Anda di halaman 1dari 48

PROGRAM PASCASARJANA

STRATUM DUA (S2) MAGISTER TEOLOGI


(M.TH.)

BAHAN KULIAH
TEOLOGI KONTEMPORER

DOSEN PENGAMPU:
PDT. DR. KELOSO

SEKOLAH TINGGI TEOLOGI


GEREJA KALIMANTAN EVANGELIS
BANJARMASIN
2017
0
PROGRAM MAGISTER TEOLOGI (M.TH)
TEOLOGI KONTEMPORER
Dosen Pengampu : Pdt. Dr. Keloso
===========================================================================
DESKRIPSI
Matakuliah ini akan mempelajari beberapa pemikiran teologi kontemporer yang
muncul dan berkembang di Eropa, Amerika, Afrika, dan Asia pada abad XX dan abad XXI
dalam upaya membangun pemikiran teologi yang kontekstual di Indonesia (Kalimantan) pada
masa kini.

KOMPETENSI
Setelah mengikuti perkuliahan Teologi Kontemporer ini, mahasiswa diharapkan
mampu menjelaskan beberapa pemikiran teologi kontemorer yang muncul dan berkem-
bang di Eropa, Amerika, Afrika, dan Asia pada abad XX dan abad XXI serta mampu mengana-
lisis dan mengkritisinya dalam rangka membangun pemikiran teologi yang kontekstual di
Indonesia (Kalimantan) pada masa kini.

ORGANISASI MATERI
Perkuliahan Teologi Kontemporer ini akan dijabarkan ke dalam 10 pokok bahasan di
luar Tugas untuk Evaluasi Akhir Semester. Ke-10 pokok tersebut adalah :
(1) Menjelaskan berbagai konteks munculnya sejumlah pemikiran teologi pada abad XX dan
XXI.
(2) Menjelaskan pemikiran teologi yang dimunculkan dan dikembangkan oleh Karl Barth
(3) Menjelaskan pemikiran teologi yang dimunculkan dan dikembangkan oleh Dietrich
Bonhoefer
(4) Menjelaskan pemikiran teologi yang dimunculkan dan dikembangkan oleh Rudolf Karl
Bultmann
(5) Menjelaskan pemikiran teologi yang dimunculkan dan dikembangkan oleh H. Richard
Niebuhr
(6) Menjelaskan pemikiran teologi yang dimunculkan dan dikembangkan oleh Gustavo
Gutierrez
(7) Menjelaskan warna teologi yang disebut dengan Sosial Gospel
(8) Menjelaskan warna teologi yang disebut dengan Fundamentalisme
(9) Menjelaskan warna teologi yang disebut Teologi Sukses atau Teologi Kemakmuran
(10) Menjelaskan warna teologi yang disebut Teologi Minjung
(11) Menjelaskan warna teologi yang Spiritualitas Ciptaan atau Teologi Lingkungan Hidup

1. MATERI/BAHAN BACAAN
1
Materi atau Bahan Bacaan yang digunakan untuk mendukung perkuliahan ini adalah
buku-buku yang sudah diterbitkan secara resmi dan sejumlah bahan penelitian yang belum
diterbitkan serta sejumlah catatan lepas dari para tokoh masyarakat adat. Beberapa Materi/
Bahan Bacaan tersebut adalah:
Buku Pegangan Utama:
Smith, David L. A Handbook of Contemporary Theology: Tracing Trends & Discerning
Direction in Todays Theological Lanscape. Grand Rapids, Michigan: Baker Books, 2000.

Buku-buku Pendukung :
1. Amaladoss, Michael. Teologi Pembebasan Asia (terj.). Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000.
2. Banawiratma, J.B. (ed.). Aspek-Aspek Teologi Sosial: Kritik Sosial dari Nabi-nabi Israel.
Yogyakarta: Kanisius, 1988.
3. Barr, James. Fundamentalisme (terj.). Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000.
4. Barth, Karl. Church Dogmatics: Vol.III. The Doctrine of Creation 1 (trans.). Edinburgh:
T&T Clark, 1967.
5. Barth, Karl. Church Dogmatics: Vol. IV. The Doctrine of Reconciliation. Edinburgh: T&T
Clark, 1967.
6. Berkouwer, G.C. The Triumph of Grace in the Theology of Karl Barth. Grand Rapids,
Michigan: Wm.B. Eerdmans Publishing Co., 1956.
7. Bonhoefer, Dietrich. Creation and Fall: A Theological Interpretation of Genesis 1-3.
London: SCM Press, 1959.
8. Boenhoefer, Dietrich. Letters from Prison. London: SCM Press, 1964.
9. Boenhoefer, Diettich. Letters and Papers from Prison. New York: McMillan, 1971.
10. Boenhoefer, Diettich. Christology (trans by. John Bowden). London: Collins, 1966.
11. Borrong, Robert P. Etika Bumi Baru: Akses Etika dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999.
12. Bultmann, Rudolf. Jesus Christ and Mytology. New York: Charles Scribners Sons, 1958.
13. Burnham, Frederic B (ed.).Post-Modern Theology: Christian Faith in A Pluralist World.
San Fransisco: Harper Collins Publishers, 1989.
14. Cho, Paul Jonggi. Bukan Sekedar Jumlah (terj.). Jakarta: Penerbit Immanuel, 1989.
15. Cho, Paul Jonggi. Dr. Cho, Kami Ingin Sebuah Mobil Volkswagen (terj.). Jakarta: Penerbit
Imanuel, 1986.
16. Cho, Paul Jonggi. Kehidupan yang Behasil. Jakarta: Gandum Mas & Petra Jaya, 1980.
17. Cho, Paul Jonggi. Selamat Sehat & Berkelimpahan. Malang: Penerbit Gandum Mas, 1989.
18. Cole, Steward G. The History of Fundamentalism. Hamden, Conn:Archon Books, 1963.
19. Congar, Yves M.J. Gereja Hamba Kaum Miskin (terj.). Yogyakarta: Kanisius, 1973.

2
20. Cox, Harvey. Religion in the Secular City: Towards a Post-Modern Theology. New York:
Simon and Schuster, 1984.
21. Fletcher, Verne H. Lihatlah Sang Manusia !: Suatu Pendekatan pada Etika Dasar Kristen.
Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000.
22. Gasper, Louis. The Fundamentalist Movement. The Hague, Nederlands: Mouton, 1963.
23. Green, Clifford. Karl Barth: Teologi Kemerdekaan Kumpulan Cuplikan Karya Karl Barth
(terj.). Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1998.
24. Hadiwijono, Harun. Teologi Reformatoris Abad ke 20. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993.
25. Herlianto. Teologi Kemakmuran: Antara Allah dan Mamon. Jakarta: BPK Gunung Mulia,
1992.
26. Johnson, Roger A. Rudolf Bultmann: Interpreting Faith for the Modern Era. London:
Collins Publishers, 1987.
27. Kung, Hans & Moltmann, Jurgen (ed.). Fundamentalism As An Ecumenical Challenge.
London: SCM Press, 1992.
28. McDaniel, Jay B. Earth, Sky, Gods & Mortals: Developing an Ecological Spirituality.
Connecticut: Twenty-Third Publications, 1990.
29. McDaniel, Jay B. With Roots and Wings: Christianity in an Age of Ecology and Dialogue.
New York: Orbis Books, 1995.
30. McKnight, Edgar V. Post-Modern Use of the Bible: The Emergence of Reader-Oriented
Criticism. Nashville: Abingdon Press, 1990.
31. Nash, James A. Loving Nature: Ecological Integrity and Christian Responsibility.
Washington DC: Abingdon Press in cooperation with The Churches Centre for Theology
and Public Policy, 1991.
32. Niebuhr, Richard H. Christ and Culture. New York: Harper & Brothers, 1951.
33. Niebuhr. H. Richard. Kristus dan Kebudayaan (terj.). Jakarta: Petra Jaya, 1959.
34. Nitiprawiro, F. Wahono. Teologi Pembebasan: Sejarah, Metode dan Isinya. Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan, 1987.
35. Odgen, Schubert M (ed.). Rudolf Bultmann: New Testament & Mythology and Other
Basic Writings. London: SCM Press Ltd., 1984.
36. Pranowo. Teologi Pembebasan Amerika Latin (terj.), Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997.
37. Putra, J.S. Tjahya. Apakah Sosial Gospel Itu?. Salatiga: INRI-YBKS, 1983.
38. Sugiharto, I. Bambang. Postmodernisme: Tantangan Bagi Filsafat. Yogyakarta: Kanisius,
1996.
39. Sugirtharajah, RS. Wajah Yesus di Asia (terj.). Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001.
40. Suryawasita. Teologi Pembebasan Gustavo Gutierrez.Yogyakarta: Jendela, 2001.
41. Tillich, Paul. The Protestan Era (trans.). London: Phoenix Books, 1957.
42. Tillich, Paul. Love, Power and Justice. New York: Oxford University Press, 1960.
43. Tillich, Paul. Systematic Theology. Chicago: University of Chicago Press, 1967.
3
44. Tsing, Anna Lowenhaupt. Di Bawah Bayang-Bayang Ratu Intan: Proses Marjinalisasi
pada Masyarakat Terasing. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1998.
45. Vahanian, Gabriel. The Death of God: The Culture of Our Post-Christian Era. New York:
George Braziler, 1961.
46. Yong-Bok, Kim. (ed.). Minjung Theology: People as the Subject of History. Singapore: CCA
The Commission on Theological Concerns, 1981.
47. Yong-Bok, Kim. Messiah and Minjung: Christs Solidarity with the People for New Life. ed.
Jae-Wong. Hong Kong: CCA Urban Rural Mission, 1992.
48. Yong-Bok, Kim. (ed.). Minjung Theology: People as the Subject of History. Singapore: CCA
The Commission on Theological Concerns, 1981.
49. Yong-Bok, Kim. Messiah and Minjung: Christs Solidarity with the People for New Life. ed.
Jae-Wong. Hong Kong: CCA Urban Rural Mission, 1992.

oooooooooooooooooooooooo000000000000ooooooooooooooooooooooooo

Tugas Final :
- Makalah akhir berteologi bebas, mengacu pada bahan-bahan perkuliahan dan literasi yang
ada/memungkinkan. (penyerahan awal Desember)
- Dari bahan ajar, silahkan pilih yang paling menari / paling aktual
- Paling mendukung untuk penulisan Tesis

4
PERTEMUAN I
MENJELASKAN BERBAGAI KONTEKS MUNCULNYA SEJUMLAH PEMIKIRAN TEOLOGI
KONTEMPORER PADA ABAD XX DAN XXI

A. PERKEMBANGAN TEOLOGI DALAM KERANGKA SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYA-


AN DAN PERGESERAN PARADIGMA ILMU DAN PARADIGMA TEOLOGI.
Istilah Teologi (Theologia) berasal dari kata Yunani Theos yang berarti Allah dan Logos
yg berarti ilmu, pikiran, perkataan, percakapan. Teologi secara sederhana dimengerti sebagai
ilmu (logia) tentang Allah (Theos). Sebagai ilmu, maka Teologi mengandung di dalamnya
unsur-unsur metodis, sistimatis dan koheren dalam memahami Allah.
Dikaitkan dengan proses dalam berteologi, di dalamnya dijumpai sejumlah unsur
penting: manusia beriman yang berteologi perkembangan dan perubahan dunia disebab-
kan oleh perkembangan ilmu pengetahuan manusia sejumlah temuan dan rumusan yang
disumbangkan oleh berbagai disiplin ilmu dalam merespons setiap perkembangan dan
perubahan dunia yang terjadi hakekat diri manusia sendiri yang selalu membutuhkan
perubahan di dalam menggapai tujuan hidupnya.

1. Sejarah alam pikiran pembentuk kebudayaan


Dalam paparan pendahuluannya mengenai kebudayaan, Peursen menegaskan adanya
pergeseran dalam memahami kebudayaan. Kini kebudayaan lebih dipahami sebagai
manifestasi kehidupan setiap orang dan setiap kelompok orang-orang. Berlainan dengan
hewan-hewan maka manusia tidak hidup begitu saja di tengah-tengah alam, melainkan
selalu mengubah alam tersebut. Itulah sebabnya tidak terdapat manusia-manusia yang
semata-mata terbenam dalam alam sekitarnya. Kebudayaan meliputi segala perbuatan
manusia dalam menghayati kehidupan dan kematiannya.
Dari gambaran tersebut tampak bahwa kini kebudayaan dipahami lebih dinamis.
Kebudayaan bukan lagi pertama-tama sebuah koleksi barang-barang kebudayaan, melain-kan
dihubungkan dgn kegiatan atau aktivitas manusia dalam membuat berbagai peralatan
kebudayaan baru dalam rangka mempertahankan dan mengembangkan kehidupannya di
tengah-tengah perubahan dunia yang terus-menerus berlangsung. Dalam kebudayaan
memang terkandung tradisi yang diterjemahkan sebagai pewarisan atau penerusan norma-
norma, adat-istiadat, kaidah-kaidah yang sudah ada sebelumnya. Namun demikian, tradisi
tersebut bukan sesuatu yang tidak dapat diubah. Tradisi justru dipadukan dengan beraneka
ragam perbuatan manusia yang diangkat dalam keseluruhannya untuk selanjutnya menjadi
sebuah tradisi yang baru. Itu sebabnya kebudayaan merupakan cerita tentang perubahan-
perubahan: riwayat manusia yang selalu memberu wujud baru kepada pola-pola kebudayaan
yang sudah ada.

5
Yang kita perlukan dalam memahami kebudayaan adalah sebuah gambar mengenai
kebudayaan yang sekaligus juga merupakan sebuah peta sehingga kita dapat menggam-
barkan perkembangan dari zaman dahulu ke hari depan. Perkembangan kebudayaan
tersebut tampak dalam bagan tiga tahap kebudayaan, yaitu: tahap mitis, ontologis dan
fungsional. (1) Tahap mitis adalah tahap yang menggambarkan sikap manusia yang mera-
sakan dirinya terkepung oleh kekuatan-kekuatan gaib sekitarnya, yaitu kekuasaan dewa-dewi
alam raya atau kekuatan kesuburan, seperti dipentaskan di dalam mitologi-mitologi yang
dinamakan bangsa-bangsa primitif. Di dalam kebudayaan modern pun, sebenarnya sikap
mitis tersebut masih ada. (2) Tahap ontologis adalah tahap yang menggambarkan sikap
manusia yang tidak hidup lagi dalam kepungan kekuasaan mitis, melainkan secara bebas
ingin meneliti segala hal. Manusia mengambil jarak terhadap segala sesuatu yang dulu
dirasakan sebagai kepungan. Ia mulai menyusun suatu ajaran atau teori mengenai hakikat
dasar segala sesuatu (ontologi) dan mengenai segala sesuatu yang menurut rinciannya
dengan menggunakan sistem filsafat atau pengetahuan tertentu. Mengabaikan bahkan
mengkritik jaman mitis. (3) Untuk tahap fungsional, adalah tahap yang menggambarkan
sikap dan alam pikiran manusia modern. Ia tidak lagi begitu terpesona oleh lingkungannya
(sikap mitis) dan tidak lagi dengan sikap dingin meng-ambil jarak terhadap objek
penelitiannya (sikap ontologis), melainkan ingin mengadakan relasi-relasi baru atau suatu
kebertautan yang baru terhadap segala sesuatu dalam lingkungannya. Di dalamnya manusia
mencoba mencari jalan-jalan baru mengenai masalah-masalah lama, dan bagaimana
sebetulnya sedang berusaha menyusun suatu polici baru mengenai kebudayaan. Di sini kita
berbicara mengenai strategi kebudayaan. Di dalamnya manusia selalu berusaha untuk
menemukan jawaban-jawaban tepat dan mengambil sikap yang paling dapat
dipertanggungjawabkan terhadap kekuasaan-kekuasaan di sekitarnya, seperti lingkup ilahi
norma-norma kesulisaan dan struktur-struktur sosial.

1.a Alam pikiran mitis (s/d abad pertengahan)


Dalam memahami alam pikiran mitis, kadang disalahpahami oleh karena kecendru-
ngan jatuh ke dalam bahaya romantisme atau rasionalisme. Bahaya romantisme adalah rasa
kagum dari zaman romantik yang mendewakan kemurnian hidup manusia dengan segala
kesederhanaan dan kesahajaannya, seolah-olah tak tersentuh sedikit pun oleh unsur-unsur
kebudayaan di zaman modern. Sementara bahaya rasionalisme adalah memandang rendah
terhadap kebu-dayaan mitis, seolah-olah alam pikiran mitis itu primtif belaka, dan tidak
mengandung kaidah-kaidah ilmiah yang menjadi landasan rasionalisme.
Mitos pada dasarnya adalah suatu bakat manusiawi. Di dalam dunia mitis sesung-
guhnya terkandung suatu sifat manusiawi yang umum. Sekalipun bentuk kebudayaan dan
cara memanfaatkan barang-barang lain dari pada dunia modern, namun dalam mitos pun
kita menemukan bagaimana manusia menyusun suatu strategi dan mengatur hubungan
antara daya-daya kekuatan alam dan dirinya. Melalui bahasa mitis manusia menyusun suatu
kaidah-kaidah sakral untuk mengatur pola hubungan antara sesama manusia dan antara
manusia dengan semua unsur yang ada di luar dirinya. Mitos pada dasarnya ialah sebuah
cerita yang memberikan pedoman dan arah tertentu kepada kelompok masyarakat yang
menganutnya, baik yang dituangkan dalam tuturan maupun yang diungkap melalui tari-
tarian atau peragaan lainnya. Inti cerita dari mitos adalah lambang-lambang yang
mencetuskan pengalaman manusia purba: lambang kebaikan dan kejahatan, hidup dan

6
kematian, dosa dan penyucian, perkawinan dan kesuburan, firdaus dan akhirat, dll. Mitos
mengatasi makna cerita dalam arti kata modern, isinya lebih padat dari pada semacam
rangkaian peristiwa-peristiwa yang menggetarkan. Mitos memberikan arah kepada kelakuan
manusia dan merupakan semacam pedoman untuk kebijaksanaan manusia. Melalui mitos,
manusia dapat turut serta mengambil bagian dalam kejadian-kejadian sekitarnya dan dapat
menanggapi daya-daya kekuatan alam.
Memperhatikan pengertian mitos tersebut, di dalam alam pikiran mitis dijumpai
beberapa makna mitos. Pertama, mitos bermakna untuk menyadarkan manusia bahwa ada
kekuatan-kekuatan ajaib mengitari dirinya. Mitos tidak memberikan bahan informasi
mengenai kekuatan-kekuatan ajaib tersebut, melainkan membantu manusia agar sadar
menghayati daya-daya tersebut sebagai suatu kekuatan yang mempengaruhi dan menguasai
alam semesta dan kehidupan manusia. Memalui mitos, manusia dipandu untuk ambil bagian
di dalam kekuatan-kekuatan tersebut sehingga ambil bagian pula di dalam mengatur
pergerakan dunia. Kedua, sejalan dengan maknanya yang pertama, mitos berfungsi untuk
memberi jaminan bagi masa kini. Melalui cerita-cerita atau peragaan-peragaan dalam
mengungkapkan mitos, pengalaman masa lalu atau pengalaman di dalam alam keilahian
diperagakan untuk meyakinkan manusia bahwa hal-hal tersebut akan bisa diulang kembali
dalam pengalaman masa kini. Demikian, misalnya, cerita-cerita dan simbol-simbol mitologis
membuka kesempatan guna menyambung kehidupan dan menjamin kesuburan berkaitan
dengan beraneka ragam peristiwa dalam perjalanan hidup manusia. Ketiga, mitos berfungsi
sebagai pengantara antara manusia dengan kekuatan-kekuatan alam. Melalui mitos manusia
memperoleh keterangan-keterangan tentang terjadinya dunia, hubungan dengan kekuatan
yang ilahi, asal mula kejahatan, dll.
Dalam hal relasi antara manusia dengan dunia sekitar, pada alam pikiran mitis tidak
ada garis pemisah yang jelas antara manusia dengan dunianya, antara objek dan subjek.
Manusia diresapi oleh pengaruh dari sukunya dan alam sekitarnya.Dalam lingkup kekuatan
tersebut manusia mencapai identitas dirinya. Manusia tidak mempunyai identitas pada
dirinya sendiri, ia baru menjadi seseorang dalam ruang sosio-mitis tersebut. Hal yang sama
juga, bahwa garis pemisah antara dunia batin dan dunia lahir belum kelihatan dengan tegas
dan jelas. Demikian pula batas-batas badan pun dalam kaitan dengan alam sekitar, sering
kurang jelas. Batas-batas badan kita tidak berhenti pada kulit badan kita, melainkan sampai
alam tumbuh-tumbuhan sebagai bagian dari unsur kejasmaniahan manusia. Manusia dan
alam saling meresapi dan karenanya manusia dan yang ilahi saling melebur. Tokoh-tokoh dari
alam keilahian menampakkan apa yang boleh dan tidak boleh; mereka mewujudkan norma-
norma untuk memberi nilai-nilai transenden dalam rangka mengatur kehidupan manusia dan
masyarakat. Nilai-nilai atau norma-norma tersebut selanjutnya menjadi bagaikan polisi yang
mengatur lalu-lintas kehidupan manusia. Dalam masyarakat yang ber-ada pada alam pikiran
mitis, nilai-nilai atau norma-norma tersebut memiliki kekuatan dan daya berlaku yang sangat
kuat dan sulit berubah. Dalam mendukungnya, muncullah konsep magi yang dipandang
datang dari dunia keilahian.
CATATAN:
Di kalangan orang Dayak, untuk memahami mitos atau mitologi tampak dalam penegasan
Kertodipoero ketika ia mengamati kepercayaan agama suku Dayak di beberapa wilayah Barito
Utara dan Barito Selatan berikut:

7
Dalam keseluruhan kepercayaan Kaharingan, mythologi mengambil peranan yang
amat penting. Penting, karena padanyalah hampir segala sikap dan pandangan hidup
Kaharingan mengambil dasarnya. Mythologi memberi pedoman bagaimana suatu
ritus harus dilakukan, memberi petunjuk tentang apa yang seseorang harus lakukan
dalam keadaan-keadaan tertentu.

1.b Alam pikiran ontologis


Kalau dalam alam pikiran mitis, manusia memiliki hubungan yang sangat dekat
dengan alam sekitarnya, maka dalam alam pikiran ontologis manusia mengambil jarak dari
seluruh unsur alam yang mengitari dirinya. Kadang-kadang manusia tampil sebagai penonton
terhadap hidupnya sendiri, dengan demikian ia berusaha memperoleh pengertian mengenai
daya-daya kekuatan yang menggerakkan alam dan manusia. Terjadi pergeseran cara berpikir
dari alam mitis ke alam logis, walaupun pada tahap ini manusia tidak berpikir hanya secara
logis atau menggunakan akal-budi semata, melainkan etap melibatkan emosi-emosi, harapan
sosial dan keyakinan keagamaan yang tidak selalu logis. Memang di dalam tahap ini manusia
sudah mengajukan pertanyaan-pertanyaan terhadap alam pikiran mitis, dalam rangka
membebaskan diri dari perbudakan mitis untuk mendapatkan harga dirinya sebagai
manusia. Manusia menempatkan diri berhadapan dengan dan lepas dari segala peristiwa,
agar dengan demikian ia dapat meninjau semuanya itu. Cara berpikir ontologis ini
membebaskan manusia dari lingkaran mitologis dengan memgambil jarak terhadap dunia
yang mengitarinya.
Memperhatikan prinsip dasar alam pikiran ontologis tersebut, sejumlah makna
terkandung di dalamnya. Pertama, alam pikiran ontologis berfungsi untuk membuat peta
mengenai segala sesuatu yang mengatasi manusia. Sikap ontologis berusaha menampakkan
dunia transenden dan berusaha untuk mengertinya. Untuk upaya ini pemikiran filsafat
dijadikan sebagai alat bantu bagi manusia. Partisipasi misit masik terdesak oleh jarak yang
dibangun manusia dengan kesadaran logisnya. Dengan jarak yang dibangun tersebut manu-
sia mengambil jarak terhadap objek yang dihadapinya: subjek menempatkan diri di luar dan
memandang objeknya serta membatasinya, mengungkapkannya dengan pengertian-penger-
tian yang jelas. Jalan menuju ke pengertian itu selalu dipandang sebagai suatu bentuk peng-
abdian terhadap masyarakat dan secara cara yang tepat untuk menghormati dan mengakui
yang ilahi, bahkan pengertian itu menghasilkan bukti-bukti mengenai adanya Tuhan.
Kedua, alam pikiran ontologis memberi jaminan mengenai hari ini. Proses-proses
yang terjadi dalam alam raya dan dalam hidup manusia mulai diterangkan dengan bertitik
pangkal pada hukum-hukum abadi. Mitos-mitos masih dipakai sebagai alat atau sarana untuk
menerangkan atau menuturkan sesuatu yang sukar diungkapkan dengan cara lain yang logis.
Mitos-mitos digunakan dalam rangka suatu teori untuk mengungkapkan ajaran mengenai
idea-idea.
Ketiga, alam pikiran ontologis berfungsi dalam rangka menyediakan pengetahuan. Di
dalam mitos memang ada menyediakan pengetahuan mengenai hal-ihwal dunia, namun
alam pikiran ontologis terutama menonjolkan pengetahuan yang tersistematisasi dan dapat
dikontrol oleh manusia. Manusia berusaha untuk menggali sebab-musabab adanya sesuatu.
Selannutnya, hasil galian tersebut diterangkan dengan mengaitkannya dengan sesuatu sebab
8
yang lain dan seterusnya hingga akhirnya mansia sampai pada Sebab Pertama. Dalam hal ini
alam pikiran ontologis menyediakan pengetahuan mengenai Sebab Pertama tentang asal
usul sesuatu yang akan sangat bermanfaat dalam rangka manusia membangun peradaban
hidupnya.
Dalam hal hubungan antara manusia dengan dunia sekitarnya, manusia telah men-
coba untuk mengambil atau membangun jarak. Manusia bertanya: dunia ini sebetulnya apa,
ia bertanya mengenai hakikat barang-barang, hukum-hukum alam, sebab musabab, bahkan
mengenai idea-idea tentang adanya Tuhan. Manusia melukiskan dan membeberkan, ia
mencari definisi-definisi dan dengan tindakan sadar menjadikan barang-barang yang sedang
diselidikinya sebagai objek. Manusia menentukan identitas sesuatu yang ada di luar dirinya
dan menentukan gambaran tentang identitas dirinya sendiri. Melalui tindakan mengidenti-
fikasi tersebut, manusia menempatkan dunia di luar dirinya ke dalam suatu perspektif
tertentu, sehingga membangun identitas mannusia yang sudah memiliki kedudukan tertentu
di dalam alam raya. Dalam kaitan dengan yang ilahi, manusia mengambil jarak dengan penuh
rasa hormat agar lebih mudah dapat memberi pengertian-pengertian kepada yang ilahi
tersebut. Pada saat yang sama, manusia yang berpikiran ontologis mencoba menem-patkan
berbagai unsur di dalam alam raya pada kedudukan dirinya sendiri yang dipisahkan daru
unsur-unsur lainnya secara substansial. Pada saat yang sama juga berupaya melihat
keterkaitan antar unsur alam semesta tersebut dengan substansinya masing-masing dalam
membangun alam semesta sebagai keseluruhan. Di sini alam pikiran ontologis menunjukkan
pergeserannya mendekati alam pikiran fungsional.

1.c Alam pikiran fungsional.


Kata fungsi hendak menunjukkan pengaruh sesuatu terhadap sesuatu yang lain.
Dalam hal ini sesuatu hendak dipahami dalam kaitan dengan pengaruhnya terhadap hal-hal
lain yang ada di sekitar dirinya. Dalam alam pikiran fungsional ada upaya pembebasan yang
manusia lakukan dalam memahami sesuatu sekaligus mencari hubungan-hubungan antar
semua bidang, sehingga arti sebuah kata atau perbuatan maupun barang dipandang
menurut peran atau fungsi yang dimainkan dalam keseluruhan pertautan yang saling
berketergantungan. Segala sesuatru tidak memiliki arti apabila terpisah dari dunia sekitarnya.
Dalam sifat fungsional yang demikian, maka adanya ketegangan menjadi ciri khasnya, dan
dalam ketegangan tersebut manusia menemukan eksistensinya. Yang menjadi ukuran atau
kriteria ialah sejauh mana seseorang terlibat dalam salah satu hubungan atau relasi. Sikap
eksistensialis merupakan ciri khas bagi tahap fungsional ini: manusia mencari relasi-relasi,
keterkaitan sebagai ganti bagi jarak dan pengetahuan objektif. Dalam kaitan ini norma-norma
situasional dan kontekstual menjadi penting. Penghargaan terhadap nilai-nilai atau norma-
norma, tidak terletak pada kekunoannya, melainkan pada kegunaannya pada siatuasi konkrit
yang terus berkembang yang dengannya menusia membangun suatu hubungan yang dinamis
namun harmonis dengan berbagai hal yang ada di luar dirinya.
Seiring dengan perkembangan alam berpikir pada tahap fungsional, beberapa aspek
penting perlu diketengahkan. Pertama, dengan memperhatikan perkembangan kebudayaan
menggambarkan bagaimana manusia mencari hubungan yang paling tepat terhadap daya-
daya kekuatan sekitarnya, maka aspek pertama kebudayaan dalam alam pikiran fungsional
adalah menggambarkan bagaimana manusia ingin memperlihatkan daya-daya kekuatan di
sekitar dirinya atau bagaimana menjadikan semua itu sesuatu yang dapat dialami. Artinya
9
adanya sesuatu ialah cara sesuatu itu dialami dan diintegrasikan dalam hidup kita.
Memahami arti dan makna sesuatu berarti bahwa arti tersebut dapat dinyatakan dalam
praktek. Demikianlah, misalnya kesenian, bukan sekedar menampilkan apa yang sudah ada
untuk diperagakan ulang, melainkan suatu cara estetika secara fungsional dalam menghayati
dan mengekspresikan kenyataan.
Kedua, aspek kebudayaan pada alam pikiran fungsional ialah bagaimana memberi
dasar kepada masa kini dalam rangka perkembangan ke depan. Bila pada zaman mitis,
misalnya, daya kekuatan adikodrati yang terpancar dari peristiwa yang terjadi dahulu kalau
menjadi jaminan suksesnya perbuatan-perbuatan masa ini, maka dalam pikiran fungsional
sebuah situasi baru dapat dibenarkan dan memperoleh peneguhan atau jaminan apabila
keadaan tersebut dapat dihayati oleh manusia dan tidak mengatasi daya kemampuannya,
serta manusia dapat memberi arti kepada situasi-situasi konkrit tersebut dan selanjutnya
menumbuhkan motivasi-motivasi baru yang jauh mengatasi sebuah situasi tertentu itu.
Dan aspek yang ketiga, adalah peranan pengetahuan, yakni kecendrungan manusia
untuk menambah pengetahuan yang sudah ia miliki terutama dalam rangka pergeseran
pengetahuan dari teori ke praktek. Dalam upaya menambah pengetahuan tersebut, bagi
alam pikiran fungsional, kebenaran yang tertutup dapat dibuka dan diubah, orang dapat
menyusun peraturan-peraturan baru, ia dapat menyusun sebuah sistem yang baru. Orang
memilih sistem dan menyusun peraturan yang paling cocok untuk mencapai sesuatu tujuan:
kebenaran-kebenaran matematis dijadikan fungsional.
Perkembangan kebudayaan dalam alam pikiran fungsional membangun bentuk
hubungan tertentu antara manusia dengan dunianya. Kalau dalam alam pikiran mitis,
manusia belum menjadi seorang pribadi yang utuh melainkan bagian dari dunia sekitarnya
dan dalam alam pikiran ontologis manusia berada pada posisi berhadap-hadapan dengan
jarak yang jelas antara manusia dengan dunia sekitarnya, maka dalam alam pikiran
fungsional hal yang ditekankan adalah relasi atau hubungan antara manusia dengan
dunianya. Hubungan antara manusia dengan dunia dibangun dalam suatu relasi yang baru,
artinya identitas manusia tidak dipandang lagi sebagai sesuatu yang terisolir, melainkan
sebagai suatu identitas yang hanya dapat berada dan berkembang dalam relasi-relasi dengan
sesuatu yang lain dalam dunia sekitarnya. Manusia sebagai subjek tidak lagi terkurung dalam
isolemennya, melainkan sekaligus ambil bagian dalam keseluruhan objek yang menjadi
perhatiannya. Hal ini berarti lenyaplah pemisahan yang ketat antara dunia luar dan dunia
batin dalam diri manusia. Pengalaman yang paling batiniah pun yang memang tidak tampak
bagi sesama kita memperoleh sifat dan warnanya sendiri melalui keseluruhan hidup yang
manusia jalani dalm perjumpaannya dengan dunia sekitarnya. Transen-densi bukan lagi
sesuatu yang ada di atas sana, melainkan suatu dimensi yang selalu tampak dalam hidup
manusia sehari-hari. Bahkan eksistensi dari Yang Transenden turut ditentukan oleh bentuk
hubungan yang manusia bagun dengan-Nya melalui berbagai pola hidup batiniah yang
termanifestasikan dalam hubungan antara manusia dengan dunia lain di sekitar dirinya.
Kebudayaan yang dihasilkan dari alam pikiran fungsional mengandung bahaya yang
disebut bahawa operasionalisme. Dalam dunia mitis rasa degan terhadap daya-daya
kekuatan gaib dapat beralih menjadi suatu usaha menguasai dunia secara otonom melalui
mantera-mantera dan upacara-upacara sehingga hubungan dengan kekuatan-kekuatan tadi
justru diputuskan. Dalam dunia ontologis, melalui faham substansialisme yang menempat-
kan segala sesuatu sendiri-sendiri terlepas dari yang lain, padahal tidak ada sesuatu pun

10
menjadi ada ketika ia lepas dari sesuatu yang ada di sekitar dirinya. Dalam alam pikiran
fungsional dijumpai bahaya operasionalisme, yaitu menjadikan segala sesuatu untuk keper-
luan pribadi manusia melulu dan keberadaanya sejauh memiliki relasi fungsional dengan diri
manusia dan mampu didefinisikan oleh manusia. Adanya sesuatu yang lain pada dirinya (an
sich) menjadi terabaikan. Sesuatu itu diakui dan diterima keberadaannya hanya sejauh
sesuatu itu dapat dialami oleh manusia. Eksistensi an sich dari sesuatu yang transenden
dibatasi sejauh mampu dijangkau oleh konsepsi-konsepsi yang dapat dialami oleh manusia
dalam perjumpaannya dengan keberadaan yang lain yang sudah lebih dahulu dipahami
sebatas konsepsi operasional saja.
2. Pergeseran Paradigma Ilmu: Periode Pra-Modern == > Periode Modern == > Periode
Pasca-Modern (Post-Modern)
Ilmu atau Ilmu Pengetahuan dapat didefinisikan sebagai suatu keseluruhan pengeta-
huan objektif dan bertalian yang diperoleh secara metodis, sistematis dan kritis, dan yang
dimaksudkan untuk menemukan keterangan yang umum berlaku untuk bidang atau segi
tertentu dari kenyataan. Kalau dikatakan objektif, hendak menegaskan bahwa pengetahuan
yang dirumuskan terhadap suatu kenyataan harus dirumuskan seobjektif mungkin dengan
kenyataan yang sebenarnya dari suatu kenyataan yang menjadi objek pengetahuan tersebut.
Agar pengetahuan objektif tersebut bisa dihasilkan, ia ditemukan melalui suatu penyelidikan
yang metodis (menurut jalan-jalan tertentu) untuk selanjutnya dibuat menjadi sistematis
(disusun secara teratur). Sementara di dalam proses tersebut perlu dilakukan secara kritis,
baik terhadap anggapan yang ada pada diri sendiri, pandangan yang sudah disediakan oleh
orang lain, dan terhadap setiap rumusan baru yang sudah berhasil disusun. Dalam hal ini,
maka Ilmu Pengetahuan selalu berada dalam keadaan kritis. Kenyataan objektif yang diseli-
diki secara metodis dan kritis tersebut selanjutnya dirumuskan menjadi sebuah pengetahuan
yang keseluruhan pengetahuan terhadap unsur-unsurnya berada dalam saling berkaitan
antara satu dengan yang lain. Keseluruhan pengetahuan yang dirumuskan tersebut baru
memuaskan sebagai ilmu ketika ia menyediakan keterangan yang berlaku umum untuk kese-
luruhan penyelidikan, dengan tetap menyadari bahwa objek penyelidikan tersebut hanya
mampu menjangkau bidang atau segi tertentu dari kenyataan.
Di dalam perkembangan sejarah peradaban manusia, khususnya perkembangan Ilmu
Pengetahuan, terjadi sejumlah pergeseran dalam memahami suatu kenyataan. Secara umum
hal tersebut tampak dalam pergeseran paradigma (cara mmemandang atau memahami
suatu kenyataan) dari periode pra-modern, menuju periode modern, dan selanjutnya
melangkah menuju periode pasca-modern.
Pada periode pra-modern, beberapa ciri umum perkembangan ilmu pengetahuan
tampak dlm beberapa hal, yakni: berbagai kenyataan pada umumnya didasarkan ke dalam
mitologi-mitologi tertentu pengetahuan terhadap suatu kenyataan bersifat dangkal dan
sendiri-sendiri tanpa selalu memiliki keterkaitan dengan kenyataan lainnya unsur subjektif
sangat kuat dalam memahami setiap kenyataan.
Pada periode modern, beberapa ciri umum perkembangan ilmu pengetahuan
tampak dalam beberapa hal, yakni: segala hal yang bersifat mitologis diejek dan ditinggalkan
dasar kebenaran terhadap setiap kenyataan adalah rasionalitas terjadi pemisahan dan
pengelompokkan secara tajam antar berbagai bidang/disiplin ilmu pengetahuan.
Pada periode pasca-modern, beberapa ciri umum perkembangan ilmu pengetahuan
tampak dalam beberapa hal, yakni: terjadi re-view secara kritis terhadap berbagai mitologi
11
yang ada yang menyebabkan ada mitologi yang dibuang-ditinggalkan, namun ada pula
mitologi yang dipertahankan walaupun dengan cara paham yang baru rasionalitas diterima
secara kritis dan curiga, karena pada kenyataannya rasionalitas telah menghantar peradaban
manusia kepada keadaan yang lebih buruk dari sebelumnya terjadi terobosan yang tak
terbendung antar berbagai disiplin ilmu yang pada gilirannya menyebabkan batas-batas antar
disiplin ilmu menjadi sangat tipis, malah dalam hal-hal tertentu berada dalam keadaan
tumpang tindih.
Periode perkembangan ilmu pengetahuan tersebut menurut urut-urutan sejarah
memang terjadi secara bertahap (pra-modern sebelum abad-abad 12/13 M, modern sejak
abad 12/13 awal abad 20-an, pasca-modern sejak pertengahan abad ke-20 hingga saat ini).
Namun demikian, cara berpikir tidak bisa dipahami menurut urut-urutan sejarah tersebut.
Hal tersebut tampak dalam beberapa kasus, seperti: cara berpikir mitologis terjadi bukan
hanya pada masa pra-modern, namun juga di era modern dan pasca-modern cara berpikir
modern bukan baru muncul pada era modern, melainkan sudah terjadi di era pra-modern.

3. Pergeseran Paradigma Ilmu Teologi : Periode Pra-Akademik == > Periode Akademik == >
Periode Akademik Kontekstual.
Paradigma Teologi juga mengalami pergeseran dan perkembangan sesuai dengan
pergeseran dan perkembangan yang terjadi di dalam dunia Ilmu Pengetahuan, sebagaimana
tampak pada era pra-akademik, era akademik, dan era akademik-kontekstual. Namun
demikian, untuk pemetaan sejarah, mengalami perbedaan dan pergeseran antara
perkembangan pemikiran yang terjadi pada dunia ilmu pengetahuan dengan pemikiran yang
terjadi pada dunia teologi. Contoh: era modern dalam dunia IP terjadi sejak abad ke 12/13
hingga awal abad ke-20, sementara era akademik dalam dunia teologi sudah dimulai sejak
abad-abad permulaan hingga awal abad ke-20. Hal ini terjadi karena perkembangan ilmu
pengetahuan dan filsafat, dalam banyak hal, berakar dan merupakan respons terhadap
pemikiran teologi yang sudah ada atau sedang berkembang. Filsafat Barat, misalnya, berakar
pada peradaban Yunani + Romawi + Kristen.
Pada era pra-akademik, teologi berakar di dalam mitologi-mitologi dan selanjutnya
bermuara pula dalam bentuk mitologi-mitologi. Pada era pra-akademik ini, ada saatnya suatu
mitologi semata-mata sebuah mitologis tanpa dapat dibuktikan di dalam realitas, namun ada
saatnya suatu mitologis merupakan upaya mengungkapkan realitas. Dalam kaitan ini, maka
tugas ilmu teologi adalah menerjemahkan mitologi-mitologi yang ada untuk menemukan
realitas yang hendak diungkapkannya dan pesan yang hendak disampaikannya kepada
manusia di dalam realitas kehidupannya sehari-hari. Banyak ceritera dalam Alkitab PL,
merupakan contoh yang baik untuk menggambarkan teologi era pra-akademik ini.
Pada era akademik, teologi berakar di atas rasionalitas dan beberapa aliran filsafat
yang mendasarkan pemikirannya pada rasionalitas. Filsafat Yunani yang sudah mulai
berkembang sejak sekitar abad ke-6 SM, menyediakan pemikiran-pemikiran yang rasional
dalam memahami berbagai gejala yang ada. Seiring dengan perkembangan Kekristenan ke
luar batas-batas Palestina, masuk ke kawasan Hellenisme pada masa rasul Paulus (sekitar
pertengahan abad I), nilai-nilai filsafat Yunani turut andil dalam proses berteologi. Hal
tersebut semakin nyata dalam Sejarah Dogma pada abad II V, sebagaimana tampak pada
pertikaian tentang kemanusiaan-keallahan Yesus, mengenai ajaran Tritunggal, dll. Salah satu
contoh paling kuat pengaruh rasio untuk dunia teologi, tampak dalam program demitolo-
12
gisasi oleh Rudolf Karl Bultmann pada abad ke-20. Pada era akademik ini juga, terjadi
pengelompokkan secara tegas dan pemisahan secara tajam antar berbagai bidang ilmu
teologi, mis: antara teologi praktika dengan biblika, antara biblika dengan sistematika, antara
sistematika dengan praktika, dll.
Pada era akademik kontekstual, teologi dipahami secara kontekstual. Tasik waktu la-
hirnya kesadaran terhadap perlunya pendekatan secara kontekstual dalam berteologi, biasa-
nya ditanggalkan pada awal paroh kedua abad ke-20 (sekitar tahun 1960/1970). Di dalam
pendekatan secara kontekstual, sebuah upaya berteologi dilakukan dengan memperhatikan
secara bersungguh-sungguh nilai-nilai teologi yang sudah di tempat-lokus di mana proses
berteologi berlangsung. Dalam kaitan ini, kita berbicara mengenai kerygma Alkitab dan
Tradisi Gereja sebagai teks, dan nilai-nilai budaya-agama lokal dengan berbagai perubahan
sosial yang terjadi sebagai konteks. Berteologi secara kontekstual adalah proses berteologi
yang dilakukan dengan melibatkan keempat konteks secara bersama-sama, yakni: kerygma
Alkitab Tradisi Gereja nilai budaya-agama lokal dan perubahan-perubahan sosial yang
sedang berlangsung.

4. Kesesuaian dan Ketegangan Paradigma Ilmu dan Paradigma Teologi pada Beberapa
Periode Pergeseran Paradigma
Seiring dengan pergeseran dalam paradigma Ilmu dan paradigma Teologi tersebut,
terjadi pula pergeseran bentuk hubungan yang terbangun antara keduanya. Pada era pra-
modern atau pra-akademik, Teologi bersama-sama dengan filsafat Yunani dan kebudayaan
Romawi menjadi salah satu landasan penting bagi perkembangan Ilmu Pengetahuan. Hal ini
seiring dengan sifat mitologis yang dijumpai di dalam keduanya. Dalam hal ini, ada
kecendrungan kuat Ilmu berlandaskan dan justru meneguhkan Teologi. Namun perlu pula
diingat, bahwa persesuaian tersebut tidak berjalan sejajar dengan peralihan periode pra-
modern/akademik kepada periode modern/akademik. Akar ketegangan hubungan antara
Ilmu dengan Teologi sudah dimulai sejak lahirnya Filsafat pada sekitar abad ke-6 SM.,
walaupun ketegangan tersebut belum secara terbuka dan frontal.
Seiring dengan semakin kuat pengaruh pemikiran Filsafat yang merambah dunia
Teologi dan Ilmu Pengetahuan, ketegangan yang semakin terbuka dan frontal antara Teologi
dengan Ilmu semakin tampak. Dikaitkan dengan Filsafat, bentuk hubungan yg terjadi antara
Teologi dengan Filsafat, sangat tergantung pada siapa filsuf dan apa aliran filsafat yang
menjadi acuan. Sementara dikaitkan dengan Ilmu Pengetahuan, seiring dengan dominasi akal
budi atau rasio, terjadi ketegangan yang sangat terbuka dan frontal. Pendekatan Ilmu
Pengetahuan terhadap Teologi selalu penuh curiga-menafikkan-menyingkirkan, sehingga
hubungan antara Ilmu dan Teologi terbangun dalam pertentangan. Bagi umat manusia, ia
dipaksakan untuk berada pada posisi INI atau ITU. Kenyataan yang paling parah dari
perkembangan Ilmu Pengetahuan pada era modern/akademik ini adalah hancurnya
peradaban dan nilai-nilai kemanusian oleh beberapa kali Perang Dunia, dan hancurnya
lingkungan hidup akibat kemajuan IPTEK dan barang-barang yang dihasilkannya.
Pada era pasca-modern/akademik-kontekstual, seiring dengan terjadinya re-view
terhadap semua hasil Ilmu Pengetahuan, hal yang sama juga terjadi dalam rangka hubungan
antara Ilmu dan Teologi. Dalam banyak hal, pendekatan Ilmu terhadap berbagai realitas
bersifat kritis dan terbuka terhada pernyataan-pernyataan Teologi. Pada saat yang sama,
Teologi pun semakin kreatif memanfaatkan temuan-temuan Ilmu Pengetahuan dalam rang-
13
ka merumuskan Teologi yang relevan dan kontekstual. Kedua bidang ini, Teologi dan Ilmu,
sama-sama membangun wajah baru dalam sikap kritis-konstruktif-transformatif.

B. KONTEKS MUNCULNYA PEMIKIRAN TEOLOGI ABAD KE-20.


Situasi umum di Eropa pada abad ke-18, ke-19, hingga abad ke-20 yang kemudian
merambah ke Amerika adalah kuatnya ide-ide Pencerahan atau Renaissance yang sudah
dimulai pada abad-abad sebelumnya. Dilihat dari definisinya, kata "renaissance" menyirat-
kan sebuah pembangunan kembali atau kebangkitan. Periode yang dikenal sebagai renai-
ssance dipandang sebagai sebagai penemuan kembali cerahnya peradaban Yunani dan
Romawi (yang dianggap sebagai "klasik") ketika keduanya mengalami masa keemasan.
Faktanya, sekalipun semasa Renaissance banyak orang membaca kesusasteraan klasik dan
mempertimbangkan kembali pemikiran klasik, esensi yang sebenarnya dari renaissance
adalah lahirnya banyak pembaharuan maupun penciptaan. Universitas tumbuh menjamur di
seantro Eropa, dan penyebaran gagasan tiba-tiba muncul serempak.
Abad Renaisans (Bahasa Perancis: Renaissance; Bahasa Italia: Rinascimento; arti
harafiah: kelahiran kembali) adalah sebuah gerakan kebudayaan antara abad ke-14 hingga
abad ke-17, bermula di Italia pada akhir Abad Pertengahan dan kemudian menyebar ke
seluruh Eropa. Gerakan ini mencakup kebangkitan pengetahuan berdasarkan sumber-
sumber klasik, tumbuhnya panutan pada Sri Paus dan segala sesuatu yang anggun, per-
kembangan gaya perspektif dalam seni lukis, dan kemajuan ilmu pengetahuan. Gerakan
Pencerahan memberikan efek yang luar biasa pada semua usaha untuk mengembangkan
ilmu pengetahuan, tapi mungkin yang paling terkenal adalah kemajuan dari segi kesenian
dan kontribusi dari para polymath (orang yang memiliki ilmu yang tinggi dalam berbagai
macam hal) seperti Leonardo da Vinci dan Michelangelo, yang
menyebabkan munculnya sebutan Renaissance Men. Renai-
sans pertama kali diperkenalkan di Eropa Barat, di kawasan Italia.
Pencerahan adalah gerakan dalam kebudayaan Eropa
Barat yang menuntut kebebasan untuk meneliti dan menilai
segala sesuatu, termasuk agama, dengan akal budi manusia dan
berdasarkan pengamatan manusia sendiri. Salah satu buah dari
gerakan Pencerahan adalah Rasionalisme yang menekankan pada
pentingnya rasio atau akal budi manusia. Pencerahan juga
membawa perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan dalam berba-
gai bidang. Penekanan pada pengamatan mendorong untuk
meneliti bermacam-macam gejala alam dan mencari penjelasan untuk segala sesuatu.
Karena pengetahuan makin banyak, banyak gejala yang dahulu diang-gap mujizat, dapat
dijelaskan sebagai gejala alamiah. Pada saat yang sama, akibat dari gerakan Pencerahan
tersebut adalah toleransi di bidang agama dan kebebasan beragama semakin besar. Dalam
gerakan Pencerahan, agama-agama dilihat se-bagai ungkapan-ungkapan agama alamiah,
yang dimiliki setiap orang dalam hati nuraninya. Karena itu suatu agama atau Gereja tidak
bisa menuntut ketaatan mutlak karena memiliki kebenaran mutlak. Lagi pula agama
dianggap perkara hati nurani orang perseorangan yang tidak dapat dipaksakan oleh gereja
maupun pemerintah. Dengan demikian ditanamkanlah benih untuk suatu negara sekuler,
yang memisahkan Gereja dari negara dan mengakui kebebasan setiap warga negara untuk
menganut agama menurut pilihannya.
14
Untuk dunia teologi, gerakan Pencerahan tersebut menghasilkan metode tafsir yang
sangat menekankan pentingnya akal budi dengan metode historis kristis dengan berbagai
produk metode berteologi yang menekankan akal budi manusia dan pentingnya suatu ru-
musan teologi dapat dijelaskan menurut akal budi. Di tengah situasi seperti ini, pergerakan di
dalam Gereja atau gerakan reformasi berjalan. Martin Luther dan John Capvin serta pada
reformator lainnya dalam melancarkan reformasi dan merumuskan suatu ajaran, dipengaru-
hi oleh ide-ide Pencerahan tersebut. Pengaruh gerakan Pencerahan terdsebut, baik dalam
rangka membantu kegiatan berteologi para reformator, maupun dalam rangka ditanggapi
atau dikritisi oleh para reformator dan para teolog di kemudian hari.
Untuk dunia teologi, sesudah era reformasi, muncul pula tokoh-tokoh atau para teo-
log dengan pendekatan masing-masing dalam upaya berteologi
yang rasional menurut akal budi manusia, maupun dalam rang-
ka upaya merespons berbagai pendekatan berteologi yang terla-
lu menekankan akal budi manusia. Demikian tokoh Friedrich
Schleiermacher (1763-1834), seorang teolog Jerman, yang ke-
mudian menghasilkan ide-ide bagi teologi liberal dan berbagai
bentuk teologi modern di kemudian hari. Muncul pula tokoh-
tokoh lainnya yang mengambil posisi berseberangan dari pende-
katan liberal, misalnya tokoh Neo-Calvinisme, Abraham Kuyper
(1837-1920). Di dalamnya Kuyper berangkat dari teologi Calvin
namun sekaligus mengkritisi sejumlah ajaran Calvin dalam
rangka upayanya menjawab kebutuhan umat manusia yang
sudah dipengaruhi oleh ide-ide Pencerahan.
Perpaduan dari ide-ide Pencerahan dan berbagai produk yang dihasilkannya dan
teologi Liberal degan berbagai ajaran yang dihasilkannya, selanjutnya menghasilkan suatu
optimisme amat kuat dalam kehidupan manusia di Eropa. Pada sepanjang abad ke-19, ada
suatu keyakinan atau optimisme bahwa masa depan manusia penuh kebahagiaan atas dasar
perkembangan peradaban manusia yang dihasilkan oleh akal budi manusia yang tidak ter-
batas. Namun demikian, optimisme tersebut mulai digoncangkan seiring terjadinya Perang
Dunia I (1914-1918). Sekalipun mulai digoncangkan, namun semangat optimisme tersebut
masih sangat kuat keberadaannya di kalangan para pemimpin Eropa dan Amerika, termasuk
di kalangan Gereja. Optimisme tersebut baru betul-betul runtuh ketika terjadi Perang Dunia II
(1942-1948).
Dari paparan tersebut, tampak bahwa konteks berteologi pada abad ke-20, bisa di-
kaitkan secara umum kepada dua hal, yaitu perkembangan kebudayaan manusia secara ke-
seluruhan sebagai buah-buah Pencerahan pada abad-abad sebelumnya, dan dikaitkan
dengan berbagai warisan teologi yang mencoba merespons berbagai situasi peradaban ma-
nusia prosuk gerakan Pencerahan. Khusus dalam bidang teologi, konteks berteologi pada
abad ke-20 adalah ajaran Roma Katolik termasuk produk Kontra-Reformasi RK, ajaran dari
gerakan Reformasi (Martin Luther dan John Calvin, serta Lutheran dan Calvinis), serta mulai
munculnya cikal bakal teologi religionum.

C. KONTEKS MUNCULNYA PEMIKIRAN TEOLOGI ABAD KE-21.


Situasi pada umumnya pada abad awal abad ke-21 adalah sebagaimana gambaran
situasi akhir dunia sebagaimana sudah digambarkan di atas. Era sejarah dunia secara umum,
15
sejak sekitar tahun 1860-an hingga 1970-an adalah era yang disebut zaman Modern. Berikut-
nya, sejak sekitar tahun 1970-an (pertengahan kedua abad ke-20) hingga memasuki abad ke-
21 adalah era yang disebut dengan era Postmodern.

1. Lahirnya Postmodern
Postmodernisme lahir di St. Louis, Missouri, 15 Juli 1972. Ketika pertama kali didiri-
kan, proyek rumah PruittIgoe di St. Louis dianggap sebagai lambang arsitektur modern. la
berdiri sebagai gambaran modernisme, yang menggunakan teknologi untuk menciptakan
masyarakat utopia demi kesejahteraan manusia. Tetapi para penghu-ninya menghancurkan
bangunan itu dengan sengaja. Pemerintah mencurahkan banyak dana untuk merenovasi
bangunan tsb. Akhirnya, setelah menghabiskan jutaan dollar, pemerintah menyerah. Pada
sore hari di bulan Juli 1972, bangunan itu diledakkan dengan dinamit. Menurut Charles
Jencks, yang dianggap sebagai arsitek postmodern yang paling berpengaruh, peristiwa pele-
dakan ini menandai kematian modernisme dan menandakan kelahiran postmodernisme.
Jean-Francois Lyotard (1984) dikenal sebagai tokoh yang pertama kali mengenalkan
konsep Postmodernisme dalam filsafat. Istilah postmodern sudah lama dipakai di dunia
arsitektur. Posmo menolak ide otonomi aesthetik dari modernis. Kita tidak dapat memi-
sahkan seni dari lingkungan politik dan sosial, dan menolak pemisahan antara seni yang
masuk akal dengan budaya populer. Posmo menolak hirarkhi, geneologik, menolak kontinui-
tas, dan perkembangan. Posmo berupaya mempersentasikan yang tidak dapat dipersentasi-
kan oleh modernisme. Berdasarkan pandangan posmodernisme, pengikisan tingkat indivi-
dualitas muncul bersamaan dengan terbitnya kapitalisme dan rasionalitas. Faktor-faktor ini
mengurangi pentingnya hubungan pribadi dan menekankan aspek nonpersonal. Kapitalisme
atau modernisme, menurut teori ini, menyebabkan manusia dipandang sebagai barang yang
bisa diperdagangkan nilainya (harganya) ditentukan oleh seberapa besar yang bisa dihasil-
kannya. Setelah Perang Dunia II, manusia makin dipandang sebagai konsumen dan juga
sebagai produsen. Industri periklanan dan masmedia menciptakan citra komersial yang
mampu mengurangi keanekaragaman individualitas. Kepribadian menjadi gaya hidup.

2. Definisi dan ciri utama Postmodern


Intinya, teori peran, pernyataan-harapan, dan posmodernisme memberikan ilustrasi
perspektif struktural dalam hal bagaimana harapan-harapan masyarakat mempengaruhi
perilaku sosial individu. Sesuai dengan perspektif ini, struktur pola sosial interaksi yang
sedang terjadi dalam sebagian masyarakat. Dalam pandangan ini, individu mempunyai peran
yang pasif dalam menentukan perilakunya. Individu bertindak karena ada kekuatan struktur
sosial yang menekannya.
Menurut Pauline Rosenau (1992) mendefinisikan Postmodern secara gamblang dalam
istilah yang berlawanan antara lain: Pertama, postmodernisme merupakan kritik atas
masyarakat modern dan kegagalannya memenuhi janji-janjinya. Juga postmodern cende-
rung mengkritik segala sesuatu yang diasosiasikan dengan modernitas. Yaitu pada akumulasi
pengalaman peradaban Barat adalah industrialisasi, urbanisasi, kemajuan teknologi, negara
bangsa, kehidupan dalam jalur cepat. Namun mereka meragukan prioritas-prioritas modern
seperti karier, jabatan, tanggung jawab personal, birokrasi, demokrasi liberal, toleransi,
humanisme, egalitarianisme, penelitian objektif, kriteria evaluasi, prosedur netral, peratur-an
impersonal dan rasionalitas.

16
Kedua, teoritisi postmodern cenderung menolak apa yang biasanya dikenal dengan
pandangan dunia (world view), metanarasi, totalitas, dan sebagainya. Seperti Baudrillard
(1990:72) yang memahami gerakan atau impulsi yang besar, dengan kekuatan positif, efektif
dan atraktif mereka (modernis) telah sirna. Postmodernis biasanya mengisi kehidupan
dengan penjelasan yang sangat terbatas atau sama sekali tidak ada penjelasan.
Ketiga, pemikir postmodern cenderung menggembor-gemborkan fenomena besar
pramodern seperti emosi, perasaan, intuisi, refleksi, spekulasi, pengalaman personal, kebia-
saan, kekerasan, metafisika, tradisi, kosmologi, magis, mitos, sentimen keagamaan, dan
pengalaman mistik. Seperti yang terlihat, dalam hal ini Jean Baudrillard (1988) benar, teru-
tama pemikirannya tentang pertukaran simbolis (symbolic exchange).
Keempat, teoritisi postmodern menolak kecenderungan modern yang meletakkan
batas-batas antara hal-hal tertentu seperti disiplin akademis, budaya dan kehidupan, fiksi
dan teori, image dan realitas. Kajian sebagian besar pemikir postmodern cenderung
mengembangkan satu atau lebih batas tersebut dan menyarankan bahwa yang lain mungkin
melakukan hal yang sama. Contohnya Baudrillard (1988) menguraikan teori sosial dalam
bentuk fiksi, fiksi sains, puisi dan sebagainya.
Kelima, banyak postmodernis menolak gaya diskursus akademis modern yang teliti
dan bernalar (Nuyen, 1992:6). Tujuan pengarang postmodern acapkali mengejutkan dan
mengagetkan pembaca alih-alih membantu pembaca dengan suatu logika dan alasan argu-
mentatif. Hal itu juga cenderung lebih literal daripada gaya akademis.
Dari beberapa pendapat tersebut di atas, dapat dipahami bahwa teoritisi post-
modern menawarkan intermediasi dari determinasi, perbedaan (diversity) daripada persa-
tuan (unity), perbedaan daripada sintesis dan kompleksitas daripada simplikasi. Secara lebih
umum, Bauman (1992:31) menetapkan kebudayaan postmodern antara lain: pluralistis,
berjalan di bawah perubahan yang konstan, kurang dalam segi otoritas yang mengikat seca-
ra universal, melibatkan sebuah tingkatan hierarkis, merujuk pada polivalensi tafsiran, dido-
minasi oleh media dan pesan-pesannya, kurang dalam hal kenyataan mutlak karena segala
yang ada adalah tanda-tanda, dan didominasi oleh pemirsa. Lebih lanjut Bauman (1992:98)
menjelaskan bahwa postmodernitas berarti pembebasan yang pasti dari kecenderungan
modern khusus untuk mengatasi ambivalensi dari mempropagandakan kejelasan tunggal
akan keseragaman
3. Postmodern merupakan kritik terhadap Modernisme
Kata "postmodern" mencakup lebih dari sekedar suasana intelektual. Penolakan
postmodernisme terhadap rasionalitas terwujud dalam banyak dimensi dari masyarakat kini.
Postmoderisme menunjuk kepada suasana intelektual dan sederetan wujud kebudayaan
yang meragukan ide-ide, prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang dianut oleh modernisme. Bukti-
bukti awal dari etos postmodernisme bersifat negatif. Etos tersebut merupakan penolakan
terhadap pola pikir Pencerahan yang melahirkan modernisme. Kesadaran postmodern telah
melenyapkan optimisme "kemajuan" (progress) dari Pencerahan. Postmodern tidak mau
mengambil sikap optimisme dari masa lalu. Mereka menumbuhkan sikap pesimisme.
Untuk pertama kalinya, anak-anak pada masa kini berbeda keyakinan dengan orang
tuanya. Mereka tidak percaya bahwa dunia akan menjadi lebih baik. Dari lubang yang besar
di lapisan Ozon sampai kepada kekerasan antar remaja, mereka menyaksikan permasalahan
semakin besar. Mereka tidak lagi percaya kalau manusia dapat menyelesaikan masalahnya
17
dan kehidupan mereka akan lebih baik daripada orangtua mereka. Generasi postmodern
yakin bahwa hidup di muka bumi bersifat rawan. Mereka melihat bahwa model "manusia
menguasai alam" dari Francis Bacon harus segera digantikan dengan sikap kooperatif dengan
alam. Masa depan umat manusia sedang di persimpangan jalan.
Pemahaman modern menghubungkan kebenaran dengan rasio sehingga rasio dan
logika menjadi tolok ukur kebenaran. Kaum postmodern meragukan konsep kebenaran
universal yang dibuktikan melalui usaha-usaha rasio. Mereka tidak mau menjadi rasio
sebagai tolok ukur kebenaran. Postmodern mencari sesuatu yang lebih tinggi daripada rasio.
Mereka menemukan cara-cara nonrasial untuk mencari pengetahuan, yaitu: melalui emosi
dan intuisi. Keinginan mencari model kooperatif dan penghargaan kepada cara nonrasional
menciptakan sebuah dimensi holistik bagi kaum postmodern. Postmodern dengan holisme-
nya menolak cita-cita Pencerahan, individu yang tidak berperasaan, otonom, dan rasional.
Orang-orang postmodern tidak berusaha menjadi individu-individu yang mengatur dirinya
secara penuh, tetapi menjadi pribadi-pribadi "seutuhnya".
Karena setiap orang selalu termasuk dalam konteks komunitas tertentu, maka
memahami kebenaran haruslah bersama-sama. Keyakinan dan pemahaman kita akan kebe-
naran, berakar kepada komunitas dimana kita berada. Mereka menolak konsep Pencerahan
yang universal, supra-kultur, dan permanen. Mereka lebih suka melihat kebenaran sebagai
ekspresi dari komunitas tertentu. Mereka yakin bahwa kebenaran adalah aturan-aturan dasar
yang bertujuan bagi kesejahteraan diri dan komunitas bersama- sama. Dalam penger-tian ini,
kebenaran postmodern berhubungan dengan komunitas. Karena ada banyak komu-nitas,
pasti ada kebenaran yang berbeda-beda. Banyak kaum postmodern percaya bahwa
keanekaragaman kebenaran ini dapat hidup berdampingan bersama-sama. Kesadaran post-
modern menganut sikap relativisme dan pluralisme. Sebaliknya postmodernisme menekan-
kan kelompok. Kaum postmodern hidup dalam kelompok-kelompok sosial yang memadai,
dengan bahasa, keyakinan, dan nilai-nilainya tersendiri.
Karena itu ketika kaum postmodern memikirkan tentang kebenaran. Mereka tidak
terlalu mementingkan pemikiran yang sistematis atau logis. Apa yang dahulu dianggap tidak
cocok, kaum postmodern dengan tenang mengawinkannya. Mereka mengkombinasikan
sistem-sistem kepercayaan yang dulu dianggap saling berbenturan, Misalnya, seorang Kristen
postmodern percaya kepada doktrin-doktrin gereja sekaligus juga percaya kepada ajaran
non-Kristen seperti reinkarnasi. Orang-orang postmodern tidak merasa perlu mem-buktikan
diri mereka benar dan orang lain salah. Bagi mereka, masalah keyakinan/keper-cayaan
adalah masalah konteks sosial. Mereka menyimpulkan,"Apa yang benar untuk kami, mungkin
saja salah bagi Anda," dan "Apa yang salah bagi kami, mungkin saja benar atau cocok dalam
konteks anda."

4. Postmodern dan globalisasi informasi


Antara tahun 1960 dan 1990, postmodernisme muncul sebagai sebuah fenomena
kebudayaan. Mengapa? Transisi ini tampak dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam
masyarakat pada paruh kedua dari abad ke-20. Faktor pencetus terbesar adalah lahirnya era
informasi. Penyebaran postmodernisme sejajar dan bergantung kepada transisi ke era
informasi. Sebaliknya era postmodern mengarahkan fokus kepada informasi. Kita sedang
menyaksikan sebuah transisi dari masyarakat industri ke masyarakat informasi. Era informasi
bukan hanya mengubah pekerjaan kita tetapi juga menghubungkan seluruh belahan dunia.
18
Masyarakat informasi berfungsi berdasarkan jaringan komunikasi yang meliputi seluruh muka
bumi. Efisiensi sistem tersebut sangat mengejutkan. Pada masa lalu, informasi tidak secepat
perjalanan manusia. Tetapi sekarang informasi dapat mengalir ke seluruh dunia secepat
cahaya. Yang lebih mengagumkan lagi adalah kemampuan era postmodern untuk
mendapatkan informasi dari mana saja secara cepat.
Munculnya masyarakat informasi memberikan dasar berpijak bagi etos postmodern.
Hidup di desa global menyadarkan penduduknya mengenai keanekaragaman budaya di bumi
ini. Kesadaran ini memaksa kita mengadopsi pola pikir pluralisme. Pola pikir ini bukan hanya
bersikap toleran kepada kelompok lain, tetapi ia menegaskan dan merayakan keane-
karagaman. Perayaan keanekaragaman budaya menuntut gaya baru - eklektisisme - gaya
postmodernitas. Masyarakat informasi telah menyaksikan perubahan besar dari poduksi
massal kepada produksi segmen. Produksi barang-barang yang sama telah berubah menjadi
produksi barang-barang yang beraneka ragam. Kita berada pada "budaya citarasa" yang
menawarkan berbagai macam gaya yang tidak ada habisnya.

5. Postmodern dan fenomena kultural


Ciri utama budaya postmodern adalah pluralisme. Untuk merayakan pluralisme ini,
para seniman postmodern mencampurkan berbagai komponen yang saling bertentangan
menjadi sebuah karya seni. Teknik seni yang demikian bukan hanya merayakan pluralisme,
tetapi merupakan reaksi penolakan terhadap dominasi rasio melalui cara yang ironis. Buah
karya postmodernisme selalu ambigu (mengandung dua makna). Kalaupun para seniman ini
menggunakan sedikit gaya modern, tujuannya adalah menolak atau mencemooh sisi-sisi ter-
tentu dari modernisme. Post-modernisme adalah campuran antara macam-macam tradisi
dan masa lalu. Post-Modernisme adalah kelanjutan dari modernisme, sekaligus melampaui
modernisme. Ciri khas karyanya adalah makna ganda, ironi, banyaknya pilihan, konflik, dan
terpecahnya berbagai tradisi, karena heterogenitas sangat memadai bagi pluralisme.
Ada prinsip lebih mendalam yang ditampilkan melalui ekspresi budaya postmodern.
Maksud dan tujuan karya-karya postmodernisme bukanlah asal-asalan saja. Mereka berusa-
ha menghancurkan ideologi "gaya tunggal" dari modernisme dan menggantikannya dengan
budaya "banyak gaya". Untuk mencapai maksud tersebut, para seniman ini memperha-
dapkan para peminatnya dengan beraneka ragam gaya yang saling bertentangan dan tidak
harmonis. Teknik ini - yang mencabut gaya dari akar sejarahnya - dianggap sebagai sesuatu
yang aneh dan berusaha meruntuhkan sejarah. Seniman-seniman postmodern sangat ber-
pengaruh bagi budaya Barat masa kini. Pencampuran gaya, dengan penekanan kepada
keanekaragaman, dan penolakan kepada rasionalitas menjadi ciri khas masyarakat kita. Ini
semakin terbukti dalam banyak ekspresi kebudayaan lainnya.

oooooooooooooooooooooooo000000000000ooooooooooooooooooooooooo

19
PERTEMUAN II
MENJELASKAN PEMIKIRAN TEOLOGI YANG DIMUNCULKAN DAN DIKEMBANGKAN OLEH
KARL BARTH

Karl Barth dilahirkan pada tanggal 10 Mei, 1886 di Basel, Switzerland. Ia adalah putra
seorang pendeta Reformed di Swiss. Pada usia delapan belas tahun, Barth memulai studi
teologinya di Jerman, dan akhirnya ia studi di Bern, Berlin, Tubingen dan Marburg di bawah
pengajaran teolog liberal yang terkenal seperti Adolph von Harnack dan Wilhelm Herrmann.
Meskipun Barth tidak didukung oleh ayahnya, ia tertarik pada pengajaran Harnack dan
secara khusus menjadi tertarik pada teologi pengalaman dari Schleiermacher
Barth mulai pelayanan sebagai pendetanya di Switzer-
land pada tahun 1909. Ia melayani gereja Reformed di Safenwil
dari tahun 1911 sampai 1921. Pada tahun 1921, Barth diundang
untuk melayani sebagai dosen teologi Reformed di Universitas
Gottingen. Di tempat itu Barth mengajar bukan hanya tentang
tradisi Reformed, tetapi juga memberikan eksposisi kitab-kitab di
Alkitab. Dari tahun 1925 sampai 1930, Barth mengajar di
Munster, di mana ia juga mulai menulis kedua belas Jilid Church
Dogmatics-nya yang terkenal itu. Barth mengajar di Bonn dari
1930 sampai 1935, tetapi ketika ia menolak untuk setia pada
Hitler, ia dipaksa untuk berlari dari Jerman. la kembali ke Basel
dan mengajar teologi pada universitas itu, di mana ia mengajar
sampai pensiun pada tahun 1962.

1. Konteks kehadiran Karl Barth


Barth muncul ketika Liberalisme sangat kuat mempengaruhi peradaban Eropa,
termasuk dalam dunia teologi. Barth menemukan bahwa pendidikannya dalam liberalisme
telah mendidiknya untuk berkhotbah sesuai dengan penalaran dan pengalaman, tetapi
bukan dari Firman Allah yang berotoritas. Perang Dunia I menjadikan permasalahannya
menjadi lebih kompleks. Barth menyadari kesempitan dari natur berita liberal yang tidak
dapat melayani jemaatnya yang tengah mengalami penderitaan pada waktu itu. Peristiwa-
peristiwa itu mendorongnya untuk mempelajari Alkitab dan studi tentang para Reformator,
termasuk Institutes dari Calvin. Barth mulai mempelajari Roma dan pada tahun 1919 mener-
bitkan buku tafsiran yang terkenal. Tafsiran itu seperti sebuah ledakan bom. Di dalamnya
Barth membuat Allah, bukan manusia, yang menjadi fokus utama Barth merendahkan semua
pembenaran diri dari manusia dan pengandaian pada diri sendiri, dan meninggikan anugerah

20
Allah di dalam Kristus. Barth berusaha untuk membuat teologi berpusat pada Allah, bukan
berpusat pada manusia.
Barth termasuk pencetus Neo-ortodoksi. Istilah neo-ortodoksi berarti "ortodoksi yang
baru"; namun demikian, meskipun hal itu adalah baru, hal itu bukan ortodoksi. Neo-
ortodoksi merupakan suatu reaksi terhadap kegagalan dari liberalisme. Terjadinya PD I men-
demonstrasikan kekeliruan teologis dari liberalisme dengan menyangkali dosa dan mene-
guhkan bahwa pada dasarnya manusia itu baik. Karl Barth (1886-1968), berusaha untuk
menemukan kebenaran pada saat ia meninggalkan pengajaran liberalnya dan menyerahkan
dirinya untuk mempelajari Kitab Suci dengan serius. Publikasi Commentaryon the Epistle to
the Romans dari Barth pada tahun 1919 dipertimbangkan sebagai permulaan dari neo-orto-
doksi, dan pemutusan dengan liberalisme. Namun demikian, neo-ortodoksi memiliki keraga-
man opini-opini teologis yang luas.
Neo-ortodoksi yang dimulai setelah PD I, memiliki warna-warni pengajaran yang
cukup luas dan beragam. Kelahiran dari neo-ortodoksi secara umum berkaitan dengan publi-
kasi dari tafsiran Roma Karl Barth yang terbit tahun 1919. Barth telah dididik di bawah
pengaruh para teolog liberal di Jerman, tetapi kemudian menemukan bahwa berita liberal-
nya tidak relevan bagi jemaat yang menderita karena perang. Barth kembali mempelajari dan
memperhatikan Kitab Suci dengan serius. Pada waktu yang sama Emil Brunner, pelopor lain
dari neo-ortodoksi, mulai menulis dan mengajar. Sementara ada beberapa perbedaan di
antara keduanya, mereka memimpin teologi di Eropa dan Amerika pada neo-ortodoksi.
Sebelum Karl Bart muncul, ada tokoh neo-ortodoksi lain yang bisa dianggap sebagai
pendahulu Barth, yaitu Soren Kierkegaard. Soren Kierkegaard (1813-1855), seorang filsuf
dan teolog Denmark membawa penekanan pada pengalaman dalam teologi yang kemudian
dikembangkan oleh teolog-teolog neo-ortodoksi. Kierkegaard menentang ortodoksi yang
kaku dari orang-orang sebangsanya yang memberikan penekanan verbal pada kredo-kredo
dan yang membuat seseorang secara otomatis menjadi orang Kristen karena mereka adalah
anggota dari gereja negara. Kierkegaard mengajarkan bahwa kehidupan bukan hanya seka-
dar mempercayai doktrin-doktrin, tetapi juga meliputi pengalaman dan komitmen. Berbeda
dengan penekanan liberal akan imanensi dari Allah, Kierkegaard mengajarkan transendensi
dari Allah dan bahwa adalah sukar untuk manusia mengenal Allah. Manusia harus mela-
kukan "loncatan iman" untuk menemukan Allah. Teologi Kierkegaard (juga dikenal sebagai
"teologi keputusasaan") menandai kelahiran dari eksistensialisme, penekanan pada pengala-
man pribadi sebagai standar dari realitas.
Karl Barth mengikuti Kierkegaard dalam mengakui ketrasen-
denan Allah dan menekankan pengalaman beragama. Barth
mengajarkan bahwa Allah tidak dapat diketahui secara objektif
karena la adalah transenden; la harus diketahui secara sub-jektif
melalui pengalaman. Emil Brunner (1889-1966) dikenal de-ngan
penekanannya pada Kristologi, di mana ia menentang panda-ngan
liberal akan Kristus dan mengajarkan perjumpaan secara pri-badi
merupakan keharusan untuk mengenal Allah. Dari pengajar-annya
muncul sebutan "teologi krisis", karena Allah berjumpa dengan
manusia dalam suatu krisis. Reinhold Niebuhr (1892-1971), sebagai pendeta para buruh di
wilayah Detroit, mengonsentrasikan diri pada etika sosial. Rudolf Bultmann (1884-1976)
menyangkali bahwa Alkitab patut dipercaya, ia mengusulkan bahwa hal itu telah dipengaruhi

21
oleh pandangan-pandangan dari gereja, jadi bukan benar-benar pengajaran tentang Allah
dan Kristus. Pemikirannya telah mempengaruhi banyak teolog, sehingga pandangan itu yang
disebut Bultmannisme telah menjadi sinonim dengan bentuk partikular dari neo-ortodoksi.
Inti utama dari neo-ortodoksi adalah sebagai berikut: Alkitab bukan wahyu, tetapi
kesaksian dari wahyu, dan hal itu tidak sama secara objektif dengan Firman Allah, dan bahwa
wahyu Allah bukan dalam perkataan. Yesus Kristus adalah sentral dari wahyu Allah: manusia
berjumpa dengan Allah dalam pengalaman perjumpaan dengan Yesus Kristus. Peristiwa-
peristiwa dari Kitab Suci, seperti kebangkitan Kristus, diistilahkan geschichte, "cerita", sebagai
kontras dengan historie, "sejarah". Geschichte menunjuk pada ketransen-denan, kebenaran
berdasarkan pengalaman akan Allah yang tidak dipengaruhi oleh kebe-naran atau kekeliruan
yang merupakan karakteristik dari partikular historie yang terikat dengan bumi. Historie
secara historis dapat diverifikasi, karena itu, level yang lebih rendah dari Kitab Suci di mana
kesalahan-kesalahan dapat dan telah ditemukan. Geschichte secara historis tidak dapat
diverifikasi dan, karena itu, level yang lebih tinggi dari Kitab Suci di mana kesalahan-
kesalahan tidak dapat ditemukan. Karena itu, tidaklah penting apakah cerita-cerita di Alkitab
itu benar-benar terjadi dalam ruang dan waktu; fakta bahwa banyak catatan Alkitab adalah
"mite" tidak mempengaruhi artinya yang lebih tinggi dan keabsahannya. Allah adalah
transenden, "yang sama sekali lain". Perbedaan yang tajam ada antara manusia dan Allah;
manusia dapat bersekutu dengan Allah hanya melalui suatu "loncatan iman".

2. Pendekatan berteologi Karl Barth


Pendekatan berteologi Barth yang kemudian menjadi ciri
umum pendekatan berteologi Neo-ortodoksi dikenal sebagai Teolo-
gi Dialektik (menjelaskan relasi antara Allah dan manusia yang di-
pertentangkan). Bagi Barth, kita hanya dapat mengenal Allah dalam
kedua-gandaan-Nya, yaitu suatu dua-ganda yang bersifat dialektis.
Kebenaran Allah tidak bisa dijelaskan hanya dalam bentuk-bentuk
positif atau yang meneguhkan, melainkan juga harus dalam bentukl
negatif. Setiap kali membuat suatu pernyataan positif tentang Allah
harus segera diikuti dengan pernyataan yang bersifat negatif. Misal-
nya, ketika kita secara positif mengatakan bahwa Allah telah me-
nyatakan diri sehingga menjadi sangat dekat dengan kita manusia,
harus segera diikuti oleh penegasan bahwa Allah itu sesungguhnya juga adalah Allah yang
menyembunyikan diri dan amat jauh serta tidak terjangkau oleh manusia. Atau secara
sederhana bisa ditegaskan: Allah itu adalah yang sangat dekat dengan kita sebagai Allah yang
imanen, sekaligus adalah Allah yang sangat jauh sebagai Allah yang transenden.
Pendekatan berteologi Barth juga disebut dengan Teologi Krisis (mengindikasikan
bahwa seseorang sampai pada pengalaman bersama Allah melalui situasi krisis). Perkataan
krisis di sini tidak dipahami secara duniawi dan menunjuk kepada suatu keadaan krisis yang
terjadi di dalam dunia ini. Kata krisis perlu dipahami secara teologis, yaitu menunjuk pada
penyataan atau pewahyuan Ilahi itu sendiri sebagai suatu krisis. Ketika dikatakan bah-wa
Allah menyatakan diri, maka hal itu merupakan sebuah krisis bagi dunia. Dari Allah yang
keadaan-Nya sama sekali berbeda dari manusia, ketika menyatakan diri kepada manusia akan
mendatangkan suatu krisis bagi manusia, suatu yang mengejutkan, mengelisahkan atau
mengancam. Ketika Allah menyatakan diri kepada manusia menuntut manusia yang sama
22
sekali berbeda adri Allah untuk segera memberi suatu tanggapan agar manusia menja-di
berada dalam keselarasan dengan kehendak Allah dengan pewahyuan-Nya itu.
Prinsip Teologi Dialektis dan Teologi Krisis tersebut, berlaku pula dalam rangka Barth
mempelajari Kitab Suci. Sebutan neo-ortodoksi berkaitan dengan "ortodoksi baru" yang
mengimplikasikan kembalinya pada kepercayaan Kristen ortodoksi setelah hampir dua abad
berlangsungnya liberalisme. Dalam apa yang disebut neo-ortodoksi ada tindakan memperla-
kukan Alkitab lebih serius daripada liberalisme yang berkembang kala itu, walaupun tetap
mempertahankan beberapa hal yang menjadi dasar liberalisme.
Meskipun Kari Barth kembali untuk mempelajari Alkitab, namun ia tidak mensejajar-
kan Alkitab dengan Firman Allah. Barth menolak pemahaman tentang suatu tulisan Firman
yang tanpa salah. Bagi Barth para penulis Kitab Suci hanya sekadar berkaitan pada pengala-
man mereka berkaitan dengan wahyu Allah. Dalam membaca catatan mereka, seseorang
juga dapat mengalami wahyu Allah. Pada saat itu, Kitab Suci menjadi Firman Allah bagi orang
tersebut. Barth memperlakukan Alkitab dengan serius. Ia menulis Dogmatics-nya dengan
menggunakan Alkitab, bukan filsafat liberal, sebagai dasarnya. Namun demikian, ia tidak
percaya bahwa kebenaran dapat dinyatakan dalam proposisi doktrinal. Kebenaran-kebenaran
adalah perjumpaan melalui pernyataan Allah sendiri di dalam Kristus. Barth mengkategorikan
Firman Allah ke dalam tiga wilayah, (1) "Firman yang diwahyukan" adalah Allah menyatakan
diri-Nya sendiri dengan berbicara pada para rasul dan para nabi. (2) "Firman yang tertulis"
adalah deposit wahyu yang dibuat oleh manusia. Karena manusia yang menulis Alkitab, maka
hal itu tidak dapat disejajarkan dengan Firman Allah. (3) "Firman yang dikhotbahkan" adalah
proklamasi dari Firman. Pada waktu anugerah Allah memasuki seseorang, maka Alkitab
menjadi Firman Allah.
Barth menolak keabsahan dari wahyu umum dalam alam, dengan menyatakan bahwa
wahyu umum dalam alam semesta ini tidak dapat menyatakan Allah kepada manusia. Bagi
Barth, peristiwa pewahyuan adalah Yesus Kristus, meskipun Allah Tritunggal adalah
keseluruhan subjek dari pewahyuan. Allah Bapa melalui ketetapan kekal-Nya memutuskan
untuk menyatakan diri-Nya di dalam Kristus. Putra Allah menjalankan ketetapan ini, dan Roh
Kudus menuntaskan wahyu Allah ini dengan memampukan manusia untuk berpegang
padanya. Pewahyuan terus terjadi sampai sekarang, dalam arti bahwa pewahyuan itu adalah
kedatangan Firman Allah pada manusia, dan Allah datang pada manusia dalam Firman itu.
Lebih lanjut, hal itu dapat disebut pewahyuan, hanya apabila hal itu dikenali dan diterima
oleh manusia. Namun demikian, Barth menghilangkan ide apa pun tentang pewahyuan
progresif. Pewahyuan hanya dimungkinkan melalui rekonsiliasi di dalam Kristus. Melalui
pewahyuan Allah yang terjadi di dalam Kristus, dan hal itu berlanjut
pada saat seseorang mengalami Firman yang dinyatakan oleh Allah.
Firman Allah di sini dipahami terutama sebagai peristiwa.

3. Teologi Barth tentang Soteriologi, Kristologi, dan Eklesiologi.


Ada banyak tema teologi yang dirumuskan oleh Karl Barth. Di sini
diketengahkan beberapa pokok saja dari berbagai pokok ajaran Barth, khususnya berkaitan
dengan pokok teologi tentang Soteriologi, Kristologi dan Eklesiologi.
3.a. Teologi Barth tentang Soteriologi.

23
Pendekatan Barth pada dasarnya berangkat dari doktrin Trinitas dengan berpusat
pada Yesus Kristus. Kita tidak mungkin mengenal dan percaya kepada Allah pada diriNya
selain melalui tindakan Allah turun sebagai Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Rumusan
Kristologi yang digunakan dalam rangka menjelaskan tindakan Allah yang datang menjumpai
manusia yang datang dari atas adalah Yesus Kristus sebagai Anak Allah. Melalui gelar Yesus
Kristus sebagai Anak Allah, digambarkan bahwa Allah telah merendahkan diriNya sedemi-
kian rupa sebagai manusia dalam berbagai kerendahan dan kehinaan. Ini adalah aspek
pertama dari karya rekonsiliasi Allah. Dalam kaitan ini diitekankan bahwa Allah sendiri adalah
Sang Rekonsiliator yang sudah berlangsung sejak zaman Perjanjian Lama (PL) dan kini
diwujudkan melalui tindakan merendahkan diri dalam diri Manusia Yesus.
Selanjutnya dalam bagian kedua sebagaimana akan diketengahkan dalam buku ini,
Barth menekankan aspek kedua dari karya rekonsiliasi tersebut, yakni gerakan rekonsiliasi
dari manusia kepada Allah. Rumusan Kristologi yang digunakan untuk menjelaskan aspek
kedua rekonsiliasi ini adalah Yesus sebagai Anak Manusia. Untuk mempertahankan konsep
anugerah atau keutamaan anugerah Allah dalam rangka kemungkinan penyelamatan manu-
sia, sekaligus menghindari kesalahan yang mungkin ditimbulkan oleh penekanan yang
berbeda-beda dari karya rekoniliasi tersebut. Barth berulang-ulang menegaskan bahwa
kedua aspek tersebut hanya merupakan upaya menjelaskan terhadap karya rekonsiliasi yang
satu dan sama dari Allah yang satu dan sama yang berkarya melalui Yesus Kristus.
Barth dipengaruhi baik oleh John Calvin maupun para reformator lainnya. Oleh
karena itu, Barth menekankan kedaulatan (demikian pula ketransendenan) Allah. Allah ada-
lah transenden, dan manusia hanya dapat mengenal Allah melalui penyataan-Nya kepada
manusia. Meskipun Barth memakai terminologi Calvin, namun ia menggunakannya dengan
pengertian yang berbeda. Pada waktu ia menjelaskan tentang doktrin pilihan, Barth me-
nekankan pemilihan dari Kristus bukan pemilihan manusia. Yesus Kristus adalah subjek dan
juga pemilih. Ia adalah objek dan juga sebagai yang dipilih. (Ini merupakan contoh teologi
dialektik di mana topiknya dinyatakan dengan cara mengontraskan pernyataan-pernyataan).
Barth menyatakan bahwa di dalam Kristus semua individu dipilih, namun ia menolak pema-
haman universalisme. Allah di dalam anugerah-Nya, memilih Kristus, dan melalui Dia, manu-
sia dipilih dan direkonsiliasikan dengan Allah. Termasuk di dalamnya adalah orang yang tidak
percaya pada Kristus, tetapi mereka juga ditentukan untuk mendengar dan percaya.
Barth menekankan sentralitas dari Yesus Kristus dalam teologi atau soteriologi-nya.
Kristus harus menjadi titik awal dan pusat dari teologi. Menurut Barth, tanpa Kristus, maka
tidak ada pewahyuan. Bagi Barth, Injil dimulai dengan ketetapan kekal, pemilihan Yesus
Kristus. Barth mengajarkan bahwa predestinasi adalah pemilihan terhadap Yesus Kristus.
Lebih lanjut, Kristus adalah Allah yang memilih dan manusia yang dipilih. Pemilihan Kristus
berarti pemilihan dari komunitas. Dalam pembahasannya tentang pemilihan ganda, Barth
mengajarkan bahwa Allah dan Kristus mengampuni dengan menanggung konsekuensi dosa
yang seharusnya ditanggung oleh manusia. Pada saat yang sama, umat manusia dipilih dan
mendapatkan keselamatan dan partisipasi dalam kemuliaan Allah.
Barth menunjuk pada pemilihan komunitas seperti Israel yang menolak pemilihan
atas dirinya dan seperti gereja yang adalah dasar dari pemilihan. Ia akhirnya menjelaskan
pemilihan individu, "yang lain", sebagaian besar di mana tidak ada pengecualian. Ini meru-
pakan konklusinya, di mana Barth menolak untuk menyebut orang yang tidak dipilih secara
esensial berbeda dari yang dipilih. Hal ini telah menyebabkan ia dituduh memiliki paham

24
universalisme, yaitu suatu kepercayaan di mana semua umat manusia pada akhirnya akan
diselamatkan. Karena Kristus telah menanggung dosa semua orang, maka semua orang tidak
lagi ditolak. Barth bahkan memberikan argumentasi untuk pemilihan Yudas. Barth tidak me-
nyangkali tuduhan bahwa doktrin pilihannya memimpin pada universalisme.

3.b. Teologi Barth tentang Kristologi


Berangkat dari teologi Inkarnasi Allah dalam Yesus Kristus sebagai dasar berlang-
sungnya rekonsiliasi antara Allah dengan manusia, selanjutnya Barth berbicara mengenai
tokoh Yesus dari berbagai aspek.
Pertama, Yesus sebagai Anak Allah dan Anak Manusia.
Dengan menunjuk kepada Yohanes 1:14, Barth menegaskan bahwa melalui Yesus
Kristus sebagai Anak Allah, karya rekonsiliasi berlangsung. Barth membandingkannya dengan
pemikiran yang pernah berkem-bang dalam sejarah Gereja mengenai vere homo dan vere
Deus mengenai figur Yesus Kristus. Yesus sungguh-sungguh adalah Allah yang menjadi
Manusia, dan dalam keberadaan sebagai Manusia, Ia menjadi Mediator dan Rekonsiliator
antara Allah dengan manusia. Dalam keberadaan sebagai manusia Yesus sungguh-sungguh
adalah a true man sekaligus the true man. Dengan pernyataan ini Barth menegaskan bahwa,
pada satu pihak, Yesus sepenuhnya seperti kita manusia, namun di pihak lain, sepenuhnya
berbeda dari kita manusia. Sebagai the Son of God Yesus sungguh-sungguh Allah menjadi se-
perti manusia, namun sebagai the Son of Man Yesus sepenuhnya berbeda dari kita manusia.
Lebih lanjut Barth menjelaskan tiga konteks penting berkaitan kedatangan Anak
Manusia. (1) Berkaitan dengan the divine election of grace. Dalam hal ini, Barth hendak
menegaskan bahwa the election of grace Allah melalui Yesus Kristus dalam rangka karya
rekonsiliasi Allah dengan manusia merupakan keputusan Allah sudah sejak awal mula. Hal ini
hendak menegaskan bahwa keputusan dan tindakan karya rekonsiliasi Allah dengan kedua
aspek (Yesus sebagai Anak Allah dan Yesus sebagai Anak Manusia) sudah merupakan
keputusan Allah sejak kekal. Dalam hal ini Barth tidak hendak menggambarkan konsep
mengenai keilahian dan kemanusiaan Yesus secara ontologis, melainkan hendak memberi
makna pada kesejarahan-keduniawian Yesus Kristus dalam rangka anugerah penyelama-tan
Allah yang kekal. Mengingat bahwa keseluruhan aspek rekonsiliasi tersebut sudah meru-
pakan keputusan Allah sejak kekal, maka setiap aspek dari karya rekonsiliasi Allah memiliki
bobot yang sama. Rrekonsiliasi yang terkandung dalam rumusan Yesus as the Son of God
sama dengan makna rekonsiliasi yang terkandung dalam rumusan Yesus as the Son of Man.
(2) Berkaitan dengan the historical fulfilment in the event of the incarnation. Di sini
Barth berbicara berbicara mengenai ratio essendi (the ground of being dasar keberadaan)
dan ratio cognoscendi (the ground of knowledge dasar pengetahuan) perihal peristiwa
inkarnasi Allah dalam Yesus Kristus sebagai Anak Allah dan sebagai Anak Manusia. Ratio
essendi Yesus Kristus adalah bahwa Ia sungguh-sungguh manusia, sementara ratio cogno-
scendi Yesus Kristus adalah sungguh-sungguh Ilahi yang datang dari Allah. Dalam hal ini Barth
menempatkan pemahaman mengenai eksistensi kemanusiaan dan keilahian Yesus dalam
rangka rekonsiliasi antara Allah dengan dunia ini.
Dalam upaya menjelaskan hubungan antara keilahian dan kemanusiaan Yesus, Barth
menegaskan tiga hal. Pertama, bahwa sebagai Anak Allah, Yesus adalah sungguh-sungguh
Allah yang telah sungguh-sungguh menjadi manusia. Penekanan di sini ada pada Allah men-
25
jadi manusia, untuk selanjutnya Yesus menjadi wujud kehadiran Allah yang menempatkan
diri dalam seluruh bekeradaan manusia. Kedua, sebagai Anak Allah maka Yesus sungguh-
sungguh adalah wujud kehadiran Allah menjadi manusia di dalam dunia. Karenanya, maka
setiap perkataan dan perbuatan Yesus sebenarnya merupakan wujud perkataan dan perbu-
atan Allah sendiri. Ketiga, esensi keilahian dan kemanusiaan Yesus ada dalam kesatuan.
Inkarnasi Allah dalam Yesus Kristus harus dipahami dalam satu kesatuan atas kedudukan
Yesus sebgai the Son of God dan the Son of Man. Melalui kesatuan antara segi keilahian dan
kemanusiaan hendak menegaskan bahwa di dalam hidup dan karya Yesus, rekonsiliasi Allah
berlangsung dari atas ke bawah dan sekaligus dari bawah ke atas. Melalui kresatuan tak
terpisahkan antara keilahian dan kemanusiaan Yesus, Yesus Kristus ditampilkan sebagai the
Reconciler the Savior the Lord.
(3) Berkaitan dengan the basis of revelation in the resurrection and ascension of the
man Jesus. Barth menunjuk pada peristiwa kebangkitan Yesus dari kematian dan kenaikan
Yesus ke Sorga. Namun ketika berbicara mengenai the resurrection dan the ascension, hal
tersebut tidak bisa dilepaskan dari the humiliation (tindakan merendahkan diri) yang ber-
puncak pada kematian di salib dan penguburan Yesus. Dalam kaitan ini maka peristiwa the
resurrection dan the ascension menjadi the event of His self-declaration, sehingga apa yang
sudah, sedang dan akan Ia kerjakan diungkapkan. Nampak bahwa sekalipun antara peristiwa
humiliation dengan resurrection dan ascension merupakan peristiwa Yesus yang saling ter-
kait, namun ada penekanan khusus ketika berbicara mengenai resurrection dan ascension.
Ketika berbicara mengenai resurrection dan ascension sebagai an event, Barth mene-
gaskan bahwa hal tersebut sungguh-sungguh merupakan peristiwa sejarah (an historical
event). Pada saat yang sama, sebagai an event, peristiwa kebangkitan Yesus menjadi
peristiwa penyataan diri Yesus kepada murid-muridNya untuk meneguhkan mereka tentang
diriNya sebagai Anak Allah dan Anak Manusia. Dengan demikian maka peristiwa Paskah dan
Kenaikan menjadi peristiwa penyataan kehendak dan karya Allah yang sudah dan sedang
serta akan diwujudkan. The resurrection dan the ascension Yesus Kristus merupakan dua hal
yang berbeda namun saling terkait. The resurrection dipahami sebagai terminus a quo (titik
berangkat), sementara the ascension dipahami sebagai terminus ad quem (tujuan). Ketika
berbicara tentang terminus a quo, maka titik berangkat tersebut menunjuk pada seluruh
peristiwa humiliation Yesus sebagai Anak Allah dan peristiwa Paskah itu sendiri. Dan ketika
berbicara mengenai terminus ad quem, maka tujuan tersebut bersifat dua-ganda, pada satu
pi-hak, ke tempat yang sama sekali terpisah dari manusia, namun di pihak lain, juga ke
tempat yang sepenuhnya terikat dengan keberadaan umat manusia. Maka peristiwa
resurrection dan ascension menjadi dasar bagi segenap orang percaya untuk, pada satu
pihak, mengarahkan pengharapan jauh ke depan, namun di pihak lain, sepenuhnya percaya
pada kehadiran Yesus dalam Roh Kudus pada masa kini.
Kedua, the Direction of the Son.
Di sini Barth berbicara mengenai the meaning atau the power dari keberadaan
Manusia Yesus di antara dan bagi umat manusia, yakni Yesus sebagai Sang Rekonsiliator yang
adalah Anak Allah tetapi yang juga telah menjadi Anak Manusia. Kata kunci untuk memberi
makna pada kata the meaning atau the power tersebut adalah the direction. Ketika berbicara
mengenai the direction Yesus sebagai Anak tersebut, hal ini membayangkan bah-wa seluruh
hidup dan karya-Nya berdampak dalam kehidupan umat manusia.

26
Ada upaya keras dari Barth untuk menjadikan sejarah Yesus sebagai Anak Allah dan
Anak Manusia dengan berbagai makna yang terkandung di dalamnya juga menjadi sejarah
umat manusia yang di dalamnya ada humiliation atonement reconciliation. Untuk
membuat kesinambungan antara sejarah Yesus sebagai Anak dengan kita sebagai anak-
anak Allah, Barth memberi pemaparan panjang lebar mengenai berbagai peristiwa sejarah
Yesus yang sudah hadir ke dalam dunia sebagai Anak Allah dan selanjutnya menunjukkan
karya penyelamatan dan dimuliakan sebagai Anak Manusia. Barth menunjuk hakekat terpen-
ting dari kedatanganNya sebagai Anak Allah. Yesus sungguh-sungguh merupakan perwu-
judan kehadiran Allah yang membawa pendamaian bagi umat manusia, untuk selanjutnya
menjadi the Head dan the Representative umat manusia. Dalam menerima pendamaian
Allah tersebut, dalam kaitan dengan sesama manusia, Yesus sebagai Anak Allah dan Anak
Manusia tersebut selanjutnya sungguh-sungguh menjadi Sumber kehidupan dan cinta kasih
umat manusia.
Allah sendiri dalam kasihNya telah merendahkan diri sedemikian rupa dalam diri
Anak-Nya Yesus Kristus. Allah yang pada mulanya tersembunyi dari umat manusia, oleh
kasihNya yang mendamaikan, menjadi nampak dalam penyataan diri Yesus Kristus, dalam
kesediaanNya tinggal bersama kita untuk selanjutnya menghendaki agar kita hidup dalam
kasih sebagai milikNya. Dalam perjumpaan dengan Dia yang tinggal bersama dan menjadi
Pemilik tersebut, kita disadarkan terhadap keberdosaan kita yang segera diikuti oleh keya-
kinan bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosa kita dan memperbarui hidup kita. Dalam
upaya mendukung pemikiran ini, Barth berulang-ulang menekankan perlunya kita meman-
dang kepada Yesus yang tersalib. Salib Yesus menjadi sedemikian penting, karena pada salib
itu prinsip utama rekonsiliasi Allah dinampakkan, yakni the humiliation yang diwujudkan
dalam the obedience kepada kehendak Bapa. Pada saat yang sama menjadi prinsip rekonsi-
liasi antara kita dengan sesama.
Seiring penekanan pada pentingnya kita memandang Yesus yang tersalib dan dia-
rahkan oleh Yesus yang tersalib, Barth juga mengajak kita untuk memandang kepada the
resurrection and the ascension Yesus Kristus. Dengan memandang kepada Yesus yang bangkit
dan naik ke sorga, kita dihantar untuk memandang dan mengarahkan hidup kepada
kemanusiaan baru yang sudah Yesus kerjakan sebagai Anak Allah dan Anak Manusia. Seiring
penekanan pada pentingnya mengarahkan hidup pada Yesus yang tersalib dan sudah bangkit
serta naik ke sorga, Barth juga menekankan perihal pentingnya Roh Kudus. Roh Kudus
dipahami sebagai wujud kehadiran Yesus sendiri sebagai Anak Allah dan Anak Manusia
sesudah peristiwa kenaikan, sekaligus wujud kehadiran Allah yang memberi kesaksian
mengenai peristiwa the humiliation Allah dalam rangka karya rekon-siliasi atas dunia ini. Roh
Kudus yang dikaruniakan kepada kita menjadi bentuk penjaminan Allah atas hidup kita,
sekaligus sebagai the direction power Allah untuk mengarahkan hidup kita.
Roh Kudus ini pula yang telah menjadikan efektif pekerjaan Allah dalam Yesus Kristus
sebagai the Son of God dan the Son of Man di antara manusia. Oleh pekerjaan Roh Kudus di
dalam hati manusia, selanjutnya Ia membentuk persekutuan orang percaya, yakni umat
Kristen. Roh Kudus yang mengerjakan dalam persekutuan Kristen maupun dalam individu
setiap orang untuk mengalami kematian bersama-sama Kristus yang tersalib, mengalami
kebangkitan bersama Kristus yang bangkit, dan selanjutnya berpengharapan untuk memper-
oleh persekutuan dengan Allah di masa depan bersama-sama dengan Yesus yang sudah naik
ke sorga. Dan selanjutnya, oleh Roh Kudus kita diarahkan (we are directed by) untuk me-
nyaksikan rekonsiliasi Allah bagi dunia tersebut.
27
Dengan berpusat pada Yesus yang telah datang sebagai Anak Allah dan Anak
Manusia, beberapa direction berlaku atas kita yang kepadanya Ia sudah menunjukkan
kerendahan dengan taat sampai mati, namun yang kemudian bangkit dari kematian dan naik
ke sorga. Sementara dalam perwujudan the direction ini terkait dengan kehadiran dan
pekerjaan Roh Kudus. (1) berdasaran peristiwa the humiliation Allah dalam Yesus Kristus
sebagai the Son of God dan the exaltation of the Son sebagai the Son of Man, Allah membe-
rikan titik berangkat yang pasti bagi kita, baik dalam rangka memahami maupun dalam
rangka mengalami karya pembebasan dan rekonsiliasi Allah.
(2) berangkat dari pemahaman mengenai the direction of the Holy Spirit, kita ditem-
patkan pada posisi kritis, yakni berada dalam keadaan diperingatkan (be warned) dan
diperbarui (be corrected). Hal ini terjadi karena kita selalu memiliki kemungkinan untuk salah
dalam memahami dan memanfaatkan kebebasan yang sudah Allah berikan melalui Yesus
Kristus. Manusia dalam kelemahannya sering disesatkan oleh roh-roh dunia sehingga tidak
mampu membedakan kehendak Allah dari kehendak dirinya dan dari kehendak si jahat.
(3) secara positif berbicara mengenai the operation of the Holy Spirit, yakni as
definite instruction. Bagian ketiga ini merupakan upaya menyimpulkan penegasan yang sudah
diketengahkan dalam dua bagian sebelumnya. Kepada umat manusia yang sudah memiliki
titik berangkat yang pasti untuk memahami dan mengalami pembebasan Allah, namun oleh
kelemahan kedagingan berada dalam keadaan diperingatkan dan diperbarui, selanjutnya Roh
Kudus hadir sebagai kekuatan yang mengarahkan sekaligus yang memberi pertolongan dalam
rangka manusia mewujudkan apa yang diarahkanNya. Diingatkan kembali bahwa Roh Kudus
yang dimaksud adalah Roh Tuhan atau merupakan penyataan diri Tuhan Yesus sendiri.

3.c. Teologi Barth tentang Eklesiologi


Ketika berbicara mengenai persekutuan orang-orang percaya, hal pertama-tama yang
ditegaskan oleh Bart adalah bahwa Kristus yang merupakan the Reconciler untuk semua
orang adalah the Head dari persekutuan orang percaya dan the Lord dari setiap pribadi
anggota persekutuan tersebut. Ketika berbicara mengenai sanctification (pengudusan) secara
umum, maka penekanannya ada pada keberadaan dan pekerjaan manusia yang bersekutu
dan percaya, yang dalam keberadaan dan pekerjaan tersebut, manusia ada dan bekerja
menurut the quickening power dari Roh Kudus yang bekerja di dalam dirinya. Ketika
berbicara mengenai gereja, berarti berbicara mengenai manusia yang bersekutu dan berbuat
sesuatu, namun persekutuan dan perbuatan tersebut berdasarkan pekerjaan Allah melalui
Roh Kudus.
Pertama, Gereja sebagai persekutuan orang-orang percaya.
Gereja sebagai persekutuan orang-orang percaya merupakan persekutuan kelihatan,
persekutuan yang menyejarah, buah karya dari Dia yang tidak kelihatan. Pada dirinya, per-
sekutuan Gereja ini merupakan persekutun orang-orang yang dikuduskan oleh Allah untuk
mengerjakan apa yang Allah kehendaki. Dengan demikian, maka tujuan dari kehadiran
Gereja tersebut tidak terletak pada dirinya melainkan pada Dia yang membentuknya, yakni
untuk menjadi alat kesaksian Allah bagi dunia. Gereja menjadi alat kesaksian untuk me-
wartakan karya justification dan sanctification atau tawaran rekonsiliasi Allah bagi dunia yang
sudah Allah kerjakan melalui Yesus Kristus. Dalam hal ini, maka karya penyelamatan Allah
melalui Yesus Kristus yang kini dikerjakan oleh Roh Kudus menjadi a living redemptive
28
happening yang mengambil tempat pada sepanjang sejarah seiring dengan kehadiran Gereja
dalam sejarah penyelamatan Allah. Ketika Gereja dikatakan sebagai persekutuan orang-orang
kudus, kekudusan tersebut terletak pada kehadiran Gereja sebagai a living redemp-tive
happening Allah di dalam dan bagi dunia.
Gereja sebagai sebuah persekutuan yang hidup dari orang-orang percaya, di samping
menekankan pada unsur persekutuan dari indvidu-individu, juga tetap menekankan
kemandirian dan kekhasan dari masing-masing individu yang masuk ke dalam persekutuan
Gereja tersebut. Di dalamnya dijumpai mutual dependence and support dari setiap individu
untuk saling terkait antara satu dengan yang lain dalam membangun sebuah persekutuan
yang kokoh di bawah Kristus sebagai Kepala. Penekanan pada kepelbagaian dalam perse-
kutuan mendapat penekanan mengingat makna pembangunan sebagai integrasi (building up
means integration). Integration Gereja pertama-tama nampak pada peristiwa pembentukan
Gereja itu sendiri, yakni atas pekerjaan Allah melalui Yesus Kristus dan para rasul dan oleh
persekutuan antar anggota Gereja itu sendiri sebagai persekutuan yang beribadah melalui
seluruh bentuk kehadirannya.
Kedua, pertumbuhan Gereja sebagai Communio Sanctorum
Dalam upaya memaparkan pertumbuhan Gereja sebagai persekutuan (the growth of
the community), Barth berkali-kali menggunakan istilah communio sanctorum (persekutuan
orang-orang kudus) dalam berbicara mengenai Gereja. Dengan mengatakan bahwa Gereja
adalah sebuah persekutuan-communio, maka Gereja pertama-tama dipahami sebagai sebu-
ah peristiwa bersekutunya orang-orang percaya berdasarkan pekerjaan Roh Kudus, dan
bahwa persekutuan tersebut selalu berkembang dan berubah sesuai dengan perkembangan
sejarah penyelamatan Allah.
Gereja sebagai communio sanctorum mewujud dalam berbagai bentuk, seperti: keti-
ka orang-orang Kristen berhimpun dalam pengetahuan dan pengakuan iman mereka; ketika
berhimpunnya orang-orang kudus dalam pengucapan syukur dan terimakasih; ketika ada
persekutuan doa yang diungkapkan secara bersama-sama sebagai sebuah persekutuan;
ketika ada persekutuan yang di dalamnya terjadi aksi saling melayani antar anggota; ketika
berhimpun orang-orang kudus yang menaruh pengharapannya bukan hanya kepada dunia
masa kini, melainkan juga kepada dunia yang akan datang. Dan ketika berbicara mengenai
the growth dari communio sanctorum ini, maka pertumbuhan tersebut bisa dimengerti
sebagai pertumbuhan berkelanjutan dari semakin bertambahnya orang-orang yang masuk
kedalam persekutuan tersebut (extensive), tetapi juga dan yang terutama, pertumbuhan
dalam hal kualitas persekutuan dengan Allah dan dengan sesama (intensive pertumbuhan
vertical dan spiritual).
Unsur sangat penting dalam memahami the growth of the community adalah Subjek
dan Kuasa yang memungkinkan terjadinya pertumbuhan. Hal utama ditunjuk sebagai Subjek
dan Kuasa adalah Roh Kudus sebagai the self-attestation diri Yesus. Barth menekankan sangat
kuat perihal peran Yesus yang sudah mati, bangkit dan naik ke sorga untuk menger-jakan
pertumbuhan Gereja. Sebagai persekutuan baru yang diperdamaikan dengan Allah,
communio sanctorum memiliki keterkaitan dengan hadirnya Kerajaan Allah. Gereja sendiri
bukan Kerajaan Allah namun Gereja bertanggung jawab untuk mewartakan dan menghadir-
kan tanda-tanda Kerajaan Allah tersebut. Gereja hadir sebagai pewarta Kerajaan Allah pada
masa antara, untuk pada waktunya Kerajaan Allah tersebut akan digenapi dengan sempurna.
Ketiga, pemeliharaan Gereja sebagai Communio Sanctorum
29
Di sini Barth berbicara mengenai berbagai unsur eksternal dalam kaitan dengan
penegakkan communio sanctorum. Unsur eksternal tersebut diarahkan pada berbagai hal
yang menyebabkan Gereja selalu berada dalam bahaya. Barth berbicara mengenai berbagai
tantangan atau bahaya sehingga Gereja selalu berada dalam bahaya. Ancaman atau bahaya
pertama, diarahkan pada berbagai threathens from without. Adanya ancaman yang datang
dari luar ini, mengingat Gereja sebagai communio sanctorum berbeda dari berbagai bentuk
communio lainnya yang ada di dalam dunia ini. Pada saat yang sama, Gereja sebagai com-
munio sanctorum bertanggung jawab untuk menyaksikan Yesus Kristus sebagai gambaran
kemanusiaan baru. Berkaitan dengan eksistensi Gereja sebagai communio sanctorum terse-
but, dunia akan memberikan penentangan dan penolakannya dengan mendatangkan berba-
gai bentuk tekanan eksternal terhadap Gereja.
Selain berbicara mengenai ancaman eksternal, Barth juga berbicara mengenai ber-
bagai threatens from within yang dialami oleh Gereja sebagai communio sanctorum. Adanya
ancaman yang datang dari dalam diri Gereja itu sendiri terkait dengan eksistensi dari Gereja
sebagai persekutuan manusia berdosa yang secara ideal dipahami sebagai communio
sanctorum. Dunia dengan berbagai dosa di dalamnya menjadi bagian yang juga bisa dijumpai
di dalam anggota persekutuan manusia yang disebut Gereja. Dunia ini penuh dengan dosa
dan berbagai nafsu kedagingan, manusia lama dengan kesombongan dan kelemahannya.
Berbagai bentuk dosa dunia tersebut sangat mungkin juga dijumpai di dalam persekutuan
manusia yang bernama Gereja. Barth mengambil dua bentuk unum dari threatens from
within tersebut, yakni alienation (secularisation) dan self-glorification (sacralisation). Dengan
alienation, Gereja selalu berada dalam bahaya untuk mengasingkan diri dari pimpinan dan
suara sang Gembala dengan lebih mendengar suara-suara yang lain dalam mengatur dirinya.
Dengan self-glorification, Gereja selalu berada dalam godaan dan ancaman untuk mengambil
kemuliaan yang seharusnya terarah kepada Kristus menjadi terarah kepada dirinya.
Barth menegaskan bahwa berbagai bahaya tersebut tidak terhindarkan oleh Gereja
sebagai communia sanctorum di dalam dunia ini. Namun demikian, Alkitab menyaksikan
bahwa Gereja senantiasa mendapat kekuatan dan keyakinan untuk bertahan menghadapi
berbagai ancaman tersebut. Sepanjang sejarah Gereja telah nampak berbagai macam ben-
tuk ancaman menyerang Gereja, namun pada kenyataannya Gereja tetap bertahan dan hadir
hingga saat ini. Dasar kekuatan dan keyakinan Gereja berangkat dari eksistensi Gereja sendiri
yang adalah Tubuh Kristus. Gereja sebagai the totus Christus, tidak pernah mati. Di tengah-
tengah keberanaan Gereja yang selalu berada dalam berbagai ancaman, Kristus hadir sebagai
a Helper the Conqueror the Victor.
Keempat, peraturan bagi Gereja sebagai Communio Sanctorum
Di sini Barth berbicara mengenai perlunya Gereja hidup menurut peraturan-peratur-
an tertentu. Perlunya kehidupan persekutuan Kristiani hidup menurut Hukum, mengingat
bahwa rekonsiliasi Allah hanya mungkin berlangsung ketika dunia berada dalam ketertiban,
dan ketertiban tersebut pertama-tama harus nampak di dalam Gereja sebagai communio
sanctorum. Namun ketika berbicara mengenai Hukum, maka dasar pijakan yang perlu sege-ra
diambil dengan mengingat bahwa Kristus yang sudah melaksanakan karya justification dan
sanctification adalah Kepala Gereja. Dengan demikian, ketika berbicara mengenai Hukum
bagi Gereja, maka Kristus-lah menjadi prinsip pertama melampaui Gereja sendiri sebagai
communio sanctorum yang adalah tubuhNya.

30
Segera sesudah menegaskan sentralitas kedudukan Kristus sebagai dasar Hukum dan
Hukum itu sendiri, Barth segera menunjuk pada Kitab Suci yang di dalamnya kita mendengar
suara Kristus. Alkitab menegaskan bahwa Kristus adalah Kepala, Tuhan yang hidup dari
Gereja. Dalam kaitan ini maka Alkitab menjadi norma normans dalam upaya menyusun
Hukum Gereja yang benar sebagai perwujudan praktis dalam rangka Gereja mengakui iman
kepada Kristus yang hidup.
Dengan memperhatikan Kristus sebagai prinsip pertama Hukum Gereja, beberapa hal
perlu mendapat perhatian dalam rangka memahami hakekat Hukum Gereja.
(1) bahwa Hukum Gereja memiliki sifat dan tujuan sebagai a law of service.
Mengingat bahwa Gereja adalah Tubuh Kristus, maka Hukum Gereja pertama-tama harus
disusun dalam rangka melayani Kristus sebagai Kepalanya, selanjutnya untuk melayani semua
anggota. Hukum Gereja harus mampu menyediakan dan menjamin kebebasan setiap
anggota untuk membe-rikan pelayanannya kepada Allah dan kepada sesama, namun
sekaligus pelayanan yang melibatkan semua anggota untuk kepentingan bersama, bahkan
kepentingan Gereja secara universal. Kristus sebagai prinsip pertama Hukum telah melayani
Allah maupun manusia dengan bebas, maka Hukum Gereja disusun dalam rangka melayani
anggota untuk bisa seperti Kristus melayani Allah dan sesama dalam kebebasan.
(2) bahwa Hukum Gereja dalam wujudnya yang lebih konkrit bagi persekutuan seba-
gai liturgical law. Dalam kaitan ini, maka disusunnya Hukum Gereja dalam rangka mem-bantu
Gereja mewujudkan peribadahanya kepada Allah. Dalam sejarah penyelamatan Allah,
berbagai peristiwa khusus telah terjadi sebagai sejarah Allah yang perlu dirayakan oleh
GerejaNya. Dengan demikian, maka Hukum Gereja perlu menjadi Hukum yang me-nyedia-
kan tata cara dalam rangka divine worship Gereja menurut setiap peristiwa khusus dalam
sejarah penyelamatan Allah yang dijadikan sebagai peristiwa peribadahan menurut hari-hari
tertentu dalam tahun gerejawi.
(3) bahwa Hukum Gereja adalah hukum yang hidup (Church law is living law).
Penegasan bahwa Hukum Gereja merupakan hukum yang hidup, mengingat prinsip perta-ma
Hukum Gereja adalah Kristus yang hidup yang sudah menyatakan diriNya dalam sejarah
sebagaimana tercatat dalam Kitab Suci. Kalau dikatakan bahwa Hukum Gereja adalah hukum
yang hidup, menggambarkan bahwa Hukum Gereja perlu selalu dalam keadaan berubah dan
berkembang sesuai dengan sejarah perkembangan Gereja itu sendiri. Setiap keadaan baru
memerlukan jawaban yang baru, termasuk dalam hal Hukum Gereja. Dalam rangka
menekankan unsur the living law ini, Barth menempatkan Gereja dan Hukumnya dalam
keadaan ecclesia reformata semper reformanda.
(4) bahwa Hukum Gereja yang benar adalah exemplary law. Hukum Gereja yang
benar perlu disusun menjadi hukum yang bisa dijadikan sebagai contoh untuk berbagai
produk hukum lainnya, mengingat kedudukan Kristus sebagai Kepala Gereja. Karya
justification dan sanctification Kristus bukan untuk diriNya melainkan untuk manusia, agar
manusia dikuduskan bagi Allah dan bagi sesama. Namun hal ini tidak berarti mengklaim
bahwa Hukum yang berlaku dalam Gereja harus pula berlaku dalam organisasi kenegaraan
dan kemasyarakatan lainnya. Sebagai exemplary law, Hukum Gereja harus bisa mengeks-
presikan Hukum Kristus dalam mewujudkan tanda-tanda Kerajaan Allah. Dalam hal ini, esensi
Hukum Gereja adalah Injil.
oooooooooooooooooooooooo000000000000ooooooooooooooooooooooooo

31
PERTEMUAN III
MENJELASKAN PEMIKIRAN TEOLOGI YANG DIMUNCULKAN DAN DIKEMBANGKAN OLEH
DIETRICH BONHOEFER

Dietrich Bonhoeffer (4 Februari 1906 9 April 1945) adalah seorang pendeta dan
teolog Lutheran Jerman dan seorang anggota dalam gerakan perlawanan Jerman terhadap
Nazisme. Ia terlibat dalam sebuah komplotan yang dirancang oleh anggota-anggota Abwehr
(Kantor Intelijen Militer Jerman) untuk membunuh tokoh Nazi Jerman, Adolf Hitler. Ia di-
tangkap pada Maret 1943, ditahan dan akhirnya digantung, tak lama sebelum berakhirnya
Perang Dunia II di Eropa.

1. Konteks kehadiran Dietrich Bonhoefer


Bonhoeffer dilahirkan di Breslau, Jerman (kini Wrocaw Polandia) dalam sebuah
keluarga profesional menengah ke atas. Ia dan saudara perempuannya Sabine adalah kembar
dan anak keenam dan ketujuh dari 8 bersaudara. Kakak lelakinya, Walter terbunuh pada
Perang Dunia I. Saudara perempuannya menikah dengan Hans von
Dohnanyi dan menjadi ibu dari dirigen Christoph von Dohnanyi
serta bekas walikota Hamburg Klaus von Dohnanyi. Ayahnya, Karl
Bonhoeffer, seorang psikiater terkemuka Jerman di Berlin; ibunya,
Paula mendidik di rumah semua anaknya.
Meskipun Dietrich mulanya diharapkan akan mengikuti
jejak ayahnya dalam bidang psikologi, sejak masa muda ia telah
memutuskan untuk menjadi seorang pendeta. Kedua orang tuanya
mendukung keputusannya. Ia belajar di sekolah tinggi di Tbingen
dan kemudian ia memperoleh gelar doktornya dalam teologi dari
Universitas Berlin. Karena Dietrich pada waktu itu baru berusia 24
tahun, ia tidak dapat ditahbiskan [menurut aturan gerejanya, ia harus berusia minimal 25
tahun untuk ditahbiskan]. Namun demikian, hal ini memberikan Dietrich kesempatan untuk
pergi ke luar negeri. Ia kemudian tinggal selama setahun di luar negeri untuk belajar di
program pasca-sarjana di Seminari Teologi Union. Pada masa itu, ia seringkali berkunjung ke
Gereja Baptis Abisinia di Harlem dan di situ ia berkenalan dengan bentuk musik yang disebut
oleh para etnomusikolog musik spiritual orang-orang Afrika-Amerika. Ia mengumpulkan
banyak sekali koleksi musik jenis ini yang kemudian dibawanya kembali ke Jerman.
Bonhoeffer kembali ke Jerman pada 1931, dan di sana ia mengajar teologi di Berlin
serta menulis beberapa buku. Sebagai seorang penentang Naziisme yang keras, ia terlibat,
bersama-sama dengan Martin Niemller, Karl Barth dan lain-lainnya, dalam membentuk
32
Confessing Church (Gereja yang Mengaku). Antara akhir 1933 dan 1935, ia melayani sebagai
pendeta dari dua gereja Protestan berbahasa Jerman di London, St. Paul dan Sydenham. Ia
kembali ke Jerman untuk memimpin sebuah seminari yang ilegal untuk para pendeta
Confessing Church (Gereja yang Mengaku), mula-mula di Finkenwalde dan kemudian di
daerah von Blumenthal dari Gross Schlnwitz yang ditutup ketika perang meletus. Ia kemu-
dian dilarang berkhotbah, dilarang mengajar, dan akhirnya dilarang untuk berbicara di depan
umum dalam bentuk apapun. Pada masa ini Bonhoeffer bekerja sama dekat sekali dengan
banyak lawan Adolf Hitler.
Pada Perang Dunia II Bonhoeffer memainkan peranan
penting dalam memimpin Confessing Church (Gereja yang
Mengaku) menentang kebijakan-kebijakan anti-Semitik Adolf
Hitler. Bonhoeffer adalah salah seorang yang menyerukan
perlawanan gereja yang lebih luas terhadap perlakuan Hitler
terhadap orang-orang Yahudi. Sementara Confessing Church
(Gereja yang Mengaku) tidak besar, Gereja ini merupakan
sumber perlawanan Kristus utama terhadap pemerintahan
Nazi di Jerman.
Pada 1939, Bonhoeffer bergabung dengan sebuah
kelompok gelap yang terdiri dari sejumlah perwira militer
berpangkat tinggi yang berbasis di Abwehr atau Kantor Intelijen Militer, yang ingin
menggulingkan rezim Sosialis Nasional dengan membunuh. Bonhoeffer ditangkap pada April
1943 setelah uang yang digunakan untuk menolong orang-orang Yahudi melarikan diri ke
Swiss berhasil ditelusiri kepadanya. Ia dituduh berkomplot dan dipenjarakan di Berlin selama
satu setengah tahun. Setelah gagalnya Rencana 20 Juli pada 1944, hubungan Bonhoeffer
dengan para anggota komplotan itu terbongkar. Ia dipindahakn ke serangkaian penjara dan
kamp konsentrasi dan berakhir di Flossenburg. Di sini ia dihukum mati dengan digantung
pada fajar tanggal 9 April 1945, hanya tiga minggu sebelum pembebasan kota itu. Juga
digantung karena peranan mereka dalam komplotan itu saudaranya Klaus serta iparnya Hans
von Dohnanyi serta Rdiger Schleicher.

2. Pendekatan berteologi Dietrich Bonhoefer


Dietrich Bonhoeffer sangat berhutang pada Karl Barth untuk teologinya, meskipun ia
adalah seorang pemikir yang mandiri. Bagi Bonhoeffer, "agama" tidak dapat diterima; semua
yang penting adalah suatu perjumpaan pribadi dengan Kristus. la berbicara tentang Yesus
sebagai "keberadaan untuk orang lain" dan seseorang yang
"dapat dimiliki dan dipahami di tengah Firman-Nya dan Gereja."
Masalah utama dalam memahami pemikiran Bonhoeffer
adalah bahwa ia meninggal sebelum tulisannya dikembangkan
secara penuh. Tentu saja banyak pernyataan yang penuh teka-
teki. Bonhoeffer sangat berhutang pada Karl Barth dan mengi-
kuti Teologi Dialektik, yang terlihat dalam banyak pernyataan-
pernyataan "kontradiksi" dari Bonhoerfer. Namun pada saat
seseorang mengevaluasi tulisannya, maka ada satu hal yang
benar: Para teolog "Tuhan Mati" yang sekular berakar pada
tulisan-tulisan Bonhoeffer yang menekankan ketidak-bergantungan manusia pada Allah.
33
Pernyataan-pernyataannya tentang kedewasaan manusia dalam ketidak-bergantung-an pada
Allah dengan keras melawan panggilan Kitab Suci untuk berpaling pada Allah dalam iman,
yang berarti mengakui kelemahan seseorang.
Jalan pikiran Bonhoeffer mengikuti pemikiran beberapa tokoh Neo-Ortodoksi lain-
nya, di antaranya Gogarten, yang memahami bahwa manusia telah menjawi dewasa dengan
akibatnya bahwa dunia telah menjadi sekuler. Kenyataan perkembangan dunia yang sema-kin
modern, bukan karena manusia meninggalkan Allah atau meninggalkan Kekristenan. Kita
tidak bisa membawa dunia kepada keadaannya di masa kuno atau mengajak manusia ke
zaman purba. Sejarah peradaban dunia dan manusia telah membawa manusia kepada kea-
daannya yang sekarang. Tugas teologi adalah membantu Gereja dan warganya mengubah
cara berpikir agar tetap eksis di tengah-tengah dunia dan manusia yang sudah menjadi
dewasa. Kini agama Kristen masih berpikir dan mengira bahwa ia bisa menunjukkan eksis-
tensi dirinya dan Allah menurut pola-pola kuno, menganggap bahwa manusia hanya bisa
hidup dalam ketergantungan dengan Allah, padahal sesungguhnya manusia sudah dewasa
dan merasa bahwa dirinya bisa hidup secara mandiri, termasuk bebas dari ketergantungan
kepada Allah. Agama Kristen terus berupaya menyelamatkan Allah, sebagaimana pema-
haman tradisional, dengan menekankan segi-segi kelemahan manusia sehingga manusia
harus bergantung kepada Allah.
Bagi Bonhoeffer, dalam berteologi termasuk dalam memahami Alkitab, Gereja harus
berangkat dari kesediaan untuk mengakui bahwa manusia modern sungguh-sungguh sudah
dewasa. Berteologi bagi orang-orang yang sudah merasa dewasa, tidak bisa lagi dengan me-
nekankan segi kelemahan manusia, melainkan justru menekankan segi kekuatan manusia.
Manusia harus diperhadapkan dengan Allah di tempat dimana manusia merasa kuat. Dalam
kaitan penafsiran Alkitab, Bonhoeffer mengemukakan suatu metode yang ia sebut dengan
interpretasi non-religius terhadap pengertian-pengertian Alkitab. Ketika berbicara tentang
Allah, kita harus berbicara tentang Allah secara duniawi. Ide interpretasi non-religius ini be-
lum cukup jelas dipaparkan oleh Bonhoeffer, ketika kematian harus menjemputnya di tiang
gantungan. Hal yang samar-samar bisa ditemukan dalam penegasannya bahwa hidup bera-
gama pada dasarnya nyata dalam kehidupan yang sekuler. Berbicara mengenai hal-hal ter-
akhir (eskatologi) sesungguhnya berbicara mengenai kenyataan hidup pada masa kini yang di
dalamnya manusia berjuang untuk mengalami hidup sejahtera sebagaimana diungkapkan di
dalam ungkapan eskatologis Alkitab. Adanya pengharapan eskatologis sesungguhnya adalah
ajakan kepada manusia yang sudah dewasa untuk berjuang bersama-sama Tuhan dan
bersama-sama dengan sesama dalam meraih kesejahteraan pada masa kini.

3. Teologi Boenhoefer tentang Religi


Bonhoeffer menegaskan bahwa pada zaman ini adalah za-
man akhir religi. Pada masa kini, kata Bonhoeffer, bukanlah zaman-
nya orang untuk meyakinkan orang lain dengan kata-kata saleh,
sekalipun hal itu baik. Orang tidak lagi menyembah apa pun. Kekris-
tenan hingga zaman Boenhoeffer mengungkapkan ajarannya dalam
bentuk religi, padahal religi itu bersifat sementara. Kerangka religi itu
adalah: orang berpikir di dalam dua ruang, yaitu bahwa Allah berada
pada suatu tempat di atas dunia, sedangkan manusia berada di bawah. Dari dunia atas itulah
Allah turun tangan ke dalam dunia bawah. Dari dunia bawah manusia rindu terhadap dunia
34
atas yang lebih tinggi dan lebih baik. Itulah apa yang disebut Bonhoeffer sebagai apriori
religius yang menjadi dasar religi. Manusia menerima adanya dua dunia (dunia alam atas dan
alam bawah) dan mengembangkan kehidupan yang bersifat individual bagi keselamatan
pribadi, dan rindu akan keselamatan di dunia akhirat yang lebih baik.
Persoalannya, apriori itu sebenarnya sudah gugur bagi manusia modern. Pada
kenyataannya, di dunia modern, kedudukan Allah tersebut terus terdesak sejalan dengan
kemampuan manusia mengejar posisi Allah yang tadinya berada di luar jangkauan pemi-
kiran manusia. Bonhoeffer menegaskan bahwa iman Kristen bukan suatu religi keselamatan
di seberang sana, di seberang maut. Iman Kristen tidak memberi kesempatan kepada manu-
sia untuk lari ke kekalan, tetapi iman Kristen menunjuk kepada kehidupan di dunia ini dengan
segala keadaan yang ada. Kekristenan tidak menghapuskan nilai-nilai hidup di dunia ini,
melainkan mengokohkan nilai-nilai hidup agar kehidupan bisa dialami secara penuh di dunia
ini. Manusia harus menerima Kristus di tengah-tengah dunia ini. Trandensi Allah hanya dapat
dialami di dalam imanensi Allah di dalam dunia nyata ini. Allah ada di tengah-tengah hidup
kita manusia, tetapi sekaligus ada di seberang sana.
Sejalan dengan pemikiran Bonhoeffer mengenai religi tersebut, salah satu pemikiran
menarik Bonhoeffer adalah tulisannya mengenai Kekristenan yang tanpa agama, namun
belum tuntas diuraikannya sehingga menimbulkan banyak teka-teki. Sebagian orang mema-
hami pernyataan itu secara positif, mengusulkan bahwa pemuridan duniawi di mana kehi-
dupan ini dijalani dengan tanggung jawab "di bawah aspek Allah sebagai realitas terakhir".
Hal itu bisa berarti suatu kehidupan yang berdisiplin dalam dunia ini sebagai seorang murid
Kristus. Namun, para teolog radikal di tahun 1960-an, juga mendapatkan dorongan pernya-
taan Bonhoeffer tentang Kekristenan tanpa agama. Oleh karena itu, sebagian orang
memahami Bonhoeffer sebagai mengajarkan bahwa "manusia dewasa" yang telah sampai
pada masanya harus belajar untuk hidup independen dari Allah. Bonhoeffer menolak
pemikiran tentang "sakral" dan "sekular"; ia melihat kebutuhan untuk melayani Kristus di
dunia dan bukan hanya di wilayah yang "sakral" tetapi juga di wilayah "sekular".
Bonhoetfer melihat Kristus aktif dalam kehidupan sekular. Kristus bukan terasing dari
dunia kita yang tidak religius, tetapi Ia hadir di dalamnya. la menghadapi orang-orang, bukan
dalam proses kuno tentang penyesalan, iman, pertobatan, regenerasi dan pengudusan,
tetapi dengan cara baru, yaitu melalui sikap-sikap mereka yang "tidak saleh". Letters and
Papers from Prison yang sangat berpengaruh mengekspresikan penekanan Bonhoeffer pada
pengorbanan dan disiplin. Gereja, hanya disebut gereja bila ia eksis untuk yang lain. Para
pejabat Gereja harus bisa terlibat pada semacam panggilan sekular. Gereja juga harus
terlibat dalam masalah sekular dari manusia untuk menolong dan melayani.
Kekeristenan berarti persekutuan melalui Kristus Yesus dan di dalam Kristus Yesus.
Tidak ada persekutuan Kristen yang melebihi atau kurang dari ini. Apakah itu suatu
pertemuan singkat, perjumpaan pribadi ataupun persekutuan bertahun-tahun, persekutuan
Kristen hanya ini. Kita dimiliki satu sama lain hanya melalui dan didalam Kristus Yesus.
Seorang Kristen membutuhkan yang lain di sebabkan oleh Kristus Yesus. Seorang Kristen
datang kepada yang lain hanya melalui Kristus Yesus. Di dalam Kristus Yesus, kita telah di pilih
dari kekekalan, di terima dalam waktu dan di satukan di dalam kekekalan. Seorang Kristen
adalah seorang manusia yang tidak mengejar keselamatannya sendiri, kelepasannya sendiri,
kebenarannya sendiri selain di dalam Kristus Yesus. Dia membutuhkan saudara seiman
sebagai pembawa dan yang menyatakan firman keselamatan dari yang ilahi. Dia

35
membutuhkan saudara seimannya sebab Kristus Yesus. Persekutuan
Kristen menegaskan bahwa mereka bertemu satu sama lain sebagai
pembawa berita selamat. Untuk itulah Allah mengijinkan mereka
bertemu satu dengan yang lain dan memberikan mereka persekutuan
tempat berinteraksi bersama.

4. Teologi Bonhoefer tentang Etika Situasional


Bonhoeffer adalah salah satu teolog yang mengembangkan
pemikiran etis secara kontekstual sesuai dengan situasi yang diha-
dapi. Hal ini berangkat dari pengalamannya pribadi yang hidup di
tengah-tengah situasi penuh hambatan, dan sering keputusan etis harus diambil berdasarkan
situasi konkrit yang tidak dijumpai pola untuk menanggapinya. Dalam hal ini Bonhoeffer
menjadi salah satu tokoh yang mengembangkan Etika Situsaional. Untuk memahami
pemikiran Bonhoeffer tersebut, contoh pertama bisa ditelusuri melalui salah satu pokok
tulisannya, yaitu: Apakah yang Dimaksud dengan Berkata Benar.
Bagi Bonhoeffer, mengatakan kebenaran berarti berbicara tentang kebenaran yang
hidup, yaitu yang mempertimbangkan situasi aktual yang di dalamnya kita berbicara dan
khususnya orang-orang kepada siapa kita berbicara. Dalam hal ini, maka berkata benar bisa
berbeda-beda menurut situasi khusus dimana dan dalam keadaan apa serta kepada siapa
seseorang berkata-kata. Haruslah dipertimbangkan perelasian kita pada setiap waktu.
Haruslah dipertanyakan apakah dan dengan cara bagaimanakah kita berhak menuntut per-
kataan yang benar dari orang lain.
Kebenaran itu betul sepanjang tidak dilupakan bahwa Allah bukanlah suatu prinsip
umum, tetapi Allah yang hidup yang telah menempatkan kita di dalam duatu kehidupan dan
yang meminta pelayanan kita di dalam kehidupan ini. Jika berbicara tentang Allah, kita tidak
boleh mengabaikan begitu saja dunia yang aktual yang di dalamnya kita hidup. Jikia ini
diabaikan, maka kita tidak berbicara tentang Allah yang masuk ke dalam dunia di dalam Yesus
Kristus, tetapi tentang suatu konsep metafisik. Kejujuran kita terhadap Allah dapat terwujud
hanya di dalam kehidupan konkrit dengan berbagai perelasiannya. Kejujuran yang wajib kita
berikan kepada Allah harus mengambil bentuk yang nyata di dalam dunia. Perkataan kita
haruslah benar, bukan secara prinsip, tetapu secara konkrit. Suatu kejujuran yang tidak
konkrit, tidaklah benar di hadapan Allah, karena Allah adalah Allah yang konkrit di dalam
Yesus Kristus.
Bonhoeffer menegaskan, hanya orang sinislah yang mengaku berbicara benar dengan
cara yang sama, kapan saja, dimana saja, dan kepada siapa saja. Orang semacam itu
menganggap dirinya sebagai penganut kebenaran yang begitu mulia sehingga tidak dapat
memberi kelonggaran bagi kelemahan manusiawi. Tetapi dalam kenyataannya, ia sedang
menghancurkan kebenaran yang hidup di antara manusia. Ia mengabaikan rasa malu, ra-
hasia dan rasa percaya. Ia mengkhianati masyarakat dimana ia hidup, dan menyombongkan
diri di atas kehancuran yang telah ia lakukan dan atas kelemahan manusia yang tidak tahan
mendengar kebenaran. Namun perlu diakui bahwa konsep tentang kebenaran yang hidup
mengandung bahaya, jika itu menimbulkan sangkaan bahwa kebenaran dapat dan boleh
disesuaikan dengan setiap situasi tertentu sedemikian rupa sehingga menyempitkan kesen-
jangan antara kebenaran dan kepalsuan sampai kedua hal itu tidak dapat lagi dibedakan. Apa
yang dikatakan tentang perlunya melihat situasi nyata busa disalahpahami seolah-olah kita
36
boleh memutuskan sebesar apa proporsi kebenaran yang akan kita singkapkan kepada orang
lain.
Penegasan inti Bonhoeffer mengenai Etika Situasional terebut adalah: bahwa berkata
benar tidak identik dengan kesesuaian antara perkataan dengan kenyataan yang dikatakan,
dan bahwa berkata dusta atau berbohong tidak identik dengan ketidaksesuaian antara per-
kataan dengan kenyataan yang dikatakan. Kebohongan tidak dapat dibatasi dalam istilah
baku seperti: ketidaksesuaian antara pikiran dan perkataan. Ketidaksesuaian ini bahkan
bukan unsur yang mutlak dalam kebohongan. Ada suatu cara berbicara dalam pengertian ini
yang sepenuhnya benar, tetapi yang sekaligus suatu kebohongan. Bahkan diam yang dise-
ngaja dapat pula menyatakan suatu kebohongan. Kebohongan adalah penolakan, penyang-
kalan dan perusakan yang disadari dan disengaja atas realitas yang diciptakan Allah dan yang
berada di dalam Allah, tak peduli apakah tujuan ini dapat dicapai melalui perkataan atau
melalui diam.
Contoh berikutnya dalam memahami Etika Situasional oleh Bonhoeffer, bisa pula
ditelusuri melalui pengalam,an hidupnya pada zaman Nazi Jerman.
Pada zamannya, propaganda Nazi semakin merasuk masyarakat. Di
mana-mana ada cabang Remaja dan Pemuda Nazi yang fanatik dan
arogan. Kebencian terhadap orang Yahudi terus ditiupkan. Puncaknya
terjadi pada tanggal 10 November 1938 ketika secara serentak di tiap
kota pengikut Nazi merusak, menjarah dan membakar sinagoge,
rumah dan toko orang Yahudi. Malam itu Bonhoeffer terpaku di
depan Mazmur yang dibacanya, yaitu Mzm. 74:8 yang berbunyi:
"Mereka berkata dalam hatinya: 'Baiklah kita menindas (Ibr.: yonach
= menghancurkan, merampas, menjarah) mereka se-muanya!'
Mereka membakar segala tempat pertemuan Allah di negeri."
Sadar akan pengaruhnya terhadap orang banyak, Hitler membujuk dan menipu
Gereja dengan mendapatkan dukungan besar dari kaum rohaniwan Lutheran dan Katolik. Ide
Gereja Jerman sendiri telah menyentuh "orang-orang Kristen Jerman". Ide-ide Nazi sudah
mulai menyusup ke dalam gereja. Namun, yang lain takut serta mencurigai Hitler dan idenya
tentang keunggulan ras Aria. Kira-kira sepertiga kelompok rohaniwan Protestan, yang
memimpin apa yang dinamakan Confessing Church (Gereja yang Mengaku), menentang pe-
mimpin Jerman ini. Pada tahun 1935, Bonhoeffer menjadi Ketua Confessing Church
Seminary. Tetapi, seminari itu ditutup pada tahun 1937, dan Bonhoeffer dilarang
menerbitkan ataupun berbicara di muka umum. Dua tahun kemudian, ketika ditawarkan
kemungkinan untuk pindah mengajar di Amerika, Bonhoeffer menolaknya dengan alasan
ingin melayani orang-orang bangsanya, yakni bangsa Jerman. Iparnya menarik dia dalam
gerakan perlawanan, dan Bonhoeffer pun telah menjadi bagian dari rencana pembunuhan
Hitler. la dan yang lain merasa bahwa Hitlerlah anti-Kristus itu. Jadi rohaniwan tersebut
menjadi agen ganda di kantor intel tentara Jerman.

37
Karena seminari Finkenwalde ditutup oleh polisi,
Bonhoeffer bekerja di Dinas Penerangan Militer. Ternyata di
kantor ini ada sejumlah perwira militer yang sudah muak
dengan kediktatoran Hitler. Sudah jutaan orang dibunuh atas
"nasihat" Hitler. Untuk mencegah jatuhnya lebih banyak
korban, Bonhoefer dan beberapa orang lain menyusun
rencana pembunuhan Hitler. Bonhoeffer menyadari bahwa
pembunuhan adalah keliru, tetapi hati nuraninya
memutuskan bahwa membunuh seorang pembunuh supaya
pembunuh itu berhenti membunuh jutaan orang lainnya
adalah ultima ratio atau pilihan terakhir yang terpaksa.
Tidak lama kemudian rencana itu diketahui polisi.
Ratusan orang langsung ditangkap. Juga Bonhoeffer. Di dalam
penjara Bonhoeffer terus membaca dan mengarang.
Kemudian hari tulisan-tulisannya itu ditemukan dan diterbitkan dengan judul Letters and
Papers from Prison. Tetapi beberapa bulan menjelang hukuman mati, Bonhoeffer dilarang
membaca dan menulis apa pun.
Suratnya yang terakhir ditujukan kepada Maria, tunangannya pada tanggal 17
Desember 1944. Inilah kata-kata terakhir dari tangan Bonhoeffer: .... sudah beberapa kali aku
mengalami bahwa semakin sunyi keadaan di sekitarku, semakin aku merasa dekat
kepadamu. Dalam kesunyianlah jiwa kita bertumbuh. ..... Sebab itu janganlah kamu mengira
bahwa aku tidak bahagia. Apakah kebahagiaan dan apakah ketidakbahagiaan? Itu bukan
bergantung pada keadaan di sekitar kita, melainkan bergan-tung pada apa yang sedang
terjadi dalam diri kita. Aku bersyukur mempunyai kamu dan itu membuat aku bahagia."
Pada tanggal 9 April 1945 subuh, ketika matahari belum lagi tampak, beberapa orang
terpidana hukuman mati berjalan menuju tiang gantungan di penjara Flossenburg. Mereka
didakwa melakukan tindakan makar terhadap pemerintahan Hitler. Seorang di antara
terpidana itu berusia setengah baya, berkaca mata, berdahi botak dan tampak sangat
terpelajar. Sebelum menaiki tangga tiang gantungan ia berlutut dan berdoa. Beberapa menit
kemudian lehernya dikalungi tali. Lalu tubuhnya terkulai lemas. Dokter yang berdinas
mengamati orang itu dan kemudian berkata, "Sudah hampir lima puluh tahun aku berdinas,
tetapi baru sekarang aku melihat orang yang menghadapi maut dengan sikap begitu pasrah
kepada Tuhan". Terpidana yang baru meninggal di tiang gantungan itu adalah Dietrich
Bonhoeffer, pakar teologi Jerman terkemuka yang buku-bukunya sampai sekarang dibaca
oleh mahasiswa teologi di seluruh dunia.
Meskipun banyak pertanyaan tentang dia yang belum terjawab, satu-satunya elemen
utama kepercayaan Bonhoeffer tidak dapat diragukan: Iman itu mahal. Bukunya, The Cost of
Discipleship (Harga Mengikut Yesus), mengajak orang-orang Kristen agar beriman kuat dan
menyangkal diri. Banyak orang yang telah menerima "anugerah murah" Kristen, yang
mendorong mereka beriman lemah, kata Bonhoeffer. Daripada memperlakukan bagian-
bagian etika Perjanjian Baru sebagai gagasan yang tak mungkin, orang-orang Kristen harus
mengusahakan hal itu. Agama yang sejati lebih daripada hanya memiliki ide-ide yang benar
tentang Allah; itu berarti mengikuti Dia sampai mati, jika perlu. Bonhoeffer mematuhi
fatwanya sendiri. Ketika berada dalam penjara, dia berupaya melayani orang lain. Pada
tanggal 9 April 1945 dia dihukum gantung dengan tuduhan mengkhianati negara. Meskipun

38
orang-orang Kristen sering mengalami problem etis dengan terlibatnya Bonhoeffer dalam
rencana membunuh Hitler, pendiriannya melawan berbagai upaya Hitler menjadikan Gereja
bagian dari rezim Nazi dan kesediaannya mati bagi Kristus, juga memberi setiap generasi
tantangan akan iman yang siap berkorban.

oooooooooooooooooooooooo000000000000ooooooooooooooooooooooooo

PERTEMUAN X
MENJELASKAN WARNA TEOLOGI YANG DISEBUT TEOLOGI MINJUNG

1. Konteks perumusan dan berkembangnya Teologi Minjung


Teologi ini dimulai di Korea Selatan pada periode 1970-an. Teologi Minjung adalah
hasil dari upaya sejumlah teolog Korea untuk merumuskan suatu teologi yang bertolak dari
keadaan rakyat jelata di Korea. Teologi ini lahir pada satu konsultasi atas prakarsa Komisi
Teologi Dewan Gereja-gereja Nasional di Korea, yang diadakan di Seoul pada 22-24 Oktober
1979. Tema pokok yang diangkat dalam Komisi Teologi Dewan Greja-gereja Nasional di Korea
adalah Umat Allah dan misi Gereja (The People of God and the Mission of the Church).
Gerakan Minjung di Korea Selatan yang dimulai pada periode 1970-an sebenarnya bisa
menjadi inspirasi bagi teolog di Asia pada umumnya, karena pengalaman bersama pernah
dijajah pada masa kolonialisme. Dalam pada itu faktor sosioekonomis juga tempat yang
penting dalam usaha memahami gerakan Minjung.
Tahun 1970-an muncul teologi Minjung (min=rakyat; jung=massa) di Korea. Istilah
minjung diterjemahkan sebagai rakyat jelata. Kaum teolog menerjemahkannya sebagai
orang-orang yang tertindas secara ekonomis, sosial, politik, atau dengan cara lainnya.
Munculnya teologi minjung merupakan konsekuensi logis dari kediktatoran Park Chong-hee
di tahun 1971 yang memenjarakan banyak kaum intelektual dan kelas menengah Kristiani.
Teologi minjung lahir sebagai refleksi atas kemungkaran politik di Korea. Peristiwa tersebut
dicatat ulang oleh Michael Amaladoss,SJ dalam tulusannya Life in Freedom: Liberation Theo-
logies from Asia. Pada dekade yang sama (1970-an) di Filipina juga lahir gerakan pembebasan
yang dikenal sebagai Teologi Perjuangan (theology of Struggle) yang sedikit banyak dirasuki
oleh semangat Teologi Pembebasan (theology of liberation) di Amerika Latin pada tahun
1970. Di India muncul gerakan serupa yang dikenal sebagai teologi Dalit (dalit=patah, diinjak-
injak, tertindas). Kaum Dalit adalah orang-orang tertindas, para petani miskin yang hidup dari
kerja upah pada tuan-tuan tanah yang rakus dan pongah.

2. Pengertian terhadap istilah Minjung.

39
Minjung adalah kosa kata Korea yang terdiri dari dua kata kombinasi aksara Cina
(hanja), yaitu Min dan Jung. Min dapat diterjemahkan sebagai orang-orang atau rakyat. Jung
berarti massa atau banyak, sehingga Minjung berarti "rakyat banyak". Jika kata Minjung
diterjemahkan secara harfiah ke dalam bahasa Inggris, maka menjadi People (orang banyak),
tatapi terjemahan ini tidak menjelaskan maksud asli dari orang-orang Korea. Minjung
sebenarnya merujuk kepada orang-orang yang ditekan secara politik, mengalami
diskriminasi, dan miskin. Minjung juga merujuk pada orang-orang yang tidak memilki keku-
atan, yaitu lemah dalam kelas mereka, budaya, ras dan agama.
Kim mendefinisikan Minjung sebagai...
the poor, the weak, the sick, the cripled, the blind, the captive the people
who are politically oppressed, economically deprived, exploited and, therefore,
poor, socially alienated and culturally and religiously repressed or
discriminated against.1
(Terj. Orang miskin, lemah, orang sakit, orang cacat, orang buta,
tertawan ... orang-orang yang ditindas secara politis,
kehilangan ekonomi, dieksploitasi dan, oleh karena itu, miskin,
terasing secara sosial dan budaya dan agama ditekan atau
didiskriminasikan)

Definisi Kim tersebut memahami bahwa Minjung adalah masyarakat kelas bawah
yang lemah dan tidak berdaya dalam berbagai peristiwa politik, sosial, dan ekonomi. Dari
definisi istilah Minjung tersebut sekaligus menempatkan adanya relasi lintas batas antar
manusia, khususnya relasi dengan kaum miskin dan tertindas. Namun demikian, Minjung
juga menunjuk kepada masyarakat kelas atas. Demikian David Kwang-sun Suh, menegaskan:
We had the unspoken common understanding that the minjung is present where there
is socio-cultural alienation, economic exploitation and political opression. That is the
place, we thought, where we should be and where we should work. Therefore, a
woman is a minjung when she is dominated by a man, by the family or by socio-
cultural structure and factors. An ethnic group is a minjung group when it is politically
and economically discriminated against by another ethnic group. A race is minjung
when it is dominated by another powerfull ruling race, as in a colonial situation. When
intellectuals are suppressed for using their creative and critical abilities against rulers
and powerful on behalf of the oppressed, then they too belong to the minjung.
Workers and farmers are minjung when they are exploited, whether they are aware of
it ot not. They are minjung when their needs, demands and basic human rights are
ignored, and crushed down by ruling powers. 2
Terjemahan :
Kami memiliki pemahaman umum yang tak terucap bahwa minjung
hadir di mana ada keterasingan sosial budaya, eksploitasi
ekonomi dan opresi politik. Itulah tempatnya, kami pikir, kemana
kita seharusnya dan dimana kita harus bekerja. Karena itu,
seorang wanita adalah seorang minjung saat didominasi oleh pria,
keluarga atau oleh struktur dan faktor sosial budaya. Kelompok
etnis adalah kelompok minjung ketika didominasi secara politis
dan ekonomi oleh kelompok etnis lain. Perlombaan adalah minjung
ketika didominasi oleh ras penguasa yang berkuasa, seperti dalam
situasi kolonial. Ketika para intelektual ditekan untuk

1 Kim Yong-Bock, Messiah and Minjung: Christs Solidarity with the People for New Life, (Hong Kong: CCA
Urban Rural Mission, 1992), 5,7.
2 David Kwang-sun Suh, The Korean Minjung in Christ, (Hongkong: CCA Urban Rusal Mission, 1991), 24-25.
40
menggunakan kemampuan kreatif dan kritis mereka melawan penguasa
dan berkuasa atas nama yang tertindas, maka mereka juga termasuk
dalam minjung. Pekerja dan petani minjung saat mereka
dieksploitasi, entah mereka menyadarinya atau tidak. Mereka
minjung saat kebutuhan, tuntutan dan hak asasi manusia mereka
diabaikan, dan dihancurkan oleh kekuasaan yang berkuasa

Keberadaan Minjung terkait erat dengan adanya kaum Penguasa atau Technocracy
yang membuat kaum Minjung menjadi Minjung. Untuk menggambarkan hubungan antara
penguasa dengan Minjung, Kim menegaskan bahwa para penguasa akan datang silih ber-
ganti sementara Minjung merupakan realitas yang selalu ada. Selanjutnya Kim menegaskan:
The minjung are the permanent reality of history. Kingdoms, dynasties and
states rise and fall; but the minjung remain as a concrete reality in history,
experiencing the comings and going of political powers. Although the minjung
understand themselves in relation to the power which is command, they are no
confined by the power. The minjung transcend the power structure which
attempt to confine them through the unfolding of their stories. Power has its
basis in the minjung. But power as it expresses itself in political powers does
not belong to the minjung. The powers seek to maintain themselves, and they
rule the minjung.3
Terjemahan :
Minjung adalah realitas sejarah yang tetap. Kerajaan, dinasti
dan negara bangkit dan terjatuh; Tapi minjung tetap sebagai
realitas nyata dalam sejarah, mengalami kemunculan dan
kemunculan kekuatan politik. Meskipun minjung memahami diri
mereka sendiri dalam kaitannya dengan kekuatan yang merupakan
perintah, mereka tidak dibatasi oleh kekuatan. Minjung melampaui
struktur kekuasaan yang berusaha membatasi mereka melalui
terbukanya cerita mereka. Kekuasaan memiliki basis di minjung.
Tapi kekuatan karena mengekspresikan dirinya dalam kekuatan
politik bukan milik minjung. Kekuatan berusaha mempertahankan
diri, dan mereka memerintah minjung.

Teologi Minjung tumbuh dari perjuangan para minjung dalam menuntut keadilan agar
dapat menjadi penentu nasibnya sendiri. Teologi Minjung berangkat dari pengalaman orang-
orang Kristen di Korea Selatan dalam perjuangan untuk meraih keadilan sosial mereka di
dalam masyarakat. Teologi ini menjadi upaya untuk merumuskan pergumulan rakyat jelata
yang sudah lama tertindas dan hidup dalam penderitaan. Teologi ini memakai nama Minjung
ketika para teolog, pekerja muda, mahasiswa, imam dan pastor, mengadakan pertemuan dan
saling bercerita satu sama lain. Teologi Minjung menjadi himpunan dan artikulasi refleksi
terhadap rakyat, perkerja remaja perempuan yang menderita di pabrik, petani, mahasiswa
yang diseret dalam pengedilan militer, para profesor dan wartawan yang diculik. Teologi
Minjung berangkat dari sejarah kebudayaan dan religi rakyat. Teologi Minjung bukan hanya
menjadi teologi politis, tetapi juga teologi rakyat.
Unsur-unsur kebudayaan dan sejarah Korea menjadi ciri khas yang digunakan dalam
teologi ini dalam menginterpretasikan Iman Kristen. Kata kunci dari Minjung adalah istilah
3 Kim Yong Bock, Messiah and Minjung: Discerning Messianic Politics over Against Political Messianism
dalam Kim Yong Bock (ed.), Minjung Theology: People as the Subject of History, (Singapore: CCA The
Commission on Theological Concerns, 1981), 185.
41
han, penderitaan tanpa kuasa dan untuk membebaskan diri dari penderitaan tersebut.
Tujuan dari teologi Minjung menjadikan Injil Kristus sebagai harapan Minjung untuk mem-
perjuangkan keadilan, persekutuan dan kedamaian, yang adalah unsur mesianik yang dipro-
klamasikan Kristus. Teologi Minjung mengarah pada perpekstif kesamaan dalam kehidupan
yang sederajat. Pandangan penganut teologi Minjung mencoba memahami Alkitab dalam
memperlakukan manusia secara setara berdasarkan kesediaan Kristus berada bersama-sama
dengan rakyat minjung pada zamannya. Hal ini, misalnya, dicerminkan dari pemak-naan
Injil Markus 1:22 "Ia menjauhkan diri-Nya, malainkan Ia makan dan minum bersama dengan
Minjung."
Hal ini lebih lanjut, misalnya tampak pada bagaimana cara para teolog minjung mem-
perlakukan Alkitab. Sekedar untuk memberi contoh hal tersebut, tampat dalam beberapa
skema sejarah Alkitab berikut.
Markus 9:35 dan 10:44. jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu hendaklah dia
menjadi yang terakhir dari semuanya, dan pelayan dari semuanya. Ini menunjukan
kerendahan, Yesus Kristus mau merendah di antara semuanya. Yesus menjadi orang
yang merendahkan diri-Nya dalam kehidupan-Nya.
Filipi 2:5-8: di sini dikatakan bahwa Yesus adalah Tuhan, Dia mau merendah dirinya
dan taat sampai mati. Yesus merendahkan diri-Nya pada posisi paling rendah, sama
seperti Minjung, bahkan dengan kaum Minjung yang paling rendah di antara yang
paling rendah.
Yesaya 11:1-9: gereja yang benar adalah gereja yang bersekutu/berkumpul. Umat
berkumpul menantikan kedamaian yang akan datang. Orang yang berkumpul terse-
but bukanlah sekumpulan orang-orang kaya saja, melainkan masyarakat yang perca-
ya. Sama seperti Minjung juga adalah masyarakat yang bersama-sama berkumpul.

3. Pemahaman Kristologi dan Eklesiologi menurut perspektif Teologi Minjung.


Yesus berhubungan dan hidup bersama dengan orang yang tertindas dan miskin atau
dalam konteks Korea disebut sebagai Minjung. Yesus tidak menjauhkan diri-Nya dari rakyat
yang tertindas atau minjung. Yesus makan dan minum bersama dengan orang yang tertin-
das. Injil Markus 1:22, melaporkan bahwa banyak orang senantiasa tinggal dan bersama-Nya.
Orang banyak tersebut disebut Oklos. Oklos berarti mereka yang berhimpun di sekitar Yesus
atau mereka ikut dalam kiprah Yesus.

4. Memahami Missiologi menurut perspektif Teologi Minjung.


Untuk memahami Minjung, perlu dikemukakan tentang kedudukan kaum Minjung
dalam sejarah dunia. Sekalipun Minjung adalah pihak yang termarjinalkan, namun mereka
sesungguhnya adalah subjek sejarah (subjects of history) yang diwujudkan dalam pengorba-
nan dan perjuangan terus-menerus untuk mengatur perjalanan sejarah. Sebagai subjek seja-
rah, penderitaan dipahami secara dinamis, bahwa di dalamnya terkandung nilai perjuang-
an.4 Bentuk pengalaman penderitaan tersebut mencakup keseluruhan eksistensi diri, kese-
luruhan hidup Minjung, mulai tubuh fisik sampai jiwa dan roh yang mengalami sheol dalam
hidup. Untuk manusia, sejarah Minjung adalah sejarah penderitaan manusia dan sejarah

4 Suh Nam Dong, Historical References for a Theology of Minjung dalam ibid., 155-184.
42
penderitaan manusia adalah sejarah Minjung. Sejarah Minjung tersebut akan selalu hadir
dalam sejarah.5
Sejarah penderitaan sebagai sejarah perjuangan Minjung tersebut sejalan dengan
beberapa bagian Alkitab yang menggambarkan perjuangan kaum Minjung dalam Alkitab
sebagai pelaku sejarah. Karena itu pengalaman penderitaan dan perjuangan Minjung
tersebut sekaligus menjadi ideologi perjuangan untuk memperoleh pembebasan dari tirani
kekuasaan untuk selanjutnya hidup dalam kebebasan, keadilan dan damai yang seutuhnya.
Dalam sejarah penderitaan masyarakat Asia, Minjung telah dijadikan sebagai hamba dan
objek oleh technocracy yang memegang kendali atas kebudayaan dan intelektualitas, na-mun
pada kenyataan technocracy hanya mendatangkan penderitaan bagi Minjung.6 Kare-nanya
Minjung sendiri harus bangkit dan diberikan kebebasan untuk bangkit, karena Minjung-lah
pelaku yang mungkin menghantar kehidupan bersama ke arah yang lebih baik dan
berkewajiban serta memiliki kekuatan menuntut technocracy agar bekerja demi kese-
jahteraan bersama.

5. Memahami Ekologi menurut perspektif Teologi Minjung.


Kembali pada pemikiran Kim, pihak lain termasuk ke dalam istilah Minjung adalah
alam lingkungan. Dalam pokok bahasan Justice, Peace and the Integrity of Creation: An
Asian Perspective, Kim menempatkan posisi alam-lingkungan sebagai salah satu unsur yang
bisa dimasukkan dalam istilah Minjung. Alam-lingkungan, pada satu sisi, berada pada posisi
sebagai pihak yang termarjinalisasi oleh kaum technocracy, pada sisi lain, juga sebagai bagian
dari pelaku sejarah perubahan dunia.

6. Aktualisasi bagi kegiatan berteologi masa kini


Gagasan tentang pengertian dan kedudukan kaum Minjung tersebut memiliki rele-
vansi kuat dalam konteks masyarakat Kalimantan secara umum, dan masyarakat Dayak khu-
susnya. Dijumpai sejumlah kesejajaran pengalaman Minjung Alkitab, Minjung Korea dengan
Minjung di Kalimantan dalam berhadapan dengan kaum technocracy mulai dari masa
pemerintahan Kolonial hingga masa kini.7 Berbagai peristiwa di Kalimantan, baik ber-kaitan
dengan kedudukan masyarakat Dayak yang ditempatkan sebagai objek dan penonton
pembangunan mau pun berkaitan dengan berbagai konflik etnis, memperlihatkan bahwa
masyarakat Dayak adalah subjek sejarah dalam membangun sejarah Kalimantan.
Penegasan khusus perlu diberikan pada pentingnya kedudukan alam lingkungan
sebagai bagian dari Minjung Kalimantan. Keprihatinan terhadap perlunya memberi penghar-
gaan terhadap alam telah menjadi keprihatinan seluruh bangsa-bangsa di dunia. 8 Kusni
dengan tegas dan berani mengatakan bahwa pendekatan sekulernya terhadap alam-lingku-
ngan telah menyebabkan eksploitasi alam tanpa batas yang kini berdampak pada hancurnya
ekosistem alam Kalimantan. Padahal dengan perusakan alam, dalam konteks masyarakat

5 Choan Seng Song, Jesus & the Reign of Gof, (Minneapolis: Fortress Press, 1993), 121-123.
6 Michael Amalados, Life in Freedom: Liberation Theologies from Asian, (New York: Orbis Books, 1997), 7.
7 Michail Coomans, Manusia Daya: Dahulu, Sekarang, Masa Depan (terj.), (Jakarta: Rineka Cipta, 1987),
145-164.
8 Wesley Granberg-Michaelson, Menebus Ciptaan: Konferensi Tingkat Tinggi Bumi di Rio Tantangan bagi
Gereja-Gereja (terj.), (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994), 1-5.
43
Dayak, sama dengan tindakan menyerang sistem hidup bahkan tindakan menyerang hidup
masyarakat Dayak itu sendiri. Tindakan menyerang alam lingkungan sama juga dengan
menyerang keilahian, karena alam lingkungan merupakan rumah kediaman Yang Ilahi. Hal ini
menyiratkan perlunya penghargaan terhadap manusia bersama-sama dengan alamnya, dan
bahwa di dalamnya berlangsung pula ibadah kepada Allah. Dalam kaitan ini kita diingatkan
kembali bahwa keseimbangan ekosistem menjadi ukuran keabsahan teologi masa kini, dan
bahwa Kristologi semestinya dirumuskan sejalan dengan kosmologi bagi keseimba-ngan
kosmos.
Penegasan Amalados dalam pokok bahasan Having or Living cukup untuk
menegaskan kembali perlunya membangun kehidupan bersama dalam alam semesta:
This way of looking at life contrasts with the traditional way of life, where
humans lived in harmony with nature and nature supplied their needs. Even
when human produced their food through agriculture, hunting, or fishing, they
respected nature and its processes of regeneration. Life was lived in community
and solidarity. The earth was seen as the gift of God, given in common to all,
and people were not allowed to appropriate it for selfish purposes. People were
not against attempts to understand nature or the use of technology, but nature
was understood in order to be better in harmony with it.9
Terjemahan :
Cara pandang hidup ini kontras dengan cara hidup tradisional,
dimana manusia hidup selaras dengan alam dan alam menyuplai
kebutuhan mereka. Bahkan ketika manusia menghasilkan makanan
mereka melalui pertanian, berburu, atau memancing, mereka
menghormati alam dan proses regenerasinya. Hidup itu hidup dalam
komunitas dan solidaritas. Bumi dipandang sebagai anugerah
Allah, yang sama bagi semua orang, dan orang-orang tidak
diijinkan untuk menyesuaikannya dengan tujuan egois. Orang tidak
melawan usaha untuk memahami alam atau penggunaan teknologi,
namun alam dipahami agar lebih selaras dengannya.

Kata oikonomia, dalam pemikiran Kim, memiliki makna yang sangat penting dalam
rangka menggambarkan totalitas suasana kehidupan masyarakat yang hidup dalam kehar-
monisan dan kepenuhan hidup seutuhnya, baik menyangkut persoalan lahiriah maupun
rohaniah. Dalam ungkapan jungle, untuk menggambarkan oikonomia Allah, oikonomia Allah
digambarkan sebagai persekutuan umat manusia dari berbagai budaya dan agama yang
berada dalam pergerakan untuk keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan guna
mewujudkan taman keadilan, koinonia dan shalom bagi semesta alam. Dalam oikonomia
Allah tersebut semua semua pihak (Allah, manusia dan alam lingkungan) menjadi subjek
sejarah yang secara aktif bergerak bersama-sama membangun keharmonisan dan keseimba-
ngan alam semesta. Dalam oikonomia Allah tersebut juga dijumpai kehidupan yang seutuh-
nya, serta perjuangan yang terus dilakukan untuk memperoleh kepenuhan hidup tersebut.
Dikaitkan dengan pelaku dalam rangka upaya membangun oikonomia Allah tersebut,
unsur pluralitas menjadi penekanan penting. Di muka telah diketengahkan bahwa pelaku
sejarah adalah Minjung dan technocracy secara bersama. Dalam kaitan dengan pluralitas
budaya dan agama masyarakat Asia, Kim berkali-kali menegaskan bahwa masyarakat Asia
adalah umat Allah dari Allah yang satu dan sama dengan Allah Alkitab. Sekedar sebagai con-
9 Amalados, LF-LTA, 49.
44
toh bisa dilihat dalam pasal 18, The Mission of God in the Context of the Suffering and
Struggling People of Asia. Di sini Kim menegaskan bahwa Gereja bertemu dengan berba-gai
bentuk tantangan, di antaranya, tantangan dari keanekaragaman sukubangsabudaya
agamasistim sosial ekonomi masing-masing kelompok masyarakat. Keanekaragaman terse-
but, perlu dijadikan sebagai sumber kekayaan untuk menjadi partners Gereja sebagai sesama
pelaku sejarah yang berjuang untuk memperoleh kebebasan, keadilan dan damai. Pluralitas
pelaku sejarah dikaitkan dengan unsur alam lingkungan dan keterkaitan antara manusia
dengan alam lingkungan secara keseluruhan, Amalados menegaskan:
Humans cannot think of themselves as living, except in community. They are
born in a community; they become human by relating to others and sharing a
culture that shapes them and the way they relate to others and the world. The
earth is the living basis or support of their lives together; it gives the air, water
and food necessary for life. One cannot think of human community except in
the context of community with the world. This common relatedness is
expressed in various ways by different religions.10
Terjemahan :
Manusia tidak bisa menganggap diri mereka hidup, kecuali di
masyarakat. Mereka lahir di sebuah komunitas; Mereka menjadi
manusia dengan berhubungan dengan orang lain dan berbagi budaya
yang membentuknya dan cara mereka berhubungan dengan orang lain
dan dunia. Bumi adalah dasar hidup atau dukungan hidup mereka
bersama; Itu memberi udara, air dan makanan yang dibutuhkan
seumur hidup. Kita tidak bisa memikirkan komunitas manusia
kecuali dalam konteks komunitas dengan dunia. Keterkaitan umum
ini diungkapkan dengan berbagai cara oleh agama yang berbeda.

Dalam kerangka teologi Minjung, kata kunci dalam memahami bentuk aktivitas
pembangunan oikonomia Allah tersebut adalah komunikasi dan solidaritas. Dalam pokok
bahasan Theological and Ethical Perspectives on Global Communication, Kim menge-
tengahkan peristiwa perjumpaan-peperangan budaya. Dalam perjumpaan-perang tersebut,
ada dominasi dari penguasa namun sekaligus ada perjuangan tak henti dari kaum Minjung
untuk menjadi pelaku komunikasi. Sejak awal masyarakat telah terjuang untuk membe-
baskan dirinya dari dominasi para penguasa sehingga terbangun berbagai bentuk komuni-
kasi di tengah-tengah masyarakat, misalnya dalam bentuk buku-buku rahasia keagamaan
atau cerita-cerita rakyat. Dalam komunikasi tersebut tiga karakter fundamental dalam
komunikasi menjiwainya, yakni partisipasi, solidaritas dan pembebasan. Alkitab merupakan
buku yang memuat komunikasi di antara umat Allah.
Peristiwa Menara Babel adalah lambang komunikasi yang didominasi dan
dikendalikan oleh para penguasa menurut satu bahasa, yakni bahasa penguasa. Sementara
peristiwa Pentakosta adalah peristiwa pembe-basan komunikasi dari dominasi dan kendali
para penguasa menjadi komunikasi dalam kendali masyarakat dan menurut keanekaragaman
baha-sa masyarakat. Selanjutnya Kim menyimpulkan: Communication must be understood
as a cultural koinonia in which all cultures interact creatively to enrich and fulfill each
other. Communication must under-stood as a cultural feast of the peoples. 11 (Terj.
"Komunikasi harus dipahami sebagai koinonia budaya dimana

10 Amalados, TPA, 52.


11 Kim, MM-CSPNL, 128.
45
semua budaya berinteraksi secara kreatif untuk memperkaya dan
memenuhi satu sama lain. Komunikasi harus di bawah-berdiri
sebagai pesta budaya masyarakat".)

Seiring dengan komunikasi, Kim juga menekankan pentingnya solidaritas (di dalam-
nya terkandung partisipasi) dalam proses pembangunan oikonomia Allah. Dalam mutual
part-icipation terjadi mutual solidarity sehingga masyarakat tampil as sovereign partners
dalam perjanjian dengan Allah. Dengannya, masyarakat dimungkinkan berbagi dan masuk
dalam suatu koinonia baru yang berisikan kasih-keadilan-damai-pengharapan-hidup baru
dalam oikonomia Allah yang ekumenis.12 Pergerakan ekumenis tersebut mencakup
keseluruhan unsur yang termasuk dalam ciptaan Allah. Antar keseluruhan unsur tersebut
dipahami dalam keterkaitan yang terintegrasi untuk secara bersama-sama berjuang
membangun Asia baru yang adil-damai-terintegrasi. 13 Kim mengetengahkan wujud dan
tujuan solidaritas Gereja bersama semua kelompok agama dan masyarakat Asia dalam
membangun oikonomia Allah tersebut:
In the ecumenical paradigm of solidarity, the basic framework of the life and
mission of the churches, as well as of the faith and order of the Christian
community, should be the oikonomia tou theo, the household of God which
manages the life of the people of God for their justice and shalom. In the
household of God in which all people participate, the koinonia, diakonia and
kerygma of the churches should be expressions of Gods solidarity with the
people.14
Terjemahan :
Dalam paradigma ekumenis solidaritas, kerangka dasar kehidupan
dan misi gereja, serta iman dan tatanan komunitas Kristen, harus
menjadi oikonomia tou theo, rumah tangga Allah yang mengelola
kehidupan rakyat Tuhan untuk keadilan dan shalom mereka. Di
dalam keluarga Allah di mana semua orang berpartisipasi,
koinonia, diakonia dan kerygma gereja harus menjadi ungkapan
solidaritas Allah dengan orang-orang.

Ini pula yang ditegaskan oleh Song sebagai communion of love, ketika ia mengatakan
This communion of love must be the vision of God as God moves on in fulfillment of the
divine purpose for human history. This communion of love is communion in life and
communion in hope.15 (Terj. Persekutuan cinta ini harus menjadi visi
Tuhan saat Tuhan bergerak dalam pemenuhan tujuan ilahi untuk
sejarah manusia. Persekutuan cinta ini adalah persekutuan
dalam kehidupan dan persekutuan dengan harapan)

Dari gambaran tersebut, nampak jelas bahwa suasana oikonomia Allah adalah
suasana damai antar seluruh penghuni semesta alam yang masing-masing pihak hadir
12 Bdk. Tissa Balasuriya, Teologi Siarah (terj.), (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994), 174-208.
13 Augustine Loorthusamy, Communication and Social Change dalam Yeow Choo Lak (ed.), op.cit., 30-38.
14 Kim, MM-CSPNL, 341.
15 C.S. Song, The Compassionate God: An Exercise in the Theology of Transposition, (London: SCM Press Ltd.,
1982), 259.
46
sebagai sesama subjects of history dalam mutual solidarity dan mutual participation. Dalam
berbagai unsur yang telah diutarakan berkaitan dengan oikonomia Allah nampak gambaran
hubungan rekonsiliatif antara Allah dengan manusia, antara manusia dengan sesama manu-
sia, dan antara manusia dengan alam lingkungannya. Tugas berikutnya adalah bersama-
sama-sama membangun oikonomia atau global village Allah tersebut, sehingga di dalamnya
hadir segala unsur yang diperlukan bagi terciptanya suasana shalom Allah.

oooooooooooooooooooooooo000000000000ooooooooooooooooooooooooo

47

Anda mungkin juga menyukai