Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Salah satu faktor untuk mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu
(AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) adalah kualitas SDM yang mampu
melaksanakan dan memberikan pelayanan yang bermutu serta profesional
sesuai dengan standar pelayanan kebidanan yang berlaku. Dalam standar
pelayanan kebidanan pertama terdapat persiapan untuk kehidupan keluarga
sehat yang bertujuan memberikan penyuluhan kesehatan (pendidikan
kesehatan) yang tepat.
Pendidikan atau promosi kesehatan pada hakikatnya adalah upaya
intervensi yang ditujukan pada faktor perilaku. Pendidikan dan prilaku kesehatan
adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Perilaku merupakan determinan
kesehatan, sedangkan pendidikan (promosi kesehatan) adalah bentuk intervensi
terhadap prilaku.
Promosi kesehatan merupakan pilar utama kesehatan masyarakat. Hal ini
dapat dipahami karena semua bidang atau program kesehatan mempunyai
aspek prilaku. Penyakit menular maupun tidak menular terjadi, bukan hanya
karena agen atau penyebab penyakit saja, melainkan juga karena faktor prilaku
manusia sendiri. Misalnya penyakit HIV/AIDS atau penyakit seksual lainnya, virus
tidak akan menular seksual lainnya, virus tidak akan masuk ke tubuh manusia
tanpa perilaku manusia, baik melalui hubungan seks maupun jarum suntik.
Demikian pula penyakit tidak menular, misalnya kegemukan, yang
merupakan faktor risiko berbagai penyakit seperti penyakit seperti jantung
koroner, diabetes melitus, hipertensi, dan sebagainya adalah akibat dari prilaku
manusia (makan tidak terkontrol, dan tidak melakukan aktivitas fisik atau
olahraga secara teratur). Begitu juga masalah kesehatan yang lain seperti
kesehatan lingkungan,kesehatan reproduksi, gizi, imunisasi, kecelakaan dan
sebagainya, selalu melibatkan perilaku.
Untuk intervensi terhadap faktor resiko perilaku terhadap penyakit atau
masalah kesehatan tersebut, tidak lain adalah promosi kesehatan. Disamping
promosi kesehatan diperlukan untuk mengurangi atau menghilangkan faktor
resiko masalah kesehatan atau penyakit tersebut.

1
Promosi kesehatan juga diperlukan oleh berbagai tingkat pelayanan.
Promosi kesehatan diperlukan pada tingkat preventif, promotif, kuratif dan
rehabilitatif. Itulah sebabnya, promosi kesehatan diperlukan semua program
kesehatan.
Promosi kesehatan merupakan cabang dari ilmu kesehatan yang
bergerak bukan hanya dalam proses penyadaran masyarakat atau pemberian
dan peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan semata. Akan
tetapi didalamnya terdapat usaha untuk memfasilitasi dalam rangka perubahan
perilaku masyarakat.
Karenanya, promosi kesehatan pada hakikatnya adalah suatu kegiatan
atau usaha untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat,
kelompok atau individu. Dengan harapan bahwa dengan adanya pesan tersebut
masyarakat, kelompok atau individu dapat memperoleh pengetahuan tentanng
kesehatan yang lebih baik. Sebab itu, pendidikan atau petugas yang melakukan
promosi kesehatan memerlukan pengetahuan yang baik mengenai metode
penyampaian pesan-pesan kesehaytan, alat bantu pendidikan kesehatan dan
juga teknik penyampaian serta media yang digunkan untuk menyampaikan
pesan-pesan kesehatan tersebut dengan harapan masyarakat dapat
memperoleh pengetahuan tentang kesehatan yang lebih baik dan dapat
berpengaruh terhadap perilakunya.

B. Tujuan
a. Agar dapat mengetahui pengertian dari promosi kesehatan.
b. Agar dapat mengetahui dan menerapkan tujuan dari promosi
kesehatan.
c. Agar dapat mengetahui dan menjalankan strategi dari promosi
kesehatan.
d. Agar dapat mengetahui tentang ruang lingkup dalam promosi
kesehatan.
e. Agar dapat mengetahui dan menjalankan metode dari promosi
kesehatan.
f. Agar mengetahui metode atau alat bantu apa yang digunakan
dalam menjalankan promosi kesehatan.
g. Agar dapat mengetahui pemecahan masalah melalui pendekatan
epidemiologi.

C. Sistematika

2
Makalah ini ditulis dengan mempergunakan metode kepustakaan
yang ditulis berdasarkan dari membaca buku-buku yang berkaitan dengan
penulisan makalah ini. Untuk mempermudah penulisan makalah ini
penulis membuat sistematika penulisan. Sistematika penulisan makalah
ini adalah sebagai berikut yaitu kata pengatar, daftar isi, bab satu
pendahuluan, bab dua pembahasan, bab tiga penutup. Dalam bab satu
terdiri dari sub-sub bab, yaitu: pendahuluan (latar belakang, tujuan, dan
sistematika penulisan). Bab dua terdiri dari sub-sub bab, yaitu: pengertian
promosi kesehatan, tujuan promosi kesehatan, strategi promosi
kesehatan, ruang lingkup promosi kesehatan, metode promosi kesehatan,
media atau alat bantu promosi kesehatan, dan pemecahan masalah
dengan pendekatan epidemologi. Bab tiga terdiri dari sub bab kesimpulan.

BAB II

PROMOSI KESEHATAN

A. Pengertian Promosi Kesehatan

3
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial
yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan
ekonomis. Pemeliharaan kesehatan adalah upaya penanggulangan dan
pencegahan gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan,
pengobatan dan/atau perawatan termasuk kehamilan dan persalinan.

Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia, selain


kebutuhan pangan, sandang, lapangan kerja dan sebagainya. Tujuan
pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan untuk hidup
sehat bagi setiap penduduk, jadi tanggung jawab untuk terwujudnya
derajat kesehatan yang optimal berada di tangan seluruh masyarakat
Indonesia, pemerintah dan swasta bersama-sama.

Salah satu usaha pemerintah dalam menyadarkan masyarakat


tentang hidup sehat dan pelaksanaannya bagaimana cara hidup sehat
adalah dengan cara melakuakan pendidikan kesehatan yang tidak hanya
didapat dibangku sekolah tapi bisa juga dilakukan dengan cara
penyuluhan oleh tim medis. Yang biasa disebut dengan promosi
kesehatan ataupun penyuluhan kesehatan.

Promosi kesehatan adalah upaya perubahan atau perbaikan


perilaku di bidang kesehatan disertai dengan upaya mempengaruhi
lingkungan atau hal-hal lain yang sangat berpengaruh terhadap perbaikan
perilaku dan kualitas kesehatan. Promosi kesehatan juga berarti upaya
yang bersifat promotif, kuratif, dan rehabilitatif dalam rangkaian upaya
kesehatan yang komperhensif.

World Health Organization (WHO) merumuskan promosi kesehatan


sebagai proses untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam
memeliharan dan meningkatkan kesehatannya. Selain itu, untuk mencapai
derajat kesehatan yang sempurna, baik fisik, mental, dan sosial
masyarakat harus mampu mengenal, mewujudkan aspirasinya,
kebutuhannya, serta mampu mengubah atau mengatasi lingkungannya.

4
Promosi kesehatan bukanlah hanya proses penyadaran
masyarakat atau pemberian dan peningkatan pengetahuan masyarakat
tentang kesehatan semata, akan tetapi di dalamnya terdapat usaha untuk
dapat memfasilitasi dalam rangkap perubahan perilaku masyarakat.
Dalam hal ini organisasi kesehatan dunia WHO telah merumuskan suatu
bentuk definisi mengenai promosi kesehatan.

Helath promotion is the process of enabling people to increase


control over, and improve, their health. To reach a state of complete
physical, mental, and social, well-being, an individual or group must be
able to identify and realize aspirations, to satisfy needs, and to change or
cope with the environment (Ottawa Charter, 1986).

Jadi, dapat disimpulkan dari kutipan tersebut di atas bahwa


promosi kesehatan adalah proses untuk meningkatkan kemampuan
masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Selain
itu untuk mencapai derajat kesehatan yang sempurna, baik fisik, mental,
dan sosial, maka mayarakat harus mampu mengenal serta mewujudkan
aspirasinya, kebutuhannya, dan mampu mengubah atau mengatasi
lingkungannya (lingkungan fisik, sosial budaya dan sebagainya).

Promosi kesehatan merupakan proses pemberdayaan masyarakat


agar mampu memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Proses
pemberdayaan tersebut dilakukan dari, oleh, untuk dan bersama
masyarakat. Artinya, proses pemberdayaan tersebut dilakukan melalui
kelompok-kelompok potensial di masyarakat, bahkan semua komponen
masyarakat. Proses pemebrdayaan tersebut juga dilakukan dengan
menggunakan pendekatan sosial budaya setempat.proses pembelajaran
tersebut juga dibarengi dengan upaya mempengaruhi lingkungan, bail
lingkungan fisik termasuk kebijakan dan peraturan perundangan.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkanbahwa promosi


kesehatan adalah program-program kesehatan yang dirancang untuk

5
membawa perubahan (perbaikan), baik di dalam masyarakat sendiri,
maupun dalam organisasi dan lingkungannya.

Maka, bedasarkan jenis aspek pelayanan kesehatan ini, promosi


kesehatan mencakup 4 pelayanan, yaitu:

1. Promosi kesehatan pada tingkat promotif


Sasaran promosi kesehatan pada tingkat pelayanan promotif
adalah pada kelompok orang yang sehat, dengan tujuan agar
mereka mampu meningkatkan kesehatannya. Apabila kelompok ini
tidak memperoleh promosi kesehatan, bagaimana memelihara
kesehatan, maka kelompok ini akan menurun jumlahnya, dan
kelompok orang yang sakit akan meningkat.
2. Promosi kesehatan pada tingkat preventif
Di samping kelompok orang yang sehat, sasaran promosi
kesehatan pada tingkat ini adalah kelompok yang beresiko tinggi.
Tujuan utama promosi kesehatan pada ingkat ini adalah untuk
mencegah kelompok kelompok tersebut tidak jatuh atau menjadi
terkena sakit.
3. Promosi kesehatan pada tingkat kuratif
Sasaran promosi kesehatan pada tingkat ini adalah para
penderita penyakit (pasien). Tujuan promosi kesehatan pada
tingkat ini agar kelompok inimampu mencegah penyakit tersebut
tidak menjadi lebih parah.

4. Promosi kesehatan pada tingkat rehabilitatif


Promosi kesehatan pada tingkat ini mempunyai sasaran
pokok kelompok penderita atau pasien yang baru sembuh dari
suatu penyakit. Tujuan utam promosikeshatan pada tingkat ini
adalah agar mereka segera pulih kembali kesehatannya dan/atau
mengurangi kecacatan seminimal mungkin. Dengan kata lain,
promosi kesehatan pada tahap ini adalah pemulihan dan
mencegah kecacatan akibat penyakitnya.
Dari ruang lingkup promosi kesehatan berdasarkan tatanan (tempat
pelaksanaan), mencakup sebagai berikut:
a. Promosi kesehatan pada tatanan keluarga

6
Keluarga adalah unit terkecil masyarakat. Untuk
mencapau perilaku sehat masyarakat, maka harus dimulai
pada tatanan masing-masing keluarga. Dalam prommosi
kesehatan keluarga ini, sasaran utamanya adalah orangtua
terutama ibu. Karena ibulah dalam keluarga yang sangat
berperan dalam meletakkan dasar perilaku sehat pada anak-
anak mereka sejak lahir.
b. Promosi kesehatan pada tatanan sekolah
Sekolah merupakan perpanjangan tangan keluarga,
artinya sekolah merupakan tempat lanjutan untuk meletakkan
dasar perilaku bagi anak, termasuk perilaku kesehatan. Peran
guru dalam promosi kesehatan di sekolah sangat penting,
karena guru pada umumnya lebih dipatuhi oleh anak-anak
daripada orangtuanya.
c. Promosi kesehatan pada tempat kerja
Promosi kesehatan di tempat kerja ini dapat dilakukan
oleh pimpinan perusahaan atau tempat kerja dengan
memfasilitasi tempat kerja yang kondusif bagi perilaku sehat
bagi karyawan atau pekerjanya, misalnya tersedianya air
bersih, tempat pembuangan kotoran, tempat sampah, kantin,
ruang tempat istrahat dan sebagainya.
d. Promosi kesehatan pada tempat-tempat umum
Tempat-tempat umum adalah tempat di mana orang-
orang berkumpul pada waktu-waktu tertentu. Di tempat-tempat
umum juga perlu dilaksanakan promosi kesehatan dengan
menyediakan fasilitas-fasilitas yang dapat mendukung perilaku
sehat bagi pengunjungnya.
e. Pendidikan kesehatan di institusi pelayanan kesehatan
Tempat-tempat pelayan kesehatan, rumah
sakit,puskesmas, balai pengobatan, poliklinik, tempat praktik
dokter, dan sebagainya adalah tempat yang paling strategi
untuk promosi kesehatan. Pelaksanaan promosi kesehatan di
institusi pelayanan kesehatan ini dapat dilakukan baik secara
individual oleh para petugas kesehatan kepada para pasien

7
atau keluarga pasien, atau dapat dilakukan pada kelompok-
kelompok.

B. Tujuan Promosi Kesehatan

Promosi kesehatan merupakan upaya perubahan atau perbaikan


prilaku dibidang kesehatan disertai dengan upaya mempengaruhi
lingkungan agar terjadi perubahan prilaku dan kualitas kesehatan.
Sebagai upaya primotof (peningkatan), kuratif (pengobatan), dan
rehabilitatif ( pemulihan) dalam rangka uoaya kesehatan yang
komperhensif, promosi kesehatan bertujuan untuk meningkatkan
pengetahuan atau sikap dan prilaku masyarakat agar hidup lebih sehat.
Dalam upaya meningkatkan status kesehatan masyarakat, menurut Green
(1990), tujuan promosi kesehatan terdiri atas tiga tingkatan , yaitu:

1. Tujuan Program
Tujuan program merupakan pernyataan tentang apa yang
akan dicapai dalam periode waktu tertntu yang berhubungan
dengan status kesehatan.
2. Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan merupakan deskripsi prilaku yang akan di
capai dapat mengatasi masalah kesehatan yang ada .
3. Tujuan Prilaku
Tujuan prilaku merupakan pendidikan atau oembelajaran
yang harus di capai (prilaku yang di inginkan). Oleh sebab itu,
tujuan prilaku berhubungan dengan pengetahuan dan sikap.

Dalam rangka mencapai tujuan promosi kesehatan tersebut, perlu


adanya visi dan misi yang jelas. Dalam konteks promosi kesehatan, visi
merupakan sesuatu atau apa yag ingin di capai dalam promosi kesehatan
sebagai salah satu bentuk oenunjang program-program kesehatan
lainnya. Tentunya akan mudah di pahami bahwa visi dari promosi
kesehatan tidak akan terlepas dari koridor Undang-Undang Kesehatan
Nomer 23 tahun 1992 serta organisasi kesehatan dunia WHO.

Adapun visi dari promosi kesehatan adalah meningkatnya


kemampuan masyarakat untuk memelihara dan meningkatkan derajat

8
kesehatan , baik fisik , mental, dan sosialnya sehingga produktif secara
ekonomi maupun sosial. Pendidikan kesehatan di semua program
kesehatan, baik pemberantasan penyakit menular, sanitasi lingkungan,
gizi masyarakat, pelayanan kesehatan, maupun program kesehatan
lainnya dan bermuara pada kemampuan pemeliharan dan peningkatan
kesehatan individu, kelompok, maupun masyarakat.

Dalam mencapai visi dan misi program kesehatan di perlukan


adanya suatu upaya yang harus dilakukan dan lebih di kenal dengan
istilah misi. Misi program kesehatan merupakan upaya yang harus di
lakukan dan mempunyai keterkaitan dalam pencapaian suatu visi.

Secara umum misi dari promosi kesehatan sebagai berikut :

1. Advokasi (advocation)
Advokasi merupakan perangkat kegiatan yang terencana
yang ditujukan kepada para penentu kebijakan dalam rangka
mendukung suatu isu kebijakan yang spesifik. Dalam hal ini
kegiatan advokasi merupakan suatu upaya untuk
mempengaruhi para pembuat keputusan (decission maker) agar
dapat mempercayai dan meyakini bahwa program kesehtan
yang sitawarkan perlu mendapatkan dukungan melalui
kebijaksanaan atau keputusan-keputusan.

2. Menjembatanin (mediate)
Kegiatan pelaksanaan program-program kesehatan perlu
adanya suatu kerjasama dengan program lain di lingkungan
kesehtan, maupun lintas sektor yang terkait. Untuk itu perlu
adanya suatu jembatan dan menjalin suatu kemitraan
(partnership0 dengan berbagai program dan sektor-sektor yang
memiliki kaitannya dengan kesehatan. Karenanya masalah
kesehatan tidak hannya dapat diatasi oleh sektor kesehatan
sendiri, melainkan semua pihak juga perlu peduli terhadap
masalah kesehatan tersebut. Olehkarena itu promosikesehatan

9
memiliki peran yang penting dalam mewujudkan kerjasama atau
kemitraan ini.
3. Kemampuan/ Keterampilan (enable)
Masyarakat di berikan suatu keterampilan agar mereka
mampu dan memelihara serta meningkatkan kesehatannya
secra mandir. Adapun tujuandari pemberian keterampilan pada
masyarakat adalah dalam rangka meningkatkan pendapatan
keluarga sehingga diharapkan dengan peningkatan ekonomi
keluarga, maka kemampuan dalam memelihara dan
peningkatan kesehatan keluarga akan meningkat.

C. Strategi Promosi Kesehatan

Menyadari bahwa prilaku adalah sesuatu yang rumit. Prilaku tidak


hanya menyangkut dimensi kultural yang berupa sistem nilai dan norma,
melainkan juga dimensi ekonomi, yaitu hal-hal yang mendukung prilaku,
maka promosi kesehtan di harapkan dapat melaksanakan strategi yang
bersifat paripurna (komprehensif, khususnya dalam menciptakan prilaku
baru.

Kebijakan nasional promosi kesehatan telah menetapkan tiga


strategi dasar promosi kesehatan yaitu :

1. Gerakan Pemberdayaan
Pemberdayaan adalah proses pemberian informasi secra
terus menerus dan berkesinambungan mengikuti
perkembangan sasaran, serta proses membantu sasaran agar
sasaran tersebut berubah dari tidak tahu menjadi tahu atau
sadar (aspect knowledge), dari tahu menjadi mau (aspect
attitude), dan dari mau menjadi mampu melaksanakan perilaku
yang diperkenalkan (aspect prictice).
Sasaran utama dari pemberdayaan adalah individu dan
keluarga, serta kelompok masyarakat. Bila sasaran sudah akan
berpindah dari mau ke mampu melaksanakan, boleh jadi akan
terkendala oleh dimensi ekonomi. Dalam hal ini kepada yang
bersangkutan dapat di berikan bantuan langsung, tetapi yang

10
sering kali di peraktikan adalah dengan mengajaknya ke dalam
proses pengotganisasian masyarakat (community organisation)
atau pembangunan masyarakat (community development).
Untuk itu untuk sejumlah individu yangtelah mau, di himpun
dalam uatu kelompok untuk bekerjasama memecahkan
kesulitan yang dihadapi. Tidak jarang kelompok inipun masih
juag memerlukan bantuan dari luar (misalnya dari pemerintah
atau dermawan). Disinilah letak pentingnya sinkronisasi promosi
kesehatan dengan program kesehatan yang di dukungnya. Hal-
hal yang akan diberikan kepada masyarakat oleh program
kesehatan sebagai bantuan, hendaknya disempaikan pada
faseini, bukan sebelumnya. Bantuan ini hendaknya juga sesuai
dengan apa yang diutuhkan oleh masyarakat.
2. Bina Suasana
Bina suasana adalah upaya menciptakan lingkungan sosial
yang mendorong untuk mau melakukan perilaku yang
diperkenalkan. Seseorang akan mau terdorong untuk
melakukan sesuatu apabila lingkungan sosial dimanapun ia
berada (keluarga di rumah, orang-orang yang menjadi
panutan/idola, kelompok arisan, majelis agama, dan lain-lain,
dan bahkan masyarakat umum) menyetujui atau mendukung
prilaku tersebut.
Oleh karena itu untuk mendukung proses pemberdayaan
masyarakat, khususnya dalam upaya meningkatkan para
individu dari fase tahu ke fase mau, perlu dilakukan bina
suasana. Terdapat tiga pendekatan dalam bina suasana, yaitu:

a. Pendekatan individu
b. Pendekatan kelompok
c. Pendekatan masyarakat umu

Menurut mariatul Fadilah, strategi bina suasana perlu


ditetapkan untuk menciptakan norma-norma dan kondisi atau
ituasi kondusif di masyarakat dalam mendukung PHBS. Bina
suasana sering di kaitkan dengan pemasaran sosial dan

11
kampanye, karena pembentukan opini memerlukan kegiatan
pemasaran sosial dan kampanye. Namun perlu di perhatikan
bahwa bina suasana dimaksud untuk menciptakan suasna yang
mendukung, mengerakkan masyarakat secara partisipatif dan
kemitraan. Metode bina suasana dapat berupa :

a. Pelatihan
b. Semiloka
c. Konferensi pers
d. Dialog terbuaka
e. Sarasehan
f. Penyuluhan
g. Pendidikan
h. Lokakarya mini
i. Pertunjukan tradisional
j. Diskusi meja bundar (round table discussion0
k. Pertemuan berkala di desa
l. Kunjungan lapangan
m. Studi banding
n. Traveling seminar

Kemitraan dalam kesehatan berarti menggalang partisipasi


semua sektor untuk meningkatkan harkat hidup dan derajat
kesehatan, semua sektor, kelompok masyarakat, lembaga
pemerintah, dan non pemerintah bekerja sama berdasarkan
kesepakatan dan fungsi masing-masing.

Maria Fadilah mengatakan untuk menjaga kelanggengan bina


suasana diperlukan :

a. Forum komunikasi
b. Dokumen dan data yang up to date (selalu baru)
c. Mengikuti petkembangan kebutuhan masyarakat
d. Hubungan yang terbuka, serasi dan dinamis dengan mitra
e. Menumbuhkan kecintaan terhadap kesehatan
f. Memanfaatkan kegiatan dan sumber-sumbet dana yang
mendukung upaya pembudayaan prilaku hidup bersih dan
sehat
g. Adanya umpan balik dan penghargaan.

3. Advokasi

12
Advokasi adalah upaya atau proses yang strategis dan
terencana untuk mendapatkan komitmen dan dukungan dari
pihat-pihat yang terkait (stakeholders). Pihak-pihak yang terkait
ini bisa berupa tokoh masayarakat formal yang umumnya
berperan sebagai penentu kebijakan pemerintah dan
penyandang dana pemerintah. Juga dapat berupa tokoh-tokoh
masyarakat informal seperti tokoh agama, tokoh pengusaha,
dan lain-lain yang umumnya dapat berperan sebagi penentu
kebijakan (tidak tertulis) dibidangnya dan atau sebgai
penyandang dan non pemerintah.
Perlu disadari bahwa komitmen dan dukungan yang di
upayakan melalui advokasi njarang diperoleh dalam waktu
singkat. Pada diri sasaran advokasi umumnya berlangsung
tahapan-tahapan yaitu:
a. Mengetahui atau menyadari adanya masalah
b. Tertarik untuk ikut mengatasi masalah
c. Peduli terhadap pemeecahan masalahdengan
mempertimbangkan berbagai alternatif pemecahan masalah
d. Sepakat untuk memecahkan masalah dengan memilih salah
satu alteernatif pemecahan maslah
e. Memutuskan tindak lanjut kesepakatan.

Dengan demikian maka advokasi harus dilakukan secara


terencana, cermat, tepat. Bahan-bahan advokasi harus
disiapkan dengan matang, yaitu :

a. Sesaui minat dn perhatian sasaran advokasi


b. Memuat rumusan masalah dan alternatif pemecahan maslah
c. Memuat peran si sasaran kepada fakta atau evidance-based
d. Berdasarkan kepada fakta atau evidence-based
e. Dikemas secara menarik dan jelas
f. Sesuai dengan waktu yang tersedia

D. Ruang Lingkup Promosi Kesehatan

Ruang lingkup promosi kesehatan berdasarkan aspek pelayanan


kesehatan, secara garis besar terdapat 2 jenis pelayanan kesehatan,
yakni:

13
1. Pelayanan preventif dan promotif, adalah pelayanan bagi kelompok
masyarakat yang sehat, agar kelompok ini tetap sehat dan bahkan
meningkat status kesehatannya.
2. Pelayanan kuratif dan rehabilitataif, adalah pelayanan kelompok
masyarakat yang sakit agar kelompok ini sembuh dari sakitnya dan
menjadi pulih kesehatannya.

Ruang lingkup promosi kesehatan lainya:

1. Bayi

Bayi terletak pada rentang 0-12 bulan. Bayi baru lahir merupakan
masa kehidupan yang rentan dan beresiko tinggi untuk mengalami
berbagai komplikasi dan gangguan keseharan. Untung mengantisipasi hal
tersebut perlu diberikan promosi kesehatan yang terangkum dalam
asuhan kebidanan pada ibu, keluarga, dan petugas kesehatan. Beberapa
promosi kesehatan yang dapat diberikan antara lain adalah sebagai
berikut:

a. Komposisi zat gizi yang sesuai dengan kebutuhan bayi misalnya


dengan memberikan ASI ekslusif pada bayi

b. Memberi informasi cara pencegahan hipotermi pada bayi

c. Menunjang perkembangan kognitif dan penglihatan pada bayi

d. Memberi informasi tentang tanda-tanda bahaya pada bayi dan


sebagainya

2. Balita

Masa balita terletak antara rentang usia 2-3 tahun. Pada masa ini anak
sedang belajar menegakkan kemandiriannya namun ia belum dapat
berpikir secara diskriminatif, oleh karena itu masih sangat perlu bimbingan
yang kuat dari orang tuanya. Perkembangan anak balita sangat penting
sebagai dasar untuk perkembangan selanjutnya yaitu prasekolah,
sekolah, akil balik, dan remaja. Untuk mendapatkan balita dengan

14
perkembangan yang baik dibutuhkan kesehatan dan gizi yang baik dimulai
pada saat ibu hamil, menyusui dan bayi. Selain itu, rangsangan atau
stimuli yang cukup dari segi kuantitas dan kualitas. Pengaturan makan
pada anak perlu diperhatikan dan jangan banyak diberi jajanan, tetapi
yang perlu ditambah adalah susu dan buah-buahan.

3. Remaja

Masa peralihan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa disebut


masa remaja. Menurut World Health Organization (WHO) masa remaja
dimulai pada usia 12 tahun sampai 24 tahun. Di indonesia yang disebut
remaja menurut Departemen Kesehatan adalah mereka yang berudia 10
tahun sampai 19 tahun dan belum kawin. Perubahan yang terjadi pada
masa remaja adalah munculnya tanda-tanda kelamin sekunder sampai
kemampuan bereproduksi baik pada wanita maupun pria. Pola hidup yang
salah dapat mengakibatkan gangguan pada masa remaja. Dengan pola
hidup yg sehat akan didapatkan remaja yang sehat jasmani dan rohani.
Promosi kesehatan yang dapat diberikan pada remaja antara lain adalah
sebagai berikut.

a. Penyuluhan mengenai kesehatan reproduksi

b. Penyulihan mengenai sistem reproduksi

c. Penyuluhan mengenai gangguan-gangguan reproduksi

4. Ibu hamil

Setiap ibu hamil menghadapi risiko komplikasi kehamilan yang bisa


mengancam jiwanya, oleh karena itu mendeteksi secara dini komplikasi
kehamilan dengan cara memberikan informasi yang diperlukan
sehubungan dengan kehamilannya merupakan langkah yang tepat untuk
menurunkan angka kematian dan angka kesakitan pada ibu hamil.
Periode kehamilan terbagi menjadi trimester I, trimester II, dan trimester
III. Setiap periode kehamilan diperlukaan promosi kesehatan yang
berbeda pula tergantung pada kebutuhan ibu hamil. Promosi kesehatan

15
yang dapat diberikan antara lain mengenai nutrisi, imuninasi, kunjungan
ulang, dan sebagainya.

5. Ibu bersalin

Persalinan merupakan hal yang bersifar fisiologis tanpa perawaran hal


yang bersifat fisiologis dapat menjadi patologis. Persalinan dapat dibagi
menjadi empat kala yaitu kala I, kala II, kala III, kala IV atau kala
observasi. Setiap kala dalam masa persalinan memerlukan promosi
kesehatan yang berbeda.

6. Ibu nifas

Masa nifas dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta dan


mencakup enam minggu berikutnya. Asuhan nifas haruslah memberikan
tanggapan terhadap kebutuhan khusus ibu selama masa yang istimewa
ini. Ibu dalam masa nifas memerlukan informasi dan konseling mengenai
pengasuhan anak dan pemberian ASI, serta juga tentang perubahan fisik,
termasuk kemungkinan tanda-tanda infeksi, asuhan bagi diri sendiri,
kebersihan dan penyembuhan, kehidupan seksual, kontrasepsi, serta gizi.

7. PUS dan WUS

Pasangan usia subur merupakan salah satu penentu jumlah penduduk


di Indonesia, apabila mereka tidak mendapat asuhan kebidanan yang
tepat maka tidak menutup kemungkinan jumlah penduduk akan semakin
bertambah. Oleh karena itu, sebagai tenaga kesehatan kita harus
memberikan masukan yang tepat terhadap pasangan tersebut seperti
berikut ini.

a. Penjelasan mengenai kontrasepsi yang tepat sesuai dengan usia


dan kebutuhan.

b. Penyuluhan mengenai kesehatan reproduksi.

c. Penyuluhan mengenai PMS, seperti HIV atau AIDS

16
d. Pengetahuan gangguan organ reproduksi dan sebagainya.

E. Metode Promosi Kesehatan

Promosi kesehatan adalah proses memberdayakan dan mendirikan


masyarakat untuk memelihara,meningkatkan dan melindungi
kesehatannya melalui peningkatan kesadaran, kemauan dan kemampuan,
serta pengembangan lingkungan yang sehat (Depkes, 2002). Promosi
kesehatan mencakup aspek prilaku yaitu upaya untuk memotivasi,
mendorong dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimiliki
masyarakat agar mereka mampu memelihara dan meningkatkan
kesehatannya. Istilah dan pengertian promosi kesehatan ini merupakan
pengembangan dari istilah pengertian promosi kesehatan ini merupakan
pengembangan dari istilah pengertian yang sudah di kenal selama ini,
seperti pendidikan kesehatan, penyuluhan kesehatan, KIE (Komunikasi,
Informasi, dan Edukasi). Menurut Notoatmodjo (2005) Promosi kesehatan
dapat diartikan sebagai upaya yang dilakukan terhadap masyarakat
sehingga mereka mau dan mampu untuk memelihara dan meningkatkan
kesehatan mereka sendiri.

Untuk melaksanakan promosi kesehatan tersedia banyak metode


yang digunakan. Namun, pemilihan metode dalam pelaksanaan promosi
kesehatan harus dipertimbangkan secara cermat dengan memperhatikan
materi atau informasi (termasuk sosial budaya) atau sasaran, dan hal-hal
lain yang merupakan lingkungan komunikasi seperti ruang dan waktu.
Masing-masing metode memiliki keunggulan an kelemahan, sehingga
penggunaan gabungan beberapa metode sering di lakukan untuk
mamaksimalkan hasil.

Dalam konteks, promosi kesehatan, pada umumnya setidaknya


terdapat 3 metode yang sering digunakan, diantaranya :

17
1. Metode pendidikan Individual (perorangan)
Metode yang bersifat individual digunakan untuk membina
prilaku baru atau membina seseorang yang mulai tertarik kepada
suatu perubahan perilaku atau inovasi. Setiap orang memiliki
masalah atau alasan yang berbeda-beda sehubungan dengan
penerimaan atau prilaku baru tersebut.
Bentuk pendekatan metode ini dapat berupa bimbingan dan
penyuluhan ( guidence and counceling). Sebab perubahan prilaku
terjadi karena adanya kontak yang intensif antara klien dengan
petugas dan setiap masalahnya dapat diteliti dan dibantu
penyelesaiannya. Disamping itu dapat juga digunakan metode
wawancara ( interview). Untuk mengetahui apakah klien memiliki
kesadaran dan pengertian yang kuat tentang informasi yang
diberikan ( perubahan prilaku yang diharpkan).
2. Metode pendidikan kelompok
Dalam memilih metode dalam kelompok, yang harus
diperhatikan adalah besarnya kelompok sasaran dan tingkat
pendidikan formal. Besarnya kelompok sasaran mempengaruhi
efektifitas metode yang digunakan. Untuk kelompok besar,
biasanya digunakan metode ceramah. Sasarannya dapat
berpendidikan tinggi maupun rendah. Penceramah harus
menyiapkan dan menguasai materi serta menyiapkan media.
Metode dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan secara
lisan. Metode ini mudah dilaksanakan tetapi penerimaan informasi
menjadi pasif dan kegiatan menjadi membosankan jika terlalu lama.
Sedangkan metode seminar hanya cocok untuk sasaran
kelompok besar dengan pendidikan formal menengah keatas.
Seminar adalah suatu penyajian (persentasi) dari suatu ahli atau
beberapa ahli tentang suatu tofik yang dianggap penting dan
niasanya dianggap hangat dimasyarakat.
Untuk kelompok kecil, umumnya digunakan metode diskusi
kelompok (group discussion). Metode yang dilaksanakan dalam
bentuk diskusi antara pemberi dan penerima informasi, biasanya
untuk mengatasi masalah. Metode ini mendorong penerimaan

18
informasi berfikir kritis, mengekspesikan pendapatnya secara
bebas, menyumbangkan pikirannya untuk memecahkan masalah
bersama, mengambil satu alternatif jawaban untuk memecahkan
masalah berdasarkan pertimbangan yang seksama.
Selain itu, dalam kelompok kecil dapat digunakan metode
curah pendapat ( brain stroming) bola salju( snow bolling),
kelompok-kelompok kecil ( buzz group) memainkan peranan (role
play) dan permainan simulasi (simulation game).

3. Metode pendidikan massa


Metode ini untuk mengkomunikasikan pesan pesan
kesehatan yang ditujukan kepada mayarakat. Sasaran pendidikan
pada metode ini bersidat umum tanpa membedakan umur, jenis
kelami, tingkat pendidikan, status sosial, ekonomi dan sebagainya,
sehingga pesan-pesan kesehatan dirancang sedemikian rupa agar
dapat ditangkap oleh massa tersebut. Metode ini bertujuan untuk
menggugah kesadaran masyarakat terhadap suatu inovasi. Metode
ini biasanya bersifat tidak langsung, seperti metode caramah
umum ( public speaking), pidato/diskusi, simulasi, menggunakan
media televisi, menggunakan media surat kabar, papan tulis, dan
sebagainya.
Pada pengunaan berbagai metode dalam promosi
kesekahatan ini pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan
kesadaran dan menambah pengetahuan, serta mengubah
kebiasaan atau gaya hidup agar agar mayarakat mampu
meningkatkan kesehatannyan. Metode metode yang tersebut
hanyalah beberapa dari banyak metode lainnya. Metode-metode
tersebut dapat digabung atau dimodifikasi oleh tim promosi
kesehatan disesuaikan dengan penerima pesan dan sarananya.
Selain itu metode yang digunkan juga disesuaikan dengan tujuan
dari promosi kesehatan yang dilaksanakan.

F. Media atau Alat Bantu Promosi Kesehatan

19
Kata media bersal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak
dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar.
Dengan demikian, maka media merupakan wahana penyalur informasi
belajar atau penyalur pesan. Telah banyak pakar yang mendefinisikan
media pembelajaran ini adalah sebagai berikut:
1. Media pembelajaran atau media pendidikan adalah seluruh alat dan
bahan yang dapat dipakai untuk media pendidikan seperti radio,
televisi, buku, koran, majalah dan sebagainya (Rossi & Breidle,
1966:3).
2. Sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun audio visual,
termasuk teknologi perangkat kerasnya ( NEA, 1969)
3. Alat untuk memberikan perangsang bagi siswa supaya terjadi
proses belajar (Briggs,1970)
4. Segala bentuk dan saluran yang dipergunakan untuk proses
penyaluran pesan (AECT, 1977)

Dari berbagai pendapat diatas dapat di tarik kesimpulan bahwa


pada dasarnya semua pendapat tersebut memposisikan media sebagai
suatu alat atau sejenisnya yang dapat di pergunkan sebagai pembawa
pesan dalam suatu kegiatan pembelajaran. Pesan yang dimaksud adalah
materi pelajaran, dimana keberadaan media dimaksudkan agar pesan
lebih mudah dipahami dan dimengerti oleh siswa. Bila media adalah
sumber belajar , maka secara luas media dapat diartikan dengan
manusia, benda, ataupun peristiwa yang memungkinkan anak didik
memperoleh pengetahuan dan keterampilan.

Media promosi kesehatan adalah semua sarana atau upaya untuk


menampilkan pesan atau informasi yang ingin di sampaikan oleh
komunikator, baik itu melalui media cetak, elektronika dan media luar
ruang, sehingga sasaran dapat meningkatkan pengetahuannya yang
akhirnya dapat berubah prilaku ke arah positf terhadap kesehatan
(Soekidjo:2005).

20
Secara umum tujuan media promosi kesehatan bertujuan untuk
mempermudah penyimpanan informasi dan skaligus menghindari
kesalahan-kesalahan persepsi seingga mudah dimengerti.

Sementara itu bila dilihat dari sifatnya media promosi kesehatan


dapat dibagi kedalam 3 kategori, yakni :

1. Media Auditif yaitu media yang hanya dapat di dengar saja,


atau hanya media yang hanya memiliki unsur suara, seperti
radio dan rekaman suara.
2. Media Visual yaitu media yang hanya dapat dilihat saja tidak
menggunakan suara. Jenis media yang tergolong ke dalam
media visual adalah film slide, foto, transparansi, lukisan,
gambar dan berbagai bentuk bahan yang dicetak seperti media
grafis dan lain sebagainya.
3. Media Audiovisual, yaitu jenis media yang selain mengandung
unsur suara juga mengandung unsur gambar yang bisa dilihat,
misalnya rekaman video, berbagai ukuran film, slide suara, dan
lain sebagainya. Kemampuan media ini dianggap lebih baik dan
lebih menarik,sebab mengandung kedua unsur jenis media
yang pertama dan yang kedua.

Sedangkan berdasarkan fungsinya sebagai penyalur pesan


kesehatan, media promosi kesehatan ini dibagi menjadi 2 yakni
(Ircham,2007) :

1. Media Cetak
Media cetak sebagai alat untuk menyapaikan pesan
pesan kesehatan sangat bervariasi, antara lain :
a. Booklet, ialah suatu media untuk menyampaikan
pesan-pesan kesehatan dan bentuk buku, baik tulisan
maupun gambar.
b. Leaflet, ialah bentuk penyapaian informasi atau pesan
pesan kesehatan melalui lembaran yang dilipat. Isi
informasi dapat dalam bentuk kalimat maupun gambar
atau kombinasi.

21
c. Flayer (selebaran) ialah seperti leaflet tetapi, tidak
dalam bentuk lipatan.
d. Flip cart (lembar balik) ialah media penyampaian
pesan atau informasi informasi kesehatan dalam
bentuk lembar balik.
e. Rubrik atau tulisan-tulisan pada surat kabar atau
majalah, mengenai bahasan suatu masalah
kesehatan, atau hal hal yang berkaitan dengan
kesehatan.
f. Poster ialah bentuk media cetak berisiasanya pesan-
pesan atau informasi kesehatan, yang biasanya
ditempel ditembok-tembok, di tepat-tempat umum
atau di kendaraan umum.
g. Foto yang mengungkapkan informasi-informasi
kesehatan.

2. Media Elektronik
Media elektronik sebagai sasaran untuk menyampaikan
pesan-pesan atau informasi informasi kesehatan jenisnya
berbeda-beda antara:

a. Televisi
Penyampaian pesan atau informasi-informasi
kesehatan melalui media televisi dapat dalam bentuk :
sandiwara, sinetron, forum diskusi atau hanya taya
jawab sekitar masalah kesehatan, pidato, TV, spot,
quiz atau cerdas cermat dan lain-lain.

b. Radio
Penyampaian informasi atau pesan-pesan
kesehatan melalui radio juga dapat berbentuk macam-
macam antara lain obrolan (tanya jawab), sandiwara
radio, ceramah, radio spot, dan lain-lain.
c. Video
Penyampaian informasi atau pesan-pesan
kesehatan dapat melalui video.
d. Slide

22
Slide juga dapat digunkana untuk menyampaikan
pesan-pesan kesehatan.

Berdasarakan penjelasan di atas dapat dikatan bahwa media


atau alat peraga dalam promosi kesehatan dapat diartikan sebagai alat
bantu untuk promosi kesehatan yang dapat dlihat, didengar, diraba, dirasa
atau dicium, untuk memperlancar komunikasi dan penyebarluasan
informsi. Media cetak adalah media statis dan menggutamakan pesan-
pesan visual yang di dihasilkan dari proses percetakan, bahan baku
dasarnya maupun sarana penyampaian pesannya menggunakan kertas.

G. Pemecahan Masalah dengan Pendekatan Epidemiologi

Perkembangan Epidemiologi sangat pesat pada saat zaman Yunani


Kuno. Epidemiologi berasal dari perkataan Yunani, dimana epi- yang
berarti permukaan, diatas, menimpa, atau tentang, demos yang berarti
orang, populasi, penduduk, manusia serta ologi berarti ilmu tentang.
Menurut asal katanya, secara etimologis, epidemiologi berarti ilmu
mengenai kejadian yang menimpa penduduk.

Secara modern, Epodemiologi diartikan sebagai ilmu tentang


distribusi (penyebaran dan perkembangan) dan determinan-determinan
(faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit tersebut) dari keadaan atau
kejadian yang berhubungan dengan kesehatan di dalam populasi tertentu,
serta penerapan dari ilmu ini guna mengendalikan masalah-masalah
kesehatan.

Tujuan Epidemiologi dalam bidang kesehatan menggambarkan


penyakit secara komperhensif dan dinamis, tidak hanya mencakup wabah
tetapi juga antara periode terjadinya wabah secara sporadis dan
endemis. Selain itu tujuan studi epidemiologi, yaitu:

1. Mendiagnosis masalah kesehatan masyarakat

2. Menentukan riwayat alamiah dan etiologi penyakit

23
3. Menilai dan merencanakan pelayanan kesehatan

Peranan Epidemiologi, khususnya dalam konteks kesehatan


masyarakat

Epidemiologi merupakan salah satu bagian dari ilmu Kesehatan


Masyarakat yang menekankan perhatiannya terhadap keberadaan
penyakit ataupun masalah kesehatan lainnya di dalam masyarakat.
Keberadaan penyakit dalam masyarakat itu didekati oleh epidemiologi
secara kuantitatif. Oleh karena itu, epidemiologi akan menjadikan dirinya
sebagai metode pendekatan yang banyak memberikan perlakuan kuntitatif
pula dalam menelusuri masalah kesehatan.

Prinsip epidemiologi yaitu subyek dan obyek epidemiologi adalah


masalah kesehatan, masalah kesehatan yang dikaji adalah masalah
kesehatan yang ditemukan pada sekelompok manusia, dalam
merumuskan penyebab timbulnya uatu masalah kesehatan dimanfaatkan
data tentang frekuensi dan penyebaran masalah kesehatan tersebut.
Strategi mengenal analisa masalah kesehatan berdasarkan prinsip
ataukonsep epidemiologi sebagai berikut mempelajari masalah kesehatan
yang ditemukan pada sekelompok manusia yang dinyatakan dalam angka
frekuensi mutlak (absolut) atau relative, banyaknya masalah kesehatan
diperinci menurut keadaan tertentu, diantaranya keadaan tertentu,
diantaranya keadaan waktu, tempat, orang yang mengalami masalah
kesehatan, melakukan rangkaian kegiatan tertentu (riset) yang dilakukan
untuk mengkaji masalah kesehatan sehingga diperoleh kejelasan dari
masalah tersebut.

Epidemiologi mempelajari frekuensi masalah kesehatan yaitu


keterangan tentang banyaknya suatu masalah kesehatan yang ditemukan
pada sekelompok manusia ,mengetahui keadaan kesehatan yang
dihadapi masyarakat ,menyusun berbagai jalan keluar untuk
mengatasinya. Sehingga epidemiologi sebagai wadah mengatasi wabah

24
yang ada dalam masyarakat dan penyakit lain yang ditimbulkan, mencari
jalan keluar dari masalah kesehatan yang ada dalam masyarakat.

Dengan kata lain peranan epidemiologi sebagai tool (alat) dan


sebagai metode atau pendekatan. Contoh: Epidemiologi sebagai alat
diartikan bahwa dalam melihat suatu masalah KB-Kes selalu
mempertanyakan siapa yang terkena masalah, di mana dan bagaimana
penyebaran masalah, serta kapan penyebaran masalah tersebut terjadi.

Manfaat epidemiologi terhadap kesehatan yaitu membantu pekerja


administrator dan perencana untuk mengidentifikasi masalah dan
kebutuhan kesehatan, alokasi sumber dana, dan mengukur efektifitas
program-program baru, monitoring (pengamatan), evaluation
,menerangkan keadaan masalah kesehatan yaitu epidemik merupakan
suatu keadaan dimana masalah kesehatan (umumnya penyakit) yang di
temukan pada suatu daerah tertentu pada waktu singkat dalam frekuensi
yang meningkat.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

a. Promosi kesehatan adalah program-program kesehatan yang


dirancang untuk membawa perubahan (perbaikan), baik di dalam
masyarakat sendiri, maupun dalam organisasi dan lingkungannya.
b. Menurut Green (1990), tujuan promosi kesehatan terdiri atas tiga
tingkatan, yaitu:
4. Tujuan Program

25
Tujuan program merupakan pernyataan tentang apa yang akan
dicapai dalam periode waktu tertntu yang berhubungan dengan
status kesehatan.
5. Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan merupakan deskripsi prilaku yang akan di
capai dapat mengatasi masalah kesehatan yang ada .
6. Tujuan Prilaku
Tujuan prilaku merupakan pendidikan atau oembelajaran yang
harus di capai (prilaku yang di inginkan). Oleh sebab itu, tujuan
prilaku berhubungan dengan pengetahuan dan sikap.
c. Kebijakan nasional promosi kesehatan telah menetapkan tiga
strategi dasar promosi kesehatan yaitu :
4. Gerakan Pemberdayaan
5. Bina Suasana
6. Advokasi
d. Ruang Lingkup
1. Bayi
Bayi terletak pada rentang 0-12 bulan
2. Balita
Masa balita terletak antara rentang usia 2-3 tahun

3. Remaja
Masa peralihan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa
disebut masa remaja
4. Ibu hamil
Setiap ibu hamil menghadapi risiko komplikasi kehamilan yang
bisa mengancam jiwanya
5. Ibu bersalin
Persalinan merupakan hal yang bersifar fisiologis tanpa
perawaran hal yang bersifat fisiologis dapat menjadi patologis
6. Ibu nifas
Masa nifas dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta dan
mencakup enam minggu berikutnya
7. PUS dan WUS
Pasangan usia subur merupakan salah satu penentu jumlah
penduduk di Indonesia
e. Umumnya setidaknya terdapat 3 metode yang sering digunakan,
diantaranya :
4. Metode pendidikan Individual (perorangan)
5. Metode pendidikan kelompok
6. Metode pendidikan massa

26
f. Media promosi kesehatan media merupakan wahana penyalur
informasi belajar atau penyalur pesan, bila dilihat dari sifatnya
media promosi kesehatan dapat dibagi kedalam 3 kategori, yakni :
Media Auditif, Media Visual, Media Audiovisual. Sedangkan
berdasarkan fungsinya sebagai penyalur pesan kesehatan, media
promosi kesehatan ini dibagi menjadi 2 yakni Media Cetak, Media
Elektronik.
g. Epidemiologi merupakan salah satu bagian dari ilmu Kesehatan
Masyarakat yang menekankan perhatiannya terhadap keberadaan
penyakit ataupun masalah kesehatan lainnya di dalam masyarakat.
Keberadaan penyakit dalam masyarakat itu didekati oleh
epidemiologi secara kuantitatif. Oleh karena itu, epidemiologi akan
menjadikan dirinya sebagai metode pendekatan yang banyak
memberikan perlakuan kuntitatif pula dalam menelusuri masalah
kesehatan.

27