Anda di halaman 1dari 10

TUGAS

FARMAKOTERAPI PERNAFASAN DAN PENCERNAAN

BATUK

KELOMPOK D-10
Anggota:
Indung Chintyani A. 12613285
Chairunnisa 12613286
Revina Pricillia W. 12613287
Saima 12613288
Cindy Marseli 12613295
Renny Nadya Oktari 12613337
Nabilla Saraswati 12613344

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

2015
A.
B. Definisi
Batuk adalah suatu refleks pertahanan tubuh untuk mengeluarkan benda
asing dari saluran napas. Batuk juga membantu melindungi paru dari aspirasi
yaitu masuknya benda asing dari saluran cerna atau saluran napas bagian
atas. Saluran napas yang dimaksud adalah mulai dari tenggorokan, trakhea,
bronkhus, bronkhioli, sampai ke jaringan paru[1].

Batuk merupakan proses ekspirasi (penghembusan nafas) yang eksplosif


yang memberikan mekanisme proteksi normal untuk membersihkan saluran
pernafasan dari adanya benda asing yang mengganggu. Batuk bukanlah suatu
penyakit melainkan suatu tanda atau gejala adanyaganggan pada saluran
pernafasan. Selain itu, batuk juga merupakan jalur penyebaran infeksi. Batuk
dapat menyebabkan rasa tidak nyaman, mengganggu kehidupan normal, dan
rasa khawatir terhadap penyebab batuk[2].

C. Etiologi
Pemicu batuk adalah adanya berbagai iritan yang memasuki saluran nafas
melaluiinhalasi (asap, debu, atau asap rokok) atau melalui inhalasi (sekresi
jalan nafas, benda asing, atau isi lambung). Batuk karena iritasi karena sekresi
jalan nafas (seperti postnasal drip) atau isi lambung biasanya faktor
pemicunya tidak dikenal dan batuknya bersifat persisten. Jika terus terpapar
oleh iritan maka dapat memicu batuk dan sensitifitas jalan nafas meningkat.
Infeksi pernafasan karena virus maupun bakteri yang menyebabkan inflamasi,
konstriksi, dan kompresi jalan nafas juga dapat menyebabkan batuk. Adanya
kelainan pada jantung, yaitu gagal jantung kongestif, juga dapat menimbulkan
batuk karena adanya edema di daerah peribronkial dan interstisial.
Penggunaan obat golongan ACEI juga sering dihubungkan dengan kejadian
batuk, diduga berhubungan dengan akumulasi bradikinin atau substance P
yang juga didegradasi oleh enzim ACE[2].
D. Patofisiologi
Batuk membantu membersihkan jalan nafas saat ada banyak partikel-
partikel asing yang terhirup, lendir dalam jumlah yang berlebihan, dan jika ada
substansi abnormal pada jalan nafas, seperti cairan edema atau nanah.
Refleks batuk dimulai dengan adanya stimulasi pada reseptor, dimana
reseptor batuk merupakan golongan reseptor yang secara cepat beradaptasi
terhadap adanya iritan. Ada ujung syaraf yang berlokasi di dalam epitelium di
hampir sepanang saluran nafas yang paling banyak dijumpai pada dindng
posterior trakea, karina, dan daerah percabangan saluran nafas utama. Pada
bagian faring juga terdapat reseptor batuk yang dapat dipicu oleh adanya
stimulus kimia maupun mekanis. Reseptor mekanis sensitif terhadap sentuhan
an perubahan; terkonsentrasi di laring, trakea, dan karina. Reseptor kimia
sensitif pada adanya gas dan bau-bauan berbahaya; terkonsentrasi di laring,
bronkus, dan trakea[2].

E. Mekanisme Batuk

Batuk merupakan suatu rangkaian refleks yang terdiri dari reseptor batuk,
saraf aferen, pusat batuk, saraf eferen, dan efektor. Refleks batuk tidak akan
sempurna apabila salah satu unsurnya tidak terpenuhi. Adanya rangsangan
pada reseptor batuk akan dibawa oleh saraf aferen ke pusat batuk yaitu
medula untuk diteruskan ke efektor melalui saraf eferen. Reseptor batuk
terdapat pada farings, larings, trakea, bronkus, hidung (sinus paranasal),
telinga, lambung, dan perikardium sedangkan efektor batuk dapat berupa otot
farings, larings, diafragma, interkostal, dan lain-lain. Proses batuk terjadi
didahului inspirasi maksimal, penutupan glotis, peningkatan tekanan intra
toraks lalu glotis terbuka, dan dibatukkan secara eksplosif untuk mengeluarkan
benda asing yang ada pada saluran respiratorik. Inspirasi diperlukan untuk
mendapatkan volume udara sebanyak-banyaknya sehingga terjadi
peningkatan tekanan intratorakal. Selanjutnya terjadi penutupan glotis yang
bertujuan mempertahankan volume paru pada saat tekanan intratorakal besar.
Pada fase ini terjadi kontraksi otot ekspirasi karena pemendekan otot ekspirasi
sehingga selain tekanan intratorakal tinggi tekanan intraabdomen pun tinggi.
Setelah tekanan intratorakal dan intraabdomen meningkat maka glotis akan
terbuka yang menyebabkan terjadinya ekspirasi yang cepat, singkat, dan kuat
sehingga terjadi pembersihan bahan-bahan yang tidak diperlukan seperti
mukus dan lain-lain. Setelah fase tersebut maka otot respiratorik akan
relaksasi yang dapat berlangsung singkat atau lama tergantung dari jenis
batuknya. Apabila diperlukan batuk kembali maka fase relaksasi berlangsung
singkat untuk persiapan batuk[3].

Mekanisme batuk dapat dibagi menjadi empat fase yaitu[1]:


a) Fase iritasi
Iritasi dari salah satu saraf sensoris nervus vagus di laring, trakea,
bronkus besar, atau serat afferen cabang faring dari nervus glosofaringeus
dapat menimbulkan batuk. Batuk juga timbul bila reseptor batuk di lapisan
faring dan esofagus, rongga pleura dan saluran telinga luar dirangsang.
b) Fase inspirasi
Pada fase inspirasi glotis secara refleks terbuka lebar akibat kontraksi
otot abduktor kartilago aritenoidea. Inspirasi terjadi secara dalam dan cepat,
sehingga udara dengan cepat dan dalam jumlah banyak masuk ke dalam
paru. Hal ini disertai terfiksirnya iga bawah akibat kontraksi otot toraks,
perut dan diafragma, sehingga dimensi lateral dada membesar
mengakibatkan peningkatan volume paru. Masuknya udara ke dalam paru
dengan jumlah banyak memberikan keuntungan yaitu akan memperkuat
fase ekspirasi sehingga lebih cepat dan kuat serta memperkecil rongga
udara yang tertutup sehingga menghasilkan mekanisme pembersihan yang
potensial.
c) Fase kompresi
Fase ini dimulai dengan tertutupnya glotis akibat kontraksi otot adduktor
kartilago aritenoidea, glotis tertutup selama 0,2 detik. Pada fase ini tekanan
intratoraks meninggi sampai 300 cm H2O agar terjadi batuk yang efektif.
Tekanan pleura tetap meninggi selama 0,5 detik setelah glotis terbuka .
Batuk dapat terjadi tanpa penutupan glotis karena otot-otot ekspirasi
mampu meningkatkan tekanan intratoraks walaupun glotis tetap terbuka.
d) Fase ekspirasi/ ekspulsi
Pada fase ini glotis terbuka secara tiba-tiba akibat kontraksi aktif otot
ekspirasi, sehingga terjadilah pengeluaran udara dalam jumlah besar
dengan kecepatan yang tinggi disertai dengan pengeluaran benda-benda
asing dan bahan-bahan lain. Gerakan glotis, otot-otot pernafasan dan
cabang-cabang bronkus merupakan hal yang penting dalam fase
mekanisme batuk dan disinilah terjadi fase batuk yang sebenarnya. Suara
batuk sangat bervariasi akibat getaran sekret yang ada dalam saluran nafas
atau getaran pita suara.

F. Klasifikasi Batuk
Secara umum penyakit batuk dapat dikelompokkan menjadi 2 jenis,
yaitu batuk produktif dan batuk tidak produktif. Pengelompokan ini
didasarkan pada ada dan tidaknya dahak yang diproduksi oleh si penderita.
1) Batuk Produktif
Masyarakat umumnya menebutnya dengan sebutan batuk berdahak.
Batuk berdahak adalah batuk yang disertai dengan dihasilkannya
dahak. Batuk berdahak sangat mengganggu karena terasa gatal dan
dahak akan keluar seiring dengan batuk. Batuk jenis ini biasanya
disebabkan oleh alergi dan disertai flu.
2) Batuk Tidak Produktif
Batuk tidak produktif, atau batuk tidak berdahak atau disebut juga
batuk kering, adalah jenis batuk yang tidak disertai produksi dahak
yang berlebihan. Batuk jenis ini biasanya disebabkan oleh benda
asing yang mengiritasi tenggorokan ataupun disebabkan efek
samping obat golongan ACEI.
Adapun jenis batuk berdasarkan berapa lama batuk tersebut bertahan
yaitu:
1) Batuk Akut
Batuk akut merupakan jenis batuk yang berlangsung kurang dari 2
minggu. Batuk jenis ini biasanya disebabkan oleh masuk angin,
influenza, atau infeksi sinus.
2) Batuk Kronik
Batuk kronik merupakan jenis batuk yang bertahan selama lebih dari
2 minggu, bahkan ada juga yang menahun. Jenis batuk ini juga terjadi
secara berulang. Penyebab batuk kronik antara lain adalah asma, TB,
dan batuk rejan. Batuk rejan dapat dicegah sejak dini dengan cara
memberikan imunisasi DPT.

G. Terapi Penanganan Batuk


1. Terapi Farmakologi
Tujuan Terapi batuk adalah untuk meminimalkan gejala dan
menghilangkan atau mengatasi penyebab batuk. Obat batuk dapat
digolongkan menjadi antitusif, ekspektoran, dan mukolitik.
a. Antitusif
Antitusif memiliki mekanisme kerja dengan menekan refleks batuk.
Obat golongan antitusif terdiri dari derivate senyawa opiate (noskapin,
etilmorfin, dan kodein) dan juga dekstrometorfan. Dekstrometorfan
meruapakan jenis obat yang mirip obat opiat, yaitu sebagai antagonis
reseptor NMDA (N-methyl D-aspartate) glutamatergic, dan merupakan
agonis bagi reseptor opioid 1 dan 2, serta juga merupakan antagonis
reseptor nikotinik 3/4.
Obat Dosis dan Interval
Dewasa Anak-anak
Kodein 10-20 mg setiap 4-6 6-12 th : 5-10 mg
jam jika perlu (tidak setiap 4-6 jam jika
boleh lebih dari 120 perlu (tidak boleh
mg/hari) lebih dari 60 mg/hari)
2-6 th : 0,25 mg/Kg
sampai 4x sehari
Noskapin 25 mg atau 5 ml 0-4 th : 1,25 ml
sirop, setiap 8 jam 4-10 th : 2,5 ml
10-15 th : 3,75 ml
setiap 8 jam
Dekstrometorfan 10-20 mg tiap 4 jam 1 mg/Kg/hari dalam
atau 30 mg tiap 6-8 3-4 dosis terbagi
jam, maks 120
mg/hari

b. Ekspektoran

Memiliki aktivitas dengan merangsang batuk sehingga memudahkan


pengeluaran dahak/ekspektorasi. Contohnya gliseril guakolat atau
guaifenesin. Dari berbagai studi efektivitas ekspektoran masih
dipertanyakan dan tidak lebih baik deibanding placebo. Bahkan
disarankan menggunakan air saja sebgai ekspektoran, karena air dapat
mengencerkan dahak sebagai dahak dapat dibatukkan dengan mudah.

c. Mukolitik

Golongan ini bekerja dengan menurunkan viskositas mucus/dahak,


biasanya digunakan pada saat kondisi dahak cukup kental dan banyak.

Obat Dosis dan Interval


Dewasa Anak-anak
Asetilsistein 200 mg, 3x sehari 100 mg 3 kali sehari
Karbosistein Awal : 750 mg 3x 2-5 th: 65,5-125 4x
sehari, kemudian : 1,5 sehari
g sehari dosis terbagi 6-12 th: 250 mg 3x
sehari
Ambroksol HCl 60 mg 2x sehari 6-12 th: 30 mg, 2-3x
sehari
2-6 th: 15 mg 3x
sehari
Bromheksin 8 mg, 3-4x sehari >10 th : 8 mg, 3x
sehari
3.10 h : 4mg,
3x sehari
2. Terapi Non Farmakologi

Pada umunya batuk berdahak maupun tidak berdahak dapat


dikurangi dengan cara sebagai berikut:

Memperbanyak minum air putih untuk membantu mengencerkan


dahak, mengurangi iritasi dan rasa gatal.

Menghindari paparan debu, minuman atau makanan yang


merangsang tenggorokan seperti makanan yang berminyak dan
minuman dingin.

Menghindari paparan udara dingin.

Menghindari merokok dan asap rokok karena dapat mengiritasi


tenggorokan sehingga dapat memperparah batuk.

Menggunakan zat - zat Emoliensia seperti kembang gula, madu, atau


permen hisap pelega tenggorokan. Ini berfungsi untuk melunakkan
rangsangan batuk, dan mengurangi iritasi pada tenggorokan dan selaput
lendir.
DAFTAR PUSTAKA

1. Guyton A.C. dan Hall, J.E., 2008, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran
Edisi 11, ECG, Jakarta.

2. Ikawati, Z., 2011, Penyakit Sistem Pernafasan dan Tatalaksana


Terapinya, Bursa Ilmu, Yogyakarta.

3. Supriyatno, B., 2010, Batuk Kronik pada Anak, Maj Kedokt Indon,
60(6), 286.

4. Anonim, 2012, Cough Etiology, Evaluation, and Treatments, tersedia


di www.respiratoryguidelines.ca, diakses pada 9 July 2015

5. McCool, F. D., Global Physiology and Pathophysiology of Cough,


CHEST January 2006 vol. 129 no. 1 suppl 48S-53S

6. Puspitasari, I., 2010, Jadi Dokter Untuk Diri Sendiri, B-First :


Yogyakarta, 44-45