Anda di halaman 1dari 9

ANALISA SINTESA TINDAKAN TRANFUSI DARAH

DI RUANG ICU RSUD PROF DR MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO

A. Kasus

B. Diagnosa Keperawatan
Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer b.d penurunan konsentrasi
hemoglobin darah
Ketidakefektifan pola nafas b.d keletihan otot pernafasan
Intoleransi aktifitas b.d ketidakseimbangan suplay oksigen dengan
kebutuhan tubuh

C. Definisi Tranfusi darah


Tranfusi darah adalah suatu proses menyalurkan darah atau produk darah dari
satu orang ke sistem peredaran darah orang lainnya, penggunaan darah berguna
bagi keperluan pengobatan dan pemulihan kesehatan pasien (Astuti & Laksono,
2013). Transfusi darah merupakan salah satu bagian penting dalam bidang
kesehatan. Secara keseluruhan, transfusi darah dibutuhkan untuk menangani
pasien yang mengalami perdarahan masif, pasien anemia berat, pasien yang
hendak menjalani tindakan operasi, pasien dengan kelainan darah bawaan dan
sebagainya. Menurut Permenkes RI No. 478/Menkes/Perat/X/1990, transfusi
darah adalah tindakan medik memberikan darah kepada penderita yang
darahnya telah tersedia dalam kemasan yang memenuhi syarat kesehatan, secara
langsung ataupun tidak langsung.

D. Pemberian tranfusi darah Packed Red Cell


PRC mengandung hemoglobin yang sama dengan whole blood,
bedanya adalah pada jumlah plasma, dimana PRC lebih sedikit mengandung
plasma. Hal ini menyebabkan kadar hematokrit PRC lebih tinggi dibanding
dengan whole blood, yaitu 70% dibandingkan 40%. PRC biasa diberikan pada
pasien dengan perdarahan lambat, pasien anemia atau pada kelainan jantung
( Astuti & Laksono, 2013). Saat hendak digunakan, PRC perlu dihangatkan
terlebih dahulu hingga sama dengan suhu tubuh (37C). bila tidak dihangatkan,
akan menyulitkan terjadinya perpindahan oksigen dari darah ke organ tubuh.
Volume tergantung kantong darah yang dipakai yaitu 150-300 ml. Suhu simpan
42C. Lama simpan darah 24 jam dengan sistem terbuka. Packed cells
merupakan komponen yang terdiri dari eritrosit yang telah dipekatkan dengan
memisahkan komponen-komponen yang lain.
Untuk menaikkan kadar Hb sebanyak 1 gr/dl diperlukan PRC 4
ml/kgBB atau 1 unit dapat menaikkan kadar hematokrit 3-5 %. Diberikan
selama 2 sampai 4 jam dengan kecepatan 1-2 mL/menit, dengan golongan darah
ABO dan Rh yang diketahui.
Cara menghitung kebutuhan darah :
3 x Hb (Hb normal -Hb pasien) x BB
Ket :
- Hb normal : Hb yang diharapkan atau Hb normal
- Hb pasien : Hb pasien saat ini

Tujuan transfusi PRC adalah untuk menaikkan Hb pasien tanpa


menaikkan volume darah secara nyata. Keuntungan menggunakan PRC
dibandingkan dengan darah jenuh adalah:
a. Mengurangi kemungkinan penularan penyakit
b. Mengurangi kemungkinan reaksi imunologis
c. Volume darah yang diberikan lebih sedikit sehingga kemungkinan
overload berkurang
d. Komponen darah lainnya dapat diberikan pada pasien lain.

Indikasi transfusi PRC adalah :


a. Kehilangan darah > 20% dan volume darah lebih dari 1000 ml.
b. Hemoglobin < 8 gr/dl.
c. Hemoglobin < 10 gr/dl dengan penyakit-penyakit utama : (misalnya
empisema, atau penyakit jantung iskemik)
d. Hemoglobin < 12 gr/dl dan tergantung pada ventilator.

E. Hal hal yang perlu diperhatikan


Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian transfusi darah yaitu reaksi
transfusi. Reaksi Transfusi adalah reaksi tubuh resipien terhadap darah donor,
reaksi transfusi darah dapat ringan sampai berat, dan dapat berupa reaksi cepat,
sedang, dan lambat ( Muhiddin, 2013).
Reaksi imunologis
a. Reaksi tranfusi hemolitik
Ditandai dengan penghancuran sel darah merah/eritrosit dengan adanya
HB Uria dan Icterus. Reaksi transfusi hemolitik merupakan reaksi yang
jarang terjadi dan disebabkan oleh proses imun terdiri dari
1) Golongan darah yang tidak cocok :
a) Reaksi hemolitik akut (acute reaction), pada umumnya terjadi
segera pada waktu transfusi sedang berlangsung dan 50 cc darah
dari golongan yang tidak cocok sudah dapat menimbulkan reaksi.
Gejalanya Rasa panas sepanjang Vena lengan menjalar ke ketiak,
nyeri pinggang yang khas, nyeri tertekan pada dada, sakit kepala,
temperatur agak naik.
b) Reaksi hemolitik terlambat (delayed reaction), pada umumnya
terjadipada penderita yang sering mendapat transfusi
(multitransfusi ). Reaksi terjadi beberapa jam atau beberapa hari
setelah transfusi. Gejala : Hampir sama, tetapi yang jelas adalah
sakit kepala dan sakit pinggang
2) Reaksi hemolitik dapat disebabkan faktor-faktor lain :
a) Transfusi diberikan bersama-sama dengan larutan hypotonis,
misalnya Dextrose 5% hingga eri yang masuk langsung
hemolisis.
b) Pemberian darah yang sudah hemolisis karena :
Pemanasan mendadak dimasukan dalam air panas melebihi
temperatur tubuh.
Frozen blood karena salah penyimpanan ( -4 Celsius)
eritrosit bengkak dan hancur.
Kontaminasi bakteri yang mencernakan eritrosit sebagai
makanannya.
Transfusi dengan tetesan cepat, kadang-kadang dipompa
hingga eritrosit hancur dalam jarum giving set yang kecil.
Khusus penderita PNH (Puraxysmal Nacturnal Hematuria)
pemberian whole blood memperburuk keadaan karena
plasma donor mengandung active komponen yang
menyebabkan hemolisis.
Kesalahan petugas rumah sakit/BDRS karena salah
memberikan cap golongan darah, label darah tertukar, salah
mengambil darah karena nama hampir sama.
b. Reaksi tranfusi non hemolitik
Reaksi non hemolitik transfusi darah berupa febris dan alergi yang terjadi
secara fisiologis Gejalanya adalah rasa dingin, demam, sakit kepala,
myalgia, nausea, batuk non produktif terjadi segera setelah transfusi. yang
lebih jarang pasien mungkin ada hipotensi, nyeri dada, muntah, dyspneu.

Reaksi non imunologis


a. Reaksi alergi disebabkan karena pemindahan alergin donor pada
penderita atau reaksi penderita pada plasma donor.
b. Febris disebabkan karena pembuatan larutan anticoagulans dan set yang
kurang steril atau reaksi antibody terhadap leukosit dan trombosit.
c. Reaksi kontaminasi bakteri : terjadi pada waktu pengambilan darah atau
terlalu lama dalam suhu kamar gram negative. Gejala : Terjadi pada
waktu transfusi atau beberapa hari sesudahnya, panas tinggi, nyeri
kepala, menggigil, vomit, nyeri perut, buang air darah.
d. Kelebihan volume cairan
Terjadi karena pemberian tranfusi yang terlalu cepat dan terlalu banyak
sehingga menyebabkan gagal jantung akut
e. Kelebihan zat besi
Terjadi pada pemberian tranfusi yang berulang dan dalam jangka waktu
yang lama
f. Emboli darah : Karena kesalahan teknik terjadi hypotensi sehingga
menyebabkan syncope dan cyanosis.
g. Infeksi
Resiko infeksi pada pemberian tranfusi adalah infeksi virus (HIV, HBC,
HCV).
F. Prosedur tindakan
Prosedur memberikan tranfusi darah menurut SOP yang ada di RSUD
Margono Soekarjo Purwokerto
1. Tahap pra interaksi
N Langkah Rasionalisasi
o
1. Melakukan verifikasi Mencocokan data yang tertera di
data bila ada kantong darah dengan data pasien
agar tidak tertukar saat pemberian
tranfusi
2. Mencuci tangan Membersihkan tangan dengan
antiseptik untuk mencegah pajanan
mikroorganisme
3. Menempatkan alat-alat Agar tindakan tranfusi darah berjalan
didekat pasien dengan dengan baik dengan tersedianya alat
benar (sarung tangan, yang digunakan
kantong darah,
pengalas, penunjuk
waktu)

2. Tahap orientasi
N Langkah Rasionalisasi
o
1. Memberikan salam Agar pasien merasa lebih nyaman
sebagai pendekatan saat berkomuniksi dengan petugas
terapeutik
2. Menjelaskan tujuan dan Agar pasien mengetahui tujuan dan
prosedur pelaksanaan prosedur tindakan yang akan
dilakukan dalam hal ini adalah
pemberian tranfusi darah
3. Menanyakan untuk mengetahui pengetahuan
persetujuan/kesiapan pasien tentang tranfusi darah
pasien
3. Tahap kerja
N Langkah Rasionalisasi
o
1. Memakai sarung tangan Sebagai APD bagi perawat karena
darah merupakan salah satu cairan
tubuh yang berpotensi besar
menularkan penyakit
2. Melepaskan selang Untuk memulai tranfusi darah
infus dari flabote dan
memindahkan ke
kantong darah
3. Menghitung jumlah Memasukan darah dengan tetesan
tetesan sesuai program infus yang sesuai agar tidak terjadi
efek samping berupa overload yang
bisa mengancam nyawa pasien
4. Memperhatikan reaksi Untuk mengetahui efek samping dari
pasien pemberian tranfusi

4. Tahap terminasi
N Langkah Rasionalisasi
o
1. Mengevaluasi hasil Untuk mengetahui proses tranfusi
tindakan berjalan dengan baik
2. Berpamitan dengan Agar pasien mengetahui program
pasien dan kontrak selanjutnya setelah pemberian
tindakan selanjutnya tranfusi darah
3. Membereskan alat-alat Merapikan lingkungan pasien agar
kembali bersih dan nyaman
4. Mencuci tangan Membersihkan tangan dengan
antiseptik untuk mencegah pajanan
mikroorganisme
5. Mencatat kegiatan Sebagai dokumentasi asuhan
dalam lembar catatan keperawatan yang dapat
keperawatan dipertanggung jawabkan
G. Gambaran pemberian tranfusi darah di ICU
Pelaksanaan pemberian tranfusi darah yang diberikan kepada pasien
sudah sesuai dengan SOP yang berlaku di rumah sakit Margono soekarjo
Purwokerto. Penambahan jumlah dan jenis darah tergantung dari kebutuhan
pasien dengan indikator hasil pemeriksaan laborat dan kondisi klinis pasien.
Pasien dengan post operasi mayor mempunyai indikasi untuk pemberian tranfusi
darah karena mengalami kehilangan darah yang cukup banyak. Tranfusi darah
mempunyai beberapa komponen darah yang diberikan sesuai dengan kebutuhan
pasien. Dalam pemberian darah harus di perhatikan kondisi pasien, kemudian
kecocokan darah melalui nama pasien, label darah, golongan darah, dan periksa
warna darah (terjadi gumpalan atau tidak), homogenitas (bercampur rata atau
tidak).
Pemberian tranfusi darah PRC yang di berikan terhadap Ny. H diberikan
post operasi laparatomi salpingektomi dextra dengan hemoglobin pre operasi 7.2
g/dL, hematokrit 21 % dan eritrosit 2.5 10^6/uL. Petugas sudah melakukan
melakukan prosedur dengan baik yaitu melakukan crosscek setelah mendapat
kantong darah, petugas mencocokan dengan identitas, jenis darah, jumlah darah
yang diisi dalam lembar observasi yang sudah disediakan. Sebelum memasukan
darah petugas terlebih dahulu melakukan pengukuran tanda-tanda vital yaitu
TD, HR, respirasi dan suhu badan. Selain itu apabila terdapat reaksi alergi
terhadap tranfusi darah petugas akan berkolaborasi dengan dokter untuk
pemberian terapi yang sesuai.

Daftar Pustaka
Astuti dan Laksono. 2013. Keamanan Darah di Indonesia. Surabaya. Health
Advocacy
Muhiddin, Triyono dan Sukorini. 2013. Indikator Kualitas Pelayanan Darah Bank
Darah RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar. Fakultas Kesehatan-
Universitas Makassar
Permenkes RI No 478/ Menkes/Per/X/1990 tentang Upaya Kesehatan di bidang
Transfusi darah.
PMI, 2013, Palang Merah Indonesia (PMI), http://www.pmi.or.id/,diakses tanggal 14
Juni 2017.
Widayati, K., 2012, Buku ajar ilmu penyakit dalam, bagian ilmu penyakit dalam FK
UGM, Yogyakarta.

LAPORAN ANALISA TINDAKAN TRANFUSI DARAH


DI RUANG ICU
RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARDJO PURWOKERTO

Oleh
Ratih Kusuma Dewi
I4B016060
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
PENDIDIKAN PROFESI NERS
PURWOKERTO
2017