Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Persalinan adalah proses di mana bayi, plasenta, selaput ketuban keluar dari uterus
ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan
(setelah kehamilan 37 minggu) tanpa disertai adanya penyulit (Winknjosastro, 2008,
Hlm.37). Helen Varney mengatakan persalinan adalah rangkaian proses yang berakhir
dengan pengeluaran hasil konsepsi oleh ibu. Proses ini dimulai dengan kontraksi persalinan
sejati, yang ditandai oleh perubahan progresif pada serviks, dan diakhiri dengan kelahiran
plasenta (Varney,H, 2007, Hlm. 672). Persalinan dan kelahiran normal adalah proses
pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan, lahir spontan dengan
presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu
maupun pada janin (Saifuddin, 2006, Hlm.100).
Tanda-tanda persalinan yaitu rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat,
sering dan teratur, keluar darah lendir yang banyak karena robekan-robekan kecil pada
serviks, terkadang ketuban pecah dengan sendirinya, pada pemeriksaan dalam didapat
serviks yang mendatar dan pembukaan jalan sudah ada (Yeyeh, Ai, 2009, Hlm. 9).
Persalinan adalah proses yang fisiologis dan merupakan kejadian yang menakjubkan
bagi seorang ibu dan keluarga. Penatalaksanaan yang terampil dan handal dari bidan serta
dukungan yang terus-menerus dengan menghasilkan persalinan yang sehat dan memuaskan
dapat memberikan pengalaman yang menyenangkan. Sebagai bidan, ibu akan mengandalkan
pengetahuan, keterampilan dan pengambilan keputusan dari apa yang dilakukan.
Kala III merupakan tahap ketiga persalinan yang berlangsung sejak bayi lahir sampai plasenta
lahir. Persalinan kala tiga dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir dengan lahirnya plasenta
dan selaput ketuban.

1.2 Rumusan Masalah


1. apa yang dimaksud dengan kebutuhan dasar selama persalinan?
2. Apa saja kebutuhan ibu selama persalinan?
3. Apa saja kebutuhan ibu bersalin kala III?
4. Apa yang dimaksud manajemen aktif kala III?
1.3 Tujuan
1. mengetahui kebutuhan dasar selama persalinan.
2. Mengetahui kebutuhan ibu selama persalinan.
3. Mengetahui kebutuhan ibu bersalinan kala III.
4. Mengetahui manajemen aktif kala III.

1
BAB II
PEMBAHASAN

Kebutuhan Dasar Ibu Selama Persalinan


1. Kebutuhan Fisiologis
- Oksigen
- Makan dan minum
- Istirahat selam tidak ada his
- Kebersihan badan terutama genetalia
- Buang air keil dan buang air besar
- Pertolongan persalinan yang terstandar
- Penjahitan perineum bila perlu
2. Kebutuhan rasa aman
- Memilih tempat dan penolong persalinan
- Informasi tentang proses persalinan atau tindakan yang akan dilakukan
- Posisi tidur yang dikehendaki ibu
- Pendampingan oleh keluarga
- Pemantauan selama persalinan
- Intervensi yang diperlukan
3. Kebutuhan dicintai dan mencintai
- Pendampingan oleh suami / keluarga
- Kontak fisik (memberi sentuhan ringan)
- Masase untuk mengurani rasa sakit
- Berbicara dengan suara yang lemah, lembut, serta sopan
4. Kebutuhan harga diri
- Merawat bayi sendiri dan menetekinya
- Asuhan kebidanan dengan memperhatikan privacy ibu
- Pelayanan yang bersifat simpati dan empati
- Informasi bila akn melakukan tindakan
- Memberikan pujian pada ibu terhadap tindakan positif yang ibu lakukan
5. Kebutuhan aktualisasi diri
- Memilih tempat dan penolong sesuai keinginan
- Memilih pendamping salama persalinan
- Bounding and attachment
- Ucapan selamat atas kelahiran anaknya.

Pemenuhan Kebutuhan Dasar Ibu Selama Persalinan


1. Pemenuhan kebutuhan fisiologis selama persalinan
- Mengatur sirkulasi udara dalam ruangan
- Memberi makan dan minum
- Menganjurkan istirahat diluar his
- Menjaga kebersihan badan terutama daerah genetalia (bila memungkinkan ibu
disuruh untuk mandi atau membersihkan daerah kemaluan)
- Menganjurkan ibu untuk buang air kecil atau buang air besar
2
- Menolong persalinan sesuai standar
2. Pemenuhan kebutuhan rasa aman
- Memberi informasi tentang proses persalinan atas tindakan yang akan dilakukan
- Menghargai pilihan posisi tidur
- Menentukan pendampingan selama persalinan
- Melakukan pemantauan selam persalinan
- Melakukan tindakan sesuai kebutuhan
3. Pemenuhan kebutuhan dicintai dan mencintai
- Menghormati pilihan pendampingan selama persalinan
- Melakukan kontak fisik atau memberi sentuhan ringan
- Melakukan masase untuk mengurangi rasa sakit
- Melakukan pembicaraan dengan suara lemah lembut dan sopan
4. Pemenuhan kebutuhan harga diri
- Mendengarkan keluhan ibu dengan penuh perhatian atau menjadi pendengar yang
baik.
- Memberi asuhan dengan memperhatikan privacy ibu
- Memberi pelayanan dengan empati
- Memberitahu pada ibu setiap tindakan yang akan dilakukan
- Memberi pujian pada ibu terhadap tindakan positif yang telah dilakukan
5. Pemenuhan kebutuhan aktualisasi
- Memilih tempat dan penolong persalinan sesuai keinginan
- Menentukan pendamping selam persalinan
- Melakukan bounding and attachment
- Memberi ucapan selamat setelah persalinan selesai.

Kebutuhan Ibu Bersalin Kala III


ASUHAN SAYANG IBU KALA III
Asuhan sayang ibu membantu ibu dan keluarganya untuk merasa aman dan nyaman
selama proses persalinan. Asuhan sayang ibu adalah asuhan dengan prinsip saling
menghargai budaya, kepercayaan dan keinginan sang ibu.
Kala III adalah kala dimana dimulai dari keluarnya bayi sampai plasenta lahir.
Asuhan yang dapat dilakukan pada ibu adalah :
1. Memberikan kesempatan kepada ibu untuk memeluk bayinya dan menyusui
segera.
2. Memberitahu setiap tindakan yang akan dilakukan.
3. Pencegahan infeksi pada kala III.
4. Memantau keadaan ibu (tanda vital, kontraksi, perdarahan).
5. Melakukan kolaborasi/ rujukan bila terjadi kegawatdaruratan.
6. Pemenuhan kebutuhan nutrisi dan hidrasi.
7. Memberikan motivasi dan pendampingan selama kala III.

3
MANAJEMEN AKTIF KALA III
PENGERTIAN

Tindakan yang dilakukan setelah bayi lahir untuk mempercepat lepasnya placenta.
TUJUAN
1. Menurunkan kejadian perdarahan post partum
2. Mengurangi lamanya kala III
3. Mengurangi angka kematian dan kasakitan yang berhubungan dengan perdarahan

KEBIJAKAN
Lakukan manajemen aktif kala III segera setelah bayi lahir pada semua persalinan

PERSIAPAN
1. Oxytocin 10 IU

2. Spuit 3 cc

3. Sarung tangan

PROSEDUR
1.Palpasi abdominal untuk memastikan tidak ada janin kedua
2.Beri penjelasan pada ibu bahwa akan dilakukan injeksi pada paha
3. Injeksi oxytocin 10 IU IM pada bagian lateral dari paha ibu kira-kira 1/3 atas paha dalam
waktu 2 menit dari kelahiran bayi.
4. Pindahkan klem tali pusat diujung, tempatkan kira-kira 5-10 cm dari vulva
5. Lakukan penegangan tali pusat terkendali ( PTT ) dengan cara:
- Letakkan tangan kiri diatas symfisis
- Tegangkan tali pusat dengan tangan kanan
- Dorong uterus kearah dorso kranial pada saat ada his dan terlihat tanda-tanda pelepasan
placenta, sementara tangan kanan menegangkan tali pusat
- Bila dalam waktu 15 menit uterus tidak berkontraksi, ulangi pemberian oxytocin 10 IU
6. Keluarkan placenta
7. Setelah plasenta lahir,segera tangan kiri melakukan masase fundus uteri menggunakan
palman dengan gerakan melingkar sampai uterus berkontraksi
8. Sementara itu tangan kanan melakukan pemeriksaan kelengkapan plasenta dan selaput
ketuban
9. Tempatkan plasenta pada wadah yang telah disediakan,cuci tangan dengan larutan klorin

Fisiologis kala III


Mekanisme pelepasan plasenta
Segera setelah bayi dan air ketuban sudah tidak berada didalam uterus,kontraksi uterus akan
terus berlangsung dan ukuran rongganya akan mengecil.Pengurangan dalam ukuran ini akan
menyebabkan pengurangan dalam ukuran situs penyambungan plasenta.Oleh karena itu situs

4
sambungan tersebut menjadi lebih kecil,plasenta menjadi lebih tebal dan mengkerut serta
memisahkan diri dari dinding uterus.
Permulaan proses pemisah diri dari dinding uterus atau pelepasan plasenta.
1. Menurut Dunca.
Plasenta lepas mulai dari bagian pinggir ( marginal ) disertai dengan adanya tanda
darah yang keluar dari vagina apabila plasenta mulai terlepas.
2. Menurut Schultz.
Plasenta lepas mulai dari bagian tengah (sentral) dengan tanda adanya pemanjangan
tali pusat yang terlihat dari vagina.
3. Terjadi serempak atau kombinasi dari keduanya.

Sebagian dari pembuluh-pembuluh darah yang kecil akan robek saat plasenta
terlepas.Situs plasenta akan berdarah terus sampai uterus seluruhnya berkontraksi.Setelah
plasenta lahir, seluruh dinding uterus akan berkontraksi dan menekan seluruh pembuluh
darah yang akhrnya akan menghentikan perdarahan dari situs plasenta tersebut.
Uterus tidak bisa sepenuhnya berkontraksi hingga bagian plasenta lahir seluruhnnya. Oleh
karena itu,kelahiran yang cepat dari plasenta segera setelah ia melepas dari dinding uterus
merupakan tujuan dari penatalaksanaan kebidanan dari kala III yang kompeten.

Tanda-tanda klinis pelepasan plasenta


1. Semburan Darah
Semburan darah ini disebabkan karena penyumbatan retroplasenter pecah saat
plasenta lepas.
2. Pemanjangan tali pusat.
Hal ini disebabkan karena plasenta turun ke segmen uterus yang lebih bawah atau
rongga vagina.
3. Perubahan bentuk uterus dari diskoid globular (bulat).
Perubahan bentuk ini disebabkan oleh kontraksi uterus.
4. Perubahan dalam posisi uterus, yaitu uterus naik di dalam obdomen.
Hasil ini disebabkan oleh adanya pergerakan plasenta ke segmen uterus yang lebih
bawah.

Teknik pengecekan pelepasan plasenta


Selain mengamati tanda-tanda klinis di atas,bidan dapat juga melakukan perasat untuk
mengecek pelepasan plasenta.

Tiga perasat yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :


1. Perasat kustner.
Tangan kanan meregangkan atau menarik sedikit tali pusat,sementara tangan kiri
menekan atas simfisi. Bila tali pusa masuk kembali ke dalam vagina berarti plasenta
belum lepas, bila plasenta tetap atau tidak masuk ke vagina berarti plasenta sudah
lepas.

5
2. Plasenta strassman.
Presat ini dilakukan dengan mengetok-ngetok fundus uterus dengan tangan
kiri dan tangan kanan meregangkan tali pusat sambil merasakan apakah masih ada
getaran yang ditimbulkan dari gerakan tangan kiri. Jika terasa ada getaran, berarti
plasenta belum lepas dari dinding uterus, jika tidak ada getaran berarti plasenta sudah
lepas.
3. Perasat klein.
Untukmelakukan perasat ini,minta pasien untuk meneran, jika tali pusat tampak turun
atau bertambah panjang berarti plasenta telah lepa, begiu juga sebaliknya.

Manajemen aktif kala III


Definisi
Manajemen aktif kala III adalah mengupayakan kala III selesai secepat mungkin dengan
malakukan langkah-langkah yang memungkinkan plasenta dan lahir lebih cepat.
Tujuan
1. Mengurang kejadian perdarahan pascamelahirkan.
2. Mengurangi lamanya kala III
3. Mengurangi penggunaan transfusi darah
4. Mengurangi penggunaan terapi oksitosin
Komponen Manajemen aktif kala III
1. Pemberian Oksitosin IM segera setelah bayi lahir (Maksimal 2 menit)
2. Tali pusat diklem
3. Plasenta dilahirkan melalui peregangan tali pusat terkendali dengan menahan fundus
uterus secara dorsokranial (arah ke atas dan ke belakang ).
4. Begitu plasenta dilahirkan, lakukan masase pada fundus uterus secara sirkular agar
uterus tetap berkontraksi dengan baik serta untuk mendorong ke luar setiap gumpalan
darah yang ada dalam uterus.
Pemeriksaan Pada Kala III
Palsenta
Pastikan bahwa seluruh plasenta telah lahir lengkap dengan memeriksa jumlah
kotiledonya (rata-rata 20 kotiledonya).Periksa dengan seksama pada bagian pinggir plasenta
apakah ada kemungkinan masih ada hubungan dengan plasenta lain (plasenta suksenturiata).
Amati apakah ada bagian tertentu yang seperti tertinggal atau tidak utuh,jika
kemungkinan itu ada maka segera lakukan eksplorasi untuk membersihkan sisa plasenta.

Selaput Ketuban
Selaput plasenta lahir,periksa kelengkapan selaput ketuban untuk memastikan tidak
ada bagian yang tertinggal di dalam uterus.Caranya dengan meletakkan plasenta di atas
bagian yang datar dan pertemukan setiap tepi selaput ketuban sambil mengamati apakah ada
tanda-tanda robekan dari tepi selaput ketuban.
Jika ditemukan kemungkinan ada bagian yang robek, maka segera lakukan eksplorasi
uterus untuk mengeluarkan sisa selaput ketuban karena sisa selaput ketuban atau bagian
plasenta yang tertinggal di dalam uterus akan menyebabkan perdarahan dan infeksi.

6
Tali pusat
Setelah plasenta lahir, periksa mengenai data yang berhubungan dengan tali pusat.
1. Panajang tali pusat
2. Bentuk tali pusat (besar,kecil atau terpilin-pilin)
3. Insersio tali pusat
4. Jumlah vena dan arteri pada tali pusat
5. Adakan lilitan tali pusat

Pemantauan tali pusat


Kontraksi
Pemantauan kontraksi pada kala III dilakukan sebelum melakukan manajemen aktif kala III
(ketika PTT), sampai dengan sesaat setelah plasenta lahir. Pemantauan kontraksi dilanjutkan
selama satu jam berikutnya kala IV.

Robekan Jalan Lahir Dan Perineum.


Selama malakukan PTT ketika tidak ada kontraksi, bidan melakukan pengkajian terhadap
robekan jalan lahir dan perineum. Pengkajian ini dilakukan seawal mungkin hingga bidan
dapat segera menentukan derajat robekan dan teknik jahitan yang tepat yang akan digunakan
sesuai kondisi pasien.Bidan memastikan apakah jumlah darah yang keluar adalah akibat
robekan jalan lahir atau karena pelepasan plasenta.

Hygene
Menjaga kebersihan tubuh pasien terutama di daerahg genetalia sangat penting
dilakukan untuk mengurangi kemungkinan kontaminasi terhadap luka robekan jalan lahir
dan mungkin infeksi intrauterus. Pada kala III ini kondisi pasien sangat kotor akibat
pengeluaran air ketuban, darah atau fase saat proses kelahiran janin.
Setelah plasenta lahir lengkap dan dipastikan tidak ada perdarahan, segera keringkan
bagian bawah pasien dari air ketuban dan darah.Pasang pengalas bokong yang sekaligus
berfungsi sebagai penampungdarah (under pad). Jika memeang dipertimbangkan perlu untuk
menampung darah yanag keluar untuk kepentingan penghitungan volume darah, maka pasang
bengkok di bawah bokong pasien.

KEBUTUHAN IBU PADA KALA III


1. Dukungan mental dari bidan dan keluarga atau pendamping
2. Penghargaan terhadap proses kelahiran jani yang telah dilalui
3. Informasi yang jelas mengenai keadaan pasien sekarang dan tindakan apa yang akan
dilakukan.
4. Penjelasan mengenai apa yang harus ia lakukan untuk membantu mempercepat
kelahiran plasenta, yaitu kapan saat meneran dan posisi apa yang mendukung untuk
pelepasan dan kelahiran plasenta.
5. Bebas dari rasa risih akibat bagian bawah yangbasah oleh darah dan air ketuban.
6. Hidrasi

7
MANAJEMEN KEBIDANA KALA III MENURUT 7 LANGKAH VARNEY
Pengkajian
1. Data Subjektif
a. Pasien mengatakan bahwa bayinya telah lahir
b. Pasien mengatakan bahwa ia merasa mulas dan ingin meneran.
c. Pasien mengatakan bahwa plasenta belum lahir.

2. Data Objektif
a. Jam bayi lahir spontan
b. Perdarahan pervagina
c. TFU
d. Kontraksi uterus : intensitasnya (kuat, sedang, lemah atau tidak ada) selama 15
menit pertama.

Interpretasi Data
Pastikan bahwa saat ini pasien pada kala III beserta kondisi normalnya dan mengkaji
adanya diagnosis masalah atau tidak.
Contoh rumusan diagnosis
Seorang P1A0 dalam persalinan kala III Normal.
Masalah : pasien tidak memberikan respons ketika diajak bekerjan sama untuk
meneran.

Diagnosis Potensial
Pada langkah ini bidan memprediksi apakah kondisi pasien sebelumnya mempunyai
potensi untuk meningkat ke arah kondisi yang semakin buruk.

Antisipasi Tindakan Segera


Dilakukan jika ditemukan diagnosis potensial.

Perencanaan
1. Berikan pujian kepada pasien atas keberhasilah dalam melahirkan janin.
2. Lakukan Manajemen aktif kala III
3. Pantau kontraksi uterus
4. Beri dukungan mental pada pasien.
5. Berikan informasi mengenai apa yang harus dilakukan oleh pasien dan pendamping
agar proses pelahiran plasenta lancar.
6. Jaga kenyamanan pasien dengan manjaga kebersihan tubuh bagian bawah (perineum).

Pelaksanaan
Merealisasikan perencanaan sambil melakukan evaluasi secara terus-menerus.

8
Evaluasi
Menggambarkan hasil pengamatan terhadap keefektifan asuhan yang diberik an.Data yang
tertulis pada tahap ini merupakan data fokus untuk kala berikutnya yang mnecakup data
subjektif dan objektif.

MENDETEKSI KOMPLIKASI KALA III DAN CARA MENGATASINYA


Perdarahan pada kala III
Atonia Uterus
1. Definisi
Suatu keadaan dimana uterus mengalami kegagalan untuk berkontraksi segera setelah
bayi lahir.
2. Tanda dan Gejala
a. Uterus tidak berkontraksi dan teraba lembek.
b. Perdarahan segera telah bayi lahir ( perdarahan pascapersalinan primer ).
3. Cara mengatasi
a. Kenali dan tegakkan diagnosis kerja atonia uterus.
b. Pastikan plasenta lahir lengkap, segera lakukan evaluasi jika diketahui masih ada
bagian plasenta yang tertinggal didalam kavum uterus.
c. Segera mulai bimanual internal.
Jika dalam situasi ini ada sistem yang sudah terlatih,maka minta ia untuk
memberikan injeksi Methergine sambil bidan melakukan kompresi bimanual
internal. Jika pemberian injeksi dan kompresi belum juga dapat mengatasi atonia
dalam waktu 5 menit, minta asisten untuk segera memasang infus RL dan
Oksitosin 20 unit.
d. Jika mulai terasa ada kontraksi, maka dengan perlahan tariklah tangan keluar dan
lanjutjan pemantauan pasien secara ketat.
e. Ajarkan keluarga pasien tentang cara melakukan kompresi bimanual eksterna.
f. Jika uterus tidak berkontraksi setelah 5 menit, mintalah anggota keluarganya
untuk melakukan kompresi bimanual eksterna sementara bidan memberikan
injeksi Meghergine 0,2 mg IM dan melalui infus Oksitosin 20 unit dalam 500 ml
RL secara terbuka lebar (diguyur).
g. Jika uterus tetap tidak berkontraksi,lanjutkan kembali kompresi bimanual internal
segera setelah bidan memnerikan injeksi Methergine dan infus.Jika uterus tersebut
belum juga mulai berkontraksi setelah 5-7 menit, segera lakukan persiapan
rujukan dengan tetap terpasang infus dengan kecepatan 500 ml/jam hingga tiba
ditempat rujukan.jika jumlah cairan yang masuk keseluruh sudah mencapai 1,5
liter, lanjutkan dengan kecepatan infus 125 ml/jam.

9
Retensi Plasenta
1. Definisi
Tertahan plasenta di dalam waktu 30 menit atau lebih setelah bayi lahir.
2. Cara mengatasi
a. Jika plasenta terlihat dalam vagina,mintalah pasien untuk meneran.Jika anda dapat
merasakan plasenta di dalam vagina, maka segera keluarkan plasenta tersebut.
b. Pastikan kandung kemih dalam keadaan kosong, lakukan kateterisasi jika
diperlukan.
c. Jika plasenta belum keluar lakukan pemberian oksitosin 10 unit IM ( jika belum
dilakkan pada manajemen aktif kala III ).
d. Jika plasenta belum setelah 30 menit pemberian oksitosin dan uterus terasa
berkontraksi,lakukan penarikan tali pusat terkendali ( PTT ).
Hindari penarikan tali pusat dan penekanan fundus yang terlalu kuat karena
dapat menyebabkan inversi uterus.
e. Jika PTT belum berhasil, cobalah untuk mengeluarkan plasenta secara
manual.plasenta yang melekat dengan kuat kemungkinan adalah plasenta
akreta.usaha untuk melepas plasenta yang melekat kuat dapat menyebabkan
perdarahan berat atau perforasi uterus yang biasanya membutuhkan tindakan
histerektomi.
f. Jika perdarahan terus belangsung, lakukan uji pembekuan darah secara
sederhana.kegagalan terbentuknya pembekuan secara setelah 7 menit atau adanya
bekuan lunak yang dapat pecah dengan mudah menenjukkan adanya koagulopati.
g. Jika terdapat tanda-tanda infeksi seperti demam atau terdapatnya sekret vagina
yang berbau, maka berikan antibiotik untuk metritis.

Perlukaan jalan lahir.


1. Robekan perenium .
Robekan perenium terjadi akibat jalan lahir terlalu cepat, Untuk menghindari kejadian
ini, ketika kepala janin sudah keluar pintu minta pasien untuk meneran jangan terlalu
kuat dengan dengan irama yang pendek-pendek.
2. Robekan serviks.
a. Robekan serviks sering terjadi pada sisi lateral, karena serviks yang terlanjur akan
mengalami robekan pada posisi spina ischiadika tertekan oleh kepala bayi.
b. Bila kontraksi unterus baik dan plasenta lahir lengkap tetapi masih terjadi
perdarahan yang banyak, maka segera lihat bagian lateral bawah kiri dan kanan
dari porsio.
c. Jepitkan klem ovarium pada kedua sisi porsio yang robek hingga perdarahan dapat
segera dihentikan.
d. Jka setelah eksplorasi lanjutan tidak dijumpai robekan lain, lakukan penjahitan.
Jahitan dimulai dari ujung atas robekan kemudian ke arah luar sehingga semua
robekan dapat dijahit.
e. Setelah tindakan ; periksa tanda vital pasien, kontraksi uterus, TFU, dan
perdarahan pascatindakan.
f. Berikan atibiotik profikalasis.

10
g. Bila terjadi defisit volume cairan maka lakukan restorasi, dan bila kadar Hb< 8 gr
% berikan transfusi darah.

TINDAKAN-TINDAKAN KALA III


Kompresi Bimanual Eksterna
Cara melakukan kompresi bimanualeksterna (KBE )
1. Penolong berdiri menghadap sisi kanan pasien.
2. Tekan ujung jari telunjuk, tengah , dan jari manis salah satu tangan di antara simfisis
dan umbilikus pada korpus depan bawah sehingga fundus uterus naik ke arah dinding
abdomen.
3. Letakkan sejauh mungkin telapak tangan lain di korpus uterus bagian belakang dan
dorong uterus ke arah korpus depan.
4. Geser perlahan-lahan ujung ketiga jari tangan pertama ke arah fundus sehingga
telapak tangan dapat menekan korpus uterus bagian depan.
5. Lakukan kompresi korpus uterus dengan jalam ,menekan dinding belakang dan
dinding depan uterus denagn telapak tangan kiri dan kanan ( mendekatkan tangan
belakang dan depan ).
6. Perhatikan perdarah. Bila perdarahan berhenti, pertahankan posisi tersebut hingga
uterus dapat berkontraksi denagn baik. Bila perdarahan belum berhenti, lanjutkan
tindakan pertolongan berikutnya.

KOMPRESI BIMANUAL INTERNA.


Uterus ditekan di antar tangan pada dinding abdomen ( di luar ) dan tinju tangan
dalam ( di dalam vagina, tepatnya menekan forniks anterior berlawanan dengan tangan
eksterna ) Untuk menjepit pembuluh pembuluh darah di dalam miometrium ( sehingga
pengganti mekanisme kontraksi ). Perhatikan perdarahan yang terjadi.
Pertahankan kondisi itu, bila perdarahan berkurang atau berhenti, tunggu hingga
uterus dapat berkontraksi kembali. Apabila perdarahan tetap terjadi, coba kompresi aorta
abdominalis.

KOMRESI AORTA ABDOMINALIS.


Raba arteri femolaris dengan ujung dari tangan kiri, lalu pertahankan posisi tersebut.
Gangguan tangan kanan kemudian tekankan pada dearah umbilikus tegak lurus dengan
sumbu badan hingga mencapai kolumna vertebralis. Penekan yang tepat akan menghentikan
atau sangat mengurangi denyut nadi femoralis. Lihat hasil kompresi dengan melihat jumlah
perdarahan yang terjadi.

MANUAL PLASENTA
Sebelu memulai prosedur ini, pasien sudah dalam keadaan terpasang terpasang infus
dan kandung kemih dah keadaan kosong. Tangan kiri berada di atas fundus dan tahan uterus
supaya tidak naik.Tangan kanan masuk ke dalam kavum uterus. Dengan mengikuti ke arah
tali pusat, akhirnya tangan akan sampai pada plasenta untuk kemudian mencari pinggir
plasenta. Selanjutnya masukkan jari-jari tangan di daerah antara dinding uterus dan plsenta.

11
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Asuhan fisik dan psikologis sangat diperlukan dalam proses persalinan, Seluruh bidan
harus mempunyai kemampuan untuk memberikan asuhan sayang ibu dalam proses
persalinan, asuhan tersebut meliputi kebersihan dan kenyamanan, posisi, kontak fisik, pijatan
dan perawatan kantung kemih dan perut. Dalam persalinan kehadiran seorang pendamping
sangatlah penting karena dapat menimbulkan efek positif terhadap persalinan dalam arti
dapat menurunkan morbiditas, mengurangi rasa sakit, persalinan yang lebih singkat dan
menurunnya persalinan dengan operasi termasuk bedah besar, selain itu kehadiran seorang
pendamping persalinan dapat memberikan rasa nyaman, aman, semangat, dukungan
emosional, dan dapat membesarkan hati ibu.
Setiap wanita normal akan merasa sakit pada saat persalinan, adapun tindakan yang
dilakukan untuk menurangi rasa sakit, yaitu pengaturan posisi, relaksasi atau latihan
pernapasan, usapan di punggung atau abdominal dan pengosongan kantung kemih.

Saran
Bagi pembaca semoga makalah ini dapat dijadikan sumber referensi dan tambahan
pengetahuan.
Bagi penulis untuk meningkatkan kualitas dalam penulisan makalah

12
DAFTAR PUSTAKA

Varney H. Kriebs J.M. Carilyn,L.G. 2008.Buku Ajar Konsep kebidanan . Edisi bahasa
Indonesia. Editor : Esty Wahyuningsih, et al. Edisi 4. Jakarta : ECG.

http://www.scribd.com/doc/30942395/Gambaran-Pengetahuan-Bidan-Tentang-
Manajemen-Aktif-Kala-III-Di-RSUD-KTI-KEBIDANAN
http://bidankusholihah.blogspot.com/2009/12/kebutuhan-dasar-ibu-bersalin.html

13