah. Peta tentafif Rupa Bumi Indonesia shet
Tawangmangu dan Poncol serta data monografi Kecamatan Tawangamangu
digunakan sebagai masukan yang terdiri dari informasi tentang jumlah penduduk
dan jumlah penduduk usia sekolah. Kecamatan Tawangmangu terdiri dari
sepuluh desa yang mempunyai potensi alam dan penduduk yang cukup tinggi
maka diperlukanlah informasi yang dapat diakses oleh banyak kalangan karena
masih terbatasnya informasi dalam bentuk peta digital. Proses digitasi on screen
dilakukan dengan perangkat lunak AutoCad Map 2000i untuk membuat layer
administratif, jalan, sungai dan permukiman sedangkan editing, labeling,
penghitungan koordinat astronomis dan pembangunan topologi layer dilakukan
dengan perangkat lunak Arc Info versi 3.5. Layout peta digital menggunakan
perangkat lunak ArcView versi 3.3 dan pembuatan halaman muka menggunakan
Microoft Front Page XP yang berbasiskan Hypertext Markup Language (HTML).
Dari hasil perancangan pembuatan peta penduduk digital ini dapat dibuat tiga
buah peta digital yaitu: peta jumlah penduduk, peta jumlah penduduk menurut
usia sekolah 4-12 tahun, dan peta jumlah penduduk menurut usia sekolah 13-18
tahun. Dalam penelitian ini peta digital ini sudah dapat diakses lewat browser
internet karena sudah menggunakan protokol Hypertext Markup Language pada
halaman mukanya.

Kata kunci: peta digital, digitasi, layer, hypertext markup language

PENDAHULUAN
Perkembangan komputer saat ini sangat pesat dalam hal perangkat keras
maupun perangkat lunaknya. Ditemukannnya teknologi hypertriding pada
prosessor, memori dua kanal hingga kapasitas harddisk yang mampu menyimpan
data hingga ratusan gigabyte adalah bukti perkembangan perangkat keras
komputer. Munculnya sistem operasi baru dan program aplikasi lainnya
merupakan imbas perkembangan teknologi perangkat lunak. Teknologi pemetaan
digital juga mengalami perkembangan yang cukup pesat. Ditemukannnya alat-alat
bantu untuk pemetaan hingga munculnya perangkat lunak pengolah citra satelit
dan pemetaan yang mendukung dengan berbagai macam sistem operasi.
PKMI-2-8-2

Berkembangnya teknologi pemetaan digital membuat langkah-langkah


dalam membuat peta dapat menjadi lebih cepat, efektif, efisisen, mudah diupdate,
disimpan serta dicetak secara massal. Masih sedikitnya pengguna peta digital ini
jika dibandingkan dengan pengguna peta konvensional merupakan permasalahan
tersendiri karena peta digital ini baru dimanfaatkan oleh kalangan akademisi dan
sebagian kecil instansi padahal peta ini jelas lebih unggul daripada peta
konvensional. Peta digital yang sudah digabungakan dengan halaman muka yang
berformat html, xml maupun php dapat juga diakses melalui internet.
Penelitian ini memfokuskan untuk membuat peta digital yang dapat
diakses lewat internet untuk daerah Kecamatan Tawangmangu Kabupaten
Karanganyar karena daerah ini memiliki potensi penduduk dan alam yang cukup
besar untuk dikembangkan dan layak untuk dipublikasikan secara luas. Dari
uraian sebelumnya maka penelitian ini berjudul Aplikasi Sistem Informasi
Geografis Untuk Membuat Peta Penduduk Digital Di Kecamatan Tawangmangu
Kabupaten Karanganyar Propinsi Jawa Tengah

Sistem Informasi Geografis (SIG)


Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan suatu sistem (berbasiskan
komputer) yang digunakan untuk menyimpan, dan memanipulasi informasi-
informasi geografis. SIG dirancang untuk mengumpulkan, menyimpan dan
menganalisis objek-objek dan fenomena-fenomena dimana lokasi geografis
merupakan karakteristik yang penting atau kritis untuk dianalisis. Dengan
demikian SIG merupakan sistem komputer yang memiliki kemampuan dalam
menangani data yang berefensi geografis yaitu masukan, keluaran manajemen
data (penyimpanan dan pemanggilan data ), analisis dan manipulasi data.
a) Sistem Informasi Geografis dapat diaplikasikan dalam hal-hal berikut :
b) Sumber daya alam (inventarisasi, majemen dan kesesuaian lahan pertanian,
perkebunan, kehutanan, perencanaan, tataguna lahan, analisis daerah bencana
alam, evaluasi kesesuaian lokasi pertambangan, geologi dan perminyakan)
c) Perencanaan (perencanaan permukiman, tata ruang wilayah, relokasi industri,
pasar dan permukiman)
d) Lingkungan dan pemantauannya (pencemaran sungai, danau, laut, evaluasi
pengendapan air lumpur baik disekitar danau, sungai, pantai, permodelan
pencemaran udara, limbah berbahaya dan sebagainya)
e) Utility (inventarisasi dan manajemen informasi jaringan pipa air minum,
sistem informasi pelanggan perusahaan air minum, perencanaan, pemeliharaan
dan perluasan jaringan air minum, pipa (listrik dan gas), utilitas struktur
jaringan bawah tanah.
f) Pariwisata (inventarisasi daerah pariwisata dan analisis potensi daerah
unggulan untuk pariwisata)
g) Militer (penyajian data spasial untuk analisis rute-rute perjalanan logistik,
peralatan perang, dan sebagai tools untuk kebutuhan wargame)
PKMI-2-8-3

Sistem Informasi Geografis juga mempunyai subsistem sebagai berikut:

DATA INPUT
DATA DATA OUTPUT
Tabel MANAGEMENT & Peta
MANIPULATION
Pengukuran
Lapangan Storage
(database) Tabel
Peta
Konvensional
Retrieval Laporan
Citra satelit

Foto Udara Processing Inforamsi


Digital
Data Lainnya

Gambar 1. Bagan sub sistem SIG

ArcView
ArcView merupakan perangkat lunak yang dikembangkan oleh
Environmental System Research Institute (ESRI). ArcView mempunyai
kemampuan :

Pertukaran data : Membaca dan menuliskan data dari atau ke format


SIG lainnya
Operasi : Dapat melakukan operasi statistik dan matematis
Tampilan : Menampilkan data spasial dan atribut
Peta : Dapat membuat peta dengan tema-tema tertentu
Script : Menyediakan bahasa pemrograman untuk
mengotomasikan pengoperasian rutin

Arc Info 3.5


ArcInfo 3.5 merupakan salah satu program pembuatan peta digital yang
dijalankan melalui dos promt. ArcInfo 3.5 mempunyai kemampuan mengolah data
grafis maupun data tributnya. Hal ini dimungkinkan karena perangkat lunak ini
perpaduan antara perangkat lunak pengolah data grafis dan data atribut.
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui bagaimana cara membuat peta
penduduk digital Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar Propinsi
Jawa Tengah. Peta ini dapat dimanfaatkan untuk memantau perkembangan
jumlah penduduk suatu kecamatan dan sebagai bahan acuan untuk melakukan
kebijakan-kebijakan untuk pengembangan wilayah seperti penentuan berapa
jumlah sekolah yang harus dibangun, lapangan pekerjaan apa yang paling sesuai
untuk dikembangkan dan mengetahui tingkat kemakmuran penduduk. secara cepat
dan akurat.
PKMI-2-8-4

II. METODOLOGI
Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian yang merancang dan membuat
model peta penduduk digital memeanfaatkan teknologi web mapping..
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Geografi FIS UNY pada
bulan Maret 2005.
Alat dan Bahan
Perangkat Keras
1. Processor Intel Celeron 1,7 GHz
2. Harddisk 5 GB free disk space
3. On board VGA 8 MB
4. Memori 128 MB
5. Monitor SVGA, resolusi 1024 x 768, 32 bit color, 60 Hz refresh rate
6. CD RW, Printer & Mouse
Perangkat Lunak
1. ArcView 3.3
2. Arc Info 3.5
3. Auto Cad 2000i
4. Microsoft Front Page XP
5. Adobe Photoshop 7.0
Bahan
A. Peta Rupa Bumi Indonesia shet Tawangamangu skala 1 : 25.000
B. Peta Rupa Bumi Indonesia shet Poncol.skala 1 : 25.000
C. Data atribut
1. Data jumlah penduduk.
2. Data jumlah penduduk usia sekolah.

Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data menggunakan cara dokumentasi. Dokumen
ini diperoleh dari instansi-instansi yang terkait dengan pembuatan peta digital ini.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


Deskripsi Daerah Penelitian
Letak Kecamatan Tawangmangu
Letak astronomis berada pada 07o3730 LS - 07o4200 LS dan
111 0400 BT - 111o1200 LS. Batas wilayah Kecamatan Tawangmangu di
o

sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Ngargoyoso, sebelah selatan dengan


Kecamatan Jatiyoso, sebelah barat dengan Kecamatan Matesih dan Karangpandan
sedangkan sebelah timur berbatasan dengan Propinsi Jawa Timur.

Luas Wilayah
Luas wilayah Kecamatan Tawangmangu adalah 70,03 km2. Desa yang
memiliki wilayah terluas adalah Desa Gondosuli yaitu 1.925,475 ha dan yang
terkecil adalah Desa Karanglo yaitu 185,8740 ha.
PKMI-2-8-5

Kondisi Topografi dan Tanah


Kecamatan Tawangmangu memiliki topografi kasar berupa perbukitan,
lembah dan pegunungan dengan ketinggian rata-rata 880 m dpal dengan kondisi
tanah sebagian besar merupakan tanah andosol yang menurut Balai RLKT Solo
sifatnya peka terhadap erosi dan sebagian besar penggunaan tanahnya masih
berupa hutan maupun semak belukar. Dan yang lainnya dimanfaatkan sebagai
lahan pertanian, sawah, bangunan/pekarangan dan tegalan.

Pembuatan Peta Penduduk Digital


Digitasi Peta
Proses digitasi adalah mengubah peta tentatif RBI shet Poncol dan
Tawangmangu menjadi format digital. Pengubahan ini dilakukan agar peta RBI
dapat dibaca oleh komputer sehingga peta tentatif RBI menjadi data raster input
yang berformat JPEG. Digitasi dilakukan dengan bantuan perangkat lunak
AutoCad Map 2000i dengan menginput peta tentatig yang sudah berformat JPEG
sebagai raster image. Peta penduduk ini memiliki empat buah data raster meliputi
batas administratif, jalan, sungai dan permukiman. Fasilitas layer pada AutoCad
Map 2000i dimanfaatkan untuk membuat empat data raster tersebut. Hasil digitasi
agar dapat dibaca oleh Arc Info 3.5 harus disimpan dalam file yang berekstensi
dxf.

Gambar 2. Tampilan layer pada AutoCad 2000i

Konversi
Proses ini bertujuan untuk memecah file yang ada pada Autocad Map
2000i agar empat layer dapat muncul dan diedit secara terpisah. Syntaxnya adalah
dxfarc nama file lama(yang berisi 4 layer) nama file baru (berisi file tertentu:
jalan, permukman, sungai, batas administrafif)

Editing
Editing dilakukan untuk melihat kembali apakah dalam proses digitasi ada
yang salah, seperti tidak tersambungnya garis atau berlebihnya garis. Syntaxnya
antara lain ef arc, sel all, sel many dan delete.
PKMI-2-8-6

Labeling dan ID
Pembuatan label bertujuan untuk membedakan keterangan-keterangan peta
yang muncul di legenda. Label dibuat untuk topologi poligon sedangkan ID
diberikan pada topologi garis. Pada penelitian ini label dibuat untuk layer
permukiman sedangkan layer jalan, sungai dan batas administratif diberikan ID.
Syntaxnya adalah ef label dan memasukkan numeric label yang digunakan.

Titik Ikat (TIC)


Titik ikat berfungsi untuk membuat garis lintang dan bujur secara otomatis
pada peta digital. Input data astronomis harus mengubah unsur derajat, menit dan
detik dalam bentuk desimal. Letak astronomis Kecamatan Tawangmangu yang
berada pada : 07o3730 LS - 07o4200 LS dan 111o0400 BT - 111o1200 LS
dihitung sebagai berikut :
Tabel 1. Tabel perhitungan titik ikat (TIC)
tic X Y
1 111+(4/60)+(00/3600)= 111.0667 -7+(37/60+(30/3600) = -7.7000
2 111+(12/60)+(00/3600)= 111.2000 -7+(37/60+(30/3600)= -7.7000
3 111+(4/60)+(00/3600) = 111.0667 -7+(42/60+(00/3600) = -7.6250
4 111+(12/60)+(00/3600)= 111.2000 -7+(42/60+(00/3600) = -7.6250

Topologi
Bentuk-bentuk pada peta digital yang berupa garis dibangun topologi line
yaitu batas adminisratif, sungai dan jalan sedangkan bentuk poligon dibangun
topologi poly yaitu permukiman. Syntaxnya build poly/line
Input data atribut
Input data ini dilakukan setelah membuat theme di perangkat lunak
ArcView 3.3. Data yang diinput berupa data jumlah penduduk setiap desa dan
jumlah penduduk usia sekolah setiap desa. Hasil data ini dimunculkan dengan
grafik batang.

Gambar 3. Tampilan data atribut pada ArcView 3.3


PKMI-2-8-7

Layout
Peta dilayout menurut kaidah kartografis dengan memunculkan grid,
proyeksi, legenda dan unsur peta lainnya. Dalam tahap ini peta dapat dicetak
secara massal

Gambar 4. Tampilan layout peta pada ArcView 3.3

Halaman Muka
Pembuatan halaman muka ini mengunakan Microsof Front Page yang
berbasiskan HTML

Gambar 5. Tampilan halaman muka pada Microsof Front Page XP


PKMI-2-8-8

KESIMPULAN
Peta penduduk digital Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar
dapat dibuat dari input data raster peta tentatif RBI shet Poncol dan shet
Tawangmangu ditambah input data atribut dari data monografi Kecamatan
Tawangmangu. Digitasi dapat dilakukan menggunakan cara digitasi on scren
yang memanfaatkan Auto Cad 2001. Arc info 3.5 dimanfaatkan untuk proses
editing, labeling, TIC dan topologi. Layout dan input data penduduk dilakukan
dengan ArcInfo 3.3
Hasil perancangan pembuatan peta penduduk digital ini dapat dibuat tiga
buah peta digital yaitu : peta jumlah penduduk, peta jumlah penduduk menurut
usia sekolah 4-12 tahun, dan peta jumlah penduduk menurut usia sekolah 13-18
Tahun. Dalam penelitian ini peta digital ini sudah dapat diakses lewat browser
internet karena sudah menggunakan protokol Hypertext Markup Language pada
halaman mukanya.

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis.
Jakarta: Rineka Cipta.
Eddy Prahasta, 2002. Konsep Konsep Dasar Sistem Informasi Geografis.
Bandung : CV Informatika.
Eddy Prahasta, 2002. Sistem Informai Geografis : Tutorial ArcView. Bandung :
CV Informatika.
Eko Budiyanto, 2002. Sistem Informasi Geografis Menggunakan Arc View
GIS. Yogyakarta : ANDI.
Kardi, 2003. Pelatihan Operator Modul ArcView. Jakarta : PT ENVICON.
Koordinator Statistik Kecamatan Tawangmangu, 2002. Kecamatan
Tawangmangu Dalam Angka 2001. Karanganyar :BPS
Sampurna, 2000. Belajar Sendiri Membuat Home Page dengan HTML. Jakarta:
PT Elex Media Komputindo.
PKMI-2-9-1

APLIKASI PEMROGRAMAN LINIER PADA PENJADWALAN


PRODUKSI MIE KERING DI PT. TIGA PILAR SEJAHTERA

Elisabet, Nuriyati, Andriyani, Titus


Jurusan Teknik Industri, Universitas Sebelas Maret, Surakarta

ABSTRAK
Proses produksi mie kering di PT. Tiga Pilar Sejahtera (TPS) dilakukan dalam
delapan lini mesin yang memiliki kapasitas yang berbeda. Penjadwalan
produksinya mengalokasikan tiap jenis produk terhadap lini mesin secara intuitif
dengan berdasar pada kapasitas mesin dan jumlah order produk saja sedangkan
alokasi waktu produksi belum diperhatikan. Hal ini menyebabkan terjadinya
pemborosan waktu produksi karena pengalokasian produk pada lini mesin yang
kurang optimal. Akibatnya pemenuhan order produk tidak memenuhi target yaitu
rata-rata sebesar 8.74% dan adanya kelebihan produksi dari order yang diminta
yaitu rata-rata sebesar 22.28%. Berawal dari permasalahan tersebut, tujuan dari
penelitian ini adalah melakukan penjadwalan produksi untuk meminimasi waktu
produksi menggunakan metode pemrograman linier (PL). Data primer dan
sekunder yang didapatkan dari observasi diformulasikan menjadi variabel
keputusan, fungsi tujuan dan fungsi kendala. Variabel-variabel ini menjadi
masukan (input) ke dalam software WinQSB untuk mendapatkan alokasi produk
terhadap lini mesin dan kemudian dijadikan dasar dalam melakukan penjadwalan
produksi. Hasil penelitian menunjukkan waktu total proses produksi untuk
periode produksi 1 minggu, 8 lini mesin dan 33 jenis dengan penjadwalan
pemrograman linier selama 997.13 jam sedangkan penjadwalan metode lama
(milik TPS) selama 1183.29 jam sehingga diperoleh selisih keduanya sebesar
waktu 186.16 jam. Penjadwalan produksi dengan pemrograman linier dapat
mengalokasikan waktu produksi secara tepat untuk semua jenis produk yang akan
diproduksi.
Kata kunci : minimasi, waktu produksi, kapasitas mesin, pemrograman linier,
penjadwalan

PENDAHULUAN
Penjadwalan produksi adalah pengaturan waktu dari suatu kegiatan operasi
(Baroto, 2002). Menurut Herjanto (1997) penjadwalan mencakup kegiatan
mengalokasikan fasilitas, peralatan maupun tenaga kerja bagi suatu kegiatan
operasi dan menentukan urutan pelaksanaan kegiatan operasi.
Penjadwalan adalah untuk melaksanakan rencana agregat dan jadwal
produksi induk yang telah dibuat (Sofyan, 1993). Penjadwalan yang tidak efektif
akan menghasilkan tingkat penggunaan yang rendah dari sumebr daya yang ada.
Sebagai akibatnya biaya produksi membengkak dan menurunnya produktivitas
perusahaan. Pemrograman linier dapat diaplikasikan untuk membuat penjadwalan
produksi dengan tujuan mengoptimalkan sumber daya. Pemrograman linier
merupakan teknik riset operasional (operation research technique) yang
dipergunakan secara luas dalam berbagai jenis masalah manajemen (Winardi,
1987). Menurut Gaspersz (2001) karakteristik utama pemrograman linier adalah
fungsi tujuan (maksimasi ataupun minimasi), fungsi kendala, sifat linieritas, sifat
homogenitas, dan sifat divisibility.
PKMI-2-9-2

PT. Tiga Pilar Sejahtera (TPS) unit 1 produksi mie kering mempunyai
delapan lini mesin dan proses produksinya bersifat flowline/continuous serta
dikerjakan dalam waktu 24 jam, terbagi menjadi 3 shift kerja. Jenis produk mie
kering berjumlah 51 jenis dengan berat yang berbeda, terbagi dalam empat grade
yaitu grade A, grade B, premium 1 dan premium 2. Grage adalah komposisi bahan
baku mie kering. Tiap-tiap grade memiliki komposisi bahan baku yang berbeda.
Dari semua jenis produk tersebut dikelompokkan dalam dua kategori produk
utama yaitu produk make to stock dan produk make to order. Produk make to
stock dijadwalkan memiliki buffer stock sedangkan produk make to order tidak
memiliki buffer stock (Soman, 1998). Menurut Fogarty (1991) buffer stock adalah
persediaan produk minimal yang harus ada untuk mengantisipasi lonjakan
permintaan dari konsumen.
PPIC menjadwalkan order distributor dengan mengacu pada kapasitas
mesin dan jumlah ordernya saja, tidak memperhatikan waktu proses produksi.
Akibatnya permintaan jenis produk dengan jumlah besar mendapat prioritas untuk
dijadwalkan sedangkan jenis produk dengan jumlah permintaan kecil sering
terlewatkan untuk dijadwalkan.
Berdasarkan latar belakang di atas maka penjadwalan produksi harus
dilakukan untuk mengoptimalkan sumber daya yaitu mesin dan operator dengan
menggunakan pemrograman linier.

METODE PENDEKATAN
Penelitian yang dilakukan ini merupakan penelitian terapan yaitu untuk
menyelesaikan masalah yang sedang dialami perusahaan. Tahap-tahap metode
dalam penelitian ini mencakup studi lapangan, studi pustaka, perumusan masalah,
pengumpulan data, pengolahan data, analisis data, kesimpulan dan saran.
Studi lapangan adalah melakukan pengamatan terhadap objek yang akan
diteliti yaitu PT. Tiga Pilar Sejahtera terutama unit 1 untuk produksi mie kering.
Setelah dilakukan pengamatan secara keseluruhan mengenai proses bisnis dan
lantai produksinya, kemudian dilakukan pemahaman pada bagian PPIC yang
berada di bawah Departemen Logistik. Studi pustaka merupakan review teori-
teori yang akan dipakai sebagai dasar untuk menyelesaikan masalah.
Perumusan masalah yang diselesaikan dalam penelitian ini telah
didefinisikan dalam bab pendahuluan diatas. Pengumpulan data dalam penelitian
menggunakan metode observasi dan wawancara langsung yang menghasilkan data
primer dan sekunder. Data primer yaitu informasi dari pihak perusahaan yang
tidak bisa didaptkan dari dokumen atau catatan tertulis perusahaan sedangkan data
sekunder merupakan catatan valid yang didokumentasikan oleh perusahaan.
Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan metode pemrograman
linier (Mustafa, 1999) dengan model umum seperti pada tabel 1.
Hasil formulasi dari pemrograman linier kemudian dimasukkan ke program
WinQSB (Miswanto, 1995) yang sebelumnya dilakukan langkah-langkah:
penentuan waktu proses, penentuan jumlah produk yang diproduksi dan
perancangan model analitis.
PKMI-2-9-3

Tabel 1. Model Umum Pemrograman Linier


Fungsi Tujuan : Maksimum (atau minimum) Z = C1X1 + C2X2 + ...+ CnXn
Fungsi kendala : A11X11 + A12X12 + ... + A1nX1n B1
A21X21 + A22X22 + ... + A2nX2n B2
:
Am1Xm1 + Am2Xm2 + ... + AmnXmn Bm
Di mana Cn, Amn, dan Bm adalah konstanta.

HASIL
Berikut ini adalah data sekunder yang digunakan untuk menentukan
variable-variabel yang terdapat dalam formulasi pemrograman linier. Pertama,
data order 33 produk mi kering periode 1-7 Agustus 2005 dilengkapi data buffer
stock, stock awal dan DPO (Distributor Purchase Order).(tabel 2)

Tabel 2. Rekap Data Order Mi Kering Periode 1-7 Agustus 2005


No Nama Produk Berat (Kg) Grade Buffer Stock (Ball) Stock Awal DPO
1 MAEE 2.45 A 8,265 5,002 7,904
2 MADH 1.20 B 8,550 2,320 16,852
3 MFDH 1.20 B 855 200 359
: : : : : : :
32 MA2T 210 4.00 P1 2,280 224 2,667
33 MA2T 25 1.05 P2 0 362 3,634

Kedua, kapasitas mesin untuk semua lini mesin. Satu lini mesin belum
tentu dapat mengerjakan semua jenis produk. Pada data kapasitas mesin dapat
diketahui produk mana saja yang dapat dikerjakan dalam suatu lini mesin. Tabel 2
menunjukkan contoh beberapa data kapasitas mesin yang mewakili keempat grade
produk dalam satuan ball/shift.

Tabel 3. Kapasitas Mesin


Nama Produk Grade Lini 1 Lini 2 Lini 3 Lini 4 Lini 5 Lini 6 Lini 7 Lini 8
MAEE A 1,807 1,807 2,216
MADH B 2,733 2,733 3,416 3,416
MA2T 210 P1 714
MA2T 25 P2 4,179 4,179 3,000

Penentuan Waktu Proses


Penentuan waktu proses per ball produk didapat dari membagi waktu total
proses dalam satu shift dengan produk yang dihasilkan dalam ball, sehingga dapat
dituliskan menjadi:
Waktu Total Proses 1 Shift
Waktu proses per ball produk =
Produk yg dihasilkan
PKMI-2-9-4

Jumlah Produk yang Diproduksi


Jumlah produk yang akan diproduksi diperoleh dari permintaan
distributor dijumlahkan dengan buffer stock yang harus ada pada akhir periode
dan dikurangi dengan initial stock yang ada. Dari penjelasan tersebut dapat
dirumuskan menjadi berikut:
51 51 51
Jumlah produk yang diproduksi = D + B S
j =1
j
j =1
j
j =1
j

Perancangan Model Analitis


Variabel Keputusan
Variabel keputusan diberi simbol Xijk, artinya penugasan line ke-i untuk
memproduksi produk ke-j grade ke-k; di mana total line 8 buah, total produk 51
buah, dan terdapat 4 grade produk. Sehingga kombinasi variabel keputusan
berjumlah 143 variabel. Tabel 3 menampilkan beberapa variabel keputusan.

Tabel 4. Contoh Variabel Keputusan


No Decision Variabel Keterangan
1 X11A Penugasan Line 1 untuk memproduksi produk MAEE grade A
123 X641B Penugasan Line 6 untuk memproduksi produk MSPCB B grade B
134 X746P Penugasan Line 7 untuk memproduksi produk MA2T 210 grade Premium 1
143 X851p Penugasan Line 8 untuk memproduksi produk MA2T 25 grade Premium 2

Fungsi Tujuan
8 51 n
Minimasi waktu proses produksi Minimasi Z = (Wp
i =1 j =1 k =1
ijk X ijk )

Fungsi Kendala :
Permintaan
Pada fungsi kendala permintaan terdapat 61 persamaan. Kendala permintaan
maksudnya jumlah produk yang diproduksi pada line mesin sama dengan besar
permintaan ditambah besar buffer stock dikurangi besar safety stock.
51 51 51 51

X j =1
ijk = Dj + Bj S j
j =1 j =1 j =1

Waktu Produksi
Waktu total produksi yang tersedia dalam satu periode penjadwalan tiap-tiap line
membatasi jumlah produk yang akan diproduksi. Pada kendala waktu produksi ini
terdapat 8 persamaan. Berikut diberikan contoh persamaan pada line 2.

Line 2 (Wp
i =2
ijk X ijk ) Ttotal Penentuan Wsetup = 30 menit

0.1057X222B + 0.1057X223B + 0.1057X224B + 0.1057X225B + 0.0905X233B +


0.0905X234B + 0.0905X235B 9370

Fungsi tujuan dan fungsi kendala (59 kendala) diinputkan ke dalam


program WinQSB. Hasilnya adalah variabel keputusan dengan nilainya sebagai
jumlah produk yang akan diproduksi pada lini mesin yang ditunjuk (lihat lampiran
4).
PKMI-2-9-5

Tabel 5. Keterangan Simbol


Keterangan simbol-simbol
Wp(ijk) Waktu proses pada line ke-i produk ke-j grade ke-k
Xijk Penugasan line ke-i untuk memproduksi produk ke-j grade ke-k
Dj Permintaan produk ke-j
Bj Buffer stock yang harus dipenuhi di akhir periode untuk produk ke-j
Sj Stock sisa awal periode untuk produk ke-j
Ttotal Waktu total yang tersedia dalam satu periode penjadwalan (1 minggu)
i Line mesin 1, 2, 3, , 8
j Produk mie kering 1, 2, 3, , 51
k Grade A, B, P, p

PEMBAHASAN
Penjadwalan menggunakan pemrograman linear dapat mengalokasikan
sumber daya waktu yang ada dengan lebih efisien, sehingga waktu yang tersisa
dapat digunakan untuk memenuhi permintaan distributor (revisi order).

12000
10000
Waktu (menit)

8000
6000
4000
2000
0
Lini 1 Lini 2 Lini 3 Lini 4 Lini 5 Lini 6 Lini 7 Lini 8
Lini mesin ke-
Waktu Tersedia
Pemrograman Linear
Tiga Pilar Sejahtera

Sumber: Hasil pengolahan data primer


Gambar 1. Waktu Produksi PT. Tiga Pilar Sejahtera vs Pemrograman Linear
Pengggunakan metode pemrograman linear mengurangi beban staff PPIC
untuk meng-update jadwal produksi, karena dapat dengan mudah mengetahui lini
mesin mana yang mempunyai sisa waktu. Waktu produksi yang diperlukan
dengan metode penjadwalan Tiga Pilar Sejahtera pada lini mesin 1, 3, dan 8
terbukti lebih besar dibandingkan penjadwalan menggunakan metode
pemrograman linear (lihat gambar 1). Dengan demikian PT. Tiga Pilar Sejahtera
melakukan pemborosan waktu.
Pada penjadwalan PT. Tiga Pilar Sejahtera terdapat beberapa produk yang
diproduksi melebihi target yang ditetapkan dan ada pula yang tidak dijadwalkan
untuk diproduksi seperti produk MFDEO (lihat gambar 2). Hal ini mungkin
dikarenakan pengalokasian waktu untuk produk tertentu lebih besar dari yang
diminta sehingga mengurangi kapasitas waktu yang diperlukan untuk
mengerjakan produk yang lainnya. Sedangkan penjadwalan dengan LP dapat
mengalokasikan waktunya dengan tepat untuk semua produk yang akan
diproduksi. Berikut ditampilkan pemenuhan permintaan produk grade A.
PKMI-2-9-6

18000

15000

Jumlah Produk (ball)


12000

9000

6000

3000

0
M A EE M A EOA M SDEO M FDEO M SLDO M P DO M A CO-B M FCO-B M SDCO M FDCO
LK
Permintaan
Jenis Produk
Pemrograman Linear
Tiga Pilar Sejahtera

Sumber: Hasil pengolahan data primer


Gambar 2. Pemenuhan Permintaan Produk Grade A

KESIMPULAN
Waktu total proses produksi dengan metode penjadwalan pemrograman
linear untuk periode produksi satu minggu, 8 lini mesin, 33 jenis produk
membutuhkan waktu selama 997.13 jam sementara penjadwalan dengan metode
lama (Tiga Pilar Sejahtera) membutuhkan waktu selama 1183.29 jam, sehingga
diperoleh selisih keduanya sebesar waktu 186.16 jam.
Untuk periode produksi selanjutnya, PT. Tiga Pilar Sejahtera dapat
melakukan penjadwalan secara sistematis menggunakan metode pemrograman
linear dengan langkah-langkah antara lain menyiapkan data jumlah produk yang
akan diproduksi, lalu memasukkan data jumlah produk tersebut ke software
WinQSB, selanjutnya merunning problem solving pada software WinQSB, dan
langkah terakhir mencetak output software WinQSB yang nantinya akan
digunakan sebagai acuan urutan penjadwalan.

DAFTAR PUSTAKA
Assauri, S., 1993, Manajemen Produksi dan Operasi, LPFEUI, Jakarta.
Baroto, T., 2002, Perencanaan dan Pengendalian Produksi, Penerbit: Ghalia
Indonesia.
Bedworth, David D, 1986, Integrated Production Control System, John Wiley &
Sons Singapore.
Fogarty, Donald W, 1991, Production & Inventory Management, APICS.
Gaspersz, Vincent, 2001, Production Planning and Inventory Control
berdasarkan Pendekatan Sistem Terintegrasi MRO II dan JIT Menuju
Manufacturing 21, Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Herjanto, E., 1997, Manajemen Produksi dan Operasi, Grasindo, Jakarta.
Miswanto, 1995, Analisis Manajemen Kuantitatif dengan QSB+, STIE YKPN,
Yogyakarta.
Mustafa, Z., 1999, Belajar Cepat Linear Pemrograman dengan QS, EKONISIA,
Yogyakarta.
Soman, Chetan Anil and Gaalman, Gerard, 1998, Combined make-to-order and
make-to-stock in a food production system, International Journal of
Production Economics, vol. 56-57, pp. 649-659.
Winardi, SE, 1987, Pengantar Operations Research, Tarsito, Bandung.
PKMI-2-10-1
PKMI-2-10-2
PKMI-2-10-3
PKMI-2-10-4
PKMI-2-10-5
PKMI-2-10-6
PKMI-2-10-7
PKMI-2-10-8
PKMI-2-10-9
PKMI-2-10-10

KESIMPULAN
PKMI-2-11-1

STUDI TENTANG PEMBUATAN FRENCH FRIES UBI JALAR


(Ipomoea batatas L.) KAJIAN PERLAKUAN
BLANCHING DAN KONSENTRASI CaCl2
SEBAGAI LARUTAN PERENDAM

Idan Daniawan, Andalusia DA, Ira Purwaning A, Khoesti Virly, Silvia P


Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, FTP-Universitas Bawijaya, Malang

ABSTRAK
French fries adalah suatu jenis makanan ringan yang biasanya dibuat dari
kentang. Produk ini berupa kentang yang digoreng setengah matang dan
kemudian dibekukan. Karena sudah mengalami pemasakan pendahuluan,
penyiapan untuk konsumsi lebih cepat dan mudah. Ubi jalar juga dapat diolah
menjadi french fries. Tentu saja bentuk, warna dan rasanya tidak sama dengan
french fries yang terbuat dari kentang, tetapi french fries ubi jalar (FFUJ) dapat
dijadikan alternatif di samping french fries kentang. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui kombinasi terbaik dari perlakuan proses blanching dan
penambahan CaCl2 sebagai larutan perendam dalam berbagai konsentrasi (0%,
0.5%, 1%). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan terbaik diperoleh dengan
kombinasi antara perlakuan blanching dan tanpa penggunaan CaCl2 pada
larutan perendam I. Sebagai hasilnya B1C1 dengan perlakuan blanching tanpa
penambahan CaCl2 pada larutan perendam I menunjukkan hasil perlakuan
terbaik, di mana diperoleh nilai analisa warna L a* b* Twinter sebesar (L= 57.40
; a*= 12.30 ; b*= 23.40) dan nilai tekstur sebesar 93.00 mm.gram/detik. Sebagai
kelanjutan dari penelitian ini perlu dilakukan studi lebih lanjut mengenai
pengaruh dextrose dan blanching terhadap penghambatan reaksi pencoklatan
pada ubi jalar.

Kata Kunci : French fries, ubi jalar, blanching, CaCl2

PENDAHULUAN
Dikaitkan dengan keragaman kegunaannya ubi jalar berperan penting
dalam pengembangan diversifikasi pangan dan agribisnis. Dari berbagai
penelitian, ubi jalar memiliki berbagai keunggulan, antara lain: mengurangi risiko
terkena penyakit jantung dan kanker, mengontrol kenaikan kadar gula darah bagi
penderita diabetes, dan dapat menjaga daya ingat (anti pikun).
Ubi jalar kaya akan kandungan serat, karbohidrat kompleks, dan
rendah kalori. Hal ini sangat menguntungkan bagi penderita diabetes karena bisa
mengontrol atau memperlambat peningkatan kadar gula dalam darah penderita
diabetes. Kelebihan lain dari ubi jalar adalah kandungan vitamin B yaitu B6 dan
asam folat yang cukup mengesankan. Kedua vitamin ini sangat dibutuhkan untuk
mengopimalkan kerja otak sehingga daya ingat dapat dipertahankan.
Kita mengenal ada beberapa jenis ubi jalar yang paling umum adalah
ubi jalar putih. Selain itu ada juga yang ungu maupun merah. Ubi jalar putih
mengandung 260 mkg (869 SI) betakaroten per 100 gram, ubi merah yang
berwarna kuning emas tersimpan 2900 mkg (9675 SI) betakaroten, ubi merah
yang berwarna jingga 9900 mkg (32967 SI). Makin pekat warna jingganya.
makin tinggi kadar beta karotennya yang merupakan bahan pembentuk vitamin A
PKMI-2-11-2

dalam tubuh (Apraidji, 2000).


Selain direbus atau digoreng, ubi jalar dapat diolah jadi keripik, tepung
ubi jalar, french fries ubi jalar, bahan campuran garam meja, CMC
(carboxymetyhyl cellulose), dan bahan MSG.
Friench fries biasanya dibuat dari kentang. Produk ini berupa kentang
yang digoreng setengah matang yang kemudian dibekukan. Penggorengan
kentang tidak sampai garing, tapi hanya setengah matang. Karena sudah
mengalami pemasakan pendahuluan, penyiapan untuk konsumsi lebih cepat dan
mudah (Anonymousb, 2004). Ubi jalar juga dapat diolah menjadi french fries.
Tentu saja bentuk, warna dan rasanya tidak sama dengan french fries yang terbuat
dari kentang. French fries ubi jalar dapat dijadikan alternatif di samping french
fries kentang (Anonymousa, 2004).
Blanching adalah suatu proses pemanasan yang diberikan terhadap
suatu bahan yang bertujuan untuk menginaktivasi enzim, melunakkan jaringan
dan mengurangi kontaminasi mikroorganisme yang merugikan. Namun dalam
penelitian ini proses blanching lebih ditujukan untuk menginaktivasi enzim
terutama enzim polifenoloksidase yang dapat menyebabkan pencoklatan pada
buah dan sayuran (Fellows, 1990).
Kalsium Khlorida (CaCl2) termasuk bahan pengeras atau Firming
Agent untuk buah dan sayuran. Garam ini merupakan elektrolit kuat, sehingga
mudah larut dalam air dan ion-ion Ca mudah terabsorbsi ke dalam jaringan yang
mengakibatkan dinding sel makin kuat, sehingga menghambat hidrolisis atau
pemecahan. Selain dapat memperkuat tekstur, garam CaCl2 juga dapat mencegah
reaksi pencoklatan non enzimatis yang disebabkan oleh efek khelasi (chelation)
ion Ca terhadap asam-asam amino. Hal tersebut disebabkan karena ion Ca++
bereaksi dengan asam amino, sehingga menghambat reaksi asam amino dengan
gula reduksi yang menyebabkan pencoklatan pada saat bahan pangan dipanaskan
(Faust and Klein, 1973).
Permasalahan yang pelu dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana
pengaruh proses blanching dan penambahan CaCl2 dalam berbagai konsentrasi
pada larutan perendam I terhadap sifat fisik produk FFUJ yang meliputi tekstur,
rasa, warna, dan aroma. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh
bahan pangan alternatif di samping umbi kentang sebagai produk french fries
dengan sifat fisik yang dapat diterima oleh konsumen.

METODE PENELITIAN
Alat dan Bahan
Bahan yang digunakan dalam pembuatan french fries ubi jalar dengan
perlakuan blanching dan penambahan CaCl2 pada larutan perendam I antara lain:
ubi jalar varietas Jepang, dextrose, CaCl2, minyak padat, minyak nabati dan
bumbu french fries bubuk.
Peralatan yang digunakan dalam proses pembuatan French Fries Ubi
Jalar adalah pisau dan talenan, wadah perendam, panci, deep fryer, waterbath,
neraca digital dan lemari pembeku.
Sedangkan untuk analisa fisik digunakan alat-alat mortar, plastik, dan
color reader untuk analisa warna. Analisa Tekstur menggunakan jarum
penetrometer, neraca digital, penetrometer.
PKMI-2-11-3

Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang
disusun secara faktorial terdiri atas dua faktor. Faktor pertama adalah perlakuan
blanching (B) yang terdiri atas dua perbandingan, yaitu:
B1 : Blanching
B2 : Non-Blanching
Faktor kedua adalah konsentrasi larutan kalsium klorida (C) dalam
larutan perendam I yang terdiri atas 3 level, yaitu:
C1 : CaCl2 0%
C2 : CaCl2 0.5%
C3 : CaCl2 1%
Masing-masing kombinasi perlakuan diulang tiga kali.
Variabel yang diamati antara lain tekstur, warna, rasa dan aroma.
Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan sidik ragam. Apabila hasil
menunjukkan pengaruh nyata dilanjutkan dengan uji DMRT. Sedangkan
perlakuan terbaik ditentukan dengan metode indeks efektifitas De Garmo.
Pelaksanaan penelitian meliputi: pemotongan, sulfitasi, pemanasan
ringan I, pemanasan ringan II, pembekuan I, penggorengan, penyiapan untuk
dikonsumsi.
1. Pemotongan
Umbi dicuci, kemudian dikupas, dan dicuci kembali. Setelah itu umbi
dipotong-potong berbentuk memanjang dengan ukuran tinggi 10 cm, atau
sesuai dengan ukuran umbi yang tersedia; lebar dan panjang 1 cm.
2. Perendaman dengan Larutan Dextrose 5%
Potongan umbi direndam di dalam larutan Dextrose 5% selama 15~20
menit yang bertujuan untuk mencegah reaksi pencoklatan dan untuk
menggantikan Natrium meta-bisulfit yang lebih bersifat toksik.
3. Blanching
Potongan ubi jalar diblanching pada suhu 100C selama 5-10 menit.
4. Pemanasan Ringan I
Kalsium khlorida dengan berbagai konsentrasi (0%, 0.5%, 1%) dilarutkan
dalam air kemudian dipanaskan sampai suhu 65C dan dipertahankan pada
suhu tersebut. Ke dalam larutan tersebut dimasukkan potongan ubi jalar
sambil dipanaskan selama 30 menit sambil diaduk pelan-pelan. Angkat.
5. Pemanasan Ringan II
Buat larutan Kalsium khlorida 1% dengan melarutkannya ke dalam air
hangat. Potongan umbi yang sudah mendapat pemanasan ringan I segera
diangkat dan dicelupkan ke dalam larutan yang disiapkan ini selama 3
menit sambil diaduk pelan-pelan. Setelah itu umbi didinginkan dan
ditiriskan.
6. Pembekuan I
Potongan ubi jalar pada perlakuan sebelumnya didinginkan kemudian
dikemas dalam kantung plastik dan disimpan pada freezer bersuhu - 20C
selama 18 jam.
7. Penggorengan I
Bahan digoreng dengan menggunakan minyak goreng partial
hydrogenated (campuran minyak padat dan minyak nabati dengan
PKMI-2-11-4

perbandingan 1:1) pada suhu 175C selama 2 menit kemudian diangkat,


ditiriskan dan didinginkan.
8. Pembekuan II
Setelah dingin, bahan dikemas di dalam kantong plastik, dan segera
dibekukan pada suhu -20C sebagai french fries ubi jalar.
9. Penyiapan Untuk Konsumsi
French fries beku dikeluarkan dari lemari pembeku (freezer), dan
kemudian digoreng dalam minyak panas hingga matang. Selain itu, bahan
ini dapat dipanggang pada oven. Bahan ini dapat juga dibumbui dengan
cabe, merica, dan lain-lain sesuai dengan selera.
10. Pengujian
Pada produk dilakukan beberapa pengujian fisik, yang meliputi analisa
warna dengan metode L a* b* Twinter dan tekstur dengan penetrometer.
Sedangkan mengenai derajat penerimaan konsumen digunakan pegujian
organoleptik yang meliputi warna, tekstur, dan rasa.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Uji Fisik
Tekstur
Nilai tekstur FFUJ yang dihasilkan setelah penggorengan berkisar
antara 33,00-93,00 mm/gr detik. Dari hasil analisa, tekstur tertinggi dengan nilai
93.00 mm/gr detik diperoleh perlakuan blanching dan tanpa penambahan CaCl2.
Sedangkan tekstur terendah dipeoleh dari perlakuan tanpa blanching dengan
konsentrasi CaCl2 0.5%. Pengaruh perlakuan blanching dan konsentrasi CaCl2
terhadap tekstur ditunjukkan pada gambar 1. berikut ini.
100.0 93.0
87.2
90.0 77.9
80.0
R erata n ilai tekstu r

70.0
(m m .g /d etik)

60.0 51.0
50.0
40.0 33.0 33.4
30.0
20.0
10.0
0.0
0 0,5 1
Konsentrasi CaCL2 (%)

Blanching tanpa Blanching

Gambar 1. Rerata Nilai Tekstur FFUJ ( mm/gr.detik)

Dari hasil analisa ragam nampak bahwa proses blanching dan


penambahan CaCl2 berpengaruh nyata pada nilai tekstur. Proses blanching
menyebabkan senyawa pektin yang tidak larut air terhidrolisis sebagian menjadi
pektin yang larut sehingga tekstur lunak (Muchtadi, 1992). Hal inilah yang
menyebabkan nilai tekstur produk yang diblanching lebih tinggi daripada produk
non-blanching. Sedangkan penambahan CaCl2 memberi kontribusi dalam
meningkatkan kekokohan jaringan sel, hal ini sesuai dengan pernyataan Fennema
(1997) yang menyatakan bahwa untuk memperoleh tekstur yang lebih keras dapat
ditambahkan CaCl2.
PKMI-2-11-5

Warna
Rerata nilai warna berkisar antara L = 48.6 57.4; a* = 10.5 18.6;
b*= 20.2 23.4. Nilai analisa warna dengan tingkat kecerahan tertinggi diperoleh
pada proses blanching dan konsentrasi CaCl2 0% (57.4). Sedangkan nilai a*
tertinggi yang menunjukkan warna lebih ke arah merah diperoleh pada perlakuan
blanching dengan konsentrasi CaCl2 1% (18.6). Nilai b* tertinggi yang
menunjukkan warna lebih ke arah kuning diperolah pada perlakuan blanching
dengan konsentrasi CaCl2 0% (23.4). Hasil dari analisa ini dapat dilihat pada
Tabel 1.

Tabel 1. Rerata Nilai Warna karena Pengaruh Kombinasi Perlakuan Blanching


dan Penambahan CaCl2 dalam Berbagai Konsentrasi

Konsentrasi Rerata Warna


Perlakuan
CaCl2 (%)
L a* b*

0 57.4 12.3 23.4


Blanching 0.5 57.2 15.1 22.2
1 53.6 18.6 22.3

0 50.0 10.7 21.9


Non-Blanching 0.5 50.8 10.5 20.7
1 48.6 14.2 20.2

Hasil tersebut di atas menunjukkan bahwa proses blanching dan


penambahan CaCl2 berpengaruh nyata terhadap nilai warna produk FFUJ. Hal ini
disebabkan perlakuan blanching dapat mencegah terjadinya pencoklatan. Hal ini
sesuai dengan Siddiq et all (1992) dalam Kumalaningsih, dkk (2004) yang
menyatakan bahwa perlakuan blanching diatas 700 C dapat menginaktifkan enzim
PPO sehingga perubahan warna dapat dicegah. Sedangkan menurut Faust &
Klein (1973), CaCl2 juga dapat mencegah terjadinya pencoklatan non enzimatis
karena ion Ca2+ akan berikatan dengan asam amino sehingga menghambat
terjadinya reaksi antara amino dan gula reduksi yang menyebabkan pencoklatan
saat pemanasan.

Uji Organoleptik
Rasa
Dari analisis ragam (= 0,05) diketahui adanya pengaruh yang nyata
dari perlakuan blanching serta konsentrasi CaCl2 terhadap rasa. Total rangking
penilaian panelis terhadap rasa yang dihasilkan berkisar antara 4,30-5,35.
Tingkat kesukaan panelis terhadap rasa diperoleh nilai terendah pada
perlakuan Non-blanching dengan konsentrasi CaCl2 0 %. Sedangkan nilai
kesukaan tertinggi diperoleh pada perlakuan blanching dengan konsentrasi CaCl2
PKMI-2-11-6

0.5 %. Tingkat kesukaan rasa french fries ubi jalar akibat perlakuan blanching
dan konsentrasi CaCl2 ditunjukkan pada Gambar 2 dibawah ini

6.00 5.35 5.20 5.05


5.00 4.70 4.70
4.30

R erata n ilai R asa


4.00

3.00

2.00

1.00

0.00
0 0.5 1
Konsentrasi CaCl2

Blanching Tanpa Blanching

Gambar 2. Penilaian Panelis terhadap rasa dari FFUJ

Dari gambar di atas, terlihat bahwa tingkat kesukaan panelis terhadap


rasa french fries ubi jalar semakin meningkat dengan adanya perlakuan blanching.
Hal ini disebabkan karena perlakuan blanching dapat memperbaiki warna produk.
Anonymous (2005) menyatakan bahwa warna makanan sangat mempengaruhi
penerimaan konsumen terhadap rasa suatu produk. Warna yang menarik akan
memberikan asumsi makanan tersebut memiliki rasa yang enak dibandingkan
dengan suatu produk yang memiliki warna tidak menarik meskipun komposisinya
sama. Makanan yang kurang menarik sering diasumsikan memiliki rasa yang
tidak enak (Anonymous, 2005).

Warna
Dari analisis ragam (= 0,05) diketahui adanya pengaruh yang nyata
dari perlakuan blanching serta konsentrasi CaCl2 terhadap warna. Total rangking
penilaian panelis terhadap warna yang dihasilkan berkisar antara 3,60-5,15.
Tingkat kesukaan panelis terhadap warna didapatkan nilai terendah pada
perlakuan Non-blanching dengan konsentrasi CaCl2 0.5%, sedangkan nilai
kesukaan panelis yang tertinggi terdapat pada perlakuan blanching dengan
konsentrasi CaCl2 0 %. Tingkat kesukaan warna French Fries Ubi Jalar
ditunjukkan pada Gambar 3 dibawah ini:
6.00
5.25 5.05
5.00
4.05 3.85 4.20
r e r a ta n i l a i w a r n a

3.90
4.00

3.00

2.00

1.00

0.00
0 0.5 1
konsentrasi CaCl2

Blanching Tanpa Blanching

Gambar 3. Penilaian Panelis terhadap warna dari FFUJ


PKMI-2-11-7

Grafik diatas menunjukkan jumlah rangking kesukaan terhadap warna


french Fries Ubi Jalar. Semakin meningkat dengan perlakuan blanching diduga
panelis menyukai French Fries Ubi Jalar dengan perlakuan tersebut karena
memiliki warna cerah. Sedangkan perlakuan Non-blanching cenderung berwarna
gelap, hal ini seperti yang dijelaskan sebelumnya.

Aroma
Total rangking penilaian panelis terhadap aroma yang dihasilkan
berkisar antara 4,15 - 4,70. Tingkat kesukaan panelis terhadap aroma didapatkan
nilai terendah pada perlakuan Non-blanching dengan konsentrasi CaCl2 0.5%.
Sedangkan nilai tertinggi pada perlakuan Non-blanching dengan konsentrasi
CaCl2 1 %.
Tingkat kesukaan aroma french fries Ubi Jalar ditunjukkan pada
Gambar 4 dibawah ini:

4.80 4.70
4.70 4.60
4.60
R e ra ta n i l a i A ro m a

4.50
4.40 4.35 4.35
4.30 4.25
4.20 4.15
4.10
4.00
3.90
3.80
0 0.5 1
Konsentrasi CaCl2 (%)

Blanching Tanpa Blanching

Gambar 4. Penilaian Panelis terhadap Aroma dari FFUJ

Dari hasil analisa sebenarnya tidak ada pengaruh perlakuan terhadap


aroma FFUJ. Skor aroma yang berbeda-beda disebabkan karena penggunaan
bubuk keju sebagai taburan FFUJ yang bervariasi jumlahnya.

Kenampakan
Total rangking penilaian panelis terhadap rasa yang dihasilkan berkisar
antara 3,35- 4,95.
Tingkat kesukaan panelis terhadap kenampakan terendah pada
perlakuan Non-blanching dengan konsentrasi CaCl2 1%. Sedangkan nilai ke-
sukaan tertinggi didapat pada perlakuan blanching dengan konsentrasi CaCl2 0 %.
Kecenderungan jumlah rangking terhadap kenampakan french fries
Ubi Jalar akibat blanching dan konsentrasi CaCl2 terlihat pada Gambar 5.
Pada gambar tersebut ditunjukkan bahwa kenampakan french fries ubi
jalar semakin meningkat dengan perlakuan blanching. Hal ini disebabkan adanya
penghambatan reaksi pencoklatan oleh perlakuan blanching.
PKMI-2-11-8

4.50 4.15
3.85 3.75
4.00

R e r a ta N i l a i K e n a m p a k a n
3.55 3.55 3.45
3.50
3.00
2.50
2.00
1.50
1.00
0.50
0.00
0 0.5 1
Konsentrasi CaCl2 (%)

Blanching Tanpa Blanching

Gambar 5. Penilaian Panelis terhadap Kenampakan dari FFUJ

Pemilihan Perlakuan Terbaik


Berdasarkan analisis De Garmo Test untuk rasa, warna, aroma dan
kenampakan. Pemilihan perlakuan terbaik dari uji organoleptik untuk rasa, warna
dan kenampakan diperoleh dari produk B1C1 yaitu produk dengan perlakuan
blanching dan perendaman dengan konsentrasi CaCl2 0%. Sedangkan untuk
kenampakan, perlakuan terbaik diperoleh dari produk B2C3 yaitu produk dengan
perlakuan tanpa blanching dengan konsentrasi CaCl2 1%. Hasil perhitungan nilai
perlakuan blanching dan konsentrasi CaCl2 terhadap French Fries Ubi Jalar dapat
dilihat pada Gambar 6 berikut ini:

0.80 0.74 0.71


0.70
T otal Nilai P erlaku an

0.60 0.52
0.50
0.37 0.36
0.40
0.30 0.23
0.20
0.10
0.00
B1C1 B1C2 B1C3 B2C1 B2C2 B2C3
Jenis Perlakuan

Nilai Perlakuan

Gambar 6. Nilai Perlakuan dari Setiap Jenis Produk FFUJ

Berdasarkan grafik tersebut diatas diketahui bahwa perlakuan terbaik


didapatkan pada kombinasi 2 perlakuan yaitu blanching dan konsentrasi CaCl2
0%. Perlakuan terbaik tersebut mempunyai nilai tekstur 93 mm g/detik, warna
PKMI-2-11-9

(L*) 57.4, sedangkan nilai organoleptik meliputi rasa 5.35, aroma 4.6,
kenampakan 4.95 dan warna 5.15.

KESIMPULAN
Ubi jalar dapat digunakan sebagai bahan baku pengganti kentang dalam
pembuatan french fries.
Perlakuan blanching berpengaruh terhadap reaksi pencoklatan akibat aktivitas
enzim polifenol oksidase.
Penambahan CaCl2 memberikan kontribusi yang nyata terhadap ketegaran
jaringan sel.
Perlakuan terbaik diperoleh dari produk B1C1 yaitu produk dengan perlakuan
blanching dan penambahan konsentrasi CaCl2 0% pada perendaman I.

DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 2005. French Fries Taste So Good. Page 1-16.
http://www.rense.com/general7/whyy.htm
Anonymousa. 2004. French Fries. pg 1-5.
http://en.wikipedia.org/wiki/friench_fries,2004
Anonymousb. 2004. Teknologi Tepat Guna. pg 1-6.
http://www.warintek.progressio.or.id/ttg/pangan/ubi jalar,2004
Apraidji, Wied Harry. 2000.
http://www.pondokrenungan.com/isi.php?table=sehat&id=15&next=0
Faust, M and JD Klein. 1973. Levels and Sites of Metabolically active Ca in
Apple Fruit. CRC Press. Boca Raton Florida
Fellows, P. 1990. Food Processing Technology Principles and Practice.
Departement Catering Management. Oxford. Ellis Horwood. New York
Fennema, OR. 1976. Principle of Food Science. Part I Food Chemistry. Marcell-
Dekker, Inc. NY & Bassel
Kumalaningsih, S., S Haryono dan Y. F. Amir. 2004. Pencegahan Pencoklatan
Umbi Ubi Jalar (Ipomea batatas L.) Untuk Pembuatan Tepung:
Pengaruh Kombinasi Asam Askorbat dan Sodium Acid
Phyrophosphate. Jurnal Teknologi Pertanian Vol.5 No 1; 11-19
Mucthtadi, D. 1992. Fisiologi Pasca Panen Sayuran dan Buah-Buahan. PAU.
Pangan dan Gizi. IPB. Bogor
Siddiq, M., N.K Sinha, and Cash J.N. 1992. Characterization of PPO from
Stanley Plums dalam Kumalaningsih, S., S Haryono dan Y. F. Amir.
2004. Pencegahan Pencoklatan Umbi Ubi Jalar (Ipomea batatas L.)
Untuk Pembuatan Tepung: Pengaruh Kombinasi Asam Askorbat dan
Sodium Acid Phyrophosphate. Jurnal Teknologi Pertanian Vol.5 No 1;
11-19
PKMI-2-12-1

AKTIVITAS FIBRINOLISIS JUS BAWANG PUTIH


(Allium sativum) PADA TIKUS WISTAR
YANG DIPAPAR ASAM TRANEKSAMAT

Samsul Arifin
Program Studi Pendidikan Dokter, Universitas Jember, Jember

ABSTRAK
Jus bawang putih dapat mencegah terjadinya trombosis pada kardiovaskuler.
Untuk mengetahui pengaruhnya terhadap fibrinolisis digunakan tikus wistar
betina yang diberi bawang putih dengan dosis 2,4 dan 6 g/kg BB dengan disertai
pemberian asam traneksamat sebagai antiplasmin selama 7 hari lalu diukur lysis
timenya. Jika dibandingkan dengan kelompok kontrol dan kelompok 1 (diberi
asam traneksamat saja), kelompok yang diberi jus bawang putih dapat
meningkatkan aktivitas fibrinolisis secara signifikan pada dosis 2,4 dan 6 g/kg
BB. Sehingga bawang putih dapat digunakan untuk mencegah terjadinya
trombosis. Pengaruh ini mungkin melalui peningkatan tissue plasminogen
activator (t-PA).
Kata kunci: Bawang putih, trombosis, fibrinolisis, tissue plasminogen activator.

PENDAHULUAN
Asetil salisilat yang digunakan untuk mencegah infark miokard akut dan
angina adalah bersifat hepatotoksik.1 Lebih dan 90% pasien infark miokard akut
transmural berkaitan dengan trombosis koroner.2 Trombosis merupakan
pembentukan massa bekuan darah (trombus) dalam sistem kardiovaskuler yang
tidak terkendali.3 Trombus terbentuk jika trombosit melekat pada permukaan yang
abnormal seperti plak aterosklerosis atau endotelium yang rusak sehingga
merangsang trombosit mensekresi adenosin difosfat dan tromboksan A2 (TXA2).
Adenosin difosfat akan menginduksi trombosit untuk melekat ke trombosit lain
(agregrasi). Tromboksan A2 merupakan perangsang agregasi trombosit yang
sangat kuat dan menyebabkan vasokonstriksi. Selain itu trombosit yang sudah
diaktifkan akan mempercepat pembentukan trombin dan mengaktifkan faktor V
dan faktor VII serta akhirnya mengubah fibrinogen menjadi fibrin.4 Bila trombus
terbentuk tidak dipecah maka lumen arteri tersumbat dan bisa terjadi iskhemia
jaringan.
Trombus akan dicegah dan dihancurkan oleh sistem antikoagulan dan
fibrinolitik tubuh. Diketahui pula bahwa ajoene, allicin dan polisulfid yang
terdapat dalam bawang putih sangat efektif sebagai antitrombosis. Menurut
Chutani dan Bordia dengan mengkonsumsi bawang putih mentah 0,5 gram/kg per
hari, aktivitas fibrinolisis meningkat 72 % 6 jam setelah makan bawang putih dan
84,8 % pada hari ke-28.5 Selain itu pemberian bawang putih 2 gram/kg selama 4
minggu yang dilakukan oleh Huey Chen et al 6 mampu menurunkan adenosin
difosfat serta berdasarkan penelitian Banerjee et al, 7 ajoene dan polisulfid mampu
menghambat pembentukan tromboksan Az, sehingga bawang putih dapat
digunakan sebagai antitrombosis.Dari uraian di atas akan dibuktikan peranan jus
bawang putih terhadap peningkatan waktu lysis time pada tikus Wistar yang di
papar asam traneksamat.
PKMI-2-12-2

Hemostasis
Hemostasis merupakan peristiwa penghentian perdarahan akibat putus atau
robeknya pembuluh darah.8 Ada empat fase pada hemostasis, yaitu:konstriksi
pembuluh darah, pembentukan jendalan (agregrat) trombosit, pembentukan jala
fibrin dan pelarutan parsial atau total jendalan hemostatik atau trombus oleh
plasmin.

Koagulasi
Ada 2 lintasan yang membentuk bekuan fibrin, yaitu lintasan intrinsik dan
lintasan ekstrinsik. Kedua lintasan ini menjadi satu dalam final common pathway,
yang melibatkan aktivasi protrombin menjadi trombin dan proses pemecahan
fibrinogen yang dikatalisasi oleh trombin untuk membentuk bekuan fibrin. Dalam
lintasan akhir bersama (final common pathway), faktor Xa mengaktifkan
protrombin (faktor II) menjadi trombin (faktor IIa) yang kemudian mengubah
fibrinogen menjadi fibrin. Selain itu trombin juga mengubah faktor XIII menjadi
XIIIa sehingga bekuan fibrin lebih stabil. 8

Sistem Antikoagulasi
Sistem koagulasi normalnya berada dalam keseimbangan dinamis.
Plasmin yaitu protease serin yang bertanggung jawab atas proses penguraian
fibrin dan fibrinogen. Plasmin berada dalam sirkulasi sebagai zimogen inaktif
yaitu plasminogen. Plasmin dalam sirkulasi dihambat oleh antiplasmin 2. Jika
terdapat luka pada vaskuler plasminogen akan terikat dengan fibrinogen dan
fibrin.8 Dalam bekuan plasminogen akan diaktifkan oleh aktivator plasminogen
jaringan (t-PA) yang dihasilkan oleh endotel vaskuler. Sehingga plasmin akan
menguraikan fibrinogen dan fibrin menjadi fibrinogen degradation product
(FDP).1,7,9 FDP sendiri mempunyai sifat antikoagulan dan dengan demikian dapat
menghambat proses koagulasi yang berlebihan.2
Selain menguraikan bekuan tubuh juga menghambat kerja trombin oleh
antitrombin. Inhibitor trombin yang paling penting adalah antitrombin III yang
memberikan kurang lebih 75 % dari aktivitas antitrombin. Antitrombin III juga
menghambat faktor IXa, Xa, XIa dan XIIa. Aktivitas antitrombin III diperkuat
heparin melalui peningkatan pengikatan antitrombin III pada trombin.8
Sel endotel mensintesis prostasiklin (PGI2) yang merupakan inhibitor kuat
agregrasi trombosit dengan melawan kerja tromboksan A2. Prostasiklin bekerja
dengan merangsang aktivitas adenilil siklase dalam membran trombosit sehingga
cAMP meningkat dan akan melawan peningkatan Ca2+ intrasel. Selain itu endotel
juga menghasilkan ADPase yang menghidrolisis adenosin difosfat dan aktivator
plasminogen jaringan (t-PA).8,9

Asam Traneksamat
Obat ini mempunyai indikasi dan mekanisme kerja yang sama dengan
asam aminokaproat, tetapi 10 kali lebih poten dan efek sampingnya lebih ringan.1
Asam aminokaproat yang analog asam traneksamat bersifat menghambat secara
kompetitif aktivasi plasminogen dan menghambat plasmin.1,10 Plasmin adalah
protease serin yang terutama bertanggung jawab atas penguraian fibrin dan
PKMI-2-12-3

fibrinogen.8 Penderita disseminated intravascular coagulation (DIC) merupakan


kontraindikasi karena dapat menyebabkan pembentukan trombus yang mungkin
bersifat fatal. 1

Bawang Putih (Allium sativum)


Tanaman bawang putih diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom : Plantae (tumbuh-tumbuhan)
Divisi : Spermatophyta (Tumbuhan berbiji)
Subdivisi : Angiospermae (berbiji tertutup)
Kelas : Monocotyledonae (biji berkeping satu)
Bangsa : Lililes
Famili (Suku) : Liliaceae
Genus (Marga) : Allium
Spesies (Jenis) : Allium sativum

Struktur morfologi bawang putih terdiri atas: akar, batang utama, batang
semu, tangkai bunga yang pendek atau sekali tidak keluar, dan daun. Akar bawang
putih terbentuk di pangkal bawah batang sebenimya (discus). Sistem perakaran
tanaman ini menyebar ke segala arah. Di atas discus terbentuk batang semu yang
dapat berubah bentuk dan fungsinya sebagai tempat penyimpanan makanan
cadangan atau disebut "umbi". Umbi bawang putih terdiri atas beberapa bagian
bawang putih yang disebut "siung". Siung-siung ini terbungkus oleh selaput tipis
yang kuat, sehingga tampak dari luar seolah-olah umbi yang berukuran besar.
Bawang putih merupakan tanaman herba yang tumbuh berumpun dan memiliki
ketinggian sekitar 60 cm. Bagian bawahnya bersiung-siung, bergabung menjadi
umbi besar berwama putih. Daunnya berbentuk pita (pipih memanjang). Tanaman
yang bunganya berwama putih ini banyak ditanam diladang-ladang di daerah
pegunungan yang cukup mendapat sinar.11

Bawang Putih Meningkatkan Fibrinolisis dan Antiagregrasi


Berdasarkan uji in vitro maupun in vivo, bawang putih memiliki aktivitas
antitrombosis. Aktivitas ini meliputi penurunan konsentrasi fibrinogen serum dan
peningkatan aktivitas fibrinolisis.12 Beberapa penelitian menunjukkan bahwa
pemberian minyak bawang putih dan bawang putih mentah secara akut dan kronik
akan meningkatkan aktivitas fibrinolisis. Menurut penelitian yang dilakukan oleh
Chutani dan Bordia dengan mengkonsumsi bawang putih mentah 0,5 gram/kg,
aktivitas fibrinolisis meningkat 72% 6 jam setelah makan bawang putih dan 84,8
% pada hari ke-28 5 dan berdasarkan studi yang dilakukan oleh Legnani et al,
menyatakan bahwa peningkatan aktivitas fibrinolisis sebanding dengan
peningkatan tissue plasminogen activator (t-PA) pada pemberian bawang putih
(Allium sativum) dalam bentuk powder secara akut dan kronik.7
Uji in vivo lainnya pemberian bawang putih mentah 2 gram/kg selama 4
minggu pada tikus dapat menurunkan tekanan darah, meningkatkan waktu
perdarahan, meningkatkan cAMP dan prostasiklin.6 Menurut Banerjee et al 7
ekstrak bawang putih segar efektif menurunkan sintesis tromboksan A2 baik pada
uji in vitro maupun in vivo. Penelitian lain menunjukkan bahwa bawang putih
dapat menghambat trombin untuk menginduksi trombosit sehingga
mengakibatkan menurunnya sintesis tromboksan A2. Oleh karena itu bawang
PKMI-2-12-4

putih dapat menurunkan agregrasi trombosit sehingga dapat mencegah terjadinya


trombosis.

Allicin dan Derivatnya


95 % total sulfur dalam bawang putih terkandung pada sistein sulfosida
dan y-glutamilsistein. Selanjutnya sebagian Y-glutamilsistein ini akan diubah
menjadi sistein sulfosida juga. Sistein sulfosida sebagian besar terdiri dari alliin.
Sistein sulfosida oleh enzim alliinase akan diubah menjadi senyawa-senyawa
thiosulfonat diantaranya allicin, allil metan thiosulfonat. Di air senyawa-senyawa
thiosulfonat secara spontan akan bembah menjadi senyawa sulfid diantaranya
adalah diallil trisulfid, diallil disulfid, allil metil trisulfid dan allil metil disulfid.13
Allicin yang terdapat dalam bawang putih adalah salah satu inhibitor kuat
release dan antiagregrasi trombosit melalui inhibisi sintesis tromboksan A2,
hambatan aktivasi fosfolipase membran dan mobilisasi kalsium ke intraseluler.12
Menurut G. Siegal et al allicin dapat menyebabkan hiperpolarisasi membran
melalui pembukaan kanal ion K+ yang selanjutnya akan menutup kanal Ca2+
sehingga Ca2+ intraseluler menurun dan mengakibatkan agregrasi trombosit
menurun.13
Diallil disulfid dan diallil trisulfid secara in vivo mampu menghambat
secara aktif pembentukkan trombus pada stenosis arteri koronaria dan diduga
polisulfid mampu menghambat sintesis.tromboksan A2.7 Hal ini didukung oleh
hasil penelitian Belman S et al 15 yang menunjukkan bahwa diallil trisulfida, allil
metil trisulfid dan diallil disulfid adalah inhibitor kompetitif dari enzim
lipooksigenase dari soybean.
Metil allil trisulfid (MATS) yang berasal dari degradasi allicin mampu
secara efektif mengurangi kecenderungan penggumpalan trombosit. Hal ini
didukung dengan penelitian 3 orang dan Nippon University School of Medicine
yang menunjukkan bahwa efek dari diallil disulfid adalah sepersepuluh kali dari
efek metil allil trisulfid.5
Dengan memngkatnya kasus tromboemboli yang dapat menyebabkan
gangguan pada kardiovaskuler seperti angina pektoris, ischemic attacks infark
miokard dan lain lain yang merupakan salah satu penyebab kematian terbesar di
Indonesia. Untuk itu maka pada penelitian ini secara umum bertujuan untuk
mencari obat altematif dan mengembangkan obat yang potent, murah, aman dan
mudah didapatkan terutama yang berasal dari tanaman, salah satu diantaranya
adalah bawang putih, sehingga dapat digunakan untuk mencegah terjadinya
gangguan kardiovaskuler akibat tromboemboli. Sedangkan secara khusus
penelitian ini bertujuan membuktikan bahwa jus bawang putih dapat
meningkatkan aktivitas fibrinolisis pada tikus yang dipapar asam traneksanat.

METODE PENELITIAN
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Farmakologi Fakultas
Kedokteran Gigi Unaversitas Jember dari tanggal 10 Juli 2004 sampai 16 Juli
2004.
PKMI-2-12-5

Bahan Penelitian
Bahan yang digunakan untuk penelitian ini adalah jus bawang putih dan
asam traneksamat.

Alat Penelitian
Alat yang digunakan untuk penelitian ini adalah: kandang tikus, tempat
makanan dan minuman, timbangan, sonde, spuit, tabung, inkubator dan
stopwatch.
Pada penelitian digunakan tikus putih betina strain Wistar dengan berat
badan 150 - 250 g berumur 3-4 bulan yang diperoleh dari PUSVETMA Surabaya,
yang mengalami penyesuaian dan dipelihara dengan cara yang sama.

Pembuatan Jus Bawang Putih


Bawang putih yang telah dikupas diblender dengan kecepatan tinggi
selama 10 menit. Jus bawang putih yang telah diperoleh digunakan untuk
penelitian.

Uji Aktivitas Fibrinolisis


Tikus sebanyak 40 ekor dibagi secara acak dalam lima kelompok
perlakuan masing-masing kelompok terdiri 8 ekor tikus putih. Jus bawang putih
diberikan secara oral dengan menggunakan sonde sehari sekali selama 7 hari.
Perincian mengenai perlakuan terhadap masing-masing kelompok adalah sebagai
berikut:

Kelompok kontrol:
Kelompok kontrol: diinjeksi asam traneksamat 50 mg/kg.

Kelompok Perlakuan
Kelompok 2 : diinjeksi asam traneksamat 50 mg/kg dan jus bawang putih 2 g/kg
Kelompok 3 : diinjeksi asam traneksamat 50 mg/kg dan jus bawang putih 4 g/kg
Kelompok 4 : diinjeksi asam traneksamat 50 g/kg dan jus bawang putih 6 g/kg

Kelompok Pembanding
Kelompok 1 : aquadest 1 cc
Setelah 7 hari, binatang percobaan dianestesi dengan eter dan diambil
darahnya secara langsung melalui jantung (Cardiac puncture) sebanyak 2 ml.
Darah yang diambil kemudian dimasukkan dalam tabung dan dibiarkan sampai
terbentuk bekuan. Lysis time diukur mulai dari saat bekuan terbentuk sampai saat
mulai terjadinya lisis dari bekuan.16

Rancangan Penelitian dan Analisis Data


Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap
dan data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji Anova. Apabila pada
hasil perlakuan yang diberikan terdapat perbedaaan yang bermakna maka
dilanjutkan dengan uji Tukey-HSD dengan taraf 5 %.17
PKMI-2-12-6

Kerangka Konseptual Penelitian


Pengambilan darah dari jantung menyebabkan dilepaskannya
tromboplastin jaringan. Selanjutnya tromboplastin jaringan akan mengaktifkan
faktor VII menjadi faktor Vila. Sedangkan kaca tabling mengaktifkan faktor XII
menjadi faktor XIIa. Selanjutnya faktor XIIa akan mengaktifkan faktor XI
menjadi faktor XIa dan juga faktor XIa akan mengaktifkan faktor IX menjadi
faktor IXa.
Faktor IXa bersama dengan faktor Va, Vila, Villa dan Ca24+ akan
mengaktifkan faktor X menjadi faktor Xa. Aktifnya faktor Xa akan menyebabkan
pengaktifan protrombin menjadi trombin yang kemudian mengubah fibrinogen
menjadi fibrin. Asam traneksamat secara tidak langsung meningkatkan bekuan
darah dengan menghambat kerja plasmin secara kompetitif. Akibatnya adalah
meningkatnya fibrin dalam darah.
Selain mampu mencegah peningkatan agregrasi trombosit, bawang putih
juga dapat meningkatkan aktivitas fibrinolisis baik pada pemberian secara akut
maupun kronik. Pemberian bawang putih dalam bentuk powder dapat
meningkatkan aktivitas fibrinolisis yang sebanding dengan peningkatan aktivitas
tissue plasminogen activator.
Bila terjadi peningkatan fibrin akibat paparan asam traneksamat, maka
yang muncul adalah peningkatan lamanya waktu fibrinolisis. Lamanya waktu
fibrinolisis ini dapat diukur dengan pemeriksaan lysis time.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Dari hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa kelompok tikus betina
yang diinjeksi asam traneksamat dan diberi jus bawang-putih dapat meningkatkan
aktivitas fibrinolisis. Dari tabel 3.1. dengan menggunakan uji anovaterlihat bahwa
p=0,000, hal ini berarti terdapat perbedaan lysis lime yang signifikan antar
kelompok-kelompok perlakuan (p < 0,05)

Tabel 3.1. Tabel Hasil Uji Anova

Variabel Tergantung F Sig


Lysis Time 494,106 ,000

Untuk menentukan apakah terdapat perbedaan yang nyata antar kelompok


maka dilakukan uji lanjutan Tukey-HSD. Pada kelompok yang di beri asam
traneksamat saja (kelompok satu), menunjukkan adanya peningkatan waktu lisis
bekuan dan pada uji lanjutan Tukey-HSD terdapat perbedaan yang nyata dengan
kelompok kontrol dan juga dengan kelompok jus bawang putih dosis 2,4 dan 6
gram/kg pada p < 0,05. Sedangkan pada kelompok perlakuan yang diberi jus
bawang putih dosis 2,4 dan 6 gram/kg memperlihatkan perbedaan yang sangat
nyata dengan semua kelompok percobaan.
PKMI-2-12-7

Tabel 3.2 Tabel hasil uii statistik

Kelompok N Mean + Standar Deviasi


Kontrol 6 1820,00+63,77*
Satu 8 1932,50 17,45 b*
Dua 6 1603,33+38,94*
Tiga 5 1378,00+30,33*
Empat 5 1095,00+3,87 a*
Keterangan : N = Jumlah sampel
Satuan lysis time = menit
a = nilai terendah
b = nilai tertinggi
* = berbeda signifikan terhadap kontrol

Berdasarkan data penelitian di atas, menunjukkan bahwa asam


traneksamat pada tikus dapat menghambat fibrinolisis, hal ini disebabkan karena
asam traneksamat dapat menghambat secara kompetitif aktivasi plasminogen dan
menghambat kerja plasmin.1,10 Plasmin adalah protease serin yang terutama
bertanggungjawab atas penguraian fibrin dan fibrinogen,8 sehingga jika jumlah
plasmin berkurang maka fibrinolisis akan terhambat.
Kemampuan jus bawang putih dalam meningkatkan aktivitas fibrinolisis
pada tikus wistar yang dipapar inhibitor plasmin yaitu asam traneksamat
dimungkinkan karena kandungan senyawa dalam bawang putih dapat
meningkatkan aktivasi plasminogen dan aktivitas dari plasmin. Hal ini didukung
oleh hasil penelitian Legnani et al, yang menyatakan bahwa peningkatan aktivitas
fibrinolisis sebanding dengan peningkatan tissue plasminogen activator (t-PA)
pada pemberian bawang putih dalam bentuk powder.7 Plasmin yang meningkat
selain menguraikan fibrin, juga akan menguraikan fibrinogen sehingga fibrinogen
akan menurun jumlahnya. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan
oleh Harenberg et al 17 bahwa bawang putih mampu menurunkan fibrinogen
secara signifikan sebesar 10%.
Tissue plasminogen activator merupakan suatu protease yang dihasilkan
oleh endotel vaskuler oleh karena itu dimungkinkan senyawa - senyawa yang
terdapat dalam jus bawang putih seperti allicin dan turunannya mempengaruhi
endotel vaskuler untuk mengeluarkan tissue plus ninogen activulor (t-PA)8
.Adanya pengaruh bawang putih terhadap endotel vaskuler ini juga didukung oleh
hasil penelitian bahwa bawang putih dapat memodulasi produksi dan fungsi
Endotelium Derived Relaxing Factor (EDRF). Dan ada dugaan senyawa yang
mempengaruhi endotel vaskuler itu adalah allicin, oleh karena allicin dapat
meningkatkan sintesis nitrit oksid (NO) oleh endotel vaskuler.7
Pada tabel 3.2 dapat dideskripsikan bahwa dosis jus bawang putih pada
kelompok dua, tiga dan empat akan menyebabkan perbedaan hasil lysis time yang
berbeda secara bermakna. Sedangkan pada kurva dosis respon menunjukkan
bahwa dosis bawang putih sebesar (5 gram/kg memberikan potensi atau respon
yang paling besar terhadap peningkatan aktivitas fibrinolisis jika dibandingkan
PKMI-2-12-8

dengan dosis 2 dan 4 gram/kg. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi dosis
bawang putih yang diberikan maka aktivitas fibrinolisisnyajuga akan meningkat.
Peningkatan aktivitas fibrinolisis ini mungkin karena pada dosis yang semakin
besar maka jumlah tissue plasminogen activator (t-PA) semakin besar dan
selanjutnya aktivitas plasmin juga meningkat sehingga aktivitas fibrinolisis akan
meningkat.

2000
Lysis Time (menit)

1500
Series2
1000
Series1
500

0
21 24 63
Dosis Perlakuan (gram/kg BB)

Gambar 3.1 Kurva dosis - respon pada kelompok yang diberi jus bawang putih

KESIMPULAN
- Jus Bawang putih berperan sebagai antitrombosis dengan meningkatkan
fibrinolisis pada tikus yang dipapar asam traneksamat.
- Jus bawang putih dengan dosis 2,4 dan 6 g/kg adalah dosis yang secara
signifikan atau berpotensi meningkatkan aktivitas fibrinolisis pada tikus yang
dipapar asam traneksamat.
- Bawang putih mungkin dapat meningkatkan tissue plasminogen activator pada
tikus yang dipapar asam traneksamat.

DAFTAR PUSTAKA
1. Ganiswarna, Sulistia G. 1995. Antikoagulan, antitrombosis, trombolitik dan
hemostatik. Farmakologi dan terapi, 51 (4): 755 - 61.
2. Suyono, S, Sarwono, W dan Leurenttius L. 2001. Hematologi. Ilmu penyakit
dalam.5(3) : 577-78.
3. Robbins SL dan Vijay Kumar. 1997. Gangguan cairan dan hemodinamik. Buku
ajar patologi I. 3(4): 66- 78.
4. Stamler, Kaplan. 1991. Pencegahan penyakit jantung : 148-51
5. Roser, David. 2000. Bawang putih untuk kesehatan : 52-60.
6. Huey Chen J, Hsiun-ing Chen, Shun -Jen Tsay and Chauying JJ. Chronic
consumption of raw but not boiled welsh onion juice inhibit rat platelet .-
function. [Serial on line] 2000. Available from http://www. nutrition, org
7. Banerjee. SK, Maulik SK, Effec of garlie on cardiovascular disorder; a review
[Serial on line] 2002. Available from http://www. gordonresearch.com
PKMI-2-12-9

8. Murray, RK, Daryl KG, Peter AM dan Victor. 1999. Protein plasma
imunoglobin dan pembekuan darah. Biokimia Harper. 59 (24): 743-53.
9. Guyton AC, Hall JE. 1997. Buku ajar fisiologi kedokteran: 579-88.
10. Katzung, B G. 2001. Farmakologi dasar dan klinik .541
11. Rukmana R. Budidaya bawang putih : 18-31.
12. Carol, AN. 1996. Garlic.Herbal medicine : 129-33.
13. The Phytochemistry of herbs. Available from http:// www. Garlic advanced,
com
14. Siegal, G. et al. Changes in vascular tone and calcium metabolisme. Available
' from http:// www.mistral.co.uk.
15. Belman S, Solomon J, Block E and Barany G. Inhibition of soybean
lipoxygenase and mouse skin tumor promotion by onion and garlic
components, [serial on line] 1989. Available from http:// www.Pubmed.
com
16. Eveline, Jane, Hamot, Rini, R dan Irine EM. 2002. Clot retraction. Petunjuk
praktikum patologi klinik 14 (1): 52 - 53.
17. Harenberg, Giese C and Zimmermann R. Effec of dried garlic on blood
coagulation, fibrinolysis, platelet aggregation and serum cholesterol levels
in patients with hyperlipoproteinemia. [Serial on line] 1988.Available from
http:// www.Pubmed. com
18. Santoso, Singgih. 2003. One way Anova. SPSS versi 10:261.
PKMI-2-13-1

PELATIHAN MEMBUAT CENDRAMATA


PERAHU PINISI DARI LIMBAH KAYU GERGAJIAN PADA
ANAK PANTI ASUHAN SETIA KARYA KOTA MAKASSAR *)

Akmal Baharuddin dan Ridwan


Jurusan Teknik Sipil dan Perencanaan
Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar, Makasar

ABSTRAK
Tujuan Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKMM) ini
adalah: (1) Terciptanya anak panti asuhan, dan mahasiswa yang kreatif dalam
memanfaatkan limbah kayu gergajian yang terbuang percuma menjadi komuditas
bernilai ekonomi yaitu konstruksi cendramata perahu pinishi berbagai ukuran,
model dan bentuk, (2) Terciptanya anak panti asuhan dan mahasiswa mempunyai
pengetahuan dan terampil membuat cendramata perahu pinishi berbagai ukuran,
model dan bentuk dengan memanfaatkan limbah kayu gergajian dari
penggergajian kayu yang bernilai seni dan bernilai ekonomi. Metode yang
ditempuh dalam kegiatan ini adalah: (1) Pada saat pemberian materi penyuluhan
tentang pemanfaatan limbah kayu gergajian menjadi cendramata perahu pinishi
dan desainnya metode yang digunakan yaitu: ceramah diskusi, tanya jawab, dan
simulasi, (2) Pada saat membuat cendramata perahu pinishi dari limbah kayu
gergajian, metode yang digunakan adalah demonstrasi, dan tanya jawab. Hasil
yang dicapai adalah: (1) Anak panti asuhan dan mahasiswa memiliki
pengetahuan dalam hal pemanfaatan limbah kayu gergajian untuk pembuatan
cendramata perahu pinishi berbagai model dan bentuk untuk peruntukan
berbagai kebutuhan ruang, (2) Anak panti asuhan dan mahasiswa memiliki
keterampilan membuat cendramata perahu pinishi berbagai model dan bentuk
dari limbah kayu gergajian yang bernilai seni dan bernilai ekonomi.
Kata Kunci: cendramata, limbah, kayu gergajian.

PENDAHULUAN
Panti Asuhan Setia Karya yang berlokasi di Jalan Manuruki Raya No. 29
A Makassar memiliki anak asuh sebanyak 61 orang, yang terdiri dari 41 laki-laki
dan perempuan 20 orang. Dari 41 orang laki-laki tersebut, 8 orang yang sekolah di
SMU, 22 orang di SMP, dan 11 orang yang sekolah di SD (Kelas 5 dan kelas 6).
Sementara perempuannya 5 orang yang sekolah di SMU, 12 orang sekolah SMP,
dan 3 orang sekolah di SD, (Sumber Data: Panti Asuhan Setia Karya Kota
Makassar, 2002).
Menurut pimpinan Panti Asuhan M. Muzakkar, S.Ss, kemungkinan
besar anak asuh yang didiknya tidak dapat melanjutkan studinya ke perguruan
tinggi, mengingat biaya yang dibutuhkan cukup tinggi. Oleh karena itu harapan
saya ebagai pimpinan Panti Asuhan Setia Karya, kiranya anak asuhnya dapat
memiliki pengetahuan dan keterampilan, apakah kerja kayu, kerja mesin, kerja
batu dan sebagainya. Dengan keterampilan anak yang saya asuh ini, yang
dimilikinya itu memungkinkan anak-anak panti ini kelak nantinya mandiri
dan dapat membantu mengembangkan panti asuhan (Wawancara tgl. 20 Agustus
2002 di Panti Asuhan Setia Karya).
PKMI-2-13-2

Melihat kurikulum Sekolah Menengah Umum (SMU) dan Sekolah


Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) yang ada sekarang terutama muatan lokal tidak
banyak menyajikan keterampilan terutama keterampilan kayu dalam hal membuat
cendramata. Padahal jika seorang anak siswa (dalam hal ini anak panti asuhan)
yang tidak dapat meneruskan pendidikannya lagi, dan memiliki keterampilan
kayu, maka besar kemungkinannya untuk mengembangkan diri untuk berusaha
keterampilan kayu.
Lanjutan wawancara dengan Pimpinan Panti Asuhan Setia Karya, saya
sebagai Mahasiswa Jurusan Teknik Arsitektur dan Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Negeri Makassar, bertanya Apakah Anak panti telah diberikan
keterampilan membuat cenramata misalnya: perahu pinisi dari serpihan kayu ?,
jawaban dari pimpinan panti mengatakan tidak pernah. Hal itu disebabkan tidak
ada orang yang bersedia dan terampil untuk melatih mereka dalam hal mengasah
alat-alat kerja kayu bermesin dan tidak bermesin dan mempraktekkan
penggunaaanya, serta membuat cendramata seperti disebut di atas. Selanjutnya
saya mengatakan Apakah bapak bersedia menerima tim kami melakukan
pelatihan membuat cenramata perahu pinisi dengan memanfaatkan serpihan kayu
buangan penggergajian kayu ?. Spontanitas Pimpinan Panti Asuhan Setia Karya
Muh. Muzakar, S.Ss, saya sangat bersedia dan mengucapkan banyak terima kasih.
Di sisi lain, disekitar panti asuhan banyak pengegergajian kayu yang
membuang serpihan-serpihan kayu berupa papan dan balok berbagai macam
ukuran, yang masih dapat dimanfaatkan atau diproses menjadi konstruksi
cenramata perahu pinisi berbagai ukuran serta berbagai bentuk dan model. Oleh
karena itu sangat tepat untuk memanfaatkan kayu buangan tersebut untuk melatih
anak panti asuhan membuat cendramata perahu pinisi dari limbah serpihan kayu
gergajian.
Melihat kenyataan di lapanagan dan sebagai mahasiswa yang sementara
mengikuti kuliah pada Jurusan Teknik Arsitektur dan Teknik Sipil Fakultas
Teknik Universitas Negeri Makassar dimana telah kami mendapatkan mata kuliah
Rupa dasar yaitu dapat berkreasi dalam memanfaatkan barang yang tidak berguna
menjadi barang atau cendramata yang bias menjadi suatu karya seni yang
dipandang artistik. Mata kuliah Studio Perancangan Arsitektur (desain bangunan
rumah tinggal, hotel, restoran, dan cafe), Merencana ruang dalam termasuk
penataan prabot serta pada berbagai kamar atau ruang (interior), dan kerja
maket, yaitu mahasiswa membuat gambar fisik karya Arsitektur, dan dituntut
membuat maket karya tersebut dengan skala kecil.
Pengalaman kuliah berikutnya adalah mata kuliah kerja kayu, di sini juga
kami dapatkan pengalaman-pengalaman membuat berbagai macam benda-benda
dari kerajinan kayu. Dari pengalaman tersebut diatas kami sebagai mahasiswa
Teknik Arsitektur merasa terpanggil untuk melakukan pelatihan membuat
cendramata perahu pinisi dengan memanfaatkan limbah kayu gergajian pada Panti
asuhan Setia Karya Kota Makassar. Adanya pelatihan ini akan sangat
memungkinkan anak asuh Panti Asuhan Setia Karya memiliki keterampilan
mengasah dan menggunakan alat kerja kayu bermesin dan tidak bermesin dengan
baik dan benar, serta memiliki keterampilan membuat cendramata perahu pinisi
dari serpihan-serpihan kayu. Adanya keterampilan membuat cendramata perahu
pinisi dengan memanfaatkan serpihan-serpihan kayu gergajian memungkinkan
PKMI-2-13-3

anak panti dapat berwirausaha, dan dapat mengembangkan panti Asuhan Setia
Karya dimasa yang akan datang.
Oleh karena itu masalah dalam Kegiatan / Program ini adalah sebagai
berikut: (1) Limbah kayu gergajian seperti papan, dan balok-balok berbagai
ukuran menjadi limbah di kawasan penggergajian kayu dan bahkan hanya diambil
sebagai kayu bakar, (2) Papan dan balok-balok kayu berbagai ukuran tersebut
ternyata tidak dimanfaatkan oleh masyarakat menjadi barang berharga atau
bernilai ekonomi seperti halnya konstruksi perahu pinisi dengan berbagai ukuran,
model dan bentuk untuk berbagai keperluan, (3) Adanya permintaan pimpinan
panti asuhan Setia Karya untuk didesainkan cendramata perahu pinisi berbagai
ukuran, model dan bentuk dari limbah kayu gergajian yang bisa bernilai ekonomi,
(4) Adanya pengalaman mata kuliah seperti rupa dasar, studio perancangan
arsitektur, dan kerja maket sehingga kami berkeinginan untuk memanfaatkan
papan, dan balok berbagai ukuran, model dan bentuk untuk berbagai keperluan,
(5) Adanya pengalaman praktek workshop kayu juga telah kami alami sehingga
baik menggunakan alat maupun membuat cendramata perahu pinisi dari limbah
kayu gergajian tidak menyulitkan bagi kami, (6) Anak panti asuhan yang diasuh
oleh Panti Asuhan Setia Karya tidak memiliki pengetahuan keterampilan
mengasah alat-alat kerja kayu, dan menggunakan alat-alat kerja kayu yang
bermesin dan tidak bermesin dengan baik dan benar, (7) Anak Panti Asuhan yang
diasuh oleh Panti Asuhan Setia Karya tidak memiliki pengetahuan dan
keterampilan membuat cendramata perahu pinisi dari serpihan kayu gergajian
yang dapat bernilai ekonomi.
Tujuan Program ini adalah sebagai berikut: (1) Terciptanya mahasiswa
yang mempunyai pengetahuan, dan terampil membuat cendramata perahu pinisi
dengan memanfaatkan limbah serpihan-serpihan kayu gergajian dari
penggergajian kayu, (2) Terciptanya mahasiswa yang kreatif dan inofatif dalam
memanfaatkan sumber daya alam yang terbuang percuma menjadi komuditas
bernilai ekonom, (3) Terciptanya anak panti asuhan yang mempunyai
pengetahuan, dan terampil membuat cendramata perahu pinisi berbagai ukuran,
model dan bentuk dengan memanfaatkan limbah serpihan-serpihan kayu
gergajian dari penggergajian kayu, (4) Terciptanya anak panti asuhan Setia Karya
yang kreatif dan inovatif dalam memanfaatkan sumber daya alam yang terbuang
percuma menjadi komuditas bernilai ekonomi yaitu: konstruksi cendramata
perahu pinisi berbagai ukuran, model dan bentuk dengan memanfaatkan limbah
serpihan-serpihan kayu gergajian dari penggergajian kayu yang dapat dikomsumsi
setiap rumah tangga, hotel, dan penginapan, baik dalam negeri maupun luar negeri
(manca negara) oleh karena itu merupakan komudirtas ekspor.
Rangka cendramata perahu pinisi berbagai ukuran dengan memanfaatkan
limbah serpihan-serpihan kayu gergajian, dapat dipasangi layar dan landasan
sehingga menjadi cendramata perahu pinisi. Cendramata perahu pinishi berbagai
ukuran merupakan komoditi yang dibutuhkan oleh setiap rumah tangga, seperti
halnya cendramata dari limbah serpihan kayu lainnya (Dalih, dan Sutiarna,1978).
Mesin yang digunakan dalam membelah kayu gelondongan adalah
soumel, kayu gelondongan tersebut dibuat papan dan balok, dan serpihan-serpihan
kayu gergajian tersebut tidak dimanfaatkan. Menurut Sonny (1992) bahwa
penggunaan alat mesin (teknologi sederhana) bertujuan untuk membantu manusia
untuk melaksanakan tugas-tugasnya dan untuk menambah/meningkatkan
PKMI-2-13-4

produksi. Selain dari pada itu, penggunaan teknologi sederhana menyebabkan


manusia dapat bekerja dengan mudah, menimbulkan kenyamanan bekerja.
Dengan demikian ikut meningkatkan harkat dan martabat manusia.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa alat yang digunakan
untuk membelah yaitu mesin soumel, dengan membelah kayu gelondongan
menjadi papan dan balok, dan menghasilkan serpihan-serpihan kayu.
Kayu mempunyai banyak manfaat, seperti untuk bangunan, untuk
dijadikan perabot rumah tangga, untuk kerajinan cendramata, hiasan dinding dan
lain-lain (Janto,1988). Serpihan-serpihan kayu gergajian bisa dimanfaatkan
menjadi suatu karya seni yang artistik tergantung fungsi dan keguanaanya
(Soedjana,1978)
Dengan uraian tersebut atas dapat disimpulkan bahwa limbah kayu
gergajian yang terbuang dapat didesain dan dimodel menjadi komoditi yang
bernilai seni dan artistik baik diperuntukkan untuk kebutuhan rumah tangga
maupun kebutuhan lainnya, seperti halnya rangka cendramata perahu pinisi
berbagai ukuran.
Alat yang dibutuhkan dalam pekerjaan kayu yaitu: (1) Alat-alat bermesin
seperti: ketam listrik, bor listrik, mesin roter, (2) Alat-alat tanpa mesin (alat-alat
tangan) seperti: ketam biasa, gergaji belah dan potong, gergaji punggung, bor
tangan, siku, klem, meter dan lain-lain (Janto 1979). Dengan demikian alat-alat ini
juga digunakan sebagai alat membuat rangka cendramata perahu pinisi berbagai
ukuran, , dan sangat tergantung bentuk rangka cendramata perahu pinisi yang
akan dibuat.
Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka dapat disimpulkan bahwa limbah
serpihan-serpihan kayu gergajian yang terbuang dapat dimanfaatkan menjadi
suatu karya seni yang artistik dan bernilai ekonomi yang tinggi yaitu rangka
cendramata perahu pinishi berbagai ukuran. Untuk memberikan keterampilan
membuat rangka cendramata perahu pinisi, pada anak panti asuhan Setia Karya
Kota Makassar, dengan menggunakan alat-alat pertukangan kayu bermesin yaitu:
mesin ketam, bor listrik, mesin roter. Dan menggunakan alat-alat kerja kayu yang
tidak bermesin (alat-alat tangan) seperti: ketam biasa, gergaji belah dan potong,
gergaji punggung, bor tangan, siku, klem, meter dan lain-lain.

METODE PENDEKATAN
Khalayak sasaran antara yang strategis dalam program ini adalah sebagai
berikut: (1) Dinas Sosial Kota Makassar yang membidangi panti asuhan, (2)
Ketua Yayasan Setia Karya, (3) Ketua dan Pembina panti asuhan Setia Karya
Kota Makassar, (4) Anak panti pada panti asuhan Setia Karya Kota Makassar
(khalayak sasaran yang dilatih langsung).
Metode utama yang ditempuh dalam kegiatan ini adalah: (1) Pada saat
pemberian materi penyuluhan tentang pemanfaatan limbah kayu gergajian
menjadi cendramata perahu pinisi dan desainnya metode yang digunakan yaitu:
ceramah diskusi, tanya jawab, dan simulasi, (2) Pada saat membuat cendramata
perahu pinisi dari limbah kayu gergajian, metode yang digunakan adalah
demonstrasi, dan tanya jawab.
Metode demonstrasi digunakan untuk mendemonstrasikan membuat
cendramata perahu pinisi dari limbah kayu gergajian, diterangkan dahulu cara
memilih bahan, langkah kerja, dimensi, bahan dan alat yang digunakan, teknik
PKMI-2-13-5

menggunakan alat. Disini khalayak sasaran (anak panti asuhan) ikut langsung
melakukan, mengerjakan setiap jenis pekerjaan bersama dengan mahasiswa. Pada
saat itu juga terjadi diskusi, terutama sekali yang menyangkut sistimatika
pekerjaan tersebut.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil yang dicapai dalam program ini adalah: (1) Anak panti asuhan dan
mahasiswa memiliki pengetahuan dalam hal cendramata perahu pinisi berbagai
ukuran dari limbah hayu gergajian, yaitu: (a) Memiliki pengetahuan tentang
pemilihan bahan untuk hiasan perahu pinisi: pemilihan limbah kayu gergajian
yang cocok untuk dibuat untuk perahu pinisi, (b) Memiliki pengetahuan tentang
pembuatan cendramata perahu pinisi berbagai ukuran dari limbah hayu gergajian:
membuat desain dan gambar kerja, memotong limbah kayu sesuai ukuran,
membentuk badan pinisi, membuat tiang layar, membuat layar dari kain, membuat
landasan dari papan atau multipleks, membuat les landasan dari kayu profil,
membuatkan alur kaca, memasang perahu pinishi pada landasan, pinishing dan
pengecetan perahu pinisi dengan vernis atau pelitur, dan pemasangan kaca, (2)
Anak panti asuhan dan mahasiswa memiliki keterampilan membuat cendramata
perahu pinisi berbagai ukuran dari limbah hayu gergajian yaitu: (a) Pemilihan
limbah kayu gergajian untuk pembuatan perahu pinisi berbagai ukuran, (b)
Terampil membuat cendramata perahu pinisi berbagai ukuran dari limbah hayu
gergajian yaitu: membuat desain dan gambar kerja, memotong limbah kayu
sesuai ukuran, membentuk badan pinisi, membuat tiang layar, membuat layar dari
kain, membuat landasan dari papan atau multipleks, membuat les landasan dari
kayu profil, membuatkan alur kaca, memasang perahu pinishi pada landasan,
pinishing dan pengecetan perahu pinishi dengan vernis atau pelitur, dan
pemasangan kaca. Selain itu motivasi khalayak sasaran bersama anggota tim
program ini cukup tinggi mengikuti penyuluhan dan pelatihan dari awal sampai
selesai.
Program ini dianggap juga berhasil karena: (1) Khalayak sasaran tidak
menemukan kesulitan dalam memahami materi penyuluhan dan pelatihan yang
diberikan, (2) Khalayak sasaran berkeinginan menerapkan membuat cendramata
perahu pinisi berbagai ukuran dari limbah hayu gergajian ini pada rumahnya
masing-masing, (3) Khalayak sasaran berkeinginan untuk menyampaikan
penerapan membuat cendramata perahu pinisi berbagai ukuran dari limbah hayu
gergajian kepada khalayak sasaran yang lain (yang tidak sempat ikut penyuluhan
dan pelatihan).

KESIMPULAN
Berdasarkan penyuluhan dan pelatihan dilapangan, maka dapat
disimpulkan sebagai berikut: (1) Mahasiswa memiliki pengetahuan dan
keterampilan membuat cendramata perahu pinisi dari limbah kayu gergajian yang
bernilai seni dan ekonomi. Hal ini didukung oleh adanya masukan-masukan dan
diskusi yang dilakukan bersama dengan dosen pendamping, (2) Mahasiswa
mempunyai inovasi dan kreatif dalam memanfaatkan sumber daya alam dalam hal
ini limbah serpihan kayu gergajian untuk pembuatan cendramata perahu pinisi
yang dapat bernilai seni dan ekonomi. Hal ini didukung oleh adanya masukan-
masukan dan diskusi yang dilakukan bersama dengan dosen pendamping, (3)
PKMI-2-13-6

Anak panti asuhan memiliki pengetahuan dan keterampilan membuat cendramata


perahu pinisi dari limbah kayu gergajian yang bernilai seni ekonomi. Hal ini
didukung oleh adanya masukan-masukan dan diskusi dari mahasiswa dan dosen
pendamping, (3) Anak panti asuhan mempunyai inovasi dan kreatif dalam
memanfaatkan sumber daya alam dalam hal ini limbah serpihan-serpihan kayu
gergajian untuk pembuatan cendramata perahu pinisi yang bernilai seni dan
ekonomi. Hal ini didukung oleh adanya masukan-masukan dan diskusi dengan
mahasiswa serta dosen pendamping.

DAFTAR PUSTAKA
Dalih S.A, Sutiana. 1978. Petunjuk Mengerjakan kayu I. Jakarta: Proyek
Pengadaan Buku/Diktat Pendidikan menengah Teknologi Depdiknas
Gunawan. 1986. Mebel Kayu Lapis . Rancangan Disain, Bahan-bahan yang
Dipakai, dan Tahap Pelaksanaan. Jakarta: PT. Gramedia
Gunawan. 1986. Mebel Praktis . Disain Kayu Lapis yang Unik dan Serba Guna.
Jakarta: PT. Gramedia
Janto J.B. 1979. Pengetahuan Alat-alat Kayus. Yogyakarta: Yayasan Karnisius
Sampurno, Edi. 1978. Beberapa Rancangan Mebel Kayu Lapis. Jakarta: PT.
Gramedia
Subarkah, I. (1988 ). Konstruksi Bangunan Gedung. Bandung: Idea Dharma
Bandung.
Sugiharjo, 1975, Gambar-gambar Konstruksi Bangunan Gedung, Jakarta.
CV. Teknik
Supriadi . et.al. 1991. Profil Teknologi Padat Karya. Jakarta: Pengembangan
Sumber daya Manusia
Supribadi. I.K. 1986. Ilmu Bangunan Gedung. Bandung. Armico.
Sumadi. 1981, Konstruksi Kayu. Bandung: Institut Teknologi Bandung
Wilkening, F. 1987. Tata Ruang. Pendidikan Industri Kayu. Semarang : Kanisius.
PKMI-2-14-1

STUDI KARAKTERISTIK PENGUKURAN TEGANGAN DAN


RESPON HELMET INDUSTRI

Jon Heri, Eko Hardiansyah, Chandra.A Siregar, Muhammad Daud


Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Medan

ABSTRAK
Pengujian ketahanan helmet terhadap beban impak telah banyak dilakukan dan
terus berkembang, dengan menjatuhkan impaktor dari suatu ketinggian tertentu
(2 sampai dengan 3 m) menggunakan test rig jatuh bebas. Teknik standard ini
dipandang tidak efektif bila diaplikasikan pada helmet yang dipakai untuk
lapangan kerja konstruksi bangunan bertingkat, yang diperkirakan sebuah benda
dapat jatuh dari suatu ketinggian yang melebihi 3 meter. Paper ini
memperkenalkan suatu metode pengukuran respon helmet yang dikenai beban
impak kecepatan tinggi. Teknik pengukuran itu disebut dengan teknik dua gage,
yaitu menggunakan teori propagasi tegangan dalam batang suatu dimensi. Untuk
mendapatkan beban impak kecepatan tinggi impaktor ditempatkan dalam sebuah
barel dan ditembakkan ke lokasi impak helmet yang akan diuji, menggunakan alat
uji Kompresor Impak (KOMPAK). Dari hasil penelitian diperoleh bahwa set-up
teknik dua gage relatif mudah digunakan. Helmet yang diuji memberikan respon
beban dan waktu impak (tegangan insiden) sesuai dengan karakteristik
pembebanan.

Kata kunci : helmet industri, impak kecepatan tinggi, teknik dua gage

PENDAHULUAN
Selama ini helmet diuji menggunakan prosedur pengujian standard
menggunakan test rig dengan teknik jatuh bebas. Pengujian standard ini bertujuan
untuk melihat sejauh mana kemampuan helmet dalam menyerap energi impak.
Selain itu uji standard juga bertujuan meneliti keparahan rusak helmet yang
memungkinkan merusak lapisan kulit kepala lewat penetrasi. Teknik ini telah
banyak digunakan oleh berbagai pusat pengujian helmet, misalnya Sirim Berhad,
Malaysia dan B4T Deperindag, Bandung Indonesia, dan juga Pusat Riset Impak
dan Keretakan, Jurusan Teknik Mesin USU.
Memakai uji standard yang ada, baik memakai standard Jepang (JIS)
maupun Standard Nasional Indonesia (SNI) striker hanya dijatuhkan dari
ketinggian H=2 sampai dengan 3 meter. Dengan demikian kecepatan striker
hanya lebih kurang, v = 2 gH =6.3 m/detik. Kecepatan striker sebesar ini masih
tergolong kecepatan impak rendah. Padahal kenyataan di lapangan besar
kemungkinan suatu benda jatuh dari suatu ketinggian yang lebih tinggi.
Katakanlah sebuah benda jatuh bebas dari suatu gedung berlantai 10 (H=40m)
yang sedang dibangun dan menimpa pekerja yang menggunakan helmet standard.
Pertanyaannya apakah helmet tersebut akan tahan menerima benda jatuh dari
ketinggian tersebut?. Menggunakan rumus yang sama kita dapat memperkirakan
kecepatan jatuh benda tadi yaitu v=28.2 m/detik, kecepatan sebesar ini sudah
tergolong kecepatan impak tinggi. Dengan demikian menggunakan prosedur
standard yang sudah umum dipakai akan tidak mampu memberi keamanan kepada
sipekerja. Dalam hal ini helmet untuk pekerja konstruksi atau industri seperti itu
PKMI-2-14-2

seyogianya dibuat dari bahan dan desain yang khusus sehingga akan mampu
menahan beban impak kecepatan tinggi.
Dengan dilandasi pada latar belakang di atas peneliti telah
mengembangkan suatu teknik pengukuran respon helmet menggunakan sebuah
cara baru yang cocok untuk helmet tahan terhadap impak tinggi, yaitu teknik
pengukuran menggunakan set-up pengujian terbaru dari alat uji impak,
Kompresor Impak (KOMPAK) [1,2]. Pada gilirannya, teknik ini dapat digunakan
untuk mengukur kekuatan helmet industri akibat beban impak.

BAHAN DAN METODE


Bahan
Dalam penelitian ini spesimen helmet yang akan diuji adalah helmet
yang non-standard di peroleh dari toko-toko penjualan helmet industri tersebut.
Helmet industri jenis ini (Gambar 1), ternyata masih banyak digunakan
pada beberapa industri di Sumatera Utara, terutama pekerja konstruksi bangunan.
Peneliti mengasumsikan bahwa helmet jenis ini belum memenuhi kategori
standard. Alasannya karena tidak terdapat label dan sticker uji standard yang
ditempel pada helmet.
Untuk pengujian diperkirakan akan menggunakan sebanyak 10 buah
helmet, yang terdiri dari: (1) uji helmet non-standard dengan pengimpakan atas,
(2) hal yang serupa dilakukan dengan variasi jarak pemasangan biaxial strain
gage 15 mm dari titik pengimpakan.

(a) (b) (c) (d)


(a) tampak depan, (b) tampak samping, (c) tampak belakang, dan (d) tampak atas

Gambar 1. Helmet industri nonstandard.

Metoda
Set-up peralatan uji
Untuk mendapatkan respon helmet yang dikenai beban impak kecepatan
tinggi dilakukan dengan menggunakan KOMPAK. Beban impak (tegangan
insiden) yang dimaksudkan dalam makalah ini adalah tegangan yang masuk ke
permukaan impak, yaitu bagian atas tempurung helmet. Tegangan insiden pada
lokasi impak tersebut tidak dapat diukur secara langsung; karena itu dalam
penelitian ini tegangan insiden diukur dengan menggunakan set-up KOMPAK
dengan teknik dua gage.
Konstruksi peralatan uji impak secara skematik ditunjukkan pada
Gambar 2. KOMPAK telah dimodifikasi sehingga dapat digunakan secara khusus
untuk pengujian helmet. Helmet industri yang akan diuji (8) ditempatkan
bersentuhan dengan salah satu ujung batang penerus ujung tumpul dengan
panjang 1,5 m (7). Beban impak diperoleh dengan menumbukkan batang impak
PKMI-2-14-3

(panjang 0,5m) (6) ke batang penerus. Variasi kecepatan batang impak diperoleh
dengan mengatur tekanan udara lepas dan jarak impak, yaitu jarak tumbukan
batang impak dan batang penerus [3].
Pengukuran beban impak yang dibangkitkan pada lokasi impak dan
ditransmisikan ke helmet dilakukan dengan menggunakan teknik strain gage yang
dipasangkan di dua lokasi titik ukur pada batang penerus, yaitu pada a dan b.
Gelombang tegangan yang ditangkap oleh strain gage pada lokasi a dan b
tersebut [4], selanjutnya dengan bantuan bridge box (Kyowa), perubahan tahanan
gage R/R diubah menjadi voltase output Vo pada transient converter, melalui
signal conditioner. Data digital yang direkam transient converter selanjutnya
dikirim ke komputer dengan memakai interface. Channel 1 atau 2 yang terdapat
pada transient converter digunakan untuk mendeteksi gelombang tegangan yang
melewati strain gage (pada lokasi a dan b). Tegangan insiden yang dihasilkan di
atas itulah yang dimaksud dengan respon helmet.
2
3000 mm 4000 mm
3 4
5 6 7 8

13 1 10

11
12
14

0001V 0001V

Detail 8
1 Kompresor 8 Spesimen Helmet dan test rig
2 Tangki Udara 9 Strain Gage
3 Pressure Regulator 10 Bridge Head
4 Katup Solenoid 11 Signal Conditioner
5 Pipa Barel 12 Transient Converter
6 Striker 13 Personal Computer
7 Input bar 14 Interface

Gambar 2. Set-up Alat Uji KOMPAK


Spesimen helmet
1500
1300
500 1100
Striker Input Bar

gage a gage b

Gambar 3. Set-up batang dan helmet


PKMI-2-14-4

Tabel I. Sifat Mekanik Batang ujung tumpul


Material E (GPa) (kg/m3) Co (m/s)
Batang impak (Striker) Al-6061 68 2713 5006
Batang penerus (input bar) Al-6061 68 2713 5006

Y
biaxial gage
500 mm 1500 mm
X
Striker Input Bar

b
biaxial gage
Titik Impak

Gambar 4. Set-up pengukuran helmet secara langsung dengan biaxial, (b= 15 mm)

Metoda pengukuran tegangan


Pada Gambar 3 ditunjukkan secara detail susunan batang helmet yang
akan diuji. Perhitungan tegangan insiden tekan pada lokasi impak dari helmet
didasarkan pada teori penjalaran gelombang elastik [5,6]. Berikut ini diberikan
rumus menghitung besarnya gelombang tegangan pada lokasi b:

b(t) = R(t) + L(t) (1)

dimana R(t) dan L(t) adalah tegangan yang berpropagasi ke kiri dan ujung
kanan batang penerus. Ambil t1 = l/Co, di mana l jarak antara gage a dan b, juga c
dan Co adalah kecepatan rambat gelombang elastik dalam batang. Tegangan pada
lokasi a dan c dapat dihubungkan sbb:

a(t) = R(t + t1) + L(t-t1) (2)


dan
c(t) = R(t - t1) + L(t+t1) (3)

Jika persamaan (3) disederhanakan dalam a dan b, tegangan insiden yang


ditransmisikan ke dalam helmet, pada lokasi c, dapat dihitung, sebagai berikut:

c(t) = b(t + t1) + b(t - t1) - a (t) (4)

Di sini, t adalah waktu dan t1 = jarak dari a ke b/c0, dimana c0 adalah kecepatan
rambat gelombang dalam batang yang dihitung dengan rumus C = E . Di sini E ,
0
Modulus elastisitas dan , masa jenis batang penerus (input bar).
Pengujian dilakukan dengan berbagai variasi beban impak yang diatur
dengan cara merubah jarak impak. Dalam pengujian ini tekanan tangki udara
diatur pada 0,4 MPa, dengan variasi jarak pengimpakan, (Impact distance).
PKMI-2-14-5

HASIL PENELITIAN

P : 0,4 MPa
Striker Input Bar

Impact distance: 100mm

Stress vs Time

60
Incident Stress
48.35
41.33 20
30 15 15.48

10
Stress (MPa)

Stress (M Pa)
5
0
0
0 400 800 1200 6.82
0 200 400 600 800
-5

-10
-30
-15

-20
-60 Time (s)
Tim e ( s)

Gambar 5. Tegangan impak dan tegangan insiden (P=0,4 MPa; ID= 100mm)

P : 0,4 MPa
Striker Input Bar

Impact distance: 150mm


Stress vs Time

Incident Stress

20
16.61
80
15
60.12
60
50.77 10
Stress (MPa)

40
5
Stre ss (M Pa)

20
0
0 0 200 400 600
0 400 800 1200 -5
-20
-10
-40
-15
-60
-20
-80
Time (s)
Time ( s)

Gambar 6. Tegangan impak dan tegangan insiden (P=0,4 MPa; ID= 150mm)
PKMI-2-14-6

P : 0,4 MPa
Striker Input Bar

Impact Distance: 200 mm

Stress vs Time

Incident Stress

20
80 13.72
69.17 62.54 15
60
10
40

Stress (MPa)
5
Stress (M Pa)

20
0
0
0 200 400 600 800
0 400 800 1200 -5
-20
-10
-40
-15
-60
-20
-80
Time ( s) Time (s)

Gambar 7. Tegangan impak dan tegangan insiden (P=0,4 MPa; ID= 200mm)

2
1,55 Y
1,5
1
0,5
X
Tegangan (MPa)

0
15 mm

2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000 CH1 (arah-X)


-0,5
CH2 (arah-Y)
-1
-1,5
-2 Biaxial Gage
-2,5
-3
-2,58 Titik Impak
Waktu (s)

3 2
-2,58 1,55
2
T egan gan (M P a)
T ega n ga n (M P a)

0
0 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000
2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000 2996
-1 -1
Waktu ( s) Waktu ( s)

Gambar 8. Respon helmet pada P=0,4 MPa; ID= 100mm


PKMI-2-14-7

Tabel II. Variasi tegangan insiden yang masuk ke helmet


Kondisi beban Tegangan Impak Tegangan Insiden
(MPa) (MPa)
0,4 MPa; 100mm 48,35 16,48
0,4 MPa; 150mm 60,12 16,61
0,4 MPa; 200mm 69,17 13,72

Tabel III. Variasi tegangan dan waktu yang masuk ke helmet dengan metode
pengukuran langsung
Kondisi beban Tegangan (MPa) Waktu (s)
Arah -X Arah -Y Arah -X Arah Y
0,4 MPa; 70mm -1,91 1,09 3299 3009
0,4 MPa; 80mm -2,31 1,21 3568 3267
0,4 MPa; 90mm -2,38 1,35 3631 3270
0,4 MPa; 100mm -2,58 1,55 3906 3329
0,4 MPa; 110mm -2,77 1,63 3989 3594

PEMBAHASAN
Pengukuran Respon Helmet Secara Tidak Langsung
Dalam penelitian ini pengukuran kekuatan impak helmet dilakukan pada
arah impak atasa saja. Set-up uji ditunjukkan pada Gambar 3 untuk mengetahui
respon helmet terhadap beban impak. Respon tersebut dapat diartikan sebagai
resistensi helmet dalam mendukung gelombang tegangan impak yang masuk ke
lokasi impak melewati ujung batang penerus. Respon helmet diperkirakan berbeda
tergantung lokasi impak dan intensitas beban dan juga geometri ujung batang
penerus yang bersentuhan langsung dengan permukaan helmet.
Menggunakan set-up seperti ditunjukkan pada Gambar 3 dan metoda
yang dijelaskan di atas sebanyak 10 buah helmet industri merek X juga dikenakan
berbagai variasi beban impak.
Konfigurasi tegangan insiden akibat ujung tumpul ditunjukkan pada
Gambar 5 sampai dengan Gambar 7, dimana gelombang tersebut memberikan
beberapa informasi penting, yaitu: Waktu impak untuk jarak 100 mm, (ti)=498 s,
jarak 150 mm, (ti)=462 s, dan jarak 200 mm, (ti) berkisar antara 300 - 400 s,;
waktu impak ini tergantung pada ukuran batang impak yang digunakan. Dalam
penelitian ini digunakan batang impak yang panjangnya 500 mm. Tegangan yang
masuk pada helmet dengan tekanan konstan 0,4 MPa dan variasi jarak impak 100,
150, dan 200 mm ditunjukkan pada Tabel II.

Pengukuran Respon Helmet Secara Langsung


Pengukuran respon helmet secara langsung dilakukan adalah untuk
melihat respon helmet pada lokasi tertentu diluar daerah impak. Pada Gambar 3
ditunjukkan set-up pemasangan biaxial gage pada jarak 15 mm dari titik
pengimpakan sebelah atas. Pemasangan pada jarak 15 mm ini bertujuan untuk
mendeteksi tegangan sedekat mungkin dengan beban impak.
Pengujian helmet dengan menggunakan biaxial gage (arah-X dan Y)
yang terpasang 15 mm dari titik impak, dipergunakan tekanan yang diset konstan
PKMI-2-14-8

sebesar 0,4 MPa dan melakukan pengujian impak dengan jarak dari 70 mm
sampai dengan 110 mm pada bagian atas spesimen, seperti yang terlihat pada
Gambar 4 yang merupakan kronologi pengujian spesimen helmet yang memakai
strain gage biaxial. Dari pengujian ini diperoleh karakteristik propagasi tegangan
yang berbentuk impulse. Bentuk karakteristik propagasi tegangan yang dihasilkan
pada permukaan helmet ditunjukan pada Gambar 8.
Dari keterangan di atas, bahwa rambatan gelombang yang besar terjadi pada
spesimen adalah rambatan gelombang yang menuju arah-X dimana waktu yang
diperlukan untuk perambatan membentuk suatu gelombang impulse dengan
pembacaan strain gage arah-X yang berjarak 15 mm dari titik pengimpakan
dengan tekanan 0,4 Mpa dan variasi jarak impak dari 70 mm sampai dengan 110
mm terlihat pada Tabel III.

KESIMPULAN
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Metoda dua gage dan set-
upnya mudah untuk digunakan; untuk mendapatkan tegangan insiden tidak
disyaratkan diketahui sifat mekanik helmet yang akan diuji. Dimana bentuk dan
intensitas tegangan impak yang timbul tergantung pada laju pembebanan batang
impak, dan dapat pula disimpulkan bahwa karakteristik tegangan dengan
pengukuran langsung pada helmet dengan menggunakan biaxial gage
menunjukkan adanya perbedaan respon yang diterima oleh helmet pada lokasi
tertentu (15 mm dari titik impak), hal ini bergantung kepada besarnya beban
impak yang diberikan.

DAFTAR PUSTAKA
[1] Syam B, etal., Pembuatan Alat Uji Air Gun Compressor dan Penyelidikan
Perilaku mekanik Beberapa Material Keramik Akibat Beban Impak,
Laporan Komprehensif Penelitian Hibah Bersaing VI/1 dan VI/2,
Medan, 1999.
[2] Syam B., A Measuring Method for Impact Tensile Strength and Impact
Fracture Behaviors of Brittle Material, A Doctoral Dissertation,
Muroran Institute of Tecnology, Muroran, Japan, March 1996, pp.
29-98
[3] Mahadi, B, etal., Aplikasi Teknik Dua Gage dalam Obserpasi Respon Helmet
Industri yang Dikenai Beban Impak, Buletin Utama Teknik, Vol.8
No.1, Januari 2004, pp. 29-35.
[4] Sabri, M., Perilaku Strain Gage sebagai Sensor pada Pengukuran Regangan,
Jurnal Teknik SIMETRIKA Vol.2 No.2, Agustus 2003, pp.6-13
[5] Yanagihara, N., Theory of One-Dimensial Elastic Wave for the Measurement
of the Impact Force, Buletin of JSME, Vol.43, 1977, pp.40-48
[6] Johnson, W., Impact Strength of Material, Edward Arnold, London, 1972.
PKMI-2-15-1

NILAI KADAR PROTEIN DAN AKTIVITAS AMILASE SELAMA


PROSES FERMENTASI UMBI KAYU DENGAN Aspergillus niger

Erick Sidarta*, Dwi Adi Syaputra, Fandy Djafar


Fakultas Teknobiologi, Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta

ABSTRAK
Singkong yang terdiri hanya dari pati dan selulosa memiliki kadar protein
yang rendah (1-3%). Peningkatan kadar protein pada singkong dapat dilakukan
dengan fermentasi substrat padat oleh Aspergillus niger pada substrat yang
ditambahkan dan campuran amonium sulfat dan fosfat. Proses fermentasi
dilakukan selama 3 hari dan dibandingkan substrat dengan dan tanpa
penambahan mineral terhadap pertumbuhan kapang, pH, kehilangan bahan
kering dan kadar protein. Pada perlakuan dengan mineral pertumbuhan kapang
lebih merata dan menebal daripada perlakuan tanpa mineral. Nilai pH pada
perlakuan mineral menurun drastis dari sebelum fermentasi (6.2) menjadi 3.1
pada hari ke-3, sedangkan penurunan pH pada perlakuan tanpa mineral hanya
turun dari 6.8 menjadi 5.8. Setelah masa inkubasi tiga hari, kehilangan bahan
kering pada perlakuan dengan mineral lebih tinggi daripada dengan tanpa
mineral, 32.7 vs 30.1%. Penambahan mineral meningkatkan kadar protein sejati
(selisih kadar protein kasar dan terlarut) sebanyak 82%, sedangkan pada
perlakuan tanpa mineral hanya meningkat 39%. Dalam proses fermentasi
tersebut aktivitas enzim amilase yang dihasilkan oleh A. niger juga diukur dan
dilihat korelasinya terhadap pembentukan glukosa dan kadar protein sejati.
Aktivitas enzim amilase yang diukur pada 0 jam, 2, dan 3 hari fermentasi
berturut-turut untuk perlakuan dengan mineral 6.9, 14.7, dan 29.0 U.gbk-1 dan
pada perlakuan tanpa mineral 2.3, 21.4, dan 17.5 U.gbk-1. Kadar glukosa pada
perlakuan mineral, yang diukur pada waktu yang sama, berturut-turut adalah
0.46, 0.61, dan 0.4 g.100g bk-1 dan pada perlakuan tanpa mineral 0.24, 0.34, dan
0.33 g.100g bk-1. Penambahan mineral dapat meningkatkan aktivitas enzim
amilase yang menyebabkan peningkatan kadar glukosa dan kadar protein.

Kata kunci: umbi singkong, Aspergillus niger, amonium sulfat, fosfat, amilase.

PENDAHULUAN
Dalam industri peternakan, 70% biaya produksi merupakan biaya
pembelian pakan, sehingga harga pakan diusahakan serendah mungkin dengan
hasil yang diusahakan maksimal atau efisiensi pakan tersebut dapat ditingkatkan.
Oleh karena itu, pemberian pakan diusahakan memiliki kandungan-kandungan
nutrisi yang baik
* Penulis korespondensi, telp. (021)5675794, Hp 08159728099, e-mail: X_Sidarta@yahoo.com
bagi ternak. Pemberian pakan ternak yang kaya akan protein merupakan cara yang
efisien dan efektif untuk meningkatkan pertambahan bobot badan (Manurung
1995).
Umbi singkong merupakan pakan ternak yang potensial di Indonesia
karena harganya yang murah, terutama pada musim panen (Pakpahan et al. 1993),
serta kandungan pati yang tinggi sebagai sumber karbohidrat. Akan tetapi,
kandungan umbi singkong yang terdiri dari pati tersebut tidak memiliki
PKMI-2-15-2

kandungan protein yang melimpah sehingga diperlukan adanya pengolahan lebih


lanjut (Kompiang 1993). Pengolahan singkong juga dimaksudkan untuk
mengurangi kandungan cyanogenic glucosides yang merupakan toksin (Birk et al.
1996 dan Oboh 2006).
Pengolahan singkong untuk meningkatkan kadar protein dapat dilakukan
dengan fermentasi substrat padat yang ditambahkan dengan nitrogen anorganik.
Proses fermentasi dapat meningkatkan nutrisi pada pakan melalui biosintesis
vitamin, asam amino esensial dan protein dengan meningkatkan kualitas protein
dan pencernaan. Selain itu, fermentasi juga dapat meningkatkan ketersediaan
mikronutrien dan membantu mendegradasi faktor antinutrisi (Achinewhu et al.
1998). Dalam melakukan fermentasi substrat padat dengan substrat singkong,
kapang yang digunakan harus memiliki sistem enzim amilase (Sukara dan Doelle
1989). Fermentasi substrat padat untuk singkong dapat dilakukan dengan bantuan
kapang Aspergillus niger. Fermentasi singkong untuk meningkatkan kandungan
protein pada singkong ini disebut cassapro (cassava protein) (Sinurat et al. 1995).
Selama fermentasi singkong yang dilakukan oleh kapang A. niger terjadi
penguraian pati dan selulosa yang terkandung pada singkong oleh enzim hidrolisis
amilase dan selulase (Okolie dan Ugochukwu 1988, Sukara dan Doelle 1989,
Purwadaria et al. 1997, Parada et al. 1996). Enzim amilase dan selulase yang
terbentuk akan menguraikan pati yang terdapat pada singkong menjadi glukosa.
Glukosa yang terbentuk akan digunakan oleh kapang A. niger untuk
pertumbuhannya. Senyawa ini bersama dengan amonium akan membentuk
protein. Oleh karena itu, perlu dilihat hubungan antara protein yang dibentuk oleh
kapang dengan aktivitas dari enzim hidrolisis tersebut.
Penambahan mineral dalam produksi cassapro harus dilakukan untuk
memperoleh hasil yang lebih baik (Kompiang et al. 1994). Mineral yang paling
sering digunakan dalam produksi cassapro umumnya adalah amonium sulfat.
Amonium sulfat digunakan sebagai sumber nitrogen untuk kapang yang
dikarenakan keterbatasan sumber nitrogen pada singkong. Selain amonium sulfat,
fosfat juga ditambahkan pada percobaan ini. Fosfat yang digunakan juga berfungsi
untuk meningkatkan produksi protein (fosfoprotein) pada kapang. Selain itu,
fosfat juga berfungsi untuk membentuk asam nukleat dan fosfolipid. Penambahan
mineral untuk meningkatkan pertumbuhan kapang dan produksi protein sudah
umum dilakukan untuk produk fermentasi (Ramos-Valdivia et al. 1983 dan Sani
et al. 1992).
Penelitian ini bertujuan meningkatkan kadar protein cassapro dengan
penambahan mineral (campuran amonium sulfat dan fosfat), mengetahui pengaruh
mineral terhadap pembentukan enzim amilase, serta pengaruh enzim amilase
terhadap kadar protein produk fermentasi.

METODOLOGI
Sumber Isolat dan Substrat
Isolat kapang yang digunakan ialah inokulum A. niger dari Balai
Penelitian Ternak. Substrat yang digunakan berupa substrat umbi singkong
kering. Singkong dikupas kulitnya kemudian dicacah dan dikeringkan dengan
sinar matahari.
PKMI-2-15-3

Produksi Cassapro
Sebanyak 2 kg singkong dibagi menjadi dua masing-masing bagian 1 kg.
Setiap bagian diseduh dengan air panas sebanyak 1 liter selama dua jam. Setelah
agak dingin satu bagian singkong ditambah dengan 12.5 g inokulum A. niger, 60 g
amonium sulfat dan 11 g fosfat. Sedangkan satu bagian lain hanya ditambah 12.5
g inokulum. Setelah penambahan inokulum dan mineral, singkong langsung
diaduk supaya homogen. Jadi pada produksi cassapro terdapat dua perlakuan yang
berbeda, yaitu perlakuan ditambah mineral (amonium sulfat dan fosfat) dan
perlakuan tanpa ditambah mineral. Baki ditutup dengan kertas koran dan disimpan
pada suhu ruang selama fermentasi
Pengamatan Visual Pertumbuhan Kapang
Pengamatan secara visual dilakukan untuk melihat pertumbuhan miselia,
pembentukan spora, dan suhu baki selama masa inkubasi tiga hari.
Ekstraksi Enzim Amilase
Ekstraksi enzim amilase diambil dari hasil fermentasi cassapro. Dua gram
sampel dicampur dengan 20 ml buffer Na-asetat 0.05M (pH 5.5). Lalu, disentrifus
7000 rpm selama 20 menit pada suhu 40C. Supernatan diambil dan disimpan pada
suhu -100C sebelum dilakukan analisis.
Analisis Aktivitas Enzim Amilase
Aktivitias enzim diukur dengan mengurangi kadar glukosa hasil inkubasi
filtrat enzim dan substrat pati 1% selama 30 menit pada suhu 50oC dengan
campuran yang sama tapi tanpa diinkubasi terlebih dahulu (Purwadaria et al.
1997). Pengukuran kadar glukosa dilakukan dengan metode DNS (Miller 1959).
Hasil perhitungan lalu dilakukan konversi menjadi unit/gram berat kering (U.gbk-
1
).
Analisis Kimia
Analisis kimia dilakukan pada singkong pada waktu 0 jam (sebelum
fermentasi), 2 dan 3 hari setelah fermentasi. Analisis yang dilakukan meliputi
penentuan kadar air, pH, kehilangan bahan kering, kadar protein kasar, kadar
protein terlarut, kadar protein sejati, dan kadar glukosa dari masing-masing
perlakuan. Penentuan kadar air dilakukan dengan metode AOAC (AOAC 1984).
Pengukuran pH dilakukan menggunakan pH meter, kadar protein kasar
menggunakan metode AOAC, penentuan kadar protein terlarut menggunakan
metode Conway. Kadar protein sejati diperoleh dengan cara mengurangi total
protein kasar dengan protein terlarut (Supriyati 2003). Kadar glukosa didapatkan
dengan mengukur kadar glukosa kontrol dari filtrat enzim dan pati 1% tanpa
inkubasi lalu ditambah pereaksi DNS dan dilakukan pembacaan absorbansi pada
540 nm (Miller 1959). Pengukuran kadar protein kasar, terlarut, sejati dan kadar
glukosa dilakukan konversi menjadi gram/100 gram berat kering (g.100gbk-1)

HASIL
Pengaruh mineral terhadap pertumbuhan miselia dapat dilihat dari
perbandingan pertumbuhan miselia antara perlakuan tanpa mineral dan dengan
mineral (Tabel 1). Pertumbuhan miselia pada perlakuan tanpa mineral baru merata
pada hari ke-3, sedangkan dengan penambahan mineral sudah merata pada hari
ke-2. Perubahan suhu baki sejalan dengan pertumbuhan miselia. Pada hari
pertama dan ke-2 perlakuan tanpa mineral, suhu baki tidak terlalu mengalami
peningkatan sampai pada hari ke-3 yang mulai lebih hangat. Akan tetapi, pada
PKMI-2-15-4

perlakuan dengan mineral suhu langsung menghangat pada hari ke-2 dan ke-3.
Pada proses fermentasi ini tidak ditemukan adanya spora selama waktu inkubasi.
Penambahan mineral tidak mempengaruhi pH pada awal perlakuan. Dapat dilihat
pada pH dengan waktu 0 jam untuk ke dua perlakuan tidak terlalu jauh berbeda
(6.2 dan 6.8). Pada hari-hari berikutnya terjadi penurunan yang drastis untuk
perlakuan mineral sampai pada pH 3.1 pada hari terakhir fermentasi. Pada
perlakuan tanpa mineral pada hari ke-2 turun sampai 5.1 dan naik lagi pada hari
berikutnya sampai 5.8.
Kehilangan bahan kering (Gambar 1) pada hari ke-2 fermentasi untuk
perlakuan tanpa mineral lebih sedikit daripada perlakuan dengan mineral (14.6%
vs 27.9%). Akan tetapi, pada hari ke-3 kehilangan bahan kering yang terjadi untuk
kedua perlakuan tidak terlalu berbeda jauh seperti pada hari ke-2 (30.1% vs
32.6%).
Kadar protein kasar pada perlakuan tanpa mineral mengalami peningkatan
sampai pada hari terakhir fermentasi (dari 2.3 menjadi 3.2 g.100gbk-1). Kadar
protein terlarut pada perlakuan ini mendekati 0 g.100gbk-1. Kadar protein sejati
pada perlakuan ini merupakan kadar protein kasar saja tanpa adanya pengaruh dari
kadar protein terlarut (Gambar 2a). Pada perlakuan dengan mineral setelah proses

Tabel 1. Pengamatan fermentasi Singkong dengan penambahan mineral selama 3


hari menggunakan Aspergillus niger.

Perlakuan Waktu Pertumbuhan Pembentukan Suhu


singkong Inkubasi Miselia Spora Baki pH

- mineral 0 hari - - - 6.8


1 hari + TA H TD
2 hari + TA H 5.1
3 hari ++ TA HH 5.6
+ mineral 0 hari - - - 6.2
1 hari + TA H TD
2 hari ++ TA HHH 3.5
3 hari +++ TA HHH 3.1
+ miselia tidak merata H sedikit hangat
++ miselia merata HH lebih hangat
+++ miselia lebih tebal HHH hangat
TA tidak ada spora - Belum ada pertumbuhan
TD tidak dilakukan

35

30

25
% KBK

20 Tanpa mineral
15 Dengan mineral

10

0
2 hari 3 hari
Waktu inkubasi

Gambar 1. Perubahan kehilangan bahan kering (KBK) selama proses fermentasi


umbi singkong.
PKMI-2-15-5

fermentasi 3 hari kadar protein kasar meningkat drastis (10.4 menjadi 15.0
g.100gbk-1 protein) dan juga diikuti dengan penurunan kadar protein terlarut (dari
3.6 menjadi 2.6 g.100gbk-1) (Gambar 2b). Kadar protein sejati, merupakan
peningkatan kadar protein karena fermentasi, mengalami peningkatan yang lebih
besar dibandingkan tanpa mineral (dari 6.8 menjadi 12.4 g.100gbk-1).
Kadar glukosa pada masing-masing perlakuan mengalami peningkatan
pada hari ke-2 dan penurunan pada hari ke-3 dengan kadar yang berbeda (Gambar
3a). Pada perlakuan tanpa mineral pada hari ke-2 naik menjadi 0.61 g.100 gbk-1
dan turun menjadi 0.40 g.100 gbk-1 pada hari ke-3. Pada perlakuan dengan mineral
pada hari ke-2 naik menjadi 0.34 g.100 gbk-1 dan turun menjadi 0.33 g.100 gbk-1
pada hari ke-3.

A. Kadar protein tanpa mineral B. Kadar protein dengan mineral

3.5 16
3 14
[p ro te in ] g .1 0 0 g b k -1

[p ro te in ] g .1 0 0g b k -1
2.5 12
10 Kadar protein kasar
2
8 Kadar protein terlarut
1.5
6 Kadar protein sejati
1
4
0.5 2
0 0
0 hari 2 hari 3 hari 0 hari 2 hari 3 hari
Waktu inkubasi Waktu inkubsi (hari)

Gambar 2. Perubahan kadar protein selama proses fermentasi umbi singkong


pada perlakuan tanpa mineral (a) dan dengan mineral (b).

A. Kadar glukosa B. Aktivitas enzim amilase

0.7 35
0.6 30
0.5 25
g .1 0 0 g b k -1

U.gbk-1

0.4 20 Tanpa mineral


0.3 15 Dengan mineral
0.2 10
0.1 5
0 0
0 hari 2 hari 3 hari 0 hari 2 hari 3 hari
Waktu pertumbuhan (hari) Waktu inkubasi

Gambar 3. Perubahan kadar glukosa (a) dan aktivitas enzim amilase (b) selama
proses fermentasi umbi singkong.

Aktivitas enzim amilase (Gambar 3b) pada perlakuan tanpa penambahan


mineral langsung mengalami peningkatan melebihi perlakuan dengan
penambahan mineral pada hari ke-2 (21.4 vs 14.7 U.gbk-1). Akan tetapi, pada hari
ke-2 perlakuan tanpa penambahan mineral aktivitas enzimnya mengalami
penurunan sedangkan pada perlakuan dengan mineral aktivitasnya tetap naik (17.5
vs 29 U.gbk-1).
PKMI-2-15-6

PEMBAHASAN
Hasil pengamatan visual terhadap fermentasi singkong dengan
menggunakan A. niger menunjukkan adanya pengaruh dari penambahan mineral
(amonium sulfat dan fosfat) terhadap kecepatan pertumbuhan miselia dari A. niger
(Tabel 1). Hal ini berkaitan dengan kurangnya sumber nitrogen yang terdapat
didalam singkong. Pada perlakuan singkong yang tidak disuplementasi dengan
mineral terjadi keterbatasan dalam sumber nitrogen yang hanya berasal dari
singkong. Oleh karena itu. Pertumbuhan miselia menjadi lambat sehingga pada
perlakuan singkong yang diberikan penambahan mineral pertumbuhan miselia
menjadi lebih baik. Erika et al. (2005)* juga melaporkan pertumbuhan kapang
yang baik pada perlakuan penambahan amonium sulfat saja. Penambahan
campuran fosfat dan amonium sulfat pada percobaan ini tidak nyata
mempengaruhi pertumbuhan miselia secara visual.
Suhu pada baki ditimbulkan oleh respirasi yang dilakukan oleh A. niger.
Semakin banyak miselia yang terbentuk mengakibatkan respirasi yang terjadi
semakin banyak sehingga suhu baki semakin hangat. Suhu baki yang semakin
hangat
menunjukkan pertumbuhan miselia yang baik.
Pada masing-masing perlakuan tidak ditemukan adanya spora yang
terbentuk selama fermentasi. Kondisi lingkungan yang buruk akan menstimulasi
terbentuknya spora. Apabila dalam lingkungan hidup kapang makanan sudah
tidak tersedia lagi, maka kapang akan berusaha untuk tetap survive dengan
membentuk spora. Purwadaria et al. (1997) mengungkapkan spora terbentuk pada
masa inkubasi 70 jam untuk substrat kulit singkong disebabkan oleh kandungan
pati yang rendah, sedangkan pada substrat singkong yang telah dikupas kulitnya
tidak terbentuk spora. Konsentrasi pati yang tinggi pada percobaan ini membentuk
gula tereduksi yang tinggi dan menghalangi pembentukan spora.
Berdasarkan pada pengamatan kuantitatif terjadi penurunan pH setelah
fermentasi selama tiga hari (Tabel 1). Perubahan pH yang terjadi terlihat menonjol
antara singkong dengan perlakuan penambahan mineral dan singkong dengan
perlakuan tanpa penambahan mineral. Penurunan pH selama 3 hari pada
perlakuan penambahan mineral lebih besar (3.1) dibandingkan pada perlakuan
tanpa penambahan mineral (turun 1.7 untuk 2 hari lalu naik 0.5 pada hari ke-3).
Dalam mineral yang ditambahkan terdapat amonium sulfat, sehingga kapang A.
niger yang mengambil sumber nitrogen dari mineral amonium sulfat akan
menyisakan sulfat yang akan menurunkan pH. Penurunan pH ini merupakan bukti
telah terjadi proses fermentasi yang dilakukan oleh kapang di mana karbohidrat
singkong diubah oleh amilase dan selulase kapang menjadi glukosa yang
kemudian diubah menjadi asam. Pada perlakuan tanpa penambahan mineral, hari
ke-3 terjadi kenaikan pH yang disebabkan karena penguraian protein menjadi
asam amino oleh kapang A. niger (Purwadaria et al. 1997).
Hasil perhitungan terhadap bobot singkong selama fermentasi
menunjukkan penurunan bahan kering dari singkong terjadi selama proses
fermentasi (Gambar 1). Kehilangan bahan kering terjadi pada ke dua perlakuan
yaitu tanpa mineral dan dengan mineral. Penurunan bahan kering ini disebabkan
karena kapang tersebut memproduksi enzim amilase untuk memecah pati pada
singkong menjadi gula sederhana yang dapat dipakai untuk pertumbuhan kapang.
PKMI-2-15-7

Kemudian, gula sederhana diuraikan menjadi energi dan CO2 yang dihasilkan
dilepaskan ke udara. Dalam proses
fermentasi dan respirasi, materi-materi organik dihidrolisis menjadi molekul yang
lebih kecil, CO2, H2O, dan energi (Purwadaria et al. 1997). Oleh karena itu
semakin baik pertumbuhan kapang akan semakin besar kehilangan bahan kering
dari singkong. Kehilangan bahan kering pada singkong dengan perlakuan mineral
lebih besar (32.7%) daripada singkong tanpa mineral (30.1%). Hal ini sesuai
dengan hasil pertumbuhan miselia kapang (Tabel 1).
Kadar protein sejati pada singkong dengan penambahan mineral
mengalami peningkatan sebanyak 5.6 g.100g-1 (82%) selama fermentasi (Gambar
2b). Kenaikan kadar protein sejati pada singkong dengan perlakuan mineral sangat
besar jika dibandingkan dengan tanpa perlakuan mineral (Kompiang et al. 1994).
Mineral yang ditambahkan memiliki amonium sulfat sebagai sumber nitrogen
sehingga dapat digunakan oleh kapang untuk sintesis protein. Produksi protein
pada kapang meliputi, penambahan suplai karbon yang difiksasi oleh siklus
Calvin, fiksasi dari nitrogen, diikuti dengan konversi yang membutuhkan energi
untuk membuat protein yang spesifik (Sukara dan Doellet 1988). Pengambilan
amonium sulfat pada mineral yang disuplementasikan juga dapat dilihat dari kadar
protein terlarut yang semakin berkurang pada tiap harinya (dari 3.6 menjadi 2.7
g.100gbk-1 pada hari ke-2 lalu 2.6 g.100gbk-1 pada hari ke-3). Kenaikan kadar
protein sejati sebesar 3-4 g.100gbk-1 juga dilaporkan oleh Erika et al. (2005)*
untuk perlakuan dengan penambahan amonium sulfat saja. Kenaikan kadar
protein sejati pada percobaan ini mencapai 5-6 g.100gbk-1 yang mungkin
disebabkan oleh penambahan fosfat terlarut. Pada perlakuan tanpa mineral, pada
singkong sendiri hanya sedikit memiliki sumber nitrogen sehingga protein yang
terbentuk terbatas hanya pada kadar nitrogen yang dimiliki singkong. Kadar
nitrogen yang dimiliki singkong sangat sedikit dapat dilihat dari kenaikan kadar
protein sejati pada perlakuan tanpa mineral yang hanya meningkat 0.9 g.100 gbk-1
(39%) dari hari sebelum fermentasi sampai hari terakhir fermentasi. Peningkatan
kadar protein kasar dan sejati pada perlakuan tanpa mineral murni bukan karena
adanya penambahan mineral dari luar, yang dapat dilihat dari kadar protein
terlarutnya yang mendekati 0 g.100 gbk-1. Peningkatan kadar protein tersebut
dikarenakan oleh kehilangan bahan kering selama fermentasi (Ramos-Valdivia et
al. 1983).
Dari grafik kadar glukosa dapat dilihat terjadi peningkatan pada hari ke
dua. Hal ini menunjukkan bahwa enzim amilase yang terbentuk memecah pati
menjadi glukosa. Glukosa tersebut digunakan oleh A. niger untuk tumbuh.
Namun, dapat dilihat kenaikan kadar glukosa yang terjadi pada hari ke-2 untuk
perlakuan tanpa mineral mencapai 0.15 g.100 gbk-1. Tingginya kenaikan kadar
glukosa pada hari ke-2 disebabkan oleh pertumbuhan kapang yang lambat
sehingga tidak menggunakan seluruh glukosa yang diuraikan oleh enzim amilase.
Glukosa yang dihasilkan tidak diubah menjadi protein karena kekurangan
amonium dan fosfat. Pada hari ke-3 terjadi penurunan kadar glukosa yang drastis
(0.21 g.100gbk-1) dikarenakan kapang tidak lagi memproduksi enzim amilase. Hal
ini dapat dilihat dari penurunan aktivitas enzim pada hari ke-3 untuk perlakuan
tanpa mineral (Gambar 3b). Oleh karena itu, glukosa yang sudah dipecah oleh
enzim amilase digunakan langsung oleh kapang. Penggunaan glukosa menjadi
lebih banyak daripada pemecahan pati menjadi glukosa. Pada perlakuan dengan
PKMI-2-15-8

mineral pada hari ke-2 terjadi peningkatan kadar glukosa sebesar 0.1 g.100gbk-1.
Kenaikan yang terjadi tidak sebanyak perlakuan tanpa mineral dikarenakan
pertumbuhan miselia pada perlakuan dengan penambahan mineral terjadi dengan
cepat dan baik, sehingga menggunakan seluruh glukosa yang terbentuk untuk
produksi sel protein. Pada hari ke-3 terjadi penurunan kadar glukosa sebesar 0.01
g.100gbk-1 dikarenakan dinamika yang seimbang antara pembentukan glukosa
oleh amilase dan penggunaan glukosa oleh kapang. Glukosa yang dihasilkan
digunakan oleh kapang sehingga pertumbuhan kapang pada perlakuan dengan
mineral lebih cepat.
Produksi enzim dari A. niger yang diberi perlakuan tanpa mineral
mengalami peningkatan pada hari ke-2 (19.1 U.gbk-1) dan turun pada hari ke-3 (3.9
U.gbk-1). Peningkatan pada hari ke-2 disebabkan oleh pertumbuhan dari kapang
yang semakin banyak sehingga enzim yang diproduksi semakin banyak.
Penurunan pada hari ke-3 dikarenakan kapang tersebut sudah berhenti tumbuh
atau pertumbuhannya melambat sehingga amilase yang dihasilkan sedikit
sedangkan enzim yang sudah terbentuk kehilangan keaktifannya karena tidak
stabil. Pada perlakuan pemberian mineral enzim yang dihasilkan meningkat pada
hari ke-2 (7.8 U.gbk-1) dan meningkat lagi pada hari ke-3 (14.3 U.gbk-1).
Peningkatan pada hari ke-2 perlakuan dengan mineral tidak sebesar pada
peningkatan hari ke-2 dari perlakuan tanpa mineral. (7.8 vs 19.1 U.gbk-1).
Terbentuknya enzim amilase rendah pada hari ke-2 dan lebih tinggi pada hari ke-3
pada perlakuan dengan mineral mungkin dikarenakan penambahan mineral yang
dilakukan memperlambat waktu pembentukan enzim. Pada perlakuan tanpa
mineral produksi enzim langsung terjadi, tetapi kemudian terhenti segera karena
pertumbuhan sel juga berhenti.
Peningkatan kadar protein dan aktivitias enzim amilase berjalan selaras
seiring dengan waktu untuk fermentasi (Gambar 2 dan Gambar 3b untuk
perlakuan dengan mineral). Semakin tinggi aktivitas enzim amilase maka semakin
tinggi kadar protein yang dihasilkan. Enzim amilase berfungsi untuk menyediakan
gula sederhana (glukosa) sebagai bahan dasar untuk sintesis protein. Glukosa
merupakan sumber dari asam piruvat, yang merupakan komponen utama untuk
pembentukan asam amino. Akan tetapi, sintesis protein yang terjadi juga
membutuhkan sumber nitrogen. Gambar 2a dan gambar 3b untuk perlakuan tanpa
mineral menunjukkan kenaikan kadar protein yang sedikit (0.9 g.100 gbk-1
meskipun aktivitas enzim yang dihasilkan cukup tinggi (21.4 U.gbk-1 untuk 2 hari
dan 17.5 U.gbk-1untuk 3 hari). Penambahan mineral yang memiliki sumber
nitrogen menjadi esensial untuk meningkatkan protein sejati dari cassapro.
Penambahan mineral, selain bermanfaat untuk meningkatkan kadar protein
dari A. niger dan aktivitas enzim amilase, bermanfaat untuk mempercepat
pertumbuhan dan memperlama waktu hidup dari A. niger. Berdasarkan analisis
yang dilakukan, dapat dilihat dari kenaikan kehilangan bahan kering (Gambar 1)
yang besar dari hari ke-2 sampai hari ke-3 fermentasi (15.5%) menunjukkan
pertumbuhan kapang yang optimum pada hari tersebut. Akan tetapi, pertumbuhan
tersebut tidak disertai penambahan dari aktivitas enzim yang dihasilkan kapang
tanpa perlakuan mineral (Gambar 3b). Bila dilihat, aktivitas enzim tanpa
perlakuan mineral mengalami penurunan sebesar 3.9 U.gbk-1 pada hari ke-3
fermentasi. Penurunan aktivitas enzim akan terjadi apabila kapang tersebut
berhenti tumbuh atau pati yang terdapat pada substrat sudah habis diuraikan
PKMI-2-15-9

menjadi glukosa. Dalam hal ini, pada perlakuan dengan mineral tetap mengalami
kenaikan sebesar 22.1 U.gbk-1 dari hari sebelum fermentasi. Selain itu, pada
perlakuan tanpa mineral terjadi peningkatan dalam pemakaian glukosa pada hari
ke-3 fermentasi yang ditandai oleh turunnya kadar glukosa kontrol yang drastis
(Gambar 3a). Dapat dilihat tidak terjadi dinamika antara pemakaian glukosa untuk
pertumbuhan kapang dengan pemecahan glukosa oleh amilase, sehingga dapat
diketahui kapang tanpa perlakuan ke-3 telah berhenti tumbuh dan akhirnya kadar
protein yang lebih tinggi juga didapatkan pada perlakuan dengan penambahan
mineral.

KESIMPULAN
Penambahan mineral terutama yang memiliki sumber nitrogen sangat
esensial untuk menaikkan kadar protein pada cassapro (5.6 g.100 gbk-1) setelah
fermentasi 3 hari. Penambahan mineral tersebut juga bermanfaat untuk:
mempercepat dan memperlama pertumbuhan kapang A. niger dalam fermentasi
cassapro dan menaikkan produksi enzim amilase yang dihasilkan. Peningkatan
kadar protein sejati pada produk cassapro sejalan dengan peningkatan pada
aktivitas enzim amilase, tetapi peningkatan masih terbatas pada sumber nitrogen
dan fosfat yang diberikan.

DAFTAR PUSTAKA
Achinewhu SC, Barber LI, Ijeoma IO. 1998. Physicochemical properties and
garification (gari yield) of selected cassava cultivars in Rivers State,
Nigeria. Plant Food Hum Nut. 52:133-140.
[AOAC] Association of Official analytical Chemist. 1984. Official methods of
analysis of the Association of Official Analytical Chemist. Washington:
AOAC International.
Birk R, Bravdo B, Shoseyov O. 1996. Detoxification of cassava by Aspergillus
niger B-1. Appl Microbiol Biotechnol. 45:411-414.
Kompiang IP. 1993. Prospect of Biotechnology on improvement of nutritional
quality of feedstuffs. IARD- J. 15:86-90.
Kompiang IP, Purwadaria T, Darma J, Supriyati K, Haryati T. 1994. Pengaruh
kadar mineral terhadap sintesis protein dan laju pertumbuhan Aspergillus
niger. Pros Sem Hasil Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi II.
Cibinong, 6-7 September, 1994. hlm. 468-473.
Manurung T. 1995. Penggunaan hijauan leguminosa pohon sebagai sumber
protein ransum sapi potong. JI TV. 1:143-148.
Miller GL. 1959. Use of dinitrosalicylic acid reagent for determination of
reducing sugar. Anal Chem. 31: 426.
Oboh G. 2006. Nutrient enrichment of cassava peels using a mixed culture of
Saccharomyces cerevisae and Lactobacillus spp solid media fermentation
techniques. Elect J Biotechnol. 9: 46-39.
Okolie PN, Ugochukwu EN. 1988. Changes in activities of cell wall degrading
enymes during fermentation of cassava (Manihot esculenta Crantz) with
Citrobacter freundii. J Sci Food Agric. 44: 51-61.
Pakpahan A, Pasaribu SM, Djauhari A, Nasution A. 1993. Cassava marketing
system in Indonesia. IARD- J. 15:52-59.
PKMI-2-15-10

Parada JL, Zapata E, de Fabrizio SV, Martinez A. 1996. Microbiological and


technological aspects of cassava-starch fermentation. World J Microbiol
Biotechnol. 12: 53-56.
Purwadaria T et al. 1997. The correlation between amylase and cellulase activities
with starch an fibre contents on the fermentation of cassapro (cassava
protein) with Aspergillus niger. Proc. Indonesian Biotechnology
Conference. Jakarta, 17-19 Juni, 1997. Vol. I. hlm. 379-390.
Ramos-Valdivia A, de la Torre M, Casas-Campillo C. 1983. Solid state
fermentation of cassava with Rhizopus oligosporus. In Production and
Feeding of Single Cell Protein. Ed. M.P. Ferranti dan A. Fiechter. Appl Sci
Pub. London.
Sani A, Awe FA, Akinyanju JA. 1992. Amylase synthesis in Aspergillus flavus
and Aspergillus niger grown on cassava peel. J Indust Microbiol. 10: 55-
59.
Sinurat AP, Setiadi P, Purwadaria T, Setioko AR, Dharma J. 1995. Nilai gizi
bungkil kelapa yang difermentsikan dan pemanfaatannya dalam ransom
itik jantan. JITV. 1:161-168.
Sukara E, Doelle HW. 1989. A one-step process for the production of single cell
protein and amyloglucosidase. Appl Microbiol Biotechnol. 30: 135-140
Supriyati 2003. Onggok terfermentasi dan pemanfaatannya dalam ransum ayam
ras pedaging. JITV. 8:146-150.
PKMI-2-16-1

HAMBATAN PEMBINAAN SISWA BERMASALAH OLEH KONSELOR


DI SMP MUHAMMADIYAH 7 KOTAGEDE YOGYAKARTA

A Kusuma Paksi, A Wahyu Hidayat, Marganingtyas N, Nugroho BN, Harits DW


PS Hubungan Intenasional, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Yogyakarta

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengaitkan antara tugas dan peran penting
konselor dan faktor-faktor apa saja yang mendukung peran konselor dalam usaha
pembinaan siswa bermasalah terutama ditingkat Sekolah Menengah Pertama
(SMP). Dalam penelitian ini objek yang diteliti adalah peran konselor dalam
usaha pembinaan siswa bermasalah di SMP Muhammadiyah 7 Kotagede
Yogyakarta. Bila menilik dunia pendidikan di Indonesia tercatat banyak sekali
siswa yang bermasalah. Seorang siswa dikategorikan sebagai anak
bermasalah apabila ia menunjukkan gejala-gejala penyimpangan dari perilaku
yang lazim dilakukan oleh anak-anak pada umumnya. Penyimpangan perilaku
ada yang sederhana, ada juga yang ekstrim. Penyimpangan perilaku yang
sederhana semisal mengantuk, suka menyendiri, kadang terlambat datang.
Sedangkan yang ekstrim semisal sering membolos, memeras teman-temannya,
ataupun tidak sopan kepada orang lain dan juga kepada gurunya. Selama ini
orang banyak berpendapat bahwa untuk membina dan membimbing seorang
siswa bermasalah, mutlak harus disiapkan sorang konselor yang benar-benar
matang dan memahami bagaimana cara menghadapi setiap karakteristik
permasalahan yang dihadapi terkait dengan para siswa. Namun ternyata apa
yang ditemukan di SMP Muhammadiayah 7 Kotagede Yogyakarta justru sangat
berbeda dengan hal tersebut karena dari hasil perolehan data-data yang ada
mengenai siswa bermasalah walaupun konselor telah berupaya mengeluarkan
segala kemampuan yang dimilikinya dalam rangka pembinaan siswa tersebut
ternyata tidak menjadi sebuah faktor penentu dalam keberhasilan pembinaan
siswa bermasalah. Pada kenyataannya ada faktor lain yang juga memberikan
kontribusi yang sangat berarti dalam upaya pembinaan siswa bermasalah
tersebut yaitu faktor keluarga dan lingkungan pergaulan.
Kata Kunci: Pendidikan, Konselor, Siswa, Bermasalah, Penanganan.

PENDAHULUAN
Upaya meningkatkan potensi dan sumber daya manusia menjadi semakin
penting bagi setiap bangsa dalam menghadapi era globalisasi. Tanpa sumber daya
manusia yang berkualitas, suatu bangsa akan tertinggal dari bangsa lain dalam
percaturan dan persaingan di dunia internasional yang semakin kompetitif. Sarana
yang paling efektif dan strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya
manusia adalah pendidikan.
Pendidikan merupakan wahana yang penting untuk membangun seorang
remaja. Pada gilirannya manusia hasil pendidikan itu menjadi sumber daya
pembangunan. Karena itu, pendidikan dalam melaksanakan tugasnya diharapkan
tidak membuat kesalahan-kesalahan mendidik. Sebab kesalahan mendidik bisa
berakibat fatal karena sasaran pendidikan itu adalah manusia. Kesalahan-
kesalahan mendidik hanya bisa dihindari jika pendidik memahami apa pendidikan
PKMI-2-16-2

itu sebenarnya. Gambaran yang jelas dan benar tentang pendidikan dapat
diperoleh melalui pengkajian terhadap arti dan tugas pendidikan, konsep-konsep
yang mendasarinya, unsur-unsurnya dan kesatu paduan unsur itu dalam wujud
sistem.
Pendidikan, baik dalam makna formal, non-formal, informal, maupun
jaringan-jaringan kemasyarakatan, merupakan proses memanusiakan manusia
(Danim, 200: 4). Proses memanusiakan manusia merupakan kata lain dari proses
pemanusiaan, sedangkan kemanusiaan berarti segala sesuatu yang berhubungan
dengan manusia dengan seperangkat potensi dan perilaku kesehariannya.
Pendidikan merupakan kunci masa depan. Pendidikan membekali siswa dengan
seperangkat sikap, cara pandang dan nilai-nilai yang berguna di masa mendatang.
Secara konseptual, pendidikan lebih terbuka bagi transformasi nilai-nilai baru
yang tidak membelenggu dan membebaskan (Diarsi, 1989: 27). Menurut Dewey
(1966: 1-9) pendidikan adalah proses pembaharuan makna-makna pengalaman
lewat proses transformasi nilai-nilai insidental dan intensional. Sehingga wajar
bila perkembangan dan kemajuan siswa beserta segala permasalahannya harus
diawasi secara komperhensif sehingga siswa tersebut dapat menjalani proses
pendidikan dengan baik (Hamalik, 2004: 93).
Dari sekian banyak faktor determinatif akselerasi atau deakselerasi
pembangunan, faktor SDM, terutama dalam makna human resources,
memberikan sumbangan paling besar. Faktor SDM suatu negara akan menentukan
status negara itu, apakah negara terbelakang, sedang berkembang atau maju. Oleh
karena itu, modernisasi pembangunan suatu negara pada umumnya dan
pembangunan ekonomi industri pada khususnya, mensyaratkan transformasi
SDM-nya, tidak hanya dalam arti kognitif dan psikomotor, akan tetapi juga cara
hidup keseharian dan rasa bangga menjadi warga negara. Keberhasilan
pembangunan Indonesia, harus sejalan dengan sikap mental SDM yang
mendukung proses pembangunan itu. Proses kerja dan akselerasi pencapaian
tujuan pembangunan, sangat ditentukan oleh kapasitas SDM yang mengelola
kegiatan pembangunan itu dan kapasitas dalam mengapresiasi hasil-hasilnya.
Sebagai bagian dari agenda kerja kependidikan, konsep ini mengisyaratkan bahwa
wahana pengembangan sumber daya manusia adalah pendidikan (Barnadib, 1996:
18) dan karenanya pendidikan itu harus mampu mengasilkan SDM dengan tiga
kemampuan sekaligus. Pertama, kemampuan melahirkan manusia yang dapat
memberikan sumbangan terhadap pembangunan nasional. Kedua, kemampuan
untuk menghasilkan manusia yang dapat mengapresiasi, menikmati dan
memelihara hasil-hasil pembangunan itu. Ketiga, kemampuan melahirkan proses
pemanusiaan dan kemanusiaan secara terus menerus menuju bangsa yang adil dan
bijak lagi bajik, dalam makna pertumbuhan dan perkembangan, pembangunan
mensyaratkan kemampuan SDM untuk membangun, memelihara, dan menyikapi
secara positif hasil-hasil pembangunan. Termasuk di dalamnya adalah rasa
memiliki inventaris publik dan privat serta sumber-sumber lingkungan hidup,
lingkungan fisik dan non-fisik.
Bila dikaitkan dengan realitas pendidikan yang ada, tidak sedikit siswa
yang ternyata memiliki permasalahan dalam dunia pendidikan. Sebut saja
membolos disaat-saat jam sekolah. Ini menjadi salah satu penyakit yang mau tidak
mau menjadi salah satu agenda diskusi untuk dicari jalan penyelesaiannya.
Bahkan terkadang, ada beberapa sekolah yang mengambil langkah yang ekstrim
PKMI-2-16-3

dalam menindak siswa tersebut semisal Drop Out (dikeluarkan). Apakah itu jalan
penyelesaian yang terbaik?, pertanyaan itulah yang akan muncul dari benak kita
semua ketika hal tersebut terjadi.
Seorang pakar pendidikan Freire mengungkapkan bahwa pendidikan harus
memiliki konsep Humanisme (Murtiningsih, 2004: 10). Artinya seorang siswa
tidak boleh dilakukan semena-mena, seolah-olah gagal di dalam pendidikan
tersebut. Bagaimanapun juga pendidikan adalah hak yang harus dihormati bagi
setiap orang seperti yang disampaikan oleh Mialarat (1993). Lebih jauh kita harus
memberikan pendidikan yang lebih pada anak tersebut. Menurut Dalyono (2001)
sekolah adalah miniatur masyarakat yang menampung bermacam-macam siswa
dengan latar belakang kepribadian mereka. Karena adanya perbedaan individual
diatas maka ada diantara sejumlah siswa tersebut yang dikategorikan sebagai
siswa bermasalah. Latar belakang mereka harus diketahui, bentuk-bentuk masalah
dan sekaligus penanganannya karena ini mengacu pada tujuan pendidikan
nasional yaitu menciptakan suatu sistem dan iklim pendidikan nasional yang
demokratis dan bermutu, dalam rangka mengembangkan kualitas Indonesia
(Tilaar, 2002: 113). Sudah menjadi keharusan untuk mencari pemecahan masalah-
masalah dalam dunia pendidikan tersebut. Terutama masalah proses pendidikan
siswa di sekolah karena ini merupakan hak yang menyangkut sumber daya
manusia Indonesia. Salah satu hal yang menjadi pilar utama bagi pembinaan para
siswa yang bermasalah di sekolah tersebut adalah keberadaan Bimbingan
Konseling (BK).
Menurut Sukmadinata (2003) tujuan program bimbingan konseling adalah
agar para siswa di sekolah mencapai perkembangan yang optimal yaitu
perkembangan yang setinggi-tinginya sesuai dengan potensi-potensi yang
dimilikinya. Layanan bimbingan dan konseling merupakan salah satu bentuk
kegiatan pendidikan. Dikatakan demikian, sebab melalui layanan bimbingan dan
konseling siswa dituntut untuk mampu menjadi manusia yang paripurna, dalam
arti mampu mewujudkan diri sendiri sesuai dengan kemampuannya. Untuk
mencapai tujuan itu, tentunya peranan konselor sebagai kunci dari keberhasilan
siswa sangat dibutuhkan.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana usaha yang
dilakukan oleh konselor SMP Muhammadiyah 7 Kotagede Yogyakarta dalam
usahanya membina siswa bermasalah serta untuk mengetahui hambatan-hambatan
apa saja yang ditemui dalam rangka pembinaan siswa bermasalah tersebut.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di SMP Muhammadiyah 7 Kotagede Yogyakarta.
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif di mana bahan yang digunakan
bersumber dari dua data, yaitu data primer dan data sekunder. Untuk data primer
diperoleh melalui wawancara dengan beberapa pihak sekolah termasuk konselor
yang terlibat dalam pembinaan para siswa bermasalah tersebut. Sedang data
sekundernya berasal dari dokumen dan catatan lain yang juga dibutuhkan karena
memberi informasi terkait. Hal lain yang juga mendukung dalam proses
pengumpulan data adalah penggunaan metode observasi di mana peneliti berusaha
untuk melihat secara langsung tentang fenomena-fenomena penanganan yang
terjadi di lapangan sehingga dapat lebih mengoptimalkan data-data yang ada.
PKMI-2-16-4

Setelah data-data terkumpul, maka selanjutnya data-data tersebut


dianalisa. Tekhnik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini mengikuti
saran Miles & Huberman (1992) terutama teknik analis dengan model analisis
interaktif, yaitu analisis yang bergerak dalam tiga komponen, yaitu (1) Reduksi
Data (reduction), (2) Sajian Data (display), dan (3) Penarikan Kesimpulan dan
Verifikasi (conclusion drawing).
Reduksi data yang dimaksud adalah dengan melakukan proses menyeleksi,
mempertegas, memperpendek, membuat fokus, membuang hal-hal yang tidak
penting dan mengatur data sedemikian rupa sehingga kesimpulan akhir dapat
dilakukan. Sajian data adalah suatu rakitan organisasi informasi yang
memungikinkan kesimpulan riset dapat dilakukan. Sajian data meliputi berbagai
jenis matriks, gambar/skema, jaringan kerja keberkaitan kegiatan, dan tabel.
Kesemuanya dirancang untuk dapat merakit informasi secara teratur supaya
mudah dilihat dan dimengerti dalam satuan bentuk yang kompak (menyeluruh).
Penarikan kesimpulan dan verifikasi adalah kegiatan analisis yang dilakukan
setelah reduksi data dan sajian data dibuat/disusun. Karena penelitian kualitatif
analisis datanya setiap saat dimulai sejak peneliti mulai mengumpulkan data
sampai perolehan data itu dirasa cukup, maka tidak ada kesimpulan akhir yang
baku sebelum proses pengumpulan data secara keseluruhan selesai/cukup.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Sebelum langsung masuk kedalam pembahasan tentang hasil-hasil apa saja
yang diperoleh dalam penelitian tersebut, ada baiknya kita melihat beberapa teori
yang ditawarkan oleh beberapa orang para ahli mengenai tawaran solusi untuk
penanganan siswa bermasalah.
Dalam teori mengenai pembinaan siswa yang bermasalah, Ridwan (1998:
16-17) menekankan pada pentingnya pengenalan diri konselor pribadi sebelum
menangani kliennya (siswa bermasalah). Hal senada juga dikuatkan oleh Teori
Client Centered Counceling yang disampaikan oleh Winkle (1987) yang
mendeskripsikan corak konseling yang menekankan peranan konselor sendiri
dalam proses konseling. Ini berarti penekanan pemecahan masalahnya terletak
pada peningkatan SDM konselor itu sendiri sehingga dapat membina para siswa
yang bermasalah tersebut.
Dari kedua macam teori diatas, ternyata sangat berbeda dengan hasil
temuan data-data yang ada di SMP Muhammadiyah 7 Kotagede Yogyakarta
karena dari hasil wawancara, studi dokumen dan observasi yang dilakukan
ternyata walaupun seorang konselor memiliki kemampuan yang lebih didalam
penyelenggaraan bimbingan konseling, tetap tidak dapat meraih hasil yang
optimal. Hal ini dikarenakan ada faktor lain yang sangat menunjang proses
pembinaan siswa bermasalah tersebut. Hal ini dikuatkan oleh Pedoman
Bimbingan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang merumuskan:
"bimbingan dan konseling di sekolah adalah proses bantuan khusus yang
diberikan kepada semua siswa dalam membantu siswa memahami, mengarahkan
diri, bertindak dan bersikap sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan siswa
di sekolah, keluarga dan masyarakat dalam rangka mencapai perkembangan diri
yang optimal" (Walgito, 2004: 6).
Bagaimanapun juga tidak selalu menjadi acuan bahwa siswa itu
bermasalah karena faktor pribadi dalam dirinya. Dalyono (2001) mengungkapkan
PKMI-2-16-5

bahwa ada dua sebab yang bisa menyebabkan siswa itu bermasalah yaitu, faktor
internal dan eksternal. Faktor internal siswa tersebut bermasalah karena ada
kelainan fisik dan psikis. Sedang faktor eksternal siswa tersebut bermasalah
karena keluarga dan lingkungan pergaulan.
Dari hasil analisa yang dilakukan melalui wawancara dan studi
dokumenter dan observasi dalam tahun ajaran Juli 2004 Juni 2005 diperoleh
data yang menunjukkan bahwa presantase siswa bermasalah rata-rata setiap
tahunnya berjumlah 5% dari total 610 siswa yang ada. Konselor yang ada telah
berupaya seoptimal mungkin dalam mengadakan pembinaan terhadap para siswa
tersebut terutama pendekatan psikologis ketika mereka berada di sekolah melalui
serangkaian pertanyaan-pertanyaan dan juga arahan yang lebih menggali tentang
alasan apa yang membuat siswa tersebut bermasalah. Hal yang juga mendukung
dalam proses pengawasan perkembangan siswa bermasalah tersebut adalah
dengan diterbitkannya buku perkembangan akademik yang fungsinya untuk
mengamati sejuh mana perkembangan terhadap pembinaan siswa bermasalah
tersebut. Buku ini harus selalu dibawa oleh siswa, bukan hanya ketika di sekolah
tetapi ketika mereka di rumah. Artinya ada usaha dialogis antara orang tua dan
konselor dalam upaya melihat bagaimana perkembangan siswa. Dalam buku
tersebut juga dibuat scoring (penilaian) pelanggaran yang pernah dilakukan oleh
seorang siswa beserta tindakan-tindakan yang dilakukan oleh konselor dalam
upaya mengarahkan siswa yang bermasalah tersebut. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada Tabel 1 dan 2 berikut.

Tabel 1. Kategori Pelanggaran Tata Tertib Sekolah

No Klas Jenis Pelanggaraan Point


1 A Melakukan tindak sosial, pelecehan seksual 200
2 A Pemalsuan dokumen sekolah/Ijazah/rapot 200
3 A Membawa bacaan,gambar,vcd porno 200
Membawa, mengedarkan, memakai NAPZA atau MIRAS di
4 A 200
sekolah
5 A Berkelahi melibatkan pihak luar 200
6 A Menganiaya guru/karyawan/wati/teman dan menimbulkan cidera. 200
7 A Berurusan dengan pihak berwajib karena tindak kriminal 200
Berkata tidak sopan pada guru karyawan/wati (membanting pintu
8 B saat disuruh keluar, meludah di depan guru/karyawan,berkata 100
kasar, menantang, membentak)
Membawa/bermain permainan berindikasi perjudian di
9 B 100
lingkungan sekolah
10 B Mencuri di lokasi sekolah ( yang sifatnya mengarah kriminal) 100
11 B Memalsu tanda tangan Kepala Sekolah/guru/karyawan 100
12 C Berkelahi sesama teman/siswa 50
Tidak mengikuti program agama (iqro dan jamaah sholat), tidak
13 C 50
bawa Al Quran
Membawa sajam/mercon/meledakkan mercon dan sejenisnya
14 C 50
kecuali ada ijin pihak berwajib
15 C Tidak mengikuti ekstra wajib HW / Kepanduan 50
16 C Meminta uang teman/NARGET (secara paksa disertai ancaman) 50
17 C Mengambil/menukar buku perpustakaan sekolah milik teman 50
PKMI-2-16-6

18 C Merusak sarana sekolah 50


19 C Menjadi anggota Geng/perkumpulan anak nakal (ABG) 50
20 C Anggota tubuh ditato 50
21 C Putra hidung, telinga,bibir di tindik 50
Mencorat-coret dinding, meja, kursi (diminta membawa cat
22 C 50
sewarna 5 Kg dan diminta membersihkan)
23 C Membawa motor saat mengikuti kegiatan sekolah 50
24 C Membawa dan atau merokok di lingkungan sekolah 50
25 C Memalsu tanda tangan orang tua/wali 50
26 D Membohongi orang tua/wali dengan alasan kegiatan sekolah 30
27 D Keluar lokasi sekolah saat KBM tanpa ijin (membolos) 30
28 D Bercanda berakibat fatal/cidera 30
Mencorat-coret baju,celana,rok,kerudung,tas,topi (barang di minta
29 D 30
dibersihkan, jika tidak mungkin barang disita sekolah)
30 D Mengeluarkan kata-kata jorok/tidak sopan 30
31 D Makan dalam kelas saat KBM 30
Bersikap tidak sopan pada teman (memegang organ
32 D 30
rawan,memanggil dengan sebutan orang tua, menghina,mengejek)
33 E Keluar kelas tanpa ijin guru kelas/piket (jika kosong) 15
34 E Tidak mengikuti kegiatan les sekolah (diminta mengganti) 15
35 E Keluar masuk sekolah lewat pagar 15
36 E Keluar masuk kelas lewat jendela 15
37 E Keluar kelas saat pergantian jam pelajaran tidak ijin 15
40 F Duduk, berdiri di meja guru/meja siswa 10
41 F Tidak masuk tanpa ijin 10
Memakai seragam tidak sesuai ketentuan sekolah termasuk
42 F 10
seragam olah raga (dipulangkan mengganti)
Tidak membawa buku pelajaran/diktat/LKS/tidak rapi tidak di
43 F 10
sampuli
44 F Menyontek saat ulangan 5
45 F Tidak mengikuti upacara 5
46 F Tidak mengikuti kegiatan Hari Besar Agama tanpa ijin 5
47 F Tidak mengikuti Hari Besar Nasional tanpa ijin 5
48 F Model rambut tidak sopan,disemir (diminta menghitamkan) 5
49 F Memakai kerudung rambut kelihatan/tidak di kepang 5
50 F Masuk MCK lain jenis 5
51 F Ramai dikelas saat KBM 5
Membawa barang yang tidak ada hubungan dengan KBM
52 F 5
(termasuk barang elektronika)
53 F Memakai perhiasan, berhias berlebihan (putri) 5
54 F Terlambat masuk sekolah 5
55 F Tidak melaksanakan piket rutin 5
56 F Tidak menegerjakan PR/tugas lain dari guru 5
57 F Tidak membawa perlengkapan upacara 5
58 F Seragam tidak rapi/didedel/tidak dimasukkan 5
59 F Seragam tidak lengkap atributnya 5
60 F Tidak memakai ikat pinggang hitam 5
61 F Tidak menggunakan sepatu dan kaos kaki sesuai ketentuan 5
62 F Sepatu berhak tinggi 5
63 G Menaiki sepeda dihalaman dalam sekolah sewaktu KBM 3
64 G Parkir sepeda tidak pada tempatnya 3
PKMI-2-16-7

65 G Pinjam barang temannya tidak ijin 3


66 G Buang sampah sembarangan 3
67 G Buku catatan digambari (corat-coret) 3
68 G Kuku panjang/memelihara kuku 3
69 G Kuku dicat/dipacar 3

Tabel 2. Penilaian Pelanggaran

No Skor Tindakan Sangsi Pelaksana


1 03-10 Teguran I Peringatan lesan Guru bersangkuan
2 11-20 Teguran II Peringatan tertulis tembusan orang tua Wali kelas
3 21-35 Sangsi I Pernyataan tertulis orang tua hadir di sekolah Wali kelas dan BK
4 36-55 Sangsi II Skorsing 3 hari wajib hadir di sekolah BK
5 56-75 Sangsi III Skorsing 6 hari wajib hadir di sekolah BK
Kepala Sekolah,wali kelas dan
6 76-100 Sangsi III Tidak naik kels/lulus
BK
7 >200 Sangsi IV Disarankan mengundurkan diri Kepala Sekolah

Hasilnya, dari keseluruhan siswa yang bermasalah itu terdapat 2% siswa


yang dikembalikan karena konselor merasa siswa tersebut tidak dapat dibina lagi.
Ternyata dari hasil penelusuran mengenai kegagalan pembinaan tersebut adalah
peran orang tua yang minim dan juga didukung oleh faktor lingkungan pergaulan
siswa itu sendiri. Hampir sebagian besar pembinaan siswa bermasalah tersebut
tidak terlaksana secara optimal karena peran orang tua yang kecil dalam berbagai
hal yang akhirnya membuat siswa tersebut kehilangan semangat belajar dan
memilih kelompok pergaulan yang salah. Ini berarti orang tua juga seharusnya
ikut berperan aktif dalam usaha pembinaan para siswa tersebut. Tak jarang
konselor SMP Muhammadiyah 7 Kotagede Yogyakarta kadang melakukan
pemanggilan kepada orang tua si anak, bahkan berusaha untuk mendatangi.
Namun pada kenyataannya para orang tua dari siswa yang bermasalah tersebut
tidak menunjukkan suatu sikap perubahan yang mendukung dalam proses
pengarahan anak-anak yang bermasalah.

KESIMPULAN
Pembinaan siswa bermasalah mutlak sangat diperlukan dalam dunia
pendidikan, terutama dalam pendidikan formal seperti sekolah. Sekolah memiliki
peran yang besar, juga harus bisa menyediakan pelayanan-pelayanan yang juga
mendukung dalam pembinaan kualitas generasi muda kita. Keberadaan konselor
paling tidak salah satu yang menjadikan bukti bahwa sekolah tersebut benar-benar
ikut serta dalam proses kemajuan bangsa. Namun tugas yang besar tersebut tidak
hanya dibebankan kepada para konselor saja tetapi lingkungan keluarga dan
masyarakat sangat memiliki kontribusi yang besar dalam upaya tercapainya
keberhasilan tersebut.
Perlu ditanamkan bahwa di dalam dunia pendidikan tidak boleh ada kata
gagal karena pendidikan mutlak harus diberikan para generasi muda. Dari sinilah
sumber daya manusia indonesia yang cakap dan terampil dapat dihasilkan
sehingga dapat memberikan kontribusi yang sangat signifikan dalam proses
kemajuan bangsa.
PKMI-2-16-8

DAFTAR PUSTAKA
Barnadib, Imam. 1996. Dasar-dasar Kependidikan; memahami makna dan
perspektif beberapa teori pendidikan. Jakarta: Balai Aksara, Yudhistira
Dalyono, Muhammad. 2001. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta
Dewey, J. 1962. The Child and the Curriculum and the School and Society.
Chicago: The University of Chicago Press, Illinois USA
Diarsi, M. 1989. Ideologi Gender Dalam Pendidikan. Dalam Radar, serial 6 -,
p.25-30
Hamalik, Oemar. 2004. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara
Mialarat, Gaston. 1993. Hak Anak-anak Untuk Memperoleh Pendidikan. Jakarta:
Balai Pustaka
Milles, Matthew & Huberman, A. Michael. 1992. Analisis Data Kualitatif.
Jakarta: UI Press
Murtiningsih, Siti. 2004. Pendidikan Alat Perlawanan; teori pendidikan radikal
Paulo Freire. Yogyakarta: Resist Book
Ridwan. 1998. Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Sudarwin Danim. 2003. Agenda Pembaharuan Sistem Pendidikan. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar
Sukmadinata, Nana S. 2003. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung:
PT Remaja Rosdakarya
Tilaar, HAR. 2002. Membenahi Pendidikan Nasional. Jakarta: PT. Adi Mahasatya
Walgito, Bimo. 2004. Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Yogyakarta: Andi
Offset
Winkle, WS. 1987. Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah. Jakarta: PT.
Gramedia 339 (4) 705
PKMI-2-17-1

SITOTOKSISITAS FRAKSI PROTEIN DAUN MIMBA


(Azadirachta indica A. Juss.) HASIL PENGENDAPAN DENGAN
AMONIUM SULFAT 30%, 60%, DAN 100% JENUH TERHADAP
KULTUR SEL HeLa DAN SEL RAJI
Robbyono, Nadia Belinda Suwanto, Eddy Sugianto
Jurusan Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

ABSTRAK
Kanker merupakan salah satu penyakit penyebab kematian terbesar. Suatu
penelitian untuk menemukan obat antikanker dari tanaman mimba (Azadirachta
indica A. Juss) menyimpulkan bahwa fraksi protein total daun mimba memiliki
efek sitotoksik terhadap sel HeLa dan sel Raji namun tidak berpotensi untuk
dikembangkan sebagai antikanker. Mengacu pada penelitian tersebut, pada
penelitian ini dilakukan fraksinasi protein secara bertingkat untuk mendapatkan
efek sitotoksik yang lebih besar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
fraksi protein daun mimba manakah dari hasil pengendapan dengan amonium
sulfat 30%, 60%, dan 100% jenuh yang memiliki potensi terbesar untuk
dikembangkan sebagai antikanker. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental
murni yang dilakukan mengikuti rancangan acak lengkap pola satu arah. Uji
sitotoksisitas dilakukan secara in vitro terhadap sel HeLa dan sel Raji
menggunakan metode MTT (3-4(4,5-dimetil-diazol-2-il)-2,5-diphenil tetrazolium
bromid). Fraksi protein diperoleh lewat pengendapan dengan penambahan
amonium sulfat dengan konsentrasi 30%, 60% dan 100% jenuh. Hasil uji
dinyatakan dalam prosentase kematian yang selanjutnya diolah dengan analisis
statistika one way anova dan probit. Hasil uji sitotoksisitas menunjukkan harga
LC50 untuk fraksi protein yang diendapkan dengan ammonium sulfat 30%, 60%
dan 100% jenuh terhadap sel HeLa berturut-turut sebesar 1,0 g/ml ; 4,1 g/ml,
dan 407,7 g/ml sedangkan harga LC50 untuk fraksi protein 30% dan 60% jenuh
terhadap sel Raji sebesar 15,3 g/ml dan 24,0 g/ml. Fraksi protein hasil
pengendapan dengan amonium sulfat 30% jenuh memiliki efek sitotoksik yang
terbesar terhadap sel HeLa dan sel Raji serta memiliki potensi untuk
dikembangkan sebagai antikanker.
Kata kunci : daun mimba, sitotoksisitas, HeLa, Raji

PENDAHULUAN
Banyak usaha yang telah dilakukan untuk menyembuhkan penyakit
kanker. Umumnya, pengobatan kanker dilakukan dengan obat-obat sintesis dan
radiasi tetapi terapi yang digunakan tersebut banyak menimbulkan efek samping
yang merugikan penderita. Oleh karenanya, kini banyak dilakukan penelitian-
penelitian untuk mencari alternatif pengobatan kanker terutama yang
menggunakan bahan-bahan alam (Ganiswara & Nafrialdi, 1995).
Tanaman merupakan salah satu bahan alam yang kini sering diteliti untuk
mencari alternatif pengobatan kanker. Daun tanaman mimba (Azadirachta indica
A. Juss) telah lama dikenal memiliki banyak manfaat dalam dunia kesehatan
antara lain, sebagai antiinflamasi, antirematik, antipiretik, penurun gula darah, dan
lain-lain (Sukrasno, 2003). Dewasa ini, kepopulerannya terus melambung karena
dipercaya dapat digunakan sebagai obat antikanker (Kardinan & Taryono, 2003).
PKMI-2-17-2

Menurut NCI (National Cancer Institut), suatu senyawa dinyatakan


berpotensi sebagai antikanker jika harga LC50 20 g/ml (Sufness and Pezzuto,
1991). Suatu penelitian oleh Febriani (2004) dan Ariyani (2004) tentang fraksi
protein total daun mimba terhadap sel HeLa dan sel Raji menyatakan bahwa fraksi
protein total daun mimba memiliki efek sitotoksik terhadap sel HeLa dan sel Raji.
Namun, karena harga LC50 yang didapat pada kedua penelitian tersebut ternyata
lebih dari 20 g/ml yakni, 64,20 g/ml dan 303,7 g/ml maka fraksi total protein
daun mimba tersebut disimpulkan tidak memenuhi syarat sebagai suatu senyawa
yang berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai antikanker.
Ada dugaan, besarnya harga LC50 yang didapat pada penelitian tersebut
dikarenakan protein yang memiliki aktivitas sebagai antikanker konsentrasinya
terlalu kecil dibandingkan dengan total proteinnya. Hal inilah yang kemungkinan
besar mengakibatkan efek yang ditimbulkan menjadi kurang maksimal. Oleh
karena itu, pada penelitian kali ini akan dilakukan fraksinasi proteinnya dengan
pengendapan secara bertingkat menggunakan amonium sulfat dengan konsentrasi
30%, 60%, dan 100% jenuh. Dengan demikian, akan dapat diketahui pada fraksi
mana protein yang memiliki potensi sebagai antikanker tersebut lebih banyak
terendapkan. Selain itu, karena diendapkan ke dalam tiga fraksi secara bertingkat
maka diharapkan protein yang beraktivitas tersebut dapat berefek lebih maksimal
karena tidak lagi berada di dalam total proteinnya seperti pada penelitian
sebelumnya. Jika efek sitotoksik yang ditimbulkan lebih maksimal maka akan
didapatkan harga LC50 yang lebih kecil.

METODE PENDEKATAN
Penelitian dilakukan di Laboratorium Ilmu Hayati, Universitas Gajah
Mada, Yogyakarta, pada bulan Juni 2005 dalam waktu 15 hari. Bahan utama yang
digunakan adalah daun mimba. Bahan untuk uji sitotoksik adalah sel HeLa dan sel
Raji; larutan dapar natrium fosfat 5mM pH 7,2; larutan dapar natrium fosfat 5mM
pH 7,2 yang mengandung 0,14 M NaCl; amonium sulfat; medium RPMI 1640
(Sigma), FBS 10% (v/v) (Gibco), penisilin-streptomisin 1% (v/v) (Gibco),
fungison 0,5% (v/v) (Gibco), reagen stopper yang berisi SDS 10% dalam HCl
0,01 N (Merck), larutan MTT dalam media RPMI (Sigma). Alat-alat penelitian
yang digunakan, antara lain : sentrifuge (K PLC series), laminar air flow (Nuaire
Class II type A/B3), inkubator (Nuaire IR Airflow), 96-well plate (Nunc), dan
membran dialisa (Sigma).

Tata Cara Penelitian


Pembuatan Fraksi Protein
Fraksi protein dibuat dengan cara menambahkan amonium sulfat dengan
konsentrasi 30%, 60%, dan 100% jenuh secara bertingkat kedalam ekstrak gubal
daun mimba.
Pengukuran Konsentrasi Protein
Konsentrasi protein diukur menggunakan spektrofotometer UV (CECIL CE
292 serie 2) pada panjang gelombang 260 nm dan 280 nm dengan blanko larutan
dapar natrium fosfat 5 mM pH 7,2. Menurut Layne (1957), konsentrasi protein
yang diperoleh dapat dihitung dengan rumus : Konsentrasi protein = A280 x faktor
koreksi x faktor pengenceran
PKMI-2-17-3

Pembuatan Medium Pencuci (RPMI 1640) dan Medium Penumbuh (RPMI-serum)


(Sambrook et al, 1989)
Propagasi Sel HeLa (Sambrook et al, 1989)
Panen Sel HeLa (Sambrook et al, 1989)
Uji Sitotoksisitas
Kontrol terdiri dari sel, medium RPMI, dan larutan dapar natrium fosfat 5mM
pH 7,2. Blanko terdiri dari medium RPMI, larutan dapar natrium fosfat 5mM pH
7,2 dan fraksi protein daun mimba hasil pengendapan dengan amonium sulfat
30%, 60%, dan 100% jenuh. Perlakuan untuk uji sitotoksisitas terdiri dari sel,
medium RPMI, larutan dapar natrium fosfat 5mM pH 7,2 dan fraksi protein daun
mimba hasil pengendapan dengan amonium sulfat 30%, 60%, dan 100% jenuh.
Fraksi protein daun mimba diberikan dalam 6 seri konsentrasi yakni, 200 g/ml,
100 g/ml, 50 g/ml, 25 g/ml, 12,5 g/ml dan 6,25 g/ml.
Penghitungan Persen Kematian Sel Menggunakan Metode MTT
Larutan MTT dimasukkan kedalam sumuran. Sel yang hidup akan membentuk
kristal formazan berwarna ungu yang intensitasnya dapat diukur dengan ELISA
Reader (SLT 340ATC). Absorbansi yang terbaca sebanding dengan jumlah sel
hidup
Analisis Hasil
Sitotoksisitas fraksi protein daun mimba dianalisa dengan menghitung
prosentase kematian sel yang diperoleh dari perhitungan menggunakan modifikasi
rumus Abbot (Meyer, Ferrigni, Putnam, Jacobsen, Nochols, Laughlin ; 1982 ) :

A (B C)
% kematian = x 100%
A

Keterangan :
A = Rata-rata absorbansi kontrol
B = Rata-rata absorbansi perlakuan
C = Rata-rata absorbansi perlakuan tanpa sel
Harga LC50 dihitung menggunakan analisis probit dan untuk menganalisis
signifikansi antara perlakuan dan kontrol, dilakukan perhitungan secara statistika
menggunakan analisis varian satu arah.

HASIL
Prinsip dari metode MTT adalah adanya pemecahan garam tetrazolium
MTT (3-(4,5-dimetil-tiazol-2-il)-2,5-dipheniltetrazolium bromid) oleh sistem
enzim reduktase suksinat tetrazolium yang terdapat di dalam mitokondria sel
hidup sehingga terbentuklah kristal formazan berwarna ungu. Iintensitas warna ini
selanjutnya dapat dibaca dengan ELISA Reader. Sel yang masih hidup berarti
masih aktif melakukan aktivitas metabolisme sehingga adanya MTT pada
lingkungannya akan segera dipecah oleh enzim reduktase suksinat tetrazolium
yang terdapat di dalam mitokondria sel tersebut membentuk kristal formazan
berwarna ungu (Freshney, 1986).
Data hasil uji sitotoksisitas fraksi protein daun mimba hasil pengendapan
dengan amonium sulfat 30%, 60% dan 100% jenuh terhadap sel HeLa dan sel Raji
yang dinyatakan dalam persen kematian dapat dilihat di bawah ini.
PKMI-2-17-4

100
100

Persen Kematian (%)


Persen Kematian (%)
80
80
60 Fraksi Protein 30%
60 Fraksi Protein 30%
Fraksi Protein 60%
40 Fraksi Protein 60%
40 Fraksi Protein 100%
Fraksi Protein 100%
20
20
0
0
0 50 100 150 200 250
0 50 100 150 200 250
Konsentrasi Protein Daun Mimba (g/ml)
Konsentrasi Protein Daun Mimba (g/ml)

Gambar 1. Grafik prosentase kematian sel HeLa yang diinkubasi dengan


fraksi protein daun mimba hasil pengendapan dengan amonium
sulfat 30%, 60%, dan 100% jenuh.

100
100
Persen Kematian (%)
Persen Kematian (%)

80
80
60 Fraksi Protein 30%
60 Fraksi Protein 30%
Fraksi Protein 60%
40 Fraksi Protein 60%
40 Fraksi Protein 100%
Fraksi Protein 100%
20
20
0
0
0 50 100 150 200 250
0 50 100 150 200 250
Konsentrasi Protein Daun Mimba (g/ml)
Konsentrasi Protein Daun Mimba (g/ml)

Gambar 2. Grafik prosentase kematian sel Raji yang diinkubasi dengan


fraksi protein daun mimba hasil pengendapan dengan amonium
sulfat 30%, 60%, dan 100% jenuh.

PEMBAHASAN
Data yang telah dikoreksi dengan menggunakan modifikasi rumus Abbot
kemudian dianalisis menggunakan analisis probit dengan taraf kepercayaan 95%
untuk mendapatkan harga LC50 yang merupakan gambaran efek sitotoksik suatu
senyawa. Khusus untuk fraksi protein daun mimba yang diendapkan dengan
amonium sulfat 100% jenuh terhadap sel Raji, tidak dapat ditentukan harga LC50
nya karena tidak memenuhi persyaratan probit. Menurut NCI (National Cancer
Institut) jika suatu uji sitotoksik suatu senyawa menghasilkan harga LC50 20
g/ml maka senyawa tersebut dinyatakan memiliki potensi untuk dikembangkan
sebagai senyawa antikanker (Sufness and Pezzuto, 1991). Dari hasil pengolahan
data diperoleh harga LC50 untuk fraksi protein daun mimba hasil pengendapan
dengan amonium sulfat 30%, 60% dan 100% jenuh terhadap sel HeLa berturut-
turut sebesar 1,0 g/ml; 4,1 g/ml; dan 407,7 g/ml; dan harga LC50 untuk fraksi
protein daun mimba yang diendapkan dengan amonium sulfat 30% dan 60%
jenuh terhadap sel Raji adalah 15,3 g/ml dan 24,0 g/ml. Harga LC50 yang
PKMI-2-17-5

berbeda untuk sel HeLa dan sel Raji walaupun dengan perlakuan fraksi protein
yang sama dimungkinkan karena tiap sel kanker memiliki reseptor yang berbeda-
beda. Dari analisis one way anova diperoleh hasil p < 0,05 yang berarti minimal
ada satu data yang berbeda bermakna atau berbeda secara signifikan terhadap data
yang lain. Selanjutnya, dengan analisis Tukey, diketahui bahwa semua perlakuan
untuk setiap fraksi protein berbeda bermakna dibandingkan kontrol.
Hasil penelitian ini jauh berbeda dengan hasil penelitian sebelumnya oleh
Febriani (2004) dan Ariyani (2004), dimana fraksi protein total daun mimba
menghasilkan harga LC50 sebesar 64,20 g/ml terhadap sel HeLa dan 303,7 g/ml
terhadap sel Raji. Hal ini dapat terjadi kemungkinan dikarenakan protein yang
beraktivitas antikanker tersebut tidak lagi berada didalam total proteinnya
sehingga dapat berefek lebih maksimal.

KESIMPULAN
Dari hasil penelitian tampak bahwa protein yang memiliki aktivitas
antikanker lebih banyak terendapkan pada penambahan amonium sulfat 30%
jenuh. Dalam penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa fraksi protein daun
mimba hasil pengendapan dengan amonium sulfat 30% jenuh memiliki efek
sitotoksik yang terbesar terhadap sel HeLa dan sel Raji dengan harga LC50 sebesar
1,0 g/ml dan 15,3 g/ml. Fraksi protein daun mimba hasil pengendapan dengan
amonium sulfat 30% jenuh dapat dinyatakan sebagai senyawa yang memiliki
potensi untuk dikembangkan sebagai antikanker.

DAFTAR PUSTAKA
Ariyani. (2004). Sitotoksisitas Fraksi Protein Daun Mimba (Azadirachta indica A.
Juss) terhadap Kultur Sel Raji, Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas
Sanata Dharma, Yogyakarta.
Febriani, A.C. (2004). Sitotoksisitas Fraksi Protein Daun Mimba (Azadirachta
indica A. Juss) terhadap Kultur Sel HeLa, Skripsi, Fakultas Farmasi
Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Freshney, R.I. (1986). Culture of Animal Cell a Manual of Basic Technique,
second (2nd) Ed, Liss. Inc, New York.
Ganiswara, S. dan Nafrialdi. (1995). Antikanker dan Immunosupresan, dalam
Ganiswara, S., (Ed), Farmakologi dan Terapi, Bagian Farmakologi
Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia.
Kardinan, A dan Taryono. (2003). Tanaman Obat Penggempur Kanker, 22-29, PT
Agromedia Pustaka, Jakarta.
Layne, E. (1957). Spectrophotometric and Turbidimetric Methods for Measuring
Proteins, Methods Enzymol, Colomick and Kaplan Academic Press, New
York, 3, 477.
Meyer, B.N., Ferrigni, N.R., Putnam, J.E., Jacobsen, L.B., Nochols, D.E., Mc
Laughlin, J.L. (1982). Brine shrimp : a convinient general bioassay for
active plant convinient, vol 45, planta medica.
Sambrook, J., Fritsch, E.F., Maniatis, T. (1989). Molecular Cloning A Laboratory
Manual, Jilid 1, 2, dan 3, 2nd ed, Cold Spring Harbor laboratory Press.
Suffness, M., and J.M. Pezzuto. (1991). Assays Related to Cancer Drug
Discovery, Methods in plant Biochemistry: Assays for Bioactivity Vol. 6,
Academic Press, London.
PKMI-2-18-1

PENGARUH LIMBAH PADAT PABRIK KERTAS TERHADAP


HASIL TANAMAN BAWANG MERAH

Woro Hastutik, Apriyanto dan Hasan Basri Nasution


Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian
Universitas Tunas Pembangunan, Surakarta

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh macam limbah padat pabrik
kertas pada berbagai dosis pemberian terhadap hasil tanaman bawang merah.
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Klodran, Kecamatan Colomadu,Kabupaten
Karanganyar pada bulan Desember 2004 sampai dengan Februari 2005 dengan
jenis tanah regosol pada ketinggian tempat 110 meter diatas permukaan laut.
Penelitian ini merupakan percobaan faktorial dengan rancangan lingkungan
Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 perlakuan dengan 12 kombinasi
perlakuan yang masing-masing diulang 3 kali. Faktor pertama macam limbah
padat pabrik kertas yang terdiri 3 taraf yaitu sludge, biosludge dan pith. Faktor
kedua : dosis limbah padat pabrik kertas yang terdiri 4 taraf yaitu 0 ton/ha
(kontrol), 10 ton/ha, 20 ton/ha dan 30 ton/ha. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa perlakuan macam dan dosis limbah padat pabrik kertas berpengaruh
sangat nyata terhadap semua komponen hasil. Ada interaksi antara macam
limbah padat pabrik kertas dengan dosis limbah padat pabrik kertas pada semua
paramter yang diamati. Berat umbi kering konsumsi tertinggi dicapai pada
kombinasi limbah sludge dengan dosis 20 ton/ha sebesar 26,67 gram per
tanaman.

Kata Kunci : Limbah padat, bawangmerah, sludge, biosludge, pith

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Hasil Bawang merah nasional tergolong rendah. Berdasarkan survey
pertanian pada tahun 1991, produksi rata-rata baru mencapai 7,17 ton/hektar dari
luas areal 70,989 hektar dengan produksi 509.013 ton (Rukmana, 1994).
Untuk mendapatkan bawang merah dengan produksi optimum dan umbi
yang baik dibutuhkan pupuk kandang 20 ton per hektar dan pupuk buatan berupa
120 kg N/ha, 150 kg P2O5/ha dan 100 kg K2O/ha (Rismunanadar, 1989).
Pemanfaatan pupuk kandang yang sudah ada sekarang ini sering mengalami
kesulitan sehingga usaha untuk mencari sumber bahan organik alternatif masih
tetap diperlukan.
Limbah merupakan salah satu sumber bahan organik alternatif. Limbah
(Sumarwoto dan Siregar, 1988) adalah bahan yang dihasilkan dalam suatu proses
yang tidak berguna lagi untuk proses tersebut. Limbah padat merupakan salah satu
bentuk limbah yang terdapat di lingkungan. Limbah padat yang terbuang ke
lingkungan sering dan banyak menimbulkan masalah bagi kehidupan manusia
(Murtado dan said, 1987).
Produksi limbah padat pabrik kertas Leces yang berupa sludge, biosludge
dan pith cukup besar. Hal ini sejalan dengan perkembangan kapasitas produksi
PKMI-2-18-2

dan meningkatnya pemakaian bahan baku pembuatan kertas. Dari hasil


wawancara dengan LITBANG PT KERTAS LECES diketahui bahwa saat ini
produksi sludge mencapai 400 ton/hari, biosludge 80 ton/hari dan pith 120
ton/hari. Limbah pabrik sebanyak itu biasanya ditumpuk disekitar pabrik
sehingga bila tidak dimanfaatkan dapat menjadi sumber pencemaran yang
potensial.
Dengan pemanfaatan limbah padat tersebut berarti memanfaatkan energi
yang ada pada bahan tersebut sekaligus mencegah pencemaran lingkungan hidup.

Tinjauan Pustaka
Morfologi dan AgronomiTanaman Bawang merah
Menurut Rahayu (1994), bawang merah mempunyai sistematika divisio
Spermatophyta, Sub Divisio Angiospermae, klassis Monocotyledonae, ordo
Liliaflorae, famili Amaryllidaceae, genus Allium dan species Allium
ascalonicum L.
Tanaman Bawang merah merupakan tanaman semusim.batangnya pendek,
tumbuh tegak dan tingginya antara 15-20 cm. Akarnya merupakan akar serabut,
daunnya panjang seperti pipa dan berwarna hijau. Daun dibagian pangkalnya
mengalami perubahan bentuk dan fungsinya yakni membengkok membentuk
umbi lapis. Pembentukan umbi merupakan akibat penggelembungan pangkal daun
ataupun akar (Setiawan, 1994).
Selain persyaratan iklim, kondisi tanah juga perlu diperhatikan terutama
yang menyangkut jenis tanah, kandungan unsur hara dan derajat kemasaman (pH)
yang sesuai (Setiawan, 1994).

Peranan limbah Padat pabrik kertas sebagai Sumber bahan Organik


Limbah padat pabrik kertas mengandung unsur kalium (K). peranan unsur
ini untuk memperlancar fotosintesis, memacu pertumbuhan tanaman pada titik
awal, memperkuat batang dan menambah daya tahan tanaman terhadap serangan
hama dan penyakit serta kekeringan (Suriatna, 1994).
Limbah padat pabrik kertas juga mengandung unsur-unsur antara lain :
kalsium, magnesium, besi, dan sulfida yang juga berguna bagi pertumbuhan
tanaman.
Limbah padat pabrik kertas terdiri dari :
a. Sludge
Sludge adalah suatu bahan yang terdiri atas padatan 90% dan air 10%.
Sludge didapat dari proses pengendapan pada efflument treatment plant,
mengandung bahan organik yang berasal dari bahan baku pulb.
b. Biosludge
Biosludge adalah hasil samping dari efflument treatment yakni dari
proses biological aeration, tersusun dari bahan baku pulb, selain mengandung
mikroorganisme sebagai efek dari biological aeration.
c. Pith
Pith adalah bahan dari proses depething plant yaitu proses pemisahan
secara mekanik bahan baku pulb yaitu antar bahan serat dan bahan bukan serat
(Hammer, 1977).
PKMI-2-18-3

Tujuan Penelitian :
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam melakukan penelitian ini adalah
untuk mengetahui pengaruh limbah padat pabrik kertas terhadap hasil tanaman
bawang merah.

METODE PENELITIAN
Tempat dan Waktu Penelitian :
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Klodran, Kecamatan Colomadu,
Kabupaten Karanganyar pada bulan Desember 2004 sampai dengan Februari
2005.

Bahan :
a. Bibit Bawang merah varietas Bima
b. Limbah padat pabrik Kertas (Sludge, biosludge dan Pith)
c. Pupuk anorganik (ZA, TSP, dan KCl).
d. Pestisida
e. Fungisida

Pelaksanaan Percobaan
Metode Percobaan
Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Lingkungan
Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang disusun secara faktorial dengan 3 ulangan.
Faktor-faktornya :
I. Macam limbah organik, terdiri 3 taraf, yaitu :
L1 = limbah padat Sludge
L2 = limbah padat Biosludge
L3 = limbah padat Pith
II. Dosis Limbah organik, terdiri 4 taraf, yaitu :
D0 = Kontrol
D1 = Dosis 10 ton per hektar
D2 = Dosis 20 ton per hektar
D3 = Dosis 30 ton per hektar

Cara Penelitian
1. Persiapan Tanah
Tanah diambil sedalam lapisan olah (30 cm). Setelah itu
dikeringanginkan, ditumbuk dan disaring berdiameter 2 mm. Kebutuhan tanah
3 kg per polybag. Tanah dicampur bahan organik (limbat padat) sesuai
perlakuan.
2. Penanaman
Umbi yang akan ditanam dipilih yang seseragam mungkin, selanjutnya
dilakukan pemotongan bibit bagian untuk merangsang tumbuhnya umbi
samping dan pertumbuhan tunas. Umbi dimasukkan dalam lubang tanam
dengan ujung umbi rata dengan permukaan tanah. Setiap polybag ditanam 1
bibit.
3. Pemupukan
Pupuk dasar digunakan limbah padat pabrik kertas yang sudah
dikelompokkan kurang lebih 1,5 bulan, diberikan sesuai perlakuan. Pemberian
PKMI-2-18-4

limbah padat pabrik kertas sebagai pupuk dasar diberikan bersamaan dengan
persiapan tanah 1 minggu sebelum tanam. Unuk pupuk buatan diberikan 1 hari
sebelum tanam, dengan dosis ;
- ZA = 120 kg/ha atau 0,12 gram/polybag
- TSP = 150 kg/ha atau 0,15 gram/polybag
- KCl = 100 kg/ha atau 0,10 gram/polybag
Untuk pupuk ZA diberikan dua kali yaitu 0,5 bagian diberikan satu hari
sebelum tanam dan 0,5 bagian sisanya diberikan umur dua minggu setelah
tanam.
4. Pemeliharaan
a. Pengairan
Pengairan dengan cara penyiraman tanah sampai keadaan kapasitas
lapang.
b. Penyulaman
Penyulaman dilakukan terhadap tanaman yang mati, dilakukan pada
umur 10 hari setelah tanam.
c. Penyiangan
Penyiangan dengan mencabut gulma dengan tangan.
d. Pengendalian hama dan penyakit
Untuk pengendalian hama digunakan Furadan 3G dengan dosis 20
kg/ha diberikan pada saat tanam dengan cara disebar merata. Pada saat
tanaman berumur 1 minggu disemprot dengan Bayrusil 25 EC dengan
konsentrasi 2 cc/l air sampai tanaman berumur 1 bulan. Setelah tanaman
berumur 1 bulan disemprot dengan Diazinon 60 EC dengan konsentrasi 2
cc/l air sampai dengan 2 minggu sebelum panen. Untuk mencegah penyakit
disemprot Dithane M-45 dengan konsentrasi 2 gram/l air, dilakukan 1
minggu sekali sampai menjelang panen atau 2 minggu sebelum panen.
5. Pemanenan
Pemanenan dilakukan umur 65 hari atau melihat tanda-tanda 60% daun
menguning, daun terkulai jika dipegang pangkal daunnya lemas. Cara
pemanenan dicabut atau dicongkel dengan solet secara perlahan-lahan agar
umbi tidak rusak.

Teknik Pengambilan Data


Pengamatan dilaksanakan pada saat panen
Parameter yang diamati meliputi :
1 .Jumlah umbi.
2. Berat umbi segar.
3. Berat umbi kering.

Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan sidik ragam dan perlakuan yang signifikan
di uji lanjut dengan Uji Duncan taraf nyata 5%.
PKMI-2-18-5

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil
Tabel 1. Sidik Ragam Komponen Hasil Tanaman

Berat kering
Perlakuan Jumlah Umbi Berat Segar Umbi Umbi
(gram) (gram)
L ** * **
D ** ** **
LXD ** ** **

Keterangan :
NS = Tidak berbeda nyata
* = Berbeda nyata
** = Berbeda sangat nyata
L = Macam Limbah Organik
D = dosis Limbah Organik
L X D = Interaksi L dengan D

Tabel 2. Uji Jarak Berganda Duncan pengaruh Macam, Dosis Limbah Padat
Pabrik Kertas dan Interaksi Kedua Perlakuan Terhadap Komponen Hasil

Parameter
Perlakuan Berat Umbi segar Berat umbi kering
Jumlah Umbi Per tanaman (gram) Konsumsi (gram)
Macam Limbah Padat Pabrik Kertas
L1 7,89 51,53 22,45
L2 11,14 39,05 13,59
L3 6,38 37,49 10,53
Dosis Limbah Padat Pabrik Kertas
D0 4,33 33,30 11,89
D1 8,59 46,35 15,42
D2 9,74 42,59 17,06
D3 11,22 48,52 17,74
Interaksi antara Macam Limbah Padat Pabrik Kertas terhadap berbagai Dosis
L1D0 3,89 a 33,65 b 13,44 b
L1D1 8,22 de 50,32 g 25,13 d
L1D2 8,77 ef 60,99 g 26,67 e
L1D3 10,66 f 61,14 g 24,55 cd
L2D0 4,77 c 32,45 a 11,11 b
L2D1 11,33 g 47,08 fg 14,44 bc
L2D2 13,22 g 36,17 cd 14,21 b
L2D3 15,33 g 40,50 cde 14,59 cd
L3D0 4,33 b 33,79 bc 11,09 a
L3D1 6,22 c 41,65 def 6,67 a
L3D2 7,22 d 30,60 a 10,29 a
L3D3 7,77 de 43,92 efg 14,07 b

Keterangan : Angka-angka dalam satu kotak pada kolom yang sama dan diikuti
huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DMRT pada
taraf 5%.
PKMI-2-18-6

Pembahasan
Hasil tanaman bawang merah yang diamati meliputi jumlah umbi, berat
segar umbi dan berat kering umbi. Untuk mengetahui hasil analisis sidik ragam
dari berbagai komponen hasil tanaman dapat dilihat pada Tabel 1.
Berdasarkan Tabel 1, pada paramter jumlah umbi, perlakuan macam
limbah padat pabrik kertas, dosis limbah maupun interaksinya ada perbedaan yang
signifikan. Selanjutnya untuk mengetahui taraf-taraf dari interaksi yang mana
yang signifikan selanjutnya diuji dengan uji Duncan 5% yang disajikan pada
Tabel 2.
Berdasarkan Tabel 2, pada perlakuan limbah sludge, limbah biosludge
maupun limbah pith dari pabrik kertas semuanya dengan meningkatnya dosis ada
kecenderungan meningkatkan jumlah umbi yang terbentuk.
Meningkatnya jumlah umbi yang terbentuk ini karena terkait dengan
ketersediaan unsur hara yang semakin meningkat. Dengan penambahan dosis
limbah berarti akan menambah unsur hara yang disediakan termasuk unsur
kalium. Menurut Supardi (1993) untuk pembentukan umbi yang baik diperlukan
banyak unsur kalium. Hal ini karena kalium mempunyai fungsi untuk katalisator
translokasi fotosintat dari daun ke umbi. Semakin banyak unsur kalium yang
tersedia bagi tanaman maka proses translokasi fotosintat akan semakin lancar dan
cepat sampai pada batas dosis kalium tertentu.
Penggunaan limbah sludge menaikkan berat segar umbi, namun dengan
meningkatknya dosis tidak diikuti meningkatnya berat segar umbi yang
signifikan. Namun demikian pada dosis 30 ton/ha dicapai berat segar umbi
tertinggi. Hal ini diduga pada limbah sludge dengan pH sekitar netral yaitu 6,8
memungkinkan phosphor tersedia bagi tanaman sehingga dengan meningkatnya
dosis limbah, unsur P yang tersedia meningkat pula, Menurut Sarief (1981) unsur
hara phosphor tersedia pada pH tanah 6,5, sedangkan Fitter and Hay (1981)
mengatakan bahwa P organik tidak secara langsung penting dalam tanah, karena
untuk menjadi tersedia bagi tanaman haruslah dilepaskan sebagai H2PO4- dimana
akan cepat diabsorbsi oleh permukaan besi, aluminium maupun kalsit di tanah.
Pada penggunaan limbah biosludge pada parameter berat segar umbi
menunjukkan perbedaan yang signifikan dibanding kontrol. Hal ini karena
kandungan unsur hara relatif paling tinggi apabila dibandingkan dengan dua
macam limbah yang lain yang diujikan. Pada dosis 10 ton/ha menghasilkan berat
segar umbi tertinggi. Apabila dosis ditingkatkan menjadi 20 ton/ha sampai 30
ton/ha justru menurunkan berat segar umbi. Hal ini diduga walaupun kandungan
unsur hara biosludge lebih tinggi dibanding dua macam limbah padat pabrik
kertas yang lain yaitu sludge dan pith (analisis kimiawi) tetapi ketersediaan unsur
hara ini belum termanfaatkan secara optimal. Hal ini diduga karena P terikat
dalam persenyawaan yang tidak larut dengan besi mengingat tingginya kandungan
besi pada biosludge sehingga akan berpengaruh terhadap proses pembentukan
umbi bawang merah.
Penggunaan limbah pith secara signifikan meningkatkan berat segar umbi
apabila dibandingkan dengan kontrol. Hal ini diduga karena unsur hara yang
tersedia terutama P dapat dimanfaatkan oleh tanaman karena tidak terikat oleh
besi menjadi suatu persenyawaan yang tidak larut. Sehingga dengan
meningkatnya dosis dari 20 ton/ha menjadi 30 ton/ha masih dapat meningkatkan
PKMI-2-18-7

berat segar umbi. Menurut Sutejo (1987) salah satu peranan P adalah mendorong
pembentukan bua