Anda di halaman 1dari 73

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
bimbingan dan petunjuk kepada kita semua sehingga kami berhasil menyusun buku Pedoman
Internal Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di UPTD Puskesmas Kabuh.

Puskesmas sebagai sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama dituntut agar dapat
memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu, akuntabel dan transparan kepada masyarakat,
khususnya mendapatkan jaminan keselamatan bagi pasien. Untuk itu perlu ditingkatkan
pelayanannya khususnya dalam pencegahan dan pengendalian infeksi di Puskesmas.

Disamping pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi ini digunakan bagi seluruh
petugas, buku ini juga sangat penting bagi pasien, keluarga pasien, orang yang berkunjung, dan
lingkungan Puskesmas.

Kami menyadari bahwa buku ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu kami sangat
berharap atas saran dan masukannya untuk pembenahan kedepannya. Semoga buku ini
bermanfaat bagi kita semua dalam upaya Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di UPTD
Puskesmas Kabuh.

Jombang,

Tim Penyusun

1
DAFTAR ISI

BAB 1. PENDAHULUAN 2
A. Latar belakang 3
B. Tujuan . 4
C. Ruang lingkup 4
D. Batasan Operasional . 4
E. Dasar Hukum 4
BAB II. STANDART KETENAGAAN
A. Kualifikasi SDM 5
B. Distribusi Ketenagaan 5
C. Kegiatan Pokok dan Rincian Kegiatan .. 5
BAB III. PRINSIP DASAR PPI 8
A. Hand Hygiene / Kebersihan Tangan . 9
B. Alat Pelindung Diri 16
C. Pengelolaan Peralatan Kesehatan .. 29
D. Pengelolaan Linen .. 36
E. Pengendalian Lingkungan .. 37
F. Manajemen Pengolahan Limbah 39
G. Penempatan Pasien . 49
H. Hygiene Respiratory / Etika Batuk . 50
I. Praktek Penyuntikan Yang Aman ... 50
J. Kesehatan dan Keselamatan Petugas .. 51
BAB IV TATALAKSANA PPI .. 62
BAB V PANDUAN PPI BAGI PASIEN/PENGUNJUNG 71

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pelayanan kesehatan yang diberikan di Puskesmas harus didukung oleh sumber
daya manusia yang berkualitas untuk mencapai pelayanan yang prima dan optimal.
Pelayanan yang prima dan optimal dapat diwujudkan dengan kemampuan kognitif dan
motoric yang cukup yang harus dimiliki oleh setiap petugas kesehatan khususnya di
Puskesmas Kabuh. Seperti yang kita ketahui pengendalian infeksi di Puskesmas
merupakan rangkaian aktifitas kegiatan yang wajib dilakukan oleh Tim Pencegahan dan
Pengendalian Infeksi yang merupakan tuntutan kualitas sekaligus persyaratan
administrasi Puskesmas menuju akreditasi.
Infeksi nosokomial adalah suatu infeksi yang diperoleh/dialami pasien selama
dirawat di Rumah Sakit. Infeksi Nosokomial terjadi karena adanya transmisi mikroba
pathogen yang bersumber dari lingkungan rumah sakit dan perangkatnya. Akibat lainnya
yang juga cukup merugikan adalah hari rawat penderita yang bertambah, beban biaya
menjadi semakin besar, serta merupakan bukti bahwa manajemen pelayanan medis rumah
sakit kurang membantu.
Infeksi nosokomial yang saat ini disebut sebagai healthcare associated Infection (HAIs)
merupakan masalah serius bagi semua sarana pelayanan kesehatan di seluruh dunia
termasuk Indonesia.
Bagi masyarakat umum, sarana kesehatan merupakan tempat pemeliharaan
kesehatan. Pasien mempercayakan sepenuhnya kesehatan dirinya atau keluarganya
kepada petugas kesehatan, maka kewajiban petugas kesehatan adalah menjaga
kepercayaan tersebut. Pelaksanaan Kewaspadaan Universal merupakan langkah penting
untuk menjaga sarana kesehatan (Rumah Sakit, Puskesmas, dll) sebagai tempat
penyembuhan, bukan menjadi sumber infeksi.
Berkaitan dengan hal di atas maka diperlukan rangkaian program yang
berkesinambungan dalam rangka pencegahan dan pengendalian Infeksi (PPI). Untuk
meminimalkan risiko terjadinya infeksi di rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan
lainnya perlu diterapkan pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI).
Hasil survey tentang upaya pencegahan infeksi di Puskesmas (Bachroen, 2000)
menunjukkan masih ditemukan beberapa tindakan petugas yang potensial meningkatkan
penularan penyakit kepada diri mereka, pasien yang dilayani dan masyarakat luas yaitu :
1. Cuci tangan yang tidak benar
2. Penggunaan alat pelindung diri yang tidak tepat
3. Pembuangan peralatan tajam secara tidak aman
4. Tekhnik dekontaminasi dan sterilisasi peralatan yang tidak tepat
5. Praktek kebersihan ruangan yang belum memadai.
Hal tersebut dapat saja meningkatkan resiko petugas kesehatan tertular akibat
tertusuk jarum atau terpajan darah/ cairan tubuh yang terinfeksi. Sementara pasien dapat
tertular melalui peralatan yang terkontaminasi atau menerima darah atau produk darah
yang mengandung virus.

3
B. TUJUAN
Tujuan Umum
Meningkatkan pengetahuan, pemahaman, keterampilan sumber daya manusia
tentang pencegahan dan pengendalian infeksi, sehingga dapat melindungi petugas dan
masyarakat dari penularan penyakit infeksi guna meningkatkan mutu pelayanan di
Puskesmas.
Tujuan Khusus
1. Menjadi penuntun bagi tenaga kesehatan hingga mampu memberikan pelayanan
kesehatan dimana resiko terjadinya infeksi dapat ditekan.
2. Menjadi acuan bagi para penentu kebijakan dalam perencanaan logistic di
Puskesmas.
3. Menjadi acuan dikalangan non medis yang mempunyai resiko terpajan infeksi dalam
pekerjaannya.
4. Menjadi bahan acuan petugas kesehatan dalam memberikan penyuluhan kepada
pasien/ keluarga pasien tentang tindakan pencegahan infeksi.

C. RUANG LINGKUP
Pedoman ini digunakan untuk panduan bagi petugas kesehatan di Puskesmas
dalam melaksanakan pencegahan dan pengendalian infeksi pada pelayanan terhadap
pasien yang menderita penyakit menular baik kontak langsung, droplet dan udara.

D. BATASAN OPERASIONAL
Kewaspadaan Standar diterapkan pada semua petugas dan pasien / orang yang
datang ke fasilitas pelayanan kesehatan. (Infection Control Guidelines CDC, Australia).
Kewaspadaan berdasarkan transmisi / penularan, hanya diterapkan pada pasien
yang dirawat inap di Puskesmas, sampai diagnosa tersebut dapat dikesampingkan.
(Gardner and HICPAC 1996).
Surveilans adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan secara terus menerus dan
sistematik dalam bentuk pengumpulan data, analisis data, interpretasi data dan
diseminasi informasi hasil interpretasi data bagi mereka yang membutuhkan.

E. DASAR HUKUM
1. Undang-Undang RI Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran (Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4431)
2. Undang-Undang RI Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125)
3. Undang-Undang RI Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik
4. Undang-Undang RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5063)
5. Peraturan Menteri Kesehatan RI No.741/Menkes/Per/VII/2008 tentang Standart
Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota
6. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 128/Menkes/SK/II/2004 tentang Kebijakan
Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat
7. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 374/Menkes/SK/V/2009 tentang Sistem
Kesehatan Nasional

4
BAB II

STANDAR KETENAGAAN

A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia


Dalam melaksanakan pelayanan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di UPTD
Puskesmas Kabuh dipimpin oleh Ketua Tim PPI, Sekretaris dan Anggota Tim PPI
disesuaikan dengan kualifikasi dan beban kerja yang ada. Untuk distribusi ketenagaan Tim
PPI disebutkan sesuai dengan tugas masing-masing.

TIM PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI


UPTD PUSKEMAS KABUH KABUPATEN JOMBANG
NO. KEDUDUKAN
NAMA
DALAM TIM
1 Ketua Nugroho Tri W.
2. Sekretaris Titin Sri W.
3. Anggota 1. A. Sukardi
2. Nunuk Ambarwati
3. H. Puji Istoyo
4. Enny Yuliatin
5. Ernawati
6. Nanik
7. Emi Suprapti
8. Arli Nardianti
9. Elly S.
10. Sulastri
11. Mashudi
12. Slamet S.

B. Distribusi Ketenagaan
Tim PPI berjumlah 14 orang sesuai dengan struktur organisasinya. Tim PPI terdiri dari
Ketua, Sekretaris dan Anggota Tim yang terdiri dari masing-masing unit terkait yang
berhubungan langsung dengan kegiatan PPI.

C. Kegiatan Pokok dan Rincian Kegiatan


1. Pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana kebersihan tangan
- Bekerja sama dengan bagian penunjang dalam pengadaan botol dan braket untuk
tempat handrub, sabun cair handwash, handuk pengering dan tempat handuk kotor.
- Bekerjasama dengan bagian humas dalam pengadaan poster, leaflet dan stiker
Kebersihan Tangan.
- Bekerja sama dengan bagian farmasi untuk produksi handrub dengan formula yang
direkomendasikan oleh WHO.
- Tim PPI melakukan kampanye Kebersihan Tangan untuk semua masyarakat
Puskesmas.

5
2. Pemenuhan kebutuhan APD di semua ruang pelayanan perawatan pasien dan sosialisasi
cara memakai dan menggunakan serta indikasi penggunaannya
- Bekerja sama dengan bagian umumdan farmasi dalam pengadaan APD
- Tim PPI mengadakan pelatihan cara penggunaan APD untuk semua perawat sampai
tenaga cleaning service.
- Tim PPI mas membuat poster indikasi penggunaan APD.
3. Sosialisasi perawatan peralatan pasien dengan mengetahui cara pembersihan alat non
kritikal, semi kritikal dan kritikal.
- PPI mengadakan sosialisasi cara dekontaminasi dan segala sesuatu yang
berhubungan dengan cara-cara desinfeksi dan sterilisasi untuk semua alat non
kritikal, semi kritikal dan kritikal kepada Tim PPI.
4. Pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana pengelolaan limbah medis tajam/ non
tajam dan limbah non medis di semua ruang pelayanan perawatan pasien.
- Bekerja sama dengan Instalasi Sanitasi dan Lingkungan untuk pengadaan tempat
sampah medis dan umum di seluruh area Puskesmas
- Bekerja sama dengan Instalasi Sanitasi dan Lingkungan untuk pengadaan safetybox
di seluruh area pelayanan perawatan pasien di Puskesmas.
5. Pemenuhan pengelolaan linen dengan pemisahan jalur linen kotor dan bersih,
pengadaan troli linen kotor dan bersih.
- Bekerja sama dengan bagian penunjang untuk membuat jalur terpisah antara jalur
linen kotor dan linen bersih
- Bekerja sama dengan bagian bendahara barang/ Laundry untuk pengadaan troli
linen kotor dan linen bersih.
- Bekerja sama dengan bagian bendahara barang untuk memisahkan antara ruang
laundry linen kotor dan linen bersih
6. Pelaksanaan program kesehatan karyawan
- Bekerja sama dengan Tim K3 dalam melaksanakan pemeriksaan secara berkala
karyawan Puskesmas, terutama karyawan yang bekerja dengan resiko.
- Bekerja sama dengan tim K3 dalam penanganan kasus paca pajanan
7. Penataan penempatan pasien di ruang isolasi
- Bekerja sama dengan Tim KLB untuk menata penempatan pasien di ruang isolasi
sesuai kriteria kewaspadaan transmisi droplet ataupun airborne.
8. Sosialisasi dan pemenuhan poster etika batuk
- Bekerja sama dengan bagian promkes dalam pemenuhan poster Etika batuk.
9. Sosialisasi prosedur penyuntikan yang aman dengan no recapping.
Tim PPI bersama bagian keperawatan melakukan sosialisasi cara penyuntikan yang
aman dengan one hand dan no recapping kepada seluruh tenaga keperawatan dan
tenaga non perawat dalam melakukan tindakan penyuntikan.

6
10. Pemenuhan kebutuhan cairan desinfektan, dekontaminasi, dan cara sterilisasi.
- Bekerja sama dengan Instalasi Sanitasi dan Lingkungan dalam pengadaan Spill kit
untuk semua area pelayanan perawatan pasien.
11. Surveilans oleh seluruh Tim PPI.
12. Pemenuhan sarana pencegahan infeksi di Puskesmas
- Bekerja sama dengan bagian farmasi dalam pengadaan laminar flow untuk mixing
obat intra vena.
- Bekerja sama dengan bagian unit setralisasi untuk pengadaan sterilisasi suhu
rendah.

7
BAB III

PRINSIP DASAR PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI


Dl UPTD PUSKESMAS KABUH

Pencegahan dan Pengendalian infeksi menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan
mutu pelayanan medis dan asuhan keperawatan di Puskesmas yang berfokus pada keselamatan
pasien, petugas dan lingkungan puskesmas. Kinerja PPI dicapai melalui keterlibatan aktif semua
petugas Puskesmas, mulai dari jajaran manajemen, dokter, perawat, paramedis, pekarya, petugas
kebersihan, sampai dengan petugas parkir dan satpam maupun seluruh masyarakat di puskesmas
seperti pengunjung, mitra kerja puskesmas (Bank, asuransi, rekanan penyedia barang, dll).

Kegiatan PPI harus dilakukan secara tepat di semua bagian/area di Puskesmas, mencakup
seluruh masyarakat puskesmas dengan menggunakan prosedur dan petunjuk pelaksanaan yang
ditetapkan oleh Puskesmas. Upaya pokok PPI mendasarkan pada upaya memutus rantai
penularan infeksi berfokus pada Kewaspadaan Standar (Standart Precautions) yang merupakan
gabungan Kewaspadaan Universal (Universal Precautions) dan BSI (Body Substance Isolation),
serta Kewaspadaan Isolasi berdasarkan transmisi penyakit.

Upaya pencegahan dan pengendalian infeksi puskesmas dirancang untuk memutus rantai
penularan penyakit infeksi menuju perlindungan pasien, petugas kesehatan, pengunjung dan
masyarakat.

Komponen Kewaspadaan Standar :

1. Kebersihan tangan

2. Alat pelindung diri (APD) : sarung tangan, masker, gogle/kacamata pelindung, face shield
(pelindung wajah), gaun, topi, pelindung kaki

3. Pengelolaan peralatan perawatan pasien

4. Pengendalian lingkungan

5. Penatalaksanaan linen

6. Pengelolaan limbah dan benda tajam

7. Penempatan pasien

8. Higiene respirasi/etika batuk

9. Praktik menyuntik yang aman

10. Kesehatan karyawan/perlindungan petugas kesehatan

Kewaspadaan standar diterapkan pada seluruh kegiatan pelayanan pada pasien di


puskesmas, baik pada pasien rawat jalan maupun rawat inap dengan ataupun tanpa penyakit
infeksi yang sudah teridentifikasi. Penerapan komponen kewaspadaan standar yang
nasional/tepat didasarkan pada penilaian risiko potensial yang dihadapi pasien atau petugas
dalam setiap kegiatan pelayanan yang spesifik sehingga implementasi setiap komponen
standar tidak harus seragam/sama pada setiap aktivitas/kasus.

8
Upaya selanjutnya PPI dalam memutus rantai penularan infeksi di puskesmas adalah
dengan penerapan kewaspadaan isolasi berdasarkan cara penularan penyakit infeksi yang
sudah dapat diduga atau diidentifikasi. Kewaspadaan isolasi sesuai cara penularan infeksi
diterapkan sebagai komplemen/tambahan pada kewaspadaan standar tehadap pasien yang
sudah diidentifikasi menderita penyakit infeksi berdasarkan karakteristik demografik, klinik
dengan atau tanpa pemeriksaan diagnostik penunjang khususnya mikrobiologi klinik.
Terdapat 3 jenis kewaspadaan isolasi berdasarkan cara transmisi infeksi yaitu kewaspadaan
transmisi kontak, kewaspadaan transmisi droplet dan kewaspadaan transmisi airborne/udara.

Penilaian risiko penularan dikerjakan sebelum petugas memberikan


tindakan/perawatan kepada pasien. Perlu selalu dipertimbangkan kemungkinan terjadi
kombinasi cara transmisi infeksi yang memberikan konsekuensi perlunya dilakukan lebih dari
satu standar kewaspadaan isolasi. Apabila menghadapi suatu penyakit yang belum
dikenal/merupakan penyakit infeksi baru atau belum dikenali cara penularannya, maka
direkomendasikan untuk menerapkan prinsip kewaspadaan yang tertinggi, yaitu kewaspadaan
transmisi airborne.

Pertimbangan praktis Pelaksanaan Kewaspadaan Standar

Perlakukan baik pasien atau petugas sebagai individu yang potensial menularkan dan
rentan terhadap infeksi. Pertimbangkan penggunaan alat pelindung diri sesuai penilaian
risiko pada awal setiap aktivitas pelayanan kepada pasien.

KEWASPADAAN STANDAR

A. HAND HYGIENE/KEBERSIHAN TANGAN

Kebersihan tangan telah diakui sebagai salah satu tindakan terpenting untuk
mengurangi penularan mikroorganisme dan mencegah infeksi di puskesmas/fasilitas
kesehatan lain. Diawali hasil penelitian Semmelweis (1861), berlanjut hasil-hasil penelitian
lain sesudahnya menunjukkan bahwa kebersihan tangan petugas merupakan faktor penting
pada penularan infeksi antar pasien. Berbagai penelitian mengindikasikan bahwa penularan
infeksi Puskesmas sebagian besar terjadi melalui transmisi kontak, khususnya melalui
kontak tangan petugas disamping kontak melalui peralatan/tindakan invasif.

Dari sisi Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), praktik kebersihan tangan
ditujukan untuk mencegah infeksi yang ditularkan melalui tangan dengan menghilangkan
semua kotoran dan debris serta menghambat atau membunuh mikroorganisme pada kulit,
baik yang diperoleh dari kontak dengan pasien dan lingkungan maupun juga sejumlah
mikroorganisme permanen yang tinggal di lapisan terdalam kulit. Daerah di bawah kuku
(ruang subungual) pada jam tangan mengandung jumlah mikroorganisme tertinggi dan
kuku yang panjang dapat berperan sebagai reservoar untuk bakteri (Gram negatif seperti
P.aeruginosa), jamur dan patogen lain.

Kuku harus dijaga tetap pendek, tidak lebih dan 3 mm melebihi ujung jari, dan
tidak memakai cat kuku. Penggunaan perhiasan di tangan tidak diperkenankan
selama bertugas.

9
Ada tiga cara kebersihan tangan :

1. Mencuci tangan : dilakukan menggunakan air mengalir dengan sabun biasa atau
sabun antisepstik. Mencuci tangan dengan prosedur yang tepat harus dilakukan
apabila tangan terlihat kotor atau setelah terkena cairan tubuh;

2. Alternatif cuci tangan (alcuta) dengan handrub antiseptik : handrub antiseptik


juga berisi pelembut seperti gliserin, gliserol propelin atau sorbitol yang melindungi
dan melembutkan kulit.

- Dilakukan ketika tangan tidak terlihat kotoran atau debris.

- Alcuta dapat dilakukan menggunakan handrub antiseptik berbasis alkohol 70%

- Terutama di tempat yang akses wastafel dan air bersih terbatas.

3. Cuci tangan bedah (surgical handrub): cara kebersihan tangan sebelum melakukan
tindakan bedah :

a. Secara aseptik menggunakan sabun antiseptik dan sikat steril :

i. Lepaskan semua perhiasan yang ada di tangan (gelang, cincin).

ii. Menggunakan air bersih mengalir serta menggunakan sabun antiseptik yang
mengandung khlorheksidin glukonat 4%.

iii. Tangan dibasahi sampai siku.

iv. Sabun antiseptik ini dipompa dari tempatnya menggunakan siku.

v. Mulai tangan kiri disikat : kuku, sela jari, telapak tangan (5x), punggung
tangan (5x), setiap sisi lengan bawah sampai siku (5x), hingga bersih. Ganti
tangan kanan, kerjakan serupa berulang ulang lima sampai sepuluh menit.

vi. Tangan dibilas dengan air bersih yang mengalir dengan posisi Jari tangan
lebih tinggi dan posisi siku.

vii. Dihindarkan tangan yang sudah dicuci bersih bersentuh benda di sekitarnya.

b. Secara aseptik menggunakan antiseptik handrub berbasis alkohol:

i. Lepaskan semua perhiasan yang ada di tangan (gelang, cincin).

ii. Cuci tangan menggunakan air bersih mengalir dan sabun antiseptik yang
mengandung khlorheksidin glukonat sampai dengan siku, tanpa sikat

iii. Keringkan dengan tisu pengering dengan baik

iv. Ambil handrub berbasis alkohol di telapak tangan kiri, menggunakan


tangan kanan untuk mengoperasikan dispenser

v. Gosokkan ujung jari dan kuku jari kanan secara seksama di handrub alkohol
telapak tangan kiri untuk membersihkan kolonisasi kuman di bawah kuku (5
detik)

vi. Gosokkan telapak tangan kiri pada tangan dari lengan kanan bawah sampai
dengan siku, dengan gerakan memutar, pastikan seluruh area lengan tersebut
tergosok sampai dengan handrub alkohol kering sempurna (15 detik)

10
vii. Lakukan langkah iv-vi kembali untuk ujung jari dan kuku jari kiri (5 detik),
dilanjutkan lengan kiri bawah sampai dengan siku, sampai dengan kering
sempurna (15 detik)

viii. Tuangkan kembali handrub berbasis alkohol dilanjutkan 7 langkah prosedur


handrub rutin (15-20 detik)

Berbagai penelitian membuktikan bahwa kebersihan tangan untuk mencegah


penularan mikroorganisme melalui kontak tangan TIDAK EFEKTIF bila menggunakan
sabun atau bahan yang tidak standar, volume terlalu sedikit dan dalam waktu yang terlalu
singkat. Pemakaian asesoris tangan dan memelihara kuku panjang tidak diperkenankan saat
bertugas merawat pasien karena menghalangi efektivitas kebersihan tangan.

Indikasi Kebersihan Tangan

Secara umum, kebersihan tangan di fasilitas kesehatan dilakukan berdasarkan


Pedoman PPI Departemen Kesehatan (2007), disebutkan bahwa kebersihan tangan
dilakukan sebelum dan setelah :

1. memeriksa dan kontak langsung dengan pasien


2. memakai dan melepas sarung tangan
3. menyiapkan dan mengkonsumsi makanan
4. pada situasi yang membuat tangan terkontaminasi:
a. memegang instrumen kotor atau barang lain yang terkontaminasi
b. menyentuh membran mukosa, darah atau cairan tubuh lainnya (sekresi atau
ekskresi)
5. masuk dan meninggalkan ruang isolasi
Sesuai dengan area tempat bertugas, saat kebersihan tangan wajib dilakukan oleh
setiap petugas disesuaikan dengan potensi risiko transmisi patogen antar pasien, antara
petugas dan pasien, antara petugas dan lingkungan/peralatan terkontaminasi, antara petugas
dengan bahan yang berpotensi infeksius. Bagi petugas di luar area perawatan,
direkomendasikan melakukan kebersihan tangan saat tiba di tempat pelayanan kesehatan,
sebelum masuk dan meninggalkan ruangan pasien, sesudah dari kamar kecil dan sebelum
meninggalkan puskesmas.

Berdasarkan pedoman WHO (2009), direkomendasikan 5 saat penting wajib


menjalankan kebePuskesmasihan tangan di ruang perawatan, diperkenaikan sebagai Five
moments for hand hygiene.

Lima saat penting wajib menjalankan


higiene tangan (WHO) :
1. sebelum kontak pasien
2. sebelum melakukan prosedur
tindakan/aseptik
3. seteiah kontak cairan tubuh
4. setelah kontak pasien
5. setelah menyentuh lingkungan sekitar
pasien

11
1. Saat kebersihan tangan untuk pasien

Pasien perlu mendapatkan edukasi tentang kebersihan tangan pada setiap


orientasi pasien rawat inap. Pasien berhak mengingatkan petugas melaksanakan
kebersihan tangan setiap kali akan memberikan perawatan atau melakukan tindakan
kepada dirinya agar meminimkan risiko pemindahan patogen penyebab infeksi antar
pasien, petugas-pasien, maupun melalui peralatan.

Pasien perlu melaksanakan kebersihan tangan saat sebelum dan sesudah makan,
setelah menyentuh cairan tubuh (urine, dahak, ingus, dll) atau setelah dan kamar
mandi/WC.

2. Saat kebersihan tangan untuk pengunjung

Pengunjung perlu mendapatkan edukasi tentang kebersihan tangan melalui


program penyuluhan kesehatan masyarakat puskesmas, melalui media leflet - poster,
dll. Pengunjung perlu melaksanakan kebersihan tangan pada setiap akan menemui
pasien, setelah menemui pasien/kontak lingkungan sekitar pasien, setelah kontak cairan
tubuh, sebelum meninggalkan puskesmas, sebelum dan setelah makan.

3. Rekomendasi Mencuci Tangan

- Pemakaian sabun dan air mengalir penting ketika tangan terlihat kotor.

- Air mengalir dan sabun yang digosokkan di seluruh bagian/lipatan tangan harus
digunakan selama 40 sampai 60 detik.

- Penting sekali untuk mengeringkan tangan setelah mencucinya.

- Mencuci tangan memakai sabun biasa atau sabun antiseptik dan air bersih adalah
sama efektifnya, bila dijalankan sesuai prosedur. Sabun biasa mengurangi terjadinya
iritasi kulit. Untuk membantu mencegah iritasi kulit dan dermatitis kontak karena
seringnya mencuci tangan, direkomendasikan penggunaan produk perawatan tangan
(losion pelembab/krem).

Jika tidak ada handuk kertas, keringkan tangan dengan handuk bersih atau keringkan di
udara. Handuk yang digunakan bersihdapat dengan cepat terkontaminasi dan tidak lagi
direkomendasikan. Membawa handuk /sapu tangan kecil pribadi membantu
menghindari pemakaian handuk kotor.

4. Rekomendasi Alternatif cuci tangan (alcuta) dengan handrub antiseptik (handrub


berbasis alkohol)

Handrub antiseptik tidak menghilangkan kotoran atau zat organik, sehingga jika
tangan terlihat kotor atau terkontaminasi (oleh darah atau cairan tubuh lain), harus
mencuci tangan dengan sabun dan air terlebih dahulu.
Antiseptik yang bereaksi cepat menghilangkan sementara atau mengurangi
mikroorganisme penghuni tetap dan melindungi kulit tanpa menggunakan air
direkomendasikan yang mengandung alkohol 60-90%, emollient dan dapat
ditambahkan antiseptik (misalnya khlorheksidin glukonat 2-4%) yang memiliki anti
residual.
Handrub antiseptik yang hanya berisi bahan aktif alkohol, berefek residual terbatas
dibandingkan yang berisi tambahan antiseptik seperti khlorheksidin
Hasil observasi mengindikasikan bahwa teknik mencuci tangan yang tidak tepat dan
keterbatasan sumber air bersih berhubungan dengan rendahnya tingkat kepatuhan

12
dan mengakibatkan rekomendasi kebersihan tangan menjadi tidak efektif. Handrub
antiseptik lebih efektif dibandingkan mencuci tangan dengan sabun biasa atau sabun
antiseptik karena dapat disediakan di berbagai tempat sesuai kebutuhan, tidak
memerlukan sumber air, waktu lebih singkat dan kurang menimbulkan iritasi kulit
(tidak kering, pecah-pecah atau merekah). Dengan demikian, handrub antiseptik
dapat menggantikan mencuci tangan dengan sabun dan air sebagai prosedur
utama dengan syarat tangan tidak tampak kotor.

5. Prosedur menjaga kebersihan tangan dengan formula berbasis alkohol :


1. Tuangkan secukupnya handrub berbasis alkohol untuk dapat mengisi 1 cekungan
telapak tangan (lebih kurang 1 sendok teh/3cc)
2. Gosokkan larutan dengan teliti dan benar pada kedua belah tangan, khususnya di
antara jari-jemari, di bawah kuku, sesuai 7 langkah cuci tangan, hingga kering
dalam waktu 20-30 detik

Prosedur mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir :

40 60 Detik
Sumber : Pedoman WHO, 2009

13
Prosedur kebersihan tangan dengan larutan berbahan dasar alkohol

Sumber : Pedoman WHO, 2009

Prosedur Cuci Tangan Bedah Menggunakan Larutan Berbasis Alkohol

Dilakukan setelah petugas mencuci tangan sampai dengan siku dengan sabun berbahan
chlorhexidin 4% tanpa sikat, tangan dalam kondisi kering.

14
15
B. ALAT PELINDUNG DIRI (APD)

Pelindung barier yang secara umum disebut sebagai alat pelindung diri (APD) telah
digunakan selama bertahun-tahun untuk melindungi pasien dari mikroorganisme yang ada
pada petugas kesehatan. Namun dengan munculnya AIDS dan hepatitis C, serta
meningkatnya kembali tuberkulosis di banyak negara, pemakaian APD menjadi sangat
penting untuk melindungi petugas. Dengan munculnya infeksi baru seperti avian influenza
(flu burung), sars dan penyakit infeksi lainnya (emerging infectious diseases), pemakaian
APD yang tepat dan benar menjadi semakin penting baik untuk perlindungan pasien
maupun petugas.

A. Penggunaan Sarung Tangan

Penggunaan sarung tangan bertujuan untuk melindungi tangan dari kontak


dengan darah, cairan tubuh, sekresi, ekskresi, bahan terkontaminasi, mukus membran
dan kulit yang tidak utuh atau kulit utuh yang potensial terkontaminasi. Sarung tangan
harus selalu dipakai oleh setiap petugas sebelum kontak dengan darah. cairan tubuh,

16
sekresi, ekskresi, bahan terkontaminasi, membran mukosa dan kulit yang tidak utuh,
kulit utuh yang potensial terkontaminasi serta sebelum melakukan tindakan aseptik,
tindakan invasif atau tindakan bedah.

Terdapat tiga jenis sarung tangan, yaitu

b. Sarung tangan bersih


Adalah sarung tangan yang didisinfeksi tingkat tinggi, dan digunakan sebelum
tindakan yang ada kemungkinan kontak tangan dengan darah atau cairan tubuh
lain, membran mukosa atau kulit yang tidak utuh, menangani bahan-bahan bekas
pakai yang terkontaminasi atau menyentuh permukaan yang tercemar serta
melakukan tindakan prosedur medis.

b. Sarung tangan steril:

Adalah sarung tangan yang distenilkan oleh Puskesmas atau dan pabrikan dan
harus digunakan pada tindakan pembedahan atau tindakan aseptik / invasif.

c. Sarung tangan rumah tangga:

Sarung tangan kebersihan terbuat dan latex atau vinil yang tebal, seperti sarung
tangan yang biasa digunakan untuk keperluan rumah tangga. Sarung tangan
rumah tangga dipakai pada waktu meebersihan alat kesehatan, membersihkan
permukaan meja kerja, membersihkan permukaan lingkungan, dll. Sarung tangan
jenis ini dapat digunakan lagi setelah dicuci besih

Beberapa Hal yang Harus Diperhatikan Pada Penggunaan Sarung Tangan

Sarung tangan tidak perlu dikenakan untuk tindakan tanpa kemungkinan terpajan
darah atau cairan tubuh lain. Contoh memberi makan pasien, membantu minum obat,
membantu jalan, dll.

Pada waktu sebelum menggunakan sarung tangan, lakukan kebersihan tangan


terlebih dahulu. Harus diperhatikan sebelum melakukan tindakan/ pemeriksaan petugas
menggunakan sarung tangan dengan ukuran yang sesuai khususnya sarung tangan bedah
karena dapat menganggu ketrampilan/teknik operasi dan memudahkan robek. Jaga agar
kuku selalu pendek untuk menurunkan risiko sarung tangan robek. Pakai sarung tangan
sekali pakai saat merawat pasien, segera lepas sarung tangan apabla telah selesai digunakan
atau sebelum beralih ke pasien lain atau aktivitas yang lain. Hindari kontak pada benda-
benda lain selain yang berhubungan dengan tindakan yang sedang dilakukan (misalnya
membuka pintu selagi masih memakai sarung tangan, menulis, rnengangkat telpon, dsb).
Cuci tangan segera setelah melepas sarung tangan.

Tidak direkomendasikan menggunakan sarung tangan rangkap bila tidak benar-


banar diperlukan karena tidak meningkatkan perlindungan, bahkan akan meningkatkan
risiko kecelakaan karena menurunkan kepekaan (raba).

Indikasi Pemakaian Sarung Tangan Ganda

Sarung tangan ganda perlu dipakai pada keadaan khusus, antara lain:

17
a. Tindakan yang memakan waktu lama (lebih dan 60 menit) dan atau melakukan
tindakan operasi di area sempit dengan kemungkinan besar robekan sarung tangan
oleh alat tajam seperti jarum, gunting atau penjepit;

b. Tindakan yang berhubungan dengan jumlah darah atau cairan tubuh yang banyak
Persalinan, dll.;

c. Penyiapan bahan yang berisiko toksik/iritatif pada kulit tangan (obat sitostatika, dll).

Sarung tangan rumah tangga dapat dicuci dan digunakan berkali-kali untuk
membePuskesmasihkan peralatan, pencucian linen, membePuskesmasihkan ceceran darah
atau cairan tubuh lain. Sarung tangan rumah tangga tidak dipakai untuk perawatan yang
menyentuh kulit pasien secara langsung.

BAGAN ALUR PEMILIHAN JENIS SARUNG TANGAN

B. Penggunaan Pelindung Wajah (masker ) dan Pelindung Mata

Penggunaan pelindung wajah dan pelindung mata dimaksudkan untuk


melindungi petugas sebagai barier selaput lendir hidung, mulut dan mata selama
melakukan tindakan atau perawatan pasien yang memungkinkan terjadi percikan
darah dan cairan tubuh lain, tindakan pertolongan persalianan, perawatan gigi serta
tindakan yang menghasilkan aerosol. Pemakaian pelindung mata harus sebaik
mungkin sehingga tidak mengganggu pandangan dan ketajaman pandangan.

Masker digunakan untuk menahan cipratan yang keluar sewaktu petugas


kesehatan berbicara, batuk atau bersin serta untuk mencegah percikan darah atau
cairan tubuh lainnya memasuki hidung atau mulut petugas kesehatan. Masker harus
cukup besar untuk menutupi hidung, mulut, bagian bawah dagu dan rambut pada
wajah (jenggot).

18
Masker disposable dan bahan sintetik dapat memberikan perlindungan dan
tetesan partikel berukuran besar (> 5 mikron) yang tePuskesmasebar melalui batuk
atau bePuskesmasin ke orang yang berada di dekat pasien (kurang dari 1 meter). Pada
pasien dengan penyakit menular melalui udara atau droplet nuklei, masker yang
digunakan adalah respirator partikulat dengan efisiensi tinggi, misalnya N-95, yang
dapat melindungi petugas terhadap inhalasi partikel mikro dengan ukuran < 5 mikron
yang dibawa oleh udara. Sebelum petugas memakai respirator N-95, perlu dilakukan
uji kesesuaian (fit test) pada setiap pemakaiannya.

Pemakaian respirator partikulat (masker efisiensi tinggi)

Petugas kesehatan harus:

- Memeriksa sisi masker yang menempel pada wajah untuk melihat apakah lapisan
utuh dan tidak cacat;
- Memastikan tali masker dalam kondisi baik dan harus menempel pada titik
sambungan;
- Memastikan klip hidung yang terbuat dan logam (jika ada) berfungsi baik
Fit test untuk respirator partikulat

Fungsi respirator tidak optimal / tidak efektif jika respirator tidak dapat melekat
sempurna pada wajah, seperti pada keadaan dibawah ini :

- Adanya jenggot, cambang/rambut pada wajah bagian bawah/gagang kacamata


- Ketiadaan satu/dua gigi pada kedua sisi dapat mempengaruhi perlekatan bagian
wajah
- Klip hidung (logam) dipencet/dijepit menyebabkan kebocoran. Direkomendasikan
meratakan klip di atas hidung menggunakan kedua telunjuk dengan cara menekan
dan menyusuri bagian atas respirator.
- Jika mungkin direkomendasikan fit test dilakukan setiap saat sebelum memakai
respirator partikulat.

Cara fit test respirator partikulat

Langkah 1:

Genggamlah respirator dengan satu tangan, posisikan


sisi depan bagian hidung respirator pada ujung jari-jari
anda, biarkan tali pengikat respirator menjuntal bebas
di bawah tangan anda.

19
Langkah 2:

Posisikan respirator di bawah dagu anda dan sisi untuk


hidung berada di atas

Langkah 3:

Tariklah tali pengikat respirator yang atas dan


posisikan agak tinggi di belakang kepala anda di atas
telinga.

Tariklah tali pengikat respirator yang bawah dan


posisikan tali di bawah telinga.

Langkah 4:

Letakkan jari-jari kedua tangan anda diatas bagian


hidung yang terbuat dan logam. Tekan sisi logam
tePuskesmasebut (gunakan 2 jari dan masing-masing
tangan) mengikuti bentuk hidung anda. Jangan
menekan respirator dengan satu tangan karena dapat
mengakibatkan respirator rusak.

Langkah 5:

Tutup bagian depan respirator dengan kedua tangan,


dan hati - hati agar posisi respirator tidak berubah.

Langkah 5.a :

Hembuskan napas kuat - kuat. Tekanan positif di dalam respirator berarti tidak ada
kebocoran. Bila terjadi kebocoran atur posisi dari/atau ketegangan tali. Uji kembali
kekuatan respirator. Ulangi langkah tersebut sampai respirator benar- benar tertutup
rapat.

Langkah 5 b : Pemeriksaan segel negatif

Tarik napas dalam-dalam. Bila tidak ada kebocoran, tekanan negatif akan membuat
respirator menempel ke wajah. Kebocoran akan menyebabkan hilangnya tekanan
negatif di dalam respirator akibat udara masuk melalui celah-celah pada segelnya.

20
Beberapa catatan pada penggunaan respirator partikulat :

1. Digunakan petugas hanya pada perawatan pasien infeksi airborne

2. Dapat digunakan oleh seorang petugas untuk 1 shift tugas pada perawatan pasien
dengan infeksi airborne / sejenis

3. Penyimpanannya dipastikan secara individual di dalam plastik kering dengan sisi


luar respirator diposisikan berada di bagian dalam, diberi identitas.

C. Penggunaan Topi

Topi digunakan untuk menutup rambut dan kulit kepala sehingga serpihan
kulit dan rambut tidak masuk ke dalam luka selama pembedahan. Topi harus cukup
besar untuk menutup semua rambut. Meskipun topi dapat memberikan sejumlah
perlindungan pada pasien, tetapi tujuan utama adalah untuk melindungi pemakainya
dari darah atau cairan tubuh yang terpercik atau menyemprot.

D. Penggunaan Gaun/Baju Pelindung

Gaun pelindung digunakan untuk menutupi baju kerja pada saat merawat
pasien yang diketahui atau dicurigai menderita penyakit menular melalui
droplet/airborne, juga melindungi petugas dari kemungkinan terkena percikan darah,
cairan tubuh lain karena suatu tindakan/prosedur medis/keperawatan. Jenis bahan
dapat berupa bahan tembus/tidak tembus cairan.

Gaun pelindung steril dipakai oleh ahli bedah dan asisten pada saat melakukan
pembedahan, sedangkan gaun pelindung non steril dipakai di berbagai unit yang
berisiko tinggi, misalnya di kamar bePuskesmasalin, ruang pulih di kamar bedah atau
di ruang isolasi.

Indikasi Pemakaian Gaun Pelindung

a. Saat membersihkan luka

b. Melakukan irigasi

c. Tindakan drainase

d. Menuang cairan terkontaminasi

e. Menangani pasien dengan perdarahan masif

g. Tindakan perawatan gigi

Direkomendasikan selau memakai pakaian kerja yang kebersihan setiap kali


dinas. Pemakaian gaun pelindung atau celemek sesuai indikasi berdasarkan

21
identifikasi/penilaian risiko. Gaun pelindung harus segera diganti bila terkena kotoran,
darah atau cairan tubuh.

Tidak ada kewajiban memberikan baju khusus untuk pengunjung memasuki


ruang tertentu di Puskesmas kecuali sebagaimana direkomendasikan berdasarkan
risiko transmisi infeksi. Apabila ada ruangan yang mengatur penggunaan baju khusus
untuk pengunjung. direkomendasikan pelaksanaan standar kebersihan secara tepat
untuk meminimalkan risiko transmisi infeksi melalui media baju tersebut, yaitu

a. Dicuci minimal setiap hari kecuali pada situasi tertentu dimana baju terkena
kotoran/cairan tubuh harus segera dicuci;

b. Baju pengunjung yang terkontaminasi segera ditempatkan di dalam wadah linen


infeksius;

c. Baju pengunjung pasca pakai tanpa kontaminasi ditempatkan di dalam wadah


linen non infeksius (kotor ringan)

E. Penggunaan Apron

Apron terbuat dan karet atau plastik merupakan penghalang tahan air untuk
bagian depan tubuh petugas kesehatan. Petugas kesehatan harus mengenakan apron
ketika melakukan perawatan langsung pada pasien, membersihkan pasien atau
melakukan prosedur dimana ada risiko tumpahan darah, cairan tubuh atau sekresi. Hal
ini penting jika gaun pelindung tidak tahan air. Apron akan mencegah cairan tubuh
pasien mengenai baju dan kulit petugas.

F. Penggunaan Pelindung Kaki

Pelindung kaki digunakan untuk melindungi kaki dan cedera akibat benda
tajam atau benda berat yang mungkin jatuh secara tidak sengaja ke atas kaki. Oleh
karena itu sandal jepit atau sepatu yang terbuat dan bahan lunak (kain) tidak boleh
dikenakan. Sepatu boot karet atau sepatu kulit tertutup memberikan lebih banyak
perlindungan, tetapi harus dijaga tetap bePuskesmasih dan bebas kontaminasi darah
atau tumpahan cairan tubuh lain.

Penutup sepatu tidak diperlukan jika sepatu bersih. Sepatu yang tahan terhadap
benda tajam atau kedap air harus tersedia di kamar bedah. Sebuah penelitian
menyatakan bahwa penutup sepatu dari kain atau kertas dapat meningkatkan
kontaminasi karena memungkinkan darah merembes melalui sepatu dan seringkali
digunakan sampai di luar ruang operasi. kemudian dilepas tanpa sarung tangan
sehingga terjadi pencemaran.

22
ALUR PERMINTAAN, PENYEDIAAN DAN PENYIMPANAN APD

DI UPTD PUSKESMAS KABUH

Alur Permintaan APD dan Sistem Penyediaan

- APD yang disposable dimintakan melalui gudang obat dengan sistem paket buffer floor
stock.
- APD yang tidak habis pakai direncanakan dan disediakan melalui Bendahara barang
Puskesmas Kabuh;
- Jenis dan jumlah APD yang disediakan di setiap ruangan sebagai buffer floor stock
direncanakan dan diusulkan oleh Penanggung Jawab Unit sesuai kebutuhan pelayanan medis
dan tindakan keperawatan spesifiknya;
- Standar perhitungan kebutuhan APD untuk setiap pelayanan pasien ditetapkan tim PPI
- Sistem ketersediaan buffer perlu dimonitor secara kontinue, dicatat setiap penggunaannya,
untuk menjamin ketersediaan APD sesuai kebutuhan spesifik pelayanan medis dan tindakan
keperawatan di setiap ruangan;
- Penggunaan APD secara tepat sesuai indikasi, dengan mengukur risiko transmisi, dilakukan
secara rutin menggunakan daftar tilik, dievaluasi dan di-feedback-kan kepada yang terkait;
- Rekapitulasi penggunaan APD setiap ruangan disampaikan Bendahara barang dan tim PPI
untuk bahan evaluasi dan perencanaan.

Penyimpanan APD di Ruangan

Penyimpanan seluruh APD yang dibutuhkan di ruangan (sesuai kebutuhan spesifik setiap
ruangan) direkomendasikan dalam sistem ketersediaan buffer, tersendiri dalam almari kaca, agar
mudah diakses bila dibutuhkan. Apabila tidak ada almari khusus, direkomendasikan diletakkan
dalam almari linen ditempatkan dengan penempatan yang rapi, bersih dan kering, diberikan label
identitas.

Langkah-Langkah Mengenakan Alat Pelindung Diri

1. Kenakan baju operasi sebagai


pertama pakaian pelindung

5. Kenakan celemek plastik

2. Kenakan sepatu bot karet

6. Kenaikan sepasang sarung


tangan kedua

23
7. Kenakan masker

3. Kenakan sepasang sarung


tangan pertama

8. Kenakan penutup kepala

4. Kenakan gaun luar

9. Kenakan alat pelindung mata

24
Langkah-Langkah Melepaskan Alat Pelindung Diri

1. Disinfeksi sepasang sarung


tangan bagian luar

7. Lepaskan pelindung mata

2. Disinfeksi celemek dan sepatu


bot

5. Lepaskan penutup kepala

3. Lepaskan sepasang sarung


tangan bagian luar

9. Lepaskan masker

4. Lepaskan celemek

10. Lepaskan sepatu bot

5. Lepaskan gaun bagian luar

11. Lepaskan sepasang sarung


tangan bagian dalam

6. Disinfeksi tangan yang


mengenakan sarung tangan

12. Cuci tangan dengan sabun dan


air bePuskesmasih

Sumber : Pedoman PPI Kemenkes RI, 2011

25
Pemilihan Alat Pelindung Sesuai Jenis Pajanan

Jenis pajanan Contoh Pilihan alat pelindung


Risiko rendah - Injeksi - Sarung tangan tidak
1. Kontak dengan kulit - Perawatan luka esensial
ringan
2. Tidak terpajan darah
langsung
Risiko sedang - Pemeriksaan pelvis - Sarung tangan
1. Kemungkinan - InsePuskesmasi IUD - Mungkin perlu apron
terpajan darah namun - Melepas IUD atau gaun pelindung
tidak ada cipratan - Pemasangan kateter
intra vena
- Penanganan spesimen
laboratorium
- Perawatan luka berat
- Ceceran darah
Risiko tinggi - Pertolongan - Sarung tangan ganda
1. Kemungkinan Persalinan per - Apron
vaginam - Baju Pelindung
terpajan darah dan
kemungkinan - Kaca mata pelindung
terciprat - Masker
2. Perdarahan masif - Sepatu boot

26
Manfaat Masing-masing Alat Pelindung Diri

Alat pelindung Terhadap pasien Terhadap petugas kesehatan


Sarung tangan Mencegah kontak Mencegah kontak tangan
mikroorganisme yang petugas dengan darah/ cairan
terdapat pada tangan tubuh penderita, selaput lendir,
petugas kesehatan kepada kulit tidak utuh atau alat
pasien kesehatan/permukaan
terkontaminasi
Masker Mencegah kontak droplet Mencegah membran mukosa
dan mulut/hidung petugas petugas kesehatan (hidung dan
kesehatan yg mulut) kontak dengan percikan
mengandung darah atau cairan tubuh
mikroorganisme dan penderita
terpercik saat bernafas,
bicara atau batuk kepada
pasien
Kacamata Mencegah membran mukosa
Pelindung petugas kesehatan kontak
dengan percikan darah atau
cairan tubuh penderita
Tutup Kepala Mencegah jatuhnya
mikroorganisme dan
rambut dan kulit kepala
petugas ke daerah steril
Jas dan celemek Mencegah kontak Mencegah kulit petugas
plastic mikroorganisme dan kesehatan kontak dengan
tangan, tubuh dan percikan darah atau cairan tubuh
pakaian petugas penderita
kesehatan kepada pasien
Sepatu Pelindung Sepatu yang Mencegah perlukaan kaki oleh
bePuskesmasih benda tajam yang
mengurangi terkontaminasi atau terjepit
kemungkinan terbawanya benda berat (contoh, mencegah
mikroorganisme dan luka karena menginjak benda
ruangan lain atau luar tajam/kejatuhan alkes) ;
ruangan mencegah kontak dengan darah /
cairan tubuh lainnya

27
Panduan Pemilihan APD Berdasarkan Aktivitas Perawatan Pasien

Kacamata
Gaun/
Jenis tindakan Sarung tangan Masker / penutup Topi
Celemek
wajah
Memandikan pasien Tidak, kecuali Tidak Tidak Tidak Tidak
kulit tidak utuh
Vulva / penis hygiene Ya Tidak Tidak Tidak Tidak
Menolong BAB Ya Ya Tidak Tidak Tidak
Menolong BAK Ya Tidak Tidak Tidak Tidak
Oral Hygiene Ya Tidak Tidak Tidak Tidak
Mengambil darah arteri Ya Ya Tidak Tidak Tidak
Mengambil darah vena Ya Tidak Tidak Tidak Tidak
Perawatan luka mayor Ya (steril) Ya Tidak Tidak Tidak
Perawatan luka minor Ya Tidak Tidak Tidak Tidak
Perawatan luka infeksius Ya (steril) Ya Tidak Tidak Tidak
Mengukur TTV Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak
Melakukan penyuntikan Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak
Memasang infus Ya Tidak Tidak Tidak Tidak
Memasang dawer catheter Ya (steril) Tidak Tidak Tidak Tidak
Membersihkan ruang Ya (sarung Tidak Tidak Tidak Tidak
perawatan tangan RT)
Membersihkan peralatan Ya (sarung Ya Ya Ya Tidak
habis pakai tangan RT)
Transportasi pasien Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak
Melakukan EKG Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak
Mengganti infus Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak
Memberikan diit per oral Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak
Mengantar spesimen ke Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak
laboratorium
Mengganti linen tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak
terkontaminasi
Mengganti linen Ya Tidak Tidak Tidak Tidak
terkontaminasi
Memasang NGT Ya ya Tidak Tidak Tidak
Memberi tetes mata Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak
Irigasi mata Ya Tidak Tidak Tidak Tidak

28
C. PENGELOLAAN PERALATAN KESEHATAN/INSTRUMEN PASCA PAKAI

Pengelolaan alat kesehatan/instrumen pasca pakai secara benar, tepat, efektif dan
efisien merupakan hal yang sangat penting dan harus dimengerti /dipahami oleh seluruh staf
kesehatan pada setiap tingkat, mulai dan petugas pelayanan kesehatan sampai ke petugas
pembePuskesmasihan dan pemeliharaan sebagai upaya pencegahan dan pengendalian
infeksi di Puskesmas. Proses pencegahan terjadinya infeksi silang (cross contamination)
dari alat/instrumen, setelah digunakan dengan melakukan dekontaminasi. Berdasarkan
kemungkinan terjadinya infeksi, Dr. E.H.Spaulding mengelompokkan alat/instrumen
pasca pakai menjadi 3 kelompok yaitu :

NO. TINGKAT RISIKO PENGELOLAAN ALAT


1. Risiko Tinggi (critical) adalah alat Sterilisasi atau menggunakan
yang digunakan menembus kulit atau alat steril sekali pakai
rongga tubuh atau pembuluh darah (disposable)
2. Risiko sedang (semi critical) adalah Disinfeksi tingkat tinggi (DTT)
alat yang digunakan pada mukosa atau
kulit yang tidak utuh
3. Risiko rendah (non critical) adalah Disinfeksi tingkat rendah atau
alat yang digunakan pada kulit yang cuci bersih
utuh/ pada permukaan kulit

Dekontaminasi adalah proses untuk menghilangkan kotoran, komponen organik dan


mikroorganisme patogen dan alat kesehatan/instrumen sehingga aman untuk pengelolaan
selanjutnya. Proses dekontaminasi meliputi perendaman,pembersihan, pencucian,
disinfeksi, dan sterilisasi.

Alat kesehatan/instrumen pasca pakai setelah digunakan untuk tindakan medis dan atau
tindakan keperawatan harus segera dilakukan perendaman dan pencucian dengan
menggunakan larutan disinfektan yang sesuai (jenis, konsentrasi dan lama perendaman),
kemudian bilas dengan air mengalir dan keringkan.

Dalam melaksanakan kegiatan tersebutt harus menggunakan APD (alat pelindung diri)
sesuai ketentuan. Tujuan dari proses tersebut adalah :

- Sebagai pemutus mata rantai infeksi


- Meminimalkan dan mengisolasi potensi kontaminasi
- Merupakan langkah awal (first step) universal precaution yang perlu dilaksanakan
- Dikerjakan pada setiap tahapan kegiatan pelayanan sterilisasi
Disinfeksi adalah suatu proses untuk menghilangkan sebagian atau semua mikroorganisme
dari benda/alat kesehatan, kecuali terhadap endospora bakteri, dengan sistem panas (termal)
atau kimia.

Disinfeksi tingkat tinggi (DTT) dapat dilakukan apabila alat/instrumen dengan kategori
semi kritikal, segera digunakan dan tidak memungkinkan bila dilakukan sterilisasi. DTT
dapat dilakukan dengan cara panas, yaitu dengan direbus selama 20 menit atau dengan
larutan kimia/disinfektan yang sesuai.

Disinfektan adalah bahan/zat kimia yang digunakan untuk menghambat/membunuh virus


dan mikroorganisme patogen. Antiseptik adalah disinfektan yang digunakan pada

29
permukaan kulit dan membran mukosa. Disinfektan dan antiseptik yang digunakan di
Puskesmas disediakan oleh gudang obat.

Berdasarkan daya hambat/bunuh terhadap mikroorganisme, disinfektan dikelompokkan


yaitu:

NO. KLAS KETERANGAN


1. HLD (High Level Disinfektan yang berpotensi menghancurkan /
Disinfectan) membunuh semua bakteri bentuk vegetatif;
myco-bacteria, jamur; virus ukuran kecil dan
sedang, lipid dan non lipid, kecuali sejumlah
spora bakteri.
Contoh : Glutaraldehide 2% pH 7,5-8,5; H2O2
6%; Formaldehide 8% dalam alkohol 70%;
2. ILD (Intermediate Level Disinfektan yang berpotensi menghancurkan /
Disinfectan ) membunuh semua bakteri bentuk vegetatif;
mycobacteria, jamur; virus ukuran kecil. sedang,
lipid dan non lipid, tetapi tidak sensitif terhadap
spora bakteri.
Contoh : Alkohol 76%-90% ; Chlorine;
Formaldehide 4-8% dalam air
3. LLD (Low Level Disinfektan yang berpotensi menghancurkan /
Disinfectan) membunuh semua bakteri bentuk vegetatif;
beberapa jamur; virus (lipid) seperti Hepatitis B;
C dan HIV, tetapi tidak sensitif untuk
mycobacteria atau spora bakteri.
Contoh : Formaldehide konsetrasi <4% dalam
air, disinfektan golongan amonium kwartenair.

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas/potensi disinfektan adalah:

1. Konsentrasi disinfektan; lama paparan/perendaman; suhu, pH (tingkat keasaman atau


kebasaan)

2. Tipe dan jumlah mikroorganisme (misal : Mycobacterium tuberculose relatif lebih tahan
dibanding dengan mikroorganisme vegetatif)

3. Tingkat kebersihan alat/instrumen; pembersihan yang kurang adekuat menyebabkan


masih adanya kontaminan/materi organik. Interaksi antara kontaminan organik (bio-
burden) dengan zat aktif dapat menurunkan aktivitas disinfektan.

4. Tingkat kesadahan air (hardness water), adanya kandungan yang mineral tinggi seperti
kalsium atau magnesium dapat berinteraksi dengan zat aktif disinfektan sehingga
menurunkan aktivitasnya.

Sterilisasi adalah suatu proses untuk menghilangkan seluruh mikroorganisme (bakteri,


virus, fungi, parasit) dan benda/alat kesehatan, termasuk endospora bakteri melalui cara
fisika atau kimia. Tujuan adanya Sterilisasi Sentral di Puskesmas adalah :

30
1. Menurunkan angka kejadian infeksi
2. Membantu mencegah serta menanggulangi infeksi nosokomial.
3. Efisiensi investasi, instalasi dan pemeliharaan serta penggunaan sumber daya (SDM,
peralatan, sarana prasarana lain).

Metode sterilisasi :

Ada beberapa metode sterilisasi yang digunakan di Puskesmas yaitu:

1. Sterilisasi panas tinggi dengan tekanan (uap dengan tekanan/autoclave)

2. Sterilisasi panas kering

3. Kukus rebus menggunakan dandang (DTT)

4. Sterilisasi dengan bahan/larutan kimia (larutan glutaraldehide 2%; atau dengan larutan
hydrogen peroksida 6%); dilakukan apabila sterilisasi dengan panas tinggi (autoclave
steam) dan atau panas rendah dengan gas tidak dapat dilakukan.

Metode sterilisasi yang rutin dilaksanakan adalah sterilisasi uap (sterilisasi uap prevakum)
untuk alat kesehatan/instrumen/bahan yang tahan panas (termostabil) dan sterilisasi suhu
rendah dengan gas Ethylen Oxide untuk alat kesehatan/bahan yang bersifat termolabil.

Jenis alat kesehatan / instrumen dan program-metode stelisasi :

SPESIFIKASI METODE STERILISASI


1. Alat/Instrumen tahan panas Sterilisasi Uap (Autoclave Steam):
(termostabil)
Suhu (T) 134C; P 3000 mBara
selama 5 menit; Total proses pre-
post = 60 menit (logam; linen;
kapas; kassa)

2. Alat/Instrumen tidak tahan Sterilisasi dengan cairan glutaraldehid


panas (termo- labil) 2% selama 1 jam

Tahapan pengelolaan alat kesehatan/instrumen pasca pakai:

Untuk mendapatkan hasil sterilisasi yang optimal (efektif dan efisien) dan terjaga mutunya
sampai dengan digunakan maka proses pengelolaan alat kesehatan/instrumen pasca pakai
harus dilakukan secara benar dan tepat, aman bagi pasien petugas serta lingkungan, yaitu :

1. Petugas yang akan melaksanakan kegiatan/proses dekontaminasi harus menggunakan


alat pelindung diri (APD) yang sesuai.

2. Pre-cleaning dan pencucian:

a. Alat kesehatan/instrumen pasca pakai setelah digunakan untuk tindakan medis dan
atau tindakan keperawatan harus segera dilakukan perendaman dengan larutan
Anioszyme DD1 5 ml dalam 1 liter air selama 5 menit.

b. Bersihakan/cuci alat/instrumen yang direndam, bila perlu dengan disikat.

31
c. Bilas dengan air mengalir sampai bersih, dan keringkan

d. Apabila alat/instrumen pasca pakai segera digunakan, untuk alat/instrumen dengan :

- Kategori semi critical dilakukan DTT dengan:

Direndam dengan larutan kimia/disinfektan (glutaraldehide 2% selama 15


menit.

- Kategori critical dilakukan sterilisasi dengan larutan kimia/disinfektan


(glutaraldehide 2% selama 1 jam) sebagai berikut :

Tuang larutan secukupnya ke dalam wadah tertutup (alat/instrumen dapat


terendam seluruhnya).

Lama perendaman : DTT = 15 menit; Sterilisasi 1 jam.

Bilas dengan aquadest steril, ulangi pembilasan sebanyak 2 (dua) kali

Keringkan/ dilap dengan lap steril

Alat yang telah diproses harus segera digunakan

Catatan

a. Stabilitas larutan glutaraldehide 28 hari, pada suhu kamar.

b. Larutan glutaraldehide tidak boleh diencerkan pada saat akan


digunakan.

3. Setting dan pengemasan alat kesehatan/instrumen dan bahan habis pakai (BHP)

Alat/instrumen/bahan yang telah bersih dan kering disetting/ditata serta dikemas sesuai
ketentuan.

Prinsip pengemasan :

- Bahan pengemas sesuai dengan metode sterilisasi yang dipilih.

- Sterilan harus dapat diserap dengan baik dan dapat menjangkau seluruh permukaan
kemasan dan isinya.

- Harus dapat menjaga sterilitas isinya hingga kemasan dibuka

- Harus mudah dibuka dan isinya mudah diambil tanpa menyebabkan kontaminasi
Catatan : bila linen atau kertas perkamen sebagai bahan pengemas, minimal harus
rangkap 2 (dua).

. Sterilisasi

Metode sterilisasi yang dipilih, berdasarkan jenis bahan dasar alat/instrumen/bahan


yang akan disterilkan.

32
ALAT/INSTRUMEN/BAHAN DARI METODE STERILISASI
Logam ; linen, kassa, kapas Streilisasi uap P1 (suhu 134oC)
Sensitif terhadap panas (termolabil) Streilisasi dengan cairan kimia
glutaraldehide
Note : Sterilisasi dengan larutan kimia/disinfektan dipilih apabila tidak mungkin
dilakukan sterilisasi panas tinggi maupun sterilisasi panas rendah dan dilaksanakan di
unit pelayanan.

4. Monitoring dan Evaluasi

Monitoring dan evaluasi proses serta hasil sterilisasi harus dilakukan sesuai ketentuan
sebagai jaminan mutu/kualitas hasil sterilisasi, meliputi:

a. Monitoring proses secara visual dengan melihat kondisi post sterilisasi

b. Indikator eksternal dilakukan/diberikan pada setiap kemasan (perubahan warna)

c. Indikator mekanik yaitu dengan mencatat kondisi suhu, waktu dan tekanan selama
proses.

d. Bowie Dick Test dilakukan setiap 1 (satu) kali sebulan sebelum mesin autoclave
dengan vakum

e. Indikator biologi, dilakukan minimal 2 (dua) minggu sekali tiap mesin autoclave
steam,

5. Penyimpanan:

Alat kesehatan/instrumen, bahan habis pakai (BHP), serta linen medis yang telah
disterilkan disimpan di ruang steril. Penyimpanan di unit pelayanan minimal di
tempat/ruang yang jauh dari lalu lintas utama atau pada kotak/almari yang bersih dan
kering serta mudah dilakukan disinfeksi.

6. Waktu kedaluarsa hasil sterilisasi:

Kadaluarsa Cara sterilisasi dengan bahan pengemas

Satu minggu Sterilisasi dengan metode panas basah (autoclave


steam)dengan pengemas kertas perkamen rangkap 2;
linen rangkap 2 atau ditempatkan dalam tromol.

Satu bulan Sama seperti 1 minggu jika kondisi ruang


penyimpanan sesuai standar (suhu 180 220C
kelembaban 35 -75 %)

Satu 3 bulan Sterilisasi dengan metode panas basah (autoclave


steam) pengemas pouches

7. Penggunaan :

Sebelum penggunaan alat/instrumen/bahan yang disteril, pastikan bahwa :

- Kemasan dalam kondisi baik (tidak rusak, kering dan belum terbuka);

33
Pengelolaan peralatan (BHP) re-used

BHP re-used adalah BHP yang menurut petunjuk manufakturnya diperuntukkan single
used namun diijinkan digunakan kembali sesuai bukti ilmiah atau rekomendasi
Perhimpunan Profesi pengguna atau pengalaman klinik berdasarkan pertimbangan
mutu, keamanan dan aspek finansial penggunaan (karena sangat dibutuhkan tetapi sulit
diperoleh dengan segera atau diproduksi dalam jumlah terbatas, harga tidak terjangkau
oleh pasien - secara pribadi/asuransi).
Pengelolaan BHP re-used di Puskesmas dilakukan berdasarkan tinjauan mutu dan
keamanan, rasional mulai dan saat penentuannya sampai dengan evaluasi penggunaan
pada pasien, ditetapkan dengan Kebijakan Puskesmas tentang Pengelolaan Peralatan
Re-used. BHP di-reused melalui proses sterilisasi/DTT, dengan memperhatikan
keamanan optimal secara fisik dan fungsi, ketersediaan metode dekontaminasi dan
sterilisasi yang efektif.
BHP yang dapat di-reused di Puskesmas adalah BHP sesuai daftar lampiran Kebijakan
Pengelolaan Peralatan Re-used. Macam BHP dan batas maksimal jumlah reused
ditetapkan Puskesmas melalui pembahasan.
Identifikasi BHP re-used dan penomoran penggunaannya dilakukan oleh unit terkait.
Nomor penggunaan alat yang ke-sekian dituliskan dengan penandaan pada alat maupun
kemasan alat. Jika tanda telah sampai batas maksimal re-used, pengguna tidak
diperkenankan me-reused kembali. Jika BHP sudah tidak layak di-reused berdasarkan
evaluasi fungsi, keamanan penampilan fisik, keamanan dan ketepatan sterilisasi/DTT,
atau alasan keamanan lain, meskipun belum sampai pada batas maksimal penggunaan
reused yang ditetapkan dalam Kebijakan, maka BHP tersebut segera diakhiri
penggunaannya tidak perlu diproses reused.
Evaluasi klinik terhadap setiap penggunaan peralatan reused dilakukan oleh satuan
kerja pengguna, menggunakan daftar tilik evaluasi yang telah disiapkan Tim PPI.
Monitoring ketepatan penerapan standar, analisis evaluasi dan tindak lanjut sesuai hasil
evaluasi dilakukan Tim PPI setiap 3 bulan, disampaikan kepada Tim Mutu Puskesmas.

34
DAFTAR NAMA CAIRAN DISINFEKTAN UPTD PUSKESAMAS KABUH

NO NAMA ISI KEGUNAAN KETERANGAN


1. Alkohol Ethanol Antiseptik kulit 70%
Disinfeksi
instrument non
kritis
Disinfeksi
peralatan
non medis
Pengawet preparat
PA
2. Betadin Povidon Iodida Antiseptik kulit
3. Bayclin Natrium Hipoklorit Tumpahan
darah 1%
Disinfeksi linen
dan
instrumen 0,5%
Disinfeksi air
bersih Disinfeksi
peralatan
Dekontaminasi
tumpahan/percika non medis
n darah/cairan 0,05%
Disinfeksi linen
putih
4. Hibiscrub Klorheksidin
glukonat Antiseptik kulit
5. Lysol Trikresolum Disinfeksi kamar 22 ml dalam 1 lt
mandi, WC, Lantai
6. Perhydrol Hydrogen peroksida Antiseptik luka 3% - 6%

35
DAFTAR NAMA PERALATAN SINGLE-USE YANG

TIDAK PERNAH BISA DI RE-USE

NO NAMA ALAT MEDIS ALASAN


1 Sarung tangan ( bersih/steril ) Biaya re-use lebih tinggi
2 Endotracheal tube ( ETT ) Kontaminasi, Biaya re-use lebih tinggi
3 NGT (Stomach Tube) Kontaminasi, Biaya re-use lebih tinggi
4 Feeding tube Kontaminasi, Biaya re-use lebih tinggi

D. PENGELOLAAN LINEN

Pengelolaan linen yang aman adalah kegiatan yang bertujuan mencegah


kontaminasi linen kotor atau infeksius kepada petugas, pasien dan lingkungan, meliputi
proses pengumpulan, pemilahan, pengangkutan linen kotor, pencucian sampai distribusi
linen bePuskesmasih. Pengelolaan linen kotor dan bersih secara terpisah merupakan
keharusan untuk meminimalkan risiko infeksi pada pasien dan petugas.

Pengelolaan linen di Puskesmas Kabuh meliputi kegiatan, penerimaan dan


pencucian linen kotor, penyediaan linen bersih siap pakai, pemeliharaan, dan pemusnahan
linen rusak.

Proses cuci mencuci mulai dan pengumpulan, pemilahan, pencucian dan


pengangkutan diatur secara sistematis. Kegiatan di diupayakan secara maksimal untuk
menghindari kontaminasi linen kotor terhadap linen bersih siap pakai maupun petugas dan
lingkungan dengan melakukan disinfeksi terhadap kereta linen, pengepelan/disinfeksi lantai
dan implementasi praktik kebersihan tangan petugas sesuai prosedur.

Jenis linen di Puskesmas Kabuh dikualifikasikan menjadi linen bersih, linen kotor
infeksius dan linen kotor non infeksius (terdiri atas linen kotor berat dan linen kotor
ringan). linen bersih pasca pencucian di laundry. Linen kotor infeksius adalah linen yg
terkontaminasi dengan darah, cairan tubuh dan feses terutama yang berasal dari infeksi TB,
Salmonella & Shigella, HBV, HCV, HIV, dll yang dapat menularkan mikroorganisme
tersebut kepada pasien lain, petugas ataupun mencemari lingkungan;.

a. Penanganan Linen infeksius di Ruangan

1) Linen kotor hendaknya sesedikit mungkin dipegang dan digerak-gerakkan untuk


mencegah kontaminasi udara dan petugas.

2) Linen infeksius dan non infeksius dipisahkan dalam tempat penampungan


tersenditi Linen infeksius dilipat dan digulung sehingga bagian tengah yang paling
kotor berada di tengah gulungan selanjutnya dimasukkan dalam kantong plastik
warna kuning. Hitung dan catat linen infeksius sebelum dimasukkan dalam plastik,
sehingga mengurangi kontaminasi.

3) Petugas yang mengelola linen kotor wajib memakai APD berupa:

Sarung tangan rumah tangga


Masker
Celemek plastik/apron
b. Pengiriman linen ke laundry

36
Linen kotor infeksius dan non infeksius dibawa ke laundry menggunakan kereta linen
kotor dengan tong / kantong linen warna kuning untuk linen infeksius, biru untuk non
infeksius.

c. Penanganan Linen Kotor di laundry

1) Petugas laundry menerima linen kotor dengan mengenakan APD berupa: topi,
masker, sarung tangan rumah tangga, apron, sepatu boot.

2) Petugas memisahkan linen berdasarkan jenis linen serta tingkat kekotoran linen (
linen kotor infeksius, linen kotor berat dan linen kotor ringan), menghitung dan
mencatatnya.

3) Khusus untuk linen kotor infeksius langsung dilakukan pencucian


bePuskesmasama linen kotor berat, tidak perlu dilakukan penghitungan ulang

d. Pengambilan Linen bersih

a. Linen bersih siap pakai diterima di bagian finishing dikeluarkan oleh petugas
pengeluaran linen bersih

b. Linen yang akan dikeluarkan dihitung sesuai dengan daftar cucian yang masuk
pada hari itu kemudian menyerahkan kepada petugas pengeluaran linen

c. Petugas pengeluaran linen menyiapkan linen yang akan dikeluarkan di loket


pengeluaran

d. Petugas pengeluaran linen mengeluarkan linen bersih siap pakai sesuai bukti
pengambilan linen

e. Petugas pengeluaran linen mencatat pengeluaran linen bersih siap pakai pada hari
itu di buku pengeluaran linen bersih

g. Petugas laundry membawa linen bersih siap pakai menggunakan trolly / kantong
linen bersih

E. PENGENDALIAN LINGKUNGAN

Kebersihan Ruang di Lingkungan PUSKESMAS

Kebersihan Ruang di lingkungan PUSKESMAS merupakan tindakan pembersihan secara


seksama yang dilakukan teratur meliputi :

- disinfeksi tempat tidur, permukaan meja, peralatan dan benda-benda di lingkungan


sekitar pasien setiap hari, saat pasien pulang dan sebelum pasien masuk dengan
disinfektan standar PUSKESMAS;
- Pengepelan lantai meliputi seluruh permukaan dengan disinfektan standar
PUSKESMAS setiap hari mimimal 2 kali/hari
- Pembersihan sekat/gordyn pembatas antar pasien dilakukan minimal setiap 3 bulan
(bahan gordyn dipilih yang mudah dibersihkan dan tidak bergelombang)
- Pembersihan kamar mandi/WC/wastafel dilakukan setiap hari atau sewaktu-waktu
diperlukan dengan disinfektan sesuai standar.
Prinsip Pembersihan lingkungan:

37
a. Dilaksanakan sesuai standar zonasi ruangan di PUSKESMAS

b. Mengusap seluruh permukaan Lingkungan dengan disinfektan standar PUSKESMAS

c. Menggunakan mop khusus untuk setiap jenis ruangan, dengan cara sistematis untuk
membersihkan dan menghilangkan patogen infeksius

Kebersihan Ambulans

Ambulans dibersihkan secara rutin sesuai standar pembersihan ruang perawatan dan setiap
kali sesudah digunakan transportasi pasien.

38
F. MANAJEMEN PENGELOLAAN LIMBAH

Limbah medis umumnya berasal dari kegiatan Puskesmas, dimana secara umum di
UPTD Puskesmas Kabuh dapat dikategorikan dalam limbah infeksius dan limbah non-
infeksius. Limbah infeksius didefinisikan sebagai limbah yang mengandung
mikroorganisme berbahaya dalam jumlah cukup besar, sehingga dapat menyebabkan
penyakit. Limbah non-infeksius adalah limbah domestik yang dihasilkan dari berbagai
kegiatan house keeping / kerumahtanggaan di Puskesmas.

Limbah medis secara garis besar dapat dibedakan berdasarkan pada kondisi
fisiknya yaitu limbah padat dan limbah cair. Limbah padat atau sampah yang
dihasilkan dari aktivitas dalam Puskesmas menurut PP no 85 Tahun 1999 tentang
Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, termasuk kategori limbah infeksius.
Limbah padat ini mengandung bahan-bahan infeksius atau mengandung bakteri
berbahaya, sampah yang kontak dengan cairan tubuh penderita, jaringan tubuh dan
spesimen di laboratorium,

Sampah lain terkategori sebagai sampah umum atau domestik merupakan sampah
yang berupa bungkus makanan dan minuman, sisa makanan bukan dari ruang isolasi,
kertas dan plastik yang tidak terkontaminasi dan semua sampah selain bahan kimia dan
radiasi yang tidak kontak dengan cairan tubuh pasien. Pemusnahan sampah infeksius dari
Puskesmas memerlukan adanya insinerator yang mempunyai kemampuan untuk
memusnahkan berbagai mikroorganisme atau bahan infeksius pada sampah padat.

1. LIMBAH PADAT MEDIS

Limbah padat / sampah Puskesmas adalah campuran heterogen yang kompleks


yang berasal dari berbagai kegiatan medis yang berlangsung, antara lain dari Instalasi
gizi, ruang tunggu, poliklinik, ruang poned, ruang perawatan, laboratorium. Limbah
padat tesebut memiliki bahan campuran yang bervariasi. Oleh karena itu, limbah yang
dihasilkan oleh aktivitas medis di Puskesmas harus dikelola dengan baik.

Sampah yang bersumber dari lingkungan Puskesmas mempunyai pengelolaan


sampah yang ditangani secara terpisah dengan sampah lainnya karena kemungkinan
mengandung bibit penyakit. Sehingga pengelolaan sampah Puskesmas bersifat khusus.
Mengingat akan pentingnya hal tersebutt maka, penanganan sampah Puskesmas
merupakan bagian dari upaya penyehatan lingkungan Puskesmas.

Limbah padat dari Puskesmas mulai disadari sebagai bahan buangan yang dapat
menimbulkan gangguan kesehatan lingkungan karena dianggap sebagai mata rantai
penyebaran penyakit menular.

Dalam pengelolaan sampah Puskesmas di UPTD Puskesmas Kabuh, sampah


secara garis besar dibedakan menjadi Sampah Medis dan Sampah Non Medis /
Domestik.

a. Sampah Medis
Sampah medis termasuk dalam golongan limbah klinis. Menurut Depkes RI,
limbah klinis berupa berbagai jenis buangan yang dihasilkan di Puskesmas dan

39
unit-unit pelayanan kesehatan seperti pelayanan medis, perawatan gigi, farmasi atau
sejenis serta limbah yang dihasilkan Puskesmas pada saat dilakukan perawatan,
pengobatan atau penelitian. Limbah ini bisa membahayakan dan menimbulkan
gangguan kesehatan bagi pengunjung, masyarakat dan terutama kepada petugas
yang menangani limbah.

Berdasarkan potensi bahaya yang ditimbulkannya, limbah klinis digolongkan


sebagai berikut:

Limbah benda tajam


Limbah infeksius
Limbah jaringan tubuh
Limbah farmasi
Limbah kimia
Limbah plastik

Namun pada pelaksanaannya, penggolongan berbagai timbulan sampah yang


ada tidak mudah dilakukan. Ada beberapa jenis yang dapat masuk ke dalam lebih
dari satu golongan ataupun tidak praktis dalam penggolongannya untuk itu di
Puskesmas Kabuh untuk Sampah Medis dibedakan menjadi 2 besar, yaitu :

Sampah medis Tajam


Sampah medis Non Tajam

Meskipun tidak seluruh limbah Puskesmas berbahaya, beberapa diantaranya


dapat menimbulkan ancaman pada saat penanganan, penampungan, pengangkutan
dan atau pemusnahan. Beberapa alasan yang menjadikan limbah Puskesmas
berbahaya adalah:

Potensi dalam menimbulkan bahaya kepada personil yang terlibat dalam


pembuangan jika tidak ditangani dengan baik.
Pencemaran lingkungan yang ditimbulkan jika dibuang tanpa pengolahan terlebih
dulu, sehingga mempunyai dampak yang membahayakan atau mengganggu
kesehatan masyarakat.
Sampah medis dalam pengelolaan sampah Puskesmas merupakan limbah
klinis yang berbentuk padat. Pengertian sampah medis di sini adalah limbah padat
Puskesmas bersifat klinis. Sampah medis biasanya dihasilkan di ruang pasien,
ruang pengobatan atau tindakan, ruang perawatan, ruang bedah termasuk dressing
kotor, verban, kateter, swab, plaster, masker dan lain-lain.

Kategori sampah lain yang juga dikelola sebagai sampah Puskesmas adalah
sampah patologis yaitu sampah yang berasal dari ruang poned termasuk placenta,
serta sampah laboratorium yaitu sampah yang dihasilkan dari laboratorium
diagnostic atau riset, meliputi sediaan atau media sample spinal, bangkai binatang.

Untuk membedakan dengan Sampah Umum / Domestik, maka Sampah Medis


dimasukkan ke dalam tong sampah warna kuning yang didalamnya telah
dilengkapi plastik kresek warna kuning, dan ini telah disediakan Puskesmas Kabuh.
Selanjutnya dikirim ke insenerator untuk dilakukan proses pembakaran.

40
b. Sampah Non-Medis

Sampah non-medis adalah timbunan limbah padat pada Puskesmas yang tidak
termasuk dalam golongan sampah medis. Sampah non-medis biasanya berupa
sampah domestik seperti timbunan sampah lain pada umumnya (sampah umum /
domestik).
Dalam pelaksanaannya, sesuai dengan kesepakatan bersama di UPTD
Puskemas Kabuh untuk Sampah Umum / Domestik dibedakan menjadi 2 besar,
yaitu :

Sampah Umum Basah / Sampah Organik, terdiri dari sisa makanan, dll.
Sampah Umum Kering / Sampah Anorganik, terdiri dari kertas, plastik, dll.
Untuk membedakan dengan Sampah Medis, maka Sampah Umum / Domestik
dimasukkan ke dalam tong sampah warna abu abu sesuai tulisan sampah basah
atau sampah kering, dan ini telah disediakan Puskesmas Kabuh . Selanjutnya
dimasukkan ke TPS dan dibuang ke TPA, bekerjasama dengan Dinas pasar Tata
Ruang, Kebersihan dan Pertamanan.

PENGELOLAAN LIMBAH

1. Limbah RT atau limbah non medis

Penanganan Limbah/Limbah RT/Limbah non medis

Penanganan Limbah dan masing masing ruangan dilakukan dengan cara :

a. Wadah berupa kantong plastik warna hitam, diikat rapat pada saat akan
diangkut, dan dibuang berikut wadahnya;
b. Wadah tidak boleh penuh/luber. Jika telah terisi 2/3 bagian segera dibawa ke
tempat penampungan akhir;
c. Pengumpulan Limbah dari ruang perawatan harus tetap pada wadahnya dan
jangan dituangkan pada gerobak (kereta limbah) yang terbuka, agar
dihindari kontaminasi dengan lingkungan sekitar serta mengurangi risiko
kecelakaan terhadap petugas, pasien dan pengunjung;
d. Petugas yang menangani pengelolaan limbah harus selalu menggunakan
sarung tangan rumah tangga dan sepatu serta mencuci tangan dengan sabun
sesuai prosedur setiap selesai bekerja.

2. Pengelolaan limbah padat medis

Di UPTD Puskesmas Kabuh, metoda yang digunakan untuk mengolah


sampah medis tergantung pada faktor-faktor khusus yang sesuai dengan
institusi yang berkaitan, peraturan yang berlaku, dan aspek lingkungan yang
berpengaruh terhadap masyarakat.

Teknik pengolahan sampah medis yang diterapkan adalah (medical waste):

Insenerasi (incineration)
Suatu proses dimana sampah dibakar dalam kondisi temperatur yang
terkontrol. Metoda ini dilakukan untuk sampah padat medis sisa hasil kegiatan
medis yang sifatnya disposible atau sekali pakai.
41
Strerilisasi dengan uap panas (autoclaving)
Metode dekontaminasi dengan pemaparan ke dalam uap panas besuhu dan
bertekanan dalam ruang tertutup untuk sejumlah waktu tertentu. Tekanan dan
waktu yang dibutuhkan untuk proses adalah 12 menit waktu kontak pada
kondisi uap jenuh besuhu 121oC. Metoda ini dipakai untuk alat alat
kedokteran yang akan dipakai lagi, terbuat dari logam atau stainless.

Insenerator (Incinerator)
Sebagian besar limbah padat / sampah yang dihasilkan oleh aktivitas medis di
Puskesmas memiliki sifat infeksius. Berdasarkan PP No. 85/1999 menyatakan
bahwa limbah yang memiliki karakteristik besifat infeksius dikategorikan
sebagai limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Salah satu upaya
pengelolaan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) adalah dengan
pengolahan berupa proses pemanasan. Salah satu teknologi pemanasan adalah
pembakaran (incineration) dalam kondisi terkontrol pada insenerator .
Proses insinerasi pada insenerator harus dapat berfungsi secara optimal agar
material yang dibakar dapat aman bagi lingkungan. Untuk membuat proses
insinerasi berlangsung secara optimal, diperlukan suatu perencanaan design
insenerator (incinerator) yang baik sehingga hasil pembakaran yang diinginkan
dapat tercapai.
Menurut beberapa pengertian definisi insenerasi (incineration) adalah:

1. Suatu teknologi pengolahan yang digunakan untuk menghilangkan /


menghancurkan limbah dengan pembakaran terkontrol pada temperatur yang
tinggi.
2. Suatu teknologi pengolahan meliputi penghilangan/penghancuran limbah dengan
pembakaran terkontrol, seperti contoh: pembakaran lumpur untuk
memindahkan air dan mengurangi residu yang dihasilkan, ash yang tidak
terbakar dapat dibuang dengan aman ke tanah, air, atau di bawah tanah lokasi
pengolahan. Material direduksi massa dan volume dengan pembakaran.
3. Suatu penghilangan/penghancuran limbah padat, cair, atau gas dengan
pembakaran terkontrol pada temperatur tinggi. Komponen B3 diubah menjadi
ash, carbon dioxide, dan air. Pembakaran digunakan untuk
menghilangkan/menghancurkan komponen organik, mengurangi volume
limbah, dan penguapan air dan zat cair lainnya yang mungkin dapat
mengandung sedikit komponen B3, seperti logam berat yang tidak terbakar,
yang terkandung dari limbah asal.

Sistem insinerasi didesain untuk menghilangkan hanya komponen organik dari


sampah. Dengan menghilangkan fraksi organik dan mengubahnya menjadi
carbon dioxide dan uap air, dapat mengurangi volume limbah dan menjadikan
komponen organik termasuk yang toksik aman bagi lingkungan.

Alat yang digunakan untuk menjalankan prinsip insenerasi (incineration) adalah


insenerator (incinerator).

42
Tahapan Pengolahan Limbah

Pemilahan

Limbah padat di ruangan dipilah sesuai dengan jenisnya yaitu limbah padat medis dan non
medis (basah dan kering).

Limbah di ruangan dibuang ke tempat limbah yang dilapisi kantong plastik yang diberi
tanda dibedakan warnanya :

- Warna kuning untuk limbah padat infeksius.


- Warna hitam untuk limbah padat non infeksius.

Tempat limbah di ruangan ada dua macam:

- Tempat Limbah pasien di ruangan (tempat sampah non sentuh/injak dan sejenisnya
yang berukuran kecil);
- Tempat limbah besar di luar ruangan (kontainer 0.05 m3) dengan pesyaratan antara
lain terbuat dari bahan yang kuat, mudah dibesihkan, ringan (dapat diangkat oleh satu
orang), tidak berkarat dan kedap air terutama untuk limbah basah, mempunyai tutup,
mudah dikosongkan atau diangkut, tahan terhadap benda tajam/runcing).
- Kantong plastik, jika sudah terisi 2/3 bagian diikat rapat dan kencang.

Pembuangan Limbah

- Semua limbah yang dihasilkan dalam ruangan atau area perawatan/isolasi harus dibuang
dalam wadah atau kantong plastik yang sesuai.
Untuk limbah infeksius gunakan kantong plastik kuning atau bila tidak
tePuskesmasedia dapat menggunakan kantong plastik warna lain yang tebal atau
dilapis dua (kantong ganda), kemudian diikat dengan tali warna kuning dan diberi
tanda infeksius
Untuk limbah RT digunakan kantong plastik warna hitam
Untuk limbah benda tajam atau jarum dimasukkan dalam wadah tahan tusukan
disposable
- Kantong limbah apabila sudah bagian penuh harus segera diikat dengan tali dan tidak
boleh dibuka kembali.
- Petugas yang bertanggungjawab atas pembuangan limbah harus menggunakan APD
lengkap yang sesuai saat membuang limbah.
- Limbah cair seperti urine atau feses dibuang ke dalam sistem pembuangan kotoran yang
tertutup dan memenuhi syarat serta disiram air yang banyak.
- Urinebag dikosongkan secara teratur setiap 3-4 jam atau saat terlihat sudah penuh.

Pengelolaan Benda Tajam

Benda tajam sangat berisiko menyebabkan perlukaan sehingga meningkatkan terjadinya


penularan penyakit melalui kontak darah. Penularan infeksi HIV, Hepatitis B, Hepatitis C,
sebagian besar disebabkan karena kecelakaan yang bisa dicegah yaitu tertusuk jarum suntik
dan perlukaan oleh alat tajam lainnya.

Upaya untuk mencegah perlukaan :

43
1. Penggunaan benda tajam termasuk jarum suntik direkomendasikan sekali pakai, tidak
direkomendasikan melakukan daur ulang atas pertimbangan penghematan;

2. Semua petugas bertanggung jawab atas setiap alat tajam yang digunakan sendiri;

3. Pada saat memindahkan alat tajam (misal pada setting operasi) digunakan teknik tanpa
sentuh dengan menggunakan nampan atau alat perantara lain;

4. Tidak dibenarkan melakukan manipulasi jarum suntik mematahkan, membengkokkan,


atau ditutup kembali jika spuit hanya akan dibuang;

5. Jika jarum terpaksa akan ditutup kembali (recapping), misal untuk pemeriksaan contoh
bahan darah ke laboratorium/PMI, digunakan metode satu tangan (single handed
recapping method);

6. Tersedia wadah limbah tajam disposable di setiap ruangan, bersifat kedap air tahan
tusukan dan tidak mudah bocor. Wadah ditutup dan dibuang jika telah terisi 2/3 bagian
atau sesuai tanda batas pengisian pada safety box dan jika telah tertutup tidak bisa
dibuka lagi.

Pecahan kaca

Pecahan kaca dikategorikan sebagai benda tajam, yang potensial menyebabkan perlukaan
yang akan memudahkan kuman masuk ke aliran darah, sehingga perlu diperlakukan
secara hati-hati dengan cara pembuangan yang aman. Rekomendasi pengelolaan pecahan
kaca :

1. Gunakan sarung tangan rumah tangga saat membersihkan;

2. Untuk meraup/mengumpulkan gunakan kertas koran atau kertas tebal dan gulung
pecahan kaca dalam kertas tadi;

3. Masukkan gulungan kertas yang berisi pecahan kaca ke dalam kardus, berikan label
hati-hati pecahan kaca

Pengendalian terhadap serangga dan binatang pengganggu di puskesmas

Pengendalian serangga dan binatang pengganggu adalah suatu upaya untuk mengurangi
populasi serangga dan binatang pengganggu sehingga tidak menimbulkan gangguan
kesehatan, kerusakan fisik alat dan bangunan yang meliputi pengendalian jentik, nyamuk,
kecoa, lalat, rayap, tikus dan kucing. Semua ruangan di puskesmas harus bebas lalat, kecoa,
Semua ruangan di puskesmas tidak diperkenankan ditemukan tanda-tanda keberadaan tikus
terutama pada daerah bangunan tertutup (core) puskesmas. Lingkungan puskesmas harus
bebas kucing dan anjing.

3. LIMBAH CAIR MEDIS

a. Sumber Limbah

Secara umum limbah Cair Medis dari suatu kegiatan Puskesmas dapat dibedakan
menjadi 2 (dua) yaitu air limbah medis yang besifat infeksius dan air limbah domestik

44
yang besifat non-infeksius. Air limbah infeksius adalah limbah yang mengandung
mikroorganisme berbahaya (pathogen) dalam jumlah cukup besar, sehingga dapat
menyebabkan penyakit. Air Limbah non-infeksius adalah limbah domestik yang
dihasilkan dari berbagai kegiatan pendukung operasional suatu Puskesmas, seperti,
laundry dan lain-lain. Sumber sumber air limbah dari kegiatan operasional Puskesmas
antara lain:

- Air Limbah dari kamar mandi dan cuci.


Air limbah ini dikategorikan sebagai limbah rumah tangga, yang berasal dari
unit unit Puskesmas. Air limbah dari kegiatan ini akan dimasukkan ke Septik Tank.
Parameter pencemar dalam limbah ini adalah zat padat, BOD, COD, nitrogen,
phosphorus, minyak dan lemak serta bakteriologis.

- Air Limbah Laundry


Air limbah laundry berasal dari unit pencucian bahan dari kain yang umumnya
bersifat basa dengan kandungan zat padat total berkisar antara 800 1200 mg/l dan
kandungan BOD berkisar antara 400 450 mg/l

- Air Limbah laboratorium


Air limbah laboratorium berasal dari pencucian peralatan laboratorium dan
bahan buangan hasil pemerikasaan contoh darah dan lain lain. Air limbah ini
umumnya mengandung berbagai senyawa kimia sebagai bahan pereaksi sewaktu
pemeriksaan contoh darah dan bahan lain. Air limbah laboratorium mengandung
bahan antiseptik dan antibiotik sehingga besifat toksik terhadap mikroorganisme,
oleh karena diperlukan perlakukan khusus dalam pengelolaannya.

b. Karakteristik Air Limbah Puskesmas.

Sesuai dengan sifat dan bahannya, air limbah Puskesmas dapat dikategorikan
sama dengan air limbah domestik, kecuali air limbah dari laboratoriumnya.
Karakteristik air limbah domestik yang masih baru, berupa cairan keruh berwarna abu
bau dan berbau tanah. Bahan ini mengandung padatan berupa hancuran tinja, sisa sisa
makanan dan sayuran, padatan halus dalam suspensi koloid, serta polutan yang terlarut.

Sebagaimana disebutkan diatas bahwa air limbah domestik 99,9 % terdiri dari air
dan 0,1 % adalah padatan. Padatan dalam air limbah domestik sekitar 70 % terdiri dari
bahan organik dan sekitar 30 % terdiri dari bahan an-organik.

Sifat bahan organik dalam limbah domestik relatif lebih disukai oleh
mikroorganisme, oleh karenanya kandungan BOD, COD, Nitorgen, Phosphat, minyak
lemak dan TSS yang lebih dominan. Persyaratan pembuangan limbah cair Puskesmas
mengacu pada Baku mutu buangan air limbah Puskesmas menurut Keputusan Menteri
Negara Lingkungan Hidup no KEP 58/MENLH/I/1995 dijelaskan dalam tabel 1 .

- Karakteristik Fisik.
Parameter parameter yang penting dalam air buangan yang termasuk dalam
karakteristik fisik antara lain, :
a. Total Solid.

45
Didefinisikan sebagai zat zat yang tertinggal sebagai residu penguapan pada
temperatur 105 C. Zat zat lain yang hilang pada tekanan uap dan temperatur
tePuskesmasebut tidak didefinisikan sebagai total solid.

b. Temperatur
Pada umumnya temperatur air buangan lebih tinggi dari temperatur air minum.
Karena adanya penambahan air yang lebih panas dari bekas pemakaian rumah
tangga atau aktivitas pabrik, serta adanya kandungan polutan dalam air.
Temperatur pada air buangan memberikan pengaruh pada :
- Kehidupan air
- Kelarutan gas
- Aktivitas bakteri
- Reaksi reaksi kimia dan kecepatan reaksi

c. Warna
Warna dari air buangan berasal dari buangan rumah tangga dan industri. Air
buangan yang segar umumnya berwarna abu abu dan sebagai akibat dari
penguraian senyawa senyawa organik oleh bakteri, warna air buangan menjadi
hitam. Hal ini menunjukan bahwa air buangan telah menjadi atau dalam keadaan
septik.

d. Bau
Bau dalam air buangan biasanya disebabkan oleh produksi gas gas hasil
dekomposisi zat organik. Gas Asam Sulfida (H2S) dalam air buangan adalah hasil
reduksi dari sulfat oleh mikororganisme secara anaerobik.

B. Karateristik Kimia
Senyawa senyawa yang terkandung dalam air buangan terdiri atas 3 (tiga)
golongan utama, yaitu :

a. Senyawa Organik
Kurang lebih 75 % zat padat tersuspensi dan 40 % padatan yang tersaring
(Filterable solid) dalam air buangan merupakan senyawa - senyawa organik.
Senyawa senyawa organik terdiri dari kombinasi karbon (C), Hidrogen (H),
Oksigen (O), Nitrogen (N), dan Phosphat (P) dalam berbagai bentuk. Senyawa
senyawa organik ini, umumnya terdiri dari Protein, Karbohidrat, minyak dan
lemak yang kesemuanya dinyatakan dalam parameter BOD dan COD.
Kandungan detergen dalam air, dimana umumnya detergen terbuat dari senyawa
ABS (Alkyl Benzen Sulfonat) atau LAS (Linier Alkyl Sulfonat), dinyatakan dalam
konsentrasi parameter MBAS (Methyline Blue Alkyl Sulfonat ) atau CCE (Carbon
Chloroform Extract).

b. Senyawa Anorganik
Konsentrasi senyawa anorganik di dalam air akan meningkat, baik karena
formasi geologis yang sebelumnya, selama aliran maupun karena penambahan
buangan baru ke dlam aliran tersebut. Konsentrasi unsur organik juga akan
bertambah dengan proses penguapan alami pada permukaan air. Adapun
komponen komponen anorganaik yang terpenting dan berpenagruh terhadap air
buangan antara lain :
- alkalinitas

46
- khlorida
- sulfat
- besi
- zeng
- dll.

c. Gas gas
Gas gas yang umum terdapat dalam air buangan yang belum diolah
meliputi : N2, O2, CO2, H2S, NH3, CH4. Ketiga gas yang disebut pertama
sebagi akibat kontak langsung dengan udara dan ketiga terakhir berasal dari
dekomposisi zat zat organik oleh bakteri dalam air buangan.

C. Karakteristik Biologis
Kelompok organisme yang terpenting dalam air buangan dibagi menjadi 3 (tiga)
yaitu :
1. Kelompok protista
2. Kelompok tumbuh tumbuhan
3. Kelompok hewan.

Kelompok protista terdiri dari bakteri, algae dan protozoa, sedangkan kelompok
tumbuh tumbuhan antara lain meliputi paku pakuan dan lumut. Bakteri berperan
sangat penting dalam air buangan, terutama dalam proses biologis. Kelompok bakteri
secara dikelompokan menjadi jenis bakteri yang patogen (menyebabkan penyakit) dan
non patogen. Kelompok bakteri patogen dianalisa dengan parameter kandungan E.
Coli , MPN (Most Problably Number) / 100 Ml. E. Coli merupakan bakteri yang
terkandung dalam tinja, semakin tinggi kandungan bakteri E.Coli dalam air buangan
maka semakin tinggi pula kandungan bakteri patogen yang lain (seperti Typhus,
Disentri dan Cholera).

C. Pengolahan Limbah Cair

Limbah Puskesmas berdasarkan pada sumbernya merupakan campuran antara


limbah domestik - limbah laboratorium yang kadang kadang besifat infeksius.

Tujuan pengolahan air limbah :

1. Menghilangkan bahan tesuspensi dan terapung dalam air limbah


2. Penghilangan atau pengurangan bahan organik biodegradable, (mengurangi
kandungan BOD sekaligus COD)
3. Penghilangan kandungan nutrien (N & P removal)
4. Menghilangkan atau mengeliminasi mikroorganisme patogen
5. Menghilangkan kandungan bahan bahan anorganik.
Pengolahan limbah Puskesmas dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :
- Pengolahan secara individual (On-site treatment).
Pengolahan limbah secara individual umumnya ditujukan untuk pengolahan
tinja saja, sedangkan limbah cair (sullage) dibuang langsung dalam saluran terbuka.
Pengolahan sistem individual bagi tinja dan air kemih untuk skala rumah kecil
didaerah perkotaan sering dilakukan dengan cara basah atau menggunakan Septik
Tank.
Fungsi septic tank adalah untuk mengubah karakteristik air kotor menjadi
buangan yang mudah diserap oleh tanah, tanpa menimbulkan pemampatan pada
tanah itu sendiri.
47
Secara rinci, Septic Tank mempunyai fungsi sebagai berikut :
a. Untuk memisahkan benda padat (tinja)
Padatan yang dapat diendapkan dipisahkan dengan pengendapan secara
gravitasi.
b. Untuk mengolah padatan dan cairan secara biologis.
Komponen Organik dalam padatan dan cairan dalam air kotor akan di
dekomposisi oleh bakteri anerob dan proses alamiah lainnya.
c. Sebagai penampung lumpur dan busa.
Lumpur (sludge) merupakan akumulasi padatan yang mengendap dalam tanki,
dan busa adalah lapisan padatan yang mengambang. Keduanya dapat di
dekomposisi oleh aktivitas bakteri. Hasil dari proses dekomposisi tesebut akan
diperoleh suatu cairan, gas dan lumpur matang yang stabil. Dimana cairan
terolah akan keluar sebagai effluen, gas yang terbentuk dilepas melalui pipa
ventilasi dan lumpur yang matang ditampung di dasar tangki yang nantinya akan
dikeluarkan secara berkala.

- Pengolahan Secara Komunal.

Pengolahan secara komunal di Puskesmas seperti yang dilakukan Puskesmas


dilakukan untuk mengolah air efluen dari septik tank dan air limbah dari mandi, cuci
dan laundry. Teknik pengolahan limbah cair medis dapat dilakukan dalam dua tahap
yaitu pengolahan pendahuluan dan pengolahan secara biologi.

a. Pengolahan pendahuluan
Pengolahan pendahuluan Puskesmas Kabuh dilakukan utamanya pada air
limbah yang berasal dari kegiatan, air limbah dari laboratorium analisa, dan dari
ruang laundry akan dikoordinasikan dengan instansi terkait mengenai penanganan
awalnya. Pengolahan pendahuluan untuk air limbah laboratorium dilakukan secara
phisik kimia yaitu netralisasi, presipitasi dan pertukaran ion. Sedangkan
pengolahan pendahuluan untuk air limbah laundry adalah netralisasi dan
pemberian zat kimia antibusa.

b. Pengolahan Secara Biologis (Pengolahan tahan kedua)

Dalam sistem pengolahan limbah cair, pengolahan biologis dikategorikan


sebagai pengolahan tahap kedua (secondary treatment), melanjutkan sistem
pengolahan secara fisik sebagai pengolahan tahap pertama (primary treatment).
Tujuan pengolahan ini terutama adalah untuk menghilangkan zat padat organik
terlarut yang biodegradable, berbeda dengan sistem pengolahan sebelumnya yang
lebih ditujukan untuk menghilangkan zat padat tesuspensi.

Dalam memilih teknologi yang akan digunakan, perlu dipertimbangkan


beberapa hal
- Kuantitas dan kualitas limbah yang akan diolah
- Pemahaman teknologi yang akan digunakan.

Kuantitas limbah, khususnya air limbah, yang diperhitungkan tidak semata-


mata didasarkan pada jumlah debitnya saja, tetapi juga berhubungan dengan
kontinuitas dan fluktuasinya. Penggunaan teknologi yang tidak tahan terhadap
adanya perubahan atau fluktuasi yang menyolok dapat menurunkan kinerja unit

48
pengolahannya itu sendiri, atau bahkan menyebabkan kegagalan proses
pengolahan.
Kualitas limbah sangat menentukan jenis teknologi yang akan digunakan,
selain itu juga dapat digunakan sebagai indikator bagi perlu tidaknya suatu
teknologi digunakan. Aspek paling sederhana dalam hal ini adalah
mengklasifikasikan air limbah berdasarkan karakteristiknya; fisik, kimiawi
ataukah biologis.
Karena itu perlu sekali kita mengkaji dua aspek awal kuantitas dan
kualitas sebelum menentukan pilihan teknologi yang akan diterapkan. Dari kedua
hal ini ada beberapa tahapan yang umum digunakan, yaitu :
1. Mereduksi volume limbah, yang prinsipnya adalah mengurangi kuantitas
limbah yang dihasilkan.
2. Mereduksi kekuatan/konsentrasi limbah, yang ditujukan untuk mengurangi
kualitas pencemaran.
Jenis pengolahan biologis yang digunakan bergantung pada :

- Derajat pengolahan yang dikehendaki


- Jenis air limbah yang akan diolah
- Konsentrasi air limbah
- Variasi aliran
- Volume limbah
- Biaya operasi dan Pemeliharaan.

Kriteria pengolahan Limbah Medis dalam suatu Puskesmas antara lain :

1. Kualitas effluent memenuhi baku mutu dan stabil


2. Mudah dalam pengoperasian
3. Biaya Operasi tidak mahal
4. Kebutuhan Lahan Minimal
5. Higienis dan tidak mengganggu estetika
6. Peralatan instrument IPAL awet.
7. Investasi cukup terjangkau
8. Mudah di up-grade bila terjadi peningkatan kapasitas.

4. Penanganan Tumpahan Darah (lihat juga lampiran)

a. Pasang tanda peringatan;

b. Siapkan spill kit;

c. Gunakan APD sesuai kebutuhan: sarung tangan RT, masker, pelindung kaki (bila
tumpahan banyak gunakan juga celemek/apron);

d. Tutup tumpahan dan batasi perluasannya menggunakan bahan yang menyerap (kertas
koran/tisu). Selanjutnya bahan dicakup menggunakan penjepit dan langsung
dimasukkan dalam kantong plastik kuning (limbah infeksius);

e. Tuangi dan rendam bekas tumpahan dengan khlorin 0,5%, diamkan selama 10

f. Basuh lokasi tumpahan pasca perendaman khlorin dengan mop/lap basah

g. Masukkan mop/lap basah ke dalam larutan air disinfektan

49
h. Ikat plastik kuning, masukkan ke dalam tempat sampah medis

i. APD dilepas, dikelola sesuai standar

j. Petugas mencuci tangan pasca penanganan tumpahan selesai

G. PENEMPATAN PASIEN

Untuk mencegah transmisi silang agen patogen penyebab infeksi, direkomendasikan


penempatan pasien secara kohorting (penempatan pasien berkelompok besama pasien lain
dengan infeksi sejenis), penempatan dalam ruang tunggal atau penempatan dalam ruang
isolasi.

Ruang dengan ventilasi natural yang baik digunakan untuk penempatan dan perawatan
pasien infeksi, khususnya infeksi airborne, yang terpisah dan pasien non infeksi dan
khususnya terpisah dan pasien dengan kondisi immunocompromise. Penataan ventilasi
dapat dilakukan secara alamiah atau campuran (dibantu sistem fan dan exhaust). Ruangan
untuk perawatan pasien infeksi airborne dipesyaratkan penataan ventilasi dengan
pertukaran udara minimal 12 ACH.

Mobilisasi/transportasi, pasien infeksi dan 1 unit ke unit lain harus dibatasi seminimal
mungkin. Bila dalam keadaan tententu pasien terpaksa harus dibawa ke unit lain, maka
petugas harus memperhatikan prinsip kewaspadaan isolasi.

G. HYGIENE RESPIRASI/ETIKA BATUK

Hygiene pernafasan dan etika batuk adalah dua cara penting untuk mengendalikan
penyebaran infeksi di sumbernya. Semua pasien, pengunjung dan petugas kesehatan hanus
direkomendasikan untuk selalu mematuhi etika batuk dan kebersihan pernafasan untuk
mencegah ekskresi sekret pernafasan (droplet nuclei).

Kunci PPI adalah mengendalikan penyebaran patogen dari pasien yang terinfeksi kepada
kontak yang tidak terlindungi. Untuk penyakit yang ditransmisikan melaiui droplet besar
atau droplet nuklei maka etika batuk harus diterapkan kepada semua individu dengan gejala
gangguan pada saluran napas.

Pasien, petugas, pengunjung dengan gejala infeksi saluran nafas harus :

1. Menutup hidung dan mulut saat batuk atau bersin;

2. Gunakan tisu/saputangan untuk menutup batuk, buang tisu pasca pakai ke tempat
limbah infeksius;

3. Atau gunakan lengan baju bagian dalam untuk menutup batuk,

4. Cuci tangan dengan menggunakan air bersih mengalir dan sabun atau lakukan alternatif
cuci tangan menggunakan larutan handrub berbasis alkohol;

5. Gunakan masker kain/masker medikal bila sedang batuk/flu.

Penyuluhan Kesehatan dilakukan untuk memperkenalkan hygiene respirasi/etika batuk:

- Edukasi kepada semua petugas, pasien dan pengunjung Puskesmas dengan infeksi
saluran napas;
50
- Edukasi petugas, pasien, keluarga dan pengunjung akan pentingnya pengendalian
transmisi kandungan aerosol dan sekresi saluran nafas dalam mencegah penularan
infeksi saluran napas;
- Menyediakan sarana untuk kebersihan tangan (alkohol handrub, wastafel, sabun
biasa/antiseptik, tissue towel), terutama pada area tunggu perlu diprioritaskan.

H. PRAKTEK MENYUNTIK YANG AMAN

- Tidak memakai ulang jarum suntik;


- Upayakan tidak memakai obat- obat/cairan multidose;
- Pertahankan teknik aseptik dan antiseptik pada pemberian injeksi;
- Segera buang jarum suntik habis pakai pada kontainer benda tajam;
- Tidak melakukan recapping jarum suntik habis pakai.

I. KESEHATAN PERLINDUNGAN PETUGAS KESEHATAN

Upaya kesehatan dan perlindungan karyawan/petugas kesehatan ditujukan kepada seluruh


karyawan baik yang berhubungan langsung dengan pasien maupun tidak. Pelaksanaan
upaya kesehatan kerja meliputi :

a. Pemeriksaan berkala
b. Pemberian imunisasi yang pelaksanaannya tergantung pada :
- Resiko ekspos petugas
- Kontak petugas dengan pasien
- Karakteristik pasien Puskesmas
- Dana Puskesmas
c. Pelaporan pajanan dan insiden kecelakaan kerja (tertusuk jarum)
d. Pengobatan dan atau konseling.

KEWASPADAAN BERDASARKAN PENULARAN/TRANSMISI

Kewaspadan berdasarkan penularan dibutuhkan untuk memutus mata rantai transmisi mikroba
penyebab infeksi, dibuat untuk diterapkan terhadap pasien yang diketahui atau diduga terinfeksi
atau terkolonisasi patogen yang dapat ditransmisikan lewat udara, droplet, kontak dengan kulit
atau permukaan terkontaminasi. Kewaspadaan ini diterapkan sebagai tambahan terhadap
kewaspadaan standar.

Jenis kewaspadaan berdasarkan transmisi :

a. Kontak

Kontak langsung

Melalui common vehicle (makanan, air, obat, peralatan)

Melalui vektor (lalat, nyamuk, tikus, dll)

b. Droplet
51
c. Udara

1. Kewaspadaan transmisi kontak

Transmisi kontak merupakan cara transmisi terpenting dan tesering penyebab HAIs.
Kewaspadaan transmisi kontak ditujukan untuk menurunkan risiko transmisi patogen melalui
kontak langsung atau tidak langsung.

Kontak langsung meliputi kontak kulit terbuka/abrasi, kontak antara orang yang
rentan/petugas dengan kulit pasien terinfeksi atau kolonisasi (contoh : perawat membalikkan
tubuh pasien, memandikan, membantu pasien bergerak, dokter bedah mengganti verband
dengan luka basah, dll). Risiko kontak langsung tesering adalah kontak tangan.

Transmisi kontak tidak langsung terjadi antara orang yang rentan dengan benda yang
terkontaminasi mikroba infeksius di lingkungan seperti instrumen yang terkontaminasi,
jarum, kassa, sarung tangan yang tidak diganti saat menolong pasien, melalui obat, makanan,
melalui mainan anak, dll. Kontak dengan cairan sekresi pasien terinfeksi dapat
ditransmisikan melalui tangan petugas atau benda mati di lingkungan sekitar pasien.

Kewaspadaan kontak diterapkan terhadap pasien dengan infeksi yang diketahui atau
terkolonisasi (ada mikroba pada atau dalam tubuh pasien tanpa gejaia klinis infeksi) yang
mikrobanya dapat ditransmisikan dengan cara kontak langsung atau tidak langsung. Pada saat
petugas masih memakai sarung tangan terkontaminasi tidak boleh menyentuh tangan, hidung
dan mulut, dan hindari mengkontaminasi permukaan lingkungan yang tidak berhubungan
dengan perawatan pasien, misal pegangan pintu, tombol lampu, telepon.

Kunci Kewaspadaan Kontak :

1. Cuci tangan sebelum dan setelah merawat pasien

2. Gunakan sarung tangan besih, tidak perlu steril dan gaun disposable/ reusable bilamana
kontak dengan pasien infeksi kontak.

3. Lepaskan dan proses segera sarung tangan dan gaun pasca pakai perawatan pasien infeksi
kontak secara tepat (dimasukkan limbah medis dan kantong linen infeksius). Lakukan
kebePuskesmasihan tangan segera setelah melepas sarung tangan.

4. Dedikasikan penggunaan peralatan spesifik untuk setiap pasien infeksi kontak dan selalu
membePuskesmasihkan serta mendisinfeksi peralatan yang tidak disposable sebelum
digunakan pasien lain.

5. Hindari menyentuh wajah, mata atau mulut dengan tangan yang memakai atau tidak
memakai sarung tangan sebelum melakukan kebesihan tangan

6. Pasien ditempatkan dalam ruang perawatan yang terpisah atau secara kohorting dengan
pasien lain yang menderita infeksi sejenis (kontak)

7. Minimalkan kontak antar pasien dan batasi gerak pasien keluar ruang perawatan

8. Pengendalian lingkungan: pembemasihan dan dekontaminasi permukaan lingkungan dan


benda-benda terkontaminasi dengan disinfektan standar puskesmas

Pasien dengan infeksi kulit atau mata yang dapat menular misalnya herpes zoster,
impetigo, konjungtivitis, kutu atau infeksi luka lainnya memerlukan penerapan tindakan
pencegahan kontak.

2. Kewaspadaan Transmisi Droplet


52
Diterapkan sebagai tambahan Kewaspadaan Standar terhadap pasien dengan infeksi
yang telah diketahui atau suspek mengidap patogen yang dapat ditransmisikan melalui
droplet, percikan partikel besar (> 5m). Transmisi droplet terjadi melaiui kontak dengan
konjungtiva, membran mukosa hidung atau mulut individu yang rentan/tanpa pelindung oleh
percikan partikel besar (berbicara, batuk, bePuskesmasin dan tindakan seperti pengisapan
lendir dan bronkoskopi) dan dapat menyebarkan organisme. Dibutuhkan jarak dekat antara
sumber dan resipien (< 1 meter).

Droplet tidak bertahan lama di udara dan segera jatuh/menempel di permukaan


lingkungan sehingga tidak dibutuhkan penanganan khusus udara atau ventilasi. Transmisi
droplet dapat secara langsung, dimana droplet mencapai membrana mukosa karena
terinhalasi. Transmisi droplet juga sering terjadi secara kombinasi dengan transmisi kontak
yaitu partikel droplet mengkontaminasi permukaan tangan atau permukaan tubuh atau
lingkungan yang lain dan dapat ditransmisikan ke membran mukosa. Transmisi droplet dapat
terjadi saat pasien bicara, batuk (spontan/akibat induksi), bePuskesmasin, berbagai prosedur
yang dapat menimbulkan aerosol (intubasi endotrakheal, bronkoskopi, suction, nebulising),
fisioterapi dada, resusitasi kardiopulmoner.

Kunci Kewaspadaan Droplet:

1. Cuci tangan sebelum dan setelah merawat pasien, dan segera setelah setiap kali melepas
alat pelindung diri

2. Gunakan masker bedah setiap kali berada dalam jarak 1 meter dengan pasien

3. Pasien ditempatkan dalam ruang perawatan yang terpisah atau secara kohorting dengan
pasien lain yang menderita infeksi sejenis, berjarak antar pasien minimal 1 meter

4. Minimalkan transportasi pasien keluar ruang perawatan

5. APD masker bedah/medik, sarung tangan, gaun

6. Pengendalian lingkungan : pembersihan dan dekontaminasi permukaan lingkungan dan


benda-benda terkontaminasi dengan disinfektan standar PUSKESMAS

3. Kewaspadaan Transmisi melalui Udara (Airborne)

Kewaspadaan transmisi udara diterapkan sebagai tambahan kewaspadaan standar


terhadap pasien yang diduga atau telah diketahui terinfeksi patogen yang secara epidemiologi
penting dan ditransmisikan melalui jalur udara seperti misalnya transmisi artikel terinhalasi
langsung melalui udara (mis. varicella zoster). Kewaspadaan ini ditujukan ntuk menurunkan
risiko transmisi mikroba penyebab infeksi melalui udara baik yang ditransmisikan berupa
droplet nuklei (sisa partikel kecil <5m evaporasi dan droplet yang mengandung mikroba
dan bertahan lama di udara) atau partikel debu yang mengandung mikroba penyebab infeksi.

Partikel kecil yang mengandung mikroba tePuskesmasebut akan melayang/menetap


di udara beberapa jam terbawa aliran udara > 2 m dari sumber, dapat terinhalasi oleh individu
rentan di ruang yang sama dan jauh dari pasien sumber mikroba, tergantung pada faktor
lingkungan (sistem ventilasi). Beberapa contoh penyakit : TB paru, campak, cacar air,
influenza, .Kewaspadaan transmisi udara direkomendasikan diterapkan pada setiap tindakan
yang potensial menimbulkan aerosol pada pasien infeksi udara

53
Bila didapatkan infeksi baru atau infeksi yang belum diketahui cara penularannya,
maka direkomendasikan untuk menerapkan kewaspadaan transmisi udara (merupakan jenis
kewaspadaan tertinggi).

Kunci Kewaspadaan Udara (Airborne):

1. Cuci tangan sebelum dan setelah merawat pasien, dan segera setelah setiap kali melepas
alat pelindung diri

2. Gunakan respirator partikulat saat memasuki ruang isolasi udara, cek setiap akan pakai
(fit test)

3. Pasien ditempatkan dalam ruang perawatan dengan ventilasi memadai/ruang dengan


pertukaran udara 12x/jam atau ruang bertekanan negatif (bila mungkin), dipisahkan dan
pasien lain atau ditempatkan dengan prinsip kohorting besama pasien dengan infeksi
udara sejenis

4. Batasi gerak pasien, edukasi etika batuk, pakai masker bila keluar ruang rawat

5. APD : masker bedah (untuk pasien/pengunjung, sarung tangan, gaun, apron (bila
menghadapi cairan dalam jumlah banyak)

6. Pengendalian Lingkungan

a. Cek aliran udara dengan selembar tisu, jaga pintu selalu tertutup

b. Kontrol sistem ventilasi secara teratur (tekanan negatif atau ventilasi natural)

c. Tidak direkomendasikan menggunakan AC central, bila menggunakan AC harus


dengan filter HEPA

d. Pembesihan dan dekontaminasi permukaan lingkungan dan benda-benda


terkontaminasi sebagai komplemen pembePuskesmasihan udara (HEPA filter, ozon,
fogging atau sinar UV).

Isolasi Perlindungan

Isolasi pedindungan diberikan kepada pasien yang karena kondisi medis/status


kesehatannya menjadikan lebih/sangat rentan terhadap infeksi sehingga perlu dilindungi
dari risiko transmisinya di PUSKESMAS. Kondisi-kondisi pasien yang memerlukan
isolasi perlindungan antara lain:

1. Kondisi immunocompromized (dan berbagai underlying penyakit)

2. Pengobatan steroid/obat supresi sistem imun yang lain

3. Pasien dengan kemoterapi

4. Usia lanjut, bayi prematur/KMK, status gizi buruk, dll

Prinsip kewaspadaan isolasi perlindungan didasarkan pada penerapan


kewaspadaan standar secara maksimal dengan penekanan antara lain :

54
1. Ditempatkan dalam ruang khusus yang menerapkan prinsip kewaspadaan standar
secara maksimal

2. Kebesihan tangan sebelum dan setelah masuk ruangan/kontak pasien (untuk


petugas/pengunjung)

3. Batasi kontak petugas/pengunjung (maksimum pengunjung : 2 orang)

4. Batasi barang di dalam ruangan, termasuk perlengkapan yang dibawa pasien

5. Penggunaan APD oleh petugas sesuai potensi transmisi.

KEWASPADAAN BERBASIS TRANSMISI

Kontak Droplet Udara / Airborne


Penempatan Tempatkan di ruang Tempatkan pasien Tempatkan pasien di
pasien rawat terpisah / secara diruang terpisah /secara ruang terpisah dengan:
kohorting. Bila tidak kohorting, dengan jarak 1. Tekanan negatif
mungkin, pertimbangkan 1 meter antara TT 2. Aliran udara
epidemiologi dan dgn pengunjung. 12xJam
mikrobanya dan populasi Pertahankan pintu 3. Pengeluaran udara
pasien, konsultasikan terbuka, tidak perlu terfiltrasi sebelum
dengan petugas PPI penanganan udara mengalir ke
(kategonIB) Tempatkan lingkungan.
khusus thd udara dan
dengan jarak antar TT 1
ventilasi (kategori IB) 4. Bila menggunakan
meter, jaga tidak ada
kohorting (mikroba
kontaminasi silang ke
sama) dengan
lingkungan dan pasien
ventilasi natural,
lain (kategori IB)
buka jendela
maksimal agar
aliran udara
memadai dari udara
bePuskesmasih ke
kurang
bePuskesmasih
5. Pintu ruang
pasien/kohorting
tertutup.
Jarak antar pasien > 1
meter.Konsultasikan
dengan petugas PPI
untuk menempatkan
pasien bila ruang
isolasi/kohorting tidak
memungkinkan.
(kategori IB)
Kontak Droplet Udara / Airborne
Transport Batasi kontak antar Batasi Batasi
pasien pasien, transport pasien gerak/transportasi gerak/transportasi

55
Kontak Droplet Udara / Airborne
hanya bila perlu. b/p pasien b/p transport, pasien hanya bila
pasien keluar ruangan pasien mengenakan perlu, pasien
terapkan prinsip masker bedah (kategon mengenakan masker
kewaspadaan kontak IB) dan menerapakan bedah dan
untuk meminimalkan hygiene respirasi ketika menerapkan hygiene
penularan (kategori IB) batuk. respirasi/etika batuk
(kategori IB)
APD Sarung tangan non Masker, dipakai Respirator partikulat
petugas steril, ganti sarung (melindungi hidung dan (N95/ Kategori-N
tangan setelah kontak mulut) bila bekerja pada efisiensi 95%)
cairan tubuh/pindah dalam radius 1 meter dikenakan saat masuk
pasien. dan pasien/saat kontak ruang pasien.
Lepaskan sarung tangan erat (kategori 1B) Orang yang rentan
sebelum keluar dari direkomendasikan
ruang pasien ; cuci tidak masuk ruang
tangan dengan sabun pasien Orang yang
antiseptik (kategort IB). imun/telah pernah
Gaun bePuskesmasih sakit campak/ cacar
non steril saat masuk air tidak perlu masker
ruang pasien (kategori IB)
Untuk melindungi kontak Masker
langsung pasien, bedah/medikal untuk
peralatan /permukaan pasien
lingkungan sekitar Sarung tangan
pasien, cairan tubuh, luka Gaun
terbuka, dll.
Goggle, saat
Lepaskan gaun sebelum melakukan tindakan
ke luar ruangan, jaga yang menimbulkan
tidak mengkontaminasi aerosol
lingkungan/pasien lain
(kategori IB)
Apron, digunakan bila
gaun permeable untuk
mengurangi penetrasi
cairan.
Peralatan Dedikasikan 1 peralatan Idem Idem
untuk untuk setiap pasien.
perawatan Bila digunakan
pasien bePuskesmasama,
terapkan prinsip
pembePuskesmasihan
dan disinfeksi secara
tepat sebelum digunakan
untuk pasien lain.
Peralatan semi kritikal
dilakukan DTT, peralatan
kritikal dilakukan

56
Kontak Droplet Udara / Airborne
sterilisasi. (kategori IB)

Kontak Droplet Udara / Airborne


Pengendalian Tidak perlu penanganan Tidak perlu penanganan Ruang tekanan
teknikal & ventilasi secara khusus udara secara khusus negatif dengan
lingkungan ACH 12
AC dengan hepa
filter Aliran udara
pada ventilasi
natural, jendela
dibuka lebar
Pembersihan/usap Pembersihan/usap Pembesihan/usap
permukaan lingkungan permukaan permukaan
dengan menggunakan lingkungan dengan lingkungan
disinfektan menggunakan disinfektan dengan
menggunakan
disinfektan ; b/p
fogging
Contoh MDRO (MRSA VRE, B.pertussis, SARS, M.tbc (obligat
Penyakit/ ESBL) influenza, adenovirus. airborne)
mikroba C. difficile rhinovirus Campak, cacar air
Norovirus, rotavirus, N.meningitidis, (kombinasi
Legionella (melalui Streptococcus grup A, transmisi)
makanan, air, vomitus, Mycoplasma
feses) pneumonia

Panduan Untuk Kewaspadaan Di Ruang Isolasi

1. Rencanakan tindakan perawatan dengan seksama agar efisien dan kontak minimal;

2. Kewaspadaan terhadap semua darah dan cairan tubuh ekskresi dan sekresi dan
seluruh pasien untuk meminimalkan risiko transmisi infeksi;

3. Kebesihan tangan sebelum kontak dan di antara kontak pasien;

4. Cuci tangan setelah menyentuh bahan infeksius (darah dan cairan tubuh pasien);

5. Gunakan teknik tanpa menyentuh bila memungkinkan untuk menghindari


menyentuh bahan infeksius;

6. Pakai sarung tangan saat harus atau mungkin kontak dengan darah dan cairan tubuh
serta bahan yang terkontaminasi. Cuci tangan segera setelah melepas sarung tangan.
Ganti sarung tangan antara pasien;

7. Penanganan limbah feses, urine dan sekresi pasien yang lain dalam lubang
pembuangan yang disediakan, besihkan dan disinfeksi bedpan, urineal, dan
kontainer pasien yang lain;

8. Tangani bahan infeksius sesuai prosedur;

57
9. Pastikan peralatan, barang fasilitas, dan linen infeksius pasien telah dibersihkan dan
didisineksi dengan benar antar pasien;

10. Pastikan mobilisasi pasien keluar unit minimal;

11. Pastikan pembatasan petugas, keluarga pasien/pengunjung yang masuk ke ruang


isolasi seminimal mungkin, telah diedukasi PPI dan menerapkan penggunaan APD
yang sesuai.

PERAWATAN PASIEN DALAM ISOLASI

Bagi pasien dengan penyakit menular melalui udara harus dirawat di ruang
isolasi/kohorting di ruang infeksi airborne untuk mencegah transmisi langsung atau tidak
langsung. Jumlah petugas yang merawat pasien, harus dijaga seminimal mungkin sesuai dengan
tingkat perawatan. Petugas perlu diawasi secara ketat dan hendaknya berpengalaman dalam
pencegahan dan pengendalian infeksi.

Setiap langkah pencegahan dan pengendalian infeksi perlu dilakukan sesuai petunjuk
untuk mencegah transmisi infeksi antar pasien dan dan pasien ke petugas pelayanan
kesehatan atau orang lain.

Perawatan pasien di ruang isolasi menjadi sulit, jika sumber daya tidak mencukupi,
pasien tidak memiliki kebiasaan menjaga kebePuskesmasihan, sengaja mencemari lingkungan
atau tidak dapat diharapkan bekerjasama dalam menerapkan tindakan pencegahan infeksi dan
transmisi mikroorganisme. Hal ini dapat ditemukan misalnya pada anak-anak, pasien dengan
keadaan mental yang berubah-ubah atau orang lanjut usia.

Untuk perawatan pasien penyakit menular melalui udara di ruang isolasi, petugas
kesehatan perlu mentaati petunjuk sebagai berikut :

Pesiapan dan pemeliharaan ruang isolasi

- Lakukan tindakan pencegahan tambahan dengan meletakkan tanda peringatan pada pintu
- Sediakan lembar catatan pada pintu masuk ruang isolasi. Semua petugas kesehatan atau
pengunjung yang masuk area isolasi harus mengisi lembar catatan tesebut, agar bila
dibutuhkan tindak lanjut, tesedia data yang dibutuhkan.
- Pastikan bahwa setiap orang yang memasuki ruangan, termasuk petugas kebersihan memakai
APD yang lengkap.
- Pindahkan semua perabotan yang tidak penting. Perabotan di ruang isolasi harus mudah
dibersihkan dan tidak menahan kotoran tesembunyi atau kondisi basah, baik di dalam
maupun sekelilingnya.
- Kumpulkan linen seperlunya.
- Lengkapi tempat cuci tangan dengan kebutuhan untuk cuci tangan yang cukup.
- Sediakan kantong limbah yang sesuai dalam tempat limbah yang dioperasikan oleh kaki
dalam ruangan.
- Letakkan wadah khusus anti bocor untuk benda tajam dalam ruangan.
- Upayakan agar pasien tidak menggunakan barang pribadi. Letakkan tempat air minum dan
cangkir, tissue dan semua barang untuk kebesihan pribadi berada dalam jangkauan pasien.
- Sediakan peralatan yang diperlukan tesendiri untuk masing-masing pasien seperti stetoskop,
termometer dan tensimeter. Bila karena keterbatasan ketesediaan, peralatan digunakan untuk
pasien lain maka semua peralatan hendaknya dibesihkan dan didesinfeksi sebelum digunakan
besama.

58
- Di luar pintu masuk ruang isolasi (di ruang ganti) sediakan tempat (rak, trolly, lemari) untuk
menyimpan APD. Sediakan daftar tilik untuk meyakinkan semua peralatan yang dibutuhkan
tesedia.
- Di luar pintu keluar ruang isolasi, letakkan wadah tertutup sesuai untuk setiap peralatan
bekas pakai yang akan diproses ulang. Peralatan bekas pakai tesebut dibesihkan dan
didekontaminasi terlebih dahulu di ruangan khusus sebelum dikirim
- Sediakan peralatan kebesihan (mop/pel basah, lap) dan disinfeksi yang dibutuhkan di dalam
ruangan pasien, masing-masing spesifik/terpisah
- Besihkan ruangan pasien secara menyeluruh setiap hari meliputi semua permukaan.
Yakinkan bahwa barang-barang seperti meja pasien, kaki tempat tidur dan lantaI telah
dibesihkan dan didisinfeksi. Sodium hipoklorit 0,5 % dapat digunakan sebagai disinfektan.

- Masukkan linen bekas pakaI ke dalam kantong linen ketika di dalam ruangan dan kemudian
ke dalam kantong lain ketika sudah di luar ruangan. Kirim segera ke unit pencucian (laundry)
dan tangani sebagai linen terkontaminasi
- Buang semua limbah ke dalam kantong limbah infeksius ketika di dalam ruangan. Ketika
limbah akan dibuang, di luar ruangan masukkan kantong tesebut ke dalam kantong lain dan
kemudian tangani sebagai limbah infeksius
- Besihkan dan desinfeksi urineal dan bedpan sebelum digunakan untuk pasien lain
- Hindari penggunaan disinfektan semprotan
- Besihkan semua peralatan kesihan (mop/lap) setelah setiap penggunaan dengan disinfektan.
Kirim semua peralatan kebesihan tesebut ke laundry untuk dicuci dengan air panas
- Yakinkan arah aliran udara sesuai dengan standar kewaspadaan transmisi udara (tekanan
negatif, aliran udara dari besih ke kurang besih, perawatan filter HEPA, pintu tertutup rapat)
- Besihkan peralatan makan dalam air sabun panas
- Untuk informasi lebih lanjut mengenai ruang isolasi, lihat :
Memasuki Ruangan

- Siapkan semua peralatan yang dibutuhkan


- Cuci tangan dengan air mengalir atau gunakan handrub berbasis alkohol
- Pakai APD
- Masuk ruangan dan tutup pintu
Meninggalkan ruangan

- Di pintu keluar atau ruang antara (anteroom), lepaskan APD dengan urutan yang benar
- Sarung tangan: lepas dan buang ke dalam kontainer limbah infeksius
- Kacamata atau pelindung wajah: letakkan di dalam wadah peralatan bekas pakai
- Gaun : dengan tidak memegang bagian luar, masukkan ke dalam tempat cucian
- Cuci tangan dengan air mengalir atau gunakan handrub berbasis alkohol
- Tinggalkan ruangan
- Lepaskan respirator dengan memegang elastis di belakang telinga, jangan memegang bagian
depan masker
- Setelah keluar ruangan gunakan kembali handrub berbasis alkohol atau cuci tangan dengan
air mengalir
- Petugas mandi di kamar mandi yang disediakan di ruang ganti sebelum meninggalkan
ruangan dan menggunakan pakaian dari rumah

PANDUAN PPI TB

Pencegahan dan Pengendalian infeksi TB (PPI TB) adalah kegiatan yang terintegrasi
dengan pengendalian infeksi PUSKESMAS secara umum dan secara khusus ditujukan untuk

59
mencegah dan mengendalikan risiko penyebaran infeksi TB (secara khusus MDR-TB) di
PUSKESMAS (sebagai bagian kewaspadaan isolasi airborne) melalui tatalaksana administratif,
pengendalian lingkungan dan penggunaan alat pelindung diri (APD).

Pelayanan mudah, pelayanan dan penempatan pasien terpisah (kohorting), edukasi etika
batuk dan higiene respirasi, penyediaan paket kesehatan kerja (surveilans TB pada petugas,
pemeriksaan calon karyawan, pemeriksaan rutin, imunisasi, tatalaksana pasca pajanan). Kegiatan
pengendalian lingkungan meliputi pengkondisian udara melalui pengaturan ventilasi (alamiah
atau mekanik atau campuran) di fasilitas rawat jalan, rawat inap, ruang isolasi airborne disease,
ruang penunjang (laboratorium,), area tunggu maupun jalur transportasi pasien. Kegiatan
pengendalian dan perlindungan penggunaan alat pelindung diri (APD) secara rasional dan efisien
(masker bedah untuk pasien, respirator N95 untuk petugas).

Pengendalian Administratif

1. Skrining batuk dilakukan saat pasien datang di PUSKESMAS oleh petugas yang terlatih
(UGD, akses rawat jalan);

2. Pasien batuk suspek infeksi langsung diberikan masker, diberikan edukasi etika batuk dan
higiene respirasi, ditempatkan di area tunggu pasien batuk;

3. Akses pelayanan pasien suspek TB dikhususkan untuk pelayanan dan diagnosis cepat:

a. Akses pelayanan dengan poliklinik khusus

b. Akses pelayanan laboratorium khusus

c. Alur rujukan khusus

4. Alur pelayanan diamankan bagi pasien-pengunjung-lingkungan PUSKESMAS melalui


mekanisme:

a. Penataan alur menggunakan jarak terpendek

b. Semaksimal mungkin dijauhkan dari kontak area publik

c. Pasien telah menggunakan masker

5. Waktu kontak di PUSKESMAS dipesingkat melalui penataan sistem akses pelayanan


khusus yang dipisahkan dari pasien umum.

Pengendalian Lingkungan

1. Ruang pendaftaran, ruang poliklinik, ruang pengambilan dahak, ruang laboratorium dan
lain-lain unit penunjang ditata dengan prinsip pengendalian transmisi udara;

2. Pasien rawat inap TB BTA (+) ditempatkan di ruang rawat inap isolasi,

3. Monitoring kondisi udara dan sistem ventilasi dilakukan secara periodik berkesinambungan
oleh Penanggung Jawab ruangan besama dengan Unit Sanitasi.

60
4. Pembersihan ruangan perawatan menggunakan metode sesuai standar ruang infeksi
airborne.

Perlindungan Petugas dan Paket Kesehatan Kerja

1. Alat pelindung diri masker untuk pasien dan untuk petugas;

2. Penyediaan APD di ruangan perawatan infeksi airborne sesuai standar PPI Puskesmas
dikoordinasikan oleh Penanggung Jawab Ruang & Logistik : sarung tangan bersih, masker,
gaun/apron.

3. Paket kesehatan kerja meliputi pemantauan kesehatan dan surveilans TB pada petugas,
pemeriksaan rutin karyawan dan berkala, pemberian terapi profilaksis maupun terapeutik
(pada kasus pasca pajanan) dan pengaturan shift bertugas serta rotasi tempat tugas
dilakukan besama Sub Bagian Sumber Daya Manusia dan Unit K3.

Panduan K3 tentang pemeriksaan kesehatan untuk TB, alur pasca pajanan dan tim klinik
penanganan pasca pajanan infeksi airborne disampaikan secara khusus terpisah dan
Panduan ini. (lihat Panduan K3).

61
BAB IV

TATALAKSANA PENCEGAHAN & PENGENDALIAN

INFEKSI PUSKESMAS/INFEKSI NOSOKOMIAL

Prinsip tatalaksana pencegahan dan pengendalian infeksi nosokomial adalah


kewaspadaan dan manajemen secara maksimal setiap risiko potensial di setiap tahap aktivitas
pelayanan terkait, untuk meminimalkan manifestasi aktualnya secara optimal sehingga tercapai
perlindungan pasien, petugas, pengunjung dan lingkungan.

A. Tatalaksana Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Saluran Kemih:

Pencegahan infeksi saluran kemih nosokomial terkait kateterisasi uretra perlu


memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan pemasangan kateter urine.

1. Tenaga Pelaksana:

a) Pemasangan kateter hanya dikerjakan oleh tenaga yang berkompeten dan terampil
dalam teknik pemasangan kateter secara aseptik dan perawatannya (Kategori I)

b) PePuskesmasonil yang memberikan asuhan pada pasien dengan kateter harus


mendapat pelatihan secara berkala khusus dalam teknik yang benar tentang prosedur
pemasangan kateter kandung kemih dan pengetahuan tentang potensi komplikasi
yang timbul (kategori II)

2. Teknik Pemasangan Kateter:

a) Pemasangan kateter dilakukan hanya bila perlu saja dan segera dilepas bila tidak
diperlukan lagi. Alasan pemasangan kateter tidak boleh hanya untuk kemudahan
pePuskesmasonil dalam memberi asuhan pada pasien (Kategori II)

b) Gunakan kateter dengan ukuran yang paling sesuai sehingga aliran urine lancar dan
tidak menimbulkan kebocoran dari samping kateter (Kategori II)

c) Cara drainase urine yang lain seperti : kateter kondom, kateter suprapubik,
kateterisasi selang-seling (intermitten) dapat digunakan sebagai ganti kateterisasi
menetap bila memungkinkan (Kategori III).

d) Cuci tangan sesuai prosedur sebelum dan sesudah manipulasi kateter (Kategori I)

e) Pemasangan secara aseptik dengan menggunakan peralatan steril (Kategori II)

3. Perawatan Sistem Aliran Tertutup:

a) Irigasi hanya dikerjakan apabila diperkirakan ada sumbatan aliran misalnya karena
bekuan darah pada operasi prostat atau kandung kemih. Untuk mencegah hal ini
digunakan irigasi kontinu secara tertutup. Untuk menghilangkan sumbatan akibat
bekuan darah dan sebab lain dapat digunakan irigasi selang seling. Irigasi dengan
antibiotik sebagai tindakan rutin pencegahan infeksi tidak direkomendasikan
(kategori II)

62
b) Gunakan semprit besar steril untuk irigasi dan setelah irigasi selesai semprit dibuang
secara aseptik (kategori I)

c) Sambungan kateter harus didisinfeksi sebelum dilepas (kategori II)

d) Jika kateter sering tePuskesmasumbat dan harus sering diirigasi (jika kateter itu
sendiri menimbulkan sumbatan), maka kateter harus diganti (kategori II)

4. Pengambilan Bahan Urine:

a) Bahan pemeriksaan urine segar dalam jumlah kecil dapat diambil dari bagian distal
kateter, atau lebih baik dari tempat pengambilan bahan yang tePuskesmasedia dan
sebelum urine diaspirasi dengan jarum dan semprit yang steril tempat pengambilan
bahan harus didisinfeksi (kategori I)

b) Bila diperlukan bahan dalam jumlah besar maka urine harus diambil dari kantong
penampung secara aseptik (kategori I)

c) Bahan pemeriksaan urine kultur ditampung dalam spuit steril atau tempat
menampung urine (pot) steril untuk segera dibawa ke laboratorium

5. Kelancaran Aliran Urine:

a) Aliran urine harus lancar sampai ke kantong penampung. Penghentian aliran secara
sementara hanya dengan maksud mengumpulkan bahan pemeriksaan untuk
pemeriksaan yang direncanakan (kategori II)

b) Untuk menjaga kelancaran aliran perhatikan:

- Pipa jangan tertekuk (kinking).

- Kantong penampung harus dikosongkan secara teratur ke wadah penampung urine


yang terpisah bagi tiap-tiap pasien. Saluran urine dari kantong penampung tidak
boleh menyentuh wadah penampung.

- Kateter yang kurang lancar/tePuskesmasumbat harus diirigasi sesuai standar


prosedur operasional, bila perlu diganti dengan yang baru.

- Kantong penampung harus selalu terletak lebih rendah dari kandung kemih, tidak
boleh tergeletak/menyentuh lantai (kategori I).

6. Perawatan Meatus

Direkomendasikan membesihkan dan perawatan meatus (selama kateter dipasang)


dengan larutan povidone iodine, walaupun tidak mencegah kejadian infeksi saluran
kemih (kategori II).

7. Penggantian Kateter

Kateter urine menetap harus dipertimbangkan segera dilepas bila sudah tidak ada indikasi
mutlak; tidak ada rekomendasi harus menggantinya menurut waktu tertentu/secara rutin
(kategori II)

63
BUNDLE PENCEGAHAN CAUTI:

1. Fiksasi kateter urine ke samping (paha) : untuk mengurangi gerakan selang kateter,
mencegah iritasi.

2. Urinee bag selalu digantung di tempat tidur apabila pasien ditempat tidur (posisi urinee bag
harus selalu dibawah bladder) untuk mencegah refluks.

3. Memastikan urinee selalu mengalir ke urinee bag

4. Observasi tanda-tanda infeksi

5. Strick hand hygiene.

6. Perawatan meatus setiap hari : lakukan hygiene vulva / penis minimal 3 kali sehari.

B. Tatalaksana Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Aliran Darah Primer (IADP) dan
Plebitis

Pencegahan IADP dan plebitis ditujukan pada pemasangan dan perawatan kateter
vena sentral dan kateter vena perifer.

1. Pemasangan dan perawatan kateter intravaskular serta pemberian obat IV harus


dilakukan staf yang terlatih. Pendidikan dan pelatihan staf perlu dilakukan secara
periodik, menggunakan metode simulasi dan audiovisual yang efektif.

2. Indikasi pemasangan IV line hanya dilaksanakan untuk tindakan pengobatan dan atau
untuk kepentingan diagnostik. Segera lepaskan kateter IV jika sudah tidak ada indikasi
(kategori I).

3. Pemilihan kanula untuk infus primer:

- Gunakan jenis dan ukuran alat intravaskuler yang berisiko rendah terjadinya infeksi.

- Kanula plastik boleh digunakan untuk IV line, pemasangan tidak boleh lebih dari 72
jam (kategori II).

- Penggantian alat sesuai jadwal yang direkomendasikan untuk mengurangi komplikasi


mekanis dan keterbatasan alternatif lokasi pemasangan.

4. Kebesihan tangan

a) Kebesihan tangan harus dilakukan sebelum dan sesudah palpasi, insePuskesmasi,


melepaskan atau dressing IV device (kategori I).

b) Pada umumnya cuci tangan cukup menggunakan sabun dan air mengalir untuk
pemasangan melalui insisi, cuci tangan harus menggunakan sabun antiseptik
(kategori I).

5. Pesiapan Pemasangan kateter IV

a. Protektif barrier precaution selama insemasi dan perawatan kateter IV:

- Digunakan sarung tangan bemasih jika melakukan insePuskesmasi untuk


pencegahan kontaminasi blood pathogen.

- Digunakan sarung tangan bemasih pada tindakan dressing.


64
b. Jangan menyingkat prosedur pemasangan kateter yang sudah ditentukan (lihat SPO
pemasangan kateter IV).

c. Tempat insemasi harus terlebih dahulu didisinfeksi dengan antiseptik secara adekuat
untuk menghilangkan/meminimalkan kolonisasi kulit di sekitar tempat insemasi.
Gunakan antiseptik povidone-iodine 10%, yodium tincture 2% atau alkohol 70%.
(kategori I)

d. Antiseptik harus adekuat, bila menggunakan iodine pada kulit sebelum insermasi
maka disinfeksi kembali dengan alkohol 70% dan ditunggu sampai kering minimal 30
detik sebelum dilakukan pemasangan kanula (kategori I).

e. Jangan lakukan palpasi kembali pada daerah insemasi setelah dilakukan tindakan
aseptik.

6. Prosedur setelah pemasangan kateter IV

a) Kanula difiksasi sebaik-baiknya (kategori I)

b) Tutup daerah insePuskesmasi dengan transparant dressing (kategori I)

c) Cantumkan tanggal, jam pemasangan kateter di dekat lokasi insePuskesmasi pada IV


perifer atau di tempat yang mudah dibaca (dalam rekam medik dicatat tanggal, lokasi
dan jam pemasangan) (kategori I)

7. Perawatan tempat pemasangan kateter IV

a) Tempat tusukan diperiksa setiap hari untuk melihat kemungkinan timbulnya tanda-
tanda infeksi (inspeksi dan palpasi daerah vena tesebut). Bila ada demam yang tidak
bisa dijelaskan dan ada nyeri tekan pada tempat tusukan, kasa penutup /transparant
dressing dibuka untuk melihat kemungkinan komplikasi (kategori I).

b) Bila kanula harus dipertahankan untuk waktu lama, maka setiap 72 jam kasa
/transparant dressing penutup harus diganti dengan yang baru dan steril (kategori II)

c) Lakukan teknik aseptik pada lokasi port dengan alkohol 70%

8. Penggantian Set Infus

a) Jika pengobatan IV melalui infus perifer (baik menggunakan heparin atau yang
dipasang melalui insisi), bila tidak ada komplikasi yang mengharuskan mencabut
kanula maka kanula harus diganti setiap 72 jam secara asepsis (dewasa) (kategori
I).Tidak ada rekomendasi pada anak tentang hal ini.

b) Selang IV termasuk kanula piggy-back dan stopcock harus diganti setiap 72 jam,
kecuali bila ada indikasi klinis (kategori I).

c) Set infus harus diganti sesudah digunakan untuk pemberian darah, produk darah, atau
emulsi lemak (kategori III).

d) Cairan parenteral

- Cairan infus/parenteral nutrisi diberikan dalam waktu 24 jam

- Pemberian lipid emulsion, secara tesendiri, hanya digunakan selama 12 jam

65
9. Kanula Sentral

a). Pemilihan Lokasi Pemasangan kateter sentral

Pada orang dewasa pemasangan kanula lebih baik pada tungkai atas dan pada tungkai
bawah, bila perlu pemasangan dilakukan di daerah subklavia atau jugular (kategori I).

b) Kanula sentral harus dipasang dengan teknik aspetik (kategori I). Gunakan
kewaspadaan standar yang tepat saat insePuskesmasi (terdiri atas gaun khusus, tutup
kepala, masker, sarung tangan steril, kain besar/drape steril). InsePuskesmasi
direkomendasikan dilakukan di ruang tindakan.

c) Gunakan teknik aseptik sebelum mengakses sistem kateter.

d) Kanula sentral harus segera dilepas bila indikasi tidak diperlukan lagi atau diduga
menyebabkan sepsis atau menunjukkan tanda-tanda infeksi. Bila masih diperlukan,
direkomendasikan insePuskesmasi di tempat yang baru (kategori I).

e) Kanula sentral dipasang melalui vena jugular dan subklavia kecuali digunakan untuk
pemantauan tekanan vena sentral, tidak harus diganti secara rutin (kategori I).

f) Tidak direkomendasikan melakukan insermasi/memasang berulang kateter pada


daerah insermasi yang sama

g) Tidak direkomendasikan pembatasan waktu penggantian kateter vena sentral kecuali


rusak atau terlihat tanda infeksi. Bila kanula sentral diindikasikan dipertahankan lebih
lama, kasa penutup/dressing harus diperiksa dan diganti setiap 7 hari (kategori II).

10. Panduan Khusus

a) Jangan gunakan single lumen pada pemberian nutrisi parenteral, transfusi darah,
cairan hiperalimentasi secara bersamaan.

b) Pada setiap penggantian komponen IV, harus dipertahankan sistem tertutup untuk
mencegah kontaminasi. Setiap kali hendak memasukkan obat melalui selang, harus
dilakukan disinfeksi sesaat sebelum memasukkan obat tersebut (kategori II).

c) Dressing core dilakukan bila kotor, rusak terbuka atau terlihat tanda-tanda infeksi.

d) Minimalkan jumlah stopcocks yang disambung ke kateter.

e) Pengambilan bahan pemeriksaan darah melalui selang IV tidak direkomendasikan.


(kategori II)

11. Penggantian komponen sistem intravena dalam keadaan infeksi atau plebitis :

Jika dari tempat insePuskesmasi keluar pus atau terjadi selulitis atau plebitis atau diduga
bakteremia yang berasal dari kanula IV, maka semua sistem harus dicabut (kategori I).

12. Pemeriksaan untuk infeksi yang dicurigai karena pemasangan peralatan intravena seperti
tromboplebitis purulen, bakteriemi, maka dapat dilakukan pemeriksaan biakan/kultur
ujung kanula. Cara pengambilan bahan sebagai berikut:

a) Kulit tempat insePuskesmasi dibePuskesmasihkan dan didisinfeksi alkohol 70%,


biarkan sampai kering;

b) Kanula dilepas, ujung kanula yang masuk IV dipotong 1 cm secara aseptik untuk
dibiakkkan dengan teknik semi kuantitatif (kategori II);
66
c) Jika sistem IV dihentikan oleh karena kecurigaan kontaminasi cairan parenteral, maka
cairan tePuskesmasebut harus dibiakkan dan sisa cairan dalam botol diamankan
(kategori I);

d) Jika sistem IV dihentikan oleh karena kecurigaan bakteriemi akibat cairan IV, cairan
harus dibiakkan (kategori II);

e) Jika terbukti bahwa cairan terkontaminasi maka sisa botol dan isinya dengan nomor
lot yang sama dicatat dan tidak boleh dipakai;

f) Jika kontaminasi dicurigai berasal dari pabrik (intrinsic contamination), maka


secepatnya harus dilaporkan kepada Dinas Kesehatan.

Kendali Mutu Selama dan Sesudah Pencampuran Cairan Parenteral

- Cairan parenteral dan hiperalimentasi harus dicampur di bagian Farmasi kecuali karena
kepentingan klinis, pencampuran dilakukan di ruangan pasien (kategori II).

- Tenaga pelaksana harus mencuci tangan sesuai standar sebelum mencampur cairan
parenteral (kategori I).

- Sebelum mencampur dan menggunakan cairan parenteral, semua wadah harus diperiksa
untuk melihat adanya kekeruhan, kebocoran, keretakan dan partikel tertentu serta tanggal
kadaluaPuskesmasa. Bila didapatkan keadaan tePuskesmasebut, cairan tidak boleh
digunakan dan harus dikembalikan ke Instalasi Farmasi. Instalasi Farmasi memastikan
bahwa produk tePuskesmasebut tidak dikeluarkan lagi ke pelayanan (kategori I).

- Ruangan tempat mencampur cairan parenteral harus memiliki pengatur udara laminar
(Laminar flow hood)(kategori II).

- Sebaiknya dipakai wadah yang berisi cairan dengan dosis tunggal (sekali pakai). Bila
dipakai bahan parenteral dengan dosis ganda (untuk beberapa kali pemakaian), wadah sisa
bahan tePuskesmasebut harus diberi tanda tanggal dan jam waktu dikerjakan.

- Label wadah harus diperiksa untuk mengetahui kondisi ideal penyimpanan (suhu kamar
atau dalam refrigerator)

Central Line Bundle

1. Kebesihan tangan

2. Maximal barrier precaution

3. Antiseptik kulit dengan khlorheksidin

4. Seleksi optimal lokasi kateter, men ghindari vena femoral untuk akses kateter vena sentral
pada pasien dewasa

5. Evaluasi setiap hari indikasi pemasangannya dan segera dilepas bila sudah tidak dibutuhkan

67
Tidak direkomendasikan memberikan antimikroba sebagai prosedur rutin sebelum pemasangan
atau selama pemakaian alat intravaskuler untuk mencegah kolonisasi kateter atau infeksi aliran
darah primer (bakteriemia).

D. Tatalaksana Pencegahan dan Pengendalian Pneumonia

1. Pendidikan staf tentang Pencegahan dan Pengendalian Infeksi

2. Memberikan perubahan posisi pada pasien

a. Posisi kepala > tinggi atau 30- 45

b. Ubah posisi tidur miring kanan dan kiri bergantian

3. Keberasihan mulut setiap 4 jam dengan menggunakan anitiseptik oral yang bebas dari
alkohol (khlorheksidin 0,2%)

4. Laksanakan kewaspadaan standar

a. Kebersihan tangan (kategori I) sebelum dan sesudah:

Menyentuh pasien

Menyentuh darah/cairan tubuh

Menyentuh alat sistem pernafasan

b. Gunakan sarung tangan besih

kontak dengan mukosa mulut dan kering

tindakan pengisapan lendir

kontak darah dan cairan tubuh

c. Ganti sarung tangan di antara dua tindakan.

d. Pakai masker saat:

intubasi,

pengisapan lendir,

pembePuskesmasihan mulut dan hidung.

e. Segera lepas masker setelah selesai tindakan.

f. Bersihkan semua peralatan sebelum didisinfeksi atau sterilisasi

Lakukan dekontaminasi semua peralatan sebelum disinfeksi /sterilisasi

Jangan memakai ulang peralatan disposable, kecuali yang sudah diatur dalam
kebijakan PUSKESMAS tentang pengelolaan alat medis reused

Lakukan disinfeksi sesuai standar kriteria alat pada alat pakai ulang sebelum
digunakan lagi (sesuai standar CSSD)

Bag resusitasi dibersihkan dan didisinfeksi setelah digunakan.

68
g. Tidak direkomendasikan mengganti sirkuit ventilator secara rutin, kecuali atas
indikasi

h. Satu sirkuit setiap pasien, penggantian sirkuit ventilator bila kotor atau tidak
berfungsi (tidak ada rekomendasi waktu penggantian breathing sircuit)

i. Tidak membuka sirkuit ventilator secara rutin

j. Segera membuang kondensasi air dalam sirkuit ke tempat penampungan (water trap)

k. Gunakan air steril untuk mengisi humidifier.

l. Alat nebulisasi dinding dan penampungnya harus diganti setiap 24 jam dan
dibePuskesmasihkan

m. Setiap slang dan masker yang digunakan untuk terapi oksigen harus diganti pada
setiap pasien.

n. Lakukan pengisapan lendir saluran pernafasan dengan tehnik aseptik dan dilakukan
hanya jika perlu, gunakan kateter steril. Jika pemakaian hanya dalam waktu singkat
maka kateter dapat dipakai ulang setelah dibilas dan dibePuskesmasihkan.

o. Intubasi

Lakukan dengan tehnik aseptik

VAP Bundle

a. Kebesihan tangan

b. Posisi tidur 30- 45 bila tidak ada kontra indikasi

c. Oral hygiene setiap 4 jam (dengan khlorheksidin 0,2%)

d. Penghisapan lendir jika diperlukan, diprioritaskan menggunakan closed System

h. Pemberian obat untuk menghindari stress ulcer

i. Tidak direkomendasikan melakukan bronkhial washing

E. Tatalaksana Pencegahan dan Pengendalian Dekubitus Infeksi

Pencegahan dekubitus:

- Higiene dan perawatan kulit, kulit harus selalu dijaga agar tetap besih dan kering serta
dikaji terus menerus terhadap risiko dan tanda awal penekanan dan gesekan,

- Menghilangkan friksi dan gesekan, pertahankan postur tubuh ataupun pergerakan


secara bebas;

- Mengurangi tekanan pada tumit;

- Pengaturan posisi, diberikan untuk mengurangi tekanan dan gaya gesek pada kulit;

- Kasur antidekubitus, mengurangi bahaya immobilisasi pada sistem kulit.

Penatalaksanaan dekubitus:

69
- Kaji derajat dekubitus;

- Rawat dekubitus sesuai dengan derajatnya;

- Catat kejadian dekubitus beserta grade-nya, dokumentasikan melalui surveilans


nosokomial dan entry data infeksi RL 6

70
BAB V

PANDUAN PPI UNTUK PASIEN & PENGUNJUNG

Panduan PPI untuk Pasien

Pasien memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan yang bermutu yang berfokus pada
keselamatan. Untuk itu, maka pasien juga perlu diberi edukasi agar bekerjasama dengan
masyarakat PUSKESMAS mewujudkan standar pelayanan untuk pencegahan dan pengendalian
infeksi.

Pasien selalu diberi edukasi pada setiap orientasi ketika awal dirawat inap. Edukasi PPI
khususnya adalah dalam hal kebesihan tangan. ketertiban membuang sampah dan etika batuk.
Hal lain yang perlu diedukasikan adalah membatasi barang dari luar PUSKESMAS yang dibawa
ke ruangan, jumlah penunggu di ruangan dan ketertiban jam berkunjung.

Catatan edukasi bagi pasien didokumentasikan dalam Form Pendidikan Pasien dalam
rekam medis.

Pasien rawat jalan diberikan edukasi saat menunggu di area pendaftaran / poliklinik
melalui program penyuluhan kesehatan masyarakat PUSKESMAS yang dikoordinasikan Tim
PPI PUSKESMAS melalui Bagian Humas. Bentuk lain edukasi adalah dengan banner, poster,
leflet, teks berjalan, baliho, spanduk, pemutaran video edukasi, dll yang ditempatkan di area
publik yang mudah terbaca oleh seluruh pengunjung PUSKESMAS dan di area tunggu
pasien/pengunjung.

Panduan PPI untuk Pengunjung

Di Rawat Jalan

1. Pengunjung / pasien setelah tiba di Puskesmas direkomendasikan untuk melakukan


kebePuskesmasihan tangan dengan menggunakan sabun cair dengan air mengalir atau
handrub yang sudah disediakan

2. Apabila pengunjung / pasien batuk atau mengalami tanda atau gejala infeksi pernafasan pada
saat berada di ruang pendaftaran direkomendasikan menempati tempat duduk yang telah
disediakan khusus pasien batuk dan menggunakan masker yang sudah disediakan

3. Direkomendasikan pengunjung / pasien batuk untuk duduk pada jarak 1 meter dari yang
lainnya saat menunggu pemeriksaan

4. Berikan edukasi atau informasi mengenai etika batuk

5. Pengunjung / pasien setelah keluar dari Puskesmas direkomendasikan untuk melakukan


kebePuskesmasihan tangan menggunakan sabun cair dengan air mengalir atau handrub yang
sudah disediakan.

71
Di Rawat inap

1. Pengunjung setelah tiba diPuskesmas direkomendasikan untuk melakukan kebesihan tangan


menggunakan sabun cair dengan air mengalir atau handrub yang sudah disediakan, sebelum
masuk ruang perawatan

2. Apabila pengunjung batuk atau mengalami demam dan gangguan pernafasan sebaiknya tidak
diperkenankan mengunjungi pasien. Dalam kondisi terpaksa, direkomendasikan
menggunakan masker dan segera meninggalkan ruangan pasien

3. Bagi anak-anak dibawah 12 tahun dilarang mengunjungi pasien di Puskesmas

4. Pada waktu masuk ruangan, pengunjung dibatasi maksimal 2 orang secara bergantian
(khususnya di ruang rawat penyakit infeksi)

Pada pasien dengan penyakit menular melalui udara

1. Pengunjung melakukan kebesihan tangan sebelum memasuki dan setelah keluar dari ruang
perawatan pasien

2. Pengunjung dibatasi maksimal 2 orang dan waktu berkunjung maksimal 10 menit

3. Pengunjung harus mengikuti prosedur dari PPI dengan menggunakan APD berupa masker
dan gaun (jika diperlukan), apabila kontak langsung dengan pasien

4. Segera melepas APD jika keluar ruangan dan masker dibuang pada limbah infeksius apabila
menggunakan gaun maka ditempatkan pada tempat linen infeksius

Pada pasien dengan Isolasi Perlindungan

1. Pengunjung melakukan kebesihan tangan sebelum memasuki dan setelah keluar dari ruang
perawatan pasien

2. Pengunjung dibatasi maksimal 2 orang

3. Pengunjung harus mengikuti prosedur dari PPI dengan menggunakan APD berupa masker,
gaun, mengganti alas kaki, membatasi kontak dengan pasien

4. Segera melepas APD jika keluar ruangan; masker dibuang pada limbah infeksius, gaun dan
alas kaki ditempatkan pada tempat yang disediakan

Informasi berupa poster, leaflet, banner, spanduk, teks berjalan, dll. Bentuk media edukasi
disediakan untuk pengunjung PUSKESMAS, ditempatkan di tempat / area publik
PUSKESMAS, dengan prioritas materi:

- Kebersihan tangan;

- Etika batuk dan higiene respirasi;

- Pemakaian masker untuk pasien / pengunjung batuk;

- Kebersihan lingkungan

72
- Ketertiban membuang sampah

- Penggunaan APD sesuai potensi risiko penularan

Pengantar pasien maupun pengunjung diberikan edukasi saat menunggu di area tunggu
puskesmas melalui program penyuluhan kesehatan masyarakat puskesmas yang dikoordinasikan
Tim PPI puskesmas.

KEPALA UPTD PUSKESMAS KABUH


KABUPATEN JOMBANG

Drg. EDY SUGIHARTO


NIP.196309271992031004

73