Anda di halaman 1dari 10

PENGUKURAN DEBIT AIR SUNGAI

TUGAS
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULUAH
Praktikum Hidrologi
Yang dibina oleh Bapak Prof. Dr. Sugeng Utaya, M.Si

Oleh
Kelompok 4
Bukhori Iman Pambudi : (140722601098)
Dedy Prabowo : (140722602076)
Deni Mahendra : (140722601709)
Denny Setia Purnama : (140722600805)
Haryadi : (140722605509)
Haryo Bagus Satriawan : (140722604524)
Iggra Widya Pambayun : (140722602987)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS ILMU SOSIAL
JURUSAN GEOGRAFI
Maret 2015
PENGUKURAN DEBIT AIR SUNGAI

Debit air adalah besarnya volume air yang mengalir melalui penampang
tertentu persatuan waktu. Sebenarnya debit air itu merupakan fungsi dari luas
penampang dikali kecepatan aliran. Luas penampang saluran yang berbentuk teratur
dihitung menurut rumus bentuk bangunnya, sedangkan penampang yang tidak teratur
dihitung dengan menggunakan prinsip rata-rata kedalaman air. Sedangkan kecepatan
aliran merupakan fungsi dari bentuk saluran, nilai kekasaran saluran, dan kemiringan
aliran.
Untuk melaksanakan pengukuran debit perlu diikuti prosedur pengukuran
sebagai berikut:
1. Penempatan stasiun pengukuran harus memperhatikan 4 kriteria yaitu: (1) Tempat
pengukuran harus mudah dicapai, (2) Tempat harus sesuai dengan kondisi lokasi
pengukuran, (3) Kedudukan alat harus stabil, dan (4) Alat permanen.
2. Pemilihan tempat pengukuran kecepatan aliran harus memperhatikan 7 syarat
yaitu: (1) Penampang lurus dan aliran relatif merata, (2) Distribusi kecepatan aliran
teratur, (3) Kecepatan aliran lebih besar dari 10/15 cm/detik, (4) Dasar sungai
stabil, (5) Kedalaman air lebih dari 30 cm, (6) Tidak ada aliran yang melampaui
tebing, dan (7) Tidak terdapat tumbuhan air.
Metode pengukuran debit air ada beberapa macam, yang mana setiap metode
memiliki kesesuaian dengan kondisi sungai atau saluran air yang akan dihitung
debitnya. Pada praktikum ini akan dilakukan pengukuran debit air dengan
menggunakan 3 macam metode yaitu metode slope area, metode apung, dan metode
weir. Adapun Cara pengukuran debit dengan ketiga metode tersebut diuraikan berikut
ini.

A. Pengukuran Debit Air Dengan Metode Slope Area

1. Landasan Teori
Prinsip pengukuran debit air dengan metode Slope Area adalah mengalikan luas
penampang saluran dengan kecepatan aliran. Luas penampang saluran diukur dan
dihitung sesuai rumus bentuk bangun yang dihasilkan. Sedangkan kecepatan aliran
merupakan fungsi dari bentuk penampang, kekasaran dasar saluran, dan
kemiringan permukaan air. Bentuk saluran diwujudkan radius hidraulik yaitu hasil
bagi dari luas penampang dengan perimeter basah. Angka kekasaran dasar saluran
menentukan besar-kecilnya hambatan yang dialami oleh air yang mengalir pada
saluran tersebut. Dalam hal ini semakin kasar dasar saluran, akan semakin besar
hambatan, dan berarti pula semakin kecil kecepatan aliran air. Sedangkan
kemiringan permukaan air ditentukan oleh beda tinggi antara titik hulu dan hilir
sungai. Semakin besar kemiringan dasar saluran akan semakin besar beda tinggi
permukaan air, sehingga akan semakin cepat aliran air. Adapun rumus debit air
sungai dengan metode Slope Area sebagai berikut:

Q = A.V

V = 1/n.. R 2 / 3 .S 1/ 2

Keterangan:
Q = debit air (m3/detik)
A = luas penampang saluran (m2)
V = kecepatan aliran air (m/detik)
n = angka kekasan saluran (tabel)
R = A/P
P = perimeter basah (m)
S = H/L
S = kemiringan garis energi (permukaan air)
H = beda tinggi air di hulu dan hilir (m)
L = jarak antara titik di hulu dan hilir (m)

2. Tujuan
Praktikum pengukuran debit air sungai dengan menggunakan
metode Slope Area ini bertujuan:
a) Melatih mahasiswa mengukur debit air sungai secara langsung dengan
menggunakan metode slope area.
b) Mengetahui besarnya debit air sungai pada saat tertentu yang diukur
dengan menggunakan metode slope area.

3. Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah:
a) teodolith
b) selang plastik
c) meteran
d) staff gauge
e) yallon
f) buku catatan dan alat tulis

4 .Cara Kerja
Prosedur kerja yang harus dilakukan mahasiswa dalam pengukuran debit
air sungai dengan metode slope area adalah:
a) Pilih bagian penggal sungai yang relatif lurus
b) Tentukan titik hulu dan hilir pada penggal sungai berjarak antara 10--20 m.
c) Ukurlah penampang sungai dibagian hulu dan hilir tersebut dengan cara:
- Membentangkan meteran di atas muka air dari tebing kiri ke tebing kanan
- Mengukur kedalaman air dari tebing kiri ke kanan dengan jarak tertentu
d) Mengukur beda tinggi antara permukaan air di titik hulu dan hilir dengan
cara:
Mengisi selang dengan air dan dengan prinsip water pass ukur beda
tinggi antara permukaan air di hulu dan hilir tersebut.
Apabila air sungai cukup dangkal (< 0,5 m), pengukuran beda tinggi
permukaan air dapat menggunakan teodolith yaitu dengan posisi
teropong datar membidik Baak yang dipasang di titik hulu dan hilir,
kemudian menghitung selisih ketinggiannya.
e) Menghitung besarnya debit air sungai dengan mengikuti langkah analisa
hasil pengamatan dan menggunakan rumus debit di atas.
5. Hasil Pengamatan
Untuk melaksanakan perhitungan debit, data hasil pengukuran lapangan dituangkan
ke dalam tabel berikut dan dihitung dengan mengikuti langkah-langkah yang
sebagai berikut:

a) Menggambar Penampang Melintang Sungai


___________________________________________________________
Lebar kiri-kanan (m) I ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
-------------------------------------------------------------------------------
Kedalaman (m) I ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
___________________________________________________________

Selanjutnya gambar penampang tersebut dengan skala tertentu misal 1:100


dsb.

Gambar

b) Dari gambar penampang melintang tersebut hitunglah:


1. Luas Penampang:
Rumus: A=LxD
A = luas penampang sungai (m2)
L = total lebar basah sungai (m)
D = rata-rata kedalaman sungai (m)
2. Perimeter Basah (Radius Hidraulik):
- Perimeter basah sungai ditentukan dengan cara mengukur dasar sungai
pada penampang yang terbasahi air, dengan menggunakan curvimeter
atau benang. Jika menggunakan benang maka hasil pengukuran
dikalikan skala gambar.
Rumus:

P = L X 1/skala

Keterangan :
P = Perimeter basah (m)
L = panjang dasar sungai basah (m)
c) Menghitung Kemiringan Garis Energi dengan rumus tersebut di atas.
d) Menentukan nilai kekasaran saluran Mannings dengan cara mencocokkan
kondisi dasar saluran dengan tabel angka kekasaran Mannings (lihat
terlampir).
e) Hitung debit air sungai dengan menggunakan rumus di atas.
R=A/P=1,8/1,8=0,47
S=H/L=0,3/10=0,03
V=1/n/R2/3xS1/2
=1/0,017x0,472/3x0,031/2
=1/0,017x0,58x0,17
=1/0,017x0,098
=5,764 m/s

B. Pengukuran Debit Sungai Dengan Metode Apung

1. Landasan Teori
Pada prinsipnya pengukuran debit air sungai dengan metode apung sama
dengan metode pengukuran debit yang lain yaitu mengalikan luas penampang sungai
dengan kecepatan aliran. Cara memperoleh nilai luas penampang sungai sama
seperti dalam metode slope area. Sedangkan kecepatan aliran air diperkirakan
berdasarkan kecepatan pelampung yang dihanyutkan dalam air. Oleh karena massa
pelampung tidak sama dengan massa air, maka kecepatan hanyut pelampung tidak
otomatis sama dengan kecepatan aliran air; sehingga perkiraan kecepatan aliran air
berdasar kecepatan hanyut pelampung dihitung dengan rumus tertentu. Dalam hal ini
kecepatan aliran air diperoleh dengan cara mengalikan kecepatan hanyut pelampung
dengan nilai koefisien. Adapun rumus debit air sungai dengan metode apung seperti
berikut ini.

Q = A.V

V = K.u
u = L/T
K = 1 - 0,116(V1-a - 0,1)

Keterangan:
Q = debit air (m3/detik)
V = kecepatan aliran air (m/detik)
K = nilai koefisien
u = kecepatan hanyut pelampung (m/detik)
L = Jarak hulu ke hilir pengamatan (m)
T = waktu tempuh pelampung dari hulu ke hilir (detik)
a = kedalaman tangkai dibagi kedalaman air.

2. Tujuan
Praktikum pengukuran debit dengan metode apung ini bertujuan
sebagai berikut:
a) Melatih mahasiswa melakukan pengukuran debit sungai dengan
menggunakan metode apung.
b) Mengetahui besarnya debit air sungai pada saat pengukuran dengan
menggunakan metode apung.
3. Alat dan Bahan
Peralatan dan bahan yang digunakan untuk melaksanakan pengukuran debit
dengan metode apung adalah:
a) pelampung
b) stop watch
c) meteran
d) staff gauge
e) catatan dan alat tulis

4. Cara Kerja
Langkah kerja yang harus dilakukan dalam pengukuran debit air sungai dengan
metode apung sebagai berikut:
a) Memilih lokasi pengukuran pada penggal sungai yang lurus.
b) Menentukan dua titik pengamatan di hulu dan hilir yang berjarak antara 10
sampai 20 meter.
c) Melakukan pengukuran penampang sungai dengan cara seperti pada metode slope
area tersebut.
d) Mengukur kecepatan hanyut pelampung dari hulu ke hilir yang telah ditetapkan
tersebut, dengan cara mengukur waktu yang ditempuh pelampung dari hulu ke
hilir menggunakan stop watch. Pengukuran kecepatan pelampung ini dikerjakan
sebanyak 3-5 kali, yaitu di tengah dan tepi sungai dengan maksud untuk
mengukur kecepatan semua titik tali arus sungai.
e) Mengukur bagian pelampung yang tenggelam di dalam air.
f) Mengukur kedalaman air tempat melepaskan pelampung yaitu sebanyak 3-5 kali
pengukuran.
g) Hitung debit air sungai dengan mengikuti prosedur perhitungan hasil pengamatan.

5. Hasil Pengamatan
a) Luas penampang saluran (A) = 1,8 + 1,8 /2 = 1,8 m2
b) Jarak hulu ke hilir (L) = 10 meter
c) Bagian pelampung yang tenggelam (h) = 13 m
d) Kedalaman air (d1, d2, d3) = m
e) Waktu tempuh pelampung (T1, T2, T3) = 4,15 ; 8,10 ; 7,13detik
f) Hitung debit air (Q) dengan rumus tersebut di atas.
g) Catatan : Untuk beberapa parameter yang diukur lebih dari satu kali, sebelum
diperhitungkan dalam perhitungan debit air, harus dicari rata-ratanya terlebih dahulu.
K=1-0,116(1 -0,1)
K=1-0,116(1 0,026 0,1)
K=1-0,116(0,74-0,1)
K=1-0,116(0,86-0,1)
K=1-0,116(0,76)
K=1-0,088=0,9
u=L/T=10/6,46=1,54 m/s
V=K x u=0,9x1,54=1,39 m/s
A=LxT=1,8x0,5=0,9
Q=AxV=0,9x1,39=1,25m3/s

6. Pembahasan
Pada praktikum kali ini pada mata kuliah praktikum hidrologi mahasiswa
diberikan materi tentang sungai. Sungai merupakan wadah atau tempat penampung
dan mengalirkan air hujan yang jatuh pada suatu DAS ke tempat yang lebih rendah
dan umumnya akan bermuara di lautan. Pada materi praktikum kali ini mahasiswa
menganalisis,mengukur, dan menghitung tentang debit aliran sungai dengan
pemilihan sampel sungai ditentukan oleh mahasiswa sendiri. Hal tersebut ditujukan
untuk mengetahui beasrnya debit aliran sungai, dengan melakukan metode yang
telah diberikan oleh dosen serta mengikuti persyaratan-persyaratan yang telah
ditentukan oleh masing-masing model metode pengukuran debit tersebut.
Pengukuran yang pertama menggunakan metode slope area, metoe ini
menggunakan prinsip mengalikan luas penampang dengan kecepatan aliran sungai.
Pada rumus ini pertama yang harus dicari adalah R yakni perbandingan antara luas
penampang saluran (m2) dengan parimeter basa (m). Setelah ketemu kita dapat
menhitung dan mengetahui V atau kecepatan aliran air (m/detik), V tersebut dicari
hasilnya bertujuan untuk mengetahui hasil rumus dalam pencarian debit melalui
metode slope area. Dalam pengukuran mnggunakan metode slope area ini, kita
mampu mengetahui seberapa banyak debit air yang tertampung pada suatu saluran
sungai dalam kurun waktu tertentu ketika terjadi hujan ataupun tidak (keadaan
normal).
Pengukuran yang kedua menggunakan metode apung. Pada metode ini,
mahasiswa membuat pelampung dari botol bekas air mineral yang sekiranya dapat
mengapung diatas air. Pada bagian bawah pelampung diisi pasir ataupun pemberat
lainnya agar kondisi pelampung dapat mengapung dalam kondisi yang vertikal.
Pengukuran ini bertujuan untuk mencari besaran kecepatan aliran sungai pada saat-
saat tertentu. Misalnya pengukurannya pada beberapa sisi yakni pada sisi kiri,
tengah dan sisi kanan. Pada sisi terseebut memiliki perbedaan kecepatan yakni
dipengaruhi oleh dinding sungai yang dapat menghambat alirannya.
Dari kedua metode ini, dapat diketahui cepat atau lambatnya aliran sungai
yang mengalir dari hulu menuju hilir. Cepad ataupun lambatnya suatu aliran ini
tergantung pada kondisi DAS pada wilayah tersebut. Apabila kondisi DAS tersebut
memiliki bentuk yang melingkar, maka daerah tersebut sangat cepat memperoleh
aliran air yang melimpah yang mampu membuat wilayah tersebut rawan terjadinya
bencana banjir. Apabila pada suatu wilayah memiliki DAS yang berbentuk lonjong
dan panjang, maka wilayah tersebut dapat memperoleh pasokan atau aliran air
sungai yang relatif lama untuk menuju hilir dibandingkan wilayah yang memiliki
DAS yang berbentuk bulat/melingkar.

7. Kesimpulan
Dari hasil dan pembahasan pada praktikum kali ini, dapat disimpulkan bahwa :
1. Pengukuran debit air dapat menggunakan 2 metode yakni menggunakan
metode sloe area dan metode apung.
2. Besarnya debit air tergantung pada bentuk dan kondisi DAS.
3. Apabila DAS berbentuk melingkar maka wilayah tersebut mudah sekali
tergenang oleh air, sedangkan bentuk DAS yang lonjong akan
menghambat atau memperlama laju DAS untuk mencapai hilir.

8. Daftar Pustaka
Utaya, Sugeng. 2012. Pengantar Hidrologi. Malang: Aditya Media Publishing